Anda di halaman 1dari 4

STATUS EPILEPSI

DEFINISI
Status epilepsi adalah aktivitas kejang yang berlangsung terus-menerus lebih dari 30
menit tanpa pulihnya kesadaran. Dalam praktek klinis lebih mendefenisikannya sebagai
setiap aktivitas serangan kejang yang menetap selama lebih dari 10 menit.
Status epilepsy merupakan keadaan dimana terjadinya dua atau lebih rangkaian
kejang tanpa adanya pemulihankesadaran diantara kejang atau aktivitas kejang yang
berlangsunglebih dari 30 menit ( Konvensi Epilepsi Foundation of Amerika (EFA)).
ETIOLOGI
Secara umum penyebab epilepsi belum diketahui dengan jelas (idiopatik). Penelitian
yang dilakukan oleh para ahli belum mampu menjawab secara pasti penyebab terjadinya
epilepsi. Namun ada beberapa faktor yang sering mengakibatkan terjadinya kejang serangan
epilepsi yaitu; beberapa penyakit herediter (seperti sklerosis tuberosa, neurofibromatosis,
angiomatosis ensefalotrigeminal) cedera kepala, beberapa penyakit infeksi yang disebabkan
bakteri dan virus pada otak, kelainan pembuluh darah, dan intoksikasi (mis: timbal, kamper,
fenotiazin).
Beberapa faktor yang menjadi faktor prepitasi adalah; (1) faktor sensoris (seperti
cahaya yang berkedip-kedip, bunyi-bunyi yang mengejutkan, air panas), (2) faktor sistemis
(seperti demam, penyakit infeksi, obat-obat tertentu), dan (3) faktor mental (seperti stress dan
gangguan emosi).
Status epilepsy biasa disebabkan infark otak mendadak, anoksia otak, tumor otak, atau
menghentikan obat anti kejang. Pada penderita yang sebelumnya tidak mempunyai riwayat
epilepsy mungkin mempunyai riwayat trauma kepala, radang otak, tumor otak terutama pada
lobus frontalis. Pada pasien yang mempunyai riwayat epilepsy mempunyai faktor pencetus
yang umumnya karena menghentikan obat sekehendak hatinya.
KLASIFIKASI
Status epilepsy ada dua jenis yaitu:
a) Status motorik mayor
Status motorik mayor merupakan status epilepsy dimana suatu serangan tonik-klonik diikuti
oleh serangan yang lain.
b) Absence berlanjut
Status epilepsy dimana terjadi serangkaian Absence (Petit Mal) atau serangan epileptic yang
berupa hilangnya kesadaran sejenak.
PATOFISIOLOGI

Secara umum, epilepsy terjadi karena menurunnya potensial membrane sel saraf
akibat

proses patologik dalam otak yang selanjutnya menyebabkan terlepasnya muatan

listrik dari sel saraf tersebut.


Gejala-gejala yang ditimbulkan akibat serangan epilepsi sebagian karena serangan
epilepsi, sebagian karena otak mengalami kerusakan dan berat atau ringannya gangguan
tersebut tergantung dari lokasi dan keadaan pathologinya. Bila terjadi lesi pada bagian otak
tengah, thalamus dan korteks serebri kemungkinan bersifat epileptogenik. Sedangkan lesi
pada serebelum dan batang otak biasanya tidak meyebabkan serangan epileptik.
Serangan epilepsi terjadi karena adanya lepasan muatan listrik yang berlebihan dari
neuron-neuron di susunan syaraf pusat yang terlokalisir pada neuron-neuron tersebut.
Gangguan abnormal dari lepasnya muatan listrik ini terjadi karena adanya gangguan
keseimbangan antara proses eksesif/eksitasi dan inhibisi pada interaksi neuron. Selain itu hal
tersebut diatas juga dapat disebabkan karena gangguan pada sel neuronnya sendiri atau
transmisi sinaptiknya. Transmisi sinaptik oleh neurotransmitter yang bersifat eksitasi atau
inhibitor dalam keadaan gangguan keseimbangan akan mempengaruhi polarisasi membran
sel, sehingga jika sampai pada tingkat membran sel maka neuron epileptik ditandai oleh
proses biokimia tertentu yaitu; (1) ketidakstabilan membran sel syaraf sehingga sel mudah
diaktifkan, (2) neuron yang hipersensitivitas dengan ambang yang menurun sehingga mudah
terangsang secara berturut-turut, (3) kemungkinan terjadi polarisasi yang berlebihan,
hyperpolarisasi atau terhentinya repolarisasi, karena terjadi perbedaan potensial listrik lapisan
intra sel dan ekstra sel dimana lapisan intra sel lebih rendah, (4) adanya ketidakseimbangan
ion yang mengubah lingkungan kimia dari neuron yang menyebabkan membran neuron
mengalami depolarisasi.
Neurotransmiter yang bersifat inhibisi akan menimbulkan keadaan depolarisasi yang
akan melepaskan muatan listrik secara berlebihan yaitu asetikolin, noradrenalin, dopamine
dan hidroksitriptamin.
Penyebaran epileptik dari neuron-neuron kebagian otak lain dapat terjadi oleh
gangguan pada kelompok neuron inhibitor yang berfungsi menahan pengaruh neuron lain
sehingga terjadi sinkronisasi dan aktivasi yang berulang-ulang sehingga terjadi perluasan
sirkuit kortikokortikal melalui serabut asosiasi atau ke kontralateral melalui korpus kalosum,
projeksi thallamokortikal difusi sehingga klien kehilangan kesadaran atau gangguan pada
formatio retikularis sehingga sistem motoris kehilangan kontrol normalnya, dan
menimbulkan kontraksi otot polos.
MANIFESTASI KLINIK

Kejang-kejang ( tonik klonik, Absence)

Hipertensi
Mulut berbuih
Menggigit lidah
Kekuatan Otot menurun
Cyanosis
Inkontinensia urin
Denyut nadi meningkat
hipersalivasi

PENATALAKSANAAN
Tujuan dari penatalaksanaan adalah untuk menghentikan kejang sesegera mungkin,
untuk menjamin oksigenasi serebral yang adekuat, dan untuk mempertahankan klien dalam
status bebas kejang.
Prinsip penatalaksanaan penderita dengan status epileptikus adalah sebagai berikut:
1.
Tindakan suportif (Stabilisasi Pasien)
Merupakan tindakan awal yang bertujuan menstabilisasi penderita (harus tercapai dalam 10
menit pertama), yaitu ABC:
Airway: Bebaskan jalan nafas
Breathing: Pemberian pernafasan buatan/bantuan nafas
Circulation: Pertahankan/perbaiki sirkulasi, bila perlu pemberian infus atau transfusi
jika terjadi renjatan
2. Terapi farmakologis
Penatalaksanaan primer untuk pasien kejang adalah terapi obat untuk mencegah timbulnya
kejang atau mengurangi frekuensinya sehingga pasien dapat hidup normal. Sekitar 70%
sampai 80% pasien memperoleh manfaat dari pemberian obat anti kejang.Dengan
memberikan obat anti kejang, dengan urutan pilihan sebagai berikut (harus tercapai dalam 30
menit pertama):
a) Pilihan I: Golongan Benzodiazepin, seperti:
Lorazepam (Ativan): dewasa : 2-10 mg, anak: 0,1 mg/kg
Diazepam (Valium): dewasa : 5-10 mg, anak: 1 mg setiap 2-5 menit sampai dosis total 10
mg.
b) Pilihan II : fenitoin (Cerebyx): 15-20 mg PE/kg
c) Pilihan III : fenobarbital : 20 mg/kgBB
Diazepam diberikan 15 menit pertama, jika masih kejang berikan fenitoin bila
kejang masih berlanjut lebih dari 20 menit segera intubasi lalu berikan fenobarbital sampai
kejang berhenti atau dosis seluruhx 20 mg/kgbb jika belum berhasil maka ahli saraf harus
memikirkan resusitasi otak melalui anastesi dengan pemberian pentobarbital atau
amobarbital, diberikan sampai aktivitas otak tercapai yang dikenal dengan Outburst
Suppression Pattern pada rekaman EEG dosis ini dipertahankan selama 3 jam agar otak
mempunyai waktu yang cukup untuk membangkitkan homeostasis dan melawan kejang
berkelanjutan. Untuk tempat yang tidak mempunyai fasilitas untuk resusitasi maka diberikan

pertolongan pertama dengan pemberian paraldehid kedalam otot atau rectum 5 mg kedalam
kedua otot bokong setiap 3 jam atau larutkan 10% dalam larutan garam fisiologis sebanyak 5
ml.
3. Pembedahan .
Diindikasikan bila epilepsy diakibatkan oleh tumuor intrakranial, abses, kista, atau
anomaly vaskuler. Pengangkatan secara pembedahan pada focus epileptogenik dilakukan
untuk kejang yang berasal dari area otak yang terkelilingi dengan baik yang dapat dieksisi
tanpa menghasilkan kelainan neurologis yang signifikan.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pengkajian diagnostik bertujuan dalam menentukan tipe kejang, frekuensi, beratnya
dan faktor-faktor pencetus. Sebuah penelitian dilakukan untuk penyakit atau cedera kepala
yang dapat mempengaruhi otak. Selain itu dapat pula dilakukan pengkajian fisik dan
neurologik, haematologi, dan serologic. Pencitraan CT digunakan untuk mendeteksi lesi pada
otak, fokal abnormal, serebro-vasculer abnormal, dan perubahan degeneratif serebral.
Elektroenchefalogram (EEG) melengkapi bukti diagnostik dalam proporsi substansial
dari pasien epilepsi dan membantu mengklasifikasi tipe kejang. Rekaman EEG digunakan
untuk mengidentifikasi daerah-daerah otak spesifik yang terlibat dalam lepas muatan
abnormal dan data ini di korelasikan dengan rekaman video.
Selain menggunakan EEG dan CT Scan, dalam menentukan diagnosa epilepsy dapat
pula dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan kadar elektrolit, glukosa,
ureum/kratinin dan sel darah merah. Selain itu dapat pula dilakukan foto rontgen untuk
mengidentifikasi adanya fraktur.