Anda di halaman 1dari 13

PETROGRAFI BATUAN METAMORF

Pengertian Batuan Metamorf


Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk (batuan beku,
sedimen, maupun batuan metamorf) yang telah mengalami perubahan minerologi, tekstur dan
struktur akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang tinggi.
Kata metamorf berasal dari Yunani, META = perubahan, MORPH = bentuk,
jadi metamorf adalah perubahan bentuk. Dalam ilmu geologi, metamorf khusus menjelaskan
perubahan kumpulan dan tekstur mineral dimana hasilnya berasal dari inti batuan berupa
tekanan dan perbedaan temperature dari bentuk batuan dasar. Diagenesis juga menjelaskan
perubahan bentuk dari batuan sediment. Didalam geologi proses diagenesa terbentuk pada
temperature kurang lebih 2000 C, dan tekanan kurang dari 300Mpa standard Mpa berupa
mega pascal dengan eqivalen tekanan berkisar 3000 atm. Metamorfisme terbentuk pada
temperature dan tekanan minimal lebih dari 200 0 C dan lebih dari 300 Mpa. Batuan dapat
juga terbentuk pada temperature dan tekanan yang tinggi, seperti halnya batuan yang berada
dibawah pada suatu kedalaman di dalam bumi. Burial biasanya berada pada suatu tempat
seperti hasil dari proses tektonik, misalnya tumbukan benua ( Subduksi ). Batas tertinggi dari
metamorfisme terjadi pada tekanan dan temperature yang menyebabkan Partial melting.
Petrogenesa atau Metamorfisme terbentuk pada temperature dan tekanan minimal lebih dari
2000 C dan lebih dari 300 Mpa.Metamorfisme adalah proses perubahan struktur dan
mineralogy batuan yang berlangsung pada fase padatan, sebagai tanggapan atas kondisi kimia
dan fisika yang berbeda dari kondisi batuan tesebut sebelumnya. Metamorfosa tidak temasuk
pada proses pelapukan dan diagenesa. Wilayah proses berada antara suasana akhir proses
diagenesa dan permulaan proses peleburan batuan menjadi tubuh magma.

Gambar penampang yang memperlihatkan lokasi batuan metamorf (Gillen, 1982).

Gambar Klasifikasi Batuan Metamorf berdasarkan tekanan dan suhu (ODunn


dan Sill,1986).

Metamorfisme
Metamorfisme adalah proses perubahan struktur dan mineralogy batuan yang
berlangsung pada fase padatan, sebagai tanggapan atas kondisi kimia dan fisika yang berbeda
dari kondisi batuan tesebut sebelumnya. Metamorfosa tidak temasuk pada proses pelapukan
dan diagenesa. Wilayah proses berada antara suasana akhir proses diagenesa dan permulaan
proses peleburan batuan menjadi tubuh magma.
Berdasarkan penyebabnya batuan metamorf dibagi menjadi empat yaitu
(1) Metamorfisme kontak/ termal, pengaruh T dominan

Terjadi pada batuan terpanasi leh intrusi magma yang besar. Pancaran panas tersebut
akan semakin menurun bila semakin jauh dari tubuh intrusinya.

(2) Metamorfisme dinamo/ kataklastik/dislokasi/kinematik, pengaruh P dominan, Terbatas

pada sekitar sesar, dengan penghancuran mekanik dan tekanan shear menyebabkan
perubahan fabric batuan. Batuan hasil kataklastik seperti breksi sesar, milonit, filonit,
dinamai berkaitan dengan ukuran butirnya.
(3) Metamorfisme regional, terpengaruh P & T, serta daerah luas. Sering dikaitkan dengan

jalur orogenesa, berlangsung berkaitan dengan gerak gerak penekanan. Hal ini
dibuktikan dengan struktur siskositas.
(4) Metamorfisme Regional Beban, Metamorfisme ini tidak berkaitan dengan orogenesa atau

intrusi magma. Suatu sediment pada cekungan yang dalam akan terbebani material
diatasnya. Suhunya hingga pada kedalaman yang besar yang berkisar antara 400 0C
4500C.

Gambar Diagram skematik yang memperlihatkan hubungan antara T & P untuk jenis-jenis
metamorfosa yang berbeda (Winkler, 1967).

Tekstur Secara Petrografi


Secara umum kandungan mineral didalam batuan metamorf akan mencerminkan
tekstur, contoh melimpahnya mika akan memberikan tekstur skistose pada batuannya.
Dengan demikian tekstur dan minerologi memegang peranan penting di dalam penamaan
batuan metamorf. Dengan munculnya konsep fasies, penamaan batuan kadang kadang
rancu dengan pengertian fasies. Mineral dalam batuan metamorf disebut mineral
metamorfisme yang terjadi karena kristalnya tumbuh dalam suasana padat dan batuan
mengkristal dalam lingkungan cair. Tekstur yang berkembang selama proses metamorfisme
secara tipikal penamaanya

mengikuti kata-kata yang mempunyai akhiran -blastik.

Contohnya, batuan metamorf yang berkomposisi kristal-kristal berukuran seragam disebut


dengan granoblastik. Secara umum satu atau lebih mineral yang hadir berbeda lebih besar
dari rata-rata; kristal yang lebih besar tersebut dinamakan porphiroblast.
Atau juga menunjukkan batuan asalnya misal awalan meta untuk memberikan
nama suatu batuan metamorfisem apabila masih dapat dikenali sifat dari batuan asalnya
contoh : metasedimen, metaklastik, metagraywacke, metavolkanik,dan lain- lain.Jika batuan
masih terlihat tekstur sisa maka tekstur diakhiri akhiran Blasto misal blasto porfiritik, dan
memakai akhiranblastik apabila ataun asal maupan sisa bataun sudah tidak kelihatan lagi
karena telah mengalami proses rekristalisasi contoh Granolobastik dan lain lain.
1. Bentuk
Idioblastik, merupakan suatu Kristal asal metamorfisme yang dibatasi oleh muka Kristal itu
sendiri
Xenoblastik, merupakan suatu Kristal asal metamorfisme yang dibatasi bukan oleh muka
kristalnya sendiri, ini ekivalen dan anhedral.
2. Orientasi
a. Orientasi yang tidak kuat
Batuan equigranuler yaitu batuan dengan butiran butiran mineral yang hampir
sama ukurannya.
Tekstur mosaik : kristalnya eqiudimensional, pada umumnya berbentuk polygonal dengan
batas batas Kristal lurus atau melengkung.
Tekstur suture : kristalnya equidimensional atau lentikuler, mempunyai batas batas tak
teratur, banyak diantaranya saling menembus terhadap butir butir disampingnya. Jika
batuan xenoblastik sangat interlocking disebut suture.

Tekstur mylenitik : suatu penghancuran mekanik, berbutir amat halus tanpa rekristalisasi
mineral mineral primer dan beberapa batuannya memperlihatkan kenampakan berarah
sebagai lapisan lapisan tipis material terhancurkan dapat terlitifikasi oleh proses sementasi
larutan hidrotermal.
Tekstur hornfelsik : suatu jenis yang berkembang dalam batuan sedimen pelitik oleh
metamorfisme termal. Shale dan batuan karbonat berubah secara luas tetapi batupasir
memperlihatkan sedikit menjadi kuarsit. Perwujudan nyata berupa pembentukan mika dan
klorit yang terlihat sebagai bintik bintik.
Tekstur kristaloblastik : suatu tekstur kristalin yang terbentuk oleh kristalisasi
metamorfisme

Xenonoblstik, bila kristalnya subhedral dan unhedral.


Idioblastik, bila kristalnya euhedral.
Lepidoblastik, bila orientasi mineral - mineral pipih atu tabular

menunjukkan hampir paralel atau paralel.


Nematoblastik, bila susunan paralel atu hampir parallel merupakan mineral
mineral prismatik atau fibrous.

Tekstur porfiriblastik : merupakan tekstur kristoblastik yang tersusun oleh 2 mineral atau
lebih. Berbeda ukuran butirnya dan ekivalen dengan tekstur porfiritik dalam batuan beku,
kristal kristal yang besar yang besar (tunggal) disebut porfiroblast.

Gambar : Tekstur Porfiroblast


Tekstur poikiloblastik : istilah lain dari tekstur saringan sieve yang dicirakan oleh
porfiroblast porfiroblast yang mengandung sejumlah butiran butiran yang lebih kecil
(inklusi).

Gambar Tekstur poikiloblastik


Tekstur Porphyroklas: tekstur batuan metamorf yang dicirikan oleh adanya kristal
besar (umumnya K-feldspar) dalam massa dasar mineral yang lebih halus. Bedanya
dengan porphyroblastik adalah, porphyroklastik tidak tumbuh secara in-situ, tetapi
sebagai fragment sebelum mineral-mineral tersebut hancur / terubah saat prosesn
metamorfisme, contoh: blastomylonit dalam gniss granitik.

Gambar VI.18. Tekstur porfiroklastik


Retrogradasi eklogit: tekstur batuan metamorf yang dibentuk oleh adanya mineral
amfibol (biasanya horenblende) yang berreaksi dengan mineral lain. Dalam
Gambar VI.19 adalah retrogradasi klinopirosen amfibole pada sisi kanan atas.

Gambar VI.19. Tekstur retrogradasi eklogit

Tekstur Schistose: foliasi sangat kuat, atau terdapat penjajaran butiran,


terutama mika, dalam batuan metamorf berbutir kasar.

Gambar VI.20. Tekstur schistose


Tekstur Phyllitik: foliasi kuat dalam batuan metamorf berbutir halus.

Gambar VI.21. Tekstur phylitik


7. Tekstur Granoblastik: massive, tak-terfoliasi, tekstur equigranular
dalam batuan metamorf.

Gambar VI.22. Tekstur granoblastik pada batuan metamorf

Tekstur dedussate : merupakan tekstur kristoblastik pada batuan polimineral yang tidak
menunjukkan butiran butir terorientasi. Biotit melimpah dalam hornfels dan umumnya
tersusun sembarangan.

Tekstur kataklastik atau autoklastik : dihasilkan oleh penghancuran mekanik tanpa disertai
proses rekristalisasi yang esensial. Batuan dapat atau tanpa memperlihatkan kenampakan
berarah.
Tekstur mortal : suatu tekstur yang terdiri dari fregmen mineral lebih besar di dalam masa
dasar material terhancurkan dan tersusun oleh Kristal Kristal yang sama. Setiap individu
mineral mineral sering memperlihatkan pembengkokan mekanik, bagian tepi terhancur.
Struktur mortar berkembang sebagai tekstur kataklastik dalam batuan quartztose atau quartz
feldspar.
Struktur
Struktur dalam batuan metamorf adalah kenampakan pada batuan yang tediri dari
bentuk, ukuran dan orientasi kesatuan banyak butir mineral. Secara umum dapat dibedakan
menjadi : struktur foliasi dan struktur non foliasi.
Struktur Foliasi
a. Struktur Skistose: struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral pipih (biotit,
muskovit, felspar) lebih banyak dibanding mineral butiran.
b. Struktur Gneisik: struktur yang memperlihatkan penjajaran mineral granular, jumlah
mineral granular relatif lebih banyak dibanding mineral pipih.
c. Struktur Slatycleavage: sama dengan struktur skistose, kesan kesejajaran mineraloginya
sangat halus (dalam mineral lempung).
d. Struktur Phylitic: sama dengan
kesejajarannya sudah mulai agak kasar.

struktur slatycleavage, hanya

mineral dan

Gambar : Diagram yang mempersentasikan variasi unsur-unsur kemas untuk mendefinisikan


foliasi (Hoobs et al.1976)

Gambar : Sayatan tipis batuan metamorf yang memperlihatkan struktur foliasi (penjajaran
mineral pipih) pada kuarsit
V.4.2 Struktur Non Foliasi
a. Struktur Hornfelsik: struktur yang memperlihatkan butiran-butiran mineral relatif
seragam.
b. Struktur Kataklastik: struktur yang memperlihatkan adanya penghancuran terhadap
batuan asal.
c. Struktur Milonitik: struktur yang memperlihatkan liniasi oleh adanya orientasi mineral
yang berbentuk lentikuler dan butiran mineralnya halus.
d. Struktur Pilonitik: struktur yang memperlihatkan liniasi dari belahan permukaan yang
berbentuk paralel dan butiran mineralnya lebih kasar dibanding struktur milonitik, malah
mendekati tipe struktur filit.
e. Struktur Flaser: sama struktur kataklastik, namun struktur batuan asal berbentuk lensa
yang tertanam pada masa dasar milonit.
f. Struktur Augen: sama struktur flaser, hanya lensa-lensanya terdiri dari butir-butir
felspar dalam masa dasar yang lebih halus.
g. Struktur Granulose: sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai ukuran
beragam.
h. Struktur Liniasi: struktur yang memperlihatkan adanya mineral yang berbentuk jarus
atau fibrous.

Gambar : Sayatan Tipis batuan metamorf yang memperlihatkan non foliasi pada Gneiss.

Klasifikasi

Jenis batuan metamorf

penamaannya hanya berdasarkan pada komposisi mineral,

seperti: Marmer disusun hampir semuanya dari kalsit atau dolomit; secara tipikal bertekstur
granoblastik. Kuarsit adalah batuan metamorfik bertekstur granobastik dengan komposisi
utama adalah kuarsa, dibentuk oleh rekristalisasi dari batupasir atau chert/rijang.
Secara umum jenis batuan metamorfik yang lain adalah sebagai berikut:

Amphibolit: Batuan yang berbutir sedang sampai kasar komposisi utamanya adalah

ampibol (biasanya hornblende) dan plagioklas.


Eclogit: Batuan yang berbutir sedang komposisi utama adalah piroksin klino
ompasit tanpa plagioklas felspar (sodium dan diopsit kaya alumina) dan garnet kaya
pyrop. Eclogit mempunyai komposisi kimia seperti basal, tetapi mengandung fase

yang lebih berat. Beberapa eclogit berasal dari batuan beku.


Granulit: Batuan yang berbutir merata terdiri dari mineral (terutama kuarsa, felspar,
sedikit garnet dan piroksin) mempunyai tekstur granoblastik. Perkembangan struktur

gnessiknya lemah mungkin terdiri dari lensa-lensa datar kuarsa dan/atau felspar.
Hornfels: Berbutir halus, batuan metamorfisme thermal terdiri dari butiran-butiran
yang equidimensional dalam orientasi acak. Beberapa porphiroblast atau sisa fenokris

mungkin ada. Butiran-butiran kasar yang sama disebut granofels.


Milonit: Cerat berbutir halus atau kumpulan batuan yang dihasilkan oleh pembutiran
atau aliran dari batuan yang lebih kasar. Batuan mungkin menjadi protomilonit,
milonit, atau ultramilomit, tergantung atas jumlah dari fragmen yang tersisa.

Bilamana batuan mempunyai skistosity dengan kilap permukaan sutera, rekristralisasi

mika, batuannya disebut philonit.


Serpentinit: Batuan yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral-mineral dari
kelompok serpentin. Mineral asesori meliputi klorit, talk, dan karbonat. Serpentinit
dihasilkan dari alterasi mineral silikat feromagnesium yang terlebih dahulu ada,

seperti olivin dan piroksen.


Skarn: Marmer yang tidak bersih/kotor yang mengandung kristal dari mineral kapursilikat seperti garnet, epidot, dan sebagainya. Skarn terjadi karena perubahan
komposisi batuan penutup (country rock) pada kontak batuan beku.

Tabel Klasifikasi Batuan Metamorf (ODunn dan Sill, 1986).

Gambar Seri Metamorfisme Batuan Metamorf (ODunn dan Sill, 1986).