Anda di halaman 1dari 8

Promosi TABULIN,donor darah berjalan dan ambulance desa, suami

SIAGA,berperan aktif dalam kegiatan SATGAS GSI


Desa/Kelurahan Siap, Antar, Jaga (Siaga) adalah Desa/Kelurahan yang
melaksanakan/menjalankan program GSI dan mempunyai/melaksanakan
langkah sebagai berikut :
1. Mempunyai SK tentang Satgas Revitalisasi GSI Desa/Kel termasuk
rencana kerja Satgas tersebut
2. Mempunyai data dan peta bumil yang akurat dan selalu diperbaharui
3. Telah terbentuknya pengorganisasian Tabulin/Dasolin
4. Telah terbentuknya pengorganisasian ambulans desa
5. Telah terbentuknya pengorganisasian donor darah desa
6. Telah terbentuknya pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan
7. Telah terbentuknya pengorganisasian penghubung/liason (kader
penghubung)
8. Adanya mekanisme/tata cara rujukan
9. Adanya pengorganisasian : Suami Siaga, Warga Siaga, Bidan Siaga
10. Adanya/telah terbentuknya Pondok Sayang Ibu
11. Terlaksananya penyuluhan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama,
keluarga, suami dan ibu hamil tentang peningkatan kualitas hidup
perempuan, pencegahan kematian ibu, kematian bayi, ASI eksklusif,
kesehatan reproduksi dan wajib belajar bagi perempuan
12. Tersedianya/terlaksananya pencatatan dan pelaporan
Dalam upaya mencapai tujuan negara untuk mensejahterakan masyarakat
telah dilakukan berbagai upaya pembangunan di daerah sampai tingkat
desa/kelurahan. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumber
daya manusia adalah melalui penurunan Angka Kematian Ibu saat hamil,
melahirkan dan masa nifas (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sejak
tahun 1996 telah diluncurkan suatu gerakan yaitu Gerakan Sayang Ibu (GSI)
yang pencanangannya dilakukan oleh Presiden RI pada tangal 22 Desember
1996 di Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah.
Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah gerakan bersama antara pemerintah dan
masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan utamanya dalam
percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penurunan
AKI dan AKB berkontribusi dalam meningkatkan Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) daerah dan Negara yang salah satu indikatornya adalah
derajat kesehatan. Upaya percepatan penurunan AKI dan AKB juga
merupakan komitmen internasional dalam rangka target mencapai target
Millenium Development Goals (MDGs). Adapun target penurunan AKB
adalah sebesar dua per tiga dan AKI sebesar tiga perempatnya dari 19902015.

Dalam pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI), Kecamatan merupakan lini


terdepan untuk mensinergikan antara pendekatan lintas sektor dan
masyarakat dengan pendekatan sosial budaya secara komprehensif
utamanya dalam mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB). Sebagai suatu gerakan, Gerakan Sayang Ibu
(GSI) telah memberikan kontribusi yang dirasakan manfaatnya dengan
adanya data,
PANDUAN PENILAIAN
KECAMATAN SAYANG IBU
PANDUAN PENILAIAN
KECAMATAN SAYANG IBU
berkurangnya jumlah kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas,
serta meningkatnya rujukan yang berhasil ditangani.
Dengan adanya perubahan sistem pemerintahan dan kebijakan sektor
pemerintah, maka pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) perlu disesuaikan
agar dapat bersinergi dan terintegrasi dengan program dan kegiatan lain
yang ada pada daerah. Oleh karena itu diperlukan Revitalisasi Gerakan
Sayang Ibu (GSI). Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah upaya
pengembangan Gerakan Sayang Ibu (GSI) melalui upaya ekstensifikasi,
intensifikasi dan institusionalisasi.
Untuk mendorong pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) perlu
dilaksanakan berbagai upaya termasuk melalui penilaian untuk mengetahui
keberhasilan pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) terutama di
tingkat Kecamatan. Dengan adanya penilaian Kecamatan Sayang Ibu
diharapkan peran pembinaan dan fasilitasi Kab./Kota dan Provinsi menjadi
lebih optimal.

DESA SIAGA (Tabulin, Donor Darah Berjalan, Ambulan Desa, Peran Aktif
Suami dalam SATGAS GSI)
Diposkan oleh Idunk Maridunk di 05.59

2.1 TABULIN
2.1.1 Definisi Tabulin
Tabulin adalah tabungan yang dipersiapkan untuk persalinan yang dilakukan pada
pasangan suami istri yang merencanakan kehamilannya.
2.1.2 Manfaat Tabulin

Manfaat tabulin diantaranya sebagai tabungan/simpanan itu yang digunakan untuk


persalinan atau sesudah persalinan.Ibu dan keluarga tidak mersa terbebani biaya persalinan.

2.1.3 Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam tabulin :


Pengalokasian / pemanfaatan pembiayaan kesehatan.
Identifikasi sumber dana yang sudah ada dan yang akan dikembangkan.
Cara pengelolaan dan pembelajaran perlu kejelasan dalam hal mekanisme pengumpulan dana,
kesempatan pengelolaan dan sistem kontrak.
Kesiapan keluarga dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan yang
telah dan akan dikembangkan.
2.1.4 Indikator keberhasilan dalam tabulin :
Dana terhimpun, masyarakat yang berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan masyarakat.
Pengalokasian tepat sasaran sesuai berbagai kebutuhan kesehatan (promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif).
Pengelolaan dan pemanfaatan tertib, mudah, lancar.
Kegiatan yang berkesinambungan.
Tabulin atau tabungan ibu bersalin merupakan bagian dari program yang ada, dimana
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) selaku mitra Depkes dan BKKBN turut membina masyarakat untuk
sosialisasi program ini. Selain itu utk biaya melahirkan, Tabulin juga bisa dipakai sebagai
penunjang biaya pasca persalinan. Beragam penyuluhan yang menjadi program penting dalam
siaga ini, karena dalam penyuluhan warga selalu diingatkan akan biaya kehamilan akan 3
TERLAMBAT, yaitu terlambat mengenali tanda bahaya , terlambat sampai RS dan terlambat
mendapat pertolongan bidan / dokter. Juga bahaya 4 TERLALU yaitu : terlalu sering, terlalu
muda, terlalu tua,terlalu banyak. Yang merupakan faktor resiko terjadinya komplikasi persalinan.
Sebelum ada desa siaga sudah dimulai dengan tabungan Ibu bersalin (Tabulin). Jadi kita
menerangkan ke Ibu hamil dan keluarganya, meskipun kaya. Justru orang kaya tersebut
memberikan contoh kepada orang-orang yang tidak mampu untuk menabung. Dan Ibu hamil di
berikan buku yang dibawa setiap pemeriksaan.
2.1.5 Mekanisme Tabulin
Tabungan itu terbentuk berdasarkan RW atau Posyandu, bila Posyandunya empat, maka
tabungannya ada empat di desa itu.
Ada pun manfaat dari tabulin antara lain :
Sebagai tabungan / simpanan itu yang digunakan untuk biaya persalinan atau sesudah
persalinan.
Ibu dan keluarga tidak merasa terbebani terhadap biaya persalinan.
2.2 DONOR DARAH BERJALAN
2.2.1 Definisi Donor darah Berjalan
Donor darah berjalan adalah donor yang dilakukan tiap hari. Donor darah berjalan ini
adalah program PMI untuk memenuhi pasokan darah di PMI karena PMI sering mengalami
kekurangan pasokan darah sedangkan yang membutuhkan donor darah sangat banyak.

Donor darah berjalan merupakan salah satu strategi yang dilakukan Departemen
Kesehatan dalam hal ini direktorat Bina Kesehatan Ibu. Melalui program pemberdayaan
perempuan, keluarga dan masyarakat, dalam upaya mempercepat penurunan AKl.
Donor darah berjalan adalah para donor aktif yang kapan saja bisa dipanggil. Termasuk kerja
mobil ambulance dilapangan yang mendatangi instansi pemerintahan dan swasta terkait sediaan
darah lewat program yang mereka buat.
Untuk menguatkan program tersebut Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadilah Supari,
Sp.JP(K) mencanangkan dimulainya penempelan stiker perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) secara nasional. Dengan pencanangan ini, semua rumah yang di dalamnya
terdapat ibu hamil akan ditempeli stiker berisi nama, tanggal taksiran persalinan, penolong
persalinan, tempat persalinan, pendamping persalinan, transportasi dan calon pendonor darah.
Dengan demikian, setiap kehamilan sampai dengan persalinan dan nifas dapai dipantau oleh
masyarakat sekitar dan tenaga kesehatan sehingga persalinan tersebut berjalan dengan aman dan
selamat.
Kebutuhan akan darah dari tahun ke tahun semakin meningkat yaitu mencapai 3 juta
kantong per tahun. Sementara PMI setiap tahunnya hanya dapat mengumpulkan sekitar 1.2 juta
kantong. Masih kurangnya jumlah kantong darah yang harus dikumpulkan disebabkan masih
minimnya geliat masyarakat untuk mendonorkan darah mereka. Oleh karena itu perlu dilakukan
penggalangan Donor Darah Sukarela (DDS).
2.2.2 Manfaat Donor Darah
Selain segi sosial dan derma yang dapat dijadikan dorongan mengapa kita perlu
mendonorkan darah secara rutin, terdapat beberapa manfaat medis dari donor darah secara
teratur. Donor darah terutama baik bagi mereka yang memiliki kandungan besi dalam darah
berlebihan karena besi yang berlebih cenderung akan menumpuk pada berbagai organ vital
seperti jantung, liver, ginjal dan mengganggu fungsinya (hemokromatosis). Selain itu, beberapa
penelitian medis, walaupun belum sempurna dijelaskan secara medis, mengemukakan bahwa
donor darah rutin akan membantu kelancaran aliran darah (sistem kardiovaskular). Pengurangan
kekentalan darah sehingga menjamin kelancaran suplai darah bagi tubuh tersebut ditengarai
menyebabkan efek positif bagi jantung, sehingga pernah ada penelitian yang menyatakan bahwa
donor darah rutin mampu membantu mengurangi angka kejadian serangan jantung pada pria.
Mungkin kekhawatiran efek samping dari donor darah seperti yang dijadikan alasan bagi
kebanyakan dari kita adalah benar, namun angka kejadiannya jarang. Dengan berbagai tahapan
persiapan dan skrining sebelum mendonor maka semua efek samping tersebut nyaris tidak akan
terjadi. Kekhawatiran akan terjadinya kekurangan darah (anemia) misalnya. Dengan
pemeriksaan kadar Hb sebelumnya maka hal tersebut dapat dicegah. Selama Hb orang dewasa
diatas 12, donor darah relatif aman untuk dilakukan, malah dianjurkan. Memar dapat terjadi pada
bekas tusukan jarum, namun jarang luas dan hilang sempurna tidak lebih dari setengah minggu.
Salah satu yang lumayan sering dijumpai adalah terjadinya reaksi hipovolemia yang berupa
tekanan darah turun mendadak pasca donor sehingga membuat si pendonor merasa pusing, lemas
dan mual.
Hal ini dapat dicegah misalnya dengan menanyakan sebelumnya adakah riwayat kejadian
tersebut pada donor sebelumnya, atau apakah ada riwayat penyakit tertentu, memeriksa tekanan
darah sebelumnya, sesudah donor maka berbaring sekitar 10 menit lebih dulu sebelum berdiri
dan berjalan, serta dengan diberikannya makanan dan minuman manis segera setelah donor.
Kekhawatiran untuk terinfeksi penyakit serius seperti HIV misalnya, adalah berlebihan. Selama

peralatan seperti jarum yang dipakai adalah steril dan masih baru, hal tersebut pastinya dapat
dicegah. Justru resiko terinfeksi lebih besar terjadi pada mereka yang menerima transfusi darah
ketimbang si pendonor karena beberapa ketidaksempurnaan dalam skrining darah.
Dari sudut medis tindakan menyumbang darah merupakan kebiasaan baik bagi kesehatan
pendonor. Salah satunya, dengan berdonor darah secara teratur secara tidak langsung pendonor
telah melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur pula. Karena sebelum mendonorkan darah
terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap.
Darah yang disumbangkan dapat expired (kedaluwarsa) bila tidak terpakai. Sel-sel darah
merah harus digunakan dalam 42 hari. Platelet harus digunakan dalam 5 hari, dan plasma dapat
dibekukan dan digunakan dalam jangka waktu 1 tahun. Selain itu, donor darah akan membantu
menurunkan risiko terkena serangan jantung dan masalah jantung lainnya. Penelitian
menunjukkan, mendonorkan darah akan mengurangi kelebihan zat besi dalam tubuh. Walau
masih perlu penelitian lagi untuk memastikannya, kelebihan zat besi diduga berperan
menimbulkan kelainan pada jantung. Kelebihan itu akan membuat kolesterol jahat (LDL)
membentuk ateros/derosis (plak lemak yang akan menyumbat pembuluh darah).
Jika donor darah dilakukan 2-3 kali setahun, atau setiap 4 bulan sekali, diharapkan
kekentalan darah berkurang sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan
pembuluh darah. Sistem produksi sel - sel darah juga akan terus terpicu untuk memproduksi selsel darah baru yang akan membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh. Sirkulasi darah yang baik
akan meningkatkan metabolisme dan merevitalisasi tubuh.
Siklus pembentukan sel-sel darah baru yang lancar dan metabolisme tubuh yang berjalan
baik, membuat berbagai penyakit dapat dihindarkan. Selama 24 jam setelah berdonor maka
volume darah akan kembali normal. Sel-sel darah akan dibentuk kembali dalam waktu 4-8
minggu.
Merupakan salah satu kegiatan yang diadakan didesa-desa yang ingin menyukseskan
program Desa Siaga. Kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu
melalui penyaluran donor darah untuk ibu hamil atau ibu bersalin yang membutuhkannya.
Kegiatan donor darah berjalan melibatkan peran serta masyarakat, khususnya keluarga dari ibu
hamil dan ibu bersalin. Masyarakat diharapkan dapat membangun sistem jaringan donor darah
dalam suatu kelompok masyarakat desa, sehingga dalam situasi darurat donor secepatnya dapat
diberikan kepada ibu melahirkan.
Secara umum proses pembentukan donor darah berjalan hampir sama dengan
pembentukan dana sehat hanya saja pada tahap sosialisasi memerlukan bantuan dari palang
merah indonesia ( PMI ) untuk menjelaskan masalah donor darah agar masyarakat bertambah
pengetahuannya. Dengan demikian diharapkan dapat terjadi peningkatan peran serta masyarakat
dalam pelaksanaan donor darah. Pelaksanaan kegiatan donor darah berjalan melibakan seluruh
anggota masyarakat termasuk ibu hamil. Pada tahap awal, setiap ibu hamil diharapkan memiliki
lima orang dewasa dalam keluarganya untuk diikutsertakan dalam proses pemeriksaan kehamilan
dan pemberian konseling mengenai segala persiapan kehamilan dan dalam menghadapi
persalinan. Kelima orang tersebut diperiksa golongan darahnya untuk persiapan sebagai
pendonor apabila terjadi perdarahan apabila sewaktu-waktu, seorang ibu hamil atau ibu bersalain
memerlukan donor darah, bidan dapat segera menghubungi anggota keluarganya yang memiliki
golongan darah yang sama. Sistem sederhanai ini diharapkan dapat memberikan dampak besar
terhadap keberhasilan program Desa Siaga terutama untuk menurunkan angka kematian ibu
hamil, bersaln, nifas , serta bayi.

1.
2.
3.
4.

5.
6.
7.
8.

2.2.3 Tahapan Donor Darah Berjalan


Adapun donor darah dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu :
Fasilitasi warga untuk menyepakati pentingnya mengetahui golongan darah.
Jika warga belum mengetahui golongan darahnya, maka perlu dilakukan pemeriksaan golongan
darah bagi seluruh warga yang memenuhi syarat untuk menjadi donor darah.
Hubungi pihak Puskesmas untuk menyelenggarakan pemeriksaan darah. Jika Puskesmas tidak
mempunyai layanan pemeriksaan darah, maka mintalah Puskesmas melakukan rujukan. Jika
diperlukan hubungi unit tranfusi darah PMI terdekat.
Buatlah daftar golongan darah ibu hamil dan perkiraan waktu lahir, kumpulkan nama warga
yang mempunyai golongan darah yang sama dengan ibu hamil. Catat nama dan alamat mereka
ataupun cara menghubungi yang tercepat dari semua warga yang bergolongan darah sama
dengan ibu hamil.
Usahakan semua ibu hamil memiliki daftar calon donor darah yang sesuai dengan golongan
darahnya.
Buatlah kesepakatan dengan para calon donor darah untuk selalu siap 24 jam, sewaktu-waktu
ibu hamil memerlukan tranfusi.
Buat kesepakatan dengan Unit Tranfusi darah, agar para warga yang telah bersedia menjadi
pendonor darah diprioritaskan untuk diambil darahnya, terutama tranfusi bagi ibu bersalin yang
membutuhkannya.
Kader berperan memotivasi serta mencari sukarelawan apabila ada salah seorang warganya
yang membutuhkan darah.
2.3 AMBULANCE DESA

2.3.1 Definisi Ambulance Desa


Ambulans desa adalah mobil milik warga yang secara sukarela disiagakan untuk membantu
ibu hamil yang telah tiba masa persalinannya atau ibu hamil yang diharuskan untuk
memeriksakan diri ke fasilitas yang lebih memadai dari apa yang ada di tempat ia tinggal.
Ambulan desa adalah salah satu bentuk semangat gotong royong dan saling peduli sesama
warga desa dalam sistem rujukan dari desa ke unit rujukan kesehatan yang berbentuk alat
transportasi.
Ambulan desa adalah suatu alat transportasi yang dapat digunakan untuk mengantarkan warga
yang membutuhkan pertolongan dan perawatan di tempat pelayanan kesehatan.

2.3.2 Tujuan Ambulance Desa


a) Tujuan Umum
Membantu mempercepat penurunan AKI karena hamil, nifas dan melahirkan.
b) Tujuan Khusus
Mempercepat pelayanan kegawat daruratan masa1ah kesehatan, bencana serta kesiapsiagaan
mengatasi masalah kesehatan yang terjadi atau mungkin terjadi.

2.3.3 Sasaran Ambulance Desa


Pihak-pihak yang berpengaruh terhadap perubahan prilaku individu dan keluarga yang
dapat menciptakan iklim yang kondusif terhadap perubahan prilaku tersebut. Semua individu dan

keluarga yang tanggap dan peduli terhadap permasalahan kesehatan dalam hal ini kesiapsiagaan
memenuhi sarana transportasi sebagai ambulan desa.

2.3.4 Kriteria Ambulance Desa


Kendaraan yang bermesin yang sesuai standart ( mobil sehat ).
Mobil pribadi, perusahaan, pemerintah pengusaha .
ONLINE (siap pakai)

2.4 PERAN AKTIF SUAMI DALAM SATGAS GSI


Desa/Kelurahan
Siap,
Antar,
Jaga
(Siaga)
adalah
Desa/Kelurahan
yang
melaksanakan/menjalankan program GSI dan mempunyai/melaksanakan langkah sebagai berikut
:
1. Mempunyai SK tentang Satgas Revitalisasi GSI Desa/Kel termasuk rencana kerja Satgas
tersebut
2. Mempunyai data dan peta bumil yang akurat dan selalu diperbaharui
3. Telah terbentuknya pengorganisasian Tabulin/Dasolin
4. Telah terbentuknya pengorganisasian ambulans desa
5. Telah terbentuknya pengorganisasian donor darah desa
6. Telah terbentuknya pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan
7. Telah terbentuknya pengorganisasian penghubung/liason (kader penghubung)
8. Adanya mekanisme/tata cara rujukan
9. Adanya pengorganisasian : Suami Siaga, Warga Siaga, Bidan Siaga
10. Adanya/telah terbentuknya Pondok Sayang Ibu
11. Terlaksananya penyuluhan kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga, suami dan ibu
hamil tentang peningkatan kualitas hidup perempuan, pencegahan kematian ibu, kematian bayi,
ASI eksklusif, kesehatan reproduksi dan wajib belajar bagi perempuan
12. Tersedianya/terlaksananya pencatatan dan pelaporan
Dalam upaya mencapai tujuan negara untuk mensejahterakan masyarakat telah dilakukan
berbagai upaya pembangunan di daerah sampai tingkat desa/kelurahan. Salah satu upaya dalam
meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui penurunan Angka Kematian Ibu saat
hamil, melahirkan dan masa nifas (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sejak tahun 1996
telah diluncurkan suatu gerakan yaitu Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang pencanangannya
dilakukan oleh Presiden RI pada tangal 22 Desember 1996 di Kabupaten Karanganyar, Propinsi
Jawa Tengah.
Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk
meningkatkan kualitas hidup perempuan utamanya dalam percepatan penurunan Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dalam rangka peningkatan kualitas
sumber daya manusia. Penurunan AKI dan AKB berkontribusi dalam meningkatkan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) daerah dan Negara yang salah satu indikatornya adalah derajat
kesehatan. Upaya percepatan penurunan AKI dan AKB juga merupakan komitmen internasional
dalam rangka target mencapai target Millenium Development Goals (MDGs). Adapun target
penurunan AKB adalah sebesar dua per tiga dan AKI sebesar tiga perempatnya dari 1990-2015.
Dalam pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI), Kecamatan merupakan lini terdepan untuk
mensinergikan antara pendekatan lintas sektor dan masyarakat dengan pendekatan sosial budaya
secara komprehensif utamanya dalam mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan

Angka Kematian Bayi (AKB). Sebagai suatu gerakan, Gerakan Sayang Ibu (GSI) telah
memberikan kontribusi yang dirasakan manfaatnya dengan adanya data,
Panduan penilaian
Kecamatan Sayang Ibu
Panduan penilaian
berkurangnya jumlah kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas, serta meningkatnya
rujukan yang berhasil ditangani.
Dengan adanya perubahan sistem pemerintahan dan kebijakan sektor pemerintah, maka
pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) perlu disesuaikan agar dapat bersinergi dan terintegrasi
dengan program dan kegiatan lain yang ada pada daerah. Oleh karena itu diperlukan Revitalisasi
Gerakan Sayang Ibu (GSI). Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah upaya pengembangan
Gerakan Sayang Ibu (GSI) melalui upaya ekstensifikasi, intensifikasi dan institusionalisasi.
Untuk mendorong pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) perlu dilaksanakan
berbagai upaya termasuk melalui penilaian untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan
Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) terutama di tingkat Kecamatan. Dengan adanya penilaian
Kecamatan Sayang Ibu diharapkan peran pembinaan dan fasilitasi Kab./Kota dan Provinsi
menjadi lebih optimal.