Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

Kehamilan postterm merupakan kehamilan yang berlangsung selama


42 minggu atau lebih sejak awal periode haid yang diikuti oleh ovulasi 2
minggu kemudian. Meskipun kehamilan postterm mencakup 10 % dari
seluruh kehamilan, sebagian diantaranya mungkin tidak postterm oleh
karena kekeliruan dalam menentukan usia kehamilan. Informasi yang tepat
mengenai lamanya kehamilan adalah penting karena semakin lama janin
berada di dalam uterussemakin besar pula resiko bagi janin dan bayi baru
lahir untuk mengalami gangguan yang berat. (Cunningham, 1997)
Akurasi diagnosis kehamilan postterm sangat tergantung dari
ketepatan penghitungan usia kehamilan. Untuk menghitung usia kehamilan
dengan benar dapat dilakukan dengan menentukan hari pertama haid
terakhir . Panjang siklus haid harus diketahui dengan benar dan lamanya
usia kehamilan harus disesuiakan dengan panjang siklus haid. Untuk
menghitung taksiran persalinan dapat digunakan rumus Naegele yaitu hari
pertama haid terakhir ditambah tujuh, bulan dikurang tiga, dan tahun
ditambah satu. Karena saat persalinan bergantung pada saat ovulasi dan
saat ovulasi ditentukan lamanya siklus menstruasi, maka rumus Naegele
hanya dapat digunakan jika menstruasi teratur dengan siklus 28 hari.
(Knuppel RA 1993, Cunningham 1997).
Kehamilan postterm merupakan permasalahan dalam obstetri modern
karena pada kehamilan postterm terjadi peningkatan angka kesakitan dan
kematian bayi. Insiden kehamilan postterm antara 3 % - 12 % hal ini

tergantung pada definisi yang dianut dan kriteria yang dipergunakan dalam
menentukan usia kehamilan (Shaw K, Paul R, 1992)
Induksi persalinan adalah suatu tindakan terhadap ibu hamil yang
belum inpartu, baik secara tindakan atau medisinal, untuk merangsang
timbulnya

kontraksi

uterus

sehingga

diharapkan

terjadi

persalinan,

(Setjalilakusuma, L, 2000 ) atau penipisan dan dilatasi serviks yang


progresif disertai penurunan bagian presentasi janin.

(Patrie,

R.H.,

Williams A.M, 1993)


Bila dengan pemberian dosis oksitosin 30 40 mU/ menit tidak
didapatkan his yang adekuat, induksi tak perlu lagi dilanjutkan hal ini
disebut dengan drip gagal. Biasanya dengan dosis 20 mU/ menit sudah
didapat kontraksi uterus yang adekuat. (Setjalilakusuma, 2000)
Berikut ini akan dibicarakan kasus wanita umur 17 tahun masuk
kamar bersalin Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang tanggal 27
Juni 2001 jam 13.30 Wib kiriman poliklinik dengan diagnosis G1P0A0H0
Gravida Postterm (43-44 minggu), pasien didrip induksi dengan oksitosin
sampai 3 kali tetapi tak ada respon, dan dilakukan seksio sesaria, lahir anak
perempuan dengan berat badan 2500 gram dan panjang badan 48 cm
dengan A/S 7/8 , pada anak tidak ditemukan tanda-tanda postmaturitas.
Yang menjadi permasalahan pada kasus ini adalah :
1. Apakah kehamilan benar-benar postterm ?
2. Apakah penatalaksanaan kehamilan postterm sudah tepat.
3. Apakah penyebab kegagalan induksi.
4. Apakah terminasi kehamilan dengan seksio sesarea sudah saatnya.

BAB II
KASUS

Nama
: Destaviani
Nama Suami
: Dodi Iswandi
Umur
: 17 tahun
Umur
: 23 tahun
Pendidikan
: Tamat SD
Pendidikan
: Tamat SD
Pekerjaan
: Rumah Tangga
Pekerjaan
: Swasta
Alamat
: Lubuk Begalung
No MR
: 227290
____________________________________________________________________
Seorang pasien wanita 17 tahun masuk Kamar Bersalin RSUP Dr. M.
Djamil Padang tanggal 27 Juni 2001 jam 13.30. Wib, kiriman Poliklinik
Kebidanan dengan diagnosis : G1P0A0H0 gravid postterm ( 43-44 minggu )

Riwayat Penyakit Sekarang :

Nyeri pinggang yang menjalar ke ari-ari tidak ada.

Keluar lendir campur darah dari kemaluan tidak ada.

Keluar air-air yang banyak dari kemaluan tidak ada

Keluar darah yang banyak dari kemaluan tidak ada

Tidak haid sejak 10 bulan yang lalu

HPHT 24-08-2000, TP 01-06-2001

Gerak anak dirasakan sejak 5 bulan yang lalu

Riwayat Hamil Muda

: Mual (-), Muntah (-), Perdarahan (-)

Pre Natal Care

: Teratur kebidan sebulan sekali

Riwayat Hamil Tua

: Mual (-), Muntah (-), Perdarahan (-)

Riwayat Menstruasi

: Menarche 14 tahun, siklus teratur 1x sebulan,


lamanya

5-7 hari , banyaknya 2-3x ganti duk /

hari,nyeri (-)
Riwayat Penyakit Dahulu

Tak ada riwayat penyakit jantung, paru,hepar, ginjal, hipertensi dan diabetes
militus
Riwayat Penyakit Keluarga

Tak ada keluarga menderita penyakit keturunan, menular dan kejiwaan.


Riwayat Perkawinan

: 1 x tahun 2000

Riwayat Kehamilan

: Sekarang ini

Riwayat Keluarga Berencana : tak ada


Riwayat Imunisasi

: 1 x TT

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran

: Sedang
: Komp0smentis Ko0peratif

Tekanan Darah
Nadi
Nafas
Suhu
Mata
Leher

: 120/80 mmHg
: 88 x / menit
: 20 x / menit
: 37 C
: Konjungtiva tak anemis, Sklera tak ikterik
: Jugular Vena Pressure 5 2 cm H2O

Kelenjar tiroid tidak membesar


Thorak

: Paru

I : Simetris kiri = kanan


P : Fremitus kiri = kanan N
P : Sonor kiri = kanan
A :Vesikuler N. kiri = kanan, ronchi (-), wheezing (-)

Jantung

I : Iktus tak terlihat


P : Iktus teraba I jari med. LMCS RIC V, tidak
kuat angkat
P : Batas jantung normal
A :Irama murni,reguler, bising (-)

Abdomen

: Status Obstetrikus

Genitalia

: Status Obstetrikus

Extremitas : Edema -/-, Reflek fisiologis +/+, Reflek patologis -/-

STATUS OBSTETRIKUS
Muka

: Kloasma Gravidarum ( + )

Mamae

: Membesar, A/P Hiperpigmentasi, Kolost rum (+)

Abdomen

: I : Membuncit sesuai dengan usia kehamilan aterm.


Linea Mediana hiperpigmentasi, stiae (+), sikatrik (-)
P : L I. Tinggi Fundus Uteri 3 jari bawah Prosesus Xipoideus
Teraba massa kurang bulat, lunak, tak melenting.

L II Tahanan terbesar sebelah kanan


Bagian-bagian kecil sebelah kiri
L III Teraba massa keras, bulat, belum terfiksir
L IV Bagian terbawah anak belum masuk pintu atas
panggul
TFU : 30 cm

TBA : 2635

His : ( )
A : BJA 12-11-12
Genitalia : I

: V/U Tenang

VT : 1 jari sempit
Porsio tebal 1 cm, arah posterior, konsistensi kenyal
Ketuban (+)

Teraba kepala H I
UPD : Promontorium tak tercapai
Linea Inominata teraba 1/3 1/3
Sakrum cekung
Spina Ischiadica tidak menonjol
Os Coccygis mudah digerakkan
Arcus Pubis > 90o
UPL : DIT dapat dilalui 1 tinju dewasa
Kesan : Panggul luas

DIAGNOSIS :
G1P0A0H0 Gravida Postterm ( 43-44 minggu )
Anak hidup tunggal intra uterin let kep H I
SIKAP

: Rawat KR
USG, CTG, Amnioskopi, Sitologi vagina
Kontrol Vital Sign, BJA, Tanda tanda inpartu
Tidur telentang

RENCANA

: Partus pervaginam

Hasil CTG : tanggal 27 Juni 2001

Base line 140 - 150 dpm

Variabilitas 5 20 dpm

Akselerasi (+)

Deselerasi (-)

Kesan : CTG Normal


Hasi USG : Tanggal 27 Juni 2001
-

Janin intra uterine tunggal letak kepala

FM (+), FHR (+)

DBP: 90,9 mm, FL: 71,1 mm

Air ketuban cukup

Plasenta tertanam di korpus kiri grade II III

Kesan : Gravida Aterm Janin Hidup


Tanggal 28-06-2001
Anamnesis : Gerak anak (+)
Keluhan lain (-)
Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum

: Sedang

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nafas

: 20 x / menit

HIS

: (-)

Kesadaran : Komposmentis Koperatif


Nadi

: 80 x / menit
Suhu

BJA

: 12-11-12

: 37 C

Genitalia : I

: V/U Tenang

VT : 1 jari
Porsio tebal 1 cm, arah posterior, konsistensi lunak
Ketuban (+)
Teraba kepala H I
UPD : Luas
Diagnosis : G1P0A0H0 Gravida Postterm ( 43 44 minggu )
Anak hidup tunggal intra uterin letak kepala.
Sikap

: Drip Induksi
Kontrol Vital sign, BJA, tanda inpartu
Tidur telentang

Rencana

: Partus pervaginam

Jam 13.00 WIB


Dilakukan drip induksi syntosinon 5 IU dalam 500 cc RL, dimulai 10 tetes /
menit, dinaikan 5 tetes tiap 30 menit sampai tercapai his yang adekuat.
Jam 17.00 WIB
Selesai drip induksi kolf I hari pertama.

Anamnesis : Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari tak ada


9

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Sedang

Tekanan Darah

: 110/80 mmHg

Nafas

: 22 x / menit

HIS

:()

Genitalia : I

Kesadaran : Kompesmentis Koperatif


Nadi
Suhu
BJA

: 88 x / menit
: 37 C
: 12 11 12

: V/U Tenang

VT : 1 jari
Portio tebal 1 cm, arah posterior, konsistensi lunak
Ketuban (+)
Teraba kepala H I
UPD : Luas

Diagnosis :
G1P0A0H0 Gravida Postterm (43 44 minggu) + Silesai drip induksi kolf I
hari pertama
Anak hidup tunggal intra uterin let kep H I
Sikap

: Pindah KR
Kontrol VS , BJA, Tanda-tanda inpartu

10

Rancana : Partus pervaginam


29 Juni 2001
Anamnesis : Gerak anak (+)
Keluhan lain (-)
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Sedang

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nafas

: 20 x / menit

HIS

:()

Genitalia : I

Kesadaran
Nadi

: Kompesmentis Koperatif

: 80 x / menit
Suhu

BJA

: 37 C
: (12 11 12)

: V/U Tenang

VT : 1 jari
Portio tebal 1 cm, arah posterior, konsistensi lunak
Ketuban (+)
Teraba kepala H I
UPD : Luas
Diagnosis :
G1P0A0H0 Gravida Postterm (43 44 minggu) + Selesai drip induksi kolf I
Hari pertama
Anak hidup tunggal intra uterin let Kep H I
Sikap

: CTG ulang
11

Drip Induksi kolf I hari ke dua jika jika CTG normal


Kontrol VS, BJA, Tanda-tanda inpartu
Tidur telentang
Rancana : Partus pervaginam
Hasil pemeriksaan CTG : Kesan Normal
Sitologi Vagina : Kesan Kehamilan Aterm
Jam 10.00 WIB
Dimulai drip induksi Syntosinon 5 IU dalam 500 RL dimulai 10 tetes / menit
dinaikkan 5 tetes tiap 30 menit, sampai tercapai his yang adekuat.
Jam 14.15 WIB
Selesai drip induksi kolf I Hari ke 2
Anamnesis : Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari tak ada
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Sedang

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Nafas

: 20 x / menit

HIS

:()

Genitalia : I

Kesadaran : Komposmentis Koperatif


Nadi

: 88 x / menit
Suhu

BJA

: 37 C
: 12 11 12

: V/U Tenang

VT : 1 jari
Portio tebal 1 cm, arah posterior, konsistensi lunak
12

Ketuban (+)
Teraba kepala H I - II
UPD : Luas
Diagnosis :
G1P0A0H0 Gravida Postterm (43 44 minggu) + Silesai drip induksi kolf I
hari pertama
Anak hidup tunggal intra uterin let Kep H I II
Sikap

: Pindah KR
Kontrol VS, HIS , BJA, Tanda-tanda inpartu
CTG ulang

Rancana : Partus pervaginam

30 Juni 2001
Hasil CTG ulang :
Kesan : CTG normal.

Jam 12.30 Pasien sampai di KB


Anamnesis : Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari tak ada
Gerak anak (+)
13

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Sedang

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nafas

: 20 x / menit

HIS

:()

Genitalia : I

Kesadaran : Komposmentis Koperatif


Nadi

: 80 x / menit
Suhu

BJA

: 37 C
: 12 11 12

: V/U Tenang

VT

: 1 jari
Portio tebal 1 cm, arah posterior, konsistensi lunak
Ketuban (+)
Teraba kepala H I-II

UPD : Luas

Diagnosis :
G1P0A0H0 Gravida Postterm (43 44 minggu) + selesai drip induksi kolf I
hari ke dua
Anak hidup tunggal intra uterin let kep H I II

Sikap

: Drip Induksi kolf I hari ke tiga


Kontrol VS, BJA, Tanda-tanda inpartu
14

Tidur telentang
Rancana : Partus pervaginam
Jam 12.45 WIB
Dimulai drip induksi kolf pertama hari ke tiga
Syntosinon 5 IU dalam 500 cc RL mulai 10 tetes / menit, naikkan 5 tetes /
30 menit sampai tercapai his yang adekuat.
Jam 17.00 WIB
Selesai drip induksi kolf I hari ke tiga
Anamnesis : Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari tak ada , Gerak anak (+)
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Sedang

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nafas

: 20 x / menit

HIS

:()

Genitalia : I
VT

Kesadaran : Komposmentis Koperatif


Nadi

: 80 x / menit
Suhu

BJA

: 37 C
: 12 11 12

: V/U Tenang
: 1 jari
Portio tebal 1 cm, arah posterior, konsistensi lunak
Ketuban (+)
Teraba kepala H I-II

UPD : Luas
15

Diagnosis :
G1P0A0H0 Gravida Postterm (43 44 minggu) + selesai drip induksi kolf I
hari ke tiga
Anak hidup tunggal intra uterin let kep H I II
Sikap

: Siapkan Seksio sesaria


Kontrol VS, HIS , BJA
Tidur telentang

Rancana : Seksio sesaria


Jam 17.15 WIB
Dilakukan SCTPP, Lahir anak perempuan :
Berat badan

: 2500 gram

Panjang badan : 48 cm
Apgar Skor

: 7/8

Plasenta lahir manual lengkap 1 buah, berat 450 gram, ukuran 17 x 17 x


2,5 cm. PJTP 50 cm. .Perdarahan selama tindakan 350 cc.
Diagnosis : Para 1 Post SCTPP atas indikasi drip gagal.
Sikap

: Awasi paska tindakan.

16

BAB III
KEPUSTAKAAN

KEHAMILAN LEWAT WAKTU (POSTTERM)


Kehamilan postterm merupakan kehamilan yang berlangsung selama
42 minggu atau lebih sejak awal periode haid yang diikuti oleh ovulasi 2
minggu kemudian. Meskipun kehamilan postterm mencakup 10 % dari
seluruh kehamilan, sebagian diantaranya mungkin tidak postterm oleh
karena kekeliruan dalam menentukan usia kehamilan. Informasi yang tepat
mengenai lamanya kehamilan adalah penting karena semakin lama janin
berada di dalam uterussemakin besar pula resiko bagi janin dan bayi baru
lahir untuk mengalami gangguan yang berat. (Cunningham, 1997)
Kehamilan postterm menurut World Health Organization 1977 dan
Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO ,1986) adalah suatu
kehamilan

42

minggu

komplet

(294

hari)

atau

lebih.yang

dihitung

berdasarkan hari pertama dari haid terakhir. Pada beberapa literatur istilah
postdate pregnancy atau prolonged pregnancy kadang-kadang digunakan
juga

untuk

menggambarkan

kehamilan

17

postterm.

Sedangkan

Postmaturitas digunakan untuk menggambarkan janin yang lahir dengan


kehamilan lebih 42 minggu.(Schneider 1990, Bekketeig 1990)
Akurasi diagnosis kehamilan postterm sangat tergantung dari ketepatan
penghitungan usia kehamilan. Untuk menghitung usia kehamilan dengan
benar dapat dilakukan dengan menentukan hari pertama haid terakhir .
Panjang siklus haid harus diketahui dengan benar dan lamanya usia
kehamilan

harus

disesuiakan

dengan

panjang

siklus

haid.

Untuk

menghitung taksiran persalinan dapat digunakan rumus Naegele yaitu hari


pertama haid terakhir ditambah tujuh, bulan dikurang tiga, dan tahun
ditambah satu. Karena saat persalinan bergantung pada saat ovulasi dan
saat ovulasi ditentukan lamanya siklus menstruasi, maka rumus Naegele
hanya dapat digunakan jika menstruasi teratur dengan siklus 28 hari.
(Knuppel RA 1993, Cunningham 1997).
Pada umunya persalinan akan terjadi pada usia kehamilan 38-42
minggu (80 %), 8% lahir pada kehamilan preterm yaitu kecil 37 minggu dan
12% kehamilan akan berlanjut sampai usia kehamilan lebih 42 minggu.
(Knuppel RA 1993)
Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu
kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu. Rendahnya fungsi
plasenta berkaitan kejadian gawat janin dengan resiko 3 kali. Akibat dari
proses penuaan plasenta maka pemasokan makanan dan oksigen akan
menurun disamping adanya spasma arteri spiralis. Sirkulasi uteroplasenter
akan berkurang dengan 50 % menjadi hanya 250 ml/menit. Jumlah air
ketuban yang berkurang mengakibatkan perubahan abnormal jantung janin.
Kematian janin akibat kehamilan lewat waktu ialah terjadi pada 30 %

18

sebelum persalinan, 55 % dalam persalinan dan 15 % post natal.


(Wiknjosastro, 1999)
Kehamilan lewat waktu dapat meningkatkan angka kesakitan perinatal
dan angka kematian perinatal. Resiko kematian perinatal kehamilan lewat
waktu dapat menjadi 3 kali dibandingkan kehamilan aterm. (Wiknjosastro,
1999)
Komplikasi ibu dan janin akan meningkat seiring dengan meningkatnya
usia kehamilan. Eden et al (dikutip dari Knuppel 1993) mendapatkan
bahwa insiden seksio sesarea meningkat dua kali pada kehamilan postterm
dibandingkan dengan kehamilan aterm. Hal ini disebabkan meningkatnya
insiden cephalopelvik disproportion akibat anak besar. Disamping itu
dapat juga terjadi trauma jalan lahir akibat anak besar
Resiko kesakitan dan kematian bayi yang dilahirkan dari ibu dalam
persalinan lewat waktu adalah disebabkan disfungsi plasenta, trauma
persalinan

pada

bayi

makrosomia,

penekanan

tali

pusat

pada

oligohidramnion dan aspirasi mekoneum. (Heriyono 1992, Gabbe 1996)


Vorrher 1975 memperlihatkan bahwa angka kematian bayi pada
kehamilan postterm

berkisar 5-7 % , jauh diatas kehamilan atern yang

hanya 1-2 %. Bila dibandingkan dengan kehamilan aterm angka kematian


bayi pada usia kehamilan 43 minggu meningkat 2-5 kali dan pada usia
kehamilan 44 minggu 3-7 kali. Penelitian tersebut juga menyimpulkan
bahwa 20% dari bayi yang dilahirkan lewat waktu. Menunjukan tanda-tanda
dismaturitas atau sindroma posmatur, sedangkan makrosomia ditemukan
sebanyak 25% dari bayi yang dilahirkan lewat waktu.(Knuppel 1993)

19

Resiko relatif angka kematian perinatal antara kehamilan lewat waktu


dibandingkan kehamilan cukup bulan adalah 1,3. Sedangkan angka
kematian perinatal pada kehamilan lewat waktu adalah 3,7 per 1000 (Fabre
1989). Heriyono 1992 mendapatkan angka kematian perinatal pada
kehamilan lewat waktu 4,5 %, insiden asfiksia ringan sampai sedang 30,8%,
asfiksia berat 14,7% dan insiden makrosomia 10,4%.
Browne 1963 ( dikutip dari Gabbe 1996) menunjukkan bahwa
kematian bayi pada kehamilan 43 minggu, 2 kali lebih besar dari pada
kehamilan 40 minggu . Pada kehamilan lewat waktu terdapat 2,5% - 10%
bayi yang dilahirkan mempunyai berat badan lebih besar dari 4500 gr,
sedangkan janin pos matur yang dilakukan seksio sesaria atas indikasi
gawat janin sebanyak 1 0%.
Dengan ditemukannya teknik modern dalam mendeteksi kesejahteraan
janin mengakibatkan penurunan risiko terjadinya kematian perinatal. Dari
13 penelitian pengawasan antenatal untuk mengawasi kehamilan postterm
yang dilakukan sejak tahun 1978 sampai 1987 ditemukan resiko kematian
perinatal hampir sama dengan kehamilan cukup bulan (Dyson 1988)
Disfungsi plasenta tidak hanya menyebabkan peningkatan angka
kesakitan dan kematian janin tapi juga dapat menyebabkan terjadinya
penjepitan tali pusat akibat oligohidramnion. Leveno 1984 menemukan
bahwa penyebab terbanyak gawat janin yang dilakukan seksio sesarea pada
kehamilan lewat waktu adalah adanya deselarasi variabel yang merupakan
gambaran penekanan tali pusat. Sedangkan Silver et al 1987 (dikutip
dari Bochner CJ 1987) melaporkan bahwa diameter umbilikal cord yang
diukur

dengan

USG

dapat

meramalkan

20

akan

terjadi

fetal

distress

intrapartum

terutama

jika

diameternya

mengecil

dan

jika

disertai

oligohidramnion.
Pada kehamilan postterm pertumbuhan janin dapat terganggu atau
berhenti (Freeman FK, 1996) akibat dari berkurangnya fungsi plasenta /
insufisiensi plasenta dengan gambaran gangguan pada bayi yang baru lahir
yang disebut sindroma postmaturitas ( Campbell WA, 1993)
Sindroma postmaturitas adalah gambaran janin yang lahir dari ibu
hamil postterm yang ditandai dengan kulit yang diliputi mekonium, kulit
kering dan menggelupas, pertumbuhan kuku berlebihan, garis-garis pada
telapak tangan dan kaki sudah jelas ,rambut yang cukup banyak ,verniks
kaseosa dan rambut lanugo sedikit, abdomen cekung (scapoid), lemak sub
kutan sedikit serta muka sedih (Arulkumaran 1996) .Sindroma ini
ditemukan 20-40% dari kehamilan postterm. (Vorherr 1975)
Clifford 1954 (dikutip dari Gabbe 1996) menggambarkan pertama
sekali keadaan janin yang kurus, ketuban hijau,kulit mengelupas, dengan
plasenta yang kecil , dan sangat mungkin anak akan lahir mati.

Dalam

periode neonatus hal ini akan meningkatkan terjadinya hipoglikemi,


ketidakstabilan suhu dan

aspirasi mekonium. Gangguan pertumbuhan

pada post maturitas merupakan akibat insufisiensi uteroplasenta. Pertama


plasenta akan mengurangi suplai makanan yang adekuat ke janin dan
kemudian janin akan lahir dengan berat badan yang berkurang karena janin
menggunakan energi yang tersimpan pada jaringan lemak dan hati.
Pengurangan volume plasma janin akan mengarah pada oligohidramnion.
Kemudian plasenta akan kehilangan fungsi respirasi yang mengakibatkan
terjadinya asfiksia janin serta kemungkinan lahir mati.

21

Beberapa

janin

pertumbuhannya

dapat

berhenti

dengan

postmaturitas, tapi beberapa kelonpok janin lain dapat terus tumbuh


mencapai berat 4000 g, khususnya pada janin laki-laki. Schneider 1990,
memperlihatkan kebanyakan janin terus bertumbuh setelah 40 minggu
mengarah pada makrosomia.

Kira-kira 25-35 % janin post term beratnya

bisa melebihi 4000 g, angka kejadian ini 3 kali besar daripada janin lahir
aterm.

Sebagian besar janin yang mengalami partus lama dan proses

persalinan
meningkat.

yang

sukar,

resiko

untuk

terjadinya

trauma

lahir

akan

Peningkatan dari distosia bahu mencapai 1,9 kali karena

ukuran janin yang besar.

Janin yang makrosomia juga sering mengalami

asfiksia.
Berbeda dengan data yang diajukan oleh Shime et al 1984, yang
mengatakan bahwa kerusakan neurologik pada janin post term hampir sama
pada janin yang kecil. Berdasarkan data ini penelitian antenatal diperlukan
pada semua kehamilan post term tanpa melihat pertumbuhan janinnya.
Janin postterm dengan ketuban hijau lebih mungkin untuk mendapat
sindrom mekonium.

Mekonium ditemukan 25-30 % pada kehamilan post

term, dimana insidennya 2 kali lebih tinggi dari kehamilan aterm.


Pergerakan mekonium diakibatkan karena terjadinya rangsangan hipoksia
terhadap sistim parasimpatis atau hanya peningkatan fungsi oleh karena
maturnya, yang mengaktifkan vagal reflek.

Pengurangan cairan amnion

menyebabkan mekonium menjadi lebih kental dan menyebabkan obstruksi


jalan nafas.

Aspirasi ke alveoli akan menyebabkan kesukaran pernafasan

dan kematian.(Gabbe 1996)


Sampai saat ini tidak ada satu metodepun yang dapat menentukan usia
kehamilan dengan tepat. Oleh karena itu para ahli obstetri harus

22

mempertimbangkan kehamilan yang mencapai 42 minggu adalah suatu yang


abnormal.
Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan tanggal taksirana
persalinan atau usia kehamilan adalah : (Bergsjo 1985, Bekketeig 1990)
1. Menghitung 40 minggu kelender dari hari pertama haid terakhir
2. Menggunakan rumus Naegele
3. Menghitung 38 minggu kelender dari tanggal ovulasi yang diketahui.
4. Pemeriksaan USG pada trimester I
5. Gerak anak pertama kali dirasakan oleh ibu (qiuckening) biasanya
pada primipara usia kehamilan 18 minggu dan pada multipara pada
usia kehamilan 16 minggu.
6. Pemeriksaan besar uterus secara palpasi bimanual pada trimester I
atau dari tinggi fundus
Bergsjo 1985 mengatakan dari beberapa penelitian didapatkan bahwa
tingkat kepercayaan (reliability) USG tidak sebaik penanggalan HPHT dalam
menentukan usia kehamilan bila siklus menstruasinya teratur dan diketahui
dengan pasti, kecuali bila riwayat menstruasinya tidak pasti (irreguler).
Selanjutnya dikatakan bahwa pengukuran diameter biparietal (DBP) lebih
akurat dibandingkan dengan mengukur fetal crown-rump lenght (FL) dan
Pemeriksaan USG tidak mempunyai nilai prediksi bila dilakukan setalah 24
minggu kehamilan untuk menentukan usia kehamilan, disamping itu
kesalahan penilaian (operator error) dapat saja terjadi.
Di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. M.Jamil Padang bila
kehamilan telah mencapai lebih dari 42 minggu (postterm) dilakukan
pemeriksaan USG dan CTG untuk menilai kesejahteraan janin (fetal well
being) dengan menggunakan skor profil biofisik . Bila fetal well being baik
23

dan syarat lahir pervaginam terpenuhi maka kehamilan dakhiri dengan


induksi persalinan.

PENILAIAN KEADAAN JANIN


Yang

terpenting

dalam

menangani

kehamilan

lewat

waktuialah

menentukan keadaan janin karena keterlambatan akan menimbulkan resiko


kegawatan.
Penentuan keadaan janin : (Wiknjosastro, 1999)
1. Tes tanpa tekanan (non stress test)
Bila diperoleh hasil non reaktif dilanjutkan dengan tes tekanan
oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8 %
menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan tes
tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah
membuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur.

24

2. Gerakan janin
Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif berkurang (normal
rata-rata 7 kali/20 menit) atau secara obyektif dengan tokografi
(normal rata-rata 10 kali/menit).
Gerakan

janin

dapat

pula

ditentukan

pada

pemeriksaan

ultrasonografi.
3. Amnioskopi
Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin janin
masih baik. Sebaiknya bila air ketuban sedikit dan mengandung
mekoneum akan mengalami resiko asfiksia 33 %.

PENANGANAN PERSALINAN
Bila dari pemeriksaan keadaan janin didapatkan janin masih baik,
memungkinkan untuk mengambil keputusan, menunda persalinan selama 1
minggu dengan menilai gerakan janin dan tes tanpa tekanan 3 hari lagi.
(Wiknjosastro, 1994)
Gawat janin relatif cukup banyak (14,7 %) dan terutama terjadi pada
persalinan

sehingga

memerlukan

pengawasan

dengan

Seksio sesarea sebaiknya dilakukan apabila terdapat :


-

Deselerasi lambat berulang

25

kardiotokografi.

Variabilitas yang abnormal ( 5 dpm)

Pewarnaan mekoneum

Gerakan janin yang abnormal ( 5/20 menit)

Indikasi obstetri yang lain

Angka kesakitan dan angka kematian akan meningkat pada kehamilan


yang lebih dari 42 minggu. Tindakan yang menguntungkan bagi bayi adalah
mengakhiri kehamilan. Ada permasalahan yang menyebabkan seringnya
penundaan pengakhiran kehamilan pada kehamilan postterm yaitu :
(Cunningham, 1995)
1. Usia kehamilan tidak selalu diketahui dengan tepat, dengan demikian
janin bisa saja belum matur sebagaimana diperkirakan
2. Sangat sulit menentukan janin mana yang akan mengalami morbiditas
atau mortalitas apabila dibiarkan dalam uterus
3. Sebagian besar janin dalam keadaan cukup baik
4. Induksi persalinan tak selalu berhasil
5. Persalinan seksiosesarea meningkatkan secara nyata resiko morbiditas
maternal bukan hanya pada kehamilan sekarang tapi juga untuk
kehamilan yang akan datang.
Sebelum ditemukannya metode penilaian kesehatan janin yang baik,
pendekatan

aktif

dalam

penatalaksanaan

26

kehamilan

postterm

dapat

dibenarkan berdasarkan klasifikasi usia kehamilan yang pasti ataupun


diragukan. (Cunningham, 1997)
Sekarang ini pada banyak rumah sakit, penatalaksanaan terhadap
kehamilan antara 42 44 minggu terdiri atas pemeriksaan serial yang
terutama ditujukan untuk menentukan keadaan yang mengancam jiwa janin
(seperti berkurangnya cairan amnion atau berkurangnya gerakan anak yang
dirasakan

ibu)

sementara

menunggu

persalinan

spontan.

Dengan

timbulnya gawat janin yang nyata atau dicurigai bayi dapat dilahirkan
melalui induksi persalinan atau seksio sesarea.(Cunningham, 1997)
Penatalaksanaan meliputi pemeriksaan

vaginal mingguan, penilaian

volume cairan amnion dengan USG, dan test fungsi plasenta ( seperti
monitoring detak jantung bayi dengan CTG ) Persalinan harus dilakukan
apabila serviks matang,cairan amnion sedikit, atau terjadi fetal distress.
(Spellacy, W.N, 1996)
Masalah

yang

akan

timbul

pada

janin

postterm

adalah

oligohidramnion dengan kompresi tali pusat akut, pengeluaran dan aspirasi


mukonium,

makrosemia

dengan

masalah

pada

waktu

persalinan,

insufisiensi plasenta dengan dismaturitas, hipoksia, asidosis dan kematian


janin. (Spellacy, W.N, 1996)

27

INDUKSI PERSALINAN

Induksi persalinan adalah suatu tindakan terhadap ibu hamil yang


belum inpartu, baik secara tindakan atau medisinal, untuk merangsang
timbulnya kontraksi uterus sehingga diharapkan terjadi persalinan, atau
penipisan dan dilatasi serviks yang progresif disertai penurunan bagian
presentasi janin.(Patrie

RH,

Williams AM,

1993)

Tindakan induksi

persalinan ini adalah untuk keselamatan ibu dan anak, tetapi walaupun
dilakukan

dengan

terencana

dan

hati-hati,

kemungkinan

untuk

menimbulkan resiko terhadap ibu dan janin tetap ada. (Setjalilakusuma,


2000)

Ada 2 cara induksi persalinan


1. Medisinal
-

Infus oksitosin

Prostaglandin

Cairan hipertonik intra uterin

2. Tindakan operatif
-

Amniotomi

Melepaskan selaput ketuban dari bagian bawah rahim.

28

Pemakaian rangsangan listrik

Rangsangan pada puting susu

Indikasi induksi persalinan


1. Indikasi janin
-

Kehamilan lewat waktu

Ketuban pecah dini pada kehamilan aterm

Kematian janin intra uterin

2. Indikasi ibu
-

Preeklampsia berat / eklampsia

Kehamilan dengan diabetes mellitus

Solusio plasenta

Kontraindikasi
Secara umum setiap kontraindikasi pada partus spontan pervaginam
juga merupakan kontra indikasi pada induksi persalinan : (OBrien WF,
Cefalo RC,1996)
-

Cepalo Pelvic Disproporsi

Kelainan presentasi

Insufisiensi plasenta

Cacat rahim : pernah SC atau enuklasi myoma

Grande multipara

29

Gameli

Distansi rahim yang berlebihan

Plasenta Previa( Setjalilakusuma, L, 2000 )

Primigravida dengan penyulit

Syarat-syarat pemberian infus oksitosin


1. Agar infus oksitosin berhasil dalam menginduksi persalinan dan tidak
memberikan penyulit bagi ibu maupun janin maka diperlukan syaratsyarat sebagai berikut :
a. Kehamilan aterm
b. Ukuran panggul normal
c. Tidak ada CPD
d. Janin dalam presentasi kepala
e. Sevik sudah matang
2. Untuk menilai servik ini dapat juga dipakai skor Bishop, yaitu bila
nilai Bishop lebih dari 8 induksi persalinan kemungkinan akan
berhasil.(Setjalilakusuma, L, 2000)

30

Penilaian servik yang induksibel telah disusun oleh Bishop pada


tahun 1964. Skor Bishop dinilai berdasarkan lima karakteristk dari
pemeriksaan serviks yang akan memperkirakan keberhasilan induksi
persalainan. Lima karakteristik servik yang diperiksa adalah posisi serviks,
konsistensi, dilatasi, panipisan dan stasion dari bagian terbawah janin, skor
Bishop mempunyai nilai dari 0 13.( Shaw K, Paul R, 1992 ). Dari modifikasi
Bishop score didapatkan bahwa kegagalan induksi adalah 0 % bila nilainya
skor Bishop 9 atau lebih, 4,8 % bila nilai skor Bishop 5 8 dan 19,5 % bila
nilai skor Bishop 4 atau kurang.

Pelviks skor menurut Bishop


SKOR
Pembukaan serviks
Pendataran serviks
Penurunan kepala

0
0
0 30 %
-3

1
12
40 50 %
-2

2
34
60 70 %
-1, 0

Keras
Ke

Sedang
Di tengah

Lunak
Ke arah

diukur dari bidang H


III (cm)
Konsistensi servik
Posisi serviks

belakang

depan

31

3
56
80 %
+1, +2

Joserizal,

S,

1993,

dengan

rangsangan

pada

papilla

mamae

mendapatkan tidak akan tercapai pembukanan lengkap bila test rangsangan


papilla mamae negatif dan nilai pelvic 4 atau kurang.
Pada kehamilan postterm apabila induksi persalinan dengan oksitosin
pada hari pertama gagal, induksi ke dua dapat diulangi dalam waktu 3 hari.
Hampir semua wanita hamil dengan postterm akan melahirkan dengan cara
penatalaksanaan ini. ( Cunningham, 1997 )
Komplikasi
A. Terhadap ibu
-

Krisis emosional

Kegagalan induksi

Infeksi intra uterin

Prolonged labor

Kontraksi uterus yang tetanik

Ruptur uteri

Solusio Plasenta

Laserasi jalan lahir

Perdarahan post partum

Intoksikasi air

B. Terhadap janin

32

Prematuritas

Trauma persalinan

Hipoksia

Infeksi

Komplikasi ini dapat dikurangi dengan menyeleksi pasien yang akan


diinduksi seperti kehamilan yang akan diinduksi betul-betul cukup bulan,
serviks yang betul-betul matang. Petugas mengetahui tentang bahaya
komplikasi induksi dan pengawasan harus ketat. Dosis oksitosin dipakai
dianjurkan seminimal mungkin secara drip.( Cunningham, 1997)
Oksitosin mempunyai efek yang poten terhadap otot polos uterus dan
kelenjar mammae, dan kepekaan terhadap oksitosin meningkat pada saat
persalinan. Induksi persalinan dengan oksitosin yang diberikan melalui
infus secara titrasi ternyata efektif dan banyak dipakai, dengan cara 5 unit
oksitosin dilarutkan dalam dekstrose 5% atau NaCl 0,9 % sehingga didapat
kan konsentrasi oksitosin 10 mU / ml larutan. Tetesan permulaan diberikan
dengan dosis 2 mU / menit dan dinaikan 2 mU / menit tiap 15 menit atau
20 menit atau 30 menit atau 60 menit. Tidak terdapat perbedaan efektifitas
yang bermakna

antara interval

untuk menaikan dosis.

Dapat

juga

digunakan dengan memulai tetesan 10 tetes / menit , dinaikan 5 tetes /

33

menit dengan interval waktu tertentu, sampai didapatkan his yang adekuat.
(Setjalilakusuma,L, 2000,Cunningham, 1997)
Bila dengan pemberian dosis oksitosin 30 40 mU/ menit tidak
didapatkan his yang adakuat, indusi tak perlu lagi dilanjutkan dan biasanya
dengan dosis 20 mU/ menit sudah didapat kontraksi yang adekuat.
Pemberian dengan dosis yang lebih besar akan menyebabkan ikatan
oksitosin dengan reseptor vasopresin akan menimbulkan kontraksi yang
tetanik atau hipertonik, dan dapat juga muncul efek antidiuretik sehingga
mempunyai resiko yang besar terhadap keracunan air, terutama kalau
diberikan dalam larutan tanpa elektrolit. Induksi dianggap berhasil kalau
dosis 30 40 mU / menit didapatkan kontraksi uterus yang adekuat, yaitu
his sekitar 3 kali dalam 10 menit dengan kekuatan sekitar 40 mmHg atau
lebih dan induksi dapat dilanjutkan bila dengan dosis maksimal tersebut
didapatkan kemajuan pembukaan serviks (Cunningham, 1997 )

AMNIOTOMI
Amniotomi merupakan induksi persalinan secara manipulatif atau
dengan tindakan. Beberapa teori mengungkapkan bahwa :

34

1. Amniotomi dapat mengurangi beban rahim sebesar 40 % sehingga


tenaga kontraksi rahim dapat lebih kuat untuk membuka serviks
2. Amniotomi dapat menyebabkan aliran darah dalam rahim kira-kira 40
menit

setelah

amniotomi

dikerjakan,

sehingga

berkurangnya

oksigenasi otot-otot rahim, keadaan ini meningkAtkan kepekaan otototot rahim untuk berkontraksi.
3. Amniotomi menyebabkan kepala dapat langsung menekan dinding
serviks dimana didalamnya banyak terdapat syaraf-syaraf yang
merangsang kontraksi rahim.
Disamping itu akibat pecahnya ketuban terjadi penekanan serviks oleh
bagian terbawah anak yang menyebabkan penekanan pada ganglion servikal
dari fleksus Frankenhauser yang terletak dibelakang serviks yang dapat
membangkitkan kontraksi, dan teregangnya servik secara mekanik akan
meningkatkan aktifitas uterus melalui fenomena yang disebut sebagai reflek
Ferguson.(Cunningham, 1997)

35

BAB IV
PEMBAHASAN
36

Berikut ini akan dibicarakan kasus wanita umur 17 tahun masuk


kamar bersalin RSUP Dr. M. Djamil Padang tanggal 27 Juni 2001 jam 13.30
Wib kiriman poliklinik dengan diagnosis G1P0A0H0 Gravida Postterm (43-44
minggu). Tanggal 28 Juni 2001 dilakukanpemeriksaan CTG dan USG dengan
hasil CTG : Kesan CTG Normal, dan hasil USG : Kesan Gravida aterm janin
hidup. Kemudian dilakukan drip induksi, drip gagal. Tanggal 29 Juni 2001
dilakukan pemeriksaan sitologi vagina dengan hasil : gambaran sitologi
kehamil aterm dan pemeriksaan CTG ulang, kesan : CTG normal, dilakukan
drip induksi hari ke dua, drip gagal. Tanggal 30 Juni 2001 dilakukan
pemeriksaan CTG, kesan CTG normal. Dilakukan drip induksi, gagal.
Dilakukan seksio sesaria , lahir anak perempuan berat badan 2500 gram,
panjang badan 48 cm, Apgar skor 7/8. Tidak ditemukan tanda-tanda
postmaturitas..
Pasien didiagnosis dengan kehamilan postterm dan direncanakan
untuk terminasi kehamilan. Sebaiknya pada pasien ini selain dilakukan
pemeriksaan USG, CTG, dan sitologi vagina juga dilakukan pemeriksaan
penunjang lainnya seperti

amnioskopi dan profil biofisik untuk mendukung

diagnosis postterm atau untuk melihat apa ada tanda-tanda sindroma


postmaturitas. Menurut kepustakaan sering terjadi kesalahan dalam

37

mendiagnosis kehamilan postterm yang disebabkan oleh tidak tepat (akurat)


dalam menentukan hari pertama haid terakhir, dan dengan demikian janin
bisa

saja

belum

matur

sebagaimana

diperkirakan.

Pada

kasus

ini

pendidikan terakhir pasien adalah tamatan SD, kemungkinan kesalahan


dalam menentukan hari pertama haid terakhir bisa saja terjadi, hal ini juga
didukung oleh hasil sitologi vagiana dan keadaan janin yang lahir tidak
menunjukan tanda-tanda postmaturitas. Jadi perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang lain, yang akan dijadikan acuan dalam menetukan sikap
penatalaksanaan pasien, apakah penanganan aktif ataupun konservatif.
Menurut kepustakaan kehamilan baru diterminasi apabila servik telah
matang, cairan ketuban sedikit, atau terjadi fetal distress. Sedangkan pada
pasien ini servik belum matang (pelvik skor 3), jumlah air ketuban masih
cukup (dari USG), dan tidak terjadi fetal distres (CTG normal) serta dari
hasil pemeriksaan sitologi vagina menunjukan kehamilan aterm.
Sebaiknya

penatalaksanaan

kasus ini adalah konservatif dengan

pengawasan ketat apabila terdapat tanda-tanda servik telah matang, cairan


ketuban sedikit, atau terjadi fetal distress baru dilakukan terminasi
kehamilan dengan persalinan spontan ataupun seksio sesaria. Selama air
ketuban masih cukup dan tidak terjadi gawat janin, tindakan yang kita
lakukan adalah konservatif, menunggu persalinan berlangsung spontan.

38

Menurut kepustakaan wanita hamil yang diklasifikasikan dengan


kehamilan postterm yang meragukan, harus dikuti terus perkembangannya
setiap minggu sekali tanpa tindakan intervensi kecuali terdapat kecurigaan
akan

keadaan

yang

membahayakan

jiwa

janin.

Disamping

dengan

pemeriksaan USG, CTG, amnioskopi dan sitologi vagina, juga dapat


dilakukan pengukuran tinggi fundus dan lingkaran perut.
Pada kasus ini setelah gagal

induksi dengan drip oksitosin hari

pertama sebaiknya drip induksi kedua dikerjakan dalam 3 hari. Menurut


kepustakaan hampir semua wanita hamil akan melahirkan bayinya dengan
rencana penatalaksanaan ini.
Pada waktu induksi hari terakhir seharusnya dilakukan amniotomi
sebelum

melakukan

drip

induksi.

Menurut

kepustakaan

amniotomi

merupakan induksi persalinan secara manipulatif atau dengan tindakan.


Beberapa teori mengungkapkan bahwa :
1. Amniotomi dapat mengurangi beben rahim sebesar 40 % sehingga
tenaga kontraksi rahim dapat lebih kuat untuk membuka serviks.
2. Amniotomi dapat menyebabkan aliran darah dalam rahim kira-kira 40
menit

setelah

amniotomi

dikerjakan,

sehingga

berkurangnya

oksigenasi otot-otot rahim, keadaan ini meningkatkan kepekaan otototot rahim untuk berkontraksi.

39

3. Amniotomi menyebabkan kepala dapat langsung menekan dinding


serviks dimana didalamnya banyak terdapat syaraf-syaraf yang
merangsang kontraksi rahim.
Disamping itu akibat pecahnya ketuban terjadi penekanan serviks oleh
bagian terbawah anak dapat membangkitkan kontraksi, dan teregangnya
servik secara mekanik akan meningkatkan aktifitas uterus. Jadi sebaiknya
pada pasien ini ditunggu dulu efek dari amniotomi apakah berhasil atau
tidak baru dilakukan drip induksi dengan oksitosin.
Penyebab gagal drip induksi pada pasien ini

kemungkinan adalah

karena serviks yang belum matang. Hal ini juga disokong oleh rendahnya
Bishop skor pada pasien ini. Menurut kepustakaan salah satu penyebab
kegagalan induksi adalah servik yang belum matang.

40

41

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
1. Diagnosis kehamilan postterm pada pasien ini meragukan.
2. Penatalaksanaan kehamilan posterm pada pasien ini tidak sesuai
dengan kepustakaan.
3. Kegagalan induksi disebabkan oleh servik yang belum matang.
4. Penanganan kasus ini sebaiknya adalah konservatif.

SARAN
1. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan penunjang seperti amnioskopi.
2. Sebelum melakukan drip induksi pada hari terakhir sebaiknya
dilakukan amniotomi terlebih dahulu.

42

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham FG., Mc. Donald, Leveno KJ et al. Postterm Pregnancy
in Williams obstetrics. 20nd edition ,

Apletton & Langd, Conecticut.

1997. 827-39.
2. Knuppel RA., Drukker JE.

High Risk pregnancy aterm approach .

2nd.edition. WB Saunders Company, Philadelphia. 1993: 422-7.


3. Shaw, K, Paul, R, Postterm Pregnancy in Medicine of the Fetus &
Mother, J.B. Lippincott Company, Philadelphia, 1992, p. 1469 1479.
4. Patrie,

R.H,

Williams A.M. Induction of Labor, in High-Risk

Pregnancy A Team Approach, 2nd ed, W.B. Saunders Company,


Philadelphia, 1993, p. 303 - 315
5. Setjalilakusuma

L,

Induksi

Persalinan,

dalam

Ilmu

Badah

Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,


2000 hal 73 - 79
6. Schneider H, Herman U, Gerburtshilfe F . Prolonged pregnancy :
pathology and clinical aspect . AM J Obstet Gynecol 1990; 50(1):814.
43

7. Bekketeig

LS,

Bergjo

P.

Postterm

pregnancy:

induction

or

suveillence ?. Effectif Care in Pregnancy and Childbirth . Oxford


University Press. 1990, 153-157.
8. Wiknjosastro G.H, Wibowo B,

Kehamilan Lewat Waktu, dalam

Kelainan dalam Lamanya Kehamilan, Wiknjosastro H, Ilmu Kebidanan,


edisi ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,
1999, hal 317 321.
9. Heriyono, S.HR.

Fetal outcome pada kehamilan lewat waktu di RS

Sardjito. Tesis Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Gajah


Mada /RS Sardjito Yokyakarta . 1992:35-9.
10.

Gabbe. Steven G., Jennifer RN.. Obstetrics: Normal and

Problem Pregnancies .3th edition. Churchill Livingstone Inc. New York.


1996.. 889-95
11.

Fabre E. et al.

Perinatal mortality in term and postterm

birth .J Perinatal Med.., 1996.24(2):163-9


12.

Dyason DC. Fetal suirveillance vs labor induction at 42 weeks

in postterm gestation . J.Reprod. Med. 1988. 33:262.


13.

Leveno

KJ

Quicrk

JG,

Cunningham

FG.

Prolonged

pregnancy . In Observation concerning the cause of fetal distress . Am


J Obstet Gynaecol. 1984; 150:465-73
14.
fetal

Bochner CJ, Medearis AL, Davis J : Antepartus predictor of


distress

in

postter

pregnancy.

Am

Obstet

Gynecol

1987;157:353-8.
15.

Freeman, F.K, Lagrew DC. Postdate Pregnancy, Gabbe SG,

Obstetrics

Normal

and

Problem

Pregnancy,

Livingstone, New York, 1996, p. 887 895.

44

3rd

ed,

Churchill

16.

Campbell, W,A, at al. Prolonged Pregnancy, in High-Risk

Pregnancy A Team Approach, 2nd ed, W.B. Saunders Company,


Philadelphia, 1993, p. 422 -430
17.

Arulkumaran S, Chua S.: Prolonged pregnancy. In Ratnam SS,

Chyeng S., Arulkumaran S. Contribution to Obstetrics gynecology,


vol.4, Pearson professional Pte, Singapore. 1985:143-57.
18.

Vorherr H,

pregnancy

and

Placental insufficiency in relation to postterm


fetal

post

maturity.

Am

Obstet

Gynaecol;

1972.51:217-20
19.

Shime J., et al, Prolonged pregnancy : Surveillance of the fetus

and neonate and the course of labor and delivery . Am J Obstet


Gynecol 1984;148:547
20.

Bergsjo P, Postterm pregnancy. Progress in Obstet & Gynecol ;

1985.5:1216.
21.

Spellacy, W.N, Postdate Pregnancy, in Danforths Obstetrics and

Gynecology, 7th ed, J.B. Lippincott Company, Philadelphia, 1994, p.


325 -330.
22.

OBrien W.F, CefaloR.C, Labor and Delivery, in Gabbe SG,

Obstetrics

Normal

and

Problem

Pregnancy,

3rd

ed,

Churchill

Livingstone, New York, 1996, p.371 397.


23.

Serudji J, Prediksi Hasil Induksi Persalinan dengan Drip

Oksitosin Berdasarkan Tes Rangsangan Papila Mamae, Skripsi, UPF


Obsgin Fakultas Kedokteran Unand / RSUP dr. M. Djamil Padang.
1993.

45

PERMASALAHAN
1. Pasien didiagnosa dengan G6P5A0H5 Gravida Postterm 43 44
minggu. Pemeriksaan lain yang menunjang diagnosis postterm seperti
sitologi vagina dan amnioskopi tidak dilakukan
2. Pasien direncanakan untuk pertus pervaginam. Dilakukan drip
induksi dengan sintosinon. Drip induksi pada pasien ini merupakan
kontraindikasi karena pasien adalah grande multipara
3. Jarak antara induksi hari pertama dan hari ke dua kecil dari 24 jam.
Seharusnya

pasien

diistirahatkan

dulu

minimal

24

jam

baru

dilakukan induksi berikutnya.


4. 10 menit setelah dilakukan amniotomi, pasien langsung didrip
induksi. Amniotomi akan merangsang timbulnya kontraksi uterus
setelah 40 menit, jadi pada pasien ini harus ditunggu dulu minimal 40
menit baru dilakukan drip induksi.
5. Penyebab gagal drip induksi pada pasien ini.
46

( Cunningham 1995 )

47