Anda di halaman 1dari 13

AEROSOL

Aerosol ( Farmakope Indonesia edisi III ) :


Aerosol adalh sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam
wadah yang diberi tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup
untuk memancarkan isinya hingga habis, dapat digunakan untuk obat luar atau
untuk obat dalam dengan menggunakan propelan yang cocok.
Jika digunakan sebagai obat dalam atau secara inhalasi, aerosol diperlengkapi dengan
pengatur dosis dan untuk pemakaian secara inhalasi, ukuran partikel tidak boleh lebih
besar dari 10 mikrometer.
Aerosol farmasi sama dengan bentuk-bentuk sediaan lain, memerlukan pertimbangan
yang sama mengenai :

Formulasi

Kestabilan produk

Efektifitas pengobatan.

Akan tetapi aerosol berbeda dari kebanyakan bentuk-bentuk pemberian lain dalam hal :
-

ketergantungannya pada fungsi wadah

pada katup yang dipasang dan

komponen tambahan propelan.

Istilah kemasan yang bertekanan umumnya digunakan bila dihubungkan dengan wadah
aerosol atau produk lengkap. Tekanan dipakai pada sistem aerosol lewat penggunaan satu
atau lebih bahan pendorong berbentuk cair atau gas. Pada pengaktifan katup yang
dipasang pada aerosol, bahan pendorong menimbulkan desakan tekanan yang mendorong
isi wadah keluar lewat lubang katup. Bentuk fisik dimana isi dipancarkan tergantung pada
formulasi produk dan jenis katup yang digunakan. Produk aerosol dapat dirancang untuk
mendorong keluar isinya dalam bentuk kabut halus, kasar, semprotan basah atau kering,
aliran yang terus menerus atau busa stabil atau busa yang cepat pecah.
Pemilihan bentuk fisik untuk diberikan sebagai aerosol tergantung pada tujuan
penggunaan produk tersebut. Misalnya, aerosol untuk terapi inhalasi pada pengobatan

asma atau emfisema, partikel harus dalam bentuk kabut cairan halus atau seperti partikelpartikel padat yang terbagi-bagi halus agar produk menjadi efektif.
Bila diinginkan ditrachea, dan broncheolus primer atau sekunder untuk mendapatkan efek
setempat, maka dibutuhkan partikel yang besarnya 20 60 mikrometer.
Jika ditujukan untuk ditempatkan pada kulit, ( semprotan pada kulit ) ukuran partikel
lebih kasar dapat berbentuk bubuk, semprotan basah, aliran cairan ( biasanya lokal
anestetik ) atau produk mirip salap. Aerosol farmasi lain termasuk busa vagina dan rectal.
Aerosol yang digunakan untuk menghasilkan kabut yang berterbangan atau semprotan
ruang contohnya desinfektan ruang, ukuran partikel dibawah 50 mikron supaya partikelpartikel tetap melayang untuk periode waktu yang panjang. Satu detik pancaran aerosol
jenis semprotan ruang akan menghasilkan 120 juta partikel dan akan tetap tersuspensi
diudara untuk 1 jam.
Keuntungan sediaan aerosol dari bentuk sediaan lain:
1. sebagian obat dapat diambil dari wadah tanpa membuat sisanya tercemar
( terkontaminasi )
2. sediaan yang dikemas dalam wadah aerosol yang kedap udara dapat terlindung
dari pengaruh oksigen dan kelembaban udara dan cahaya. Bila dikemas dalam
kondisi steril, maka sterilitas dapat dipertahankan selama masa pemakaian obat
3. pengobatan topikal dapat diberi secara merata tanpa menyentuh daerah yang
diobati. Penggunaan cara ini mengurangi iritasi pada kulit karena tidak
bersentuhan dengan ujung-ujung jari. Penguapan yang cepat dari propelan
memberi efek pendinginan dan penyegaran.
4. dengan formula yang tepat dan pengontrolan katup, bentuk fisik dan ukuran
partikel obat dapat diatur sehingga mempunyai andil untuk efektifitas obat.
Contoh : kabut halus yang terkendali pada aerosol inhalasi . Lewat penggunaan
katup pengukur, dosis dapat diatur.
5. penggunaan aerosol merupakan proses yang bersih, tidak memerlukan pencucian
oleh pemakainya.
Kemasan wadah aerosol ( lihat gambar halaman 475 Ansel )

Keefektifan aerosol farmasi tergantung pada pencapaian kombinasi yang tepat dari
formula, wadah dan pemasangan katup. Bahan-bahan pada formulasi harus tidak
berinteraksi dengan wadah atau katup supaya formula tetap stabil dan wadah/ katup harus
mampu menahan tekanan yang diinginkan pada produk.
Wadah : Bahan wadah dari aerosol dapat terbuat dari kaca yang dilapisi atau tidak oleh
plastik, harus tahan terhadap tekanan25 psig dan tidak lebih dari 50% propelan digunakan
wadah kaca diperhitungkan cukup aman.Kebaikan wadah kaca yaitu tidak berkarat dan
ketidaktercampurkannya dengan bahan obat kecil dibandingkan dengan wadah logam.
Selain itu wadah dari kaca dapat dibuat bentuk yang menarik.
Wadah dari plastik tidak selalu baik sebagai pengemas aerosol karena sifatnya dapat
ditembus oleh uap dari dalam wadah, juga interaksi obat tertentu dengan plastik dapat
terjadi sehingga efektifitas obat dapat menurun. Kebaikannya harga relatif murah dan
tidak mudah pecah.
Wadah dari logam terdiri dari baja tahan karat ( stainless steel ) dan baja berlapis timah
putih ( tin plate ) atau dari aluminium. Kelebihan wadah seperti ini yaitu tahan terhadap
tekanan yang tinggi tetapi harganya cukup mahal.
Katup : Fungsi utama dari katup adalah mengatur pengaliran keluar zat berkhasiat dan
propelan. Katup dibuat dari plastik atau karet atau aluminium/ baja tahan karat yang
harus inert. Jika perlu katup diperlengkapi dengan pengatur dosis yang dapat memberikan
dosis tertentu secara teliti. Sifat dispersi dari aerosol dipengaruhi oleh ukuran, jumlah dan
letak lubang katup. Bentuk katup dibuat sedemikian rupa sehingga diperoleh jarak
semprot atau luas semprotan yang baik.
Katup aerosol terpasang biasanya terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :
1. Aktuator ( penggerak )

- adalah kenop yang ditekan oleh pemakai untuk

mengaktifkan katup terpasang untuk pemancaran produk. Aktuator berhubungan


dengan tangkai katup, jika aktuator ditekan, katup akan terbuka dan zat berkhasiat
akan menyemprot keluar. Pada umumnya aktuator akan menentukan arah
semprotan dan membantu menghasilkan tipe produk semprot yang diinginkan

misalnya semprotan halus, aliran zat padat, busa dan sebagainya. Sifat semprotan
dipengaruhi oleh ukuran lubang, sifat propelan dan formulasi.
2. Tangkai membantu aktuator dan pengeluaran produk
3. Pengikat ditempatkan tepat ( pas ) terhadap tangkai untuk mencegah kebocoran
formula bila katup pada posisi tertutup.
4. Pegas - memegang pengikat pada tempatnya dan merupakan mekanisme yang
menarik kembali aktuator ketika tekanan dilepaskan, kemudian mengembalikan
katup keposisi semula.
5. Lengkung bantalan - terikat pada tabung aerosol ( wadah )
6. Badan - terletak dibawah lengkung bantalan, berperan menghubungkan pipa
tercelup dengan tangkai dan aktuator.
7. Pipa tercelup

- memanjang dari badan masuk kedalam produk berperan

membawa formula dari wadah ke katup.


Aktuator, tangkai,badan dan pipa tercelup umumnya terbuat dari plastik. Lengkung
bantalan dan pegas dari logam, pengikat dari karet dan plastik.
Komponen Aerosol
Bagian yang penting dari suatu aerosol adalah : wadah, propelan, cairan pekat obat,
katup, dan aktuator. Dengan memvariasikan bagian-bagian tersebut dapat dihasilkan
semprotan dengan sifat-sifat tertentu misalnya ukuran partikel, homogenitas, derajad
kebasahan/ kekeringan, besarnya tekanan, bentuk dispersi, luas daerah penyemprotan,
dosis obat yang disemprotkan, dan derajat semprotan.
Formulasi aerosol terdiri dari 2 bagian yaitu:
1. cairan pekat obat
2. propelan
Cairan pekat obat

adalah bahan aktif aeosol dicampur dengan bahan-bahan pembantu

yang diperlukan seperti anti oksidan, surfaktan, pelarut dll. Propelan merupakan
pendorong dari sediaan dalam wadah aerosol dan dimaksudkan untuk menghasilkan
tekanan. Propelan dalam kombinasi dengan komponen lain dapat merubah bahan menjadi

suatu bentuk fisika lain yang dikehendaki. Propelan atau pendorong dari gas cair sering
kali berperan ganda yaitu sebagai pendorong dan pelarut atau pembawa cairan pekat obat.
Propelan dapat dibagi atas 2 macam yaitu :
1. propelan dari gas yang diberi tekanan seperti gas CO2, N2O dan Nitrogen
Propelan dari gas yang diberi tekanan merupakan gas yang tidak dicairkan tetapi diberi
tekanan untuk dapat mendorong bahan obat keluar dari wadah aerosol. Apabila sediaan
sudah sebagian dipancarkan keluar, maka tekanan dalam wadah aerosol menjadi
berkurang bahkan bisa habis sedangkan obat masih ada dalam wadah. Untuk mencegah
hal ini perlu diberikan tekanan yang lebih besar 30% dari tekanan yang biasa yang
diisikan kedalam wadah aerosol. Salah satu contoh gas yang diberi tekanan yaitu
Nitrogen mempunyai beberapa keuntungan antara lain :
1. tidak terpengaruh oleh perubahan temperatur misalnya temperatur rendah yang
memberikan efek pendinginan
2. oksidasi dan hidrolisa terhadap propelan tidak akan terjadi sehingga mutu sediaan
dapat tetap terjamin ( dapat melindungi obat dari pengaruh oksidasi )
3. nitrogen adalah gas yang inert, tidak berbau, tidak berasa, sehingga tidak
mempengaruhi rasa dan bau obat.
4. harga relatif murah.
Aerosol dengan Nitrogen sebagai propelan harus dikemas dalam wadah baja tahan
karat, tidak boleh memakai wadah kaca atau plastik.
2

propelan dari gas yang dicairkan yaitu hidrokarbon derivat kloro dan fluoro
dari metana dan etana. Propelan dari gas yang dicairkan dapat memberi tekanan
dalam wadah tetap konstan selama masih ada sejumlah kecil cairan propelan
dalam wadah. Propelan ini terbanyak digunakan dalam sediaan aerosol tetapi
sejak tahun 1978 sudah dibatasi penggunaannya karena dapat mengurangi ozon
diatas atmosfir yang mengakibatkan terganggu kesehatan mahluk hidup. Hanya
untuk aerosol inhalasi yang dibebaskan dari peraturan tentang larangan
pemakaian propelan hidrokarbon yang terfluorinasi karena belum ada didapatkan
pengganti yang sesuai.

Hidrokarbon terfluorinasi biasa juga disebut CFC ( Chloro Fluro Carbon ) berbentuk gas
pada temperatur kamar dan mencair pada pendinginan dibawah titik didihnya atau pada
penekanan gas pada temperatur ruang. Sebagai contoh CFC

12

atau Freon 12, yaitu gas

diklorodifluorometan dengan titik didih -21,60F bila didinginkan pada 220F akan
mencair atau bila ditekan dengan tekanan 70 psig temperatur 700F akan mencair.
Beberapa contoh propelan CFC serta sifat-sifat fisiknya seperti tekanan uap pada 70 0F,
titik didih , dapat dilihat pada tabel dibawah :
Sifat-sifat fisik beberapa propelan hidrokarbon terfluorinasi
Nama kimia

Rumus kimia

Nomor

Tekanan

Titik

Penandaan

uap/psia

didih

700 F
13.4

1 atm
74,7

Trikloromonofluorometan

CCl3F

11

Diklorodiflurometan

CCl2F2

Diklorotetrafluoroetan

CClF2CClF2

Kloropentafluoroetan

CClF2CF3

115

Monoklorodifluroetan

CH3CClF2

Difluroetan
Oktafluorosiklobutan

12
114

84,9

-21,6

27,6

38,4

117,5

-37,7

142b

43,8

15,1

CH3CHF2

152a

76,4

-11,2

CF2CF2CF2CF2

C318

40,1

21,1

Propelan 11 kurang sempurna karena titik didihnya dan tekanan uapnya rendah, oleh
sebab itu dia sering dikombinasi dengan propelan 12. Namun toksisitasnya rendah dan
stabil pada aerosol dengan pelarut yang bukan air. Dengan alkohol dapat menjadi aldehid
yang memberi bau, jadi tidak sesuai untuk parfum. Propelan 12 mempunyai toksisitas
yang rendah dan sangat stabil. Propelan 114 dapat dipakai untuk seluruh sistem aerosol
baik yang mengandung air atau yang tidak mengandung air. Yang paling banyak dipakai
yaitu kombinasi propelan 12 dengan propelan 11 atau dengan propelan 114
Bila suatu propelan ( pendorong ) gas cair atau campuran propelan bersama dengan
cairan pekat obat ditutup dalam wadah aerosol maka dengan cepat akan terbentuk
keseimbangan propelan yang berbentuk cair dan gas dibagian atas ruang wadah. Fase gas

menimbulkan tekanan kesemua arah, pada dinding wadah, pada katup terpasang, dan
pada permukaan fase cair yang merupakan campuran propelan yang dicairkan dengan
cairan pekat obat. Bila katup diaktifkan maka akan tejadi tekanan fase gas kepada cairan
pekat obat dan akan mendorong obat naik kedalam pipa tercelup dan keluar dari wadah.
Ketika cairan obat bertemu dengan udara, propelan segera menguap karena adanya
penurunan tekanan lalu meninggalkan cairan obat yang menyebar dalam bentuk tetesan
halus berupa cairan atau partikel kering tergantung dari formulasinya. Ketika fase cair
keluar dari wadah, keseimbangan antara propelan yang berada dalam bentuk cair dengan
propelan dalam bentuk gas kembali terbentuk. Dengan demikian maka selama obat
dikeluarkan dari wadah aerosol, tekanan didalam wadah tetap konstan sehingga obat
dapat terus menerus dikelurkan dari wadah aerosol dengan kecepatan yang sama dan
tenaga pendorong yang sama.
System Aerosol
Tekanan pada aerosol adalah hal yang penting dan dapat dikontrol dengan :
-

jenis dan jumlah propelan

sifat dan jumlah bahan yang mengandung cairan obat

Walaupun jumlah tertentu propelan tidak dapat ditetapkan dengan pasti, tetapi beberapa
perumusan umum dapat dibuat sebagai berikut :
-

penyemprot ruang umumnya mengandung propelan lebih banyak daripada


aerosol untuk semprotan permukaan berarti dilepaskan dengan tekanan yang
lebih besar dan partikel yang dihasilkan dipancarkan lebih keras. Aerosol
semprotan ruang biasanya diberi tekanan 30 40 psig pada 70 0 F dengan
propelan kira-kira 85 %

aerosol semprotan permukaan mengandung propelan 30 70 % dengan


tekanan 25 55 psig pada 700 F

aerosol busa mengandung propelan yang sedikit 6 10 % dengan tekanan 35


-55 psig . Aerosol busa dianggap sebagai emulsi dimana propelan cair
sebagian diemulsikan dengan cairan obat.

Karena propelan CFC adalah pelarut organik non polar, maka tidak dapat bercampur
dengan air. Penggunaan surfaktan atau emulgator menyebabkan pencampuran komponen
cairan obat dan propelan membentuk emulsi. Pengocokan wadah sebelum digunakan
memperkuat pencampuran propelan dengan cairan obat dan bila katup diaktifkan,
campuran akan keluar dan propelan menguap meninggalkan bahan obat dalam bentuk
busa
Menghitung tekanan uap campuran
Tekana uap campuran propelan dapat dihitung menurut Hukum Roult yang mengatakan
bahwa :

Tekanan uap suatu larutan tergantung dari tekanan masing-masing komponen

dalam campuran . Dalam keadaan ideal, tekanan uap campuran yang terdiri dari 2
propelan adalah sama dengan jumlah fraksi molekuler dari masing-masing komponen
yang terdapat dalam campuran dikalikan dengan tekanan uap dari masing-masing
propelan murni pada suhu yang dikehendaki.

na
na nb PA NAPA

Pa =

nb
PB NBPB
na nb

Pb =

P = Pa + Pb
Keterangan : Pa

= tekanan uap parsial propelan A

Pb

tekanan uap parsial propelan B

PA

tekanan uap propelan A murni

PB

tekanan uap propelan B murni

Na dan nb

= mol A dan mol B

NA

fraksi molekul A

NB

fraksi molekul B

= tekanan uap total

Contoh :
Hitunglah tekanan uap campuran propelan 12 dengan propelan 11 ( 30 : 70 ) pada suhu
700 F. Diketahui propelan 12 ( diklorodifluorometan ), tekanan uap 70 0 F adalah 84,9 psig
dan BM = 120,93. Propelan 11 ( trikloromonofluorometan ) tekanan uapnya 700 F adalah
13,4 psig dan BM = 137,38.
Jawab :

mol P11 =

berat propelan 11
70

0,5095
BM propelan 11
137,8

mol P12 =

berat propelan 12
30

0,2481
BM propelan 12
120,93

0,5095

13,4 9,01
0,5095 0,2481

P 11 =

0,2481

84,9 27,80
0
,
5095

0
,
2481

P 12 =

Jadi tekanan uap campuran propelan 12 dan propelan 11 adalah 9,01 + 27,80 = 36,81
psia. ( psia = psig + 14,7 )
Cosolvent ( Pelarut Pembantu )
Pelarut pembantu digunakan untuk memperbaiki kelarutan zat berkhasiat dalam
propelan.Untuk mendapatkan satu fase cairan, pelarut pembantu harus dapat larut dalam
propelan.
Dalam memilih cosolvent, yang perlu diperhatikan adalah :
1. harus dapat disatukan dengan zat berkhasiat
2. toksisitasnya relatif rendah
3. pelarut harus stabil, tidak bereaksi dengan wadah dan alat-alat pada wadah aerosol

4. sediaan tetap baik walaupun suhu berubah


Cosolvent yang sering dipakai yaitu alkohol karena mudah bercampur dengan sebagian
besar propelan dan mempunyai daya melarutkan yang besar dan relatif bebas dari
toksisitas kulit. Selain alkohol dapat juga digunakan propilenglikol, polietilen glikol,
mono etyl eter, atau derivat-derivatnya, aseton,asetil asetat dll.
Sistem Dua Fase : sistem aerosol dua fase terdiri dari fase cair yang mengandung
propelan cair dan cairan pekat obat, serta fase gas. Sistem ini digunakan untuk
memformulasi aerosol inhalasi.
Sistem Tiga Fase : sistem ini terdiri dari lapisan cairan propelan, lapisan cairan pekat
obat yang berair dan fase gas. Karena propelan cair biasanya mempunyai kerapatan atau
densitas yang lebih besar dari lapisan air, maka umumnya propelan cair berada dibagian
bawah dari wadah dan fase air mengambang diatasnya. Dan fase gas sebelah atas. Pipa
tercelup dipasang sampai batas cairan pekat obat supaya propelan cair tidak ikut keluar
jika katup diaktifkan.
Sistem Gas Bertekanan :
Gas yang diberi tekanan lebih disukai dari gas yang dicairkan dalam penggunaan
pembuatan aerosol. Tekanan dari gas yang diberi tekanan yang terdapat dalam ruang atas
wadah mendorong cairan pekat obat ke pipa tercelup dan keluar dari katup.
Penggunaan gas yang tidak larut dalam cairan pekat obat seperti gas nitrogen akan
menghasilkan pemancaran produk dalam bentuk yang pada dasarnya sama dengan yang
ditempatkan dalam wadah, karena bukan gas yang akan dipancarkan dari katup untuk
menyebabkan penyebaran partikel atau busa. Gas lain seperti CO2 dan N2O yang sedikit
larut dalam fase cair produk aerosol dapat digunakan pada keadaan dimana
pengeluarannya bersama cairan pekat produk dibutuhkan untuk mencapai pembentukan
busa.
Metode Pengisian Aerosol

Ada 2 cara yaitu :


1. Pengisian Dingin ( Cold Filling Methode )
Metode ini digunakan untuk sediaan aerosol yang menggunakan CFC sebagai propelan.
Pada cara ini, cairan pekat obat yang sudah diukur didinginkan sampai temperatur 10 0 F
kemudian diisi kedalam wadah aerosol. Propelan didinginkan kira-kira 300 F sampai
400 F sehingga propelan CFC mencair dan isikan kedalam wadah yang sudah berisi
cairan pekat obat kemudian katup terpasang disisipkan ditempatnya.Setelah itu di cek
kebocoran dengan memasukkan wadah aerosol yang sudah terisi kedalam air pada suhu
1300 F. Cara pengisian dingin, apabila ada air maka dapat menjadi es sehingga cara ini
tidak dapat dipakai.
2. Pengisian Tekanan ( Pressure Filling Methode )
Dengan cara tekanan cairan pekat obat diisikan secara kuantitatif kedalam wadah aerosol
kemudian katup terpasang disisipkan ketempatnya dan gas yang dicairkan dengan
tekanan diukur, dimasukkan kedalam tangkai katup dari buret bertekanan. Propelan
dalam jumlah yang diinginkan dimasukkan kedalam wadah dibawah tekanan uapnya.
Bila tekanan dalam wadah sama dengan tekanan didalam buret, propelan akan berhenti
mengalir. Pengisian dengan tekanan digunakan untuk hampir semua sediaan aerosol
farmasi. Cara ini mempunyai kelebihan dibandingkan cara dingin dimana bahaya
pengotoran uap air pada produk lebih kecil dan propelan yang hilang lebih sedikit. Bila
digunakan gas bertekanan dalam sistem aerosol, gas dipindahkan dari silinder baja yang
besar kedalam wadah aerosol. Sebelum pengisian, cairan pekat obat diisikan secara
kuantitatif kedalam wadah, katup terpasang disisipkan ketempatnya dan udara
dikeluarkan dari wadah dengan pompa vakum. Gas bertekanan kemudian dimasukkan
kedalam wadah lewat katup pengurang tekanan yang ditempelkan ke tabung gas . Bila
tekanan dalam wadah aerosol sama dengan tekanan yang telah ditentukan, gas akan
berhenti mengalir.
Pengujian Sediaan Aerosol

1. Uji Kebocoran , derajat kebocoran masing-masing wadah dapat diukur dalam mg


tiap tahun dengan cara :
Pilih 12 wadah aerosol, catat tanggal dan waktu dengan ketelitian setengah jam.Timbang
masing-masing wadah dengan ketelitian miligram, catat bobot dalam miligram untuk
masing-masing wadah sebagai W1, biarkan wadah posisi tegak lurus pada suhu kamar
tidak kurang 3 hari. Timbang kembali masing-masing wadah, catat bobot dari masingmasing wadah sebagai W2. Catat waktu dan tanggal dengan ketelitian setengah jam.
Tentukan waktu T dalam jam yaitu jangka waktu pengujian. Hitung derajat kebocoran
dalam miligram pertahun dari masing-masing wadah dengan rumus :

365 x

24
x ( W1 - W2 )
T

dimana W1 = bobot awal setiap wadah


W2 = bobot wadah setelah penyimpanan 3 hari
T = waktu dalam jam

Persyaratan dipenuhi jika derajat kebocoran rata-rata per tahun untuk ke 12 wadah tidak
lebih dari 3,5 % dari bobot isi bersih dan tidak satupun kebocoran lebih dari 5 % dari
bobot isi bersih per tahun.
2. Pengujian Derajat Semprot
Pilih 4 wadah aerosol, kocok, lalu buka penutup dan tekan masing-masing katup selama
2 3 detik. Timbang seksama masing-masing wadah

= A1. Masukkan kedalam

penangas air pada suhu 250 C sehingga tekanan tetap, keringkan.


Tekan aktuator selama 5 detik, ukur dengan stop watch, lalu timbang kembali bobot
wadah = A2. Ulangi 3 kali percobaan. Hitung laju semprot ( derajat semprot ) rata-rata
dalam gram per detik untuk masing-masing wadah.

Laju semprot =

A1 A2
a1
5

Laju semprot rata-rata =

a1 a 2 a3
3

3. Pengujian Tekanan

Tekanan dalam wadah diukur dengan alat pengukur tekanan.


Penandaan Pada Etiket
Pada etiket aerosol harus memuat informasi PERINGATAN yang berbunyi :
Isi bertekanan , wadah jangan ditusuk atau dibakar. Jangan dipaparkan terhadap panas
dan jangan disimpan pada temperatur diatas 490 C
Jauhkan dari jangkauan anak-anak.