Anda di halaman 1dari 16

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2012

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...............................................................................................................
Daftar Isi

ii
iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan ...

1
2
2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pernikahan ..
2.2 Anjuran Untuk Menikah ...
2.3 Tujuan Pernikahan
2.3.1 Membentengi Martabat Manusia dari Perbuatan Kotor dan
Keji
2.3.2 Rumah Tangga yang Islami
2.3.3 Karena Menikah itu Ibadah
2.3.4 Mencari Keturunan yang Shalih .
2.4 Calon Pasangan yang Ideal
2.4.1 Kafaah Menurut Konsep Islam .
2.4.2 Kriteria Memilih Calon Suami dan Istri yang Shalihah
2.5 Proses Sebuah Pernikahan yang Berlandaskan Al-Quran dan AsSunnah
Yang Shahih .
2.5.1 Mengenal Calon Pasangan Hidup .
2.5.2 Nazhar (Melihat Calon Pasangan Hidup) .
2.5.3 Khithbah (Peminangan)
2.5.4 Akad Nikah
2.5.5 Walimatul urs ..
2.5.6 Setelah Akad .
2.6 Pernikahan yang Dilarang dalam Islam ...
2.6.1 Nikah Mutah
2.6.2 Nikah Muhallil ..
2.6.3 Pernikahan Silang (Beda Agama) .
2.6.4 Pernikahan Khadan
2.7 Hikmah Pernikahan ..
2.7.1 Meninggikan Harkat dan Martabat Manusia .
2.7.2 Memuliakan Kaum Wanita
2.7.3 Cara untuk Melanjutkan Keturunan ..

3
4
6
6
6
7
7
7
8
9
10
10
11
13
14
15
16
17
16
18
18
18
19
19
19
20

2.7.4 Wujud Kecintaan Allah SWT

20

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ...
3.2 Saran .

21
21

DAFTAR PUSTAKA..

22

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konsep pernikahan pada umumnya hanya berkisar pada pernikahan Internasional dan
tradisional. Konsep nikah itu sendiri juga pastinya memilih tempat dan wedding concept resepsi
pernikahan yang tepat bukanlah hal yang mudah dilakukan.
Pernikahan menurut Islam adalah sebuah kontrak yang serius dan jugamoment yang
sangat membahagiakan dalam kehidupan seseorang maka dianjurkan untuk mengadakan sebuah
pesta perayaan pernikahan dan membagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Seperti dengan para
kerabat, teman-teman atau pun bagi mereka yang kurang mampu. Dan pesta perayaan pernikahan
juga sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada
kita. Di samping itu pernikahan-pernikahan juga memiliki fungsi lainnya yaitu mengumumkan
kepada khalayak ramai tentang pernikahan itu sendiri. Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk
menghindari zina melainkan melalui pernikahan.
Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa sudah menjadi kewajiban seorang muslim
untuk menjawab undangan pernikahan dan bahkan Rasulullah SAW menekankan untuk
menghadiri undangan walimah. Maka para ulama berpendapat bahwa seseorang boleh untuk
tidak menghadiri pernikahan hanya dengan alasan-alasan yang diperbolehkan menurut Islam.
Salah satu alasan yang diperbolehkan itu adanya musik. Adanya musik yang tidak Islam ketika
berkumpul di saat pernikahan atau seseorang masih harus menyesuaikan pekerjaan lainnya yang
berhubungan dengan agama yang jauh lebih penting.

1.2

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana bentuk-bentuk pernikahan yang tidak sesuai dengan ajaran islam?
2. Bagaimana konsep pernikahan yang sesuai dengan ajaran agama islam?

1.3

1.3 Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini penyusun memiliki beberapa tujuan, antara lain:
a. Untuk mengetahui pengertian pernikahan/nikah.
b. Untuk mengetahui kenapa Islam menganjurkan menikah.
c. Untuk mengetahui tujuan melaksanakan pernikahan.

d. Untuk mengetahui calon pasangan yang ideal menurut Islam.


e. Untuk mengetahui proses sebuah pernikahan yang berlandaskan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih.
f. Untuk mengetahui pernikahan yang dilarang dalam Islam.
g. Kita dapat mengetahui tentang hikmah pernikahan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Pernikahan

Pernikahan merupakan ikatan diantara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan,
baik dari segi fisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berfikir (mental), pendidikan dan lain hal.
Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan ikatan yang amat suci dimana dua insan
yang berlainan jenis dapat hidup bersama dengan direstui agama, kerabat, dan masyarakat.
Aqad nikah dalam Islam berlangsung sangat sederhana, terdiri dari dua kalimat "ijab dan
qabul". Tapi dengan dua kalimat ini telah dapat menaikkan hubungan dua makhluk Allah dari
bumi yang rendah ke langit yang tinggi. Dengan dua kalimat ini berubahlah kekotoran menjadi
kesucian, maksiat menjadi ibadah, maupun dosa menjadi amal sholeh. Aqad nikah bukan hanya
perjanjian antara dua insan. Aqad nikah juga merupakan perjanjian antara makhluk Allah dengan
Al-Khaliq. Ketika dua tangan diulurkan (antara wali nikah dengan mempelai pria), untuk
mengucapkan kalimat baik itu, diatasnya ada tangan Allah SWT, "Yadullahi fawqa aydihim".
Begitu sakralnya aqad nikah, sehingga Allah menyebutnya "Mitsaqon gholizho" atau
perjanjian Allah yang berat. Juga seperti perjanjian Allah dengan Bani Israil dan juga Perjanjian
Allah dengan para Nabi adalah perjanjian yang berat (Q.S Al-Ahzab : 7), Allah juga
menyebutkan aqad nikah antara dua orang anak manusia sebagai "Mitsaqon gholizho". Karena
janganlah pasangan suami istri dengan begitu mudahnya mengucapkan kata cerai.
Allah SWT menegur suami-suami yang melanggar perjanjian, berbuat dzalim dan
merampas hak istrinya dengan firmannya : "Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali
padahal kalian sudah berhubungan satu sama lain sebagai suami istri. Dan para istri kalian sudah
melakukan dengan kalian perjanjian yang berat "Mitsaqon gholizho"." (Q.S An-Nisaa : 21).Aqad
nikah dapat menjadi sunnah, wajib, makruh ataupun haram, hal ini disebabkan karena :
1. Sunnah, untuk menikah bila yang bersangkutan :
a. Siap dan mampu menjalankan keinginan biologi,
b. Siap dan mampu melaksanakan tanggung jawab berumah tangga.
2. Wajib menikah, apabila yang bersangkutan mempunyai keinginan biologi yang kuat, untuk
menghindarkan dari hal-hal yang diharamkan untuk berbuat maksiat, juga yang bersangkutan
telah mampu dan siap menjalankan tanggung jawab dalam rumah tangga. Hal ini sesuai dengan
firman Allah Q.S An-Nur : 33.
3. Makruh, apabila yang bersangkutan tidak mempunyai kesanggupan menyalurkan biologi,
walo seseorang tersebut sanggup melaksanakan tanggung jawab nafkah, dll. Atau sebaliknya dia
mampu menyalurkan biologi, tetapi tidak mampu bertanggung jawab dalam memenuhi
kewajiban dalam berumah tangga.

4. Haram menikah, apabila dia mempunyai penyakit kelamin yang akan menular kepada
pasangannya juga keturunannya.
Sebaiknya sebelum menikah memeriksakan kesehatan untuk memastikan dengan benar,
bahwa kita dalam keadaan benar-benar sehat. Apabila yang mengidap penyakit berbahaya
meneruskan pernikahannya, dia akan mendapat dosa karena dengan sengaja menularkan
penyakit kepada pasangannya.
Bagi mereka yang melaksanakan pernikahan dalam keadaan wajib dan sunnah, berarti dia
telah melaksanakan perjanjian yang berat. Apabila perjanjian itu dilanggar, Allah akan
mengutuknya.
Apabila perjanjian itu dilaksanakan dengan tulus, kita akan dimuliakan oleh Allah SWT, dan
ditempatkan dalam lingkungan kasih Allah.

2.2

Anjuran Untuk Menikah

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah
Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. An Nuur : 32)
Ayat di atas menganjurkan kepada umat Islam untuk menikah, dan Allah SWT
menegaskan bahwa menikah bukanlah sebagai penyebab sebuah kemiskinan. Menikah adalah
pembuka dari pintu-pintu rizki dan membaawa berkah dan rahmah dari Allah. Dengan menikah,
Allah akan menambah rizki dan karuniaNya terhadap hambanya yang yakin terhadap Ayat-ayat
Allah.
Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur'an dan AsSunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi,
dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan
besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin
Malik radhiyallahu 'anhu berkata :"Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
(yang artinya): "Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan
hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi". [Hadist
Riwayat Thabrani dan Hakim].
Sesungguhnya menikah itu bukanlah sesuatu yang menakutkan, hanya memerlukan
perhitungan cermat dan persiapan matang saja, agar tidak menimbulkan penyesalan. Sebagai
risalah yang symil (menyeluruh) dan kmil (sempurna), Islam telah memberikan tuntunan
tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim. Tujuannya adalah agar
pernikahan itu berkah dan bernilai ibadah serta benar-benar memberikan ketenangan bagi suamiistri. Dengan itu akan terwujud keluarga yang bahagia dan langgeng. Hal ini bisa diraih jika
pernikahan itu dibangun atas dasar pemahaman Islam yang benar.
Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunnah Rasullullah saw., melanjutkan
keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah,
meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan. Pernikahan merupakan sarana dakwah suami
terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan
berarti pula mempertautkan hubungan dua keluarga. Dengan begitu, jaringan persaudaraan dan
kekerabatan pun semakin luas. Ini berarti, sarana dakwah juga bertambah. Pada skala yang lebih

luas, pernikahan islami yang sukses tentu akan menjadi pilar penopang dan pengokoh perjuangan
dakwah Islam, sekaligus tempat bersemainya kader-kader perjuangan dakwah masa depan.

2.3

Tujuan Pernikahan

Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan
keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang
meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh
besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.

2.3.1 Membentengi Martabat Manusia dari Perbuatan Kotor dan Keji


Sasaran utama dari disyari'atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk
membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan
meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan
keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan
melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang
artinya): "Wahai para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka
nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji
(kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena
shaum itu dapat membentengi dirinya". [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim,
Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi].

2.3.2 Rumah Tangga Yang Islami


Tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Islam
dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah
WAJIB. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang
Islami. Rumah tangga yang islami adalah rumah tangga yang berdasarkan kepada ajaran-ajaran
agama Islam secara total (kaffah)

2.3.3 Karena Menikah itu Ibadah


Sebagai seorang manusia yang sadar betul kehambaanya, manusia harus mengabdi dan
memberikan hidupnya hanya kepada Allah dan selalu menghabiskan hari-harinya dengan ibadah
kepada Allah semata. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi
peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain.

2.3.4 Mencari Keturunan Yang Shalih


Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani
Adam, Allah berfirman : "Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri
dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu
rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari
nikmat Allah ?" [An-Nahl : 72].
Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak,
tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang
shalih dan bertaqwa kepada Allah.

Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam
yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak "Lembaga Pendidikan Islam", tetapi isi dan
caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq
Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab
mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

2.4

Calon Pasangan Yang Ideal


a). Harus Kafaah
b). Shalihah

2.4.1 Kafaah Menurut Konsep Islam


Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang
ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya,
selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara
pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu (sederajat, sepadan) hanya
diukur lewat materi saja.
Menurut Islam, Kafaah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan,
dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka
usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud.
Tetapi kafaah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq
seseorang, bukan status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat
seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari
keduanya melainkan derajat taqwanya (Al-Hujuraat : 13). Artinya : Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang
paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Al-Hujuraat : 13).
Dan mereka tetap sekufu dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama
lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berfaham materialis dan
mempertahankan adat istiadat wajib mereka meninggalkannya dan kembali kepada Al-Quran
dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :Artinya : Wanita
dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan
karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau
tidak demikian, niscaya kamu akan celaka. (Hadits Shahi Riwayat Bukhari 6:123, Muslim
4:175).

2.4.2 Kriteria Memilih Calon Suami dan Istri Yang Salihah


1). Kriteria Calon Istri yang Shalihah
* Beragama islam (muslimah). Ini adalah syarat yang utama dan pertama.
* Memiliki akhlak yang baik. Wanita yang berakhlak baik insya Allah akan mampu
menjadi ibu dan istri yang baik.
* Memiliki dasar pendidikan Islam yang baik. Wanita yang memiliki dasar
pendidikan Islam yang baik akan selalu berusaha untuk menjadi wanita sholihah yang akan
selalu dijaga oleh Allah SWT. Wanita sholihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia.

* Memiliki sifat penyayang. Wanita yang penuh rasa cinta akan memiliki banyak sifat
kebaikan.
* Sehat secara fisik. Wanita yang sehat akan mampu memikul beban rumah tangga
dan menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu yang baik.
* Dianjurkan memiliki kemampuan melahirkan anak. Anak adalah generasi penerus
yang penting bagi masa depan umat. Oleh karena itulah, Rasulullah SAW menganjurkan agar
memilih wanita yang mampu melahirkan banyak anak.
* Sebaiknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum
pernah menikah. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara keluarga yang baru terbentuk dari
permasalahan lain.
2). Kriteria Calon Suami yang Shalihah
Beragama Islam (muslim). Suami adalah pembimbing istri dan keluarga untuk dapat selamat di
dunia dan akhirat, sehingga syarat ini mutlak diharuskan.
Memiliki akhlak yang baik. Laki-laki yang berakhlak baik akan mampu membimbing
keluarganya ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
Sholih dan taat beribadah. Seorang suami adalah teladan dalam keluarga, sehingga tindak
tanduknya akan menular pada istri dan anak-anaknya.
Memiliki ilmu agama Islam yang baik. Seorang suami yang memiliki ilmu Islam yang baik akan
menyadari tanggung jawabnya pada keluarga, mengetahui cara memperlakukan istri, mendidik
anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara halal
dan baik.

2.5
Proses Sebuah Pernikahan yang Berlandasakan Al-Quran dan AsSunnah yang Shahih.
2.5.1 Mengenal calon pasangan hidup

Sebelum seorang lelaki memutuskan untuk menikahi seorang wanita, tentunya ia harus
mengenal terlebih dahulu siapa wanita yang hendak dinikahinya, begitu pula sebaliknya si
wanita tahu siapa lelaki yang berhasrat menikahinya.
Adapun mengenali calon pasangan hidup di sini maksudnya adalah mengetahui siapa
namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya dan informasi lain yang
memang dibutuhkan. Ini bisa ditempuh dengan mencari informasi dari pihak ketiga, baik dari
kerabat si lelaki atau si wanita ataupun dari orang lain yang mengenali si lelaki/si wanita.
Yang perlu menjadi perhatian, hendaknya hal-hal yang bisa menjatuhkan kepada fitnah
(godaan setan) dihindari kedua belah pihak seperti bermudah-mudahan melakukan hubungan
telepon, sms, surat-menyurat, dengan alasan ingin taaruf (kenal-mengenal) dengan calon
suami/istri. Jangankan baru taaruf, yang sudah resmi meminang pun harus menjaga dirinya dari

fitnah. Karenanya, ketika Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah
ditanya tentang pembicaraan melalui telepon antara seorang pria dengan seorang wanita yang
telah dipinangnya, beliau menjawab, Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon
dengan wanita yang telah dipinangnya, bila memang pinangannya telah diterima dan
pembicaraan yang dilakukan dalam rangka mencari pemahaman sebatas kebutuhan yang ada,
tanpa adanya fitnah. Namun bila hal itu dilakukan lewat perantara wali si wanita maka lebih baik
lagi dan lebih jauh dari keraguan/fitnah. Adapun pembicaraan yang biasa dilakukan laki-laki
dengan wanita, antara pemuda dan pemudi, padahal belum berlangsung pelamaran di antara
mereka, namun tujuannya untuk saling mengenal, sebagaimana yang mereka istilahkan, maka ini
mungkar, haram, bisa mengarah kepada fitnah serta menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah
Subhanahu wa Taala berfirman:






Artinya:Maka janganlah kalian tunduk (lembut mendayu-dayu) dalam berbicara sehingga
berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit dan ucapkanlah ucapan yang
maruf. (Al-Ahzab: 32)

2.5.2 Nazhar (Melihat Calon Pasangan Hidup)


Seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk
menghibahkan dirinya. Si wanita berkata:

.


Artinya: Wahai Rasulullah! Aku datang untuk menghibahkan diriku kepadamu. Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam pun melihat ke arah wanita tersebut. Beliau mengangkat dan
menurunkan pandangannya kepada si wanita. Kemudian beliau menundukkan kepalanya. (HR.
Al-Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 3472)

Hadits ini menunjukkan bila seorang lelaki ingin menikahi seorang wanita maka
dituntunkan baginya untuk terlebih dahulu melihat calonnya tersebut dan mengamatinya. (AlMinhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/215-216)
Oleh karena itu, ketika seorang sahabat ingin menikahi wanita Anshar, Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam menasihatinya:



Artinya:Lihatlah wanita tersebut, karena pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu. Yang
beliau maksudkan adalah mata mereka kecil. (HR. Muslim no. 3470 dari Abu Hurairah
radhiyallahu anhu)

Demikian pula ketika Al-Mughirah bin Syubah radhiyallahu anhu meminang seorang
wanita, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadanya, Apakah engkau telah
melihat wanita yang kau pinang tersebut? Belum, jawab Al-Mughirah. Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


Artinya:Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk
melanggengkan hubungan di antara kalian berdua (kelak). (HR. An-Nasa`i no. 3235, AtTirmidzi no.1087. Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 96)

Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu berkata, Dalam sabda Rasulullah Shallallahu


alaihi wa sallam kepada Al-Mughirah radhiyallahu anhu: Apakah engkau telah melihat wanita
yang kau pinang tersebut? ada dalil bahwa sunnah hukumnya ia melihat si wanita sebelum
khitbah (pelamaran), sehingga tidak memberatkan si wanita bila ternyata ia membatalkan
khitbahnya karena setelah nazhar ternyata ia tidak menyenangi si wanita. (Syarhus Sunnah
9/18)
Bila nazhar dilakukan setelah khitbah, bisa jadi dengan khitbah tersebut si wanita merasa
si lelaki pasti akan menikahinya. Padahal mungkin ketika si lelaki melihatnya ternyata tidak
menarik hatinya lalu membatalkan lamarannya, hingga akhirnya si wanita kecewa dan sakit hati.
(Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 9/214)
Sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu anhu berkata, Aku meminang seorang
wanita, maka aku bersembunyi untuk mengintainya hingga aku dapat melihatnya di sebuah
pohon kurmanya. Maka ada yang bertanya kepada Muhammad, Apakah engkau melakukan hal
seperti ini padahal engkau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam? Kata
Muhammad, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Artinya:Apabila Allah melemparkan di hati seorang lelaki (niat) untuk meminang seorang
wanita maka tidak apa-apa baginya melihat wanita tersebut. (HR. Ibnu Majah no. 1864,
dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Ibni Majah dan Ash-Shahihah no.
98)
Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata, Boleh melihat wanita yang ingin dinikahi
walaupun si wanita tidak mengetahuinya ataupun tidak menyadarinya. Dalil dari hal ini sabda
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:





Artinya: Apabila seorang dari kalian ingin meminang seorang wanita, maka tidak ada dosa
baginya melihat si wanita apabila memang tujuan melihatnya untuk meminangnya, walaupun si
wanita tidak mengetahui (bahwa dirinya sedang dilihat). (HR. Ath-Thahawi, Ahmad 5/424 dan
Ath-Thabarani dalam Al-Mujamul Ausath 1/52/1/898, dengan sanad yang shahih, lihat AshShahihah 1/200)
Pembolehan melihat wanita yang hendak dilamar walaupun tanpa sepengetahuan dan
tanpa seizinnya ini merupakan pendapat yang dipegangi jumhur ulama.
Adapun Al-Imam Malik rahimahullahu dalam satu riwayat darinya menyatakan, Aku
tidak menyukai bila si wanita dilihat dalam keadaan ia tidak tahu karena khawatir pandangan
kepada si wanita terarah kepada aurat. Dan dinukilkan dari sekelompok ahlul ilmi bahwasanya
tidak boleh melihat wanita yang dipinang sebelum dilangsungkannya akad karena si wanita
masih belum jadi istrinya. (Al-Hawil Kabir 9/35, Syarhul Maanil Atsar 2/372, Al-Minhaj Syarhu
Shahih Muslim 9/214, Fathul Bari 9/158)

2.5.3 Khithbah (peminangan)


Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya
meminang wanita tersebut kepada walinya.
Apabila seorang lelaki mengetahui wanita yang hendak dipinangnya telah terlebih dahulu
dipinang oleh lelaki lain dan pinangan itu diterima, maka haram baginya meminang wanita
tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

Artinya:Tidak boleh seseorang meminang wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga
saudaranya itu menikahi si wanita atau meninggalkannya (membatalkan pinangannya). (HR.
Al-Bukhari no. 5144)
Dalam riwayat Muslim (no. 3449) disebutkan:





Artinya:Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Maka tidaklah halal baginya
menawar barang yang telah dibeli oleh saudaranya dan tidak halal pula baginya meminang
wanita yang telah dipinang oleh saudaranya hingga saudaranya meninggalkan pinangannya
(membatalkan).
Perkara ini merugikan peminang yang pertama, di mana bisa jadi pihak wanita meminta
pembatalan pinangannya disebabkan si wanita lebih menyukai peminang kedua. Akibatnya,
terjadi permusuhan di antara sesama muslim dan pelanggaran hak. Bila peminang pertama
ternyata ditolak atau peminang pertama mengizinkan peminang kedua untuk melamar si wanita,
atau peminang pertama membatalkan pinangannya maka boleh bagi peminang kedua untuk
maju. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, 2/282)
Setelah pinangan diterima tentunya ada kelanjutan pembicaraan, kapan akad nikad akan
dilangsungkan. Namun tidak berarti setelah peminangan tersebut, si lelaki bebas berduaan dan
berhubungan dengan si wanita. Karena selama belum akad keduanya tetap ajnabi, sehingga
janganlah seorang muslim bermudah-mudahan dalam hal ini. (Fiqhun Nisa fil Khithbah waz
Zawaj, hal. 28)

2.5.4 Akad nikah


Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan
pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.
Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari
pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya, misalnya: Saya nikahkan
anak saya yang bernama si A kepadamu dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.
Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya, misalnya: Saya terima
nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.
Sebelum dilangsungkannya akad nikah, disunnahkan untuk menyampaikan khutbah yang
dikenal dengan khutbatun nikah atau khutbatul hajah. Lafadznya sebagai berikut:







.




(102 : ) .



.
(1 :)


.
(71-70 : ).
2.5.5 Walimatul urs
Melangsungkan walimah urs hukumnya sunnah menurut sebagian besar ahlul ilmi,
menyelisihi pendapat sebagian mereka yang mengatakan wajib, karena adanya perintah
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu ketika
mengabarkan kepada beliau bahwa dirinya telah menikah:


Artinya:Selenggarakanlah walimah walaupun dengan hanya menyembelih seekor kambing4.
(HR. Al-Bukhari no. 5167 dan Muslim no. 3475)
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri menyelenggarakan walimah ketika
menikahi istri-istrinya seperti dalam hadits Anas radhiyallahu anhu disebutkan:


Artinya:Tidaklah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah ketika
menikahi istri-istrinya dengan sesuatu yang seperti beliau lakukan ketika walimah dengan
Zainab. Beliau menyembelih kambing untuk acara walimahnya dengan Zainab. (HR. AlBukhari no. 5168 dan Muslim no. 3489)

2.5.6 Setelah Akad


Ketika mempelai lelaki telah resmi menjadi suami mempelai wanita, lalu ia ingin masuk
menemui istrinya maka disenangi baginya untuk melakukan beberapa perkara berikut ini:

Pertama: Bersiwak terlebih dahulu untuk membersihkan mulutnya karena dikhawatirkan


tercium aroma yang tidak sedap dari mulutnya. Demikian pula si istri, hendaknya melakukan
yang sama. Hal ini lebih mendorong kepada kelanggengan hubungan dan kedekatan di antara
keduanya. Didapatkan dari perbuatan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersiwak
bila hendak masuk rumah menemui istrinya, sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu anha
(HR. Muslim no. 590).
Kedua: Disenangi baginya untuk menyerahkan mahar bagi istrinya sebagaimana akan
disebutkan dalam masalah mahar dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.
Ketiga: Berlaku lemah lembut kepada istrinya, dengan semisal memberinya segelas
minuman ataupun yang semisalnya berdasarkan hadits Asma` bintu Yazid bin As-Sakan
radhiyallahu anha, ia berkata, Aku mendandani Aisyah radhiyallahu anha untuk dipertemukan
dengan suaminya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Setelah selesai aku memanggil
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk melihat Aisyah. Beliau pun datang dan duduk di
samping Aisyah. Lalu didatangkan kepada beliau segelas susu. Beliau minum darinya kemudian
memberikannya kepada Aisyah yang menunduk malu. Asma` pun menegur Aisyah, Ambillah
gelas itu dari tangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Aisyah pun mengambilnya dan
meminum sedikit dari susu tersebut. (HR. Ahmad, 6/438, 452, 458 secara panjang dan secara
ringkas dengan dua sanad yang saling menguatkan, lihat Adabuz Zafaf, hal. 20)
Keempat: Meletakkan tangannya di atas bagian depan kepala istrinya (ubun-ubunnya)
sembari mendoakannya, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:



:

Artinya:Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang
budak maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya, menyebut nama Allah Subhanahu wa
Taala, mendoakan keberkahan dan mengatakan: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dari
kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia di atasnya dan aku
berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan/tabiatkan dia
di atasnya. (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam
Shahih Sunan Abi Dawud)
Kelima: Ahlul ilmi ada yang memandang setelah dia bertemu dan mendoakan istrinya
disenangi baginya untuk shalat dua rakaat bersamanya. Hal ini dinukilkan dari atsar Abu Said
maula Abu Usaid Malik bin Rabiah Al-Anshari. Ia berkata: Aku menikah dalam keadaan aku
berstatus budak. Aku mengundang sejumlah sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, di antara
mereka ada Ibnu Masud, Abu Dzar, dan Hudzaifah radhiyallahu anhum. Lalu ditegakkan shalat,
majulah Abu Dzar untuk mengimami. Namun orang-orang menyuruhku agar aku yang maju.
Ketika aku menanyakan mengapa demikian, mereka menjawab memang seharusnya demikian.
Aku pun maju mengimami mereka dalam keadaan aku berstatus budak. Mereka mengajariku dan
mengatakan, Bila engkau masuk menemui istrimu, shalatlah dua rakaat. Kemudian mintalah
kepada Allah Subhanahu wa Taala dari kebaikannya dan berlindunglah dari kejelekannya.

Seterusnya, urusanmu dengan istrimu. (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf,
demikian pula Abdurrazzaq. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu berkata dalam Adabuz Zafaf hal.
23, Sanadnya shahih sampai ke Abu Said).

2.6

Pernikahan yang Dilarang dalam Islam

Islam melarang beberapa bentuk pernikahan, Insya Allah penulis akan menyampaikan
beberapa pernikahan yang dilarang dalam ajaran agama Islam :

2.6.1 Nikah Mutah


Yang dimaksud dengan nikah mutah adalah nikah yang diniatkan hanya untuk bersenagbersenang dan hanya untuk jangka waktu tertentu saja, mungkin dapat diistilahkan dengan
ungkapan nikah kontrak.
Pada awalnya nikah ini diperbolehkan oleh Rasulullah SAW, karena pada saat itu kaum
muslimin sedang mengalami peperangan yang berkepanjangan dan jauh dari isteri mereka,
pertimbangannya agar kaum muslimin yang berada di medan peperangan terhindar dari bahaya
dan kehinaan zina.
Setelah itu Rasulullah SAW melarang pernikahan jenis ini, karena dikhawatirkan terdapat
unsure pelecehan terhadap wanita, dan tidak sesuai dengan tujuan pernikahan itu sendiri.

2.6.2 Nikah Muhallil


Nikah Muhallil adalah pernikahan yang dilakukan seseorang laki-laki terhadap
perempuan yang telah di talak tiga, dengan maksud agar mantan suaminya yang mentalak
isterinya tadi dapat menikahinya lagi.
Nikah seperti ini dilarang oleh agama, bahkan dilaknak oleh Rasulullah SAW. Dalam
sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : Dari Ibnu Masud ia berkata : Rasulullah SAW
mengutuk laki-laki yang Muhallil dan Muhallal Lahu (HR.Tarmidzi dan Nasai).

2.6.3 Pernikahan Silang ( Beda Agama )


Pernikahan silang adalah pernikahan lintas agama atau pernikahan antara laki-laki dan
perempuan yang berbeda keyakinan dan berbeda agama. Dan Islam melarang pernikahan silang
ini seperti yang disebutkan dalam firman Allah :
Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia
menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita
mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang
musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke
surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.(QS. Al Baqarah : 221)

2.6.4 Pernikahan Khadan


Khadan mempunyai arti gundik atau piaraan, baik laki-laki yang menjadikan perempuan
sebagai gundiknya atau sebaliknya. Pernikahan Khadan merupakan tradisi jahiliyah dan di dunia
modern istilah khadan berganti dengan istilah kumpul kebo. Pernikahan atau cara yang seperti
ini dilarang oleh agama dan melecehkan nilai-nilai dari rumah tangga yang sacral dan suci.

2.7

Hikmah Pernikahan

Keluarga dalam Islam adalah perintah agama yang berusaha untuk diwujudkan oleh
setiap manusia beriman. Ia juga kesempurnaan akhlak manusia yang dicoba-raih oleh setiap
pribadi. Pernikahan mengandung beberapa hikmah yang memesona dan sejumlah tujuan luhur.
Seorang manusialaki-laki maupun perempuanpasti bisa merasakan cinta dan kasih
sayang dan ingin mengenyam ketenangan jiwa dan kestabilan emosi. Allah S.W.T. berfirman,
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
Pun seseoranglaki-laki maupun perempuandalam naungan keluarga akan menikmati
perasaan memiliki kehormatan diri dan kesucian dan mengenyam keluhuran budi pekerti.
Rasulullah S.A.W. bersabda,
Wahai para pemuda, kalau ada di antara kalian yang sudah mampu menikah, segeralah
menikah. Sebab, pernikahan bisa menahan penglihatan dan menjaga kemaluan. Tapi, kalau ada
yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa. Sebab, puasa adalah peredam gejolak
syahwat.

2.7.1 Meninggikan Harkat dan Martabat Manusia.


Lihatlah bagaimana kehidupan manusia yang secara bebas mengumbar nafsu biologisnya
tanpa melalui bingkai halal sebuah pernikahan, maka martabat dan harga diri mereka sama
liarnya dengan nafsu yang tidak bisa mereka jinakkan. Menikah menjadikan harkat dan martabat
manusia-manusia yang menjalaninya menjadi lebih mulia dan terhormat. Manusia secara jelas
akan berbeda dengan binatang apabila ia mampu menjaga hawa nafsunya melalui pernikahan.

2.7.2 Memuliakan Kaum Wanita.


Banyak wanita-wanita yang pada akhirnya terjerumus pada kehidupan hitam hanya
karena diawali oleh kegagalan menikah dengan orang-orang yang menyakiti kehidupan mereka.
Menikah dapat memuliakan kaum wanita. Mereka akan ditempatkan sebagai ratu dan permaisuri
dalam keluarganya.

2.7.3 Cara untuk Melanjutkan Keturunan.


Salah satu tujuan menikah adalah meneruskan keturunan. Pasangan yang shaleh
diharapkan mampu melanjutkan keturunan yang shaleh pula. Dari anak-anak yang shaleh ini
akan tercipta sebuah keluarga shaleh, selanjutnya menjadi awal bagi terbentuknya kelompokkelompok masyarkat yang shaleh sebagai cikal bakal kebangkitan Islam di masa mendatang.

2.7.4 Wujud Kecintaan Allah SWT.


Inilah bukti kecintaan Allah terhadap mahkluk-Nya. Dia memberikan cara kepada
mahkluk-Nya untuk dapat memenuhi kebutuhan manusiawi seorang mahkluk. Di dalam wujud
kecintaan itu, dilimpahkan banyak keberkahan dan kebahagiaan hidup yang dirasakan melalui
adanya tali pernikahan. Allah menjadikan mahkluk-Nya berpasang-pasangan dan ditumbuhkan
padanya satu sama lain rasa cinta dan kasih sayang.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan


untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram bersamanya. Dan Dia
(juga) telah menjadikan diantaramu (suami, istri) rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". [QS. Ar
Ruum : 21].
Pernikahan atau perkawinan adalah ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dan wanita
dalam suatu rumah tangga berdasarkan tuntunan agama dalam usaha mencar rumah tangga yang
ideal. Rumah tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi Sakinah
(ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta) dan Rahmah (kasih sayang).
Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami dan istri harus saling memahami
kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami
tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
Sehingga upaya untuk mewujudkan perkawinan dan rumah tangga yang mendapat keridla'an
Allah dapat terealisir, akan tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari
kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia,
maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda
"kemelut" perselisihan dan percekcokan.

3.2

Saran

Dengan adanya perkawinan di harapkan dapat mebentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa
rahmah, dunia dan akhirat.
Perkawinan menjadi wadah bagi pendidikan dan pembentukan manusia baru, yang kedepannya
diharapkan mempunyai kehidupan dan masadepan yang lebih baik.
Dengan adanya kepala keluarga yang memimpin bahtera keluarga, kehidupan diharapkan menjadi
lebih bermakna, dan suami-suami dan istri-istri akhir zaman ini memiliki semangat yang tinggi
di jalan Allah. Amin!