Anda di halaman 1dari 2

3.

4 Diagnosis banding
Apabila terdapat suatu massa di rongga mulut, sangat penting untuk
menentukan diagnosis banding karena akan sangat membantu evaluasi kondisi pasien
dan penatalaksanaan lebih lanjut. Diagnosis banding dari Pyogenic granuloma adalah
peripheral giant cell granuloma, peripheral ossifying fibroma, hemangioma, tumor
kehamilan, jaringan granulasi konvensional, radang gusi hiperplastik, kaposis
sarcoma, bacillary angiomatosis, angiosarcoma dan non hodgkins lymphoma.
Peripheral giant cell granuloma merupakan lesi eksofitik yang muncul pada
gusi dan secara klinis sama dengan pyogenic granuloma, tetapi peripheral giant cell
granuloma seringnya lebih berwarna ungu kebiruan hingga ke merah terang.
Peripheral giant cell granuloma lebih mungkin menyebabkan resorpsi tulang
dibandingkan pyogenic granuloma.
Ossifying fibroma juga merupakan diagnosis banding dari pyogenic granuloma,
tetapi warnanya lebih terang dibandingkan pyogenic granuloma dan ditemukan di
gingiva. Jaringan granulasi konvensional secara klinis juga hampir menyerupai
pyogenic granuloma, tetapi PG menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dan
kemungkinan rekurensi yang lebih tinggi dibanding jaringan granulasi.
PG dapat dibedakan dari angiosarcoma dari pola pertumbuhan lobular,
vaskularisasi yang baik, dan sel endotel yang lebih lunak secara sitologis.

3.5 Terapi dan penatalaksanaan


Biopsi eksisi merupakan pilihan terapi bagi pyogenic granuloma, kecuali
apabila prosedur tersebut dapat menyebabkan deformitas. Penatalaksanaan PG
bergantung pada keparahan lesi tersebut. Apabila lesi kecil, tidak sakit, dan tidak
perdarah, disarankan untuk observasi klinis dan follow up. Selain dilakukan tindakan
bedah konvensional, dilakukan juga pembuangan hal- hal yang mungkin bisa menjadi
irian seperti plak, kalkulus, material asing dan sumber trauma. Eksisi dilakukan
hingga mencapai periosteum dan gigi lawan harus dibersihkan untuk menghilangkan
iritasi.

3.6 Rekurensi
Setelah dilakukan eksisi, kemungkinan rekurensi terjadi hingga 16%. Rekurensi
kemungkinan terjadi karena eksisi yang tidak menyeluruh, kegagalan menghilangkan
factor etiologi, atau trauma ulang pada area lesi. Rekurensi dapat terjadi dalam bentuk
nodule di sekitar lesi awal. Harus diperhatikan bahwa kasus lesi pada gingiva lebi
tinggi angka rekurensinya dibandingkan lesi pada mukosa oral lain (Jafarzadeh et al,
2006 ; Kamal et al 2012).

Anda mungkin juga menyukai