Anda di halaman 1dari 8

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN

TENTANG DETEKSI DINI KANKER SERVIK DENGAN METODE IVA


DI DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BANDUNGAN
KABUPATEN SEMARANG
Arianti Wachidatul Nisa1), Surjani2), Kartika Sari3)
Akademi Kebidanan Ngudi Waluyo
Email : up2m@akbidngudiwaluyo
ABSTRAK
Kanker Serviks, sering disebut juga kanker mulut rahim atau kanker leher rahim, adalah
kanker yang berasal dari mulut rahim, merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker payudara.
Di Indonesia, kanker serviks merupakan kasus terbanyak dan hampir 90% nya di temukan dalam
kondisi stadium lanjut. Hal ini karena masih rendahnya pelaksanaan skrining. Namun lebih dari
70% penderita datang memeriksakan diri dalam stadium lanjut sehingga banyak pasien meninggal
karena terlambat ditemukan dan diobati. Hal ini karena kurangnya pengetahuan tentang deteksi dini
kanker serviks. Jumlah penderita kanker serviks di Desa Sidomukti sebanyak 8 kasus.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan
tingkat pengetahuan wanita usia subur tentang deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA di
Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.
Desain penelitian analisa bivariat dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan data
menggunakan data primer. Populasi seluruh wanita usia subur di Desa Sidomukti Kecamatan
Bandungan Kabupaten Semarang sebanyak 875 wanita. Sampel menggunakan teknik sampling
Quota Sampling didapatkan responden sebanyak 90 responden.
Hasil Penelitian dapat diketahui bahwa ada hubungan antara tingkat umur dengan tindakan
pengetahuan kanker serviks dengan nilai p value 0,008. Ada hubungan antara pendidikan dengan
tindakan pengetahuan kanker serviks dengan nilai p value 0,001.
Diharapkan tokoh masyarakat mampu memberikan informasi terutama menambah
pengetahuan tentang kanker serviks.
Kata Kunci : Pendidikan, Tingkat Pengetahuan, Umur

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

ABSTRACT
Cervical Cancer, often referred as uterine cancer, is cancer that originates from uterine
cancer is the second biggest cancer after breast cancer. In Indonesia, almost 90% of cervical cancer
were found in advanced stages .This is because the low rate of implementation of screening.
However more than 70% patients come for check up on advanced stages so many patients died
because it is late to be found and got treatment.. This is due to lack of knowledge about the early
detection of cervical cancer. At Sidomukti village there are 8 cases of cervical cancer.
The purpose of this research is to know factors associated with knowledge level of fertile
age woman about cervical cancer early detection with IVA Sidomukti village Bandungan Semarang
regency.
The study design was bivariate analysis with cross sectional approach and data retrieval
used primary data. The population were all fertile age women at Sidomukti Village Bandungan
Semarang Regency as many as 875 people. Sample used quota sampling technique were found 90
repondents.
The result there is correlation between level of age and the level of knowledge about
cervical cancer with the p value 0,008.There is correlation between level of education and the level
of knowledge about cervical cancer with p value 0,001.
Community leaders are expected to provide information primarily to increase knowledge
about cervical cancer.
Keywords : Education, knowlegde level,age
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Secara umum penyakit kanker merupakan
penyakit berbahaya, karena penyakit ini
merupakan penyakit yang menyebabkan
kematian. Kenyataan menunjukkan, hampir
semua penderita kanker teridentifikasi pada
stadium yang tinggi, karena pada stadium
rendah cenderung tidak menimbulkan gejala
pada tubuh manusia. Sehingga rata-rata
penderita kanker yang ada diketahui setelah
stadium tinggi, yang cenderung sulit diatasi
(Diananda, 2009).
Kanker serviks atau kanker leher rahim
adalah kanker yang terjadi pada serviks
uterus, suatu daerah pada organ reproduksi
wanita yang merupakan pintu masuk ke arah
rahim yang terletak antara rahim (uterus)
dengan liang sanggama (vagina) (Diananda,
2009).
Hampir 90% kejadian kanker serviks
terjadi di negara sedang berkembang. Angka
kejadian kanker serviks tertinggi di Afrika
yaitu lebih dari 45 per 100.000 orang per
tahun disusul Asia Tenggara 30 40 per
2

100.000 perempuan tiap tahun (Siswanto,


2010).
Indonesia merupakan salah satu negara
yang
sedang
berkembang.
Indonesia
merupakan negara kedua setelah China, yang
memiliki pengidap kanker serviks terbanyak,
yaitu dengan angka kejadian penyakit baru
15.000 kasus kanker serviks, yang kurang
lebih merenggut 8000 kematian di Indonesia
setiap tahunnya (YKI, 2010).
Setiap wanita beresiko terkena kanker
serviks. Diperkirakan 80% wanita akan
terinfeksi oleh Human Papiloma Virus (HPV)
selama masa hidupnya. Sebanyak 50%
diantaranya akan terinfeksi HPV yang dapat
menyebabkan kanker serviks. Adapun
perkembangan setelah infeksi HPV menjadi
kanker serviks biasanya terjadi setelah 10
20 tahun, walaupun jarang terjadi sebagian
lesi prakanker dapat menjadi kanker dalam
waktu satu atau dua tahun. Kanker serviks ini
dapat muncul pada perempuan usia 35 55
tahun. Beberapa data yang lain menyebutkan
kanker serviks ternyata dapat tumbuh pada
wanita yang usianya lebih muda dari 35
tahun, terutama wanita yang aktif secara
hubungan seksual sebelum umur 17 tahun.
Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

meningkatkan risiko terserang kanker leher


rahim 3 kali lebih besar dibandingkan
perempuan yang melakukan hubungan
seksual setelah usia 20 tahun. Kanker serviks
juga berkaitan dengan jumlah pasangan
seksual. Semakin banyak jumlah pasangan
seksual yang dimiliki, maka semakin
meningkat pula risiko terjadinya kanker
serviks. Jumlah pasangan seksual, jumlah
kehamilan yang pernah dialami juga
meningkatkan risiko terjadinya kanker
serviks. Indonesia diperkirakan setiap harinya
terjadi 41 kasus baru kanker serviks parahnya
setiap harinya meninggal dunia karena kanker
serviks tersebut (Diananda, 2009).
Melihat tingginya angka penderita, maka
tidak mengherankan bila penyakit ini
merupakan momok yang menakutkan bagi
perempuan. Padahal kanker serviks termasuk
jenis kanker yang mudah dideteksi secara dini
dan dapat dicegah atau diobati sebelum
berkembang ke stadium lanjut, namun lebih
dari 70% penderita datang memeriksakan diri
dalam stadium lanjut sehingga banyak pasien
meninggal karena terlambat ditemukan dan
diobati (Aziz, 2009).
Pada tahap awal, penyakit kanker serviks
ini tidak menimbulkan gejala yang mudah
diamati. Gejala fisik serangan penyakit ini
pada umumnya hanya dirasakan oleh
penderita kanker stadium lanjut, yaitu
munculnya rasa sakit dan perdarahan saat
berhubungan intim (contact bleeding),
keputihan yang berlebihan dan tidak
abnormal, perdarahan di luar siklus
menstruasi, serta penurunan berat badan
dratis. Kanker sudah menyebar ke panggul,
maka pasien akan menderita keluhan nyeri
punggung, hambatan dalam berkemih, serta
pembesaran ginjal, itu sebabnya, perempuan
yang sudah aktif secara seksual amat
dianjurkan untuk melakukan deteksi dini
untuk mengetahui kanker serviks stadium
dini. Salah satu cara yaitu dengan metode IVA
(Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Cara
lain untuk mendeteksi dini kanker serviks
yaitu dengan metode pap smear, kolposkopi,
schillen test, kolpomikroskopi, pap-net. IVA
merupakan cara sederhana untuk mendeteksi
kanker serviks sedini mungkin. Alat ini begitu
sederhana yang lebih praktis, murah dan saat
3

pemeriksaanya tidak perlu ke laboratorium


(Diananda, 2009).
Pemeriksaan metode IVA sendiri mulai
dicanangkan di Indonesia oleh Departemen
Kesehatan Jawa Tengah sejak pertengahan
tahun 2009. Pemeriksaan ini dapat dilakukan
di puskesmas atau di tempat bidan praktek
bidan swasta, karena selain praktis dan
murah, metode ini juga mempunyai akurasi
yang tinggi sehingga banyak wanita tertarik
mengikuti
pemeriksaan
IVA.
Syarat
pemeriksaan dengan metode ini adalah wanita
yang sudah pernah menikah, dan dianjurkan
untuk wanita yang berusia 30 50 tahun,
karena pada usia tersebut wanita lebih rentan
terkena kanker serviks. (Sahrial, 2009).
Pencegahan kanker serviks dengan metode
IVA ini sangat sederhana hanya dengan
mengoleskan asam cuka pada leher rahim lalu
melihat reaksi perubahannya dalam waktu
kurang lebih satu menit, maka kondisi
prakanker dapat dideteksi. Hasil dari
pemeriksaan IVA normal, IVA dapat diulang
setiap tiga atau lima tahun. Hasil IVA
didapatkan bercak putih maka kemungkinan
besar itu adalah kanker serviks. Walaupun
tidak tertutup kemungkinan penyakit seksual
lainnya, namun yang jika ada bercak putih
maka tandanya rahim sedang dalam keadaan
tidak normal (Sukaca, 2009).
Kendala di negara yang sedang
berkembang dengan cara IVA adalah
kurangnya pengorganisasian secara rapi dan
kurangnya pengetahuan tentang pentingnya
deteksi dini kanker serviks. Pengetahuan
sangat penting untuk memahami apa dan
bagaimana penyakit kanker tersebut, sebab
pengenalan dan pemahaman sejak dini akan
mampu mendeteksi setiap gejala penyakit,
sehingga penyakit kanker ini bisa ditangani,
karena jika sudah terdeteksi, penanganannya
pun akan efektif dan efisien, sehingga tidak
terlalu membahayakan dan bahkan bisa
ditangani secara tuntas (Diananda, 2009).
Pengetahuan juga dipengaruhi oleh umur
dan pendidikan, karena dapat mempengaruhi
daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah umur akan semakin
berkembang pula daya tangkap dan pola
pikirnya. Pendidikan tinggi maka seseorang
akan
cenderung
untuk
mendapatkan
pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

Pengetahuan juga dipengaruhi oleh umur,


karena dapat mempengaruhi daya tangkap dan
pola pikir seseorang. Semakin bertambah
umur akan semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya (Notoatmodjo,
2003).
Pendidikan seseorang mempengaruhi cara
pandang atau masyarakat yang pendidikannya
tinggi akan lebih mudah menerima informasi
atau penyuluhan yang diberikan dan lebih
cepat merubah sikapnya dalam kehidupan
sehari-hari. Menurut Nursalam (2003), bahwa
semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,
maka semakin mudah pula menerima
informasi sehingga makin banyak pula
pengetahuan yang dimiliki.
Pemberian informasi tentang kebiasaan
hidup sehat dan cara pencegahan penyakit
diharapkan
akan
terjadi
peningkatan
pengetahuan sikap dan perilaku kesehatan
dalam diri individu/kelompok sasaran yang
berdasarkan kesadaran dan kemauan individu
yang bersangkutan. Semua orang hidup dalam
kelompok dan saling berhubungan melalui
lambang-lambang,
khususnya
bahasa
(Notoatmodjo, 2003).
Berdasarkan Studi Pendahuluan di RSUD
Ambarawa didapatkan jumlah penderita
Metode Penelitian

kanker serviks yang rawat jalan di RSUD


Ambarawa pada bulan Januari September
tahun 2012 sebanyak 21 kasus, dengan kasus
baru sebanyak 4 orang, kasus lama sebanyak
17 kasus. Penderita kanker serviks terbanyak
di daerah Sidomukti sebanyak 8 orang, daerah
Duren sebanyak 4 orang, daerah Ambarawa 5
orang dan daerah Bergas sebanyak 4 orang.
Penderita kanker serviks yang rawat inap
pada bulan Januari September sebanyak 9
orang. Serta data yang didapatkan dari bidan
desa di Sidomukti, pada tahun 2010 lalu
pernah dilakukan deteksi dini kanker servik
dengan metode IVA, tetapi masih banyak
masyarakat yang tidak mengerti tentang
pentingnya metode tersebut. Pemeriksaan
dengan metode IVA ini biayanya sangat
rendah dan terjangkau. Berdasarkan data
sumber daerah terbanyak yang menderita
kanker serviks adalah daerah Sidomukti maka
peneliti tertarik untuk mengetahui FaktorFaktor yang Berhubungan dengan Tingkat
Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang
Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Metode
IVA di Desa Sidomukti Kecamatan
Bandungan Kabupaten Semarang.

sudah menikah maupun belum yang tinggaal


di desa Sidomukti Kecamatan Bandungan
Kabupaten Semarang.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
umur dan pendidikan, serta variabel
terikatnya adalah tingkat pengetahuan
Instrumen penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan
24 item mengenai pengetahuan WUS yang
meliputi tentang pengertian kanker servik,
penyebab kanker servik, tanda dan gejala
kanker servik, pengertian metode IVA, tempat
pemeriksaan
IVA,
alasan
melakukan
pemeriksaan IVA, petugas pemeriksa IVA,
waktu pemeriksaan IVA, hasil pemeriksaan
IVA, alat yang digunakan dalam pemeriksaan
IVA, kelebihan dalam pemeriksaan IVA.
Pengumpulan data pada penelitian ini
dilakukan dengan pengisian kuesioner.
Sebelum melakukan pengisian kuesioner,
responden mengisi lembar informed consent
terlebih dahulu.
Analisis data penelitian ini menggunakan
uji statistik Chi Kuadrat untuk mengetahui

Penelitian ini menggunakan desain


korelasi tentang adanya hubungan antara
tingkat umur dengan tingkat pengetahuan
WUS tentang deteksi dini kanker servik
dengan metode IVA, serta adanya hubungan
antara tingkat pendidikan dengan tingkat
pengetahuan WUS tentang deteksi dini kanker
servik dengan metode IVA.
Penelitian sudah dilaksanakan pada bulan
Januari 2013 dengan jumlah populasi
berjumlah 875 WUS yang tinggal di Desa
Sidomukti. Sample dalam penelitian ini
sejumlah 90 WUS yang berumur 20-35 tahun
yang memenuhi kriteria inklusi dan sifat
samplenya tersebut dapat mewakili semua
populasi. Penelitian ini menggunakan teknik
Quota Sampling di desa Sidomukti
Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang
secara door to door.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah
WUS yang bisa membaca dan menulis serta
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
4
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

apakah ada hubungan antara tingkat umur


dengan tingkat pengetahuan WUS tentang
deteksi dini kanker servik dengan metode IVA
dan mengetahui apakah ada hubungan antara

tingkat
pendidikan
dengan
tingkat
pengetahuan WUS tentang deteksi dini kanker
servik dengan metode IVA.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 3. Distribusi frekuensi responden


berdasarkan tingkat pengetahuan
WUS
di
Desa
Sidomukti
Kecamatan
Bandungan
Kabupaten Semarang.

Hasil
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden
berdasarkan tingkat umur WUS
di Desa Sidomukti Kecamatan
Bandungan Kabupaten Semarang.
Umur
20 - 25
25 - 30
30 - 35
Total

Frekuensi
37
30
23
90

Presentase (%)
41,1
33,3
25,6
100,0

Dari hasil penelitian ini didapatkan tingkat


umur WUS sebagian besar berumur 20 25
tahun dengan jumlah rsponden sebanyak 37
responden (41,1%).

Pengetahuan
Kurang
Sedang
Baik
Total

Frekuensi
39
30
21
90

Presentase (%)
43,3
33,3
23,3
100,0

Dari hasil penelitian didapatkan tingkat


pengetahuan
WUS
sebagian
besar
berpengetahuan kurang dengan jumlah
responden sebanyak 39 responden (43,3%)

Tabel 2. Distribusi frekuensi responden


berdasarkan tingkat pendidikan
WUS
di
Desa
Sidomukti
Kecamatan
Bandungan
Kabupaten Semarang.
Pendidikan
Dasar
Menengah
Tinggi
Total

Frekuensi
58
30
2
90

Presentase (%)
64,4
33,3
2,2
100,0

Dari hasil penelitian ini didapatkan tingkat


pendidikan WUS sebagian besar pada
kategori dasar dengan jumlah responden
sebanyak 58 responden (64,4%).
Tabel 4. Hubungan antara tingkat umur dengan tingkat pengetahuan WUS di Desa
Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang
Umur
20 25
25 30
30 35
Total

Ku rang
22
14
3
39

%
59.5
46.7
13.0
43.3

Tingkat Pengetahuan
Sedang
%
7
18.9
11
36.7
12
52.2
30
33.3

Berdasarkan hasil analisis menggunakan Chi


Kuadrat, diperoleh p sebesar 0,008. Nilai p <
0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho
ditolak atau ada hubungan yang sifnifikan

Total
Baik %
8 21,6
5 16,7
8 34,8
21 23,3

%
21.6%
16.7%
34.8%
23.3%

37
30
23
90

antara tingkat umur dengan tingkat


pengetahuan WUS tentang deteksi dini kanker
servik dengan metode IVA di Desa Sidomukti
Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

Tabel 4. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan WUS di Desa
Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang
Pendidikan
Dasar
Menengah
Tinggi
Total

Kurang
31
8
0
39

%
53,4
26,7
0,0
43.3

Berdasarkan hasil analisis menggunakan


Chi Kuadrat, diperoleh p sebesar 0,001. Nilai
p < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ho
ditolak atau ada hubungan yang sifnifikan
antara tingkat pendidikan dengan tingkat
pengetahuan WUS tentang deteksi dini kanker
servik dengan metode IVA di Desa Sidomukti
Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.
Pembahasan

Tingkat Pengetahuan
Sedang
%
21
36,2
9
30,0
0
0,0
30
33.3

Baik %
6
10,3
13
43,3
2
100,0
21 23,3

Total
58
30
2
90

(23,3%). Pengetahuan responden tentang


deteksi dini kanker serviks dengan metode
IVA pada penelitian ini sebagian kurang
cukup disebabkan WUS belum banyak
memperoleh informasi tentang deteksi dini
kanker serviks dengan metode IVA.
Pengetahuan responden tentang deteksi dini
kanker serviks dengan metode IVA masih ada
pada kategori kurang. Pengetahuan kurang
dapat disebabkan kurangnya informasi yang
didapatkan responden tentang deteksi dini
kanker serviks dengan metode IVA.
Pengetahuan yang kurang juga dapat
disebabkan
salahnya
informasi
yang
didapatkan tentang deteksi dini kanker serviks
dengan metode IVA. Hubungan antara tingkat
umur dengan tingkat pengetahuan WUS
tentang deteksi dini kanker servik dengan
metode IVA dari tabulasi silang didapatkan
responden yang berumur 20 25 tahun
kurang
dalam
tingkat
pengetahuan
dibandingkan responden yang berumur 25
30 tahun dan 30 35 tahun, dapat dilihat dari
beberapa pertanyaan yang dijawab oleh
responden yang berumur 20 25 kebanyakan
tidak bisa menjawab pada soal tentang
pengertian kanker servik, pengertian metode
IVA, kelebihan pemeriksaan IVA, dan tempat
pemeriksaan
IVA.
Berdasarkan
hasil
penelitian dapat dilihat bahwa nilai p value
< 0.05 (0.008) yang artinya Ha diterima yang
artinya ada hubungan antara tingkat umur
WUS dengan tingkat pengetahuan tentang
deteksi dini kanker serviks dengan metode
IVA di Desa Sidomukti Kecamatan
Bandungan Kabupaten Semarang. Hubungan
antara tingkat pendidikan dengan tingkat
pengetahuan WUS tentang deteksi dini kanker
servik dengan metode IVA dari tabulasi silang
didapatkan responden yang berpendidikan
dasar kurang dalam tingkat pengetahuan
dibandingkan dengan responden yang
berpendidikan menengah dan tinggi, hal ini
disebabkan seseorang dengan pendidikan
tinggi memiliki kemampuan untuk menyerap

Berdasarkan tabel diatas ini menunjukkan


bahwa tingkat umur responden yang banyak
pada kategori 20 25 tahun sebanyak 37
responden (41,1%). Semakin cukup umur,
tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang
yang lebih dewasa dipercayai dari orang yang
belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan
sebagai dari pengalaman dan kematangan
jiwa. Pada tingkat pendidikan responden yang
terbanyak pada kategori dasar sebanyak 58
responden (64,4%). Pendidikan responden
pada penelitian ini kebanyakan pada kategori
dasar yaitu berpendidikan SD dan SMP.
Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan
informasi misalnya hal-hal yang menunjang
kesehatan sehingga meningkatkan kualitas
hidup. Pendidikan pada penelitian ini juga ada
yang rendah dan tinggi sehingga bervariasi.
Pendidikan dapat mempengaruhi pengetahuan
seseorang yang mendasari sikap dan perilaku
seseorang terutama dalam pemeliharaan
kesehatan.
Pendidikan
seseorang
mempengaruhi cara pandang atau masyarakat
yang pendidikannya tinggi akan lebih mudah
menerima informasi atau penyuluhan yang
diberikan dan lebih cepat merubah sikapnya
dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat
pengetahuan
WUS
sebagian
besar
berpengetahuan kurang yaitu sebanyak 39
responden (43,3%), berpengetahuan sedang
sebanyak
30
responden
(33,3%),
berpengetahuan baik sebanyak 21 responden
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
6
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

informasi
lebih
banyak
dan
lebih
mengutamakan kesehatan daripada responden
yang berpendidikan rendah, dapat dilihat dari
beberapa pertanyaan yang dijawab oleh
responden
yang
berpendidikan
dasar
kebanyakan tidak bisa menjawab pada soal
tentang pengertian kanker servik, pengertian
metode IVA, kelebihan pemeriksaan IVA,
waktu pemeriksaan IVA, alat yang digunakan

dalam pemeriksaan IVA dan tempat


pemeriksaan
IVA.
Berdasarkan
hasil
penelitian dapat dilihat bahwa nilai p value
<0.05 (0.001) yang artinya Ha diterima yang
artinya ada hubungan antara tingkat
pendidikan WUS dengan tingkat pengetahuan
tentang deteksi dini kanker serviks dengan
metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan
Bandungan Kabupaten Semarang.

KESIMPULAN

Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang,


serta adanya hubungan antara tingkat
pendidikan dengan tingkat pengetahuan WUS
tentang deteksi dini kanker servik dengan
metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan
Bandungan Kabupaten Semarang.

Berdasarkan hasil penelitian dapat


disimpulkan bahwa adanya hubungan antara
tingkat umur dengan tingkat pengetahuan
WUS tentang deteksi dini kanker servik
dengan metode IVA di Desa Sidomukti
DAFTAR PUSTAKA
Andrijono.2009. Sinopsis Kanker Ginekologi.
Jakarta : Pustaka Spirit.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur
Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Arjoso. 2008. 52 Juta Perempuan Indonesia
Berisiko
Kanker
Serviks
dari
http://m.kompas.com/xl diakses tanggal 18
Oktober 2012.
Astana, Mahesa. 2009. Panduan Mengelola
dan Mengobati Kanker. Yogyakarta :
Araska.
Aziz. 2009. Saat Kanker Menyerang Leher
Rahim dari http : // www. Forum kami.
Com / forum / kesehatan / diakses tanggal
18 Oktober 2012.
Depkes RI. 2007. Buku Pegangan Peserta
Pencegahan Leher RAhim dan Kanker
Payudara. Jakarta : Dirjen DP & PL.
Diananda, Rama. 2009. Mengenal SelukBeluk Kanker. Yogyakarta : Ar-ruzz Media
Group.
Diananda, Rama. 2009. Panduan Lengkap
Mengenal Kanker. Yogyakarta : Mirza
Medika Pustaka.
7

Ikhwan. 2009. Konsep Dasar Screening dari


Website Hosting India, Web Hosting
Compony diakses tanggal 22 Oktober
2012.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan
dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Rasjidi,
Imam.
Penatalaksanaan
Jakarta : EGC.

2007.
Kanker

Panduan
Genekologi.

Siswanto. 2010. Saat Kanker Menyerang


Leher Rahim dari http : // www. Forum
kami. Com / forum / kesehatan / diakses
tanggal 18 Oktober 2012.
Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian.
Bandung : Alfabeta.

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang

Sukaca, E Bertiana. 2009. Cara Cerdas


Menghadapi Kanker Serviks. Yogyakarta :
Genius Printika.
Yatim, Faizal. 2008. Penyakit Kandungan.
Jakarta : Pustaka Populer Obor.
YKI. 2009. Memahami
Serangan
Kanker
http://daimanshare.com/
20 Oktober 2012.

dan Mencegah
Serviks
dari
diakses tanggal

Wawan A, Dewi M. 2010. Teori dan


Pengukuran Pengetahuan, Sikap Dan
Perilaku Manusia. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Riwidikdo,
Handoko.
2008.
Statistik
Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Cendekia
Press.

Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Pengetahuan tentang Deteksi Dini Kanker Servik
dengan Metode IVA di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang