Anda di halaman 1dari 11

Perdarahan pada Kehamilan Muda Akibat Abortus

Raditia Kurniawan
102011219 / D-9
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta 2015
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Email : kurniawan_md@ymail.com

Pendahuluan
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang dilaporkan dapat hidup
diluar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya
janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus
ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang
dari 20 minggu.1
Diperkirakan di seluruh dunia abortus terjadi pada sekitar 42 juta orang, 20 juta orang di
antaranya melakukan aborsi karena terapeutik dan 22 juta orang lagi melakukan aborsi karena
kehamilan tidak diinginkan. Di antara orang yang melakukan aborsi karena kehamilan yang tidak
diinginkan mengalami kematian karena komplikasi yang serius sebanyak 13 %.
Skenario
Seorang wanita dan suaminya adalah pasangan yang baru menikah 6 bulan lalu. Suatu
hari ketika suaminya sedang bekerja, perut Ny. B mules dan keluar darah dari kemaluannya.
Sebenarnya ia sudah terlambat bulan tetapi belum memberitahu suaminya karena akan memberi
surprise pada suami tercinta.
1 | Page

Anamnesis

Menanyakan identitas ibu (nama pasien, nama suami, alamat, agama, pendidikan terakhir,

pekerjaan, suku bangsa)


Menyakan keluhan utama, sudah berapa lama dirasakan, dan adakah hubungannya
dengan kehamilannya saat ini, apakah pada kehamilan terdahulu (jika sudah pernah

melahirkan sebelumnya) keluhan ini dirasakan juga.


Sekarang sudah hamil berapa bulan? Sudah kehamilan yang ke berapa? Adakah

komplikasi selama kehamilan terdahulu? Pernah keguguran atau tidak?


Apakah ada keluhan lain seperti demam, hemoroid, kelelahan, pusing, cepat lelah, nafsu

makan berkurang, dll?


Apakah pernah ada pendarahan sebelumnya? Bila ada, apakah disertai jaringan?
Apakah memiliki penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis, SLE, dll?
Bagaimana kebiasaan makan sehari-hari? Apakah mengonsumsi makanan dengan gizi

seimbang?
Apakah pernah mengonsumsi obat-obatan selama kehamilan? Obat apa?
Apakah pernah ada trauma selama kehamilan
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit hemolitik?2

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum pasien, kesadaran dan tanda-tanda vital.


Mengukur tinggi badan dan berat badan pasien.
Konjungtiva anemis
Pemeriksaan obstetrik dan ginekologik: maneuver Leopold, denyut jantung janin, dan
inspeksi ostium serviks.3

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Darah lengkap

Kadar haemoglobih rendah akibat anemia haemorrhagik.


LED dan jumlah leukosit meningkat tanpa adanya infeksi.

Tes kehamilan
Penurunan atau level plasma yang rendah dari -hCG adalah prediktif. terjadinya
kehamilan abnormal (blighted ovum, abortus spontan atau kehamilan ektopik).4
2 | Page

Ultrasonografi
USG transvaginal dapat digunakan untuk deteksi kehamilan 4 5 minggu. Detik jantung
janin terlihat pada kehamilan dengan CRL > 5 mm (usia kehamilan 5 6 minggu). Dengan
melakukan dan menginterpretasi secara cermat, pemeriksaan USG dapat digunakan untuk
menentukan apakah kehamilan viabel atau non-viabel. Pada abortus imminens, mungkin terlihat
adanya kantung kehamilan dan embrio yang normal.4
Prognosis buruk bila dijumpai adanya :

Kantung kehamilan yang besar dengan dinding tidak beraturan dan tidak adanya kutub
janin.

Perdarahan retrochorionic yang luas ( > 25% ukuran kantung kehamilan).

Frekuensi DJJ yang perlahan ( < 85 dpm ).

Pada abortus inkompletus, kantung kehamilan umumnya pipih dan iregular serta terlihat
adanya jaringan plasenta sebagai masa yang echogenik dalam cavum uteri.

Pada abortus kompletus, endometrium nampak saling mendekat tanpa visualisasi adanya
hasil konsepsi.

Pada missed abortion, terlihat adanya embrio atau janin tanpa ada detik jantung janin.

Pada blighted ovum, terlihat adanya kantung kehamilan abnormal tanpa yolk sac atau
embrio.5

Working diagnosis : Abortus


: Keluarnya hasil pembuahan sebelum mampu bertahan hidup.4

Definisi

Klasifikasi Aborsi :
1. Abortus spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran) merupakan 20% dari semua
abortus. Abortus spontan terdiri dari 7 macam, diantaranya :
a. Abortus imminens (keguguran mengancam) adalah Abortus ini baru mengancam
dan ada harapan untuk mempertahankan.
b. Abortus incipiens (keguguran berlangsung) adalah Abortus sudah berlangsung dan
tidak dapat dicegah lagi.

3 | Page

c. Abortus incomplete (keguguran tidak lengkap) adalah Sebagian dari buah kehamilan
telah dilahirkan tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal di
rahim.
d. Abortus completus (keguguran lengkap) adalah Seluruh buah kehamilan telah
dilahirkan lengkap. Kontraksi rahim dan perdarahan mereda setelah hasil konsepsi
keluar.
e. Missed abortion (keguguran tertunda) adalah Missed abortion ialah keadaan dimana
janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan
atau lebih setelah janin mati.
f. Abortus habitualis (keguguran berulang ulang) adalah abortus yang telah berulang
dan berturut turut terjadi sekurang kurangnya 3 kali berturut turut.
g. Abortus septik adalah Abortus incompletus atau abortus incipiens yang disertai
infeksi.
2. Abortus provocatus (disengaja, digugurkan) merupakan 80% dari semua abortus.
Abortus provocatus terdiri dari 2 macam, diantaranya :
a. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeutics adalah Pengguguran
kehamilan dengan alat alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan
membawa maut bagi ibu, misal ibu berpenyakit berat. Indikasi pada ibu dengan
penyakit jantung (rheuma), hypertensi essensialis, carcinoma serviks.
b. Abortus provocatus criminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan
medis yang syah dan dilarang oleh hukum.5
Differential Diagnosis
Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah implantasi ovum yang sudah dibuahi di luar kavum uteri.
Kehamilan ektopik yang tidak ruptur ditandai oleh amnore singkat, nyeri tekan adneksa
unilateral dan perasaan penuh. Rasa nyeri tajam unilateral pada abdomen bagian bawah atau
pelvis atau keduanya (mungkin juga nyeri punggung) setelah amnore singkat dan perdarahan
tidak teratur adalah keluhan-keluhan umum pada kehamilan ektopik akut (yang sedang ruptur
atau baru saja ruptur). Kolaps dan syok akibat perdarahan seringkali dipicu oleh pemeriksaan
vagina, terjadi pada paling sedikit 10% kasus . Riwayat menstruasi abnormal atau infertilitas
dapat ditemui pada sekitar 60% pasien ini.
Kehamilan ektopik kronis (sekarang jarang). Rasa tidak nyaman pada pelvis bervariasi.
Warna kebiruan pada atau sekitar umbilikus (tanda hematoperitoneum Cullen) dapat muncul

4 | Page

pada kasus-kasus yan terabaikan. Pada saat ini, kehamilan biasanya sudah berakhir tetapi rasa
nyeri menetap dan terdapat infeksi.6
Mola Hidatidosa
Mola hidatidosa adalah plasenta dengan vili korialis yang berkembang tidak sempurna
dengan gambaran adanya pembesaran, edema, dan vili vesikuler sehingga menunjukan berbagai
ukuran trofoblas profileratif tidak normal. Biasanya terjadi amenorea 1 sampai 2 bulan. Mungkin
terdapat mual dan muntah yang signifikan. Akhirnya terjadi perdarahan uterus pada hampir
semua kasus, yang mungkin bervariasi dari sekedar bercak hingga perdarahan hebat. Perdarahan
dapat berawal tepat sebelum abortus mola spontan atau yang lebih sering, berlangsung secara
intermiten selama beberapa minggu sampai bulan. Pada mola tahap lanjut, mungkin terjadi
perdarahan uterus yang tersamar disertai anemia defisiensi besi derajat sedang.6
Epidemiologi
Rata-rata terjadi 114 kasus abortus perjam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian
abortus spontan antara 15-20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh abortus
sebenarnya bisa mendekati 50%. Hal ini dikarenakan tingginya angka chemical pregnancy loss
yang tidak bisa diketahui pada 2-4 minggu setelah konsepsi.7
WHO memperkirakan diseluruh dunia, dari 46 juta kelahiran pertahun terdapat 20 juta
kejadian abortus. Sekitar 13% dari jumlah total kematian ibu diseluruh dunia diakibatkan oleh
komplikasi abortus. 800 wanita diantaranya meninggal karena komplikasi abortus dan
sekurangnya 95% (19 dari setiap 20 abortus) diantaranya terjadi di negara berkembang. Di
Amerika Serikat angka kejadian abortus spontan berkisar 10-20% dari kehamilan.
Etiologi
Kelainan telur
Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedinikian rupa hingga
janin tidak mungkin hidup terus, misalnya karena faktor endogen seperti kelainan
chromosom (trisomi dan polyploidi).
Penyakit ibu
Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus, yaitu:

5 | Page

a. Infeksi akut yang berat: pneumonia, thypus dapat mneyebabkan abortus dan partus
prematurus.
b. Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenjar
gondok.
c. Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.
d. Gizi ibu yang kurang baik.
e. Kelainan alat kandungan:
Hypoplasia uteri.
Tumor uterus
Serviks yang pendek
Retroflexio uteri incarcerata
Kelainan endometrium
f. Faktor psikologis ibu.
Faktor suami
Terdapat kelainan bentuk anomali kromosom pada kedua orang tua serta faktor
imunologik yang dapat memungkinkan hospes (ibu) mempertahankan produk asing
secara antigenetik (janin) tanpa terjadi penolakan.
Faktor lingkungan
Paparan dari lingkungan seperti kebiasaan merokok, minum minuman
beralkohol serta paparan faktor eksogen seperti virus, radiasi, zat kimia, memperbesar
peluang terjadinya abortus.5,6
Patofisiologi
Kebanyakan aborus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian diikuti
sengan perarahan kedalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada
daerah implantasi,infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan pervaginam. Buah
kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam
rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi
perdorongan bendaasing keluar dari rongga rahim (ekspulsi). Perlu ditekannkan bahwa abortus
spontan, kematian embrio nbiasanya terjadi paling lama 2 minggu sebelum perdarahan. Oleh
karena itu mempertahankan janin tidak layak dilakukan jika terjadi perdarahn banyak karena
abortus tidak dapat dihindari.4

6 | Page

Sebelum minggu ke 10 hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini
disebabkan sebelum minggu ke-10 villi korialis belum menanamkan diri dengan erat kedalam
desidua hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke10-12 korion tumbuh
dengan cepat dan hubungan korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut sering
sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus.5
Gejala Klinis
1. Abortus immines (keguguran mengancam): abortus ini baru mengancam dan masih ada
harapan untuk mempertahankannya, ostium uteri tertutup uterus sesuai dengan kehamilan
2. Abortus insipien (keguguran berlangsung ) abortus ini sedang berlangsung dan tidak
dapat dicegah lagi, ostium terbuka, teraba ketuban, berlangsung hanya beberapa jam saja.
3. Abortus inkompletus (keguguran tidak lengkap) sebagian dari buah kehamilan telah
dilahirkan, tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal didalam rahim,
ostium terbuka teraba jaringan
4. Abortus kompletus (keguguran lengkap) seluruh buah kehamilan elah dilahirkan dengan
lengkap, ostium tertutup uterus lebih kecil dari umur kehamilan atau ostium terbuka
kavum uteri kosong.
5. Abortus tertunda (missed abortion) keadaan dimana jani telah mati sebelm minggu ke20, tetapi tertahan didalam rahim selama beberapa minggu setelah janin mati. Batasan ini
berbeda dengan batasan ultrasonografi.
6. Abortus habitualis (keguguran berulang) abortus yang telah terulang dan berturut-turut
terjadi sekurang-kurangnya 3 kali berturut-turut.6

Penatalaksanaan
Abortus imminens
Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat dipertahankan, maka pasien:
a. Istirahat rebah (tidak usah melebihi 48 jam).
b. Diberi sedativa misal luminal, codein, morphin.
c. Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan mengurangi kerentanan otot-otot
rahim (misal gestanon).
d. Dilarang coitus sampai 2 minggu.
Abortus incipiens
7 | Page

Kemungkinan terjadi abortus sangat besar sehingga pasien:


a. Mempercepat pengosongan rahim dengan oxytocin 2 satuan tiap jam sebanyak 6
kali.
b. Mengurangi nyeri dengan sedativa.
c. Jika ptocin tidak berhasil dilakukan curetage asal pembukaan cukup besar.
Abortus incompletus
Harus segera curetage atau secara digital untuk mengehntikan perdarahan.
Abortus septik
a. Evakuasi uterus dan antibiotik parenteral (sebelum, selama, dan sesudah pembersihan
jaringan nekrosis dengan kuretase.
b. Terapi suportif : infus cairan, pemasangan kateter urin, pemberian tetanus toksoid
c. Pemeriksaan Gram, kultur bakteri.
Missed abortion
a. Diutamakan penyelesaian missed abortion secara lebih aktif untuk mencegah
perdarahan dan sepsis dengan oxytocin dan antibiotika. Segera setelah kematian janin
dipastikan, segera beri pitocin 10 satuan dalam 500 cc glucose.
b. Untuk merangsang dilatasis serviks diberi laminaria stift.7
Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan, perforasi, infeksi dan syok.5
1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jka
perlu pemberian tranfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan
tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda
bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi,
penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan
oleh orang awam menimbulkan persoalaan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas,
mungkin pula terjadi perlukaan kandung kemih atau usus. Degan adanya dugaan atau kepastian

8 | Page

terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cidera, untuk
selanjutnya mengambil tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.
3. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya
ditemukan pada abortus inkomletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa
memperhatikan asepsis. Umumnya pada abortus infeksius infeksi terbatas pada desidua.
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi
berat (syok endoseptik).
Prognosis
Pada abortus imminens, janin biasanya masih dapat diselamatkan, bergantung pada
jumlah pendarahan yang dialami sang ibu. Prognosis ibu pada abortus imminenss juga baik. Pada
abortus insipien, inkomplit, dan komplit, prognosis sang ibu baik,
Pencegahan dan Edukasi
Sebagian abortus dapat dicegah dengan mengobati defisiensi atau gangguan pada ibu
sebelum atau selama kehamilan. Misal, diabetes melitus dan hipertensi. Penutupan serviks yang
inkompeten akan mencegah abortus tertentu. Teknik perbaikan inkompetensi serviks yang
umum, pemasangan cincin serviks, menggunakan benang jahitan atau mersilene yang tidak dapat
diserap atau benang pita atau tali yang sebanding, dibawah mukosa dan fasia periserviks pada
sambungan servikouteri. Teknik ini dapat dikerjakan selama kehamilan unuk memperbaiki
inkompetensi serviks atau dikerjakan antara dua kehamilan. Dokter kemudian harus memutuskan
apakah akan melepas ikatan tersebut saat persalinan sehingga memungkinkan persalinan per
vaginam atau melakukan sectio cesarean ketika mendekati cukup bulan.1
Anjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan awal kehamilan. Perlindungan terhadap
paparan zat-zat kimia/lingkungan yang berbahaya bagi kehamilan. Edukasi untuk mencegah

9 | Page

terjadinya infeksi yang dapat membahayakan kehamilan. Kontrol kondisi seperti hipertensi dan
diabetes melitus juga diperlukan.
Kesimpulan
Masa kehamilan terpenting adalah pada trisemester I, karena pada saat ini fetus masih
sangan rentan oleh karena fetus dalam fase pertumbuhan dan perkembangan organ. Abortus
sebagai pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 20 minggu atau sebelum janin mencapai
berat 500 gram. Kelainan dalam kehamilan ada beberapa macam yaitu abortus spontan, abortus
buatan, dan terapeutik. Biasanya abortus spontan dikarenakan kelainan kromosom, infeksi pada
ibu hamil, kelaianan endokrin pada ibu atau bisa saja oleh faktor dari luar seperti terjadinya
trauma.

Daftar Pustaka
1. Cunningham FG, et al. Williams obstetrics. Edisi ke-23.Jakarta: EGC; 2010.h.226-46.
2. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Ilmu kesehatan reproduksi obstetri
patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC; 3004.h.1-9.
3. Bickley LS, Szilagyi PG. Bates guide to physical examination and history taking. Edisi ke11. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins; 2013.h.893-915.
4. Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi ke-4. Jakarta; Bina pustaka Sarwono Prawirohardjo;
2010.h.774-80.
5. Manuaba IBG. Penuntun kepaniteraan klinik obstetri & ginekologi. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC; 2004.h.40-3.
10 | P a g e

6. Benson RC, Martin L, Pernnoll. Buku saku obstetri dan ginekologi. Edisi 9. Jakarta:
EGC;2008.h. 294-305.
7. Morgan G, Hamilton C. Obstetri dan ginekologi. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2009.h. 303.

11 | P a g e