Anda di halaman 1dari 4

SISTEM POLITIK INDONESIA SETELAH REFORMASI

Era Reformasi atau Era Pasca Soeharto di Indonesia disebabkan karena tumbangnya
orde baru sehingga membuka peluang terjadinya reformasi politik di Indonesia pada
pertengahan 1998, tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998
karena adanya wacana suksesi yang sengaja dibuat oleh Amien Rais untuk menjatuhkan
rezim Soeharto dimana didalamnya terdapat tuntutan untuk melakukan reformasi dan juga
desakan dari parlemen beserta mendurnya beberapa menteri dari kabinet saat itu.
Setelah Soeharto mundur maka BJ. Habibie kemudian dilantik sebagai presiden
menggantikan presiden Soeharto dan segera membentuk sebuah kabinet.Demokrasi di masa
pemerintahan BJ. Habibie amat sangat terbuka luas, namun demokrasi yang ditawarkan oleh
presiden Habibie ini membuat masyarakat Indonesia bebas untuk melakukan apapun dalam
halnya berbicara, bertindak dan melakukan kreativitas yang menunjang untuk dirinya sendiri,
masyarakat serta bangsa dan negara, beliau juga menyetujui untuk melepaskan Timor Leste
atas kemauan rakyat Timor yang merasa bahwa tanahnya hanya di manfaat oleh Soeharto
Setelah kepemimpinan BJ Habiebi Hadirlah pasangan Gus Dur-Megawati sebenarnya
dinilai ideal dilihat dari aspek wawasan. Duet Gus Dur-Megawati lalu membentuk Kabinet
Persatuan Nasional yang dilantik tanggal 28 Oktober 1999. Terlepas dari adanya kekecewaan
karena dihapuskannya Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, cabinet ini mendapat
dukungan dari berbagai kalangan.
Belum genap 100 hari berkuasa dan belum tuntasnya penyelesaian persoalan-persoalan
peninggalan Orde Baru, pemerintahan Gus Dur dihadapan pada persoalan-persoalan
kebijakannya yang dinilai banyak kalangan sangat controversial. Kebijakannya antara lain:
1.
Pencopotan Kapolri Jendral Pol. Roesmanhadi dan Kapuspen Hankam Mayjen
TNI Sudrajat yang dilatari oleh pernyataannya bahwa Presiden bukan
Pangganti TNI. Penggantinya adalah Marsekal Muda TNI Graito. Penggantian
ini cukup mengagetkan karena diambilkan dari TNI AU, yang selama 32 tahun
terakhir tidak pernah mndapatkan jabatan strategis di jajaran TNI.
2.
Pencopotan Wiranto sebagai Menko Polkan dilatarbelakangi oleh hubungan
yang tidak harmonis antara Wiranto dan Gus Dur
3.
Mengeluarkan pengumuman tentang adanya menteri-menteri Kabinet
Persatuan Nasional yang terlibat KKN.Tampak beberapa menteri merasa sulit
melakukan koordinasi di antaranya Laksamana SDukardi dan Kwik Kian Gie.
Mereka kesulitan melakukan koordinasi dengan Memperindag Jusuf Kalla
yang menghadapi tudingan KKN.
4.
Gus Dur menyetujui nama Papua sebagai ganti Irian Jaya pada akhir Desember
1999. Gus Dur bahkan menyetujui pula pengibaran bendera Bintang Kejora
sebagai bendera Papua. Atas kebijakan yang menguntukan ini,(Mei-Juni
2000)dan menetapakn tanggal 1 Desember (hari berakhirnya pendudukan
Belanda 1962) menjadi hari kemerdekaan Papua Barat.
Selain penilaian bahwa kebijakan Gus Dur Kontroversial, berkembang pula pendapat bahwa
kebijakan Gus Dur dianggap berjalan sendiri tanpa mau menaati aturan ketatanegaraan,
termasuk di dalamnya urusan protokoler. Dalam suasana sikap pro dan kontra masyarakat
atas kepemimpinan Gus Dur, muncul kasus bruneigate, skandal Bruneigate mengakibatkan
kredibilitas rakyat terhadap Gus Dur semakin turun drastis. Ketua MPR, Amien Rais yang
dulu sangat bersemangat mendukung Gus Dur berbalik arah.Presiden Gus Dur memang
terkenal dengan sikapnya yang controversial, melupakan tanggung jawab dan mengeluarkan

maklumat presiden disaat ketua MPR Amien Rais secara tegas menolak dekrit yang di buat
oleh presiden Gus Dur hal ini menyebabkan dirinya semakin tidak popular dan mempercepat
proses kejatuhannya dari kursi kepresidenan. Apalagi ternyata dekrit tersebut tidak mendapat
dukungan dari TNI dan Polri.
Puncak jatuhnya Gus Dur dari kursi kepresidenan terjadi ketika MPR atas usulan DPR
mempercepat Sidang Istimewa MPR. MPR menilai Presiden Gus Dur telah melanggar Tap
No. VII/MPR/2000, karena menetapkan Komjen (Pol) Chaeruddin sebagai pemangku
sementara jabatan Kapolri.
Kemudian Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001, Megawati secara resmi
diumumkan menjadi Presiden Indonesia ke-5. Meski ekonomi Indonesia mengalami banyak
perbaikan, seperti nilai mata tukar rupiah yang lebih stabil, namun Indonesia pada masa
pemerintahannya tetap tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam bidang-bidang lain.
Sikapnya yg jarang bersosialisasi dianggap sebagai pemimpin yang 'dingin'. Sejak kenaikan
Megawati sebagai presiden, aktivitas terorisme di Indonesia meningkat tajam, beberapa
peledakan bom terjadi yang menyebabkan sentimen negatif terhadap Indonesia dari kancah
internasional.
Setelah masa pemerintahan Megawati berakhir Indonesia menyelenggarakan kembali pemilu
presiden secara langsung pertamanya.
Dalam kampanye, seorang calon dari partai baru bernama Partai Demokrat, Susilo Bambang
Yudhoyono, muncul sebagai saingan Megawati.
Partai Demokrat yang sebelumnya kurang dikenal, menarik perhatian masyarakat dengan
pimpinannya, Yudhoyono, yang karismatik dan menjanjikan perubahan kepada Indonesia.
Pemilihan putaran pertama menyisihkan kandidat lainnya sehingga yang tersisa tinggal
Megawati dan SBY. dan yang memenangkan pemilu untuk periode 2004-2009 adalah SBY,
kemudian untuk periode 2009-2014 , lalu di gantikan oleh Presiden Jokowi dari pasrtai PDIP,
Joko Widodo (Jokowi) dilantik sebagai Presiden Indonesia ke-7 dilakukan di Gedung
DPR/MPR, Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2014 pagi. Upacara ini menandai secara resmi
dimulainya jabatan Joko Widodo sebagai Presiden dan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden
Indonesia, yang telah memenangkan pemilihan umum presiden pada 9 Juli 2014.
Berikut adalah daftar kabinet Kerja Jokowi :

Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral: Sudirman Said


Menteri Pariwisata: Arief Yahya
Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti
Menteri Perhubungan: Ignasius Jonan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman: Indroyono Soesilo
Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago
Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi
Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara
Menteri Hukum dan HAM: Yasonna H Laoly
Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu
Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi
Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo
Menteri Koordinator Bidang Polhukam: Tedjo Edy Purdijatno
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Sofjan Djalil
Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro
Menteri BUMN: Rini M Soemarno
Menteri Koperasi dan UMKM: Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga
Menteri Perindustrian: M Saleh Husin

Menteri Perdagangan: Rachmat Gobel


Menteri Pertanian: Amran Sulaiman
Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri
Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadi Muljono
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya Bakar
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN: Ferry Mursyidan Baldan
Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani
Menteri Agama: Lukman Hakim Saefuddin
Menteri Kesehatan: Nila F Moeloek
Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Yohanan Yambise
Menteri Kebudayaan dan Pedidikan Dasar dan Menengah: Anies Baswedan
Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi: M Nasir
Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Marwan Jafar
sistem politik indonesia yang sudah dilakukan amandemen ini yang berbeda terletak
di kekuasaan MPR. Untuk lebih jelasnya, lihat saja informasi dibawah ini :

1. Presiden memegang kekuasaan eksekutif, yang menjadi kepala negara sekaligus


kepala pemerintahan. Presiden bersama dengan wakilnya itu dipilih oleh rakyat
melalui pemilu dalam satu paket. Masa jabata presiden dengan wakil presiden adalah
5 tahun dan setelah itu dapat dipilih kembali untuk 1 kali masa jabatan. Dan presiden
tidak dapat membubarkan parlemen maka dari itu presiden tidak bertanggung jawab
pada parlemen.
2. DPR menetapkan anggaran belanja negara, dan juga berfungsi untuk mengawasi
jalannya pemerintahan. Selain itu, DPR juga berwenang dalam membentuk UU. DPR
tidak bisa dibubarkan oleh badan eksekutif beserta kabinetnya, tetapi DPR bisa
melakukan pengajuan usulan pemberhentian presiden beserta wakilnya kepada MPR.
3. Dibentuknya sebuah dewan pertimbangan yang berada dibawah presiden karena
DPA ditiadakan.
4. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik dengan bentuk negara indonesia
adalah kesatuan. Negara Indonesia ini terbagi dalam 33 daerah provinsi menggunakan
prinsip desentralisasi yang bertanggung jawab, nyata dan juga luas. Karena itulah,
terdapat pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat.
5. Tidak adanya perbedaan tingkat, seperti lembaga tertinggi maupun lembaga tinggi
negara. Yang ada adalah lembaga lembaga negara yang seperti BPK, DPR, MPR,
MK, Presiden, DPD, MA dan juga KY.