Anda di halaman 1dari 12

Tumbuhan Penyerap Logam Berat

IN BIOLOGI, FISIOLOGI, MATERI KULIAH, PENDIDIKAN, PLANTAE - ON 11/29/2013 04.00.00 AM

Pendahuluan
Sifat sifat Logam berat yaitu Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan
perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan), dapat terakumulasi dalam
organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan membahayakan kesehatan manusia yang
mengkomsumsi organisme tersebut.Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu
lebih tinggi dari konsentrasi logam dalam air. Disamping itu sedimen mudah tersuspensi karena
pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga
sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu (Sutamihardja dkk, 1982).

Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3. Sebagian logam
berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang
berbahaya.Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun logam berat terhadap
hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium (Cd), seng (Zn),
timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt (Co) (Sutamihardja dkk, 1982).

Polutan logam berat yang berada di wilayah pesisir umumnya banyak berasal dari baterai, karena baterai
mengandung unsur timbal (Pb) yang beracun dan berbahaya bagi makhluk hidup. Selain itu, polutan
logam

berat

di

wilayah

pesisir

juga

berasal

dari

pembuatan baterai, plastik

PVC,

pigmen cat, pupuk, rokok, dan kerangyang mengandung unsur kadmium (Cd). Adanya logam berat di
wilayah pesisir berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan organisme, maupun efeknya secara
tidak langsung terhadap kesehatan manusia.

Pencemaran pada tanah oleh logam berat merupakan salah satu persoalan lingkungan yang sangat
serius. Toksikan yang sangat berbahaya umumnya berasal dari buangan industri, terutama yang
melibatkan logam berat dalam proses produksinya (Palar dalam Sudarso, 1997). Beberapa jenis logam
berat yang mencemari lingkungan dan perairan Indonesia diantaranya adalah Cu, Hg, Pb, Zn dan Cd.

Menurut Machbub & Mulyadi (2000), cemaran logam berat yang paling dominan mencemari perairan di
Indonesia dan telah melampaui ambang batas sesuai PP no. 82 Tahun 2001 adalah Zn.

Pembahasan
Beberapa metode remediasi logam berat yang ada saat ini antara lain adalah metode isolasi, imobilisasi,
penurunan toksisitas/mobilitas, pemisahan fisika dan metode ekstraksi. Salah satu metode penurunan
toksisitas/mobilitas logam berat yang aplikatif baik secara ex situ mapun in situ, mudah pengerjaanya,
relatif murah dan bersahabat dengan lingkungan adalah teknik fitoremediasi. dibandingkan dengan cara
remediasi fisiko-kimia maupun bioremediasi yang menggunakan mikroorganisme (bakteri, kapang dan
jamur). Adapun keterbatasan sistem fitoremediasi adalah terutama yang berhubungan dengan batasan
konsentrasi kontaminan yang dapat ditolerir oleh tanaman, masalah kebocoran kontaminan yang sangat
larut dalam air dan lamanya waktu yang diperlukan pada fitoremediasi tanah yang tercemar.

Istilah fitoremediasi berasal dari kata Inggris phytoremediation; kata ini sendiri tersusun atas dua bagian
kata, yaitu phyto yang berasal dari kata Yunani phyton (= "tumbuhan") dan remediation yanmg berasal
dari kata Latin remedium ( ="menyembuhkan", dalam hal ini berarti juga "menyelesaikan masalah dengan
cara memperbaiki kesalahan atau kekurangan") (Anonimous, 1999b). Dengan demikian fitoremediasi
dapat didefinisikan sebagai: penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan,
atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik.

Berbagai penelitian fitoremediasi telah banyak dilaksanakan dalam usaha memperbaiki kualitas
lingkungan yang tercemar logam Pb. Beberapa diantaranya dilakukan pada lingkungan perairan. Seperti
dilaporkan Moenandir & Hidayat (1993) dalam Sitorus(2007) bahwa, kangkung air ( Ipomea aquatic)
ternyata dapat meningkatkan mutu air yangtercemar oleh air limbah dan mampu menyerap logam berat
yang terlarut dalam mediatumbuh. Hasil penelitian mereka terhadap air limbah tekstil, obat-obatan, pabrik
roti danaquadest mampu menurunkan kadar logam Pb 0,92 ppm. Hasil penelitian Osmolovskaya
&Kurilenko (2005) menemukan bahwa beberapa jenis makrofita mampu berperan dalamfitoremediasi
terhadap Pb. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaElodea Canadensis,Ceratophyllum demersum L.,
dan Potamogeton natans L. mampu menyerap Pb dalam airmasing-masing sebesar 27,4 , 10, 7 dan 9,3

mg kg-1 DW.Sedangkan yang dilaporkan oleh Liao & Chang (2004), bahwa eceng gondok ( Eichhornia
crassipes) memiliki kemampuan dalam menyerap Pb. Selama penelitan merekayang dilakukan di
perairan Erh-Chung wetland menunjukkan bahwa eceng gondok mampumenyerap Pb sebesar 542
mg/m2 dengan kapasitas penyerapan sebesar 5,4kg/ha. Pengukurankandungan Pb ini dilakukan
terhadap jaringan tanaman, media air dan sedimen. Hal inidilakukan karena adanya korelasi antara
kandungan Pb di dalam jaringan tanaman dan mediatumbuh. Menurut Wilson (1988) dalam Arisandi
(2001), bahwa logam berat yang terlarutdalam air akan berpindah ke dalam sedimen jika berikatan
dengan materi organik bebas ataumateri organik yang melapisi permukaan sedimen, dan penyerapan
langsung oleh permukaanpartikel sedimen. Materi organik dalam sedimen dan kapasitas penyerapan
logam sangatberhubungan dengan ukuran partikel dan luas permukaan penyerapan, sehingga
konsentrasilogam dalam sedimen biasanya dipengaruhi ukuran partikel dalam sedimen.

Fitoekstraksi mencakup penyerapan kontaminan oleh akar tumbuhan dan translokasi atau akumulasi
senyawa itu ke bagian tumbuhan seperti akar, daun atau batang. Rizofiltrasi adalah pemanfaatan
kemampuan akar tumbuhan untuk menyerap, mengendapkan, dan mengakumulasi logam dari aliran
limbah.

Tumbuhan hiperakumulator adalah tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk mengkonsentrasikan


logam di dalam biomassanya dalam kadar yang luar biasa tinggi. Kebanyakan tumbuhan mengakumulasi
logam, misalnya nikel, sebesar 10 mg/kg berat kering (BK) (setara dengan 0,001%). Tetapi tumbuhan
hiperakumulator logam mampu mengakumulasi hingga 11% BK. Batas kadar logam yang terdapat di
dalam biomassa agar suatu tumbuhan dapat disebut hiperakumulator berbeda-beda bergantung pada
jenis logamnya (Baker, 1999). Untuk kadmium, kadar setinggi 0,01% (100 mg/kg BK) dianggap sebagai
batas hiperakumulator. Sedangkan batas bagi kobalt, tembaga dan timbal adalah 0,1% (1.000 mg/kg BK)
dan untuk seng dan mangan adalah 1% (10.000 mg/kg BK).

Laporan pertama mengenai adanya tumbuhan hiperakumulator muncul pada tahun 1948 oleh Minguzzi
dan Vergnano, yang menemukan kadar nikel setinggi 1,2% dalam daun Alyssum bertolonii. Sejak itu,

terutama dengan mengandalkan analisis mikro terhadap spesimen herbarium, diketahui ada 435 taxa
tumbuhan hiperakumulator logam yang tumbuh tersebar di lima benua dan semua wilayah iklim (Baker,
1999). Tabel 1 memperlihatkan daftar jenis tumbuhan yang diketahui mempunyai sifat hiperakumulator
atau bersifat toleran terhadap logam berat. Tumbuhan hiperakumulator nikel diketahui lebih dari 150
spesies; sekitar 50 jenis ditemukan di Kaledonia Baru, 70 jenis (terutama dari 6 genera Brassicaceae) di
daerah dingin di belahan utara bumi, dan sisanya ditemukan di Indonesia, Kuba, Zimbabwe, Afrika
Selatan, Brazil dan Filipina (Batianoff et al., 1990). Sebertia acuminata dari Kaledonia Baru perlu
mendapat catatan khusus karena kemampuannya yang luar biasa dalam mengakumulasi nikel.
Sedemikian besarnya kadar nikel di dalam lateksnya sehingga bila batang dilukai, lateks yang keluar
berwarna hijau-biru, yaitu warna nikel oksida (Reuther, 1998).

Penyerapan dan akumulai logam berat oleh tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga proses yang sinambung,
yaitu penyerapan logam oleh akar, translokasi logam dari akar ke bagian tumbuhan lain, dan lokalisasi
logam pada bagian sel tertentu untuk menjaga agar tidak menghambat metabolisme tumbuhan tersebut.

Penyerapan oleh akar. Telah diketahui, bahwa agar tumbuhan dapat menyerap logam maka logam harus
dibawa ke dalam larutan di sekitar akar (rizosfer) dengan beberapa cara bergantung pada spesies
tumbuhannya.

Perubahan pH. Pada Thlaspi cearulescens, mobilisasi seng dipacu dengan terjadinya penurunan
pH pada daerah perakaran sebesar 0,2-0,4 unit (McGrath, 1997).

Ekskresi zat khelat. Mekanisme penyerapan besi lewat pembentukan suatu zat khelat yang
disebut fitosiderofor telah diketahui secara mendalam pada jenis rumput-rumputan (Marschner
dan Romheld, 1994). Molekul fitosiderofor yang terbentuk ini akan mengikat (mengkhelat) besi
dan membawanya ke dalam sel akar melalui peristiwa transport aktif. Selain aktif terhadap besi,
fitosiderofor dapat mengikat logam lain seperti seng, tembaga dan mangan. Sekarang diketahui,
bahwa berbagai molekul lain berfungsi serupa, misalnya histidin yang meningkatkan penyerapan

nikel pada Alyssum sp. (Kramer et al., 1996) dan suatu senyawa peptida khusus, fitokhelatin,
yang mengikat selenium pada Brassica juncea (Speiser et al., 1992) dan logam lain seperti
timbal, kadmium dan tembaga (Gwozdz et al., 1997).

Pembentukan reduktase spesifik logam. Di dalam meningkatkan penyerapan besi, tumbuhan


membentuk suatu molekul reduktase di membran akarnya (Marschner dan Romheld, 1994).
Reduktase ini berfungsi mereduksi logam yang selanjutnya diangkut melalui kanal khusus di
dalam membran akar.

Translokasi di dalam tubuh tumbuhan. Setelah logam dibawa masuk ke dalam sel akar,
selanjutnya logam harus diangkut melalui jaringan pengangkut, yaitu xilem dan floem, ke bagian
tumbuhan lain. Untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan, logam diikat oleh molekul khelat.
Berbagai molekul khelat yang berfungsi mengikat logam dihasilkan oleh tumbuhan, misalnya
histidin yang terikat pada Ni (Kramer et al., 1996) dan fitokhelatin-glutation yang terikat pada Cd
(Zhu et al., 1999).

Lokalisasi logam pada jaringan. Untuk mencegah peracunan logam terhadap sel, tumbuhan
mempunyai mekanisme detoksifikasi, misalnya dengan menimbun logam di dalam organ tertentu
seperti akar (untuk Cd pada Silene dioica [Grant et al., 1998]), trikhoma (untuk Cd [Salt et al.,
1995]), dan lateks (untuk Ni pada Serbetia acuminata [Collins, 1999]).

Dalam penelitian Sunarya, Wargasasmita, dkk (1990) menunjuk-kan bahwa tumbuhan dapat
mengakumulasi Pb pada daun dan kulit batangnya. Hal ini ter-bukti dari hasil penelitiannya bahwa
kandungan Pb lebih banyak terdapat pada tanaman di tepi jalan DKI dibandingkan dengan kandungan Pb
pada tumbuhan sejenis dari lokasi yang jauh dari pinggir jalan. M.Ahmad Badri (1986) mengemukakan
bahwa tumbuhan dapat men-jadi indicator dari pencemaran logam be-rat. Hal ini terbukti dari
penelitiannya bahwa rumput gajah, bunga ekor kucing dan tana-man Sonokembang dapat menyerap
logam berat seperti Zn, Pb, Cu dan Cd.

Penyerapan logam berat terjadi saat terjadi transpirasi. Hal ini dikarenakan :

Transpirasi tanaman sebagai akibat meningkatnya suhu lingkungan pada siang hari

Logam berat setelah diabsorbsi masuk ke dalam perakaran maka akan didetoksifikasi oleh
tanaman dan diakumulasi pada bagian-bagian tertentu dari tanaman, seperti akar, batang, daun,
atau biji.

Transport logam dalam tanaman diatur oleh protein transporter ZIP shg ion logam dapat melalui
membran sel lipoprotein.

Logam berat dalam tanaman diikat secara khelasi menjadi bentuk logam-sitrat atau diikat oleh
fitokhelat lain atau metalotionein atau asam organik yang dihasilkan oleh hiperakumulator.

Tumbuhan pada saat menyerap logam berat, akan membentuk suatu enzim reduktase di membran
akarnya. Reduktase ini berfungsi mereduksi logam yang selanjutnya diangkut melalui mekanisme khusus
di dalam membran akar. Pada saat terjadi translokasi di dalam tubuh tanaman, logam yang masuk ke
dalam sel akar, selanjutnya diangkut ke bagian tumbuhan yang lain melalui jaringan pengangkut yaitu
xylem dan floem. Untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan logam diikat oleh molekul kelat. Pada
konsentrasi rendah logam berat tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman tetapi pada konsentrasi
tinggi akan menyebabkan kerusakan baik pada tanah, air maupun tanaman.

Timbal (Pb) dengan nomor atom 82 merupakan suatu logam berat yang lunak berwarna kelabu kebiruan
dengan massa jenis 11,34 g/ml, titik leleh 327 C dan titik didih 1.749 C. Pada suhu 550600 C timbal
menguap dan bereaksi dengan oksigen dalam udara membentuk timbal oksida. Walaupun bersifat lentur,
timbal sangat rapuh, dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas dan air
asam. Bentuk oksidasi yang paling umum adalah Pb (II) dan senyawa organometalik yang terpenting
adalah timbal tetra etil, timbal tetra metil dan timbal stearat, merupakan logam yang tahan terhadap
korosi atau karat, sehingga sering digunakan sebagai bahan coating (Palar 2004).

Pb sebagian besar diakumulasi oleh organ tanaman, yaitu daun, kulit batang, akar, dan akar umbiumbian. Perpindahan Pb dari tanah ke tanaman tergantung komposisi dan pH tanah. Konsentrasi yang
tinggi (100-1000 mg/kg) akan mengakibatkan pengaruh toksik pada proses fotosintesis dan
pertumbuhan. Pb hanya mempengaruhi tanaman bila konsentrasinya tinggi. Tanaman dapat menyerap
logam Pb pada saat kondisi kesuburan dan kandungan bahan organik tanah rendah. Pada keadaan ini
logam berat Pb akan terlepas dari ikatan tanah dan berupa ion yang bergerak bebas pada larutan tanah.
Jika logam lain tidak mampu menghambat keberadaannya, maka akan terjadi serapan Pb oleh akar
tanaman.

Mekanisme masuknya partikel Pb ke dalam jaringan daun, yaitu melalui stomata daun yang berukuran
besar dan ukuran partikel Pb lebih kecil, sehingga Pb dengan mudah masuk kedalam jaringan daun
melalui proses penjerapan pasif (Dahlan 1989). Partikel Pb yang menempel pada permukaan daun
berasal dari tiga proses yaitu, pertama sedimentasi akibat gaya gravitasi, kedua, tumbukan akibat

turbulensi angin, dan ketiga adalah pengendapan yang berhubungan dengan hujan. Celah stomata
mempunyai panjang sekitar 10 m dan lebar antara 27 m, oleh karena ukuran Pb yang demikian kecil,
maka partikel Pb tidak larut dalam air dan senyawa Pb terperangkap dalam rongga antar sel sekitar
stomata.

Beberapa penelitian sebelumnya telah mengungkap potensi dari bagian tanaman Solanum nigrum
L. untuk proses dekontaminasi air yang tercemar logam berat Cu, Cd dan Zn, dalam bentuk serbuk akar
kering dan kultur akar rambut (Macek et al., 1994; Chen et al., 1996; Priambodo, 2002; Gunawan, 2003).
Dalam penelitian sekarang ini dikaji potensi dari tanaman tersebut secara utuh untuk aplikasi proses
dekontaminasi tanah yang tercemar logam berat Zn. Tanaman akar wangi (Vetiver zizanioides) disebut
merupakan tanaman hiperakumulator logam yang memiliki sifat daya penyerapan atau akumulasi yang
tinggi terhadap logam berat di jaringan tumbuhan (MacGrath et al., 1993: Komar et al., 1995).

Selama siklus hidupnya kemampuan tanaman S. nigrum L dalam menjerap logam berat Zn pada awalnya
menaik, kemudian menurun sampai berakhirnya daur hidup tanaman tersebut.. Kemampuan tanaman
transgenik S. nigrum L. dalam menyerap dan mengakumulasi logam berat Zn pada konsentrasi relatif
tidak berbeda jauh dibandingkan dengan nilai konsentrasi fisiologis yang dapat diserap oleh tanaman
normalnya. Dengan bertambahnya umur, kemampuan tanaman S. nigrum L dalam menjerap Zn akan
naik dan akan optimal pada umur antara 12 sampai dengan 14 minggu, kemudian menurun sampai
berakhirnya daur hidupmya. Sehingga pada aplikasinya akan optimal bila dipanen pada umur tersebut.

Banyak spesies baik hewan maupun tumbuhan berpotensi mengakumulasi bahan pencemar, khususnya
logam berat, belum tereksplorasi sehingga diperlukan riset yang dapat menghasilkan database jenis
spesies yang mampu mengurangi polutan di lingkungan. Salah satu pencemaran yang memerlukan
penanganan secara sistematis dan komprehensif adalah pencemaran timbal (Pb). Pb banyak dihasilkan
oleh aktivitas pembakaran bahan bakar minyak kendaraan bermotor. jenis-jenis tanaman peneduh jalan

yang berpotensi menjerap Pb adalah Glodogan (Polyalthea longifolia), Angsana (Pterocarpus indicus),
Filicium (Filicium decipiends), Ketapang (Terminalia catappa), Beringin (Ficus benjamina), Kupu-kupu
(Bauhinia tomentosa), Puspa (Schima wallichii), Kenari (Canarium ovatum) dan Genitu (Chrysophyllum
cainito)

eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap
polutan logam berat. Rangkaian penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia
antara lain oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu
menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77
mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88
mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan
logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok
secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85
persen. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu
pestisida.

Satu lahan eks-TPA Keputih Surabaya ditutup pada tahun 2001, lahan seluas 42 hektare ini belum
bisadimanfaatkan untuk keperluan lain. Lantaran kandungan berbagai logam beratnya yang cukup tinggi,
tanaman sulit untuk tumbuh.. Salah satu kandungan logam berat yang utama adalah Hg (Reid Crowther
International, 2002 dalam Mangkoedihardjo, 2009) yang bersumber dari buangan industri dan sebagian
dari buangan rumah tangga. Pencemar tempat pembuangan sampah terkandung dalam lindi dan kompos
sebagai hasil penguraian sampah tertimbun.

Pelindian inilah yang dapat memindahkan logam berat tersebut dari lapisan perakaran ke lapisan tanah di
bawahnya,sehingga tanah menjadi tercemar. Tanah tercemar logam berat perlu diremediasi. Salah satu
metode remediasi adalahfitoremediasi. Dalam penelitian ini akan diteliti kemampuan tanaman akar wangi
(Vetiveria zizanioides) dalammereduksi kadar merkuri dalam tanah. Untuk meningkatkan potensi
tanaman tersebut meremediasi merkuri, maka tanah tempat tumbuh tanaman akan dicampur dengan

kompos Media tanam yang digunakan adalah tanah murni TPA Keputih, kompos, dan limbah buatan
merkuri (Hg2+). Tanaman uji yang digunakan adalah akar wangi (Vetiveria zizanioides). Dari hasil
penelitian diperoleh bahwa komposisi media tanam 90% tanah tercemar + 10% kompos lebih efisien
dalam membantu tanaman akar wangi memulihkan tanah yang tercemar merkuri yaitu sebesar 65,252%..
Fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau
menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik.

Fitoremediasi merupakan metode yang murah, efesien, dan ramah lingkungan (Schnoor et al, 2003).
Secara genetis, spesies tumbuhan sangat beragam dalam kemampuannya untuk toleran atau tidak
toleran terhadap keracunan unsur logam non esensial seperti Pb, Cdm Hg, Al dan lain sebagainya
(Salisbury dan Ross, 1995).

kesimpulan

Fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan,


atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik.

Fitoremediasi merupakan metode yang murah, efesien, dan ramah lingkungan (Schnoor
et al, 2003). Secara genetis, spesies tumbuhan sangat beragam dalam kemampuannya
untuk toleran atau tidak toleran terhadap keracunan unsur logam non esensial seperti
Pb, Cdm Hg, Al dan lain sebagainya.

Penyerapan dan akumulai logam berat oleh tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga proses
yang sinambung, yaitu penyerapan logam oleh akar, translokasi logam dari akar ke
bagian tumbuhan lain, dan lokalisasi logam pada bagian sel tertentu untuk menjaga agar
tidak menghambat metabolisme tumbuhan tersebut.

Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3.
Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan
zat pencemar yang berbahaya.Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau
daya racun logam berat terhadap hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah)
sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium (Cd), seng (Zn), timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel
(Ni), dan kobalt (Co)

Daftar Pustaka
H.J.P. Eijsackers and T. Hamers (ED). Integrated Soil and Sediment Research. Kluwer Academic
Publishers, Dordrecht, The Netherland, hal. 673-674.

Mc Grath, S.P., Sidoli, M.D., Baker, A.J.M. and Reeves, R.D 1993. The Potential For The Use of Metal
accumulating Plant for The In Situ Decontamination of Metal Polluted Soils.

Priambodo, S. 2002. Fitoremediasi logam berat menggunakan kultur akar rambut Solanum nigrum L.
Skripsi Sarjana Teknologi Pertanian, Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor, Bogor. 68 hal.

Rini, D.S., 1999, Analisis Kandungan logam Berat Tembaga (Cu) dan Kadmium (Cd) dalam Pohon Apiapi (Avicennia marina) di Perairan Estuari Pantai Timur Surabaya, Skripsi Mahasisiwi Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Airlangga, Surabaya

Zoeraini. Prisip-Prinsip Ekologi Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya.

Triastuti, Yuli. Phytoremediation Contaminated Land By Mercury (Hg2+) Using Vetiver Plant (Vetiver
Zizanioides) On Landfills Area Keputih. Surabaya : Jurusan Teknik Lingkungan-FTSP-ITS

Anda mungkin juga menyukai