Anda di halaman 1dari 5

Birokrasi Di Negara Berkembang

Birokrasi di kebanyakan negara berkembang cenderung bersifat patrimonialistik : tidak efesien, tidak efektif
(over consuming and under producing), tidak obyektif, anti terhadap kontrol karena orientasi dan kritik, tidak
mengabdi kepada kepentingan umum lebih pada melayani pemerintah, tidak lagi menjadi alat rakyat tetapi
telah menjadi instrumen politis dengan sifat sangat otoritatif dan represif.
Ciri dari birokrasi negara berkembang yaitu: Pertama, administrasi publiknya bersifat elitis, otoriter, menjauh
atau jauh dari masyarakat dan lingkungannya serta paternalistik. Kedua, birokrasinya kekurangan sumber daya
manusia (dalam hal kualitas) untuk menyelenggarakan pembangunan dan over dalam segi kuantitas. Ketiga,
birokrasi di negara berkembang lebih berorientasi kepada kemanfaatan pribadi ketimbang kepentingan
masyarakat. Keempat, ditandai adanya formalisme. Yakni, gejala yang lebih berpegang kepada wujud-wujud
dan ekspresi-ekspresi formal dibanding yang sesungguhnya terjadi. Kelima, birokrasi di negara berkembang
acapkali bersifat otonom. Artinya lepas dari proses politik dan pengawasan publik. Administrasi publik di
negara berkembang umumnya belum terbiasa bekerja dalam lingkungan publik yang demokratis. Dari sifat
inilah, lahir nepotisme, penyalahgunaan wewenang, korupsi dan berbagai penyakit birokrasi yang menyebabkan
aparat birokrasi di negara berkembang pada umumnya memiliki kredibilitas yang rendah.

Birokrasi Indonesia
Gejala umum yang terjadi di negara sedang berkembang termasuk Indonesia adalah besarnya aparatur birokrasi
tetapi kurang memiliki keahlian yang memadai, bekerja kurang produktif dan tidak efisien. Sebenarnya luasnya
tugas birokrasi pada pemerintah sebagai hal yang wajar, hanya perlu diimbangi dengan kemampuan yang
memadai dari aparatur birokrasi. Sektor swasta juga belum banyak berperan dalam kegiatan pembangunan
sehingga peran pemerintah lebih dominan.
Pada periode kemerdekaan, terjadi perubahan yang mendasar di mana pola perilaku birokrasi pemerintah
dikritik karena dianggap tidak demokrasi atau feodalistik. Keinginan untuk menduduki jabatan dalam birokrasi
pemerintah sebagai sesuatu yang sangat dihormati sudah mulai berkurang.
Pada masa demokrasi terpimpin, pelaksanaan nasionalisasi perusahaan asing mengalami salah urus dan
disalahgunakan untuk kepentingan pribadi para birokrat. Birokrasi menekan lembaga atau organisasi nonpemerintah yang berusaha mengkritiknya. Peran yang kuat dari birokrasi dalam pembangunan ekonomi akan
menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan seperti misalnya di bidang teknologi baru, perubahan
kelembagaan atau sikap pemerintah menyangkut prioritas pembangunan.
Kesimpulan dan Analisis:
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan dan analisis bahwa dinegara berkembang birokrasi masih
cenderung di politisir oleh kepentingan-kepentingan politik.

Sumber :

1.
2.
3.
4.

https://liea02.wordpress.com/2011/01/11/birokrasi-negara-maju-dengan-negara-berkembang/
http://nugrahaputra-nugraha.blogspot.com/2011/01/perbedaan-birokrasi-di-negara-maju.html
https://www.scribd.com/doc/76882816/Presentasi-3-Birokrasi-Negara-Berkembang
https://www.academia.edu/5703393/KOMPARATIF_PEMERINTAHAN_INDONESIA_DENGAN_MALA
YSIA
5. http://www.soalcpns.com/perbandingan-kinerja-pns-indonesia-malaysia.php

Heady : Ciri-Ciri Birokrasi Negara Berkembang


1. P o l a d a s a r b a s i c p a t t e r ) a d m i n i s t r a s i p u b l i k a t a u administrasi
negara bersifat jiplakan (imitative) daripadaasli (indigenous)
Negara-negara
berkembang,
baik
negara
yang
pernah
dijajah
bangsa
Barat
maupun tidak, cenderung meniru sistem administrasi Barat. Negara
yang pernah dijajah pada
umumnyamengikuti pola Negara yang menjajahnya. Kingsley seperti dikutip oleh Heady menyatakan
bahwa di negara bekas jajahan, pengorganisasian jawatan-jawatan, perilaku birokrat, bahkan penampilannya
mengikuti karakteristikpenjajahnya, dan merupakan kelanjutan dari administrasi kolonial. Adminisrtasi
kolonial itu sendiri diterapkanhanya did aerah jajahan dan tidak di negara asalnya sendiri. Sehingga, berbeda
dengan administrasi di Negara penjajahnya, administrasi colonial bersifat elitis otoriter menjauh
(aloof) atau jauh dari masyarakat dan lingkungannya, serta paternalistik. Pola administrasi kolonial ini
diwarisi oleh administrasi di negara-negara yang baru merdeka bahkansampai sekarang masih menjadiciri
birokrasi di banyaknegara berkembang.
2. B i r o k r a s i d i n e g a r a b e r k e m b a n g k e k u r a n g a n ( d e f i c i e n t ) s u m b e r d a y a
m a n u s i a t e r a m p i l u n t u k m e n y e l e n g g a r a k a n pembangunan.
K e k u r a n g a n i n i b u k a n d a l a m a r t i j u m l a h t e t a p i k u a l i t a s . D a l a m j u m l a h j u s t r u sebaliknya
, birokrasi di negara berkembang mengerjakan orang lebih dari yang diperlukan (overstaffed).
Yang justru kurang adalah administrator yang terlatih, dengan kapasitas manajemen (manageme
nt capacity), keterampilan-keterampilan pembangunan (development skills), dan penguasaan teknis
(technical competence) yang memadai. Pada umumnya keadaan ini mencerminkan kondisi atau taraf
pendidikan suatu negara. Namun,tidak selalu berarti terkait dengan kurangnya fasilitas pendidikan
atau orang-orang yang berijasah. Heady menunjukkan kasus India dan Mesir, yang memiliki
banyak tenaga berpendidikan tinggi, tetapi menganggur. Daridata yang kita ketahui keadaan itu juga
berlaku di Indonesia dewasa ini (Kartasasmita, 1995f). Kondisi yang demikian, yakni pengangguran
orang berpendidikan cukup tinggi, seringkali disebabkan oleh pendidikan yangtidak sesuai dengan
kebutuhan pembangunan atau dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang tidak berkualitas
(marginalinstitutions).
3. B i r o k r a s i l e b i h b e r o r i e n t a s i k e p a d a h a l - h a l l a i n d a r i p a d a m e n g a r a h
k e p a d a y a n g b e n a r - b e n a r m e n g h a s i l k a n (production directed)
Dengan kata lain, birokrat lebih berusaha mewujudkan tujuan pribadinya dibanding pencapaian sasaransasaran program. Riggs (1964) menyatakannya sebagai preferensi birokrat atas kemanfaatan pribadi
(personal expediency) ketimbang kepentingan masyarakat (public-principled interest). Darisifat seperti ini
lahir nepotisme, penyalahgunaan kewenangan, korupsi, dan berbagai penyakit birokrasi, yang
menyebabkan aparat birokrasi dinegara berkembang pada umumnya memiliki kredibilitas yang
rendah, dan dianggap tidak mengenal etika. Dibanyak Negara berkembang, korupsi telah merajalela
sedemikian rupa sehigga menjadi fenomena yang sangat prevalent dan diterima sebagai sesuatu yang wajar,
atau menurut istilah Heady sanctioned by social moresdan semi institutionalized.
4. Adanya kesenjangan yang lebar antara apa yang dinyatakanatau yang hendak ditampilkan
dengan kenyataan (discrepency b e tw e e n f o rm a n d re a l i t y )
R i g g s ( 1 9 6 4 ) m e n ye b u t k a n f e n o m e n a u m u m i n i s e b a g a i formalisme, yaitu gejala yang lebih
berpegang kepada wujud-wujud dan ekspresi-ekspresi formal dibanding yang s e s u n g g u h n ya t e r j a d i .
H a l i n i t e r c e r m i n d a l a m p e n e t a p a n p e r u n d a n g - p e r u n d a n g a n ya n g t i d a k m u n g k i n
dilaksanakan, peraturan-peraturan yang dilanggar sendiri oleh yang menetapkan, memusatkan
kekuasaan meskipun resminya ada desentralisasi dan pendelegasian kewenangan, melaporkan hal yang
baik-baik dan tidak mengetengahkan keadaan yang tidak baik atau masalah yang sesungguhnya
dihadapi. Bahkan tidak jarang memalsukan atau memanipulasi data untuk member gambaran
yang menguntungkan.
5. B i r ok r a s i d i n e g a r a b e r k em b a n g a c a p k a l i b e r s i f a t otonom
artinya lepas dari proses politik dan pengawasan masyarakat. Ciri ini merupakan warisan
administrasi kolonial yang memerintah secara absolut, atau sikap feodal dalam zaman kolonial yang terus
hidup dan berlanjut setelah merdeka. dibanyak negara berkembang, pada awalnya orang yang paling

terpelajar atau elite bangsa yang bersangkutan memang berkumpul di birokrasi, sehingga kelompok di luar
itu sulit dapat menandingi birokrasi dalam pengetahuan mengenai pemerintahan dan akibatnya
pengawasan menjasi tidak efektif.
Wallis (1989) : Karateristik Birokrasi Negara Berkembang
Pertama dibanyak negara berkembang birokrasi sangat dan makin bertambah birokratik.
Departeman-departemen, badan-badan, dan lembaga-lembaga birokrasib e r k e m b a n g t e r u s . J u g a
b e r k e m b a n g d a n b e r p e r a n b e s a r badan-badan para-statal yakni badan-badan usaha negara, yang
umumnya bekerja tidak efisien.
Kedua, unsur-unsur non birokratik sangat berpengaruh terhadap birokrasi. Misalnya hubungan keluarga dan
hubungan-hubungan primordial lain, seperti suku dan agama, dan keterkaitan politik (political connectioan)
memperngaruhi birokras, yang sangat bertentangan dengan asas birokrasi yang baik (misalnya menururt jriteria
Weber).

PerbandinganKinerja PNSIndonesia-Malaysia
negara-negara lain. Keberadaan birokrat sangat penting dalam mendukung perekonomian bangsa, karena
birokrat merupakan pelayan publik. Kalau pelayan publiknya malas dan kompetensi pegawai rendah, maka
sudah jelas pembangunan ekonomi negara juga akan terhambat.
Ada beberapa hal yang menyebabkan Kinerja dan produktivitas birokrat Indonesia, Pegawai Negeri Sipil (PNS)
sangat rendah kalau dibandingkan dengan negara lain. Hal inilah yang membuat daya saing Indonesia, terutama
dalam bidang ekonomi selalu tertinggal dibanding kinerja dan produktivitas PNS Indonesia rendah. Pertama,
berawal dari sistem rekrutment PNS yang masih berkolusi, korupsi dan nepotisme (KKN), bukan berdasarkan
sistem atau kompetensi yang bermutu dan berkualitas. Kedua, kenaikan pangkat dan sistem penggajian PNS
dilakukan secara berkala, bukan berdasarkan prestasi kerja. Ketiga, sistem pengawasan internal PNS seperti
adanya inspektorat jenderal tidak berjalan. Inspektorat jenderal di Indonesia hanya berfungsi sebagai stempel
saja.
Karena ketiga hal di ataslah, jangan heran kalau kinerja PNS Indonesia rendah seperti malas-malasan, sering
bolos, tidak produktif dan apalagi kalau musim liburan Lebaran, si PNS masuk kerja tidak tepat tanggal yang
ditetapkan. Untuk itu, sangat diharapkan agar pemerintah dan DPR segera membuat Undang-Undang yang
mengatur penilaian dan sanksi bagi PNS. Salah satu yang harus diatur adalah kenaikan pangkat dan sistem
penggajian PNS berdasarkan prestasi kerja.
Lalu seperti apakah kinerja PNS di Malaysia? Apakah sama seperti di Indonesia? Ternyata, pemerintah
Malaysia sudah mengadopsi beberapa nilai etis ke dalam manajemen SDM aparat pemerintahan. Melalui
Management Integrity Committees, negara tersebut berusaha menciptakan sistem administrasi dan aparat
pemerintah yang efisien dan disiplin dengan tingkat integritas yang tinggi melalui praktek-praktek yang beretika
serta mengatasi berbagai masalah dan kelemahan yang berkaitan dengan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan,
deviasi hukum, dan sebagainya. Komite tersebut diberi tugas untuk menyusun dan menegakkan sistem kerja dan
aparat yang memiliki nilai-nilai: patut dipercaya; bertanggung jawab; jujur; dedikasi; moderat; rajin; bersih;
mampu bekerjasama; bisa dihormati/disegani; dan respek. Nilai-nilai tersebut selanjutnya dijadikan sebagai
pilar pelayanan publik yang dikenal dengan The Twelve Pillars yang meliputi: menghargai nilai waktu;
keberhasilan karena ketekunan atau kegigihan; senang bekerja keras; kesederhanaan; memiliki karakter yang
baik; kekuatan keramahan; kekuatan contoh yang kongkrit; kewajiban melakukan tugas; kearifan ekonomi;
kesabaran; perbaikan talenta; dan kesenangan untuk terus menghasilkan.
Nilai-nilai dan pilar tersebut diterapkan secara konsisten dalam proses rekrutmen, seleksi, promosi, dan
penentuan gaji aparat PNS di Malaysia. Untuk posisi-posisi top management, seorang calon harus memenuhi
beberapa kualifikasi dasar seperti tuntutan kompetensi, kualitas personil, kualifikasi akademis, latar belakang
pengalaman dan kontribusinya, serta kriteria kompetensi khusus untuk top management. Untuk kualifikasi
terakhir (top management) antara lain meliputi kompetensi kunci seperti kepemimpinan dan pemberdayaan,
kapasitas intelektual, keterampilan manajemen dan perencanaan strategis, komunikasi dan keterampilan
interpersonal, keterampilan manajemen SDM, dan output kinerja. Seperti itulah usaha pemerintah Malaysia
dalam menerapkan kinerja PNS. Mungkin bisa menjadi pelajaran penting juga bagi Indonesia agar bisa lebih
baik dari Malaysia. Agaknya Indonesia juga perlu mengadopsi sistem birokrasi dan nilai-nilai positif di negaranegara maju lainnya untuk membenahi birokrasi dan kinerja PNS dalam negeri.