Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terung merupakan tanaman asli India dan Srilanka, dan satu famili dengan
tomat dan kentang. Kandungan gizinya cukup tinggi, meliputi protein, lemak,
kalsium, fosofr, besi, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Memiliki kadar kalium
yang tinggi sekitar 217 mg/100 gr (kalium sangat penting bagi sistem saraf dan
kontraksi otot, menjaga keseimbangan elektrolit tubuh), sedangka natrium rendah
(3 mg/100 g). Dengan demikian buah terung sangat baik bagi kesehatan, yaitu
untuk mencegah hipertensi. Kandungan serat terung sekitar 2,5 gr per 100 gram,
sehingga sangat baik bagi pencernaan. Buah terung dikonsumsi oleh masyarakat
dalam bentuk berbagai sayur atau lalapan juga mengandung gizi yang cukup tinggi
dan komposisinya lengkap.
Terung (Solanum melongena L) termasuk suku Solanaceae dan termasuk
tanaman setahun yang berbentuk perdu. Buahnya beraneka ragam bentuk dan
warnanya. Kulit buah liat tapi kalau digigit renyah. Kebanyakan buahnya tunggal
walaupun bunganya terdapat dalam satu tandan tetapi yang dapat menjadi buah
hanya satu, bunga berbentuk terompet dengan bentuk biji gepeng.
Tanaman terung dapat ditanam dimana saja mulai dari dataran rendah sampai
dataran tinggi. Perawatannya mudah, bahkan lebih mudah dari tanaman tomat
karena lebih tahan terhadap penyakit layu dan tahan terhadap banyaknya hujan.
Tanam terung yang baik adalah pada awal musim kemarau atau pada musim hujan.
Di Indonesia hasil terung rata-rata yaitu 32,64 34,11 kwintal/hektar padahal
untuk luasan satu hektar dapat dihasilkan 30 ton terung.Melihat fakta tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa terung merupakan sayuran yang cukup menjanjikan
untuk diusahakan tetapi saat ini produktivitas terung masih sangat rendah.
1.2 Tujuan
1.
Bagaimana cara membudidayakan terung?
2. Apa saja manfaat dari buah terung ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Taksonomi Terung

Terung (Solanum melongena, di Pulau Jawa lebih dikenal sebagai terong) adalah
tumbuhan penghasil buah yang dijadikan sayur-sayuran. Asalnya adalah India dan
Sri Lanka. Terung berkerabat dekat dengan kentang dan leunca, dan agak jauh dari
tomat.
Terung ialah terna yang sering ditanam secara tahunan. Tanaman ini tumbuh
hingga 40-150 cm (16-57 inci) tingginya. Daunnya besar, dengan lobus yang kasar.
Ukurannya 10-20 cm (4-8 inci) panjangnya dan 5-10 cm (2-4 inci) lebarnya. Jenisjenis setengah liar lebih besar dan tumbuh hingga setinggi 225 cm (7 kaki), dengan
daun yang melebihi 30 cm (12 inci) dan 15 cm (6 inci) panjangnya. Batangnya
biasanya berduri. Warna bunganya antara putih hingga ungu, dengan mahkota yang
memiliki lima lobus. Benang sarinya berwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan
diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk jenis
yang ditanam.
Terung ialah tumbuhan pangan yang ditanam untuk buahnya. Asal-usul
budidayanya berada di bagian selatan dan timur Asia sejak zaman prasejarah, tetapi
baru dikenal di dunia Barat tidak lebih awal dari sekitar tahun 1500. Buahnya
mempunyai berbagai warna, terutama ungu, hijau, dan putih. Catatan tertulis yang
pertama tentang terung dijumpai dalam Q mn yo sh, sebuah karya pertanian
Tiongkok kuno yang ditulis pada tahun 544. Banyaknya nama bahasa Arab dan
Afrika Utara untuk terong serta kurangnya nama Yunani dan Romawi menunjukkan
bahwa pohon ini dibawa masuk ke dunia Barat melewati kawasan Laut Tengah oleh
bangsa Arab pada awal Abad Pertengahan. Nama ilmiahnya, Solanum melongena,
berasal dari istilah Arab abad ke-16 untuk sejenis tanaman terung.
Karena terung merupakan anggota Solanaceae, buah terung pernah dianggap
beracun, sebagaimana buah beberapa varietas leunca dan kentang. Sementara buah
terung dapat dimakan tanpa dampak buruk apa pun bagi kebanyakan orang,
sebagian orang yang lain, memakan buah terung (serupa dengan memakan buah
terkait seperti tomat, kentang, dan merica hijau atau lada) bisa berpengaruh pada
kesehatan. Sebagian buah terung agak pahit dan mengiritasi perut serta
mengakibatkan gastritis. Karena itulah, sebagian sumber, khususnya dari kalangan
kesehatan alami, mengatakan bahwa terung dan genus terkait dapat mengakibatkan

atau memperburuk artritis dengan kentara dan justru itu, harus dijauhi oleh mereka
yang peka terhadapnya.
Klasifikasi tanaman terung :
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Solanum
Spesies: Solanum melongena L.

2.2 Morfologi Tanaman Terung


Merupakan tumbuhan perdu tegak, tinggi 1-2,5 m, Batang berkayu, berbentuk
silindris, percabangan simpodial, batang muda berambut halus berwarna ungu. Arah
tumbuh batang tegak lurus, arah tumbuh cabang condong ke atas.
Terung termasuk satu suku/keluarga dengan tanaman cabai dan tomat yaitu
Solanaceae.

Salah

satu

dari

kelompok

tanaman

yang

menghasilkan

biji

(Spermatophyta), biji yang dihasilkan berkeping dua atau biji belah (Dicotyledoneae).
Letak biji berada didalam buah (Angiospermae). Biji yang dihasilkan merupakan alat
perkembangbiakan yang penting.
Terung merupakan tanaman semusim didaerah tropik berhawa sejuk dan bersifat
tahunan, dapat mencapai ketinggian 50 hingga 125 cm, pada umumnya bercabang dan
batangnya berbulu. Daunnya sederhana, tebal, 15-25 cm panjangnya dan bagian bawah
permukaan daun berbuluh. Daun tunggal, bertangkai silindris (panjangnya 0,5-2,5 cm),
letak tersebar. Helaian daun bentuknya bulat telur, ujung tumpul, pangkal membulat,

tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm, lebar 1-5 cm, berwarna hijau.
daging daun papyraceus.
Cara bercocok tanamnnya sama dengan lombok atau tomat. Satu buah terung
berisi sekitar 2500 biji tergantung pada jenisnya. Buah terung tanpa biji biasanya
mencapai tekstur keras dan kurang disenangi oleh konsumen.
Tanaman ini berakar tunggang dengan akar samping yang dangkal. Batangnya
bercabang banyak dan berbuluh agak kasar. Batangnya agar keras dan lebih kekar dari
batang tomat.
Terung termasuk tanaman sayuran dataran rendah semusim. Terung berbunga
sempurna dengan benang sari tidak berlekatan (lepas). Jumlah bunga terung dalam satu
tandan banyak. Umumnya bunganya berwarna ungu, tetapi ada pula yang berwarna
putih. Sementara buahnya tunggal, tetapi ada pula varietas terung yang buahnya antara
2-3 setiap tandan. Bentuk buahnya beraneka ragam, antara lain : bulat lonjong, atau
bulat panjang, warna buah ungu, tetapi ada pula yang berwarna putih dan hijau bergaris
putih. Setelah tua buah terung berwarna kekuningan dan berbiji banyak (Sunarjono,
2003)
Tanaman terung mulai berbunga umur 2 bulan dan buah dipanen sekitar umur
3 4 bulan. Oleh karena buah tidak matang bersamaan maka panen dapat dilakukan 2
kali seminggu. Panen dilakukan pada saat buah berumuran maksimal, tetapi belum tua.
Buah yang tua mempunyai rasa yang kurang enak, biji sudah mulai keras dan kulit liat.
Panen yang baik waktu pagi hari atau sore hari sebelum matahari terbelam. Adapun
buah yang dipanen sebaiknya disertakan juga tangkai buahnya. Tangkai tersebut
dipotong lurus agar tidak melukai buah terung.

Gambar: Pohon Solanum melongena L.

Gambar: Daun Solanum melongena L.

Gambar: Batang Solanum melongena L.

2.3 .Cara Budidaya Terung


2.3.1 Syarat Tumbuh

Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi

Suhu udara 22 30o C

Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik,
aerasi dan

drainase baik dan pH antara 6,8-7,3

Sinar matahari harus cukup

Cocok ditanam musim kemarau

2.3.2

Persemaian
Budidaya terong secara intensif dimulai dari persiapan media semai.
Benih terong yang akan ditanam harus berasal dari benih hibrida sehingga
hasil yang dicapai nanti lebih optimal. Disaat kita melakukan pemeraman
benih terong dengan kertas basah maupun handuk lembab selama 24 jam, kita
mempersiapkan media semai yang terdiri dari campuran tanah dan pukan
(pupuk kandang) dengan perban-dingan 2 : 1. Penggunaan pestisida bahan
aktif metalaksil (Saromyl 35 SD) sebagai pencegah jamur dapat
menghindarkan bibit dari penyakit dumping off . Hasil campuran media
tersebut dimasukkan ke dalam polybag dengan tinggi 8 cm dan diameter 5
cm.

2.3.3

Pembibitan
Rendamlah benih dalam air hangat kuku selama 10 -15 menit
Bungkuslah benih dalam gulungan kain basah untuk diperam selama + 24

jam hingga nampak mulai berkecambah


Sebarkan benih di atas bedengan persemaian menurut barisan, jarak antar

barisan 10-15 cm
Siapkan campuran tanah dan pupuk kandang halus, kemudian masukkan
benih satu persatu

2.3.4

ke polibag yang telah berisi campuran tanah dan pupuk

kandang halus.
Tutup benih tersebut dengan tanah tipis
Permukaan bedengan yang telah disemai benih ditutup dengan daun pisang/

penutup lainnya
Setelah benih tampak berkecambah muncul, buka penutupnya
Siram persemaian pagi dan sore hari ( perhatikan kelembabannya )
Perhatikan serangan hama dan penyakit sejak di pembibitan jika di perlukan

semprot dengan pestisida


Bibit berumur 1-1,5 bulan atau berdaun empat helai siap dipindahtanamkan
Persiapan Lahan
Setelah 24 jam benih tersebut melalui proses pemeraman yang dicirikan
dengan munculnya radikula (calon akar), maka benih tadi siap dipindahkan ke
media semai menggunakan pinset dengan posisi radikula dibawah. Selama
benih di persemaian , kita dapat melakukan persiapan tanam dengan
mengolah tanah. Persiapan lahan diawali dengan pembajakan sekali agar
lapisan tanah yang ada di atas berada di bawah dan sebaliknya. Selanjutnya
lahan diairi dengan cara di-leb/digenangi secara merata. Penggenangan
sebaiknya dilakukan 3-5 jam dan selanjutnya dilakukan pembajakan kedua
kalinya agar pembuatan bedengan lebih mudah.
Untuk mencapai hasil maksimal, maka untuk pupuk dasar sebaiknya
diberikan pupuk kandang sebanyak 15 kg/ 10 m2, dolomit 10-15 kg/ 10 m2,
(khusus untuk tanah basah/tergenang/bersifat asam). Setelah pupuk kandang
ditaburkan merata, maka ditambahkan pupuk urea dengan dosis 2,5 kg/10
tanaman, SP-36 3 kg/10 tanaman dan KCl 1,5 kg/10 tanaman. Jika kita
menggunakan NPK maka pemberian dapat dilakukan dengan dosis 3 kg/10

tanaman. Setelah tanah dicampur dengan pupuk maka barulah dibentuk


bedengan bedengan membentuk single row (satu baris satu tanaman)
dengan jarak antar tanaman 75 cm untuk selanjutnya dipasang mulsa hitam
perak.
2.3.5

Penanaman

Benih yang telah disemai selama 25 hari setelah semai (HSS) dapat
ditanam pada lubang tanam yang telah disediakan. Ciri dari bibit tanaman
terong yang siap tanam adalah munculnya atau keluar 3 lembar helai daun
sempurna atau mencapai tinggi 7,5 cm. Sebaiknya penanaman dilakukan
pada sore hari setelah dilakukan penggenangan untuk mempermudah
pemindahan dan masa adaptasi pertumbuhan awal.
Sistem tanam yang digunakan untuk terong adalah sistem single row,
dengan jarak antara tanaman 75 cm. Bibit yang siap tanam dimasukkan
kedalam lubang tanam yang ditugal sedalam 10-15 cm kemudian ditekan ke
bawah sambil ditimbun dengan tanah yang berada di sekitar lubang mulsa
sebatas leher akar (pangkal batang). Untuk menjaga dari serangan hama dapat
diberikan insektisida bahan aktif carbofuran.

Waktu tanam yang baik musim kering, dan air tersedia

Pilih bibit yang tumbuh subur dan normal

Tanam bibit di lubang tanam secara tegak lalu tanah di sekitar batang
dipadatkan

2.3.6

Siram lubang tanam yang telah ditanami hingga cukup basah (lembab)
Pengairan
Dilakukan rutin tiap hari, terutama pada fase awal pertumbuhan dan
cuaca kering, dapat di-leb/ direndam beberapa jam atau disiram dengan
gembor. Jika di leb / direndam biasanya 3-4 hari tanah tetap basah, tetapi hal
ini tergantung pada struktur dan tekstur tanahnya, jika tanahnya banyak
mengandung pasir maka tanah akan cepat kering.

2.3.7

Penyulaman
Sulam tanaman yang pertumbuhannya tidak normal, mati atau terserang

2.3.8

2.3.9

hama penyakit.
Penyulaman maksimal umur 15 hari.

Pemasangan Ajir (Turus)


Lakukan seawal mungkin agar tidak mengganggu (merusak) sistem

perakaran
Turus terbuat dari bilah bambu/ kayu dll setinggi 80-100 cm dan lebar 2-

4 cm
Tancapkan secara individu dekat batang
Ikat batang atau cabang terong pada turus

Penyiangan
Rumput liar atau gulma di sekitar tanaman disiangi atau dicabut
Penyiangan dilakukan pada umur 15 hari dan 60-75 hari setelah tanam

2.3.10 Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman terong tidak berbeda dari tanaman lainnya, yaitu
membutuhkan suplai air dan unsur hara yang cukup sehingga penyiraman
yang teratur, maupun pemupukan susulan sangat perlu dilakukan.Penyiraman

dapat dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari selama
seminggu pertama setelah tanam.
Sedangkan pupuk susulan diberikan pada tanaman umur 21 hst antara
lain ZA dosis 2.5 3 gram/tanaman, SP-36 2.5 3 gram/tanaman, KCl
sebanyak 1-1.5 gram/tanaman. Pupuk diberikan dipinggir tanaman dengan
jarak 10 cm dari pangkal batang. Pupuk susulan kedua dilakukan pada umur
50 HST dengan pupuk NPK Grand S-15 dengan dosis 8-10 gram per
tanaman. Pemupukan ke IV yang terakhir yaitu NPK Grand-S 15 pada saat
panen yang kedua dilakukan dengan dosis sebanyak 10 gram.
Disamping penyiraman dan pemupukan, pencegahan hama dan penyakit
dapat dilakukan dengan menyemprotkan pestisida sesuai dengan ham atau
penyakit yang menyerang . Sedangkan konsentrasinya disesuaikan dengan
anjuran dan interval penyemprotan sisesuaikan dengan intensitas serangan
dan kondisi lingkungan.
2.3.11 Pemangkasan
Pangkas tunas-tunas liar yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama
hingga bunga pertama juga dirempel untuk merangsang agar tunas-tunas baru
dan bunga yang lebih produktif segera tumbuh.
2.4 Pengendalian Hama dan Penyakit
a) H A M A
Kumbang Daun (Epilachna spp.)
Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah
bawah,Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan
tinggal tulang-tulang daun saja. Cara pengendalian; kumpulkan dan
musnahkan kumbang, atur waktu tanam, jika jika diperlukan lakukan
penyemprotan dengan Insektisida adapun merek bermacam-macam dapat
di tanyakan ke toko pertanian terdekat.

Kutu Daun (Aphis spp.)


Menyerang dengan cara mengisap cairan sel, terutama pada bagian pucuk
atau daun-daun masih muda, akibatnya daun tidak normal, keriput atau
keriting atau menggulung Aphis spp sebagai vektor atau perantara virus

10

Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, jika


populasi Aphis banyak dapat di gunakan Insektisida dengan tipe Racun
Contak , tetapi disarankan menggunakan Insektisida dengan tipe
Racun Sistemik Jika ingin lebih aman gunakan Insektisida botani
misalnya menggungkan Ekstrak Bawang putih, Aroma bawang putih
tidak disukai oleh Aphis, tetapi penyemprotan ke-2 dst tidak terlalu
berpengaruh terhadap Aphis.

Tungau ( Tetranynichus spp.)


Serangan hebat musim kemarau. Menyerang dengan cara mengisap
cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah
sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas
ataupun

bawah.

Cara pengendalian sama seperti pada pengen dalian kutu daun,


disarankan menggunakan Insektisida dengan tipe Racun Sistemik

Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)


Bersifat polifag, aktif senja atau malam hari. Menyerang dengan cara
memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan
roboh, pada siang hari ulat bersembunyi, sehingga sangat sulit
menemukan ulat Agritus ipsilon pada siang hari.
Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan

ulat,

Lakukan

penyemprotan dengan insektisida pada sore ( 17.00 ) atau pagi kurang


dari 05.00, gunakan insektisida dengan tipe Racun perut , jika
menggukanan racun kontak semprot pada malam hari ketika ulat mulai
muncul, tetapi perlu di pertimbangkan penyemprotan pada malam hari
akan terkendala oleh penerangan.

Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)


Bersifat polifag. Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun
hingga berlubang-lubang.
Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman,
mengumpulkan ulat, jika perlu gunakan Insektisida

11

Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)

Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan


melubanginya, sehingga bentuk buah tidak normal, dan mudah terserang
penyakit busuk buah.
Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan
pergiliran tanaman dan waktu tanam sanitasi kebun.
b) PENYAKIT
Layu Bakteri
Penyebab : bakteri Pseudomonas solanacearum. Bisa hidup lama dalam
tanah.Serangan hebat pada temperatur cukup tinggi.Gejala serangan
terjadi kelayuan seluruh tanaman secara mendadak, Sebenarnya serangan
Layu bakteri bersifat lokal, seperti pembuluh Xylem / pembuluh angkut,
tetapi karena menyerangya pada akar atau leher akar sehingga pasokan
air dan hara tanaman dari tanah ke daun terhambat sehingga gejala yang
muncul adalah kelayuan yang bersifat sistemik.Pengendaliannya : Atur
jarak tanam, sehingga kelembaban tidak terlalu lembab. Lakukan
pergiliran tanaman, jangan menanam tanaman yang berjenis Solanaceae
seperti tomat, tembakau dll karena akan memperparah serangan.
Gunakan Bakterisida

Busuk Buah
Penyebab : jamur Phytophthora sp., Phomopsis vexans, Phytium sp.
Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah
sehingga buah busuk.Pengendalian : gunakan Fungisida

Bercak Daun
Penyebab : jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea
Gejala bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.

Antraknose
Penyebab : jamur Gloesporium melongena
Gejala bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar
berwarna coklat dengan titik-titik hitam

12

Busuk Leher akar


Penyebab ; Sclerotium rolfsii
Gejala pangkal batang membusuk berwarna coklat

Rebah Semai
Penyebab : Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp. Gejala batang
bibit muda kebasah-basahan, mengkerut dan akhirnya roboh dan mati
Cara pengendalian Penyakit: Tanam varietas tahan, atur jarak tanam dan
pergiliran tanaman, perbaikan drainase, atur kelembaban dengan jarak
tanam agak lebar, cabut.

2.5 Panen
Panen pertama terong dapat dilakukan saat tanaman berumur 30 hst atau sekitar
15 18 hst setelah munculnya bunga. Kriteria panen buah terong layak panen
adalah daging belum keras,warna buah mengkilat, ukuran tidak terlalu besar ataupun
terlalu kecil. Sedangkan untuk terong jenis bulat kecil panen buah dapat dilakukan
pada umur 10-15 hari setelah muncul bunga dengan ciri : buah kelihatan segar,
warnanya cerah bagi terong tipe hijau dan belum berwarna kecoklatan bagi terong
berwarna ungu, bila dipotong belum tampak biji yang berwarna kuning keemasan
dan warna daging masih putih bersih.
Pemanenan dapat dilakukan seminggu dua kali sehingga total dalam satu musim
dapat dilakukan 8 kali panen dengan potensi jumlah buah per tanaman bisa
mencapai 21 buah. Setelah pemanenan yang ke delapan biasanya produksi mulai
menurun baik kwalitas maupun kwantitasnya.
2.6 Manfaat Terong
Terong ungu mempunyai banyak manfaat bagi tubuh manusia. Terong ungu
memiliki sangat banyak nutrisi yang nutrisi yang terkandung di dalamnya tersebut
ternyata sangat bernilai bagi tibuh kita. Terong adalah sayuran yang paling mudah
didapatkan di sekitar kita. Saat kita ingin terong, kapan pun bisa kta peroleh di
supermarket atau pasar tradisional. Walapun terong mudah didapat dan harganya
murah, pasti anda akan tercengang saat tahu kandungan sebenarnya dalam sayur
terong.
Terong yang mudah didapatkan ini banyak mengandung serat dan juga vitamin
B1, B3, dan B6. Selain itu terong juga mengandung asam chlorogenic. Asam
chlorogenic adalah tergolong salah satu sayuran yang bebas dari hama serangga
yang biasanya terdapat di sayuran. Selain itu terong ungu juga sangat rendah kalori

13

makanya sangat sempurna dan menyehatkan sebagai sarana menu diet bagi kita
yang ingin menjaga berat badan. Disamping itu trong ungu juga kaya akan flavonoid
dan nasunin. Flavonoid dan nasuni itu adalah antioksidan yang telah terbukti dapat
melindungi dan mencegah kerusakan sel-sel otak akibat penggunaan telepon
genggam yang bisa memicu tumbuhnya sel kanker. Selain itu terong ungu juga bisa
membantu menstimulasi sistem immune tubuh kita dan menjaga level energi pada
tubuh sehingga bermanfaat bisa menjaga kesehatan jantung. Terong juga
mengandung zat aktif terpene yang bermanfaat untuk menurunkan kolesterol.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tanaman terong merupakan salah satu tanaman yang dapat dibudidayakan di
Indonesia Khususnya kalimantan tengah. Pada dasarnya cara pembudidayaan taman
terong itu hampir sama dengan tanaman hortikultura yang lainnya, yang berbeda
yaitu cara/teknis budidayanya saja yang mungkin berbeda tiap-tiap tanaman
hortikultura.
Dalam budidaya tanaman terong ada yang disebut dengan :
1. Pembukaan lahan Yaitu persiapan lahan untuk budidaya tanaman terong
2. Penyemaian Yaitu penaburan biji di suatu media dalam satutempat
sebelum ditanam kel lahan yang telah dibuat, atau kalo didalam istilah
perkebunan sering dikenal dengan pembibitan.
3. Penanaman Penanaman merupakan tindakan untuk menanam bibit hasil
semaian yang sudah memasuki kriteria penanaman.
4. Pemasangan ajir Pemasangan ajir yaitu memasang sejenis tongkat di
dekat pokok tanaman dengan mahsud agar tanaman bisa lebih kuat
berdiri/tegak ketika nantinya tanaman tersebut sudah berbuah.
5. Perawatan yaitu tindakan untuk memelihara tanaman dari hama,
penyakit, gulma maupunyang lainnya yang mampu menurunkan
produksi tanaman terung.

14

6. Pemanenan adalah upaya untuk memetik buah terungyang sudah masuk


kriteria untuk dilakukan pemanenan.
3.1 Saran
Berdasarkan penelitian budidaya dan manfaat terung yang telah dilakukan, maka
penulis menyarankan :
1. Perlu dilakukan penelitian tentang cara lain budidaya terung.
2. Perlu dilakukan penelitian tentang cara dan proses pemanfaatan terung.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengobatan-pengobatan
penyakit lain dengan menggunakan terung.
4. Dapat menjadi masukan pada masyarakat tentang budidaya dan manfaat
terung.

15

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Bahan Ajar Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas
Bengkulu. Bengkulu.
Jonathan, 2014. http://www.blogiztic.net/info/tanaman/cara-budidaya-tanaman-terongyang-benar.html.Diakses tanggal 5 Mei 2015.

Rizal,2014.http://amazoneabc.blogspot.com/2012/02/budidaya-tanaman-terong
terongan.html. Diakses tanggal 5 Mei 2015.

Kinagatha.2013.http://kinagatha.blogspot.com/2013/03/makalah-budidaya-danmanfaat-terung.html . Diakses 5 Mei 2015

Syamsuri, Istamar, 2000. Biologi. Erlangga. Jakarta.

16

Anda mungkin juga menyukai