Anda di halaman 1dari 4

Pengelolaan Gangguan Ginjal Akut

Walaupun telah menggunakan kriteria RIFLE untuk menegakkan diagnosis


GgGA dan ditemukannya teknik mutakhirterapi pengganti ginjal (TPG) seperti
continuous replacement renal therapy (CRRT) dan dialisis hibrid, ternyata dalam
kurun waktu 40 tahun terakhir angka kematian GgGA tidak menurun secara
bermakna. Hal ini mungkin diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain :
a. Terlambat menegakkan diagnosis GgGA karena tidak mengenal kondisi klinik
yang dihadapi
b. Tidak mengenal tahapan GgGA (Injury, Risk atau Failure)
c. Tidak tepatnya pilihan pengobatan (tidak sesuai dengan tahapan GgGA)
Oleh karena itu agar pengelolaan GgGA mencapai hasil yang diharapkan harus
memperhatikan berbagai faktor, dengan langkah-langkah seperti di bawah ini :
Langkah 1
Mengenal kondisi klinis yang dihadapi
- Menentukan diagnosis GgGA secara dini dan benar
- Menentukan etiologi GgGA
- Mengenal komplikasi GgGA
(Komplikasi penyakit etiologi maupun komplikasi GgGA)
Langkah 2
Pada tahap mana GgGA yang dihadapi ? Risk-injury (failure)
Pemilihan jenis pengobatan yang tepat waktu, sangat tergantung pada tahap mana
GgGA yang kita hadapi
Langkah 3
Memilih jenis pengobatan yang tepat
Secara garis besar ada 2 jenis pengobatan GgGA, yaitu terapi konsevatif (suportif)
dan terapi pengganti ginjal (TPG)
Ada 2 jenis pengobatan dalam pengelolaan terhadap komplikasi GgGA, yaitu :
1. Terapi konservatif (suportif)
2. Terapi pengganti ginjal (TPG)
Yang dimaksud dengan terapi konservatif (suportif) adalah penggunaan obatobatan atau cairan dengan tujuan mencegah atau mengurangi progresifitas, morbiditas

dan mortalitas penyakit akibat komplikasi GgGA. Bilaterapi konservatif tidak


berhasil, maka harus diputuskan untuk melakukan TPG.
Tujuan terapi konservatif pada GgGA adalah sebagai berikut :
- Mencegah progresifitas penurunan fungsi ginjal
- Meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksin azotemia
- Mempertahankan dan memperbaiki metabolisme secara optimal
- Memelihara keseimbangan cairan , elektrolit dan asam basa
Beberapa prinsip terapi konservatif :
- Hati-hati pemberian obat yang bersifat nefrotoksik
- Hindari keadaan yang menyababkan deplesi volume cairan ekstraselular dan
-

hipotensi
Hindari gangguan keseimbangan elektrolit dan asidosis metabolik
Hindari instrumentasi (kateterisasi dan sistoskopi) tanpa indikasi medis yang

kuat
Hindari pemeriksaan radiologi dengan media kontras tanpa indikasi medis

yang kuat
Kendalikan hipertensi sistemik dan tekanan intraglomerular
Kendalikan keadaan hiperglikemia dan infeksi saluran kemih (ISK)
Diet protein yang proporsional
Pengobatan yang sesuai terhadap etiologi GgGA

Tabel : terapi konservatif (suportif) pada GgGA


Pengelolaan Suportif GgGA
komplikasi
Terapi
1. Kelebihan cairan Intravaskular
- Batasi garam (1-2 gram/hari)

2. Hiponatremia

dan air (< 1 liter/hari)


Diuretik (biasanya furosemide

+/- tiazide)
Batasi cairan (< 1 liter/hari)
Hindari pemberian cairan
hipotonis (termasuk dextrosa

3. Hiperkalemia

5%)
batasi

40mmol/hari)
Hindari suplemen kalium dan

diuretik hemat kalium


Beri resin"potassium-binding

ion excchange" (kayazalate)


BeriGlukosa 50% sebanyak

intake

kalium

(<

4. Asidosis metabolik

5. Hiperfosfatemia

50cc +insulin 10 unit


Beri Natrium-bikarbonat (50-

100 mmol)
Beri salbutamol 10-20 mg

inhaler atau 0,5-1 mg IV


Kalsiumglukonat 10% (10cc

dalam2-5 menit)
Batasi intake protein (0,8-1.0

gr/kgBB/hari
Beri
natrium
(usahakan

kadar

bikarbonat

plasma

serum
>15

mmol/l dan pH arteri > 7,2)


Batasi
intake
fosfat

(800mg/hari)
Beri pengikat fosfat (kalsium
asetat-karbonat,

6. Hipokalsemia

bikarbonat

alumunium

HCI, sevalamer
Beri Kalsium karbonat atau
kalsium glukonat 10% (10-20

7. Hiperuriksemia

cc)
Tidak perlu terapi bila kadar
asam urat <15 mg/dl

Tabel : Kebutuhan nutrisi pada penderita gangguan ginjal akut


Energi

20-30 kkal/kg BB/hari

Karbohidarat

3-5 (maksimal 7) gr/kg BB/hari

lemak
0,8-1,2 (maksimal 1,5) gr/kg BB/hari
Protein (asam animo esensial dan 0,6-0,8 (maksimal 1,0) gr/kg BB/hari
non-esensial)

1,0-1,5 gr/kgBB/hari maksimal 1,7

Terapi konsevatif

gr/kg BB/hari

TPG dengan CRRT


TPG

dengan

hiperkatabolisme

CRRT

dengan

Tabel : kebutuhan nutrisi pada penderita gangguan ginjal akut dengan TPG
Protein
Paling sedikit 1,5 gr/kg BB/hari
Asupan protein sebaiknya ditambah 0,2-0,3 gr/kg BB/hari sebagai kompensasi
hilangnya asam animo selama TPG
Diberikan asam animo sessemsial dan non esensial jika menggunakan nutrisi
parenteral
Energi
Kalori nonprotein 25 kkal/kg BB/hari
1/3 kebutuhan energi dari lipid
jika menggunakan nutrisi parenteral : 1-1,5 gr/kg BB/hari emulsi lipid (ekivalen
dengan 250-500 ml emulsi lipid 20%)
Disarankan pemberian MCT/LCT Disarankan pemberian emulsi lipid three-in-one
bag selama 18-24 jam

Selain itu, terapi nutrisi pada pasien GgGA harus menjadi bagian dari
pengelolaan secara keseluruhan karena dapat mempengaruhi perjalanan penyakit
maupun prognosis pasien. Tujuan dukungan nutrisi pada GgGA antara lain:
mencegah protein-energy wasting (PEW), mempertahankan lean body mass dan
status nutrisi, menghindari gangguan metabolik yang lebih berat, mencegah
komplikasi, mendukung fungsi imunitas, meminimalisasi inflamasi, memperbaiki
aktivitas anti oksidan dan fungsi endotel serta mengurangi mortalitas.