Anda di halaman 1dari 350

Lampiran :

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PADANG PARIAMAN

 

Nomor

Tanggal

Tentang

: 08 Tahun 2011

: 03 Oktober 2011

: RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN PADANG PARIAMAN TAHUN 2010-2015

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

 

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Dasar Hukum Penyusunan

2

1.3 Hubungan Antar Dokumen

3

1.4 Sistematika Penulisan

4

1.5 Maksud Dan Tujuan

6

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

7

2.1 Aspek Geografi dan Demografi

7

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat

35

2.3 Aspek Pelayanan Umum

42

2.4 Aspek Daya Saing Daerah

45

2.5 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan Dan Realisasi RPJMD

47

BAB III

GAMBARAN

PENGELOLAAN

KEUANGAN

DAERAH

SERTA

KERANGKA

PENDANAAN

65

3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu

 

65

3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah Masa Lalu

 

74

3.3 Kerangka Pendanaan

 

78

BAB IV

ANALISIS ISU-ISU SRATEGIS

86

4.1 Permasalahan Pembangunan

86

4.2 Isu Strategis Pembangunan Daerah

88

BAB V

PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

90

5.1 Visi

90

5.2 Misi

90

5.3 Tujuan dan Sasaran

 

91

BAB VI

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

96

6.1 Mewujudkan Kehidupan Beragama dan Berbudaya yang Berkualitas Berdasarkan Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah . 96

6.2 Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintah yang Berorientasi Mutu

 

Berbasiskan Sinergitas antara Pemerintah dan Masyarakat

 

98

6.3 Mewujudkan Sumberdaya Manusia yang berkulitas dan Berkepribadian Wirausaha

105

6.4 Mewujudkan Pembangunan Ekonomi yang Tangguh dan Berdaya Saing Berbasiskan Sistem Agribisnis dan Agroindustri

114

6.5 Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan

119

BAB VII

KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

 

126

7.1 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah…………

126

7.2 Agenda Prioritas Pembangunan Daerah

 

186

126 7.2 Agenda Prioritas Pembangunan Daerah   186 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 i
126 7.2 Agenda Prioritas Pembangunan Daerah   186 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 i

BAB VIII

INDIKASI RENCANA PROGRAM

196

BAB IX

PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

220

BAB X

PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN

231

DAERAH 220 BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 231 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 ii
DAERAH 220 BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 231 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 ii

1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN

Undang Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menetapkan pelaksanaan desentralisasi dimana Pemerintah Pusat memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk melakukan serangkaian proses, mekanisme dan tahapan perencanaan yang dapat menjamin keselarasan pembangunan antar daerah tanpa mengurangi kewenangan yang diberikan. Untuk membangun kehidupan bernegara dengan tingkat keragaman masyarakat dan karakteristik geografis yang unik, pemerintah telah menyusun Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang bersifat terpadu, menyeluruh, sistematik yang tanggap terhadap perkembangan zaman yang tertuang dalam Undang Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pasal 1 Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, menengah dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Pasal 5 Undang Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 menyatakan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan penjabaran Visi, Misi dan Program Kepala Daerah yang berpedoman kepada RPJP Daerah dengan memperhatikan RPJM Nasional. RPJMD tersebut, antara lain memuat Arah Kebijakan Keuangan Daerah, Strategi Pembangunan Daerah, Kebijakan Umum dan Program Satuan Kerja Perangkat Daerah, Lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah dan Program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJMD merupakan dokumen perencanaan yang berisikan daftar rencana kegiatan untuk periode 5 (lima) tahun. Daftar rencana kegiatan tersebut merupakan agenda pembangunan yang menyatu dengan agenda pemerintah yang akan dilaksanakan oleh Kepala Daerah selama menjadi pimpinan pemerintahan. Berkaitan dengan amanat Undang-Undang tersebut dan dengan telah dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati Padang Pariaman Periode 2010-2015 pada tanggal 25 Oktober 2010, maka disusunlah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2015. RPJMD Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2015 adalah dokumen perencanaan komprehensif lima tahunan, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) Kabupaten Padang Pariaman dan sebagai acuan bagi seluruh stakeholder di Kabupaten Padang Pariaman dalam melaksanakan kegiatan pembangunan selama kurun waktu 2010-2015. RPJMD Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2015, disusun berdasarkan Visi dan Misi Bupati Padang Pariaman, sekaligus berfungsi sebagai dokumen perencanaan yang mengakomodasi berbagai aspirasi masyarakat yang ada dalam lingkup wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Selain itu RPJMD Kabupaten Padang Pariaman juga menjawab tiga pertanyaan dasar (1) kemana Kabupaten Padang Pariaman akan diarahkan pengembangannya dan apa yang hendak dicapai dalam lima tahun mendatang; (2) bagaimana mencapainya dan (3) langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tujuan tercapai.

dan (3) langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tujuan tercapai. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
dan (3) langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan agar tujuan tercapai. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

1.2. DASAR HUKUM PENYUSUNAN

sebagai

berikut:

1. Undang-Undang 12 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom di Lingkungan Kabupaten Sumatera Tengah;

2. Undang-Undang Nomor 49 tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Mentawai;

3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2002, tentang Pembentukan Kota Pariaman di Kabupaten Padang Pariaman;

4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389);

7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah beberapakali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;

9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Landasan

penyusunan

RPJM

Daerah

Kabupaten

Padang

Pariaman

adalah

4438);

10. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor

33);

11. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 2008 Nomor 4725);

12. Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1980 tentang Perubahan Batas Wilayah Kodya Dati II Padang;

13. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

14. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan;

15. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Padang Pariaman dari Wilayah Kota Pariaman ke Nagari Parit Malintang Kecamatan Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera Barat;

Kecamatan Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera Barat; RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 2
Kecamatan Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman Propinsi Sumatera Barat; RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 2

19.

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014;

20. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan menteri Keuangan Nomor 28 Tahun 2010, 0199/M PPN/04 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

22. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2025.

23. Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2008 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Padang Pariaman dari Kota Pariaman ke Nagari Parit Malintang di Wilayah Kabupaten Padang Pariaman;

24. Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD;

25. Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman Nomor 05 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah;

26. Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman Nomor 06 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah;

27. Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman Nomor 02 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Padang Pariaman Tahun

2005-2025.

1.3. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008, dimana RPJMD merupakan satu kesatuan yang utuh dari manajemen pembangunan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman khususnya dalam menjalankan agenda pembangunan yang telah tertuang dalam berbagai dokumen perencanaan. Hubungan antara RPJMD dengan dokumen perencanaan lainnya adalah sebagai berikut :

1. RPJMD dan RPJPD Kabupaten Padang Pariaman RPJMD Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2015 merupakan RPJMD kedua dari tahapan pelaksanaan RPJPD Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2005-2025. RPJMD memuat Visi, Misi dan Program Bupati dan Wakil Bupati terpilih, yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah Kabupaten Padang Pariaman, RPJPD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2005-2025 dan RPJM Nasional Tahun 2009-2014.

2. RPJMD dan RTRW Kabupaten Padang Pariaman Penyusunan RPJMD memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai pola dan struktur tata ruang yang telah ditetapkan dalam Rancangan RTRW Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2030 sebagai dasar untuk menetapkan lokasi program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dan menyelaraskan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Kebijakan, Strategi dan Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah dengan struktur dan pola pemanfaatan ruang Kabupaten.

Jangka Menengah Daerah dengan struktur dan pola pemanfaatan ruang Kabupaten. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 3
Jangka Menengah Daerah dengan struktur dan pola pemanfaatan ruang Kabupaten. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 3

3. RPJMD dan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah RPJMD menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD). Renstra SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun, yang merupakan penjabaran teknis operasional dari RPJMD ke dalam arah kebijakan serta indikasi program dan kegiatan setiap urusan, bidang dan atau fungsi pemerintahan untuk jangka waktu 5 (lima) tahunan, yang disusun oleh SKPD di bawah Koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

4. RPJMD dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Pelaksanaan RPJMD Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2015, pada setiap tahunnya dijabarkan ke dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). RKPD adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun atau disebut dengan rencana pembangunan tahunan daerah, yang memuat prioritas program dan kegiatan dari Rencana Kerja SKPD.

1.4. SISTEMATIKA PENULISAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Padang Pariaman tahun 2010-2015 disusun dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I

PENDAHULUAN

 

Memuat Latar Belakang, Dasar Hukum Penyusunan, Hubungan Antar Dokumen, Sistematika Penulisan, Maksud dan Tujuan

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Memuat Gambaran Umum Kondisi Daerah yang menjelaskan tentang kondisi geografi dan demografi serta indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi dan kabupaten/kota. Adapun indikator capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan yang penting dianalisis meliputi 3 (tiga) aspek utama, yaitu aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum dan aspek daya saing daerah.

BAB III

GAMBARAN

PENGELOLAAN

KEUANGAN

DAERAH

SERTA

KERANGKA

PENDANAAN

Memuat Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah. Mengingat bahwa pengelolaan keuangan daerah diwujudkan dalam suatu APBD maka analisis pengelolaan keuangan daerah dilakukan terhadap APBD dan laporan keuangan daerah pada umumnya. Dibutuhkan pemahaman yang baik tentang realisasi kinerja keuangan daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebelumnya.

BAB IV

ANALISIS ISU-ISU SRATEGIS Memuat Analis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan-tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat strategis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan, dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggungjawabkan.

BAB V

PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Bagian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menguraikan visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih, sebagai landasan perumusan rumusan

Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih, sebagai landasan perumusan rumusan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 4
Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih, sebagai landasan perumusan rumusan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 4

tujuan dan sasaran dengan memperhatikan program kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih, yang tertuju pada arah kebijakan pembangunan jangka panjang daerah pada periode berkenaan yang ditetapkan dalam RPJPD. Tujuan dan sasaran adalah tahap perumusan sasaran strategis yang menunjukkan tingkat prioritas tertinggi dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah yang selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan arsitektur kinerja pembangunan daerah secara keseluruhan.

BAB VI

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Memuat Strategi dan Arah Kebijakan yang merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien. Dengan pendekatan yang komprehensif, strategi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan tranformasi, reformasi, dan perbaikan kinerja birokrasi. Perencanaan strategik tidak saja mengagendakan aktivitas pembangunan, tetapi juga segala program yang mendukung dan menciptakan layanan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan baik, termasuk di dalamnya upaya memberbaiki kinerja dan kapasitas birokrasi, sistem manajemen, dan pemanfaatan teknologi informasi.

BAB VII

KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Merupakan Bagian yang merumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah bertujuan untuk menggambarkan keterkaitan antara bidang urusan pemerintahan daerah dengan rumusan indikator kinerja sasaran yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan jangka menengah daerah berdasarkan strategi dan arah kebijakan yang ditetapkan.

BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN Bagian ini merupakan langkah teknokratis dalam menerjemahkan berbagai analisis dan metodologi perumusan sebelumnya ke dalam penyusunan program prioritas. Sesuai arsitektur perencanaan yang memisahkan antara aspek strategis dan operasional program prioritas dipisahkan pula menjadi 2 (dua) yaitu program prioritas untuk perencanaan strategis dan program prioritas untuk perencanaan operasional. Suatu program prioritas yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah pada dasarnya adalah perencanaan operasional.

BAB IX

PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Bab ini merupakan lanjutan dari kegiatan penentuan program prioritas dan pendanaan diketahui maka perlu ditetapkan indikator kinerja daerah. Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dari sisi keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah, khususnya dalam memenuhi kinerja pada aspek kesejahteraan, layanan, dan daya saing. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.

BAB X

PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN Memuat tentang kaidah pelaksanaan RPJMD Kabupaten Padang Pariaman sebagai pedoman penyusunan Renstra dan pelaksanaan Program SKPD yang meberikan

sebagai pedoman penyusunan Renstra dan pelaksanaan Program SKPD yang meberikan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 5
sebagai pedoman penyusunan Renstra dan pelaksanaan Program SKPD yang meberikan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 5

peluang penguatan peran stakeholder/pelaku dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan di Kabupaten Padang Pariaman.

1.5. MAKSUD DAN TUJUAN

RPJMD Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2015 dimaksudkan untuk dapat memberi arah dan pedoman bagi pelaku pembangunan (Pemerintah, Swasta dan Masyarakat) dalam mendorong proses pembangunan daerah. RPJMD Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2015 juga sebagai pedoman penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Padang Pariaman supaya terwujud proses pembangunan yang bersinergi.

Sedangkan tujuan dari penyusunan RPJMD Kabupaten Padang Pariaman Tahun Tahun 2010-2015 adalah :

1. Menetapkan Visi dan Misi Kepala Daerah Kabupaten Padang Pariaman Tahun Periode 2010-2015 yang memuat Gambaran Umum Kondisi Daerah, Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan, Analisis Isu-isu Strategis, Strategi dan Arah Kebijakan, Indikasi Rencana Program Prioritas yang disertai Kebutuhan Pendanaan, dan Penetapan Indikator Kinerja Daerah. 2. Memberikan landasan sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen pelaku pembangunan daerah (Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat) dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pembangunan daerah secara berkesinambungan dan berkelanjutan. 3. Mewujudkan keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan daerah. 4. Meningkatkan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan masyarakat yang lebih berdaya guna dan berhasil guna, serta untuk lebih memantapkan pelaksanaan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai wujud pertanggungjawaban dalam mencapai visi, misi, tujuan pembangunan daerah.

wujud pertanggungjawaban dalam mencapai visi, misi, tujuan pembangunan daerah. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 6
wujud pertanggungjawaban dalam mencapai visi, misi, tujuan pembangunan daerah. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 6

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1 Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1 Karakteristik Lokasi dan Wilayah

1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi Secara geografis, Kabupaten Padang Pariaman terletak antara 0°11’5- 3°30’ Lintang Selatan dan 98°36’ - 100°40’ Bujur Timur, dengan keadaan iklim tropis yang sangat dipengaruhi oleh angin darat dan curah hujan mencapai rata-rata 442,80 mm/bulan sepanjang tahun 2004 serta suhu udara berkisar antara 26 0 C sampai 31 0 C. Setelah disahkannya Kota Administratif Pariaman menjadi Kota Pariaman dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2002, maka wilayah Kabupaten Padang Pariaman menjadi 17 kecamatan dengan luas wilayah menjadi 1.328,79 Km² dengan panjang garis pantai 60,5 km. Luas daratan daerah ini setara dengan 3,15 persen luas daratan wilayah Propinsi Sumatera Barat. Batas wilayah administratif Kabupaten Padang Pariaman adalah sebelah Utara dengan Kabupaten Agam, sebelah Selatan dengan Kota Padang, sebelah Timur dengan Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, dan sebelah Barat dengan Kota Pariaman dan Samudera Indonesia. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar peta orientasi Kabupaten Padang Pariaman dan gambar peta administrasi Kabupaten Padang Pariaman. Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17 (tujuh belas) kecamatan. Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam tercatat memiliki wilayah paling luas, yakni 228,70 km², sedangkan Kecamatan Sintuk Toboh Gadang memiliki luas wilayah terkecil, yakni 25,56 km². Sungai Geringging sebagai Ibukota Kecamatan Sungai Geringging dan Batu Basa Ibukota Kecamatan dari IV Koto Aur Malintang tercatat berada di wilayah yang paling tinggi yaitu 251 meter dari permukaan laut sedangkan yang paling rendah adalah Ulakan Tapakis, Sungai Limau, Gasan Gadang dengan ketinggian 2 meter dari permukaan laut

2.

Topografi Dilihat dari topografi wilayah, Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari wilayah daratan pada daratan Pulau Sumatera dan 2 pulau-pulau kecil (Pulau Pieh dan Pulau Bando), dengan 40% dataran rendah yaitu pada bagian Barat yang mengarah ke pantai. Daerah dataran rendah terdapat di sebelah Barat yang terhampar sepanjang pantai dengan ketinggian antara 0 - 10 meter di atas permukaan laut, serta 60% daerah bagian Timur yang merupakan daerah bergelombang sampai ke Bukit Barisan. Daerah bukit bergelombang terdapat di sebelah Timur dengan ketinggian 100 - 1500 meter di atas permukaan laut. Keadaan Topografi Kabupaten Padang Pariaman berupa daratan seluas 1.328,79 km² atau 56,10% dari wilayah datar - landai dengan ketinggian antara 0 - 100 meter dari permukaan air laut, sedangkan yang lainnya merupakan daerah bergelombang agak curam – curam dan sangat curam dengan ketinggian 100 - 1500 meter di atas permukaan laut atau seluas 43,90%. Daerah datar - landai terletak pada bagian Barat yang mendekati pantai, sedangkan daerah bergelombang dan dataran tinggi (agak curam – curam – sangat curam) terdapat di bagian Timur dan Utara. Pada daerah perbatasan dengan Kabupaten Solok, Tanah Datar, dan Agam merupakan daerah gugusan Bukit Barisan yang membujur sepanjang bagian Barat Pulau Sumatera.

daerah gugusan Bukit Barisan yang membujur sepanjang bagian Barat Pulau Sumatera. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
daerah gugusan Bukit Barisan yang membujur sepanjang bagian Barat Pulau Sumatera. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

3.

Hidrologi Potensi pemenuhan kebutuhan akan air bersih di Kabupaten Padang Pariaman pada umumnya relatif besar karena dangkalnya air tanah di wilayah ini sehingga memudahkan penduduk dalam penggunaannya. Selain itu Kabupaten Padang Pariaman juga dilalui oleh 11 sungai, antara lain : sungai Batang Anai, Batang Mangau yang keberadaannya memiliki kontribusi yang cukup besar untuk pemenuhan kebutuhan akan air, baik untuk penggunaan rumah tangga ataupun sebagai sumber air untuk kegiatan irigasi teknis maupun non teknis. Dari 11 (sebelas) buah sungai yang ada, maka sungai terpanjang adalah Sungai Batang Anai sepanjang 54,6 Km, serta Sungai Batang Mangau dengan panjang 46 km. Sedangkan sungai yang memiliki lintasan terpendek dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya di Kabupaten Padang Pariaman yaitu Batang Kamumuan dan Batang Piaman dengan panjang sungai yaitu 12 km. Secara ekonomis sungai-sungai ini merupakan pendukung bagi kegiatan irigasi dan untuk budidaya ikan yang diusahakan masyarakat Kabupaten Padang Pariaman. Adapun keberadaan sungai-sungai di Kabupaten Padang Pariaman dapat dilihat pada Gambar 3.2 dan Tabel 3.2 berikut. Berdasarkan data tersebut tampak bahwa fluktuasi debit tertinggi terdapat di Sungai Batang Gasan dimana debit Tertinggi mencapai maksimal 60 M³/dt dan debit terendah adalah 9,2 M³/dt dan Batang Ulakan fluktuasi debitnya cukup rendah dimana debit maksimal 60 M³/dt dan debit terendah 36 M³/dt . Keadaan fluktuasi debit tersebut di atas menunjukkan bahwa tinggi dan rendahnya fluktuasi debit ini ditentukan oleh keberadaan musim hujan dan musim kemarau. Oleh karena itu pengelolaan dan pengendalian kawasan konservasi di wilayah hulu sampai hilir menjadi perhatian utama untuk mempertahankan debit dan peningkatan kualitas airnya menjadi lebih baik. TABEL 2.1 NAMA SUNGAI, DAERAH YANG DILALUI DAN PANJANGNYA

     

Daerah Yang Dilalui (Kecamatan)

Debit (M/dt)

Panjang

 

No

Nama Sungai

Max

Min

Sungai

Kualitas

(Km)

1

Batang Sungai

Sungai Geringging – Sungai Limau

45,00

7,77

14.00

Jelek

Limau

2

Batang Kamumuan

Sungai Geringging – Sungai Limau

-

-

12.00

-

3

Batang Paingan

Sungai Geringging – Sungai Limau

36,00

3,98

16.00

Jelek

4

Batang Gasan

IV Koto Aur Malintang – Sungai Limau - Batang Gasan

60,00

9,20

20.00

Jelek

5

Batang Sungai

Sungai Geringging – Singai limau

45,00

7,32

18.00

Jelek

Sirah

6

Batang Naras

V

Koto Kp. Dalam – Sungai Limau

33,80

0,91

20.00

Jelek

7

Batang Piaman

VII Koto Sungai Sarik – Pariaman

19,40

2,62

12.00

Jelek

8

Batang Mangau

Patamuan - VII Koto Sungai Sarik

55,90

7,57

46.00

Jelek

Nan Sabaris

9

Batang Ulakan

2

X 11 Enam Lingkung, Nan

60,00

36,00

19.00

Sedang

Sabaris, Ulakan Tapakis

10

Batang Anai

X 11 Kayutanam – Lubuk Alung - Batang Anai

2

 

70 25

54.60

Jelek

11

Batang Tapakis

Lubuk Alung – Sintuk Toboh Gadang - Nan Sabaris – Ulakan Tapakis

- -

 

46.00

-

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010

  46.00 - Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
  46.00 - Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

4. Kondisi Klimatologi Keadaan iklim tropis yang sangat dipengaruhi oleh angin darat dan curah hujan mencapai rata-rata 427,70 mm/bulan sepanjang tahun 2010 serta suhu udara berkisar antara 26 0 C sampai 31 0 C. Iklim wilayah Kabupaten Padang Pariaman termasuk iklim tropis besar yang memiliki musim kering yang sangat pendek dan daerah lautan sangat dipengaruhi oleh angin laut. Suhu udara berkisar antara 26 0 C – 31 0 C. Suhu udara terpanas jatuh pada bulan Mei, sedangkan suhu terendah terdapat pada bulan September. Kelembaban udara rata-rata 86.75% dengan kecepatan angin rata-rata yaitu 2.14 knot/jam. Sedangkan rata-rata suhu maksimum 31.08 0 C dan rata-rata suhu minimum yaitu 21.34 0 C dengan curah hujan tercatat rata-rata 293.11 mm/tahun. Untuk lebih jelasnya suhu, kelembaban dan kecepatan angin di Kabupaten Padang Pariaman dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut ini.

TABEL 2.2 SUHU, KELEMBABAN RELATIF, KECEPATAN ANGIN DAN TEKANAN UDARA DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN

   

Kelembaban

Kecepatan

Tekanan

Bulan

Suhu ( o C)

Relatif (%)

Angin

Udara

(Knot)

(Nbs)

Januari

25.4

87.0

2.0

996.8

Februari

26.0

88.0

2.7

996.3

Maret

26.1

87.0

2.5

996.4

April

26.3

89.0

1.8

996.0

Mei

26.8

87.0

2.2

994.1

Juni

26.1

86.0

2.1

995.6

Juli

25.6

85.0

2.0

995.6

Agustus

25.7

88.0

1.8

995.5

September

25.6

87.0

2.1

984.8

Oktober

25.4

88.0

2.2

995.6

November

25.1

88.0

1.7

995.1

Desember

25.2

87.0

2.6

994.5

Rata-rata/Tahun

25.7

86,0

2.14

994.7

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010

5. Kondisi Geologi dan Tata Lingkungan Secara geologis Kabupaten Padang Pariaman terletak pada dua jalur patahan lempeng dunia yaitu Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo – Australia dan topografi Padang Pariaman yang dilalui oleh banyak anak-anak sungai dan merupakan kawasan yang rawan bencana. Bentuk bencana yang pernah dan mungkin terjadi di Kabupaten Padang Pariaman identik dengan kondisi alam tersebut yaitu bencana banjir, tanah longsor, angin badai/puting beliung, abrasi pantai, gempa bumi, tsunami dan lain-lain. Selain faktor alamnya, Kabupaten Padang Pariaman juga termasuk rawan bencana yang timbul akibat ulah manusia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor – sosial budaya yang relatif kurang memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan serta kelalaian dari manusia yang berakibat bencana. Beberapa bencana yang terjadi di Kabupaten Padang Pariaman akibat ulah manusia seperti kebakaran, banjir dan tanah longsor.

Padang Pariaman akibat ulah manusia seperti kebakaran, banjir dan tanah longsor. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
Padang Pariaman akibat ulah manusia seperti kebakaran, banjir dan tanah longsor. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

Secara komulatif bencana yang terjadi di Kabupaten Padang Pariaman, baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia cendrung meningkat yang membawa dampak kerugian dan kerusakan serta korban jiwa meningkat pula. Di samping itu, berdasarkan analisis dan prediksi para ahli dan peneliti bahwa wilayah sepanjang pantai Barat pulau Sumatera terancam akan bencana tsunami, setelah Aceh dan Nias maka Sumatera Barat berpotensi dilanda bencana tsunami, mengingat pantai Barat Sumatera merupakan jalur penunjaman (“Subduction Zone”) sebagai penyebab terjadinya gempa. Bilamana terjadi dislokasi atau pematahan di bawah samudera, maka akan mengakibatkan terjadinya gelombang tsunami tersebut.

6. Pola Penggunaan Lahan Kabupaten Padang Pariaman seluas 1.328,79 Km2, yang terdiri dari 17 kecamatan. Luas keseluruhan ini meliputi daerah terbangun yang digunakan untuk berbagai kegiatan perumahan/permukiman dan daerah tidak terbangun seperti pertanian, perkebunan dan sebagainya. Penggunaan lahan terbesar adalah perkebunan rakyat, yaitu 27,44% dari luas Kabupaten Padang Pariaman, kemudian hutan sebanyak 21,61% dan sawah seluas 20,42% dari luas Kabupaten Padang Pariaman. Penggunaan lahan Kabupaten Padang Pariaman dapat dilihat pada tabel berikut.

TABEL 2.3 PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN TAHUN 2010

No

Jenis Penggunaan

Luas (Ha)

Persentase (%)

1

Permukiman

7.339

5,52%

2

Persawahan (lahan basah)

27.129

20,42%

3

Tegalan

648

0,49%

4

Perkebunan Rakyat

36.461

27,44%

5

Kebun campuran

16.633

12,52%

6

Hutan belukar

11.232

8,45%

7

Hutan

28.719

21,61%

8

Semak/alang-alang

2.489

1,87%

9

Kolam tambak ikan

200

0,15%

10

Lain –lain

2.029

1,53%

Kabupaten Padang Pariaman

132.879

100%

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010

Tahun 2005 dari 88.697 jumlah rumah tangga yang ada di Kabupaten Padang Pariaman, berjumlah 11.824 KK yang belum memiliki rumah atau 13.33 % rumah tangga yang belum terakomodasi oleh penyediaan rumah yang dilakukan oleh BUMN, develover swasta dan swadaya masyarakat. Tahun 2007 ini jumlah rumah di Kabupaten Padang Pariaman 76.873 Unit, rumah yang tak layak huni 17.122 unit atau 22% dan 78% layak huni namun masih banyak belum memenuhi persyaratan rumah sehat, misalnya belum memiliki Jamban keluarga, hal ini barangkali disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan atau kebiasaan hidup BAB (buang air Besar) tidak ditempat semestinya. Kualitas lingkungan permukiman tidak terlepas dari jalan lingkung permukiman yang merupakan salah satu prasarana dan sarana dasar yang sangat di butuhkan. Panjang jalan lingkung yang rusak adalah 65 % (275.900) dari panjang jalan lingkung yang ada di Kabupaten Padang Pariaman 425.850 meter. Peningkatan kondisi jalan lingkung serta

Padang Pariaman 425.850 meter. Peningkatan kondisi jalan lingkung serta RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 10
Padang Pariaman 425.850 meter. Peningkatan kondisi jalan lingkung serta RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 10

trotoar setiap tahun selalu diupayakan dalam Dana APBD dan APBN walaupun alokasi anggarannyan belum cukup memadai, pada tahun 2007 telah dianggarkan sebesar Rp. 1.775.651.000,- ( ± 5.000 meter ) kira-kira 1.8% dari kondisi rusak. Anggaran pembangunan drainase dalam APBD tahun 2005 sebesar 291.182.000,-angka ini masih jauh dari yang diharapkan dalam penanganan Drainase Primer dan skunder yang rusak yang dapat menyebabkan daerah rawan banjir.

2.1.2 Gambaran Rencana Penataan Ruang Daerah

1. Rencana Sistem Pusat-Pusat Permukiman

Dari hirarki dan fungsi utama kawasan dapat diturunkan kebutuhan pembangunan

prasarana

Adapun program

utama yang sebaiknya dilakukan/disediakan untuk masing-masing pusat adalah sebagaimana jabaran di bawah ini. 1) Perwujudan PKL Lubuk Alung dilakukan melalui :

yang seharusnya dibangun dalam kerangka

mewujudkan rencana struktur ruang yang telah dirumuskan.

dan

sarana

utama

a. Penyusunan RDTR Kawasan PerKabupatenan Lubuk Alung

b. Peningkatan kapasitas jalan nasional (arteri primer, koridor timur)

c. Pembangunan jalan lingkar (express way)

d. Pembangunan terminal C

e. Penataan dan revitalisasi fasilitas perdagangan

f. Pembangunan rumah sakit madya

g. Peningkatan kapasitas PDAM

2) Perwujudan PKLp Sungai Garingging dilakukan melalui :

a. Penyusunan masterplan agropolis

b. Pembangunan fasilitas/utilitas utama agropolis

c. Pembangunan jalan lingkar

d. Peningkatan kapasitas jalan lokal sekunder (koridor barat)

3) Pembangunan jalan produksi

a. Pembangunan terminal tipe C terpadu dengan sub terminal agribisnis

b. Pembangunan Balai Benih Ikan Lokal

c. Pengembangan PLTMH

4) Perwujudan PPK Sungai Sariak diupayakan melalui :

a. Penyusunan masterplan agropolis

b. Pembangunan fasilitas/utilitas utama agropolis

c. Pembangunan jalan lingkar

d. Pembangunan jalan produksi

e. Pembangunan Infrastruktur pemeliharaaan ternak besar

5) Perwujudan PPK Sicincin diupayakan melalui :

a. Pembangunan dan pengembangan pusat kantor pemerintahan

b. Pembangunan fasilitas perdagangan hasil bumi

c. Peningkatan kapasitas jalan nasional

d. Pembangunan jalan lingkar (express way)

e. Pembangunan Sport Center

f. Pembangunan Balai Benih Ikan Regional

g. Peningaktan dan pengembangan pelayanan PDAM

h. Pengembangan PLTMH

6) Perwujudan PPK Pasar Usang direncanakan melalui :

a. Pembangunan PIP (Padang Industrial Park) pada Kawasan Ekonomi Khusus

: a. Pembangunan PIP (Padang Industrial Park) pada Kawasan Ekonomi Khusus RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
: a. Pembangunan PIP (Padang Industrial Park) pada Kawasan Ekonomi Khusus RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

b. Pembangunan embarkasi haji

c. Pembangunan gerbang bandara kataping

d. Pembangunan PPI Plus (marina real estat, kuliner court, play ground)

e. Peningkatan kapasitas jalan nasional arteri primer

f. Peningkatan pelayanan PDAM

7) Perwujudan PPK Sungai Limau dilakukan melalui :

a. Revitalisasi dan pengembangan fasiltias perdagangan

b. Pembangunan PPI

c. Pembangunan industri pengolahan hasil laut

d. Pembangunan fasilitas penunjang KKLD

e. Pembangunan fasilitas penunjang pariwisata pantai Arta

f. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer

g. Penguatan fungsi PDAM

h. Pengembangan PLTMH

i. Pembangunan perangkat keras dan lunak mitigasi gempa (early warning system, jalur evakuasi/escape road dan bangunan penyelamat)

8) Perwujudan PPL Sintuk direncanakan melalui :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan irigasi

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

c. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer

d. Pembangunan perangkat keras dan lunak mitigasi gempa (early warning

system, jalur evakuasi/escape road dan bangunan penyelamat) 9) Perwujudan PPL Ulakan direncanakan melalui :

a. Revitalisasi pasar tradisional

b. Revitalisasi dan pegnembangan kawasan wisata tradisional makam Syaikh Burhanudin

c. Perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi

d. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer

e. Pembangunan perangkat keras dan lunak mitigasi gempa (early warning system, jalur evakuasi/escape road dan bangunan penyelamat)

10) Perwujudan PPL Pauh Kambar melalui rencana :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan irigasi

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

c. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer

d. Pembangunan perangkat keras dan lunak mitigasi gempa (early warning system, jalur evakuasi/escape road dan bangunan penyelamat)

11) Perwujudan PPL Kayu Tanam melalui rencana :

a. Peningkatan fasilitas dan utilitas penunjang kawasan wisata Malibou Resort dan sekitarnya

b. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer

c. Peningkatan pelayanan Perguruan Tinggi Kayu Tanam

d. Pembangunan rest area dan rumah kuliner

e. Pembangunan rumah hortikultura

f. Pengembangan PLTMH

12) Perwujudan PPL Pakandangan diupayakan melalui :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan irigasi

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

c. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer

pertanian hortikultur c. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 12
pertanian hortikultur c. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 12

13) Perwujudan PPL Tandikek dilakukan melalui :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan irigasi

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

c. Pengembangan PLTMH

d. Pembangunan dan Pemantapan jalan alternatif Express Way

14) Perwujudan PPL Padang Sago diupayakan melalui :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan jalan produksi perkebunan

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur dan perkebunan

15) Perwujudan PPL Kampung Dalam direncanakan melalui :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan jalan produksi perkebunan dan hortikultura

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

c. Pengembangan PLTMH

16) Perwujudan PPL Kudu Ganting diupayakan melalui :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan jalan produksi perkebunan dan hortikultura

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

c. Pengembangan PLTMH

17) Perwujudan PPL Gadang Gasan dilakukan melalui :

a. Perbaikan dan Pembangunan jaringan irigasi

b. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

c. Peningkatan kapasitas jalan nasional kolektor primer

d. Pembangunan perangkat keras dan lunak mitigasi gempa (early warning system, jalur evakuasi/escape road dan bangunan penyelamat)

18) Perwujudan PPL Batu Basa dilakukan melalui :

a. Pembangunan fasilitas penunjang pengolahan hasil pertanian hortikultur

b. Peningkatan kapasitas jalan lokal primer

c. Pengembangan PLTMH

2. Rencana Sistem Prasarana Wilayah

1) Sistem Prasarana Transportasi; untuk mewujudkan sistem jaringan prasarana

transportasi, dilakukan melalui :

a. Transportai darat; pembangunan terminal tipe C Lubuk Alung pembangunan jalan menuju pusat pemerintahan Parit Malintang Pembangunan jalan alternatif express way Peningkatan kapasitas dan pemeliharaan jalan arteri primer (Padang- Bukittinggi), jalan arteri sekunder (Padang-Simpang Empat) dan jalan lokal primer (Sungai Limau-Batu basa-Batas Agam) Pembangunan jaringan rel kereta api (dari Kabupaten Pariaman) sampai kawasan wisata pantai Arta (Batang Gasan) Perbaikan, peningkatan kapasitas dan pemeliharaan jaringan jalan lokal dan lingkungan primer yang menghubungkan PPK dengan PPL dan antar PPL. Pembangunan jalan evakuasi (escape road) dari sisi pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir)

pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD
pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD
pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD
pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD
pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD
pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD
pantai ke arah darat di sepanjang pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD

b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan

pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 13
pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 13
pantai (kawasan pesisir) b. Transportasi Laut; Pembangunan terminal nelayan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 13

Pembangunan Pelabuhan Pendaratan Ikan di Batang Anai dan Sungai Limauc. Transportasi udara; Peningkatan kapasitas dan pengembangan BIM 2) Sistem Jaringan Energi (Listrik) ; Peningakatan

c. Transportasi udara;

Peningkatan kapasitas dan pengembangan BIMIkan di Batang Anai dan Sungai Limau c. Transportasi udara; 2) Sistem Jaringan Energi (Listrik) ;

2)

Sistem Jaringan Energi (Listrik); Peningakatan kapasitas dan cakupan layanan listrik untuk seluruh wilayah Padang Pariaman, terutama :

a. Perluasan jaringan pelayanan listrik sampai pada kawasan perdesaan

b. pengembangan PLTMH pada kawasan perdesaan yang mempunyai ketersediaan sumber daya air yang memadai.

c. Penyempurnaan gardu induk (Lubuk Alung dan PIP) dan peningkatan kapasitas layan untuk kawasan perKabupatenan terutama untuk kawasan industri PIP, perKabupatenan Pasar Usang-Sicincin, pusat perkantoran dan kawasan BIM.

d. Pembangunan gardu induk di Sungai Garingging untuk peningkatan pelayanan listrik wilayah utara

3)

Sistem Jaringan Telekomunikasi; untuk mewujudkan pelayanan telekomunikasi yang optimal dilakukan :

a. pengaturan penempatan menara telekomunikasi secara efektif dan efisien dengan mendorong pengguanaan menara bersama antara operator (join operation)

b. pengembangan jaringan dan pelayanan informasi dan telekomunikasi sampai pada kawasan perdesaan.

c. Pengembangan dan peningaktan pelayanan telekomunikasi dan informasi untuk pelayanan publik dan usaha

4) Sistem Jaringan Sumber Daya Air; pemanfaatan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air, dilakukan melalui :

a. Pemanfaatan sumber daya air untuk;

pembangkit tenaga listrik (PLTA dan atau PLTMH),dilakukan melalui : a. Pemanfaatan sumber daya air untuk; bahan baku air mimun (kemasan dan atau

bahan baku air mimun (kemasan dan atau air minum/PDAM)air untuk; pembangkit tenaga listrik (PLTA dan atau PLTMH), bahan baku pengarian sawah (irigasi) sarana rekreasi

bahan baku pengarian sawah (irigasi)bahan baku air mimun (kemasan dan atau air minum/PDAM) sarana rekreasi dan olah raga budidaya perikanan

sarana rekreasi dan olah ragaatau air minum/PDAM) bahan baku pengarian sawah (irigasi) budidaya perikanan air tawar b. Pengendalian daya rusak

budidaya perikanan air tawarbaku pengarian sawah (irigasi) sarana rekreasi dan olah raga b. Pengendalian daya rusak air melalui :

b. Pengendalian daya rusak air melalui :

Pembangunan sistem drainase pada kawasan permukiman, areal rawan longsor dan sepanjang sisi jalanperikanan air tawar b. Pengendalian daya rusak air melalui : Normalisasi sungai Pembangunan cekdam pada hulu

Normalisasi sungaipermukiman, areal rawan longsor dan sepanjang sisi jalan Pembangunan cekdam pada hulu sungai Sistem pengamanan pantai

Pembangunan cekdam pada hulu sungairawan longsor dan sepanjang sisi jalan Normalisasi sungai Sistem pengamanan pantai dilakukan melalui pendekatan

Sistem pengamanan pantai dilakukan melalui pendekatan struktur dan non struktur; pendekatan struktur adalah dengan menggunakan bangunan buatan seperti bangunan penahan gelombang, turap, tanggul dan sejenisnya. Pendekatan non struktural adalah dengan pendekatan alamiah, seperti pelestarian dan pengembangan sendun, bakau, cemara laut dan sejenisnya.jalan Normalisasi sungai Pembangunan cekdam pada hulu sungai 5) Sistem Jaringan Prasarana Permukiman ; untuk mewujudkan

5) Sistem Jaringan Prasarana Permukiman; untuk mewujudkan kawasan permukiman yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan akan dilakukan melalui :

yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan akan dilakukan melalui : RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 14
yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan akan dilakukan melalui : RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 14

a. Pembangunan TPST untuk kawasan perKabupatenan pada koridor Batang Anai-Kayu Tanam dan TPS di masing-masing PPK dan PPL

b. Pembangunan IPAL pada kawasan per Kabupaten Sicincin, Lubuk Alung, Pasar Usang dan kawasan industri PIP

c. Penyediaan air bersih untuk setiap pusat permukiman dan kawasan wisata

d. Pembangunan sistem jaringan drainase untuk kawasan perKabupatenan, kawasan industri PIP, pusat perdagangan (CBD) dan kawasan pariwisata.

3. Perwujudan Rencana Pola Ruang

A. Kawasan Lindung Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Pengelolaan kawasan lindung secara baik dan benar, dapat megurangi tingkat bahaya bencana alam yang ditimbulkan seperti banjir, longsor, pendangkalan waduk, kekeringan, dan sebagainya. Selain bencana alam kerusakan kawasan lindung juga menimbulkan bencana sosial akibat hilangnya aset hidup yang seharusnya diperoleh masyarakat. Untuk pola ruang kawasan lindung dibedakan antara kawasan lindung berdasarkan status dan karena faktor kelerengan, ketinggian, sempadan dan kerawanan terhadap berbagai bencana alam maupun geologi.

Kawasan Hutan lindung yang terdapat dan direncanakan di wilayah Kabupaten Padang Pariaman adalah :

a. Hutan Lindung dan HSAW tersebar di Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Sungai Geringging, V Koto Kampung Dalam, V Koto Timur, Patamuan, 2x11 Kayu Tanam, Lubuk Alung dan Batang Anai, yang luasnya sekitar 24,24 % dari seluruh luas Kabupaten Padang Pariaman. Adapun keberadaan Hutan Suaka Alam Wisata adalah bagian dari Kawasan Lindung bersama Hutan Lindung berdasarkan kekhasan jenis flora dan faunanya dilindungi.

1)

b. Cagar Alam Maninjau Utara dan Selatan (17.304 Ha), bagian selatan merupakan wilayah Kabupaten Padang Pariaman

c. Cagar Alam Gunung Singgalang Tandikat (9.658 Ha) di Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar

d. Cagar Alam Barisan I (74.821 Ha) di Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok

e. Kawasan Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut Pulau Panjang (1.980 Ha) di Kabupaten Padang Pariaman.

f. Kawasan Pantai Berhutan Bakau, kawasan ini ditetapkan di kawasan pantai Kabupaten Padang Pariaman

g. Kawasan Taman Wisata Alam Laut merupakan kawasan lindung nasional di

Pulau Pieh (39.000 Ha) Kabupaten Padang Pariaman. Secara keseluruhan Berdasarkan SK Men.Hut. No.304/Menhut-1/2011 tanggal 14 Nopember 2011 luas kawasan hutan Kabupaten Padang Pariaman ± 132.879 Ha yang terdiri dari : (1) Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam ± 15.643 Ha, (2) Hutan Lindung (HL) ± 1.552 Ha dan areal Penggunaan lain (APL) seluas 101.896 Ha.

Lindung (HL) ± 1.552 Ha dan areal Penggunaan lain (APL) seluas 101.896 Ha. RPJMD KAB. PADANG
Lindung (HL) ± 1.552 Ha dan areal Penggunaan lain (APL) seluas 101.896 Ha. RPJMD KAB. PADANG

2)

Kawasan yang Memberikan Perlindungan terhadap kawasan Bawahannya Dalam hal ini berupa kawasan sempadan mata air dan kawasan dengan kelerengan diatas 40%. Untuk kawasan dengan kriteria ini di Kabupaten Padang Pariaman lokasinya berdekatan dan sebagian berhimpitan yaitu pada kawasan perbukitan yang terdapat di bagian utara dan timur kabupaten Padang Pariaman, tepatnya di di bagian utara wilayah Padang Pariaman yang meliputi bagian timur kecamatan Koto Aur Malintang, bagian utara kecamatan Sungai Garingging, V Koto dalam, V Koto Timur, bagian timur kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Lubuk Alung dan Batang Anai dengan luas lebih kurang 2.031,17 Ha.

3) Kawasan perlindungan setempat; yang dalam hal ini berupa sempadan

terhadap laut, sungai, sempadan sesar dan pertemuan antar sesar. Berdasarkan ketentuan yang berlaku minimal lebar sempadan pantai adalah 100 meter dari pasang tertinggi ke arah darat. Sempadan pantai di Kabupaten Padang Pariaman mencapai panjang 60,5 Km, meliputi seluruh kecamatan di kawasan pesisir yaitu Kecamatan Batang Anai, Ulakan Tapakis, Sungai limau dan Batang Gasan. Kendati mengalami penurunan namun sampai saat ini masih terdapat hutan bakau (mangrove) pada kecamatan-kecamatan pesisir seluas 121,08 Ha. Untuk sempadan sungai tersebar diseluruh wilayah kecamatan. Demikian halnya dengan sungai, lebar sempadan minimal 100 meter, sedangkan untuk sungai yang melintasi kawasan permukiman sempadan sungai dapat disesuaiakan, namun minimal lebar sempadan 5 meter dengan syarat berupa sempadan struktural (turap). Sempadan sungai dikembangkan pada seluruh aliran sungai yang ada di kabupaten, baik yang mengalir di kawasan permukiman maupun di luar kawasan permukiman dengan luas lebih kurang 4.721,37 Ha. Sementara itu berdasarkan peta patahan dan dengan lebar sempadan 100 meter, maka luas sempadan patahan lebih kurang 4.771,76 Ha dan sempadan pada pertemuan antar sesar lebih kurang 3.141,17 Ha. Kawasan sempadan sesar yang melintasi wilayah kabupaten arah barat laut-tenggara sedangkan kawasan pertemuan antara dua atau lebih sesar yang belum rekah, terdapat di Kecamatan V Koto Aur Melintang, Sungai Geringging, Sungai Limau, Sungai Sarik, Lubuk Alung dan Batang Anai Kawasan Rawan Bencana;

4)

a. Kawasan Rawan Tsunami; meliputi seluruh kawasan pesisir yaitu bagian barat dari kecamatan Batang Anai, Sintuk Toboh Gadang, Nan Sabaris Ulakan Tapakis, Sungai Limau dan Batang Gasan. Potensi gelombang pasang atau tsunami bervariasi dari utara ke selatan, karena bagian selatan lebih landai (pesisir pada Kecamatan batang Anai dan Ulakan Tapakis) sehingga dampak tsunami lebih besar pada kedua kecamatan ini. Klasifikasi zona rawan bencana tsunami :

kecamatan ini. Klasifikasi zona rawan bencana tsunami : Zona Kerawanan tinggi, wilayah dengan jarak garis pantai

Zona Kerawanan tinggi, wilayah dengan jarak garis pantai 50 m, sepanjang pantai dengan ketinggian kontur kurang dari 10 m dpl. Zona Kerawanan menengah yaitu daerah sepanjang pantai dengan kontur ketinggian 10 - 15 m dpl, dengan kemiringan lereng cukup terjal. Zona kerawanan rendah yaitu wilayah sepanjang pantai dengan ketinggian 15 - 30m dpl, dengan morfologi curam dan relief tinggi atau berbukit, dan daerah ini dapat dimanfaatkan untuk evakuasi dan lokasi pengungsian b. Kawasan Rawan Banjir, Secara alamiah, pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan di atas normal, sehinggasistim pengaliran air

oleh curah hujan yang tinggi dan di atas normal, sehinggasistim pengaliran air RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN
oleh curah hujan yang tinggi dan di atas normal, sehinggasistim pengaliran air RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN
oleh curah hujan yang tinggi dan di atas normal, sehinggasistim pengaliran air RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN
oleh curah hujan yang tinggi dan di atas normal, sehinggasistim pengaliran air RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN

yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap. Kemampuan/daya tampung sistem pengaliran air berkurang akibat sedimentasi, maupun penyempitan sungai akibat fenomena alam dan manusia. Secara umum pada sebuah sistem aliran sungai yang memiliki tingkat kemiringan (gradien) sungai yang relatif tinggi (lebih dari 30%) apabila di bagian hulunya terjadi hujan yang cukup lebat, maka potensi terjadinya banjir bandang relatif tinggi. Tingkat kemiringan sungai yang relatif curam ini dapat dikatakan sebagai faktor "bakat" atau bawaan. Sedangkan curah hujan adalah salah satu faktor pemicu. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan (catchment area) juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena debit/pasokan air yang masuk ke dalam sistem pengaliran air menjadi tinggi sehingga melampaui kapasitas pengaliran dan menjadi pemicu terjadinya erosi pada lahan curam yang menyebabkan terjadinya sedimentasi di sistem pengaliran air dan wadah air lainnya. Disamping itu berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi atas meningkatnya debit banjir. Pada daerah permukiman dimana telah padat dengan bangunan sehingga tingkat resapan air kedalam tanah berkurang, jika terjadi hujan dengan curah hujan yang tinggi sebagian besar air akan menjadi aliran permukaan yang langsung masuk kedalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan mengakibatkan banjir. Penyebab dari bencana alam banjir di Kabupaten Padang Pariaman yaitu dipengaruhi oleh curah hujan cukup tinggi, tipe dan karakter daerah, kondisi daerah tangkapan air sedikit, kurangnya kualitas dan kuantitas drainase dan kurangnya pengelolaan daerah konservasi. Secara umum bencana banjir yang terjadi adalah akibat kondisi drainase yang kurang baik sehingga saat hujan terjadi genangan serta terjadinya kerusakan hutan di hulu sungai yang mengakibatkan erosi dan banjir. Daerah rawan banjir di Kabupaten Padang Pariaman yaitu di Kecamatan Batang Anai, Ulakan Tapakis, Sintuk Toboh Gadang, Lubuk Alung, Nan Sabaris, V Koto Kampung Dalam, Sungai Limau, Batang Gasan, dan 2x11 Enam Lingkung. c. Rawan Longsor; Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material yang bergerak ke bawah atau keluar lereng. Tanah longsor adalah suatu jenis gerakan tanah, umumnya gerakan tanah yang terjadi adalah longsor bahan rombakan (debris avalanches) dan nendatan (slumps/rotational slides). Gaya-gaya gravitasi dan rembesan (seepage) merupakan penyebab utama ketidakstabilan (instability) pada lereng alami maupun lereng yang di bentuk dengan cara penggalian atau penimbunan. Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup dan penggunaan lahan pada lereng tersebut, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alami dan manusia. Kondisi alam yang menjadi faktor utama terjadinya longsor antara lain :

Kondisi geologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung, struktur sesar dan kekar, gempa bumi, stratigrafi dan gunung api.yang menjadi faktor utama terjadinya longsor antara lain : Iklim : curah hujan yang tinggi. Keadaan

Iklim : curah hujan yang tinggi.sesar dan kekar, gempa bumi, stratigrafi dan gunung api. Keadaan topografi : lereng yang curam. RPJMD

Keadaan topografi : lereng yang curam.kekar, gempa bumi, stratigrafi dan gunung api. Iklim : curah hujan yang tinggi. RPJMD KAB. PADANG

api. Iklim : curah hujan yang tinggi. Keadaan topografi : lereng yang curam. RPJMD KAB. PADANG
api. Iklim : curah hujan yang tinggi. Keadaan topografi : lereng yang curam. RPJMD KAB. PADANG

Keadaan tata air : kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika.Tutupan lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis. Gejala umum terjadinya tanah longsor :

Tutupan lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis. Gejala umum terjadinya tanah longsor :massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika. Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah

Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing;tanah kritis. Gejala umum terjadinya tanah longsor : Biasanya terjadi setelah hujan; Munculnya mata air baru

Biasanya terjadi setelah hujan;retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing; Munculnya mata air baru secara tiba-tiba; Tebing rapuh

Munculnya mata air baru secara tiba-tiba;sejajar dengan arah tebing; Biasanya terjadi setelah hujan; Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. Daerah rawan

Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. Daerah rawan longsor dijumpai di daerah-daerah yang memiliki lereng lebih dari 40% dengan tekstur tanah berpasir, gawir dan patahan, Potensi longsor dapat juga disebabkan oleh lapisan kedap air yang dapat menjadi longsoran. Lokasi daerah yang termasuk sebagai kawasan rawan longsor ini adalah:setelah hujan; Munculnya mata air baru secara tiba-tiba; Kecamatan Sungai Geringging, Kecamatan 2 x 11 Enam

Kecamatan Sungai Geringging, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung, Kecamatan Batang Gasan, Kecamatan V Koto Kampung Dalam,Kecamatan Sungai Limau, Kecamatan IV Koto Aur Malintang.

d. Rawan Liquifaksi; atau rawan mengalami pelulukan tanah bila terjadi gempa pada skala diatas 7,2 skala Ritcher. Ciri khas kawasan liquifaksi ini adalah akibat yang ditimbulkannya berupa penurunan bangunan atau seakan-akan bangunan masuk ke dalam tanah. Untuk Padang Pariaman kawasan rawan liquifaksi tersebar pada Kecamatan Batang Anai, Ulakan Tapakis, Sintuk Toboh Gadang, Enam Lingkung, Lubuk Alung, Nan Sabaris, VII Koto Sei Sariak, Sungai Limau, Batang Gasan.

e. Rawan Gempa; pada dasarnya seluruh wilayah Padang Pariaman adalah kawasan rawan gempa. Daya rusak gempa umumnya semakin tinggi bila mengenai wilayah yang jenuh air (liquifaksi) dan pada jalur sesar (patahan) serta pertemuan antar sesar yang belum mengalami patahan (rekahan). Jalur sesar di Kabupaten Padang Pariaman melintasi bagian selatan -barat kecamatan Batang Gasan dan Sungai Limau, bagian tengah kecamatan V Koto Dalam, V Koto Timur, Padang Sago, 2x11 Enam Lingkung dan 2x11 Kayu Tanam. Terdapat 3 patahan yang saling melintang utara-selatan dan barat-timur di Kecamatan Batang Anai dan Lubuk Alung serta memanjang disisi pantai di kecamatan Ulakan Tapakis dan Nan Sabaris. Sementara itu areal yang diperkirakan lebih rawan dari jalur sesar adalah area pertemuan antar sesar yang belum rekah. Areal ini terdapat di Sungai Limau, VII Koto Sei Sariak, Nan Sabaris, Lubuk Alung dan Batang Anai. Jalur dan area patahan ini akan menjadi limitasi dalam pembangunan permukiman.

f. Rawan Bencana Vulaknisme; Letusan gunung api adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui Rekahan rekahan mendekati permukaan bumi. Akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik adalah sebagai berikut. Awan Panas, merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) terdorong ke bawah akibat densitas yang tinggi dan merupakan adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang

adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 18
adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 18

menyusuri lereng. Selain suhunya sangat tinggi, antara 300 - 700° Celcius, kecepatan lumpurnyapun sangat tinggi,> 70 km/jam (tergantung kemiringan lereng). Lontaran Material (pijar),terjadi ketika letusan (magmatik) berlangsung. Jauh lontarannya sangat tergantung daribesarnya energi letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya. Selain suhunya tinggi (>200°C), ukuran materialnya pun

besar dengan diameter > 10 cm sehingga mampu membakar sekaligus melukai, bahkan mematikan mahluk hidup. Lazim juga disebut sebagai "bom vulkanik". Hujan Abu lebat, terjadi ketika letusan gunung api sedang berlangsung. Material yang berukuran halus (abu dan pasirhalus) yang diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan abu dan arahnya tergantung dari arah angin. Karena ukurannya yang halus, material ini akan sangat berbahaya bagi pernafasan, mata, pencemaran air tanah, pengrusakan tumbuh tumbuhandan mengandung unsur- unsur kimia yang bersifat asam sehingga mampu mengakibatkan korosi terhadap seng dan mesin pesawat. Lava, merupakan magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid (cairan kental dan bersuhu tinggi, antara 700 -1200°C. Karena cair, maka lava umumnya mengalir mengikuti lereng dan membakar apa saja yang dilaluinya. Bila lava sudah dingin, maka wujudnya menjadi batu (batuan beku) dan daerah yang dilaluinya akan menjadi ladang batu. Gas Racun, muncul tidak selalu didahului oleh letusan gunung api sebab gas ini dapat keluar melalui rongga- rongga ataupun rekahan-rekahan yang terdapat di daerah gunung api. Gas utama yang biasanya muncul adalah CO2, H2S,HCl, SO2, dan CO. Kawasan yang rawan terhadap bahaya vulkanik yang berasal dari Gunung Singgalang meliputi Kecamatan V Koto Timur, Kecamatan Patamuan dan Kecamatan 2x11 Kayu Tanam

g. Kawasan Lindung Lainnya; berdasarkan kebijakan sektoral Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, di kawasan Kecamatan Batang Gasan ditetapkan Kawasan Konservasi Suaka Pesisir (KKSP). Dalam KKSP ini terdapat penangkaran penyu dan hutan bakau.

B. Kawasan Budidaya

1)

Kawasan hutan rakyat; berdasarkan data yang diperoleh di Padang Pariaman

2)

tidak terdapat hutan produksi kecuali hutan rakyat seluas lebih kurang 42.120 Ha yang tersebar di bagian timur Kecamatan Batang Anai, Lubuk Alung, 2x11 Kayu Tanam, di bagian utara Kecamatan Patamuan, V Koto Timur, V Koto Dalam, Sungai Garingging dan bagian timur Kecamatan Aur Melintang. Namun kondisi hutan sebagian mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian dan sebagian menjadi kritis. Kawasan pertanian; kawasan pertanian berdasarkan kepmentan No. 41 tahun 2009, dibedakan menjadi kawasan pertanian pangan lahan kering dan basah, pertanian hortikultura, perkebunana dan peternakan. Kabupaten Padang Pariaman di dominasi oleh kegiatan sektor pertanian (± 22,57% dari seluruh luas wilayah) berupa sub sektor/kegiatan TPLB dan TPLK, perladangan/kebun campuran, perkebunan, dan tambak. Mengingat tingkat kepadatan penduduk yang relatif lebih rendah, maka luas lahan yang tersedia masih dapat di kembangkan lebih jauh untuk kegiatan sektor pertanian. Berdasarkan kondisi eksisting dan kesesuaian lahan, pengembangan kawasan pertanian direncanakan sebagaimana penjelasan di bawah ini :

kawasan pertanian direncanakan sebagaimana penjelasan di bawah ini : RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 19
kawasan pertanian direncanakan sebagaimana penjelasan di bawah ini : RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 19

Tanaman Pangan Lahan Kering; dalam ilmu pertanian jenis pertanian ini dikenal dengan pertanian tanpa genangan atau unirrigated land, sepertitanaman palawija, kacang-kacangan, jagung dan lain-lain (Tejoyuwono, 1989). Secara

eksisting jenis tanaman pertanian lahan kering yang bertumbuh di Lampung Barat adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang kedelai, kacang hijau dan kacang tanah. Jenis pertanian lahan kering ini dikembangkan pada lahan yang bersesuaian, baik berdasarkan peta kesesuaian lahan maupun fakta lapangan. Sesuai dengan kesesuaian lahan, potensi eksisting dan program sektoral, TPLK

di Kabupaten Padang Pariaman dikembangkan hampir di seluruh kecamatan.

Tanaman Pangan Lahan Basah; Kabupaten Padang Pariaman merupakan salah satu lumbung padi, setidak-tidaknya untuk kawasan Padang dan sekitarnya. Selain menjadi penciri wilayah disepanjang koridor jalan nasional

lebih penting dari itu keberadaan kawasan pertanian padi sawah merupakan bagian dari program ketahanan pangan nasional. TPLB di wilayah perencanaan dikembangkan di kecamatan Batang Anai, Lubuk Alung, Ulakan Tapakis, Nan Sabaris, VII Koto Sungai Sariak, 2x11 Kayu Tanam, V oto Kampung Dalam, Sungai Garingging dan Koto Aur Malintang. Lahan pertanian sawah yang beririgasi teknis dikembangkan di Batang Anai, Lubuk Alung dan Ulakan Tapakis. Tanaman Hortikultura; Selain Kabupaten Solok, Padang Panjang dan Agam, Padang Pariaman merupakan salah satu sumber penghasil sayur mayur yang dikirim ke Kota Padang, seperti bayam, kangkung, mentimun dan buah-buahan (terutama manggis dan mangga). Lahan pertanian hortikultura dikembangkan pada lahan subur seperti Batang Anai, Lubuk Alung, 2x11 Kayu Tanam, dan Sungai Garingging. 3) Kawasan perkebunan; komoditas unggulan perkebunan kabupaten Padang Pariaman adalah Kelapa dan Kakao. Kedua jenis tanaman ini berkembang di wilayah utara kawasan perencanaan. Kedepan direncanakan Sungai Garingging sebagai sebagai sentra pengembangan Kakao dan pengolahan kelapa. Pengembangan Kako meliputi kecamatan Lubuk Alung, Sitoga, Enam Lingkung,

V Koto Dalam, Sungai Limau dan Sungai Garingging. Sedangkan kelapa akan

dikembangkan di kecamatan Sitoga, Ulakan Tapakis, V KotoKampung Dalam, Sungai Garingging, V Koto Aur Melintang, Sungai Limau, Batang Gasan. Perikanan; perikanan yang akan dikembangkan di Kabupaten Padang Pariaman adalah perikanan tangkap dan budidaya. Pengembangan perikanan tangkap (laut) akan diarahkan di Sungai Limau dan Batang Anai. Sementara itu untuk

4)

perikanan budidaya akan dikembangkan di Kecamatan Lubuk Alung, 2x11 Enam Lingkung, VII Koto Sungai Sariak dan kecamatan Patamuan. 5) Pertambangan; Dalam mengelola usaha pertambangan, pemerintah menetapkan wilayah pertambangan (WP), yang terdiri dari wilayah usaha pertambangan (WUP), wilayah pertambangan rakyat (WPR) dan wilayah pencadangan negara (WPN).

Wilayah usaha pertambangan (WUP), adalah bagian dari wilayah pertambangan (WP) yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi. WUP ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi.rakyat (WPR) dan wilayah pencadangan negara (WPN). Wilayah pertambangan rakyat (WPR), adalah bagian dari

Wilayah pertambangan rakyat (WPR), adalah bagian dari wilayah pertambangan (WP) tempat dilakukannya usaha pertambangan rakyat.ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 20

dari wilayah pertambangan (WP) tempat dilakukannya usaha pertambangan rakyat. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 20
dari wilayah pertambangan (WP) tempat dilakukannya usaha pertambangan rakyat. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 20
WPR ditetapkan oleh bupati/walikota, sesuai pasal 21, UU nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan. Kriteria

WPR ditetapkan oleh bupati/walikota, sesuai pasal 21, UU nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan. Kriteria untuk menetapkan wilayah pertambangan rakyat (WPR) adalah :

a. Mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau di antara tepi dan tepi sungai;

b. Mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal 25 (dua puluh lima) meter;

c. Endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;

d. Luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua puluh lima) hektare;

e. Menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau

f. Merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah

dikerjakan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun. Wilayah pencadangan negara (WPN), adalah bagian dari wilayah pertambangan (WP) yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional. Penetapan wilayah pencadangan negara (WPN) dilakukan oleh pemerintah pusat dengan tetap memperhatikan aspirasi daerah sebagai daerah yang dicadangkan untuk komoditas tertentu dan daerah konservasi dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan. WPN yang ditetapkan untuk komoditas tertentu dapat diusahakan sebagian luasnya, sedangkan WPN yang ditetapkan untuk konservasi ditentukan batasan waktunya. WPN yang diusakan sebagaian luasnya statusnya berubah menjadi wilayah usaha pertambangan khusus (WUPK). Perubahan status WPN menjadi WPUK dapat dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut :

a. Pemenuhan bahan baku industri dan energi dalam negeri;

b. Sumber devisa negara;

c. Kondisi wilayah didasarkan pada keterbatasan sarana dan prasarana;

d. Berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi;

e. Daya dukung lingkungan; dan/atau

f. Penggunaan teknologi tinggi dan modal investasi yang besar.

Bahan galian / tambang yang ada di Kabupaten Padang Pariaman berupa bahan bangunan dan bahan industri yang dikategorikan sebagai bahan galian golongan C yang tersebar hampir merata di seluruh Kecamatan yang ada di Wilayah ini. Adapun beberapa jenis bahan galian tersebut adalah (1) Tanah uruk berbatu yang terdapat di Kec. Batang Anai, Lubuk Alung, Sintuk Toboh Gadang, Enam Lingkung, 2 x 11 Kayu Tanam, VII Koto Sungai Sarik, Patamuan, V Koto Kampung Dalam, V Koto Timur, Sungai Limau, Sungai Geringging, dan IV Koto Aur Malintang. Dengan cadangan sebesar 2.975.000 m 3 dan produksi 180.000 m 3 .(2) Obsidian atau batu gelas yang terdapat di Kec. IV Koto Aur Malintang dengan cadangan sebesar 257.000 m 3 yang baru dihasilkan sebanyak 10.000 m3.; (3) Batu apung atau perlit juga terdapat di Kec. IV Koto Aur Malintang dengan cadangan sebesar 140.000 m 3 dan yang sudah diproduksi baru 5000 m 3 (4) Trass pasiran yang terdapat di Kec. Sungai Geringging dengan cadangan sebesar 75.000 m 3 . (5) Trass yang terdapat di Kec. Lubuk Alung, Sintuk Toboh Gadang, 2 x 11 Enam Lingkung, Enam Lingkung, VII Koto Sungai Sarik, Patamuan, V Koto Kampung Dalam, V Koto Timur, Sungai Limau, Batang Gasan, Sungai Geringging dan VI Koto Aur Malintang dengan jumlah cadangansebesar 4.190.000 m 3 dan yang telah

Koto Aur Malintang dengan jumlah cadangansebesar 4.190.000 m 3 dan yang telah RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN
Koto Aur Malintang dengan jumlah cadangansebesar 4.190.000 m 3 dan yang telah RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN

diproduksi baru mencapai 18000 m 3 .(6) Trass berbatu apung yang terdapat di Kec. VII Koto Sungai Sarik, V Koto Kampung Dalam, Sungai Limau dan sungai geringging dengan jumlah cadangan sebesar 1.045.000 m3 dan yang telah diproduksi bareu mencapai 25000 m3 (7) Sirtukil yang terdapat di Kec. Batang Anai, Lubuk Alung, Sintuk Toboh Gadang, Nan Sabaris, 2 x 11 Enam Lingkung, 2 x 11 Kayu Tanam, VII Koto Sungai Sarik, Patamuan, Padang Sago, V Koto Kampung Dalam, V Koto Timur, Sungai Limau dan Sungai Geringging dengan jumlah cadangan sebesar 2.635.000 m3 dengan jumlah produksi sebesar 170.000 m3, (8) Andesit yang terdapat di Kec. Lubuk Alung, 2 x 11 Enam Lingkung, 2 x 11 Kayu Tanam dan Patamuan dengan cadangan sebesar 1185000 m3 dan yang sudah di produksi sebesar 45000 m3, (9)Tanah liat terdapat di Kec. Lubuk Alung, Sintuk Toboh Gadang, Enam Lingkung, VII Koto Sungai Sarik, Patamuan, V Koto Kampung Dalam, V Koto Timur dan Sungai Limau dengan jumlah cadangan sebesar 785.000 m3 dan yang sudah di produksi sebesar 90.000 m 3 . 6) Kawasan Industri; pengembangan industri di Kabupaten Padang Pariaman diarahkan pada industri pengeolahan hasil pertanian, perkebunan dan perikanan setempat disamping memanfaatkan posisi strategis sebagai buffer dari kota padang. Posisi strategis tersebut telah memberikan indikasi kuat seperti bergiatnya 3 perusahaan besar; yaitu PT. Coca Cola, PT. Bumi Sari Mas Indonesia, PT. Sumatera Tropical Specees, Sedangkan perusahaan - perusahaan yang masuk dalam kawasan Padang Industrial Park (PIP) yang terletak di Nagari Kasang (Kecamatan Batang Anai) adalah PT. Usaha Inti Padang (pengolahan sawit), PT. Andalas Lumber Product (pengolahan kayu ekspor), PT. Jaya Centricon (Industri Beton), PT. Prizaco Gasindo (pengisian dan pengolahan gas). Demikian pula terdapat Koperasi Unit Desa Mina Sinar Laut yang mengelola pabrik ES balok (Kec. Sungai Limau), serta Pengolahan Air Minum Kemasan (PT. Statika Mitra Sarana dan PT. Aqua Wibawa) yang berada di Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam. Saat ini Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman sedang mengusulkan kawasan ini dikembangkan dan ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus. Pada kawasan ini juga akan dikembangkan terminal barang (dry port) sebagai bagian dari peran yang diambil oleh Padang Pariaman dalam konstelasi regional berkenaan dengan sistem lalu lintas barang, dimana posisi kawasan ini menjadi simpul antara wilayah luar dengan daerah- daerah di Sumatera Barat. 7) Kawasan Pariwisata; salah satu kawasan wisata yang populer saat ini di Sumatera barat adalah Malibou Anai Resort yang berdekatan dengan air terjun lembah Anai. ODTW yang dikembangkan di Kabupaten Padang Pariaman meliputi wisata alam, budaya, minat khusus seperti Pantai Arta, Pemandian Tirta Alami, Panorama Gunung Tigo, Lubuk Bonta dan lain-lain. Untuk lebih lengkapnya dijabarkan pada tabel di bawah ini.

Bonta dan lain-lain. Untuk lebih lengkapnya dijabarkan pada tabel di bawah ini. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN
Bonta dan lain-lain. Untuk lebih lengkapnya dijabarkan pada tabel di bawah ini. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN

TABEL 2.4 OBYEK WISATA PERKECAMATAN DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN

KECAMATAN

 

OBJEK

LOKASI

JENIS

1. Batang Anai

Singa Pasar Usang

Batang Anai

Wisata Alam

Candi Bukit Raf

Pasar Usang

Wisata Budaya

Gosong Muara Anai

Katapiang

Wisata Alam

Panorama Bukik Apik

Lubuak Apik

Wisata Alam

Lubuk Kandih

Batang Anai

Wisata Alam

2. Lubuk Alung

Pemandian Tapian Puti

Sikabu

Wisata Alam

Pincuran Tujuah

Koto Buruak

Wisata Alam

Lubuk Cimantung

Pasir Pauh

Wisata Alam

Goa Salibutan

Salibutan

Wisata Alam

Masjid IV Lingkung

Lubuk Alung

Wisata Sejarah

3. Sintuk Toboh

Benteng Jepang

Sintuk

Wisata Sejarah

Gadang

Tugu Batas Renville

Sintuk

Wisata Sejarah

Makam Pejuang 45

Sintuk

Wisata Sejarah

4. Ulakan Tapakis

Makam Syeh Burhanuddin

Ulakan

Wisata Budaya

Pantai Tirta Bahari Pantai Tiram Ulakan

Tiram Tapakis

Wisata Pantai

Tiram Ulakan

Wisata Pantai

S.

Besar Syeh Burhanudin

Ulakan

Wisata Pantai

S.

Tua Syeh Burhanuddin

Ulakan

Wisata Sejarah

Mesjid Tapakis

Tapakis

Wisata Sejarah

Makam Tuanku Nan Basaruang

Ulakan

Wisata Sejarah

Surau Pondok

Ulakan

Wisata Sejarah

Makam Sibohong

Ulakan

Wisata Sejarah

Pulau Pieh

Ulakan

Wisata Bahari

5. Nan Sabaris

Pantai Sunur

Sunur

Wisata Pantai

Ikan Larangan

Pauh Kambar

Wisata Minat Khusus

Sunur Wisata Pantai Ikan Larangan Pauh Kambar Wisata Minat Khusus RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 23
Sunur Wisata Pantai Ikan Larangan Pauh Kambar Wisata Minat Khusus RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 23
 

KECAMATAN

OBJEK

LOKASI

JENIS

   

Makam Syeh M. Hatta

Kapalo Koto

Wisata Sejarah

Benteng Jepang

Pauh Kambar

Wisata Sejarah

Makam Syeh A. Rahman

Pauh Kambar

Wisata Sejarah

Surau Bintungan Tinggi

Bintungan Tinggi

Wisata Sejarah

Benteng Belanda

Pauh Kambar

Wisata Sejarah

6.

2

x 11 Enam

Ikan Gadang

Sicincin

Wisata Minat Khusus

Lingkung

Terowongan Jepang

Sicincin

Wisata Sejarah

Surau Atap Ijuk

Sicincin

Wisata Sejarah

Panorama Puncak Kiambang

Parit Malintang

Wisata Alam

7.

Enam Lingkung

Masjid Pakandangan

Pakandangan

Wisata Sejarah

Makam Gujarad

Gadur

Wisata Sejarah

Makam Syeh Mato Aia

Pakandangan

Wisata Sejarah

8.

2

x 11 Kayu Tanam

Kawasan Wisata Anai

Kayu Tanam

Wisata Alam

 

Bumi Perkemahan

Asam Pulau

Wisata Minat Khusus

Air Terjun Batang Piaman

Kayu Tanam

Wisata Alam

Air Terjun Ngungun

Anduriang

Wisata Alam

Pemandian Tirta Alami

Kandang IV

Wisata Alam

Malibo Anai

Guguk

Wisata Alam

Lubuk Bonta

Tarok

Wisata Alam

Bumi Perkemahan

Sipisang

Wisata Minat Khusus

9.

VII Koto Sungai

Panorama Bukik Selasiah

Sei Ibuh

Wisata Alam

Sariak

Mesjid Tua VII Koto

Sungai Sariak

Wisata Sejarah

Gobah Tuangku Salih

Sungai Sariak

Wisata Sejarah

Mesjid Tua Barangan

Lurah Ampalu

Wisata Sejarah

Gelanggang Pacu Kuda

Paguh Duku

Wisata Minat Khusus

Agro Wisata Lebah Madu

Lurah Ampalu

Wisata Minat Khusus

10.

Patamuan

Mangun Indah

Paraman Talang

Wisata Alam

Panorama Gunung Tigo

Lareh Nan Panjang

Wisata Alam

11.

Padang Sago

Makam Tuanku Saliah

Koto Dalam

Wisata Sejarah

12.

V

Koto Kp Dalam

Pantai Pasar Baru

Cimpago

Wisata Pantai

 

Air Terjun Langkuik

Koto Hilalang

Wisata Air Terjun

13.

V

Koto Timur

Mesjid Tua Batang Piaman

Padang Alai

Wisata Sejarah

 

Laga-laga Batang Piaman

Batang Piaman

Wisata Budaya

Mesjid Tua Limau Purut

Limau Purut

Wisata Sejarah

Makam Tuanku Johor

Limau Purut

Wisata Sejarah

14.

Sungai Limau

Pantai Arta Indah

Sungai Paku

Wisata Pantai

Benteng Jepang

Kuranji Hilir

Wisata Sejarah

Pantai Arta Permai

Sungai Paku

Wisata Pantai

Hilir Wisata Sejarah Pantai Arta Permai Sungai Paku Wisata Pantai RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 24
Hilir Wisata Sejarah Pantai Arta Permai Sungai Paku Wisata Pantai RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 24
 

KECAMATAN

OBJEK

LOKASI

JENIS

   

Pantai Baseloan

Sungai Limau

Wisata Pantai

 

15. Batang Gasan

Pantai Aru Gasan

Gasan Gadang

Wisata Pantai

 

16. Sungai Geringging

Bukik Siriah

Ladang Rimbo

Wisata Alam

Makam Syeh Tangek Talang

Kuranji Hilir

Wisata Sejarah

Makam Tuanku Badinah

Sungai Geringging

Wisata Sejarah

 

17. IV Koto Aur Malintang

Bukik Bulek

Batu Basa

Wisata Alam

Ikan Larangan

Aur Malintang

Wisata Minat Khusus

   

Lesung Keramat

Batu Basa

Wisata Sejarah

Sumber : Buku RTRW Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2030

8) Kawasan Peternakan; Rencana pengembangan sektoral dalam bentuk penetapan "Kawasan Agropolitan" pengembangan ternak besar dengan komoditi utama ternak sapi. Program ini menuntut konsep pengembangan sentra agrobisnis terpadu dengan pusat kawasan (beberapa kecamatan) sebagai penyangga. Secara lebih rinci rencana pengembangan ternak di Kabupaten Padang Pariaman tersaji pada tabel 2.6.adalah sebagai berikut. 9) Kawasan Permukiman; kawasan permukiman dibedakan menjadi kawasan permukiman berciri urban (perkotaan) dan yang berciri rural (perdesaan). Pada umumnya kawasan permukiman berciri urban adalah ibukota kabupaten dan ibukota kecamatan, dan diluar pusat kegiatan tersebut umumnya merupakan kawasan perdesaan. Baik kawasan permukiman perkotaan maupun perdesaan pada umumnya bertumbuh dengan pola yang relatif sama, yaitu mengikuti perkembangan pembangunan jalan. Pola linier seperti tersebut pada masa mendatang akan menimbulkan persoalan, setidak- tidaknya menyebabkan kemacetan dan kekumuhan. Oleh karena itu untuk pusat-pusat kegiatan dikembangkan pola permukiman yang tidak linier, namun sudah mengarah pada pola grid (papan catur), yang menjamin mengalirnya pergerakan lalu lintas serta terbangunnya pola ruang perkotaan yang lebih berimbang.

lalu lintas serta terbangunnya pola ruang perkotaan yang lebih berimbang. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 25
lalu lintas serta terbangunnya pola ruang perkotaan yang lebih berimbang. RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 25

TABEL 2.5 JENIS PENGEMBANGAN KOMODITI PETERNAKAN DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN

No.

Jenis Komoditi

Kecamatan

Keterangan

1.

Sapi Potong

1. VII Koto

Kawasan Peternakan

2. Padang Sago

Prioritas

3. Patamuan

4. Enam Lingkung

5. Sei Geringging

6. IV Koto Aur Malintang

2.

Kerbau

1. Sungai Limau

 

2. Batang Gasan

3. Ulakan Tapakis

3.

Kambing dan Domba

1. Ulakan Tapakis

 

2. Nan Sabaris

3. Enam Lingkung

4.

Ayam Petelur

1. Nan Sabaris

 

2. Ulakan Tapakis

3. Enam Lingkung

5.

Ayam Pedaging

1. Kayu tanam

 

2. Lubuk Alung

3. Sintoga

4. Batang Anai

6.

Ayam Buras

1. V Koto Kampung Dalam

 

2. Enam Lingkung

3. Nan Sabaris

7.

Itik

1. Nan Sabaris

 

2. 2 X11 Enam Lingkung

3. Lubuk Alung

8.

Kawasan Integrasi (Kambing dan Coklat, Sapid an Coklat)

1. V Koto Kampung Dalam

Kawasan integrasi

2. Enam Lingkung

 

3. VII Koto Sei Sariak

4. Patamuan

5. Padang sago

6. Sungai Geringging

7. Kayu Tanam

Sumber : Buku RTRW Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2030

C. Kawasan Strategis Kabupaten Padang Pariaman 1) Kawasan Industri; Padang Industrial Park di Kecamatan Batang Anai. Padang Industrial Park (PIP) merupakan pusat kawasan industri di Provinsi Sumatera Barat, yang terletak di pinggir jalan By Pass antara Kota Padang dan Lubuk Alung, memiliki areal seluas 600 hektar, sebanyak 214 hektar di antaranya telah siap dibangun. Kawasan PIP (Padang Industrial Park) adalah kawasan lintas daerah yang memiliki sektor ekonomi wilayah yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Barat. Kawasan ini merupakan pusat industri manufaktur dan industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan dan kawasan pengolahan hasil laut dalam upaya peningkatan nilai tambah komoditas yang dihasilkan dari wilayah Provinsi Sumatera Barat. Kawasan strategis ini merupakan kawasan strategis provinsi dan apabila ditetapkan menjadi kawasan khusus ekonomi (KEK) maka akan terdapat kewenangan dan tanggung jawab pemerintah pusat dalam pengelolaan dan

terdapat kewenangan dan tanggung jawab pemerintah pusat dalam pengelolaan dan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 26
terdapat kewenangan dan tanggung jawab pemerintah pusat dalam pengelolaan dan RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 26

pembangunannya di kemudian hari. Mengingat potensinya yang sangat besar dengan dampak gandanya terhadap pertumbuhan kawasan sekitarnya, maka kawasan ini harus dikelola secara sangat baik, sehingga memberikan

kemanfaatan bagi semua pihak tanpa merusak lingkungan. Hal penting lain yang perlu dipastikan secara terukur adalah daya dukung kawasan terhadap rencana berbagai jenis industri yang akan bergiat, terutama terkait dengan penyediaan prasarana transportasi, sumber daya listrik dan sumber daya air (air baku ataupun air minum) serta ketersediaan sistem pengolahan limbah industri (IPAL untuk black water ataupun instansi pengolah bahan buangan

beracun/B3).

2) Kawasan Agropolitan;

a. Kawasan agropolitan pengembangan dan pengolahan Kakao serta PKLp Sungai Garingging

b. Kawasan agropolitan dan sentra pengembangan ternak besar Sungai

Sariak. Sebagai bagian dari kebijakan dan strategi penataan ruang Kabupaten Padang Pariaman, maka wilayah utara seyogyanya harus didorong pertumbuhannya secara mendasar, terarah dan terprogram. Mengacu pada kebijakan provinsi dan rencana pembangunan (RPJP/M) kabupaten, maka di Sungai Sarik ditetapkan sebagai pusat agropolitan. Kawasan agropolitan Sungai Sarik sebagaimana yang tertuang pada RPJP 2005-2025 meliputi Kecamatan VII Koto Sei Sarik, Patamuan, Padang Sago, V Koto Timur, V Koto Kampung Dalam. Adapun komoditas yang diunggulkan pada kawasan agropolitan ini adalah ternak besar (sapi) yang ditunjang komoditas unggulan daerah yaitu Kakao dan Kelapa. Sementara itu, dalam rangka mengupayakan keseimbangan pertumbuhan antara wilayah utara dan selatan, Sungai Geringging didorong dan diusulkan sebagai pusat kegiatan lokal promosi (PKLp) yang meliputi Kecamatan Sungai Geringging, Sungai Limau, Batang Gasan dan IV Koto Aur Malintang. Komoditas unggulan yang telah bertumbuh dan didorong menjadi komoditas utamanya adalah Kakao yang didukung kegiatan pengolahan hasil pertanian lainnya. 3) Pusat Pemerintahan; pembangunan fasilitas pelayanan sosial pemerintahan dan fasilitas penunjang lainnya di Parit Malintang (Kecamatan Enam Lingkung). Merupakan kawasan pertumbuhan baru yang dkembangkan untuk kawasan perkantoran. Kawasan ini berjarak lebih kurang 5 Km dari jalan negara, namun direncanakan akan dilalui oleh jalan lingkar express way. 4) Koridor Batang Anai-Kayu Tanam; Jalur ini merupakan satu-satunya poros barat - timur di Pulau Sumatera yang mempunyai pergerakan ekonomi (barang dan jasa) dengan frekwensi yang paling tinggi bila dibandingkan poros jalan darat barat - timur di provinsi lain, sehingga menjadikan Provinsi Sumatera Barat mempunyai tingkat pertumbuhan lebih maju bila dibandingkan provinsi lain yang berada diwilayah belahan barat Pulau Sumatera. Mengingat kawasan ini bertumbuh dengan sangat cepat, sehingga perlu mendapat pengelolaan secara ketat (high control), karena bila kurang tepat dalam penanganannya justru akan menimbulkan persoalan. Jalur ini selain jalur utama transportasi selatan-utara Sumatera bagian tengah dan sekaligus menjadi poros ekonomi regional, juga melewati 3 kawasan perkotaan (Pasar Usang, Lubuk Alung dan Sicincin) dan 1

juga melewati 3 kawasan perkotaan (Pasar Usang, Lubuk Alung dan Sicincin) dan 1 RPJMD KAB. PADANG
juga melewati 3 kawasan perkotaan (Pasar Usang, Lubuk Alung dan Sicincin) dan 1 RPJMD KAB. PADANG

kawasan wisata yang sudah berskala nasional yaitu Lembah Anai yang menjadi salah satu ikon wisata Sumatera Barat. Dalam RTRW Sumatera Barat jalur ini ditetapkan sebagai kawasan strategis provinsi.

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana Berdasarkan catatan kejadian bencana, kabupaten Padang Pariaman mempunyai catatan sejarah kejadian bencana yang cukup panjang. Dimulai dari tahun 1914 dengan bencana banjir hinnga tahun 2009 dengan bencana Gempa tektonik dan sesar pada tanggal 30 september dimana gempa 1 pada jam 17:18:09 WIB dengan lokasi pusat gempa 0,84 LS – 99,65 BT atau 57,5 km Barat Daya Kota Pariaman dan 79 km Barat Laut Kota Padang dan kedalaman 71 km yang mempunyai kekuatan 7,9 SR . gempa ke 2 dengan waktu jam 17:38:52 wib, lokasi 0,72 LS – 99,94 BT atau 23 km Barat Daya Kota Pariaman dan 52,5 km Barat Laut Kota Padang dengan kedalaman 110 km yang mempunyai kekuatan 6,2 SR. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.6 KEJADIAN BENCANA DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN DARI TAHUN 1914-2009

No.

Tahun

Jenis Bencana

Keterangan

1

1914

Banjir besar

7 kecamatan pantai

2

1926

Gempa

7,2 sr, Pusat di Padang Panjang

3

1934

Banjir Bandang

Nagari tanah longsor, malai V Suku

4

1967

Angin Putting Beliung

Kabupaten Padang Pariaman

5

1983

Tanah Longsor

Kabupaten Padang Pariaman

6

1996

Kebakaran Pasar

Pasar Sunga

7

2000

Abrasi Pantai

60

km bibir pantai rusak

8

2005

Gempa bumi 10 april

5,8 Sr, 500 bangunan rusak

9

2007

Tanah Longsor 8 Januari

13

jiwa korban kolam janiah

10

2007

Banjir, 22-23 januari

1.506 rumah terendam, 108 ha sawah pertanian rusak di 9 kecamatan

11

2007

Angin Puting Beliung

43

bangunan rusak di 6 kecamatan

12

2007

Gempa bumi, 6 maret

6,3 Sr ± 12.000 bangunan rusak

13

2007

Gempa, 12-13 september

7,3/7,7 Sr ± 7.000 bangunan rusak

14

2009

Gempa bumi, 30 september

7,9 Sr ±91.929 bangunan rusak

Sumber : Bappeda dan BPS Kabupaten Padang Pariaman, 2010

Secara geologis Kabupaten Padang Pariaman terletak pada dua jalur patahan lempeng dunia yaitu Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo – Australia dan topografi Padang Pariaman yang dilalui oleh banyak anak-anak sungai, Kabupaten Padang Pariaman merupakan kawasan yang rawan bencana. Bentuk bencana yang pernah dan mungkin terjadi di Kabupaten Padang Pariaman identik dengan kondisi alam tersebut yaitu bencana banjir, tanah longsor, angin badai/puting beliung, abrasi pantai, gempa bumi, tsunami dan lain-lain. Selain faktor alamnya, Kabupaten Padang Pariaman juga termasuk rawan bencana yang timbul akibat ulah manusia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor – sosial budaya yang relatif kurang memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan serta kelalaian dari manusia yang berakibat bencana. Berapa bencana yang terjadi di Kabupaten Padang Pariaman akibat ulah manusia seperti kebakaran, banjir dan tanah longsor. Secara komulatif bencana yang terjadi di Kabupaten Padang Pariaman, baik bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia cendrung meningkat yang membawa dampak kerugian dan kerusakan serta korban jiwa meningkat pula. Di samping itu,

dampak kerugian dan kerusakan serta korban jiwa meningkat pula. Di samping itu, RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN
dampak kerugian dan kerusakan serta korban jiwa meningkat pula. Di samping itu, RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN

berdasarkan analisis dan prediksi para ahli dan peneliti bahwa wilayah sepanjang pantai Barat pulau Sumatera terancam akan bencana tsunami, setelah Aceh dan Nias maka Sumatera Barat berpotensi dilanda bencana tsunami, mengingat pantai Barat Sumatera merupakan jalur penunjaman (“Subduction Zone”) sebagai penyebab terjadinya gempa. Bilamana terjadi dislokasi atau pematahan di bawah samudera, maka akan mengakibatkan terjadinya gelombang tsunami tersebut. Berdasarkan gambaran bencana yang pernah terjadi di Kabupaten Padang Pariaman dan prediksi para ahli maka penanganan bencana di Kabupaten Padang Pariaman perlu ditangani secara profesional dan proporsional melalui pembenahan dan perbaikan Sistem Manajemen Penanggulangan Bencana. Karena penanganan bencana yang profesional dan pelayanan yang baik akan memberikan perlindungan yang optimal pada masyarakat dan berdampak terhadap ketenteraman masyarakat. Kebutuhan utama dari kondisi tersebut adalah; pemetaan detail daerah rawan gempa; pemetaan detail daerah likuifaksi; pemetaan detail daerah rawan gerakan tanah dan kajian bentuk bangunan tahan gempa dan likuifaksi. Berdasarkan fenomena yang ada, maka Kabupaten Padang Pariaman rentan akan bencana ; Gempa Bumi (tektonik dan sesar), Likuifaksi, Gelombang Pasang dan Tsunami, Banjir, Longsor/rentan gerakan tanah, abrasi pantai, letusan gunung berapi.

1. Kawasan Rawan Gempa Gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, aktivitas sesar (patahan), aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Karakter bahaya berupa guncangan gempa yang dapat dirasakan di daerah pedataran dan perbukitan dengan percepatan gempa 0,25-0,60 g. yang akan mengancam seluruh wilayah yang merupakan areal terbangun dan tidak terbangun. Wilayah Kabupaten Padang Pariaman merupakan zona gempa paling tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya di Propinsi Sumatera Barat, terutama di Daerah Sungai Limau, ke Tiku Utara berbatasan dengan Sungai Geringging bagian barat serta seluruh daerah pesisir Padang Pariaman. Adanya aktivitas gempa tersebut menyebabkan Kabupaten Padang Pariaman merupakan daerah rawan gempa. Hal ini dapat dilihat pada peta zona gempa , di mana kabupaten Padang Pariaman merupakan zona gempa dengan skala intensitas menempati zona V dan VIII dengan episentrum yang relatif dangkal dan sedang. Berdasarkan mikro zonasi gempa bumi yang dikelompokan atas empat tingkatan klasifikasi berikut:

Zona amplifikasi sangat tinggi (>9kali) adalah daerah yang memiliki kerentanan paling tinggi terhadap terjadinya kerusakan wilayah jika terlanda gempa bumi. Zona ini memiliki penguatan/amplifikasi getaran gempa bumi sangat tinggi (diatas 9 kali). Pada zona ini , lapisan sedimen lunaknya (soft soil) paling tebal Zona amplifikasi tinggi (7-9kali) adalah daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap terjadinya kerusakan wilayah jika terlanda gempa bumi. Zona ini memiliki penguatan/amplifikasi getaran gempa bumi tinggi ( 7-9 kali). Pada zona ini , lapisan sedimen lunaknya (soft soil) tebal Zona amplifikasi sedang (4-6kali) adalah daerah yang memiliki kerentanan sedang terhadap terjadinya kerusakan wilayah jika terlanda gempa bumi. Zona ini memiliki penguatan/amplifikasi getaran gempa bumi sedang (4-6 kali). Pada zona ini , lapisan sedimen lunaknya (soft soil) tidak terlalu tebal Zona amplifikasi rendah (1-3 kali) adalah daerah yang memiliki kerentanan rendah terhadap terjadinya kerusakan wilayah jika terlanda gempa bumi. Zona ini memiliki

terjadinya kerusakan wilayah jika terlanda gempa bumi. Zona ini memiliki RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 29
terjadinya kerusakan wilayah jika terlanda gempa bumi. Zona ini memiliki RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 29

penguatan/amplifikasi getaran gempa bumi rendah (1-3 kali). Sedangkan intensitas Gempa di kabupaten Padang Pariaman dengan pengelompokan atas Skala V sampai dengan VIII MMI berikut :

Zona intensitas V Skala MMI (Modifed Mercalli Intensity) merupakan daerah dengan gempa yang dapat dirasakan diluar rumah. Orang tidur terbangun, cairan tampak bergerak-gerak dan tumpah sedikit. Barang perhiasan rumah yang kecil dan tidak stabil bergerak atau jatuh, Pintu-pintu terbuka tertutup, figura dinding bergerak, bandul lonceng berhenti atau mati atau tidak cocok lagi Zona intensitas VI Skala MMI (Modifed Mercalli Intensity) merupakan daerah dengan gempa yang dapat terasa oleh semua orang , banyak orang lari keluar karena terkejut, orang yang berjalan kaki terganggu. Jendela berderit, gerabah barang pecah belah pecah barang-barang kecil dan buku jatuh dari raknya, gambar jatuh dari dinding. Mebel bergerak atau berputar, plester dinding yang lemah pecah. Lonceng gereja berbunyi. Pohon terlihat goyang. Zona intensitas VII Skala MMI (Modifed Mercalli Intensity) merupakan daerah dengan gempa yang dapat dirasakan oleh supir yang sedang mengemudikan mobil. Orang yang sedang berjalan kaki sulit untuk berjalan dengan baik, cerobong asap yang lemah pecah, langit-langit dan bagian konstruksi pada tempat yang tinggi rusak, barang pecah belah pecah, tembok yang tidak kuat pecah, plester tembok dan batu- batu tembok yang tidak terikat kaut jatuh, terjadi sedikit pergeseran dan lekukan- lekukan pada timbunan pasir dan batu kerikil. Air menjadi keruh, lonceng besar berbunyi , selokan irigasi rusak Zona intensitas VIII Skala MMI (Modifed Mercalli Intensity) merupakan daerah dengan gempa yang dapat terganggunya mengemudi mobil, terjadi kerusakan pada bangunan yang kuat karena bagian-bagian yang runtuh. Kerusakan terjadi pada tembok yang dibuat tahan terhadap getaran horizontal dan beberapa bagian tembok runtuh, cerobong asap , monumen, menara dan tangki air yang berada diatas berputar atau jatuh. Rangka rumah berpindah dari pondasinya. Dinding yang tidak terikat dengan baik jatuh atau terlempar. Ranting pohon patah dari dahannya. Tanah yang basah dan lereng curam terbelah.

2. Kawasan Rawan Longsor Gerakan tanah atau longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan timbuhan, tanah, atau material campuran yang bergerak ke arah bawah dan keluar dari lereng aslinya. Karakter kejadian umumnya pada daerah perbukitan dalam kondisi normal dengan faktor pemicu kejadian gerakan tanah adalah tingginya curah hujan dan kondisi batuan lapuk dan lereng > 15%. Ancaman bencana terutama terhadap permukian, lahan pertanian, infrastruktur dan hutan di daerah perbukitan. Daerah rawan longsor dijumpai di daerah-daerah yang memiliki lereng lebih dari 45% dengan tekstur tanah berpasir, gawir dan patahan, seperti Kecamatan Sungai Geringging, 2 x 11 Enam Lingkung, Batang Gasan, V Koto Kampung Dalam dan Kecamatan Sungai Limau serta Kecamatan IV Koto Aur Malintang. Potensi longsor dapat juga disebabkan oleh lapisan kedap air yang dapat menjadi longsoran. Untuk kabupaten Padang Pariaman berdasarakan tingkat kerentanannya dikelompokan dalam empat kelompok kondisi dengan kriteria seperti dibawah ini. Kerentanan gerakan tanah sangat rendah adalah daerah yang mempunyai tingkat kerentanan sangat rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sangat jarang

sangat rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sangat jarang RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
sangat rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sangat jarang RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

atau tidak pernah terjadi gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, kecuali pada daerah tidak luas di tebing sungai Kerentanan gerakan tanah rendah adalah daerah yang mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terjadi gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah, jika tidak mengalami gangguan pada lereng , jika terdapat tanah lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai Kerentanan gerakan tanah menengah adalah daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali terutaa akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat Kerentanan gerakan tanah tinggi adalah daerah yang mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat Alur rentan aliran bahan rombakan, merupakan aliran bahan rombakan dapat terjadi bila terdapat akumulasi dan pembendungan alur oleh endapan lahar atau material longsoran pada alur sungai di bagian hulu dan dipicu oleh erosi yang kuat dan curah hujan yang tinggi

3. Kawasan Rawan Liquifaksi Liquifaksi adalah proses pembuburan dari lapisan pasir yang bersifat urai dan jenuh air pada saat terjadi getaran gelombang gempa yang merambat melalui lapisan pasir tersebut. Karakter bahaya dari kondisi ini adalah keluarnya material tanah berbutir pasir dari bawah permukaan melalui retakan-retakan pada tanah, badan jalan, saluran air dan tiang pondasi bangunan dan sumur gali yang akan mengancam wilayah permukiman dan area terbuka. Sebaran kawasan liquifaksi umumnya berada di wilayah dataran menuju wilayah pesisir dari kabupaten Padang Pariaman atau sebagian besar berada di bagian Barat sebelah selatan Kabupaten. Kondisi ini mencerminkan wilayah yang potensial akan terjadinya liquifaksi akan berada di wilayah kecamatan-kecamatan pesisir yang berada di bagian Barat Selatan dari wilayah yang ada di kabupaten Padang Pariaman. Lihat Gambar 1.7 Peta Kerentanan Gempa pada halaman berikut. Potensi liquifaksi di kabupaten Padang Pariaman, umumnya berada di sekitar pesisir,yang terbagi atas lima kelompok kondisi sebagai berikut :

Potensi Liquifaksi tinggi adalah daerah yang berpotensi terjadi liquifaksi tinggi, karena lapisan tanah pada zona tersebut mempunyai percepatan kritis (a) <0,10g dengan muka air tanah yang dangkal, maka apabila lapisan tanah tersebut menerima gempa dengan percepatan (z)= 0,01 g pada zona tersebut akan terjadi liquifaksi. Potensi liquifaksi sedang adalah daerah yang berpotensi terjadi liquifaksi sedang, karena lapisan tanah pada zona tersebut mempunyai percepatan kritis (a) antara 0,10 - 0.20 g dengan muka air tanah yang dangkal, maka apabila lapisan tanah tersebut menerima gempa dengan percepatan (z)= >0,10 g pada zona tersebut akan terjadi liquifaksi. Potensi liquifaksi rendah adalah daerah yang kurang berpotensi terjadi liquifaksi sedang, karena lapisan tanah pada zona tersebut mempunyai percepatan kritis (a) antara 0,20 - 0.30 g, selain itu rata-rata muka air tanahnya cukup dalam.

(a) antara 0,20 - 0.30 g, selain itu rata-rata muka air tanahnya cukup dalam. RPJMD KAB.
(a) antara 0,20 - 0.30 g, selain itu rata-rata muka air tanahnya cukup dalam. RPJMD KAB.

Potensi liquifaksi sangat rendah adalah daerah yang sangat kecil berpotensi terjadi liquifaksi, karena lapisan tanah pada zona tersebut mempunyai percepatan kritis (a) > 0.30 g, selain itu rata-rata muka air tanahnya cukup dalam Tidak berpotensi terjadi liquifaksi adalah daerah yang tidak berpotensi terjadi liquifaksi, karena lapisan tanah sangat tipis dan di bawahnya merupakan batuan dasar.

4. Kawasan Rawan Bencana Tsunami Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga 900km/jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi didasar laut. Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Karakter bahaya berupa hempasan air sepanjang pesisir pantai yang akan melanda wilayah hingga elevasi +3 m di atas permukaan tanah. Ancaman dari tsunami adalah seluruh wilayah pesisir merupakan area terbangun dan tidak terbangun. Kondisi kabupaten Padang Pariaman yang mempunyai perairan di bagian barat merupakan salah satu wilayah yang diperkirakan akan mendapatkan bencana tsunami. Adapun prakiraan wilayah tersebut berdasarkan pengelompokan jangkauan tsunami sebagai berikut :

Kawasan Rawan Bencana Tsunami Tinggi, adalah daerah yang memiliki resiko ancaman terhadap tssunami (dalam hal tinggi dan jangkauan genangan). Kawasan ini relatif memiliki potensi paling besar dalam hal kerusakan atau kehancuran aset yang akan ditimbulkan apabila terlanda tsunami serta memiliki ancaman terhadap resiko keselamatan penduduk lebih parah. Karakteristik pantai di kawasan ini sebagian merupakan pantai berpasir dengan morfologi landai dan relatif rendah dengan bentuk pantai lurus, sedangkan sebagian lagi merupakan pantai berbatu dengan morfologi tinggi dengan bentuk pantai berteluk. Permukiman dan aktivitas penduduk pada kawasan ini cukup padat dengan jarak dari garis pantai kurang dari 50 meter dari garis pantai. Kawasan kerawanan tinggi meliputi sepanjang pantai di daerah penelitian dengan elevasi kurang dari meter di atas permukaan laut Kawasan Rawan Bencana Tsunami Menengah adalah kawasan dengan potensi resiko tsunami lebih rendah dari kawasan tinggi. Kawasan ini relatif memiliki potensi kerusakan aset lebih kecil dibanding dengan di daerah kawasan kerawanan tinggi . Kawasan menengah meliputi daerah dengan garis ketinggian 5 meter hingga 7 meter di atas permukaan air laut dengan kemiringan lereng cukup terjal. Kawasan Rawan Bencana Tsunami Rendah adalah daerah yang memiliki potensi kerusakan paling kecil dibandingkan kawasan lainnya. Rute evakuasi dan lokasi pengungsian sementara dapat diarahkan ke kawasan ini apabila terjadi tsunami. Kawasan rawan tsunami rendah meliputi daerah dengan garis ketinggian hingga 9 meter di atas permukaan laut. Wilayah pesisir dengan morfologi curam dan relief tinggi termasuk ke dalam kawasan rawan tsunami rendah.

5. Kawasan Rawan Banjir Penyebab dari bencana alam banjir di Kabupaten Padang Pariaman yaitu dipengaruhi oleh curah hujan cukup tinggi, tipe dan karakter daerah, kondisi daerah tangkapan air sedikit, kurangnya kualitas dan kuantitas drainase dan kurangnya pengelolaan daerah konservasi. Secara umum bencana banjir yang terjadi adalah akibat kondisi drainase yang kurang baik sehingga saat hujan terjadi genangan serta terjadinya kerusakan hutan di hulu sungai yang mengakibatkan erosi dan banjir. Daerah rawan banjir di Kabupaten Padang Pariaman yaitu di Kecamatan Batang Anai, Ulakan Tapakis, Sintuk Toboh Gadang, Lubuk Alung, Nan Sabaris, V Koto Kampung Dalam,

Tapakis, Sintuk Toboh Gadang, Lubuk Alung, Nan Sabaris, V Koto Kampung Dalam, RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN
Tapakis, Sintuk Toboh Gadang, Lubuk Alung, Nan Sabaris, V Koto Kampung Dalam, RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN

2.1.4

Sungai

Kerawanan Bencana.

Limau,

Batang

Gasan,

dan

2x11

Enam

Lingkung.

Lihat

Gambar

1.8

Peta

Demografi Penduduk Kabupaten Padang Pariaman tahun 2010 tercatat sebanyak 393.571 jiwa yang terdiri dari atas 193.472 jiwa laki laki dan 200,099 jiwa perempuan. Sejak tahun 2005-2010 terjadi peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Padang Pariaman. Jumlah penduduk paling tinggi ada di Kecamatan Batang Anai dan Lubuk Alung sebesar 44.459 dan 43.020 jiwa yang berkontribusi sebesar 21% terhadap penduduk total yang ada di Kabupaten Padang Pariaman ini. Hal ini disebabkan sifak perkotaan yang cukup mencolok di daerah ini serta kelengkapan fasilitas maupun prasarana yang ada serta lokasi yang berdekatan dengan Kota Padang membuatnya mampu menarik penduduk untuk tinggal disana.

TABEL 2.7 JUMLAH DAN KEPADATAN PENDUDUK DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN TAHUN 2006-2010

   

Luas

Jumlah

Kepadatan

No

 

Kecamatan

Daerah

Penduduk

 

(Km2)

(jiwa)

(jiwa/Km2)

1

Batang Anai

180

44,459

246

2

Lubuk Alung

112

43,020

385

3

Sintuk Toboh Gadang

26

17,886

700

4

Ulakan Tapakis

39

18,980

489

5

Nan Sabaris

29

26,922

925

6

2

x 11 Enam Lingkung

36

18,252

504

7

Enam Lingkung

39

19,029

485

8

2

x 11 Kayu Tanam

229

25,724

112

9

VII Koto Sungai Sarik

91

33,724

371

10

Patamuan

53

15,749

297

11

Padang Sago

32

8,010

250

12

V

Koto Kampung Dalam

61

22,597

368

13

V

Koto Timur

65

14,251

220

14

Sungai Limau

70

27,789

395

15

Batang Gasan

40

10,534

261

16

Sungai Geringging

99

27,017

272

17

IV Koto Aur Malintang

127

19,610

155

 

2010

1,329

393,571

296

 

2009

1,329

392,941

294

 

2008

1,329

390,226

292

 

2007

1,329

387,452

287

 

2006

1,329

381,792

283

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010

381,792 283 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
381,792 283 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

GAMBAR 2.1 JUMLAH PENDUDUK PER KECAMATAN DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN TAHUN 2010

PER KECAMATAN DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN TAHUN 2010 Sumber: Hasil Analisis, 2010 Seiring dengan penambahan

Sumber: Hasil Analisis, 2010

Seiring dengan penambahan jumlah penduduk tadi ikut berimbas pada peningkatan kepadatan penduduk di Kabupaten Padang Pariaman yang di tahun 2006 sebesar 283 jiwa/km2 menjadi 294 jiwa/km2 di tahun 2010. Kecamatan yang paling padat adalah Kecamatan Nan Sabaris (925 jiwa/km2) sedangkan yang terendah yakni Kecamatan 2 x 11 Kayutanam (112

jiwa/km2).

Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Padang Pariaman belum terlalu tinggi dan mengalami fluktuasi dari tahun 2006 hingga tahun 2010. Angka pertumbuhan tertinggi terjadi di tahun 2007 sebesar 1,665 % dan terus menurun hingga tahun 2010 yang hanya 0,636%.

TABEL 2.8 LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN TAHUN 2006-2010

No

Tahun

 

Penduduk

Jumlah

Persentase

1

2006

381,792

1,363

2

2007

387,452

1,665

3

2008

390,226

0,766

4

2009

392,941

0,711

5

2010

393,025

0,636

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010

393,025 0,636 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015
393,025 0,636 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015

2.2

Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

a. Pertumbuhan PDRB

Tabel 2.9 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Kabupaten Padang Pariaman Atas Dasar Konstan 2000 Tahun 2006-2010

             

Rata-rata

No

Lapangan Usaha

2006

2007

2008

2009

2010

2005-2010

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

1

Pertanian

601.86

625.14

661.56

675.38

690.68

640.08

2

Pertambangan & Penggalian

86.78

88.78

90.79

89.78

93.93

89.60

3

Industri Pengolahan

283.29

300.98

319.72

326.35

342.05

306.61

4

Listrik dan Air Bersih

31.45

34.17

36.44

37.02

38.73

34.33

5

Bangunan

114.16

118.51

123.01

124.09

133.68

120.12

6

Perdag, Hotel dan Restoran

288.31

300.88

318.13

322.24

336.06

307.19

7

Pengangkutan dan Komunikasi

495.36

555.67

605.69

668.20

730.51

540.77

8

Keuangan Jasa Bangunan dan Jasa Perusahaan

51.40

54.24

57.26

58.30

61.39

55.23

9

Jasa-jasa

393.77

411.36

432.51

447.99

463.72

421.56

 

Jumlah

2346.37

2489.73

2645.12

2749.34

2890.75

2515.48

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010

Peningkatan nilai tambah terbesar dalam perekonomian Kabupaten Padang Pariaman dicapai oleh sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Pada tahun 2009 nilai tambah sektor Pengangkutan dan Komunikasi mencapai 668,20 milyar, maka pada tahun 2010 meningkat menjadi sebesar Rp.730,51 milyar atau meningkat sekitar Rp. 62,31 milyar. Peningkatan yang cukup tajam yang terjadi sektor Pengangkutan dan Komunikasi tersebut dipicu dengan adanya peningkatan lalulintas udara dari dan ke Bandara Minangkabau terutama yang terjadi sejak awal 2010 berkaitan dengan banyaknya kunjungan dari luar Sumatera Barat. Sementara itu, sektor Pertanian selama tahun 2010 hanya menghasilkan nilai tambah bruto sebesar Rp.690,68 milyar atau hanya mengalami peningkatan sekitar Rp.15,30 milyar dibandingkan dengan nilai tambah bruto sektor Pertanan selama tahun 2009 yang hanya sebesar Rp. 13,82 milyar. Tabel 2.10 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Kabupaten Padang Pariaman Atas Dasar Berlaku Tahun 2006-2010

No

Lapangan Usaha

2006

2007

2008

2009

2010

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

1

Pertanian

1026.47

1107.37

1269.38

1359.19

1496.95

2

Pertambangan & Penggalian

147.38

168.47

195.20

198.40

214.14

3

Industri Pengolahan

401.89

484.15

583.37

624.83

659.23

4

Listrik dan Air Bersih

61.47

68.24

74.45

78.13

85.16

4 Listrik dan Air Bersih 61.47 68.24 74.45 78.13 85.16 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 35
4 Listrik dan Air Bersih 61.47 68.24 74.45 78.13 85.16 RPJMD KAB. PADANG PARIAMAN 2010-2015 35

5

Bangunan

194.77

213.65

239.49

252.72

312.61

6

Perdag, Hotel dan Restoran

432.81

482.82

561.15

611.58

705.19

7

Pengangkutan & Komunikasi

875.69

1027.90

1259.64

1451.89

1644.44

8

Keuangan Jasa Bangunan dan Jasa Perusahaan

90.96

101.56

116.34

124.36

135.61

9

Jasa-jasa

658.68

728.11

829.37

894.33

947.92

 

Jumlah

3890.12

4382.28

5128.39

5595.43

6201.25

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Padang Pariaman, 2010

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Padang Pariaman atas dasar harga berlaku pada tahun 2009 adalah sebesar 5,61 triliun rupiah, sedangkan nilai PDRB pada tahun 2010 meningkat menjadi sebesar 6,20 triliun rupiah, berarti selama tahun 2010 terdapat kenaikan sekitar 600 milyar rupiah lebih. Kenaikan nilai PDRB atas dasar harga berlaku yang dicapai selama tahun 2010 merupakan gambaran adanya perkembangan yang positif dalam kegiatan perekonomian pasca gempa bumi September 2009 yang lalu. Secara keseluruhan kegiatan perekonomian di Kabupaten Padang Pariaman masih menunjukkan adanya peningkatan yang cukup berarti sekalipun peningkatan yang dicapai cukup bervariasi. Kenaikan yang cukup besar dicapai oleh sector Pengangkutan dan Komunikasi, dengan peningkatan sekitar 192,55 milyar rupiah selama tahun 2010. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi secara nyata memberikan andil yang terbesar dalam struktur perekonomian Kabupaten Padang Pariaman. Sektor pengangkutan dan komunikasi yang ditunjang dengan adanya Bandara International Minangkabau selama tahun 2010 menghasilkan nilai tambah sebesar 1,64 triliun dimana kontribusi terbesar ditunjang dengan adanya peningkatan pada sub sektor angkutan udara. Kabupaten Padang Pariaman yang wilayah terbanyaknya masih agraris sampai dengan tahun 2010 masih memposisikan sektor pertanian sebagai sektor ekonomi kedua yang memberikan andil terbesar diantara sektor lainnya. Dengan nilai tambah sekitar Rp. 1,50 triliun rupiah pada tahun 2010, sektor Pertanian masih memberikan harapan yang cukup besar pada masa yang akan datang. Selain itu, sektor Pertanian juga merupakan sektor kedua yang paling besar peningkatannya diantara sektor ekonomi lainnya. Jika dibandingkan dengan nilai tambah yang dihasilkan sektor Pertanian pada tahun 2010 kenaikan nilai tambah yang dihasilkan selama tahun 2010 sekitar Rp. 117,77 milyar. Sementara itu, sektor Jasa-jasa masih memposisikan sebagai sektor ketiga terbesar dalam memberikan kontribusinya terhadap perekonomian Kabupaten Padang Pariaman. Pada tahun 2010 sektor Jasa-jasa menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 947,92 milyar, padahal pada tahun 2009 sektor Jasa-jasa menghasilkan nilai tambah sebesar Rp. 894,33 milyar. Dengan demikian sektor Jasa-jasa selama tahun 2010 mengalami kenaikan sekitar Rp. 53,59 milyar dibandingkan dengan nilai tambah pada tahun 2009. Sedangkan sektor listrik dan air bersih masih merupakan sektor ekonomi yang terkecil baik dari segi kontribusinya maupun peningkatan yang dicapai selama pada tahun 2010 yakni dari sebesar Rp. 78,13 milyar pada tahun 2008 menjadi sebesar Rp. 85,16 milyar pada tahun 2010 atau hanya mengalami peningkatan sekitar Rp. 7,03 milyar.