Anda di halaman 1dari 19

Perdagan

gan
Manusia

by Ustadz Sufyan

Baswedan
May 10, 2012

Perdagangan
Manusia
Sewaktu saya kecil dulu, ada
film seri terkenal yang
berjudul Siti Nurbaya. Film
yang diangkat dari novel karya
Marah Rusli ini, bercerita

tentang seorang gadis (Siti


Nurbaya) yang dinikahkan
secara paksa dengan lelaki tua
(Datuk Maringgih) yang
dibencinya, semata-mata
karena Si Datuk adalah orang
kaya. Itulah salah satu
penindasan atas kaum wanita
tempo dulu, yang dikenal
dengan zaman Siti Nurbaya.
Zaman Siti Nurbaya mungkin
telah berlalu, namun wanita
masih ditindas dengan cara
lain yang lebih mengerikan.

Mereka dijual tak ubahnya


seperti perabot rumah tangga.
Syaikh Muhammad Rasyid
Ridha pernah mengatakan,
Ada berita aneh bin ajaib
yang dimuat sejumlah surat
kabar Inggris akhir-akhir ini,
bahwa di sebagian pedesaan
Inggris, masih terdapat para
lelaki yang menjual istri-istri
mereka dengan harga sangat
murah, yakni sekitar 30
Shilling (Sama dengan 1,5).

Beberapa surat kabar tadi


bahkan menyebutkan sebagian
dari nama para lelaki
tersebut. (Audatu al Hijab,
2:55)
Hari ini, jual beli wanita
berubah menjadi sewamenyewa. Penjual yang
semula hanya orang-per orang,
kini berubah menjadi negara
yang berdaulat. Transaksi pun
diatur lewat sejumlah
perjanjian dan syarat tertentu,
dengan imbalan gaji bulanan
dan perlindungan tenaga kerja.

Status PRT atau babu berubah


menjadi pahlawan devisa
yang dianggap memiliki hak
dan kewajiban mulia.
Citra menjual diri ditata
ulang dan direhabilitasi
menjadi kontrak kerja,
sedangkan hakikatnya tak jauh
beda. Wanita tetap saja
dieksploitasi dan dilecehkan.
Ya begitulah akhirnya jika
aturan Ilahi dan sabda Nabi
dilanggar demi sesuap nasi.
Islam melarang safar tanpa
mahrom.

Akan tetapi, apa yang kita


dengar akhir-akhir ini jauh
lebih edan. Belum lama ini,
media massa marak
memberitakan tentang human
trafficking, alias perdagangan
manusia. Salah satunya
adalah Harian Jogja, yang
memberitakan sebagai berikut:
Kasus human
trafficking atau perdagangan
manusia kembali terungkap.
Satgas khusus penanggulangan
kejahatan curat dan kejahatan
transnasional Polda DIY,

pekan ini berhasil


mengungkap kasus penculikan
Nisrina Dewi Nurhidayah,
anak balita berusia satu
tahun. Nisrina yang
dinyatakan hilang sejak Kamis
(9/2) lalu karena diculik dan
dijual pengasuhnya,
Suprihatin, 37, warga Semanu,
Gunungkidul, berhasil
ditemukan (Harian Jogja,
Rabu 14/3).
Berdasar hasil pemeriksaan
terhadap tersangka Suprihatin,
polisi memperoleh keterangan

bahwa anak balita yang


menjadi korban penculikan
dijual kepada seseorang
bernama Aris di daerah Tanah
Abang, Jakarta Pusat
seharga Rp 250.000. Kuat
dugaan, baik Suprihatin
maupun Aris yang menjadi
penadah merupakan sindikat,
yang bisa jadi, sudah kerap
memperdagangkan anak-anak
tak berdosa.
Di Indonesia yang memiliki
jumlah penduduk terbesar
keempat di dunia, kasushuman

trafficking menjadi salah satu


jenis kejahatan yang terus
terjadi. Bahkan kejahatan ini
tak kalah menonjol dibanding
kejahatan konvensional lain
seperti pencurian, perkosaan,
dan penyalahgunaan narkotika.
Selain perdagangan anakanak, perdagangan
perempuan khususnya yang
berkaitan dengan praktik
prostitusi begitu marak.
Berdasarkan data Komnas
Perlindungan Anak (PA), pada
2010, ada 111 kasus

penculikan anak di Indonesia.


Dan pada medio Januari-Juli
2011, tercatat 34 kasus
penculikan anak.
Jika merunut
kasus penculikan anak yang
kerap terjadi, kasus ini bisa
terjadi di mana saja dan
kapan saja, termasuk di
lingkungan tempat tinggal
yang selama ini dinilai aman.
Sebagai contoh, kasus
penculikan yang menimpa
Nisrina Dewi Nurhidayah,
terjadi di lingkungan tempat

tinggal, karena dilakukan oleh


orang terdekat, dalam hal ini
Suprihatin yang bertindak
sebagai pengasuh. Penculikan
juga kerap terjadi di tempat
belajar seperti sekolahan, atau
bahkan di pusat perbelanjaan.
Melihat fenomena ini, sudah
selayaknya semua orangtua
untuk selalu waspada. Berita
di media tentang adanya
penculikan,
memberi warning bagi para
orangtua untuk selalu
waspada. Namun di sisi lain,

pemberitaan tentang adanya


penculikan, juga
memunculkan kekhawatirkan
dan ketakutan berlebih bagi
sejumlah orangtua, yang
imbasnya justru akan
mengekang kebebasan sang
anak.
Dari sejumlah kasus yang
terungkap, penculikan juga
dilatarbelakangi berbagai
modus seperti meminta
tebusan, dendam, penguasaan
harta, dan jugaperdagangan
organ tubuh.

Terkait yang terakhir, salah


seorang wartawan surat kabar
Swedia bernama Donald
Bostrum pernah
memberitakan, bahwa
sejumlah pemuda di Tepi Barat
(Palestina) pernah diculik oleh
pihak Zionis untuk diambil
organ tubuhnya, lalu dijual
kepada pihak yang
membutuhkan.
Pemberitaan tersebut tak ayal
memunculkan kembali

berbagai data dan fakta yang


dimiliki PBB, plus daftar nama
para korban yang ditemukan
dalam kondisi terbelah dari
leher hingga perut bawah,
tanpa memiliki jeroan lagi!
Kasus lainnya tentang seorang
dokter Amerika yang konon
mengambil organ ginjal dari
para tahanan muslim di
penjara Abu Ghuraib (Irak),
lantas mengirimnya ke Israel.

Pihak Interpol Al Jazair juga


sempat memberitakan tentang
sindikat penculik anak-anak di
Al Jazair, yang kemudian
mereka jual sebagai suku
cadang manusia. Konon
jumlah anak yang diculik
mencapai 2500 orang, dan
harga sebuah ginjal saja bisa
mencapai 110 ribu US Dollar!!
Belum lagi ribuan anak asal
Mesir, Yaman, Guatemala,
Cina, dan Turki yang

semuanya dipaketkan ke
Israel.Serendah itukah nilai
manusia ?!! Sehebat itukah
pengaruh cinta dunia?!!
Kita boleh saja mengganti
suku cadang mobil yang rusak,
atau alat-alat elektronik dan
perabot rumah tangga lainny
akan tetapi bila seseorang
harus dibunuh, lalu dipereteli
organ tubuhnya, untuk
kemudian dijual demi
sejumlah uang!! Maka inilah

kejahatan terbesar yang tak


pernah dilakukan oleh iblis
sekalipun.
Akan tetapi ketika
materialisme yang berbicara,
maka semuanya boleh dijual.
Dan barang yang paling laku
adalah harga diri dan moral
bejat. Inilah komoditi yang
paling mudah kita dapatkan,
terutama pada masyarakat
yang hidup di tengah himpitan
ekonomi dan pengangguran.

Manusia kembali lagi


pada paganisme alias
penyembahan berhala. Hanya
saja, bukan lagi Latta dan
Uzza yang dipuja, namun
Dinar dan Dirham alias harta.
Naudzubillahi minal fitan,
maa zhahara minha wamaa
bathan.