Anda di halaman 1dari 9

BAB 43

RADIKULOPATI LUMBAL
Maury Ellenberg, MD, dan Joseph C. Honet, MD

Definisi
Radikulopati lumbal merupakan sebuah proses patolohi yang melibatkan serabut saraf lumbal.
Radikulitis lumbal mengarah pada inflamasi serabut saraf. Istilah-istilah tidak harus
dibingungkan dengan herniasi discus, yang merupakan perubahan posisi diskus lumbal dari
posisi anatomisnya antara vertebrae (sering mencapai canalis spinalis) (Fig 43-1). Walaupun
radikulopati lumbal sering disebabkan oleh herniasi diskus lumbal, ini tidak selalu terjadi.
Banyak proses patologis, seperti perambahan tulang, tumor, dan gangguan metabolik (contoh;
diabetes), dapat juga menyebabkan radikulopati lumbal. Lebih penting, herniasi diskus sering
ditemukan secara tidak sengaja pada gambaran radiologi vertebrae lumbal pasien yang tidak
memiliki gejala.1,2
Ketika herniasi diskus terjadi pada radikulopati, penyebab pasti terjadinya rasa nyeri belum dapat
sepenuhnya dimengerti. Ada dua kemungkinan yaitu kompresi mekanik dan inflamasi. Ini telah
dibuktikan bahwa pada saraf non-iritasi stimulus mekanis jarang menyebabkan nyeri,
sedangkan pada saraf iritasi akan menyebabkan nyeri. Selanjutnya, mediator inflamasi telah
diteliti secara eksperimental dapat menyebabkan nyeri radicular pada daerah yang tidak
mengalami kompresi.3Ada kemungkinan bahwa kedua faktortersebut dapat terjadi secara
terpisah maupun timbul secara bersamaan. Oleh karena itu, tidak perlu kaget apabila herniasi
diskus dan kompresi serabut saraf dapat terjadi pada pasien asimtomatik (tidak memiliki gejala) 2
dan pasien dapat mengalami radikulopati tanpa heniasi diskus atau kompresi serabut saraf.4
prevalensi radikulopati lumbal bervariasi dari 2,2% sampai 8%, bergantung pada penelitian, dan
angka kejadian antara 0,7% sampai 9,6%.5 Sebuah penelitian menyatakan insiden lebih tinggi
terjadi pada laki-laki (67%) dan berhubungan dengan obesitas dan kebiasaan merokok. Sebuah
hubungan juga ditemukan antara pekerjaan berat dan radikulopati, 5 dengan prevalensi tertinggi
pada pasien beusia 45 sampai 65 tahun.

GEJALA
Gejala yang paling sering dikeluhkan pada penderita radikulopati lumbal adalah nyeri. Rasa
nyeri bisa bervariasi derjat keparahan dan lokasinya. Nyeri bisa berat dan sering bertambah
parah atau ditimbulkan dengan berdiri, duduk, batuk dan bersin. Lokasi nyeri bergantung pada
serabut saraf yang terlibat dan banyak tumpang tindinh diantara dermatom. Biasanya,
radikulopati S1 akan menimbulkan nyeri pada belakang paha dan betis; L5, nyeri pada pantat
dan anterolateral tungkai; L4, nyeri pada paha depan, lutut depan atau dalam, tungkai bagian
dala; dan L3, nyeri pada daerah serangkangan. Pasien tidak bisa menunjukkan onset nyeri secara
tepat. Nyeri bisa bermula pada punggung, tetapi pada saat pasien dievaluasi, nyeri hanya dapat
timbul pada pantat atau ektremitas.

Parastesia sering timbul di daerah dermatom dari serabut saraf yang telibat (kehilangan sensasi
jarang terjadi). Pasien terkadang mengalami kelemahan pada bagian ekstremitasnya. Pada
kejadian yang sangat jarang terjadi, saluran kemih dan saluran cerna ikut terlibat, terutama
retensi urin.
Table 43-1 Diagnosis Radikulopati Lumbal
Serabut Radiasi Nyeri
saraf
L3
Inguinal dan paha
dalam
L4
Paha atau lutut
anterior,
tungkai
medial

L5

S1

Deviasi Gait

Terkadang
antalgik
Terkadang
antalgik,
kesulitan
mengangkat
alat atau kursi
dengan
menggunakan
satu kaki
Pantat,
tungkai Kesulitan
anterior
atau menjinjit
lateral, punggung Trendelenburg
kaki
gait

Paha
posterior, Kesulitan
betis, telapak kaki
berjalan
menggunakan
ibu jari, atau
tidak
bisa
mengangkat
ibu jari kaki
20 kali

Kelemahan
motorik
Fleksi
panggul
Extensi lutut,
fleksi
dan
aduksi
panggul

Kehilangan
sensasi
Anteromedial
paha
Paha lateral
atau anterio,
tungkai
medial dan
lutut

Kehilangan
reflek
Patela

Dorsofleksi
pergelangan
kaki,
eversidan
inversi kaki,
ektensi
ibujari kaki,
abduksi
panggul
Fleksi
telapak kaki

Posterolateral Medral
paha,
hamstring
anterolateral
tungkai, middorsal kaki.

Patela

Posterior
Aciles
paha, lateral
betis, palntar
kaki

PEMERIKSAAN FISIK
Bagian terpenting dalam menyevaluasi radikulopati lumbal adalah anamnesis dan pemeriksaan
fisik.7
Pemeriksaan muskuloskeletal dan saraf perifer harus dilakukan. Periksa apakah terdapat keadaan
asimetris dari punggung atau pergeseran salah satu sisi pelvis. Periksa pergerakan punggung dan
lihat apakah terdapat gejala radikular (nyeri menjalar ke ekstremitas).
Pemeriksaan otot manual adalah bagian vital dalam pemeriksaan untuk radikulpoati. Kelemhan
otot utama yang dipersarafi oleh serabut sarat tertentu adalah sebagi berikut; L3, fleksor panggul;
L4, ekstensor lutut dan adduktor panggul; L5, abduktor panggul, fleksor lutut, dorsifleksor
pergelangan kaki, eversi kaki, inversi kaki dan ekstensor ibu jari kaki; S1, fleksor plantar (Table

43-1). Coba deteksi kelemahan dari distribusi saraf perifer yang berasal dari serabut saraf yang
sama.Kelemahan otot proksimal pada distibusi serabut saraf yang terkena berfungsi
menyingkirkan diagnosis radikulopati bilateral dari neuropati perifer.
Pemeriksaan mengangkat lurus tungkai bisa dilakukan pada saat pasien dalam posisi duduk
ataupun supinasi. Tungkai diangkat lurus ke atas oleh pemeriksa, dan hasil positif didapatkan
apabila pasien mengeluh nyeri pada ekstremitas (bukan pada punggung), terutama pada
distrubusi serabut saraf spesifik. Jika nyeri tejadi pada punggung, ini bukan merupakan indikator
radikulopati, keadaan ini biasanya terjadi pada nyeri punggung bawah (low back pain)
nonspesifik. Terkadang, proses radikulopati lumbal berawal dari low back pain, dan beberapa
hari atau minggu kemudian, gejala akan timbul pada tungkai. Terdapat kemungkinan bahwa
proses utama ruptur nukleus melalui anulus dapat mengakibatkan nyeri punggung tetapi
patogenesis tidak sepenuhnya diketahui. Bandingkan sisi satu dengan sisi yang lainnya untuk
memastikan tidak membingungkan rasa sakit yang dihasilkan dari peregangan hamstring.
Banyak variasi-variasi dari jenis tes ini.
Pemeriksaan rektal dan pemeriksaan sensori perianal dan inguinal harus dilakukan apabila ada
riwayat inkontinesi rekti atau urin atau retensi atau onset awal dari disfungsi ereksi.
Waddell signs adalah sekelompok indikator bahwa proses nonorganik mengintervensi ketepatan
hasil pemeriksaan fisik. Gejalanya adalah nyeri superfisial, non anatomis; simulasi denganbeban
aksialatau rotasikepala, menyebabkan keluhan nyeri punggul; distraksi oleh duduk sambil
mengangkat kaki dibandingkan supine regional disturbance, itu kelemahan atau kehilangan
sensasi pada bagian tubuhyang berdistribusi nonanatomis; dan over reaksi, yang dideskripsikan
sebagai nyeri yang berlebihan. Gejala-gejal ini sering timbul pada pasien dengan kompensasi,
ligasi atau isu psikoemosioanal.8 Evaluasi Waddell signs harus dilakukan secara rutin pada pasien
denga isu ini.
KETERBATASAN FUNGSI
Keterbatasan fungsi bergantung pada derajat keparahan. Keterbatasaan biasanya terjadi akibat
nyeri tetapi terkadang juga disebabkan kelemahan. Berdiri dan berjalan menjadi terbatas, dan
kemampuan untuk duduk menurun. Pasien dengan radikulopati L4 memiliki risiko untuk terjatuh
dari tangga jika tungkai yang terlibat merupakan tumpuan tungkai berpijak pada tangga. Pasien
dengan radikulopati S1 berat tidak bisa berlari akibat kelemahan pada betis, sekalipun rasa nyeri
teratasi. Pasien dengan radikulopati L5 akan berjalan di pinggiran atau jika dalan keadaan berat,
pada tanah. Mereka membutuhkan penyangga (ankle dorsiflexion assist). Pada pasien
radikulopati aku yang berat, nyeri akan mengganggu aktivitas-rumah tangga, rekreasi, dan
pekerjaan. Pada kebanyakan pasien, ketika proses akut sudah teratasi, dapat kembali melakukan
aktivitas kecuali kegiatan rumah tangga berat dan bekerja. Setelah 3 sampai 6 bulan, mereka
dapan melakukan aktivitas sepeti biasa, tetapi tidak pada pasien yang mengalami kelemahan
residual, pada kasus ini mereka akan tetap mengalami keterbatasan seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, bergantung pada derajat radikulopati.
STUDI DIAGNOSTIK
Uji diagnostik memiliki dua bentuk: yang pertama berkolaborasi dengan diagnosis, yang kedua
menentukan etiologi. Pada kasus yang sederhana, uji diagnostik dibutuhkan dan gambaran klinis

dapat menentukan terapi. Riwayat trauma, kanker, infeksi, infeksi HIV, diabetes, dan lainnya
adalah indikasi uji diagnostik.
ELEKTROMIOGRAFI
Elektromiografi dan uji konduksi saraf, ketika dilakukan oleh individu berpengalaman dalam
diagnosis gangguan neuromuskuler, dapat dilakukan dalam diagnosis radikulopati lumbal.
Pemeriksaan ini juga dapat membantu dlaam menyngkirkan diagnosis banding dan pada pasien
dengan hasil pemeriksaan fisik yang meragukan. Elektromiografi memiliki keuntungan melebihi
teknik imaging yang memiliki spesifisitas tinggi, dan rekamannya jarang abnormal pada pasien
asimptomatik.9 Penelitian ini tidak secara langsung memberikan informasi tetntang penyebab
radikulopati.
PENCITRAAN / IMAGING
Teknik pencitraan yang berhubungan dengan radikulopati lumbal adalah radiologi vertebra
lumbosakral, computed tomography (CT), dan magnetic resonance imaging (MRI).
Foto polos radiologi dapat digunakan untuk menyingkirkan kerusakan tulang traumatik atau
metastase penyakit. Ini akan memvisualisasikan ruang diskus tetapi tida bagian canalis spinalis
atau serabut saraf. CT dan MRI akan memvisualisasikan diskus, canalis spinalis, dan serabut
saraf yang dapat ditemukapan pada orang asimtomatik, rasio herniasi diskus berkisar dari 21%
pada kelompok usia 20 sampai 39 tahun sampai 37,5% pada kelompok usia 60 sampai 80 tahun. 2
Untuk mendapatkan hasil yang berarti, CT dan MRI harus memiliki hubungan yang jelas dengan
gambaran klinis. Pemeriksaan ini dapat dilakukan apabila dicurigai adanya tumor atau operasi
perlu dilakukan. Ini dapat berguna pada perubahan lokasi patologik untuk kebituhan injeksi
steroid epidural selektif. Pemeriksaan yang paling akurat adalah MRI dan peningkatan
gadolinium tidak dibutuhkankecuali dicurigai terdapat tumor atau pasien yang harus menjalani
operasi. Peningkatan gadolinium berguna post operasi untuk membedakan herniasi diskus dan
jaringan parut

Diagnosis Banding
Trochanteric bursitis
Anserine bursitis
Hamstring strain
Lumbosacral plexopathy
Diabetic amyotrophy
Peripheral neuropathy sciatic, tibial, peroneal,
femoral
Avascular necrosis of the hip
Hip osteoarthritis
Shin splints
Lateral femoral cutaneous neuropathy (meralgia
paresthetica)
Spinal stenosis
Cauda equina syndrome
Demyelinating disorder
Lumbar facet syndrome
Piriformis syndrome

TERAPI
Tujuan utama terapi ini adalah menurunkan inflamasi dan dengan demikian meringankan rasa
nyeri serta mengatasi radikulopati terlepas dari kelainan anatomis yang mendasari. Istirahat,
yang menjadi terapi nonoperatif andalan, sekarang direkomendasikan hanya untuk mengontrol
gejala. Penelitian menunjukan bahwa istirahat memiliki efek pada hasil akhir kelainan. 10 Selama
pasien menghindari aktivitas seperti membungkuk dan mengangkat, yang cenderung
meningkatkan tekanan intradiskus, mereka bisa melakukan sebagian besar aktifitas sehari-hari.
Penggunaan obat anti inflamasi non-steroid (NSAIDs) untuk mengurangi inflamasi dan
mempercepat hilangnya nyeri. NSAID efektif pada low back pain akut.11 Namun, sebuah
pembahasan yang mengikutsertakan tiga randomized controlled trial menggunakan NSAID
menunjukan tidak efektivitas melebih placebo.12 Itu masih beralasan untuk memberikan NSAID
pada percobaan singkat pada radikulopati lumbal akut. Penggunaan steroid oral lebih
kontroversial dan tidak melewati studi kontrol yang baik, meskipun pada low back pain akut.
Opioid dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. Ada sedikit kekhawatiran terhadap efek
adiksi pada kasus akut dan dibutuhkan pengobatan yang memadai. Kisaran kebutuhan dari nol
sampai dosis tinggi, seperti ekuivalen 60 sampai 100 mg morfin (contoh, MS Contin) per hari.
Mulai dengan hydrocodone atau oxycodone dan lakukan titrasi jika dibutuhkan.Untuk nyeri
berat, gunakan opioid long-acting, seperti oxycodone (OxyContin) atau MS Contin; Untuk
melewati kesakitan, menggunakan tindakan cepat opoid, seperti hydrocodone, oxycodone, atau
tindakan cepat morphin. Ada beberapa data scan pengobatan lain yang digunakan pada akut
radikulopati lumbalis. Pengobatan seperti cyclobenzaprine, metxalone, methocarbamol dan
chlorzoxazone, beberapa dari itu mungkin memiliki keefektifan pada nyeri ringan akut
belakang,13 belum terbukti afektif pada akut radikulopati. Antikonvulsan dan antidepresan
trisiklik, yang menunjukkan aktifitas menghilangkan rasa nyeri pada neuropati perifer dan
neuralgia postherpetic, belum dipelajari secara baik pada lumbar atau serviks neuralgia. Pada
pembelajaran yang tidak dimonitor, lamotrigine menunjukkan kefektifitasan pada radikulopatis

dalam durasi 12 sampai 36 bulan.secara klinis, dapat dipertimbangkan untuk mencoba keduanya
baik sebuah antikonvulsan, seperti gabapentin atau lamotrigin, dan sebuah tricyclic, seperti
doksepin atau nortriptilin, pada radikulopati yang bertahan lebih lama. Mulai dengan dosis
rendah dan titrasi secara bertahap untuk menentukan dosis efektif minimal.
PEMULIHAN
Pada radikulopati akut dengan tingkat kesakitan tinggi, biasanya cara terbaik adalah menunggu
beberapa fase akut agar mereda sebelum menganjurkan terapi fisik. Pada masalah yang lebih
serius, terapi adalah pendekatan pertama terbaik.
Metode fisik adalah sebuah tambahan berguna untuk perlakuan pengobatan. Beberapa metode,
termasuk fleksi dan latihan extensi( sering disebut sebuah program stabilisasi lumbosakral), yang
telah diuji. Apapun metode yang digunakan, apabila muncul nyeri radikular, maka latihan harus
dihentikan. Setelah radikulopati selesai, pasien diresepkan latihan regimen yang tepat untuk
meningkatkan fleksibilitas dan kekuatan. Latihan stabilitas lumbar dan tetap aktif mungkin bisa
menjadi yang paling efektif dari beberapametode yang telah dipelajari secara hati-hati pada
lumbar radikulopati. Satu pelajaran menunjukkan tidak ada efektifitas lumbartraksi. 15 Modalitas
lain, seperti stimulasi listrik saraf transcutane, akupuntur, manipulasi pijat dipelajari tidak baik
dengan mencoba lumbar radikulopati secara acak.4 karena tidak mungkin menyebabkan cidera,
mereka dapat diberikan semacam percobaan. Manipulasi seharusnya dapat terselesaikan.
PROSEDUR
Injeksi steroid dapat sangat efektif pada lumbar radikulopati dengan atau tanpa herniasi, terutama
pada pasien dengan akut radikulopati.15,16 Sebuah respons yang rendah telah ditemukan pada
pasien dengan masalah yang lebih lama dan memperkuat mereka, seperti litigasi atau klaim
kompensasi pekerja. Walaupun hal ini belum jelas selama hasil lama telah diubah, steroid
epidural menguntungkan selama 3 bulan pertama dan dapat memungkinkan untuk
menghilangkan nyeri dengan cepat dan kembali berfungsi. 15 Prosedur ini harus dilakukan secara
fluoroscopik.17 Hal ini beralasan praktis untuk dilakukan epidural meskipun sebelum teknik
gambar. Tidak ada efek pada suntikan pertama, selektif melayani injeksi akar (injeksi
transforminal) dapat dilakukan.17 Suntikan transforaminal dapat menjadi sangat efektif apabila
didasarkan pada hasil MRI, terutama herniasinya sesuai dengan tingkat radikulopasi sekarang.
Hal ini dapat diterima untuk melakukan satu suntikan dan untuk mengevaluasi kembali pasien
untuk menjelaskan apakah lebih banyak suntikan dibutuhkan. Maksimum tiga suntikan dapat
dilakukan untuk satu episod radikulopati, tapi ini beralasan untuk mengulangi prosedur untuk
episode berulang dari radikulopati setelah 3 6 bulan.
Pengobatan nonoperatif memungkinkan resolusi radikulopati pada lebih dari 90% kasus. Yang
lebih menarik, telah ditemukan oleh para pendahulu ketika radikulopati adalah hasil dari
herniasi, yang sebenarnya dari herniasi dapat menyembuhkan kasus keseluruhan, dan bahkan
ketika sisa-sisa herniasi, gejalanya akan mereda.
OPERATIF
Operasi sesuai dibawah dua kondisi. Pertama, operasi dilakukan pada basis darurat ketika hadir
pasien dengan herniasi sentral usus dan kandung kemih inkontinensia atau retensi dan bilateral
kelemahan ekstremitas bawah. Pada kondisi langka ini, ahli bedah ortopedi atau tulang belakang

neuropedik harus segera dikonsultaskan dan pasien segera dioperasi, selama 6 jam. Kedua, ahli
bedah adalah pilihan jika seorang pasien melanjutkan untuk nyeri yang membatasi fungsi setelah
sebuah percobaan yang memadai dari perlakuan nonoperatif.
Pemilihan pasien sangatlah penting untuk hasil operasi yang baik. Hasil terbaik tergantung
pasien dengan keterlibatan akar tingkat satu; ketika rasa nyeri dirasakan lebih pada anggota
bawah tubuh darpada di belakang, dan dengan abnormalitas anatomi dengan menggambarkan
koresponden pada gejala yang dimiliki pasien, temukan latihan fisik, dan elektromyografik
ditemukan pada pasien tanpa psikologis atau maslah pertumbuhan kedua. Tipe operasi
ditentukan oleh penyebab dari radikulopat. Untuk kasus herniasi, laminektomi sederhana dan
disektomi cukup. Dalam hal in fusi harus dihilangkan. Dengan stenosis spinal, lebih dibutuhkan
laminektomi ekstensif dengan foraminotomi. Fusi harus dimiliki untuk kasus frekuensi yang
relatif instabilitas spinal dengan demonstrasi yang baik bersama dengan radikullopati atau jika
prosedur operasi akan menghasilkan instabilitas spinal.
POTENSI PENYAKIT KOMPLIKASI
Komplikasi berhubungan dengan terlibatnya akar saraf di cauda equina. Yang paling serius
adalah paraplegic disc. Dalam kasus ini, herniasi dapat menyebabkan cacat, namun ini sangat
langka. Lebih umum, namun masih tidak biasa, halini menyebabkan kelemahan dan keterlibatan
fungsi ususu dan kandung kemih. Kelemahan residual mungkin terjadi pada saat setelah operasi
secara spontan. Pasien mungkin berkembang untuk sindrom nyeri punggung bawah kronis; hal
ini memungkinkan terjadi masalah pertumbuhan kedua pada pasien.
EFEK SAMPING PENGOBATAN
NSAIDs dapat menyebabkan pendarahan gastrointestinal, bisul mulut, dan komplikasi ginjal dan
hati. Cyclo-oxygenase 2 (COX-2) terbaru pendarahan gastrointestinalnya ditolak oleh inhibitor.
Untuk penyakit kardiovakular, banyak pertanyaan yang ditimbulkan oleh inhibitor COX-2 dan
NSAIDs lainnya. Pengobatan ini harus dilakukan dengan hati-hati, dengan dosis tepat, dan pada
period tertentu.
Suntikan steroid epidural jarang sekali menghasilkan abses epidural dan hematoma epidural.
pasien tidak boleh mengosumsi aspirin dalam 5 hari sebelum disuntik. Beberapa mengatakan
bahwa NSAIDs tidak boleh dikonsumsi 3 sampai 5 hari sebelum prosedur, walaupun tidak ada
literatur dokumen yang menyataakan insiden kenaikan dari komplikasi pendarahan dari suntikan
epidural atau spinal ketika pasien mengonsumsi NSAIDs. Warfarin juga harus dihentikan, jika
meragukan, rasio normalisasi internasional harus dicek. Clopidogrel bisulfat(plavix) dan sama
dengan agen antiplatelet harus dihentikan seminggu sebelum penyuntikan. Suntikan dapat
menyebabkan nyeri lokal, dan apabila dilakukan tanpa fluoroscop, hal ini dapat sering
menyebabkan sakit kepala spinal menusuk dari dura dan kebocoran cairan tulang belakang. Hal
ini terjadi kurang dari ketika fluoroskopik digunakan.
Komplikasi bedah termasuk infeksi, luka akar saraf, cacat, nyeri lokal punggung, dan yang
paling biasa komplikasi postoperatif ( seperti., tromboplebitis, infeksi kandung kemih).
Komplikasi bedah yang lebih serius termasuk akar saraf atau cauda equina cedra, arachnoiditis,
dan sindrom nyeri post-laminectomy.

REFERENSI
1. Jensen MC., Brant-Zawadzki MN., Obuchowski N, et al. Magnetic resonance imaging of
the lumbar spine in people without back pain. N Engl 1 Med 1994.331 :69-73.

2. Boden SD., Davis DO., Dina TS, et al. Abnormal magnetic-resonance scans of the
lumbar spine in asympromatic subjects. J Bone Joins Sung Am 1990;71:402-408.
3. Murata Y., Olmarker K., Takahashi l, et al. Effects of selective tumor necrosis factoralpha inhibition to pain-behavioral changes cause by nucleus pulposus-induced damage
to the spinal nerve in rats. Neurosci Left 2005;381:145-152.
4. Rhee JM., Schaufele M., Abdu W. Radiculopathy and the herniated lumbar disc.
Controversies regarding pathopsycology and management. J bone Joint Sung Am
2006;72:538-542.
5. Younes M., Bejia l., Aguir Z., et al. Prevalence and rich factors of disk-related sciatica in
an urban population in Tunisia. Joint Bone Spine 2006;72:538-542
6. Praemer A., Furner S., Rice Dp. Musculoskeletal Conditions in the United States, 2nd ed.
Rosemont, III. American Academy of Orthopaedic Surgeons. 1999.
7. Deya RA., Rainvillel., Kent Dl. What can the history and physical examination tell us
about low back pain. JAMA 1992;268:760-765.
8. Waddell G., McCUlloch IA., Kummel E., Venner RM. Nonorganic physical signs in low
back pain. Spine 1980;5:117-125.
9. Robinson LR. Electromyography, magnetic resonance imaging, and radiculopathy, its
time to focus on specificty. Muscle Nerve 1999;22:149-150.
10. Vroomen P., de Krom M., Wilmink JT, et al. Lack of effectiveness of bed rest for sciatica.
N Engl l Med 1999;340:418-423.
11. Van Tulder MW., Scholten Rj, Koes BW., Deyo RA. Nonsteroidal anti-inflaminatory
drugs for low back pain. A systematic review within the framework of the Cochrane
Collaboration Back review Group. Spine 2000;25:2501-2513.
12. Vroomen PC, AL., de Krom MC., Slofstra PD., Knottnerus JA. Treatment of sciatica : a
systematic review. l Spinal Disord 2000;13:463-469.
13. Van Tulder MW., Touray T., Fudan AD, et al. Cochrane Back review Group. Muscle
relaxants for nonspecific low back pain : a systematic review within the framework of the
Cochrane Colaboration. Spine 2003;28:1978-1992.
14. Eisenberg E., Damunni G., Hoffer E, et al. Lamotrigine for intractable sciatica :
correlation between dose, plasma concentration and analgesia. Eur l Pain 2003;7:485491.
15. Carette S., Leclaire R., Marcoux S, et al. Epidural cortocosteroid injections for sciatica
due to herniated nucleuspulposus. N Engl l Med 1997;336:1634-1637.
16. Thomas F., Cyteval C., Abiad L, et al. Efficacy of tranforaminal versus interspineus
conticosteroid injection in discal radiculalgia-a prospective randomised, double-blind
study Clin Rheumatol 2003;22:299-304.
17. Lutz GE., vad VB., Wisneski RJ. Fluoroscopic transferaminal llumbar epidural steroids:
an outcome study. Arch Phys Med Rehabil 1998;79:1362-1366.
18. Saal JA., Saal JS. Nonoperative treatment of herniated lumbar intervenebral disc with
radiculopathy: an outcome study. Spine q997;14:431-437.
19. Ellenberg M. Reina N., Ross M, et al. Regression of herniated nucleus pulposus two
patients with lumbar radiculopathy. Arch Phys Med Rehabil 1989;70:842-844.
20. Ellenberg M., Ross M., Honet JC, et al. Prospective evaluation of the course of disc
herniations in patients with proven radiculopathy. Arch Phys Med Rehabil 1993;74:3-8.
21. Saal JA., Saal JS., Herzog I. The natural history of inervertebral disc extrisons treated
nonoperatively. Spine 1990;7:683-680.
22. Finneson BE., Cooper VR. A lumbar disc surgery predictive scorecard. A retrospective
evaluation. Spine 1979;4:141-144.

Anda mungkin juga menyukai