Anda di halaman 1dari 9

J.

Hidrosfir

Vol.1

No.2

Hal. 52-60 Jakarta, Agustus 2006 ISSN 1704-1043

ANALISIS DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PERAIRAN


MARIKULTUR BATAM ESTET (BME) BATAM
Suhendar I Sachoemar
Peneliti Kelautan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Abstract
Carrying capacity analysis at Bantam Mariculture Estate was conducted to
determain their optimal production capacity and number of fish cages setting
for sustainable aquaculture development within this area. The analysis was
design on the material balance base of the nitrogen input and output where
the aquaculture system of fish rearing on the cages was assumed as the
black box system. To support the analysis, physical and chemical parameters
such as current speed and dissolved in organic nitrogen (ammonia, nitrate
and nitrite) were included on the analysis to understand their flushing rate
as key factor that showing of the ecosystem ability on the reduction of the
pollutant concentration.
The calculation result shows that fish production capacity of Batam
Mariculture Estate was high that is up to 3 thousand ton peryear for 3
thousand unit of fish cages. Flushing rate was excellent that is within range
of 30 60 million m3/hours with the ability of the ecosystem to avoid the
pollutant is less than 10 hours. The nitrogen and ammonia released on the
environment are low that are around 0.004 0.008 mg/days and 0.002
0.004 mg/days respectively. These value are below of the minimum level
permitted for the aquaculture.
Key words : Enviroment carrying capacity, Bantam mariculture estate

1.

PENDAHULUAN

Pulau-pulau kecil di kawasan BatamRempang-Galang (Barelang) Kepulauan


Riau memiliki potensi yang luar biasa
untuk pengembangan budidaya perikanan laut. Untuk itu Pemerintah Kota Batam
bekerjasama dengan Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT), sejak
tahun 2001 telah melakukan kegiatan
pengkajian di beberapa lokasi potensial
di Kawasan Barelang. Salah satu lokasi
yang cukup potensial adalah perairan
52

Nguan di daerah Galang Baru sekitar 60


km sebelah selatan kota Batam. Perairan
Nguan seluas kurang lebih 40 ha telah
direkomendasikan sebagai tempat yang
sangat layak untuk pengembangan usaha
budidaya ikan kerapu di Batam. Sebagai
tindak lanjut dari temuan tersebut, sejak
tahun 2001 telah dillakukan uji coba
budidaya ikan kerapu dalam Keramba
Jaring Apung dimana hasilnya dilaporkan
cukup baik. Saat ini perairan Nguan telah
dikukuhkan menjadi suatu kawasan
budidaya perikanan laut yang dikenal

Sachoemar,I.S. 2006

dengan nama Batam Marikultur Estat


(BME) dan statusnya telah diperkuat
dengan keluarnya SK Walikota Batam No.
KPTS.
124/HK/VI/2003
tentang
Penetapan Lokasi Kawasan Budidaya
Laut. (1) Agar kegiatan tersebut dapat
berlangsung secara berkelanjutan, maka
pengembangannya perlu disesuaikan
dengan kapasitas daya dukung
lingkungan dan karakteristis perairannya.
Untuk itu, maka diperlukan data dan
informasi yang terintegrasi, aktual dan
akurat yang dapat dimanfaatkan untuk
menentukan kapasitas daya dukung
lingkungan dan pengembangan model
pengelolaan kawasan perairan dengan
berbasiskan kepada karakteristik
lingkungan perairan dikawasan tersebut.
Sehingga kondisi lingkungan perairan
dapat tetap terjaga dan tetap sehat untuk
pengembangan kegiatan budidaya
perikanan laut secara berkelanjutan.
Permasalahan yang paling serius
dan sering dihadapi dalam kegiatan
budidaya ikan dengan sistem jaring apung
adalah masalah pencemaran lingkungan
perairan yang disebabkan oleh limbah
organik dari sisa-sisa kotoran ikan dan
kelebihan pakan ikan yang tidak
terkonsumsi. Kelalaian dalam memperhatikan kondisi lingkungan perairan dan
ekspansi secara besar-besaran yang
melebihi daya dukung lingkungan dalam
kegiatan budidaya ikan seringkali
dihadapkan kepada resiko kerugian yang
cukup besar dan berkepanjangan. Limbah
organik dari kegiatan budidaya ikan di
jaring apung dalam jangka panjang akan
terakumulasi di dasar perairan. Bersamasama dengan limbah organik yang berasal
dari berbagai kegiatan didarat
(pemukiman dan industri), apabila tidak
terkendali dengan baik akan menyebabkan terjadinya eutrofikasi atau pengkayaan perairan secara berlebihan yang

sering diikuti dengan ledakan (blooming)


fitoplankton dan meningkatnya kandungan sulfida dan H2S di dasar perairan.
Akibatnya, perairan menjadi bersifat
unoxic atau kekurangan oksigen dan toxic
atau beracun. Proses ini akan lebih
diperburuk lagi kalau terjadi peristiwa
upwelling atau penaikan massa air dari
lapisan bawah kepermukaan dan
turbulensi atau pengadukan massa air
sesaat, yang secara tiba-tiba sering
menyebabkan kematian massal pada
ikan-ikan yang dibudidayakan dalam
jaring apung.
Untuk mengatasi kondisi yang
demikian, maka sejak dini perlu
direncanakan program monitoring
lingkungan perairan secara teratur dan
pengendalian atau pembatasan kegiatan
budidaya ikan yang disesuaikan dengan
kapasitas daya dukung lingkungannya.
Dengan demikian penentuan kemampuan daya dukung suatu ekosistem
perairan untuk dijadikan suatu kawasan
budidaya perikanan, merupakan suatu
keharusan agar program pengembangan
budidaya ikan secara optimal dan
berkelanjutan dapat ditentukan dan
direncanakan sebaik mungkin.
2.

METODE PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat Pengkajian


Kegiatan pengkajian daya dukung
lingkungan ini dilaksanakan selama
empat bulan dari bulan Juli sampai
dengan Oktober 2003 di perairan
Kawasan BME di sekitar Nguan, Galang
Baru, Batam (Gambar-1).
2.2 Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup pengkajian analisa
daya dukung lingkungan perairan
kawasan budidaya perikanan Batam
Marikultur Estat ini meliputi :

Analisis Daya....J. Hidrosfir. Vol.1(2):52-60

53

1) Pengumpulan data primer dan


sekunder fisika dan kimia terutama
nitrogen terlarut (ammonia, nitrat dan
nitrit).

lingkungan, penentuan kapasitas produksi


dan kapasitas jaring apung di perairan
kawasan BME. Model daya dukung
lingkungan yang dikembangkan adalah
box model keseimbangan bahan dalam
2) Analisa dan interpretasi data.
suatu ekosistem perairan yang
3) Pengembangan model daya dukung
diasumsikan sebagai kawasan budidaya
lingkungan .
ikan. Dengan melalui berbagai analisa
4) Penentuan daya dukung lingkungan, dan perhitungan, diharapkan model ini
kapasitas produksi dan jumlah jaring secara kuantitatif dapat menduga dan
apung optimum.
menentukan kapasitas produksi dan
jumlah jaring apung optimum yang dapat
dikembangkan dalam suatu kawasan
perairan sesuai dengan daya dukung
lingkungannya.
Hasil analisa ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan program pengelolaan
lingkungan dalam rangka perlindungan
kawasan budidaya perikanan secara
berkelanjutan sesuai dengan karakteristik
dan pola perubahan ekosistemnya.

Gambar-1. Lokasi kegiatan di perairan


Kawasan BME Nguan,
Galang Baru Batam
2.3 Pengumpulan data dan analisa
data
Data series kualitas air (fisika dan
kimia), diperoleh langsung melalui survey
lapangan dan data sekunder. Data
oseanografi yang dikumpulkan terutama
data arus dan nitrogen terlarut (ammonia,
nitrat dan nitrit) yang merupakan
komponen utama untuk analisis daya
dukung lingkungan perairan kawasan
budidaya perikanan.

Secara umum, analisis daya dukung


lingkungan perairan kawasan budidaya
laut difokuskan kepada pengembangan
model keseimbangan bahan (material)
dalam suatu ekosistem perairan yang
diskenariokan sebagai kawasan budidaya
perairan. Tujuan dari analisa ini adalah
untuk mengetahui daya dukung
lingkungan dan kapasitas produksi
optimum dari kegiatan budidaya
perikanan yaitu dengan menganalisa
pasokan nutrien (nutrient load) dalam hal
ini adalah nitrogen yang berasal dari
pakan dari kegiatan budidaya ikan dalam
karamba jaring apung (KJA) yang masuk
kedalam perairan dan selanjutnya dikenal
dengan terminologi nitrogen budget.
Untuk mengetahui berapa nutrien
(nitrogen=N) yang dikonsumsi dan yang
terbuang ke dalam perairan digunakan
rumus berikut :
C = P + M + E + F ............... (1)

Analisa data diarahkan untuk


pengembangan model daya dukung
54

Sachoemar,I.S. 2006

dimana C = Jumlah N yang dikonsumsi


ikan per individu, P = N yang dipergunakan
untuk pertumbuhan ikan, M = N yang
hilang akibat kematian ikan (dalam kasus
individu ikan, M= 0), E = N yang masuk
ke dalam perairan melalui ekskresi ikan
dari insang dan F = N yang masuk
kedalam perairan melalui kotoran ikan.
Nitrogen budget dalam budidaya
perikanan secara keseluruhan dapat
dirumuskan sebagai berikut :
C=IW

................................ (2)

dimana I = Total N yang masuk kedalam


sistem budidaya, W = N yang hilang
melalui pakan yang terbuang ke perairan
dan C = Jumlah N yang dikonsumsi oleh
stok ikan dalam KJA. Secara teoritis
nitrogen budget dalam persamaan (1)
harus seimbang dan jumlah nitrogen yang
dikonsumsi
dapat
diduga
dari
penjumlahan P, M, E dan F.
Keseimbangan bahan dalam persamaan tersebut
dapat juga di kontrol dengan membandingkan konsumsi nitrogen hasil penjumlahan tersebut (Cs) dengan jumlah aktual
konsumsi nitrogen di lapangan (Cf) dengan menggunakan persamaan berikut :
% balance = (Cs/Cf) x 100 %
Secara skematik model keseimbangan bahan dalam suatu sistem budidaya
ikan dapat dilihat pada Gambar-2.
3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi Lingkungan dan Kualitas


Perairan Kawasan BME.
Secara umum kondisi perairan
Kawasan BME bersifat oligotrofik, yaitu
perairan yang tergolong sangat baik,
bersih, sehat, jernih dan sangat baik untuk
pengembangan kegiatan budidaya ikan.
Dengan dasar perairannya yang berupa
karang berpasir serta jauh dari muara

Gambar-2. Skematik diagram model


keseimbangan bahan dan
siklus nitrogen dalam suatu
ekosistem perairan dan
sistem budidaya laut
sungai, menjadikan perairan ini sangat
sesuai untuk pengembangan budidaya
ikan kerapu dalam karamba jarring
apung. Sirkulasi air yang baik dengan
waktu penggantian air hanya beberapa
jam, membuat perairan ini sangat mirip
dengan kolam air deras raksasa yang
dapat dimanfaatkan untuk memacu
produktivitas seoptimal mungkin. Namun
demikian, ada beberapa yang perlu
diwaspadai saat ini sehubungan dengan
kondisi lingkungan perairan di Nguan.
Hadirnya beberapa kegiatan berupa
pabrik es, jetty tempat berlabuhnya kapalkapal dan kegiatan reklamasi disepanjang pantai Galang, telah mengindikasikan terjadinya gangguan lingkungan
berupa kenaikan suhu perairan,
penurunan kecerahan perairan, meningginya kekeruhan dan kadar partikel
tersuspensi serta minyak dan oli yang
sangat potensial mengganggu kegiatan
budidaya dan berbahaya bagi kehidupan
biota perikanan dan keamanan investasi.
Karenanya kegiatan disekitar perairan
Kawasan BME, harus disesuaikan
dengan konsep Batam Marikultur Estat

Analisis Daya....J. Hidrosfir. Vol.1(2):52-60

55

yang akan mengem-bangkan dan


Untuk menghitung nutrient N budget
mengelola kawasan budidaya secara ikan baik perindividu maupun produksi
berkelanjutan berwawaskan lingkungan. missal dalam karamba jaring apung
dapat dilihat pada persamaan 1-3.
Kondisi lingkungan yang cocok untuk
Nutrien budget untuk setiap jenis ikan
budidaya ikan kerapu yaitu perairan yang
bebeda dengan ikan lainnya, dalam
mendekati habitat asli hidupnya di
laporan ini akan disampaikan untuk ikan
perairan karang dengan perairan yang
kerapu. Berdasarkan hasil penelitian
cukup jernih, bersirkulasi baik dan
terhadap ikan kerapu(5) diketahui bahwa
berdasar pasir. Temperature perairannya
untuk memproduksi 1 kg ikan kerapu di
berkisar antara 24 - 31 C, salinitas antara
laboratorium dengan menggunakan ikan
30 - 33 ppt, kandungan oksigen
rucah giling dalam satu bulan diperoleh
terlarutnya lebih besar dari 3,5 ppm dan
keseimbangan bahan untuk nitrogen (N)
pH antara 7,8 8,0 (2). Menurut Nybakken
sebagai berikut : N yang diperlukan untuk
(3)
(1988) perairan dengan kondisi tersebut
produksi (P) : 33 gN/kg ikan, untuk
diatas pada umumnya terdapat di
ekskresi (E) : 82 g N/kg ikan, untuk
perairan karang. Berikut ini disajikan
kotoran ikan atau faeces (F) : 10,3 g N/
Nilai Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut
kg ikan dan N yang hilang (F + E) : 92,3
(Budidaya Perikanan) sesuai dengan Kep.
g N/kg ikan. Sedang di dalam karamba
MENKLH No. KEP 02/MENKLH/1/
jaring apung (perairan terbuka), untuk
(4)
1988.
memproduksi 1 kg ikan dengan ikan
rucah diperlukan input ( I ) : 365 g N/kg
3.2 Kapasitas Produksi dan Daya ikan, Limbah (W) : 138 g N/kg ikan, untuk
Dukung Lingkungan Perairan produksi (P) : 31,5 g N/kg ikan, ekskresi
(E) : 168,2 g N/kg ikan, kotoran ikan atau
Kawasan BME
Untuk mengetahui kapasitas
produksi dan daya dukung perairan dalam
kegiatan budidaya perikanan, maka
digunakan analisa keseimbangan bahan
dalam ekosistem perairan. Kapasitas
produksi dan kemampuan daya dukung
lingkungan dapat ditentukan berdasarkan
perhitungan pasokan jumlah nutrien
(nutrient Nitrogen Budget) dari kegiatan
budidaya perikanan dalam perairan yang
diasumsikan sebagai kotak hitam (black
box) dan kemampuan perairan itu sendiri
untuk memulihkan kondisinya kepada
keadaan semula yang bersifat alamiah. Gambar -3. Model keseimbangan bahan
dalam kegiatan budidaya
Secara skematik model keseimbangan
perikanan budidaya ikan
bahan dalam sistem budidaya ikan
kerapu di karamba jaring
diilustrasikan sebagai berikut (Gambarapung.
3).

56

Sachoemar,I.S. 2006

faeces (F) dan mortalitas (M) : 13,5 g N/


kg ikan, maka total N yang terbuang ke
perairan (W + E + F) : 320, 6 g N/kg ikan.
Sementara jumlah polutan yang masuk
kedalam perairan dalam bentuk pasokan
nitrogen (N) terlihat pada Tabel-1.
Tabel-1. Berbagai bentuk polutan nitrogen
yang lepas ke dalam perairan
dari kegiatan budidaya ikan
kerapu di karamba jaring apung.
Pasokan polutan N
g N/kg
% TN
produksi ikan hilang
Total ammonia
169,8
53,0
Nitrate N
0,7
0,2
Nitrit N
0,1
0,0
Urea N
ND
ND
Total organik N (TON)
150,0
46,8
Total N terlarut (TDS)

170,6

53,2

Total N

320,6

100,0

Dari tabel tersebut dapat diketahui


bahwa total polutan nitrogen (N) yang
lepas ke dalam perairan dan tenggelam
ke dasar perairan (sedimen) dari kegiatan
budidaya ikan dalam karamba jaring
apung adalah sebesar 321 kg N/ton
produksi ikan dalam bentuk total nitrogen
terlarut (TDS): 47 kg, total nitrogen
organik (TON) : 41 kg kedalam sediment
dan 88 kg total N yang hilang. Bagan
aliran penggunan nitrogen N dalam
budidaya ikan kerapu dalam karamba
jarring apung (KJA) dapat dilihat pada
Gambar-4.
Jumlah produksi ikan kerapu
dengan menggunakan karamba jaring
apung (KJA) di Indonesia rata-rata 75
ton/ha (75 unit KJA) dengan estimasi
limbah terbuang sebanyak 24 ton N /ha
pertahun dimana ammonianya sebesar
13 ton/ha per tahun. Apabila luas perairan
Nguan 400 ha dengan panjang pantai 10
km dipergunakan seluruhnya, maka

Gambar-4. Bagan alir nitrogen N dalam


kegiatan budidaya ikan dalam
karamba jaring apung
produksi ikan kerapu pertahun sebesar
30.000 ton (30.000 unit KJA) dan apabila
hanya dimanfaatkan setengahnya,maka
produksinya diperkirakan sebesar
15.000 ton (15.000 unit KJA) dengan
buangan limbah nitrogen N nya sebesar
4800 9600 ton N. Volume perairan
Nguan diperkirakan 3450494,26 m 3 ,
maka kalau diasumsikan tidak ada
aliran arus, konsentrasi nitrogen di
perairan Nguan akibat adanya kegiatan
budidaya ikan diperkirakan sebesar 1,4
kg 2,8 kg/m3 pertahun /atau 1,4 2,8
mg/l pertahun(0,004 0,008 mg/hari).
Sementara
kadar
ammonianya
diperkirakan 0,75 1,5 kg/ m3 atau setara
dengan 0,75 1,5 mg/l pertahun (0,002
0,004 mg/hari). Dengan kondisi tanpa
arus (aliran), daya dukung perairan
Nguan masih cukup tinggi untuk
memproduksi 15.000 30.000 ton ikan
atau (15.000 30.000 unit KJA). Hal ini
terlihat dari estimasi konsentrasi
ammonianya yang rendah dan sangat
baik untuk pengembangan kegiatan
budidaya ikan, apalagi kalau ditunjang
dengan adanya lairan (arus). Daya bilas
(flushing rate) perairan Nguan untuk

Analisis Daya....J. Hidrosfir. Vol.1(2):52-60

57

ruang efektif terpakai akan menjadi 50


ha atau 12,5 % dari total area perairan
Nguan dengan kapasitas produksi 3.750
ton ikan/tahun untuk 3.750 unit KJA.
Jumlah ini tentunya harus ditata dan
disesuaikan dengan kondisi fisik
lingkungan, seperti situasi arus,
morfologi pantai, alur layar untuk
pengelola budidaya dan pengangkuta
fasilitas pendukung kegiatan budidaya
serta pertimbangan lainnya sehubungan
dengan peruntukan pemanfaatan lahan
perairan di Nguan seperti alur lintas
pemukiman nelayan dan kegiatan lainnya
yang berhubungan dengan pengembangan Batam Marikultur Estat (BME)
sebagai kawasan usaha budidaya dan
wisata budidaya laut. Berikut ini estimasi
Gambar-5. Kapasitas karamba jaring
kapasitas KJA terpasang untuk masingapung (KJA) untuk masingmasing garis pantai (Gambar -5).
masing lokasi
membersihkan diri dari pengaruh
pencemaran cukup tinggi yaitu sekitar 30
60 juta m3/jam dalam waktu kurang dari
10 jam yang dihitung berdasarkan
kecepatan arus yang berkisar antara 25
40 cm/detik dan volume air sekitar
3.450.494,26 m 3 . Kuatnya arus yang
mengalir dari utara keselatan selat dan
sebaliknya merupakan kelebihan
tersendiri yang dimiliki perairan selat
untuk dapat membersihkan diri dari bahan
pencemar secara cepat. Hal ini
menunjukkan bahwa kapasitas produksi
budidaya ikan di perairan Nguan sangat
tinggi dan dapat dipacu secara optimum.
Namun demikian pertimbangan estetika,
tata ruang dan alur pelayaran perlu
dipikirkan
dalam
menata
dan
merencanakan kapasitas produksi guna
menjaga keseimbangan ekosistem dan
keserasian lingkungan. Dengan panjang
pantai 10 km dan lebar antara Pulau
Nguan dan Galang 1, 2 km, idealnya KJA
dipasang maksimum sampai 0,5 km dari
garis pantai masing-masing, maka
58

4.

KESIMPULAN

Pengembangan usaha budidaya


perikanan, apabila tidak disertai dengan
kepedulian terhadap keseimbangan
sumberdaya alam dan daya dukung
lingkungan, maka seringkali berakhir
dengan kegagalan. Belajar dari beberapa
pengalaman
yang
ada,
maka
pengembangan Kawasan Batam
Marikultur Estat di Nguan, sejak dini perlu
direncanakan sebaik mungkin dan
didampingi program pengelolaan
lingkungan yang baik dan handal. Oleh
karena itu penentuan kapasitas daya
dukung lingkungan, monitoring, dan
pengendalian kualitas lingkungan
perairan selama berlangsungnya
kegiatan
merupakan
prasyarat
keberhasilan usaha budidaya laut secara
berkelanjutan dan berkesinambungan.
Berdasar hasil kajian dapat disimpulkan
dan direkomendasikan bahwa :
1. Perairan Nguan merupakan perairan
oigotrofikmesotrofik yang kan-

Sachoemar,I.S. 2006

dungan unsur haranya masih sangat


rendah. Perairan ini sangat baik dan
potensial. untuk pengembangan
usaha budidaya ikan secara intensif
berskala industri tetapi tetap
berwawasan lingkungan.
4.
1. Perairan Nguan merupakan perairan
oligotrofik mesotrofik yang kandungan unsur haranya masih sangat
rendah. Perairan ini sangat baik dan
potensial untuk pengembangan usaha
budidaya ikan secara intensif berskala
industri tetapi tetap berwawaskan
lingkungan.
2. Dengan sirkulasi air yang sangat baik
dan disertai arus yang cukup deras,
menjadikan perairan Nguan seperti
kolam air deras raksasa (giant race
water) yang memiliki kecepatan
pembersihan polutan (flushing rate)
yang tinggi yaitu antara 30 60 juta
m3/jam. Kondisi ini sangat ideal dan
sangat baik untuk pengembangan
intensifikasi budidaya ikan karena
memiliki kapasitas daya dukung
lingkungan perairan yang tinggi.
Namun demikian juga perlu 5.
diwaspadai, karena apabila tidak hatihati dalam pengelolaan lingkungan
secara baik, sebaran polutan yang
bersifat beracun berbahaya akan
dapat menyebar secara cepat dan
dapat menyebabkan gangguan yang
sangat fatal terhadap kegiatan
budidaya
perikanan.Karenanya
kondisi lingkungan sekitar kawasan
budidaya di perairan Nguan perlu
dikendalikan, diawasi dan dihindari
dari berbagai kegiatan yang akan
mengganggu kelangsungan kegiatan
usaha budidaya perikanan.
3.

Kapasitas produksi yang dapat


dikembangkan dalam kegiatan
budidaya perikanan di perairan
Nguan mencapai 3.750 ton ikan

pertahun dalam karamba jaring


apung sebanyak 3.750 unit untuk
luas area efektif 50 ha atau 12,5 %
dari luas perairan Nguan yang
mencapai 400 ha.
Dalam menata penempatan karamba
jaring apung (KJA) disepanjang garis
pantai Pulau Nguan, Galang dan
pulau-pulau didalamnya, perlu ditata
sedemikian rupa (maksimum sampai
dengan 0,5 km dari garis pantai).
Perencanaan
pengembangan
dengan mempertimbangan estetika,
kelan-caran lalulintas angkut
kebutuhan budidaya dan nelayan
serta kebutu-han lainnya yang
diperkirakan dapat menambah dan
meningkatkan nilai ekonomis
kawasan budidaya, harus dirancang
dengan baik dan disesuai-kan
dengan kebutuhan pengemba-ngan
kawasan budidaya Laut Batam
Marikultur Estat sebagai kawasan
industri budidaya perikanan yang
sekaligus berfungsi sebagai kawasan
wisata dan pendidikan.
Walau kondisi lingkungan perairan
di Nguan sangat baik, beberapa
indikasi gangguan lingkungan berupa
peningkatan suhu perairan, penurunan tingkat kejernihan (kecerahan)
perairan, pengotoran perairan
dengan BBM/oli dan peningkatan
kekeruhan di perairan sekitar lokasi
kegiatan yang ada disepanjang
pesisir Pulau Galang seperti pabrik
es, pembukaan lahan, darmaga
(jetty) dan kelong, sudah mulai
nampak. Apabila kegiatan ini meningkat dan bertambah, maka tidak
dapat dipungkiri dalam waktu singkat
kondisi lingkungan di perairan Nguan
dan kemampuan daya dukung
lingkungannya
akan
segera
menurun. Untuk itu sejak dini

Analisis Daya....J. Hidrosfir. Vol.1(2):52-60

59

seluruh kegiatan yang potensial


Report Marineculture Research and
akan
mengganggu
kegiatan
development in Indonesia. ATA 192,
budidaya perikanan di Perairan
JICA. P : 103 129.
Kawasan Batam Marikultur Estat,
3. Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut,
Nguan perlu segera dikenda-likan,
suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia
diawasi dan disesuaikan dengan
Jakarta.
kegiatan-kegiatan yang bersifat
menunjang kegiatan budidaya 4. Anonimous. 1998. MENKLH No. KEP
perikanan di perairan Nguan.
02/MENKLH/1/1988.(3)
5. Leung, K.M.Y., Chu, J.C.W dan R.S.S.
Wu. 1999. Nitrogen budget for the
aerolated grouper Epinephelus
1. Anonimous. 2003. Master Plan
Aerolatus Culturned under laboratory
Pengembangan Kawasan Budidaya
conditions and open-sea cages marine
Laut Batam Maricultur Estate.
ecology progress Series. Vol. 186 :
2. Yoshimitsu, T.,H. Eda, and K.
271-281
Hiramitsu. 1986. Groupers Final
DAFTAR PUSTAKA

60

Sachoemar,I.S. 2006