Anda di halaman 1dari 19

I.

A.

PENDAHULUAN

Data Epidemiologi
Pleksus hemoroid merupakan pembuluh darah normal yang terletak
pada mukosa rektum bagian distal dan anoderm. Gangguan pada hemoroid
terjadi ketika plexus vaskular ini membesar. Sehingga kita dapatkan
pengertiannya dari hemoroid adalah dilatasi varikosus vena dari plexus
hemorrhoidal inferior dan superior (Dorland, 2002).
Hemoroid adalah kumpulan dari pelebaran satu segmen atau lebih
vena hemoroidalis di daerah anorektal. Hemoroid bukan sekedar pelebaran
vena hemoroidalis, tetapi bersifat lebih kompleks yakni melibatkan
beberapa unsur berupa pembuluh darah, jaringan lunak dan otot di sekitar
anorektal (Felix, 2006).
Menurut Villalba dan Abbas (2007), etiologi hemoroid sampai saat ini
belum diketahui secara pasti, beberapa faktor pendukung yang terlibat
diantaranya adalah:
1. Penuaan
2. Kehamilan
3. Hereditas
4. Konstipasi atau diare kronik
5. Penggunaan toilet yang berlama-lama
6. Posisi tubuh, misal duduk dalam waktu yang lama
7. Obesitas.
Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kongesti vaskular dan
prolapsus mukosa (Schubert dkk, 2009). Selain itu dikatakan ada hubungan
antara hemoroid dengan penyakit hati maupun konsumsi alkohol (Mc
Kesson Health Solution LCC, 2004).
Hemoroid sering terjadi pada dewasa dengan umur 45 sampai dengan
65 tahun (Chong dkk, 2008). Di Amerika Serikat, hemoroid adalah penyakit
yang cukup umum dimana pasien dengan umur 45 tahun yang didiagnosis
hemoroid mencapai 1.294 per 100.000 jiwa (Everheart, 2004). Sebuah
penelitian yang dilakukan di Iran menunjukkan sebanyak 48 persen dari
pasien yang menjalani prosedur sigmoidoskopi dengan keluhan perdarahan
anorektal memperlihatkan adanya hemoroid (Nikpour dan Asgari, 2008).
Meskipun begitu, menurut Pigot dkk (2005) epidemiologi hemoroid
tidak begitu diketahui karena penelitian yang ada memiliki hasil yang sangat
bervariasi. Banyak orang yang mengalami hemoroid dan tidak berkonsultasi
1

dengan dokter. Pasien terkadang merasa ragu untuk mengobatinya karena


rasa takut, malu, dan nyeri pada terapi hemoroid, sehingga insidensi yang
sebenarnya dari penyakit ini tidak dapat dipastikan (Kaidar-Person dkk,
2007).
B.

Komplikasi masalah bila tidak ditangani


Wasir sebenenarnya bukanlah masalah penyakit yang sangat
mengerikan, namun apabila wasir terus menerus ada tanpa dilakukan
penanganan atau dibiarkan begitu saja, makin lama akan menimbulkan
beberapa komplikasi seperti berikut (Dermawan, 2010) :
1. Terjadi trombosis
Karena hemoroid keluar sehinga lama - lama darah akan membeku
dan terjadi trombosis.
2. Peradangan
Jika terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi
dan meradang karena disana terdapat banyak kotoran yang terdapat
mikroorganisme ataupun kuman patogen didalamnya.
3. Terjadinya perdarahan
Pada derajat satu darah keluar menetes dan memancar. Perdarahan
akut pada umumnya jarang, hanya terjadi apabila yang pecah adalah
pembuluh darah besar. Hemoroid dapat membentuk pintasan portal
sistemik pada hipertensi portal, dan apabila hemoroid semacam ini
mengalami perdarahan maka darah dapat sangat banyak. Yang lebih
sering terjadi yaitu perdarahan kronis dan apabila berulang dapat
menyebabkan anemia karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak bisa
mengimbangi jumlah yang keluar. Anemia terjadi secara kronis, sehingga
sering tidak menimbulkan keluhan pada penderita walaupun Hb sangat
rendah karena adanya mekanisme adaptasi. Apabila hemoroid keluar, dan
tidak dapat masuk lagi (inkarserata/ terjepit) akan mudah terjadi infeksi
yang dapat menyebabkan sepsis dan bisa mengakibatkan kematian (Chen
et al., 2012).

C.

Sekilas Teori Baru


Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal.
Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia 50 tahun, 50% individu
mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luasnya vena yang terkena.
2

Hemoroid atau wasir merupakan vena varikosa pada kanalis dandibagi


menjadi 2 jenis yaitu, hemorroid interna dan eksterna. Kedua jenishemoroid
ini sangat sering dijumpai dan terjadi sekitar 35% penduduk berusialebih
dari 25 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, namun dapat
menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Hemoroid atau wasir memang
menjadi momok bagi sebagian orang yang menderitanya. Benjolan didalam
anus sangat membuat rasa tidak nyaman, baik untuk posisi duduk maupun
berdiri. Apalagi jika hendak buang air besar (BAB), seseorang sering
meringis kesakitan (Smeltzer, 2010).
Angka kejadian hemoroid yang cukup tinggi di masyarakat di dukung
oleh beberapa hal diantaranya adalah kebutuhan makan atau kebutuhan
eliminasi (BAB) masyarakat. Pada umumnya pasien hemoroid tidak
mengetahui pentingnya makanan tinggi serat dan kebiasaan buang air besar
yang tidak teratur serta sering mengejan saat buang air besar. Pada tahun
1974 merupakan puncak dimana hemoroidektomi dilakukan sebanyak 117
per 100.000 orang. Hemoroid dapat menyerang pada laki laki maupun
perempuan. Disisi lain, resiko hemoroid justru meningkat seiring
bertambahnya usia (Probosuseno, 2009).
Hemoroid merupakan penyakit daerah anus yang cukup banyak
ditemukan pada praktik dokter sehari hari. Di RSCM selama 2 tahun dari
414 kali pemeriksaan kolonoskopi didapatkan 108 ( 26,09 % ) kasus
hemoroid. Hemoroid mempunyai sinonim piles, ambeien, wasir, atau
southernpole disease dalam istilah dimasyarakat umum. Keluhan penyakit
ini antara lain, rasa sakit dan sulit buang air besar, dubur terasa panas, serta
adanya benjolan di dubur, perdarahan melalui dubur dan lain-lain.
Hemoroid memiliki faktor resiko cukup banyak, diantaranya adalah, kurang
mobilisasi, lebih banyak tidur, konstipasi, cara BAB yang tidak benar,
kurang minum air, kurang makanan berserat (sayur dan buah), faktor
genetika atau keturunan, kehamilan, penyakit yang meningkatkan intra
abdomen (tumor abdomen, tumor usus ), sirosis hati. Penatalaksanaan
hemoroid dibagi atas penatalaksanaan secara medik dan bedah tergantung
dari derajatnya (Aru, 2011).
3

Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan


higiene personal yang baik dan menghindari mengejan berlebihan selama
defekasi. Diet tinggi serat yang mengandung buah dan sekam mungkin satusatunya tindakan bila diperlukan. Bila tindakan ini gagal, laksatif yang
berfungsi mengabsorpsi dengan salep, dan supositoria yang mengandung
anestesi, astringen (witch hazel) dan tirah baring adalah tindakan yang
memungkinkan pembesaran berkurang (Aru, 2011).
Masalah yang sering muncul setelah dilakukan tindakan operasi
hemoroidektomi pada umumnya adalah nyeri untuk beberapa hari saja
selama proses penyembuhan, gangguan eliminasi (BAB) yang disebabkan
karena, pasien takut buang air besar, merasa masih ada luka di daerah kanal,
konsumsi makanan yang kurang serat dan hanya makan bubur bukan nasi
sehingga terjadi konstipasi (Smeltzer, 2010).
Pada dasarnya hemoroid di bagi menjadi dua klasifikasi, yaitu
(Parakrama, 2010) :
1. Hemoroid Interna
Merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media.
Terdapat pembuluh darah pada anus yang ditutupi oleh selaput lendir
yang basah. Jika tidak ditangani bisa terlihat muncul menonjol ke luar
seperti hemoroid eksterna.
Gejala - gejala dari hemoroid interna adalah pendarahan tanpa
rasa sakit karena tidak adanya serabut serabut rasa sakit di daerah ini.
Jika sudah parah bisa menonjol keluar dan terus membesar sebesar bola
tenis sehingga harus diambil tindakan operasi untuk membuang wasir.
Hemoroid interna terbagi menjadi 4 derajat :
a. Derajat I
Timbul pendarahan varises, prolapsi / tonjolan mokosa tidak
melalui anus dan hanya dapat di temukan dengan proktoskopi.
b. Derajat II
Terdapat trombus di dalam varises sehingga varises selalu
keluar pada saat depikasi, tapi setelah defekasi selesai, tonjolan
tersebut dapat masuk dengan sendirinya.
c. Derajat III
Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi
dengan sendirinya tetapi harus di dorong.
d. Derajat IV
4

Suatu saat ada timbul keaadan akut dimana varises yang keluar
pada saat defikasi tidak dapat di masukan lagi.
2. Hemoroid eksterna
Merupakan varises vena hemoroidalis inferior yang umumnya
berada di bawah otot dan berhubungan dengan kulit. Biasanya wasir ini
terlihat tonjolan bengkak kebiruan pada pinggir anus yang terasa sakit
dan gatal. Hemoroid eksterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya
perluasan hemoroid interna. Tapi hemoroid eksterna dapat di
klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
a. Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada
pinggir anus dan sebenarnya adalah hematom, walaupun disebut
sebagai trombus eksterna akut. Tanda dan gejala yang sering timbul
adalah:
1) Sering rasa sakit dan nyeri
2) Rasa gatal pada daerah hemorid
Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung
ujung saraf pada kulit merupakan reseptor rasa sakit .
b. Kronik
Hemoroid eksterna kronik atau Skin Tag terdiri atas satu
lipatan atau lebih dari kulit anus yang berupa jaringan penyambung
dan sedikit pembuluh darah.

Gambar 1.1. Letak dan Klasifikasi Hemoroid (Simadibrata, 2012).


Hemoroid secara mikroskopik akan muncul penampakan
dinding vena pada canalis analis yang menipis serta terisi trombus yang
kadang kadang telah menunjukkan adanya tanda tanda organisasi

seperti rekanalisasi, seperti terihat pada gambar berikut (Patologi,


F.K.UI, 2004) :

Gambar 1.2. Trombosis Hemoroid (Patologi, F.K.UI, 2004).

II.
A.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanda dan gejala klinis yang muncul dari anamnesis dan pemeriksaan
fisik serta patofisiologinya
Keadaan klinis yang menjadi tanda dan gejala hemoroid adalah
sebagai berikut (Sudoyo, 2006):
1. Perdarahan
Perdarahan bisa dapat terjadi pada grade 1-4, perdarahan meupakan
penentu utama kecurigaan adanya hemoroid pada grade I. Perdarahan
pada hemoroid berhubungan dengan proses mengejan. Ini menjadi
pembeda dengan perdarahan yang diakibatkan oleh hal lain , misalnya
tumor. Pada hemoroid darah keluar saat pasien berhenti mengejan,
sedangkan karena perdarahan karena sebab lain tidak mengikuti pola ini.
Darah yang keluar adalah segar yang tidak bercampur dengan feses
(hematoshezia). Perdarahan kadang menetes tapi dapat juga mengalir
deras. Sebab utama perdarahan adalah trauma feses yang keras.
Perdarahan yang berulang-ulang dapat menimbulkan anemia.
2. Nyeri

Nyeri hebat hanya terjadi pada hemoroid eksterna dengan trombosis


nyeri tidak berhubungan dengan hemoroid interna, tetapi bila pada
hemoroid interna terjadi nyeri, ini merupakan tanda adanya radang.
3. Benjolan/prolaps
Benjolan/prolap terjadi pada grade 2-4. Benjolan akan nampak tapi
bila diraba akan menghilang. Hal ini dikarenakan saat perabaan, jari akan
menekan vasa sehingga darah vasa akan mengalir. Akibatnya benjolan
menjadi kempis. Benjolan hanya akan terasa apabila telah terjadi trombus.

Gambar 2.1. Pathway Hemorrhoid (Simadibrata, 2012).


Patogenesis
Seperti yang telah kita ketahui hemoroid adalah pelebaran dan
inflamasi pembuluh darah vena didaerah anus yang berasal dari pleksus
hemoroidalis. Hemoroid dapat berdilatasi atau membengkak karena adanya
faktor resiko atau pencetus. Faktor resiko pada hemoroid antara lain faktor
mengejan pada buang air besar yang sulit, pola buang air yang salah (lebih
7

banyak memakai jamban duduk, terlalu lama duduk di jamban sambil


membaca atau merokok), peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor
(tumor usus, tumor abdomen), kehamilan (disebabkan karena tekana janin
pada abdomen dan perubahan hormonal), usia tua, konstipasi kronik, diare
kronik atau diare akut yang berlebihan, kurang minum air, kurang makan
makanan berserat (sayur dan buah), kurang olahraga atau mobilisasi
(Simadibrata, 2012).
Mekanisme terjadinya hemoroid adalah meningkatnya tekanan anus
pada saat istirahat, yang menyebabkan berkurangnya pengembalian vena,
pembengkakan vena, dan kerusakan jaringan penunjang. Penyebab dari
penyakit hemoroid eksterna tidak diketahui, namun berhubungan dengan
kegiatan mengejan (Simadibrata, 2012).
Sedangkan kebanyakan gejala timbul dari hemoroid interna yang
membesar. Pembengkakan dari bantalan dubur menyebabkan dilatasi dan
pembengkakan dari pleksus arteriovenus. Hal ini menyebabkan peregangan
otot suspensorium dan akhirnya terjadi prolaps jaringan rektum melalui
lubang anus. Mukosa dubur yang membesar mudah mengalami trauma,
sehingga menyebabkan perdarahan rektum yang biasanya merah terang
karena kadar oksigen tinggi dari anastomosis arteriovenus. Prolaps
mengarah ke kotoran dan keluarnya lendir, merupakan predisposisi terhadap
inkasarta dan strangulasi (Simadibrata, 2012).
Patofisiologi
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh
gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Telah diajukan beberapa
faktor etiologi yaitu konstipasi, diare, sering mengejan, kongesti pelvis pada
kehamilan, pembesaran prostat, fibroid uteri, dan tumor rektum. Penyakit
hati kronis yang disertai hipertensi portal juga sering mengakibatkan
hemoroid, karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke sistem
portal. Selain itu system portal tidak mempunyai katup, sehingga mudah
terjadi aliran balik. Hemoroid dapat dibedakan atas hemoroid eksterna dan
interna. Hemoroid eksterna di bedakan sebagai bentuk akut dan kronis.
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan
8

sebenarnya merupakan suatu hematoma, walaupun disebut sebagai


hemoroid trombosis eksternal akut. Bentuk ini sering terasa sangat nyeri dan
gatal karena ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri.
Kadang-kadang perlu membuang trombus dengan anestesi lokal, atau dapat
diobati dengan kompres duduk panas dan analgesik. Hemoroid eksterna
kronis atau skin tag biasanya merupakan sekuele dari hematom akut.
Hemoroid ini berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari
jaringan ikat dan sedikit pembuluh darah. (Price, 2005).
Hemoroid dikatakan sebagai penyakit keturunan. Namun sampai saat
ini belum terbukti kebenarannya. Akhir-akhir ini, keterlibatan bantalan anus
(anal cushion) makin dipahami sebagai dasar terjadinya penyakit ini.
Bantalan anus merupakan jaringan lunak yang kaya akan pembuluh darah.
Agar stabil, kedudukannya disokong oleh ligamentum Treitz dan lapisan
muskularis submukosa. Bendungan dan hipertrofi pada bantalan anus
menjadi mekanisme dasar terjadinya hemoroid. Pertama, kegagalan
pengosongan vena bantalan anus secara cepat saat defekasi. Kedua, bantalan
anus terlalu mobile, dan ketiga, bantalan anus terperangkap oleh sfingter
anus yang ketat. Akibatnya, vena intramuskular kanalis anus akan terjepit
(obstruksi). Proses pembendungan diatas diperparah lagi apabila seseorang
mengedan atau adanya feses yang keras melalui dinding rektum (Felix,
2006).
Selain itu, gangguan rotasi bantalan anus juga menjadi dasar
terjadinya keluhan hemoroid. Dalam keadaan normal, bantalan anus
menempel secara longgar pada lapisan otot sirkuler. Ketika defekasi,
sfingter interna akan relaksasi. Kemudian, bantalan anus berotasi ke arah
luar (eversi) membentuk bibir anorektum. Faktor endokrin, usia, konstipasi
dan mengedan yang lama menyebabkan gangguan eversi pada bantalan
tersebut (Felix, 2006).
B.

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan beserta indikasi dan hasil


signifikan
1. Pemeriksaan Colok Dubur

Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal


tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi
dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar.
Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal.
Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang
lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan
karsinoma rektum. Pada keadaan normalnya apabila tidak didapati masa
atau benjolan colok dubur tidak akan menimbulkan rasa sakit yang
bermakna pada pasien (Kalantari et al., 2014).
2. Pemeriksaan Anoskopi
Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak
menonjol keluar. Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat
kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop dan penyumbatnya
dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan
penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai
struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita
diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan
penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan,
derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip,
fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan. Pada keadaan normalnya,
anus tidak didapati adanya masa atau benjolan, dengan mukosa antara
kulit dengan mukosa pipih selapis tanpa keratin (Chen at al., 2012).
3. Pemeriksaan proktosigmoidoskopi
Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan
bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat
tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda
yang menyertai. Feses harus diperiksa terhadap adanya darah samar.
Pada keadaan normalnya feses berwarna kuning kecoklatan, yaitu
menandakan tidak adanya perdarahan dalam feses (Kalantari et al.,
2014).
C.

Penegakan diagnosis
1. Anamnesis Hemoroid

10

Pada anamnesis biasanya didapati bahwa pasien menemukan


adanya darah segar pada saat buang air besar. Selain itu pasien juga akan
mengeluhkan adanya gatal-gatal pada daerah anus. Pada derajat II
hemoroid internal pasien akan merasakan adanya masa pada anus dan hal
ini membuatnya tak nyaman. Pasien akan mengeluhkan nyeri pada
hemoroid derajat IV yang telah mengalami trombosis (Canan, 2010).
Perdarahan yang disertai dengan nyeri dapat mengindikasikan
adanya trombosis hemoroid eksternal, dengan ulserasi thrombus pada
kulit. Hemoroid internal biasanya timbul gejala hanya ketika mengalami
prolapsus sehingga terjadi ulserasi, perdarahan, atau trombosis.
Hemoroid eksternal bisa jadi tanpa gejala atau dapat ditandai dengan rasa
tak nyaman, nyeri akut, atau perdarahan akibat ulserasi dan trombosis
(Wexner, Person, dan Kaidar-person, 2010)
2. Pemeriksaan Fisik Hemoroid
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya pembengkakan
vena yang mengindikasikan hemoroid eksternal atau hemoroid internal
yang mengalami prolaps. Hemoroid internal derajat I dan II biasanya
tidak dapat terlihat dari luar dan cukup sulit membedakannya dengan
lipatan mukosa melalui pemeriksaan rektal kecuali hemoroid tersebut
telah mengalami trombosis (Canan, 2010).
Daerah perianal juga diinspeksi untuk melihat ada atau tidaknya
fisura, fistula, polip, atau tumor. Selain itu ukuran, perdarahan, dan
tingkat keparahan inflamasi juga harus dinilai (Nisar dan Scholefield,
2010).

11

Gambar 2.2. menunjukkan hemoroid yang mengalami trombosis (Schubert,


Schade, dan wexner, 2010).
3. Pemeriksaan Penunjang Hemoroid
Anal canal dan rektum diperiksa dengan menggunakan anoskopi
dan sigmoidoskopi. Anoskopi dilakukan untuk menilai mukosa rektal dan
mengevaluasi tingkat pembesaran hemoroid (Halverson, 2010). Sideviewing pada anoskopi merupakan instrumen yang optimal dan tepat
untuk mengevaluasi hemoroid. Allonso-Coello dan Castillejo (2010)
dalam Kaidar-Person, Person, dan Wexner (2010) menyatakan bahwa
ketika

dibandingkan

dengan

sigmodoskopi

fleksibel,

anoskopi

mendeteksi dengan presentasi lebih tinggi terhadap lesi di daerah


anorektal.
Gejala hemoroid biasanya bersamaan dengan inflamasi pada anal
canal dengan derajat berbeda. Dengan menggunakan sigmoidoskopi,
anus dan rektum dapat dievaluasi untuk kondisi lain sebagai diagnosa
banding untuk perdarahan rektal dan rasa tak nyaman seperti pada fisura
anal dan fistula, kolitis, polip rektal, dan kanker. Pemeriksaan dengan
menggunakan barium enema X-ray atau kolonoskopi harus dilakukan
pada pasien dengan umur di atas 50 tahun dan pada pasien dengan
perdarahan menetap setelah dilakukan pengobatan terhadap hemoroid
(Canan, 2010).
D.

Rencana Terapi
Terapi konservatif hemorrhoid biasanya termasuk diet tinggi serat,
konsumsi lebih banyak air atau menjaga hidrasi tubuh, sitz bath, dan
istirahat. Obat-obatan topikal tersedia namun keektifan kerjanya masih
memerlukan bukti lebih kuat. Obat topikal yang mengandung steroid juga
tidak disarankan digunakan lebih dari 14 hari (Lorenzo-Rivero, 2009).
Penatalaksanaan gejala hemoroid didasarkan pada gejala itu sendiri.
Pasien harus diyakinkan bahwa hemoroid merupakan komponen normal
pada anatomi manusia dan tidak perlu membuang semua jaringan hemoroid.
Penatalaksanaan hemoroid sendiri secara garis besar dikategorikan menjadi
12

tiga yaitu manajemen medis (termasuk diet dan terapi behavioural), officebased procedures,dan terapi operatif (Singer, 2011).
Gejala hemoroid seringkali berhubungan dengan perubahan kebiasaan
makan atau saluran cerna. Sehingga terapi inisial perlu ditujukan pada
modifikasi stool atau tinja. Konstipasi, yang mana sering menyebabkan
hemoroid, seringkali dikarenakan konsumsi serat dan cairan yang kurang,
kadar yang disarankan ada 25 gram/hari untuk perempuan dan 38 gram/hari
untuk laki-laki. Diet tinggi serat dan konsumsi air yang cukup perlu
dijadikan reomendasi awal. Selain itu, modifikasi behavioral atau kebiasaan
seperti waktu tidur dan bangun yang reguler dan jadwal olahraga dapat
membantu menjaga kebiasaan rutin usus atau saluran cerna sehingga
membantu mengurangi gejala hemorrhoid (Singer, 2011).
E.

Prognosis
Dengan terapi yang sesuai, pasien yang simptomatik akan menajdi
asimptomatik. Dengan melakukan terapi operatif dengan hemoroidektomi
hasilnya sangat baik, namun bisa muncul kembali (rekuren) dengan angka
kejadian rekuren sekitar 2-5%. Terapi non operatif seperti ligasi cincin karet
(rubber band ligation) menimbulkan kejadian rekuren sekitar 30-50% antara
kurun waktu 5-10 tahun kedepan. Akan tetapi, hemorrhoid rekuren ini
biasanya dapat ditangani dengan terapi non operatif. Hinggal saat ini belum
ada penelitian yang menunjukkan keberhasilan terapi dengan PPH. Setelah
sembuh, penderita tidak boleh sering mengejan dan dianjurkan makan
makanan yang berserat tinggi (Price, 2005).

F.

Komplikasi yang dapat terjadi


Perdarahan akut pada umumnya jarang, hanya terjadi apabila yang
pecah adalah pembuluh darah besar. Hemoroid dapat membentuk pintasan
portal sistemik pada hipertensi portal dan apabila hemorhois semacam ini
mengalami perdarahan maka darah sangat banyak. Perdarahan akut
semacam ini dapat menyebabkan syok hipovolemik. Sedangkan perdarahan
akut semacam ini dapat menyebabkan anemia, karena jumlah eritrosit yang
di produksi tidak bisa mengimbangi jumlah yang keluar. Sering pasien
13

datang dengan Hb 3-4. Pada pasien ini penanganannya tidak langusung


operasi tetapi di tunggu sampai Hb pasien menjadi 10. Prolaps hemoroid
interna dapat menjadi ireponsibel, terjadi inkarserasi (prolaps dan terjepit
diluar) kemudian diikuti infeksi sampai terjadi sepsis. Sebelum terjadi
iskemik dapat terjadi gangren dulu dengan bau yang menyengat. Selain itu
komplikasi hemoroid yang paling sering adalah perdarahan, thrombosis, dan
strangulasi. Hemoroid strangulasi adalah hemoroid yang prolaps dengan
suplai darah dihalangi oleh sfingter ani (Price, 2005). Komplikasi hemoroid
antara lain:
1. Luka dengan tanda rasa sakit yang hebat sehingga pasien takut mengejan
dan takut berak. Karena itu, tinja makin keras dan makin memperberat
luka di anus.
2. Infeksi pada daerah luka sampai terjadi nanah dan fistula (saluran tak
normal) dari selaput lender usus/anus.
3. Perdarahan akibat luka, bahkan sampai terjadi anemia.
4. Jepitan, benjolan keluar dari anus dan terjepit oleh otot lingkar dubur
sehingga tidak bisa masuk lagi. Sehingga, tonjolan menjadi merah, makin
sakit, dan besar. Dan jika tidak cepat-cepat ditangani dapat busuk
(Dermawan,2010).

III.
A.

PEMBAHASAN

Penjelasan mengenai teori baru


Menurut Permenkes (2014) dalam Pedoman Praktik Klinis di
Fasyankes Primer rencana penatalaksanaan komprehensif untuk hemoroid
adalah sebagai berikut:
14

1. Penatalaksanaan Hemoroid Internal:


a. Hemoroid grade 1: Dilakukan terapi konservatif medis dan
menghindari obat-obat anti-inflamasi non-steroid, serta makanan
pedas atau berlemak.
b. Hemoroid grade 2 dan 3: Pada awalnya diobati dengan prosedur
pembedahan.
c. Hemoroid grade 3 dan 4 dengan gejala sangat jelas, penatalaksaan
terbaik adalah tindakan pembedahan hemorrhoidectomy.
d. Hemoroid grade 4: Hemoroid grade 4 atau dengan jaringan inkarserata
membutuhkan konsultasi dan penatalaksanaan bedah yang cepat.
Penatalaksanaan grade 2-3-4 harus dirujuk ke dokter spesialis bedah.
2. Penatalaksanaan hemoroid eksternal
Hemoroid eksternal umumnya merespon baik dengan melakukkan
eksisi. Tindakan ini hanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis bedah.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi rasa nyeri dan
konstipasi pada pasien hemoroid.
Selain penatalaksanaan diatas, Permenkes (2014) juga mencantumkan
konseling dan edukasi kepada pasien sebagai upaya pencegahan hemoroid.
Pencegahan hemoroid dapat dilakukan dengan cara:
1. Konsumsi serat 25-30 gram perhari. Hal ini bertujuan untuk membuat
feses menjadi lebih lembek dan besar, sehingga mengurangi proses
mengedan dan tekanan pada vena anus.
2. Minum air sebanyak 6-8 gelas sehari.
3. Mengubah kebiasaan buang air besar. Segerakan ke kamar mandi saat
merasa akan buang air besar, jangan ditahan karena akan memperkeras
feses, serta hindari mengejan.
B.

Kekurangan dan kelebihan teori baru


Dari Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Praktik Klinis di
Fasyankes Primer, kita dapat melihat bahwa :
1. Pencantuman detail pengobatan masih kurang.
2. Terapi non-medikamentosa berupa edukasi juga perlu ditambahkan,
misalnya tentang hal yang sekiranya dapat membantu meringankan sakit
pasien dan edukasi umum kepada masyarakat yang lain.
15

3. Tidak ada anjuran pertolongan pertama pada fasyankes primer sebelum


merujuk pada hemoroid grade 2-3-4.
Tetapi pedoman tersebut sudah cukup baik dalam memberi arahan,
karena sebagai berikut :
1. Penatalaksanaan untuk semua grade telah dicantumkan.
2. Terdapat panduan kapan seharusnya kita merujuk pasien.
C.

Harapan untuk penatalaksanaan yang lebih baik


Harapan kami terkait penatalakasanaan penyakit hemoroid ini
mengingat angka kejadian akibat penyakit ini cukup tinggi diperlukan
upaya pengendalian pola hidup dan etiologi terkait untuk mencegah dan
menghindari komplikasi terkait serta terjadinya hemoroid yang dapat
berujung kematian walaupun dengan presentase sangat minimal.
Akan tetapi hal terbaik dari penyakit ini adalah mencegahnya, yang
paling baik dalam mencegah hemoroid yaitu mempertahankan tinja tetap
lunak sehingga mudah keluar, di mana hal ini menurunkan tekanan dan
pengedanan dan mengosongkan usus sesegera mungkin setelah perasaan
mau ke belakang timbul. Latihan olahraga seperti berjalan dan peningkatan
konsumsi serat diet juga membantu mengurangi konstipasi dan mengedan.
1. Makanan sebaiknya terdiri atas makanan berserat tinggi seperti sayur
dan buah-buahan. Makanan ini membuat gumpalan isi usus besar,
namun lunak, sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi
keharusan mengejan berlebihan.
2. Jika menggunakan kloset duduk, lebih baik di ganti dengan kloset
jongkok. Saat posisi duduk, usus bagian bawah akan tertekuk
sehingga proses pembuangan tidak dapat berlangsung efektif tanpa
bantuan mengejan. Padahal, mengejan dan dorongan ke bawah
sambil menahan napas akan meningkatkan tekanan dalam usus
bagian bawah serta menyebabkan regangan dan pembengkakan
pembuluh darah balik membentuk hemorrhoid, terutama jika
kebiasaan ini dilakukan secara kontinu dalam jangka lama.
3. Minum air putih minimal 8 gelas perhari untuk melancarkan buang
air besar.
4. Kurangi kopi dan alkohol.
5. Tidur cukup.
6. Jangan duduk terlalu lama.
16

7.

Senam/olahraga rutin (tidak berolahraga yang berat seperti


mengangkat beban berat).

IV.
1.

KESIMPULAN

Hemoroid adalah distensi vena di daerah anorektal akibat berbagai faktor


resiko seperti mengejan. Istilah hemoroid lebih dikenal sebagai ambeien atau

2.

wasir oleh masyarakat.


Hemoroid mengakibatkan komplikasi, diantaranya adalah terjadi trombosis,
peradangan, dan terjadi perdarahan. Hemoroid juga dapat menimbulkan
cemas pada penderitanya akibat ketidaktahuan tentang penyakit dan

3.

pengobatannya.
Hemoroid dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat dan memakan

4.

makanan tinggi serat.


Penatalaksaan hemoroid dapat dilakukan dengan cara pengobatan untuk
mengecilkan varises pada vena anorektal ataupun dengan tindakan

5.

pembedahan pengambilan hemoroid tersebut.


Prognosis dari hemoroid ini baik apabila dilakukan tindakan medis yang tepat
dan cepat.

17

DAFTAR PUSTAKA
Aru W. Sudoyo, Bambang Setyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata, Siti
Setiati.

2011.

Inflammatory

Bowel

Disease

Alur

Diagnosis

dan

Pengobatannya di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid


I. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p.386-390.
Canan, A, 2010. Hemorrhoids and Other Anorectal Disorders. Manual of
Gastroenterology: Diagnosis and Therapy. 3rd ed. USA: Lippincott Williams
& Wilkins.
Chen, S. Q., Cai, A. Z., Wang, N., & Chen, L. (2012). Single purse string with
fourpoint traction for better haemorrhoid retraction. ANZ journal of
surgery,82(10), 742-746.
Chen. 2010. Illustrative handbook of general surgery. Berlin: Springer, p.217.
Dorland, 2002. Kamus Saku kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC.
Everheart, J.E., 2004. Digestive Disease in The United States: Epidemiology and
Impact, National Institute of Health. Washington, DC: US government
Printing Office.
Felix. 2006. Duduk, Salah, Berdiri, Juga Salah. Farmacia Majalah Kedokteran
dan

Farmasi.

Jakarta.

Available

from:

farmacia.com/rubrik/one-news.asp?IDNews=278

http://www.majalah-

[Accessed

January

2012].
Giordano, P. Gravante, and G. Sorge, R. 2009. Long-term outcomes of stapled
hemorrhoidopexy vs conventional hemorrhoidectomy: A meta-analysis of
randomized controlled trials. Arch Surg; 144:266
Halverson, A., 2010. Hemorrhoids. Clin Colon Rectal surgery 20 (2): 77-84.
Kaidar-Person, O., Person, B., and Wexner, S.D., 20010. Hemorrhoidal Disease:
A Comprehensive Review. J. American College of Surgeons 204 (1): 102114.
Kaidar-Person, O., Person, B., and Wexner, S.D., 2007. Hemorrhoidal Disease: A
Comprehensive Review. J. American College of Surgeons 204 (1): 102-114.

18

Kalantari, M., Alizadeh, S. A., & Darvish Shafighi, S. (2014). The comparison
between the outcome of Doppler-guided haemorrhoidectomy and other
types of haemorrhoid surgery. Hamdan Medical Journal, 7(2).
Nikpour, S. & Asgari, A.A., 2008. Colonoscopic Evaluation of Minimal Rectal
Bleeding in Average-Risk Patients for Colorectal Cancer. World Journal of
Gastroenterology 14(42): 6536-6540.
Nisar, P.J. & Scholfield, J.H., 2010. Managing Haemorrhoids. British Medical
Journal; 327: 847-851.
Parakrama,Chandrasoma. 2010. Ringkasan Patofisiologi Anatomi Edisi 3. Jakarta:
EGC.
Pigot, F., Siproudis L., and Allaert, F.A, 2005. Risk Factor Associated with
Hemorrhoidal Symptoms in Specialized. Gastroenterology Clin Biol 29 (12):
1270-1274.
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Simadibrata, Marcellus. 2012. Hemoroid Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: Interna Publishing.
Smeltzer, S. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner Suddarth. Volume 2
Edisi 8. Jakarta : EGC. 2010.
Sudoyo, Aru W, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV.
Jakarta : FKUI.
Sylvia & Lorraine. 2006. Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit)
Volume 1, Edisi 6. Jakarta : EGC.
Underwood, J.C.E, 2004,Patologi Umum dan Sistemik, Volume 2, Edisi 2,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal. 468, 492.
Wandari, Novita Ningtyas . 2012 . Prevalensi Hemoroid di RSUP Haji Adam
Malik Medan periode Januari 2009 Juli 2011. USU.

19