Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

K
DENGAN FRAKTUR TULANG FEMUR
DI RUANG BEDAH BOUGENVILLE, RSUD WALED
KAB.CIREBON
14 s.d 20 Januari 2013

DISUSUN OLEH :
TRIYODI
NOVIANTI
RUKHAYATI
AGUS KUSAERIH
CRISNA MAHENDRA
M.DIANS YUSUF ALEN

YAYASAN INDRA HUSADA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) INDRAMAYU
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (S1)
2013

MOTTO

Pengalaman adalah guru yang terbaik


Kesungguhan akan membawa kita pada keberhasilan yang kita
inginkan
Waktu tidak akan berputar berbalik arah
Syukuri serta nikmati apa yang ada saat ini untuk ketenangan mu

KATA PENGANTAR

Puji syukur tersirat kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat serta hidayah-Nya lah
kami selaku tim penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dari awal pengumpulan data sampai kepada
penyusunan makalah yang kami susun ini kami dan kami beri judul ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN Tn K dengan FRAKTUR FEMUR, DI RUANG BEDAH BOUGENVILLE RSUD WALED .
Atas terselesaikannya makalah ini, takk lupa kami ucapkan terima kasih kepada ;
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Directur RSUD WALED yang telah mengizinkan kami untuk praktik belajar klinik
Ketua Yayasan Indra Husada
Ketua STIKes Indramayu
Ka. Prodi Keperawatan STIKes Indramayu
Ka.Bid keperawatan RSUD WALED
Komite DIKLAT RSUD WALED
Kepala Ruangan Bougenville
Clinikal Instruktur ruang Bougenville
Pembimbing Akademik
Perawat dan Tenaga kesehatan yang bertugas di ruang bougenville
Segenap pihak yang telah ikut andil dalam penyelsaian penyusunan makalh ini.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk peningkatan pengetahuan baik pada penyusun ataupun
pembaca dalam bidang keperawatan, selain itu makalah ini juga disusun guna memenuhi salah
satu penugasan pada praktek belajar klinik dengan blok mata kuliah Sistem Muskuloskeletal dan
Sistem Integumen . dengan suksesnya penyusunan makalah ini kami dapat mengambil banyak
pengalaman dan pembelajaran terutama di bidang asuhan keperawatan, walau telah kami susun
secara sistematis, tapi kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
kami selaku tim penyusun mengharapkan kritik dan saran serta bimbingan yang bersifat
membangun dan mengarah kepada perbaikan makalah ini.

Cirebon, Januari 2013

Tim penyusun

Daftar Isi

Lembar judul
Lembar pengesahan
Lembar moto
Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I.PENDAHULUAN
BAB II. FRAKTUR UMUM
BAB III FAKTUR FEMUR
BAB IV. ASUHAN KEPERAWATAN Tn. K
BAB V. KESIMPULAN dan SARAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang

Pada dasarnya kesehatan merupakan masalah berharga dan sangat penting dalam tatanan
kehidupan manusia. Oleh karena itu, perhatian masyarakat pun terhadap kesehatan dari
tahun ke tahun makin besar, sehingga meningkatkan tuntutan masyarakat terhadap
perawatan yang berkualitas. Seiring dengan hal itulah, maka tuntutan profesi untuk
memberikan asuhan keperawatan yang bermutu terhadap masyarakat menjadi sangat
penting.
Profesionalisme keperawatan melalui kegiatan praktik keperawatan profesional dapat
dilihat melalui pelaksanaan kegiatan pelayanan keperawatan yang berdasarkan visi dan
misi yang jelas dan tertuang dalam pelaksanaan rencana strategis pelayanan keperawatan
di setiap bidang pelayanan keperawatan.
Asuhan keperawatan yang merupakan bentuk dari pelayanan kesehatan profesional yang
didasarkan pada ilmu, seni dan kiat keperawatan yang ditujukan kepada individu,
keluarga, dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit dengan mempertimbangkan
aspek bio, psiko, sosial, dan spiritual yang komprehensive. Bila salah satu aspek
terlewatkan maka hal tersebut akan menjadi stressor bagi klien. Dan tidak jarang stressor
pun dapat menyebabkan kesakitan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Seiring dengan perkembangan jaman, salah satu dampak kemajuan teknologi adalah
semakin padatnya arus lalu lintas dewasa ini yang mengakibatkan tingginya mobilitas
dan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya, yang dapat menyebabkan
cedera pada anggota gerak atau yang di sebut dengan fraktur. Fraktur atau patah tulang
ini merupakan salah satu kedaruratan medik yang harus segera di tangani secara cepat,
tepat dan sesuai dengan prosedur penatalaksanaan patah tulang, sebab sering kali
penanganan patah tulang ini dilaksanakan secara keliru oleh masyarakat di tempat
kejadian kecelakaan.
Menyinggung angka kematian di Indonesia, kecelakaan lalu lintas adalah merupakan
salah satu penyebabnya, selain menyebabkan kematian masalah yang timbul dari
kecelakaan lalu lintas adalah trauma berupa fraktur yang dapat menyebabkan disfungsi
organ tubuh atau bahkan dapat menyebabkan kecacatan.
Fraktur adalah Diskontinuitas jaringan tulang yang biasanya disebabkan oleh kekerasan
yang timbul secara mendadak.Berkaitan dengan hal itu kami menilik mengenai data
yang ada pada RSUD Waled khususnya pada ruang bedah Bougenville.
Berdasarkan data yang diperoleh dari catatan Statistik di Ruang Bedah Bougenvil Rumah
Sakit Umum Daerah WALED Cirebon selama 1 bulan terakhir klien yang di rawat
dengan fraktur secara umum dari bulan Desember 2012 s/d Januari 2013 adalah sebanyak
13 jiwa.
Berdasarkan hasil seleksi kasus pada Ruang Bedah Bougenvill pada system
Muskuloskeletal kami selaku tim penyusun mendapat kesempatan untuk mengelola

asuhan keperawatan pada klien Tn. K dengan diagnosa Fraktur femur dextra maka
dengan itu tim penyusun mengambil judul Asuhan Keperawatan pada Tn. K dengan
Fraktur Femur di Ruang Bedah Bougenvill Rumah Sakit Umum Daerah WALED
Cirebon untuk Tugas praktek belajar Klinik pada blok sistem Muskuloskeletal.
B. Tujuan Penulisan.
1. Tujuan umum
Untuk memperoleh gambaran dan pengalaman langsung dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan Fraktur Femur Dextra dengan pendekatan proses
keperawatan.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan fraktur Femur dextra secara benar dan sesuai
dengan teori yang didapat.
b. Merumuskan diagnosis yang mungkin timbul dan menentukan rencana tindakan
keperawatan pada klien dengan fraktur communitif Femur dextra.
c. Membuat perencanaan tindakan keperawatan yang sesuai pada Tn.K dengan fraktur
Femur dextra.
d. Melakukan tindakan keperawatan pada Tn. K dengan fraktur Femur dextra.
e. Mengevaluasi tindakan keperawatan yang dilakukan pada Tn. K dengan fraktur Femur
dextra.
f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien Tn.K dengan
fraktur Femur dextra.
C. Ruang Lingkup Pembahasan
Mengingat luasnya pembahasan mengenai masalah fraktur maka dalam tugas kelompok
ini, tim kelompok hanya akan membahas bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien dengan fraktur Femur dextra di Ruang Bedah Bougenvill Rumah Sakit Umum
Daerah WALED Cirebon.
D. Metode Penulisan
Dalam penyusunan Tugas kelompok ini penyusun menggunakan metode deskriptif
dengan studi kasus.
Adapun data-data yang terhimpun dalam penyusunan Tugas kelompok ini penulis peroleh
dengan cara :
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang meliputi inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi.
b. Penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap prilaku, kebiasaan, keadaan
dan kondisi klien
c. Wawancara
Pengumpulan data dengan melakukan wawancara langsung pada klien maupun pada
keluarga, dokter, perawat dan tim kesehatan lain.

d. Studi Dokumentasi
Menggunakan dokumen yang berhubungan dengan judul Tugas kelompok ini, seperti
catatan medis, catatan keperawatan, dan lain sebagainya.
e. Studi Kepustakaan
Menggunakan bahan yang ada kaitannya dengan Tugas kelompok ini, berupa buku-buku,
diklat dan lain lain yang dapat didukung dengan teori yang ada.
E. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun Tugas kelompok ini penyusun membagi dalam lima bab, yaitu : Bab
satu terdiri dari pendahuluan yang berisi latar belakang, ruang lingkup bahasan, tujuan
penulisan, bab dua terdiri dari dasar teori. Bab tiga terdiri dari tinjauan kasus meliputi
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, tindakan dan evaluasi. Bab empat
menguraikan tentang asuhan keperawatan pada Tn.K dengan fraktur Femur dextra dalam
praktek nyata dihubungkan dengan konsep-konsep asuhan keperawatan pada klien
dengan fraktur Femur dextra. Bab lima penutup menguraikan kesimpulan terhadap tujuan
penulisan dan juga saran.
Dilanjutkan dengan daftar pustaka yang disertai dengan lampiran lampiran.

DEFINISI
Fracture is abreak in the continuity of bone and is defined according to its type and extent.
(Brunner &Suddarth, 2008)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang terjadi karena adanya tekanan pada
tulang yang melebihi absorpsi tulang (Black, 1997)
ETIOLOGI
1.

Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat itu

2.
Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan
3.

Proses penyakit: kanker dan riketsia

4.
Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan
fraktur kompresi tulang belakan
5.
Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat
menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani)
KLASIFIKASI
1. Berdasarkan garis fraktur
a. Fraktur komplit
Garis patanya melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang
b. Fraktur inkomplit
Garis patahnya tidak melalui seluruh penampang tulang
Greenstick fracture: bila menegenai satu korteks dimana korteks tulangnya sebagian masih
utuh juga periosteum akan segera sembuh dan segera mengalami remodeling kebentuk normal
2. Fraktur menurut jumlah dan garis patah/bentuk/konfigurasi
a.

Fraktur comminute: banyak fraktur/fragmen kecil tulang yang terlepas

b.
Fraktur segmental: bila garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan satu ujung
yang tidak memiliki pembuluh darah menjadi sulit untuk sembuh dan keadaan ini perlu terapi
bedah
c.
Fraktur multipel: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya.
Seperti fraktur femur, cruris dan vertebra.
3. Fraktur menurut posisi fragmen

a.
Fraktur undisplaced (tidak bergeser): garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak
bergeser, periosteumnya masih utuh.
b.
Fraktur displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang disebut
juga dislokasi fragmen.
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar
a. Fraktur terbuka (open fracture/compoun frakture)
Fraktur terbuka karena integritas kulit robek/terbuka dan ujung tulang menonjol sampai
menembus kulit.
Fraktur terbuka ini dibagi menjadi tiga berdasarkan tingkat keperahan:
-

Derajat I: robekan kulit kurang dari 1 cm dengan kerusakan kulit/jaringan minimal.

Derajat II: luka lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan sedang, potensial infeksi lebih besar,
fraktur merobek kulit dan otot.
Derajat III: kerusakan/robekan lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan jaringan otot, saraf dan
tendon, kontaminasi sangat besar dan harus segera diatasi
b. Fraktur tertutup (closed fracture/simple fracture)
Frakture tidak kompkleks, integritas kulit masih utuh, tidak ada gambaran tulang yang keluar
dari kulit.
5. Fraktur bentuk fragmen dan hubungan dengan mekanisme trauma
a.

Fraktur transversal (melintang), trauma langsung

Garis fraktur tegak lurud, segmen tulang yang patah direposisi/direduksi kembali ketempat
semula, segmen akan stabil dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips.
b.

Fraktur oblique; trauma angulasi

Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit
diperbaiki.
c.

Fraktur spiral; trauma rotasi

Fraktur ini timbul akibat torsi pada ekstrimitas, menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak
dan cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar.
d.

Fraktur kompresi; trauma axial flexi pada tulang spongiosa

Fraktur terjadi karena ketika dua tulang menumpuk tulang ketiga yang berada diantaranya seperti
satu vertebra dengan dua vertebra lainnya.
e.

Fraktur avulsi; taruma akibat tarikan (fraktur patela)

Fraktur memisahkan suatu fragmen tulang tempat insersi tendon atau ligamen.
6. Fraktur patologi
Terjadi pada daerah yang menjadi lemah oleh karena tumor atau prose patologik lainnya.
PATOFISIOLOGI
daya

tulang

fraktur

jaringan lunak

pembluh darah

perdarahan

saraf &sumsum tlg


tulang

putus

periosteum

reseptor nyeri

deformitas

krepitasi
pemendekan
luka

hematom

hipovelemi

port de entri

hilang sensasi

vasodilatasi

hipotensi

nyeri

anestesi

eksudasi plasma
& migrasi leukost
infeksi

non infeksi

inflamasi

suplai darah keotak menurun

korteks

delayed union

union

mal union

edema
depresi saraf

keasadaran
shock hipovelemik

nyeri
MANIFESTASI KLINIK
-

Edema/pembengkakan

Nyeri: spasme otot akibat reflek involunter pada otot, trauma langsung pada jaringan,
peningkatan tekanan pada saraf sensori, pergerakan pada daerah fraktur.
-

Spasme otot: respon perlindungan terhadap injuri dan fraktur

Deformitas

Echimosis: ekstravasasi darah didalam jaringan subkutan

Kehilangan fungsi

Crepitasi: pada palpasi adanya udara pada jaringan akibat trauma terbuka

TAHAP PENYEMBUHAN TULANG


1.

Tahap pembentukan hematom

dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk kearea fraktur.
Suplai darah meningkat, terbentuklah hematom yang berkembang menjadi jaringan granulasi
sampai hari kelima.
2.

Tahap proliferasi

dalam waktu sekitar 5 hari , hematom akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang
fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan
osteoblast yang akan menhasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada
patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan.
3.

Tahap pembentukan kalus

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai
celah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan
dan tulang serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar frakmen tulang tergabung dalam tulang
rawan atau jaringan fibrus
4.

Osifikasi

Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalaui
proses penulangan endokondrial. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar
bersatu. Proses ini memerlukan waktu 3-4 bulan.
5.

Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodeling (6-12 bulan)

Tahap akhir dari perbaikan patah tulang. Dengan aktifitas osteoblas dan osteoclas, kalus
mengalami pembentukan tulang sesuai aslinya.
PRINSIP-PRINSIP PENATALAKSANAAN
Ada empat konsep dasar yang harus diperhatikan/pertimbangkan pada waktu menangani fraktur:
1.
Rekognisi: menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian
di rumah sakit.
-

Riwayat kecelakaan

Parah tidaknya luka

Diskripsi kejadian oleh pasien

Menentukan kemungkinan tulang yang patah

krepitus

2.
Reduksi: reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi
terbagi menjadi dua yaitu:
-

Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips

Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan,
biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula
tulang.
3.
Immobilisasi:Setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi untuk
membantu tulang pada posisi yang benar hingga menyambung kembali.
4.
Retensi: menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmenfragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)
5.
Rehabilitasi: langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan
pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cidera dan program pengobatan hasilnya kurang
sempurna (latihan gerak dengan kruck).
TINDAKAN PEMBEDAHAN

1.

ORIF (OPEN REDUCTION AND INTERNAL FIXATION)

Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cidera dan diteruskan sepanjang bidang
anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur
-

Fraktur diperiksa dan diteliti

Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka

Fraktur di reposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali

Saesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa; pin,
sekrup, plate, dan paku
Keuntungan:
-

Reduksi akurat

Stabilitas reduksi tinggi

Pemeriksaan struktu neurovaskuler

Berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal

Penyatuan sendi yang berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat

Rawat inap lebih singkat

Dapat lebih cepat kembali ke pola kehidupan normal

Kerugian
-

Kemungkinan terjadi infeksi

Osteomielitis

2.

EKSTERNAL FIKSASI ( OPEN REDUCTION AND EKSTERNAL FIXATION )

Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya pada ekstrimitas
dan tidak untuk fraktur lama
-

Post eksternal fiksasi, dianjurkan penggunaan gips.

Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen ke tulang

Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan pennya.

Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain:

Obsevasi letak pen dan area


Observasi kemerahan, basah dan rembes
Observasi status neurovaskuler distal fraktur
TEST DIAGNOSTIK
-

X Ray: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma

Scan tulang: menidentifikasi kerusakan jaringan lunak

Hitung darah lengkap:

Ht: mungkin meningkayt (hemokonsentrasi), menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur
atau organ jauh dari trauma multiple)
Peningkatan SDP: respon stres normal setelah trauma
-

Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal

Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah atau cedera hati

KOMPLIKASI
1. Komplikasi awal
-

Shock Hipovolemik/traumatik

Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) perdarahan & kehilangan cairan ekstrasel ke
jaringan yang rusak shock hipovolemi.
-

Emboli lemak

Trombo emboli vena

Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest


-

Infeksi

Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik

2. Komplikasi lambat
-

Delayed union

Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan.
Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang
-

Non union

Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini disebabkan oleh fobrous
union atau pseudoarthrosis
-

Mal union

Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk)


-

Nekrosis avaskuler di tulang

Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang .


PENGKAJIAN
Aktivitas
Tanda

1 Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena(mungkin segera, fraktur itu sendiri,
atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan, nyeri)
Sirkulasi
Tanda

1 Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri, ansietas)


1 Hipotensi (kehilangan darah)
1 Takikardia (respon stres, hipovolemia)
1 Penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera
1 Pengisian kapiler lambat
1 Pucat pada bagian yang terkena
1 Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera

Neurosensori
Gejala

1 Hilangnya gerakan/sensasi
1 Spasme otot
1 Kebas/kesemutan (parestesis)
Tanda

1 Deformitas lokal
1 Angulasi abnormal
1 Pemendekan
1 Rotasi
1 Krepitasi
1 Spame otot
1 Terlihat kelemahan/hilang fungsi
1 Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ ansietas/trauma)
Nyeri/kenyamanan
Gejala

1 Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan
tulang; dapat berkurang dengan imobilisasi)
1 Tidak ada nyeri karena kerusakan syaraf
1 Spasme/kram otot (setelah imobilisasi)
Keamanan
Tanda

1 Laserasi kulit
1 Avulsi jaringan

1 Perdarahan
1 Perubahan warna
1 Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba)

Daftar pustaka
Black (1997). Medical surgical nursing. Philadelpia: WB Saunders Company
Doenges, M. E. (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien. Ed. 3. Jakarta: EGC
Lewis (2000). Medical surgical nursing. St Louis: Mosby
Price, S. A. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Ed. 4. Jakarta: EGC
Smeltzer, S. C. (2008). Medical Surgical Nursing. Brunner & Suddart. Ed. 8. Jakarta: EGC

BAB III
FRAKTUR PADA FEMUR

Femur meruoakan tulang panjang yang ada dalam tubuh manusia. Fraktur
tulang femur dapat terjadi mulai dari proksimal sampai distal. Untuk mematahkan
batang femur pada tulang dewasa, diperlukan gaya yang besar. Kebanyakan fraktur
ini terjadi pada pria muda yang mengalami kecelakaan kendaran bermotor atau
jatuh dari ketinggian. Biasanya, klien mengalami trauma multipel. Secara klinis,
fraktur femur terdiri atas patahan tulang paha terbuka dan patahan tulag paha
tertutup. Asuhan keperawatan pada kedua fraktur femur ini berbeda. Klien sering
mengalami syok, baik syok hipovolemik karena kehilangan banyak daaraah maupun
syok neurogenik karena nyeri yang sangat hebat.
Fraktur femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang
pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan
kondisi tertentu, seperti degenerasi tulang atau osteoporosis.
Dua tipe fraktur femur adalah sebagai berikut :
1. Fraktur intrakapsular femur yang terjadi didalam tulang sendi, panggul,
dan melalui kepala femur (fraktur kapital).
2. Fraktur ekstrakapsular
- Terjadi diluar sendi dan kapsul, melalui trokanter femur yang lebih
besar / yang lebih kecil / pada daerah intertrokanter.
- Terjadi dibagian distal menuju leher femur, tetapi tidak lebih dari 2 inci
dibawah trokanter minor.
Fraktur leher femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada
orang tua terutama wanita usia 60 tahun ke atas disertai tulang yang
osteoporosis. Fraktur leher femur pada anak anak jarang ditemukan. Fraktur
ini lebih sering terjadi pada anak laki laki dari pada anak perempuan
dengan perbandingan 3:2. Insiden tersering pada usiam11 12 tahun.
1. Mekanisme trauma. Fraktur terjadi karena jatuh pada daerah trokanter ,
baik karena kecelakaan lalu lintas maupun jatuh dari tempat yang tidak
terlalu tinggi, seperti terpeleset dari kamar mandi ketika panggul dalam
keadaan fleksi dan rotasi.
Kaput femur mendapat aliran darah dari tiga sumber sebagai berikut :
- Pembuluh darah intramedular didalam lehern femur.
- Pembuluh darah servikal asenden dalam retinakulum kapsul sendi.
- Pembuluh darah dari ligament yang berputar.
Pada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intramedlar dan pembuluh
darah retinakulum selalu mengalami robekan apabila terjadi pergeseran
fragmen. Fraktur transervikal adalah fraktur yang bersikap intrakapsuler
dan mempunyai kapasitas yang sangat rendah dalam penyembuhan
karena kerusakan pembuluh darah, periosteum yang rapuh, serta
hambatan dari cairan synovial.

2. Pengkajian. Kaji adanya riwayat jatuh dari ketinggian disertai nyeri pada
daaerah panggul terutama pada daerah inguinal depan. Adanya nyeri dan
pemendekan anggota gerak bawah dalam posisi rotasi lateral.
3. Pemerikasaan radiologi. Dengan pemeriksaan radiologi kita dapat
mengetahui jenis fraktur dan klasifikasinya serta menentukan jenis
pengobatan dan prognoisnya.
4. Penaktalaksaan fraktur leher femur adalah sebagain berikut :
- Konservatif dengan indikasi yang sangat terbatas.
- Terapi operatif. Pengobatan operatif hamper selalu dilakukan pada
klien fraktur leher femur, baik orang dewasa muda maupun orang tua
karena perlu dilakukan reduksi untuk hasil yang akurat dan stabil.
Orang tua yang mengalami fraktur femor perlu dimobilisasi dengan
cepat untuk mencegah komplikasi.
Jenis operasi yang bisa dilakukan pada klien fraktur femur adalah sebagai
berikut :
Pemasangan pin
Pemasangan plate dan screw
Atroplasti dilakukan pada klien usia diatas 55 tahun yang berupa eksisi
artoplasti.
5. Komplikasi bergantung pada beberapa faktor. Komplikasi yang bersifat
umum adala trombosis vena, emboli paru, pneumonia, dan dekubitus.
Nekrosis avaskuler terjadi pada 30% klien fraktur yang disertai pergeseran
dan 10% klien fraktur yang tanpa pergeseran. Apabila lokasi fraktur lebih
keproksimal , kemungkinan terjadi nekrosis avaskulerlebih besar
-

Lebih dari 1/3 klien fraktur leher femur tidak dapat mengalami union
terutama pada fraktur yang bergeser. Komplikasi sering terjadi pada fraktur
denagan lokasi proksimal. Hal ini disebabkan oleh vaskularisasi yang jelek,
reduksi yang tidak adekuat, fiksasi yang tidak adekuat, dan lokasi fraktur
adalah intra-artikular.
Osteoartritis sekunder terjadi karena adanya kolaps kaput femur atau
nekrosis avaskuler. Selain itu, dapat terjadi pemendekan anggota gerak, malunion, mal-rotasi berupa rotasi ekterna.
Fraktur intertrokanter femur. Pada beberapa keadaan, trauma mengenai
daerah tulang femur. fraktur daerah trokanter adalah semua fraktur yang
terjadi antara trokanter mayor dan minor. Fraktur ini bersifat ekstra-artikular
dan sering terjadi pada orang tua diaatas usia 60 tahun. Fraktur trokanter
terjadi bila klien jatuh dan mengalami trauma langsung pada trokanter mayor
atau mengalami trauma yang bersifat memuntir . keretakan tulang terjadi
antara trokanter mayor dan minor tempat fragmen proksimal cenerung
bergeser secara varus. Fraktur bersifat komunitif terutama pada korteks
bagian postero-medial.

Fraktur subtrokanter dapat terjadi pada setiap usia dan biasanya akibat
trauma yang hebat.
1. Pengkajian. Anggota gerak bawah dalam keadaan roatasi eksterna dan
memendek serta ditemukan pembengkakan pada daerah proksimal femur
disertai nyeri pada pergeakan.
2. Pemerikasaan radiologis. Pemeriksaan ini dapat menunjukan fraktur yang
terjadi pada bawah trokanter minor. Garis fraktur dapt bersifat tranversal
oblik , atau sepiral, dan sering bersifat komonutif. Fargmen proksimal
dalam posisi fleksi, sedangkan fragmen distal dalm posisi aduksi dan
bergeser ke proksimal.
3. Penatalaksaan. Pemasangan traksi dan gips panggul merupakan
alternative pentalaksaan pada klien usia muda. Reduksi terbuka dan fiksai
internal merupakan pengobatan pilihan denagan mempergunakan plate
dan screw.
Fraktur diafisis femur. slah satu yang sering terjadi pada daerah femur
adalah fraktur diafisi femur. fraktur diafisis dapat terjadi pada setiap usia dan
biasanya terjadi akibat trauma hebat, mislanya kecelakaan lalu lintas atau
jatuh dari ketinggian. Femur dapat diliputi dari otot yang kuat. Otot ini
merupakan proteksi untuk tulang femur. akan tetapi, otot ini dapat juga
berakibat buruk karena dapat menarik fragmen fraktur sehingga bergeser.
Fraktur femur sering disertai dengan perdarahan pasif. Hal ini harus selalu
dipikirkan sebagai penyebab syok.
1. Mekanisme trauma. Trauma yang terjadi menyebabkan fraktur sepiral
apabila klien jatuh dengan posisi kaki melekat erat pada dasar
sambilterjadi putarannya yang diteruskan pada femur. fraktur yang
bersifat tranversal dan oblik terjadi karena trauma langsung dan trauma
angulasi.
Fraktur diafisis femur dapat bersifat tertutup dan terbuka, simple,
komunitif, atau segmental.
Pada umumnya klien adalah remaja sampai dewsa muda. Pada usia
tersebut klien lebih suka kebut kebutan dengan kendaraan bermotor.
Klien mengalami pembengkakan dan deformitas pada tungkai atas berupa
rotasi eksterna dan pemendekan tungkai. Klien mungkin datang dlam
keadaan syok. Dengan pemeriksaan radiologi, perawat dapat menentukan
jenis lokasi dan jenis fraktur.
2. Penatalaksaan yang dilakukan hampir sama dengan penatalaksaan patah
tulang panjang lainnya, yaitu sebagai berikut :
- Terapi konservatif. Traksi kulit merupakan pengobatan sementara
sebelum dilakukan terapi definitif untuk mengurangi sepasme otot.

Traksi tulang berimbang denagan bagian pearson pada sendi lutut.


Indikasi traksi terutama adalah fraktur yang bersifat komunitif dan
segmental. Traksi ini menggunakan cast bracing yang dipasang setelah
terjadi union fraktur secara klinis.
Terapi operatif dengan pemasangan plate ddan screw terutama pada
fraktur proksimal dan distal femur ; mempergunkan k-nail, AO-nail,
atau jenis jenis lain, baik dengan operasi tertutup atau terbuka.
Indikasi k-nail, AO-nail terutama adalah fraktur diafisis; fiksasi internal
terutama pada fraktur segmental, fraktur komunutif, infected
pseudorathrosis, atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak
yang hebat.
3. komplikasi
-

Komplikasi dini. Komplikasi ini harus ditangani dengan serius oleh perawat
yang melakukan suhan keperawatan pada klien fraktur diafisis femur.
Perawat dapat melakukan pengenalan dini dan pengawasan yang optimal
apabila telah mengenal konsep anatomi, fisiologi, dan patofisologi patah
tulang.
Komplikasi yang biasanya terjadi pada klien fraktur diafisis adalah sebagai
berikut :
-

syok. Terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat


tertutup.
Emboli lemak. Sering didapat pada penderita muda dengan fraktur
femur. klien perlu menjalani pemeriksaan gas darah.
Trauma pembuluh darah besar. Ujung fragmen tulang menembus
jaringan lunak dan merusak arteri femoralis sehingga menyebabkan
kontusi dan okulasi atau terpotong sama sekali.
Trauma saraf. Trauma pada pembuluh darah akibat tusukan fragmen
dapat disertai dengan kerusakan saraf yang bervariasi dari
neuropraksia sampai aksonotemesis. Trauma saraf dapat terjadi pada
nervus iskiadikus atau pada cabangnya, yaitu nervus tibialis dan
nervus peroneus komunis.
Trombo-emboli. Klien yang menjalani tirah baring lama, missalnya
distraksi ditempat tidur, dapat mengalami komplikasi trombo-emboli.
Infeksi. Infeksi terjadi pada fraktur terbuka akibat luka yang
terkontaminasi. Infeksi dapat terjadi pula setelah tindakan operasi.

Komplikasi lanjut. Komplikasi fraktur diafisis femur hamper sama dengan


komplikasi beberapa jenis fraktur lainnya. Oleh karena itu, setiap perawat
perlu memperhatikan dan mengetahui komplkasi yang biasa terjadi agar
komplikasi tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan. Pada beberapa
situasi, perawat biasanya akan dihadapkan dengan klien fraktur dengan
diafisis femur yang mengalami komplikasi lanjut. Perawat yang

mempunya pengalaman dan pengetahuan yang baik dapat


mengidentifikasi kelainan yang timbul akibat komplikasi tahap lanjut dari
fraktur diafisis femur.
Komplikasi yang sering terjadi pada klien diafisis femur adalah sebagai
berikut :
Delayed union. Fraktur femur pada orang dewasa mengalami nion
dalam 4 bulan
- Non-union. Apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik,
perawat perlu mencurigai adanya non-union.oleh karena itu,
diperlukan fiksasi internal dan bone graft.
- Mal-union. Bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen,
diperlukan pengamatan terus - menerus selama perawatan. Angulasi
lebih sering ditemukan. Mal-union juga menyebabkan pemendekan
tungkai sehingga diperlukan koreksi berupa osteotomi.
4. Kaku sendi lutut. Setelah fraktur femur, biasanya terjadi kesulitan
pergerakan pada sendi lutut. Hal ini dapat dihindari apabila fisioterapi
yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal.
5. Refraktur. Terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union
yang solid.
Fraktur suprakondilar femur. secara anatomis, daerah suprakondilar
adalah daerah batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis
dengan deafisis femur. Trauma yang mengenai daerah femur terjadi
karena adanya tekanan varus dan valgus disertai kekuatan aksial dan
putaran sehingga dapat menyebabkan fraktur pada daerah ini. Pergeseran
pada fraktur terjadi karena terikan otot. Oleh karena itu,pada terapi
kosnervatif, lutut harus difleksi untuk menghilangkan tarikan otot
Secara klinis, biasanya ditemukan adanya riwayat trauma yang disertai
pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondilar. Pada
pemeriksaan mungkin ditemukan adanya krepitasi.
Penatalaksaan klien fraktur suprakondilar adalah sebagai berikut :
1. Terapi kosenrvatif. Traksi berimbang dengan mempernggunakan bidai
Thomas dan penahan lutut pearson, cast-braching, dan spika panggul.
2. Terapi operatif. Terapi ini dilakukan pada fraktur terbuka atau tertutup
yang mengalami pergeseran dan tidak dapat direduksi secara
konservatif. Terapi dilakukan dengan mempergunakan nail-phorc dare
screw dengan berbagiamacam tipe yang tersedia.
-

Patofisiologi dan pathway

Trauma pada
femur
Kegagalan tulang menahan tekana
terutama
tekanan
membengkok,
Prosedur
memutar, dan menarik
Kerusakan
pemasanga
neuro
n
fiksasi
Kerusaka
Frajtur femur
Fraktur femur
vaskular
internal
Fraktur
n
terbuka
tertutup

BAB IV
Asuhan Keperawatan pada Klien Tn K dengan
Diagnosa Fraktur Femur Dextra
Tanggal pengkajian : 14 Januari 2013
Tanggal masuk RS : 14 januari 2013
No. medical record : 680535

I.

Biodata

1. Identitas
a. Identitas klien
Nama KLien : Tn. K
Umur : 53 Tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Pekerjaan : Wirasuwasta
Suku Bangsa : Sunda

Status Perkainan : Kawin


Alamat : Ds. Warukawung.
Kec. Depok Kab. Cirebon
b. Identitas Penanggungjawab
Nama : Ny. M
Umur :44 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Ds. Warukaeung
Kec. Depok Kab. Cirebon

II.

Riwayat Kesehatan

1. Alasan meminta bantuan


Klien mengatak 2 tahun yang lalu mengalami kecelakaan lalu lintas yang
mengakibatkan tulang paha kanan klien patah.klien dibawa kepuskesmas namun
masalah belum teratasi, klien memilih pengobatan alternative sebanyak 3
kali,namun masalah masih juga belum teratasi. Pada 9 januari 2013, klien
melakukan berobat jalan di Poli Bedah, tanggal 14 januari 2013 klien msuk
rumah sakit.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Keluhan Utama
Klien mengatan nyeri pada daerah paha kanannya
b. Keluhan Waktu didata
Klien mengatan nyeri
Klien mengatakan pening
Klien mengatakan belum BAB selama 1 Minggu
Klien mengatakn saki pada perut
3. Riwayat Keshatan Masa lalu
Klien mengatakan seblumnya tidak pernah mengalami penyakit seperti ini

III. Riwayat Kesehatan Keluarga

Klien mengatakan bahwa tidak ada keluarganya yang mengalami penyakit


serupa.

IV. Struktur genogram

Tn.
K

V.
No
1

Data Biologis

Kebutuhan Dasar
Nutrisi
a. Makan

b. Minum

Saat sehat
Frekuensi : 3 X 1 sehari
Jenis : Makanan Biasa
Jumlah porsi : 1 porsi
penuh
Nafsu makan : Baik
Frekuensi : 8 X 1 sehari

Saat saki
Frekuensi : 2 X 1 sehari
Jenis Makanan : Lunak
Jumlah porsi : - porsi
Nafsu makan : menurun
Frekuensi : 4 X 1 sehari

Eliminasi
a. BAB

b. BAK

Frekuensi : 2 X 1 Sehari
Warna : Kuning
Konsistensi : Lunak
Bau : Khas
Frekuensi :
Warna : Kuning Pekat
Bau : Amoniak

Frekuensi : Belum BAB


Warna
Knsistensi
Bau
Frekuensi :
Warna : Kuning Pekat
Bau : Amoniak
Keluhan : Klien
mengatakan susuh BAB
selama 1 minngu

3
4
5

Istirahat / Tidur
Porsonal Hygiene
Pola Aktivitas

VI.

Data Psikologis
A.Status Emosi
Emosi stabil dan tenang
B.Konsep Diri
1.HargaDiri
2.Ideal Diri
Klin mengatakan ideal dirinya yaitu hidup sehat dan dapat bekerja
lagiseperti sebelumnya
3. Identitas Diri
4. Gambaran Diri
5. Aktualisasi Diri
C. Gaya Komunikasi
D.Pola Interaksi
Interaksi klien dan perawat dapat terjalin dengan baik ( klien kooperatif
terhadap tindakan keperawatan)
E. Pola Dalam mengatasi masalah

VII. Data Sosial


A. Pendidikan dan Pekerjaan
Pendidikan yang pernah ditempuh oleh klien yaitu SD, sedangkan pekerjaan
yang ditekuni oleh klien yaitu seorang wiraswasta
B. Hubungan social
C. Faktor Sosio cultural
D. Gaya Hidup

VII. Data Spiritual

Klien mengaku dirinya adalah seorang muslim,akan tetapi


semenjak sakit ketaatan ibadahnya terganggu
IX. Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum
1. Kesadaran : Compos Mentis dengan nilai GCS 15
2. Penampilan
: tampak kotor, diam murung
3. Status Gizi
:
a. Berat Badan :
b. Tinggi badan :
4. Tanda tanda vital
T: 120/70 mmHg ; P:72 x/menit ; R: 20x/menit ; S: 37,2 C
B. Kepala
C. Mata
D. Telinga
E. Hidung
F. Mulut
G. Leher
Dada
H. Abdomen
I. Genetalia
J. Ekstremitas

x. Data Penunjang
Rontgen
Laboratorium
Hemoglobin (Hb)
Lekosit/ white blod cell
Para Meter
Hemoglobin (Hb)
Lekosit/white Blod Cell
Trombosit/platelet (Plt)
Eritrosit/ Red blod Cell (RBC)
Ilematokrit (Ilt)
Limfosit (LYM)
Monosit (MON)
Golongan darah

Hasil
12,2
19400
69000
3,8
36
7
3
A/+

Nilai Normal

XI.

Pengobatan

XII. Analisa Data


XIII. Daftar Diagnosa Keperawatan
XIV. Intervensi Keperawatan
XV. Implementasi Keperawatan dan Evaluasi
XVI. Catatan Perkembangan