Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kesehatan merupakan hal yang sangat
penting khususnya bagi ibu yang sedang hamil. Karena dalam kondisi yang
seperti ini kesehatan seorang ibu akan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan janinnya. Satu hal yang paling sering ditemui di dalam dunia
kesehatan dimana seorang bayi yang baru lahir akan tetapi bayi itu akan
mengalami kesulitan dalam bernafas. (Hidayat, Aziz Alimul.2005)
Penyakit saluran pernapasan merupakan salah satu penyebab kesakitan
dan kematian yang paling penting pada anak, terutama bayi, karena saluran
napasnya masih sempit dan daya tahan tubuhnya masih rendah. Salah satu
parameter gangguan saluran pernapasan adalah frekuensi dan pola pernapasan.
Pada bayi baru lahir sering kali terlihat pernapasan yang dangkal, cepat, dan
tidak teratur iramanya akibat pusat pengatur pernapasannya belum
berkembang secara sempurna. Pada bayi prematur gangguan pernapasan dapat
disebabkan oleh kurang matangnya paru. Disamping faktor organ pernapasan,
keadaan pernapasan bayi dan anak juga di pengaruhi oleh beberapa hal lain,
seperti suhu tubuh yang tinggi, terdapatnya sakit perut, atau lambung yang
penuh. (Sibuea, 2007).
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat
bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir. (Hidayat,
Aziz Alimul.2005)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis,
bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak
atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital
lainnya.Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2),
hiperkarbia

(peningkatan

PaCO2),

dan

asidosis

(penurunan

PH).

(Saiffudin.2001).
Dalam kasus asfiksia ini, peran perawat adalah bagaimana untuk
memacu napas klien untuk kembali normal. Memberikan terapi oksigen yang

baik, memberikan semangat kepada keluarga klien untuk berfikir positif dan
mengurangi rasa cemas.
Pada sekarang ini, perkembangan ilmu kesehatan terutama dalam
pengobatan dan peralatan, sangatlah menunjang dalam pemulihan penyakit.
Terutama penyakit yang ada dalam pembahasan makalah ini. Begitu juga
dengan petugas kesehatan, baik dokter, perawat, ahli gizi dan lain-lain telah
banyak membantu dalam pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal, baik
dalam segi perawatan maupun dalam segi pengobatannya. Pada asfiksia
neonatorum yang paling baik dan tepat, terutama dalam segi keperawatannya
sangatlah membantu dalam penyembuhan klien. (Wiknjosastro, 1999).
Oleh karena itu dalam makalah ini dijelaskan mengenai penyakit asfiksia
neonatorum. Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh
berbagai faktor seperti faktor ibu, faktor placenta, faktor featus dan faktor
neonatus, sehingga menyebabkan bayi sulit untuk bernafas secara spontan.
Setiap penyakit mempunyai gambaran klinik tersendiri terutama pada tanda
dan gejala, pengobatan serta perawatannya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengambil rumusan
masalah tentang, Bagaimana asuhan keperawatan pada Bayi dengan kasus
Asfiksia.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mendapatkan gambaran secara umum tentang
asuhan keperawatan klien dengan asfiksia neonatorum.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan Pengkajian perawatan pada Bayi
dengan kasus Asfiksia.
b. Mahasiswa mampu melakukan pengelompokan data pada Bayi dengan
kasus Asfiksia.
c. Mahasiswa mampu melakukan Diagnosa keperawatan pada Bayi
dengan kasus Asfiksia.
d. Mahasiswa mampu melakukan Perencanaan keperawatan pada Bayi
dengan kasus Asfiksia.
e. Mahasiswa mampu melakukan Pelaksanaan
pada Bayi dengan kasus Asfiksa.

tindakan keperawatan

f. Mahasiswa mampu melakukan Evaluasi keperawatan pada Bayi


dengan kasus Asfiksia.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Mahasiswa
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui gambaran secara umum tentang
asfiksia.
b. Agar mahasiswa dapat mengetahui rencana asuhan keperawatan
asfiksia.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Asfiksia Neonatorum
1. Pengertian
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera
bernapas secara spontan dan teratur setelah melahirkan. (Rahman.2000)

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat
bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir.
(Hidayat, Aziz Alimul.2005)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan
asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan
kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi
organ vital lainnya.Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan
PaO2), hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).
(FKUI.2007)
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat
bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir
(Mansjoer, 2000). Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan
CO2 dan asidosis, bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat
mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat
mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001). Asfiksia lahir
ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia (peningkatan
PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).
2. Etiologi
Chamberlain (1997) mengemukakan bahwa gangguan yang timbul
pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai dengan
anoksia / hipoksia janin dan berakhir dengan aspiksia neonatus.
Towell (1996) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan
pernafasan pada bayi terdiri dari :
a. Faktor Ibu
1) Hipoksia ibu, ini terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat
analgetik atau anestesi dalam.
2) Gangguan aliran darah uterus, mengurangnya aliran darah pada
uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran O2 ke placenta
dan demikian pula ke janin. Hal ini sering ditemukan pada keadaan
:
a) Gangguan kontraksi uterus : hipertoni, hipotoni, atau tetani
uterus karena obat
b) Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan

c) Hipertensi pada eklamasia


b. Faktor Placenta, misal : solusio placenta.
c. Faktor Fetus
Kompresi umbilkalis akan mengakibatkan terganggunya aliran
darah dan pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas
antara ibu dan janin, dapat terjadi pada keadaan tali pusat menumbung,
tali pusat melilit leher, kompres tali pusat pada persalinan sungsang
antara janin dan jalan lahir.
d. Faktor neonatus
Depresi pusat pernafasan pada BBL dapat terjadi karena
pemakaian obat anestesia yang berlebihan pada ibu.
e. Faktor antepartum
Umur ibu > 35 tahun, kehamilan kurang bulan, kehamilan ganda,
dismatur, riwayat IUFD infeksi pada ibu, kecanduan obat pada ibu,
cacat bawaan, ibu dengan DM, anemia, perdarahan trimester II / III,
oligohidramnion.
f. Faktor Intra partum
Sectio Caesaria, persalinan kurang bulan, pemakaian anestesi
umum, KPD > 24 jam.
3. Patofisiologi Asfiksia
Dalam kehidupan intrauterin paru-paru tidak berperan dalam
pertukaran gas. Dalam keadaan hamil, alveoli janin berisi cairan yang
dibentuk dalam paru-paru. Pada saat kelahiran diperlukan tekanan yang
besar untuk mengeluarkan cairan tersebut sehingga paru-paru dapat
berkembang untuk pertama kalinya. Pernafasan pertama memerlukan
tekanan 2-3 kali lebih tinggi daripada pernafasan selanjutnya.
Pada saat proses persalinan, kontraksi uterus dapat mempercepat
pengeluaran cairan, sebagian cairan paru masuk rongga perivaskuler dan
diabsorbsi ke dalam aliran darah dan limfe paru-paru. Pada saat bayi
bernafas alveoli akan mengembang sehingga cairan paru-paru akan
berganti dengan udara.
Masalah pengeluaran cairan paru terjadi pada bayi yang paruparunya tidak berkembang dengan baik saat pernafasan pertama. Ini dapat
dilihat pada bayi lahir dengan apnea. Bayi yang tidak pernah bernafas

dapat diasumsi bahwa pangembangan alveoli tidak terjadi dan tetap terisi
cairan. Melakukan pernafasan buatan pada bayi seperti ini diperlukan
tekanan tambahan.
4. Tanda dan Gejala
a. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari
100 x/mnt, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
1) Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
2) Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang
asfiksia
3) Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam
gawat.
b. Pada bayi setelah lahir
1) Bayi pucat dan kebiru-biruan
2) Usaha bernafas minimal atau tidak ada
3) Hipoksia
4) Asidosis metabolik atau respiratori
5) Perubahan fungsi jantung
6) Kegagalan sistem multiorgan
7) Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala
neurologik : kejang, nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak
menangis.
c. Penilaian apgar score.
Penilaian asfiiksia secara APGAR mempunyai hubungan yang
bermakna dengan kejadian asfiksia pada BBL,patokan klinis yang
dinilai :
1) Menghitung frekwensi jantung
2) Melihat usaha bernafas
3) Melihat tonus otot
4) Melihat reflek rangsangan
5) Memperhatikan warna kulit
Tabel APGAR SCORE
Tanda
Frekwensi
jantung
Usaha bernafas
Tonus otot

O
Tidak ada
Tidak ada
Lumpuh

1
< 100 / menit

2
>

Lambat tak teratur

menit
Menangis

Extremitas
sedikit

100

kuat
fleksi Gerakan
pasif

Reflek
Warna

Tidak ada Gerak sedikit


Menangis
Biru
/ Tubuh
kemerahan, Tubuh
pucat

extremitas biru

ekstremitas

kemerahan
d. Tingkatan asfiksia
1) Asfiksia ringan / bayi normal : nilai apgar score 7-9
2) Asfiksia sedang : nilai apgar score 4-6
3) Asfiksia berat : nilai apgar 0-9
5. Komplikasi Asfikasi
a. Asidosis respiratorik
Bila berlanjut dan tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme
anaerobik berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga sumber glikogen
tubuh, jantung dan hati akan berkurang, asam organik yang terjadi
akibat metabolisme ini akan menimbulkan asidosis metabolik.
b. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi
jantung.
c. Terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel
jaringan termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan
jantung.
d. Kerusakan sel otak akibat asidosis dan gangguan kardiovaskuler.
e. Odem otak, perdarahan intra / periventrikuler
f. Gangguan kognitif, gangguan tingkah laku, retardasi mental, epilepsi
atau cerebral palsy di kemudian hari.
g. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita
asfiksia, keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat
terjadinya, yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini
curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium
dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada
pembuluh

darah

mesentrium

dan

ginjal

yang

menyebabkan

pengeluaran urine sedikit.


h. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan
pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan
persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat
menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak
efektif.
7

i. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan
menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan
perdarahan pada otak.
6. Penatalaksanaan
a. Pengaturan suhu
Segera setelah lahir, badan dan kepala neonatus hendaknya
dikeringkan seluruhnya dengan kain kering dan hangat, dan diletakan
telanjang di bawah alat/ lampu pemanas radiasi, atau pada tubuh
Ibunya, bayi dan Ibu hendaknya diselimuti dengan baik, namun harus
diperhatikan pula agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada
tubuh bayi.
b. Prinsip dasar resusitasi (Wiknjosastro, 2001)
1) Memberikan lingkungan yang baik pada bayi dan mengusahakan
saluran pernafasan yaitu agar oksigenasi dan pengeluaran CO2
berjalan lancar.
2) Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang
menunjukkan usaha peernafasan lemah.
3) Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi.
4) Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik.
c. Kriteria bayi yang perlu resusitasi :
1) Apnea primer : napas cepat, tonus otot berkurang, kulit kebiruan.
2) Apena sekunder : napas megap-megap yang dalam, denyut jantung
menurun, bayi terlihat lemas (flacid) napas makin lama makin
lemah, tidak berespon terhadap rangsang, tanda penilaian :
a) Pernafasan
b) Denyut jantung
c) Warna kulit
d) Apgar score
Score apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan harus
dimulai resusitasi tetapi merupakan cara yang efektif untuk menilai
kondisi bayi. Penilaian harus segera dilaksanakan setelah lahir
tidak usah menunggu penilaian score apgar menit pertama.
d. Tindakan resusitasi bayi : A B C resusitasi
1) Assesment / Airway / Agitatim
a) Observasi warna, suara, aktivitas bayi
b) Tanda vital : heart rate, pernafasan, kapillary refill
8

c) Cek kepatenan jalan nafas (airway) : bersihkan nasopharing


dan mulut
d) Agitale (stimulasi janin) : menggosok punggung agar bayi
menangis sehingga ada usaha bernafas.
2) Breathing
a) Melakukan rangsang taksil untuk memulai pernafasan.
b) Melakukan ventilasi tekanan positif (VTP) bila perlu
3) Circulation / Cardiac
Bila heart rate 60 kali / menit atau 80 kali / menit dan tak ada
perbaikan, kompresi dada harus dilakukan. Asisten mengecek nadi
perifer bayi (femoralis, brakhialis, karotis, atau radialis) dan
kapillary refill untuk mengkaji efektifitas kompresi. Tujuan
kompresi dada adalah untuk bayi dengan sirkulasi yang rendah
atau tak ada, kompresi dada dianjurkan 120 kali / menit atau 2
kali / detik. Selalu diiringi pernafasan. Obat-obatan yang dipakai :
a) Epineprin 1: 10.000 ~ ampul 3 ml atau 1 ml
b) Nalokson hidroklorida 4.4 mg / ml ~ ampul 1 ml atau 1.0 mg /
c)
d)
e)
f)
g)

ml ~ ampul 2 ml.
Volume ekspander : 5% larutan garam abvulin, Nacl 0.9 %, RL
Bikarbonat natrikus 4,25 (5 mg / 10 ml)
Dektrosa 10%, 250 ml
Aqua steril, 30 ml
Nacl biasa, 30 ml

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Analisa gas darah (PH kurang dari 7.20)
b. Penilaian APGAR score meliputi warna kulit, frekuensi jantung, usaha
c.
d.
e.
f.
g.
h.

nafas, tonus otot dan reflek


Pemeriksaan EEG dan CT-Scan jika sudah tumbuh komplikasi
Pengkajian spesifik
Elektrolit garam
USG
Gula darah.
PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status

parasidosis, tingkat rendah menunjukkan asfiksia bermakna.


i. Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%61%.

j. Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya


kompleks

antigen-antibodi pada membran sel darah merah.(Septia

Sari,2010)
8. Pencegahan
Pencegahan asfiksia pada bayi baru lahir dilakukan melalui upaya
pengenalan/penanganan sedini mungkin, misalnya dengan memantau
secara baik dan teratur denyut jantung bayi selama proses persalinan,
mengatur posisi tubuh untuk memberi rasa nyaman bagi ibu dan mencegah
gangguan sirkulasi utero-plasenter terhadap bayi, teknik meneran dan
bernapas yang menguntungkan bagi ibu dan bayi. Bila terjadi asfiksia,
dilakukan upaya untuk menjaga agar tubuh bayi tetap hangat,
menempatkan bayi dalam posisi yang tepat, penghisapan lendir secara
benar, memberikan rangsangan taktil dan melakukan pernapasan buatan
(bila perlu). Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk mencegah asfiksia,
memberikan pertolongan secara tepat dan adekuat bila terjadi asfiksia dan
mencegah hipotermia. (Hidayat, Aziz Alimul.(2005)
Paradigma baru (aktif) yang disebutkan sebelumnya, terbukti dapat
mencegah atau mengurangi komplikasi yang sering terjadi. Hal ini
memberi manfaat yang nyata dan mampu membantu upaya penurunan
angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Karena sebagian besar persalinan
di Indonesia terjadi di desa atau di fasilitas pelayanan kesehatan dasar
dimana tingkat keterampilan petugas dan sarana kesehatan sangat terbatas
maka paradigma aktif menjadi sangat strategis bila dapat diterapkan pada
tingkat tersebut. Jika semua penolong persalinan dilatih agar kompeten
untuk melakukan upaya pencegahan atau deteksi dini secara aktif terhadap
berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan
secara adekuat dan tepat waktu, dan melakukan upaya rujukan segera
dimana ibu masih dalam kondisi yang optimal maka semua upaya tersebut
dapat secara bermakna menurunkan jumlah kesakitan atau kematian ibu
dan bayi baru lahir.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

10

1. Pengkajian
a. Identitas orang tua
b. Identitas bayi baru lahir :
1) Tanggal lahirjam..
2) Jenis kelamin
3) Kelahiran tunggal / ganda
4) Lahir hidup / mati
5) Ukuran : BB, PB, LK, LD, LLA.
6) Apgar score:.
c. Riwayat Persalinan :
1) Cara

persalinanditolong

olehatas

indikasi Persalinan di
2) Lama persalinan kala I : . Perdarahan
3) Lama persalinan kala II :
4) Ketuban lama pecah : warna.Bau
d. Pemeriksaan fisik
1) Tanggaljam..
2) Keadaan umum tampak lemah
3) Kepala : bentuk mesocephal, ubun-ubun besar sudah menutup.
4) Mata : sklera tak ikterik, konjungtifa tak anemis
5) Hidung : bentuk simetris, ada cuping hidung, nampak megapmegap, belum napas
6) Telinga : bentuk simetris, tak ada kotoran
7) Mulut : bibir sianosis, membran mukosa tak kering
8) Leher : tak ada pembesaran kelenjar tiroid
9) Dada : bentuk simetris, ada retraksi dada
10) Frekuensi nafas < 30 kali/menit, atau apena (henti napas > 20
detik)
11) Jantung : denyut jantung < 100 kali/menit
12) Paru-paru

: masih terdengar suara nafas tambahan ( ronkhi

basah +)

11

13) Abdomen

: meteorismus + tali pusat berwarna putih dan masih

basah
14) Kulit : warna kulit sianosis
15) Extremitas: tak ada tonus otot, tonus otot sedikit/lemah
16) Refleks : tak ada reflek moro
2. Diagnosa keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d penumpukan mukus.
b. Gangguan pemenuhan O2 b/d ekspansi yang kurang adekuat.
c. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen dan
ketidakseimbangan ventilasi.
d. Asietas b/d ancaman kematian
3. Rencana Keperawatan teoritis
No Diagnosa
1.

Tujuan

Intervensi

Keperawatan
Bersihan jalan nafas TJ : Setelah dilakukan a. Auskultasi
tidak

efektif tindakan keperawatan

berhubungan dengan selama


penumpukan
lendir.

proses

mukus keperawatan
diharapkan jalan nafas
lancar

suara

nafas sebelum dan


sesudah suction.
b. Beritahu keluarga
tentang suction.
c. Observasi adanya
tanda-tanda distres

Kriteria Hasil:
1. Rata-rata

pernafasan.
repirasi d. Posisikan

dalam

batas

miring

normal

(30-

setelah

40x/menit)
2. Pengeluaran
sputum

nafas

tambahan

(ronchi/wheezeng)

12

kekanan

memberikan

makan
melalui Kolaborasi :
a. Lakukan

jalan nafas.
3. Tidak ada suara

bayi

mulut

hisap
dan

nasopharing
dengan

spuit

sesuai kebutuhan

2.

Gangguan pemenuhan TJ:


kebutuhan

O2

pernafasan Mandiri

b/d kembali normal

a. Kaji

ekspansi yang kurang


adekuat

frekuensi,

kedalaman
Kriteria Hasil:
1. Klien

pernapasan
tidak

mengalami

sesak

dan

ekspansi dada.
b. Auskultasi bunyi

napas.
napas
c. Posisikan
bayi
2. RR klien normal
pada
abdomen
(30-40x/menit)
3. Kulit klien tidak
atau
posisi
pucat

telentang dengan
gulungan

popok

dibawah

bahu

untuk
menghasilkan
sedikit
hiperektensi.
d. Berikan rangsang
taktil yang segera
( mis, gosokkan
punggung bayi )
bila terjadi apnea.
e. Mengobservasi
warna kulit.
Kolaborasi :
Berikan
oksigen
tambahan

3.

Ansietas b/d ancaman Tujuan


kematian

keluarga a. Evaluasi

tingkat

tidak cemas

pemahaman

KH :

keluarga

13

klien

1. Keluarga

klien

tetap tenang.
2. Keluarga mengerti

tentang diagnose.
b. Berikan
kesempatan untuk

dengan apa yang

bertanya

dan

dianjurkan.

jawab

dengan

jujur

antara

keluarga

dan

perawat.
c. Libatkan

orang

terdekat

dalam

perencanaan
keperawatan.
d. Berikan
kenyamanan fisik

4.

Kerusakan pertukaran TJ:


gas

b/d

suplai

pertukaran

gas Mandiri

gangguan kembali normal

oksigen

a. Kaji

dan

status

pernafasan,perhat

ketidakseimbangan

Kriteria Hasil:

ikan tanda-tanda

ventilasi

1. Mempertahankan

distres

kadar PO2 / PCO2

pernafasan(mis,

dalam

takipnea,

batas

normal ( pO2 : 80-

pernafsan cuping

100mmHg, pCO2

hdung,

: 35-45mmHg).
2. Klien
tidak
mengalami sesak
napas.
3. Suhu tubuh dalam
keadaan
( S 36-37C

14

normal

mengorok,
retraksi,ronki,
atau krekels).
b. Gunakan
pemantauan
oksigen
transkutan

atau

oksimeter

nadi.

Catat kadar setiap


jam.

Ubah

sisi

alat

setiap

3-4

jam.
c. Hisap hidung dan
orofaring dengan
hati-hati,sesuai
kebutuhan.
d. Pertahankan
kenetralan
tubuh

15

suhu

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis,
bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak
atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital
lainnya.Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2),
hiperkarbia (peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).
Asfiksia janin atau neonatus akan terjadi jika terdapat gangguan
pertukaran gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin. Gangguan ini dapat
timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. karena itu
penilaian janin selama kehamilan dan persalinan. memegang peran penting
untuk keselamatan bayi atau kelangsungan hidup yang sempurna tanpa gejala
sisa.
Pencegahan asfiksia pada bayi baru lahir dilakukan melalui upaya
pengenalan/penanganan sedini mungkin, misalnya dengan memantau secara
baik dan teratur denyut jantung bayi selama proses persalinan, mengatur posisi
tubuh untuk memberi rasa nyaman bagi ibu dan mencegah gangguan sirkulasi
utero-plasenter

terhadap

bayi,

teknik

meneran

dan

bernapas

yang

menguntungkan bagi ibu dan bayi. Bila terjadi asfiksia, dilakukan upaya untuk
menjaga agar tubuh bayi tetap hangat, menempatkan bayi dalam posisi yang
tepat, penghisapan lendir secara benar, memberikan rangsangan taktil dan
melakukan pernapasan buatan (bila perlu).
Diagnosa keperawatan yang dapat diangakat secara teoritis adalah :
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d penumpukan mukus.
b. Gangguan pemenuhan O2 b/d ekspansi yang kurang adekuat.
c. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen

dan

ketidakseimbangan ventilasi.
d. Asietas b/d ancaman kematian
B. SARAN
1. Mahasiswa
Mahasiswa keperawatan hendaknya dapat menerapkan asuhan
keperawatan yang telah didapatkan secara teoritis yang telah disajikan

16

dalam penulisan kasus ini dan mampu memberikan informasi kepada


masyarakat mengenai penyakit asfiksia dengan mengadakan suatu
penyuluhan atau pendidikan kesehatan.

17