Anda di halaman 1dari 20

BAB I

ATRESIA ANI
1. PENGKAJIAN
a. Pengkajian Pada Anak
1) Kaji biodata pasien.
2) Tanpa mekonium dalam 24 jam setelah lahir.
3) Kaji adanya pasase mekonium. Perhatikan bila mekonium tampak
pada orifisium yang tidak tepat.
4) Kaji feses yang seperti korban pada bayi yang lebih besar atau anak
kecil yang mempunyai riwayat kesulitan defekasi atau distensi
abdomen.
5) Kaji adanya tinja dalam urine dan vagina.
b. Pengkajian Pada Orang Tua
1) Kaji riwayat kehamilan
2) Kaji riwayat infeksi
3) Kaji psikososial keluarga
4) Kaji pengetahuan keluarga
c. Pemeriksaan Fisik
1) Periksa keadaan anus. Adanya malformasi anorektal tidak terbentuk
anus.
2) Perikasa ada atau tidaknya pistula rektovaginal dan fistula rekburetra
Pada pengkajian kperawatan pasien dengan atresia ani akan
ditemukan data-data sebagai berikut :
a) Penyumbatan anus ( anus tidak normal ).
b) Adanya kembung dan muntah pada 24-28 jam setelah lahir.
c) Pada bayi laki-laki dengan fistula urinary didapatkan mekonium
pada urine dan pada bayi perempuan dengan fistula urogenital
ditemukan mekonium dalam vagina.
d) Pada pemeriksaan fisik (dengan memasukkan jari kelingking
dengan memakai sarung tangan atau juga dengan memasukkan

1 | Page

thermometer sepanjang 2cm ) tidak ditemukan anus secara


normal.
e) Adanya berbagai bentuk seperti stinosis rectum yang lebih rendah
atau juga pada anus.
f) Membrane anus yang menetap.
g) Adanya fistula antara rectum dan tractus urinaria.
h) Adanya fistula antara rectum, vagina atau perineum pada
perampuan.
Selain pengkajian diatas juga menggunakan konsep teori yaitu model
konseptual keperawatan dari Gordon. Menurut Gordon data dapat
dikelompokkan menjadi 11 konsep yang meliputi :
a. Pengkajian
1) Pola Persepsi Kesehatan
Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di
rumah.
2) Pola Nutrisi dan Metabolik
Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umumnya terjadi pada
pasien dengan atresia ani post tutup kolostomi. Keinginan pasien
untuk makan mungkin terganggu oleh mual dan muntah dampak dari
anastesi.
3) Pola Eliminasi
Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru
maka tubuh dibersihkan dari bahan-bahan yang melebihi kebutuhan
dan dari produk buangan. Oleh karena itu pada pasien atresia ani
tidak terdapatnya lubang pada anus, sehingga pasien akan
mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong, 1996)
4) Pola Aktivitas dan Latihan
Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menghindari
kelemahan otot.
5) Pola Persepsi Kognitif
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman
dan daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab
pertanyaan.
6) Pola Tidur dan Istirahat
2 | Page

Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri
pada luka insisi.
7) Pola Konsep Diri dan Persepsi Diri
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image, body
comfort. Tidak terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena
dampak luka jahitan operasi (Doenges, 1993).
8) Pola Peran dan Pola Hubungan
Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan
sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab atau
perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
9) Pola Reproduksi dan Seksual
Pola ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi sosial sebagai alat
reproduksi (Doenges, 1993).
10)Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi
Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan,
dan rumah (Doenges, 1993).
11) Pola Keyakinan
Untuk menerapkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan
agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Dengan
ini diharapkan perawat memberikan motivasi dan pendekatan
terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah (Mediana, 1998)
b. Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani
biasanya anus tampak merah, usus melebar, termometer yang
dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan, pada auskultasi
terdengar hiperperistaltik, tanpa mekonium dalam waktu 24 jam setelah
bayi lahir, tinja dalam urine dan vagina. (Whaley & Wong, 1996)
2. ANALISA DATA
DATA
Penyimpangan yang
mempengaruhi asupan
cairan
Penyimpangan yang

ETIOLOGI

KEPERAWATAN
Gangguan pertumbuhan, fusi, Resiko kekurangan
pembentukan anus dari tonjolan volume cairan
embriogenik Atresia ani
Feses tidak keluar Feses

mempengaruhi absorbsi

menumpuk

cairan

tekanan

3 | Page

MASALAH

intra

peningkatan
abdominal

Kehilangan berlebihan melalui

mual,

rute normal (mis. muntah)


Nyeri abdomen
Kurang informasi
Membrane mukosa pucat
Penurunan berat badan

kekurangan volume cairan


Gangguan pertumbuhan, fusi, Ketidakseimbangan

dengan asupan makanan


adekuat
Bising usus hiperaktif

muntah

pembentukan anus dari tonjolan nutrisi kurang dari


embriogenik Atresia ani kebutuhan tubuh
Feses tidak keluar Feses
menumpuk
tekanan

intra

mual,

peningkatan
abdominal

muntah

ketidakseimbangan
Kerusakan lapisan kulit
Invasi struktur tubuh
Perubahan turgor
Factor mekanik (mis. tekanan)

resiko

nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh


Gangguan pertumbuhan, fusi, Kerusakan
pembentukan anus dari tonjolan integritas kulit
embriogenik Atresia ani
Feses tidak keluar Feses
menumpuk
tekanan

intra

peningkatan
abdominal

operasi : anoplasti, kolostomi


perubahan

defekasi

pengeluaran tidak terkontrol


iritasi
Prosedur invasif
Pertahanan tubuh primer yang

mukosa

kerusakan

integritas kulit
Gangguan pertumbuhan, fusi, Resiko infeksi
pembentukan anus dari tonjolan

tidak adekuat (mis. integritas

embriogenik Atresia ani

kulit tidak utuh, jaringan yang

Feses tidak keluar Feses

mengalami trauma)
menumpuk

peningkatan
Kerusakan jaringan
tekanan intra abdominal
Trauma
Pengetahuan yang tidak cukup operasi : anoplasti, kolostomi
untuk menghindari
pemajanan pathogen
Pengungkapan masalah
Keterbatasan kognitif

4 | Page

trauma jaringan perawatan


tidak adekuat resiko infeksi
Gangguan pertumbuhan, fusi, Kurang
pembentukan anus dari tonjolan pengetahuan

Salah interpretasi informasi


Kurang dapat mengingat

embriogenik Atresia ani


Feses tidak keluar Feses
menumpuk
tekanan

intra

peningkatan
abdominal

operasi : anoplasti, kolostomi


trauma jaringan perawatan
tidak

adekuat

kurang

informasi

kurang

pengetahuan
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre operasi
a. Resiko kekurangan volume cairan b.d menurunnya intake, muntah
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

b.d

ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien


Pasca operasi
a. Kerusakan integritas kulit b.d kolostomi dan perbaikan pembedahan
b. Resiko infeksi b.d prosedur pembedahan, dan adanya insisi
c. Kurang pengetahuan b.d perawatan di rumah
4. INTERVENSI KEPERAWATAN
Pre operasi
a. Resiko kekurangan volume cairan b.d menurunnya intake, muntah
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan.
Kriteria hasil :

Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB

TD, nadi, suhu tubuh dalam batas normal

Tidak ada tanda dehidrasi,

Elastisitas turgor kulit baik,

Membrane mukosa lembab,

Tidak ada rasa haus berlebihan

Intervensi
Rasional
1. Awasi masukan dan keluaran1.Untuk memberikan informasi tentang
cairan

keseimbangan cairan

2. Kaji tanda-tanda vital seperti TD,2.Kekurangan


frekuensi jantung, dan nadi

5 | Page

cairan

meningkatkan

frekuensi jantung, TD, dan nadi

turun
3. Observasi kulit kering, membrane3.Menunjukkan
mukosa, dan turgor kulit.
4. Kolaborasi

dalam

kehilangan

cairan

berlebihan

pemberian4.Untuk pemenuhan cairan yang hilang

cairan elektrolit sesuai indikasi


b. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b.d

ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
klien asupan nutrisi dapat terpenuhi dan menunjukkan perbaikan usus
Kriteria hasil :
Tidak terjadi penurunan BB dan BB sesuai dengan umurnya

Turgor kulit lembab

Klien tidak mual dan muntah

Intervensi
Rasional
1. Kaji kemampuan klien untuk 1. Menentukan
pemilihan
menelan

dan

menguyah

makanan.

makanan

sehingga

mencegah

terjadinya aspirasi.

2. Timbang berat badan sesuai 2. Mengevaluasi


indikasi.
3. Jaga

jenis

keadekuatan

rencana pemenuhan nutrisi.


keamanan

memberikan

makan

saat 3. Menurunkan

resiko

klien

mengurangi

seperti kepala sedikit fleksi

aspirasi

dan

terjadinya
rasa

nyeri pada saat menelan.

saat menelan.
4. Berikan
dalam

makanan
porsi

lembut 4. Meningkatkan

sedikit

tapi

pemasukan

dan

menurunkan distress gaster.

sering.
5. Kolaborasi dengan ahli gizi

5. Membantu menentukan status gizi


klien

Pasca operasi
a. Kerusakan integritas kulit b.d kolostomi dan perbaikan pembedahan

6 | Page

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam


tidak ditemukan kerusakan kulit lebih lanjut
Kriteria hasil :
Penyembuhan luka tepat waktu
Tidak terjadi kerusakan disekitar area pembedahan
Tidak ada luka / lesi di kulit
Keluarga menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit
dan mencegah terjadinya cedera berulang
Intervensi
1. Kaji area insisi pembedahan, 1. Untuk
bengkak,

kemerahan,

dan

drainage

tanda

Rasional
mengetahui apakah
kerusakan

kulit

di

ada
area

pembedahan

2. Berikan perawatan kulit untuk 2. Mecegah terjadinya kerusakan kulit


mencegah kerusakan kulit
3. Oleskan krim jika diperlukan

3. Menjaga area sekitar kulit

4. Kolaborasi dengan keluarga 4. Mencegah


untuk

mengikuti

rutinitas

terjadinya

kerusakan

kulit, menjaga area pembedahan

perawatan kulit. Diskusikan

tetap

tentang

pengetahuan agar keluarga pasien

pentingnya

kebersihan

area

sekitar

pembedahan

bersih,

memperhatikan

dan

memberikan

kebersihan

area

pembedahan.

b. Resiko infeksi b.d prosedur pembedahan, dan adanya insisi


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
tidak ditemukan tanda tanda infeksi
Kriteria hasil :
Tidak ada tanda tanda infeksi
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan peningkatan

leukosit
Luka post operasi bersih

Intervensi
1. Pantau suhu tubuh

klien 1. Demam

(mengalami peningkatan atau

Rasional
dapat terjadi

karena

infeksi

tidak)
2. Ajarkan
mencuci

7 | Page

keluarga
tangan

teknik 2. Factor ini paling sederhana tetapi


dengan

paling penting untuk mencegah

benar

dan

menggunakan

infeksi di rumah sakit

sabun antimikroba
3. Pertahankan teknik aseptic 3. Mencegah
perawatan luka

terjadinya

infeksi

nosokomial

4. Kolaborasi dengan pemberian 4. Mencegah terjadinya infeksi luka


antibiotic
5. Kolaborasi

dengan 5. Peningktan leukosit menunjukkan

pemeriksaan laboratorium

adanya infeksi

c. Kurang pengetahuan b.d perawatan di rumah


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
keluarga klien dapat memahami cara perawatan luka di rumah
Kriteria hasil :

Kelurga menunjukkan kemampuan untuk memberikan perawatan


luka klien di rumah.

Keluarga tahu dan memahami dalam memberikan perawatan


pada klien.

Intervensi
1. Ajarkan perawatan kolostomi 1. Agar
dan

partisipasi

dalam

perawatan

Rasional
keluarga

melakukannya

setelah

dapat
klien

dibawa pulang

2. Ajarkan untuk mengenal tanda 2. Agar segera dilakukan tindakan


dan

gejala

yang

perlu

dilaporkan kepada perawat


3. Ajarkan keluarga perawatan
luka yang tepat
4. Latih

keluarga

3. Dapat memberikan pengetahuan


kepada keluarga

untuk

4. Untuk melatih klien

kebiasaan defekasi
5. Ajarkan

keluarga

untuk

memodifikasi diitnya (misalnya


serat)
5. EVALUASI KEPERAWATAN
8 | Page

5. Membantu
defekasi

klien

memperlancar

a. Diagnosa 1

klien dapat mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB

TD, nadi, suhu tubuh klien dalam batas normal

Tidak ada tanda dehidrasi,

Elastisitas turgor kulit baik,

Membrane mukosa lembab,

Tidak ada rasa haus berlebihan

b. Diagnosa 2
Tidak terjadi penurunan BB dan BB klien sesuai dengan umurnya

Turgor kulit klien lembab

Klien tidak mual dan muntah

c. Diagnosa 3
Penyembuhan luka tepat waktu
Tidak terjadi kerusakan disekitar area pembedahan
Tidak ada luka / lesi di kulit
Keluarga menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan
mencegah terjadinya cedera berulang
d. Diagnosa 4
Tidak ada tanda tanda infeksi pada bekas luka pembedahan klien
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan peningkatan leukosit
Luka post operasi bersih
e. Diagnosa 5

Kelurga menunjukkan kemampuan untuk memberikan perawatan luka


klien di rumah.

Keluarga tahu dan memahami dalam memberikan perawatan pada


klien.

9 | Page

BAB II
HISPRUNG
1. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Mengkaji identitas klien dan penanggung jawab yang meliputi ; nama,
umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, nama
orang tua dan alamat.
b. Status kesehatan sekarang
1) Keluhan utama :
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB,
distensi abdomen, kembung, muntah. Obstipasi merupakan tanda
utama dan pada bayi baru lahir. Trias yang sering ditemukan adalah
mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam setelah lahir), perut
kembung dan muntah berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan
diare.
2) Riwayat penyakit sekarang
Merupakan kelainan bawaan yaitu obstruksi usus fungsional.
Obstruksi total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan
ketiadaan evakuasi mekonium. Yang diperhatikan adanya keluhan
mekonium keluar setelah 24 jam setelah lahir, distensi abdomen dan
muntah hijau atau fekal.
Bayi sering mengalami konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala
ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang
diikuti dengan obstruksi usus akut. Namun ada juga yang konstipasi
ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen, dan demam.
Diare berbau busuk dapat terjadi.

10 | P a g e

Tanyakan sudah berapa lama gejala dirasakan pasien dan tanyakan


bagaimana upaya klien mengatasi masalah tersebut.

3) Riwayat penyakit terdahulu


Apakah sebelumnya klien pernah melakukan operasi, riwayat
kehamilan, persalinan dan kelahiran, riwayat alergi, imunisasi.
4) Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain
yang menderita Hirschsprung.
5) Riwayat kehamilan dan persalinan
Pada riwayat kehamilan dan persalinan ini yang perlu dikaji yaitu saat
prenatal, natal, dan postnatal. Selain itu, juga perlu dikaji terkait
dengan imunisasi anaknya. Pada penyakit hisprung tidak ada
imunisasi untuk bayi atau anak.
6) Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan sudah BAB.
7) Riwayat kesehatan lingkungan
Yang perlu dikaji terkait kebersihan, bahaya kecelakaan, polusi,
ventilasi, dan pencahayaan. Riwayat kesehatan lingkungan tidak ada
hubungan dengan penyakit hisprung.
c. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Pola nutrisi
Hal-hal yang perlu diakaji : masukan diet anak dan pola makan,
apakah ibu menyusui ASI eksklusif atau tidak, susu formula atau
tidak, jumlah asupan susu per hari, kemampuan meminum susu.
2) Pola eliminasi
Hal-hal yang perlu dikaji : waktu dan frekuensi BAB setelah
mekonium pertama keluar.
3) Pola istirahat dan tidur
Hal-hal yang perlu dikaji : waktu dan intensitas tidur anak.
d. Riwayat Psikologis
Bagaimana perasaan klien terhadap kelainan yang diderita apakah ada
perasaan rendah diri atau bagaimana cara klien mengekspresikannya.
e. Riwayat Sosial
Apakah ada pendekatan secara verbal atau tidak adekuatnya dalam
mempertahankan hubungan dengan orang lain.

11 | P a g e

f. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum : Lemah, sakit ringan, sakit berat, gelisah, rewel.
Kesadaran : dapat diisi dengan tingkat kesadaran secara
kualitatif atau kuantitaf yang dipilih sesuai dengan kondisi
klien.secara kuantitatif dapat dilakukan dengan pengukuran GCS.
Sedangkan secara kualitatif tingkat kesadaran dimulai dari

kompos mentis, apatis, samnolen,sopor,dan koma.


Tanda-tanda vital :
Tensi
: tekanan sistol/diastol mmhg
Nadi
: frekuensi permenit,denyut kuat atau tidak, reguler
atau ireguler
Suhu
: ........ C
Frekuensi pernafasan : frekuensi permenit,reguler/ireguler
Tinggi badan
: cm
Berat badan
: sebelum sakit ......... Kg
Sekarang...................Kg

2) Kepala dan Leher

Rambut
Mata

: warna, kebersihan.
: Kaji adanya konjungtivitis, pupil, sklera, ketajaman

penglihatan
Hidung
Mulut
Gigi
Telinga

: kebersihan,sekresi,dan pernafasan kuping hidung.


: bibir,mukosa mulut, lidah dan tonsil.
: jumlah,karies,gusi,dan kebersihan.
: kebersihan,sekresi,dan pemeriksaan pendengaran.

3) Sistem integument
Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat
dilihat capilary refil, warna kulit, edema kulit.
4) Sistem respirasi
Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan
5) Sistem kardiovaskular
Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut
nadi apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.
6) Sistem Gastrointestinal
Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising
usus, adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen,
muntah

12 | P a g e

(frekuensi

dan

karakteristik

muntah)

adanya

keram,

tendernes. Umumnya obstipasi. Perut kembung/perut tegang, muntah


berwarna hijau. Pada anak yang lebih besar terdapat diare kronik.
Pada colok anus jari akan merasakan jepitan dan pada waktu ditarik
akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang
menyemprot.
g. Pemeriksaan Diagnostik
1) Foto polos abdomen tegak akan terlihat usus-usus melebar atau
terdapat gambaran obstruksi usus rendah.
2) Pemeriksaan dengan barium enema ditemukan daerah transisi,
gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian menyempit,
enterokolitis pada segmen yang melebar dan terdapat retensi barium
setelah 24-48 jam.
3) Biopsi isap, mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa.
4) Biopsi otot rektum, yaitu pengambilan lapisan otot rektum.
5) Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin esterase dimana terdapat
peningkatan aktivitas enzim asetilkolin eseterase.
2. ANALISA DATA
DATA
Penurunan pada TD dan nadi
Peningkatan suhu tubuh dan

frekuensi nadi
Peningkatan konsentrasi urin
Membrane mukosa kering
Penurunan turgor kulit
Nyeri abdomen
Mual, muntah
Perubahan pola defekasi
Distensi abdomen

ETIOLOGI
Absensi

ganglion

MASALAH
KEPERAWATAN
Meissner Kekurangan volume

dan Aurbach usus spatis cairan


dan daya dorong tidak ada
mual,

muntah

volume

cairan tubuh menurun


Absensi ganglion Meissner Konstipasi
dan Aurbach usus spatis
dan daya dorong tidak ada
obstipasi, tidak ada mekonium
gangguan eliminasi BAB

Nyeri abdomen
Membrane mukosa pucat
Penurunan berat badan
13 | P a g e

(konstipasi)
Absensi ganglion

Meissner Ketidakseimbangan

dan Aurbach usus spatis nutrisi kurang dari

dan daya dorong tidak ada kebutuhan tubuh

dengan asupan makanan


adekuat
Diare

mual,

muntah,

ketidakseimbangan

diare

nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh


Pengungkapan masalah
Keterbatasan kognitif
Kurang pajanan

Kurang pengetahuan
Absensi

ganglion

Meissner

dan Auerbach usus spastis


dan daya dorong tidak ada
mual, muntah, diare BB
anak

turun

perubahan

status kesehatan anak Ibu


cemas kurang pengetahuan
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif
b. Konstipasi b.d obstruksi ketidakmampuan kolon mengevakuasi feses
(Penyakit Hisprung)
c. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b.d

ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien


d. Deficit pengetahuan b.d kurang pajanan (terhadap informasi tentang
penyakit Hisprung)
4. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
kebutuhan cairan tubuh klien terpenuhi
Kriteria hasil :

Turgor kulit lembab

Mukosa bibir lembab

Intake dan output cairan seimbang

Tidak mengalami dehidrasi

Suhu tubuh 36 37 0C
Intervensi

14 | P a g e

Rasional

1. Kaji usia klien, hitung kebutuhan 1. Pada infant, 75% bagian tubuh
cairan.

adalah

cairan,

kebutuhan

penentuan

cairan

untuk

melakukan intervensi lebih lanjut.


2. Monitor tanda tanda dehidrasi 2. Mengetahui keadaan hidrasi klien
secara

berkala,

seperti

TTV,

mukosa bibir, turgor kulit.


3. Catat

intake

parenteral)

(oral

dan

maupun 3. Mengetahui keseimbangan cairan

output

(urin,

klien

metabolisme) klien.
4. Berikan asupan cairan parenteral 4. Memenuhi
sesuai indikasi apabila anak tetap

selama

muntah.

muntah

kebutuhan

dalam

konsisi

cairan
mual

5. Observasi adanya peningkatan 5. Untuk memberikan input cairan


mual

dan

muntah,

antisipasi

yang adekuat kepada klien

deficit cairan dengan segera

b. Konstipasi b.d obstruksi ketidakmampuan kolon mengevakuasi feses


(Penyakit Hisprung)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
klien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi sampai
fungsi eliminasi secara normal dan bisa dilakukan.
Kriteria hasil :

Klien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi

Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik

Tidak ada distensi abdomen

Intervensi
Rasional
1. Berikan bantuan enema dengan 1. Untuk mengosongkan usus
cairan Fisiologis NaCl 0,9 %

15 | P a g e

2. Observasi tanda vital dan bising 2. Untuk mengetahui adanya tandausus setiap 2 jam sekali

tanda syok

3. Observasi pengeluaran feces per 3. Untuk


rektal bentuk, konsistensi, jumlah
4. Observasi

intake

yang

pengeluaran

feses dari bentuk, konsistensi dan


jumlah

mempengaruhi pola dan konsistensi 4. Untuk


feses

mengetahui

mengetahui

intake

mempengaruhi pola dan konsistensi

5. Anjurkan untuk menjalankan diet


yang telah dianjurkan
6. Kolaborasi

dengan

c. Ketidakseimbangan

feses
5. Respon pengobatan

dokter

jika

diperlukan rencana pembedahan


nutrisi

kurang

6. Untuk melanjutkan pengobatan


dari

kebutuhan

tubuh

b.d

ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
diharapkan klien menerima asupan nutrisi yang cukup

Kriteria hasil :

Berat badan pasien sesuai dengan usianya

Turgor kulit pasien lembab

Muntah berkurang sampai dengan hilang

Klien tidak terlihat lemah


Intervensi

16 | P a g e

yang

Rasional

1. Kaji intake yang diberikan oleh 1. Mengetahui


ibu sebelum sakit (ASI/formula)

asupan

nutrisi

sebelum sakit

2. Tingkatkan tirah baring klien

2. Mengurangi mual dan muntah

3. Ukur BB setiap hari

3. Untuk mengetahui peningkatan


atau penurunan BB

4. Berikan nutrisi parenteral selama 4. Kebutuhan nutrisi yang selalu


klien memuntahkan ASI/formula

dibutuhkan, sedangkan kondisi


muntah klien yang tidak dapat
menerima asupan oral.

5. Kolaborasi

dengan

ahli

gizi 5. Berkolaborasi untuk mengetahui

dalam menentukan kebutuhan

kebutuhan nutrisi klien

nutrisi dan nutrisi yang tepat


untuk klien
6. Kolaborasi dengan dokter untuk 6. Terapi medis yang tepat untuk
pemberian terapi medis

mengurangi mual/muntah

d. Deficit pengetahuan (ibu) b.d kurang pajanan (terhadap informasi


tentang penyakit Hisprung)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
keluarga/ibu klien mengetahui tentang kondisi dan cara perawatan klien
Kriteria hasil :

Keluarga mengungkapkan secara verbal pengetahuan tentang


kondisi penyakit anak

Keluarga berpartisipasi dalam tindakan perawatan anak

Keluarga mengetahui (mengungkapkan secara verbal) mengenai


tindakan yang akan dilakukan

Intervensi
Rasional
1. Edukasi keluarga klien tentang 1. Memberikan
pengetahuan
kondisi penyakit

kepada

keluarga

dapat

mengurangi kecemasan
2. Ajak

keluarga

untuk 2. Mengajarkan kepada keluarga

berpartisipasi dalam perawatan

cara

bayi

kondisi penyakit

17 | P a g e

perawatan

bayi

sesuai

3. Edukasi

keluarga

mengenai 3. Mempersiapkan keluarga pada

tindakan yang akan dilakukan

opsi-opsi

(pembedahan)

penyembuhan bayi

4. Kaji

status

sosial

tindakan

dalam

ekonomi 4. Mengetahui tingkat kemampuan

keluarga

ekonomi

serta

mendeteksi

stressor kecemasan keluarga


5. EVALUASI KEPERAWATAN
a. Diagnosa 1

Turgor kulit lembab

Mukosa bibir lembab

Intake dan output cairan seimbang

Tidak mengalami dehidrasi

Suhu tubuh klien antara 36 37 0C

b. Diagnosa 2

Klien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi

Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik

Klien tidak mengalami distensi abdomen

c. Diagnosa 3

Berat badan pasien sesuai dengan usianya

Turgor kulit pasien lembab

Muntah berkurang sampai dengan hilang

Klien tidak terlihat lemah

d. Diagnosa 4

Keluarga mengungkapkan secara verbal pengetahuan tentang


kondisi penyakit anak

Keluarga berpartisipasi dalam tindakan perawatan anak

Keluarga mengetahui (mengungkapkan secara verbal) mengenai


tindakan yang akan dilakukan

18 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
1. Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri
Kurnianianingsih (ed), Monica Ester (Alih Bahasa). edisi ke-4. Jakarta :
EGC.

19 | P a g e

2. Santosa,Budi . 2005 - 2006.

Diagnosa

Keperawatan

NANDA .

Jakarta : Prima Medika.


3. Doenges, Marilynn. 2010.Rencana Asuhan Keperawatan; pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian pasien.Jakarta: EGC.
4. Carpenito. Linda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8.
Alih bahasa Monica Ester. Jakarta : EGC.
5. http://www.respiratoryUSU.com

20 | P a g e