Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

GAGAL NAPAS PADA ANAK DALAM SISTEM RADIOLOGI

Disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik


SMF Radiologi
RSD dr. Soebandi Jember

Oleh:
Mentari Puspa Handayani

102011101020

Mochamad Rizal

102011101001

Roat Yeti Mustafida

092011101039

Pembimbing:

dr. Luthfi, Sp.Rad.

SMF RADIOLOGI
RSD DR SOEBANDI
2014

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gagal napas adalah ketidakmampuan sistem respirasi pada salah satu
fungsi atau kedua fungsi pertukaran gas, yakni oksigenasi adekuat atau
eliminasi karbon dioksida sehingga meningkatkan kesakitan dan morbiditas
pada anak. Secara klinis diklasifikasikan sebagai hipoksemia atau
hiperkapnia. Kondisi ini menjadi penyebab sekitar 50% kematian pada anak
usia kurang dari 1 tahun. Akibat dari struktur anatomis menyebabkan infant
memiliki risiko kegagalan napas lebih tinggi dari pada orang dewasa. Cavum
thorax pada infant lebih komplians dibandingkan pada orang dewasa ataupun
pada anak yang lebih tua. Otot-otot intercostalis perkembangannya masih
belum sempurna dan tidak dapat memiliki karateristik pergerakan seperti
pada dewasa. Diafragma lebih pendek, dan relatif lebih mendatar dengan
serat otot tipe I yang lebih sedikit sehingga lebih kurang efektif dan mudah
fatig.
Pada gagal napas dibutuhkan pemeriksaan yang menunjang diagnosis yang
diperlukan sebagai pemeriksaan awal pada pasien yang mengalami distress
pernafasan antara lain: rontgen toraks (dapat dilakukan setelah pemasangan
ETT), pemeriksaan darah untuk skrining sepsis, termasuk pemeriksaan darah
rutin, hitung jenis, apus darah tepi, C-reactive protein, kultur darah, glukosa
darah, dan elektrolit. Pemeriksaan rontgen ini diperlukan untuk mengetahui
etiologi dari gagal napas.

BAB 2. DASAR TEORI

2.1. Definisi Gagal Napas


Gagal nafas (respiratory failure) dan distress nafas (respiratory distress)
merupakan diagnosis yang ditegakkan secara klinis dimana sistem pernafasan
tidak mampu untuk melakukan pertukaran gas secara normal tanpa bantuan.
Terminologi respiratory distress digunakan untuk menunjukkan bahwa pasien
masih dapat menggunakan mekanisme kompensasi untuk mengembalikan
pertukaran gas yang adekuat, sedangkan respiratory failure merupakan keadaan
klinis

yang

lanjut

akibat

kegagalan

mekanisme

kompensasi

dalam

mempertahankan pertukaran gas atau tercukupinya aliran oksigen.


2.2. Etiologi
Bayi khususnya neonatus rentan terhadap kejadian gagal nafas akibat: (1)
ukuran jalan nafas yang kecil dan resistensi yang besar terhadap aliran udara, (2)
compliance paru yang lebih besar, (3) otot pernafasan dan diafragma cenderung
yang lebih mudah lelah , serta (4) predisposisi terjadinya apnea yang lebih besar.
Gagal nafas pada neonatus dapat disebabkan oleh hipoplasia paru (disertai hernia
diafragma kongenital), infeksi, aspirasi mekoneum, dan persistent pulmonary
hypertension. Secara umum, etiologi gagal nafas pada neonatus ditunjukkan pada
tabel berikut.

2.3 Klasifikasi
Gagal napas dapat diklasifikasikan menjadi 2 tipe. Gagal napas tipe I
adalah kegagalan oksigenasi dan terjadi dalam tiga situasi: (1) ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi, yang terjadi ketika darah mengalir ke bagian paru-paru yang
berventilasi memadai, atau ketika berventilasi dari paru-paru adalah kurang
perfusi; (2) Defek difusi, yang disebabkan oleh membran alveolar menebal atau
cairan interstitial yang berlebihan di alveolar-kapiler junction; dan (3) shunt
intrapulmonary, yang terjadi ketika kelainan struktural dalam paru-paru
memungkinkan darah mengalir melalui paru-paru tanpa berpartisipasi dalam
pertukaran gas. Gagal napas tipe II umumnya hasil dari hipoventilasi alveolar dan
biasanya sekunder terhadap situasi seperti disfungsi sistem saraf pusat (CNS),
oversedation, atau gangguan neuromuskular

2.4 Manifestasi Klinis


Temuan klinis pada gagal napas disebabkan oleh PaO2 rendah, PaCO2
tinggi, dan perubahan pH yang mempengaruhi paru-paru, jantung, ginjal, dan
otak. Gambaran klinis gagal napas progresif dirangkum dalam tabel. Hiperkapnia
menekan SSP, dan juga menyebabkan acidemia yang menekan fungsi miokard.
Pasien dalam kegagalan pernapasan dapat menunjukkan perubahan signifikan
dalam SSP dan fungsi jantung. Gejala kegagalan pernafasan tidak selalu terbukti

secara klinis, namun, dan beberapa tanda-tanda atau gejala mungkin memiliki
penyebab nonrespiratory. Selain itu, penilaian ketat klinis hipoksemia arteri atau
hiperkapnia tidak dapat diandalkan. Akibatnya, penilaian yang tepat dari
kecukupan oksigenasi dan ventilasi harus didasarkan pada data klinis dan
laboratorium.

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Analisis gas darah merupakan indikator definitif dari pertukaran gas untuk
menilai gagal nafas akut. Meskipun manifestasi klinis yang ada memerlukan
tindakan intubasi segera dan penggunaan ventilasi mekanis, pengambilan sampel
darah arterial diperlukan untuk menganalisis tekanan gas darah (PaO2, PaCO2,
dan pH) sambil melakukan monitoring dengan pulse oxymetri. Hipoksemia berat
ditandai dengan PaO2 < 50-60 mmHg dengan FiO2 60% atau PaO2 < 60 mmHg

dengan FiO2 > 40% pada bayi < 1250 g, Hiperkapnik berat dengan PaCO2 > 5560 mmHg dengan pH <7,2-7,25.

Pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan sebagai pemeriksaan awal pada


pasien
yang mengalami distress pernafasan antara lain: rontgen toraks (dapat dilakukan
setelah
pemasangan ETT), pemeriksaan darah untuk skrining sepsis, termasuk
pemeriksaan darah
rutin, hitung jenis, apus darah tepi, C-reactive protein, kultur darah, glukosa
darah, dan
elektrolit