Anda di halaman 1dari 64

METABOLISME KARBOHIDRAT

Disajikan sebagai Bahan Kuliah Biokimia bagi Mahasiswa D III


Kebidanan
Penyusun:
Heru Santoso Wahito Nugroho, S.Kep., Ns., M.M.Kes
Telefon:
0352-752747 (rumah), 081335251726 (mobile), 0351-895216
(kantor)
E-mail:
heruswn@yahoo.co.id atau heruswn@telkom.net
website:
www.heruswn.weebly.com

Referensi:
Anonim, 2000, Petunjuk Praktikum Biokimia Untuk PSIK (B)
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta:
Lab. Biokimia FK UGM
Guyton AC, Hall JE, 1996, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi IX,
Penerjemah: Setiawan I, Tengadi LMAKA, Santoso A, Jakarta: EGC
http://www.biology.arizona.edu\biochemistry,
Project-Biochemistry

2003,

The

Biology

http://www.bioweb.wku.edu\courses\BIOL115\Wyatt, 2008, WKU Bio 113


Biochemistry
http://www.en.wikipedia.org, 2008, Oxidative Phosphorylation
http://www.gwu.edu\_mpb, 1998,
Biochemistry, Karl J. Miller

The

Metabolic

Pathways

of

http://www.ull.chemistry.uakron.edu\genobc, 2008, General, Organic


and Biochemistry
http://www.wiley.com\legacy\college\boyer\0470003790\animations\electr
on_transport, 2008, Interactive Concepts in Biochemistry:
Oxidative Phosphorylation
Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW, 2003, Biokimia Harper,
Edisi XXV, Penerjemah Hartono Andry, Jakarta: EGC
Stryer L, 1996, Biokimia, Edisi IV, Penerjemah: Sadikin dkk (Tim
Penerjemah Bagian Biokimia FKUI), Jakarta: EGC
Supardan, 1989, Metabolisme Karbohidrat, Malang: Lab. Biokimia
Universitas Brawijaya

1 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Pendahuluan
Kata karbohidrat berasal dari kata karbon dan air. Secara sederhana
karbohidrat didefinisikan sebagai polimer gula. Karbohidrat adalah
senyawa karbon yang mengandung sejumlah besar gugus hidroksil.
Karbohidrat
paling
sederhana
bisa
berupa
aldehid
(disebut
polihidroksialdehid
atau
aldosa)
atau
berupa
keton
(disebut
polihidroksiketon atau ketosa). Berdasarkan pengertian di atas berarti
diketahui bahwa karbohidrat terdiri atas atom C, H dan O. Adapun rumus
umum dari karbohidrat adalah:

Cn(H2O)n

atau

CnH2nOn

Fungsi karbohidrat
Fungsi primer dari karbohidrat adalah sebagai
pendek (gula merupakan sumber energi).
karbohidrat adalah sebagai cadangan energi
untuk tumbuhan dan glikogen untuk hewan dan
adalah sebagai komponen struktural sel.

cadangan energi jangka


Fungsi sekunder dari
jangka menengah (pati
manusia). Fungsi lainnya

Klasifikasi karbohidrat
Karbohidrat dapat dikelompokkan menurut jumlah unit gula, ukuran dari
rantai karbon, lokasi gugus karbonil (-C=O), serta stereokimia.
Berdasarkan jumlah unit gula dalam rantai, karbohidrat digolongkan
menjadi 4 golongan utama yaitu:
1. Monosakarida (terdiri atas 1 unit gula)
2. Disakarida (terdiri atas 2 unit gula)
3. Oligosakarida (terdiri atas 3-10 unit gula)
4. Polisakarida (terdiri atas lebih dari 10 unit gula)
Pembentukan rantai karbohidrat menggunakan ikatan glikosida.
Berdasarkan lokasi gugus C=O, monosakarida digolongkan menjadi 2
yaitu:
1. Aldosa (berupa aldehid)
2. Ketosa (berupa keton)

2 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Klasifikasi karbohidrat menurut lokasi gugus karbonil

Berdasarkan jumlah atom C pada rantai, monosakarida digolongkan


menjadi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Triosa (tersusun atas 3 atom C)


Tetrosa (tersusun atas 4 atom C)
Pentosa (tersusun atas 5 atom C)
Heksosa (tersusun atas 6 atom C)
Heptosa (tersusun atas 7 atom C)
Oktosa (tersusun atas 3 atom C)

Klasifikasi karbohidrat menurut jumlah atom C

3 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Contoh monosakarida

Contoh pertama di atas (sebelah kiri) menunjukkan sebuah monosakarida


triosa (memiliki 3 atom C), aldosa (berstruktur aldehid/-COH) sehingga
dinamakan gula aldotriosa. Sedangkan contoh kedua (sebelah kanan)
menunjukkan sebuah monosakarida heksosa (memiliki 6 atom C), ketosa
(berstruktur keton/R-CO-R) sehingga dinamakan gula ketoheksosa.
Berdasarkan stereokimia, monosakarida terbagi menjadi beberapa
golongan. Stereokimia adalah studi mengenai susunan spasial dari
molekul. Salah satu bagian dari stereokimia adalah stereoisomer.
Stereoisomer mengandung pengertian:
1. memiliki kesamaan order dan jenis ikatan
2. memiliki perbedaan susunan spasial
3. memiliki perbedaan properti (sifat).
Enantiomer merupakan pasangan dari stereoisomer. Dalam hal ini
terdapat aturan yaitu:
1. Diberi awalan D dan L
2. Keduanya merupakan gambar cermin yang tak mungkin saling
tumpang tindih
Gambar-gambar berikut memberikan penjelasan mengenai perbedaan
susunan spasial dalam enatiomer.

4 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Ilustrasi untuk enantiomer (perhatikan perbedaan susunan spasial yang ada)

Contoh enantiomer dari gula triosa (perhatikan perbedaan susunan spasial yang ada)

Monosakarida-monosakarida penting
Beberapa monosakarida penting bagi tubuh kita di antaranya adalah Dgliseraldehid, D-glukosa, D-fruktosa, D-galaktosa serta D-ribosa.
1. D-gliseraldehid (karbohidrat paling sederhana)
Karbohidrat ini hanya memiliki 3 atom C (triosa), berupa aldehid
(aldosa) sehingga dinamakan aldotriosa.

D-gliseraldehid (perhatikan bahwa gula ini hanya memiliki 3 atom C sehingga disebut
paling sederhana)

2. D-glukosa (karbohidrat terpenting dalam diet)


Glukosa merupakan aldoheksosa, yang sering kita sebut sebagai
dekstrosa, gula anggur ataupun gula darah. Gula ini terbanyak
ditemukan di alam.

5 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

D-glukosa (perhatikan bahwa glukosa mengalami siklisasi membentuk struktur cincin)

3. D-fruktosa (termanis dari semua gula)


Gula ini berbeda dengan gula yang
ketoheksosa.

lain

karena

merupakan

D-fruktosa (perhatikan bahwa fruktosa mengalami siklisasi membentuk struktur cincin)

4. D-galaktosa (bagian dari susu)


Gula ini tidak ditemukan tersendiri pada sistem biologis, namun
merupakan bagian dari disakarida laktosa.

D-galaktosa (perhatikan bahwa galaktosa mengalami siklisasi membentuk struktur


cincin)

6 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Perbedaan pokok antara D-glukosa dan D-galaktosa (perhatikan daerah berarsis


lingkaran)

5. D-ribosa (digunakan dalam pembentukan RNA)


Karena merupakan penyusun kerangka RNA maka ribosa penting
artinya bagi genetika bukan merupakan sumber energi. Jika atom C
nomor 2 dari ribosa kehilangan atom O, maka akan menjadi
deoksiribosa yang merupakan penyusuna kerangka DNA.

D-ribosa (perhatikan gula ini memiliki 5 atom C)

Disakarida-disakarida penting
Beberapa disakarida penting bagi tubuh kita di antaranya adalah maltosa, -laktosa serta sukrosa.
1. -maltosa
Disakarida ini tak ditemukan di alam kecuali pada kecambah padipadian. Maltosa merupakan gabungan dari 2 molekul glukosa.

-maltosa (ikatan antara kedua monosakarida merupakan ikatan C1-4. Atom C nomor 1
yang tak berikatan dengan glukosa lain dalam posisi beta)

2. -laktosa
7 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Laktosa sering disebut sebagai gula susu. Disakarida ini tersusun atas
glukosa dan galaktosa. Kita tidak dapat menggunakan galaktosa
secara langsung, tetapi harus diubah menjadi glukosa.

-laktosa (ikatan antara kedua monosakarida merupakan ikatan C1-4)

3. Sukrosa
Sukrosa merupakan gula terbanyak yang bisa didapatkan dari
tumbuhan. Tumbuhan yang banyak dimanfaatkan karena kandungan
sukrosa adalah tebu dan bit.

Sukrosa (berbeda dengan maltosa dan laktosa, ikatan yang menghubungkan kedua
monosakarida adalah ikatan C1-2)

Polisakarida-polisakarida penting
Beberapa polisakarida penting bagi tubuh kita di antaranya adalah
amilum (pati), glikogen dan selulosa.
1. Amilum
Pati merupakan polisakarida yang berfungsi sebagai cadangan energi
bagi tumbuhan. Pati merupakan polimer -D-glukosa dengan ikatan
(1-4). Kandungan glukosa pada pati bisa mencapai 4000 unit. Ada 2
macam amilum yaitu amilosa (pati berpolimer lurus) dan amilopektin
(pati berpolimer bercabang-cabang). Sebagian besar pati merupakan
amilopektin.

8 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Struktur amilosa (perhatikan bahwa amilosa tidak bercabang)

Struktur amilopektin (bandingkan dengan amilosa)

2. Glikogen
Glikogen merupakan polimer glukosa dengan ikatan (1-6).
Polisakarida ini merupakan cadangan energi pada hewan dan manusia
yang disimpan di hati dan otot sebagai granula. Glikogen serupa
dengan amilopektin.

9 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Struktur glikogen (bandingkan dengan amilum)

3. Selulosa
Selulosa tersusun atas rantai glukosa dengan ikatan (1-4). Selulosa
lazim disebut sebagai serat dan merupakan polisakarida terbanyak.

Struktur selulosa yang merupakan polimer dari glukosa (bandingkan dengan pati)

Karbohidrat-karbohidrat lain
Beberapa karbohidrat bergabung dengan komponen lain. Sebagai contoh
adalah mukopolisakarida, suatu materi tipis, kental, menyerupai jelly dan
melapisi sel.

Stuktur dari mukopolisakarida

Contoh yang lain adalah glikoprotein, suatu protein yang mengikat unit
karbohidrat dengan ikatan kovalen. Struktur ini memainkan beberapa
peran penting di antaranya dalam proses proteksi imunologis,
pembekuan darah, pengenalan sel-sel, serta interaksi dengan bahan
kimia lain.

10 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Glikoprotein

11 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Metabolisme karbohidrat
Pada bagian-bagian terdahulu Anda telah mempelajari berbagai macam
karbohidrat, antara lain monosakarida, disakarida, oligosakarida serta
polisakarida. Karbohidrat siap dikatabolisir menjadi energi jika berbentuk
monosakarida. Energi yang dihasilkan berupa Adenosin trifosfat (ATP).
Glukosa merupakan karbohidrat terpenting. Dalam bentuk glukosalah
massa karbohidrat makanan diserap ke dalam aliran darah, atau ke
dalam bentuk glukosalah karbohidrat dikonversi di dalam hati, serta dari
glukosalah semua bentuk karbohidrat lain dalam tubuh dapat dibentuk.
Glukosa merupakan bahan bakar metabolik utama bagi jaringan mamalia
(kecuali hewan pemamah biak) dan bahan bakar universal bagi janin.
Unsur ini diubah menjadi karbohidrat lain dengan fungsi sangat spesifik,
misalnya glikogen untuk simpanan, ribose dalam bentuk asam nukleat,
galaktosa dalam laktosa susu, dalam senyawa lipid kompleks tertentu
dan dalam bentuk gabungan dengan protein, yaitu glikoprotein serta
proteoglikan.

Sekilas tentang metabolisme


Peristiwa yang dialami unsur-unsur makanan setelah dicerna dan diserap
adalah METABOLISME INTERMEDIAT. Jadi metabolisme intermediat
mencakup suatu bidang luas yang berupaya memahami bukan saja
lintasan metabolik yang dialami oleh masing-masing molekul, tetapi juga
interelasi dan mekanisme yang mengatur arus metabolit melewati
lintasan tersebut.
Lintasan metabolisme dapat digolongkan menjadi 3 kategori:
1. Lintasan anabolik (penyatuan/pembentukan)
Ini merupakan lintasan yang digunakan pada sintesis senyawa
pembentuk struktur dan mesin tubuh. Salah satu contoh dari kategori
ini adalah sintesis protein.
2. Lintasan katabolik (pemecahan)
Lintasan ini meliputi berbagai proses oksidasi yang melepaskan energi
bebas, biasanya dalam bentuk fosfat energi tinggi atau unsur ekuivalen
pereduksi, seperti rantai respirasi dan fosforilasi oksidatif.
3. Lintasan amfibolik (persimpangan)
Lintasan ini memiliki lebih dari satu fungsi dan terdapat pada
persimpangan metabolisme sehingga bekerja sebagai penghubung
antara lintasan anabolik dan lintasan katabolik. Contoh dari lintasan ini
adalah siklus asam sitrat.

12 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Siklus asam sitrat sebagai lintasan amfibolik dalam metabolisme (perhatikan jalur
persimpangan jalur katabolisme dan anabolisme) (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia
Harper)

13 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Sifat diet atau makanan menentukan pola dasar metabolisme di dalam


tubuh. Mamalia, termasuk manusia harus memproses hasil penyerapan
produk-produk pencernaan karbohidrat, lipid dan protein dari makanan.
Secara berurutan, produk-produk ini terutama adalah glukosa, asam
lemak serta gliserol dan asam amino. Semua produk hasil pencernaan
diproses melalui lintasan metaboliknya masing-masing menjadi suatu
produk umum yaitu Asetil KoA, yang kemudian akan dioksidasi secara
sempurna melalui siklus asam sitrat.

Karbohidrat

Lipid

Protein
Pencernaan dan
absorpsi

Gula sederhana
(terutama
glukosa)

Asam amino

Asam lemak +
gliserol
+

Katabolisme

gliserol

Asetil KoA

Siklus asam
sitrat

2H

ATP

2CO2
Ilustrasi skematis dari lintasan metabolik dasar

Terdapat beberapa jalur metabolisme karbohidrat baik yang tergolong


sebagai katabolisme maupun anabolisme, yaitu glikolisis, oksidasi
piruvat,
siklus
asam
sitrat,
glikogenesis,
glikogenolisis
serta
glukoneogenesis.
Secara ringkas, jalur-jalur metabolisme karbohidrat dijelaskan sebagai
berikut:

14 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

1. Glukosa sebagai bahan bakar utama akan mengalami glikolisis


(dipecah) menjadi 2 piruvat jika tersedia oksigen. Dalam tahap ini
dihasilkan energi berupa ATP.
2. Selanjutnya masing-masing piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA.
Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
3. Asetil KoA akan masuk ke jalur persimpangan yaitu siklus asam sitrat.
Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
4. Jika sumber glukosa berlebihan, melebihi kebutuhan energi kita maka
glukosa tidak dipecah, melainkan akan dirangkai menjadi polimer
glukosa (disebut glikogen). Glikogen ini disimpan di hati dan otot
sebagai cadangan energi jangka pendek. Jika kapasitas penyimpanan
glikogen sudah penuh, maka karbohidrat harus dikonversi menjadi
jaringan lipid sebagai cadangan energi jangka panjang.
5. Jika terjadi kekurangan glukosa dari diet sebagai sumber energi, maka
glikogen dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya glukosa mengalami
glikolisis, diikuti dengan oksidasi piruvat sampai dengan siklus asam
sitrat.
6. Jika glukosa dari diet tak tersedia dan cadangan glikogenpun juga
habis, maka sumber energi non karbohidrat yaitu lipid dan protein
harus digunakan. Jalur ini dinamakan glukoneogenesis (pembentukan
glukosa baru) karena dianggap lipid dan protein harus diubah menjadi
glukosa baru yang selanjutnya mengalami katabolisme untuk
memperoleh energi.

Beberapa jalur metabolisme karbohidrat

Glikolisis
Glikolisis berlangsung di dalam sitosol semua sel. Lintasan katabolisme
ini adalah proses pemecahan glukosa menjadi:
1. asam piruvat, pada suasana aerob (tersedia oksigen)
2. asam laktat, pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen)
Glikolisis merupakan jalur utama metabolisme glukosa agar terbentuk
asam piruvat, dan selanjutnya asetil-KoA untuk dioksidasi dalam siklus
15 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

asam sitrat (Siklus Krebs). Selain itu glikolisis juga menjadi lintasan
utama metabolisme fruktosa dan galaktosa.
Keseluruhan persamaan reaksi untuk glikolisis yang menghasilkan laktat
adalah:

Glukosa + 2ADP +2Pi 2L(+)-Laktat +2ATP +2H2O

16 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Lintasan detail glikolisis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

17 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Secara rinci, tahap-tahap dalam lintasan glikolisis adalah sebagai berikut


(pada setiap tahap, lihat dan hubungkan dengan Gambar Lintasan detail
metabolisme karbohidrat):
1.

Glukosa masuk lintasan glikolisis melalui fosforilasi menjadi


glukosa-6 fosfat dengan dikatalisir oleh enzim heksokinase atau
glukokinase pada sel parenkim hati dan sel Pulau Langerhans
pancreas. Proses ini memerlukan ATP sebagai donor fosfat. ATP
bereaksi sebagai kompleks Mg-ATP. Terminal fosfat berenergi tinggi
pada ATP digunakan, sehingga hasilnya adalah ADP. (-1P)
Reaksi ini disertai kehilangan energi bebas dalam jumlah besar
berupa kalor, sehingga dalam kondisi fisiologis dianggap irrevesibel.
Heksokinase dihambat secara alosterik oleh produk reaksi glukosa 6fosfat.
Mg2+
Glukosa + ATP glukosa 6-fosfat + ADP

2.

Glukosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 6-fosfat dengan


bantuan enzim fosfoheksosa isomerase dalam suatu reaksi
isomerasi aldosa-ketosa. Enzim ini hanya bekerja pada anomer glukosa 6-fosfat.
-D-glukosa 6-fosfat -D-fruktosa 6-fosfat

3.

Fruktosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 1,6-bifosfat dengan


bantuan enzim fosfofruktokinase. Fosfofruktokinase merupakan
enzim yang bersifat alosterik sekaligus bisa diinduksi, sehingga
berperan penting dalam laju glikolisis. Dalam kondisi fisiologis tahap
ini bisa dianggap irreversible. Reaksi ini memerlukan ATP sebagai
donor fosfat, sehingga hasilnya adalah ADP.(-1P)
-D-fruktosa 6-fosfat + ATP D-fruktosa 1,6-bifosfat

4.

Fruktosa 1,6-bifosfat dipecah menjadi 2 senyawa triosa fosfat


yaitu gliserahdehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat.
Reaksi ini dikatalisir oleh enzim aldolase (fruktosa 1,6-bifosfat
aldolase).
D-fruktosa 1,6-bifosfat D-gliseraldehid 3-fosfat + dihidroksiaseton
fosfat

5.

Gliseraldehid 3-fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton


fosfat dan sebaliknya (reaksi interkonversi). Reaksi bolak-balik ini
mendapatkan katalisator enzim fosfotriosa isomerase.
D-gliseraldehid 3-fosfat dihidroksiaseton fosfat

6.

Glikolisis berlangsung melalui oksidasi Gliseraldehid 3-fosfat


menjadi 1,3-bifosfogliserat, dan karena aktivitas enzim fosfotriosa
isomerase, senyawa dihidroksi aseton fosfat juga dioksidasi menjadi
1,3-bifosfogliserat melewati gliseraldehid 3-fosfat.

18 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

D-gliseraldehid 3-fosfat + NAD+ + Pi 1,3-bifosfogliserat + NADH +


H+
Enzim yang bertanggung jawab terhadap oksidasi di atas adalah
gliseraldehid 3-fosfat dehidrogenase, suatu enzim yang
bergantung kepada NAD.
Atom-atom hydrogen yang dikeluarkan dari proses oksidasi ini
dipindahkan kepada NAD+ yang terikat pada enzim. Pada rantai
respirasi mitokondria akan dihasilkan tiga fosfat berenergi tinggi.
(+3P)
Catatan:
Karena fruktosa 1,6-bifosfat yang memiliki 6 atom C dipecah
menjadi Gliseraldehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat
yang masing-masing memiliki 3 atom C, dengan demikian
terbentuk 2 molekul gula yang masing-masing beratom C tiga
(triosa). Jika molekul dihidroksiaseton fosfat juga berubah menjadi
1,3-bifosfogliserat, maka dari 1 molekul glukosa pada bagian awal,
sampai dengan tahap ini akan menghasilkan 2 x 3P = 6P. (+6P)
7.

Energi yang dihasilkan dalam proses oksidasi disimpan melalui


pembentukan ikatan sulfur berenergi tinggi, setelah fosforolisis,
sebuah gugus fosfat berenergi tinggi dalam posisi 1 senyawa 1,3
bifosfogliserat. Fosfat berenergi tinggi ini ditangkap menjadi ATP
dalam reaksi lebih lanjut dengan ADP, yang dikatalisir oleh enzim
fosfogliserat kinase. Senyawa sisa yang dihasilkan adalah 3fosfogliserat.
1,3-bifosfogliserat + ADP 3-fosfogliserat + ATP
Catatan:
Karena ada dua molekul 1,3-bifosfogliserat, maka energi yang
dihasilkan adalah 2 x 1P = 2P. (+2P)

8.

3-fosfogliserat diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan dikatalisir


oleh enzim fosfogliserat mutase. Senyawa 2,3-bifosfogliserat
(difosfogliserat, DPG) merupakan intermediate dalam reaksi ini.
3-fosfogliserat 2-fosfogliserat

9.

2-fosfogliserat diubah menjadi fosfoenol piruvat (PEP) dengan


bantuan enzim enolase. Reaksi ini melibatkan dehidrasi serta
pendistribusian kembali energi di dalam molekul, menaikkan valensi
fosfat dari posisi 2 ke status berenergi tinggi.
Enolase dihambat oleh fluoride, suatu unsure yang dapat
digunakan jika glikolisis di dalam darah perlu dicegah sebelum kadar
glukosa darah diperiksa. Enzim ini bergantung pada keberadaan
Mg2+ atau Mn2+.
2-fosfogliserat fosfoenol piruvat + H2O

19 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

10. Fosfat berenergi tinggi PEP dipindahkan pada ADP oleh enzim
piruvat kinase sehingga menghasilkan ATP. Enol piruvat yang
terbentuk dalam reaksi ini mengalami konversi spontan menjadi keto
piruvat. Reaksi ini disertai kehilangan energi bebas dalam jumlah
besar sebagai panas dan secara fisiologis adalah irreversible.
Fosfoenol piruvat + ADP piruvat + ATP
Catatan:
Karena ada 2 molekul PEP maka terbentuk 2 molekul enol piruvat
sehingga total hasil energi pada tahap ini adalah 2 x 1P = 2P. (+2P)
11. Jika keadaan bersifat anaerob (tak tersedia oksigen), reoksidasi
NADH melalui pemindahan sejumlah unsure ekuivalen pereduksi
akan dicegah. Piruvat akan direduksi oleh NADH menjadi laktat.
Reaksi ini dikatalisir oleh enzim laktat dehidrogenase.
Piruvat + NADH + H+ L(+)-Laktat + NAD+
Dalam keadaan aerob, piruvat diambil oleh mitokondria, dan
setelah konversi menjadi asetil-KoA, akan dioksidasi menjadi CO2
melalui siklus asam sitrat (Siklus Krebs). Ekuivalen pereduksi
dari reaksi NADH + H+ yang terbentuk dalam glikolisis akan diambil
oleh mitokondria untuk oksidasi melalui salah satu dari reaksi ulang
alik (shuttle).
Kesimpulan:
Pada glikolisis aerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
-

hasil tingkat substrat


:+ 4P
hasil oksidasi respirasi
:+ 6P
jumlah
:+10P
dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P
: - 2P
+ 8P

Pada glikolisis anaerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:


-

hasil tingkat substrat


:+ 4P
hasil oksidasi respirasi
:+ 0P
jumlah
:+ 4P
dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P
: - 2P
+ 2P

Oksidasi piruvat
Dalam jalur ini, piruvat dioksidasi (dekarboksilasi oksidatif) menjadi
Asetil-KoA, yang terjadi di dalam mitokondria sel. Reaksi ini dikatalisir
oleh berbagai enzim yang berbeda yang bekerja secara berurutan di
dalam suatu kompleks multienzim yang berkaitan dengan membran
interna mitokondria. Secara kolektif, enzim tersebut diberi nama
20 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

kompleks piruvat dehidrogenase dan analog dengan kompleks -keto


glutarat dehidrogenase pada siklus asam sitrat.
Jalur ini merupakan penghubung antara glikolisis dengan siklus
Krebs. Jalur ini juga merupakan konversi glukosa menjadi asam lemak
dan lemak dan sebaliknya dari senyawa non karbohidrat menjadi
karbohidrat.
Rangkaian reaksi kimia yang terjadi dalam lintasan oksidasi piruvat
adalah sebagai berikut:
1.

2.
3.
4.

Dengan
adanya
TDP
(thiamine
diphosphate),
piruvat
didekarboksilasi menjadi derivate hidroksietil tiamin difosfat
terikat
enzim
oleh
komponen
kompleks
enzim
piruvat
dehidrogenase. Produk sisa yang dihasilkan adalah CO2.
Hidroksietil tiamin difosfat akan bertemu dengan lipoamid
teroksidasi, suatu kelompok prostetik dihidroksilipoil transasetilase
untuk membentuk asetil lipoamid, selanjutnya TDP lepas.
Selanjutnya dengan adanya KoA-SH, asetil lipoamid akan diubah
menjadi asetil KoA, dengan hasil sampingan berupa lipoamid
tereduksi.
Siklus ini selesai jika lipoamid tereduksi direoksidasi oleh
flavoprotein, yang mengandung FAD, pada kehadiran dihidrolipoil
dehidrogenase. Akhirnya flavoprotein tereduksi ini dioksidasi oleh
NAD+, yang akhirnya memindahkan ekuivalen pereduksi kepada
rantai respirasi.
Piruvat + NAD+ + KoA Asetil KoA + NADH + H+ + CO2

21 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Lintasan oksidasi piruvat (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Siklus asam sitrat


Siklus ini juga sering disebut sebagai siklus Krebs dan siklus asam
trikarboksilat dan berlangsung di dalam mitokondria. Siklus asam sitrat
merupakan jalur bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan protein.
Siklus asam sitrat merupakan rangkaian reaksi yang menyebabkan
katabolisme asetil KoA, dengan membebaskan sejumlah ekuivalen
hidrogen yang pada oksidasi menyebabkan pelepasan dan penangkapan
sebagaian besar energi yang tersedia dari bahan baker jaringan, dalam
bentuk ATP. Residu asetil ini berada dalam bentuk asetil-KoA (CH 3COKoA, asetat aktif), suatu ester koenzim A. Ko-A mengandung vitamin
asam pantotenat.
Fungsi utama siklus asam sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama
untuk oksidasi karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini terjadi karena
glukosa, asam lemak dan banyak asam amino dimetabolisir menjadi
asetil KoA atau intermediat yang ada dalam siklus tersebut.

22 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Siklus asam sitrat sebagai jalur bersama metabolisme karbohidrat, lipid dan protein
(dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Selama proses oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk


ekuivalen pereduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron sebagai hasil
kegiatan enzim dehidrogenase spesifik. Unsur ekuivalen pereduksi ini
kemudian memasuki rantai respirasi tempat sejumlah besar ATP
dihasilkan dalam proses fosforilasi oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen
(anoksia) atau kekurangan oksigen (hipoksia) terjadi hambatan total
pada siklus tersebut.
Enzim-enzim siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria,
baik dalam bentuk bebas ataupun melekat pada permukaan dalam
membran interna mitokondria sehingga memfasilitasi pemindahan unsur
ekuivalen pereduksi ke enzim terdekat pada rantai respirasi, yang
bertempat di dalam membran interna mitokondria.
23 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Lintasan detail Siklus Krebs (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Reaksi-reaksi pada siklus asam sitrat diuraikan sebagai berikut:


1. Kondensasi awal asetil KoA dengan oksaloasetat membentuk
sitrat, dikatalisir oleh enzim sitrat sintase menyebabkan sintesis
ikatan karbon ke karbon di antara atom karbon metil pada asetil KoA
dengan atom karbon karbonil pada oksaloasetat. Reaksi kondensasi,
yang membentuk sitril KoA, diikuti oleh hidrolisis ikatan tioester KoA
yang disertai dengan hilangnya energi bebas dalam bentuk panas
dalam jumlah besar, memastikan reaksi tersebut selesai dengan
sempurna.
Asetil KoA + Oksaloasetat + H2O Sitrat + KoA

2. Sitrat dikonversi menjadi isositrat oleh enzim akonitase (akonitat


hidratase) yang mengandung besi Fe2+ dalam bentuk protein besi24 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

sulfur (Fe:S). Konversi ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu: dehidrasi


menjadi sis-akonitat, yang sebagian di antaranya terikat pada
enzim dan rehidrasi menjadi isositrat.

Sitrat

H2O

Sis-akonitat
(terikat enzim)

Isositrat

H 2O

Reaksi tersebut dihambat oleh fluoroasetat yang dalam bentuk


fluoroasetil KoA mengadakan kondensasi dengan oksaloasetat untuk
membentuk fluorositrat. Senyawa terakhir ini menghambat akonitase
sehingga menimbulkan penumpukan sitrat.
3. Isositrat mengalami dehidrogenasi membentuk oksalosuksinat
dengan adanya enzim isositrat dehidrogenase. Di antara enzim ini
ada yang spesifik NAD+, hanya ditemukan di dalam mitokondria. Dua
enzim lainnya bersifat spesifik NADP + dan masing-masing secara
berurutan dijumpai di dalam mitokondria serta sitosol. Oksidasi terkait
rantai respirasi terhadap isositrat berlangsung hampir sempurna
melalui enzim yang bergantung NAD+.
Isositrat + NAD+ Oksalosuksinat ketoglutarat + CO2 + NADH + H+
(terikat enzim)
Kemudian terjadi dekarboksilasi menjadi ketoglutarat yang juga
dikatalisir oleh enzim isositrat dehidrogenase. Mn2+ atau Mg2+
merupakan komponen penting reaksi dekarboksilasi. Oksalosuksinat
tampaknya akan tetap terikat pada enzim sebagai intermediate dalam
keseluruhan reaksi.
4.

Selanjutnya ketoglutarat mengalami dekarboksilasi


oksidatif melalui cara yang sama dengan dekarboksilasi oksidatif
piruvat, dengan kedua substrat berupa asam keto.
ketoglutarat + NAD+ + KoA Suksinil KoA + CO2 + NADH + H+
Reaksi tersebut yang dikatalisir oleh kompleks ketoglutarat
dehidrogenase, juga memerlukan kofaktor yang idenstik dengan
kompleks piruvat dehidrogenase, contohnya TDP, lipoat, NAD +, FAD
serta KoA, dan menghasilkan pembentukan suksinil KoA (tioester
berenergi tinggi). Arsenit menghambat reaksi di atas sehingga
menyebabkan penumpukan ketoglutarat.

5. Tahap selanjutnya terjadi perubahan suksinil KoA menjadi suksinat


dengan adanya peran enzim suksinat tiokinase (suksinil KoA
sintetase).
Suksinil KoA + Pi + ADP Suksinat + ATP + KoA

25 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Dalam siklus asam sitrat, reaksi ini adalah satu-satunya contoh


pembentukan fosfat berenergi tinggi pada tingkatan substrat dan
terjadi karena pelepasan energi bebas dari dekarboksilasi oksidatif
ketoglutarat cukup memadai untuk menghasilkan ikatan berenergi
tinggi disamping pembentukan NADH (setara dengan 3P.

6. Suksinat dimetabolisir lebih lanjut melalui reaksi dehidrogenasi yang


diikuti oleh penambahan air dan kemudian oleh dehidrogenasi lebih
lanjut yang menghasilkan kembali oksaloasetat.
Suksinat + FAD Fumarat + FADH2
Reaksi dehidrogenasi pertama dikatalisir oleh enzim suksinat
dehidrogenase yang terikat pada permukaan dalam membrane interna
mitokondria, berbeda dengan enzim-enzim lain yang ditemukan pada
matriks. Reaksi ini adalah satu-satunya reaksi dehidrogenasi dalam siklus
asam sitrat yang melibatkan pemindahan langsung atom hydrogen dari
substrat kepada flavoprotein tanpa peran NAD+. Enzim ini mengandung
FAD dan protein besi-sulfur (Fe:S). Fumarat terbentuk sebagai hasil
dehidrogenasi.
Fumarase
(fumarat
hidratase)
mengkatalisir
penambahan air pada fumarat untuk menghasilkan malat.
Fumarat + H2O L-malat
Enzim fumarase juga mengkatalisir penambahan unsure-unsur air kepada
ikatan rangkap fumarat dalam konfigurasi trans.
Malat dikonversikan menjadi oksaloasetat dengan katalisator berupa
enzim malat dehidrogenase, suatu reaksi yang memerlukan NAD+.
L-Malat + NAD+ oksaloasetat + NADH + H+
Enzim-enzim dalam siklus asam sitrat, kecuali alfa ketoglutarat dan
suksinat dehidrogenase juga ditemukan di luar mitokondria. Meskipun
dapat mengkatalisir reaksi serupa, sebagian enzim tersebut, misalnya
malat dehidrogenase pada kenyataannya mungkin bukan merupakan
protein yang sama seperti enzim mitokondria yang mempunyai nama
sama (dengan kata lain enzim tersebut merupakan isoenzim).

Energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat


Pada proses oksidasi yang dikatalisir enzim dehidrogenase, 3 molekul
NADH dan 1 FADH2 akan dihasilkan untuk setiap molekul asetil-KoA yang
dikatabolisir dalam siklus asam sitrat. Dalam hal ini sejumlah ekuivalen
pereduksi akan dipindahkan ke rantai respirasi dalam membrane interna
mitokondria (lihat kembali gambar tentang siklus ini).
Selama melintasi rantai respirasi tersebut, ekuivalen pereduksi NADH
menghasilkan 3 ikatan fosfat berenergi tinggi melalui esterifikasi ADP
menjadi ATP dalam proses fosforilasi oksidatif. Namun demikian FADH 2
hanya menghasilkan 2 ikatan fosfat berenergi tinggi. Fosfat berenergi
tinggi selanjutnya akan dihasilkan pada tingkat siklus itu sendiri (pada
tingkat substrat) pada saat suksinil KoA diubah menjadi suksinat.

26 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Dengan demikian rincian energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat
adalah:
1. Tiga molekul NADH, menghasilkan
9P
2. Satu molekul FADH2, menghasilkan
2P
3. Pada tingkat substrat
Jumlah

: 3 X 3P

: 1 x 2P

=
= 1P
= 12P

Satu siklus Krebs akan menghasilkan energi 3P + 3P + 1P + 2P + 3P


12P.

Kalau kita hubungkan jalur glikolisis, oksidasi piruvat dan siklus Krebs,
akan dapat kita hitung bahwa 1 mol glukosa jika dibakar sempurna
(aerob) akan menghasilkan energi dengan rincian sebagai berikut:
1. Glikolisis
2. Oksidasi piruvat (2 x 3P)
3. Siklus Krebs (2 x 12P)
Jumlah

: 8P
: 6P
: 24P
: 38P

Glikogenesis
Tahap pertama metabolisme karbohidrat adalah pemecahan glukosa
(glikolisis) menjadi piruvat. Selanjutnya piruvat dioksidasi menjadi asetil
KoA. Akhirnya asetil KoA masuk ke dalam rangkaian siklus asam sitrat
untuk dikatabolisir menjadi energi.
Proses di atas terjadi jika kita membutuhkan energi untuk aktifitas,
misalnya berpikir, mencerna makanan, bekerja dan sebagainya. Jika kita
memiliki glukosa melampaui kebutuhan energi, maka kelebihan glukosa
yang ada akan disimpan dalam bentuk glikogen. Proses anabolisme ini
dinamakan glikogenesis.
Glikogen merupakan bentuk simpanan karbohidrat yang utama di dalam
tubuh dan analog dengan amilum pada tumbuhan. Unsur ini terutama
terdapat didalam hati (sampai 6%), otot jarang melampaui jumlah 1%.
Akan tetapi karena massa otot jauh lebih besar daripada hati, maka
besarnya simpanan glikogen di otot bisa mencapai tiga sampai empat
kali lebih banyak. Seperti amilum, glikogen merupakan polimer -DGlukosa yang bercabang.
Glikogen otot berfungsi sebagai sumber heksosa yang tersedia dengan
mudah untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri. Sedangkan
glikogen hati sangat berhubungan dengan simpanan dan pengiriman
heksosa keluar untuk mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya
pada saat di antara waktu makan. Setelah 12-18 jam puasa, hampir
semua simpanan glikogen hati terkuras habis. Tetapi glikogen otot hanya

27 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

terkuras secara bermakna setelah seseorang melakukan olahraga yang


berat dan lama.
Rangkaian proses terjadinya glikogenesis digambarkan sebagai berikut:
1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi
yang lazim terjadi juga pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini
dikatalisir oleh heksokinase sedangkan di hati oleh glukokinase.
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi
dengan bantuan katalisator enzim fosfoglukomutase. Enzim itu
sendiri akan mengalami fosforilasi dan gugus fosfo akan mengambil
bagian di dalam reaksi reversible yang intermediatnya adalah glukosa
1,6-bifosfat.
Enz-P + Glukosa 6-fosfat Enz + Glukosa 1,6-bifosfat Enz-P +
Glukosa 1-fosfat
3. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat
(UTP) untuk membentuk uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi
ini dikatalisir oleh enzim UDPGlc pirofosforilase.
UTP + Glukosa 1-fosfat UDPGlc + PPi

Uridin difosfat glukosa (UDPGlc) (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

28 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Lintasan glikogenesis dan glikogenolisis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

4. Hidrolisis pirofosfat inorganic berikutnya oleh enzim pirofosfatase


inorganik akan menarik reaksi kea rah kanan persamaan reaksi
5. Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc membentuk
ikatan glikosidik dengan atom C4 pada residu glukosa terminal
glikogen, sehingga membebaskan uridin difosfat. Reaksi ini
dikatalisir oleh enzim glikogen sintase. Molekul glikogen yang sudah
ada sebelumnya (disebut glikogen primer) harus ada untuk memulai
reaksi ini. Glikogen primer selanjutnya dapat terbentuk pada primer
protein yang dikenal sebagai glikogenin.
UDPGlc + (C6)n UDP + (C6)n+1
29 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Glikogen

Glikogen

Residu glukosa yang lebih lanjut melekat pada posisi 14 untuk


membentuk rantai pendek yang diaktifkan oleh glikogen sintase. Pada
otot rangka glikogenin tetap melekat pada pusat molekul glikogen,
sedangkan di hati terdapat jumlah molekul glikogen yang melebihi
jumlah molekul glikogenin.
6. Setelah rantai dari glikogen primer diperpanjang dengan penambahan
glukosa tersebut hingga mencapai minimal 11 residu glukosa, maka
enzim pembentuk cabang memindahkan bagian dari rantai 14
(panjang minimal 6 residu glukosa) pada rantai yang berdekatan
untuk membentuk rangkaian 16 sehingga membuat titik cabang
pada molekul tersebut. Cabang-cabang ini akan tumbuh dengan
penambahan lebih lanjut 1glukosil dan pembentukan cabang
selanjutnya. Setelah jumlah residu terminal yang non reduktif
bertambah, jumlah total tapak reaktif dalam molekul akan meningkat
sehingga akan mempercepat glikogenesis maupun glikogenolisis.
Tahap-tahap perangkaian glukosa demi glukosa digambarkan pada bagan
berikut.

Biosintesis glikogen (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Tampak bahwa setiap penambahan 1 glukosa pada glikogen dikatalisir


oleh enzim glikogen sintase. Sekelompok glukosa dalam rangkaian
linier dapat putus dari glikogen induknya dan berpindah tempat untuk
membentuk cabang. Enzim yang berperan dalam tahap ini adalah
enzim pembentuk cabang (branching enzyme).

Glikogenolisis

30 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen
harus dipecah untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber energi.
Proses ini dinamakan glikogenolisis. Glikogenolisis seakan-akan kebalikan
dari glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Untuk
memutuskan ikatan glukosa satu demi satu dari glikogen diperlukan
enzim fosforilase. Enzim ini spesifik untuk proses fosforolisis rangkaian
14 glikogen untuk menghasilkan glukosa 1-fosfat. Residu glukosil
terminal pada rantai paling luar molekul glikogen dibuang secara
berurutan sampai kurang lebih ada 4 buah residu glukosa yang tersisa
pada tiap sisi cabang 16.
(C6)n + Pi (C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat
Glikogen
Glikogen
Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit
trisakarida dari satu cabang ke cabang lainnya sehingga membuat
titik cabang 16 terpajan. Hidrolisis ikatan 16 memerlukan kerja
enzim enzim pemutus cabang (debranching enzyme) yang spesifik.
Dengan pemutusan cabang tersebut, maka kerja enzim fosforilase
selanjutnya dapat berlangsung.

Tahap-tahap glikogenolisis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Glukoneogenesis
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak
tersedia lagi. Maka tubuh adalah menggunakan lemak sebagai sumber
energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah memecah protein untuk
energi yang sesungguhnya protein berperan pokok sebagai pembangun
tubuh.
31 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses


pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat,
bisa dari lipid maupun protein.
Secara ringkas, jalur glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein
dijelaskan sebagai berikut:
1. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan

gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya


asetil KoA masuk dalam siklus Krebs. Sementara itu gliserol masuk
dalam jalur glikolisis.
2. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam
siklus Krebs.

32 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Ringkasan jalur glukoneogenesis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

33 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Lintasan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein. Perhatikan jalur glukoneogenesis


yaitu masuknya lipid dan asam amino ke dalam lintasan (dipetik dari: Murray dkk.
Biokimia Harper)

34 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Glukoneogenesis dari bahan protein. Dalam hal ini protein telah dipecah menjadi
berbagai macam asam amino (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Metabolisme karbohidrat
Pada bagian-bagian terdahulu Anda telah mempelajari berbagai macam
karbohidrat, antara lain monosakarida, disakarida, oligosakarida serta
polisakarida. Karbohidrat siap dikatabolisir menjadi energi jika berbentuk
monosakarida. Energi yang dihasilkan berupa Adenosin trifosfat (ATP).
Glukosa merupakan karbohidrat terpenting. Dalam bentuk glukosalah massa
karbohidrat makanan diserap ke dalam aliran darah, atau ke dalam bentuk
glukosalah karbohidrat dikonversi di dalam hati, serta dari glukosalah semua
bentuk karbohidrat lain dalam tubuh dapat dibentuk. Glukosa merupakan bahan
bakar metabolik utama bagi jaringan mamalia (kecuali hewan pemamah biak)
35 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

dan bahan bakar universal bagi janin. Unsur ini diubah menjadi karbohidrat lain
dengan fungsi sangat spesifik, misalnya glikogen untuk simpanan, ribose dalam
bentuk asam nukleat, galaktosa dalam laktosa susu, dalam senyawa lipid
kompleks tertentu dan dalam bentuk gabungan dengan protein, yaitu
glikoprotein serta proteoglikan.
Sekilas tentang metabolisme
Peristiwa yang dialami unsur-unsur makanan setelah dicerna dan diserap adalah
METABOLISME INTERMEDIAT. Jadi metabolisme intermediat mencakup suatu
bidang luas yang berupaya memahami bukan saja lintasan metabolik yang
dialami oleh masing-masing molekul, tetapi juga interelasi dan mekanisme yang
mengatur arus metabolit melewati lintasan tersebut.
Lintasan metabolisme dapat digolongkan menjadi 3 kategori:
1. Lintasan anabolik (penyatuan/pembentukan)
Ini merupakan lintasan yang digunakan pada sintesis senyawa pembentuk
struktur dan mesin tubuh. Salah satu contoh dari kategori ini adalah sintesis
protein.
2. Lintasan katabolik (pemecahan)
Lintasan ini meliputi berbagai proses oksidasi yang melepaskan energi bebas,
biasanya dalam bentuk fosfat energi tinggi atau unsur ekuivalen pereduksi,
seperti rantai respirasi dan fosforilasi oksidatif.
3. Lintasan amfibolik (persimpangan)
Lintasan ini memiliki lebih dari satu fungsi dan terdapat pada persimpangan
metabolisme sehingga bekerja sebagai penghubung antara lintasan anabolik
dan lintasan katabolik. Contoh dari lintasan ini adalah siklus asam sitrat.
Siklus asam sitrat sebagai lintasan amfibolik dalam metabolisme (perhatikan
jalur persimpangan jalur katabolisme dan anabolisme) (dipetik dari: Murray dkk.
Biokimia Harper)
Sifat diet atau makanan menentukan pola dasar metabolisme di dalam tubuh.
Mamalia, termasuk manusia harus memproses hasil penyerapan produk-produk
pencernaan karbohidrat, lipid dan protein dari makanan. Secara berurutan,
produk-produk ini terutama adalah glukosa, asam lemak serta gliserol dan asam
amino. Semua produk hasil pencernaan diproses melalui lintasan metaboliknya
masing-masing menjadi suatu produk umum yaitu Asetil KoA, yang kemudian
akan dioksidasi secara sempurna melalui siklus asam sitrat.

Ilustrasi skematis dari lintasan metabolik dasar


Terdapat beberapa jalur metabolisme karbohidrat baik yang tergolong sebagai
katabolisme maupun anabolisme, yaitu glikolisis, oksidasi piruvat, siklus asam
sitrat, glikogenesis, glikogenolisis serta glukoneogenesis.
Secara ringkas, jalur-jalur metabolisme karbohidrat dijelaskan sebagai berikut:
1. Glukosa sebagai bahan bakar utama akan mengalami glikolisis (dipecah)
menjadi 2 piruvat jika tersedia oksigen. Dalam tahap ini dihasilkan energi
berupa ATP.
2. Selanjutnya masing-masing piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Dalam
tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
3. Asetil KoA akan masuk ke jalur persimpangan yaitu siklus asam sitrat. Dalam
tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
36 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

4. Jika sumber glukosa berlebihan, melebihi kebutuhan energi kita maka glukosa
tidak dipecah, melainkan akan dirangkai menjadi polimer glukosa (disebut
glikogen). Glikogen ini disimpan di hati dan otot sebagai cadangan energi
jangka pendek. Jika kapasitas penyimpanan glikogen sudah penuh, maka
karbohidrat harus dikonversi menjadi jaringan lipid sebagai cadangan energi
jangka panjang.
5. Jika terjadi kekurangan glukosa dari diet sebagai sumber energi, maka
glikogen dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya glukosa mengalami glikolisis,
diikuti dengan oksidasi piruvat sampai dengan siklus asam sitrat.
6. Jika glukosa dari diet tak tersedia dan cadangan glikogenpun juga habis,
maka sumber energi non karbohidrat yaitu lipid dan protein harus digunakan.
Jalur ini dinamakan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru) karena
dianggap lipid dan protein harus diubah menjadi glukosa baru yang selanjutnya
mengalami katabolisme untuk memperoleh energi.

Beberapa jalur metabolisme karbohidrat


Glikolisis
Glikolisis berlangsung di dalam sitosol semua sel. Lintasan katabolisme ini
adalah proses pemecahan glukosa menjadi:
1. asam piruvat, pada suasana aerob (tersedia oksigen)
2. asam laktat, pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen)
Glikolisis merupakan jalur utama metabolisme glukosa agar terbentuk asam
piruvat, dan selanjutnya asetil-KoA untuk dioksidasi dalam siklus asam sitrat
(Siklus Krebs). Selain itu glikolisis juga menjadi lintasan utama metabolisme
fruktosa dan galaktosa.
Keseluruhan persamaan reaksi untuk glikolisis yang menghasilkan laktat adalah:
2L(+)-Laktat +2ATP +2H2OGlukosa + 2ADP +2Pi
Secara rinci, tahap-tahap dalam lintasan glikolisis adalah sebagai berikut (pada
setiap tahap, lihat dan hubungkan dengan Gambar Lintasan detail metabolisme
karbohidrat):
1. Glukosa masuk lintasan glikolisis melalui fosforilasi menjadi glukosa-6 fosfat
dengan dikatalisir oleh enzim heksokinase atau glukokinase pada sel parenkim
hati dan sel Pulau Langerhans pancreas. Proses ini memerlukan ATP sebagai
donor fosfat. ATP bereaksi sebagai kompleks Mg-ATP. Terminal fosfat berenergi
tinggi pada ATP digunakan, sehingga hasilnya adalah ADP. (-1P)
Reaksi ini disertai kehilangan energi bebas dalam jumlah besar berupa kalor,
sehingga dalam kondisi fisiologis dianggap irrevesibel. Heksokinase dihambat
secara alosterik oleh produk reaksi glukosa 6-fosfat.
Mg2+
Glukosa + ATP glukosa 6-fosfat + ADP
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 6-fosfat dengan bantuan enzim
fosfoheksosa isomerase dalam suatu reaksi isomerasi aldosa-ketosa. -glukosa 6fosfat.Enzim ini hanya bekerja pada anomer
-D-fruktosa 6-fosfat -D-glukosa 6-fosfat
3. Fruktosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 1,6-bifosfat dengan bantuan enzim
fosfofruktokinase. Fosfofruktokinase merupakan enzim yang bersifat alosterik
sekaligus bisa diinduksi, sehingga berperan penting dalam laju glikolisis. Dalam
kondisi fisiologis tahap ini bisa dianggap irreversible. Reaksi ini memerlukan ATP
37 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

sebagai donor fosfat, sehingga hasilnya adalah ADP.(-1P)


D-fruktosa 1,6-bifosfat-D-fruktosa 6-fosfat + ATP
4. Fruktosa 1,6-bifosfat dipecah menjadi 2 senyawa triosa fosfat yaitu
gliserahdehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh
enzim aldolase (fruktosa 1,6-bifosfat aldolase).
D-gliseraldehid 3-fosfat + dihidroksiaseton fosfatD-fruktosa 1,6-bifosfat
5. Gliseraldehid 3-fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan
sebaliknya (reaksi interkonversi). Reaksi bolak-balik ini mendapatkan katalisator
enzim fosfotriosa isomerase.
dihidroksiaseton fosfatD-gliseraldehid 3-fosfat
6. Glikolisis berlangsung melalui oksidasi Gliseraldehid 3-fosfat menjadi 1,3bifosfogliserat, dan karena aktivitas enzim fosfotriosa isomerase, senyawa
dihidroksi aseton fosfat juga dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat melewati
gliseraldehid 3-fosfat.
1,3-bifosfogliserat + NADH + H+D-gliseraldehid 3-fosfat + NAD+ + Pi
Enzim yang bertanggung jawab terhadap oksidasi di atas adalah gliseraldehid 3fosfat dehidrogenase, suatu enzim yang bergantung kepada NAD.
Atom-atom hydrogen yang dikeluarkan dari proses oksidasi ini dipindahkan
kepada NAD+ yang terikat pada enzim. Pada rantai respirasi mitokondria akan
dihasilkan tiga fosfat berenergi tinggi. (+3P)
Catatan:
Karena fruktosa 1,6-bifosfat yang memiliki 6 atom C dipecah menjadi
Gliseraldehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat yang masing-masing memiliki
3 atom C, dengan demikian terbentuk 2 molekul gula yang masing-masing
beratom C tiga (triosa). Jika molekul dihidroksiaseton fosfat juga berubah
menjadi 1,3-bifosfogliserat, maka dari 1 molekul glukosa pada bagian awal,
sampai dengan tahap ini akan menghasilkan 2 x 3P = 6P. (+6P)
7. Energi yang dihasilkan dalam proses oksidasi disimpan melalui pembentukan
ikatan sulfur berenergi tinggi, setelah fosforolisis, sebuah gugus fosfat berenergi
tinggi dalam posisi 1 senyawa 1,3 bifosfogliserat. Fosfat berenergi tinggi ini
ditangkap menjadi ATP dalam reaksi lebih lanjut dengan ADP, yang dikatalisir
oleh enzim fosfogliserat kinase. Senyawa sisa yang dihasilkan adalah 3fosfogliserat.
3-fosfogliserat + ATP1,3-bifosfogliserat + ADP
Catatan:
Karena ada dua molekul 1,3-bifosfogliserat, maka energi yang dihasilkan adalah
2 x 1P = 2P. (+2P)
8. 3-fosfogliserat diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan dikatalisir oleh enzim
fosfogliserat mutase. Senyawa 2,3-bifosfogliserat (difosfogliserat, DPG)
merupakan intermediate dalam reaksi ini.
2-fosfogliserat3-fosfogliserat
38 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

9. 2-fosfogliserat diubah menjadi fosfoenol piruvat (PEP) dengan bantuan enzim


enolase. Reaksi ini melibatkan dehidrasi serta pendistribusian kembali energi di
dalam molekul, menaikkan valensi fosfat dari posisi 2 ke status berenergi tinggi.
Enolase dihambat oleh fluoride, suatu unsure yang dapat digunakan jika
glikolisis di dalam darah perlu dicegah sebelum kadar glukosa darah diperiksa.
Enzim ini bergantung pada keberadaan Mg2+ atau Mn2+.
fosfoenol piruvat + H2O2-fosfogliserat
10. Fosfat berenergi tinggi PEP dipindahkan pada ADP oleh enzim piruvat kinase
sehingga menghasilkan ATP. Enol piruvat yang terbentuk dalam reaksi ini
mengalami konversi spontan menjadi keto piruvat. Reaksi ini disertai kehilangan
energi bebas dalam jumlah besar sebagai panas dan secara fisiologis adalah
irreversible.
piruvat + ATPFosfoenol piruvat + ADP
Catatan:
Karena ada 2 molekul PEP maka terbentuk 2 molekul enol piruvat sehingga total
hasil energi pada tahap ini adalah 2 x 1P = 2P. (+2P)
11. Jika keadaan bersifat anaerob (tak tersedia oksigen), reoksidasi NADH
melalui pemindahan sejumlah unsure ekuivalen pereduksi akan dicegah. Piruvat
akan direduksi oleh NADH menjadi laktat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim laktat
dehidrogenase.
L(+)-Laktat + NAD+Piruvat + NADH + H+
Dalam keadaan aerob, piruvat diambil oleh mitokondria, dan setelah konversi
menjadi asetil-KoA, akan dioksidasi menjadi CO2 melalui siklus asam sitrat
(Siklus Krebs). Ekuivalen pereduksi dari reaksi NADH + H+ yang terbentuk
dalam glikolisis akan diambil oleh mitokondria untuk oksidasi melalui salah satu
dari reaksi ulang alik (shuttle).
Kesimpulan:
Pada glikolisis aerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat substrat :+ 4P
- hasil oksidasi respirasi :+ 6P
- jumlah :+10P
- dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : - 2P
+ 8P
Pada glikolisis anaerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat substrat :+ 4P
- hasil oksidasi respirasi :+ 0P
- jumlah :+ 4P
- dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : - 2P
+ 2P
Oksidasi piruvat
Dalam jalur ini, piruvat dioksidasi (dekarboksilasi oksidatif) menjadi Asetil-KoA,
yang terjadi di dalam mitokondria sel. Reaksi ini dikatalisir oleh berbagai enzim
yang berbeda yang bekerja secara berurutan di dalam suatu kompleks
multienzim yang berkaitan dengan membran interna mitokondria. Secara
kolektif, enzim tersebut diberi -ketonama kompleks piruvat dehidrogenase dan
39 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

analog dengan kompleks glutarat dehidrogenase pada siklus asam sitrat.


Jalur ini merupakan penghubung antara glikolisis dengan siklus Krebs. Jalur ini
juga merupakan konversi glukosa menjadi asam lemak dan lemak dan
sebaliknya dari senyawa non karbohidrat menjadi karbohidrat.
Rangkaian reaksi kimia yang terjadi dalam lintasan oksidasi piruvat adalah
sebagai berikut:
1. Dengan adanya TDP (thiamine diphosphate), piruvat didekarboksilasi menjadi
derivate hidroksietil tiamin difosfat terikat enzim oleh komponen kompleks
enzim piruvat dehidrogenase. Produk sisa yang dihasilkan adalah CO2.
2. Hidroksietil tiamin difosfat akan bertemu dengan lipoamid teroksidasi, suatu
kelompok prostetik dihidroksilipoil transasetilase untuk membentuk asetil
lipoamid, selanjutnya TDP lepas.
3. Selanjutnya dengan adanya KoA-SH, asetil lipoamid akan diubah menjadi
asetil KoA, dengan hasil sampingan berupa lipoamid tereduksi.
4. Siklus ini selesai jika lipoamid tereduksi direoksidasi oleh flavoprotein, yang
mengandung FAD, pada kehadiran dihidrolipoil dehidrogenase. Akhirnya
flavoprotein tereduksi ini dioksidasi oleh NAD+, yang akhirnya memindahkan
ekuivalen pereduksi kepada rantai respirasi.
Asetil KoA + NADH + H+ + CO2Piruvat + NAD+ + KoA

Siklus asam sitrat


Siklus ini juga sering disebut sebagai siklus Krebs dan siklus asam trikarboksilat
dan berlangsung di dalam mitokondria. Siklus asam sitrat merupakan jalur
bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan protein.
Siklus asam sitrat merupakan rangkaian reaksi yang menyebabkan katabolisme
asetil KoA, dengan membebaskan sejumlah ekuivalen hidrogen yang pada
oksidasi menyebabkan pelepasan dan penangkapan sebagaian besar energi
yang tersedia dari bahan baker jaringan, dalam bentuk ATP. Residu KoA, asetat
aktif),asetil ini berada dalam bentuk asetil-KoA (CH3-CO suatu ester koenzim A.
Ko-A mengandung vitamin asam pantotenat.
Fungsi utama siklus asam sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama untuk
oksidasi karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini terjadi karena glukosa, asam
lemak dan banyak asam amino dimetabolisir menjadi asetil KoA atau
intermediat yang ada dalam siklus tersebut.
Siklus asam sitrat sebagai jalur bersama metabolisme karbohidrat, lipid dan
protein
(dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Selama proses oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk ekuivalen
pereduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron sebagai hasil kegiatan enzim
dehidrogenase spesifik. Unsur ekuivalen pereduksi ini kemudian memasuki
rantai respirasi tempat sejumlah besar ATP dihasilkan dalam proses fosforilasi
oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen (anoksia) atau kekurangan oksigen
(hipoksia) terjadi hambatan total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik
dalam bentuk bebas ataupun melekat pada permukaan dalam membran interna
mitokondria sehingga memfasilitasi pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke
enzim terdekat pada rantai respirasi, yang bertempat di dalam membran
40 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

interna mitokondria.

Lintasan detail Siklus Krebs (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Reaksi-reaksi pada siklus asam sitrat diuraikan sebagai berikut:
1. Kondensasi awal asetil KoA dengan oksaloasetat membentuk sitrat, dikatalisir
oleh enzim sitrat sintase menyebabkan sintesis ikatan karbon ke karbon di
antara atom karbon metil pada asetil KoA dengan atom karbon karbonil pada
oksaloasetat. Reaksi kondensasi, yang membentuk sitril KoA, diikuti oleh
hidrolisis ikatan tioester KoA yang disertai dengan hilangnya energi bebas
dalam bentuk panas dalam jumlah besar, memastikan reaksi tersebut selesai
dengan sempurna.
Sitrat + KoAAsetil KoA + Oksaloasetat + H2O
2. Sitrat dikonversi menjadi isositrat oleh enzim akonitase (akonitat hidratase)
yang mengandung besi Fe2+ dalam bentuk protein besi-sulfur (Fe:S). Konversi
ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu: dehidrasi menjadi sis-akonitat, yang
sebagian di antaranya terikat pada enzim dan rehidrasi menjadi isositrat.

Reaksi tersebut dihambat oleh fluoroasetat yang dalam bentuk fluoroasetil KoA
mengadakan kondensasi dengan oksaloasetat untuk membentuk fluorositrat.
Senyawa terakhir ini menghambat akonitase sehingga menimbulkan
penumpukan sitrat.
3. Isositrat mengalami dehidrogenasi membentuk oksalosuksinat dengan
adanya enzim isositrat dehidrogenase. Di antara enzim ini ada yang spesifik
NAD+, hanya ditemukan di dalam mitokondria. Dua enzim lainnya bersifat
spesifik NADP+ dan masing-masing secara berurutan dijumpai di dalam
mitokondria serta sitosol. Oksidasi terkait rantai respirasi terhadap isositrat
berlangsung hampir sempurna melalui enzim yang bergantung NAD+.
ketoglutarat + CO2 + NADH + H+ Oksalosuksinat Isositrat + NAD+
(terikat enzim)
Kemudian ketoglutarat yang juga dikatalisirterjadi dekarboksilasi menjadi
oleh enzim isositrat dehidrogenase. Mn2+ atau Mg2+ merupakan komponen
penting reaksi dekarboksilasi. Oksalosuksinat tampaknya akan tetap terikat
pada enzim sebagai intermediate dalam keseluruhan reaksi.
4. ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif melaluiSelanjutnya cara
yang sama dengan dekarboksilasi oksidatif piruvat, dengan kedua
keto.substrat berupa asam
Suksinil KoA + CO2 + NADH + H+ketoglutarat + NAD+ + KoA
Reaksi ketoglutarat dehidrogenase,tersebut yang dikatalisir oleh kompleks
juga memerlukan kofaktor yang idenstik dengan kompleks piruvat
dehidrogenase, contohnya TDP, lipoat, NAD+, FAD serta KoA, dan menghasilkan
pembentukan suksinil KoA (tioester berenergi tinggi). Arsenit menghambat
reaksi di atas sehingga menyebabkan penumpukan ketoglutarat.
5. Tahap selanjutnya terjadi perubahan suksinil KoA menjadi suksinat dengan
adanya peran enzim suksinat tiokinase (suksinil KoA sintetase).
41 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Suksinat + ATP + KoASuksinil KoA + Pi + ADP


Dalam siklus asam sitrat, reaksi ini adalah satu-satunya contoh pembentukan
fosfat berenergi tinggi pada tingkatan substrat dan terjadi karena
ketoglutaratpelepasan energi bebas dari dekarboksilasi oksidatif cukup
memadai untuk menghasilkan ikatan berenergi tinggi disamping
P.pembentukan NADH (setara dengan 3
6. Suksinat dimetabolisir lebih lanjut melalui reaksi dehidrogenasi yang diikuti
oleh penambahan air dan kemudian oleh dehidrogenasi lebih lanjut yang
menghasilkan kembali oksaloasetat.
Fumarat + FADH2Suksinat + FAD
Reaksi dehidrogenasi pertama dikatalisir oleh enzim suksinat dehidrogenase
yang terikat pada permukaan dalam membrane interna mitokondria, berbeda
dengan enzim-enzim lain yang ditemukan pada matriks. Reaksi ini adalah satusatunya reaksi dehidrogenasi dalam siklus asam sitrat yang melibatkan
pemindahan langsung atom hydrogen dari substrat kepada flavoprotein tanpa
peran NAD+. Enzim ini mengandung FAD dan protein besi-sulfur (Fe:S). Fumarat
terbentuk sebagai hasil dehidrogenasi. Fumarase (fumarat hidratase)
mengkatalisir penambahan air pada fumarat untuk menghasilkan malat.
L-malatFumarat + H2O
Enzim fumarase juga mengkatalisir penambahan unsure-unsur air kepada ikatan
rangkap fumarat dalam konfigurasi trans.
Malat dikonversikan menjadi oksaloasetat dengan katalisator berupa enzim
malat dehidrogenase, suatu reaksi yang memerlukan NAD+.
oksaloasetat + NADH + H+L-Malat + NAD+
Enzim-enzim dalam siklus asam sitrat, kecuali alfa ketoglutarat dan suksinat
dehidrogenase juga ditemukan di luar mitokondria. Meskipun dapat
mengkatalisir reaksi serupa, sebagian enzim tersebut, misalnya malat
dehidrogenase pada kenyataannya mungkin bukan merupakan protein yang
sama seperti enzim mitokondria yang mempunyai nama sama (dengan kata lain
enzim tersebut merupakan isoenzim).
Energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat
Pada proses oksidasi yang dikatalisir enzim dehidrogenase, 3 molekul NADH dan
1 FADH2 akan dihasilkan untuk setiap molekul asetil-KoA yang dikatabolisir
dalam siklus asam sitrat. Dalam hal ini sejumlah ekuivalen pereduksi akan
dipindahkan ke rantai respirasi dalam membrane interna mitokondria (lihat
kembali gambar tentang siklus ini).
Selama melintasi rantai respirasi tersebut, ekuivalen pereduksi NADH
menghasilkan 3 ikatan fosfat berenergi tinggi melalui esterifikasi ADP menjadi
ATP dalam proses fosforilasi oksidatif. Namun demikian FADH2 hanya
menghasilkan 2 ikatan fosfat berenergi tinggi. Fosfat berenergi tinggi
selanjutnya akan dihasilkan pada tingkat siklus itu sendiri (pada tingkat
substrat) pada saat suksinil KoA diubah menjadi suksinat.
Dengan demikian rincian energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat
adalah:
1. Tiga molekul NADH, menghasilkan : 3 X 3P = 9P
2. Satu molekul FADH2, menghasilkan : 1 x 2P = 2P
3. Pada tingkat substrat = 1P
Jumlah = 12P
42 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Satu siklus Krebs akan menghasilkan energi 3P + 3P + 1P + 2P + 3P = 12P.


Kalau kita hubungkan jalur glikolisis, oksidasi piruvat dan siklus Krebs, akan
dapat kita hitung bahwa 1 mol glukosa jika dibakar sempurna (aerob) akan
menghasilkan energi dengan rincian sebagai berikut:
1. Glikolisis : 8P
2. Oksidasi piruvat (2 x 3P) : 6P
3. Siklus Krebs (2 x 12P) : 24P
Jumlah : 38P
Glikogenesis
Tahap pertama metabolisme karbohidrat adalah pemecahan glukosa (glikolisis)
menjadi piruvat. Selanjutnya piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Akhirnya
asetil KoA masuk ke dalam rangkaian siklus asam sitrat untuk dikatabolisir
menjadi energi.
Proses di atas terjadi jika kita membutuhkan energi untuk aktifitas, misalnya
berpikir, mencerna makanan, bekerja dan sebagainya. Jika kita memiliki glukosa
melampaui kebutuhan energi, maka kelebihan glukosa yang ada akan disimpan
dalam bentuk glikogen. Proses anabolisme ini dinamakan glikogenesis.
Glikogen merupakan bentuk simpanan karbohidrat yang utama di dalam tubuh
dan analog dengan amilum pada tumbuhan. Unsur ini terutama terdapat
didalam hati (sampai 6%), otot jarang melampaui jumlah 1%. Akan tetapi
karena massa otot jauh lebih besar daripada hati, maka besarnya simpanan
glikogen di otot bisa mencapai tiga sampai empat kali lebih banyak. -D-Glukosa
yang bercabang.Seperti amilum, glikogen merupakan polimer
Glikogen otot berfungsi sebagai sumber heksosa yang tersedia dengan mudah
untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri. Sedangkan glikogen hati sangat
berhubungan dengan simpanan dan pengiriman heksosa keluar untuk
mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya pada saat di antara waktu
makan. Setelah 12-18 jam puasa, hampir semua simpanan glikogen hati
terkuras habis. Tetapi glikogen otot hanya terkuras secara bermakna setelah
seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama.
Rangkaian proses terjadinya glikogenesis digambarkan sebagai berikut:
1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim
terjadi juga pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini dikatalisir oleh
heksokinase sedangkan di hati oleh glukokinase.
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi dengan
bantuan katalisator enzim fosfoglukomutase. Enzim itu sendiri akan mengalami
fosforilasi dan gugus fosfo akan mengambil bagian di dalam reaksi reversible
yang intermediatnya adalah glukosa 1,6-bifosfat.
Enz-P + Glukosa 1-fosfatEnz + Glukosa 1,6-bifosfat Enz-P + Glukosa 6fosfat
3. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk
membentuk uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzim
UDPGlc pirofosforilase.
UDPGlc + PPiUTP + Glukosa 1-fosfat

43 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Uridin difosfat glukosa (UDPGlc) (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
4. Hidrolisis pirofosfat inorganic berikutnya oleh enzim pirofosfatase inorganik
akan menarik reaksi kea rah kanan persamaan reaksi
5. Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc membentuk ikatan
glikosidik dengan atom C4 pada residu glukosa terminal glikogen, sehingga
membebaskan uridin difosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim glikogen sintase.
Molekul glikogen yang sudah ada sebelumnya (disebut glikogen primer) harus
ada untuk memulai reaksi ini. Glikogen primer selanjutnya dapat terbentuk pada
primer protein yang dikenal sebagai glikogenin.
UDP + (C6)n+1UDPGlc + (C6)n
Glikogen Glikogen
Residu 4 untuk membentukglukosa yang lebih lanjut melekat pada posisi 1
rantai pendek yang diaktifkan oleh glikogen sintase. Pada otot rangka glikogenin
tetap melekat pada pusat molekul glikogen, sedangkan di hati terdapat jumlah
molekul glikogen yang melebihi jumlah molekul glikogenin.
6. Setelah rantai dari glikogen primer diperpanjang dengan penambahan
glukosa tersebut hingga mencapai minimal 11 residu 4glukosa, maka enzim
pembentuk cabang memindahkan bagian dari rantai 1 (panjang minimal 6
residu glukosa) pada rantai yang berdekatan untuk 6 sehingga membuat titik
cabang pada molekulmembentuk rangkaian 1 tersebut. Cabang-cabang ini
akan tumbuh dengan penambahan lebih lanjut glukosil dan pembentukan
cabang selanjutnya. Setelah jumlah residu1 terminal yang non reduktif
bertambah, jumlah total tapak reaktif dalam molekul akan meningkat sehingga
akan mempercepat glikogenesis maupun glikogenolisis.
Tahap-tahap perangkaian glukosa demi glukosa digambarkan pada bagan
berikut.
Biosintesis glikogen (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Tampak bahwa setiap penambahan 1 glukosa pada glikogen dikatalisir oleh
enzim glikogen sintase. Sekelompok glukosa dalam rangkaian linier dapat putus
dari glikogen induknya dan berpindah tempat untuk membentuk cabang. Enzim
yang berperan dalam tahap ini adalah enzim pembentuk cabang (branching
enzyme).
Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen harus
dipecah untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber energi. Proses ini
dinamakan glikogenolisis. Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari
glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Untuk memutuskan ikatan
glukosa satu demi satu dari glikogen diperlukan enzim fosforilase. Enzim ini 4
glikogen untukspesifik untuk proses fosforolisis rangkaian 1 menghasilkan
glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar molekul
glikogen dibuang secara berurutan sampai kurang 6.lebih ada 4 buah residu
glukosa yang tersisa pada tiap sisi cabang 1
(C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat(C6)n + Pi
Glikogen Glikogen
44 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida


6dari satu cabang ke cabang lainnya sehingga membuat titik cabang 1 6
memerlukan kerja enzim enzim pemutusterpajan. Hidrolisis ikatan 1 cabang
(debranching enzyme) yang spesifik. Dengan pemutusan cabang tersebut,
maka kerja enzim fosforilase selanjutnya dapat berlangsung.
Tahap-tahap glikogenolisis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Glukoneogenesis
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi.
Maka tubuh adalah menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga
tak tersedia, barulah memecah protein untuk energi yang sesungguhnya protein
berperan pokok sebagai pembangun tubuh.
Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan
glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein.
Secara ringkas, jalur glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein
dijelaskan sebagai berikut:
1. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan
gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA
masuk dalam siklus Krebs. Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
2. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus
Krebs.

Ringkasan jalur glukoneogenesis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Lintasan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein. Perhatikan jalur


glukoneogenesis yaitu masuknya lipid dan asam amino ke dalam lintasan
(dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Glukoneogenesis dari bahan protein. Dalam hal ini protein telah dipecah
menjadi berbagai macam asam amino (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia
Harper)
Perawat bahagia
"
DOWNLOAD FULL KTI DALAM BENTUK WORD (silahkan KLIK): KEBIDANAN
KEPERAWATAN
jika anda kesulitan donasi via BANK anda bisa transfer pulsa
selengkapnya KLIK DISINI
asyik, artikel ini menarik bagikan ah......... ke teman2:
Share |

Label: Konsep Dasar, Sistem Pencernaan


45 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

0 komentar:
Post a Comment
Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

BELUM MENEMUKAN YANG ANDA CARI, CARI


DISINI

Read more: http://askep-askeb.cz.cc/2010/01/metabolismekarbohidrat.html#ixzz0jtAurRCJ

Metabolisme adalah proses pengolahan (pembentukan dan penguraian) zat -zat yang
diperlukan oleh tubuh agar tubuh dapat menjalankan fungsinya.
Kelainan metabolisme seringkali disebabkan oleh kelainan genetik yang mengakibatkan
hilangnya enzim tertentu yang diperlukan untuk merangsang suatu proses metabolisme.
KELAINAN METABOLISME KARBOHIDRAT
Karbohidrat adalah gula, diantaranya adalah glukosa, sukrosa dan fruktosa.
Beberapa gula (misalnya sukrosa) harus diproses oleh enzim di dalam tubuh sebelum bisa
digunakan sebagai sumber energi. Jika enzim yang diperlukan tidak ada, maka gula akan
tertimbun dan menimbulkan masalah kesehatan.
Galaktosemia
Galaktosemia (kadar galaktosa yang tinggi dalam darah) biasanya disebabkan oleh
kekurangan enzim galaktose 1-fosfat uridil transferase. Kelainan ini merupakan kelainan
bawaan.
Sekitar 1 dari 50.000-70.000 bayi terlahir tanpa enzim tersebut. Pada awalnya mereka
tampak normal, tetapi beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, nafsu makannya akan
berkurang, muntah, tampak kuning (jaundice) dan pertumbuhannya yang normal terhenti.
Hati membesar, di dalam air kemihnya ditemukan sejumlah besar protein dan asam amino,
terjadi pembengkakan jaringan dan penimbunan cairan dalam tubuh.
Jika pengobatan tertunda, anak akan memiliki tubuh yang pendek dan mengalami
keterbelakangan mental. Banyak yang menderita katarak.
Kebanyakan penyebabnya tidak diketahui.
Diduga suatu galaktosemia jika pada pemeriksaan laboratorium, di dalam air kemih
ditemukan galaktosa dan galaktose 1-fostate. Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan
pemeriksaan darah dan sel-sel hati, yang akan menunjukkan tidak adanya enzim galaktose 1fosfat uridil transferase.
Susu dan hasil olahan susu (yang merupakan sumber dari galaktosa) tidak boleh diberikan
kepada anak yang menderita galaktosemia. Demikian juga halnya dengan beberapa jenis
46 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

buah-buahan, sayuran dan hasil laut (misalnya rumput laut).


Seorang wanita yang diketahui membawa gen untuk penyakit ini sebaiknya tidak
mengkonsumsi galaktosa selama kehamilan.
Seorang wanita hamil yang menderita galaktosemia juga harus menghindari galaktosa. Jika
kadar galaktosanya tinggi, galaktosa dapat melewati plasenta dan sampai ke janin,
menyebabkan katarak.
Penderita galaktosemia harus menghindari galaktosa seumur hidupnya.
Jika diobati secara adekuat, tidak akan terjadi keterbelakangan mental. Tetapi tingkat
kecerdasannya lebih rendah dibandingkan dengan saudara kandungnya dan sering
ditemukan gangguan berbicara.
Pada masa pubertas dan masa dewasa, anak perempuan seringkali mengalami kegagalan
ovulasi (pelepasan sel telur) dan hanya sedikit yang dapat hamil secara alami.
Galaktosemia
Glikogenosis
Glikogenosis (Penyakit penimbunan glikogen) adalah sekumpulan penyakit keturunan yang
disebabkan oleh tidak adanya 1 atau beberapa enzim yang diperlukan untuk mengubah gula
menjadi glikogen atau mengubah glikogen menjadi glukosa (untuk digunakan sebagai
energi).
Pada glikogenosis, sejenis atau sejumlah glikogen yang abnormal diendapkan di dalam
jaringan tubuh, terutama di hati.
Gejalanya timbul sebagai akibat dari penimbunan glikogen atau hasil pemecahan glikogen
atau akibat dari ketidakmampuan untuk menghasilkan glukosa yang diperlukan oleh tubuh.
Usia ketika timbulnya gejala dan beratnya gejala bervariasi, tergantung kepada enzim apa
yang tidak ditemukan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap contoh jaringan (biasanya
otot atau hati), yang menunjukkan adanya enzim yang hilang.
Pengobatan tergantung kepada jenis penyakitnya.
Untuk membantu mencegah turunnya kadar gula darah, dianjurkan untuk mengkonsumsi
makanan kaya karbohidrat dalam porsi kecil sebanyak beberapa kali dalam sehari. Pada
beberapa anak yang masih kecil, masalah ini bisa diatasi dengan memberikan tepung jagung
yang tidak dimasak setiap 4-6 jam. Kadang pada malam hari diberikan larutan karbohidrat
melalui selang yang dimasukkan ke lambung.
Penyakit penimbunan glikogen cenderung menyebabkan penimbunan asam urat, yang dapat
menyebabkan gout dan batu ginjal. Untuk mencegah hal tersebut seringkali perlu diberikan
obat-obatan.
Pada beberapa jenis glikogenesis, untuk mengurangi kram otot, aktivitas anak harus dibatasi.
Intoleransi Fruktosa Herediter
Intoleransi Fruktosa Herediter adalah suatu penyakit keturunan dimana tubuh tidak dapat
menggunakan fruktosa karena tidak memiliki enzim fosfofruktaldolase.
Sebagai akibatnya, fruktose 1-fosfatase (yang merupakan hasil pemecahan dari fruktosa)
tertimbun di dalam tubuh, menghalangi pembentukan glikogen dan menghalangi perubahan
glikogen menjadi glukosa sebagai sumber energi.

47 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Mencerna fruktosa atau sukrosa (yang dalam tubuh akan diuraikan menjadi fruktosa, kedua
jenis gula ini terkandung dalam gula meja) dalam jumlah yang lebih, bisa menyebabkan:
- hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah) disertai keringat dingin
- tremor (gerakan gemetar diluar kesadaran)
- linglung
- mual
- muntah
- nyeri perut
- kejang (kadang-kadang)
- koma.
Jika penderita terus mengkonsumsi fruktosa, bisa terjadi kerusakan ginjal dan hati serta
kemunduran mental.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan contoh jaringan hati yang
menunjukkan adanya enzim yang hilang.
Juga dilakukan pengujian respon tubuh terhadap fruktosa dan glukosa yang diberikan
melalui infus.
Karier (pembawa gen untuk penyakit ini tetapi tidak menderita penyakit ini) dapat
ditentukan melalui analisa DNA dan membandingkannya dengan DNA penderita dan DNA
orang normal.
Pengobatan terdiri dari menghindari fruktosa (biasanya ditemukan dalam buah-buahan yang
manis), sukrosa dan sorbitol (pengganti gula) dalam makanan sehari-hari.
Serangan hipoglikemia diatasi dengan pemberian tablet glukosa, yang harus selalu dibawa
oleh setiap penderita intoleransi fruktosa herediter.
Fruktosuria
Fruktosuria merupakan suatu keadaan yang tidak berbahaya, dimana fruktosa dibuang ke
dalam air kemih.
Fruktosuria disebabkan oleh kekurangan enzim fruktokinase yang sifatnya diturunkan.
1 dari 130.000 penduduk menderita fruktosuria.
Fruktosuria tidak menimbulkan gejala, tetapi kadar fruktosa yang tinggi di dalam darah dan
air kemih dapat menyebabkan kekeliruan diagnosis dengan diabetes mellitus.
Tidak perlu dilakukan pengobatan khusus.
Pentosuria
Pentosuria adalah suatu keadaan yang tidak berbahaya, yang ditandai dengan ditemukannya
gula xylulosa di dalam air kemih karena tubuh tidak memiliki enzim yang diperlukan untuk
mengolah xylulosa.
Pentosuria hampir selalu hanya ditemukan pada orang Yahudi.
Pentosuria tidak menimbulkan masalah kesehatan, tetapi adanya xylulosa dalam air kemih
bisa menyebabkan kekeliruan diagnosis dengan diabetes mellitus.
Tidak perlu dilakukan pengobatan khusus.
KELAINAN METABOLISME PIRUVAT
Piruvat terbentuk dalam proses pengolahan karbohidrat, lemak dan protein.
Piruvat merupakan sumber energi untuk mitokondria (komponen sel yang menghasilkan
energi).
Gangguan pada metabolisme piruvat dapat menyebabkan terganggunya fungsi mitokondria
48 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

sehingga timbul sejumlah gejala:


- kerusakan otot
- keterbelakangan mental
- kejang
- penimbunan asam laktat yang menyebabkan asidosis (meningkatnya asam dalam tubuh)
- kegagalan fungsi organ (jantung, paru-paru, ginjal atau hati).
Gejala tersebut dapat terjadi kapan saja, mulai dari awal masa bayi sampai masa dewasa
akhir.
Olah raga, infeksi atau alkohol dapat memperburuk gejala, sehingga terjadi asidosis laktat
yang berat (kram dan kelemahan otot).
Kekurangan kompleks piruvat dehidrogenase
Kompleks piruvat dehidrogenase adalah sekumpulan enzim yang diperlukan untuk
mengolah piruvat.
Kekurangan kompleks piruvat dehidrogenase bisa menyebabkan berkurangnya kadar asetil
koenzim A yang penting untuk pembentukan energi.
Gejala utamanya adalah:
- aksi otot menjadi lambat
- koordinasi buruk
- gangguan keseimbangan yang berat yang menyebabkan penderita tidak dapat berjalan.
Gejala lainnya adalah kejang, keterbelakangan mental dan kelainan bentuk otak.
Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, tetapi diet tinggi lemak bisa membantu beberapa
penderita.
Tidak memiliki piruvat karboksilase
Tidak memiliki enzim piruvat karboksilase akan mempengaruhi atau menghalangi
pembentukan glukosa di dalam tubuh. Akibatnya di dalam darah akan tertimbun asam laktat
dan keton yang menyebabkan timbulnya mual dan muntah.
Penyakit ini sering berakibat fatal.
Sintesa asam amino (komponen pembentuk protein) juga tergantung kepada piruvat
karboksilase.
Jika enzim ini tidak ada, maka pembentukan neurotransmiter (zat yang menghantarkan
gelombang saraf) akan berkurang, menyebabkan sejumlah kelainan saraf, termasuk
keterbelakangan mental yang berat.
Hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah) dan asidosis (penimbunan asam di dalam
darah) dapat dikurangi dengan cara sering memakan makanan kaya karbohidrat. Tetapi
belum ditemukan obat yang dapat menggantikan neurotransmiter yang hilang.
Pada penyakit yang lebih ringan, bisa dilakukan pembatasan asupan protein.
KELAINAN METABOLISME ASAM AMINO
Asam amino merupakan komponen pembentuk protein.
Penyakit keturunan pada pengolahan asam amino dapat menyebabkan gangguan pada
penguraian asam amino maupun pemindahan asam amino ke dalam sel.
Fenilketonuria
Fenilketonuria (Fenilalaninemia, Fenilpiruvat oligofrenia) adalah suatu penyakit keturunan
dimana tubuh tidak memiliki enzim pengolah asam amino fenilalanin, sehingga
49 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

menyebabkan kadar fenilalanin yang tinggi di dalam darah, yang berbahaya bagi tubuh.
Dalam keadaan normal, fenilalanin diubah menjadi tirosin dan dibuang dari tubuh. Tanpa
enzim tersebut, fenilalanin akan tertimbun di dalam darah dan merupakan racun bagi otak,
menyebabkan keterbelakangan mental.
Pada saat bayi baru lahir biasanya tidak ditemukan gejala. Kadang bayi tampak mengantuk
atau tidak mau makan.
Bayi cenderung memiliki kulit, rambut dan mata yang berwarna lebih terang dibandingkan
dengan anggota keluarga lainnya yang tidak menderita penyakit ini.
Beberapa bayi mengalami ruam kulit yang menyerupai eksim.
Jika tidak diobati, bayi akan segera mengalami keterbelakangan mental, yang sifatnya
biasanya berat.
Gejala pada anak-anak yang menderita fenilketonuria yang tidak diobati atau tidak
terdiagnosis adalah:
- kejang
- mual dan muntah
- perilaku agresif atau melukai diri sendiri
- hiperaktif
- gejala psikis (kadang-kadang).
Bau badannya menyerupai tikus karena di dalam air kemih dan keringatnya mengandung
asam fenil asetat (hasil pemecahan fenilalanin).
Fenilketonuria pada wanita hamil memberikan dampak yang besar terhadap janin yang
dikandungnya, yaitu menyebabkan keterbelakangan mental dan fisik.
Bayi terlahir dengan kepala yang kecil (mikrosefalus) dan penyakit jantung.
Jika selama hamil dilakukan pengawasan ketat terhadap kadar fenilalanin pada ibu, biasanya
bayi yang lahir akan normal.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan tinginya kadar fenilalanin dan rendahnya kadar tirosin.
Pengobatan meliputi pembatasan asupan fenilalanin.
Semua sumber protein alami mengandung 4% fenilalanin, karena itu mustahil untuk
mengkonsumsi protein dalam jumlah yang cukup tanpa melebihi jumlah fenilalanin yang
dapat diterima. Karena itu sebagai pengganti susu dan daging, penderita harus makan
sejumlah makanan sintetis yang menyediakan asam amino lainnya.
Penderita boleh memakan makanan alami rendah protein, seperti buah-buahan, sayursayuran dan gandum dalam jumlah tertentu.
Untuk mencegah terjadinya keterbelakangan mental, pada minggu pertama kehidupan bayi,
asupan fenilalanin harus dibatasi. Pembatasan yang dimulai sedini mungkin dan terlaksana
dengan baik, memungkinkan terjadinya perkembangan yang normal dan mencegah
kerusakan otak. Jika pembatasan ini tidak dapat dipertahankan, maka anak akan mengalami
kesulitan di sekolah.
Pembatasan yang dimulai setelah anak berumur 2-3 tahun hanya bisa mengendalikan
hiperaktivitas yang berat dan kejang.
Pembatasan asupan fenKelainan metabolisme seringkali disebabkan oleh kelainan genetik
yang mengakibatkan hilangnya enzim tertentu yang diperlukan untuk merangsang suatu
proses metabolisme.
Kelainan metabolisme karbohidrat dapat menimbulkan penyakit. Karbohidrat adalah gula,
diantaranya adalah glukosa, sukrosa dan fruktosa.

50 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

ilalanin sebaikMetabolisme merupakan modifikasi senyawa kimia secara biokimia di dalam


organisme dan sel. Metabolisme mencakup sintesis (anabolisme) dan penguraian
(katabolisme) molekul organik kompleks. Metabolisme biasanya terdiri atas tahapantahapan yang melibatkan enzim, yang dikenal pula sebagai jalur metabolisme. Metabolisme
total merupakan semua proses biokimia di dalam organisme. Metabolisme sel mencakup
semua proses kimia di dalam sel. Tanpa metabolisme, makhluk hidup tidak dapat bertahan
hidup.
Produk metabolisme disebut metabolit. Cabang biologi yang mempelajari komposisi
metabolit secara keseluruhan pada suatu tahap perkembangan atau pada suatu bagian tubuh
dinamakan metabolomika.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Jalur metabolisme
o 1.1 Jalur umum
o

1.2 Katabolisme

1.3 Anabolisme

1.4 Metabolisme obat

1.5 Metabolisme nitrogen

1.6 Lain-lain

2 Sejarah

3 Lihat pula

4 Pranala luar

[sunting] Jalur metabolisme


Jalur-jalur metabolisme penting mencakup:

[sunting] Jalur umum

Metabolisme karbohidrat
Metabolisme lemak

Metabolisme protein

Metabolisme asam nukleat

[sunting] Katabolisme
Jalur katabolisme yang menguraikan molekul kompleks menjadi senyawa sederhana
mencakup:

Respirasi sel, jalur metabolisme yang menghasilkan energi (dalam bentuk


ATP dan NADPH) dari molekul-molekul bahan bakar (karbohidrat, lemak,
dan protein). Jalur-jalur metabolisme respirasi sel juga terlibat dalam
pencernaan makanan.
51 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Katabolisme karbohidrat

Glikogenolisis, pengubahan glikogen menjadi glukosa.

Glikolisis, pengubahan glukosa menjadi piruvat dan ATP


tanpa membutuhkan oksigen.

Jalur pentosa fosfat, pembentukan NADPH dari glukosa.

Katabolisme protein, hidrolisis protein menjadi asam amino.

Respirasi aerobik
o

Transpor elektron

Fosforilasi oksidatif

Respirasi anaerobik,
o

Daur Cori

Fermentasi asam laktat

Fermentasi

Fermentasi etanol

[sunting] Anabolisme
Jalur anabolisme yang membentuk senyawa-senyawa dari prekursor sederhana mencakup:

Glikogenesis, pembentukan glikogen dari glukosa.


Glukoneogenesis, pembentukan glukosa dari senyawa organik lain.

Jalur sintesis porfirin

Jalur HMG-CoA reduktase, mengawali pembentukan kolesterol dan


isoprenoid.

Metabolisme sekunder, jalur-jalur metabolisme yang tidak esensial bagi


pertumbuhan, perkembangan, maupun reproduksi, namun biasanya
berfungsi secara ekologis, misalnya pembentukan alkaloid dan terpenoid.

Fotosintesis

Siklus Calvin dan fiksasi karbon

[sunting] Metabolisme obat


Jalur metabolisme obat, yaitu modifikasi dan penguraian obat-obatan dan senyawa
ksenobiotik lainnya melalui sistem enzim khusus mencakup:

Sistem sitokrom P450 okidase


Sistem monooksigenase berkandungan flavin

Metabolisme alkohol

[sunting] Metabolisme nitrogen


Metabolisme nitrogen mencakup jalur-jalur sirkulasi (turnover) dan ekskresi nitrogen dalam
organisme maupun proses-proses biologis daur nitrogen di alam:
52 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Daur urea, jalur penting ekskresi nitrogen dalam bentuk urea.


Fiksasi nitrogen biologis

Asimilasi nitrogen

Nitrifikasi

Denitrifikasi

[sunting] Lain-lain

Metabolisme besi dalam tubuh manusia

[sunting] Sejarah
Eksperimen terkontrol atas metabolisme manusia pertama kali diterbitkan oleh Santorio
Santorio pada tahun 1614 di dalam bukunya, Ars de statica medecina yang membuatnya
terkenal di Eropa. Dia mendeskripsikan rangkaian percobaan yang dilakukannya, yang
melibatkan penimbangan dirinya sendiri pada sebuah kursi yang digantung pada sebuah
timbangan besar (lihat gambar) sebelum dan sesudah makan, tidur, bekerja, berhubungan
seksual, berpuasa makan atau minum, dan buang hajat. Dia menemukan bahwa bagian
terbesar makanan yang dimakannnya hilang dari tubuh melalui perspiratio insensibilis
(mungkin dapat diterjemahkan sebagai "keringatan yang tidak tampak"). Santorio Santorio
dikenal dengan nama Santorio Santorii. Ayanhnya bernama Antonio Sa

nyaPencernaan dan Metabolisme Karbohidrat


June 8, 2009 hidayat07

Tujuan akhir pencernaan dan absorpsi karbohidrat adalah mengubah karbohidrat menjadi
ikatan-ikatan lebih kecil, terutama berupa glukosa dan fruktosa, sehingga dapat diserap oleh
pembulu darah melalui dinding usus halus. Pencernaan karbohidrat kompleks dimulai di
mulut dan berakhir di usus halus.
Pencernaan karbohidrat :

Mulut

Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut. Bola makanan yang diperoleh setelah makanan
dikunyah bercampurn dengan ludah yang mengandung enzim amilase (sebelumnya dikenal
sebagai ptialin). Amilase menghidrolisis pati atau amilum menjadi bentuk karbohidrat lebih
sederhana, yaitu dekstrin. Bila berada di mulut cukup lama, sebagian diubah menjadi
disakarida maltosa. Enzim amilase ludah bekerja paling baik pada pH ludah yang bersifat
netral. Bolus yang ditelan masuk ke dalam lambung.

Usus Halus

Pencernaan karbohidrat dilakukan oleh enzim-enzim disakarida yang dikeluarkan olej sel-sel
mukosa usus halus bnerupa maltase, sukrase, dan laktase. Hidrolisis disakarida oleh enzimenzim ini terjadi di dalam mikrovili dan monosakarida yang dihasilkan adalah sebagai
berikut :
Maltase
Maltosa

2 mol glukosa

53 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Sukrase
Sakarosa

1 mol glukosa + 1 mol fruktosa

Laktase
Laktosa

1 mol glukosa + 1 mol galaktosa

Monosakarida glukosa, fruktosa, dan galaktosa kemudian diabsorpsi melalui sel epitel usus
halus dan diangkut oleh sistem sirkulasi darah melalui vena porta. Bila konsentrasi
monosakarida di dalam usus halus atau pada mukosa sel cukup tinggi, absorpsi dilakukan
secara pasif atau fasilitatif. Tapi, bila konsentrasi turun, absorpsi dilakukan secara aktif
melawan gradien konsentrasi dengan menggunakan energi dari ATP dan ion natrium.

Usus Besar

Dalam waktu 1-4 jam setelah selesai makan, pati nonkarbohidrat atau serat makanan dan
sebagian kecil pati yang tidak dicernakan masuk ke dalam usus besar. Sisa-sisa pencernaan
ini merupakan substrat potensial untuk difermentasi oleh mikroorganisma di dalam usus
besar. Substrat potensial lain yang difermentasi adalah fruktosa, sorbitol, dan monomer lain
yang susah dicernakan, laktosa pada mereka yang kekurangan laktase, serta rafinosa,
stakiosa, verbaskosa, dan fruktan.
Produk utama fermentasi karbohidrat di dalam usus besar adalah karbondioksida, hidrogen,
metan dan asam-asam lemak rantai pendek yang mudah menguap, seperti asam asetat, asam
propionat dan asam butirat.
Sekilas Metabolisme Karbohidrat
Peranan utama karbohidrat di dalam tubuh adalah menyediakan glukosa bagi sel-sel tubuh,
yangkemudian diubah menjadi energi. Glukosa memegang peranan sentral dalam
metabolisme karbohidrat. Jaringan tertentu hanya memperoleh energi dari karbohidrat
seperti sel darah merah serta sebagian besar otak dan sistem saraf.
Glukosa yang diserap dari pencernaan makanan di usus dibawa darah menuju ke seluruh sel
tubuh. Dalam sitoplasma glukosa akan mengalami GLIKOLISIS yaitu peristiwa pemecahan
gula hingga menjadi energi (ATP). Ada dua jalur glikolisis yaitu jalur biasa untuk
aktivitas/kegiatan hidup yang biasa (normal) dengan hasil ATP terbatas, dan glikolisis jalur
cepat yang dikenal dengan jalur EMBDEN MEYER-HOFF untuk menyediakan ATP cepat
pada aktivitas/kegiatan kerja keras, misalnya lari cepat. Jalur cepat ini memberi hasil asam
laktat yang bila terus bertambah dapat menyebabkan terjadinya ASIDOSIS LAKTAT .
Asidosis ini dapat berakibat fatal terutama bagi orang yang tidak terbiasa (terlatih)
beraktivitas keras. Hasil oksidasi glukosa melalui glikolisis akan dilanjutkan dalam SIKLUS
KREB yang terjadi di bagian matriks mitokondria. Selanjutnya hasil siklus Kreb akan
digunakan dalam SYSTEM COUPLE (FOSFORILASI OKSIDATIF) dengan menggunakan
sitokrom dan berakhir dengan pemanfaatan Oksigen sebagai penangkap ion H. Kejadian
tubuh kemasukan racun menyebabkan system sitokrom di-blokir oleh senyawa racun
sehingga reaksi REDUKSI-OKSIDASI dalam system couple, terutama oleh Oksigen, tidak
dapat berjalan. Selanjutnya disarankan membaca materi biokimia enzim, oksidasi biologi,
dan glukoneogenesis pada situs ini juga.
diSekilas tentang metabolisme
Peristiwa yang dialami unsur-unsur makanan setelah dicerna dan diserap adalah
METABOLISME INTERMEDIAT. Jadi metabolisme intermediat mencakup suatu
bidang luas yang berupaya memahami bukan saja lintasan metabolik yang
54 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

dialami oleh masing-masing molekul, tetapi juga interelasi dan mekanisme yang
mengatur arus metabolit melewati lintasan tersebut.
Lintasan metabolisme dapat digolongkan menjadi 3 kategori:
1. Lintasan anabolik (penyatuan/pembentukan)
Ini merupakan lintasan yang digunakan pada sintesis senyawa pembentuk
struktur dan mesin tubuh. Salah satu contoh dari kategori ini adalah sintesis
protein.
2. Lintasan katabolik (pemecahan)
Lintasan ini meliputi berbagai proses oksidasi yang melepaskan energi bebas,
biasanya dalam bentuk fosfat energi tinggi atau unsur ekuivalen pereduksi,
seperti rantai respirasi dan fosforilasi oksidatif.
3. Lintasan amfibolik (persimpangan)
Lintasan ini memiliki lebih dari satu fungsi dan terdapat pada persimpangan
metabolisme sehingga bekerja sebagai penghubung antara lintasan anabolik
dan lintasan katabolik. Contoh dari lintasan ini adalah siklus asam sitrat.
Siklus asam sitrat sebagai lintasan amfibolik dalam metabolisme (perhatikan
jalur persimpangan jalur katabolisme dan anabolisme) (dipetik dari: Murray dkk.
Biokimia Harper)
Sifat diet atau makanan menentukan pola dasar metabolisme di dalam tubuh.
Mamalia, termasuk manusia harus memproses hasil penyerapan produk-produk
pencernaan karbohidrat, lipid dan protein dari makanan. Secara berurutan,
produk-produk ini terutama adalah glukosa, asam lemak serta gliserol dan asam
amino. Semua produk hasil pencernaan diproses melalui lintasan metaboliknya
masing-masing menjadi suatu produk umum yaitu Asetil KoA, yang kemudian
akan dioksidasi secara sempurna melalui siklus asam sitrat.

Ilustrasi skematis dari lintasan metabolik dasar


Terdapat beberapa jalur metabolisme karbohidrat baik yang tergolong sebagai
katabolisme maupun anabolisme, yaitu glikolisis, oksidasi piruvat, siklus asam
sitrat, glikogenesis, glikogenolisis serta glukoneogenesis.
Secara ringkas, jalur-jalur metabolisme karbohidrat dijelaskan sebagai berikut:
1. Glukosa sebagai bahan bakar utama akan mengalami glikolisis (dipecah)
menjadi 2 piruvat jika tersedia oksigen. Dalam tahap ini dihasilkan energi
berupa ATP.
2. Selanjutnya masing-masing piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Dalam
tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
3. Asetil KoA akan masuk ke jalur persimpangan yaitu siklus asam sitrat. Dalam
tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
4. Jika sumber glukosa berlebihan, melebihi kebutuhan energi kita maka glukosa
tidak dipecah, melainkan akan dirangkai menjadi polimer glukosa (disebut
glikogen). Glikogen ini disimpan di hati dan otot sebagai cadangan energi
jangka pendek. Jika kapasitas penyimpanan glikogen sudah penuh, maka
karbohidrat harus dikonversi menjadi jaringan lipid sebagai cadangan energi
jangka panjang.
5. Jika terjadi kekurangan glukosa dari diet sebagai sumber energi, maka
glikogen dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya glukosa mengalami glikolisis,
diikuti dengan oksidasi piruvat sampai dengan siklus asam sitrat.
6. Jika glukosa dari diet tak tersedia dan cadangan glikogenpun juga habis,
55 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

maka sumber energi non karbohidrat yaitu lipid dan protein harus digunakan.
Jalur ini dinamakan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru) karena
dianggap lipid dan protein harus diubah menjadi glukosa baru yang selanjutnya
mengalami katabolisme untuk memperoleh energi.

Beberapa jalur metabolisme karbohidrat


Glikolisis
Glikolisis berlangsung di dalam sitosol semua sel. Lintasan katabolisme ini
adalah proses pemecahan glukosa menjadi:
1. asam piruvat, pada suasana aerob (tersedia oksigen)
2. asam laktat, pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen)
Glikolisis merupakan jalur utama metabolisme glukosa agar terbentuk asam
piruvat, dan selanjutnya asetil-KoA untuk dioksidasi dalam siklus asam sitrat
(Siklus Krebs). Selain itu glikolisis juga menjadi lintasan utama metabolisme
fruktosa dan galaktosa.
Keseluruhan persamaan reaksi untuk glikolisis yang menghasilkan laktat adalah:
2L(+)-Laktat +2ATP +2H2OGlukosa + 2ADP +2Pi
Secara rinci, tahap-tahap dalam lintasan glikolisis adalah sebagai berikut (pada
setiap tahap, lihat dan hubungkan dengan Gambar Lintasan detail metabolisme
karbohidrat):
1. Glukosa masuk lintasan glikolisis melalui fosforilasi menjadi glukosa-6 fosfat
dengan dikatalisir oleh enzim heksokinase atau glukokinase pada sel parenkim
hati dan sel Pulau Langerhans pancreas. Proses ini memerlukan ATP sebagai
donor fosfat. ATP bereaksi sebagai kompleks Mg-ATP. Terminal fosfat berenergi
tinggi pada ATP digunakan, sehingga hasilnya adalah ADP. (-1P)
Reaksi ini disertai kehilangan energi bebas dalam jumlah besar berupa kalor,
sehingga dalam kondisi fisiologis dianggap irrevesibel. Heksokinase dihambat
secara alosterik oleh produk reaksi glukosa 6-fosfat.
Mg2+
Glukosa + ATP glukosa 6-fosfat + ADP
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 6-fosfat dengan bantuan enzim
fosfoheksosa isomerase dalam suatu reaksi isomerasi aldosa-ketosa. -glukosa 6fosfat.Enzim ini hanya bekerja pada anomer
-D-fruktosa 6-fosfat -D-glukosa 6-fosfat
3. Fruktosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 1,6-bifosfat dengan bantuan enzim
fosfofruktokinase. Fosfofruktokinase merupakan enzim yang bersifat alosterik
sekaligus bisa diinduksi, sehingga berperan penting dalam laju glikolisis. Dalam
kondisi fisiologis tahap ini bisa dianggap irreversible. Reaksi ini memerlukan ATP
sebagai donor fosfat, sehingga hasilnya adalah ADP.(-1P)
D-fruktosa 1,6-bifosfat-D-fruktosa 6-fosfat + ATP
4. Fruktosa 1,6-bifosfat dipecah menjadi 2 senyawa triosa fosfat yaitu
gliserahdehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh
enzim aldolase (fruktosa 1,6-bifosfat aldolase).
D-gliseraldehid 3-fosfat + dihidroksiaseton fosfatD-fruktosa 1,6-bifosfat

56 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

5. Gliseraldehid 3-fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan


sebaliknya (reaksi interkonversi). Reaksi bolak-balik ini mendapatkan katalisator
enzim fosfotriosa isomerase.
dihidroksiaseton fosfatD-gliseraldehid 3-fosfat
6. Glikolisis berlangsung melalui oksidasi Gliseraldehid 3-fosfat menjadi 1,3bifosfogliserat, dan karena aktivitas enzim fosfotriosa isomerase, senyawa
dihidroksi aseton fosfat juga dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat melewati
gliseraldehid 3-fosfat.
1,3-bifosfogliserat + NADH + H+D-gliseraldehid 3-fosfat + NAD+ + Pi
Enzim yang bertanggung jawab terhadap oksidasi di atas adalah gliseraldehid 3fosfat dehidrogenase, suatu enzim yang bergantung kepada NAD.
Atom-atom hydrogen yang dikeluarkan dari proses oksidasi ini dipindahkan
kepada NAD+ yang terikat pada enzim. Pada rantai respirasi mitokondria akan
dihasilkan tiga fosfat berenergi tinggi. (+3P)
Catatan:
Karena fruktosa 1,6-bifosfat yang memiliki 6 atom C dipecah menjadi
Gliseraldehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton fosfat yang masing-masing memiliki
3 atom C, dengan demikian terbentuk 2 molekul gula yang masing-masing
beratom C tiga (triosa). Jika molekul dihidroksiaseton fosfat juga berubah
menjadi 1,3-bifosfogliserat, maka dari 1 molekul glukosa pada bagian awal,
sampai dengan tahap ini akan menghasilkan 2 x 3P = 6P. (+6P)
7. Energi yang dihasilkan dalam proses oksidasi disimpan melalui pembentukan
ikatan sulfur berenergi tinggi, setelah fosforolisis, sebuah gugus fosfat berenergi
tinggi dalam posisi 1 senyawa 1,3 bifosfogliserat. Fosfat berenergi tinggi ini
ditangkap menjadi ATP dalam reaksi lebih lanjut dengan ADP, yang dikatalisir
oleh enzim fosfogliserat kinase. Senyawa sisa yang dihasilkan adalah 3fosfogliserat.
3-fosfogliserat + ATP1,3-bifosfogliserat + ADP
Catatan:
Karena ada dua molekul 1,3-bifosfogliserat, maka energi yang dihasilkan adalah
2 x 1P = 2P. (+2P)
8. 3-fosfogliserat diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan dikatalisir oleh enzim
fosfogliserat mutase. Senyawa 2,3-bifosfogliserat (difosfogliserat, DPG)
merupakan intermediate dalam reaksi ini.
2-fosfogliserat3-fosfogliserat
9. 2-fosfogliserat diubah menjadi fosfoenol piruvat (PEP) dengan bantuan enzim
enolase. Reaksi ini melibatkan dehidrasi serta pendistribusian kembali energi di
dalam molekul, menaikkan valensi fosfat dari posisi 2 ke status berenergi tinggi.
Enolase dihambat oleh fluoride, suatu unsure yang dapat digunakan jika
glikolisis di dalam darah perlu dicegah sebelum kadar glukosa darah diperiksa.
Enzim ini bergantung pada keberadaan Mg2+ atau Mn2+.
fosfoenol piruvat + H2O2-fosfogliserat
57 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

10. Fosfat berenergi tinggi PEP dipindahkan pada ADP oleh enzim piruvat kinase
sehingga menghasilkan ATP. Enol piruvat yang terbentuk dalam reaksi ini
mengalami konversi spontan menjadi keto piruvat. Reaksi ini disertai kehilangan
energi bebas dalam jumlah besar sebagai panas dan secara fisiologis adalah
irreversible.
piruvat + ATPFosfoenol piruvat + ADP
Catatan:
Karena ada 2 molekul PEP maka terbentuk 2 molekul enol piruvat sehingga total
hasil energi pada tahap ini adalah 2 x 1P = 2P. (+2P)
11. Jika keadaan bersifat anaerob (tak tersedia oksigen), reoksidasi NADH
melalui pemindahan sejumlah unsure ekuivalen pereduksi akan dicegah. Piruvat
akan direduksi oleh NADH menjadi laktat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim laktat
dehidrogenase.
L(+)-Laktat + NAD+Piruvat + NADH + H+
Dalam keadaan aerob, piruvat diambil oleh mitokondria, dan setelah konversi
menjadi asetil-KoA, akan dioksidasi menjadi CO2 melalui siklus asam sitrat
(Siklus Krebs). Ekuivalen pereduksi dari reaksi NADH + H+ yang terbentuk
dalam glikolisis akan diambil oleh mitokondria untuk oksidasi melalui salah satu
dari reaksi ulang alik (shuttle).
Kesimpulan:
Pada glikolisis aerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat substrat :+ 4P
- hasil oksidasi respirasi :+ 6P
- jumlah :+10P
- dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : - 2P
+ 8P
Pada glikolisis anaerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat substrat :+ 4P
- hasil oksidasi respirasi :+ 0P
- jumlah :+ 4P
- dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : - 2P
+ 2P
Oksidasi piruvat
Dalam jalur ini, piruvat dioksidasi (dekarboksilasi oksidatif) menjadi Asetil-KoA,
yang terjadi di dalam mitokondria sel. Reaksi ini dikatalisir oleh berbagai enzim
yang berbeda yang bekerja secara berurutan di dalam suatu kompleks
multienzim yang berkaitan dengan membran interna mitokondria. Secara
kolektif, enzim tersebut diberi -ketonama kompleks piruvat dehidrogenase dan
analog dengan kompleks glutarat dehidrogenase pada siklus asam sitrat.
Jalur ini merupakan penghubung antara glikolisis dengan siklus Krebs. Jalur ini
juga merupakan konversi glukosa menjadi asam lemak dan lemak dan
sebaliknya dari senyawa non karbohidrat menjadi karbohidrat.
Rangkaian reaksi kimia yang terjadi dalam lintasan oksidasi piruvat adalah
sebagai berikut:
1. Dengan adanya TDP (thiamine diphosphate), piruvat didekarboksilasi menjadi
derivate hidroksietil tiamin difosfat terikat enzim oleh komponen kompleks
enzim piruvat dehidrogenase. Produk sisa yang dihasilkan adalah CO2.
58 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

2. Hidroksietil tiamin difosfat akan bertemu dengan lipoamid teroksidasi, suatu


kelompok prostetik dihidroksilipoil transasetilase untuk membentuk asetil
lipoamid, selanjutnya TDP lepas.
3. Selanjutnya dengan adanya KoA-SH, asetil lipoamid akan diubah menjadi
asetil KoA, dengan hasil sampingan berupa lipoamid tereduksi.
4. Siklus ini selesai jika lipoamid tereduksi direoksidasi oleh flavoprotein, yang
mengandung FAD, pada kehadiran dihidrolipoil dehidrogenase. Akhirnya
flavoprotein tereduksi ini dioksidasi oleh NAD+, yang akhirnya memindahkan
ekuivalen pereduksi kepada rantai respirasi.
Asetil KoA + NADH + H+ + CO2Piruvat + NAD+ + KoA

Siklus asam sitrat


Siklus ini juga sering disebut sebagai siklus Krebs dan siklus asam trikarboksilat
dan berlangsung di dalam mitokondria. Siklus asam sitrat merupakan jalur
bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan protein.
Siklus asam sitrat merupakan rangkaian reaksi yang menyebabkan katabolisme
asetil KoA, dengan membebaskan sejumlah ekuivalen hidrogen yang pada
oksidasi menyebabkan pelepasan dan penangkapan sebagaian besar energi
yang tersedia dari bahan baker jaringan, dalam bentuk ATP. Residu KoA, asetat
aktif),asetil ini berada dalam bentuk asetil-KoA (CH3-CO suatu ester koenzim A.
Ko-A mengandung vitamin asam pantotenat.
Fungsi utama siklus asam sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama untuk
oksidasi karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini terjadi karena glukosa, asam
lemak dan banyak asam amino dimetabolisir menjadi asetil KoA atau
intermediat yang ada dalam siklus tersebut.
Siklus asam sitrat sebagai jalur bersama metabolisme karbohidrat, lipid dan
protein
(dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Selama proses oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk ekuivalen
pereduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron sebagai hasil kegiatan enzim
dehidrogenase spesifik. Unsur ekuivalen pereduksi ini kemudian memasuki
rantai respirasi tempat sejumlah besar ATP dihasilkan dalam proses fosforilasi
oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen (anoksia) atau kekurangan oksigen
(hipoksia) terjadi hambatan total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik
dalam bentuk bebas ataupun melekat pada permukaan dalam membran interna
mitokondria sehingga memfasilitasi pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke
enzim terdekat pada rantai respirasi, yang bertempat di dalam membran
interna mitokondria.

Lintasan detail Siklus Krebs (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Reaksi-reaksi pada siklus asam sitrat diuraikan sebagai berikut:
1. Kondensasi awal asetil KoA dengan oksaloasetat membentuk sitrat, dikatalisir
oleh enzim sitrat sintase menyebabkan sintesis ikatan karbon ke karbon di
antara atom karbon metil pada asetil KoA dengan atom karbon karbonil pada
59 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

oksaloasetat. Reaksi kondensasi, yang membentuk sitril KoA, diikuti oleh


hidrolisis ikatan tioester KoA yang disertai dengan hilangnya energi bebas
dalam bentuk panas dalam jumlah besar, memastikan reaksi tersebut selesai
dengan sempurna.
Sitrat + KoAAsetil KoA + Oksaloasetat + H2O
2. Sitrat dikonversi menjadi isositrat oleh enzim akonitase (akonitat hidratase)
yang mengandung besi Fe2+ dalam bentuk protein besi-sulfur (Fe:S). Konversi
ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu: dehidrasi menjadi sis-akonitat, yang
sebagian di antaranya terikat pada enzim dan rehidrasi menjadi isositrat.

Reaksi tersebut dihambat oleh fluoroasetat yang dalam bentuk fluoroasetil KoA
mengadakan kondensasi dengan oksaloasetat untuk membentuk fluorositrat.
Senyawa terakhir ini menghambat akonitase sehingga menimbulkan
penumpukan sitrat.
3. Isositrat mengalami dehidrogenasi membentuk oksalosuksinat dengan
adanya enzim isositrat dehidrogenase. Di antara enzim ini ada yang spesifik
NAD+, hanya ditemukan di dalam mitokondria. Dua enzim lainnya bersifat
spesifik NADP+ dan masing-masing secara berurutan dijumpai di dalam
mitokondria serta sitosol. Oksidasi terkait rantai respirasi terhadap isositrat
berlangsung hampir sempurna melalui enzim yang bergantung NAD+.
ketoglutarat + CO2 + NADH + H+ Oksalosuksinat Isositrat + NAD+
(terikat enzim)
Kemudian ketoglutarat yang juga dikatalisirterjadi dekarboksilasi menjadi
oleh enzim isositrat dehidrogenase. Mn2+ atau Mg2+ merupakan komponen
penting reaksi dekarboksilasi. Oksalosuksinat tampaknya akan tetap terikat
pada enzim sebagai intermediate dalam keseluruhan reaksi.
4. ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif melaluiSelanjutnya cara
yang sama dengan dekarboksilasi oksidatif piruvat, dengan kedua
keto.substrat berupa asam
Suksinil KoA + CO2 + NADH + H+ketoglutarat + NAD+ + KoA
Reaksi ketoglutarat dehidrogenase,tersebut yang dikatalisir oleh kompleks
juga memerlukan kofaktor yang idenstik dengan kompleks piruvat
dehidrogenase, contohnya TDP, lipoat, NAD+, FAD serta KoA, dan menghasilkan
pembentukan suksinil KoA (tioester berenergi tinggi). Arsenit menghambat
reaksi di atas sehingga menyebabkan penumpukan ketoglutarat.
5. Tahap selanjutnya terjadi perubahan suksinil KoA menjadi suksinat dengan
adanya peran enzim suksinat tiokinase (suksinil KoA sintetase).
Suksinat + ATP + KoASuksinil KoA + Pi + ADP
Dalam siklus asam sitrat, reaksi ini adalah satu-satunya contoh pembentukan
fosfat berenergi tinggi pada tingkatan substrat dan terjadi karena
ketoglutaratpelepasan energi bebas dari dekarboksilasi oksidatif cukup
memadai untuk menghasilkan ikatan berenergi tinggi disamping
P.pembentukan NADH (setara dengan 3
6. Suksinat dimetabolisir lebih lanjut melalui reaksi dehidrogenasi yang diikuti
60 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

oleh penambahan air dan kemudian oleh dehidrogenasi lebih lanjut yang
menghasilkan kembali oksaloasetat.
Fumarat + FADH2Suksinat + FAD
Reaksi dehidrogenasi pertama dikatalisir oleh enzim suksinat dehidrogenase
yang terikat pada permukaan dalam membrane interna mitokondria, berbeda
dengan enzim-enzim lain yang ditemukan pada matriks. Reaksi ini adalah satusatunya reaksi dehidrogenasi dalam siklus asam sitrat yang melibatkan
pemindahan langsung atom hydrogen dari substrat kepada flavoprotein tanpa
peran NAD+. Enzim ini mengandung FAD dan protein besi-sulfur (Fe:S). Fumarat
terbentuk sebagai hasil dehidrogenasi. Fumarase (fumarat hidratase)
mengkatalisir penambahan air pada fumarat untuk menghasilkan malat.
L-malatFumarat + H2O
Enzim fumarase juga mengkatalisir penambahan unsure-unsur air kepada ikatan
rangkap fumarat dalam konfigurasi trans.
Malat dikonversikan menjadi oksaloasetat dengan katalisator berupa enzim
malat dehidrogenase, suatu reaksi yang memerlukan NAD+.
oksaloasetat + NADH + H+L-Malat + NAD+
Enzim-enzim dalam siklus asam sitrat, kecuali alfa ketoglutarat dan suksinat
dehidrogenase juga ditemukan di luar mitokondria. Meskipun dapat
mengkatalisir reaksi serupa, sebagian enzim tersebut, misalnya malat
dehidrogenase pada kenyataannya mungkin bukan merupakan protein yang
sama seperti enzim mitokondria yang mempunyai nama sama (dengan kata lain
enzim tersebut merupakan isoenzim).
Energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat
Pada proses oksidasi yang dikatalisir enzim dehidrogenase, 3 molekul NADH dan
1 FADH2 akan dihasilkan untuk setiap molekul asetil-KoA yang dikatabolisir
dalam siklus asam sitrat. Dalam hal ini sejumlah ekuivalen pereduksi akan
dipindahkan ke rantai respirasi dalam membrane interna mitokondria (lihat
kembali gambar tentang siklus ini).
Selama melintasi rantai respirasi tersebut, ekuivalen pereduksi NADH
menghasilkan 3 ikatan fosfat berenergi tinggi melalui esterifikasi ADP menjadi
ATP dalam proses fosforilasi oksidatif. Namun demikian FADH2 hanya
menghasilkan 2 ikatan fosfat berenergi tinggi. Fosfat berenergi tinggi
selanjutnya akan dihasilkan pada tingkat siklus itu sendiri (pada tingkat
substrat) pada saat suksinil KoA diubah menjadi suksinat.
Dengan demikian rincian energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat
adalah:
1. Tiga molekul NADH, menghasilkan : 3 X 3P = 9P
2. Satu molekul FADH2, menghasilkan : 1 x 2P = 2P
3. Pada tingkat substrat = 1P
Jumlah = 12P
Satu siklus Krebs akan menghasilkan energi 3P + 3P + 1P + 2P + 3P = 12P.
Kalau kita hubungkan jalur glikolisis, oksidasi piruvat dan siklus Krebs, akan
dapat kita hitung bahwa 1 mol glukosa jika dibakar sempurna (aerob) akan
menghasilkan energi dengan rincian sebagai berikut:
1. Glikolisis : 8P
2. Oksidasi piruvat (2 x 3P) : 6P
3. Siklus Krebs (2 x 12P) : 24P
Jumlah : 38P
61 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Glikogenesis
Tahap pertama metabolisme karbohidrat adalah pemecahan glukosa (glikolisis)
menjadi piruvat. Selanjutnya piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Akhirnya
asetil KoA masuk ke dalam rangkaian siklus asam sitrat untuk dikatabolisir
menjadi energi.
Proses di atas terjadi jika kita membutuhkan energi untuk aktifitas, misalnya
berpikir, mencerna makanan, bekerja dan sebagainya. Jika kita memiliki glukosa
melampaui kebutuhan energi, maka kelebihan glukosa yang ada akan disimpan
dalam bentuk glikogen. Proses anabolisme ini dinamakan glikogenesis.
Glikogen merupakan bentuk simpanan karbohidrat yang utama di dalam tubuh
dan analog dengan amilum pada tumbuhan. Unsur ini terutama terdapat
didalam hati (sampai 6%), otot jarang melampaui jumlah 1%. Akan tetapi
karena massa otot jauh lebih besar daripada hati, maka besarnya simpanan
glikogen di otot bisa mencapai tiga sampai empat kali lebih banyak. -D-Glukosa
yang bercabang.Seperti amilum, glikogen merupakan polimer
Glikogen otot berfungsi sebagai sumber heksosa yang tersedia dengan mudah
untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri. Sedangkan glikogen hati sangat
berhubungan dengan simpanan dan pengiriman heksosa keluar untuk
mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya pada saat di antara waktu
makan. Setelah 12-18 jam puasa, hampir semua simpanan glikogen hati
terkuras habis. Tetapi glikogen otot hanya terkuras secara bermakna setelah
seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama.
Rangkaian proses terjadinya glikogenesis digambarkan sebagai berikut:
1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim
terjadi juga pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini dikatalisir oleh
heksokinase sedangkan di hati oleh glukokinase.
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi dengan
bantuan katalisator enzim fosfoglukomutase. Enzim itu sendiri akan mengalami
fosforilasi dan gugus fosfo akan mengambil bagian di dalam reaksi reversible
yang intermediatnya adalah glukosa 1,6-bifosfat.
Enz-P + Glukosa 1-fosfatEnz + Glukosa 1,6-bifosfat Enz-P + Glukosa 6fosfat
3. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk
membentuk uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzim
UDPGlc pirofosforilase.
UDPGlc + PPiUTP + Glukosa 1-fosfat
Uridin difosfat glukosa (UDPGlc) (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
4. Hidrolisis pirofosfat inorganic berikutnya oleh enzim pirofosfatase inorganik
akan menarik reaksi kea rah kanan persamaan reaksi
5. Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc membentuk ikatan
glikosidik dengan atom C4 pada residu glukosa terminal glikogen, sehingga
membebaskan uridin difosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim glikogen sintase.
Molekul glikogen yang sudah ada sebelumnya (disebut glikogen primer) harus
ada untuk memulai reaksi ini. Glikogen primer selanjutnya dapat terbentuk pada
62 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

primer protein yang dikenal sebagai glikogenin.


UDP + (C6)n+1UDPGlc + (C6)n
Glikogen Glikogen
Residu 4 untuk membentukglukosa yang lebih lanjut melekat pada posisi 1
rantai pendek yang diaktifkan oleh glikogen sintase. Pada otot rangka glikogenin
tetap melekat pada pusat molekul glikogen, sedangkan di hati terdapat jumlah
molekul glikogen yang melebihi jumlah molekul glikogenin.
6. Setelah rantai dari glikogen primer diperpanjang dengan penambahan
glukosa tersebut hingga mencapai minimal 11 residu 4glukosa, maka enzim
pembentuk cabang memindahkan bagian dari rantai 1 (panjang minimal 6
residu glukosa) pada rantai yang berdekatan untuk 6 sehingga membuat titik
cabang pada molekulmembentuk rangkaian 1 tersebut. Cabang-cabang ini
akan tumbuh dengan penambahan lebih lanjut glukosil dan pembentukan
cabang selanjutnya. Setelah jumlah residu1 terminal yang non reduktif
bertambah, jumlah total tapak reaktif dalam molekul akan meningkat sehingga
akan mempercepat glikogenesis maupun glikogenolisis.
Tahap-tahap perangkaian glukosa demi glukosa digambarkan pada bagan
berikut.
Biosintesis glikogen (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Tampak bahwa setiap penambahan 1 glukosa pada glikogen dikatalisir oleh
enzim glikogen sintase. Sekelompok glukosa dalam rangkaian linier dapat putus
dari glikogen induknya dan berpindah tempat untuk membentuk cabang. Enzim
yang berperan dalam tahap ini adalah enzim pembentuk cabang (branching
enzyme).
Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen harus
dipecah untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber energi. Proses ini
dinamakan glikogenolisis. Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari
glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Untuk memutuskan ikatan
glukosa satu demi satu dari glikogen diperlukan enzim fosforilase. Enzim ini 4
glikogen untukspesifik untuk proses fosforolisis rangkaian 1 menghasilkan
glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar molekul
glikogen dibuang secara berurutan sampai kurang 6.lebih ada 4 buah residu
glukosa yang tersisa pada tiap sisi cabang 1
(C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat(C6)n + Pi
Glikogen Glikogen
Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida
6dari satu cabang ke cabang lainnya sehingga membuat titik cabang 1 6
memerlukan kerja enzim enzim pemutusterpajan. Hidrolisis ikatan 1 cabang
(debranching enzyme) yang spesifik. Dengan pemutusan cabang tersebut,
maka kerja enzim fosforilase selanjutnya dapat berlangsung.
Tahap-tahap glikogenolisis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

63 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo

Glukoneogenesis
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi.
Maka tubuh adalah menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga
tak tersedia, barulah memecah protein untuk energi yang sesungguhnya protein
berperan pokok sebagai pembangun tubuh.
Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan
glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein.
Secara ringkas, jalur glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein
dijelaskan sebagai berikut:
1. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan
gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA
masuk dalam siklus Krebs. Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
2. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus
Krebs.

Ringkasan jalur glukoneogenesis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Lintasan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein. Perhatikan jalur


glukoneogenesis yaitu masuknya lipid dan asam amino ke dalam lintasan
(dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Glukoneogenesis dari bahan protein. Dalam hal ini protein telah dipecah
menjadi berbagai macam asam amino (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia
Harper)
Read more: http://askep-askeb.cz.cc/2010/01/metabolismekarbohidrat.html#ixzz0jtGnggUB
lakukan sepanjang hidup penderita.

64 Mineral-Biokimia-Progsus D3 Kebidanan di Dinkes Ponorogo