Anda di halaman 1dari 108

SEKRETARIAT JENDERAL

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


Jakarta, 2013

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Daftar Isi
Daftar Isi
Kata Pengantar
Bab 1. Pendahuluan
Bab 2. Pencapaian Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategi

2.1. Evaluasi Pencapaian Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategi

2.1.1. Misi 1: Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan
Perikanan

2.1.2. Misi 1: Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan
Perikanan

2.1.3. Misi 3: Memelihara Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan
Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

2.2. Evaluasi Pencapaian Program Pembangunan Kelautan dan Perikanan

2.2.1 Program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap

2.2.2 Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya

2.2.3 Program Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan

2.2.4 Program Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil

2.2.5 Program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

2.2.6 Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan
Perikanan

2.2.7 Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan
Perikanan

2.2.8 Program Pengembangan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan
Keamanan Hasil Perikanan

2.2.9 Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas
Aparatur KKP

2.2.10 Program Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan
Tugas Teknis Lainnya KKP

2
4
5
7
8

11
23
28
33
33
36
37
41
43
51
52
54
56
57

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Bab 3. Evaluasi Pelaksanaan Program Prioritas Nasional dan Capaian lainnya



3.1 Pelaksanaan Inpres Percepatan Prioritas Nasional

3.1.1 Pelaksanaan PN 1 : Reformasi Birokrasi dan
Tata Kelola

3.1.2 Pelaksanaan PN 4 : Penanggulangan Kemiskinan

3.1.3 Pelaksanaan PN 5 : Ketahanan Pangan

3.1.5 Pelaksanaan PN 9 : Pengelolaan Lingkungan Hidup

3.1.6 Pelaksanaan PN : One Map Policy

3.2 Capaian KKP Lainnya

3.2.2 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan

Ekonomi Indonesia Koridor Ekonomi (KE) Sulawesi

3.2.3 Pelaksanaan Minapolitan dan Industrialisasi

3.2.4 Pelaksanaan Blue Economy

3.2.5 Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender

3.2.6 Pelaksanaan Kerja Sama Internasional
Bab 4. Evaluasi Pelaksanaan Anggaran, Sumber Daya Manusia dan Peraturan Perundangan

4.1. Pelaksanaan Anggaran

4.2. Dukungan Sumber Daya Manusia (SDM)

4.3. Peraturan Perundangan
Bab 5. Penutup

5.1. Kesimpulan

5.2. Penutup

59
60
60
64
71
76
77
79

81
83
90
91
93
95
96
98
99
101
102
103

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Kata Pengantar
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang dijabarkan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan,
bahwa evaluasi pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) merupakan salah satu langkah
penting yang harus dilakukan. Hasil evaluasi pelaksanaan rencana
pembangunan akan memberikan informasi kinerja pembangunan,
khususnya pencapaian berbagai sasaran yang telah ditetapkan, permasalahan dan
kendala yang dihadapi, serta alternatif tindak lanjut yang diperlukan dalam perencanaan
pembangunan pada periode berikutnya.

Menindaklanjuti implementasi pelaksanaan RPJMN 2010-2014, Kementerian Kelautan dan


Perikanan telah menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.06/
MEN/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kelautan dan Perikanan
Tahun 2010-2014. Mempertimbangkan perubahan lingkungan strategis dalam pelaksanaan
pembangunan nasional dan pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010 sampai dengan
tahun 2012, KKP telah melakukan reviu terhadap Renstra dengan menetapkan visi, misi,
tujuan, sasaran strategis, Indikator Kinerja Utama, program dan kegiatan, serta anggaran yang
ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.15/MEN/2012
tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014.
Saat ini, pelaksanaan Renstra KKP telah berada pada tahun ke empat. Pembangunan
kelautan dan perikanan yang telah dilaksanakan selama ini telah membawa hasil yang
cukup menggembirakan. Berkat dukungan dan kerja keras dari seluruh jajaran, program
dan kegiatan pembangunan kelautan dan perikanan dapat mencapai kemajuan yang cukup
besar. Hal ini menjadi modal dasar untuk lebih mengembangkan pembangunan kelautan dan
perikanan di masa datang, sehingga sumber daya yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara
optimal dan berkelanjutan.
Semoga hasil evaluasi pelaksanaan Renstra KKP 2010-2014 dapat memberikan bahan
masukan bagi KKP dalam menyusun rencana pembangunan pada periode berikutnya
(Renstra 2015-2019).
Jakarta, Desember 2013
Sekretaris Jenderal

Sjarief Widjaja

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Bab 1.
Pendahuluan

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional, maka sesuai amanat


Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, telah disusun Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 yang ditetapkan melalui Peraturan
Presiden No. 5 Tahun 2010. Menindaklanjuti implementasi pelaksanaan
RPJMN 2010-2014 tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) telah menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor PER.06/MEN/2010 tentang Renstra KKP Tahun 2010-2014 dan
mempertimbangkan perubahan lingkungan strategis dalam pelaksanaan
pembangunan nasional dan pembangunan kelautan dan perikanan sejak
tahun 2010 sampai dengan tahun 2012, KKP telah melakukan reviu Renstra
dengan menetapkan visi, misi, tujuan, sasaran strategis, Indikator Kinerja
Utama, program dan kegiatan, serta anggaran yang ditetapkan melalui
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.15/MEN/2012
tentang Renstra KKP Tahun 2010-2014. Renstra KKP 2010-2014 tersebut
selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2013-2014.
Seiring dengan berjalannya waktu, pelaksanaan Renstra KKP pada
tahun 2013 telah berada pada tahun ke empat. Berbagai kebijakan telah
dilaksanakan dan tentu saja perlu dilihat seberapa jauh keberhasilan yang
telah dicapai. Dengan demikian, untuk mengetahui dan menilai capaian
yang telah dihasilkan perlu dilakukan evaluasi. Selain itu, hasil evaluasi juga
merupakan bahan masukan bagi pemerintah dalam menyusun rencana
pembangunan pada periode berikutnya (Renstra 2015-2019). Pelaksanaan
Evaluasi Renstra pada tahun 2013 ini juga merupakan amanat yang
tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun
2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan.

Secara umum, tingkat pencapaian hasil, dan kesesuaian arahan pencapaian


visi, misi, dan sasaran pembangunan kelautan dan perikanan telah sesuai
dengan yang telah ditetapkan di dalam Renstra KKP. Upaya yang sungguhsungguh perlu diteruskan dalam perumusan kebijakan dan program yang
disertai dengan kerja keras dalam pelaksanaannya. Dengan demikian
keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan dapat meningkatkan
kontribusi terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan dapat
dinikmati oleh seluruh masyarakat kelautan dan perikanan.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Bab 2.
Pencapaian Visi,
Misi, Tujuan dan
Sasaran Strategi

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

2.1.

Evaluasi Pencapaian Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategi


Visi pembangunan kelautan dan perikanan yang tertuang di dalam
Renstra KKP tahun 2010-2014 adalah Pembangunan Kelautan
dan Perikanan yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan Untuk
Kesejahteraan Masyarakat.
Melalui visi tersebut, diharapkan dapat terwujudnya pengelolaan
sumber daya kelautan dan perikanan yang dapat memberikan nilai
tambah terhadap produk kelautan dan perikanan sehingga memiliki
daya saing yang tinggi, dengan tetap memperhatikan kelestarian
sumber daya kelautan dan perikanan, yang pada gilirannya dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan.
Selama empat tahun pelaksanaan Renstra KKP banyak hal telah
dicapai melalui pembangunan kelautan dan perikanan untuk
mendukung pencapaian visi tersebut.
Indikator-indikator capaian umumnya menunjukkan target telah
tercapai dan sesuai dengan Renstra, namun demikian masih
terdapat indikator lainnya seperti pertumbuhan PDB Perikanan,
Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan nilai ekspor hasil perikanan masih
menghadapi kendala dalam pencapaian targetnya. Konsekuensinya
adalah dalam sisa satu tahun pelaksanaan Renstra ke depan perlu
upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak untuk merumuskan
kebijakan dan program pembangunan yang inklusif dan mendukung,
disertai kerja keras dalam pelaksanaan program-program prioritas
nasional. Dengan demikian keberhasilan dalam peningkatan
kesejahteraan akan dinikmati oleh seluruh masyarakat kelautan
dan perikanan. Untuk mengetahui pencapaian visi dan misi, tujuan
dan sasaran strategis Renstra, dilakukan evaluasi dengan kerangka
analisis seperti Gambar 1. Dari kerangka analisis ini dapat dilihat
bahwa pencapaian visi merupakan hasil dari pencapaian kinerja
misi-misi yang mendukungnya. Pencapaian misi ditentukan dari
hasil pencapaian sasaran strategis, sedangkan pencapaian sasaran
strategis merupakan agregat dari kinerja program dan kegiatan.
Pengukuran dalam rangka pengumpulan data kinerja yang hasilnya
akan memberikan gambaran keberhasilan dan kegagalan dalam
pencapaian tujuan dan sasaran. Dari hasil pengumpulan data
selanjutnya dilakukan kategorisasi kinerja (penentuan posisi)
sesuai dengan tingkat capaian kinerja yaitu:

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

No.

Tingkat
Capaian Kinerja

Rentang Nilai

1.

Sangat Baik

> 100

4.

Kurang

<50

2.

3.

Baik

Cukup

80 100
50 79

Kode
Biru

Hijau

Kuning
Merah

Melalui pembangunan kelautan dan perikanan diharapkan pengelolaan sumber daya


kelautan dan perikanan dapat memberikan nilai tambah terhadap produk kelautan
dan perikanan sehingga memiliki daya saing yang tinggi, dengan tetap memperhatikan
kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan, yang pada gilirannya dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan.

10

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Visi
Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Berdaya Saing dan
Berkelanjutan Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Misi
Mengoptimalkan Pemanfaatan
Sumber Daya Kelautan dan
Perikanan

Misi
Meningkatkan Nilai Tambah dan
Daya Saing Produk Kelautan dan
Perikanan

Misi
Memelihara Daya Dukung dan
Kualitas Lingkungan Sumber
Daya Kelautan dan Perikanan

Tujuan
Meningkatnya Produksi dan
Produktivitas Usaha Kelautan dan
Perikanan

Tujuan
Berkembangnya Diversifikasi
dan Pangsa Pasar Produk Hasil
Kelautan dan Perikanan

Tujuan
TerwujudnyaPengelolaan Sumber
Daya Kelautan dan Perikanan
secara Berkelanjutan

Sasaran Strategis
Meningkatnya peran sektor
kelautan dan perikanan
terhadap pertumbuhan
ekonomi nasional;
Meningkatnya kapasitas
sentra-sentra produksi
kelautan dan perikanan yang
memiliki komoditas unggulan;
Meningkatnya pendapatan.

Sasaran Strategis
Meningkatnya ketersediaan
hasil kelautan dan perikanan;
Meningkatnya branding
produk perikanan dan market
share di pasar luar negeri;
Meningkatnya mutu dan
keamanan produk perikanan
sesuai standar.

Sasaran Strategis
Terwujudnya pengelolaan
konservasi kawasan secara
berkelanjutan;
Meningkatnya nilai ekonomi
pulau-pulau kecil;
Meningkatnya luas wilayah
perairan Indonesia yang
diawasi oleh aparatur
pengawas Kementerian
Kelautan dan Perikanan.

IKU
Meningkatnya persentase
pertumbuhan Produk
Domestik Bruto (PDB)
perikanan.
Meningkatnya produksi
perikanan tangkap, perikanan
budidaya, dan garam rakyat.
Meningkatnya Nilai Tukar
Nelayan/Pembudidaya Ikan.

IKU
Meningkatnya konsumsi ikan
per kapita.
Meningkatnya nilai ekspor
hasil perikanan.
Menurunnya jumlah kasus
penolakan ekspor hasil
perikanan per negara mitra

IKU
Luas Kawasan Korservasi
Perairan yang dikelola secara
berkelanjutan.
Jumlah pulau-pulau kecil,
termasuk pulau-pulau kecil
terluar yang dikelola.
Persentase wilayah perairan
bebas illegal fishing dan
kegiatan yang merusak SDKP.

Gambar 1. Kerangka Analisis Evaluasi Renstra KKP

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

2.1.1.

11

Misi 1: Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan


Misi
Mengoptimalkan Pemanfaatan
Sumber Daya Kelautan dan
Perikanan
Tujuan
Meningkatnya Produksi dan
Produktivitas Usaha Kelautan dan
Perikanan
Sasaran Strategis
Meningkatnya peran sektor
kelautan dan perikanan
terhadap pertumbuhan
ekonomi nasional;
Meningkatnya kapasitas
sentra-sentra produksi
kelautan dan perikanan yang
memiliki komoditas unggulan;
Meningkatnya pendapatan.
IKU
Meningkatnya persentase
pertumbuhan Produk
Domestik Bruto (PDB)
perikanan.
Meningkatnya produksi
perikanan tangkap, perikanan
budidaya, dan garam rakyat.
Meningkatnya Nilai Tukar
Nelayan/Pembudidaya Ikan.

Gambar 2. Struktur Misi Mengoptimalkan Pemanfaatan


Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

12

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Tabel 1. Capaian IKU Misi ke-1 Tahun 2010-2013

No.

Indikator Kinerja Utama

2010

2011

2012

2013

% Capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

6.2

7.0

6.5

6.90

95,17

7,25

Target
Renstra

Pertumbuhan Produk
Domestik Bruto (PDB)
Perikanan (%/thn)

Produksi Perikanan (juta ton)

11,66

13,64

15,50

19,57

87,40

22,39

Perikanan tangkap

5,38

5,71

5,83

5,86

106,60

5,50

Perikanan budidaya

6,28

7,93

9,67

13,70

81,13

16,89

2,02

1,04

31,52

3,30

105,56

106,24

105,37

105,48

94,18

112

Garam rakyat
3

1)

Nilai Tukar Nelayan/


Pembudidaya Ikan

Produk Domestik Bruto (PDB) Perikanan


Kekuatan ekonomi perikanan dicerminkan dari PDB Perikanan yang memiliki
peran strategis dalam memberikan sumbangan terhadap PDB nasional. PDB
Perikanan dalam setahun terakhir meningkat, hal tersebut menggambarkan
bahwa kemampuan sumber daya perikanan patut menjadi pertimbangan
untuk diperhitungkan dalam perekonomian nasional. Dalam periode 20102013, capaian pertumbuhan PDB Perikanan selalu berada di atas PDB
Pertanian dan PDB Nasional dan merupakan rata-rata tertinggi dalam empat
tahun terakhir dalam kelompok pertanian secara umum. Hal ini menunjukkan
bahwa sektor perikanan memegang peranan strategis dalam mendorong
pertumbuhan pada PDB kelompok pertanian secara umum, maupun pada
PDB Nasional.
Pencapaian indikator kinerja pertumbuhan PDB perikanan sebesar 6,90% di
tahun 2013 ini dibandingkan dengan target jangka menengah sebagaimana
tercantum pada Renstra 2010-2014, maka pencapaian pada indikator kinerja
ini telah mencapai 95,17% dibandingkan dengan target sampai dengan tahun
2014 sebesar 7,25%.

Dalam periode
2010-2013, capaian
pertumbuhan PDB
Perikanan selalu
berada di atas
PDB Pertanian
dan PDB Nasional
dan merupakan
rata-rata tertinggi
dalam empat tahun
terakhir dalam
kelompok Pertanian
secara umum.

Gambar 3. Grafik Pertumbuhan PDB Perikanan Tahun 2010-2013

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

2)

13

Produksi Perikanan
Produksi perikanan sampai dengan tahun 2013 yang berasal dari kegiatan
penangkapan dan budidaya mencapai 19,57 juta ton. Dari total produksi
tersebut, perikanan budidaya menyumbang 71,52% sedangkan perikanan
tangkap menyumbang sebesar 28,48%. Laju pertumbuhan rata-rata
produksi perikanan sejak tahun 2010 mencapai 18,94% per tahun, dimana
pertumbuhan produksi perikanan budidaya sebesar 29,99% per tahun, jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan perikanan tangkap yang
hanya sebesar 2,95% per tahun. Perkembangan volume produksi perikanan
selama tahun 2010-2013 sebagaimana tabel berikut.
Tabel 2. Volume Produksi Perikanan Tahun 2010-2013
Tahun
Rincian
Total

2010

2011

2012

2013*)

Satuan : Ton

Kenaikan
Rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

11.662.342

13.643.234

15.504.747

19.566.539

18,94

20,01

Perikanan Tangkap

5.384.418

5.714.271

5.829.194

5.863.170

2,95

6,08

Perikanan Laut

5.039.446

5.345.729

5.435.633

5.458.490

2,72

Perairan Umum

344.972

368.542

393.561

404.680

5,47

Perikanan Budidaya

6.277.924

7.928.963

9.675.553

13.703.369

29,99

13,93

Budidaya Laut

3.514.702

4.605.827

5.769.737

7.749.338

30,21

1,70

Budidaya Payau

1.416.038

1.602.748

1.756.799

2.323.626

18,35

8,20

Budidaya Tawar

1.347.184

1.720.388

2.149.016

3.630.406

40,52

4,03

Ket : *) = Angka sementara

25,00
19,56

20,00
15,00

15,50
13,65

20,00
15,00

11,66

10,00

10,00

5,00

5,00

0,00

2 010

2011

2012

2013

Juta ton

25,00

Juta ton

Produksi
perikanan sampai
dengan tahun
2013 mencapai
19,56 juta ton.
Perikanan budidaya
menyumbang
71,52% sedangkan
perikanan tangkap
menyumbang
sebesar 28,48%.
Laju pertumbuhan
rata-rata produksi
perikanan sejak
tahun 2010
mencapai 18,94%
per tahun.

Perikanan Budidaya (rumput laut)


Perikanan Budidaya (Ikan/Udang)
Perikanan Tangkap
Total Produksi

0,00

Gambar 4. Grafik Produksi Perikanan Tahun 2010-2013

Capaian jumlah produksi perikanan tangkap tahun 2013 sebesar 5.863.170


ton atau 100,02% dari target sebesar 5.862.170 ton. Capaian tersebut terdiri
dari produksi perikanan tangkap di laut sebesar 5.458.490 ton (93,10%)

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

dan perairan umum daratan sebesar 404.680 ton (6,90%) dengan laju
kenaikan rata-rata sejak tahun 2010-2013 mencapai 2,90% per tahun.
Volume produksi perikanan tangkap sudah mencapai target yang
ditetapkan pada Renstra KKP 2010-2014 sebesar 106,60%. Peningkatan
volume produksi diiringi oleh peningkatan nilai produksi sampai dengan
tahun 2013 mencapai Rp85,12 triliun dengan kenaikan rata-rata dari
tahun 2010-2013 sebesar 12,68%. Nilai produksi perikanan tangkap
juga memperlihatkan hasil yang sangat baik yaitu telah melampaui dari
target yang telah ditetapkan pada Renstra KKP sebesar 103,03%. Jika
dibandingkan pertumbuhan volume produksi terhadap nilai sejak tahun
2010-2013, maka pertumbuhan nilai lebih tinggi dari pada pertumbuhan
volume. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara umum komoditas
perikanan tangkap mengalami peningkatan kualitas yang selanjutnya
menyebabkan kenaikan harga.

2010

5.435.633

5.863.170

5.811.510
2011

Total2013
Produksi
Ket : *) Angka sementara sd TW IV Tahun

2012
P.Laut

404.680

393.561

1.000.000
-

368.542

2.000.000

344.972

3.000.000

5.345.729

4.000.000

5.714.271

5.039.446

5.000.000

5.458.490

6.000.000

5.384.418

14

2013*)

PUD

Gambar 5. Grafik Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2010-2013

Meningkatnya volume produksi perikanan tangkap, pada dasarnya


didorong oleh semakin tertib dan berkualitasnya pendataan statistik
perikanan tangkap, disamping kegiatan dalam rangka pemulihan sumber
daya ikan dan lingkungannya melalui pemacuan stok dan penyediaan
rumah ikan serta program lain yang mendukung peningkatan upaya
penangkapan seperti pengembangan sarana (penyediaan kapal Inka
Mina) dan prasarana (pembangunan/pengembangan pelabuhan
perikanan). Sejalan dengan hal ini upaya-upaya tersebut didukung pula
oleh regulasi yang mewajibkan kapal-kapal perikanan mendaratkan
hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan, implementasi log book dan
penerapan sertifikasi hasil tangkapan ikan.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Peningkatan volume produksi perikanan ini juga tidak terlepas dari


dukungan pengawasan terhadap upaya pencegahan praktek illegal
fishing di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dan kegiatan yang
merusak sumber daya kelautan dan perikanan, melalui serangkaian
kegiatan diantaranya operasi kapal pengawas yang semakin meningkat
seiring dengan penegakan hukumnya. Saat ini upaya pengelolaan
penangkapan ikan di laut lebih diarahkan pada pengendalian dan
penataan faktor produksi untuk menghasilkan pemanfaatan yang
berkesinambungan. Meskipun demikian, peningkatan produksi
perikanan tangkap masih dapat dilakukan di perairan umum
daratan melalui pengembangan Culture Based Fisheries (perikanan
tangkap berbasis budidaya). Pertumbuhan penangkapan ikan di laut
disamping dibatasi karena faktor tingkat pemanfaatan yang sudah
mendekati Maximum Sustainable Yield (MSY), juga dipengaruhi oleh
faktor perubahan iklim serta peraturan perundangan yang berlaku di
Regional Fisheries Management Organization (RFMO).
Perkembangan produksi perikanan budidaya sejak tahun 2010
pertumbuhannya jauh lebih tinggi dibanding perikanan tangkap.
Tingginya peningkatan produksi budidaya ini dipicu oleh
berkembangnya usaha budidaya laut, terutama komoditas rumput
laut. Disamping itu meningkatnya jumlah lahan dan pelaku usaha
di bidang budidaya juga mempengaruhi pertumbuhan produksi
budidaya sepanjang tahun 2010-2013.

Capaian jumlah produksi perikanan budidaya sampai dengan tahun


2013 sebesar 13,70 juta ton dengan kenaikan rata-rata sejak tahun
2010-2013 sebesar 29,99%. Jika dibandingkan dengan target Renstra
KKP, maka pencapaian pada indikator kinerja ini telah mencapai
81,13%. Produksi perikanan budidaya air laut telah mencapai
75,32% dari target Renstra, produksi perikanan budidaya air payau
telah melampaui target Renstra yaitu mencapai 114,90%, sedangkan
produksi perikanan budidaya air tawar telah mencapai 79,26% dari
target Renstra.
Apabila dilihat dari volume produksi perikanan budidaya menurut
komoditas, maka perkembangan produksi rumput laut masih tetap
mendominasi produksi perikanan budidaya yaitu 2,67 juta ton pada
tahun 2010 meningkat menjadi 8,18 juta ton atau mengalami kenaikan
rata-rata per tahunnya sebesar 29,99% pada tahun 2013. Namun jika
dilihat dari persentase kenaikan rata-rata per tahunnya dari tahun
2010-2013, produksi patin adalah yang tertinggi dibandingkan dengan
komoditas lainya, mencapai 95,57%, disusul dengan komoditas lele

15

16

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

47,21% dan rumput laut yang mencapai 29,99%, dengan data selengkapnya
terlihat pada tabel dibawah.

Tabel 3. Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2010-2013 berdasarkan komoditas unggulan


2010
No

Komoditas

Total

5.376.200

Rumput Laut

2.672.800

Catfish

Target

2011
Capaian

2012

2013

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target

Capaian

Target

Capaian

Target

Capaian

6.277.923

6.847.500

7.928.962

9.415.700

9.675.532

1.1632.122

13.703.369

29.99

3.915.016

3.504.200

5.170.201

5.100.000

6.514.854

6.500.000

8.181.654

27.88

495.600

390.699

749.000

566.844

1.146.000

788.217

1.450.000

1.731.233

67.93

Patin

225.000

147.888

383.000

229.267

651.000

347.000

750.000

972.778

95.57

Lele

270.600

242.811

366.000

337.577

495.000

441.217

700.000

758.455

47.21

Nila

491.800

464.191

639.300

567.078

850.000

695.063

1.200.000

1.110.810

34.85

Bandeng

349.600

421.757

419.000

467.449

503.400

518.939

700.000

667.116

16.80

Udang

400.300

380.972

460.000

400.386

529.000

415.703

608.000

619.400

19.31

Mas

267.100

282.695

280.400

332.206

300.000

374.366

500.000

340.863

7.09

Gurame

40.300

56.889

42.300

64.252

44.400

84.681

125.000

86.773

15.74

Kakap

5.000

5.738

5.500

5.236

6.500

6.198

7.000

7.504

10.23

Kerapu

7.000

10.398

9.000

10.580

11.000

11.950

11.000

14.400

11.73

10

Lainnya

646.700

349.568

738.800

344.730

925.400

265.561

531.122

943.616

76.99

Produksi udang dari tahun 2010-2013 mengalami kenaikan rata-rata per


tahun sebesar 19,31%. Terobosan yang dilakukan, khusus untuk peningkatan
produksi udang adalah (i) pengembangan tambak percontohan (demfarm)
yang diharapkan dapat membangkitkan semangat serta minat pembudidaya
untuk melakukan budidaya udang; (ii) rehabilitasi saluran tersier dengan
tujuan untuk mempermudah pembudidaya dalam mendapatkan pasokan air
budidaya; (ii) bantuan sarana budidaya udang yang merupakan stimulus bagi
pembudidaya untuk meningkatkan usaha budidaya udang; (iv) melakukan
berbagai kerja sama dengan Kementerian/Lembaga lainnya untuk melakukan
pembangunan prasarana pendukung usaha budidaya di sentra-sentra
budidaya udang serta kerja sama dengan perbankan untuk mempermudah
pembudidaya dalam mendapatkan permodalan; (v) pengembangan pola
budidaya dengan mitra dan pendampingan teknologi baik oleh mitra maupun
oleh UPT DJPB.

Capaian kinerja produksi kerapu dari tahun 2010-2013 menunjukkan kinerja


yang cukup bagus ditandai dengan kenaikan produksi rata-rata dari tahun
20102013 sebesar 11,73%, dan telah melebihi target untuk setiap tahunnya.
Pencapaian produksi yang cukup baik ini dikarenakan (i) penyediaan benih
kerapu yang bermutu di UPT dan unit hatchery skala rumah tangga (HSRT),
serta (ii) Jaminan harga pemasaran yang cukup baik, dengan harga kerapu
yang cukup tinggi.
Produksi kakap dari tahun 2010-2013 menunjukkan rata-rata peningkatan
10,23% per tahunnya. Pada tahun 2011 dan 2012 produksi kakap sempat

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

17

mengalami penurunan capaian yaitu 95,20% dan 95,35% dari target tahunan.
Hal ini dikarenakan penyediaan benih kakap yang masih mengalami kesulitan
serta tingginya modal usaha budidaya air laut yang diperlukan sehingga
jumlah pembudidaya kakap juga terbatas, untuk itu masih diperlukan upaya
lebih dalam mencapai target budidaya di tahun 2014.

Rata-rata kenaikan produksi bandeng dari tahun 2010-2013 sebesar 16,80%,


dengan capaian yang melebihi target pada setiap tahunnya (2010-2012).
Namun pada tahun 2013 capaian produksi bandeng tidak mencapai target
tahunan yaitu hanya mencapai 95,30%.

Produksi patin dari tahun 2010-2012 tidak mencapai target tahunan, hal ini
dikarenakan terbatasnya serapan pasar yang mengakibatkan pengembangan
patin masih cukup sulit. Upaya untuk membangkitkan produksi patin terus
dilakukan melalui sinergi dengan unit kerja lain, terutama dalam upaya
diversifikasi olahan patin, pemasaran, serta pengembangan unit pengolahan
patin. Upaya diatas pada tahun 2013 telah menunjukkan hasil yang signifikan,
yaitu produksi patin melebihi target tahunan yakni mencapai 129,70%.

Produksi nila dari tahun 2010-2013 mengalami kenaikan yang cukup


signifikan dengan rata-rata 34,85%, namun produksi ini masih lebih rendah
dari target tahunan. Tren persentase capaian juga cenderung menurun
dari 94,39% pada tahun 2010, menurun menjadi 88,7% di tahun 2011 dan
81,77% di tahun 2012. Produksi nila diprediksikan akan sulit tercapai di
tahun 2014 bila melihat dari data 2013 yang mencapai 92,57% dari target.
Berbagai upaya untuk peningkatan komoditas nila akan terus dilakukan
melalui (i) pengembangan gerakan minapadi, (ii) pengembangan budidaya
nila melalui intensifikasi dengan bioflok dan running water system; serta (iv)
ekstensifikasi melalui kegiatan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan bidang
Perikanan Budidaya (PUMP-PB).
Capaian produksi ikan mas menunjukkan kinerja yang baik dengan
peningkatan produksi rata-rata dari tahun 2010-2013 sebesar 7,09% dan
capaian produksi diatas 100% dari target tahunan. Pencapaian yang cukup
tinggi ini didorong oleh kegiatan budidaya ikan mas melalui minapadi,
penerapan running water system, serta paket bantuan PUMP-PB.

Rata-rata kenaikan produksi lele dari tahun 2010-2013 meningkat sebesar


47,21%, namun demikian produksi lele masih dibawah dari target tahunan
pada tahun 2010-2012, hal ini dikarenakan margin keuntungan budidaya
lele yang relatif kecil disebabkan harga pakan lele yang mahal. Kondisi diatas
mengakibatkan pertumbuhan budidaya lele tidak setinggi target produksi
dalam Renstra. Pengembangan lele akan terus ditingkatkan melalui (i)
pengembangan budidaya secara intensifikasi dengan bioflok untuk efisiensi
pakan; (ii) penggunaan teknologi budidaya lele dengan terpal; dan (iii)
ekstensifikasi melalui kegiatan PUMP-PB. Upaya diatas pada tahun 2013 telah

18

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

menunjukkan hasil yang signifikan, yaitu produksi lele sesuai target tahunan
yang mencapai 108,35%.

Produksi gurame tahun 2010-2013 menunjukkan kinerja yang sangat bagus,


dengan kenaikan rata-rata per tahun sebesar 15,74%, dan capaian setiap
tahunnya jauh diatas target. Jumlah produksi gurame yang tinggi dikarenakan
semakin tingginya minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan gurame,
serta segmentasi usaha budidaya gurame yang memberikan keuntungan
cukup signifikan. Namun pada tahun 2013 target tahunan produksi gurame
tidak tercapai.

Produksi rumput laut memberikan kontribusi yang paling besar terhadap


jumlah total produksi perikanan budidaya laut serta produksi secara
keseluruhan, dengan produksi tahun 2010-2013 diatas 60% dari total
produksi setiap tahunnya. Kenaikan produksi rata-rata dari tahun 20102013 adalah 27,88%. Produksi tahunan rumput laut juga melebihi target per
tahunnya. Beberapa hal yang mendasari tingginya pencapaian komoditas
ini karena budidaya rumput laut mempunyai masa pemeliharaan yang
cukup singkat yaitu 45 hari sehingga perputaran modal usaha dapat lebih
cepat, serta cara budidaya yang mudah. Keuntungan lainnya adalah modal
kerja yang relatif kecil (hanya Rp6 juta), penggunaan teknologi yang relatif
sederhana, dan peluang pasar yang masih terbuka lebar mengingat rumput
laut merupakan bahan baku untuk beberapa industri, seperti biofuel, agaragar, karaginan, kosmetik, obat-obatan dan lain-lain.
Sedangkan produksi ikan budidaya komoditas lainnya seperti sidat, gabus,
toman, jelawat, betutu, mujair, sepat siam mengalami kenaikan rata-rata
produksi per tahun sejak 2010-2013 mencapai 76,99%.

Volume produk olahan hasil perikanan selama kurun waktu 4 tahun terakhir,
mengalami peningkatan dari 4,20 juta ton pada tahun 2010 menjadi 5,00 juta
ton pada tahun 2013 atau mengalami peningkatan rata-rata sebesar 6,01%
per tahun.

Volume produk
olahan hasil
perikanan selama
kurun waktu 4
tahun terakhir,
mengalami
peningkatan dari
4,20 juta ton pada
tahun 2010 menjadi
5,00 juta ton
pada tahun 2013
atau mengalami
peningkatan ratarata sebesar 6,01%
per tahun.

Tabel 4. Produksi Olahan, 2010-2013


Rincian
Volume
(Juta Ton)

Tahun

Pertumbuhan (%)

2010

2011

2012

2013*

2010-2013

2012-2013

4,20

4,58

4,83

5,00

6,01

3,51

Keterangan: *) Angka perkiraan

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

19

Capaian produk olahan hasil perikanan sangat ditentukan oleh banyak faktor,
seperti volume produksi perikanan tangkap dan budidaya serta keberadaan
Unit Pengolahan Ikan (UPI). Pertumbuhan produk olahan hasil perikanan
juga tidak terlepas dari berbagai upaya yang telah dilakukan, seperti fasilitasi
sarana dan prasarana sistem rantai dingin dan alat pengolahan untuk
menjaga kualitas bahan baku, menjamin stock dan untuk meningkatkan
nilai tambah. Hal ini signifikan, sebab apabila bahan baku tidak bagus maka
pertumbuhan produk olahan hasil perikanan tidak tercapai. Disamping itu,
telah diupayakan pula pengembangan produk olahan secara terus menerus
ke arah diversifikasi produk olahan hasil perikanan. Selanjutnya dilakukan
juga peningkatan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan
melalui kegiatan pembinaan Program Manajemen Mutu Terpadu (PMMT)
berdasarkan konsepsi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan
penerapan traceability di UPI, yang tidak hanya ditujukan bagi para pelaku
usaha, namun juga pelatihan terhadap petugas mutu yang ada di daerah
melalui kegiatan apresiasi pembina mutu daerah.
Untuk dapat meningkatkan utilitas serta kapasitas produksi, baik bagi
industri pengolahan hasil perikanan skala besar maupun Usaha Mikro Kecil
dan Menengah (UMKM), perlu didukung dengan penyediaan bahan baku yang
memadai. Disamping itu untuk industri pengolahan hasil perikanan skala
kecil masih tergantung kepada pasokan bahan baku, baik dari penangkapan
maupun pembudidaya. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, pada
musim dan daerah tertentu, tambahan pasokan bahan baku diperoleh melalui
importasi. Berbagai upaya dilakukan melalui fasilitasi pertemuan antara
pelaku usaha pengolahan dengan nelayan atau pembudidaya, serta kebijakan
terkait usaha perikanan tangkap yang mewajibkan pelaku usaha penangkapan
baik asing atau swasta nasional untuk membangun atau bekerja sama dengan
unit pengolahan hasil perikanan di dalam negeri, sehingga diharapkan
industri pengolahan hasil perikanan, baik skala besar maupun UMKM, dapat
terpenuhi kebutuhan bahan bakunya dan meningkat utilitasnya. Kedepan
harapan pemenuhan bahan baku industri pengolahan ikan disederhanakan
pada keberhasilan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN). Melalui SLIN daerah
sentra produksi dihubungkan dengan sentra pengolahan.

Dalam rangka meningkatkan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan,


maka pembinaan terhadap UPI dalam penerapan Sanitation Standard
Operating Procedures (SSOP), Good Manufacturing Practices (GMP) dan HACCP
terus dilakukan. Hasil dari pembinaan tersebut, diharapkan UPI minimal
dapat memenuhi persyaratan dasar kelayakan pengolahan, yang dibuktikan
dengan kepemilikan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP). Kelayakan dasar
UPI merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan daya saing
produk perikanan.

20

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Volume produksi garam rakyat pada tahun 2010-2011 tidak termasuk


indikator kinerja utama KKP namun seiring dengan diimplementasikannya
hasil reviu renstra tahun 2012, maka indikator ini mulai tahun 2012 dijadikan
salah satu indikator kinerja. Sesuai Renstra, ditargetkan produksi garam
nasional pada tahun 2012 dapat mencapai 1.320.000 ton, dan hingga tanggal
akhir musim tahun 2012 produksi garam nasional mencapai 2.978.616,10
ton yang terdiri dari 2.020.109,70 ton hasil produksi Kelompok Usaha Garam
Rakyat (KUGAR), produksi garam rakyat non PUGAR sebesar 453.606,40
ton, PT Garam 385.000 ton, dan sisa impor tahun 2012 sebesar 119.900
ton. Sementara estimasi kebutuhan garam konsumsi tahun 2012 sebesar
1.440.000 ton. Sehingga produksi garam nasional sudah surplus sebanyak
1.538.616,10 ton. Surplus garam sebesar 1.538.616,10 ton kemudian dapat
dijadikan stok garam nasional pada semester I (Januari-Juli) Tahun 2013.
Dengan demikian pada tahun 2012, Indonesia telah berhasil memenuhi target
Swasembada Garam Konsumsi sehingga Indonesia perlu menghentikan
impor garam.
Produksi garam pada tahun 2013, berhasil mencapai kembali swasembada
garam konsumsi, sehingga Indonesia tidak mengimpor garam konsumsi
karena terdapat surplus garam konsumsi sebesar 0,52 juta ton.

Sebagai Negara kepulauan yang


dikelilingi kurang lebih dua
pertiga luas laut, sangat wajar
jika pemenuhan kebutuhan
pokok garam nasional
cukup dari dalam negeri.
Sebuah kerja keras melalui
Program terobosan, PUGAR
(Pemberdayaan Usaha Garam
Rakyat) membuktikan, hanya
dalam waktu singkat produksi
garam nasional telah jauh
melampaui target domestik.
Tak hanya itu pula, PUGAR
secara sistematis mampu
meningkatkan daya produksi
dan daya saing ribuan petani
garam local ke tingkat global.
PUGAR telah menerapkan
Teknologi Ulir Filter (TUF) guna
meningkatkan produktivitas dan
kualitas garam. Hasilnya adalah
garam yang lebih bersih, putih
dan kandungan Na Cl mencapai
97,4%, serta produktivitas
120 ton/ha. Keberhasilan ini
dikembangkan di beberapa
daerah produsen garam.

Tabel 5. Neraca Garam Nasional Tahun 2012


dan 2013
Uraian Neraca Garam Nasional Tahun 2012
Kebutuhan Garam Konsumsi

Kebutuhan Semester II / 2012


Kebutuhan Semester I / 2013
Produksi / Stok Garam
Garam Rakyat
- PUGAR

- NON PUGAR

PT. Garam

Sisa Impor Garam


Surplus

Ton
1.440.000
720.000
720.000

2.978.616
2.473.716
2.020.109
453.606
385.000
119.900

1.538.616

Catatan:
1) Realisasi Impor Garam Konsumsi Tahun 2012 sebesar
495.073 ton
2) Realisasi Impor Garam Industri sampai dengan 12
Desember 2012 sebesar 1.526.187 ton (kebutuhan garam
industri sebesar 1.800.000 ton)

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Uraian Neraca Garam Nasional Tahun 2013

1.961.308,49

Produksi tahun 2013

1.319.607,54

641.700,95

- Petambak PUGAR

1.041.472,55

- Petambak NON PUGAR

122.134,99

- PT. Garam

156.000,00

Kebutuhan Garam Konsumsi

1.440.000,00

Surplus

521.308,49

Sisa Impor Garam

3)

Ton

Pasokan tahun 2013

Sisa produksi tahun 2012

21

119.900

Surplus

1.538.616

Nilai Tukar Nelayan

Nilai Tukar Nelayan (NTN) merupakan perbandingan antara Indeks harga yg


diterima nelayan/pembudidaya ikan (It) dengan Indeks harga yang dibayar/
dikeluarkan oleh nelayan/pembudidaya (Ib), untuk konsumsi rumah
tangganya dan keperluan dalam memproduksi produk perikanan. NTN
tersebut mencakup gabungan dua usaha perikanan yaitu penangkapan dan
pembudidayaan ikan.

NTN merupakan salah satu IKU dalam pelaksanaan pembangunan kelautan


dan perikanan yang dilaksanakan oleh KKP. NTN dapat dijadikan sebagai
indikator dini dalam rangka penetapan kebijakan terkait dengan upaya
peningkatan kesejahteraan nelayan/ pembudidaya ikan karena data NTN
dapat disajikan bulanan berdasarkan hasil pemantauan terhadap hargaharga di tingkat nelayan/pembudidaya ikan dan harga-harga yang dibayar
nelayan/pembudidaya ikan untuk memenuhi keperluan rumah tangganya
dan proses produksinya.
106,24

105,56
2010

2011

2012

105,37

2013

105,48

Gambar 6. Nilai Tukar Nelayan/Pembudidaya Ikan Tahun 2010-2013


Berdasarkan hasil perhitungan BPS tahun 2010-2013, rata-rata nilai NTN
berkisar 105-106. Nilai tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 106,24.
Dibandingkan dengan Nilai Tukar Petani (NTP), NTN/NTPi masih berada di
atas NTP. Fluktuasi NTN/NTPi salah satunya dipengaruhi faktor cuaca, indeks

22

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

konsumsi rumah tangga dan indeks biaya produksi, serta kenaikan inflasi.
Namun demikian nilai NTN secara rata-rata dan bulanan masih di atas 100,
artinya nelayan masih dapat menyimpan hasil pendapatan yang diperoleh
dari kegiatan penangkapan dan pembudidayaan ikan setelah digunakan
untuk memenuhi kebutuhan operasional dan hidup sehari-harinya. Namun,
berdasarkan persentase perkembangan NTN dalam 4 tahun terakhir (20102014) yang cenderung berfluktuasi dengan peningkatan tertinggi 0,64%
pada NTN tahun 2011 maka diproyeksi NTN pada tahun-tahun berikutnya
tidak akan meningkat diatas 1% yang artinya target Renstra sulit tercapai
jika tidak ada langkah-langkah signifikan untuk menekan biaya produksi bagi
rumah tangga nelayan/pembudidaya ikan. Kenaikan biaya produksi terutama
untuk usaha pembudidaya ikan terutama disebabkan meningkatnya hargaharga obat-obatan, pupuk, pakan dan sewa lahan. Sedangkan untuk nelayan
peningkatan biaya produksi relatif kecil (dibawah 1%), umumnya terjadi
pada harga pelumas, sewa motor tempel, ongkos angkut dan biaya pembuatan
jaring insang.
Dibandingkan dengan Nilai Tukar Petani (NTP), NTN/NTPi masih berada di atas NTP.
Fluktuasi nilai tersebut dipengaruhi faktor cuaca, indeks konsumsi rumah tangga
dan indeks biaya produksi, serta kenaikan inflasi. Nilai NTN secara rata-rata dan
bulanan masih di atas 100, artinya nelayan masih dapat menyimpan hasil pendapatan
yang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan setelah digunakan untuk memenuhi
kebutuhan operasional dan hidup sehari-harinya.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

23

2.1.2. Misi 1: Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan


Misi
Meningkatkan Nilai Tambah dan
Daya Saing Produk Kelautan dan
Perikanan
Tujuan
Berkembangnya Diversifikasi
dan Pangsa Pasar Produk Hasil
Kelautan dan Perikanan
Sasaran Strategis
Meningkatnya ketersediaan
hasil kelautan dan perikanan;
Meningkatnya branding
produk perikanan dan market
share di pasar luar negeri;
Meningkatnya mutu dan
keamanan produk perikanan
sesuai standar.
IKU
Meningkatnya konsumsi ikan
per kapita.
Meningkatnya nilai ekspor
hasil perikanan.
Menurunnya jumlah kasus
penolakan ekspor hasil
perikanan per negara mitra

Gambar 7. Struktur Misi Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk
Kelautan dan Perikanan
Tabel 6. Capaian IKU Misi ke-2 Tahun 2010-2013

No.

Indikator Kinerja Utama

2010

2011

2012

2013

% Capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

Target
2014

1.

Tingkat Konsumsi Ikan


Dalam Negeri (kg/kapita/
thn)

30,48

32,25

33,89

35,62

93,74

38,00

2.

Nilai Ekspor Komoditas


Perikanan (US$ miliar)

2,86

3,52

3,85

4,16

73,63

5,65

3.

Jumlah kasus penolakan


ekspor hasil perikanan per
negara mitra (kasus)

<10

<10

100,00

<10

24

1)

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Tingkat Konsumsi Ikan Dalam Negeri


Capaian rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional pada periode 4 tahun
terakhir (2010-2013), meningkat sebesar 5,33% per tahun, yakni dari 30,48
kg/kapita pada tahun 2010 menjadi 35,62 kg/kapita pada tahun 2013.

Rata-rata
konsumsi ikan
per kapita
nasional 20102013, meningkat
sebesar 5,33%
per tahun, dari
30,48 kg/kapita
menjadi 35,62
kg/kapita pada
tahun 2013.

37,00

35,62

36,00
35,00
34,00
33,00
32,00
31,00
30,00

32,25

33,89

30,48

29,00
28,00
27,00

2010

2011

2012

Gambar 8. Perkembangan Konsumsi Ikan, 2010-2013

2013

Pencapaian konsumsi ikan tidak terlepas dari pelaksanaan kegiatan yang


mendukung antara lain:
a

Pembinaan pasar ikan dalam negeri

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka pembinaan pasar ikan dalam


negeri diantaranya adalah melalui:
Penyebaran buku pedoman Cara Pengelolaan Pasar Ikan yang Baik
(CPPIB), banner, dan poster pengelolaan pasar dan Logbook Pasar
Ikan di lokasi target, sebagai salah satu acuan dalam pengembangan
pasar ikan;
Fasilitasi kerja sama antar pelaku pasar di beberapa lokasi pasar;
Melakukan training of trainee pengelolaan pasar ikan yang
baik kepada perwakilan pengelola pasar yang tergabung dalam
ASPARINDO serta calon pembina dari 33 Provinsi yang berasal dari
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi.
Pengembangan promosi dan kerja sama pemasaran hasil perikanan
dalam negeri di 33 Provinsi melalui kegiatan Gerakan Memasyarakatkan
Makan Ikan (Gemarikan) di seluruh Indonesia.

Kegiatan Gemarikan dilaksanakan melalui safari Gemarikan, keikutsertaan


pada pameran produk perikanan, penyelenggaraan festival pindang ikan
nusantara, penyebarluasan bahan materi promosi Gemarikan, apresiasi
penghargaan Gemarikan, lomba masak serba ikan, promosi melalui
media dan elektronik, dan branding produk perikanan. Disamping
itu, penguatan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) di pusat

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

25

dan daerah dan pengembangan kerja sama promosi dengan instansi


terkait dapat juga mendukung terwujudnya peningkatan konsumsi ikan.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini semakin terlihat dari diadopsinya
kegiatan promosi dan kerja sama pemasaran oleh Provinsi dan Kab./Kota.
Pengembangan sarana dan prasarana pemasaran hasil perikanan dalam
negeri melalui pembangunan dan atau pengadaan sarana dan prasarana
pemasaran dalam negeri.

Sebagian besar sarana dan prasarana pemasaran yang dibangun atau


diadakan adalah los pasar ikan yang memenuhi standar dan peralatan
pemasaran. Hal ini untuk merubah citra pasar ikan yang saat ini terkesan
kotor, tidak saniter dan higienis sehingga masyarakat mau membeli ikan
di pasar.
2)

Nilai Ekspor Hasil Perikanan


Ekspor hasil perikanan telah mengarah pada produk bernilai tambah ditandai
dengan meningkatnya harga rata-rata produk. Dalam kurun waktu 20102013 nilai impor dapat dikendalikan dengan baik, impor tahun 2013 sebesar
11,2% dari nilai ekspor (impor 2012 = 10,7% dari nilai ekspor; impor tahun
2011 = 13,9% dari nilai ekspor).
4,5000

4,16
3,85

4,000

3,5000

3,000

2,5000

3,52
3,44
2,86

3,69

3,03
2,47

Ekspor
Impor

2,000

Surplus Neraca Perdagangan

1,5000

1,000
,5000

0,39

2010

0,49

2011

0,41

2012

0,47

2013

Gambar 9. Nilai Ekspor Hasil Perikanan 2010-2013


Capaian Ekspor
hasil perikanan
adalah produk
yang diekspor telah
bernilai tambah
ditandai dengan
meningkatnya
harga rata-rata
produk dan impor
hasil perikanan
dapat dikendalikan
dengan baik.

Ke depan, dalam upaya meningkatkan ekspor hasil perikanan,


beberapa upaya akan dilaksanakan oleh KKP antara lain:

(1) Penguatan Pusat Informasi Pasar (PinSar-Udang) untuk


memfasilitasi efektifitas komunikasi antara pelaku usaha
udang dalam rangka peningkatan ekspor;

(2) Memperkuat dan meningkatkan efektifitas diplomasi


penurunan hambatan tarif dan diseminasi hasil negosiasi
penurunan tarif kepada para pelaku usaha/eksportir;

26

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

(3) Mengefektifkan hasil dokumen implementasi kerja sama dan promosi


pemasaran luar negeri produk hasil perikanan dalam rangka mendongrak
peningkatan ekspor;
(4) Optimalisasi identifikasi dan analisis kebutuhan bahan baku dalam rangka
mendukung program industrialisasi, termasuk di dalamnya melakukan
penyusunan kebutuhan impor hasil perikanan dan penyampaian
pemantauan dan evaluasi hasil perikanan di 6 pintu pemasukan, yaitu
Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya, Bali, dan Makassar;
(5) Penyediaan informasi pasar luar negeri dan statistik ekspor-impor
produk perikanan kepada para pemangku kepentingan perikanan;
(6) Melakukan analisis pasar ekspor strategis dengan pemetaan negara yang
memiliki potensi sebagai tujuan ekspor baru atau untuk peningkatan
ekspor;
(7) Melakukan peningkatan kerja sama informasi data dengan INFOFISH;
(8) Melakukan pembinaan terhadap eksportir skala UKM;

(9) Memfasilitasi pertemuan antara Shrimp Club, Asosiasi Pengusaha


Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) dan
Komisi Komoditas untuk kesinambungan bahan baku untuk tujuan
ekspor.
3)

Jumlah Kasus Penolakan Ekspor Hasil Perikanan Per Negara Mitra


Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra pada tahun
2010-2011 tidak termasuk indikator kinerja utama KKP namun seiring
dengan diimplementasikannya hasil reviu renstra tahun 2012, maka indikator
ini mulai tahun 2012 dijadikan salah satu indikator kinerja. Untuk jumlah
kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra, capaian di tahun
2011-2013 dengan target <10 kasus, yakni terjadi <10 kasus atau tingkat
capaiannya 100%. Hal ini karena tidak ada yang jumlah kasus penolakan
ekspor 10 kasus. Indikator ini dihitung berdasarkan jumlah kasus per negara
mitra bukan merupakan jumlah total kasus penolakan ekspor seluruh negara
mitra. Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra pada
tahun 2011-2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

27

Tabel 7. Jumlah Kasus Penolakan Ekspor Hasil Perikanan Tahun 2011-2013


Jumlah kasus penolakan
ekspor hasil perikanan
per negara mitra, capaian
2011-2013 <10 kasus
atau tingkat capaiannya
100%.

Negara mitra

Kasus Penolakan
2011

2012

2013

China

Kanada

Vietnam

Rusia

Negara mitra

Kasus Penolakan
2011

2012

2013

Denmark

Irlandia

Yunani

Portugal

Korea Selatan

Austria

Italia

Finlandia

Spanyol

Swedia

Prancis

Cyprus

Inggris

Estonia

Belgia

Republik Ceko

Jerman

Hungaria

Luxembourg

Latvia

Belanda

Lithuania

Malta

Atas terjadinya kasus penolakan ekspor tersebut, KKP telah melakukan


langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Memberikan peringatan kepada UPI yang melanggar dan membekukan
sementara nomor registrasi ekspor UPI tersebut;
(2) Pencabutan approval number bagi UPI yang tidak mampu melakukan
perbaikan;
(3) Pemberian sanksi berupa penghentian sementara kewenangan
penandatanganan health certificate;
(4) Memberikan peringatan kepada unit kerja Laboratorium Pengujian dan
Pembinaan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) yang melanggar dalam
penerbitan health certificate.

Strategi tindak lanjut penanganan kasus penolakan ekspor hasil perikanan


per negara mitra adalah sebagai berikut:
(1) Penerapan sertifikasi mutu dan keamanan hasil perikanan secara
konsisten dan terintegrasi dari hulu ke hilir (tambak, kapal, supplier, dan
UPI);
(2) Penguatan kapasitas dan integritas inspeksi pada laboratorium pengujian
(LPPMHP dan UPT BKIPM);
(3) Harmonisasi standar sistem inspeksi dan uji laboratorium dengan negara
mitra;
(4) Pemberlakuan sanksi dan pemberian penghargaan terhadap UPI dalam
penerapan HACCP.

28

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

2.1.3. Misi 3: Memelihara Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan Sumber Daya
Kelautan dan Perikanan
Misi
Memelihara Daya Dukung dan
Kualitas Lingkungan Sumber
Daya Kelautan dan Perikanan
Tujuan
TerwujudnyaPengelolaan Sumber
Daya Kelautan dan Perikanan
secara Berkelanjutan
Sasaran Strategis
Terwujudnya pengelolaan
konservasi kawasan secara
berkelanjutan;
Meningkatnya nilai ekonomi
pulau-pulau kecil;
Meningkatnya luas wilayah
perairan Indonesia yang
diawasi oleh aparatur
pengawas Kementerian
Kelautan dan Perikanan.
IKU
Luas Kawasan Korservasi
Perairan yang dikelola secara
berkelanjutan.
Jumlah pulau-pulau kecil,
termasuk pulau-pulau kecil
terluar yang dikelola.
Persentase wilayah perairan
bebas illegal fishing dan
kegiatan yang merusak SDKP.

Gambar 10. Struktur Misi Memelihara Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan
Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

29

Tabel 8. Capaian IKU Misi ke-3 Tahun 2010-2013

No.

Indikator Kinerja Utama

2010

2011

2012

2013

% Capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

1.

Luas Kawasan Konservasi


Perairan (KKP) yang dikelola
secara berkelanjutan (juta ha)

1,27

2,54

3,23

3,65

81,11

4,5

2.

Jumlah pulau-pulau kecil,


termasuk pulau-pulau terluar
yang dikelola (pulau)

20

37

74

62

96,50

Kumulatif
200 pulau

3.

Wilayah Perairan bebas IUU


Fishing dan kegiatan yang
merusak SDKP (%)

35

38

41

47,27

94,54

50

1)

Target
Renstra

Luas Kawasan Konservasi Perairan yang Dikelola


Pengelolaan berkelanjutan merupakan upaya yang dilakukan pengelola
kawasan dengan memperhatikan kaidah-kaidah pemanfaatan dan
pengelolaan yang menjamin ketersediaan dan kesinambungan dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber
daya yang ada. Adapun upaya-upaya pokok pengelolaan kawasan konservasi
meliputi: koordinasi dan pembinaan, peningkatan infrastruktur, penyusunan
Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK), reviu dan implementasi
rencana pengelolaan, sosialisasi, konsultasi publik, peningkatan kapasitas,
operasionalisasi lembaga pengelola, rehabilitasi kawasan, evaluasi
pengelolaan, pengawasan sumber daya ikan dan sebagainya. Penambahan
luas kawasan konservasi perairan yang dikelola oleh KKP dari tahun 2010
terus mengalami peningkatan luasan dari 1,27 juta ha sampai dengan tahun
2013 menjadi 3,65 juta ha atau 81,11% dari target Renstra seluas 4,5 juta
ha. Capaian penambahan luas kawasan konservasi perairan sampai dengan
tahun 2013 seluas 15.764.210,85 ha.

30

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Tabel 9. Luas dan Tipe Kawasan Konservasi Perairan sampai


dengan Tahun 2013
Capaian
penambahan luas
kawasan konservasi
perairan sampai
dengan tahun 2013
seluas 15,76 juta ha.
Target selanjutnya
adalah pencapaian
20 juta ha pada
tahun 2020.

2)

Jumlah pulau-pulau
kecil termasuk
pulau kecil terluar
yang dikelola dari
tahun 2009 sampai
dengan tahun 2013
sebanyak 193 PPK.

Jumlah
Kawasan

Luas (Ha)

Inisiasi Kemenhut

32

4.694.947,55

Taman Nasional Laut

4.043.541,30
491.248,00

No
A

Kawasan Konservasi

Taman Wisata Alam Laut

14

Suaka Margasatwa Laut

5.678,25

Cagar Alam Laut

154.480,00

Inisiasi KKP dan Pemda

99

11.069.263,30

Taman Nasional Perairan

3.521.130,01

Suaka Alam Perairan

445.630,00

Taman Wisata Perairan

1.541.040,20

Kawasan Konservasi Perairan Daerah

89

5.561.463,09

Jumlah

131

15.764.210,85

Jumlah Pulau-Pulau Kecil, termasuk Pulau-Pulau Terluar


yang Dikelola
Pulau-Pulau Kecil (PPK) memiliki arti penting, seperti fungsi
ekologi, ekonomi, pertahanan dan keamanan wilayah NKRI,
potensi sumber daya alamnya dapat didayagunakan untuk
mengakselerasi pertumbuhan ekonomi karena memiliki
sumber daya hayati tinggi, dan jasa lingkungan. Pengelolaan
PPK tersebut menuntut suatu koordinasi lintas sektor,
terutama dari para pemangku kepentingan stakeholders yang
meliputi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha,
Perguruan Tinggi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat secara
horisontal (antar sektor) dan keterpaduan secara vertikal
(dalam satu sektor).
Tingkat capaian kinerja jumlah pulau-pulau kecil termasuk
pulau kecil terluar yang dikelola dari tahun 2010 sebanyak 20
buah pulau meningkat sampai dengan tahun 2013 terealisir
sebanyak 193 PPK atau 96,5% dari target Renstra yaitu
sebanyak 200 PPK, sebagaimana tertera dalam tabel berikut :

Tabel 10. Capaian Kinerja Pengelolaan PPK selama Tahun 2010-2013


Indikator Kinerja
Pulau-pulau kecil termasuk pulau kecil
terluar yang dikelola

Tahun
2010

2011

2012

2013

20

37

74

62

Total
193

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

31

Kegiatan lain yang mendukung pengelolaan PPK antara lain:

a) Identifikasi Potensi dan Pemetaan Potensi Termasuk Pulau-Pulau Kecil


Terluar
Kegiatan identifikasi potensi dan pemetaan pulau-pulau kecil merupakan
salah satu program strategis KKP yang dipantau oleh Unit Kerja Presiden
untuk Percepatan dan Pengawasan Pembangunan (UKP4) sesuai Inpres
No. 1 Tahun 2010 dan Inpres No. 14 Tahun 2011. Selain itu kegiatan ini
juga sesuai dengan amanat UU No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Pasal 15, bahwa Pemerintah Pusat
dan Pemerintah Daerah wajib mengelola data dan informasi mengenai
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Selain itu kegiatan pendataan
juga diamanahkan dalam Perpres No. 85 Tahun 2007 tentang Jaringan
Data Spasial Nasional pada Pasal 6, yaitu kewajiban untuk melakukan
pengumpulan, pemeliharaan dan pemutakhiran data spasial.

b) Fasilitasi Penyediaan Sarana dan Prasarana di Pulau-Pulau Kecil,


Termasuk Pulau-Pulau Kecil Terluar
Pembangunan sarana dan prasarana pulau-pulau kecil dilakukan untuk
meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat dan mendukung perbaikan
kondisi sosial masyarakat pulau. Penyediaan sarana dan prasarana
pulau-pulau kecil melalui berbagai sumber dana, yaitu APBN, APBN-P
dan Dana Alokasi Khusus. Kegiatan pendayagunaan pulau-pulau kecil
juga melaksanakan kegiatan sebagai berikut:



Fasilitasi perbaikan lingkungan, mitigasi dan adaptasi bencana di


pulau-pulau kecil;
Kegiatan fasilitasi investasi pulau-pulau kecil;
Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar;
Minawisata pulau-pulau kecil.

c) Program Adopsi Pulau


Program adopsi pulau dimaksudkan untuk mengembangkan terobosan
kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil melalui penggalangan partisipasi
semua pihak, khususnya perguruan tinggi, dunia usaha, dan stakeholders
lainnya, dalam mengaktualisasikan potensi pengembangan pulau-pulau
kecil di Indonesia. Melalui program ini, mitra kerja sama berkesempatan
langsung untuk berkontribusi bagi percepatan pembangunan kelautan,
pesisir, dan pulau-pulau kecil. Pihak perguruan tinggi berkesempatan
untuk mendiseminasikan dan mempraktikan ilmu dan teknologi yang
dimilikinya sebagai wujud pengejawantahan tridharma perguruan tinggi.
Masuknya keunggulan teknologi dan kompetensi perguruan tinggi,
diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan pulau-pulau kecil
secara berkelanjutan, yang berimbas pada peningkatan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat pulau-pulau kecil.

32

3)

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Wilayah Perairan Bebas IUU Fishing dan Kegiatan yang Merusak Sumber
Daya Kelautan dan Perikanan (SDKP)
Sasaran strategis meningkatnya luas wilayah perairan Indonesia yang
diawasi oleh aparatur pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai
Renstra 2010-2014 adalah persentase wilayah perairan Indonesia bebas
illegal fishing dan kegiatan yang merusak SDKP. Adapun capaian IKU wilayah
perairan Indonesia bebas illegal fishing dan kegiatan yang merusak SDKP
sejak tahun 2010-2013 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11. Capaian Kinerja Wilayah Perairan Indonesia bebas
IUU Fishing dan kegiatan yang merusak SDKP selama Tahun
2010-2013

Sampai dengan
tahun 2013 wilayah
perairan bebas IUU
Fishing dan kegiatan
yang merusak
telah mencapai
47,27%.

Rincian IKU
Wilayah Perairan bebas
IUU Fishing dan kegiatan
yang merusak (%)

Capaian

Target

2010

2011

2012

2013

2014

35

38

41

47,27

39

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa IKU wilayah
perairan Indonesia bebas illegal fishing dan kegiatan yang merusak SDKP
bersifat non kumulatif untuk setiap tahun dengan mempertimbangkan
sumber daya yang dimiliki, termasuk di dalamnya jumlah alokasi anggaran
pengawasan SDKP yang tersedia setiap tahunnya. Sejalan dengan penambahan
anggaran pengawasan SDKP target wilayah perairan bebas IUU Fishing dan
kegiatan yang merusak juga mengalami peningkatan, namun pada tahun
2014, target mengalami penurunan sejalan dengan menurunnya anggaran
untuk pengawasan SDKP yakni sebesar 39%, sedangkan target pada Renstra
50%. Sehingga bila dibandingkan dengan target Renstra, maka kinerja
wilayah perairan Indonesia bebas illegal fishing dan kegiatan yang merusak
SDKP baru mencapai 94,54%.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

33

2.2. Evaluasi Pencapaian Program Pembangunan Kelautan dan Perikanan


2.2.1 Program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap
Tujuan program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap adalah
meningkatkan produktivitas perikanan tangkap dan kesejahteraan nelayan
berbasis pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan, dengan sasaran
peningkatan produksi perikanan tangkap (volume dan nilai), peningkatan
pendapatan nelayan, dan peningkatan Nilai Tukar Nelayan (NTN). Capaian
pelaksanaan Program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap
ditandai dengan tercapainya 3 indikator program sebagaimana disajikan
pada tabel berikut.

Tabel 12. Kinerja Program Peningkatan Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2010-2013
dan Target Renstra KKP 2014
Capaian
Indikator Kinerja

Satuan

2010

2011

2012

2013

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

1.

Jumlah produksi perikanan tangkap :

a.

Volume
Produksi
perikanan
tangkap

juta ton

5.384.740

5.714.271

5.811.510

5.863.170

2,90

5.500.000

106,60

Nilai
Produksi
perikanan
tangkap

Rp triliun

59,58

64,45

73,02

85,12

12,68

82,62

103,03

b.

2.

Pendapatan Nelayan

a.

Nelayan
Pemilik

(Rp/
orang /
bulan)

3.737.120

4.082.202

7.479.689

6.844.617

27,99

2.441.550

280,34

b.

Nelayan
Buruh

(Rp/
orang /
bulan)

1.366.300

1.418.363

1.923.467

1.606.396

7,65

1.200.000

133,87

3.

Nilai Tukar
Nelayan

Indeks

105,56

106,24

105,37

104,84

-0,23

112

93,61

Jumlah produksi perikanan tangkap meliputi volume produksi dan nilai


produksi. Volume produksi perikanan tangkap sampai dengan tahun 2013
telah tercapai sebanyak 5.863.170 ton dengan laju kenaikan rata-rata sejak
tahun 2010-2013 mencapai 2,90% per tahun. Volume produksi perikanan
tangkap sudah mencapai target yang ditetapkan pada Renstra KKP 2010-2014
sebesar 106,60%. Peningkatan volume produksi diiringi oleh peningkatan
nilai produksi sampai dengan tahun 2013 mencapai Rp85,12 triliun dengan
kenaikan rata-rata dari tahun 2010-2013 sebesar 12,68%. Nilai produksi
perikanan tangkap juga memperlihatkan hasil yang sangat baik yaitu pada
tahun 2013 telah melampaui dari target yang telah ditetapkan pada Renstra
KKP sebesar 103,03%. Jika dibandingkan pertumbuhan volume produksi
terhadap nilai sejak tahun 2010-2013, maka pertumbuhan nilai lebih tinggi
dari pada pertumbuhan volume. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa

34

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Capaian Produksi
perikanan budidaya
umumnya sudah
sesuai target
Renstra, bahkan
budidaya air payau
telah melampaui
target sedangkan
budidaya air tawar
perlu kerja keras
untuk mencapai
target Renstra.

secara umum komoditas perikanan tangkap mengalami


peningkatan kualitas dan kenaikan harga.

Pendapatan nelayan meliputi pendapatan nelayan pemilik


dan buruh. Sampai dengan tahun 2013, pendapatan nelayan
pemilik mencapai Rp6,8 juta per orang/bulan dengan laju
kenaikan rata-rata sejak tahun 2010-2013 sebesar 27,99%
per tahun. Sedangkan pendapatan nelayan buruh mencapai
Rp1,6 juta per orang/bulan dengan laju kenaikan ratarata sejak tahun 2010-2013 sebesar 7,65% per tahun. Jika
dibandingkan dengan target dalam Renstra KKP sampai
tahun 2014 sebesar Rp2,4 juta per orang/bulan, maka
capaian pendapatan nelayan pemilik sampai tahun 2013
telah mencapai 280,34% dari target yang telah ditetapkan di
dalam Renstra KKP. Demikian pula halnya dengan pendapatan
nelayan buruh telah melebihi dari target Renstra KKP yakni
mencapai 133,87%.
Kedepan strategi yang digunakan untuk meningkatkan
pendapatan nelayan yaitu dapat menggunakan strategi
survival pada nelayan buruh dan strategi konsolidasi pada
nelayan pemilik. Strategi nelayan survival pada nelayan
buruh dapat dilakukan dengan adanya diversifikasi usaha
dan penghematan yang dilakukan nelayan, mengikuti
organisasi/ kelompok nelayan yang ada, serta melakukan
penghematan dan tidak selalu terikat dengan juragan
yaitu dengan mengusahakan pekerjaan lain. Strategi
yang dilakukan oleh nelayan pemilik sumber daya adalah
modernisasi alat tangkap, serta adanya pekerjaan sampingan.
Melakukan pembagian kerja antara kaum bapak dan kaum
ibu, memperluas hubungan kerja dan pemanfaatan sumber
daya secara maksimal.

Nilai Tukar Nelayan (NTN) selama periode Tahun 2010


2013 mengalami fluktuasi nilai yang berbeda tiap tahunnya.
Sampai dengan tahun 2013 angka NTN ini belum mencapai
target yang telah ditetapkan di dalam Renstra KKP yakni 110
atau hanya sebesar 93,61% dari target Renstra. Penurunan
NTN disebabkan oleh semakin meningkatkan indeks harga
yang dibayarkan oleh nelayan/pembudidaya (biaya konsumsi
rumah tangga dan Biaya Produksi dan Penambahan Barang
Modal/BPPPMP) yang tidak sebanding dengan meningkatnya
indeks harga yang diterima oleh nelayan/pembudidaya.
Namun demikian, angka NTN di atas 100 menggambarkan
bahwa nelayan/pembudidaya mengalami peningkatan daya

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

35

beli karena harga produksi (harga jual ikan) lebih besar daripada peningkatan
harga input produksi (BBM) dan konsumsi rumah tangganya. Angka NTN
tahun 2013 merupakan angka gabungan antara nilai tukar nelayan dengan
pembudidaya dan BPS diperkirakan akan merilis angka terpisah pada Bulan
Januari tahun 2014.

36

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

2.2.2 Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya


Tujuan program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya adalah
meningkatkan produksi perikanan budidaya, dengan sasaran program
peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil perikanan budidaya
(volume dan nilai). Capaian pelaksanaan Program Peningkatan Produksi
Perikanan Budidaya ditandai dengan tercapainya 3 indikator program
sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Tabel 13. Kinerja Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya Tahun


2010-2013 dan Target Renstra KKP 2014
Capaian
Indikator Kinerja

Satuan

Produksi perikanan
budidaya

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

% capaian Tahun
2013 terhadap
Target Renstra

2010

2011

2012

2013

ton

6.277.924

7.928.963

9.675.553

13.703.369

29,99

16.891.000

81,13

Produksi perikanan
budidaya air laut

ton

3.514.702

4.605.827

5.769.737

7.749.338

30,21

10.288.175

75,32

Produksi perikanan
budidaya air payau

ton

1.416.038

1.602.748

1.756.799

2.323.626

18,35

2.022.220

114,90

Produksi perikanan
budidaya tawar

ton

1.347.184

1.720.388

2.149.017

3.630.406

40,52

4.580.605

79,26

Capaian Produksi
perikanan budidaya
umumnya sudah
sesuai target
Renstra, bahkan
budidaya air payau
telah melampaui
target sedangkan
budidaya air tawar
perlu kerja keras
untuk mencapai
target Renstra.

Perkembangan produksi perikanan budidaya sejak tahun


pada tahun 2010 pertumbuhannya jauh lebih tinggi
dibanding perikanan tangkap. Tingginya peningkatan
produksi budidaya ini dipicu oleh berkembangnya usaha
budidaya laut, terutama untuk komoditas rumput laut.
Disamping itu meningkatnya jumlah lahan dan pelaku usaha
di bidang budidaya juga mempengaruhi pertumbuhan
produksi budidaya sepanjang tahun 2010-2013.

Capaian jumlah produksi perikanan budidaya sampai dengan


tahun 2013 sebesar 13,70 juta ton dengan kenaikan rata-rata
sejak tahun 2010-2013 sebesar 29,99%. Jika dibandingkan
dengan target Renstra KKP, maka pencapaian pada indikator
kinerja ini telah mencapai 81,13%. Produksi perikanan
budidaya air laut telah mencapai 75,32% dari target Resntra,
produksi perikanan budidaya air payau telah melampaui
target Renstra yaitu mencapai 114,90%, sedangkan produksi
perikanan budidaya air tawar telah mencapai 79,26% dari
target Renstra.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

37

2.2.3 Program Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan


Program peningkatan daya saing produk perikanan merupakan salah satu
program utama untuk mencapai sasaran strategis pembangunan kelautan
dan perikanan. Sasaran strategis yang ingin dicapai dari program ini adalah
meningkatnya produk perikanan prima yang berdaya saing di pasar domestik
dan internasional. Sasaran strategis ini diukur melalui beberapa indikator
kinerja program, seperti meningkatnya nilai ekspor hasil perikanan,
meningkatnya rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional, volume produk
olahan hasil perikanan, meningkatnya nilai produk nonkonsumsi hasil
perikanan pada tingkat pedagang besar, dan meningkatnya nilai investasi
bidang P2HP. Pelaksanaan program peningkatan daya saing produk perikanan
tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian 5 indikator kinerja program
sebagaimana disajikan pada tabel berikut.
Tabel 14. Kinerja Program Peningkatan Daya Saing Produk
Perikanan Tahun 2010-2013 dan Target Renstra KKP 2014

Capaian
Pelaksanaan
program
peningkatan daya
saing produk
perikanan tahun
2010-2013 telah
sesuai dengan
target Renstra,
hanya kinerja
nilai ekspor hasil
perikanan yang
perlu kerja keras
untuk mencapai
target Renstra.

Capaian
Indikator
Kinerja

Satuan

Nilai ekspor
hasil perikanan

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

2010

2011

2012

2013

US$ miliar

2,86

3,52

3,85

4,16

13,50

6,00

69,33

Rata-rata
konsumsi ikan
per kapita
nasional

kg/kapita

30,48

32,25

33,89

35,62

5,33

38,00

93,74

Volume produk
olahan hasil
perikanan

juta ton

4,20

4,58

4,83

5,00

6,01

5,20

96,15

Nilai produk
nonkonsumsi
pada tingkat
pedagang
besar

Rp triliun

0,57

1,40

1,7

83,52

2,00

85,00

Nilai investasi
bidang
pengolahan
dan pemasaran
hasil perikanan

Rp triliun

1,62

1,55

2,07

2,66

19,24

3,00

88,67

Pertumbuhan ekspor hasil perikanan dari tahun 2010-2013 mengalami


kenaikan signifikan yakni rata-rata sebesar 13,50% per tahun. Hal ini
mengisyaratkan adanya peningkatan pada harga rata-rata produk perikanan
yang diekspor, yang menunjukkan bahwa beberapa ekspor produk perikanan
telah mengarah pada produk bernilai tambah (non primary product).

Rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional periode 4 tahun terakhir (20102013), mengalami peningkatan sebesar 5,33% per tahun, yakni dari 30,48
kg/kapita pada tahun 2010 menjadi 35,62 kg/kapita pada tahun 2013. Pada
tahun 2014, capaian rata-rata konsumsi ikan per kapita nasional diperkirakan
sebesar 38 kg/kapita, atau tercapai 100% dari target yang telah ditetapkan.

38

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Sampai dengan tahun 2013 volume produk olahan hasil perikanan


diperkirakan mencapai 5 juta ton, atau setara dengan capaian 96,15%.
Merunut pada capaian dimaksud, diperkirakan pada tahun 2014 target
volume produk olahan hasil perikanan dapat tercapai, yakni 5,2 juta ton, atau
tercapai 100% dari target yang telah ditetapkan. Dengan demikian, produk
olahan hasil perikanan dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, perkembangan
produk olahan hasil perikanan meningkat rata-rata sebesar 6,01% per
tahun.

Nilai produk nonkonsumsi pada tingkat pedagang besar dalam


kurun waktu tahun 2010-2013 mengalami kenaikan ratarata sangat signifikan yaitu sebesar 83,52% per tahun
dari Rp0,57 triliun pada tahun 2011 menjadi Rp1,7
triliun pada tahun 2013. Nilai tersebut
merupakan
hasil
perdagangan
produk nonkonsumsi pada
tingkat pedagang
besar di

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

39

dalam negeri maupun luar negeri (ekspor). Pertumbuhan nilai produk


nonkonsumsi diantaranya dikarenakan faktor-faktor pendorong seperti
penguatan regulasi pada sisi pengembangan produk nonkonsumsi, bimbingan
teknis bagi pelaku usaha (kecil, menengah, dan besar), fasilitasi sarana
prasarana penanganan/pengolahan produk nonkonsumsi, pengembangan
promosi sebagai langkah peningkatan akses pasar, serta penguatan jaringan
melalui koordinasi antar stakeholder produk nonkonsumsi.
Upaya-upaya yang telah dilakukan selama periode 4 tahun terakhir
diantaranya adalah sebagai berikut:
a

b
c

Peningkatan produk dengan kualitas yang dapat bersaing di pasar global


melalui pengembangan kawasan dan market driven;

Penguatan dan pengembangan data, sistem informasi, regulasi serta


jaringan pemasaran produk nonkonsumsi;
Penguatan branding dan promosi produk hasil perikanan nonkonsumsi.

Investasi merupakan faktor utama yang perlu didorong supaya target


pertumbuhan ekonomi dapat tercapai, dengan meningkatnya investasi,
industri nasional akan tumbuh dan berkembang baik dan menghasilkan
produk-produk ekspor yang berkualitas dan mempunyai daya saing yang kuat.
Realisasi investasi bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sampai
dengan tahun 2013 diperkirakan mencapai Rp2,66 triliun. Realisasi investasi
tersebut didapatkan dari investasi yang dilakukan melalui Penanaman Modal
Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dan investasi yang
dibiayai oleh APBN. Sedangkan pada periode 4 tahun terakhir (2010-2013),
nilai investasi bidang P2HP meningkat rata-rata sebesar 19,24% per tahun,
yakni dari Rp1,62 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp2,66 triliun pada tahun
2013.
Upaya peningkatan investasi bidang pengolahan dan pemasaran hasil
perikanan bukannya tidak ada hambatan. Beberapa kendala yang menghambat
pertumbuhan investasi diantaranya adalah sebagai berikut:
a

Lemahnya infrastruktur, khususnya jalur transportasi nasional. Besarnya


biaya transport/distribusi meningkatkan harga dan menyebabkan daya
saing produk perikanan di beberapa daerah sangat rendah. Hal ini
terlihat dari masuknya produk impor yang relatif lebih murah dari harga
produk lokal;
Beberapa peraturan yang ada cenderung menghambat usaha perikanan.
Hal ini disebabkan kualitas peraturan yang kurang baik, tidak mengacu
pada undang-undang sektoral terkait, menambah beban operasional dan
tidak jelas standar waktu, biaya dan prosedurnya;

40

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

c
d

Ketersediaan bahan baku turut menyebabkan rendahnya kinerja usaha


perikanan. Ketidakpastian suplai bahan baku menyebabkan rendahnya
utilitas pabrik;

Faktor ketidakstabilan keamanan di beberapa daerah menyebabkan para


investor ragu untuk menanamkan modalnya.

Ke depan, upaya atau kegiatan yang akan terus dilaksanakan untuk mendorong
peningkatan nilai investasi antara lain:
a

Mensosialisasikan dan mendorong para pengusaha, khususnya di bidang


P2HP untuk memanfaatkan program stimulus dan insentif fiskal;

Memfasilitasi jaringan kemitraan antara usaha besar dan kecil dalam


rangka pengembangan usaha. Hubungan kemitraan ini memiliki cakupan
yang luas, baik dari segi pemasaran, produksi, permodalan dan lainnya;

d
e

Merekomendasikan kebijakan nasional yang pro penciptaan usaha P2HP


melalui investasi baru/pengembangan usaha;

Mendorong pengembangan Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar)


melalui bantuan pengembangan usaha yang bersifat langsung dalam
bentuk sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran;
Memfasilitasi pembiayaan baik investasi maupun modal kerja untuk pelaku
usaha P2HP. Sumber pembiayaan yang diakses mencakup perbankan,
lembaga keuangan non perbankan, program Program Kemitraan dan
Bina Lingkungan (PKBL) dan Corporate Social Responsibility (CSR), hibah
dan lainnya;
Penyediaan data dan promosi peluang usaha dan investasi ke calon
investor potensial baik dalam maupun luar negeri.

2.2.4 Program Pengelolaan Sumber Daya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Capaian
Pelaksanaan
program
pengelolaan sumber
daya laut, pesisir
dan pulau-pulau
kecil telah sesuai
dengan target
Renstra, hanya
kinerja produksi
garam yang perlu
kerja keras untuk
mencapai target
Renstra.

Tujuan program pengelolaan sumber daya laut, pesisir


dan pulau-pulau kecil adalah mewujudkan tertatanya dan
dimanfaatkannya wilayah laut, pesisir dan pulau-pulau
kecil secara lestari, dengan sasaran antara lain peningkatan
luas Kawasan Konservasi Perairan yang dikelola secara
berkelanjutan, pengembangan pengelolaan pulau-pulau
kecil, dan jumlah produksi garam. Pelaksanaan program
pengelolaan sumber daya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil
tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian 7 indikator kinerja
program sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

41

Tabel 15. Kinerja Program Pengelolaan Sumber daya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Tahun 2010-2013 dan Target Renstra KKP 2014
Capaian
Indikator Kinerja

Satuan

2010

2011

2012

2013

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target 2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target Renstra

Jumlah pesisir
yang terfasillitasi
ketahanannya
terhadap ancaman
kerusakan

kawasan

10

10

22

25

44,55

18

138,89

Jumlah ragam
produk kelautan
yang terfasilitasi
pengembangannya

produk

2 kapal;
50.000 ton

1 kapal;
220.000
ton

50,00

100

Jumlah lokasi
laut, pesisir dan
pulau-pulau kecil
yang memiliki
perencanaan
pengelolaan

lokasi

35

45

74

71

24,70

60

118,33

Luas kawasan
konservasi perairan
yang dikelola secara
berkelanjutan

Juta ha

1,27

2,54

3,23

3,65

73,31

4,5 juta

81,11

Jumlah pulau-pulau
kecil termasuk pulau
kecil terluar yang
dikelola

pulau

20

37

74

62

56,26

30

96,5

Jumlah pelaku usaha


mikro yang mandiri
serta jumlah usaha
mikro di pesisir dan
pulau-pulau kecil

kelompok
/ unit

3.380
kelompok;
25 unit

5.690
kelompok;
68 unit

6.461
kelompok;
46.046
orang;
59 unit

3.140
kelompok;
32.783
orang;
85 unit

15,41;
-28,80;
51,68;

11.140
kelompok;
7108 orang;
190 unit

148,25;
461;
106,32;

ton

2,02 juta

1,04 juta

-48,51

3,3

31,52

jumlah produksi
garam yang
dihasilkan

42

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Berdasarkan capaian kinerja program pengelolaan sumber daya laut, pesisir


dan pulau-pulau kecil periode 2010-2013 dan dibandingkan dengan target
Renstra untuk masing-masing indiaktor kinerja program rata-rata sudah
melampaui di atas 80% sedangkan indikator kinerja yang dibawah target
Renstra adalah jumlah produksi garam yang dihasilkan yakni masih 31,52%
dari target 3,3 juta ton pada tahun 2014. Untuk itu KKP terus berupaya untuk
meningkatkan produksi dan kualitas garam, salah satunya dengan penerapan
Teknologi Ulir Filter (TUF), sehingga diharapkan target produksi garam
sesuai dengan Renstra KKP dapat tercapai.
Urgensi dan pentingnya tata ruang laut bagi kepentingan nasional, KKP
dalam periode tahun 2010-2014 telah melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
meliputi Penyusunan Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil (WP3K) Provinsi/Kab./Kota, Penyusunan Rencana Zonasi WP3K di
wilayah nasional, lintas wilayah, Provinsi/Kab./Kota, Penyusunan Rencana
Zonasi Rinci Kawasan; dan Tindak Lanjut Penyusunan Rencana Zonasi WP3K
Provinsi.

Dalam mewujudkan tujuan meningkatnya ketahanan kawasan pesisir dan


terfasilitasinya produk kelautan, pada tahun 2010-2014 telah dicanangkan
kegiatan-kegiatan meliputi rehabilitasi kawasan di wilayah pesisir yang
rusak, fasilitasi peningkatan ketahanan terhadap bencana dan perubahan
iklim kawasan di wilayah pesisir dan fasilitasi pengembangan ragam produk
kelautan. Sedangkan untuk mengentaskan kemiskinan terutama di wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil, telah dilakukan serangkaian kegiatan selama
2010-2014 meliputi Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat; Coastal Community
Development Project - The International Fund for Agricultural Development

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

43

(CCD-IFAD); Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN)


dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan (SPBN); Pemberdayaan
Perempuan Pesisir; Pemberdayaan Pelaku Usaha Mikro di wilayah Pesisir dan
Program Grameen Bank.
Salah satu capaian kinerja program pengelolaan sumber daya laut, pesisir
dan pulau-pulau kecil yaitu dengan disahkannya UU tentang perubahan UU
27, Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,
pada tanggal 18 Desember 2013, yang telah mengakomodasi dan menjamin
hak masyarakat adat setempat dan nelayan tradisional. Lebih lanjut terkait
pengesahan UU ini, pemerintah akan melakukan sosialisasi, menyelesaikan
Peraturan Perundang-undangan yang diamanatkan sehingga pada
akhirnya UU ini dapat diimplementasikan dengan baik untuk mewujudkan
kesejahteraan masayarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
2.2.5 Program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan
Tujuan program pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan adalah
meningkatnya ketaatan dan ketertiban dalam pemanfaatan sumber daya
kelautan dan perikanan dengan sasaran perairan Indonesia bebas illegal
fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan.
Pelaksanaan program pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan
tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian 3 indikator kinerja program
sebagaimana disajikan pada tabel berikut:

Tabel 16. Kinerja Program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan


Perikanan Tahun 2010-2013 dan Target Renstra KKP 2014

Capaian
pelaksanaan
program SDKP
masih perlu terus
ditingkatkan
terutama pada
persentase cakupan
WPP NRI dari illegal
fishing, sedangkan
persentase
penyelesaian tindak
pidana perikanan
sudah melampaui
target Renstra.

Capaian
Indikator Kinerja

Satuan

Persentase cakupan
Wilayah Pengelolaan
Perikanan [WPPNRI] yang terawasi
dari illegal fishing

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

2010

2011

2012

2013

41,50

29,85

31,37

36,21

-4,67

60

60,35

Persentase cakupan
Wilayah Pengelolaan
Perikanan [WPPNRI] yang terawasi
dari kegiatan yang
merusak sumber
daya kelautan dan
Perikanan

15,00

17,37

24,63

23,08

15,47

37

62,38

Persentase
penyelesaian
penyidikan tindak
pidana perikanan
secara akuntabel dan
tepat waktu

67,80

84,85

78,48

96,20

13,41

74

130,00

44

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Capaian kinerja program pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan


berdasarkan data-data pada tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa target
bersifat non kumulatif untuk setiap tahun dengan mempertimbangkan
sumber daya yang dimiliki, termasuk di dalamnya jumlah alokasi angaran
pengawasan SDKP yang tersedia setiap tahun angggaran. Sejalan dengan
penambahan anggaran pengawasan SDKP target wilayah perairan bebas IUU
Fishing dan kegiatan yang merusak juga mengalami peningkatan, namun
pada tahun 2014, target mengalami penurunan sejalan dengan menurunnya
anggaran untuk pengawasan SDKP.

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa tingkat capaian indikator kinerja
utama (IKU) program pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan
sampai dengan tahun 2013, diuraikan sebagai berikut:
1) Persentase cakupan Wilayah Pengelolaan Perikanan [WPP-NRI] yang
terawasi dari illegal fishing walaupun tercapai sebesar 34,18% namun
bila dibandingkan dengan target Renstra capaian tersebut masih kurang
optimal yakni hanya mencapai 56,97% hal ini dikarenakan menurunnya
anggaran sehingga mengakibatkan berkurangnya hari layar dalam
melaksanakan pengawasan SDKP;

2) Persentase cakupan Wilayah Pengelolaan Perikanan [WPP-NRI] yang


terawasi dari kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan
belum tercapai optimal yakni sebesar 23,07% dan dibandingkan dengan
target yang ditetapkan sampai berakhirnya Renstra yakni sebesar
62,35%;

3) Persentase penyelesaian penyidikan tindak pidana perikanan secara


akuntabel dan tepat waktu telah tercapai optimal sebesar 96,20% dan
telah tercapai 130% dari target yang ditetapkan di dalam Renstra.

Hasil pelaksanaan pengawasan SDKP selama kurun waktu tahun 2010-2013


diuraikan sebagai berikut:
1) Operasi Mandiri Kapal Pengawas KKP
Sejak tahun 2010-2013, Operasi kapal pengawas KKP telah berhasil
memeriksa sebanyak 13.708 kapal perikanan. Dari seluruh kapal yang
diperiksa tersebut, sebanyak 469 kapal perikanan terindikasi melakukan
pelanggaran yang terdiri dari 120 Kapal Ikan Indonesia (KII) dan 349
Kapal Ikan Asing (KIA).

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

45

Tabel 17. Rekapitulasi Hasil Operasi Mandiri Kapal Pengawas Tahun 2010-2013
DI AD-HOC (Kapal)

TAHUN

DIPERIKSA
(unit kapal)

KII

KIA

KII+KIA

2010

2.253

24

159

183

2011

3.348

30

76

106

2012

4.326

42

70

112

2013

3.781

24

44

68

JUMLAH

13.708

120

349

469

2) Kerja sama Operasi Pengawasan dengan Instansi Terkait


Selain operasi mandiri kapal pengawas KKP, juga dilakukan kerja sama
operasi pengawasan (Gelar Operasi Bersama) dengan instansi terkait
(TNI-AL, Polair dan Bakorkamla) yang dilakukan di perairan yang
dianggap rawan pelanggaran. Hasil kerja sama operasi sejak tahun 20102013 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 18. Hasil Operasi Pengawasan Bersama Dengan Instansi terkait
DI AD-HOC (Kapal)

Kerjasama Operasi

2010

2011

2012

2013

Operasi Bersama TNI AL

27

10

Operasi Bersama POLAIR

13

Operasi Bersama BAKORKAMLA

18

11

228

TOTAL

58

14

19

228

Disamping kerja sama dengan instansi terkait di dalam negeri, selama


kurun waktu tahun 2010-2013 KKP juga melaksanakan kerja sama
operasi dengan negara lain, dengan hasil operasi sebagaimana pada tabel
berikut:

Tabel 19. Hasil Operasi Pengawasan Bersama Dengan Negara lain


Tahun
2010

Kerjasama Operasi

2011

Riksa

Ad
Hock

Operasi Malindo
(Malaysia-Indonesia)

27

Operasi Ausindo
(Australia-Indonesia)
TOTAL

2012

Riksa

Ad
Hock

13

15

42

2013

Riksa

Ad
Hock

Riksa

Ad
Hock

40

30

70

63

54

83

103

84

46

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

3) Operasi Ketaatan Kapal di Pelabuhan


Operasi ketaatan kapal di pelabuhan pangkalan dilakukan terhadap
ketaatan kapal-kapal perikanan terhadap ketentuan yang berlaku,
meliputi:
a) Ketaatan berlabuh di pelabuhan pangkalan sesuai dengan izin yang
diberikan;

b) Ketataan Nakhoda kapal perikanan dalam melaporkan hasil


tangkapan melalui pengisian Log Book Perikanan;
c) Ketaatan pengurusan izin untuk kapal yang belum berizin dan masa
berlaku izinnya telah habis.

Rekapitulasi tingkat ketaatan kapal Perikanan selama kurun waktu 20102013 sebagai berikut:
Tabel 20. Rekapitulasi Tingkat Ketaatan Kapal Perikanan
2010-2013

NO.

LOKASI

TINGKAT KETAATAN KAPAL (%)


2010

2011

2012

2013

Wilayah Barat

73,17

82,00

86,00

99

Wilayah Timur

81,54

99,29

99,80

99,8

4) Penanganan Tindak Pidana Perikanan


Penanganan pelanggaran oleh KKP, atas kapal-kapal perikanan pelaku
tindak pidana pelanggaran bidang perikanan dilakukan hingga ke
tahap P-21. Selama kurun waktu 2010-2013 beberapa hasil kegiatan
penanganan tindak pidana perikanan diuraikan sebagai berikut:
a) Penanganan Kasus Pelanggaran
Selama kurun waktu 2010-2013, jumlah kasus pelanggaran yang
ditangani menurut jenis pelanggaran dapat dilihat pada tabel berikut:

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

47

Tabel 21. Jumlah Kasus Pelanggaran dan Jenisnya Tahun 2010-2013


NO.

JENIS PELANGGARAN

JUMLAH KASUS
2010

2011

2012

2013

Penangkapan ikan tidak memiliki dokumen


(SIUP/SIPI/SIKPI) atau tanpa ijin

43

18

15

23

Penangkapan ikan menggunakan alat tangkap


terlarang

11

17

Penangkapan Ikan tidak memiliki dokumen


(SIUP/SIPI/SIKPI)/tanpa ijin dan
menggunakan alat tangkap yang tidak sesuai
dengan perijinan/alat tangkap terlarang

95

41

55

29*

Dokumen di atas kapal tidak lengkap

17

16

Penangkapan ikan dengan menggunakan


bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak,
alat dan/atau cara yang dapat merugikan dan/
atau membahayakan kelestarian sumber daya
ikan dan/lingkungannya

Penangkapan ikan yang melanggar daerah


penangkapan (fishing ground)/tidak sesuai izin

10

32

Melakukan kegiatan penangkapan ikan


tanpa dokumen (SIUP/SIPI/SIKPI) di
daerah Unresolved Maritime Boundary Area dan
penggunaan alat tangkap terlarang, tetapi
terkait dengan MoU dengan Malaysia sehingga
harus dikembalikan ke negara Malaysia

Pengangkutan Ikan atau Ekspor ikan tidak


dilengkapi dokumen yang sah dan/atau tidak
sesuai dengan SIKPI

Bongkar muat ikan tidak sesuai dengan


pelabuhan pangkalan

99

125

84

Jumlah

150

Keterangan: * 1 kapal digunakan untuk pendeportasian ABK Asing

Perkembangan penanganan tindak pidana perikanan pada tahun


2010-2013, dari 458 kasus tindak pidana perikanan yang terjadi pada
kurun waktu 2010-2013, telah diberikan sanksi berupa administrasi
dan tindakan lain terhadap 114 kasus dan dilakukan proses hukum
terhadap 344 berkas perkara tindak pidana perikanan. Selanjutnya
dari 343 berkas perkara tersebut, terdapat 46 kasus SP3, 3 kasus
penyidikan, 2 kasus sudah P-21, 4 kasus Penyerahan Tahap II, 63
kasus dalam proses sidang, dan 202 kasus sudah incraht. Rincian
perkembangan penanganan pelanggaran Tindak Pidana Perikanan
(TPP) tahun 2010-2013 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Tabel 22. Penanganan Tindak pidana Perikanan Tahun 2010-2013

30

16

33

10

INKRACHT

KASASI

BANDING

PROSES PERSIDANGAN

18

TAHAP II

P-21

99

PENYIDIKAN

125

SP3

2012
2011

TINDAKAN LAIN

84

SANKSI ADMINISTRATIF

2013

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN

PERKARA

PROSES HUKUM

TAHUN KEJADIAN

48

39

15

24

12

41

48

2010

150

12

35

98

Jumlah

458

93

21

46

63

202

Peningkatan penyelesaian penyidikan tersebut didorong oleh


meningkatnya koordinasi antar instansi penegak hukum dalam hal
penanganan pelanggaran dan meningkatnya kemampuan Penyidik
Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam melakukan penyidikan.

b) Penangan ABK Non Justisia


Penanganan anak buah kapal (ABK) kapal ikan asing yang tertangkap
dan terbukti melakukan illegal fishing sangat penting mengingat
permasalahan-permasalahan yang akan timbul jika dibiarkan
berlarut-larut, terutama besarnya biaya dan penyebaran penyakit
menular.

Dari kapal-kapal ikan asing yang di-adhock selama tahun 2010-2013,


terdapat 500 orang ABK Asing yang ditahan dan diproses. Rincian
penanganan ABK Asing sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut:

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

49

Tabel 23. Penanganan ABK Non Justitia Tahun 2010 2013


TINDAK LANJUT

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN

SANKSI ADMINISTRATIF

PENYIDIKAN

SP3

PENYERAHAN TAHAP II

LAIN-LAIN

DIAMANKAN

DISERAHKAN KE IMIGRASI

DIPULANGKAN KEDAERAH ASAL

LAIN-LAIN

Indonesia

245

167

16

61

Malaysia

12

Vietnam

178

49

15

112

Thailand

80

10

65

Philiphina

196

41

15

14

126

Myanmar

59

43

Jumlah

779

63

208

63

41

341

61

WARGA NEGARA

TINDAKAN LAIN

NON JUSTITIA

JUMLAH AWAK KAPAL

TERSANGKA

Dalam penanganan ABK non justisia KKP melakukan koordinasi


dengan instansi terkait (DEPLU, Ditjen Imigrasi) serta kedutaan besar
negara asal kapal. Secara keseluruhan sejak tahun 20102013, KKP
telah mendeportasi ABK non justisia sebanyak 341 orang (Malaysia =
5 orang; Vietnam = 112 orang; Philipina = 126 orang; Thailand = 65
orang; Myanmar = 43 orang).

c) Forum Koordinasi Penanganan Tindak Pidana Perikanan


Sebagai upaya dalam meningkatkan penanganan tindak pidana di
bidang kelautan dan perikanan KKP membentuk Forum Koordinasi
Penanganan TPP. Forum ini terdiri dari seluruh unsur aparat penegak
hukum yang terkait dalam penanganan tindak pidana di bidang
perikanan serta dibentuk ditingkat pusat dan daerah (Provinsi, Kab./
Kota). Sampai dengan tahun 2013, telah berhasil dibentuk Forum
Koordinasi TPP di 29 lokasi dapat dilihat pada tabel berikut.

50

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Tabel 24. Jumlah Provinsi Yang Telah Membentuk


Forum Koordinasi s.d 2013
No

Daerah/Lokasi

No

Daerah/Lokasi

Provinsi Sumatera Barat

16

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Provinsi Kep. Riau

17

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Provinsi Jambi

18

Provinsi Kalimantan Timur

Provinsi Bengkulu

19

Provinsi Kalimantan Tengah

Provinsi Lampung

20

Provinsi Kalimantan Selatan

Provinsi DKI Jakarta

21

Provinsi Kalimantan Barat

Provinsi Jawa Barat

22

Provinsi Sulawesi Selatan

Provinsi Banten

23

Provinsi Sulawesi Utara

Provinsi Jawa Tengah

24

Provinsi Sulawesi Tengah

10

Provinsi D.I. Yogyakarta

25

Provinsi Sulawesi Barat

11

Provinsi Jawa Timur

26

Provinsi Gorontalo

12

Provinsi NAD

27

Provinsi Maluku

13

Provinsi Bali

28

Provinsi Maluku Utara

14

Provinsi Sumatera Utara

29

Provinsi Papua Barat

15

Provinsi Tenggara

Adapun 4 Provinsi, yaitu Provinsi Riau, Provinsi Kep. Bangka


Belitung, Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Papua dalam proses
pembentukan forum koordinasi penanganan tindak pidana kelautan
dan perikanan.

d) Pembentukan Pengadilan Khusus Perikanan


Pembentukan Pengadilan Perikanan merupakan amanat UU No.
31/2004 tentang Perikanan yang ditujukan untuk mengoptimalkan
penanganan tindak pidana perikanan. Pengadilan Perikanan tersebut
ditempatkan pada Pengadilan Negeri. Pembentukan Pengadilan
Perikanan telah dimulai sejak tahun 2006, dan sampai dengan
tahun 2013 telah terbentuk sebanyak 7 Pengadilan Perikanan yang
berlokasi di di Jakarta, Bitung, Belawan, Pontianak, Tual, Tanjung
Pinang dan Ranai.

Untuk mendukung operasional Pengadilan Perikanan khususnya


terkait dengan SDM, KKP telah melakukan pengembangan SDM
berupa pelatihan Hakim Adhock, Hakim Karier dan Panitera. Sampai
dengan tahun 2013, rekapitulasi SDM Pengadilan Perikanan sebagai
berikut:

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

51

Tabel 25. Rekapitulasi SDM Pengadilan Perikanan


NO

Jumlah Hakim Ad Hoc


Perikanan (orang)

Pengadilan Negeri

PN Jakarta Utara

PN Medan

PN Pontianak

PN Bitung

PN Tual

PN Tanjung Pinang

PN Ranai

Total

57

2.2.6 Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan


Tujuan program penelitian dan pengembangan IPTEK kelautan dan perikanan
ini adalah menyiapkan ilmu, pengetahuan dan teknologi sebagai basis
kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran diadopsinya
dan dimanfaatkannya IPTEK hasil penelitian dan pengembangan oleh para
pemangku kepentingan. Pelaksanaan program Penelitian dan Pengembangan
IPTEK Kelautan dan Perikanan tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian 3
indikator kinerja program sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Tabel 26. Kinerja Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK


Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2013 dan Target Renstra KKP 2014

Capaian
Pelaksanaan
program penelitian
dan pengembangan
IPTEK KP
tahun 20102013 umumnya
sudah sesuai
dengan target
Renstra, apabila
capaian ini dapat
dipertahankan
maka target Renstra
2014 akan tercapai.

Capaian
No.

Indikator
Kinerja

Satuan

Jumlah
Rekomendasi
Litbang yang
Dijadikan
Bahan
Kebijakan
Pembangunan
Pusat dan/atau

Jumlah Hasil
Litbang
Kelautan dan
Perikanan yang
Diadopsi oleh
Masyarakat
Kelautan dan
Perikanan

Jumlah
Pengguna
Hasil Litbang
Kelautan dan
Perikanan

Kenaikan
rata-rata
20102013 (%)

Target
2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

2010

2011

2012

2013

Buah

15

-9,44

83,33

Buah

10

10,95

106,06

Kelompok/
orang

137

99

137

38,38

156

111,01

52

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Dari tabel di atas terlihat bahwa capaian pengguna hasil litbang kelautan dan
perikanan pada tahun 2013 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012
yang tercapai sebanyak 161 pengguna. Jika dilihat dari tahun 2010 sampai
akhir tahun 2013, jumlah pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan
sudah mencapai 298 pengguna atau mencapai 88,69% dari target Renstra.
Penurunan jumlah paket IPTEK yang diadopsi oleh masyarakat pada tahun
2012 disebabkan beberapa kegiatan penerapan paket IPTEK pada tahun
tersebut dari anggaran penghematan/pemanfaatan yang baru terealisir
pada awal triwulan 3 karena memerlukan revisi DIPA. Untuk itu diperlukan
tingkat perencanaan yang tepat sehingga tidak terdapat revisi anggaran
dan melakukan kegiatan penerapan teknologi dimulai pada awal tahun.
Dengan demkian dapat memberikan ruang dan waktu bagi masyarakat untuk
introduksi oleh IPTEK. Jika dilihat dari tahun 2010 sampai akhir tahun 2013,
hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan
dan perikanan sudah mencapai 35 buah atau telah melebihi target Renstra
sebesar 106,06%. Rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan
pembangunan di pusat dan daerah, sampai dengan tahun 2013 sudah
terealisasi sebanyak 30 buah rekomendasi atau 83,33% dari target Renstra.

2.2.7 Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan


Tujuan program pengembangan sumber daya manusia kelautan dan
perikanan adalah meningkatkan kualitas SDM kelautan dan perikanan
dengan sasaran meningkatnya kompetensi SDM kelautan dan perikanan.
Pelaksanaan program pengembangan sumber daya manusia kelautan dan
perikanan tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian indikator kinerja
program sebagaimana disajikan pada tabel berikut:

Tabel 27. Kinerja Program Pengembangan Sumber Daya Manusia


Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2013 dan Target Renstra KKP 2014

Capaian
pelaksanaan
program
pengembangan SDM
KP 2010-2013
sudah sesuai
dengan target dan
apabila capaian
ini mampu
dipertahankan
maka target Renstra
akan terlampaui.

Capaian
Indikator
Kinerja

Satuan

Jumlah
SDM
kelautan dan
perikanan
yang
kompeten

orang

2010

2011

2012

2013

11.358

29.297

40.176

67.432

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

% capaian
Tahun
2013
terhadap
Target
Renstra

188

68.900

97,87

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

53

Program Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan sesuai dengan Renstra


KKP dan Renstra BPSDMKP 2010-2014 diwujudkan dalam pelaksanaan
4 (empat) bidang, yang terdiri dari Bidang Pendidikan KP, Pelatihan KP,
Penyuluhan KP dan Dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis
lainnya BPSDMKP.

Tabel 28. Kinerja Pendidikan, Pelatihan, Penyuluhan KP Tahun 2010 - 2013


Target
2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

2010

2011

2012

2013

Kenaikan
rata-rata
(%)

Jumlah lulusan
pendidikan yang
kompeten sesuai
kebutuhan (Orang)

1.451

1.447

1,419

1.420

99,28

1700
orang

81,75

Tersedianya lulusan
pelatihan KP sesuai
standar kompetensi
dan kebutuhan

Jumlah lulusan
pelatihan yang sesuai
standar dan kebutuhan
(Orang)

3.287

13.580

23.097

23.292

227,93

17.200
orang

135,42

Meningkatnya
jumlah kelompok
pelaku utama dan
pelaku usaha di
kawasan prioritas
perikanan dan
kabupaten/kota
potensial perikanan

Jumlah kelompok
pelaku utama/usaha
yang disuluh

236

5.000
kelompok
mndiri
/ 50.000
orang

Program/
Kegiatan

Sasaran Strategis

Pendidikan
Kelautan
dan
Perikanan

Terpenuhinya tenaga
terdidik kompeten
sesuai kebutuhan

Pelatihan
Kelautan
dan
Perikanan

Pelatihan
Kelautan
dan
Perikanan

Indikator Kinerja

(1 kelompok 10 Orang)
*untuk Tahun 2010 1
Kelompok = 20 orang)

331 orang
/ 50
Kawasan

713

1,966

4.272

85,44

Pendidikan KP dengan target capaian kinerja output yaitu terpenuhinya


tenaga terdidik kompeten sesuai kebutuhan maka jumlah lulusan pendidikan
yang kompeten sesuai kebutuhan yang dapat dihasilkan selama priode 2010
2013 dengan rata-rata kenaikan sebesar 99,28 %. Dalam rangka menyiapkan
tenaga terdidik yang siap pakai, Pusat Pendidikan KP menyelenggarakan
kegiatan pendidikan kelautan dan perikanan melalui satuan pendidikan
sekolah menengah kejuruan, akademi dan sekolah tinggi kelautan dan
perikanan yang tersebar di wilayah Indonesia. Pada akhir Tahun 2013,
jumlah lulusan pendidikan yang dapat terserap oleh DU/DI sebanyak 1.280
orang atau 100,15 % dari jumlah lulusan periode 2012 2013. Berdasarkan
data sebaran lulusan, sebanyak 1.280 orang atau 100,15 % bekerja di sektor
kelautan dan perikanan yang menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan telah
dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan DU/DI.
Pelatihan KP dengan target capaian kinerja output yaitu tersedianya lulusan
pelatihan KP sesuai standar kompetensi dan kebutuhan dapat melampaui
target dengan kenaikan capaian output rata-rata per-tahun sebesar 227,93
%. Hasil capaian ini diperoleh melalui upaya peningkatan kerjasama dengan
berbagai stakeholder terkait dan penyelenggaraan pelatihan di Pusat
Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) sebagai mitra BPSDMKP
untuk mendekatkan pelaku utama/usaha dengan lembaga pelatihan KP.

54

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Pusat Pelatihan KP telah melaksanakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan


kualitas penyelenggaraan pelatihan KP, antara lain melalui penyusunan SKKNI
dan SKK, penyediaan kurikulum dan modul pelatihan interaktif, penyusunan
materi uji kompetensi, peningkatan kapasitas tenaga pelatih dan kepelatihan,
peningkatan sarana prasarana pelatihan serta pelaksanaan unjuk kerja
pelatihan sebagai sarana menampilkan hasil pelatihan ke berbagai pihak
seperti lembaga perbankan, pihak swasta, pemerintah daerah yang dapat
membuka jalan untuk penerapan hasil pelatihan dan pengembangan usaha.

Penyuluhan KP dengan target capaian kinerja output yaitu meningkatnya


jumlah kelompok pelaku utama dan pelaku usaha di kawasan prioritas
perikanan dan kabupaten/kota potensial perikanan rata-rata mengalami
kenaikan capaian output per tahun sebesar 236 %. Hasil capaian ini diperoleh
melalui kerja keras jajaran Penyuluh Perikanan dengan jumlah total sebanyak
11.416 orang yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia dalam mendampingi
pelaku utama/pelaku usaha dan mengawal pelaksanaan Program Nasional
Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pusat Penyuluhan KP telah melaksanakan berbagai kegiatan antara lain


peningkatan kapasitas Penyuluh, legislasi penyuluhan, sertifikasi Penyuluh,
pengembangan modul dan materi penyuluhan, peningkatan sarana prasarana
penyuluhan, pengembangan Cyber Extension untuk penyebar luasan materi
penyuluhan agar mudah di akses oleh penyuluh maupun pelaku utama/
usaha serta pemilihan Penyuluh Teladan yang bertujuan meningkatkan
motivasi dan etos kerja para penyuluh dalam melaksanakan pendampingan
bagi masyarakat KP.
Seluruh kegiatan yang dilaksanakan tersebut, bermuara pada satu tujuan
yaitu terbangunnya Kelompok Usaha mandiri yang dapat mengembangkan
usahanya. Hasil pendampingan Penyuluh telah dapat membangun Kelompok
Usaha mandiri sebanyak 2.347 kelompok yang dapat menjadi wadah bagi
pelaku utama/usaha untuk memiliki daya saing yang lebih tinggi dalam dunia
bisnis kelautan dan perikanan.

2.2.8

Program Pengembangan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan


Keamanan Hasil Perikanan
Tujuan program pengembangan karantina ikan, pengendalian mutu dan
keamanan hasil perikanan adalah melindungi kelestarian sumber daya
hayati perikanan dan kelautan dari Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK)
serta menjamin mutu dan keamanan hasil perikanan nasional dengan
sasaran meningkatnya persentase media pembawa yang memenuhi sistem
jaminan kesehatan ikan melalui sertifikasi kesehatan ikan ekspor, impor dan
antar area, menurunnya jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan
per negara mitra, dan meningkatnya jumlah sertifikasi penerapan sistem

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

55

jaminan mutu (sertifikat HACCP) di UPI sebagai persyaratan ekspor.


Pelaksanaan program pengembangan karantina ikan, pengendalian mutu
dan keamanan hasil perikanan tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian 3
indikator kinerja program sebagaimana disajikan pada tabel berikut:

Tabel 29. Kinerja Program Pengembangan Karantina Ikan,


Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Tahun 2010-2013
dan Target Renstra KKP 2014

Capaian
pelaksanaan
program
pengembangan
karantina ikan,
pengendalian mutu
dan keamanan
hasil perikanan
tahun 20102013 umumnya
sudah sesuai
dengan target
Renstra, apabila
capaian ini dapat
dipertahankan
maka target Renstra
2014 akan tercapai.

Capaian
Indikator Kinerja

Satuan

Persentase media
pembawa hama
dan penyakit ikan
impor, ekspor dan
antar area yang
bebas penyakit ikan
karantina dan Hama
Penyakit Ikan yang
dipersyaratkan

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

%
capaian
Tahun
2013
terhadap
Target
Renstra

2010

2011

2012

2013

98,45

98,48

99,12

0,34

98,00

101,14

Jumlah kasus
penolakan ekspor
hasil perikanan per
negara mitra

kasus

<10

<10

<10

100

<10

100

Jumlah sertifikasi
penerapan sistem
jaminan mutu
(sertifikat HACCP)
di Unit Pengolahan
Ikan sebagai
persyaratan ekspor

sertifikat

1.133

1.145

1.219

3,76

1.125

108,36

Indikator kinerja persentase media pembawa hama dan penyakit ikan


impor, ekspor dan antar area yang bebas penyakit ikan karantina dan hama
penyakit ikan yang dipersyaratkan, realisasinya sampai dengan tahun 2013
sebesar 99,12% atau sudah melampaui target Renstra sebesar 101,41%,
Indikator ini dicapai melalui kegiatan yang menggambarkan aktivitas
pelaksanaan tugas dan fungsi perkarantinaan ikan, pengendalian mutu
dan keamanan hasil perikanan, yang dimanifestasikan dengan pelayanan
sertifikat kesehatan ikan melalui tindakan karantina ikan. Kinerja pelayanan
sertifikat kesehatan ikan dan tindakan karantina dapat diperoleh dari
media pembawa yang dilalulintaskan secara impor, ekspor dan antar area
(domestik).

Sertifikasi penerapan sistem jaminan mutu (sertifikat HACCP) di UPI sebagai


persyaratan sampai dengan tahun 2013 capaiannya telah melampaui target
Renstra sebanyak 1.219 sertifikat atau 108,36%. Pelayanan sertifikat
kesehatan ikan tersebut didukung oleh laboratorium UPT KIPM yang telah
terakreditasi sejumlah 27 unit, yaitu Balai Besar KIPM Jakarta I, Balai Besar
KIPM Makassar, Balai Uji Standar KIPM, Balai KIPM Kelas I Surabaya I, Balai
KIPM Kelas I Denpasar, Balai KIPM Kelas I Balikpapan, Balai KIPM Kelas I

56

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Sentani, Balai KIPM Kelas I Surabaya II, Balai KIPM Kelas II Semarang, Balai
KIPM Kelas I Jakarta II, Balai KIPM Kelas II Palembang, Stasiun KIPM Kelas
I Batam, Stasiun KIPM Kelas I Lampung, Stasiun KIPM Kelas I Entikong,
Stasiun KIPM Kelas I Jambi, Stasiun KIPM Kelas I Pontianak, Stasiun KIPM
Kelas I Palu, Stasiun KIPM Kelas I Ambon, Stasiun KIPM Kelas I Yogyakarta,
Stasiun KIPM Kelas I Pekanbaru, Stasiun KIPM Kelas I Padang, Stasiun KIPM
Kelas I Palangkaraya, Stasiun KIPM Kelas I Pangkalpinang, Stasiun KIPM
Kelas I Bengkulu, Stasiun KIPM Kelas II Cirebon, Stasiun KIPM Kelas II
Merauke, dan Stasiun KIPM Kelas II Tarakan.

Untuk indikator jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara
mitra, sejak tahun 2011 hingga tahun 2013 capaiannya selalu memenuhi
target <10 kasus, atau tingkat capaiannya 100%. Hal ini karena tidak
ada negara yang jumlah kasus penolakan ekspor <10 kasus. Indikator ini
dihitung berdasarkan jumlah kasus per negara mitra bukan merupakan
jumlah total kasus penolakan ekspor seluruh negara mitra.
2.2.9 Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP
Tujuan program pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur KKP
adalah meningkatkan efektifitas peran pengawasan internal dengan sasaran
program peningkatan kinerja dan akuntabilitas Aparatur KKP, terwujudnya
AKIP yang efektif di KKP, dan peningkatan kualitas pelayanan publik
kepada masyarakat. Pelaksanaan program pengawasan dan peningkatan
akuntabilitas aparatur KKP tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian 5
indikator kinerja program sebagaimana disajikan pada tabel berikut:

Tabel 30. Kinerja Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas


Aparatur KKP Tahun 2010-2013 dan Target Renstra KKP 2014

Capaian
pelaksanaan
program program
pengawasan dan
peningkatan
akuntabilitas
aparatur KKP
tahun 20102013 umumnya
sudah sesuai
dengan target
Renstra, apabila
capaian ini dapat
dipertahankan
maka target Renstra
2014 akan tercapai.

Capaian
Indikator
Kinerja

Satuan

Opini
BPK-RI atas
Laporan
Keuangan
KKP

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

2010

2011

2012

2013

WTP

WTP

WTP

WTP

WTP

100

WTP

100

Nilai
Implementasi
RB KKP

Nilai

70,81

Belum
bisa
dihitung

Baik

Nilai AKIP
KKP

Nilai

CC

CC

100

>100

Nilai
Integritas
KKP

Nilai

6,89

7,12

3,34

7,00

>100

Nilai Inisiatif
Anti Korupsi
KKP

Nilai

7,46

7,60

1,88

9,00

84,44

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

57

2.2.10 Program Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas


Teknis Lainnya KKP
Tujuan program peningkatan dukungan manajemen dan pelaksanaan
tugas teknis lainnya KKP adalah meningkatkan pembinaan dan koordinasi
penyelenggaraan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran
terwujudnya Reformasi Birokrasi di KKP, kualitas akuntabilitas kinerja dan
pengelolaan keuangan KKP.
Pelaksanaan program peningkatan dukungan manajemen dan pelaksanaan
tugas teknis lainnya tahun 2010-2013 ditandai dengan capaian 5 indikator
kinerja program sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
Tabel 31. Pengukuran Kinerja Program Peningkatan Dukungan
Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP tahun
2010-2013

Capaian
pelaksanaan
peningkatan
dukungan
manajemen dan
pelaksanaan tugas
teknis lainnya
KKP tahun 20102013 umumnya
sudah sesuai
dengan target
Renstra, apabila
capaian ini dapat
dipertahankan
maka target Renstra
2014 akan tercapai.

Capaian
Indikator Kinerja

Satuan

Jumlah produk
peraturan
perundangundangan bidang
Kelautan dan
Perikanan yang
telah diterbitkan
Tingkat kualitas
akuntabilitas
kinerja KKP

Kenaikan
rata-rata
2010-2013
(%)

Target
2014

% capaian
Tahun 2013
terhadap
Target
Renstra

2010

2011

2012

2013

produk

13

77

68

188,78

56

121,43

Nilai AKIP

CC

CC

100

100

Opini BPK atas


laporan keuangan

Nilai

WTP

WTP

WTP

WTP

100

WTP

WTP

Jumlah dokumen
pelaksanaan RB
di KKP

Dokumen

100

100

100

Jumlah perjanjian
yang telah
diimplementasikan

Dokumen

27

45

100

27

166,67

58

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

59

Bab 3.
Evaluasi
Pelaksanaan
Program Prioritas
Nasional dan
Capaian lainnya

60

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

3.1 Evaluasi Pelaksanaan Inpres Percepatan Prioritas Nasional


Perkembangan pencapaian 5 Prioritas Nasional (PN) yang menjadi tanggung jawab
KKP hingga 4 tahun pelaksanaan Renstra 2010-2014 menunjukkan kemajuan dalam
upaya pencapaian target akhir di tahun 2014. Secara umum, pencapaian sasaran PN
menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Sebagian besar pencapaian PN
diperkirakan mencapai target tahun 2014 (dalam Renstra 2010-2014) yang ditetapkan.
Dari 14 PN, sembilan PN diperkirakan mencapai target yang ditetapkan, sementara PN
lainnya yang masih memerlukan kerja keras untuk mencapai target tahun 2014 adalah
pembangunan kapal Inka Mina dalam mendukung PN 5: Ketahanan Pangan. Pencapaian
PN diukur melalui pencapaian indikator penting yang merupakan indikator sasaran utama
RPJMN 2010-2014, indikator substansi inti atau indikator kegiatan prioritas. Penjelasan
mengenai pencapaian masing-masing PN diawali dengan penjelasan mengenai arah
kebijakan atau sasaran yang harus dicapai diikuti pencapaian sasaran secara umum.
Kemudian pencapaian dijelaskan lebih terperinci berikut dengan permasalahan dan
kendala yang dihadapi serta langkah tindak lanjut yang perlu dilakukan terutama untuk
capaian indikator yang masih memerlukan kerja keras ataupun yang sulit tercapai.
3.1.1 Pelaksanaan PN 1 : Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola
Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola dimaksudkan untuk mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik, dengan sasaran: (1) terwujudnya pemerintahan yang
bersih, (2) meningkatnya kualitas pelayanan publik, dan (3) meningkatnya kapasitas
dan akuntabilitas kinerja birokrasi.

Capaian reformasi birokrasi dan tata kelola yang telah dilaksanakan oleh KKP
sampai dengan tahun 2013 meliputi:
1. Manajemen Perubahan yakni: Terbentuknya Tim Manajemen Perubahan
Lingkup KKP secara berjenjang; Tersusunnya dokumen strategi manajemen
perubahan dan manajemen komunikasi; dan Terselenggaranya sosialisasi dan
internalisasi manajemen perubahan.
2. Penataan Peraturan Perundangan yakni: Penataan berbagai peraturan
perundangan yang diterbitkan oleh KKP (tersedianya peta per-UU-an lingkup
KKP; penataan berbagai peraturan perundangan; terlaksananya regulasi dan
deregulasi per-UU-an); Penataan dan Penguatan Organisasi; Restrukturisasi
pelaksanaan Tugas dan Fungsi Unit KKP, tersedianya peta tugas dan fungsi
unit kerja KKP; Penguatan unit kerja yang menangani organisasi, tata laksana,
pelayanan publik, kepegawaian dan Diklat; Terbentuknya unit kerja yang
menangani fungsi organisasi, tata laksana, kepegawaian dan Diklat yang mampu
mendukung tercapainya tujuan dan sasaran RB).
3. Penataan Tata Laksana yakni: Tersedianya dokumen SOP Penyelenggaraan
Tugas dan Fungsi; dan Tersedianya e-Government pada KKP.
4. Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur yakni: Terbangunnya sistem
rekruitmen yang terbuka, transparan, akuntabel, dan berbasis kompetensi;
Tersedianya uraian jabatan; Tersedianya peringkat jabatan; Tersedianya

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

5.
6.

7.

8.
9.

61

dokumen standar kompetensi jabatan; Tersedianya peta profil kompetensi


jabatan; Tersedianya indikator individu yang terukur; Tersedianya data pegawai
yang akurat; dan Terbangunnya sistem dan proses pendidikan dan pelatihan
berbasis kompetensi.
Penguatan Pengawasan Internal yakni: Penerapan Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah (SPIP) di KKP; dan Peningkatan peran Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah(APIP) sebagai Quality Assurance and Consulting.
Penguatan Akuntabilitas Kinerja yakni: Terjadi peningkatan kualitas Laporan
Kinerja Pemerintah (LAKIP); Terbangunnya sistem manajemen kinerja
organisasi; Tersusunnya IKU KKP; dan Tersusunnya dokumen Balanced
Scorecard (BSC) untuk peningkatan pengelolaan kinerja. Performance KKP
akan diukur atas dasar penilaian atas pencapaian sasaran-sasaran strategis
(SS) sebagaimana tertuang pada peta strategi KKP 2013 dan pencapaian insiatif
strategis. Melalui pengukuran kinerja dengan metode BSC, diharapkan setiap
anggaran yang dibelanjakan dapat terukur penggunaannya dalam mendukung
pencapaian visi dan misi. BSC lingkup KKP telah disusun mulai level 0 (Menteri)
sampai dengan level staf dan telah dilakukan penandatanganan kontrak kinerja
pada tanggal 1 Juli 2013 secara berjenjang.
Selain penerapan BSC, upaya yang dilakukan KKP untuk memperbaiki
Akuntabilitas Kinerja KKP adalah: 1) Penetapan Pedoman Pengumpulan Data
Kinerja melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan; 2)Penyempurnaan
Kontrak Kinerja Individu melalui penetapan Sasaran Kerja Pegawai dengan
menambahkan indikator BSC (SKP). 3) Penggunaan Teknologi Informasi dalam
pengukuran kinerja organisasi melalui aplikasi Sistem Informasi Manajemen
Monitoring dan Evaluasi Kinerja (SiMeta) dan pengukuran kinerja individu
melalui Sistem Informasi Penilaian Kinerja Individu (SiPKINDU).
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, melalui peningkatan partisipasi
masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Monitoring dan Evaluasi, telah tersedianya laporan monitoring, laporan evaluasi
tahunan dan lima tahunan.

Prestasi yang dicapai KKP terkait dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi antara
lain :
1. Penilaian akuntabilitas kinerja :
Laporan keuangan mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP).
Akuntabilitas Kinerja KKP mendapatkan nilai A dengan nilai total 75,54.
2. Penilaian kualitas Pelayanan Publik :
Penilaian integritas KKP oleh KPK: 7,12 (naik dari 6,68 pada tahun 2012).
Penilaian inisiatif anti korupsi oleh KPK: 7,6 (naik dari 7,464 pada tahun
2012).

62

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Gambar 11. Dokumentasi Pelaksanaan RB di KKP

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

63

Gambar 12.
KKP memperoleh predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas laporan
keuangan KKP pada tanggal 11 Juli 2013 dan perkembangan penilaian Laporan
Keuangan dari tahun 2008

64

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Gambar 13. Pemberian penghargaan dari Wapres RI kepada MKP atas Penilaian
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dengan Predikat Nilai A pada
tanggal 2 Desember 2013 dan perkembangan penilaian nilai AKIP KKP dari tahun 2008
3.1.2 Pelaksanaan PN 4 : Penanggulangan Kemiskinan
Pelaksanaan prioritas penanggulangan kemiskinan dilaksanakan melalui Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri
KP), dimana dalam implementasinya dibagi menjadi kegiatan Pengembangan
Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Tangkap (PT), Perikanan Budidaya (PB),
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) serta Pemberdayaan Usaha
Garam Rakyat (PUGAR).

PNPM Mandiri KP bertujuan untuk meningkatkan kemampuan usaha dan


kesejahteraan, pengembangan wirausaha anggota KUKP serta meningkatnya kualitas
lingkungan. Sasaran PNPM Mandiri KP yaitu berkembangnya KUKP di Kabupaten/
Kota yang mencakup kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan
dan pemasaran hasil perikanan, dan usaha garam rakyat serta masyarakat pesisir
lainnya.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

65

Indikator output keberhasilan program program PNPM Mandiri KP, yakni


tersalurkannya Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) kepada KUKP; dan
terlaksananya fasilitasi penguatan kapasitas dan kelembagaan KUKP melalui
sosialisasi, pelatihan, pendampingan dan penyuluhan. Sedangkan indikator outcome
adalah meningkatnya produksi, pendapatan, dan penumbuhan wirausaha kelautan
dan perikanan serta meningkatnya kualitas lingkungan di dalam kelompok mandiri.
Sejak pelaksanaan pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2013, jumlah total
kelompok penerima PNPM Mandiri KP sebanyak 30.041 kelompok dengan total
dana yang dikucurkan sebanyak 1,93 triliun, sebagaimana tertera pada berikut.
Tabel 32. Rekapitulasi Pelaksanaan PNPM Mandiri KP Tahun 2011-2013

Jenis PNPM
Mandiri KP

Jumlah BLM (Rp miliar)


2011

2012

2013

Jumlah Jangkauan
Kab/Kota
2011

2012

2013

Jumlah Kelompok
Penerima
2011

2012

Jumlah Fasilitator
Pendamping

2013

2011

2012

2013

PUMP PT

110.60

370.00

300.00

132

287

311

1,106

3,700

3,000

364

478

478

PUMP PB

207.00

234.00

260.00

300

393

428

2,070

3,600

4,000

18

707

707

PUMP P2HP

20.40

75.00

75.00

53

145

224

408

1,500

1,500

40

280

290

PUGAR

66.50

84.74

54.90

40

40

42

1,728

3,422

3,347

78

94

129

PDPT
TOTAL

----

20.78

21.30

---

16

22

---

492

660

----

64

88

404.50

784.52

711.20

351

431

463

5,312

12,714

12,507

500

1,623

1,692

Melalui pelaksanaan PUMP-PT telah memberikan dampak antara lain (1)


Meningkatkan pendapatan nelayan melalui kegiatan pengembangan usaha nelayan
skala kecil di perdesaan; (2) Menumbuhkembangkan kewirausahaan nelayan di
perdesaan; (3) Meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi nelayan menjadi mitra
lembaga keuangan dalam rangka akses permodalan.

66

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Gambar 14. Evaluasi Pelaksanaan PUMP PT


Kegiatan PUMP-PB memberikan dampak outcome yaitu (i) meningkatnya jumlah
pembudidaya (tenaga kerja) dan usaha perikanan budidaya; (ii) meningkatnya
produksi perikanan termasuk produktivitas; dan (iii) meningkatnya kemampuan
manajemen usaha perikanan budidaya, melalui kegiatan pembinaan, penyuluhan
dan pendampingan. Dampak positif lainnya dari kegiatan PUMP-PB ini adalah
dapat menggerakkan roda perekonomian daerah khususnya di pedesaan yaitu dari
meningkatnya transaksi ekonomi atau jual beli seperti pembelian bahan peralatan
budidaya, benih/bibit ikan, pakan, pupuk, obat-obatan, hasil panen, produk olahan,
kebutuhan sehari-hari dan lain-lain. Dilihat dari segi kelembagaan kelompok, telah
memperkuat kerja sama dan dinamika kelompok serta berkembangnya kemitraan
usaha dengan penyedian pakan dan lembaga pembiayaan usaha seperti perbankan.

Bila dilihat secara acak ditingkat kelompok pembudidaya ikan, produksi ikan
mengalami peningkatan dari 5.600 kg menjadi 14.328 kg per panen atau meningkat
156%. Peningkatan produksi ini dimungkinkan oleh adanya peningkatan teknologi
budidaya ikan yang diterapkan (seperti peningkatan padat tebar, penggunaan
benih/bibit unggul, serta pemberian pakan dan obat-obatan untuk pengendalian
penyakit ikan) dan adanya manajemen usaha yang lebih baik.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

67

Pemberian bantuan modal usaha dari PUMP-PB tahun 2011 berdampak positif pula
terhadap peningkatan pendapatan pembudidaya ikan. Peningkatan pendapatan
juga terjadi pada usaha pembenihan, dengan rata-rata peningkatan pendapatan
usaha pembenihan dari Rp1.500.000 menjadi Rp3.500.000/bulan. Sehingga terjadi
peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan.

Penyerapan tenaga kerja pada sub sektor perikanan budidaya mengalami


peningkatan penyerapan tenaga kerja sebanyak 116.604 orang selama tahun 20112013, dengan rincian 30.078 orang tahun 2011; 39.936 orang tahun 2012 dan 46.590
orang pada tahun 2013 yang sebagian besar berasal dari masyarakat yang kurang
produktif atau belum memiliki pekerjan tetap, namun sekarang telah memiliki
pekerjaan tetap sebagai pembudidaya ikan. Apabila dilihat dampak ikutannya
dari kegiatan PUMP-PB ini menambah minat masyarakat untuk melakukan usaha
perikanan budidaya, sehingga terjadi penambahan jumlah pembudidaya ikan dan
usaha perikanan budidaya.

Berdasarkan quick count evaluasi PUMP PB didapatkan bahwa keberhasilan PUMPPB di tahun 2011 sebesar 73,60% yang meningkat di tahun 2012 sebesar 84,79%
dan tahun 2013 data belum sepenuhnya terkumpul karena masih proses pencairan
sebesar 16,3% sehingga tingkat keberhasilan pada tahun 2013 hanya sebesar
79,2%, sebagaimana pada gambar berikut:

Gambar 15. Evaluasi Pelaksanaan PUMP PB

Profil Pokdakan Barokah


Alamat:
Kel. Sungai Andai, Kec. Banjarmasin Utara,
Kab. Banjarmasin-Kalsel
Jlh Anggt: 18 orang
Luas Areal: 1,1 ha
Produksi: 8,2 ton
Pendapatan: Rp. 106.704.000, (per siklus)

Gambar 16. Contoh Success Story Pelaksanaan PUMP PB

68

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Selama kurun waktu 4 tahun, berdasarkan laporan dari PPTK pendamping PUMPP2HP yang terekam sampai dengan saat ini diperoleh evaluasi perkembangan PUMP
P2HP Tahun 2011 dan 2012.

Gambar 17. Evaluasi Pelaksanaan PUMP P2HP

Gambar 18. Contoh Success Story Pelaksanaan PUMP P2HP


Berdasarkan laporan PPTK pendamping PUMP-P2HP, evaluasi perkembangan
PUMP-P2HP tahun 2011 dan 2012 menunjukkan 81,11% Poklahsar tahun 2011 dan
84% Poklahsar tahun 2012 termasuk kategori berhasil, yaitu kelompok yang mampu
berproduksi secara kontinyu dan terjadi peningkatan pendapatan. Sedangkan
sisanya, sebesar 15,56% Poklahsar tahun 2011 dan 11% Poklahsar tahun 2012
termasuk kategori belum berhasil, yaitu hanya mampu berproduksi saja tanpa ada
peningkatan pendapatan. Poklahsar dalam kategori belum berhasil ini dikarenakan
kelompok belum berupaya secara maksimal dalam memperluas jaringan pasar.
Sedangkan sebesar 3,33% Poklahsar tahun 2011 dan 3% Poklahsar tahun 2012
termasuk kategori tidak berhasil, karena kelompok mengalami kesulitan dalam
berproduksi dari sisi modal, bahan baku dan pasar. Salah satu contoh Poklahsar

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

69

yang termasuk dalam kategori sangat berhasil yakni untuk PUMP-P2HP tahun 2012,
yaitu Poklahsar yang berada di Kabupaten Nganjuk, dimana Poklahsar ini telah
dapat melakukan akses modal dari CSR Semen Gresik.

Sejak digulirkan program PUGAR, produksi garam nasional juga terangkat. Tercatat,
produksi garam rakyat secara nasional tahun 2011 sebesar 1.623.786 ton dengan
produktivitas 68,16 ton/ha dan untuk produksi garam PUGAR sendiri mencapai
856.356 ton dengan produktivitas 78,04 ton/ha. Pada tahun 2012 produksi garam
nasional mencapai 2.473.716 ton, dari luasan lahan 26,95 ha dengan produktivitas
mencapai 91,7 ton/ha. Sementara produksi garam PUGAR secara nasional pada
tahun 2012 meningkat drastis hingga mencapai 2.020.109 ton dengan produktivitas
96,79 ton/ha dari luas lahan sebesar 20.870 ha. Sedangkan kebutuhan garam
konsumsi sebesar 1.466.336 ton. Dengan demikian telah terjadi surplus garam
konsumsi. Dengan kondisi tersebut berarti Swasembada Garam Konsumsi Nasional
sudah tercapai.

Untuk mempertahankan swasembada garam konsumsi itu, maka PUGAR tahun 2013
tidak semata untuk mengejar produksi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan
kualitas garam yang dihasilkannya. Terobosan PUGAR dengan Teknologi Ulir Filter
(TUF) telah mampu meningkatkan produktivitas garam rakyat hingga 120 ton/ ha
dengan hasil garam yang lebih bersih, putih dan kandungan NaCl mencapai 97,4%.
Keberhasilan ini telah diaplikasikan di beberapa kabupaten seperi Cirebon, Brebes,
Takalar, Bima, Rembang, yang tentunya akan dikembangkan di daerah-daerah
lainnya.
Permasalahan utama PUGAR 2013 adalah pendeknya masa produksi yang
diakibatkan anomali cuaca. Namun demikian, dengan masa produksi 1,5 bulan,
PUGAR masih mampu berproduksi sebesar 1.041.472,55 ton. Ditambah dengan
produksi dari non-PUGAR tahun ini sebesar 122.134,99 ton dan PT. Garam sebesar
156.000 ton, maka keseluruhan produksi garam nasional tahun 2013 mencapai
1.319.607,54 ton. Dari sisi pemberdayaan, Program PUGAR Tahun 2013 menyentuh
3.521 kelompok meliputi 31.432 anggota. Penyerapan tenaga kerja baik yang
terlibat langsung maupun tidak langsung diperkirakan berjumlah 34.575 orang.
Dari sisi pemberdayaan, Program PUGAR Tahun 2013 menyentuh 3.521 kelompok
meliputi 31.432 anggota.

Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT) merupakan bagian pelaksanaan


program PNPM-Mandiri KP melalui bantuan pengembangan manusia, sumber daya,
infrastruktur/ lingkungan, usaha dan siaga bencana dan perubahan iklim dengan
tujuan yaitu : 1) Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana dan
perubahan iklim di desa pesisir dan pulau-pulau kecil; 2) Meningkatkan kualitas
lingkungan hidup di desa pesisir dan pulau-pulau kecil; 3) Meningkatkan kapasitas
kelembagaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan secara partisipatif
di desa pesisir dan pulau-pulau kecil; dan 4) Memfasilitasi kegiatan pembangunan
dan/atau pengembangan sarana dan/atau prasarana sosial ekonomi di desa pesisir
dan pulau-pulau kecil.

70

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

PDPT mulai diimplementasikan pada tahun 2012 di 16 Kab./Kota dengan jumlah


total desa sebanyak 48 desa (1 Kab./Kota terdiri dari 3 Desa/Kelurahan/Nagari).
Pada tahun 2013 PDPT mendapatkan tambahan lokasi baru sebanyak 6 Kabupaten
(18 desa pesisir), sehingga total pelaksana PDPT tahun 2013 adalah 22 Kab./Kota
yang terdiri dari 66 Desa/Kelurahan/Nagari.

Pencapaian kegiatan PDPT pada tahun 2013 antara lain: tersusunnya 66 dokumen
Rencana Pengembangan Desa Pesisir/RPDP (48 dokumen reviu dan 18 dokumen
baru) beserta Rencana Kerja Kelompok (RKK), teridentifikasi dan terbentuknya
Kelompok Masyarakat Pesisir (KMP), serta tersalurkannya BLM melalui pencairan
ke rekening setiap KMP di 22 Kab./Kota dengan total nilai Rp21.280.617.000,- yang
diwujudkan dengan terbangunnya prasarana dan sarana ekonomi, sosial, dan/atau
lingkungan pada tingkat desa.

Sebelum

Sesudah

Gambar 19. Kegiatan PDPT 2012; pekerjaan pembangunan jalan evakuasi tsunami
(250x2x0.15m), lokasi Desa Batu Lungun, Kabupaten Kaur
Hasil evaluasi pelaksanaan PNPM Mandiri KP tahun 2010-2013 terdapat beberapa
permasalahan utama yang menjadi kendala antara lain:
1. Proses verifikasi dan validasi kelompok calaon penerima memerlukan waktu
yang cukup lama, sehingga penerapan kelompok penerima dan penyaluran
dana PUMP di beberapa lokasi mengalami keterlambatan.
2. Adanya revisi Rencana Usaha Bersama (RUB) oleh kelompok penerima
menyebabkan mundurnya waktu penyaluran.
3. Kesalahan penulisan pada dokumen pencairan yang membutuhkan waktu
perbaikan yang cukup lama mengingat jarak wilayah.
4. Kurangnya jumlah PPTK dibandingkan dengan cakupa wailyah tugasnya.
5. Pemahaman dan pengatahuan tenaga pendamping akan program belum merata
sehingga terdapat perbedaan pelaksanaan teknis di lapangan.
6. Banyaknya perubahan personal Tim Teknis di daerah dikarenakan banyaknya
mutasi ditingkat Kabupaten/Kota.
Tindak lanjut yang dilakukan:
1. Peningkatan koordinasi Pokja pusat dengan Tim Teknis dan Tim Pembina pada
proses verifikasi dan proses pencairan.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

71

2. Sosialisasi pada Tim Teknis agar perubahan RUB ditetapkan melalui Berota
Acara perubahan yang disetujui oleh tenaga pendamping dan tim teknis.
3. Pembekalan pada PPTK dan pelatihan teknis pada kelompok penerima PUMP
dan PUGAR.
4. Mengkoordinasikan penempatan PPTK sesuai dengan alokasi PUMP yang telah
ditetapkan Eselon I pelaksana PUMP.
5. Melakukan sinergi pembiayaan honor PPTK dengan APBD kab/kota dan
melibatkan penyuluh PNS.
6. Mendorong Pemda kab/kota dan provinsi dalam tertib pelaporan kepada Pokja
pusat dan pembinaan kepada kelompok.
Untuk perbaikan kedepan langkah-langkah untuk perbaikan pelaksanaan PNPM
Mandiri KP ke depan:
1. erlu dibangun sistem informasi teknologi yang terintegrasi untuk memonitor
perkembangan hasil verifikasi dan pencairan bantuan pada kelompok, serta
mempermudah sistem pelaporan secara berjenjang.
2. Perlu sosialisasi yang lebih intensif pada Tim Pembina dan Tim Teknis serta
pembekalan substansi teknis pada PPTK.
3. Perlu sinkronisasi penempatan PPTK lebih awal dengan Tim Pokja disesuaikan
dengan alokasi per kab/kota.
4. Optimalisasi peran Tim Koordinasi dan Pokja pada Eselon I.
3.1.3 Pelaksanaan PN 5 : Ketahanan Pangan
Pelaksanaan prioritas ketahanan pangan dilaksanakan melalui rencana aksi
Pembinaan dan pengembangan kapal perikanan, alat penangkapan ikan dan
pengawakan kapal perikanan dengan kegiatan berupa pengadaan kapal perikanan
INKA MINA >30 GT, pengembangan pembangunan dan pengelolaan pelabuhan
perikanan, dan pengembangan sistem produksi pembudidayaan ikan.

a. Pengadaan Kapal Perikanan INKA MINA


Terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2010 tentang percepatan
Pelaksanaaan Prioritas Pembangunan Nasional, memberi kesempatan nelayan
untuk meningkatkan penghasilan mereka. Dimana, KKP memberi dukungan
sarana maupun prasarana, kapal Inka Mina dengan ukuran 30 GT (Gross Tonage)
keatas. Hingga 2014 mendatang, pemerintah menargetkan bantuan sebanyak
1000 kapal kepada kelompok nelayan di berbagai wilayah Indonesia.

Dari evaluasi yang telah dilakukan sebanyak 507 atau 98% kapal inka mina dari
total 519 realisasi pembangunan selama 2010-2012 telah sukses beroperasi dan
berhasil meningkatkan hasil tangkapan serta pendapatan nelayan di sejumlah
daerah. Dari jumlah kapal 519 unit yang telah terbangun, sebanyak 507 unit kapal
sudah beroperasional dengan baik. Hanya 12 unit kapal yang belum beroperasi
secara optimal dikarenakan masih masih dalam proses penyempurnaan fisik
kapal, proses mencari mitra untuk bantuan permodalan dan kapal belum

72

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

tiba di lokasi penerima karena kesalahan dari kontraktor. Hingga tahun 2013,
kapal-kapal tersebut telah berkontribusi terhadap peningkatan produksi hasil
tangkapan yang mencapai sebesar 5,81 juta ton serta peningkatan pendapatan
masyarakat dengan besaran total pendapatan rata-rata 46 juta rupiah pertrip
dengan kisaran 10 orang ABK perkapal. Pada tahun 2013, kapal inka mina yang
terbangun sebanyak 208 kapal dengan demikian sejak tahun 2010-2013 sudah
terbangun 727 kapal atau 72,7% dari total 1000 kapal, sebagaimana pada tabel
berikut.

Tabel 33. Alokasi dan Realisasi Pembangunan Kapal Inka Mina Tahun
2010-2013
Tahun
2010

Alokasi (unit)

Realisasi (unit)

TP

DAK

JML

TP

DAK

JML

60

60

46

46

2011

125

128

253

118

114

232

2012

125

124

249

121

120

241

2013

125

125

250

96

112

208

JUMLAH

409

376

785

381

346

727

Program Inka Mina yang digulirkan KKP, mulai memperlihatkan dampak


positifnya. Semenjak menggunakan kapal Inka Mina, nelayan penerima
bantuan mendapatkan hasil dua kali lipat. Ini menunjukkan, sesungguhnya
penggunaan kapal Inka Mina mempunyai tujuan untuk mengurangi kepadatan
operasi penangkapan ikan di wilayah pantai dan di bawah 12 mil yang telah
padat dengan perahu-perahu nelayan, sekaligus optimalisasi fishing ground di
wilayah penangkapan ikan nasional. Kapal Inka Mina, diharapkan mampu untuk
meningkatkan produksi dan produktivitas nelayan. Dengan program Inka Mina,
secara langsung mendukung peningkatan kemampuan Anak Buah Kapal (ABK)
dari skala kecil ke skala menengah dan besar dan bisa merekrut ABK minimal
10 nelayan per kelompok.

Berdasarkan data yang diperoleh dari evaluasi pengelolaan kapal Inka Mina
yang telah operasional sebanyak 349 unit, secara keseluruhan pendapatan
rata-rata 17 unit kapal Inka Mina per trip operasi penangkapan dapat mencapai
lebih dari 100 juta rupiah, 11 unit kapal berpendapatan antara Rp75-100 juta/
trip, 27 unit kapal berpendapatan antara Rp50-75 juta/trip, 105 unit kapal
berpendapatan antara Rp25-50 juta/trip dan 189 unit kapal berpendapatan
dibawah Rp25 juta/trip.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

73

Tabel 34. Evaluasi Kapal Inka Mina 2010-2012


No

Pendapatan/
Trip (Rp Juta)

Jumlah Kapal
(Unit)

Pendapatan Bersih/Trip
(Rp Juta)

1.

> 100

17

80

2.

75- 100

11

58

3.

50 - 75

27

45

4.

25 - 50

105

36

5.

< 25

189

12

Total

349**

Keterangan:

Berasal dari kapal Inka Mina pengadaan tahun 2010-2012 yang sudah melaporkan. Kapal Inka Mina
pengadaan tahun 2013 dalam proses evaluasi.

**Sebanyak 102 unit kapal lainnya pengadaan 2010-2012 yang telah operasional belum melaporkan
hasil produksinya (Rata-Rata ABK 10 Org/Kapal, Rata-Rata 2 Trip Penangkapan/Bulan)

Besarnya hasil tangkapan serta pendapatan untuk setiap kapal di setiap daerah
berbeda, bahkan beberapa diantaranya menunjukkan nilai yang fantastis.
Seperti di Kabupaten Luwu, Selawesi Selatan dari tiga kapal yang telah
beroperasional sejak tahun 2010 total pendapatan di peroleh sebesar Rp5
miliar. Selain itu nelayan mendapat berbagai keuntungan lainnya seperti yang
telah dirasakan oleh nelayan di Kabupaten Majene Sulawesi Barat yang kini
dapat menghasilkan tuna dengan kualitas ekspor yang semula hanya Grade C
kini bisa menghasilkan tuna dengan Grade A dengan harga USD 12 per kg.

Dalam pelaksanaan pembangunan kapal Inka Mina spesifikasi teknis terutama


konstruksi, mengacu kepada standar BKI (Biro Klasifikasi Indonesia).
Kekurangan dari spesifikasi pada tahun sebelumnya dievaluasi kemudian
diperbaiki. Beberapa perubahan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi terkait
dengan spesifikasi equipment kapal, seperti instalasi listrik dan mesin bantu
harus menggunakan spesifikasi marine (laut). Setiap kapal Inka Mina yang
diserahkan kepada nelayan telah dilakukan uji coba melaut (sea trial) untuk
memastikan kapal tersebut laik laut dan dilengkapi dengan surat kelaikan laut
dari instansi berwenang, yaitu Ditjen. Perhubungan Laut, Kemenhub.
Dari evaluasi program Inka Mina, KKP telah menetapkan ketentuan rinci sebagai
langkah perbaikan. Diantaranya, menetapkan Kelompok Usaha Bersama (KUB)
penerima dilakukan sebelum proses pembangunan kapal. Kedua, meningkatkan
monitoring dan evaluasi dari pra pembangunan, proses pembangunan hingga
pemanfaatan kapal Inka Mina. KKP juga akan melakukan pelatihan lebih intensif
SDM KUB calon penerima bantuan serta melakukan pendampingan pada saat
operasional kapal. Termasuk, memfasilitasi pengurusan dokumen kapal dan
perizinan penangkapan ikan. Untuk mempercepat pengurusan dokumen, KKP
juga telah membentuk Pokja tingkat pusat dengan melibatkan Kemenhub dan
Kemendagri.

74

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Gambar 20. Kapal Inka Mina 549 di Prov. Aceh (kiri atas), Inka Mina 603 di Prov. Kepri
(kiri bawah) dan Inka Mina 198 di Kab. Tarakan, Kalimantan Timur
b. Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan
Dalam rangka pengelolaan potensi sumber daya perikanan laut di perairan
Indonesia pada telah dilakukan pembangunan pelabuhan perikanan dari
tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Peningkatan ketersediaan fasilitas,
pelayanan, dan operasional pelabuhan perikanan bertujuan untuk mendukung
pengembangan ekonomi kawasan dan peningkatan konektivitas juga
mendukung ketahanan pangan yang menjamin pasokan ikan serta peningkatan
kapasitas industri pengolahan hasil perikanan. Hal ini, selaras dengan salah
satu arah kebijakan KKP pada 2013, yakni pengembangan dan pengawasan
sistem jaminan mutu dan traceability (ketelusuran) produk hasil perikanan dan
jaminan akan ketersediaan bahan baku industri.
Total pelabuhan perikanan yang dibangun adalah sebanyak 133 lokasi atau
116% dari total target sebanyak 115 lokasi. Lokasi pelabuhan perikanan yang
tidak terealisasi adalah sebanyak 2 lokasi yakni PP Karimun Prov. Kep. Riau
dan PPI Atapupu Prov. Nusa Tenggara Barat yang disebabkan oleh alokasi
anggaran semula direalokasi. Kedua lokasi tersebut tidak terealisasi pada tahun
2010, sedangkan pembangunan pelabuhan perikanan tahun 2011 terealisasi
sebanyak 100%, tahun 2012 teralisasi sebanyak 125% dan tahun 2013
terealisasi sebanyak 175%.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

75

Tabel 35. Alokasi dan Realisasi Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan
Tahun 2010-2013
Tahun

Alokasi (lokasi)

Realisasi (lokasi)

2010

43

41

2011

32

32

2012

20

25

2013

20

35

Total

115

133

Adapun permasalahan pembangunan pelabuhan perikanan adalah sebaran


PP tidak merata, sebagian besar di Indonesia Bagian Barat dan terfokus dalam
perairan antar pulau dan belum terintergrasinya sistem data dan informasi
di pelabuhan perikanan. Tindak lanjut kedepan antara lain pendanaan bagi
pengembangan PP KTI dan di lokasi perbatasan seperti: Miangas, Rote, Ranai,
Nunukan, Sikakap, Simeulue dan integrasi satu layanan informasi dan data
antara PIPP dengan Data Sharing System (DSS).

Gambar 21. Pembangunan Pelabuhan Perikanan

76

c.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Pengembangan Sistem Produksi Pembudidayaan Ikan


Salah satu kegiatan mendukung ketahanan pangan dilakukan melalui penilaian
sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) pada unit budidaya ikan.
Tujuan penilaian sebagai upaya untuk untuk memberikan jaminan terhadap
unit usaha budidaya yang telah menerapkan CBIB dan produk budidaya yang
dihasilkannya aman untuk dikonsumsi. Penilaian dalam rangka sertifikasi
dilakukan terhadap upaya pemenuhan persyaratan keamanan pangan hasil
pembudidayaan yang meliputi: (i) Pencegahan terhadap pencemaran di setiap
tahapan produksi, meliputi antara lain pemilihan lokasi, persiapan lahan,
pengelolaan air, penggunaan pakan, obat ikan dan bahan kimia; (ii) Pemenuhan
persyaratan sanitasi; (iii) Ketersediaan, kelengkapan dan kemutakhiran
dokumen pencatatan/rekaman; dan (iv) Pelatihan terhadap pembudidaya ikan.

Penilaian Sertifikasi CBIB dilaksanakan sejak tahun 2007, sejalan dengan


terbitnya serangkaian peraturan terkait Sistem Jaminan Mutu dan keamanan
Hasil Perikanan, termasuk Kepmen No. 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya
Ikan yang Baik dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER/19/
MEN/2010 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil
Perikanan. Pengendalian penerapan CBIB pada unit usaha budidaya dilakukan
melalui penerapan sertifikasi. Pelaksanaan sertifikasi CBIB telah diatur dalam
Surat Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Nomor 141/DJPB/2012. Target unit pembudidayaan ikan tersertifikasi dan memenuhi standar
CBIB pada tahun 2013 sebanyak 7.000 unit, sampai dengan bulan Desember
mencapai 7.100 unit atau 101,43%.

3.1.5 Pelaksanaan PN 9 : Pengelolaan Lingkungan Hidup


Terkait dengan PN9 bidang pengelolaan lingkungan hidup adalah pengelolaan
dan pengembangan konservasi kawasan. Status capaian luas kawasan konservasi
perairan sampai dengan tahun 2013 seluas 15.764.210,85 ha. Pada tahun 2013 KKP
memberikan penghargaan E-KKP3K Awards atau Efektivitas pengelolaan Kawasan
Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya akan menjadi
agenda dua tahunan KKP. Anugerah E-KKP3K diberikan kepada pemerintah daerah
dan kepala daerah yang konsisten mengembangkan kawasan konservasi perairan.
Penghargaan terdiri atas kategori Favorit 1 penghargaan, kategori percontohan 5
penghargaan, dan kategori percepatan 17 penghargaan.
Berdasarkan hasil evaluasi belum ada kategori favorit, sehingga sebanyak 6
kabupaten/kota mendapatkan penghargaan kategori percontohan, dan 17
kabupaten/kota mendapatkan penghargaan kategori percepatan. Pada kesempatan
tersebut Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) memberikan apresiasi
dan penghargaan Anugerah E-KKP3K kepada Kepala Daerah yang kawasan
konservasinya telah berjalan cukup baik yaitu Bupati Klungkung, Bupati Raja Ampat,
Walikota Sabang, Bupati Alor, Bupati Sukabumi dan Bupati Batang untuk kategori

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

77

percontohan serta 17 Kategori Percepatan yang penghargaannya diserahkan Dirjen


Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Penghargaan Khusus diberikan kepada
Bupati Kepulauan Anambas atas komitmen dan dukungannya terhadap Taman
Wisata Perairan Nasional Kepulauan Anambas. Pada kesempatan tersebut, MKP juga
merilis secara resmi Sistem Informasi Mitigasi Bencana dan Adaptasi Lingkungan (SIMAIL), dan Coastal Community Development Project (CCDP-IFAD) yang merupakan
program pembangunan masyarakat pesisir antara KKP dengan The International
Fund for Agricultural Development (IFAD).
3.1.6 Pelaksanaan PN : One Map Policy
Program one map policy memiliki misi mengintegrasikan seluruh data tematik
nasional dengan melihat kendala ketersediaan dan keseragaman data selama ini di
Indonesia. KKP termasuk kedalam Pokja Pemetaan Sumber Daya Pesisir Laut dengan
Sub Pokja Pemetaan Sumber Daya Pesisir dan Laut, Pulau-pulau Kecil dan Liputan
Dasar Laut dengan anggota dari Kementerian/Lembaga terkait lainnya yaitu BIG,
Dishidros, Dittopad, P2O-LIPI, KLH, P3GL-ESDM, LAPAN, BPN, BPPT, Kemendagri,
Kemenhut, BPS, Kemenhan, UNDIP, IPB, HAPPI, UGM, UNSOED, LPP Mangrove, dan
Wetland International.
Capaian One Map Policy pada Tahun 2013, adalah sebagai berikut:

1. IGT Bidang Pulau-pulau Kecil


Dokumen Pedoman Teknis Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumber Daya
Pulau-pulau Kecil yang disusun oleh KKP merupakan salah satu tahapan
dalam menetapkan standar dalam pemetaan sumber daya pulau-pulau kecil.
Diharapkan pedoman ini dapat memberikan pemahaman yang sama bagi
semua stakeholder dalam melakukan pemetaan sumber daya pulau-pulau kecil
sehingga menghasilkan kesatuan data dalam pemetaan potensi sumber daya
pulau-pulau kecil guna mendukung program one map policy.
2. IGT Bidang Sumber daya Pesisir dan Laut
Pedoman teknis pemetaan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulaupulau
kecil yang disusun oleh KKP merupakan salah satu tahapan one map dalam
mendukung integrasi data spasial pesisir dan pulau-pulau kecil. Pedoman
yang berisi standar dalam pemetaan wilayah pesisir dan laut diharapkan
dapat menjadi acuan berbagai Kementerian dan Lembaga (K/L) dan pengguna
sehingga target ketersediaan data spasial sumber daya pesisir dan laut yang
memiliki keseragaman.

3. IGT Bidang Liputan Dasar Laut


Informasi geospasial tematik liputan dasar laut berisi informasi fitur atau
kenampakan objek yang menutupi dasar lautan atau samudera baik secara
langsung, di kolom air, maupun di permukaan air laut. Guna pengelolaan
informasi geospasial tematik liputan dasar laut tersebut maka perlu adanya

78

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

sistem klasifikasi yang logis dan hirarkis. Untuk mendukung upaya klasifikasi
liputan dasar laut yang dapat diterima secara umum, perlu dilakukan koordinasi
lintas sektor utamanya K/L yang berkepentingan terhadap data dan informasi
geospasial tematik liputan dasar laut.

Diharapkan kedepan dengan adanya One Map adalah gerakan pembangunan


informasi geospasial secara partisipatif dan kolaborasi untuk menuju One Reference,
One Standard, One Database dan One Geoportal.
a. One reference: Informasi Geospasial Tematik (IGT) dibuat dengan mengacu pada
Informasi Geospasial Dasar (IGD) sesuai dengan UU No. 4 tahun 2011 tentang
Informasi Geospasial, sehingga data memiliki sistem koordinat yang sama serta
memungkinkan beberapa data dapat diintegrasikan.
b. One standard: terdapat satu standar pemetaan IGT yang telah disepakati antar
stakeholder dan dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pemetaan, dengan
tujuan kesatuan dalam metode pemetaan, pemetaan dapat dilakukan pihak
manapun serta efisiensi penyelenggaraan pemetaan.
c. One database: terdapat satu basis data IGT yang dibangun dan digunakan secara
bersama antar stakeholder, dengan tujuan untuk menghindari duplikasi serta
menjaga konsistensi data.
d. One geoportal: terdapat suatu sistem aplikasi (biasanya berbasis internet)
untuk menampilkan dan menyebarluaskan data ke pengguna, dengan tujuan
untuk mempermudah akses pengguna, mengintegrasikan data spasial serta
menjadi acuan resmi.

Gambar 22. Capaian One Map Policy pada Tahun 2013

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

79

3.2 Capaian KKP Lainnya


3.2.1 Pelaksanaan Program Peningkatan Kehidupan Nelayan
Sebagai tindak lanjut Keputusan Presiden No. 10 tahun 2011 tanggal 15 April
2011 tentang Tim Koordinasi Peningkatan dan Perluasan Program Pro Rakyat,
Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama 12 K/L terkait telah melaksanakan
Program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN). Pelaksanaan program ini
diharapkan mampu mendorong percepatan dan perluasan pengentasan
kemiskinan. Lingkup Kegiatan pada Program Peningkatan Kehidupan Nelayan
diantaranya adalah: 1) Pembuatan Rumah Sangat Murah; 2) Pekerjaan Alternatif &
Tambahan Bagi Keluarga Nelayan; 3) Skema UMK & KUR; 4) Pembangunan SPDN;
5) Pembangunan Cold Storage; 6) Angkutan Umum Murah; 7) Fasilitas Sekolah &
Puskesmas; 8) Fasilitas Bank Rakyat. Program Peningkatan Kehidupan Nelayan
(PKN) difokuskan langsung kepada kelompok sasaran PKN yaitu rumah tangga
miskin nelayan dengan berbasiskan pada PP/PPI dengan 3 kelompok sasaran
yaitu: 1) Individu Nelayan; 2) Kelompok Nelayan; dan 3) Sarana dan prasarana PPI.
Program Peningkatan Kehidupan Nelayan dilaksanakan pada tahun 2011 sampai
dengan tahun 2014 berbasis PPI di 816 lokasi dengan rincian pada tahun 2011 (100
PPI dengan sasaran 37.386 RTS), 2012 (400 PPI dengan sasaran 112.037 RTS), 2013
(200 PPI dengan sasaran 73.755 RTS), dan 2014 (116 PPI dengan sasaran 23.809
RTS).

Pelaksanaan Program Peningkatan Kehidupan Nelayan selama periode 2011-2013


telah dilaksanakan di 700 PPI dengan intervensi kegiatan diantaranya adalah
pembangunan rumah murah, air bersih, listrik murah, sertifikasi hak atas nelayan
(sehat nelayan), Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP), kapal penangkapan
ikan dan sarana alat tangkap serta beasiswa untuk anak nelayan, pelatihan dan
penyuluhan bidang kelautan dan perikanan.

Gambar 23. Presiden RI dan Ibu Ani Yudhoyono didampingi MKP saat membantu
dan menyapa nelayan dalam rangka PKN di Pelabuhan Perikanan Pantai Puger
di Kab. Jember, Jawa Timur

80

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Alokasi anggaran dalam pelaksanaan program PKN Tahun 2011-2013 yang telah
dilakukan oleh K/L anggota PKN adalah sebagai berikut:
Tabel 36. Alokasi Anggaran lintas K/L dalam mendukung Program PKN
Tahun 2011-2013

No.
1.

Kementerian
Kemenpera

2011

2012

2013

Rp. (000)

Rp. (000)

Rp. (000)

46.025.000

2.078.000.000

4.4646.000.000
1.683.403.300

2.

Kemendiknas

783.837.836

900.441.581

3.

Kemenhub

376.118.573

390.250.000

4.

Kemen PU

288.000.000

3.108.380.000

5.

Kemen ESDM

6.

Kemen Kesehatan

7.

Kemen KUKM

13.000.000

8.

Kemen PDT

21.000.000

30.000.000

335.045.000

Jumlah Lintas Sektor

2.314.255.616

5.345.957.581

11.548.928.300

347.820.000

1.170.030.000

651.050.000

2.662.075.616

6.515.987.581

12.199.978.300

9.

KKP
Jumlah Nasional

59.266.000

200.000.000

1.087.274.207

1.600.000.000

1.745.100.000

Dalam evaluasi pelaksanaan program PKN ditemukan permasalahan umum yang


dihadapi antara lain:
1. Belum optimalnya kegiatan yang dilaksanakan dalam mendukung pencapaian
target PKN, terkait dengan integrasi kegiatan di lokus PKN (PPI).
2. Belum tersedianya dokumen masterplan dan proposal daerah untuk
pelaksanaan Program PKN.
3. Masih banyak program dan kegiatan yang belum secara explisit menyebutkan
lokasi PKN berbasis PPI.
4. Belum optimalnya dukungan perbankan pemerintah dalam percepatan
penyaluran kredit program dan kredit skim khusus lainnya di seluruh lokasi
Program PKN.
Sedangkan permasalahan khusus diantaranya:

1. Terkait dengan pembangunan rumah murah yakni adanya perubahan kriteria


Pedoman Pelaksanaan setelah dilakukan identifikasi calon penerima. Disamping
itu terdapat beberapa tambahan kriteria sulit dipenuhi yakni :
NIK KTP harus 16 digit sesuai dengan standar nasional
Pendapatan < Rp. 1.250.000, Alamat Calon Penerima mencatum RT/RW
Komponen Rumah Yang dinyakan layak atau tidak layak sesuai dengan
inperestasi gambar/photo (atap, muka, salah satu dinding kanan/kiri)
Photo berwarna dan hasil scan
Satu desa minimal harus 20 RTS (disampaikan secara lisan)

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

81

2. Penetapan calon penerima ditetapkan menjelang akhir tahun (bulan November),


sehingga waktu pelaksanaannya hanya 1 bulan. Akibatnya realisasi penyaluran
bantuan sangat kecil.
Dengan belum terbangunnya rumah di lokasi PKN menyebabkan sambungan listrik
dari Kementerian ESDM pun tidak terealisasi. Permasalahan khusus lainnya adalah
terkait dengan pembangunan sarana air bersih oleh Kementerian Pekerjaan Umum
diantaranya seperti tidak tersedianya air baku di sekitar PPI, belum ada kelembagaan
SPAM dan pengelola PPI tidak mau membayar tagihan PPI ke PDAM.

Dengan melihat hasil evaluasi tersebut, maka tindak lanjut langkah-langkah yang
diperlukan untuk perbaikan program PKN kedepan antara lain:
1. Mendorong peningkatan peran daerah dalam pelaksanaan Program PKN diawali
dengan Pembentukan Sub Pokja di Daerah yang diketuai oleh Bupati/Walikota/
Sekretaris Daerah dengan Kepala SKPD yang membawahi bidang Kelautan dan
Perikanan sebagai Sekretaris Sub Pokja, dan beranggotakan kepala SKPD dan
instansi terkait di daerah.
2. Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota mendorong sinergi mengalokasikan
pembiayaan APBD sesuai dokumen perencanaan untuk kegiatan di lokasi
Program PKN maupun di lokasi sentra nelayan selain lokasi Program PKN.
3. Pemerintah, Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota mendorong sinergi
pembiayaan antara APBN, APBD, Corporate Social Responsibility (CSR), BUMN/D
dan swasta untuk percepatan pencapaian tujuan program PKN.
4. Seluruh Kementerian/Lembaga anggota Pokja diharapkan agar dapat
semaksimal mungkin mengalokasikan anggaran program kegiatan masingmasing ke lokasi sasaran di 816 PPI sampai pada tingkat desa/kecamatan.
5. Melakukan pendataan RTS penerima bantuan pada Pendataan Program
Perlindungan Sosial (PPLS) yang akan datang
3.2.2 Pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia Koridor Ekonomi (KE) Sulawesi
Berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua
Harian Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(KP3EI) No. 35/M.EKON/08/2011 tentang Tim Kerja pada KP3EI, Menteri Kelautan
dan Perikanan ditunjuk sebagai Ketua Tim Kerja Koridor Ekonomi Sulawesi, dimana
Koridor Ekonomi Sulawesi akan mengembangkan 5 kegiatan ekonomi utama, yakni
pangan, kakao, perikanan, migas, dan nikel.

Beberapa proyek yang telah di Ground Breaking sampai tahun 2013 di KE Sulawesi
sekitar 19 proyek dengan nilai investasi sekitar Rp28.113,5 miliar, diantaranya
adalah : 1) Pengembangan industrialisasi perikanan di Bitung Sulawesi Utara;
2) Pengembangan minapolitan di sentra-sentra perikanan di KE Sulawesi; 3)
Pengembangan lapangan panas bumi (PLTP) Lahendong unit IV di Tomohon, Sulut;
4) Pembangunan dan pengoperasian kilang Liquefied Natural Gas (LNG) Donggi
di Sulawesi Tengah; 5) Pembangunan Liquefied Petroleum Gas (LPG) Storage

82

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Makassar; 6) Pembangunan PLTU Jeneponto, PLTU Pomala, PLTU Kendari dan PLTS
Miangas; 7) Perluasan Pelabuhan Bitung dan Lirung di Sulawesi Utara dan lanjutan
pelabuhan laut Bungkutoko di Sulawesi tenggara, 8) lanjutan pembangunan fasilitasi
pelabuhan gorontalo serta lanjutan pembangunan fasilitas pelabuhan laut anggrek
di Gorontalo; 9) Pembangunan SPAM Kota Makassar; 10) Pembangunan jaringan
backbone nasional (palapa ring) berbasiskan active network sharing, baik jaringan
bawah laut maupun terestial yang dapat digunakan bersama di Sulawesi.

Dalam perkembangan pelaksanaan MP3EI di KE Sulawesi, setelah dilakukan


inventarisasi dan validasi terhadap proyek-proyek yang ada, terdapat 66 proyek
yang telah dilakukan validasi, 54 proyek yang belum valid dan perlu segera
dilakukan validasi serta 88 proyek usulan baru dengan total nilai investasi secara
keseluruhan sebesar Rp. 108,69 triliun. Hasil validasi komitmen kegiatan investasi
SDM-Iptek berupa dukungan penyediaan lapangan kerja dan kebutuhan tenaga
kerja berdasarkan jenis program di Koridor Ekonomi Sulawesi adalah sebesar
Rp. 3,4 Triliun yang terdiri dari program akademi komunitas, institut, politeknik
dan sekolah tinggi, SMK, Universitas, serta program Iptek. Sedangkan dukungan
konektivitas berupa infrastruktur bandara, pelabuhan, kereta api, jalan, dan energi
dengan jumlah proyek sebanyak 141 proyek diindikasikan dengan nilai investasi
sebesar Rp. 111, 92 triliun.
Pelaksanaan kegiatan ekonomi di KE Sulawesi sampai dengan tahun 2025 optimis
dapat dilaksanakan, untuk tahun 2013-2014 direncanakan akan dilaksanakan
Ground Breaking untuk 22 kegiatan ekonomi dengan nilai investasi sebesar Rp.
23.535,4 miliar dan yang telah dilakukan Ground breaking tahun 2011-2012 untuk
19 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp. 28.113,5 miiar.

Permasalahan dalam program MP3EI tidak terlepas dari isu strategis yang berbedabeda antara masing-masing provinsi se-Sulawesi yang harus segera ditindaklanjuti
oleh Tim Kerja Pusat (KP3EI Pusat). Beberapa permasalahan/debottlenecking
umum yang terdapat pada koridor ekonomi Sulawesi adalah:
1. Masih rendahnya daya tarik investor baik dari dalam maupun luar negeri dalam
menanamkan modalnya untuk pembangunan ekonomi di Koridor Ekonomi
Sulawesi.
2. Masih terbatasnya konektivitas/infrastruktur transportasi di Koridor Ekonomi
Sulawesi, seperti jalan, pelabuhan dll.
3. Masih terbatasnya areal lahan produksi dan sarana irigasi di Koridor Ekonomi
Sulawesi (hanya 37 % lahan pertanian yang diairi oleh saluran irigasi).
4. Masih terbatasnya sumber energi di Koridor Ekonomi Sulawesi, seperti listrik,
air dll.
5. Masih terbatasnya infrastruktur sosial di Koridor Ekonomi Sulawesi, seperti
kesehatan, dll.
6. Masih adanya konflik pemanfaatan ruang, antara pertambangan dan konservasi
dan kendala lainnya.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

83

Isu-Isu dan permasalahan yang terjadi di K.E Sulawesi 80% telah ditindaklanjuti
melalui rencana aksi dan sidanya masih terkendala dengan adanya isu-isu seputar
RTRW dan kemudahan dalam pelaksanaan proyek.
3.2.3 Pelaksanaan Minapolitan dan Industrialisasi

Minapolitan telah dijalankan Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun


2010 dalam rangka mengembangkan kawasan ekonomi unggulan menjadi lebih
produktif. Sebagai langkah nyata, telah diterbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan
Perikanan No. 35 Tahun 2013 tentang Penetapan Lokasi Minapolitan, maka telah
ditetapkan jumlah Kab./Kota sebagai kawasan minapolitan adalah 179 Kab./Kota
pada 33 Provinsi terdiri dari 202 lokasi minapolitan dengan penggerak/kegiatan
utama sebanyak 145 perikanan budidaya dan 57 perikanan tangkap.
Sinergitas program/kegiatan perikanan tangkap untuk mendukung minapolitan
antara lain :
INKA MINA:
564 unit

Perlindungan
Nelayan:
SeHAT Nelayan:
40.785 persil

PUMP - PT:
7.449 KUB
@Rp. 100 juta

Sinergitas
Minapolitan
Perikanan
Tangkap

Kartu Nelayan
Asuransi nelayan :
PALKA (Program
Asuransi Laut Khusus
ABK), PAUS (Program
Asuransi Untuk Seluruh
Nelayan,
CBP (Cadangan Beras
Pemerintah)

Gambar 24. Sinergitas Program dan Kegiatan Perikanan Tangkap untuk mendukung Minapolitan

84

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Keberhasilan pelaksanaan Minapolitan sampai dengan tahun 2013 terlihat pada


capaian indikator antara lain : volume produksi, nilai poduksi, pendapatan nelayan
dan penyerapan tenaga kerja, sebagaimana pada gambar berikut ini.

Gambar 25. Hasil Evaluasi Indikator Capaian Minapolitan Perikanan Tangkap


Sejak tahun 2012, KKP telah mendorong dilaksanakannya industrialisasi kelautan
dan perikanan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan nilai tambah serta
meningkatkan daya saing produk. Industrialisasi perikanan tangkap dilaksanakan
di 11 lokasi Pelabuhan Perikanan (PP) percontohan, dengan komoditas Tuna,
Tongkol, Cakalang (TTC) di 5 lokasi dan 6 lokasi untuk udang dan ikan pelagis kecil.
Pengembangan industrialisasi saat ini diharapkan dapat menjadi model untuk
direplikasi di PP lainnya baik PP yang dikelola pusat maupun PP yang dikelola daerah.
Dalam pengembangannya, diharapkan di lokasi-lokasi percontohan tersebut dapat
menarik investor untuk menanamkan modalnya dan mengembangkan usahanya.

Hasil evaluasi capaian industrialisasi TTC di 5 lokasi yakni PPS Nizam Zachman,
PPN Pelabuhan Ratu, PPS Bungus, PPS Bitung dan PPN Ambon menunjukan adanya
peningkatan rata-rata produksi TTC pada periode 2011-2013 sebesar 37,25% per
tahun, dari 82,50 ribu ton pada tahun 2011 menjadi 153,39 ribu ton pada tahun
2013. Nilai produksi pada tahun 2013 mencapai Rp3,8 triliun dan jumlah tenaga
kerja yang diserap mencapai 69.318 orang.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

80.000
70.000
60.000

72.824
64.035

59.288
63.931

50.000

2011

40.000

2012
2013

30.000
20.000

12.830

24.207

10.000

85

PPS Nizam Zahman

PPS Bitung

1.1961.7272.266
PPS Bungus

4.260

8.016

3.591

PPN Ambon

4.930

6.248

6.837

PPN
Ratu
PPNPapabuhan
PelabuhanRatu

Gambar 26. Produksi Tuna Tongkol Cakalang di 5 Lokasi Percontohan Industrilisasi Perikanan
Tangkap
Dalam evaluasi Minapolitan percontohan perikanan budidaya, telah dibuatkan suatu
kriteria kelas peringkat minapolitan budidaya dengan penjelasan sebagai berikut:
A):Persyaratan administrasi lengkap; koordinasi di tingkat kab/kota berjalan baik;
budidaya perikanan berkembang pesat. B):Persyaratan administrasi lengkap/
belum lengkap; koordinasi di tingkat kab/kota berjalan baik; budidaya perikanan
berkembang; C):Persyaratan administrasi lengkap/belum lengkap; koordinasi di
tingkat kab/kota berjalan; budidaya perikanan mulai berkembang. D):Persyaratan
administrasi lengkap/ belum lengkap; koordinasi di tingkat kab/kota berjalan;
budidaya perikanan berjalan.

Dari kriteria tersebut PERINGKAT A terdapat 11 Kab./Kota yaitu: Aceh Tenggara,


Agam, Kampar, Muaro Jambi, Musi Rawas, Indramayu, Bogor, Banjar, Sumbawa,
Sumba Timur dan Kota Jayapura. PERINGKAT B terdapat 21 Kabupaten yaitu: Serdang
Bedagai, Bintan, OKI, Ogan Ilir, Banyuasin, Pesawaran, Subang, Brebes, Kendal, Pati,
Klaten, Banyumas, Banjarnegara, Lamongan, Gresik, Banyuwangi, Blitar, Kapuas,
Pangkep, Pinrang dan Takalar. PERINGKAT C terdapat 29 Kab./Kota yaitu: Bireuen,
Batanghari, OKU Timur, OKU Selatan, Kota Palembang, Tulang Bawang, Serang,
Karawang, Pemalang, Demak, Jepara, Rembang, Boyolali, Gunung Kidul, Tuban,
Sumenep, Sambas, Minahasa Utara, Parigi Moutong, Morowali, Donggala, Maros,
Jeneponto, Mamuju, Bombana, Kolaka, Klungkung, Lombok Tengah, Sumbawa Barat,
Rote Ndao dan Kep. Sula. PERINGKAT D terdapat 22 Kabupaten yaitu: Kuantan
Singingi, Bengkulu Utara, Musi Banyuasin, Bangka Selatan, Tangerang, Pandeglang,
Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Malang, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai
selatan, Penajam Paser Utara, Pohuwato, Bone, Polewali Mandar, Tabanan, Bangli,
Seram Bagian Barat, Kep. Morotai, Sorong dan Raja Ampat.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

86

Pelaksanaan industrialisasi udang di 7 provinsi telah meningkatkan rata-rata


produksi udang sebesar 23,74% per tahun dalam periode 2011-2013, yakni dari
226,69 ribu ton pada tahun 2011 menjadi 345,96 ribu ton pada tahun 2013.

100.000

95.245

90.708

90.000
80.000
70.234

70.000

56.971

60.000
50.000
40.000
30.000

69.571

47.638

50.489

55.812

41.425

43.976
36.524

38.725

2012

2013*

28.009

25.764

20.738

20.000
10.000
-

2011

43.102

1.654
LAMPUNG

7.933

3.190

1.584

BANTEN

6.305
JAWA BARAT

JAWA TENGAH

JAWA TIMUR

NUSA TENGGARA SULAWESI SELATAN


BARAT

Gambar 27. Produksi Udang di 7 Lokasi Revitalisasi Tambak Udang

Adapun evaluasi dampak pelaksanaan industrialisasi kelautan dan perikanan di


bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan sampai dengan tahun 2013
diantaranya adalah:

1. Industrialisasi TTC
a. Peningkatan jumlah UPI dari 169 pada tahun 2011 menjadi 178 pada tahun
2013.
b. Peningkatan kapasitas terpasang dari 1.518.259 ton pada tahun 2011
menjadi 1.679.869 ton pada tahun 2013.
c. Peningkatan utilitas UPI dari 54,04% pada tahun 2011 menjadi 56,82%
pada tahun 2013.
d. Intervensi kegiatan yang dilakukan, antara lain fasilitasi pengembangan
pre-cooked loins, pengembangan sistem rantai dingin (cold storage, pabrik
es, kendaraan berpendingin), fasilitasi sertifikasi eco label, penanganan
kasus SHTI, dan penanganan kasus ekspor.
e. Tantangan ke depan yang harus segera diantisipasi dan ditindaklanjuti,
diantaranya perbaikan penanganan ikan di atas kapal dan penyediaan air
bersih, pelarangan penangkapan baby tuna, penertiban dan perbaikan
penerbitan SHTI (catch certificate), memperlancar distribusi pasokan

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

87

bahan baku, dan pengendalian ekspor bahan baku (ekspor produk pre
cooked loins).

2. Industrialisasi Udang
a. Jumlah UPI dan kapasitas terpasang pada tahun 2011-2013 tetap, namun
utilitas UPI meningkat dari 52,25% pada tahun 2011 menjadi 61,96% pada
tahun 2013.
b. Intervensi kegiatan yang dilakukan, antara lain regulasi pelarangan impor
udang, pengembangan sistem rantai dingin (cold storage, pabrik es,
kendaraan berpendingin), fasilitasi pembentukan Asosiasi Supplier Udang
Pantura (ASPURA), fasilitasi sertifikasi eco label, pengendalian impor
udang, dan pengembangan PINSAR udang.
c. Serapan udang di pasar dalam negeri cenderung meningkat, diperkirakan
pada tahun 2013 akan mengalami peningkatan sebesar 6-7%.
d. Prospek ekspor ke depan cukup baik, yang ditandai dengan:
CD 220/2010 EU tentang pemeriksaan antibiotik 20% dari ekspor
udang telah dicabut dengan CD 690/2012, per 6 November 2012.
Suplai udang di China, Vietnam, Thailand, Malaysia serta Mexico
terganggu virus Early Mortality Syndrome (EMS). Produksi turun 25%
dan beberapa negara melarang impor udang segar/hidup dari negara
tersebut. EMS juga dideteksi ada di tambak udang di India (Oktober
2013).
Keputusan United States Department of Commerce (US-DOC) tentang
Bea Masuk Countervailng Duties (CVD) 0%, juga hasil keputusan
United States International Trade Commission (US-ITC) bahwa tidak
ada injury untuk udang Indonesia di USA.
Konsumsi di China meningkat dan turunnya produksi udang di ASEAN
karena EMS, bahan baku untuk reekspor dan pasar dalam negeri naik.
Terdapat banyak masalah perkreditan di Vietnam yang berdampak
pada perusahaan dan petambak sehingga kesulitan modal kerja.
Kekurangan tenaga kerja pengolahan ikan/kapal ikan dan masalah
tenaga kerja asing/anak di Thailand dan kenaikan biaya produksi
yang meningkat drastis.
India mengalami masalah yaitu terjadinya booming udang vaname
dan belum diimbangi dengan perkembangan industri pengolahan.
e. Tantangan ke depan yang harus segera diantisipasi dan ditindaklanjuti,
diantaranya ketersediaan bahan baku terbatas pada musim puncak shipment,
komunikasi petambak dengan processor kurang (perlu peningkatan peran
pedagang perantara), harga udang dalam negeri naik sangat tinggi sejak
Januari 2013 (100%) sehingga kurang bersaing bagi eksportir, kenaikan
biaya usaha yang cukup tinggi di tahun 2013: Upah Minimum Provinsi
(40%), Tarif Dasar Listrik (15%) dan Bahan Bakar Minyak (30%), isu-isu
internasional terkait dengan safety dan sustainability: Good Aquaculture
Practices (GAP), Traceability, label, dan adanya larangan ekspor ke Rusia
sejak 1 Juli 2013.

88

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

3. Industrialisasi Bandeng
a. Peningkatan jumlah UPI dari 200 pada tahun 2011 menjadi 244 pada tahun
2013.
b. Peningkatan kapasitas terpasang dari 129.185 ton pada tahun 2011
menjadi 159.544 ton pada tahun 2013.
c. Peningkatan utilitas UPI dari 56,61% pada tahun 2011 menjadi 62,97%
pada tahun 2013.
d. Intervensi kegiatan yang dilakukan, antara lain fasilitasi pengembangan
sentra pengolahan bandeng (Kendal, Gresik, dan Pati), pengembangan
sistem rantai dingin (cold storage, pabrik es, kendaraan berpendingin), dan
pembentukan Asosiasi Pelaku Usaha Bandeng Indonesia (ASPUBI).
e. Dampak industrialisasi bandeng diantaranya adalah berkembangnya
usaha bandeng tanpa duri yang dikelola secara profesional (Madani Food),
produk bandeng tanpa duri mampu memasuki pasar ritel modern dan
digunakan oleh restoran dan catering, dan berkembangnya produk olahan
berbahan baku bandeng.
f. Tantangan ke depan yang harus segera diantisipasi dan ditindaklanjuti,
diantaranya terjadinya lonjakan besar terhadap kebutuhan bandeng pada
saat hari libur nasional/keagamaan (libur panjang), bandeng sebagai
sumber ketahanan pangan dalam negeri, bandeng masih banyak berbau
lumpur, dan penguatan pasokan untuk: umpan, diversifikasi produk olahan
(bandeng kaleng).

4. Industrialisasi Pindang
a. Peningkatan jumlah UPI dari 1.338 pada tahun 2011 menjadi 2.028 pada
tahun 2013
b. Peningkatan kapasitas terpasang dari 198.000 ton pada tahun 2011
menjadi 293.959 ton pada tahun 2013.
c. Peningkatan utilitas UPI dari 88% pada tahun 2011 menjadi 88,97% pada
tahun 2013.
d. Intervensi kegiatan yang dilakukan, antara lain fasilitasi pengembangan
pindang higienis, pilot project pengolahan pindang, pengembangan sistem
rantai dingin (cold storage, pabrik es, kendaraan berpendingin), koordinasi
dengan perusahaan importir bahan baku.
e. Tantangan ke depan yang harus segera diantisipasi dan ditindaklanjuti,
diantaranya pasokan bahan baku masih kurang dan belum merata sehingga
masih harus impor pada bulan tertentu, dan pengolahan belum sesuai
standar higienis dan saniter.

5. Industrialisasi Patin
a. Peningkatan jumlah UPI dari 82 pada tahun 2011 menjadi 94 pada tahun
2013.
b. Peningkatan kapasitas terpasang dari 14.040 ton pada tahun 2011 menjadi
15.174 ton pada tahun 2013.
c. Peningkatan utilitas UPI dari 52,3% pada tahun 2011 menjadi 64,2% pada
tahun 2013.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

89

d. Intervensi kegiatan yang dilakukan, antara lain fasilitasi pengembangan


fillet patin, pengembangan sistem rantai dingin (cold storage, pabrik
es, kendaraan berpendingin), pengendalian impor, pemetaan kegiatan
strategis sesuai analisis rantai nilai, dan pengembangan diversifikasi
produk olahan UPI skala UMKM dan besar.
e. Tantangan ke depan yang harus segera diantisipasi dan ditindaklanjuti,
diantaranya teknologi penghilangan bau lumpur dan pemutihan warna
daging melalui penerapan teknologi budidaya dan pengolahan, peningkatan
produksi di lokasi industrialisasi, dan teknologi processing limbah/by
product.

6. Industrialisasi Rumput Laut


a. Peningkatan jumlah UPRL dari 17 pada tahun 2011 menjadi 37 pada tahun
2013.
b. Peningkatan produksi olahan rumput laut.
c. Intervensi kegiatan yang dilakukan, antara lain fasilitasi pengembangan
Alkali Treated Cottonii (ATC) chips dan Semi Refine Caraginan (SRC),
penyediaan sarana dan prasarana pengolahan RL (unit pengolahan RL;
depo pemasaran RL), dan fasilitasi sertifikasi ekspor (ke Chili).
d. Tantangan ke depan yang harus segera diantisipasi dan ditindaklanjuti,
diantaranya kualitas bahan baku rendah, dan Unit Pengolahan Rumput
Laut kesulitan bahan baku (sejak Agustus 2013).

Terhadap kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan yang dulirkan KKP sejak
tahun 2011, KKP telah melakukan evaluasi terhadap kebijakan industrialisasi sektor
Kelautan dan Perikanan dengan menggunakan metode Regulatory Impact Analysis
(RIA), adapun beberapa hasil yang penting yang telah dicapai meliputi:
1. Peningkatan produksi perikanan 2013 (tumbuh 26,1%) didukung oleh sarana
dan prasaranan perikanan seperti rumah ikan, kapal inka mina, dan modernisasi
alat penangkap ikan.
2. Untuk komoditas udang, program revitalisasi dan tambak percontohan
(demfarm) untuk komoditas udang di tahun 2013 diperluas di 28 kabupaten
dari 6 kabupaten pada 2012 telah mendorong produksi budidaya udang
mencapai di kisaran 600 ribu ton di akhir 2013. Program revitalisasi tambak
udang dan modernisasi telah mendorong produktivitas dari 1 ton ha, menjadi
pola intensif dengan produksi menjadi sepuluh kali lipat atau 10 ton per Ha.
3. Utilisasi pengolahan komoditas udang dan ikan mencapai 70,40% di
tahun 2013, meningkat dari 40-50% di tahun 2011-2012.4) Perluasan dan
diversifikasi produk ekspor merupakan penopang trend posititif dari surplus
neraca perdagangan sektor perikanan dalam beberapa tahun terakhir.
4. Peningkatan produksi garam rakyat sebagai basis kekuatan swasembada garam
sepanjang 2012-2013 turut mendorong peningkatan pendapatan petambak
garam dari 1,8 juta menjadi 2,8 juta.
5. Penerapan Sistem Manajemen Mutu di 29 Lembaga Inspeksi dilengkapi sarana
23 laboratorium telah mendorong terjaminya mutu produksi sebagai basis daya
saing produk di pasar global.

90

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Dari data-data tersebut, dapat disimpulkan kebijakan industrialisasi berada pada


jalur yang tepat (well on track) dan selaras dengan visi dan agenda pembangunan
nasional. Kebijakan industrialisasi Kelautaan dan Perikanan merupakan kebijakan
yang tidak terpisahkan dari program Industrialisasi dan Hilirisasi yang saat ini
sedang berjalan.
3.2.4 Pelaksanaan Blue Economy

Blue economy adalah pengembangan usaha yang secara finansial menguntungkan,


efisien dalam pemakaian sumber daya, zero waste dan menyerap tenaga kerja
yang besar. Faktor esensial dalam blue economy adalah penggunaan teknologi dan
ilmu pengetahuan yang disesuaikan dengan karakteristik lokal (sumber daya)
dan kreativitas dalam mencari peluang-peluang pemanfaatan sumber daya, selain
itu pendekatan usaha yang non-linear (menciptakan berbagai macam produk)
dengan menggunakan bahan buangan (waste) membuat pendekatan blue economy:
1. Bersih dari polusi; 2. menyerap pekerjaan, 3. bersifat lokalitas dan mengurangi
ketergantungan; dan 4. menguntungkan secara finansial. Sebuah pendekatan
yang menyempurnakan green economy yang produk-produknya cenderung mahal
sehingga negara harus mensubsidi untuk meningkatkan daya kompetesi pasar
produk-produk green. Oleh karena itu, konsep blue economy dalam perspektif
kelautan dan perikanan adalah pendekatan blue economy di sektor kelautan dan
perikanan.
Dalam side event sidang anggota Dewan FAO ke 148 pada tanggal 3 Desember
2013, konsep Blue Economy dibahas secara khusus para delegasi negara anggota.
Side Event mengambil tema The FAO Global Initiative in Support of Food Security,
Poverty Alleviation and Sustainable Management of Aquatic Resources, menyepakati
inisiatif blue growth/global blue economy menjadi kunci strategi pengembangan
kelautan dan perikanan dunia. Hal ini menegaskan bahwa konsep blue economy
yang diterapkan KKP terus mendapat dukungan positif.

Ada 9 (sembilan) implementasi konsep blue economy di Indonesia, diantaranya,


Rural Development Program in Nusa Tenggara Timur Province with Three
Commodities: maize, livestock and seaweed, SEAFDEC Inland Fishery Resources
Development and Management Department (IFRDMD) di Palembang, Kerja Sama
Coral Triangle Initiative (CTI), Program Lahan Gambut di Kalimantan bekerja sama
dengan Norwegian Redd+ dimana Pogram Pengembangan Budidaya Perikanan
masuk di dalamnya, FAO Regional Rice Fish Initiative Project Fase II, Mangrove
Project, INDESO (Infrastructure Development for Space Oceanography) Project,
dan Program Peningkatan Kapasitas SDM melalui South-South Cooperation dan
Triangular Cooperation.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

91

3.2.5 Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender


Pengarusutamaan Gender (PUG) adalah strategi yang dilakukan secara rasional
dan sistematis untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam aspek
kehidupan manusia melalui kebijakan dan program yang memperhatikan
pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki
untuk memberdayakan perempuan dan laki-laki mulai dari tahap perencanaan,
penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dari seluruh kebijakan, program,
kegiatan di berbagai bidang kehidupan pembangunan nasional dan daerah. Hal
ini dilakukan sebagai upaya mendukung pembangunan di berbagai bidang, dan
dalam rangka mendukung implementasi Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000
tentang PUG dalam Pembangunan Nasional yang mengamanatkan kepada semua
pimpinan Kementerian/Lembaga baik pusat maupun daerah (Gubernur/Bupati/
Walikota) untuk mengintegrasikan aspek gender dalam menyusun kebijakan,
program dan kegiatan yang menjadi tugas dan fungsinya. Oleh karena itu KKP terus
berupaya untuk meningkatkan komitmen dan menerjemahkan pengarusutamaan
gender dalam proses perencanaan dan penganggaran pembangunan kelautan dan
perikanan. Mencermati Rencana Strategis KKP 2010-2014, terdapat isu gender yang
tersirat di dalamnya, terkait dengan bagaimana akses kelompok perempuan dan
laki-laki yang menerima manfaatnya, baik untuk akses ke permodalan, pengolah
dan pemasaran, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, pelatihan, yang
pada akhirnya untuk memperoleh kesempatan kerja dan manfaat yang proporsional
bagi perempuan dan laki-laki. Adanya irisan antara isu gender bidang kelautan dan
perikanan, memperkuat analisis bahwa isu gender merupakan isu lintas sektor,
sesuai dengan dokumen RPJMN 2010-2014 bahwa PUG sebagai salah satu strategi
kebijakan dalam pembangunan di berbagai bidang.
Sampai dengan tahun 2013, terdapat beberapa hasil yang dicapai terkait dengan
pelaksanaan PUG di KKP, antara lain :

1. Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama:


a. Kesepakatan Bersama antara Menteri Kelautan dan Perikanan dan Menteri
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 06 MENKP/KB/III/2011 dan 12 Tahun 2011 tentang Peningkatan Efektivitas
Pengarusutamaan Gender di Bidang Kelautan dan Perikanan
b. Perjanjian Kerja Sama antara Deputi Bidang Pengarusutamaan Gender
Bidang Ekonomi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak (KPP-PA) dengan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian
Kelautan dan Perikanan Nomor 06/MENPP-PA/Dep.I/04/2012 dan Nomor
02/DJPT-KKP/PKS/IV/2012 tanggal 16 April 2012 tentang Fasilitasi
Bimbingan Diversifikasi Usaha Penangkapan Ikan bagi Wanita Nelayan
2. Penguatan Kelembagaan Melalui Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) PUG
Dalam rangka penguatan kelembagaan, telah dibentuk Kelompok Kerja PUG,
baik di tingkat KKP maupun eselon I teknis, sebagai berikut :

92

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

a. Telah dibentuk Pokja KKP:


Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender (PUG) di Lingkungan
Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Keputusan Menteri
Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.51/MEN/SJ/2012 untuk tahun
2012; dan
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 126/KEPMEN/
SJ/2013 tahun 2013
b. Telah dibentuk Pokja PUG di setiap Eselon I:
Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Nomor 73/
KEPDJPT/2013 tentang Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender di
Lingkungan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap
Keputusan Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
(KP3K) Nomor 26/Kep-DJKP3K/2013 Tentang Kelompok Kerja
Pengarustaan Gender di Lingkungan Direktorat Jenderal KP3K
Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan (PSDKP) DKP Nomor KEP.182/DJ-PSDKP/2013 Tentang
Kelompok Kerja Pengarustamaan Gender di lingkungan Direktur
Jenderal PSDKP
Keputusan Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia
Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP) Nomor 58/KEP-BPSDMKP/2013
Tentang Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender di Lingkungan
BPSDMKP
Keputusan Inspektur Jenderal Nomor 186.27.1/ITJ/RC.330/IX/2013
Tentang Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender di Lingkungan
Inspektorat Jenderal
Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan
Perikanan (Balitbang-KP) Nomor 23.1/Balitbang KP/IX/2013 Tentang
Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender (PUG) di Lingkungan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Nomor 78/
KEPDJPB/ 2013 tentang Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender di
Lingkungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Sebagai evaluasi pelaksanaan PUG di KKP, pada Tahun 2013 KKP dinilai sebagai
salah satu kementerian yang telah melaksanakan Pengarusutamaan Gender
dengan baik sehingga memperoleh Anugerah Parahita Ekapraya dari Kementerian
Pemberdayaan dan Perlindungan Anak yang diserahkan oleh Presiden RI kepada
Menteri Kelautan dan Perikanan pada tanggal 18 Desember 2013.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

93

Gambar 28. Sekjen KKP mewakili KKP menerima Anugerah Parahita Ekapraya dari Presiden R.I
atas prestasi KKP dalam pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) di TMII, 18 Des 2013
3.2.6 Pelaksanaan Kerja Sama Internasional
Dalam rangka mewujudkan visi dan misinya, KKP memerlukan dukungan dari
berbagai pemangku kepentingan, baik nasional maupun internasional. Upaya
tersebut dilakukan dengan memanfaatkan dan mengembangkan potensi kelautan
dan perikanan Indonesia serta peluang kerja sama bilateral dengan negara-negara
sahabat dalam optimalisasi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan
berkelanjutan, dengan fokus utama pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,
ketahanan pangan, kelestarian lingkungan serta pengembangan sumber daya
manusia kelautan dan perikanan. KKP memandang penting upaya perluasan dan
pengembangan kerja sama bilateral di bidang kelautan dan perikanan dengan
negara-negara sahabat dalam membangun dan memantapkan posisi Indonesia
dalam kerja sama internasional.

KKP hingga tahun 2013 telah menjalin kerja sama bilateral dengan kurang lebih 38
negara sahabat dalam berbagai bentuk perjanjian internasional, baik kerja sama
yang aktif, pembaharuan maupun yang masih dalam tahap penjajakan, meliputi:
1. Wilayah Amerika dan Eropa (Amerika Serikat, Norwegia, Belanda, Jerman,
Brazil, Inggris, Turki, Uni Eropa, Rusia, Chile, Peru, Meksiko, Perancis, dan
Swedia).
2. Wilayah Asia dan Pasifik (Australia, RRT, India, Vietnam, Jepang, Brunei
Darussalam, Timor Leste, Korea Utara, Thailand, Philipina, Korea Selatan,
Malaysia, Fiji, New Zealand, dan Maladewa).
3. Wilayah Afrika dan Timur Tengah (Kenya, Afrika Selatan, Namibia, Arab Saudi,
Maroko, Mozambik, Nigeria, Aljazair, dan Sudan).

94

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Negara-negara tersebut merupakan target kerja sama bilateral dengan sasaran


sebagai berikut:
1. Mendorong kerja sama pihak swasta kedua negara dengan mengembangkan
public private partnership.
2. Mendorong investasi asing di bidang kelautan dan perikanan di Indonesia.
3. Melaksanakan penelitian dan pengembangan bersama.
4. Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusiakelautan dan
perikanan.
5. Mengembangkan teknologi kelautan dan perikanan.
6. Menjalin kerja sama dalam pemberantasan IUU Fishing.
7. Menggalang dukungan dan kerja sama internasional dalam mewujudkan
Ekonomi Biru di Indonesia.

Sedangkan kerja sama multilateral diwujudkan dalam bentuk kehadiran dan


partisipasi aktif Delegasi KKP di forum dan organisasi internasional sektor kelautan
dan perikanan, langkah responsif dan tanggap terhadap regulasi internasional yang
baru, serta upaya kongkrit dalam mengharmonisasikannya di tingkat nasional. Kerja
sama multilateral bidang kelautan dan perikanan dilaksanakan melalui Kerja Sama
Ekonomi Sub Regional (KESR), Kerja Sama PBB serta badan-badan di bawahnya
seperti United Nations Food and Agriculture Organization (FAO) dan United Nations
Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Association of Southeast Asian
Nations (ASEAN), World Trade Organization(WTO), Regional Fisheries Management
Organization (RFMO), Southeast Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC), dan
Regional Plan of Action (RPOA) to Promote Responsible Fishing Practices Including
Combating Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing in the Region.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

95

Bab IV.
Evaluasi Pelaksanaan
Anggaran, Sumber
Daya Manusia
dan Peraturan
Perundangan

96

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

4.1. Pelaksanaan Anggaran


Pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan didukung oleh ketersediaan
anggaran yang dialokasikan melalaui APBN, sebagai instrumen untuk mengatur
pengeluaran dan pendapatan negara dalam rangka membiayai pelaksanaan kegiatan
pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi,
meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabitas perekonomian, dan menentukan
arah serta prioritas pembangunan secara umum. Alokasi anggaran yang telah direvisi
sejak tahun 2010-2013 sebesar 22,601 triliun dengan kenaikan per tahun sebesar
28,66% hal ini masih relatif kecil dibanding anggaran belanja nasional. Alokasi anggaran
KKP 2010-2013, bila dibandingkan dengan baseline pagu anggaran KKP 2010-2014
maka telah mencapai 74,30%.
Sementara itu total anggaran yang telah dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus
(DAK) untuk pembangunan sektor kelautan dan perikanan di daerah tahun 2010-2013
telah disalurkan sebesar Rp6,06 triliun dengan kenaikan anggaran per tahun sebesar
2,64% dan telah menjangkau sebanyak 477 Kabupaten/kota.
Sementara itu rata-rata penyerapan anggaran sepanjang periode 2010-2013 adalah
92,01%. Perkembangan alokasi anggaran pembangunan sektor kelautan dan perikanan
adalah sebagaimana tabel berikut:
Tabel 37. Perkembangan Anggaran Pembangunan (APBN)
Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2013 (Rp juta)
Tahun
No.
1

Uraian

2011

2012

2013

APBN KKP (Rp. Juta)


Rupiah Murni

2.850.906

5.128.431

5.573.804

6.546.162

35,34

PHLN

556.803

441.285

379.051

485.294

-2,17

PNBP

39.588

38.284

40.467

45.985

5,35

Jumlah Alokasi

3.465.269

5.608.995

5.993.324

7.077.443

29,21

Anggaran setelah
Revisi

3.472.315

5.630.135

6.450.023

7.049.003

28,66

90,48

91,75

92,22

93,60

1,14

1.207

1.500

1.547

1.812

14,85

442

473

487

477

2,64

Realisasi (%)
2

2010

Kenaikan
rata-rata
(%/thn)

Dana Alokasi Khusus (DAK)


Alokasi
( Rp. Miliar)
Kabupaten / Kota

Untuk Laporan Keuangan (LK) KKP memperoleh opini hasil audit Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Opini WTP atas laporan
keuangan ini merupakan prestasi KKP sejak 2010 hingga 2011. WTP KKP pada 2012
merupakan peningkatan dari opini BPK RI yang memberikan opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) Dengan Paragraf Penjelasan (DPP) atas laporan keuangan KKP

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

97

tahun 2011. Sebelumnya sejak 2006 sampai 2008, Opini LK KKP Tidak Menyatakan
Pendapat (Disclaimer) kemudian meningkat menjadi Wajar Dengan Pengecualian (WDP)
di 2009.

Opini WTP dari BPK, merupakan hasil dari bentuk pertanggung jawaban atas penyusunan
dan penyajian laporan keuangan KKP sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan
(SAP). Dimana, semua transaksi KKP yang material sudah dicatat dan dilaporkan dalam
laporan keuangan. Demikian juga semua rekening atas nama pejabat terkait dengan
jabatannya dalam pemerintahan sudah dicatat atau diungkapkan dalam laporan
keuangan. Jadi tidak terdapat peristiwa atau transaksi material yang terjadi setelah
tanggal 31 Desember 2012 yang belum dicatat dan diungkapkan dalam catatan laporan
keuangan. Sehingga tidak terdapat kecurangan material dan kecurangan lain yang
melibatkan pimpinan atau pegawai yang memiliki peran penting dalam pengendalian
intern.

Untuk menilai efektivitas sistem pengendalian intern, KKP mengacu pada keandalan
pelaporan keuangan. Dimana, transaksi-transaksi telah dicatat, diproses, dan diringkas
secara memadai untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan aset telah dilindungi dari kehilangan yang
disebabkan oleh pengambilalihan, penggunaan atau pelepasan hak yang tidak sah.
Kedua, ketaatan pada peraturan yang berlaku. Dimana, transaksi-transaksi dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundangan yang berdampak langsung dan material terhadap
laporan keuangan.

Laporan keuangan merupakan cerminan kinerja Kementerian/Lembaga. Untuk itu, KKP


berupaya meningkatkan kualitas penyajian laporan keuangan dengan cara memperbaiki
Sistem Pengendalian Internal, sistem teknologi informasi, meningkatkan kepatuhan
terhadap perundang-undangan yang berlaku, dan meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. KKP juga segera menindaklanjuti setiap temuan BPK sebagai bagian dari
pelaksanaan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara. Demikian juga akan menyampaikan temuan BPK kepada seluruh unit kerja
terkait lingkup KKP. Melengkapi prestasi capaian laporan keuangan tersebut, KKP pada
tanggal 2 Desember 2013 memperoleh penghargaan atas penilaian Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah dengan nilai terbaik yaitu predikat A. Dalam penilaian LAKIP ini
materi yang dievaluasi meliputi 5 komponen. Komponen pertama adalah perencanaan
kinerja, terdiri dari renstra, rncana kinerja tahunan, dan penetapan kinerja dengan bobot
35. Komponen kedua, yakni pengukuran kinerja, yang meliputi pemenuhan pengukuran,
kualitas pengukuran, dan implementasi pengukuran dengan bobot 20. Pelaporan kinerja
yang merupakan komponen ketiga, terdiri dari pemenuhan laporan, penyajian informasi
knerja, serta pemanfaatan informasi kinerja, diberi bobot 15. Sedangkan evaluasi kinerja
yang terdiri dari pemenuhan evaluasi, kualitas evaluasi, dan pemanfaatan hasil evaluasi,
diberi bobot 10. Untuk pencapaian kinerja, bobotnya 20, terdiri dari kinerja yang
dilaporkan (output dan outcome), dan kinerja lainnya.

98

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

4.2. Dukungan Sumber Daya Manusia (SDM)


Jumlah pegawai di KKP (Pusat dan UPT) sampai dengan tanggal 31 Desember 2013
mencapai 10.326 orang, dengan rincian sebagai berikut:
1) Jumlah pegawai menurut unit kerja Eselon I (Pusat dan UPT): Sekretariat Jenderal
578 orang, Ditjen. Perikanan Tangkap 1.454 orang, Ditjen. Perikanan Budidaya
1.492 orang, Ditjen. P2HP 398 orang, Ditjen. KP3K 525 orang, Ditjen. PSDKP 875
orang, Inspektorat Jenderal 206 orang, Balitbang KP 1.303 orang, BPSDMKP 1.827
orang dan BKIPM 1.668 orang.

2) Jumlah pegawai Pusat dan UPT: untuk Pusat sebanyak 3.398 orang atau 32,91%
sedangkan UPT sebanyak 6.928 orang atau 67,09%.
3) Jumlah pegawai menurut golongan: Golongan IV sebanyak 1.049 orang, Golongan III
sebanyak 5.985 orang, Golongan II sebanyak 3.043 orang, dan Golongan I sebanyak
250 orang.

4) Jumlah pegawai menurut jabatan: jabatan Eselon I a dan I b sebanyak 14 orang,


jabatan Eselon II a dan II b sebanyak 73 orang, jabatan Eselon III a dan III b sebanyak
325 orang, jabatan Eselon IV a dan IV b sebanyak 850 orang, jabatan Eselon V
sebanyak 119 orang, jabatan fungsional 3.164 orang, dan pelaksana sebanyak 5.781
orang.

5) Jumlah pegawai menurut tingkat pendidikan: S-3 sebanyak 148 atau 1,43% orang,
S-2 sebanyak 1.568 orang atau 15,18%, S-1 sebanyak 3.253 orang atau 31,50%, D-4
sebanyak 884 orang atau 8,56%, SM sebanyak 33 orang atau 0,32%, D-3 sebanyak
1.156 orang atau 11,20%, D-2 sebanyak 8 orang atau 0,08%, D-1 sebanyak 5 orang
atau 0,05%, SLTA sebanyak 2.893 orang atau 28,02%, SLTP sebanyak 187 orang atau
1,81%, dan SD sebanyak 191 orang atau 1,85%.

6) Jumlah pegawai menurut status kepegawaian: CPNS sebanyak 65 orang atau 0,63%,
PNS sebanyak 10.089 orang atau 97,70%; PNS Dipekerjakan dari instansi lain
sebanyak 32 orang atau 0,31%; dan PNS KKP yang dipekerjakan ke instansi lain
sebanyak 139 orang 1,35%.
7) Jumlah pegawai menurut jenis kelamin: laki-laki sebanyak 7.316 orang atau 70,85%
sedangkan jenis kelamin perempuan sebanyak 3.010 orang atau 29,15%.
8) Jumlah pegawai menurut usia: >56 tahun sebanyak 471 orang atau 4,56%; usia
46-55 tahun sebanyak 2.593 orang atau 25,11%; usia 36-45 tahun sebanyak 3.110
orang atau 30,12%; usia 26-35 tahun sebanyak 4.008 atau 38,81 % dan usia <25
tahun sebanyak 144 orang atau 1,39%.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

99

Tabel 38. Perkembangan Jumlah Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan


Tahun 2010-2013
No

Tahun

Unit Kerja Eselon I

2010

2011

539

2012
606

2013

Sekretariat Jenderal

593

578

Inspektorat Jenderal

214

219

210

206

Ditjen. Perikanan Tangkap

1.574

1.596

1.508

1.454

Ditjen. Perikanan Budidaya

1.511

1.553

1.497

1.492

Ditjen. P2HP

390

411

404

398

Ditjen. KP3K

479

564

537

525

Ditjen. PSDKP

826

913

902

875

Balitbang KP

1.309

1.374

1.341

1.303

BPSDMKP

1.799

1.823

1.862

1.827

10

BKIPM KHP

1.501

1.668

1.669

1.668

10.196

10.727

10.523

10.326

Total

KKP pada tahun 2013 merekrut Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sejumlah 325 orang
untuk pelamar umum, yang akan ditempatkan/ditugaskan untuk mengisi kekosongan
jabatan pada Kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan KKP di seluruh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jumlah tersebut merupakan tambahan
formasi CPNS berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 161 Tahun 2013.
4.3. Peraturan Perundangan
Peraturan perundangan sebagai produk regulasi dalam mendukung pembangunan
kelautan dan perikanan, sepanjang periode 2010-2014 telah menghasilkan sebanyak
1.053 peraturan perundangan. Jenis peraturan yang banyak dihasilkan adalah keputusan
menteri yang bersifat penetapan, disusul keputusan menteri yang bersifat pengaturan
atau peraturan menteri. Perkembangan jumlah regulasi yang dihasilkan sepanjang tahun
2010-2013 seperti pada tabel berikut:
Tabel 39. Perkembangan jumlah peraturan tentang kelautan dan perikanan
tahun 2010-2013
Jenis Peraturan
Jumlah

Tahun
2010

2011

176

2012

254

Jumlah

2013

260

363

1.053

Undang-Undang

Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang

Peraturan Pemerintah

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS

100 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


2010 - 2014

Peraturan Presiden

Keputusan Presiden

Instruksi Presiden

Peraturan Menteri

30

52

33

39

154

- Pengaturan

16

13

29

64

- Penetapan

Keputusan Menteri :
128

196

212

295

831

Instruksi Menteri

Peraturan Bersama

Ke depan KKP akan memperjuangkan payung hukum untuk mengatur pemanfaatan laut
secara komprehensif dan terintegrasi, hal ini dilatarbelakangi kondisi fisik Indonesia
sebagai negara kepulauan dengan 17.499 pulau dan memiliki garis pantai sepanjang
104.000 kilometer atau terpanjang kedua di dunia, memiliki potensi ekonomi kelautan
sangat besar. Tapi sampai saat ini, Indonesia belum memiliki Undang-Undang (UU)
tentang kelautan. Regulasi tentang tata kelola laut mutlak diperlukan. Sehingga tidak
ada tumpang tindih kewenangan dan peraturan perundangan dari masing-masing
Kementerian/Lembaga. Terdapat 3 (tiga) isu strategis bidang kelautan yang harus
segera diselesaikan secara tuntas pada tahun 2014, yaitu Rancangan Undang-Undang
tentang Kelautan, Kebijakan Kelautan Indonesia (Indonesia Ocean Policy), serta RPJMN
2015-2019 bidang kelautan. Pembangunan bidang kelautan belum menjadi arus utama
dan prioritas dalam pembangunan nasional, belum ada keseimbangan pembangunan
antara matra darat, dan matra laut, selain itu juga masterplan percepatan pembangunan
kelautan yang ditetapkan juga belum mencirikan negara kepulauan.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

Bab 5.
Penutup

101

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS

102 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


2010 - 2014

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan evaluasi terhadap pelaksanaan program dalam rangka pencapaian masingmasing misi pada rencana strategis Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun
2010-2014, maka secara umum pencapaian misi dapat digambarkan telah berjalan
on track atau sesuai rencana. Setahun sisa waktu yang tersisa, akan merupakan upaya
kelanjutan disertai penyempurnaan pelaksanaan kegiatan pembangunan dalam format
perbaikan cakupan, koordinasi, dan kualitas pelaksanaan. Sasaran pembangunan yang
belum tercapai namun masih memungkinkan dicapai akan memerlukan kerja keras
yang perlu disertai penajaman, pengintensifan, dan percepatan pelaksanaan. Sedangkan,
bagi sasaran yang mungkin sulit dicapai dalam rentang waktu yang tersisa, tetap perlu
diupayakan dengan sangat melalui penajaman, terobosan dan langkah strategis, revieu
efektifitas, identifikasi kelemahan, dan kemungkinan penambahan alokasi anggaran,
serta meningkatkan koordinasi.

Untuk Misi pertama yaitu Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber Daya Kelautan dan
Perikanan, pencapaiannya cukup baik. Pertumbuhan PDB Perikanan menunjukan
pertumbuhan yang positif sampai dengan tahun 2013 pertumbuhannya sebesar 6,9%.
Volume produksi perikanan tangkap sudah melampaui dari target Renstra, sedangkan
produksi budidaya menunjukkan kenaikan yang signifikan tiap tahunnya. Produksi
garam rakyat dikarenakan anomali cuaca pada tahun 2013 maka volumenya turun
menjadi 1,04 juta ton. Ini perlu upaya kerja keras bersama untuk menaikan kembali
produksi garam rakyat yang ditargetkan pada tahun 2014 mencapai 3,3 juta ton. Untuk
NTN memang menunjukkan nilainya telah melebihi 100, artinya nelayan masih dapat
menyimpan hasil pendapatan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan setelah
digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan hidup sehari-harinya. Namun,
berdasarkan persentase perkembangan NTN dalam 4 tahun terakhir (2010-2014) yang
cenderung berfluktuasi dengan peningkatan tertinggi 0,64% pada NTN tahun 2011
maka diproyeksi NTN pada tahun-tahun berikutnya tidak akan meningkat diatas 1 %
yang artinya target Renstra sulit tercapai jika tidak ada langkah-langkah signifikan untuk
menekan biaya produksi bagi rumah tangga nelayan/pembudidaya ikan. Untuk indikator
pertumbuhan PDB Perikanan dan NTN juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal
yang tidak sepenuhnya berada pada kewenangan KKP.

Untuk Misi kedua yaitu Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk Kelautan
dan Perikanan, hanya target peningkatan nilai ekspor komoditas perikanan untuk
lebih kerja keras dalam pencapaian target Renstra yakni pada angka US$ 5,65 miliar.
Indikator lain yang menyangkut tingkat konsumsi ikan dalam negeri dan jumlah kasus
penolakan ekspor hasil perikanan per Negara mitra sudah hampir tercapai. Nilai ekspor
juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang tidak sepenuhnya berada pada
kewenangan KKP.
Untuk Misi ketiga yaitu Memelihara Daya Dukung dan Kualitas Lingkungan Sumber Daya
Kelautan dan Perikanan, menunjukkan hasil yang menggembirakan karena sudah sesuai
dengan target yang telah ditetapkan. Untuk wilayah perairan bebas IUU Fishing dan
kegiatan yang merusak SDKP adanya revisi target antara capaian 2014 dengan target
Renstra hal ini mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki dan alokasi anggaran
yang tersedia.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS


KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2010 - 2014

103

5.2. Penutup
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17.499 pulau dan memiliki garis pantai
sepanjang 104.000 kilometer atau terpanjang kedua di dunia, memiliki potensi
ekonomi kelautan sangat besar. Diperkirakan total ekonomi laut dari sektor perikanan,
perhubungan laut, industri kelautan, pariwisata bahari, energi dan sumberdaya mineral,
infrastruktur laut, jasa kelautan, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, SDA non
konvensial, dan lainnya mencapai US$ 1,2 trilliun per tahun, lebih besar dari pada Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang hanya US$ 1 trilliun. Jika pertumbuhan ekonomi
Indonesia setiap tahun dapat dipertahankan 6% atau lebih, maka tidak mustahil tahun
2030 Indonesia menjadi negara terbesar ke-7 yang mengoptimalkan pemanfaatan SDA
laut. Hal ini sejalan dengan hasil studi Mc Kinsey Global Institute bahwa sektor kelautan
(perikanan) termasuk empat pilar utama selain sumber daya alam, pertanian, dan jasa
yang akan membawa Indonesia menjadi negara dengan perekonomian terbesar nomor
tujuh di dunia di tahun 2030. Melihat besarnya potensi ini, maka saatnya kita semua
memikirkan apa yang akan menjadi prioritas untuk pembangunan kelautan Indonesia.
Terlebih dengan terbitnya UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau Pulau Kecil, akan banyak tugas di bidang kelautan yang harus diemban terkait tata
kelola laut. Sehingga kebijakan KKP kedepan dalam menyusun Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 bidang kelautan menjadi arus utama
dan prioritas dalam pembangunan nasional, sehingga nantinya ada keseimbangan
pembangunan antara matra darat, dan matra laut yang mencirikan negara kepulauan.

Berbagai hasil pembangunan kelautan dan perikanan yang telah dicapai sebagaimana
yang digariskan dalam Renstra KKP periode tahun 2010-2014 telah dikemukakan di atas.
Upaya pembangunan perlu terus ditingkatkan dan perbaikan kualitas pelayanan harus
dilaksanakan lebih konsisten dan secara terus menerus oleh semua jajaran aparatur
pada semua tingkatan, sehingga pelayanan selalu dapat diberikan secara cepat, tepat
dan mudah dilaksanakan serta tidak diskriminatif. Sangat disadari bahwa keberhasilan
pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan masih memerlukan perbaikan
dan kerja keras oleh seluruh jajaran KKP. Untuk itu sangat diperlukan dukungan lintas
sektor dan lembaga terkait lainnya, serta para stakeholders kelautan dan perikanan
dalam rangka mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan kelautan dan perikanan,
terutama dalam meningkatkan perekonomian nasional.
Pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan untuk mendukung pelaksanaan
RPJM tahun 2010-2014 ini mudah-mudahan dapat memenuhi harapan masyarakat
serta menyumbangkan gagasan dan pemikiran tentang arah dan strategi pembangunan
Kelautan dan Perikanan ke depan secara lebih luas dan menyeluruh. Tugas membangun
sektor kelautan dan perikanan ke depan, bukanlah merupakan tugas pemerintah semata.
Dibutuhkan sebuah partisipasi aktif masyarakat luas dan kerja keras tanpa pamrih.
Namun, itu semua terpulang kepada kita semua sebagai bangsa untuk menentukan arah,
visi dan strategi pembangunan bangsa ini di masa mendatang.

EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA STRATEGIS

104 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


2010 - 2014

SEKRETARIAT JENDERAL
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Jakarta, 2013