Anda di halaman 1dari 15

VARIABLE COSTING

I.

Pengertian Variable Costing

Penentuan harga pokok variabel (variable costing) adalah suatu konsep penentuan harga pokok
yang hanya memasukkan biaya produksi variabel sebagai elemen harga pokok produk. Biaya
produksi tetap dianggap sebagai biaya periode atau atau biaya waktu (period cost) yang
langsung dibebankan kepada laba-rugi periode terjadinya dan tidak diperlakukan sebagai biaya
produksi.
II. Tujuan Penentuan Harga Pokok Variabel (Variable Costing)
Penentuan harga pokok variabel ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam
memperoleh informasi yang berorientasi pada pengambilan keputusan jangka pendek, yaitu:
1. Membantu manajemen untuk mengetahui batas kontribusi (contribution margin) yang sangat
berguna untuk perencanaan laba melalui analisa hubungan biaya-volume-laba (cost-profitvolume) dan untuk pengambilan keputusan (decision making) yang berhubungan dengan
kebijaksanaan manajemen jangka pendek.
2. Memudahkan manajemen dalam mengendalikan kondisi-kondisi operasional yang sedang
berjalan serta menetapkan penilaian dan pertanggungjawaban kepada departemen atau divisi
tertentu dalam perusahaan.
Jika dihubungkan dengan pihak-pihak yang memakai laporan biaya, maka variabel costing
bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk pihak internal, variabel costing digunakan untuk tujuan-tujuan:
a. Perencanaan laba
b. Penentuan harga jual produk
c. Pengambilan keputusan oleh manajemen
d. Pengendalian biaya
2. Untuk pihak eksternal
Meskipun tujuan utamanya untuk pihak internal, konsep variabel costing dapat pula
digunakan oleh pihak eksternal untuk tujuan:
a. Penentuan harga pokok persediaan
b. Penentuan laba
Tujuan eksternal tersebut hanya dapat dicapai apabila laporan yang disusun atas dasar
variabel costing disesuaikan dengan teknik-teknik tertentu, menjadi laporan yang disusun
atas dasar konsep harga pokok penuh (full costing), sebab konsep variabel costing tidak
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

III. Perbedaan Konsep Variable Costing Dengan Full Costing


Perbedaan antara kedua konsep tersebut terletak pada tujuan utamanya, yaitu konsep variabel
costing mempunyai tujuan utama untuk pelaporan internal sedangkan konsep full costing
mempunyai tujuan utama untuk pelaporan eksternal. Adanya kedua perbedaan tersebut
mengakibatkan perbedaan perlakuan terhadap biaya produksi tetap yang selanjutnya
mempengaruhi:
1. Penentuan besarnya harga pokok produk dan besarnya harga pokok persediaan.
2. Penggolongan dan penyajian di dalam laporan laba-rugi.
Pembahasan tentang perbedaan metode variable costing dengan metode full costing dapat
ditinjau dari segi;
1. Penentuan harga pokok produk
Pada metode full costing, semua elemen biaya produksi baik tetap maupun variabel
dibebankan ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu elemen harga pokok produk
meliputi:
a. BBB (raw material cost)
b. BTKL (direct labor cost)
c. BOP variabel (variable FOH)
d. BOP tetap (fixed FOH)
Sedangkan pada metode variabel costing hanya memasukkan atau membebankan biaya
produksi variabel ke dalam harga pokok produk. Elemen harga pokok produk meliputi:
a. BBB (raw material cost)
b. BTKL (direct labor cost)
c. BOP variabel (variable FOH)
Elemen biaya
BBB(raw material cost)
BTKL(direct labor cost)
BOP variabel (variable FOH)
BOP tetap (fixed FOH)
Jumlah Harga Pokok Produk

Full costing
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp. xxx

Variable costing
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp.xxx
_
Rp.xxx

2. Penentuan harga pokok persediaan


Dengan adanya perbedaan pembebanan elemen biaya produksi (production cost) kepada
produk antara metode full costing dengan metode variable costing, mengakibatkan pula
perbedaan harga pokok persediaan. Pada metode full costing BOP tetap (fixed FOH) dibebankan
ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu jika sebagian produk masih ada dalam persediaan
atau belum terjual maka sebagian BOP tetap (fixed FOH) masih melekat pada harga pokok
persediaan. Metode variable costing tidak membebankan BOP tetap (fixed FOH) ke dalam harga
pokok produk, akan tetapi BOP tetap (fixed FOH) langsung dibebankan ke dalam laba-rugi
sebagai biaya periode. Oleh karena itu produk yang masih ada dalam persediaan atau belum
terjual hanya dibebani biaya produksi variabel atau BOP tetap (fixed FOH) tidak melekat pada
harga pokok persediaan.
3. Penyajian Laporan Laba-Rugi
Perbedaan di dalam penyajian laporan laba-rugi antara metode full costing dengan variable
costing dapat ditinjau dari segi:

a. Penggolongan biaya dalam laporan laba-rugi


Pada metode full costing, biaya digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Biaya produksi, meliputi BBB (raw material cost), BTKL(direct labor cost) dan BOP
tetap (fixed FOH) maupun BOP variabel (variable FOH).
2. Biaya non produksi atau biaya periode (period cost), meliputi semua biaya yang tidak
termasuk dalam harga pokok produk sehingga harus dibebankan langsung ke laporan
laba-rugi periode terjadinya.
Pada metode variable costing, biaya digolongkan menjadi:
1. Biaya variabel (variable costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya berubah
secara proporsioanal sesuai dengan perubahan volume kegiatan. Biaya ini
dikelompokkan ke dalam:
- Biaya variabel produksi, yaitu BBB, BTKL dan BOP variabel.
- Biaya variabel non produksi, yaitu biaya pemasaran variabel (variable of marketing
expense), biaya adminstrasi dan umum variabel (variable of general & administative
expense), biaya finansial variabel (variable of financial expense).
2. Biaya tetap (fixed costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak
dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan. Biaya tetap pada konsep variable costing
disebut pula dengan biaya periode (period cost) atau disebut pula biaya
kapasitas(capacity cost).
b. Struktur atau susunan penyajian laporan laba-rugi
1. Metode Full costing
Laporan Laba-Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember
_________________________________________________________________
Penjualan (sales)
Biaya Produksi (production cost):
Persed.awal brg jadi (beginning finished goods inventory)
BBB (raw material cost)
BTKL direct labor cost)
BOP variabel (variable FOH)
BOP tetap (fixed FOH)
HP.Produksi (cost of goods manufactured)
Brg tersedia untuk dijual ( goods available for sales)
Persed. Akhir brg jadi (ending finished goods inventory)
HPP (cost of goods sold)
Laba kotor (gross income)
Biaya Non Produksi (Non production cost):
Biaya pemasaran (marketing expense)
Biaya administrasi dan umum
(general & adiminstrative expense)
Total biaya non produksi
Laba bersih sebelum pajak (EBT)

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx +
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx +
xxx
xxx

2. Metode variabel costing


Laporan Laba-Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember
________________________________________________________________
Penjualan (sales)
xxx
Biaya variabel (variable cost):
Persed.awal brg jadi (beginning finshed goods inventory)
xxx
BBB (raw material cost)
xxx
BTKL (direct labor cost)
xxx
BOP (FOH) variabel
xxx +
HP.Produksi (cost of goods manufactured)
xxx +
BTUD (goods available for sales)
xxx
Persed. Akhir brg jadi (ending finished goods inventory)
xxx
HPP(cost of goods sold)
xxx
Margin kontribusi kotor (gross CM)
xxx
Biaya komersial variabel (variable of commercial expenses);
Biaya pemasaran variabel (variable of marketing expenses) xxx
Biaya adm.& umum variabel
(variable of general and administrative expenses)
xxx +
xxx
Batas kontibusi bersih (net CM)
xxx
Biaya tetap (fixed cost);
BOP tetap (fixed FOH)
xxx
Biaya pemasaran tetap (fixed marketing expenses)
xxx
Biaya adm.& umum tetap
(fixed general and administrative expenses)
xxx +
xxx Laba bersih setelah pajak (EAT)
xxx

*** CONTOH SOAL VARIABLE COSTING ***

Pada tahun 1999, PT.LABALA memproduksi 1000 unit batako. Biaya produksi yang
dikeluarkan selama tahun 1999 adalah sebagai berikut:
Biaya bahan baku (raw material cost)
500.000
Biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost)
350.000
Biaya bahan penolong (indirect material cost)
100.000
Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor cost)
110.000
Depresiasi bangunan pabrik (depreciation of factory building)
100.000
Data lain yang diperoleh selama tahun 1999 adalah:
Harga jual Rp.2000 per unit.
Produk terjual sebanyak 900 unit.
Persediaan awal 100.000 (metode full costing) dan 90.000 (metode variable costing).
Persediaan akhir 232.000 (metode full costing) dan 212.000 (metode variable costing).
Pembebanan BOP (factory overhead) berdasar BTKL.
Kapasitas normal dicapai pada saat BTKL sebesar Rp.400.000 per tahun dengan perkiraan
BOP variabel Rp.250.000 dan BOP tetap Rp.110.000.
Biaya administrasi dan umum (general and administrative expense) Rp.100.000.
Biaya iklan (advertising expense) Rp.300.000.
Diminta :
1. Dengan menggunakan metode Full costing, hitunglah;
a. Tarif BOP per unit dan jumlah BOP yang dibebankan.
b. Laporan Laba/Rugi (income statement).
2. Laporan Laba/Rugi dengan metode Variable costing.

JAWABAN : *** CONTOH SOAL VARIABLE COSTING ***


1. Metode Full costing
a. Tarif BOP(FOH) per unit
BOP T
110.000
Ket; * = pada kapasitas normal
BOP V
250.000 *
Jumlah BOP
360.000
Tarif overhead pabrik berdasarkan BTKL, dimana kapasitas normal dicapai pada jumlah
Rp.400.000.
Tarif BOP (FOH) = 360.000 x 100% = 90% dari BTKL
400.000
b. Bop yang dibebankan untuk tahun 1999 = 90% x 350.000 = 315.000
PT.LABALA
Laporan Laba/Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 1999
Penjualan ( Rp.2000 x 900 u )
1.800.000
HPP (Cost of goods sold) :
Persed. awal brg jadi (beginning finished goods inventory) 100.000
BBB (raw material cost)
500.000
BTKL (direct labor cost)
350.000
BOP (FOH) T
210.000
BOP (FOH) V
100.000 +
HP.Produksi (Cost of goods manufactured)
1.160.000 +
BTUD (finished goods available for sales)
1.260.000
Persed.akhir brg jadi (ending finished goods inventory )
232.000
HPP sebelum penyesuaian
(cost of goods sold before adjustment)
1.028.000
Selisih kapasitas menguntungkan ( 315.000 310.000 )
5.000 +
HPP setelah penyesuaian
(cost of goods sold after adjustment)
1.033.000 Laba kotor (gross income)
777.000
Biaya usaha (operating expense):
Biaya adm. & umum (general & administrative expense)
100.000
Biaya iklan (advertising expense)
300.000 +
400.000
Laba bersih sebelum pajak ( EBT )
377.000

2. Metode Variable costing


PT.LABALA
Laporan Laba/Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember 1999
Penjualan ( Sales) = Rp.2000 x 900 u
1.800.000
Biaya variabel (variable costing):
Persed.awal brg jadi (beginning finished goods inventory)
90.000
BBB (raw material cost)
500.000
BTKL (direct labor cost)
350.000
BOP (FOH) V
210.000 +
HP.Produksi (COGM)
1.060.000 +
BTUD ( finished goods available for sales)
1.150.000
Persed.akhir brg jadi (ending finished goods inventory)
212.000
HPP (Cost of goods sold) variabel
938.000
Contribution Margin
862.000
Biaya Tetap (Fixed expense):
BOP (FOH) T
100.000
Biaya adm.& umum (general & administrative expense)
100.000
Biaya iklan (advertising expense)
300.000 +
Total biaya tetap
500.000
Laba bersih sebelum pajak ( EBT )
362.000

KASUS 1

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Berikut adalah data biaya produksi dan persediaan pada akhir tahun 1999 dari PT.OTI :
Produksi selama tahun 1999 sebanyak 200.000 unit.
80% dari produksi pada tahun 1999 terjual dan sisanya masih tersimpan di gudang pada akhir tahun.
Biaya bahan baku (Raw Material)
Rp.3.000.000
Upah langsung (Direct Labor)
Rp.2.500.000
BOP Variabel (variable FOH)
Rp.1.000.000
BOP Tetap (fixed FOH)
Rp. 600.000
Harga jual per unit
Rp.
50
Biaya adm & umum (General&Administrative Expense)
Rp. 250.000

Diminta :
1. Hitung nilai persediaan akhir (Ending Inventory) th.1999 dengan met.Variable Costing dan Full
Costing.
2. Buat laporan Laba/Rugi (Income Statement) menurut met.Variable Costing dan Full Costing.

JAWABAN KASUS 1
1. Produk terjual = 80% x 200.000 u = 160.000 u
Persediaan brg jadi akhir (Ending finished goods Inventory) th.1999
= 20% x 200.000 u = 40.000 u

Nilai persediaan akhir th.1999 dengan met. Variable Costing :


BBB (Raw Material)

Rp.3.000.000

Upah langsung (Direct Labor Cost)


BOP (Factory Overhead) Var.

Rp.2.500.000
Rp.1.000.000 +

HP.Produksi (Cost of Goods Manufactured)

Rp.6.500.000

Unit yang diproduksi = 200.000 u


HP.Produksi (COGM) per unit = Rp.6.500.000 = Rp.32,5
200.000
Nilai persediaan brg jadi akhir th.1999 = 40.000 u x Rp.32,5 = Rp.1.300.000
Nilai persediaan brg jadi akhir th.1999 dengan met. Full Costing :
BBB (Raw Material)

Rp.3.000.000

Upah langsung (Direct Labor Cost)

Rp.2.500.000

BOP (FOH) Var.

Rp.1.000.000

BOP (FOH) Tetap

Rp. 600.000 +

HP.Produksi (COGM)

Rp.7.100.000

HP.Produksi (COGM) per unit = Rp.7.100.000 = Rp.35,5


200.000

Nilai persediaan brg jadi akhir th.1999 = 40.000 u x Rp.35,5 = Rp.1.420.000


2. Laporan Laba/Rugi ( Income Statement )

Metode Variable Costing


PT.OTI
Laporan L/R ( Income Statement )
Untuk periode yang berakhir 31 Des 1999

Penjualan (Sales)

Rp.8.000.000

Persed. brg jadi awal ( beginning finished goods inventory )

Biaya variabel (Variable Costs) :


BBB (Raw Material)

Rp.3.000.000

Upah langsung (Direct Labor)

Rp.2.500.000

BOP (FOH) Var.

Rp.1.000.000 +

BTUD (goods available for sales)

Rp.6.500.000

Persed. brg jadi akhir (Ending finished goods Inventory)

Rp.1.300.000

HPP (Cost of Goods Sold)

Rp.5.200.000

Contribution Margin

Rp.2.800.000

Biaya tetap (Fixed Costs):


BOP (FOH) Tetap

Rp. 600.000

Beban adm & umum

Rp.

95.000

(General & Administratif Expense)


Beban iklan (advertising expense )

Rp. 155.000 +

Total biaya

Rp. 850.000

Laba bersih sebelum pajak ( EBT )

Rp.1.950.000

Metode Full Costing


PT.OTI
Laporan L/R (Income Statement )
Untuk periode yang berakhir 31 Des 1999

Penjualan (Sales)

Rp.8.000.000

Persed. Brg jadi Awal (Beginning finished goods Inventory )


Biaya Produksi (Production Costs) :
BBB (Raw Material )

Rp.3.000.000

Upah langsung ( Direct Labor) Rp.2.500.000


BOP (FOH ) Var.

Rp.1.000.000

BOP (FOH ) Tetap

Rp. 600.000 +

BTUD (goods available for sales)

Rp.7.100.000

Persed. Brg jadi akhir (Ending finished goods Inventory)

Rp.1.420.000

HPP ( COGS )

Rp.5.680.000

Laba Kotor ( Gross Income )


Beban Operasi (Operating Expenses) :

Rp.2.320.000

Beban adm &umum


(General & Administrative Expense)

Rp

95.000

Beban iklan (advertising expense )

Rp. 155.000 +
Rp. 250.000 -

Laba bersih sebelum pajak ( EBT )

Rp.2.070.000

KASUS 2

SAVAGE GARDEN Corp. adalah sebuah perusahaan yang memproduksi 1 jenis produk. Pada
tahun 1999 telah memproduksi 50.000 unit ikat pinggang dengan biaya produksi sebagai berikut :
BOP Var (variable FOH).
Rp.25.000.000
BOP Tetap (fixed FOH)
Rp.30.000.000
Upah langsung ( Direct Labor cost)
Rp.55.000.000
Biaya Bahan Baku ( Raw Material cost) Rp.40.000.000
Selain itu terdapat data lain yang berkaitan dengan produksi tsb. sebagai berikut :
- Pembebanan BOP berdasarkan upah langsung.
- Biaya upah langsung per unit Rp.1100
- Produk yang terjual adalah 40.500 unit.
- Kapasitas normal (normal capacity) terjadi pada saat biaya upah langsung sebesar Rp.75.000.000
per tahun, dimana pada saat itu BOP tetap (fixed FOH) diperkirakan Rp.35.000.000 & BOP
Variabel (variable FOH) Rp.25.000.000
- Pembebanan lebih/kurang ( over/under applied ) Factory overhead dibebankan ke HPP (Cost of
Goods Sold).
Diminta :
1. Dengan menggunakan metode Full Costing, hitunglah :
a. Tarif BOP per unit.
b. Jumlah BOP yang dibebankan untuk th.1999.
c. Jumlah HPP ( Cost of Goods Sold ).
2. Dengan menggunakan metode Variable Costing, hitunglah :
a. Persediaan akhir ( Ending Inventory ).
b. HPP ( Cost of Goods Sold ).

JAWABAN KASUS 2
1. a. Tarif BOP ( FOH ) per unit :
BOP ( FOH ) V

Rp.25.000.000 *

BOP ( FOH ) T

Rp.35.000.000 +

Jml BOP

Rp.60.000.000

Tarif overhead pabrik ditentukan berdasarkan upah langsung, upah langsung


kapasitas normal Rp.75.000.000
Tarif Overhead pabrik = Rp.60.000.000 x 100% = 80%
Rp.75.000.000
Jadi tarif overhead pabrik = 80% dari upah langsung.
b. Jumlah BOP ( FOH ) yang dibebankan untuk th.1999 :
= 80% x Rp.55.000.000 = Rp.44.000.000
c. Jumlah HPP (COGS) th.1999 ;

pada

BBB (Raw Material)

Rp.40.000.000

Bi.Upah Langsung (Direct Labor Cost)


BOP (FOH)

Rp.55.000.000
Rp.44.000.000 +

HP.Produksi (Cost of Goods Manufactured)

Rp.139.000.000

Pers.akhir (Ending Inventory)


= 50.000 40.500 x 139.000.000 =

Rp. 26.410.000

50.000
HPP (COGS) sbl penyesuaian

Rp.112.590.000

Selisih kapasitas tidak menguntungkan


( 55 jt 44 jt ) =

Rp.11.000.000

HPP ( COGS )

Rp.123.590.000

2. a.Persediaan akhir (Ending Inventory) Variable Costing :


BBB (Raw Material)

Rp. 40.000.000

Bi.Upah Langsung (Direct Labor Costs)

Rp. 55.000.000

BOP (FOH) V

Rp. 25.000.000 +

HP.Produksi (Cost of Goods Manufactured)

Rp.120.000.000

Jumlah produksi : 50.000 unit


HP.Produksi / unit = Rp.120.000.000 = Rp.2400
50.000
Nilai persediaan akhir = ( 50.000 40.500 ) x Rp.2400 = Rp.22.800.000
b. HPP ( COGS ) :
HP.Produksi (Cost of Goods Manufactured)

Rp.120.000.000

Pers.akhir (Ending Inventory)

Rp. 22.800.000

HPP (COGS)

Rp. 97.200.000

KASUS 3

PT.SAKURA menggunakan biaya standar dalam menentukan besarnya biaya produksi. Kapasitas
normal yang dimiliki 40.000 unit. Biaya standar per unit produksi untuk bulan April, Mei, Juni tahun
2000 adalah :
April
Mei
Juni
BBB ( raw materials cost )
Rp.150
Rp.150
Rp.150
BTKL ( direct labor cost )
Rp.250
Rp.250
Rp.250
BOP ( F O H ) V
Rp.100
Rp.100
Rp.100
BOP ( F O H ) T
Rp.5.000.000
Rp.5.000.000 Rp.5.000.000
Biaya adm & pemasaran (administrative & marketing expense) variabel Rp.55 per unit yang dijual.
Biaya adm & pemasaran (adminstrative & marketing expense) tetap Rp.800.000 dan harga jual per unit
Rp.850.
Data penjualan & produksi bulan April, Mei, Juni th. 2000 sbb. :
April
Mei
Juni
Persediaan awal ( beginning inventory )
4.000 unit
2.000 unit
5.000 unit
Produksi ( productions )
38.000
45.000
41.000
Penjualan ( Sales )
40.000
42.000
41.000
Selisih tidak menguntungkan : - Selisih efisiensi tenaga kerja Rp.300.000
(unfavorable variance)
( labor efficiency variance )
Selisih menguntungkan
: - Selisih harga bahan baku
Rp.175.000
(favorable variance)
(raw material cost variance)
Seluruh selisih dibebankan ke harga pokok penjualan (Cost of Goods Sold).
Diminta :
1. Buatlah laporan laba/rugi (income statement) direct costing.
2. Buatlah laporan laba/rugi (income statement) full costing.

JAWABAN KASUS 3
PT.SAKURA
Laporan Laba/Rugi
bulan April, Mei, Juni th.2000
April
Penjualan (Sales)

Direct Costing
Mei

Juni

34.000.000

35.700.000

34.850.000

- Pers.awal ( beginning inventory )

2.000.000

1.000.000

2.500.000

- BBB ( Raw material)

5.700.000

6.750.000

6.150.000

- BTKL (Direct Labor Cost)

9.500.000

11.250.000

10.250.000

- BOP ( FO H ) V

3.800.000

4.500.000

4.100.000

HPP (COGS) :

BTUD ( good available for sales )


Pers.akhir (Ending Inventory)
HPP (COGS) Var

21.000.000

23.500.000

1.000.000
20.000.000

22.000.000

2.500.000

22.000.000

2.500.000
20.500.000

(+) Selisih efisiensi TK tidak


menguntungkan

300.000

300.000

300.000

175.000

175.000

175.000

20.125.000

21.125.000

20.625.000

2.200.000

2.310.000

2.255.000

Jml. Bi. Var.

22.325.000

24.435.000

22.880.000

-CM

11.675.000

12.265.000

11.970.000

5.000.000

5.000.000

5.000.000

800.000

800.000

800.000

5.875.000

6.465.000

6.170.000

(-) Selisih harga BB menguntungkan


HPP (COSG) Var
Bi. Adm. & Pemasaran Var.
(Adm & marketing expenses )

Bi. Tetap ( Fixed cost ) :


- BOP ( F O H ) T
- Bi. Adm. & Pemasaran Tetap
( Adm & marketing expenses)
EBT

Tarif BOP T = Rp.5.000.000 = Rp.125


40000
PT.SAKURA
Laporan Laba/Rugi
bulan April, Mei, Juni th.2000
Full Costing
April

Mei

Juni

34.000.000

35.700.000

34.850.000

- Pers.awal ( beginning inventory )

2.500.000

1.250.000

3.175.000

- BBB ( raw material cost )

5.700.000

6.750.000

6.150.000

- BTKL ( direct labor cost )

9.500.000

11.250.000

10.250.000

- BOP ( F O H ) V

3.800.000

4.500.000

4.100.000

- BOP ( F O H ) T

4.750.000

5.625.000

5.125.000

26.250.000

29.375.000

27.500.000

Penjualan (Sales)
HPP (COGS) :

BTUD ( good available for sales )

Pers.akhir ( ending inventory )

1.250.000

3.175.000

3.175.000

HPP (COGS)

25.000.000

27.500.000

25.625.000

300.000

300.000

300.000

175.000

175.000

175.000

9.125.000

8.325.000

9.350.000

2.200.000

2.310.000

2.255.000

800.000

800.000

800.000

(+) Selisih efisiensi TK tidak


menguntungkan
(-) Selisih hrg BB menguntungkan
Laba Kotor ( gross income )
Bi.Operasi ( operasional cost ) :
-

Bi.adm & pemasaran V

Adm & marketing expenses )


- Bi.adm & pemasaran T
EBT

6.125.000

5.125.000

6.295.000