Anda di halaman 1dari 13

HUKUM ALAT MUSIK DAN NYANYIAN

Sesungguhnya permasalahan ini merupakan


bencana yang merajalela di berbagai negara kaum
muslimin, dan orang-orang meremehkan hal ini,
seharusnya setiap muslim terutama tholibul ilmi
mengetahui hukumnya.
Untuk masalah maazif adalah alat-alat musik
semuanya adalah haram, tidak boleh menggunakan
alat musik apapun kecuali Ad-duf (rebana) bagi
wanita, khususnya untuk menyiarkan adanya pesta
pernikahan, sebagian orang menambahkan dengan
hari raya dan ketika datangnya orang yang
berpergian.
Dengan diharamkannya alat musik itu maka
mengakibatkan diharamkannya perdagangan alat
musik baik menjual maupun membelinya, haram
menyimpannya, haram mendengarkannya (artinya
mendengarkan musik), haram meyibukkan diri
dengannya dan mencari nafkah darinya, juga
diharamkan mempelajarinya dengan yang disebut
Akademi (sekolah) musik, dll, serta diharamkan
mendirikan akademi ini atau bekerja di dalamnya.
Sedangkan nyanyian : maka bagi penyanyi
yang menggunakan alat musik tidak diragukan lagi
keharamannya sedangkan yang tidak menggunakan
musik adalah apabila perkataannya baik maka baik
dan apabila jelek juga menjadi jelek dan banyak
melantunkan nyanyian yang baik hukumnya adalah
makruh para salaf menamakannya At Taghbiir dan
mereka mencelanya karena di dalamnya
menyebabkan manusia sibuk dan meninggalkan
untuk mendengar Al-Qur’an dan merenungkannya.
Dan Taghbiir kebalikan dari apa yang dikenal
sekarang dengan Nasyid Islami, lihat Majmuu’
Fataawaa, Ibnu Taimiyyah V/83-84. Dan orang-
orang yang membolehkan mendengarkan lagu dari
kalangan salaf sesungguhnya hal itu dimaksudkan
supaya untuk menyukai sya’ir, nyanyian penunggang
onta dan nyanyain orang yang naik haji dan yang
semisalnya dan bukan nyanyian seperti pada hari ini.
Untuk mrngetahui hukum-hukum dan dalil-dalil
ini secara terperinci dan detail serta mengetahui
bantahan terhadap orang-orang yang menyelisihinya
seperti Ibnu Hazm dan lainnya, maka kajilah kitab-
kitab sebagai berikut ini :
1. Kitab Tanziihusy Syariah ‘An Ibaahatil
Aghooniy Al Kulii’ah karya Ahmad bin
Yahya An Najmiy, cet. Ar Ri’aasah Al ‘Aamah
Lil Buhuuts Al ‘Ilmiyyah di Saudi. Kitab ini kecil
bentuknya namun besar faedahnya mencakup
seluruh cabang permasalahan yang tidak ada
pada buku lainnya.
2. Bab (tentang alat musik) dalam buku Nailul
Authoor oleh Asy Syaukaaniy VIII/260-272.
Di dalamnya terdapat bantahan terhadap Ibnu
Hazm atas penyertaannya akan dibolehkannya
alat-alat ini.
3. Bab (Tipu daya Syaithon terhadap orang-orang
sufi dengan nyanyian, ……………, dan alat
musik) dalam buku (Ighootsatul Lahfaan min
Mashoyidi Asy-Syaithon) oleh Ibnul Qoyyim,
cet. Darul Kutub Al-Ilmiyah 1407 H juz I/252-
299) di dalamnya diterangkan panjang lebar
tentang tema permasalahan ini.
4. Kitab Kaffur Ri’aa-i ‘An Muharromaatil
Lahwi Was Samaa’i karya Ibnu Hajar Al
Haitamy) dicetak pada akhir kitabnya Az
Zawaajir ‘An Iqtiroofil Kabaa-ir)
sebagaimana juga kitab Kaffur Ri’aa-i dicetak
secara tersendiri dengan ditahqiiq (diteliti) oleh
Muhammad ‘Abdul Qodir ‘Atho, cet. Daarul
Kutub Al ‘Ilmiyyah. Kitab ini (yakni Kaffur
Ri’aa-i) di dalamnya tidak banyak faedah
karena terlalu panjang dan rinci.
5. Bab khusus tentang haramnya alat musik
dalam Shohiih Al-Bukhooriy, yang terdapat
dalam Fat-hul Baariy X/51-56. Syarh
(penjelasan) hadits no. 5540 di dalamnya
terdapat bantahan terhadap Ibnu Hazm yang
menyatakan hadits ini sebagai hadits dho’iif.
Inilah referensi utama dalam tema
permasalahan ini, yang dijadikan sandaran dalam
menukil bagi setiap orang yang ingin menerangkan
kebenaran dalam tema permasalahan ini.
Kandungannya terdapat dalam perkataan Ibnul
Qoyyim dalam kitab Ighootsatul Lahfaan dan
perkataan Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baariy serta
perkataan Asy Syaukaniy dalam Nailul Authoor.
Sedangkan pentas seni adalah haram karena di
dalamnya terdapat kebohongan, tabarruj (berhias
diri) dan bercampurnya laki-laki dengan perempuan
dengan dibantu oleh alat musik seperti biasanya, dan
sebab-sebab lainnya yang menjadikannya haram,
dan sebab-sebab ini serta yang lainnya dan dalil-
dalilnya telah dikumpulkan oleh Syaikh Ahmad Ash
Shiddiiq Al Ghimariy dalam kitabnya Iqoomatud
Daliil ‘Alaa Hirmati At Tamtsiil karya Syaikh
Hamuud At Tuwaijiriy juga membicarakannya
dalam kitab Al Iidhooh Wat Tabyiin Limaa
Waqo’a Fiihi Al Aktsaruun Mim Musyaabahatil
Musyrikiin hal. 244 dan setelahnya.
Diharamkannya pentas seni (Film) maka
mengakibatkan diharamkan pula bekerja dengan
pekerjaan itu, haram mempelajarinya dengan yang
disebut (dikenal) dengan Akademi (Institut) kesenian
atau akademi perfilman, begitu juga haram
mendirikan (membangun) akademi ini, juga haram
membuat film dan sinema serta yang semisalnya dari
sarana dan prasarana yang diharamkan ini.
Kesenian (ilmu) ini sumbernya dari negara-
negara kafir, dan telah masuk ke negara-negara
Islam pada akhir abad ke 19 M dan awal abad ke 20
oleh beberapa kelompok perfilm-an dari orang-orang
Nasrani dan Yahudi Libanon, dan mereka di bawah
perlindungan dari gurunya beberapa masa hingga
dari tangan mereka lahirlah kelompok mereka dari
generasi kaum muslimin.
Apabila di sana terdapat manfaat dalam ilmu
ini seperti menyuguhkan gambaran kejadian-kejadian
sejarah atau menyuguhkan beberapa cerita-cerita
yang dipenuhi dengan pelajaran, maka kaum
muslimin mempunyai ganti hal itu dengan cerita-
cerita, dan telah diketahui akan perjalanan sejarah
kaum muslimin suatu kelompok Al Qush-shoosh
Wal Mudzakkiriin (Ahli cerita dan pemberi
peringatan) yang mana mereka meriwayatkan cerita
yang sebenar-benarnya dan tidak ada unsur
kebohongan terhadap manusia untuk mengingatkan
mereka, dan bagi pencerita tersebut memiliki waktu
tersendiri karena telah diketahui di masjid-masjid
yang manusia berkumpul di dalamnya, bahkan ahli
cerita dan pemberi peringatan menyertai
(menemani) kaum muslimin dalam peperangan dan
pertempuran untuk mengingatkan dan memberi
pelajaran kepada mereka serta meneguhkan hati
mereka. Dan Ibnu Katsiir rh menyebutkan dalam
kitabnya Al Bidaayah Wan Nihaayah
sesungguhnya seorang ahli cerita pada perang
Yarmuk 13 H bahwa Abu Sufyaan bin Harb ditunjuk
oleh Khoolid bin Al Waliid ra tentang tujuan ini,
inilah yang berlaku di kalangan kaum muslimin.
Sedangkan televisi: di dalamnya berkumpul
beberapa keharaman dan kerusakan :
• Diantaranya mendengarkan hal-hal yang haram
seperti musik dan nyanyian yang haram.
• Diantaranya melihat kepada yang haram
seperti wanita-wanita mutabarijat (yang
menampakkan perhiasan), dan pergaulan yang
haram serta yang lainnya.
• Diantaranya juga orang-orang yang
melaksanakan program-program pemberitaan
televisi di beberapa negara pada hari ini
mereka dari kalangan sekuler dan penjahat-
penjahat besar yang memerangi Alloh dan
RosulNya SAW, mereka menggunakan alat ini
untuk merusak kaum muslimin, menanamkan
nilai-nilai dunia di dalam diri mereka dan
mengajarkan sarana-sarana kejahatan. Dan
kalaupun televisi itu tidak mengandung unsur
kecuali membuang-buang umur dengan
menyia-nyiakan waktu dalam melihatnya
cukuplah hal ini sebagai kerusakan.
Kadang-kadang di dalamnya terdapat acara-
acara yang mubah. Namun kebanyakan yang ada
padanya adalah harom, dan konsekuensi adanya
pengingkaran terhadap kemungkaran dan mencegah
hal-hal yang menjurus kepadanya hendaknya
seorang muslim tidak memasukkan televisi ke dalam
rumahnya, jika memang dia betul-betul ingn menjaga
dien (agama) anak dan istri-istrinya, hal itu
disebabkan sulitnya untuk membedakan yang halal
dari yang haram dari program-program yang
ditayangkan di dalam televisi, dan sesuatu apabila
lebih banyak haramnya daripada halalnya maka
hukumnya adalah yang lebih banyak, sebagaimana
Alloh Ta’ala berfirman dalam pengharaman minuman
keras dan judi..

ُُ ْ ‫مآإ ِث‬
‫م‬ َ ِ‫ل ِفيه‬ ْ ُ‫سرِ ق‬ ِ ْ ‫مي‬ َ ْ ‫مرِ َوال‬ ْ ‫خ‬ َ ْ ‫ن ال‬ ِ َ‫ك ع‬ َ َ ‫سئ َُلون‬ْ َ‫ي‬
َ
‫ما‬ َ ِ‫من ن ّْفعِه‬ ِ ‫مآ أك ْب َُر‬ َ ُ ‫مه‬ ُ ْ ‫س وَإ ِث‬ِ ‫مَنافِعُ ِللّنا‬ َ َ‫ك َِبي ُُر و‬
‫ن‬
ُ ّ ‫ك ي ُب َي‬َ ِ ‫ل ال ْعَْفوَ ك َذ َل‬ ِ ُ‫ن ق‬ َ ‫فُقو‬ ِ ‫ذا ُين‬ َ ‫ما‬َ ‫ك‬ َ َ ‫سئ َُلون‬ْ َ ‫وَي‬
َ
َ ‫م ت َت ََفك ُّرو‬
‫ن‬ ْ ُ ‫ت ل َعَل ّك‬ ِ ‫م ا ْلَيا‬ ُ ُ ‫ه ل َك‬
ُ ‫الل‬
“Katakanlah di dalamnya terdapat dosa yang besar
dan terdapat manfaat bagi manusia. Namun dosanya
lebih besar daripada manfaatnya”(QS. Al-Baqoroh:
219).
Dan beginilah televisi itu kerusakannya lebih besar
sekali daripada manfaatnya.
Dari segi perdagangan tentang alat-alat ini
seperti televisi, radio dan tape --- dengan jual beli
dan reparasi --- sesungguhnya adanya syubhat
sangat kuat, karena kebanyakan manusia hari ini
menggunakannya pada kemungkaran berupa
mendengar dan melihat yang haram, dan yang
diharamkan pula memberi bantuan untuk hal itu
karena firman Alloh Ta’ala:
‫وى وَل َت ََعاوَُنوا عََلى‬ َ ‫وَت ََعاوَُنوا عََلى ال ْب ِّر َوالت ّْق‬
ُ ‫ديد‬ َ ‫ه‬
ِ ‫ش‬ َ ‫ن الل‬ ّ ِ‫ه إ‬
َ ‫ن َوات ُّقوا الل‬ ِ ‫ا ْل ِث ْم ِ َوال ْعُد َْوا‬
ِ ‫ال ْعَِقا‬
‫ب‬
“Dan janganlah saling tolong-menlong di atas
kejahatan dan permusuhan” (QS. Al-Maidah:2).
Dan sabda Rosululloh SAW:

“Tinggalkanlah hal-hal yang meragukanmu kepada


hal-hal yang tidak meragukanmu” (Hadits Hasan).
Dan juga sabda Rosululloh SAW:

“Dan barang siapa yang menjauhi syubhat maka dia


telah membebaskan dirinya dan kehormatannya dan
barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat telah
terjerumus ke dalam hal yang haram” (Muttafaqun
‘alaih).
Dan sarana itu walaupun pada dasarnya
mubah, namun hal itu menjadi haram apabila
dimaksudkan untuk hal-hal yang haram. Karena
hukum sarana sama dengan hukum maksudnya. Oleh
karena itu diharamkan menjual anggur bagi orang
yang menggunakan untuk membuat khomer (arak),
juga haram menjual senjata di waktu terjadi fitnah
dan haram juga menjual senjata kepada ahlil harb
(orang-orang yang diperangi). Dan mayoritas
manusia pada hari ini alat-alat ini pada hal-hal yang
diharamkan maka haram memberi bantuan kepada
mereka dalam hal itu. Walaupun bencana pada alat-
alat radio dan tape recorder itu lebih ringan daripada
pada televisi dan video, terutama bila dijual kepada
orang yang sudah diketahui bahwa dia tidak akan
menggunakanya dalam kemungkaran. Wallaahu
a’lam.
Kami, apabila kami katakan bahwa
menggunakan alat musik dan mendengarkannya
adalah termasuk dosa besar karena ada ancaman
yang berkenaan dalam hal itu. Sesungguhnya di sini
ada satu permasalahan yang harus dipahaminya,
sesungguhnya hal itu adalah dosa besar bagi orang-
orang yang menggunakannya dan
mendengarkannya. Namun hal itu menjadi kufur
akbar bagi orang-orang yang membuat syariat dan
membolehkannya, karena pembuatan syariat ini
termasuk dalam bab menghalalkan kamaksiatan,
termasuk dalam hal ini penguasa yang membolehkan
penyiarannya, dan pembolehan segala macam alat-
alat media massa (pers), sesungguhnya tidak ada
sesuatupun yang dapat ditayangkan kecuali dengan
Undang-Undang dan pembolehan dari penguasa, dan
ini merupakan pembuatan syariat yang menyelisihi
syariat Alloh, maka hukumnya adalah kufur akbar,
dalilnya adalah:
َ‫أ‬
ْ َ ‫مال‬
‫م‬ َ ‫ن‬
ِ ‫دي‬
ّ ‫ال‬ ‫ن‬
َ ‫م‬
ّ ‫هم‬ُ َ ‫عوا ل‬
ُ ‫ر‬
َ ‫ش‬َ ْ ‫كآؤُا‬
َ ‫ر‬
َ ُ
‫ش‬ ‫م‬
ْ ُ ‫ه‬َ‫م ل‬
ْ
‫ه‬
ُ ‫ذن ب ِهِ الل‬ َ ْ ‫ي َأ‬
“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang
membuat syariat bagi mereka dalam dien apa-apa
yang tidak ada izin dari Alloh” (QS. Asy-Syuro:21).
Dan dien (agama) adalah peraturan hidup
manusia baik peraturan itu benar ataupun bathil
karena firman Alloh Ta’ala:
‫ن‬
ِ ‫ي ِدي‬
َ ِ ‫م وَل‬ ْ ُ ‫ل َك‬
ْ ُ ‫م ِدين ُك‬
“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Al-
Kaafirun:6)
Alloh menyebut kekafiran yang dilakukan oleh
orang-orang kafir sebagai agama: Dan dalil kekafiran
orang-orang yang membuat syariat yang menyelisihi
syariat Alloh juga firman Alloh:
‫ن‬
َ ‫ذي‬ ِ ّ ‫ل ب ِهِ ال‬ ّ ‫ض‬ َ ُ ‫سىُء زَِياد َةُُ ِفي ال ْك ُْفرِ ي‬ ِ ّ ‫ما الن‬َ ّ ‫إ ِن‬
‫واط ُِئوا‬ َ ُ ‫ما ل ِي‬
ً ‫عا‬ َ ‫ه‬ ُ َ ‫مون‬
ُ ‫حّر‬ َ ُ ‫ما وَي‬ ً ‫عا‬
َ ‫ه‬ ُ َ ‫حّلون‬ِ ُ ‫ك ََفُروا ي‬
ْ ُ‫ن ل َه‬
‫م‬ َ ّ ‫ه ُزي‬ ُ ‫م الل‬ َ ‫حّر‬ َ ‫ما‬َ ‫حّلوا‬ ِ ُ ‫ه فَي‬ُ ‫م الل‬ َ ‫حّر‬ َ ‫ما‬ َ َ‫عد ّة‬ ِ
َ ْ ‫م ال‬ َ
‫ن‬
َ ‫ري‬ ِ ِ‫كاف‬ َ ْ‫دي ال َْقو‬ ِ ْ‫ه ل َي َه‬ُ ‫م َوالل‬ ْ ِ‫مال ِه‬َ ْ‫سوُء أع‬ ُ
“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram
itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-
orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu,
mereka menghalalkannya pada satu tahun dan
mengharamkannya pada tahun yang lain” (QS. At-
Taubah:37).
Dan mengundur-undurkan bulan haram itu
adalah membuat syariat secara umum menyelisihi
syariat Alloh pada bulan-bulan haram. Maka Alloh
menamakan dengan menambah kekafiran, dan
menanbah-nambah kekafiran adalah merupakan
kekafiran. Hukum ini umum mencakup seluruh
kemaksiatan yang tidak menyebabkan kafir, seperti
riba, zina dan minum arak, melakukannya adalah
dosa besar, dan membuat undang-undang
perbuatannya adalah kufur akbar, karena pembuatan
undang-undang ini adalah sebagai penghalalan.
Keterangan ini telah disebutkan dalam muqoddimah
ke 17 pada masalah kelima dengan tema
permasalahan Al Hukmu Bighoiri Maa Anzalalloh
dalam pembahan ini.
Tambahan:
Sebab-sebab penguasa yang rusak sangat ingin
menyebarkan alat-alat musik di negara mereka.
Para penguasa yang rusak ini betul-betul
sangat ingin membuat masyarakatnya fasik supaya
mudah dalam menguasai mereka. Tidakkah kalian
melihat bagaimana Alloh mensifati kaum Fir’aun
dengan kefasikan; dan sesungguhnya kefasikan
mereka disebabkan dia mempengaruhi mereka.
Sebagaimana juga sebab ketaatan mereka kepada
Fir’aun? Alloh Ta’ala berfirman:

“Maka Fir’aun mempengaruhi mereka, lalu mereka


patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka
adalah kaum yang fasik” (QS. Az Zukhruf:54).
Kenyataan ini sangat dimengerti oleh para
penguasa dengan baik, untuk itu mereka
mengeluarkan harta mereka mereka yang sangat
banyak untuk membuat masyarakat menjadi fasik
dengan cara menyebarluaskan alat-alat musik dan
kemungkaran pada masyarakat, karena orang yanf
fasik dia tidak mementingkan kecuali memuaskan
hawa nafsunya dan dia tidak peduli sedikitpun
dengan urusan penguasa maka kefasikan orang-
orang yang fasik disebabkan dia tidak mau
(menghindar) dari mengingkari penguasa yang rusak,
maka dia membawa satu kemungkaran kepada
kemungkaran yang lain, Alloh berfirman --- tentang
kaum Nabi Luth --- :
َ ‫ل‬
‫كاُنوا‬ ِ َ‫ن إ ِل َي ْهِ و‬
ُ ْ ‫من قَب‬ َ ‫عو‬ُ ‫ه ي ُهَْر‬ ُ ْ‫جآَءهُ قَو‬
ُ ‫م‬ َ َ‫و‬
‫ت‬ِ ‫سي َّئا‬
ّ ‫ن ال‬ َ ‫مُلو‬
َ ْ‫ي َع‬
“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan
bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu
melakukan perbuatan-perbuatan yang keji” (QS.
Hud:78).
Tidakkah kamu melihat mereka tidak
melakukan kekejian yang terakhir kecuali karena
orang-orang sebelum mereka telah melakukan
kekejian juga? Karena itu adalah kebiasaan dan adat
mereka, dari sinilah para penguasa yang rusak itu
sangat ingin masyarakatnya menjadi orang-orang
yang melakukan kejelekan orang-orang sebelum
mereka hingga orang-orang setelahnya mengikuti
perbuatannya.
Dapat dilihat berapa banyak para penguasa
thoghut menginfakkan hartanya dalam merusak
tatanan masyarakat?... Diantaranya:
• Anggaran kementerian kebudayaan yang
bertanggung jawab terhadap pentas seni dan
perkembangan sinema serta festival-festival besar
baik nasional maupun internasional untuk
mengajar manusia ilmu-ilmu yang jelek (berdosa)
dan bermacam-macam.
• Membangun institut-institut (akademi)
musik dan pentas seni serta semisalnya, untuk
mencetak generasi-generasi yang rusak.
• Menerbitkan majalah-majalah yang cabul
atau jelek dan dipenuhi dengan gambar-gambar
dan cerita-cerita yang membangkitkan instink
(khayalan).
• Anggaran persatuan olahraga dan club-club
yang membentuk grup-grup dalam rangka untuk
melalaikan manusia.
Inilah sekelumit pembahasan dari yang
sebenarnya banyak sekali.
Seandainya apa yang diinfakkan oleh
pemerintah digunakan dalam kerusakan ini adalah
untuk kemaslahatan rakyat pasti akan diinfakkan
untuk menurunkan harga makanan pokok dan
perumahan, atau untuk memperbaiki bantuan-
bantuan kesehatan dan pendidikan, akan tetapi
penguasa menyuruh kepada kemungkaran dan
mencegah kebaikan serta memerangi setiap fadhilah
(keutamaan) dan setiap penyeru kepada keutamaan,
dan melaksanakan program-program yang terdapat
di Indonesia (protokolat filosof zionis) khususnya
untuk merusak rakyat beserta kekayaannya, baik
terjadi karena hanya ikut-ikutan atau
menyepakatinya. Alloh Ta’ala berfirman:
َ ‫إن ال ّذين ك ََفروا ينفُقو‬
‫عن‬َ ‫دوا‬ ّ ‫ص‬ ُ َ ‫م ل ِي‬ ْ ُ‫وال َه‬َ ‫م‬ ْ ‫نأ‬ َ ِ ُ ُ َ ِ ّ ِ
ً‫سَرة‬ْ ‫ح‬
َ ‫م‬ ْ ِ‫ن عَل َي ْه‬ ُ ‫كو‬ ُ َ‫م ت‬ ّ ُ ‫فُقون ََها ث‬ ِ ‫سُين‬ َ َ‫ل اللهِ ف‬ِ ‫سِبي‬ َ
‫ن‬
َ ‫شُرو‬َ ‫ح‬ ْ ُ‫م ي‬ َ ّ ‫جهَن‬ َ
َ ‫ن ك ََفُروا إ ِلى‬ َ ‫ذي‬ ّ
ِ ‫ن َوال‬ َ
َ ‫م ي ُغْلُبو‬ّ ُ‫ث‬
“Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan
hartanya untuk menentang jalan Alloh, maka mereka
infakkan harta itu kemudian menjadi sesalan bagi
mereka dan mereka akan dikalahkan, dan orang-
orang kafir ke dalam Jahannam mereka akan
dikumpulkan”(QS.Al Anfaal:36).
Mala sesungguhnya secara syariat kita
diwajibkan untuk mencopot para penguasa yang kafir
lagi membuat kerusakan walaupun caranya harus
dengan perang, kecuali kalau memang tidak mampu
untuk melaksanakan hal ini, maka tidak saya katakan
kepada kaum muslimin untuk melakukan perlawanan
terhadap program-program (langkah-langkah)
perusakan, menyingkapnya dan memperingatkannya
serta menghasung kaum muslimin untuk
memutuskan sarana-sarana kerusakan ini, karena
sesungguhnya hal ini adalah kewajiban sesuai
dengan kemampuan dan sesuatu yang mudah itu tak
dapat digugurkan dengan sesuatu yang sulit,
sesungguhnya perlawanan terhadap program-
program perusakan ini adalah satu langkah yang
sangat penting untuk mengembalikan kesalahan
umat ini, dan langkah yang penting sebagai cara
untuk merubah keadaan, Alloh Ta’ala berfirman:
َ
‫م‬
ْ ِ ‫سه‬
ِ ‫ماب ِأنُف‬
َ ‫حّتى ي ُغَي ُّروا‬ َ ‫ه ل َي ُغَي ُّر‬
َ ٍ ‫ماب َِقوْم‬ َ ‫ن الل‬
ّ ِ‫إ‬
“Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah suatu
kaum hingga mereka merubah diri mereka sendiri”
(QS. Ar Roa’d:11).
Hal ini disertai dengan usaha dalam mempersiapkan
kekuatan yang mampu untuk menghilangkan
(mencopot) para penguasa yang kafir. Karena
sesungguhnya I’dad (persiapan) ini adalah wajib
sebagaimana firman Alloh:
ّ ‫ست َط َعُْتم‬
ٍ‫من قُوّة‬ ّ ‫دوا ل َُهم‬
ْ ‫ماا‬ ِ َ ‫وَأ‬
ّ ‫ع‬
“Dan persiapkanlah kekuatan kalian untuk
menghadapi mereka semampu kalian” (QS. Al
Anfaal:60).
Kita memohon kepada Alloh Ta’ala untuk
menyiapkan petunjuk bagi umat ini yang dapat
memuliakan hamba-hambanya yang taat kepadanya
dan dapat menghinakan orang-orang yang
bermaksiat kepadanya. Diperintahkan di dalamnya
tentang ma’ruf dan dilarang di dalamnya
kemungkaran, sesungguhnya Alloh adalah Maha
Perkasa lagi Bijaksana.
Inilah akhir apa yang saya sebutkan dalam
tema permasalahan alat musik dan nyanyian.
Wallaahu Ta’ala At-Taufiq.