Anda di halaman 1dari 26

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

REFERAT
NOVEMBER 2014

UNIVERSITAS HASANUDDIN

TUMOR OVARIUM PADA WANITA POSTMENOPAUSE :


ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO, DAN PENANGANANNYA

OLEH :
Juliarwon Putra
C 11109284

PEMBIMBING :
dr. Muhammad Rizkinov Jumsa

SUPERVISOR :
Prof. Dr. dr. H. Syahrul Rauf, Sp.OG (K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

SURAT PENGESAHAN

Yang bertanda-tangan di bawah ini menyatakan bahwa :

Nama

: Juliarwon Putra

NIM

: C 11109284

Judul

: TUMOR OVARIUM PADA WANITA POSTMENOPAUSE :

ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO, DAN PENANGANANNYA

Benar telah menyelesaikan tugas referat dalam rangka kepaniteraan klinik pada
bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar,

Konsulen

November 2014

Pembimbing

Prof. Dr. dr. H. Syahrul Rauf, Sp.OG (K)

dr. Muhammad Rizkinov Jumsa

Mengetahui,
KPM Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Dr. dr. Sharvianty Arifuddin, Sp.OG (K)

ii

SURAT KETERANGAN PEMBACAAN REFERAT

Yang bertanda-tangan di bawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Juliarwon Putra

NIM

: C 11109284

Benar telah membaca referat dengan judul TUMOR OVARIUM PADA


WANITA POSTMENOPAUSE : ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO, DAN
PENANGANANNYA pada :
Hari / Tanggal : Jumat / 21 November 2014
Tempat

: Gedung Pinang, Lt. 2 RS Wahidin Sudirohusodo

Minggu ke

: VIII

Nilai

Dengan ini dibuat untuk digunakan sebaik-baiknya dan sebagaimana mestinya.

Makassar,

Konsulen

November 2014

Pembimbing

Prof. Dr. dr. H. Syahrul Rauf, Sp.OG (K)

dr. Muhammad Rizkinov Jumsa

Mengetahui,
KPM Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Dr. dr. Sharvianty Arifuddin, Sp.OG (K)

iii

DAFTAR HADIR PEMBACAAN REFERAT

Nama

: Juliarwon Putra

NIM

: C 11109284

Hari / Tanggal : Jumat / 21 November 2014


Tempat

No.

: Gedung Pinang, Lt. 2 RS Wahidin Sudirohusodo

Nama

Stambuk

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

iv

Minggu

Tanda Tangan

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Makassar,

Konsulen

November 2014

Pembimbing

Prof. Dr. dr. H. Syahrul Rauf, Sp.OG (K)

dr. Muhammad Rizkinov Jumsa

DAFTAR ISI

SAMPUL ................................................................................................. i
SURAT PENGESAHAN .......................................................................... ii
SURAT KETERANGAN PEMBACAAN REFERAT .............................. iii
DAFTAR HADIR PEMBACAAN REFERAT ......................................... iv
DAFTAR ISI ............................................................................................ vi
TUMOR OVARIUM PADA WANITA POSTMENOPAUSE :
ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO, DAN PENANGANANNYA
I.

PENDAHULUAN ........................................................................ 1

II.

EPIDEMIOLOGI ........................................................................ 2

III.

ETIOLOGI .................................................................................. 3

IV.

HISTOPATOLOGI ..................................................................... 4

V.

FAKTOR RISIKO ...................................................................... 6

VI.

GEJALA KLINIS ........................................................................ 7

VII.

DIAGNOSIS ................................................................................ 8

VIII. DIAGNOSIS BANDING ............................................................. 14


IX.

STADIUM PENYAKIT .............................................................. 14

X.

PENATALAKSANAAN ............................................................. 15

XI.

PROGNOSIS ............................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 19


LAMPIRAN

vi

Tumor Ovarium Pada Wanita Postmenopause :


Etiologi, Faktor Risiko, dan Penanganannya

I.

PENDAHULUAN
Menopause didefinisikan sebagai keadaan 12 bulan setelah periode
menstruasi terakhir dan menandai berakhirnya siklus menstruasi.
Menopause dapat terjadi pada usia 40an, 50an, tetapi usia rata-rata
terjadinya menopause adalah 51 tahun. Menopause merupakan sebuah
proses biologis alami yang terjadi karena ovarium wanita berhenti
memproduksi hormon estrogen dan progesteron.(1, 2)
Tumor ovarium diklasifikasikan menjadi jinak (neoplastik dan
non-neoplastik), premaligna, dan maligna. Sekitar 15% dari tumor ovarium
adalah maligna.(3) Ca. ovarium merupakan penyakit primer tersering pada
wanita postmenopause; mayoritas kasus terjadi antara usia 50-75 tahun.
Mayoritas kasusnya sudah stadium lanjut pada saat diagnosis karena
gejalanya tidak jelas dan non-spesifik pada stadium dini.(4)
Ca. ovarium mencakup sekitar 4% dari seluruh kejadian kanker
pada wanita dan merupakan penyebab kematian utama akibat malignansi
ginekologis.(5)
Tabel 1 Klasifikasi Tumor Ovarium (3)

II.

EPIDEMIOLOGI
Tumor ovarium jinak terjadi pada 30% dari semua wanita dengan
menstruasi reguler dan 50% pada wanita dengan menstruasi irregular.
Tumor ovarium jinak jarang terjadi pada wanita premenarche dan post
menopause. (6)
Ca. ovarium menempati urutan ketiga sebagai keganasan terbanyak
di saluran genitalia wanita.(7) Di Inggris, insidens ca. ovarium sangat
rendah, sekitar 1 kasus ca. ovarium epitelial setiap 2.250 wanita
postmenopause setiap tahunnya. 1 diantara 70 wanita (1.4%) semasa
hidupnya memiliki kemungkinan menderita ca. ovarium. Namun, ca.
ovarium epitelial sangat fatal. Pada tahun 2005, diperkirakan sekitar 22.270
wanita didiagnosis dengan ca. ovarium dan sekitar 16.210 wanita akan
meninggal akibat penyakit tersebut.(5) Berdasarkan laporan WHO pada
tahun 2002, kanker ovarium di Indonesia menempati urutan keempat
terbanyak kasus baru dengan angka kejadian 15 per 100.000 setelah kanker
payudara, korpus uteri, dan kolorektal. Sedangkan pada tahun 2005 kanker
ovarium menempati urutan kelima penyebab kematian akibat kanker pada
wanita di Indonesia.(7)
Insidensnya paling tinggi pada kelompok usia 75-79 tahun dengan
taksiran sekitar 62/100.000 wanita. Usia rata-rata pada saat diagnosis
adalah 61 tahun. Insidensnya bervariasi tergantung ras dan geografi;

insidensnya lebih tinggi pada wanita berkulit putih dan di negara


berkembang, sekitar 18/100.000 untuk wanita berkulit putih dan
12/100.000 untuk wanita Afrika-Amerika.(3, 4)
Ca. ovarium paling sering terjadi pada wanita infertil atau pada
wanita yang memiliki riwayat aborsi spontan berulang, lama memiliki
anak, atau adanya ca. mamma.(3)

III.

ETIOLOGI
Saat ini, ada beberapa hipotesis yang dikemukakan mengenai
proses terjadinya ca. ovarium, yaitu : (7)
1. Teori Incessant Ovulation
Teori ini pertama kali diajukan oleh Fathalla pada tahun 1971 dan
kemudian dilanjutkan oleh peneliti lainnya, mengatakan bahwa trauma
berulang selama ovulasi menyebabkan pajanan epitel permukaan
ovarium terhadap abnormalitas genetik dan faktor risiko lainnya. Dalam
hal ini, usia menstruasi dini, menopause pada usia lanjut, dan multipara
merupakan hal yang mengakibatkan ovulasi lebih banyak. Sebaliknya,
kondisi yang menekan ovulasi seperti kehamilan dan menyusui telah
dilaporkan menurunkan risiko terjadinya ca. ovarium.

2. Teori Inflamasi
Teori ini didasarkan pada peningkatan insidens kanker ovarium pada
individu dengan penyakit inflamasi pelvis. Teori ini menduga
karsinogen dapat berkontak dengan ovarium setelah melewati saluran
genital.

3. Teori Gonadotropin
Teori ini juga dikemukakan sebagai dasar timbulnya kanker ovarium,
karena kadar gonadotropin yang tinggi berkaitan dengan lonjakan yang
terjadi selama proses ovulasi dan hilangnya gonadal negative feedback
pada menopause dan kegagalan ovarium prematur memiliki peranan
penting dalam perkembangan dan progresi kanker ovarium.

IV.

HISTOPATOLOGI
Ada beberapa asal tumor ovarium. Diantaranya adalah :

Tumor sel epitel (3, 8)


Tumor sel epitel (mesothelial) mencakup sekitar 65% dari semua
neoplasma ovarium dan ~ 85% dari semua ca. ovarium. 70% nya adalah
jinak, ~ 5% berpotensi rendah menjadi maligna, dan < 25% yang
maligna.
Tumor epitelial berasal dari lapisan epitel rongga embrionik dan
terdiri dari jaringan ikat dan stroma ovarium. Karena memiliki stroma
ovarium,

semua

jenis

tumor

ini

masih

memiliki

kapasitas

fungsionalnya, tetapi tidak dapat menghasilkan hormon. Beberapa tipe


tumor epitel ovarium adalah serous, mucinous, endometrioid, clear cell
(mesonephroid), dan Brenner tumor.
Sekitar 10% dari tumor epitel ovarium ini memiliki risiko rendah
menjadi maligna. Kehamilan, menyusui, dan penggunaan kontrasepsi
oral merupakan faktor pelindung terjadinya tumor tersebut. Tingkat
harapan hidup 7 tahun untuk tumor stadium I adalah 99% dan 92%
untuk tumor stadium II.

Tumor Serous (3)


Ada 3 tipe tumor serous : serous cystadenoma, cystadenofibroma,
dan fibrocystadenoma. Tumor serous mencakup sekitar 20%-50% dari
semua neoplasma ovarium dan 35%-40% dari ca. ovarium. Sekitar 70%
dari tumor serous adalah jinak, 5%-10% borderline, dan 20%-25%
adalah maligna.
A. Serous Cystadenoma (3)
Serous cystadenoma merupakan tumor serous yang paling
sering terjadi, paling sering pada wanita berusia 30-50 tahun, dan
serous carcinoma terjadi pada wanita berusia > 40 tahun. Tumor
tersebut biasanya ditemukan pada pemeriksaan pelvis rutin. Tumor
tersebut tidak menghasilkan hormon. USG dan MRI berguna untuk
menentukan luas dan sifat tumor. Diagnosis bandingnya antara lain

adalah teratoma kistik jinak, dysgerminoma, keganasan yang


bermetastasis, dan tumor retroperitoneal. Komplikasinya dapat
berupa keganasan, torsio, ruptur, atau obstruksi usus.
Perubahan malignansi pada cystadenoma dikarakteristikkan
dengan (1) proliferasi berlebih dan stratifikasi sel yang ekstensif; (2)
pola yang rumit dengan peningkatan elemen glandular; (3)
kurangnya proporsi stroma dibandingkan dengan sel epitel; (4)
anaplasia yang dikarakteristikkan dengan sel immatur, variasi
bentuk dan ukuran sel dan nukleinya, banyak nukleoli, banyak sel
yang tidak berdiferensiasi, dan banyak bentuk mitotik; dan (5)
invasi stroma atau kapsul oleh elemen glandular, dengan
pembentukan kista intraocular.
B. Cystadenofibroma dan Fibrocystadenoma (3)
Cystadenofibroma dan fibrocystadenoma saling terkait,
biasanya merupakan tumor jinak yang paling sering ditemukan pada
kelompok usia 40-60 tahun. Fibrocystadenoma biasanya unilateral
(bilateral pada 20%-25% kasus), diameter 3 cm, dan asimptomatik.

Tumor Mucinous (3)


Tumor mucinous mencakup sekitar 15%-25% dari semua
neoplasma ovarium dan sekitar 6%-10% dari semua ca. ovarium.
Bersifat bilateral pada 8%-10% kasus. Tumor mucinous dapat
berukuran besar (> 70 kg), tetapi diameter rata-rata adalah 16-17 cm
pada saat diagnosis dan utamanya didapatkan pada 2 kelompok usia
(10-30 tahun dan > 40 tahun). Tumor mucinous berdinding halus
dengan lapisan tebal seperti kapsul. Biasanya multiocular dan berisi
cairan kental kecoklatan.

Tumor mesonephroid (Clear Cell Carcinoma) (3)


Tumor mesonephroid merupakan kelompok neoplasma ovarium
yang terdiri dari kumpulan sel pseudoglomerular yang kaya akan
glikogen. Sekitar 85% dari mesonefroid terjadi pada wanita berusia 40

tahun. Sekitar 30% adalah tumor mesonefroid maligna. Secara umum,


tumor mesonefroid unilateral, berkapsul, berwarna abu-abu kecoklatan,
licin, bebas, semi lunak atau kistik. Kebanyakan berdiameter 10-20 cm.

Tumor germ cell (3, 8)


Berasal dari sel yang memproduksi sel telur. Dapat bersifat jinak
atau ganas, tetapi kebanyakan bersifat jinak. Dapat terjadi pada semua
usia, tetapi paling sering pada wanita muda.

Tumor stroma (3, 8)


Berasal dari sel yang menghasilkan hormon wanita.

V.

FAKTOR RISIKO
Beberapa faktor risiko terjadinya tumor ovarium adalah : (6-8)

Usia, khususnya pada wanita yang telah mengalami menopause


Risiko tumor ovarium untuk menjadi keganasan juga meningkat seiring
bertambahnya usia, dengan risiko 13% pada wanita premenopause dan
45% pada wanita postmenopause.
Risiko kanker ovarium meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Kanker ovarium dapat menyerang usia muda, tapi > 80% diagnosis
ditemukan pada wanita berusia > 45 tahun.

Kehamilan
Kehamilan adalah faktor risiko yang penting. Wanita yang sudah
pernah hamil memiliki risiko terkena kanker ovarium sebesar 50% lebih
rendah dibandingkan dengan wanita nullipara.

Tidak memiliki anak (infertilitas) atau tidak menyusui

Menggunakan obat fertilitas (seperti Clomid)

Penggunaan obat kontrasepsi oral


Penelitian dari Center for Disease Control (CDC) menunjukkan bahwa
penggunaan obat kontrasepsi oral akan menurunkan risiko terkena
kanker ovarium sebanyak 40% pada wanita berusia 20 sampai 54 tahun.
Penelitian lain menunjukkan bahwa pemakaian pil kontrasepsi selama 1

tahun menurunkan risiko hingga 11%, sedangkan pemakaian selama 5


tahun menurunkan risiko hingga 50%.
Hormon yang berperan disini adalah hormon progesteron. Pemberian
pil yang mengandung estrogen saja pada wanita postmenopause akan
meningkatkan risiko terjadinya kanker ovarium, sedangkan pemberian
kombinasi progesteron dan estrogen atau progesteron saja akan
menurunkan risiko terjadinya kanker ovarium.

Pemakaian talk
Pemakaian talk (hydrous magnesium silicate) pada daerah perineum
dilaporkan meningkatkan risiko terjadinya kanker ovarium sekitar
1.9%.

Ligasi tuba
Ligasi tuba menurunkan risiko terjadinya kanker ovarium sebesar 0.3.

Terapi pengganti hormon


Pemakaian terapi pengganti hormon pada masa menopause dengan
estrogen selama 10 tahun meningkatkan risiko relatif menjadi 2.2.
Pemakaian selama 20 tahun atau lebih meningkatkan risiko relatif
menjadi 1.5.

Riwayat pribadi atau keluarga yang pernah menderita ca.ovarium, ca.


mamma, atau ca. colorectal (memiliki gen BRCA yang meningkatkan
risiko menderita kanker tersebut)

VI.

Riwayat menarche dini

Merokok

Obesitas

GEJALA KLINIS
Pada stadium dini, gejalanya tidak jelas dan non-spesifik. Sekitar
1/3 wanita yang menderita tumor ovarium borderline dan hampir 20%
wanita yang menderita ca. ovarium stadium dini tidak memiliki gejala.
Beberapa gejala tumor ovarium adalah : (3, 4, 6, 8)

Rasa tidak enak / tertekan / nyeri pada perut bagian bawah, low back
pain (> 33%)

Perut kembung (> 30%)

Sulit kencing atau urgensi

Nyeri saat berhubungan (dyspareunia)

Nyeri menstruasi dan perdarahan pervaginam abnormal (~ 20%)

Konstipasi

Mual / muntah

Hilang nafsu makan, mudah merasa kenyang

Gejala konstitusional : demam ringan, lelah, penurunan berat badan

Pada stadium lanjut, gejalanya berupa : (4)

Perut kembung atau pembengkakan (ascites)

Gejala pada buli-buli atau rectum akibat pembesaran massa pelvis

Gangguan pernafasan

Perdarahan vagina abnormal

VII. DIAGNOSIS
Diagnosis ca. ovarium sangat bergantung kepada pemeriksaan
klinis, laboratorium, dan pembedahan.
Pada wanita premenopause, massa adnexa yang paling sering
adalah kista folikular fisiologis dan kista korpus luteal. Juga dapat berupa
kehamilan ektopik, endometrioma, polycistic ovarium, abses tubo-ovarium,
dan neoplasma jinak. Sedangkan pada wanita postmenopause, yang harus
dipertimbangkan adalah neoplasma primer dan sekunder, leiomyoma,
fibroma ovarium, dan lesi lain seperti abses divertikular. Informasi dari
anamnesis, pemeriksaan fisis, USG, dan pemeriksaan laboratorium
memungkinkan dokter untuk menemukan penyebab paling pasti massa
adnexa tersebut.(9)
Pengukuran kadar serum CA-125 merupakan tes yang berguna
untuk mendeteksi keganasan ovarium pada wanita postmenopause dengan
massa pada pelvis. Pasien premenopause asimptomatik yang menderita
kista ovarium simple berdiameter < 10 cm dapat diobservasi dan diberikan

terapi suppressive dengan kontrasepsi oral. Sedangkan pada wanita


postmenopause dengan kista simple yang berukuran < 8 cm, juga dapat di
follow-up, tetapi kadar serum CA-125 tidak boleh meningkat dan pasien
tidak memiliki tanda atau gejala yang menunjukkan kecurigaan ke arah
keganasan.(9)

Gambar 1 Algoritma evaluasi dan penatalaksanaan massa adnexa pada wanita postmenopause
(10)

Gambar 2 Algoritma evaluasi dan penatalaksanaan massa adnexa pada wanita premenopause (10)

1. Anamnesis
Keluhan umum yang sering dirasakan oleh pasien berupa berat
badan menurun, dispepsia, dan cepat lelah.(11) Harus dilakukan
anamnesis menyeluruh terhadap wanita dengan berfokus kepada
mencari faktor risiko atau faktor pelindung terhadap kejadian
keganasan ovarium dan riwayat keluarga menderita ca. ovarium atau ca.
mamma.

Harus

diperhatikan

gejala

yang

menunjuk

kepada

endometriosis atau malignansi ovarium, diantaranya : distensi abdomen


persisten, perubahan nafsu makan dan juga mudah kenyang, nyeri
abdomen atau pelvis, peningkatan urgensi dan/atau frekuensi urin.(12)
Pada wanita postmenopause, perdarahan dengan adanya massa
padat ovarium meningkatkan dugaan kecenderungan adanya tumor sel
granulosa.(9, 13)

10

2. Pemeriksaan Fisis
Hasil pemeriksaan fisis yang paling sering didapatkan adalah
massa adnexa, massa abdominal, ascites, atau nodulasi. Semua massa
besar yang terfiksir pada bagian posterior dari cul-de-sac harus
dianggap sebagai kemungkinan adanya malignansi.(3)
Pada wanita premenopause, adanya massa adnexa kompleks,
nodul pada cul-de-sac, dan pemendekan atau nyeri tekan pada
ligamentum

uterosacral

menunjukkan

kemungkinan

adanya

endometriosis. Sedangkan pada wanita postmenopause, temuan yang


sama menunjukkan kemungkinan adanya keganasan. Massa anterior
uterus mungkin merupakan sebuah kista dermoid.(9, 13)

3. Pemeriksaan Penunjang
Modalitas Imaging
Imaging memiliki peranan penting dalam mengkonfirmasi
adanya

massa

pelvis,

menentukan

daerah

asalnya,

dan

mengkarakteristikkan massanya.(5)
Pada beberapa kasus, massa adnexa pada wanita postmenopause
yang didapatkan pada imaging sebelum menopause dan masih tidak
berubah, informasi tersebut sangat membantu dan biasanya observasi
saja cukup untuk pasien tersebut.(14)
A. USG
USG transvaginal sering menjadi modalitas utama yang digunakan
untuk menentukan asal dan karakteristik sebuah massa pelvis. USG
transvaginal lebih dipilih daripada USG transabdominal karena
sensitifitasnya yang lebih tinggi. Ciri USG yang menunjukkan
adanya malignansi adalah massa padat homogen, kista kompleks,
penebalan jaringan lunak atau ekstensi nodular dari dinding massa
kista, dan adanya asites atau nodul peritoneum.(5, 6)
Ukuran ovarium normal bervariasi selama masa hidup seorang
wanita, dengan ovarium normal berukuran 3.5 x 2 x 1.5 cm pada
wantia premenopause dan 1.5 x 0.7 x 0.5 cm pada 2 hingga 5 tahun

11

setelah menopause. Ukuran ovarium postmenopause yang melebihi


2 kali lipat ukuran kontralateralnya dianggap sebagai penemuan
yang mencurigakan.(9)
B. CT Scan
Penampakan tumor ovarium pada CT scan bervariasi tergantung
dari histologi tumor. Akurasi rata-rata CT scan untuk mendeteksi
massa ovarium sekitar 95%, sementara spesifitasnya untuk
membedakan lesi jinak dengan lesi maligna bervariasi dari 66%
hingga 94%. Sensitifitas rata-rata CT scan konvensional untuk
diagnosis ca. ovarium metastase peritoneal sekitar 63% sampai
79%, dengan spesifitas sebesar 100%.(5)
C. MRI
MRI sering digunakan untuk mengkarakteristikkan massa adnexa
yang sulit ditentukan dengan USG dan CT scan. Adanya lemak atau
perdarahan dalam massa ovarium jinak seperti teratoma atau kista
hemoragik dapat dengan mudah ditentukan dengan MRI. Akurasi
rata-rata MRI untuk membedakan massa ovarium jinak dan ganas
bervariasi antara 60% hingga 90%.(5)

CA125
CA125 merupakan marker primer ca. ovarium epitelial dan
meningkat pada 90% kasus ca. ovarium stadium lanjut dan 50% pada
kasus stadium dini. CA125 tidak spesifik untuk ca. ovarium dan dapat
meningkat pada beberapa jenis keganasan lainnya, menstruasi,
endometriosis,

kehamilan,

inflammatory disease.

tumor

ovarium

jinak,

dan

pelvic

(6)

CA125 tidak dapat membedakan massa ovarium jinak dan ganas


pada wanita premenopause, karena tingginya false positive dan
rendahnya spesifitas. CA125 tidak disarankan untuk diperiksa pada
wanita premenopause.(6)
Sebagai sebuah alat bantu diagnostik, pengukuran kadar serum
CA-125 paling berguna pada wanita postmenopause dengan hasil USG

12

adanya massa pelvis yang mencurigakan. Dalam keadaan tersebut,


kadar > 65 U/mL dikatakan memiliki nilai prediksi positif sebesar
97%.(9) Referensi lain dari meta-analisis 6 penelitian mengatakan bahwa
kadar CA-125 > 35 U/mL memiliki sensitifitas 69% sampai 97% dan
spesifitas sebesar 81 sampai 93% untuk mendiagnosis adanya ca.
ovarium.(14) Sedangkan pada wanita premenopause, kadar CA-125 yang
> 200 U/mL merupakan suspek malignansi.(10)

Risk of Malignancy Index (RMI)


RMI I mengkombinasikan 3 hasil pemeriksaan pra-bedah : kadar
serum CA125 (IU/ml) (CA125), status menopause (M), dan skor USG
(U). Rumusnya adalah : (15)
RMI = U x M x CA125

Hasil USG memiliki nilai 1 untuk setiap karakteristik berikut


: kista multilokular, area padat, metastasis, ascites, dan lesi
bilateral. U = 0 (untuk skor USG 0), U = 1 (untuk skor USG
1), dan U = 3 (untuk skor USG 2-5).

Status menopause memiliki skor 1 = premenopause dan 3 =


postmenopause.

Klasifikasi postmenopause adalah wanita yang sudah tidak


mendapatkan haid selama lebih dari 1 tahun atau wanita
berusia > 50 tahun yang telah menjalani histerektomi.

Kadar serum CA125 diukur dalam IU/ml dan dapat bervariasi


dari 0 hingga ratusan atau bahkan ribuan unit.

Hitung skor risk of malignancy index I (RMI I) dan rujuk semua


pasien dengan skor RMI I > 250 ke tim dokter spesialis. (15)

Screening
Peranan CA125 untuk screening ca. ovarium stadium dini saat ini
masih diteliti. Seperti USG, pengukuran CA125 tidak memiliki
sensitifitas dan spesifitas yang cukup untuk digunakan sendiri sebagai
tes screening. Namun, ada bukti bahwa strategi multimodal yang

13

menggabungkan penilaian CA125 dengan USG pelvis pada wanita


postmenopause dapat meningkatkan spesifitas (99.9%), nilai prediksi
positif (26.8%), dan sensitifitas (78.6%). Peningkatan CA125 pada
wanita postmenopause yang sehat merupakan prediktor risiko ca.
ovarium yang kuat. Pada wanita dengan adanya bukti predisposisi
herediter terhadap ca. ovarium, sangat disarankan melakukan screening
serum CA125 dan USG.(16)

VIII. DIAGNOSIS BANDING


Berikut ini adalah diagnosis banding dari ca. ovarium : (11)

IX.

Tumor ovarium jinak

Tumor korpus uteri

Mioma uteri

TBC peritoneal

Tumor abdomen non-ginekologis lainnya

STADIUM PENYAKIT
Setelah melalui proses diagnosis dan diketahui bahwa penyakit
tersebut adalah ca. ovarium, maka kemudian dilakukan penentuan stadium /
staging penyakit : (11)
Stadium
I
IA
IB
IC

II
IIA
IIB
IIC

III

Keterangan
Tumor terbatas pada ovarium
Tumor terbatas hanya 1 ovarium
Tumor pada kedua ovarium
Tumor dengan stadium IA atau IB dengan pertumbuhan tumor
di permukaan luar satu atau kedua ovarium; atau dengan kapsul
pecah; atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan bilasan
peritoneum positif
Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan perluasan
ke panggul
Perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba
Perluasan ke jaringan pelvis lainnya
Tumor stadium IIA atau IIB tetapi dengan tumor pada
permukaan satu atau kedua ovarium, kapsul pecah; atau dengan
asites yang mengandung sel ganas atau dengan bilasan
peritoneum positif
Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implan di

14

Stadium

IIIA

IIIB

IIIC

IV

X.

Keterangan
peritoneum, di luar pelvis dan/atau KGB retroperitoneal atau
inguinal positif. Metastasis permukaan hati masuk stadium III.
Tumor terbatas dalam pelvis kecil, tetapi secara histologik
terbukti meluas ke usus besar atau omentum
Tumor terbatas di pelvis kecil dengan KGB negatif tetapi
secara histologik dan dikonfirmasi secara mikroskopik adanya
penumbuhan (seeding) di permukaan peritoneum abdominal
Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implan di
permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik,
diameter tidak melebihi 2 cm, dan KGB negatif
Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implan di
permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik,
diameter melebihi 2 cm, dan KGB negatif
Pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan
metastasis jauh. Disertai efusi pleura dengan hasil sitologi
positif dimasukkan dalam stadium IV. Begitu juga dengan
metastasis ke parenkim hati.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan massa adneksa bergantung kepada lokasi dan
etiologi massa serta karakteristik pasien. Secara umum, ada 3 pilihan
penatalaksanaan massa adneksa, yaitu : pembedahan, observasi lanjut, dan
penatalaksanaan umum.(14) Terapi standarnya terdiri dari total abdominal
hysterectomy (TAH),

bilateral

salpingo-oophorectomy (BSO),

dan

omnentectomy.(3)
Derajat kecurigaan klinis adanya ca. ovarium jauh lebih tinggi pada
wanita postmenopause daripada wanita premenopause. Oleh karena itu,
dibutuhkan eksplorasi pembedahan pada kebanyakan wanita yang
menderita massa ovarium. Jika pada pemeriksaan imaging didapatkan
penyakit metastasis, dibutuhkan eksplorasi pembedahan. (14)
Di bawah ini adalah tahapan penatalaksanaan tumor ovarium
secara umum : (11)
1. Pembedahan Laparotomi

Potong beku / frozen section dilakukan atas indikasi kecurigaan


keganasan

Hasil

potong

beku

menjadi

pertimbangan

untuk

tindakan

selanjutnya selama operasi berlangsung

15

Pada usia muda, potong beku diperlukan untuk pertimbangan


konservasi fertilitas

Dari hasil potong beku ada beberapa kemungkinan hasil :

Tumor ovarium jinak (benign)

Tumor ovarium borderline

Tumor ovarium ganas (maligna)

Keganasan ovarium belum dapat dipastikan. Untuk kepastian


diagnosis menunggu hasil pemeriksaan blok parafin

Jika hasil potong beku adalah borderline, hanya dilakukan


pengangkatan massa tumor ovarium. Jika hasil potong beku tumor
ovarium ganas, maka tindakan selanjutnya adalah :
1) Surgical staging pada stadium awal;
Complete surgical staging
Sitologi bilasan peritoneal, histerektomi, salpingo-ooforektomi
bilateral, limfadenektomi pelvis dan paraaorta, omentektomi,
appendektomi,
subdiafragma,

biopsi-biopsi
prevesikal,

peritoneum

kavum

Douglasi,

(parakolika,
dan

pada

perlengketan dari lesi yang dicurigai);


Conservative surgical staging (fungsi reproduksi)
Konservatif yaitu tindakan salpingo-ooforektomi unilateral,
omentektomi, limfadenektomi ipsilateral, sitologi, biopsi,
appendektomi
2) Debulking pada stadium lanjut

2. Terapi Kemoterapi Adjuvan


Pengobatan kemoterapi pada kanker ovarium diberikan secara
intravena / intraperitoneal setiap 3 minggu. Kemoterapi yang digunakan
pada kanker ovarium adalah Platinum (Cysplatin dosis 50-100 mg/m2
atau Carboplatin AUC 5-6).
Tumor ovarium epitelial dapat dikombinasi dengan :
 CAP : Cyclophosphamide Adriamycin Platinum
 CP : Cyclophosphamide dan Platosin

16

 CC : Cyclophosphamide dan Carboplatin


 AP :Adryamycin dan Platinum
 EP : epirubycin dan Platinum
 Paclitaxel dan Carboplatin
 Docetaxel dan Carboplatin / Cisplatin / Oxaloplatin
 Gemcitabine dan Oxaloplatin / Carboplatin ditambahkan
dengan Bevacizumab
Tumor ovarium non-epitel
 BEP (Bleomycin Etoposide Platinum), PVB, BIP, Taxane +
Carboplatin, VAC

3. Terapi Kemoterapi Neoadjuvan


Kemoterapi neoadjuvan adalah pemberian kemoterapi sebelum
pembedahan primer. Indikasi kemoterapi neoadjuvan antara lain :
1) Tumor ovarium suspek ganas stadium lanjut, unresectable dengan
sitologi (asites / pleura positif) atau resektabilitas yang dinilai
dengan laparotomi atau laparoskopik.
2) Operasi primer diperkirakan sukar mencapai pembedahan debulking
yang optimal. Atau kondisi pasien diprediksi berisiko tinggi untuk
tindakan

pembedahan,

misalnya

malnutrisi

berat,

memiliki

komorbiditas tindakan seperti kelainan fungsi paru, sehingga dapat


dipertimbangkan pemberian kemoterapi neoadjuvan.

Di bawah ini adalah penatalaksanaan tumor ovarium berdasarkan


tipe histopatologi yang ditemukan : (3)
Tumor epitelial (mesothelial)
Terapi untuk tumor yang memiliki potensi rendah menjadi maligna
adalah pembedahan : salpingo-oophorectomy bilateral, biopsi limfonodus
pelvis dan paraaorta, pencucian peritoneum, dan debulking tumor. Pada
pasien

yang

lebih

muda

dengan

penyakit

stadium

dini,

dapat

dipertimbangkan oophorectomy saja.

17

Tumor Serous
1. Serous Cystadenoma
Terapi tumor jinak dan maligna adalah pembedahan individual
tergantung dari penemuan operatif. Wajib dilakukan pemeriksaan
patologi.
2. Cystadenofibroma dan Fibrocystadenoma
Pada

wanita

postmenopause,

terapi

cystadenofibroma

dan

fibrocystadenoma adalah pelepasan dengan pembedahan, biasanya


dengan histerektomi dan salpingo-oophorectomy bilateral.

Tumor Mucinous
Terapinya adalah salpingo-oophorectomy unilateral jika tumornya
tidak bilateral dan tidak didapatkan adanya keganasan. Jika didapatkan
adanya keganasan, terapi primernya adalah pembedahan. Kemoterapi
kurang efektif jika dibandingkan dengan ca. epitel ovarium lainnya.

Tumor mesonephroid (Clear Cell Carcinoma)


Terapinya

berupa

histerektomi

abdominal

total,

salpingo-

oophorectomy bilateral, dan debulking tumor. Radiasi atau kemoterapi


sangat tidak efektif, dan jika tumornya telah menyebar, prognosisnya jelek.
Survival 5 tahun pada stadium I sebesar ~ 60% dan hampir 0 pada stadium
III atau IV.

XI.

PROGNOSIS
Prognosisnya bervariasi dan bergantung kepada tipe dan ukuran
tumor, komplikasi penyerta, dan usia pasien.(6) Lebih dari 70% pasien yang
datang dengan penyakit yang sudah bermetastasis memiliki tingkat
bertahan hidup < 25%. Sebaliknya, sekelompok kecil pasien yang
didiagnosis dengan penyakit stadium dini memiliki prognosis yang baik
dengan tingkat bertahan hidup setelah 5 tahun sebesar > 70%. Deteksi dini
ca. ovarium dapat menurunkan mortalitas.(17)

18

DAFTAR PUSTAKA

1.

Menopause [Internet]. Mayo Clinic. 01 August 2014. [cited 08 November


2014]. Available from:
http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/menopause/basics/definition/con-20019726.

2.

Menopause [Internet]. Medline Plus. 24 October 2014. [cited 08 November


2014]. Available from:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/menopause.html.

3.

The Ovary and Oviduct. In: Pernoll ML. Benson & Pernoll's Handbook of
Obstetrics & Gynecology Tenth Edition. USA: McGraw-Hill Companies;
2001. p. 651-52, 57-62, 71-72, 74, 76.

4.

Aoki E. Ovarian Cancer. In: McGarry KA, Tong IL. 5 Minute Consult
Clinical Companion to Women's Health - The 1st Edition: Lippincott
Williams & Wilkins; 2007.

5.

Liu KH. Prevention and Early Detection of Endometrial and Ovarian


Cancers. In: Buzdar AU, Freedman RS. Gynecological Cancer. USA:
Springer Science + Business Media, Inc. p. 30, 72, 3.

6.

Tidy C, Newson L. Benign Ovarian Tumours. [Internet]. 20 February 2012.


[cited 21 October 2014]. Available from:
http://www.patient.co.uk/doctor/Benign-Ovarian-Tumours.htm.

7.

Fauzan R. Gambaran Faktor Risiko Kanker Ovarium. Jakarta: Universitas


Indonesia; 2009.

8.

Ovarian Cysts and Tumors [Internet]. WebMD, LLC. 2014. [cited 21


October 2014]. Available from:
http://www.webmd.com/women/guide/ovarian-cysts.

9.

Drake J. Diagnosis and Management of the Adnexal Mass. American


Academy of Family Physicians. 15 May 1998;57:2471-76.

10.

Givens V, Mitchell G, Harraway-Smith C, Reddy A, Maness DL. Diagnosis


and Management of Adnexal Masses. American Academy of Family
Physicians. 15 October 2009;80:815-20.

11.

Kanker Ovarium. In: HOGI. Panduan Pelayanan Klinik Kanker Ginekologi


Edisi 3. Jakarta: Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia; 2013. p. 89 95.

12.

Management of Suspected Ovarian Masses in Premenopausal Women.


Royal College of Obstetricians and Gynaecologists : Green-top Guideline
No 62. November 2011:3, 4.

19

13.

Harsono AB. Peran Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dalam


Pengelolaan Tumor Ovarium. In: Djuwantono T, Permadi W, Ritonga MA.
Bandung Controversies and Consensus in Obstetrics & Gynecology.
Jakarta: CV Sagung Seto; 2011. p. 282 - 4.

14.

Muto MG. Management of an adnexal mass. [Internet]. 27 May 2014. [cited


07 November 2014]. Available from:
http://www.uptodate.com/contents/management-of-an-adnexal-mass.

15.

NICE. Ovarian cancer - The recognition and initial management of ovarian


cancer. April 2011;NICE Clinical Guideline(122):11, 29.

16.

Screening. In: Smith JR, Priore GD, Curtis J, Monaghan JM. An Atlas of
Gynecologic Oncology - Investigation and Surgery. United Kingdom:
Martin Dunitz Ltd; 2001. p. 39.

17.

Jacobs I, Davies AP, Bridges J, Stabile I, Fay T, Lower A, et al. Prevalence


screening for ovarian cancer in postmenopausal women by CA 125
measurement and ultrasonography. British Medical Journal. 17 April
1993;306:1030.

20