Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Limfadenitis tuberkulosa, atau yang biasa disebut scrofula adalah
manifestasi dari penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Limfadenitis TB ini dianggap merupakan manifestasi lokal dari penyakit sistemik.
Ciri epidemiologis berbeda dari tuberkulosis pulmonal, manifestasi klinis
beragam, dan diagnosis mungkin menantang.
Limfadenitis TB dijumpai seiring dengan infeksi tuberkulosis primer atau
hasil dari reaktivasi fokus dorman atau akibat perluasan langsung dari contiguous
focus. Pada tuberkulosis paru primer, basil masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi
dan bakteremia. Hilus, mediastinal, dan kelenjang getah bening paratrakeal adalah
tempat pertama penyebaran infeksi dari parenkim paru.
Limfadenitis TB dapat disebabkan oleh penyebaran limfatik langsung dari
fokus primer TB di luar paru. Bila kelenjar limfe merupakan bagian dari kompleks
primer, pembesaran akan timbul pertama kali dekat tempat masuk basil TB.
Keterlibatan kelenjang getah bening supraklavikular merefleksikan rute drainase
limfatik untuk penyakit mikobakterium parenkim paru. Limfadenitis TB servikal
menunjukkan penyebaran dari fokus primer infeksi ke dalam tonsil, adenoid,
sinonasal, atau osteomielitis dari tulang etmoid. Limfadenitis TB inguinal atau
femoral yang unilateral merupakan penyebaran dari fokus primer di kulit atau
subkutan di regio femoralis. Limfadenitis TB di leher pada beberapa kasus dapat
disebabkan oleh infeksi primer di tonsil, akan tetapi kasus ini jarang terjadi
kecuali di beberapa negara yang memiliki prevalensi TB oleh M. bovis yang
tinggi.
Limfadenitis tuberkulosa merupakan manifestasi yang paling sering terjadi
pada tuberkulosis ektrapulmonal. Oleh karena itu, sangat penting bagi dokter
umum untuk mahir dalam menegakkan diagnosis limfadenitis tuberkulosis
melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, sehingga
dapat diberikan pengobatan yang adekuat sesuai dengan kriteria diagnosis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Epidemiologi
TB ekstrapulmoner merupakan 15-20% dari semua kasus TB pada pasien

HIV-negatif, dimana limfadenitis TB merupakan bentuk terbanyak (35% dari


semua TB ekstrapulmoner). Pada pasien dengan HIV-positif TB ekstrapulmoner
adalah lebih dari 50% kasus TB, dimana limfadenitis tetap yang terbanyak yaitu
35% dari TB ekstrapulmoner Limfadenitis TB lebih sering terjadi pada wanita
daripada pria dengan perbandingan 1,2:1.
Kejadian limfadenitis tuberkulosa berkisar kurang lebih 8,5% dari seluruh
kejadian TB di USA. Rasio perempuan:laki-laki adalah 1,4:1. Meskipun dahulu
limfadenitis TB adalah penyakit anak-anak, sekarang usia terbanyak (75%) yang
mengalami penyakit ini adalah 15-50 tahun.
Diperkirakan seorang pasien TB dewasa akan kehilangan rata-rata waktu
kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan
tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka
akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara
ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara stigma sosial,
bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Pada tahun 1990-an, situasi TB didunia
semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil
disembuhkan, terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan
masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun
1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency).
2.2.

Etiologi
Banyak penelitian mengenai limfadenitis tuberkulosa tidak melaporkan

organisme penyebab khusus dari M. tuberculosis complex. Dalam sejarahnya, M.


bovis adalah penyebab tersering dari limfadenitis tuberkulosa, tetapi dengan
pasteurisasi dan program tuberkulosis bovin, sumber infeksi M. bovis dari susu

yang tidak dipasteurisasi telah jauh berkurang. Oleh karena itu, saat ini M.
tuberculosis adalah penyebab utama dari limfadenitis tuberkulosa.
2.3.

Klasifikasi
Klasifikasi tuberkulosis berdasarkan organ tubuh yang terkena:

1.

Tuberkulosis paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru, tidak

termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.


2.

Tuberkulosis ekstra paru


Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,

misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (perikardium), kelenjar limfe,


tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit:
1.

TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan tingkat


keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila
gambaran foto toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas
(misalnya proses far advanced), dan atau keadaan umum pasien buruk.

2.

TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya,


yaitu:
a. TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b. TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis
peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus,
TB saluran kemih dan alat kelamin.

2.4.

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik


Melalui anamnesis, kita dapat mengetahui beberapa faktor yang mengarah

kepada diagnosis, seperti usia, lama pembesaran KGB, riwayat paparan, dan
gejala yang menyertai.
1.

Usia

Pada pasien dengan usia lebih dari 40 tahun yang mengeluh terdapat
pembesaran kelenjar getah bening, dapat dicurigai adanya keganasan. Pada usia
kurang dari 40 tahun, risiko kegananasan hanya berkisar 0,4%.
2.

Lama pembesaran KGB


Limfadenopati yang berlangsung kurang dari 2 minggu atau lebih dari satu

tahun tanpa progresivitas ukuran mempunyai kemungkinan sangat kecil untuk


keganasan.
3.

Riwayat Paparan
Pada anamnesis dapat ditanyakan mengenai riwayat infeksi rekuren,

traveling, vaksinasi, serta kontak dengan binatang peliharaan dan penderita infeksi
yang merangarhkan kepada kemungkinan infeksi sebagai penyebab. Kecurigaan
keganansan dapat didasarkan pada adanya riwayat paparan radiasi dan zat
karsinogenik, keganasan pada keluarga, dan kebiasaan merokok.
4.

Gejala Penyerta
Gejala sistemik seperti demam, keringat malam, dan penurunan berat

badan lebih sering terjadi pada pasien dengan keganasan. Pada limfadenitis TB,
lebih dari 57% pasien tidak menunjukkan gejala sistemik. Demam yang tidak
tinggi yang dirasakan hanya beberapa hari sebelum pasien datang berobat
sebaiknya diobservasi terlebih dahulu 3-4 minggu, karena masih terdapat
kemungkinan patogen lain sebagai penyebabnya.
Limfadenitis

adalah

presentasi

klinis

paling

sering

dari

TB

ekstraparu. Limfadenitis TB paling sering melibatkan kelenjar getah bening


servikalis, kemudian diikuti berdasarkan frekuensinya oleh kelenjar mediastinal,
aksilaris,

mesenterikus,

portal

hepatikus,

perihepatik,

dan

kelenjar

inguinalis. Pembengkakan kelenjar limfe dapat terjadi secara unilateral atau


bilateral, tunggal maupun multipel, dimana benjolan ini biasanya tidak nyeri dan
berkembang secara lambat dalam hitungan minggu sampai bulan, dan paling
sering berlokasi di regio servikalis posterior dan yang lebih jarang di regio
supraklavikular.
Jones dan Campbell mengelompokan penyakit ini ke dalam 5 stadium,
yaitu sebagai berikut:

Stadium 1: Pembesaran yang berbatas tegas, mobile, sedikit lunak, dan


tunggal, yang menunjukkan hiperplasia reaktif nonspesifik.

Stadium 2: Nodus elastis, membesar, terfiksasi ke jaringan sekitar, yang


menunjukkan periadenitis.

Stadium 3: Terjadi pelunakan di tengah nodus akibat pembentukan abses.

Stadium 4: Terjadi cold abscess.

Stadium 5: Telah terjadi pembentukan saluran ke sinus.


Beberapa pasien dengan limfadenitis TB dapat menunjukkan gejala

sistemik, seperti demam, penurunan berat badan, fatigue, dan keringat malam.
Lebih dari 57% pasien tidak menunjukkan gejala sistemik. Terdapat riwayat
kontak terhadap penderita TB pada 21,8% pasien, dan terdapat TB paru pada
16,1% pasien.
Limfadenitis tuberkulosa biasanya muncul sebagai suatu pembengkakan
kelenjar limfe yang muncul secara perlahan dan tidak nyeri. Gejala tersebut
umumnya berlangsung hingga sekitar 1-2 bulan, dapat pula terjadi selama 3
minggu hingga 8 bulan.
Ukuran rata-rata kelenjar limfe yang membesar adalah 3 cm, tetapi dapat
juga hingga 8-10 cm. Pada umumnya pasien tidak mengeluhkan nyeri yang
signifikan saat kunjungan dan nyeri tekan saat pemeriksaan hanya dirasakan pada
10-35% kasus. Kelenjar limfe yang paling sering terkena adalah di regio colli,
yakni sebanyak 45-70% kasus, dengan hanya sekitar 20% terjadi secara bilateral.
Dalam suatu studi di Zambia, limfadenopati yang simetris hanya terjadi pada 11%
penderita limfadenitis tuberkulosa dengan HIV-negatif dan berukuran lebih dari 3
cm. Manifestasi sistemik dan tuberkulosis paru jauh lebih sering terjadi pada
penderita dengan HIV-positif dibandingkan dengan HIV-negatif.
Gambaran utama limfadenitis TB berupa massa yang dijumpai pada
sekitar 75% dari pasien tanpa gejala khas. Demam, penurunan berat badan, dan
keringat malam bervariasi pada 10% hingga 100% pasien. Lama timbulnya gejala
sebelum terdiagnosis berkisar antara beberapa minggu hingga bulan.
Stadium awal dari keterlibatan kelenjar getah bening superfisial,
multiplikasi progresif dari basili tuberkel, onset hipersensitivitas tipe lambat

diikuti dengan hiperemia dan swelling, nekrosis dan kaseosa pada sentral nodus.
Kemudian diikuti dengan inflamasi perinodal, pembengkakan yang progresif dan
bersatu dengan nodus lain membentuk suatu kelompok. Adhesi pada lapisan kulit
mungkin dijumpai.
Gambaran klinis limfadenitis TB bergantung pada stadium penyakit.
Kelenjar limfe yang terkena biasanya tidak nyeri, kecuali terjadi infeksi sekunder
bakteri, pembesaran kelenjar yang cepat, atau koinsidensi dengan infeksi HIV.
Abses kelenjar limfe dapat pecah, dan kemudian kadang-kadang dapat terjadi
sinus yang tidak menyembuh secara kronis dan pembentukan ulkus.
2.5.

Diagnosis
Diagnosis pasti seringkali sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja

dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan


menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Ketepatan diagnosis bergantung pada
metode pengambilan bahan pemeriksaan dan ketersediaan pemeriksaan penunjang
sebagai alat diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi,
foto toraks, dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi
dari tempat lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan
spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB
ekstraparu aktif.
Diagnosis

infeksi

mikobakterium,

terutama

mikobakterium

non-

tuberkulosis pada spesimen patologik masih merupakan tantangan dan pekerjaan


yang sulit pada bagian mikrobiologi dan patologi. Infeksi mikobakterium nontuberkulosis menunjukkan gejala nonspesifik. Di samping itu, pemeriksaan kultur
mikrobiologi menunjukkan sensitifitas rendah (50-60%) pada mikobakterium
nontuberkulosis terutama pada limfadenitis tuberkulosis. Pada limfadenitis
tuberkulosa, terlihat pembesaran kelenjar getah bening, tersering di daerah leher
(dapat dipikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang di daerah
ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi cold abscess.

FNAB dilakukan bila dicurigai limfadenitis tuberkulosa. Apabila ada


kecurigaan ke arah keganasan, dapat dilakukan biopsi. Untuk membedakan infeksi
mikobakterium tuberkulosis dan mikobakterium non-tuberkulosis menurut
penelititan yang dilakukan Kraus M et al. didapatkan empat kriteria, yakni adanya
mikroabses, granuloma yang tidak jelas, granuloma non kaseosa, dan giant cell
yang sangat sedikit.
Khrisna K. Singh et al. mendapatkan bahwa apusan dikatakan positif TB
jika dijumpai granuloma sel epiteloid, dengan atau tanpa multinucleated giant cell
dan nekrosis kaseosa atau jika BTA terlihat. Granulomata menurut Koo V et al.
secara sitologi dikenal dengan adanya agregat-agregat histiosit dengan atau tanpa
berhubungan dengan multinucleated giant cell. Latar belakang nekrotik yang
kotor kemungkinan adalah kaseosa dan menunjukkan tuberkulosis.
Iyengar et al. meneliti pada empat orang pasien immunocompromised
(AIDS) dimana mikobakterium terlihat, sebagai negative images pada apusan
sitologis FNA seperti struktur rod-shape yang tidak diwarnai pada latar belakang
dan di dalam histiosit. Kemudian gambaran ini dikonfirmasi sebagai BTA dengan
pewarnaan ZN.
2.6.

Pemeriksaan Penunjang

Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB)


Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) atau teknik biopsi aspirasi jarum
halus pertama kali dilakukan di Memorial Sloan-Kettering Cancer Center sekitar
tahun 1930. Biopsi aspirasi jarum halus merupakan suatu tindakan praktis,
noninvasif, dan berguna pada lesi yang dapat diraba dengan nilai sensitivitas
mencapai 87%, spesifisitas 100%, predictive value untuk ketepatan diagnostik
mendekati 100%, dan predictive value diagnostik negatif sekitar 60%. Material
yang didapatkan dari hasil biopsi aspirasi jarum halus, selain untuk menegakkan
diagnostik sitologi, juga dapat digunakan untuk melihat determinasi reseptor
hormonal, studi kinetik, dan tampilan onkoprotein. Pada sebagian besar penelitian
mengenai FNAB dari negara-negara endemik TB, diagnosis didasarkan pada

deteksi inflamasi granulomatosa (GI), sedangkan pada negara yang tidak endemik
TB penemuan GI tidak spesifik untuk menjadi acuan diagnosis.
Granuloma dengan nekrosis kaseosa merupakan tanda limfadenitis
tuberkulosis. Dijumpai kelompokan seperti granuloma kohesif dari sel-sel
epiteloid di dalam nekrosis dan pewarnaan dengan BTA perlu dilakukan pada
semua kasus limfadenitis granulomatosa. BTA terlihat pada direct smear dan
kultur dari aspirat. Smear dari limfadenitis tuberkulosa terkadang hanya
menunjukkan polimorfisme dan debris nekrotik tanpa histiosit, terutama pada
pasien immunocompromised.
Kriteria diagnosis limfadenitis granulomatosa (tuberkulosis) menunjukkan
histiosit-histiosit dari tipe epiteloid membentuk kelompokan kohesif dan juga
multinucleated giant cells tipe Langhans. Sel-sel epiteloid adalah tanda khas dari
FNB smear. Inti berbentuk lonjong, bentuk ini dideskripsikan mirip dengan tapak
sepatu. Kromatin inti bergranul halus dan pucat dengan sitoplasma pucat tanpa
pinggir sel yang jelas. Sel-sel epiteloid limfadenitis granuloma membentuk
gumpalan kohesif, beberapa kecil, beberapa besar, mirip granuloma pada
pemotongan jaringan. Dapat dijumpai beberapa multinucleated Langhans giant
cells meskipun terkadang tidak dijumpai. Dapat dijumpai juga nekrosis sentral
pada kelompokan yang besar fibrinoid atau kaseosa. Material kaseosa bergranul
dan eosinofilik pada smear.
PCR
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA,
termasuk DNA M. tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan teknik ini
adalah kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah cukup banyak
dipakai,

kendati

masih

memerlukan

ketelitian

dalam

pelaksanaannya.

Bahan/spesimen pemeriksaan dapat berasal dari paru maupun luar paru sesuai
dengan

organ yang terlibat. Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk

menegakkan diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara


yang benar dan sesuai standar.

Imunositokimia
Seiring dengan meningkatnya kemajuan di bidang antisera monoklonal
dengan berbagai variasi dan berbagai sel-sel produk, demonstrasi dan identifikasi
sel-sel produk dapat dilihat dengan teknik imunositokimia (imunoperoksidase,
imunoalkalin

fosfatase)

yang

secara

objektif

dapat

mengenal

dan

mengidentifikasi jenis dan asal sel.


Imunositokimia

merupakan

suatu

teknik

pemeriksaan

untuk

mengidentifikasi selular atau jaringan yang mengandung antigen dengan melihat


interaksi antigen-antibodi, yakni pengikatan antibodi oleh antigen yang
diidentifikasi dengan pemberian antibodi secara langsung dengan atau tanpa
menggunakan antibodi sekunder. Digunakan istilah imunositokimia untuk
pemeriksaan sediaan sitologi dan imunohistokimia untuk jaringan.
Sediaan sitologi dapat diwarnai dengan teknik yang sama dengan
histopatologi. Kesulitan yang dihadapi berupa kandungan sel pada object glass
dan fiksasi dengan cara preparasi yang konvensional. Penggunaan object glass
yang telah dilapisi (coated glass) sangat berguna untuk mencegah agar sel-sel
tidak terlepas pada saat proses pencucian. Pada situasi tertentu, dengan
ketersediaan

material

yang

minimal,

pewarnaan

imunositokimia

dapat

memberikan diagnosis yang spesifik. Antibodi monoklonal pada beberapa tumor


untuk membedakan antara sel-sel epitel jinak dan ganas dengan sitokeratin
berguna untuk menentukan apakah suatu tumor primer atau merupakan
metastasis.
Serologi
Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah lamanya
waktu

yang

dibutuhkan

untuk

pembiakan

kuman

tuberkulosis

secara

konvensional. Dalam perkembangannya, muncul beberapa teknik baru yang dapat


mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat:
a.

Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA)


Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respon

humoral berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Beberapa masalah dalam

teknik ini antara lain adalah kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang
cukup lama.
b.

Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh manusia. Uji

ini menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan pada suatu


alat yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam
serum penderita, dan bila di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifik anti
LAM dalam jumlah yang memadai yang sesuai dengan patogenesis penyakit,
maka akan timbul perubahan warna pada sisir yang dapat dideteksi dengan
mudah.
c.

Uji Peroksidase Anti Peroksidase (PAP)


Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi

yang terjadi.
d.

ICT
Uji Immunochromatographic Tuberculosis (ICT) adalah uji serologik

untuk mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Uji ICT merupakan uji
diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran
sitoplasma M. tuberculosis, diantaranya antigen M. tuberculosis 38 kDa. Kelima
antigen tersebut diendapkan dalam bentuk 4 garis melintang pada membran
immunokromatografik (2 antigen diantaranya digabung dalam 1 garis) disamping
garis kontrol. Serum yang akan diperiksa sebanyak 30 l diteteskan ke bantalan
warna biru, kemudian serum akan berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum
mengandung antibodi IgG terhadap M. tuberculosis, maka antibodi akan berikatan
dengan antigen dan membentuk garis warna merah muda. Uji dinyatakan positif
bila setelah 15 menit terbentuk garis kontrol dan minimal satu dari empat garis
antigen pada membran. Namun, sampai saat ini pemeriksaan serologi belum bisa
dipakai sebagai pegangan untuk diagnosis.
2.7.

Penatalaksanaan
Pedoman internasional dan nasional menurut WHO menggolongkan

limfadenitis TB dalam kategori III dan merekomendasikan pengobatan selama 6

10

bulan dengan regimen 2HRZ/4RH atau 2HRZ/4H3R3 atau 2HRZ/6HE. American


Thoracic Society (ATS) merekomendasikan pengobatan selama 6 bulan sampai 9
bulan dengan paduan obat 2RHZE/10RH, British Thoracic Society Research
Committee and Compbell (BTSRCC) merekomendasikan pengobatan selama 9
bulan dalam regimen 2RHE/7RH, sedangkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
(PDPI) mengklasifikasikan limfadenitis TB ke dalam TB di luar paru dengan
paduan obat 2RHZE/7-10 RH.
The Infectious Disease Society of America (IDSA) merekomendasikan
pengobatan selama 6 bulan untuk limfadenitis tuberkulosa yang disebabkan oleh
organisme yang sensitif terhadap obat-obatan seperti isoniazida, rifampisin,
pirazinamid, dan etambutol selama 2 bulan, diikuti dengan isoniazida dan
rifampisin selama 4 bulan berikutnya. Berdasarkan penelitian, tidak ada
perbedaan antara terapi selama 6 bulan dan 9 bulan dalam rasio penyembuhan
(89%-94%) atau rasio kekambuhan (3%). International Union Against
Tuberkulosis and Lung Disease (IUATLD) dan WHO menyarankan untuk
menggantikan paduan obat tunggal dengan kombinasi dosis tetap.
Tabel 1. Dosis obat anti tuberkulosis kombinasi dosis tetap

BB

30-37
38-54
55-70
>71

Fase intensif
(2 bulan)
Harian
Harian
(RHZE)
(RHZ)
150/75/400/
150/75/400
275
2
2
3
3
4
4
5
5

Fase lanjutan
(4 bulan)
Harian
3x/minggu
(RH)
(RH)
150/75
150/150

3x/minggu
(RHZ)
150/150/500
2
3
4
5

2
3
4
5

2
3
4
5

Keterangan:
R = Rifampisin
H = Isoniazida
Z = Pirazinamid
E = Etambutol
Hal yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa kesembuhan penderita
dipengaruhi oleh kepatuhan, dana, edukasi, dan kesabaran dalam mengonsumsi
11

obat. Terdapat beberapa efek samping yang dapat terjadi selama pasien
mengonsumsi OAT, diantaranya adalah:
Tabel 2. Efek samping OAT dan penatalaksanaannya
Efek Samping
Minor
Tidak nafsu makan, mual, sakit perut
Nyeri sendi
Kesemutan sampai rasa terbakar
pada kaki
Warna kemerahan pada air seni
Mayor
Gatal dan kemerahan pada kulit

Kemungkinan
penyebab
Rifampisin
Pirazinamid
Isoniazida
Rifampisin
Semua jenis OAT

Tuli
Streptomisin
Gangguan keseimbangan (vertigo
dan nistagmus)
Ikterik/hepatitis
imbas
obat Sebagian besar OAT
(penyebab lain disingkirkan)

Muntah dan confusion (suspected


drug-induced pre-icteric hepatitis)
Gangguan penglihatan
Kelainan sistemik, termasuk syok
dan purpura

Etambutol
Rifampisin

Tatalaksana
Teruskan OAT
Obat diminum malam
sebelum tidur
Beri aspirin/allopurinol
Beri
vitamin
B6
(piridoksin) 1x100 mg/hari
Beri penjelasan saja
Hentikan OAT
Beri antihistamin dan
dievaluasi ketat
Hentikan streptomisin

Hentikan semua OAT


sampai ikterik hilang dan
boleh
diberikan
hepatoprotektor
Hentikan semua OAT dan
lakukan uji fungsi hati
Hentikan etambutol
Hentikan rifampisin

Panduan IDSA merekomendasikan tindakan bedah hanya pada kondisi


yang tidak biasa, dan kondisi-kondisi ini masih bias. Meskipun tindakan
pembedahan dengan antibiotik dapat memberikan hasil yang memuaskan, belum
ada cukup penelitian yanang membandingkan antara terapi antibiotik yang
dikombinasikan dengan tindakan bedah dan terapi antibiotik saja.
2.8.

Pencegahan

1.

Pencegahan terhadap sputum yang infeksius


- Case finding
- Isolasi penderita dan mengobati penderita
12

- Ventilasi harus baik, kepadatan penduduk dikurangi.


2.

Pasteurisasi susu sapi dan membunuh hewan yang terinfeksi oleh


Mikobakterium bovis akan mencegah tuberkulosis bovin pada manusia.

3.

Meningkatkan daya tahan tubuh


- Memperbaiki standar hidup
- Usahakan peningkatan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG.
Vaksinasi dilakukan bila hasil tes tersebut negatif.

2.9. Directly Observed Treatment Short Course (DOTS)


Organisasi

Kesehatan

Dunia

(WHO)

menyatakan

bahwa

kunci

keberhasilan program penanggulangan tuberkulosis adalah dengan menerapkan


strategi DOTS, yang juga telah dianut oleh negara kita. Oleh karena itu
pemahaman tentang DOTS merupakan hal yang sangat penting agar TB dapat
ditanggulangi dengan baik. Dalam praktiknya, penerapan DOTS diharapkan dapat
mencapai angka kesembuhan yang tinggi, mencegah putus berobat, mengatasi
efek samping obat, dan mencegah resistensi. Penelitian yang dilakukan Sharma et
al. mendapatkan hasil bahwa program DOTS pada anak-anak berhasil membantu
keberhasilan terapi sebanyak 94,9%, kasus putus berobat 2,2%, kasus gagal 2,5%,
dan kasus kematian 0,3%.
Terdapat lima komponen yang terkandung dalam DOTS, yaitu:
1.

Komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB nasional

2.

Penemuan kasus TB dengan pemeriksaan BTA mikroskopik

3.

Pemberian obat jangka pendek yang diawasi secara langsung, dikenal


dengan istilah DOT (Directly Observed Therapy)

4.

Pengadaan OAT secara berkesinambungan

5.

Monitoring serta pencatatan dan pelaporan yang baik


Istilah DOT diartikan sebagai pengawasan langsung menelan obat jangka

pendek setiap hari oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengawasan dilakukan
oleh:
a.

Penderita berobat jalan

1.

Langsung di depan dokter

13

2.

Petugas kesehatan

3.

Orang lain (kader, tokoh masyarakat dll)

4.

Suami/Istri/Keluarga/Orang serumah

b.

Penderita dirawat
Selama perawatan di rumah sakit yang bertindak sebagai PMO adalah

petugas RS, selesai perawatan untuk pengobatan selanjutnya sesuai dengan


berobat jalan.
Dalam melaksanakan DOT, sebelum pengobatan pertama kali dimulai
harus diingat:
a.

Tentukan seorang PMO


Berikan penjelasan kepada penderita bahwa harus ada seorang PMO dan

PMO tersebut harus ikut hadir di poliklinik untuk mendapat penjelasan tentang
DOT
b.

Persyaratan PMO
PMO bersedia dengan sukarela membantu penderita TB sampai sembuh

selama 6 bulan. PMO dapat berasal dari kader dasawisma, kader PPTI, PKK, atau
anggota keluarga yang disegani penderita
c.

Tugas PMO
Bersedia mendapat penjelasan di poliklinik, memberikan pengawasan

kepada penderita dalam hal minum obat, mengingatkan penderita untuk


pemeriksaan ulang dahak sesuai jadwal, memberitahukan/mengantar penderita
untuk kontrol bila ada efek samping obat, bersedia antar jemput OAT jika
penderita tidak bisa datang ke RS/poliklinik
d.

Petugas PPTI atau Petugas Sosial


Untuk pengaturan/penentuan PMO, dilakukan oleh PKMRS (Penyuluhan

Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit), oleh PERKESMAS (Perawatan Kesehatan


Masyarakat) atau PHN (Public Health Nurse), paramedis, atau petugas sosial
e.

Petugas sosial

14

Petugas sosial ialah sukarelawan yang mau dan mampu bekerja sukarela,
mempunyai keinginan untuk dilatih DOT. Penunjukan dilakukan oleh RS atau
dibantu PPTI, jika mungkin diberi penghargaan atau uang transportasi.

15

BAB III
KESIMPULAN
Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di
dunia, khususnya Indonesia. Tuberkulosis ekstrapulmonal menyerang organ tubuh
lain selain paru, yaitu saluran napas bagian atas (epiglotis, laring, faring), mulut,
tonsil, lidah, selaput otak, perikardium, kelenjar getah bening, tulang, sendi,
ginjal, saluran kemih, alat kelamin, usus/peritoneal, mata, adrenal, kulit dan
jaringan di bawah kulit (abses). Limfadenitis tuberkulosa merupakan jenis
tuberkulosis ekstrapulmonal yang paling sering. Penegakan diagnosis limfadenitis
tuberkulosa dapat dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang yang tepat. Seorang dokter umum hendaknya memberikan
perhatian terhadap penyakit ini dan dapat melakukan penatalaksanaan yang
adekuat, khususnya di negara dengan endemik TB.

16