Anda di halaman 1dari 17

Makalah Populasi dan Sampel,

KATA PENGANTAR
Teriring doa dan restu atas kehadirat allah swt dan kruniannya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini meskipun masih memiliki banyak kekurangan. Sesungguhnya maha
besar allah dengan segala kesempurnaanya. Maha suci allah yang telah mengutus seorang rasul
yang guna menyempurnakan akhlakul karimah.
Oleh itu shalawat dan salam atas junjungan nabi besar Muhammad SAW kami kirimkan diaman
beliau telah menyeru kepada yang merasa ummat beliau untuk menuntut ilmu. Beliau juga
merupakan revolusioner sejati, dimana beliau merubah peradaban yang penuh dengan kejahiliaan
menuju peradabaan yang mahiriah,diantaranya menuntut ilmu.
Tiada gading yang tak retak, begitulah kata pepatah yang mengungkapkan bahwa di dalam
makalah inipun mungkin ada hal-hal yang perlu direvisi atau diperbaiki. Sekiranya terdapat
kekurangan, diharapkan para pembaca untuk memberikan saran yang bersifat membangun untuk
kelangsungan penyempurnaan makalah selanjutnya.
Makassar,

April 2014

Kelompok IV

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Perumusan masalah

C. Tujuan

D. Metodologi Penulisan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Populasi

B. Sampel

C. Teknik Sampling.................................................................... 11
D. Menentukan Ukuran Sampel.................................................. 15
BAB III

KESIMPULAN 17

DAFTAR PUSTAKA

18

I.

A.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penelitian adalah pekerjaan ilmiah yang bermaksud mengungkapkan rahasia ilmu secara
obyektif, dengan dibentengi bukti-bukti yang lengkap dan kokoh. Penelitian merupakan proses
kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala melalui cara tersendiri sehingga diperoleh suatu
informasi. Pada dasarnya, informasi tersebut merupakan jawaban atas masalah-masalah yang
dipertanyakan sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian juga dapat dipandang sebagai usaha
mencari tahu tentang berbagai masalah yang dapat merangsang pikiran atau kesadaran seseorang.
Sebagian dari kualitas hasil suatu penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data yang
digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh bahanbahan yang relevan, akurat, dan reliable. Untuk memperoleh data seperti itu, peneliti dapat
menggunakan metode, teknik, prosedur, dan alat-alat yang dapat diandalkan. Ketidaktepatan
dalam penggunaan intrumen penelitian tersebut dapat menyebabkan rendahnya kualitas
penelitian.
Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah.
Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan yang paling relevan dengan
pertanyaan serta menghindari adanya bias. Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan
usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data atau

informasi yang diperolehnya


Dalam penelitian, salah satu bagian dalam langkah-langkah penelitian adalah menentukan
populasi dan sampel penelitian. Seorang peneliti dapat menganalisa data keseluruhan objek yang
diteliti sebagai kumpulan atau komunitas tertentu. Seorang peneliti juga dapat mengidentifikasi
sifat-sifat suatu kumpulan yang menjadi objek penelitian hanya dengan mengamati dan
mempelajari sebagian dari kumpulan tersebut. Kemudian, peneliti akan mendapatkan metode
atau langkah yang tepat untuk memperoleh keakuratan penelitian dan penganalisaan data
terhadap objek. Untuk itu kami akan mengkaji lebih dalam mengenai populasi dan sampel.
B.

Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan populasi dan jenis-jenisnya?


2. Apakah yang dimaksud dengan sampel?
3. Apakah yang dimaksud dengan teknik sampling?
4. Bagamaimanakah cara untuk menentukan ukuran sampel?
C.

Tujuan Pembuatan Makalah

1. Menguraikan pengertian populasi dan jenis-jenisnya


2. Menguraikan pengertian sampel
3. Memaparkan teknik sampling
4. Menjelaskan cara untuk menentukan ukuran sampel
D.

Metodologi Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode kepustakaan, yakni

mendapatkan sumber informasi yang berasal dari media cetak berupa buku.

II.
A.

PEMBAHASAN

Populasi
Populasi berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlah penduduk. Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulan (Sugiyono, 2013: 117). Menurut Nazir (1983:327) mengatakan bahwa popuasi
adalah berkenaan dengn data bukan barang atau bendanya. Pengertian lainnya, diungkapkan oleh
Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari
manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwaperistiwa sebagai sumber data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian.
Sedangkan Riduwan (2002: 3) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik
atau unit hasil pengukuran menjadi objek penelitian.
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa populasi
merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat syarat
tertentu berkaitan dengan masalah penelitian. Kaitannya dengan batasan tersebut, populasi dapat
dibedakan berikut ini :

1. Populasi teoritis (Theoritical Population), yakni sejumlah populasi yang

2. batas-batasnya di tetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi
populasi yang lebih luas, maka di tetapkan terdiri dari guru; berumur 25 tahun sampai 40 tahun,
program S1, jalur tesis, dll.
3. Populasi yang tersedia (Accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara kuantitatif
dapat di nyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota Bandung terdiri dari guru
yang memiliki karakteristik yang telah di tetapkan dalam populasi teoritis.
Bedasarkan sifatnya, populasi dapat digolongkan menjadi populasi homogen dan populasi yaitu :
1.

homogeny adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu
mempersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.

2. Populasi heterogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang berbeda
(bervariasi) sehingga perlu ditetapkan batas batasnya, baik secara kualiatif maupun kuantitatif.
B.

Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi
besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada pupulasi, misalnya karena
keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti daapat menuggunakan sampel yang diambil
dari populasi itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel
yangdiambil dari populasi betul-betul representatif (mewakili).

Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel beikut ini:


1. Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui
dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu sama sekali tidak mungkin
mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga)
yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta
murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
2. Masalah biaya
Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin
besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih lebih bila objek itu
tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi
biaya.
3. Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi.
Sehubungan dengan hal itu,apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan
dengan segera, maka penelitian sampel,dalam hal ini, lebih cepat.
4. Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau
merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan

semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak
mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan
hanya pada sampel.
5. Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggung jawabkan.
Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian
terhadap populasi belum tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam
melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap sampel
memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
6. Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil
penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa
harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih
ekonomis daripada penelitian populasi (sudjana, 1975:159-161); ( Hadari Nawawi,1923: 146148).
Selanjutnya, mengenai penetapan besar kecilnya sample tidaklah ada suatu ketetapan yang
mutlak, artinya tidak ada suatu ketentuan berapa persen suatu sample harus diambil. suatu hal
yang perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas dan heterogenitas populasi. Jika keadaan
populasi homogen, jumlah sample hampir-hampir tidak menjadi persoalan, sebaliknya,jika
keadaan populasi heterogen, maka pertimbangan pengambilan sample harus memperhatikan
hal :
1. Harus diselidiki kategori-kategori heterogenitas.

2. Besarnya populasi dalam tiap kategori.


Karena itu informasi tentang populasi perlu dikejar seberapa jauh dapat diusah1akan. Satu hal
yang perlu diingat, bahwa penetapan jumlah sampel yang terlalu banyak selalu lebih baik dari
pada kurang (oversampling is always better than undersampling).
Menurut Narbuko & Abu (2013: 108) Petunjuk - petunjuk untuk mengambil sampel :
1. Daerah generalisasi
Yang penting disini adalah menentukan dahulu luas populasinnya sebagai daerah generalisasi,
selanjutnya barulah menentukan sampelnya sebagai daerah penelitiannya. Di sampling itu, yang
penting adalah : kalau yang diselidiki hanya satu kelas saja, jangan diperluas sampai kelaskelas lainnya apalagi menyimpulkan untuk sekolah-sekolah lain.
2. Pengesahan sifat-sifat populasi dan ketegasan batas-batasnya
Bila luas populasinya telah ditetapkan , harus segera diikuti penegasan tentang sifat-sifat
populasinnya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan adanya valliditas dan reabilitas
bagi penelitiannya. Oleh sebab itu, haruslah ditentukan terlebih dahulu luas dan sifat-sifat
populasi, dan memberikan batas-batas yang tegas, kemudian menetapkan sampelnya. Jangan
terjadi kebalikannya,yaitu menetapkan populasilah yang lebih dahulu baru kemudian sampelnya.
3. Sumber-sumber informasi tentang populasi
Untuk mengetahui ciri-ciri populasinya secara terperinci dapat diperoleh melalui bermacammacam sumber informasi tentang populasi tersebut. Misalnya, sensus penduduk dokumendokumen yang disusun oleh instansi-instansi dan organisasi-organisasi, seperti pengadilan,
kepolisian, kantor P & K, kantor kelurahan, dan sebagainnya.
Meskipun demikian, haruslah diteliti kembali apakah informasi tersebut telah menunjukkan
validitasnya (kesahihan) . Hal itu perlu karena jangan sampai terjadi data tahun 1954 masih
dipakai sebagia sumber untuk tahun 1965, misalnya bila tahun 1954 tercatat jumlah anak ratarata dalam seiap keluarga 4 orang, maka pada tahun 1965 jumlah anak rata-rata mungkin tidak
seperti itu (4 orang).
4. Menetapkan besar kecilnya sampel
Mengenai berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk

sebuah penelitian, memang tidak ada ketentuan yang pasti.


5. Menetapkan teknik sampling
Dalam masalah sampel , ada yang disebut biased sampel , yaitu sampel yang tidak mewakili
populasi atau disebut juga dengan sample yang menyeleweng. Pengambilan sampel yang
menyeleweng disebut : biased sampling. Biased sampling adalah pengambilan sampel yang tidak
dari seluruh populasi, tetapi hanya dari salah satu golongan populasi saja, tetapi generalisasinya
dikenakan kepada seluruh populasi.Contoh : misalnya mengadakan penelitian tentang
penghasilan rata-rata orang indonesia hanya diambil sample yang kaya raya saja, ataupun hanya
yang melarst ? miskin saja. Dengan sendiriny akan mengakibatkan adaanya kesimpulan yang
menyeleweng atau disebut biased conclusion.
Keuntungan menggunakan sampel yaitu
1. Memdahkan peneliti untuk jumlah sampel lebih sedikit dibandingkan dengan enggunakan
populasi dan apabila populasinya terlalu besar dikhawatirkan akan terlewati.
2. Penelitian lebih efesien ( dalam arti menghemat uang, waktu dan tenaga).
3. Lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data artinya jia subjeknya banyak dikhawtirkan
adanya bahaya bias dari orang yang mengumpulkan data, karena sering dialami oleh staf bagian
pengumpulan dat mengalami kelelahan sehingga pencatatan data tidak akurat.
4. Peneitian lebih efektif, jika penelitian bersifat destruktif(merusak) yang menggunakan spesemen
akan hemat dan bias dijangkau tanpa merusak semua bahan yang ada serta bias digunakan untuk
menjaring populasi yang jumlahnya banyak.
C.

Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran
sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya,

dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang
representatif. Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau
random sampling / probability sampling dan sampel tidak acak atau nonrandom
samping/nonprobability sampling.
1. Random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama
untuk diambil kepada setiap elemen populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Artinya jika
elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen
tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang
dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi
tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih
sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena
jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).
a)

Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana


Teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan
demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi
sampel.

b) Proportionate Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan


Teknik ini biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapislapis. Misalnya sekolah, terdapat

beberapa tingkatan kelas. Jika tingkatan dalam populasi diperhatikan, mula-mula harus
dipastikan strata yang ada, kemudian tiap strata diwakili sampel penelitian.
c) Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan junlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang
proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang
lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka tiga orang lulusan S3 dan empat
orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila
dibandingkan dengan kelompok S1, SMU dan SMP.
d) Cluster Sampling atau Area Sampel
Teknik ini digunakan jika populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari
kelompok atau cluster. Misalnya, penelitian dilakukan terhadap populasi pelajar SMU di suatu
kota. Untuk itu random tidak dilakukan secara langsung pada semua pelajar, tetapi pada
sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
2. Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak
Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberipeluang/
kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel
(Sugiyono, 2013:122). Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama
untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa

disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh
peneliti. Teknik sampel ini meliputi samling sistematis, kuota, aksidental, purporsive, jenuh, dan
snowball.
a) Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi
yang telah diberi nomor urut.
b) Sampling kuota
Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri
tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

c) Sampling insidental
Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang
secara kebetulan/ insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila
dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
d) Sampling Purporsive
Sampling purporsive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
e) Sampling jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau
penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.

f)

Sampling Snowball
Sampling Snowball adalah teknik penentuan sampel yang mla-mula jumlahnya kecil, kemudian
membesar.

D. Menentukan Ukuran Sampel


Jumlah ukuran sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang diharapkan
100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah anggota populasi itu sendiri. Jadi bila
jumlah populasi 1000 dan hasil penelelitian itu akan diberlakukan untuk 1000 orang tersebut
tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut
yaitu 1000 orang. Makin besar jumlah mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi
semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, makin besar
kesalahan generalisasi (diberlakukan umum) (Sugiyono, 2013:126).
Roscoe 1975 (Sugiyono:2013) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel:
1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebayakan penelitian
2. Jika sampel dipecah kedalaam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya), ukuran
sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat.
3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya 10x
lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian.
4. Untuk Penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eksperimen

5. yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai
dengan 20
Beberapa rumus untuk menentukan jumlah sampel antara lain=
1. Rumus Slovin

n=
n= sampel: N = populasi: d= nilai presisi 95% atau sig= 0.05
2. Tabel Issac dan Michael

s =
dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, 10%.
P=Q= 0,5.
D= 0,05.
S= jumlah sampel

III
ENUTUP
A.

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

a.

Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu
yang kita tentukan.

b.

Jenis-jenis populasi: populasi umum dan populasi target

c.

Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang diambil dengan
menggunakan cara-cara tertentu.

d. Adapun alasan penelitian menggunakan sampel adalah:


Ukuran populasi, Masalah biaya, Masalah waktu, Percobaan yang sifatnya merusak,mMasalah
ketelitian,dan Masalah ekonomis
e.

Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran
sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan
penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.

f.

Teknik-teknik yang di gunakan dalam pengambilan sampel

1.

Probability/Random Sampling

2.

Nonprobability/Nonrandom Sampling atau Sampel Tidak Acak

DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari. 2009. BelajarMudah Penelitian. Bandung: Alfabeta
Darmadi, Hamid. 2013. Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial. Bandung: Alfabeta
Dedy. 2012. Makalah Populasi dan Sampel. http//www//.populasi dan sampel\makalahpopulasi-dan-sampel2.html. Akses tanggal 10 April 2014
Narbuko, Cholid dan Abu Achamadi.2013. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sangadji, Etta Mamang dan Sopiah. 2010. Metodologi Penelitian. Malang: Andi yogyakarta
Sholihi, Ribbi. 2013. Populasi dan Sampel. http//www//.populasi dan sampel\makalahpopulasi-dan-sampel.html. Akses tanggal 10 April 2014
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta