Anda di halaman 1dari 33

Pendekatan

Penyuluhan
Pertanian

PEDOMAN SISTEM
KERJA LATIHAN DAN
KUNJUNGAN (LAKU)

LATAR BELAKANG
Salah satu pendekatan pembangunan dilakukan dengan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai
pelaku utama pembangunan pertanian yaitu petani,
pekebun, dan peternak, beserta keluarga intinya.
Peningkatan kualitas sumber daya Manusia tersebut
diupayakan antara lain melalui penyuluhan pertanian.
Sejak tahun 1976 penyuluhan pertanian menggunakan
pendekatan latihan dan kunjungan (LAKU).
Sistem tersebut ternyata sangat efektif dalam
meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan
petani, sehingga pada tahun 1984 Indonesia mencapai
swasembada beras.

Penyuluhan pertanian mengalami keterpurukan


setelah pengelolaan penyuluh limpahkan ke
pemerintah daerah, pola pengawasan dan
pembinaan penyuluh terabaikan yang
mengakibatkan kinerja penyuluh pertanian
menurun tajam.
Pendekatan penyuluhan pertanian dengan cara
memberikan pelayanan, nasehat dan pemecahan
masalah usahatani petani, dipandang perlu
sistem kerja LAKU diterapkan kembali dengan
modifikasi sesuai kondisi dan kebijaksanaan ada

Aspek positif sistim kerja


LAKU
penyuluh pertanian memiliki rencana kerja dalam
setahun,
Penyuluh pertanian mengunjungi petani secara teratur,
terarah dan berkelanjutan,
penyuluhan dilaksanakan melalui pendekatan kelompok,
penyuluh pertanian cepat mengetahui masalah yang
ada di petani dan cepat memecahkannya,
penyuluh pertanian secara teratur mendapat tambahan
pengetahuan/ kecakapan, sikap dan keterampilan, dan
penyelenggaaan penyuluhan pertanian mendapatkan
supervisi dan pengawasan yang teratur.

PRINSIP-PRINSIP
DASAR
Terjalinnya hubungan yang akrab
antara penyuluh pertanian dengan
petani;
Materi penyuluhan pertanian yang
diberikan aktual, faktual dan
dibutuhkan oleh petani;
Meningkatnya pengetahuan, sikap
dan ketrampilan penyuluh maupun
petani.

TUJUAN SISTEM
KERJA LAKU
Mengusahakan terjalinnya hubungan yang akrab antara
petani dengan penyuluh pertanian sebagai salah satu
sumber informasi, sehingga petani dapat mengakses
informasi, teknologi, pasar, modal dan sumberdaya lainnya;
Memperkuat dan meningkatkan kinerja penyuluh pertanian
sebagai penghubung antara petani dengan sumber
informasi, teknologi, pasar, modal dan sumber daya lainnya,
sehingga informasi yang diperlukan petani dapat diakses
dalam rangka pengembangn dan peningkatkan
usahataninya;
Memperkuat dan meningkatkan hubungan yang baik antara
petani dengan sumber informasi dan teknologi sehingga
terjadi sinergitas, dalam mengembangan inovasi.

PENYELENGGARAAN
SISTIM KERJA LAKU

PENYELENGARAAN
LATIHAN
Dalam sistem kerja LAKU, latihan bagi
penyuluh pertanian diselenggarakan di
BPP atau ditempat lain dengan jadwal
sekali dalam dua minggu.
Latihan tersebut diselenggarakan secara
teratur, terarah dan berkelanjutan.
Proses latihan (belajar-mengajar)
difasilitasi oleh penyuluh pertanian yang
menguasi materi, maupun tenaga ahli dari
lembaga lainnya

1) Penyelengaraan Pelatihan bertujuan


sebagai berikut
Diperolehnya berbagai informasi yang berkaitan
dengan pembangunan pertanian;
Meningkatkan pengetahuan, sikap dan
ketrampilan penyuluh pertanian, baik teori
maupun praktek;
Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis
dan memecahkan permasalahan yang dihadapi di
tingkat lapangan;
Meningkatkan kemampuan penyuluh pertanian
dalam menyusun perencanaan dan
melaksanakan penyuluhan pertanian.

2) Prinsip-Prinsip
Pelatihan
Teratur, terarah dan berkelanjutan;
Topik pelatihan harus aktual, faktual dan
dibutuhkan oleh petani;
Pembahasan materi harus mendalam;
Latihan mencakup teori dan praktek;
Latihan harus mampu memecahkan permasalahan
teknis di lapangan yang sedang dihadapi petani;
Pelatih/pengajar harus menguasai materi dan
metoda yang digunakan;
Pelatihan menggunakan metoda partisipatif;
Pelatihan dilaksanakan sesuai jadual.

3) Materi Pelatihan
Materi pelatihan berisi program-program
pembangunan yang sedang dan akan
dikembangkan untuk daerah yang
bersangkutan;
Materi pelatihan yang diberikan bersifat
membantu para penyuluh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi
di lapangan;
Materi pelatihan dilengkapi dengan
syllabus, kurikulum (termasuk Tujuan
Instruksionil khusus),

Sasaran Pelatihan

Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan.


Kegiatan peningkatan pengetahuan dan
keterampilan berupa teori dan praktik.
Teori yang diberikan sesuai dengan keadaan
lapangan dan masalah-masalah utama daerah.
Praktik dapat dilaksanakan di lapangan dan di
dalam kelas.
Materi praktik penyuluhan diarahkan agar peserta
latihan dapat berpartisipasi aktif, jenis praktik tidak
hanya mengenai teknis budidaya saja.
Akan tetapi dapat berbentuk simulasi, cara-cara
berbicara, cara mengajar, teknis diskusi kelompok,
membuat alat peraga dan sebagainya

Meningkatnya kemampuan dalam menganalisis dan


memecahkan permasalahan yang dihadapi di tingkat
lapangan

Pemecahan masalah dapat berisi masalah


teknis, sosial dan ekonomi yang dihadapi
petani serta yang menyangkut kelancaran
tugas sehari-hari.
Masalah teknis, sosial dan ekonomi yang
dihadapi petani dapat dibahas dalam
kegiatan pelatihan.
Sedangkan masalah yang menyangkut
kelancaran tugas sehari-hari dibahas
dalam acara khusus.

Meningkatnya kemampuan penyuluh pertanian dalam


menyusun perencanaan dan melaksanakan penyuluhan
pertanian.

Kegiatan penyuluhan untuk 2 minggu


yang akan datang dibahas dalam
kegiatan pelatihan dengan mengacu
kepada rencana kerja penyuluh
pertanian, kesimpulan dari
pemecahan masalah, petunjuk dan
saran dari tingkat kabupaten
Rencana kegiatan penyuluhan
tersebut harus tertulis dengan jelas
dan spesifik.

Penyelenggaraan
Kunjungan
Kunjungan penyuluh pertanian kepada kelompoktani
dilakukan selama 4 (empat) hari kerja dalam seminggu,
setiap penyuluh membina 8-16 kelompoktani dan
dijadualkan mengunjungi setiap kelompok sekali dalam 2
minggu.
Dengan kunjungan kerja ini diharapkan seorang
penyuluh pertanian dapat mempengaruhi 100 orang
petani per kelompoktani.
Dalam setiap wilayah kerja yang terdiri dari 8-16 Kontak
Tani sebagai ketua kelompoktani.
Setiap 1 (satu) Kontak Tani mempunyai 5 orang
Petani Maju (PM), setiap PM mempengaruhi sampai
dengan 19 orang anggota kelompoktani.

Keuntungan sistem LAKU


Penyuluh pertanian memiliki rencana kerja dalam
setahun
Penyuluh pertanian mengunjungi petani secara
teratur,terarah dan berkelanjutan
Penyuluh pertanian dapat dilakukan melalui
pendekatan kelompok
Penyuluh pertanian cepat mengetahui masalah yang
terjadi dipetani sehingga pemecahan cepat
Secara teratur mendapat tambahan
pengetahuan/kecakapannnya,sikap dan keterampilan
Mendapatkan supervisi dan pengawasan secara
teratur

Tujuan dilaksanakan
kunjungan kerja
Menyampaikan informasi dan teknologi baru kepada
petani
Memfasilitasi proses belajar mengajar para petani
Mendampingi dalam menyusun RDKK ( Rencana Difinitif
Kebutuhan Kelompok)
Membimbing untuk menerapkan teknologi Usahatani
Pemeriksaan lapangan dilakukan bersama-sama petani
untuk mengetahui permasalahan yang terjadi dilapangan
Membantu memecahkan permasalahan teknis maupun
non teknis yang dihadapi oleh para petani
Menampung permasalahan yang tidak dapat dipecahkan
pada waktu kunjungan untuk diangkat dalam pertemuan
di tingkat BPP

Prinsip-prinsip
pelaksanaan kunjungan
Teratur,terarah dan berkelanjutan
Kunjungan dilakukan melalui pendekatan
kelompok
Pertemuan dapat dilakukan disaung petani,
rumah ketua kelompok, atau tempat lain yang
telah disepakati oleh anggota kelompok yang
dipimpin oleh ketua kelompok, sedangkan
penyuluh sebagai fasilitator dalam pemecahan
masalah Usahatani yang dihadapi para petani
Materi penyuluhan disesuaikan dengan keadaan
usahatani petani

Kesulitan Pelaksanaan
Sistem Laku
Tidak semua pelaku yang terlibat dalam sistem LAKU bekerja untuk
kebutuhan sasaran penyuluhan , peneliti lebih tertarik dengan
penelitian non aplikatif.
Publikasi hasil penelitian cenderung pada promosi, bukan ilmu terapan
yang dibutuhkan
Penyuluh dianggap rendah karena bekerjasama dengan pelaku utama
dan pelaku usaha.
Penyusunan program cenderung dikendalikan oleh pusat.
Cenderung top down dalam proses pelaksanaannya
Kesulitan bagi daerah yang agroekologis dan sosioekonominya
beragam
Tidak efektif untuk daerah terpencil.
Perlu biaya cukup tinggi untuk transportasi dan pelatihan yang teratur.
Asumsi pelaku utama dan pelaku usaha bersedia menjadi agen
penyuluhan secara cuma-cuma tidak sepenuhnya bisa

Materi supervise, monitoring dan evaluasi


kegiatan penyuluhan meliputi
Rencana kerja penyuluh ditingkat
kecamatan dan desa.
Rencana kerja penyelenggara
pelatihan
Materi pelatihan yang diberikan oleh
penyelenggara
Kesesuaian jadwal pelaksanaan dan
materi pelatihan yang telah
direncanakan.

Sekolah Lapang

SEKOLAH LAPANG SEBAGAI METODE


PENYULUHAN
Metode Penyuluhan Sekolah Lapang yang dikenal pertama kali pada
tahun 1989, telah memberikan warna baru pada dunia penyuluhan
pertanian.
Sekolah Lapang telah menghasilkan perubahan yang luar biasa dalam
meningkatkan kapasitas dan partisipasi petani khususnya dalam
pengendalian hama terpadu.
Sekolah Lapang bukanlah sekolah formal yang pembelajaran dilakukan
di ruang kelas dengan jadwal waktu yang ketat dan ruang gerak yang
terbatas.
Sekolah Lapang sebagai salah satu metode penyuluhan atau
pembelajaran dan pendidikan petani memiliki ciri khusus, prinsip,
azas, tahapan yang membedakannya dengan metode penyuluhan dan
pembelajaran lainnya.
Hasil akhir yang diharapakan dari kegiatan Sekolah Lapang ialah
menghasilkan petani yang sadar lingkungan, kritis dan mandiri dalam
mengembangkan usahatani bidang kehutanan secara berkelanjutan.

Ciri Khusus
Sekolah Lapang yang dikenal dengan ciri khusus
Sekolah tanpa dinding memiliki pengertian terbuka
dan tidak kaku.
Pembelajaran dilakukan secara partisipatif, dengan
memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk
menetapkan materi pembelajaran khusus yang
berkaitan dengan permasalahan nyata yang
dihadapinya di lapangan.
Proses pembelajaran Sekolah Lapang didasarkan pada
Pendidikan
Orang Dewasa yang dikemas dalam metode
pembelajaran yang praktis, sistematis dan menarik
(tidak kaku).

Prinsip-Prinsip
Proses belajar pada siklus belajar lewat pengalaman;
Kurikulum belajar terpadu dengan kebutuhan dan sesuai
dengan kompetensi masyarakat;
Sarana belajar utama adalah realitas alam dan terkait aktivitas
masyarakat;
Waktu belajar sesuai dengan satu periode pengelolaan usaha
secara berkala;
Metode belajar praktis dengan satu periode dan terjangkau
masyarakat setempat;
Menggunakan metode belajar Pendidikan Orang Dewasa
(andragogi), tidak ada guru, yang ada fasilitator sebagai
pendamping yang membantu melancarkan proses belajar;
Pembahasan topik-topik tematik yang berkaitan dengan
permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Proses Belajar
Proses belajar dengan alam lebih ditekankan untuk
membangun kecerdasan dan mengembangkan daya
kritis.
Metode Sekolah Lapang bukan merupakan pengalihan
(transfer) teknologi atau informasi tetapi mengutamakan
kajian pengalaman untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Setiap warga belajar didorong untuk mampu mengamati
realitas, mengungkapkan pengalaman dan gagasan,
menganalisa fakta, mengambil keputusan, dan melakukan
aktivitas secara bersama.
Mereka berposisi sebagai subyek untuk memimpin sendiri
dan memotori proses belajar dan aksi bersama secara
bertahap dan berkelanjutan.

siklus belajar dalam


metode Sekolah Lapang
Mengalami/Melakukan, Peserta Sekolah Lapang
mencoba mengamati kegiatan pengolahan lahan
yang merpakan aktivitas mereka sehari-harinya
Mengungkapkan, Peserta Sekolah Lapang
menggambarkan ekosistem yang ada.
Menganalisa, Peserta berdiskusi bersama tentang
topik yang dibahas dan mencoba menganalisanya.
Menyimpulkan, Peserta memutuskan tindakan yang
perlu dilakukan dari hasil pembahasan.
Menerapkan, Peserta melakukan dan menerapkan
ilmu yang diperoleh di lahan belajar dan lahan
sendiri

Pelaku Sekolah Lapang


1. Peserta
Peserta Sekolah Lapang adalah masyarakat
setempat yang mempunyai hubungan kerja atau
social dengan tema Sekolah Lapang.
Peserta dipilih melalui proses pemahaman
terhadap tema Sekolah Lapang.
Keterlibatan kaum perempuan perlu diperhatikan
untuk memberi ruang keseimbangan antara lakilaki dan perempuan.
Jumlah peserta dibatasi 25-30 orang untuk
menghasilkan proses belajar yang baik.

2. Pemandu
Pemandu Sekolah Lapang terdiri dari pemandu
lapangan dan pemandu desa.
Pemandu lapangan adalah pengelola program
Sekolah Lapang.
Sebelum menjadi pemandu lapnagan mereka
harus menigkuti Training of Trainer (ToT).
Pelatihan ToT ini biasanya dilaksanakan 3-4 bulan
untuk membangun kapasitas mereka dalam
mengelola Sekolah Lapang.
Selain menjadi fasilitator, mereka juga
dipersiapkan menjadi manajer kawasan, yang
terus mengembangkan kapasitas dalam
membangun jaringan kerja dengan para pihak.

3. Pendamping
Adalah penyuluh atau orang lain yang ditugaskan
untuk mendampingi kegiatan Sekolah Lapang di
lokasi tertentu.
Pendamping bertugas untuk mendampingi
peserta dan pemandu desa agar proses
pembelajaran Sekolah Lapang dapat berjalan
dengan baik.

Keluaran/Output
Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan petani
dalam melakukan kegiatan/usaha tani bidang kehutanan
Meningkatnya kesadaran petani dalam menjaga
kelestarian lingkungan.
Terbangunnya pola pikir petani tentang pelestarian
lingkungan melalui proses pembelajaran Sekolah
Lapang.
Terbangunnya kemandirian masyarakat tani dalam
pengelolaan sumberdaya alam/hutan secara
berkelanjutan.
Meningkatnya partisipasi petani dalam menjaga dan
melestarikan lingkungan.

faktor yang mempengaruhi keberhasilan Sekolah


Lapang
Kuantitas dan kualitas peserta
Kurikulum berbasis kondisi spesifik lokasi
Kualitas pemandu baik pemandu Sekolah Lapang,
pemandu lapangan dan pemandu desa
Pendampingan intensif
Ketersediaan sarana pendukung pembelajaran
Program berkelanjutan