Anda di halaman 1dari 20

HERPES ZOOSTER

ANDI MUHAMMAD SYUKUR S.Ked


(110 2011 0075)
IAN ASTARINA MASUD S.Ked
(110 2011 0136)
PEMBIMBING
dr. SORAYA BAKRI Sp.KK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2015

Latar Belakang
Herpes zoster atau shingles, dampa atau cacar ular telah dikenal

sejak zaman Yunani kuno. Herpes zoster disebabkan oleh infeksi


virus yang sama dengan varisela, yaitu virus varisela zoster
(VZV). Infeksi ini merupakan reaktivasi virus varisela zoster dari
infeksi endogen yang telah menetap dalam bentuk laten setelah
infeksi primer oleh virus. Herpes zoster ditandai dengan adanya
nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas
pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun
ganglion serabut saraf sensorik dan nervus kranialis.
Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada
perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka
kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Diperkirakan
terdapat antara 2-5 per 1000 orang per tahun. Lebih dari 2/3
kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% kasus
berusia di bawah 20 tahun.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Herpes zoster adalah penyakit yang

disebabkan infeksi virus varisela zoster yang


menyerang kulit dan mukosa. Infeksi ini
merupakan reaktivasi virus varisela zoster
dari infeksi endogen yang telah menetap
dalam bentuk laten setelah infeksi primer oleh
virus. Kadang-kadang infeksi primer
berlangsung subklinis. Frekuensi penyakit
pada pria dan wanita sama, lebih sering
mengenai usia dewasa.1,2,3

B. Etiologi

Virus varisela zoster (VZV) tergolong virus


berinti DNA, virus ini berukuran 140-200 nm, yang
termasuk subfamili alfa herpes viridae.
Berdasarkan sifat biologisnya seperti siklus
replikasi, penjamu, sifat sitotoksik dan sel tempat
hidup laten diklasifikasikan kedalam 3 subfamili
yaitu alfa, beta dan gamma. VZV dalam subfamili
alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi
primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi
vaskuler. Masa inkubasi selama 7-12 hari. Masa
aktif 1 minggu. Dan masa resolusi 1-2 minggu.

Selanjutnya setelah infeksi primer, infeksi


oleh virus herpes alfa biasanya menetap
dalam bentuk laten didalam neuron dari
ganglion. Virus yang laten ini pada saatnya
akan menimbulkan kekambuhan secara
periodik. Secara in vitro virus herpes alfa
mempunyai jajaran penjamu yang relatif luas
dengan siklus pertumbuhan yang pendek
serta mempunyai enzim yang penting untuk
replikasi meliputi virus spesifik DNA
polimerase dan virus spesifik deoxypiridine
(thymidine) kinase yang disintesis di dalam
sel yang terinfeksi.4,5,6,7,

C. Patogenesis

Infeksi primer dari VZV ini pertama kali terjadi di


daerah nasofaring.Disini virus mengadakan replikasi dan
dilepas ke darah sehingga terjadi viremia permulaan yang
sifatnya terbatas dan asimptomatik.Keadaan ini diikuti
masuknya virus ke dalam Reticulo Endothelial System
(RES) yang kemudian mengadakan replikasi kedua yang
sifat viremia nya lebih luas dan simptomatik dengan
penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Sebagian virus
juga menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau
lebih ganglion sensoris dan berdiam diri atau laten
didalam neuron. Virus berdiam diri di ganglion posterior
saraf tepid an ganglion kranialisSelama antibodi yang
beredar didalam darah masih tinggi, reaktivasi dari virus
yang laten ini dapat dinetralisir, tetapi pada saat tertentu
dimana antibodi tersebut turun dibawah titik kritis maka
terjadilah reaktivasi dari virus sehingga terjadi herpes
zoster.6,9, 10

Herpes Zoster Ophtalmicus (HZO) terjadi

sekitar 10-15% dari kasus Zoster.HZO terjadi


karena virus menginvasi ganglion Gasserian.
Untuk alasan yang belum jelas, keterlibatan
cabang ophtalmicus (N. V1) 5 kali lebih sering
daripada keterlibatan dari cabang maksilaris
(N. V2) atau cabang mandibularis (N.
V3).11,12,13
Masa inkubasi selama 7-12 hari. Masa aktif 1
minggu. Dan masa resolusi 1-2 minggu.

D. Tanda Dan Gejala


- gejala prodromal
Sistemik : demam, pusing, malaise.
Lokal : nyeri otot dan tulang. Gatal. Pegal.
Eritema > vesikel berkelompok dengan dasar kulit
eritematosa dan edema > pustul krusta.
Infeksi sekunder > ulkus > penyembuhan dengan sikatriks
Vesikel mengandung > H. Zooster hemoragik.
Unilateral dan dermatomal (sesuai dengan persarafan
dermatom).
Pembesaran kelenjar getah bening.
Hipersetesi pada daerah yang terkena.
Neuralgia pasca herpetik.
Herpes zoster oftalmikus > fotofobia, banyak keluar air mata,
kelopak mata bengkak dan sukar dibuka karena perjalanan
cabang dari nervus ophtalmicus yang member cabang ke
nervus Arnold rekuren dan N III dan N VI

E. Diagnosa dan Pemeriksaan


Klinis
Anamnesis : pada anamnesis didapatkan

keluhan berupa neuralgia beberapa hari


sebelum atau bersama-sama dengan
timbulnya kelainan kulit.Adakalanya sebelum
timbul kelainan kulit didahului gejala
prodromal seperti demam, pusing dan
malaise.
Laboratorium : pemeriksaan sediaan apus. tes
Tzanck, pemeriksaan cairan vesikula atau
material biopsi dengan mikroskop elektron,
tes serologik.

F. Diagnosis Banding
Herpes simpleks
Varicella
Impetigo vesiko-bulosa

G. Penatalaksanaan
Penatalaksaan herpes zoster bertujuan untuk:
Mengatasi infeksi virus akut.
Mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh

virus herpes zoster.


Mencegah timbulnya neuralgia pasca
herpetik.12

Pengobatan Umum
Selama fase akut, pasien dianjurkan tidak

keluar rumah, karena dapat menularkan


kepada orang lain yang belum pernah
terinfeksi varisela dan orang dengan defisiensi
imun. Usahakan agar vesikel tidak pecah,
misalnya jangan digaruk dan pakai baju yang
longgar. Untuk mencegah infeksi sekunder
jaga kebersihan badan.6

Pengobatan Khusus

1. Obat Antivirus
Asiklovir dapat diberikan peroral ataupun

intravena.Asiklovir Sebaiknya pada 3 hari pertama


sejak lesi muncul. Dosis asiklovir peroral yang
dianjurkan adalah 5800 mg/hari selama 7 hari,
sedangkan melalui intravena biasanya hanya digunakan
pada pasien yang imunokompromise atau penderita
yang tidak bisa minum obat. Obat lain yang dapat
digunakan sebagai terapi herpes zoster adalah
valasiklovir. Valasiklovir diberikan 31000 mg/hari
selama 7 hari, karena konsentrasi dalam plasma tinggi.
Selain itu famsiklovir juga dapat dipakai.Famsiklovir
juga bekerja sebagai inhibitor DNA polimerase.
Famsiklovir diberikan 3200 mg/hari selama 7 hari. 9, 10,
17

2. Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi neuralgia yang

ditimbulkan oleh virus herpes zoster.Obat yang biasa


digunakan adalah asam mefenamat. Dosis asam
mefenamat adalah 1500 mg/hari diberikan sebanyak 3
kali, atau dapat juga dipakai seperlunya ketika nyeri
muncul.9, 10, 17
3. Kortikosteroid
Indikasi pemberian kortikostreroid ialah untuk Sindrom
Ramsay Hunt.Pemberian harus sedini mungkin untuk
mencegah terjadinya paralisis. Yang biasa diberikan
ialah prednison dengan dosis 320 mg/hari, setelah
seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Dengan
dosis prednison setinggi itu imunitas akan tertekan
sehingga lebih baik digabung dengan obat antivirus. 12

Pengobatan topikal
Pengobatan topikal bergantung pada

stadiumnya.Jika masih stadium vesikel


diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk
mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi
infeksi sekunder.Bila erosif diberikan kompres
terbuka. Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan
salap antibiotik.12

H. Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.

Neuralgia paska herpetik.


Infeksi sekunder .
Kelainan pada mata.
Sindrom Ramsay Hunt
Paralisis motorik

I. Prognosis
Terhadap penyakitnya pada dewasa dan anak-

anak umumnya baik, tetapi usia tua risiko


terjadinya komplikasi semakin tinggi, dan
secara kosmetika dapat menimbulkan makula
hiperpigmentasi atau sikatrik. Dengan
memperhatikan higiene & perawatan yang
teliti akan memberikan prognosis yang baik &
jaringan parut yang timbul akan menjadi
sedikit.

KESIMPULAN
Herpes zoster adalah penyakit yang

disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster


yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini
merupakan reaktivasi virus yang terjadi
setelah infeksi primer. Berdasarkan lokasi lesi,
herpes zoster dibagi atas: herpes zoster
oftalmikus, fasialis, brakialis, torakalis,
lumbalis dan sakralis. Manifestasi klinis herpes
zoster dapat berupa kelompok-kelompok
vesikel sampai bula di atas daerah yang
eritematosa.Lesi yang khas bersifat unilateral
pada dermatom yang sesuai dengan letak
syaraf yang terinfeksi virus.

Diagnosa herpes zoster dapat ditegakkan

dengan mudah melalui anamnesis dan


pemeriksaan fisik.Jika diperlukan dapat
dilakukan pemeriksaan laboratorium
sederhana, yaitu tes Tzanck dengan
menemukan sel datia berinti banyak.Pada
umumnya penyakit herpes zoster dapat
sembuh sendiri (self limiting disease), tetapi
pada beberapa kasus seperti herpes zoster
ophtalmicus dan Ramsay Hunt Sindrom dapat
timbul komplikasi sehingga butuh pengobatan
yang agresif. Semakin lanjut usia, semakin
tinggi frekuensi timbulnya komplikasi.

TERIMA
KASIH