Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA
Nama Kepala Keluarga

: Tn. Tarsono

Alamat lengkap

: Rt 03/04, Sawangan, kec. Kebasen kab. banyumas

Bentuk Keluarga

: Nuclear Family

Tabel 1. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah


No

Nama

Stat
us

1.
2.

Tarsono
Purnawise
m

KK
Istri

3.

Ivan Uji
Saputro
Aniatul
Alfathehah

Ana
k
Ana
k

4.

L/ Umur Pendi
P
dikan
L 49 th SD
P 44 th SD

27 th

SMA

20 th

SMK

Pekerjaan

Pedagang
Pedagang

Pegawai
pabrik
Pegawai
pabrik

Pasien
Klinik

Ket
Pasien
asma
bronk
hial
persist
en
sedang
Bekas
flek

Sumber : Data Primer, 17 Desember 2014


Kesimpulan :
Kesimpulan dari demografi keluarga Bapak Tarsono yang berbentuk
nuclear family. Ny. purnawisem berjenis kelamin perempuan, umur 44 tahun
menderita penyakit asma bronkhial persisten sedang.

BAB II
STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN
Laporan ini diambil berdasarkan kasus yang diambil dari seorang
penderita Asma brokhial persisten sedang, berjenis kelamin perempuan yang
berusia 44 tahun. Kasus serupa masih banyak ditemukan di masyarakat Indonesia.
B.

ANAMNESIS
Identitas Penderita
Nama

: Ny. purnawisem

Umur

: 44 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Pedagang

Pendidikan

: SD

Agama

: Islam

Alamat

: Rt 03/Rw 04, Sawangan. Kebasen

Status Pernikahan

: menikah

Suku

: Jawa

Tanggal periksa

: 17 Desember 2014

2. Keluhan Utama : Sesak nafas


3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Puskesmas Kebasen dengan keluhan sesak nafas.
Pasien merasa sesak nafas diseluruh lapang dada. Sesak nafas dirasakan
seperti orang orang yang dadanya terjepit dan terasa pada saat udara dingin,
malam hari, dan saat beraktifitas seperti berjalan dan mendorong gerobak.
Sebelum berobat, sesak nafas dirasakan hampir setiap hari, mengganggu
aktifitas dan tidur. Serangan sesak nafas pada malam hari dirasakan lebih
dari 1 kali dalam seminggu. Jika dinilai dengan tafsiran angka antara 1-10,
sesak nafas pasien dirasa pada angka 7. pasien merasa baikan jika meminum
obat asma yang diperoleh dari dokter. Selain sesak nafas pasien juga
mengeluh batuk berdahak, nafsu makan turun. Baung air besar dan buang air

kecil pasien normal. Pasien sedang menjalani pengobatan asma bronkhial


persisten sedang.
Riwayat Penyakit Dahulu:
-

Riwayat penderita TB

: tahun 2006

Riwayat mondok

: disangkal

Riwayat imunisasi

: lengkap

Riwayat asma

: mulai tahun 2002

Riwayat alergi obat/makanan

: disangkal

Riwayat mondok RS

: disangkal

Riwayat operasi

: katarak tahun 2002

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Riwayat keluarga dengan penyakit serupa

: (+), kedua orang tua

Riwayat sakit sesak nafas

: (+)

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat Kebiasaan
-

Riwayat merokok

: disangkal

Riwayat olah raga

: jarang sekali

Riwayat pengisian waktu luang dengan berbincang-bincang dengan


keluarga jarang, berekreasi jarang (sebulan belum tentu sekali, hanya
kadang-kadang)

Riwayat Psiko Sosio Ekonomi


Penderita adalah seorang ibu rumah tangga, tinggal bersama suami
dan kedua anaknya. Kebutuhan sehari-hari dicukupi dengan penghasilan
kurang lebih 1 juta per bulan, dan ditambah dengan penghasilan suami dari
hasil jualan asongan. Hubungan Ny.p dengan anggota keluarga yang lain
saling mendukung, Ny. p peduli dengan kesehatan anggota keluarga.

Dalam kehidupan sosial Ny. P kurang berperan aktif dalam kegiatan


kemasyarakatan
Riwayat Gizi.
Penderita makan sehari-hari biasanya antara 2-3 kali dengan nasi
sepiring, sayur, dan lauk pauk seperti telur, tahu-tempe, kerupuk, dan
jarang dengan daging, kadang makan buah-buahan dan jarang minum
susu. Kesan gizi cukup.
Anamnesis Sistem
a. Kulit

: warna kulit sawo matang, kulit gatal (-)

b.Kepala : sakit kepala (-), pusing (+), rambut kepala tidak rontok, berwarna
putih, luka pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)
c. Mata

: pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (+),


katarak (+)

d.Hidung : tersumbat (-), mimisan (-)


e. Telinga : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-)
f. Mulut

: sariawan (-), mulut kering (-)

g.Tenggorokan

: sakit menelan (-), serak (-)

h.Pernafasan

: sesak nafas (+), batuk berdahak (+), mengi (+), batuk


darah (-)

i. Kardiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-)


j. Gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu makan menurun
(-), nyeri perut (-)
k.Genitourinaria : BAK lancar, 4-6 kali/hari warna dan jumlah biasa
l. Neuropsikiatri : Neurologik
Psikiatrik

: kejang (-), lumpuh (-)


: emosi stabil, mudah marah (-)

m. Muskuloskeletal: kaku sendi (-), nyeri tangan dan kaki (-), nyeri otot (-)
n.Ekstremitas

: Atas
Bawah

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum

: bengkak (-), sakit (-)


: bengkak (-), sakit (-)

Tampak sadar, kesadaran compos mentis, status gizi kesan cukup.


2. Tanda Vital dan Status Gizi
Tanda Vital
Nadi

: 120/100x/menit, reguler, isi cukup, simetris

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5 oC

Status gizi ( Kurva NCHS ) :


BB

: 50 kg

TB

: 155 cm

BMI

= 19,60 BB/(TB dalam meter) 2 = 50 /(155)2= 21,60

kesan normoweight
Status Gizi Gizi kesan cukup
3. Kulit
Warna

: Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-)

4. Kepala
Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut, atrofi m.
temporalis(-), makula (-), papula (-), nodula (-), kelainan mimik
wajah/bells palsy (-)
5. Mata
Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek
kornea

(+/+),

warna

kelopak

(coklat

kehitaman),

katarak

(+/-),

radang/conjunctivitis/uveitis (-/-)
6. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-),
hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)
7. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi
lidah hiperemis (-), tremor (-)
8. Telinga

Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal
9. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
10. Leher
trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe
(-) dulu saat 2 bulanan kelenjar limfe leher membesar, lesi pada kulit (-)
11. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
- Cor :I : ictus cordis tak tampak
P : ictus cordis tak kuat angkat
P : batas kiri atas
batas kanan atas

:SIC II 1 cm lateral LPSS


:SIC II LSD

batas kanan bawah :SIC IV LSD


batas jantung kesan tidak melebar
A: BJ III intensitas normal, regular, bising (-)
- Pulmo: Statis (depan dan belakang)
I : pengembangan dada kanan = kiri
P : fremitus raba kanan = kiri
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBK (+/+), wheezing (+/+)
Dinamis (depan dan belakang)
I : pergerakan dada kanan = kiri
P : fremitus raba kanan = kiri
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBK (+/+), wheezing (+/+)
12. Abdomen
I :dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-)
P :supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba

P :timpani seluruh lapang perut


A :peristaltik (+) normal
13. Sistem Collumna Vertebralis
I :deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P :nyeri tekan (-)
14. Ektremitas: palmar eritema(-/-)
akral dingin
-

oedem
-

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan provokasi
Pemeriksaan spirometri
Foto toraks
E. RESUME
Ny. P menderita sesak nafas yang disertai batuk berdahak. Lensa mata kiri
pasien berwarna putih, indikasi katarak. Sebelumnya tahun 2002 pasien
pernah menjalani operasi katarak. Pada pemeriksaan fisik pasien di dapatkan
bunyi wheezzing pada auskultasi.
F. DIAGNOSIS HOLISTIK
Nyonya P berasal dari keluarga menengah kebawah, sebagai ibu
rumah tanggamenderita asma bronkhial persisten sedang dengan gangguan
penglihatan kabur indikasi katarak.
1. Aspek Personal
Pasien mengeluh sesak nafas.
Idea

: pasien berharap penyakitnya segera sembuh.

Concern

: pasien menginginkan perhatian dari keluarganya untuk

mendukung pengobatanya, mendukung dirinya dalam mengendalikan


penyakitnya dan dukungan dari segi moral pasien.

Expectacy

: pasien mempunyai harapan penyakitnya segera sembuh,

mendapatkan obat yang efisien untuk terapi penyakit asma.


Anxiety

: pasien takut akan kondisi kesehatanya yang belum stabil,

dan pasien merasa perubahan pengobtan hanya sedikit, dan kadangkadang memburuk. Kedaan ini sangat mengganggu aktifitasnya dalam
mencari nafkah.
2. Aspek klinis
Diagnosa differential : asma bronkhial, ISPA, katarak
Gejala klinis yang muncul : batuk berdahak, nafsu makan turun.
3. Faktor internal kepribadian
Kepribadian pasien termasuk dalam kepribadian terbuka, mau menrima
nasehat orang lain.
4. Aspek Faktor Eksternal
Pasien tinggal di lingkungan penduduk dengan kepadatan penduduk
sedang, jauh dari jalan raya, dan jauh dari pabrik dan TPA. Rumah pasien
terbuat dari tembok dengan lantai campuran, namun ventilasi dan
pencahayaan rumah pasien kurang. Pasien mempunyai pendidikan terakhir
SD. Pelayanan kesehatan di sekitar rumah pasien cukup mudah dijangkau, hal
ini dikarenakan rumah pasien dekat dari sarana pelayanan kesehatan seperti
dokter umum dan puskesmas.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Pasien mempunyai aspek skala penilaian 2, pasien mengeluh sesak nafas jika
berktivitas berat, namun pasien masih bisa beraktifitas di dalam dan diluar
ruangan.
F. PENATALAKSANAAN
Terapi farmakologis

1. Salbutamol 2 -4 mg @ 3-4x1 sehari


2. GG 10mg @3x1 sehari
3. CTM 12,5 mg @ 3x1 sehari
Terapi non farmakologis

1. Istirahat cukup
2. makan bergizi ( nasi, sayur, lauk pauk seperti tempe, tahu)
3. Kurangi aktifitas fisik yang berat
4. Sering menghirup udara yang segar, seperti pantai.
5. Menghidari udara kotor, berdebu dan berasap
6. Pembersihan rumah tinggal supaya pertukaran udara rumah lancar.
7. Menyarankan periksa mata lebih lanjut, ke dokter mata
8. Menyarankan penggantian obat dengan nebuliser yang lebih efisien
dalam pengobatan penyakit asma.
PATIENT CENTERED MANAGEMENT
1. Suport Psikologis
Suport psikologis biasanya perlu diberikan oleh keluarga pasien. Hal ini
berkaitan dengan penyakit asma bronkhial yang tidak bisa disembuhkan
secara total namun angka serangannya bisa diminimalisir dengan melakukan
hidup sehat di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pasien seharusnya
mengerti dan mampu menghindari alergen-alergen penyebab asma
bronkhial. Selain itu juga penejelasan mengenai penyakit hipertensi, hal ini
terkait dengan suami pasien yang menderita hipertensi, dukungan kepada
suami untuk mengubah pola hidup terutama mengenai makanan (rendah
garam, kurangi makanan berlemak, kurangi stres, hindari kopi dan
perbanyak sayuran)
2. Penentraman Hati
Menentramkan hati sangat diperlukan untuk mendukung pengobatan
pasien dan istri. Penyakit asma merupakan penyakit yang tidak bisa
disembuhkan secara total, namun dapat dihindari angka kejadiannya
dengan menghindari penyebab asma seperti udara dingin, daerah yang
lembab, dan kecapaian. Keluarga harus mendukung dengan sepenuh hati
dalam pengobatan pasien. Menentramkan hati suami pasien supaya tidak
terlalu stres dalam memikirkan kondisi kesehatan suaminya dan harus
optimis bisa mengendalikan tensinya dengan perubahan pola hidup.
3. Penjelasan mengenai penyakit asma bronkhial dan hipertensi

10

Keluarga harus dapat menjelaskan kepada pasien bahwa penyakitnya tidak


dapat disembuhkan secara total, tetapi dapat dihindari kejadian sesak nafas
dengan menghindari kecapaian, hidup sehat, dan menghindari alergenalergen asma. Selain itu keluarga ini juga harus mengerti tentang penyakit
hipertensi, terutama masalah pencegahannya.
4. Pengobatan
Medika mentosa dan non medikamentosa seperti yang tertera dalam
penatalaksanaan.
5. Pencegahan dan Promosi Kesehatan
Hal yang tidak boleh terlupakan adalah pencegahan dan promosi
kesehatan berupa perubahan pola hidup sehat, makan makanan yang
bergizi, istirahat yang cukup, ventilasi udara kamar dan ruangan minimal
10%, pembukaan jendela tiap pagi hari, membersihkan rumah setiap hari,
membersihkan ventiasi, menutup jendela dan ventilasi saat malam hari
(udara dingin), penggunaan alat masak yang tidak menyebabkan kepulan
asap, dan tidak putus asa menjalani terapi asma..
Home Family
Menjaga kebersihan rumah dari debu, dan ruangan pengap, serta
mengurangi sumber yang menghasilkan asap. Membuka jendela di saat pagi
hari dan menutupnya pada saat udara diluar kurang bagus, menambah ventilasi
udara untuk memperbaiki sirkulasi udara dan pencahayaan. Pemberian
informasi mengenai penyakit hipertensi juga penting diberikan dalam keluarga
ini, hal ini di karenakan istri pasien menderita hipertensi. Pola makan dan
menu makan keluarga harus di jaga, disamping bergizi juga harus
memperhatikan kesehatan, terutama yang menyebabkan penyakit hipertensi
harus dikurangi (garam, lemak, dan minyak). Selain itu penejelasan mengenai
penyakit asma dan hipertensi yang dapat menurun ke anak, untuk asma
biasanya bisa menurun dalam bentuk penyakit asma atau dalam bentuk
penyakit alergi lain (seperti alergi makanan tertentu, udara, dan obat),
sedangkan hipertensi dapat menurun dalam bentuk penyakit hipertensi.
Risk Community

11

Menjaga kebersihan lingkungan rumah, membuang sampah di tempat


pembuangan yang sudah disediakan, menghindari pembakaran sampah.
G. FOLLOW-UP PASIEN
Tanggal 17 Desember 2014
S

: sesak nafas, batuk berdahak, kepala agak pusing

: KU baik, compos mentis


Tanda vital

T : 120/100 mmHg

: 20 x/menit

N : 80 x/menit S

36,5 0C

BB

: 50kg

TB

: 155 cm

: Asma bronkhial persisten sedang

: Terapi medikamentosa berupa salbutamol, GG, dan ctm, sedangkan non

medika mentosa makan bergizi, istirahat cukup, kurangi aktifitas berat, minum
obat teratur, menjaga kebersihan rumah, jauhkan diri dari debu, kapas, dan asap.
Selain itu juga dilakukan patient centered management, berupa dukungan
psikologis, managemen stress, penentraman hati, penjelasan tentang penyakit
yang diderita, basic konseling pada keluarga dan edukasi pasien.
Tanggal 20 Desember 2014
S

: sesak nafas mulai berkurang, hanya saat udara dingin dan aktifitas berat,
batuk berdahak (-) , kepala agak pusing (-)

: KU baik, compos mentis


Tanda vital

T : 120/100 mmHg

: 16 x/menit

N : 80 x/menit S

36,5 0C

BB

: 50kg

TB

: 155 cm

: -

12

: Terapi medikamentosa berupa salbutamol, sedangkan non medika

mentosa makan bergizi, istirahat cukup, kurangi aktifitas berat, minum obat
teratur, menjaga kebersihan rumah, jauhkan diri dari debu, kapas, dan asap. Selain
itu juga dilakukan patient centered management, berupa dukungan psikologis,
managemen stress, penentraman hati, penjelasan tentang penyakit yang diderita,
basic konseling pada keluarga dan edukasi pasien.
Tanggal 24 Desember 2014
S

: sesak nafas hanya saat udara dingin dan aktifitas berat, batuk berdahak (-)
, kepala agak pusing (-)

: KU baik, compos mentis


Tanda vital

T : 120/100 mmHg

: 16 x/menit

N : 80 x/menit S

36,5 0C

BB

: 50kg

TB

: 155 cm

: -

: Terapi medikamentosa berupa salbutamol, sedangkan non medika

mentosa makan bergizi, istirahat cukup, kurangi aktifitas berat, minum obat
teratur, menjaga kebersihan rumah, jauhkan diri dari debu, kapas, dan asap. Selain
itu juga dilakukan patient centered management, berupa dukungan psikologis,
managemen stress, penentraman hati, penjelasan tentang penyakit yang diderita,
basic konseling pada keluarga dan edukasi pasien.
Tanggal 27 Desember 2014
S

: sesak nafas hanya saat udara dingin dan aktifitas berat, batuk berdahak
(+) , kepala agak pusing (-)

: KU baik, compos mentis


Tanda vital

T : 110/80 mmHg

: 16 x/menit

N : 80 x/menit S

36,5 0C

BB

: 50kg

TB

: 155 cm

13

: -

: Terapi medikamentosa berupa salbutamol, amoksisilin, GG sedangkan

non medika mentosa makan bergizi, istirahat cukup, kurangi aktifitas berat,
minum obat teratur, menjaga kebersihan rumah, jauhkan diri dari debu, kapas, dan
asap. Selain itu juga dilakukan patient centered management, berupa dukungan
psikologis, managemen stress, penentraman hati, penjelasan tentang penyakit
yang diderita, basic konseling pada keluarga dan edukasi pasien.

14

BAB III
IDENTIFIKASI FUNGSI- FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI HOLISTIK
1.

Fungsi Biologis
Keluarga terdiri dari (Tn. T), yang merupakan seorang kepala
rumah tangga. Ibu P (penderita) adalah istri dari Tn T, berumur 49
tahun. Tn T mempunyai 2 orang anak yaitu sdr. I (27 tahun) dan nn. U
(berumur 20 tahun). Keluarga Ny. P merupakan keluarga yang kurang
mengerti tetang kesehatan. Saat Ny. P mengalami sesak nafas, keluarga
Ny. P tidak tahu jika kepala keluarga mereka menderita suatu penyakit
yang dapat mengacam jiwa pasien. Ny. P berobat sendiri tanpa di
dampingi oleh anak dan Suaminya. Setelah ke dokter N didiagnosis
asma bronkhial.

2.

Fungsi Psikologis
Ny. P tinggal serumah dengan suami dan kedua anaknya. Ny. P
sangat menyanyangi keluarganya, jika ada anak dan suaminya yang sakit
Ny. P langsung memeriksakan ke dokter. Ny.P juga sering berkumpul
dengan keluarga disaat malam hari. Ny.P dalam lingkungan masyarakat
kurang aktif dalam kegiatan sosial, hal ini dikarenakan Ny.P bekerja
seharian di luar rumah dan pengetahuan Ny.P kurang. Kegiatan yang
diikuti Ny. P hanya pengajian RT.

3.

Fungsi Sosial
Ny. P jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Tiap hari Tn.
T bekerja dari pukul 07.00 WIB sampai 16.00 WIB.

4.

Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan


Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan Ny. P, yang tiap
bulannya berpenghasilan kira-kira Rp.1.000.000,- dan penghasilan suami
yang berasal dari hasil jualan asongan yang hasilnya tidak menentu, kira-kira

15

perbulan

Rp.400.000,00.

Biaya

pengobatan

pasien

di

Puskesmas

menggunakan BPJS.
B. FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R SCORE)
Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R
SCORE dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0.
A.P.G.A.R SCORE disini akan dilakukan pada masing-masing anggota
keluarga dan kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis
keluarga secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-5 = jelek, 5-7 = sedang, 8-10 =
baik.
ADAPTATION
Dalam menghadapi masalah selama ini penderita selalu mendapatkan
dukungan berupa nasehat dari keluarganya. Jika penderita menghadapi suatu
masalah selalu menceritakan kepada istrinya. Penyakitnya ini kadang
mengganggu aktivitasnya sehari-hari sebagai kepala keluarga.
PARTNERSHIP
Komunikasi terjalin satu sama lain, meskipun waktu kebersamaan dirasa
singkat. Setiap ada permasalahan didiskusikan bersama dengan anggota keluarga
lainnya, komunikasi dengan istri dan anggota keluarga lainnya berjalan dengan baik.
GROWTH
Pasien merasa bersyukur masih dapat mengurusi kebutuhan rumah
tangganya.
AFFECTION
Pasien merasa hubungan kasih sayang dan interaksi dengan istri dan kedua
anaknya berjalan dengan lancar. Pasien juga sangat menyayangi keluarganya, begitu
pula sebaliknya.
RESOLVE
Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup, baik dari keluarga
maupun dari saudara-saudara.

16

A.P.G.A.R Tn. T Terhadap Keluarga

Hamp
ir
selalu

Kadang
-kadang

Hampir
tidak
pernah

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke


keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 5

Ny. P merupakan seorang kepala keluarga, hasil penilaian APGAR didapatkan


point 5.
A.P.G.A.R Ny. P Terhadap Keluarga
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 5

Hamp
ir
selalu

Kadang
-kadang

Hampir
tidak
pernah

17

A.P.G.A.R Sdr. I
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 7
A.P.G.A.R Nn. U Terhadap Keluarga
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
keluarga saya bila saya menghadapi
masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya
membahas dan membagi masalah dengan
saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan
saya membagi waktu bersama-sama
Total poin =5

Hamp
ir
selalu

Kadang
-kadang

Hampir
tidak
pernah

Hamp
ir
selalu

Kadang
-kadang

Hampir
tidak
pernah

18

A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (5+5+7+5)/4


= 5,5
Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien sedang
Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R keluarga pasien adalah
22, sehingga rata-rata A.P.G.A.R dari keluarga pasien adalah 5,5. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien dalam
keadaan sedang.

19

FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M)


Fungsi patologis dari keluarga Ny.p dinilai dengan menggunakan
S.C.R.E.E.M sebagai berikut :
SUMBER
Social
Cultural

Religion

Economic

Education

Medical

PATOLOGI
Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga
dengan saudara, partisipasi mereka dalam kegiatan
kemasyarakatan kurang aktif.
Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal
ini dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam
keluarga maupun di lingkungan, banyak tradisi budaya
yang masih diikuti. Sering mengikuti acara-acara yang
bersifat hajatan, sunatan, nyadran dll. Menggunakan
bahasa jawa, tata krama dan kesopanan.

KET
+

Pemahaman agama cukup. Penerapan ajaran juga baik,


hal ini dapat dilihat dari penderita dan keluarga yang
rutin menjalankan sholat lima waktu di masjid.
Sebelum sakit penderita rutin mengaji di sore hari di
masjid dekat rumah.
Ekonomi keluarga ini tergolong rendah, untuk
kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum
mampu mencukupi kebutuhan sekunder rencana
ekonomi tidak memadai, diperlukan skala prioritas
untuk pemenuhan kebutuhan hidup
Pendidikan
anggota
keluarga
kurang
memadai.Pendidikan dan pengetahuan penderita
kurang. Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki
fasilitas pendidikan seperti buku dan koran terbatas.
Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga
menggunakan pelayanan puskesmas dan menggunakan
kartu ASKIN untuk berobat.

Keterangan :

Social (+) artinya keluarga Ny. P kurang berperan aktif dalam


kegiatan kemasyarakatan.

Education (+) artinya keluara Ny. P masih memiliki pengetahuan


yang kurang, khususnya mengenai penyakit paru.

20

Kesimpulan :
Dalam keluarga Ny. P fungsi patologis yang positif adalah fungsi
sosial,dan fungsi edukasi.
C. GENOGRAM
Alamat

: Sawangan RT 03/04 kec. Kebasen, Kab. Banyumas

Prop.Jawa Tengah
Bentuk Keluarga : Nuclear Family
Diagram 1. Genogram Keluarga Ny. P

Tn. Tarsono

Ny. Purnawisem
70
.

.
R

Ts

68
D

Tr

Sk

St

Turino

Tarsono

49

27
Ivan

= meninggal

Purnawisem

20
Ani

Keterangan :
= Asma

.
44

M 1985

21

Error: Reference source not found


= hipertensi

= tinggal dalam 1 rumah

Sumber : Data Primer,17 Desember 2014


Kesimpulan :
Genogram keluarga Tn. T, Tn T menikah tahun 1985 dengan Ny. P. Ny.p
berasala dari keluarga Tn. S dan Ny. D, Ny.P merupakan 3 bersaudara. Tn S
dan ny. R telah meninggal dan mempunyai riwayat penyakit asma. Tn.T
berasal dari keluarga Tn. Ts dan Ny. R, merupakan 5 bersaudara. Tn. T dan
Ny. D mempunyai 2 orang anak yaitu sdr. I dan nn A.(pernah menderita flek).

22

D. Informasi Pola Interaksi Keluarga


Diagram 2. Pola Interaksi Keluarga Ny. P

Tn
Tarsono
49 th
57 Th

Duriah
44 th
Ivan
27 th

Ani 20
th

Sumber : Data Primer, 17 Desember 2014


Keterangan :
Kesimpulan :

hubungan baik

23

Hubungan antara anggota keluarga di keluarga Ny.P baik-baik saja dan


sangat harmonis dan saling dukung mendukung.

24

BAB IV
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga


1. Faktor Perilaku Keluarga
Ny. P adalah seorang penderita asma bronkhial, beliau mulai menderita
asma tahun 2002. Kedua orang tua beliau merupakan penderita penyakit asma
bronkhial. Ny. P pada tahun 2006 menderita penyakit Tb paru dan menjalani
pengobatan TB paru selama 9 bulan. Pada tahun 2006 Ny.P juga menderita
serangan asma dengan pengobatan asma beberapa bulan. Asma pasien muncul
lagi mulai bulan November 2014. Pasien tinggal di pemukiman penduduk
dengan rumah yang sederhana. Pencahayaan rumah dan aerasi udara kurang,
hal ini dikarenakan kondisi tanah hanya cukup untuk membuat 1 rumah kesil.
2. Faktor Non Perilaku
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga
menengah ke bawah. Keluarga ini memiliki dua sumber penghasilan yaitu
dari hasil penjualan Bapak Tarsono dan dari hasil dagang asongan Ny.
Purnawisem
Rumah yang dihuni keluarga ini aerasi udara dan pencahayaanya
kurang, hal ini terjadi karena terbatasnya dana. Hal ini menyebabkan udara di
dalam rumah lembab menyebabkan menambahnya keadaan asma pasien.

25

Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku


Pengetahuan :
Keluarga kurang
mengetahui penyakit
penderita

Sikap:
Penderita sadar akan
penyakit asmanya,
shingga jika asmanya
kambuh pasien
langsung mencari
bantuan medis

Lingkungan:
Cukup padat,

Keluarga Ny. P

Keturunan:
Kedua bapak ibu pasien
pernah menderita asma
bronchial

Tindakan
Dibawa kedokter
setelah pasien merasa
sesak nafas

Pelayanan Kesehatan:
Jika sakit berobat ke
dokter dan puskesmas

Faktor perilaku
Factor non perilaku

B. Identifikasi Lingkungan Rumah


1. Gambaran Lingkungan
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 3,5x10 m2 yang
berdempetan dengan rumah tetangganya dan menghadap ke utara. Tidak
memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas. Rumah ini terdiri dari 2
kamar tidur, 1 ruang tamu, dapur, kamar mandi dan ruang bersama. Rumah
terbuat dari tembok dengan lantai semen dan bagian dapur lantainya tanah.
Atap rumah pasien terbuat dari genteng. Ruang tamu memiliki cendela dengan

26

ukuran 2,5 X 2 m. Kamar tidur rumah pasien memiliki jendela dengan ukuran
0,5x0,5m. Kamar mandi pasien menyatu dengan dapur.
2. Denah Rumah
Rumah pasien berukuran 3,5 X 9 meter yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1
ruang tamu, 1ruang keluarga, dapur dan kamar mandi. Tiap ruangan memiliki
ukuran yang berbeda-beda, ruang tamu berukuran 3,5x 2m, kamar tidur
berukuran 3,5x2,5m. Rumah pasien menghadap kearah utara. Air yang
digunakan untuk kebutuhan sehari-hari menggunakan air sumur pompa.
Dapur

Kamar
mandi

Ruang
tempat
berkumpul
keluarga

Kamar tidur
Ukuran
2,5x2,5m

Kamar tidur
Ukuran 2,5x2,5
m

U
Ruang tamu 2,5x 2m

Jalan

27

BAB V
DAFTAR MASALAH
A. Problem List
Prob Approx.
lem Date of
Num Onset
ber
1.

2002

2.

2006

3.

2006

MASTER PROBLEM LIST


Date
Active Problems
Problem
Recorded
17-122014
17-122014
17-122014

Inactive/R
esolved
Problems

Date
Resolve
d

Asma
TB paru
Asma

4.

Operasi
katarak

5.

17-122014

6.

17-122014

7.

21-12-14

8.

21-12-14

Tingkat pendidikan
keluarga yang rendah
dan pengetahuan yang
kurang
Rumah dan
lingkungan yang
dihuni tidak
memenuhi standard
kesehatan
Keluarga kurang
mengerti tentang
asma
Suami menderita
hipertensi

B. Masalah non medis :


1. Keluarga Ny.P dengan keluarga kurang pengetahuan tentang penyakit asma
bronkhial.
2. Ny.P dan salah satu anaknya pernah menderita TB paru.
3. Kondisi lingkungan sekitar rumah Ny. P padat padat penduduk, ventilasi
dan sirkulasi Ny.P kurang.
4. Kondisi ekonomi keluarga adalah cukup.

28

5. Fungsi fisiologis keluarga Ny.p adalah sedang.


C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN
(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada
dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan pasien)

1. Keluarga Ny.P
kurang
mengerti akan
penyakit asma

5. Kondisi
lingkungan
dan rumah
yang tidak
sehat/padat

Ny.P 44 th dengan
asma bronkhial

3. Tingkat
pengetahuan
keluarga
Ny.P
tentang
kesehatan kurang

2. Ayah
dan
Ibunya
merupakan
penderita asma

29

D. MATRIKULASI MASALAH
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. (Azrul, 1996)
No
Daftar Masalah
.
1. Keluarga Ny.p kurang
mengerti
akan
penyakit asma
2. Ayah dan Ibunya
merupakan penderita
asma
3.

Tingkat pengetahuan
keluarga Ny.p tentang
kesehatan kurang
Kondisi
lingkungan
dan rumah yang tidak
sehat/padat

4.

P
4

I
S
5

R
Mo Ma
4
4

SB
3

Mn
4

11.520

15.360

11.520

Keterangan :
I

: Importancy (pentingnya masalah)

: Prevalence (besarnya masalah)

: Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)

SB

: Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)

: Technology (teknologi yang tersedia)

: Resources (sumber daya yang tersedia)

Mn

: Man (tenaga yang tersedia)

Mo

: Money (sarana yang tersedia)

Ma

: Material (pentingnya masalah)

Kriteria penilaian :
1

: tidak penting

: agak penting

: cukup penting

: penting

: sangat penting

Jumlah
IxTxR
15.360

30

E. PRIORITAS MASALAH
Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga
Ny.P adalah sebagai berikut :
1. Keluarga Ny. P kurang mengerti akan penyakit asma
2. Tingkat pengetahuan keluarga Ny. P tentang kesehatan kurang
3. Kondisi lingkungan dan rumah yang tidak sehat/padat
4. Ayah dan Ibunya merupakan penderita asma
Kesimpulan :
Prioritas masalah yang diambil adalah belum tahunya tentang pengetahuan
keluarga pasien mengenai penyakit asma bronkhial. Pasien dan keluarga belum
tahu bagaimana meminimalisir supaya penyakit asmanya tidak kambuh. Hal ini
berkaitan dengan kondisi rumah pasien yang belum memenuhi standar
kesehatan.

BAB VI

31

RENCANA PEMBINAAN KELUARGA


Tanggal

Kegiatan yang

Anggota

dilakukan

keluarga

Hasil kegiatan

Catatan
untuk

yang terlibat

pembinaan
selanjutnya

17

1.

Pasien

Desember Membina hubungan saling

Pasien menepati
janji

percaya dengan pasien


(perkenalan identitas)
2.
Kontrak

dengan

pasien

untuk pertemuan akan


datang

21

1.

Agustus
2009

Mengkaji pengetahuan

Pasien dan

Pasien dan

pasien tentang penyakit

istri

keluarga

asma
2.

Menyakan
sesak

penyebab

nafas

(saat

Memberikan

anjurkan

penjelasan tentang :

Pengertian asma

Penyebab asma

Tanda dan gejala

Akibat asma

Cara

pencegahan

serangan asma
4. Menganjurkan pasien
untuk

periksa

sesuai dengan
yang di

serangan asma)
3.

melakukan

ke

32

Puskesmas

atau

dokter

bila penyakit berlanjut


5. Memberikan informasi
mengenai
hipertensi

penyakit
(gejala

awal,

factor resiko hipertensi,


cara

penanggualangan

penyakit

hipertensi,

pengobatan

penyakit

hipertensi, dan komplikasi


penyakit hipertensi)

25-08-

1. Membuka ventilasi

Pasien dan

Pengetahuan

2009

rumah yang seharusnya

istri

keluarga pasien

terbuka

mengenai

2. Menyarankan kepada
anggota keluarga untuk
rajin membuka jendela
setiap pagi hari.
3. Menyarankan untuk
membersihkan
tidur

dari

kamar

debu

dan

kapas-kapas kasur yang


beterbangan.
4.memberikan informasi
mengenai

diet

yang

benar untuk penderita


hipertensi
mengurangi
makanan

(spt
garam,
berlemak,

gorangan, santan, dan


daging kambing), dan
penjelasan

untuk

mengurangi stres akibat


suami sakit asma.

penyakit asma
dan hipertensi
masih kurang

33

5. mengisi kuesioner
asma dan hipertensi.

BAB VII
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit asma bronkhial adalah penyakit saluran nafas bagian bawah yang
ditandai oleh hiperaktivitas cabang trakhea dan bronkhus terhadap aneka macam
rangsangan, sehingga timbul penyempitan jalan nafas yang luas dan reversible,
dan membaik secara spontan maupun dengan pengobatan. Serangan asma dapat
dimulai dari yang paling ringan sampai yang mengancam.
Penyempitan yang berlangsung beberapa hari atau minggu, walaupun telah
mendapat terapi yang biasa dipakai, dikenal sebagai status asmatikus(Barmawi,
1996). Status asmatikus adalah asma dengan intensitas serangan yang tinggi dan
tidak memberikan reaksi dengan obat-obatan yang konvensional dan merupakan
salah satu kegawatan asma bronkhial.
Berdasarkan tingkat kegawatan asma, maka asma dapat dibagi menjadi
tiga tingkatan :
1. Asma Bronkhial

: yaitu suatu bronkhospasme yang sifatnya reversibel


dengan latar belakang alergi.

2. Status Asmatikus

: yaitu suatu asma yang refraktor terhadap obat-obatan


yang konvensional.

3. Asthmatic Emergency : yaitu asma yang dapat menyebabkan kematian.


Sampai sekarang belum ada kesepakatan tentang definisi asma bronkial
yang dapat diterima oleh semua ahli. Alasan-alasannya antara lain adalah sebagai
berikut :
1. Diantara para penderita, penyakit asma baik dalam berat maupun perjalanan
penyakitnya berbeda-beda.
2. Berbagai hal dapat mencetuskan serangan asma.

34

3. Histopatologi terutama pada keadaan yang ringan tidak banyak diketahui.


4. Sebab penyakit belum diketahui.
Penyakit asma bronkial jarang menimbulkan kematian. Didalam beberapa
penelitian didapatkan bahwa angka mortalitas tidak banyak membantu
menjelaskan patogenesis penyakit ini. Studi insidensi juga hanya memberikan
keterangan tentang frekuensi episode akut yang terjadi dalam kondisi tertentu saja,
oleh karena itu penelitian epidemiologi asma lebih banyak diarahkan pada
penentuan prevalensi.
Definisi
Suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus
terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas
yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik setara spontan maupun sebagai
hasil pengobatan.
Bila ditelaah lebih lanjut definisi tadi dapat diuraikan menjadi :
1. Ada peningkatan respon trakea dan bronkus. Hal ini berarti bahwa jalan nafas
penderta asma mempunyai respon yang lebih hebat terhadap berbagai
rangsangan dibanding dengan orang normal.
2. Serangan asma jarang sekali hanya dicetuskan oleh satu macam rangsangan,
tetapi oleh berbagai rangsangan.
3. Kelainan tersebar luas pada kedua paru.
4. Derajat serangan asma dapat berubah-ubah, misalnya obstruksi lebih berat
pada malam hari dibanding dengan siang hari.

Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat
hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan
maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain :
1. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop.
2. Batuk produktif, sering pada malam hari.

35

3. Sesak nafas dada seperti tertekan.


Gejalanya bersifat proksimal, yaitu membaik pada siang hari dan
memburuk pada malam hari (Mansjoer, 1999)

36

Klasifikasi derajat asma


Derajat asma
Intermitten
mingguan

Persisten ringan
mingguan

Persisten sedang
harian

Persisten berat
kontinu

Gejala
Gejala < 1x/minggu
Tanpa gejala di luar
serangan
Serangan singkat
Fungsi paru
asimtomatik dan
normal luar serangan

Gejala malam
Fungsi paru
2 kali
VEPI atau APE
seminggu
80%

Gejala > 1x/minggu


tapi < 1x/hari
Serangan dapat
mengganggu aktivitas
dan tidur

> 2 kali
seminggu

Gejala harian
Menggunakan obat
setiap hari
Serangan
mengganggu aktivitas
dan tidur
Serangan 2x/minggu,
bisa berhari-hari

> sekali
seminggu

Gejala terus-menerus
Aktivitas fisik terbatas
Sering serangan

VEPI atau APE


80% normal

VEPI atau APE >


60% tetapi 80%
normal

sering
VEPI atau APE <
80% normal

Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
2. Spirometri
3. Tes provokasi bronkial
4. Pemeriksaan tes kulit
5. Pemeriksaan kadar IgE total dan spesifik dalam serum
6. Pemeriksaan radiologi
7. Analisis gas darah
8. Pemeriksaan eosinofil dalam darah dan pemeriksaan sputum.

37

Diagnosis
Diagnosis asma berdasarkan :
1. Anamnesis : riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap asma, riwayat keluarga dan riwayat alergi, serta gejala klinis.
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium : darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik),
sputum (eosinofil, spiral curshman, kristal chartot-leyden) (Karnen, 1996)
4. Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan
adanya obstruksi jalan nafas.
Diagnosis Banding
1. Bronkhitis kronik
2. Emfisema paru
Komplikasi Asma
1. Pneumothoraks
2. Pneumomediastinum dan emfisema subkutis
3. Atelektasis
4. Aspergilosis bronkopulmonar alergik
5. Gagal nafas
6. Bronkitis
7. Fraktur iga.
Penatalaksanaan :
Tujuan terapi asma yaitu :
1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
2. Mencegah kekambuhan
3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya
4. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan
exercise
5. Menghindari efek samping obat asma
6. Mencegah obstruksi jalan nafas yang irreversibel.

38

Yang termasuk obat anti asma :


1. Bronkodilator
a.

Agonis 2
Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi. Terbutalin, salbutamol, dan
fenetrol memiliki lama kerja 4-6 jam, sedang agonis 2 long action
bekerja lebih dari 12 jam, seperti salmeterol, formoterol, bambuterol, dan
lain-lain. Bentuk aerosol dan inhalasi memberikan efek bronkodilatasi
yang sama dengan dosis yang jauh lebih kecil yaitu sepersepuluh dosis
oral dan pemberiannya lokal.

b. Metilxantin
Teofilin termasuk golongan ini. Efek bronkodilatornya berkaitan dengan
konsentrasinya di dalam serum. Efek samping obat ini dapat ditekan
dengan pemantauan kadar teofilin serum dalam pengobatan jangka
panjang.
c. Antikolinergik
Golongan ini menurunkan tonus vagus intrinsik dari saluran nafas.
2. Anti inflamasi
Antiinflamasi menghambat inflamasi jalan nafas dan mempunyai efek supresi
dan profilaksis.
a. Kortikosteroid
b. Natrium kromolin (sodium cromoglycate) merupakan antiinflamasi non
steroid.
Terapi awal, yaitu :
1. Oksigen 4-6 liter/menit
2. Agonis 2 (salbutomol 5 mg atau feterenol 2,5 mg atau terbutalin 10 mg)
inhalasi nebulasi dan pemberiannya dapat diulang setiap 20 menit sampai 1
jam. Pemberian agonis 2 dapat secara subkutan atau iv dengan dosis
salbutamol

0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dekstrosa 5%

dan diberikan perlahan.


3. Aminofilin bolus iv 5-6 mg/kgBB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12
jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis.

39

4. Kortikosteroid hidrokarbon 100-200 mg iv jika tidak ada respon segera atau


pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
Respon terhadap terapi awal baik, jika didapatkan keadaan berikut :
1. Respon menetap selama 60 menit setelah pengobatan.
2. Pemeriksaan fisik normla
3. Arus puncak ekspirasi (APE) > 70%
4. Jika respon tidak ada atau tidak baik terhadap terapi awal maka pasien
sebaiknya dirawat di Rumah Sakit.
Pengobatan Asma jangka panjang berdasarkan berat penyakit (Mansjoer, 1999)
Derajat asma
Obat pengontrol
Asma persisten Tidak perlu

Asma persisten
ringan

Asma persisten
sedang

Asma persisten
berat

Inhalasi kortikosteroid 200500


g/kromolin/nedokromil/atau
teofilin lepas lambat.
Bila perlu ditingkatkan sampai
800 g atau ditambahkan
bronkodilator aksi lama
terutama untuk mengontrol
asma malam dapat diberikan
agonis 2 aksi lama inhalasi
atau oral teofilin lepas lambat.
Inhalasi kortikosteroid 8002000 g.
Bronkodilator aksi lama
terutama untuk mengontrol
asma malam, berupa agonis 2
aksi lama inhalasi atau oral
teofilin lepas lambat.
Inhalasi kortikosteroid 8002000 g atau lebih.
Bronkodilator aksi lama,
berupa agonis 2 inhalasi atau
oral teofilin lepas lambat.
Kortikosteroid oral jangka
panjang

Obat pelega
Bronkodilator aksi singkat
yaitu inhalasi agonis 2
Intensitas pengobatan
tergantung berat eksaserbasi
Inhalasi agonis 2 atau
kromolin dipakai sebelum
aktivitas atau pajanan
alergen.
Inhalasi agonis 2 aksi
singkat bila perlu dan
melebihi 3-4 x sehari

Inhalasi agonis 2 aksi


singkat bila perlu dan tidak
melebihi 3-4 x sehari

40

Penyakit asma merupakan suatu penyakit yang tidak dapat di sembuhkan


secara total, untuk itu perlu pencegahan bagi mereka yang mempunyai riwayat
penyakit asma. Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan cara, sebagai berikut:
1. Kasur dan tempat tidur dan bantal kapuk sebaiknya diganti busa kemudian
dimasukkan dalam kantong vinil dengan risleting atau dibungkus kantong
plastik dan direkat dengan selotip seperti membungkus kado.
2. Sprei, selimut, sarung bantal dan guling lebih sering dicuci minimal sekali
seminggu dengan air panas (55-60 derajat C).
3. Lantai dibersihkan dengan lap basah satu kali setiap hari.
5. Tirai gorden dicuci setiap dua minggu.
6. Lemari, rak dan laci dibersihkan dengan lap basah serta paling banyak
hanya boleh 3 buah buku yang diletakkan di dalamnya.
7. Ganti karpet dengan linoleum atau lantai kayu. Kalau tidak, bisa juga
secara teratur dihisap dengan filter high efficiency particulate air (HEPA)
dan kantung debu dua rangkap.
8. Buku, majalah dan mainan jangan ada di kamar tidur. Jika memang harus
ada, maka masing-masing hanya boleh 3 buah. Lebih sedikit barangbarang tersebut di kamar tidur, itu lebih baik.
9. Boneka dan mainan yang terbuat dari kain sebaiknya dicuci dengan air
panas setiap minggu.
10. Hindari asap dari obat nyamuk bakar dan asap dapur.
11. Gunakan kipas angin di dapur dan kamar mandi untuk mengusir asap
dapur dan bau yang tajam.
12. Binatang peliaraan yang berbulu sebaiknya tidak ada di rumah anak yang
menderita asma. Atau paling tidak binatang tersebut tidak berada di kamar
tidur dan ruang utama.
13. Mandikan binatang peliaraan dua kali seminggu.
14. Pakaian paling lama jangan lebih dari 2 minggu di dalam lemari, setelah
itu harus dicuci kembali atau dipindah ke kamar lain. Bila tidak
memungkinkan maka dibungkus kantong plastik dan direkat selotip seperti
membungkus kado.

41

15. Air conditioner (AC) jangan terlalu dingin dan filternya dibersihkan sekali
seminggu.
16. Gunakan filter udara HEPA terutama di kamar tidur dan ruang utama.
17. Bersihkan lingkungan yang disukai kecoa seperti tempat lembab, sisa
makanan, sampah terbuka dan tempat lainnya.
18. Gunakan pembasmi kecoa.
19. Perbaiki semua kebocoran atau sumber air yang berpotensi menimbulkan
jamur, seperti dinding kamar mandi, bak mandi, keran lain dan tempat
lainnya.
Mari perhatikan kesehatan lingkungan hidup kita, demi terjaganya kualitas
hidup penderita asma. (anonym, 2007).
Selain beberapa hal diatas, ada usaha-usaha pencegahan yang dapat
dilakukan untuk mencegah datangnya serangan penyakit asma, antara lain :
1. Menjaga kesehatan
2. Menjaga kebersihan lingkungan
3. Menghindarkan faktor pencetus serangan penyakit asma
4. Menggunakan obat-obat antipenyakit asma
Setiap penderita harus mencoba untuk melakukan tindakan pencegahan. Tetapi
bila gejala-gejala sedang timbul maka diperlukan obat antipenyakit asma untuk
menghilangkan gejala dan selanjutnya dipertahankan agar penderita bebas dari
gejala penyakit asma.
1. Menjaga kesehatan. Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak
terpisahkan dari pengobatan penyakit asma. Bila penderita lemah dan
kurang gizi, tidak saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti mudah
untuk mendapat serangan penyakit asma beserta komplikasinya.
Usaha menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan makanan yang
bernilai gizi baik, minum banyak, istirahat yang cukup, rekreasi dan
olahraga yang sesuai. Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila
dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung
atau ginjal yang berat. Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada

42

di saluran pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya


bila penderita kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental, liat dan
sukar dikeluarkan. Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita
yang kekurangan cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat
yang berlebihan, kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan
dari saluran napas akibat bernapas cepat dan dalam.
2. Menjaga kebersihan lingkungan. Lingkungan dimana penderita hidup
sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya serangan penyakit asma.
Keadaan rumah misalnya sangat penting diperhatikan. Rumah sebaiknya
tidak lembab, cukup ventilasi dan cahayamatahari. Saluran pembuangan
air harus lancar. Kamar tidur merupakan tempat yang perlu mendapat
perhatian khusus. Sebaiknya kamar tidur sesedikit mungkin berisi barangbarang untuk menghindari debu rumah. Hewan peliharaan, asap rokok,
semprotan nyamuk, atau semprotan rambut dan lain-lain mencetuskan
penyakit asma. Lingkungan pekerjaan juga perlu mendapat perhatian
apalagi kalau jelas-jelas ada hubungan antara lingkungan kerja dengan
serangan penyakit asmanya.
3. Menghindari Faktor Pencetus. Alergen yang tersering menimbulkan
penyakit asma adalah tungau debu sehingga cara-cara menghindari debu
rumah harus dipahami. Alergen lain seperti kucing, anjing, burung, perlu
mendapat perhatian dan juga perlu diketahui bahwa binatang yang tidak
diduga seperti kecoak dan tikus dapat menimbulkan penyakit asma.
Infeksi virus saluran pernapasan sering mencetuskan penyakit asma.
Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang sedang
terserang influenza. Juga dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai
atau penuh sesak. Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan,
penggantian suhu udara yang ekstrim, berlari-lari mengejar kendaraan
umum atau olahraga yang melelahkan. Jika akan berolahraga, lakukan
latihan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah
serangan penyakit asma. Zat-zat yang merangsang saluran napas seperi
asap rokok, asap mobil, uap bensin, uap cat atau uap zat-zat kimia dan

43

udara kotor lainnya harus dihindari. Perhatikan obat-obatan yang


diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan jantung
(beta-bloker), obat-obat antirematik (aspirin, dan sejenisnya). Zat pewarna
(tartrazine) dan zat pengawet makanan (benzoat) juga dapat menimbulkan
penyakit asma.
4. Menggunakan obat-obat antipenyakit asma Pada serangan penyakit
asma yang ringan apalagi frekuensinya jarang, penderita boleh memakai
obat bronkodilator, baik bentuk tablet, kapsul maupun sirup. Tetapi bila
ingin agar gejala penyakit asmanya cepat hilang, jelas aerosol lebih baik.
Pada serangan yang lebih berat, bila masih mungkin dapat menambah
dosis obat, sering lebih baik mengkombinasikan dua atau tiga macam obat.
Misalnya mula-mula dengan aerosol atau tablet/sirup simpatomimetik
(menghilangkan gejala) kemudian dikombinasi dengan teofilin dan kalau
tidak

juga

menghilang

baru

ditambahkan

kortikosteroid.

Pada penyakit asma kronis bila keadaannya sudah terkendali dapat dicoba
obat-obat pencegah penyakit asma. Tujuan obat-obat pencegah serangan
penyakit asma ialah selain untuk mencegah terjadinya serangan penyakit
asma juga diharapkan agar penggunaan obat-obat bronkodilator dan
steroid sistemik dapat dikurangi dan bahkan kalau mungkin dihentikan.
(sundaru, 2007)

BAB VII

44

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Diagnosis Holistik

Ny. P dengan asma bronkhial persisten sedang dengan gangguan mata


katarak.
1.

Segi Biologis : Ny. P dengan asma bronkhial persisten sedang

2.

Segi Psikologis : kondisi pskologis baik, tidak depresi, terbuka kepada


semua orang. Hubungan antara anggota keluarga terjalin akrab, harmonis,
dan hangat

3.

Segi Sosial :
Pasien jarang melakukan kegiatan sosialisasi di masyarakat. Hal ini
dikarenakan pasien pada pagi hingga sore hari berada di lokasi kerja dan
pada malam hari pasien istirahat. Pasien hanya ikut kegiatan Yasinan
setiap hari Kamis malam.

B. SARAN
Untuk mengatasi kasus yang diderita pasien maka harus :
1. Menerima penyakitnya dengan lapang dada dan berusaha menyembuhkan
tanpa putus asa.
2. Menjelaskan bahwa penyakit asma tidak dapat di sembuhkan, tetapi dapat
dicegah kejadianya dengan pola hidup sehat dan istirahat cukup.
3. Meningkatkan gizi pasien yaitu dengan suplai makanan tinggi kalori tinggi
protein.
4. Menjauhkan pasien dari asap rokok, asap, udara kotor, dan udara dingin.

DAFTAR PUSTAKA

45

1. Anonym, available www.google.co.id pencegahan asma. Yayasan asma


Indonesia.di akses 28 Desember 2014.
2. Barmawi, H., Status Asmatikus, Standar Pelayanan Medis RSUP. Dr. Sardjito,
Buku I, Komite Medis RSUP. Dr. Sardjito dan FK UGM, Yogyakarta, 1996,
100-103.
3. Karnen B, Asma Bronkial dalam Soeparman, dkk, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid
II, edisi 3, FKUI, Jakarta, 1996, Hal 21-39.
4. Mansjoer, A, dkk, Asma Bronkial dalam Kapital Selekta Kedokteran, Jilid I,
Edisi 3, FKUI, Jakarta, 1999, hal 476-480.
5. Sundaru, heru. 2007. available www. Google.co.id cara pencegahan asma. Di
akses 28 Agustus 2009
6. Tabrani, Rab, H., Kegawatan Asma Bronkhial, Prinsip Gawat Paru, edisi II,
Jakarta, 1996, 163-165.
7. W.M. Lorraine, Penyakit Pernafasan Obstruktif, dalam A.P Sylvia, dkk,
Patofisiologi, Jilid II, Edisi 4, EGC, Jakarta, 1995, hal 689-691.

Lampiran

46

Foto saat pemeriksaan

Foto depan rumah