Anda di halaman 1dari 30

PENENTUAN KADAR Fe2+ DALAM GARAM BESI (III)

1. Tujuan
1. Melakukan standarisasi dengan titrasi permanganometri.
2. Menetapkan kadar ion ferro (Fe2+) dalam garam besi pada sampel
dengan
2. Prinsip

titrasi permanganometri.

Ion ferro dalam sampel dalam suasana asam dan suhu 70

, dapat mereduksi MnO4


Menjadi Mn2+ .KMnO4 tersebut juga bertindak sebagai autoindikator.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
MnO4- (aq) + 5Fe2+(aq) +8H+
Mn2+ (aq) + 5Fe3+ (aq)

4H2O(l)

Apabila Fe2+ dalam sampel telah habis, maka kelebihan kalium


permanganat akan membuat larutan menjadi berwarna merah muda.
Sehingga pada saat terjadi perubahan warna larutan menjadi merah
muda stabil, titrasi dihentikan, dan volume titran dicatat.
3. Tinjauan pustaka
Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan
KMnO4 atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar
reduktor dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat encer, karena asam sulfat
tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer. Pembakuan KMnO 4 dibuat
dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air. Larutan KMnO4 yang diperoleh
dibakukan dengan cara mentitrasinya dengan natrium oksalat yang dibuat dengan
pengenceran kristalnya pada suasana asam. Pada pembakuan larutan KMnO4 0,1 N,
natrium oksalat dilarutkan kemudian ditambahkan dengan asam sulfat pekat, kemudian
dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu pucat. Setelah didapat
volume titrasi, maka dapat dicari normalitas KMnO4 (anonim, 2009.d).

Pada permanganometri titran yang digunakan adalah kalium permanganat.


Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan
larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi
selama seratus tahun lebih. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda
yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi.
Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator, dan umumnya titrasi
dilakukan dalam suasan asam karena karena akan lebih mudah mengamati titik akhir
titrasinya. Namun ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana
netral atau alkalis contohnya hidrasin, sulfit, sulfida, sulfida dan tiosulfat .Reaksi dalam
suasana netral yaitu :
MnO4 + 4H+ + 3e MnO4 +2H2O
Kenaikan konsentrasi ion hidrogen akan menggeser reaksi kekanan
Reaksi dalam suasana alkalis :
MnO4- + 3e MnO42MnO42- + 2H2O + 2e MnO2 + 4OHMnO4- + 2H2O + 3e MnO2 +4OHReaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral.
Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumahjumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis
dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat
sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu /dua jam lalu
menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang
telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser.
Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan
pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah
katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta bahwa banyak reaksi

permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan
dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh, permanganat adalah agen unsur
pengoksida, yang cukup kuat untuk mengoksida Mn(II) menjadi MnO 2 sesuai dengan
persamaan
3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O 5MnO2 + 4H+
Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi
cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO 2 . Tindakan
pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat. Mangan
dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan permanganate. Jejak-jejak dari MnO2 yang
semula ada dalam permanganat. Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan
jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan
ini biasanya berupa larutan kristal-kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi
yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk
menghilangkan MnO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam
gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa
bulan.
Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting dalam
titrasi-titrasi permanganat. Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah asam klorida
dan timah (II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses kelarutan.
Sebelum dititrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus di reduksi menjadi besi (II).
Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor jones atau dengan timah (II) klorida.
Reduktor jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat mengingat tidak
ada ion klorida yang masuk .
Jika larutannya mengandung asam klorida seperti yang sering terjadi reduksi
dengan timah (II) klorida akan lebih memudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan
panas dari sampelnya dan perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan
hilangnya warna kuning dari ion besi (anonim,2009.c).
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat
asam lemah, netral atau basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa kuat, ion

permanganat

dapat

tereduksi

menjadi

ion

manganat

yang

berwarna

hijau.

Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak
terjadi bolak balik, sedangakan potensial elektroda sangat tergantung pada pH.
Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan
permanganometri seperti :
(1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat.
Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H 2SO4 berlebih
sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang
akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang
bersangkutan.
(2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah
disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku
FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya
dapat

ditentukan

banyaknya

dengan

menitrasinya

dengan

KMnO4.

(anonim,2009.a)
4. Alat

Timbangan analitik
Erlenmeyer
Gelas beaker
Buret
Labu ukur
Pipet volume
Pipet tetes.

5. Bahan
Larutan H2C2O4.2H2O
Aquades
Larutan KMnO4 4N
Larutan H2SO4 1N

6. Metode
Pada praktikum ini menggunakan metode permanganometri. Penetapan
kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan KMnO 4 atau dengan cara
permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam
dengan penambahan asam sulfat encer, karena asam sulfat tidak bereaksi terhadap

permanganat dalam larutan encer. Pada metode ini digunakan KMnO4 sebagai pentiternya
dan juga sebagai indikatornya sehingga disebut autoindikator. Salah satu metoda yang
digunakan untuk analisis kadar besi dalam suatu sampel adalah titrasi permanganometri. Hal
ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan penambahan
asam sulfat encer, karena asam sulfat tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan
encer.
7. Prosedur
A. Titrasi standarisasi
1. Timbang dengan teliti sejumlah massa asam oksalat sesuai
perhitungan untuk mendapatkan larutan asam oksalat 0,1000 N
2. Larutkan dengan teliti asam oksalat tersebut pada gelas beaker
3. Pindahkan pada labu takar dengan volume yang sesuai dan
tambahkan aquades hingga tanda tera. Kocok hingga homogen.
4. Siapkan larutan KMnO4 0,1 N. isi buret dengan larutan tersebut.
5. Pipet sebanyak 10,0 mL larutan standar asam oksalat, letakkan
pada Erlenmeyer. Tambahkan 25 mL H2SO4 1N.

6. Panaskan larutan dalam erlenmeyer hingga 70 .


7. Titrasi larutan dalam Erlenmeyer dalam keadaan panas dengan
larutan KMnO4 hingga terjadi perubahan warna larutan menjadi
warna merah muda stabil. Catat volume titrasi dan hitung
konsentrasi larutan KMnO4.
B. Titrasi penetapan kadar
1. Isi buret dengan larutan standar KMnO4.
2. Timbang dengan teliti 1 gram sampel yang sebelumnya telah
dihaluskan. Larutkan dalam aquades hingga volume 250,0 mL.
3. Pipet 25,0 mL larutan sampel dan pindahkan pada Erlenmeyer.
Tambahkan 25 mL H2SO4 1N.

4. Panaskan larutan dalam erlenmeyer hingga 70


5. Titrasi larutan sampel dalam keadaan panas dengan larutan
standar KMnO4 hingga terjadi perubahan warna larutan menjadi
merah muda stabil. catat volume titrasai.
C. Hasil dan pembahasan
Hasil :
a) PEMBUATAN REAGEN

1. 250 mL H2C2O4.2H2O 0,0100N


Massa H2C2O4.2H2O dari perhitungan :
M = N V BE
M=N

M = 0,0100 N

BM
ek
0,250 mL

g
mol
2 ek

126,07

M = 0,1575 gram
Massa H2C2O4.2H2O dari penimbangan : 0,1609 gram
Konsentrasi H2C2O4.2H2O terstandarisasi :
0,1609 gram
m
m
g
126,07
N = V Be = V BM =
mol
0,250 mL
ek
2 ek

N H2C2O4.2H2O = 0,0102 N
2. 1 L KMnO4 0,01 N (pengenceran)
V1 N 1
= V2 N2
V 0,01 N = 1 L 0,01 n
1

V1

= 100 mL

b) TITRASI STANDARISASI
Larutan standar primer (1)
: H2C2O4.2H2O 0,0100 N
Larutan standar sekunder (2)
: KMn04 0,1 N
V1 = 10,00 mL
V2 = 9,20 mL
V1 N1
= V2 N2
10,0 mL 0,0100N
= 9,20 mL N
2

N2

= 0,0110 N

c) TITRASI PENETAPAN KADAR


Sampel mengandung (Fe2+)
m = 1,0007 gram = 1000,7 mg
V larutan = 250 mL
V sampel untuk titrasi = 10,00 mL
Titran (KMnO4)
V titran = 13,91 mL

N titran = 0,0110 N

Kadar Fe2+

N V BE D
m sampel

Fe2+
m sampel

100%

100%
mg
mol
25
2 ek

55,847
=

0,0110 N 13,91mL
1000,7 mg

Kadar Fe2+
Keterangan :
N
V
BE
D
M sampel
M Fe2+
8. Kesimpulan
9. Daftar pustaka

100

= 10,67 %
=
=
=
=

= Normalitas KMnO4 (N)


Volume titran KMnO4 (V)
Berat Ekuivalen Fe2+ (gram/mol.ek)
= Pengenceran
Massa sampel (mg)
Massa Fe2+ dalam sampel (mg)

4.2
Pada

Pembahasan
percobaan

titrasi

permanganometri,

didapatkan

konsentrasi KMnO4 adalah 0,1 N dimana persen ralat


KMnO4 adalah 50 % setelah pentitrasian. Pada penentuan
kadar Fe didapat konsentrasi Fe sebesar 0,002 N, dan
persen ralat Fe adalah 99 % dari larutan sampel.

Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan


seperti H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah
dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4dengan

Mn2+

MnO4-

Day

3Mn2+

&

Underwood,

2H2O

1993

5MnO2

).
4H

Untuk menentukan kadar besi dengan terlebih dahulu


diubah

menjadi

ferrosulfat

baru

dioksidasi

ferrisulfat

menjadi

(anonim,2009.f)

5Fe3+ + Mn2+ + 4H2O2Fe2+ + MnO- + 8H+


Dari

reaksi

1.H2SO4

agar

ini

reaksi

digunakan:

cepat

dan

kuantatif.

2.H3PO4 agar warna Fe(III) luntur dengan pembentukan


kompleks

tak

berwarna.

Besarnya persen ralat yang didapat, dapat disebabkan


oleh banyak hal. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya

keadaan

seperti

ini

adalah

1.Dalam melakukan percobaan alat seperti buret sudah


tidak

bagus

lagi

2.Pembacaan
3.Zat

pentiter

normalitasnya

(tidak

buret
yang
sudah

tidak

digunakan
tidak

efesien).

tepat

teliti.

dalam
lagi

percobaan,
akibat

telah

terkontaminasi.
Didalam

permanganometri

diperlukan

larutan-larutan

seperti H2SO4 dan H3PO4 sebab dalam titrasi dengan


KMnO4

harus

dalam

suasana

asam.

Dalam

titrasi

permanganometri titrasi harus dilakukan dalam suasana


asam. Oleh karena itu, digunakan asam kuat yang dapat
mengionisasi

sempurna

dan

dapat

berfungsi

untuk

menciptakan suasuana asam yang stabil bukan sebagai


indikator karena KMnO4 bersifat autoindikator. Dalam hal
ini dipilih asam sulfat (H2SO4) sebagai pencipta suasana
asam yang paling baik dan juga berfungsi mengikat air
yang

akan

dipanaskan

supaya

menguap

BAB

KESIMPULAN

DAN

SARAN

5.1

Kesimpulan

Setelah melakukan percobaan, maka praktikan dapat


mengambil

kesimpulan

penting

yaitu

1.Permanganometri adalah metode titrasi menggunakan


larutan

KMnO4

sebagai

titran.

2.Larutan KMnO4 distandarisasi dengan asam oksalat dan


asam sulfat pada suhu 70-80oC, sehingga diperoleh
konsentrasi KMnO4 adalah sebesar 0,1 N dan persen ralat
sebesar
3.Kadar
sebesar

50
Fe

yang

0,002

terkandung
N

dan

%.
dalam

persen

sampel
ralat

adalah

99

%.

4.Dalam percobaan ini terdapat % ralat sebesar 99 %.


5.Larutan

KMnO4

autoindikator

merupakan
sehingga

larutan
dalam

yang

sifatnya

percobaan

Permanganometri ini tidak diperlukan indikator yang lain.


6.Titrasi Permanganometri berlangsung dalam keadaan
asam.
5.2

Saran

Dalam hal ini diharapkan kepada praktikan selanjutnya


supaya

1. Lebih teliti dan hati-hati dalam melakukan titrasi.


2. Untuk menghindari terontaminasinya larutan KMnO4
diusahakan agar percobaan lebih cepat dilaksanakan
3. Menjaga suhu larutan konstan pada saat melakukan
standarisasi

4. Teliti melihat dan mengukur volume KMnO4 yang


digunakan

pada

buret.

DAFTAR
Anonim.

PUSTAKA
2009a.

www.wikipedia.org.

Permanganonetri
9

September

http//2009

Anonim.

2009b.

Permanganometri

www.medicafarma.com
Anonim.

2009c.

September

Permanganonetri

www.rumahkimia.wordpress.com
Anonim.

2009d.
2009e.

2009

praktikum

11

September

Permanganonetri

www.bolgkita.info.fv
Anonim.

http//-

11
Analisa

http//2009
http//-

September

2009

permanganonetri

http//-

www.che-mistry.wordpress.org
11

September

Anonim.

2009f.

Laporan

2009

Permanganometri

http//-

sulae.blogspot.com
14
Day,R.A.

September
dan

Kuantitatif.

A.L.

Underwood.

Edisi

ke-4.

2009
1993.

Jakarta

Analisa
:

Kimia

Erlangga.

Harjadi,W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta :


Gramedia.
Mulyono,HAM.

2005.

Kamus

Kimia.

Cetakan

ke-3

Jakarta : Bumi aksara

Leishmaniasis
Definisi :Leishmaniasis adalah penyakit kulit dan selaput lendir
yang disebabkan oleh protozoa yang berasal dari genus

leishmania. Protozoa hidup sebagai parasit obligat intraseluler


pada manusia dan beberapa jenis mamalia.Penyakit ini dimulai
dengan tumbuhnya papula (bintil) yang membesar & pada
akhirnya menjadi ulkus puru atau luka bernanah tidak terasa
sakit (nyeri). Lesi dapat sembuh dengan sendirinya dalam
beberapa minggu/beberapa bulan dan terkadang dapat bertahan
setahun atau lebih.
Jenis

- Leishmania donovani yang menyebabkan leishmaniasis viseral


atau

kala

azar.

- Leishmania tropika yang menyebabkan leishmaniasis kulit atau


orental

sore

- Leishmania brasiliensis yang menyebabkan leishmaniasis


mukokutis

1.

atau

espundiz

Leishmania

donovani

Manusia merupakan hospes definitif dan menyebabkan penyakit


yang disebut leishmaniasis viseral, yang disebut juga kala azar
atau

tropical

splenomegaly

atau

dum-dum

fever.

Hospes

reservoarnya

adalah

anjing

Hopes perantara atau vektornya adalah Phlebotomus.


Parasit ini banyak terdapat di daerah daerah seperti Mediterania,
Asia Tengah, Rusia Selatan & China. Sedangkan species
vektornya adalah Phlebotomus major, P. perniciosus, P.
chinensis dan P.longicuspis. Varietas lainditemukan di daerah
India Barat dan Bangladesh dengan vektor P.argentipes. Varietas
yang lebih virulent ditemukan di afrika Timur dengan P. martini
dan

P.

orientalis.

~ Morfologi :
Pada manusia, parasit ini hidup intraseluler dalam darah, yaitu
dalam sel retikulo-endotel (RE) sbg stadium amastigot yang
disebut benda Leishmania Donovan.
Parasit ini berkembangbiak secara belah pasang , Ukurannya
sekitar 2 mikron.
Sel RE dapat terisi penuh oleh parasit, sehingga sel itu pecah.
~ Daur hidup

Stadium amastigot masuk kedalam vektor phlebotomus bersama


dengan darah yang dimakan. Parasit tinggal di usus tengah &
memperbanyak diri kmd mrka berubah menjadi bentuk langsing
disebut promastigot . Kemudian parasit bergerak ke eshopagus,
pharynx, dimana parasit kemudian diinjeksikan ke hospes
vertebrata, parasit langsung dimakan oleh sel makrofag &
membelah diri dengan cepat dan membunuh sel tersebut. Keluar
dari sel makrofag yang mati parasit dimakan oleh makrofag lain
dan multiplikasi lagi sehingga membunuh sel tersebut, hal tsb
menyebabkanmembunuh

sistem

reticuloendothelial.

~ Patologi
Masa inkubasi pada orang sekitar 10 bulan 1 tahun, biasanya 24 bulan. Penyakit biasanya berjalan lambat disertai ringan
diikuti dengan anemia, protrusi abdomen krn perbesaran limfa
dan hati & akhirnya mati dalam waktu 2-3 tahun.
gejala yang ditimbulkan antara lain:
-

pembesaran

(hepatmegali),

limfa

(limfadenofati),pembesaran

pembesaran

kelenjer

limfa

hati

(limfadenopati) dan anemia karena pembentukan sel darah


terdesak
-Timbul anokresia (tidak nafsu makan) dan
- terjadi kakeksia, sehingga penderita menjadi lemah sekali.
-

Daya

tahan

tubuh

menurun

~Pembrantasan :
Upaya pencegahan berbeda dari satu tempat ke tempat lain,
tergantung kepada kebiasaan dari hospes mamalia dan bionomic
vector phlebotomine. Begitu kebiasaan hospes ini diketahui,
maka langkah pencegahan yang tepat dapat dilakukan yang
meliputi:
Lakukan deteksi kasus secara sistematis dan obati penderita
yang ditemukan secara dini untuk semua bentuk leishmaniasis
dan merupakan salah satu cara penanggulangan terpenting untuk

mencegah lesi selaput lender memburuk, di belahan Bumi


bagian Barat dan mencegah bentuk recidivans di belahan
Bumi bagian Timur, pada situasi dimana reservoir penyakit
terutama atau hanya manusia.
Gunakan insektisida yang mempunyai dampak residual secara
rutin. Bersihkan timbunan sampah dan sarang lain untuk
phlebotomines

di

Belahan

Bumi

bagian

Timur.

~ Pencegahan
Musnahkan bintang sejenis tikus dan hancurkan lubang serta
sarang mereka dengan cara menggalinya dalam-dalam. Didaerah
tertentu perlu dilakukan pengawasan terhadap anjing.
Di Belahan Bumi bagian Barat, orang agar menghindari dating
ke daerah yang dihuni oleh lalat pasir seperti daerah yang
berhutan, terutama pada waktu sore hari. Jika harus dating ke
tempat tersebut gunakan pakaian pelindung yang memadai serta
gunakan repelan agar terhindar dari gigitan lalat pasir.

Lakukan manajemen lingkungan dengan baik dan bersihkan


hutan secara berkala.

Pencegahan
1. Musnahkan bintang sejenis tikus dan hancurkan lubang
serta sarang mereka dengan cara menggalinya dalamdalam.Didaerah tertentu perlu dilakukan pengawasan
terhadap anjing.
2. Di Belahan Bumi bagian Barat, orang agar menghindari
dating ke daerah yang dihuni oleh lalat pasir seperti daerah
yang berhutan, terutama pada waktu sore hari. Jika harus
dating ke tempat tersebut gunakan pakaian pelindung yang
memadai serta gunakan repelan agar terhindar dari gigitan
lalat pasir.
3. Lakukan manajemen lingkungan dengan baik dan
bersihkan hutan secara berkala.

Leishmania donovani ekstraseluler dan Intraseluler

Leishmaniasis tropika
Ada 2 varietas yg ditemukan oleh seorang peneliti Rusia yaitu :
Leismania tropica var. minor dan l.tropica var mayor.
1.Hospes definitifnya adalah manusia
2.Hospes reservoarnya adalah anjing, gerbil, dan binatang
pengerat lainnya
3. Parasit ini menyebabkan Leismaniasis kulit atau oriental
sore
~ Distribusi geografik
Daerah endemi penyakit ini terdapat di berbagai negeri sekitar
laut Tengah, laut hitam, Amerika Tengah dan selatan, negeri
arab, India, Pakistan & Sailan.
~ Daur hidup

Pada waktu serangga menghisap darah yang mengandung


amastigot, parasit memperbanyak diri dalam usus tengah
kemudian bergerak ke pharynk. Pd saat serangga menggigit
kembali mamalia lainnya maka parasit tersebut ditularkan.
Dalam tubuh hospes mamalia parasit memperbanyak diri dalam
retikuloendothelia dan sel Lympoid pada kulit.
~ Patologi
1. .Masa inkubasi tejadi beberapa hari sampai beberapa
bulan. Gejala pertama terlihat ada lesi kecil, timbul
papulae merah pd daerah gigitan.
2. Lesi tsb menghilang dalam beberapa minggu. Tetapi
biasanya berkembang terbentuk kerak kecil dengan ulcer
(tukak)yg tertutup dibawahnya
3. Dua ulcer yg berdekatan menyatu & terbentuk ulcer yg
lebih besar.
4. Bila tdk ada komplikasi ulcer akan sembuh dgn sendirinya
dalam waktu 2 bulan atau sampai setahun dengan
meninggalkan jaringan parut.

~ Pengobatan
1. Menggunakan salep yang mengandung pararomisin
2. Bila terjadi luka multipel atau luka yg sudah lanjut diberi
neostibosa

~ Diagnosis
1. Menemukan parasit dlm sediaan apus yang diambil dari
tepi ulkus atau dari sediaan biopsi
2. Pembiakan dalam medium N.N.N
3. Reaksi imunologi

B.
1.

Spesies Protozoa Jaringan


Leishmania donovani

a.

Klasifikasi

Phylum

: Sarcomastigophora

Subphylum

: Mastigophora

Ordo

: Kinetoplasitida

Famili

: Trypanosomatidae

Genus

: Leishmania

Spesies
b.

: Leismania donovani

Hospes dan Nama Penyakit

Manusia merupakan hospes definitif dan parasit ini dapat menyebabkan penyakit
yang disebut leismaniasis viseral, yang disebut juga kala azar atau tropical
splenomegaly atau dum-dum fever.Hospes reservoarnya adalah anjing. Di beberapa
daerah, penyakit ini dapat merupakan penyakit pada anjing yang sewaktu-waktu
dapat ditularkan kepada manusia. Lalat Phlebotomus merupakan hospes perantara
atau vektornya. Pada leismaniasis viseral atau kala azar didapatkan lima tipe kala
azar yang disesuaikan dengan letak geografik dan tipe strain dari vektornya. Kelima
macam penyakit kala azar itu adalah : 1) tipe India, yang menyerang orang dewasa
muda. Ini adalah tipe kala azar yang klasik dan tidak ditemukan pada hospes
reservoar (anjing); 2) Tipe Mediterania, yang menghinggapi anak balita dan
mempunyai hospes reservoar anjing atau binatang buas; 3) Tipe Cina, yang
biasanya menyerang anak balita tetapi dapat juga menyerang orang dewasa; 4)Tipe
Sudan, yang mengghinggapi anak remaja dan orang dewasa muda. Juga tidak
ditemukan pada anjing , tetapi mungkin mempunyai hospes reservoar binatang
buas; 5) Tipe Amerika Selatan, penyakit ini jarang terjadi (sporadis) dan dapat
menyerang semua umur.
c.

Morfologi

Pada manusia parasit ini hidup intraselular dalam darah, yaitu dalam sel darah
retikulo-endotel (RE) sebagai stadium amastigot yang disebut bendaLeishman
donovan. Parasit ini berkembang biak secara belah pasang dan berukuran kira kira
2 mikron. Sel RE dapat terisi penuh oleh parasit sehingga sel itu mudah pecah.

d.

Epidemiologi dan Distribusi Geografis

Disekitar laut tengah penyakit ini hanya terdapat pada anak balita dan disebut kala
azar infatil. Anjing merupakan hospes reservoar dan penting sebagai sumber
infeksi. Pada anjing kelainan terdapat pada kulit, dinamakan Hunde kala azar. Di
Eropa dan Amerika Selatan anjing sebagai binatang peleharaan juga merupakan
hospes reservoar, sedangkan di India penularan terjadi langsung antara manusia
dan manusia karena anjing tidak penting sebagai hospes reservoar. Daerah endemi
penyakit ini sangat luas, yaitu berbagai negara di Asia (India), Afrika, Eropa (sekitar
Laut Tengah), Amerika Tengah dan Selatan. Di Indonesia penyakit ini belum pernah
ditemukan.
e.

Siklus Hidup

Stadium amastigot sementara berada dalam peredaran darah tepi, kemudian


masuk atau mencari sel RE yang lain, sehingga stadium ini dapat ditemukan dalam
sel

RE

hati,limpa,sumsum

tulang

dan

kelenjar

limfe

viseral.

Di

lambung phlebotomus, stadium amastigot ini berubah menjadi stadium promastigot


yang

kemudian

bermigrasi

ke

probosis.Infeksi

terjadi

dengan

tusukan

lalat phlebotomus yang memasukan stadium promastigot melalui probosisnya ke


dalam badan manusia.

f.

Patologi dan Gejala Klinis

Oleh karena banyak sel RE yang rusak, maka tubuh berusaha membentuk sel-sel
baru, sehingga terjadi hiperplasi dan hipertrofi sel RE. Akibatnya terjadi pembesaran
limpa (splenomegali), pembesaran hati (hepatomegali), pembesaran kelenjar limfe
(limfadenopati) dan anemia oleh karena pembentukan sel darah terdesak. Masa
tunas penyakit ini belum pasti, biasanya berkisar antara 2-4 bulan. Setelah masa
tunas, timbul demam yang berlangsung 2-4 minggu mula-mula tidak teratur,

kemudian intermiten. Kadang-kadang demam menunjukkan dua puncak sehari


(double rise).
Demam

lalu

hilang,

tetapi

dapat

kambuh

lagi.

Lambat

laun

timbulsplenomegali dan hepatomegali. Kelenjar limfe di usus dapat di serang oleh


parasit ini.Pada infeksi berat di usus dapat terjadi diare dan disentri. Anemia dan
leukopenia terjadi sebagai akibat di serangnya sumsum tulang. Kemudian timbul
anoreksia (tidak nafsu makan) dan terjadi kakeksia (kurus kering), sehingga
penderita menjadi lemah sekali. Daya tahan tubuh menurun, sehingga mudah
terjadi infeksi sekunder. Sebagai penyulit antara lain dapat terjadi kankrum oris an
noma. Penyakit kala azar biasanya bersifat menahun. Sesudah gejala kala azar
surut

dapat

timbul Leismanoid

dermal,

yaitu

kelainan

pada

kulit

yang

disebut Leismaniasis pasca kala azar. Pada penderita AIDS (Acquired Immuno
Deficiency Syndrome) dan penderita kanker yang diobati dengan obat-obat
imunosuspresan leismania dapat hidup tanpa menimbulkan gejala leismaniasis
viseral.
g.

Diagnosis

Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis, yang kemudian ditegakan dengan :


1) menemukan parasit dalam sediaan darah langsung, biopsi hati, limpa, kelenjar
limfe dan pungsi sumsum tulang penderita, 2) pembiakan bahan tersebut dalam
medium N.N.N, 3) inokulasi bahan tersebut pada binatang percobaan, 4) reaksi
imunologi yaitu :
1. Uji aglutinasi langsung (DAT atau Direct Aglutination Test)
2. ELISA (Enzyme Linked Immuno sorbent Assay) untuk mendeteksi adanya zat anti
pada

penelitian

di

lapangan.

Untuk

mengidentifikasi

parasit

secara

cepat

dikembangkan zat anti monoklonal yang spesifik, yang juga dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya antigen guna keperluan diagnostik.
3. Western blot untuk mendeteksi antigen yang timbul selama infeksi.
4. Reaksi

rantai

polimerase

(PCR

atau Polymerase

Chain

Reaction)

untuk

mendiagnosis leismaniasis di lapangan dan leismaniasis pada penderita dengan

infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) karena uji serologi untuk mendeteksi
adanya zat anti tidak berguna banyak pada kasus-kasus ini.
h.

Pencegahan dan Pengobatan

Natrium antimonium glukonat, etilstibamin, diamidin, pentamidin, amfoterasin B


dan stilbamidin merupakan obat yang toksik tetapi sangat efektif untuk pengobatan
penyakit ini. Selain itu penderita memetlukan istirahat total selama menderita
penyakit akut, juga memerlukan banyak makanan yang mengandung kadar protein
tinggi dan vitamin. Tranfusi darah diberikan pada penderita

dengan anemia berat,

edema atau perdarahan pada selaput mukosa.


2. Leishmania tropica
a.

Klasifikasi

Phylum

: Sarcomastigophora

Subphylum

: Mastigophora

Ordo

: Kinetoplasitida

Famili

: Trypanosomatidae

Genus

: Leishmania

Spesies

: Leismania tropica

b.

Hospes dan Nama Penyakit

Manusia merupakan hospes definitif parasit ini dan yang berperan sebagai hospes
reserboar

adalah

anjing,

ferbil,

dan

binatang

pengerat

lainnya.

Hospes

perantaranya adalah lalat Phlebotomus. Parasit ini menyebabkan leismaniasis kulit


atau oriental sore. Ada dua tipe oriental sore yang disebabkan oleh strain yang
berlainan, yaitu : 1) leismaniasis kulit tipe kering atau urban yang menyebabkan
penyakit menahun; 2) leismaniasis kulit tipe basah atau rural yang menyebabkan
penyakit akut.
c.

Morfologi

Parasit hanya hidup di dalam sel RE di bawah kulit di dekat porte dentree, sebagai
stadium amastigot dan tidak menyebar ke bagian lain. Morfologi parasit ini dapat
dibedakan dari L. donovani. Bentuk promastigot yang merupakan bentuk infektif
dapat ditemukan pada lalat Phlebotomussebagai vektornya atau dalam biakan. L.
tropica dalam sediaan apus dari lesi kulit terdapat intraselular dalam leukosit, sel
monomer. Sel polinukleut dan sel epitel atau terdapat ekstraselular. Cara infeksi
sama seperti L. donovani.
d.

Epidemiologi dan Distribusi Geografis

Anjing, gerbil dan binatang pengerat lainnya merupakan sumber infeksi yang
penting bagi manusia. Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya transmisi antara
penderita dan vektor, dianjurkan untuk menutup lika pada penderita.
Daerah endemi penyakit ini terdapat di berbagai negeri sekitar Laut Tengah, Laut
Hitam, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, negeri-negeri Arab, India, Pakistan dan
Sailan. Di Indonesia penyakit ini belum pernah ditemukan.
e.

Siklus Hidup

Stadium amastigot sementara berada dalam peredaran tepi, kemudian masuk atau
mencari sel RE yang lain, sehingga stadium ini dapat ditemukan dalam sel RE
hati,limpa,sumsum tulang dan kelenjar limfe viseral. Di lambungphlebotomus,
stadium amastigot ini berubah menjadi stadium promastigot yang kemudian
bermigrasi ke probosis. Infeksi terjadi dengan tusukan lalatphlebotomus yang
memasukan stadium promastigot melalui probosisnya ke dalam badan manusia.

f.

Patologi dan Gejala Klinis

Masa tunas penyakit ini adalah 2 minggu sampai 3 tahun.Pada manusia penyakit ini
terbatas pada jaringan kulit dan kadang-kadang menyerang selaput mukosa. Pada
porte dentree terjadi hiperplasia sel RE yang mengandung stadium amastigot;
mula-mula terbentuk makula dan kemudian menjadi papula lalu pecah dan terjadi
suatu ulkus. Ulkus ini dapat sembuh sendiri dalam waktu beberapa bulan, kemudian
meniinggalkan parut yang kecil. Bila terjadi infeksi sekunder oleh bakteri , mungkin
timbul gejala umum seperti demam, menggigil dan bila ulkus sembuh dapat
meninggalkan parut yang besar. Ulkus pada leismaniasis kulit atau oriental sore
dapat sembuh sendiri dalam beberapa bulan , meskipun penderita tidak diobati.
g.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan: 1) menemukan parasit dlam sediaan apus yang


diambil dari tepi ulkus atau dari sediaan biopsi; 2) pembiakan dalam medium N.N.N;
3) reaksi imunologi.
h.

Pencegahan dan Pengobatan

Pada penelitian, obat-obat yang dapat menghasilkan kesembuhan pada leismaniasis


kulit adalah salep yang mengandung paromomisin, sedangkan alopurinol ternyata
juga efektif pada pengobatan leismaniasis kulit.

Pengobatanlokal dilakukan bila hanya ada satu atau dua ulkus saja. Bila terjadi luka
multipel atau luka yangsudah lanjut diberi neostibosan. Di daerah endemi bila
terdapat luka di daerah muka, dianjurkan tidak diberi pengobatan sampai waktu
tertentu supaya penderita mendapat kekebalan. Akan tetapi untuk daerah nonendemik pengobatan harus segera diberikan.
3. Leishmania brasiliensis
a.

Klasifikasi

Phylum

: Sarcomastigophora

Subphylum: Mastigophora
Ordo

: Kinetoplasitida

Famili

: Trypanosomatidae

Genus

: Leishmania

Spesies
b.

: Leismania brasiliensis

Hospes dan Penyakit

Manusia merupakan hospes definitif parasit ini dan lalat Phelobotomus berperan
sebagai

hospes

perantara.

Penyakit

yang

disebabkan

oleh

parasit

ini

disebut leismaniasis mukokutis atau leismaniasis Amerika atau penyakitEspundia.


Penyakit ini dapat dibagi menjadi tiga tipe menurut strain yang menyebabkannya,
yaitu : 1) tipe ulkus Meksiko dengan lesi yang terbatas pada telinga. Penyakitnya
menahun, parasitnya sedikit, ulkusnya kecil-kecil dan tidak menyebar ke mukosa
lainnya; 2) tipe uta, lesi kulit yang menyerupai oriental sore, pada lesi yang dini
lebih banyak ditemukan parasitnya daripada lesi yang sudah lama; penyakit ini
jarang menyebar ke selaput mukosa; dan 3) tipe Espundia, sering bersifat polipoid
dan ulkus dapat menyebar ke lapisan mukokutis dan kutis.
c.

Morfologi

Morfologi

parasit

ini

tidak

dapat

dibedakan

dari L.donovani danL.tropica.

stadium

amastigothidup dalam sel RE dibawah kulit pada porte dentree dan menyebar ke selaput
lendir (mukosa) yang berdekatan, seperti mulut, hidung dan tulang rawan telinga. Stadium
promastigot terdapat pada lalatPhelebotomus sebagai bentuk infektif. Bentuk ini juga ditemukan
dalam biakan N.N.N.
d.

Epidemiologi dan Distribusi Geografis

Di daerah endemi penyakit terbatas di daerah pinggiran hutan dan banyak terdapat
pada orang dewasa laki-laki yang bekerja di hutan, sedangkan di Brazil sepertiga
penderitanya adalah anak-anak. Diduga, bahwa hospes reservoar adalah binatang
liar. Anjing kadang-kadang mengandung parasit ini tetapi tidak menimbulkan
kelainan pada tubuh binatang tersebut.
Penyakit ini ditemukan di Amerika Tengah dan Selatan (mulai dari Guatemala
sampai ke Argentina Utara dan Paraguay). Di Indonesia penyakit ini belum pernah
ditemukan.
e.

Siklus Hidup

Stadium amastigot sementara berada dalam peredaran darah tepi, kemudian


masuk atau mencari sel RE yang lain, sehingga stadium ini dapat ditemukan dalam
sel

RE

hati,limpa,sumsum

tulang

dan

kelenjar

limfe

viseral.

Di

lambung

phlebotomus, stadium amastigot ini berubah menjadi stadiumpromastigot yang


kemudian

bermigrasi

ke probosis.Infeksi

terjadi

dengan

tusukan

lalat phlebotomus yang memasukan stadium promastigot melalui probosisnya ke


dalam badan manusia.

f.

Patologi dan Gejala Klinis

Masa tunas penyakit iniberlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan. Pada
porte dentree terjadi hiperplasi sel RE yang mengandung stadium amastigot.
Kemudian timbul makula dan papula, setelah itu papula pecah dan terjadi ulkus.
Parasit yang keluar bersama sekret ulkus menyebabkan ulkus baru atau granuloma.
Saluran limfe tersumbat dan terjadi nekrosis. Infeksi sekunder oleh bakteri
merupakan penyulit, sehingga terjadi destruksi tulang rawan padaa hidung atau
telinga. Penyakit ini berlangsung bertahun-tahun dan bila tidak diobati dapat
sembuh sendiri. Ulkus dapat sembuh sendiri dengan meeninggalkan parut.
Lesi yang terjadi pada tipe uta, sama bentuknya dengan tipe Meksiko, hanya
predileksi pada telinga kurang dan jarang menghinggapi selaput lendir. Masa tunas
pada tipe Espundia adalah 2 - 3 bulan dan biasanya lesi pertama terjadi pada kulit
dan mungkin juga terdapat di selaput lendir, baru setelah kira-kira satu
tahun terjadi lesi sekunder yang dapat menyebabkan cacat.
g.

Dignosis

Diagnosis ditegakkan dengan : 1) menemukan parasit dalam sediaan apus atau


sediaan biopsi dari tepi ulkus; 2) pembiakan dalam medium N.N.N; 3) reaksi
imunologi.

h.

Pencegahan dan pengobatan

Di Tunisia penanggulangan leismaniasis kulit dilakukan dengan membasmi koloni


gerbil (hospes reservoar) dan menghilangkan sumber makanan gerbil dengan
membuang semak-semak serta mencegah pertumbuhannya kembali dengan cara
menanami pohon di tempat tersebut. Di Peru penanggulangan leismaniasis kulit
meliputi pemakaian insektisida di daerah perumahan dan sekitarnya yang
merupakan fokus transmisi, serta memakai pakaian, gelang, topi yang telah dicelup
dalam repelen dilapangan yang merupakan fokus infeksi.

Anda mungkin juga menyukai