Anda di halaman 1dari 30

BAB III

ANALISIS PROFIL
3.1 Pendahuluan
3.1.1 Maksud dan Tujuan
Maksud dari pratikum analisis profil adalah salah satu cara untuk menentukan
lingkungan pengendapan dan mendapatkan gambaran paleogeografinya. Metode yang
digunakan sebenarnya adalah metode stratigrafi asli, yaitu dengan menganalisis urut-urutan
vertikal dari suatu sikuen. Analisis profil sangat penting didalam mempelajari lingkungan
pengendapan. Suatu lingkungan tertentu akan mempunyai mekanisme pengendapan yang
tertentu pula. Karenanya urut-urutan secara vertikal (dalam kondisi normal) akan mempunyai
karakteristik tersendiri. Dengan demikian dari suatu profil akan dapat diketahui
perkembangan pengendapan yang terjadi dan sekaligus dapat ditafsirkan perkembangan
cekungannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagian alir berikut:

Gambar 1. Diagram alir analisis cekungan (Potter & Pettijohn, 1977)

Gambar 1. Diagram alir analisis cekungan (Potter & Pettijohn, 1977)

3.2 Dasar Teori


3.2.1 Geologi Regional Sumatera Tengah
Tektonik Regional
Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil
hidrokarbon terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra tengah
merupakan cekungan belakang busur.
Cekungan Sumatra tengah ini relatif memanjang Barat laut-Tenggara, dimana
pembentukannya dipengaruhi oleh adanya subduksi lempeng Hindia-Australia dibawah
lempeng Asia (gambar 1). Batas cekungan sebelah Barat daya adalah Pegunungan Barisan
yang tersusun oleh batuan pre-Tersier, sedangkan ke arah Timur laut dibatasi oleh paparan
Sunda. Batas tenggara cekungan ini yaitu Pegunungan Tigapuluh yang sekaligus memisahkan
Cekungan Sumatra tengah dengan Cekungan Sumatra selatan. Adapun batas cekungan
sebelah barat laut yaitu Busur Asahan, yang memisahkan Cekungan Sumatra tengah dari
Cekungan Sumatra utara (gambar 2).

Gambar 1. Peta pergerakan lempeng Daerah Sumatra dan kawasan Asia Tenggara
lainnya pada masa kini
Proses subduksi lempeng Hindia-Australia menghasilkan peregangan kerak di
bagian bawah cekungan dan mengakibatkan munculnya konveksi panas ke atas dan diapirdiapir magma dengan produk magma yang dihasilkan terutama bersifat asam, sifat magma
dalam dan hipabisal. Selain itu, terjadi juga aliran panas dari mantel ke arah atas melewati
jalur-jalur sesar. Secara keseluruhan, hal-hal tersebutlah yang mengakibatkan tingginya heat
flow di daerah cekungan Sumatra tengah (Eubank et al., 1981 dalam Wibowo, 1995).

Gambar 2. Lokasi Cekungan Sumatra tengah dan batas-batasnya


Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di cekungan Sumatra tengah
adalah adanya Sesar Sumatra yang terbentuk pada zaman kapur. Subduksi lempeng yang
miring dari arah Barat daya pulau Sumatra mengakibatkan terjadinya strong dextral
wrenching stress di Cekungan Sumatra tengah (Wibowo, 1995). Hal ini dicerminkan oleh
bidang sesar yang curam yang berubah sepanjang jurus perlapisan batuan, struktur sesar naik

dan adanya flower structure yang terbentuk pada saat inversi tektonik dan pembalikanpembalikan struktur (gambar 3). Selain itu, terbentuknya sumbu perlipatan yang searah jurus
sesar dengan penebalan sedimen terjadi pada bagian yang naik (inverted) (Shaw et al., 1999).
Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola yang hampir sama
dengan cekungan Sumatra Selatan, dimana pola struktur utama yang berkembang berupa
struktur Barat laut-Tenggara dan Utara-Selatan (Eubank et al., 1981 dalam Wibowo, 1995).
Walaupun demikian, struktur berarah Utara-Selatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur
Barat lautTenggara.
Elemen tektonik yang membentuk konfigurasi Cekungan Sumatra tengah
dipengaruhi adanya morfologi High Low pre-Tersier. Pada gambar 4 dapat dilihat pengaruh
struktur dan morfologi High Low terhadap konfigurasi basin di Cekungan Sumatra tengah
(kawasan Bengkalis Graben), termasuk penyebaran depocenter dari graben dan half graben.
Lineasi Basement Barat laut-Tenggara sangat terlihat pada daerah ini dan dapat ditelusuri di
sepanjang cekungan Sumatra tengah. Liniasi ini telah dibentuk dan tereaktivasi oleh
pergerakan tektonik paling muda (tektonisme Plio-Pleistosen). Akan tetapi liniasi basement
ini masih dapat diamati sebagai suatu komponen yang mempengaruhi pembentukan formasi
dari cekungan Paleogen di daerah Cekungan Sumatra tengah.
Sejarah tektonik cekungan Sumatra tengah secara umum dapat disimpulkan menjadi beberapa
tahap, yaitu :
1. Konsolidasi Basement pada zaman Yura, terdiri dari sutur yang berarah Barat lautTenggara.
2. Basement terkena aktivitas magmatisme dan erosi selama zaman Yura akhir dan zaman
Kapur.
3. Tektonik ekstensional selama Tersier awal dan Tersier tengah (Paleogen) menghasilkan
sistem graben berarah Utara-Selatan dan Barat laut-Tenggara. Kaitan aktivitas tektonik ini
terhadap paleogeomorfologi di Cekungan Sumatra tengah adalah terjadinya perubahan
lingkungan pengendapan dari longkungan darat, rawa hingga lingkungan lakustrin, dan
ditutup oleh kondisi lingkungan fluvial-delta pada akhir fase rifting.
4. Selama deposisi berlangsung di Oligosen akhir sampai awal Miosen awal yang
mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok Sihapas, tektonik Sumatra relatif
tenang. Sedimen klastik diendapkan, terutama bersumber dari daratan Sunda dan dari arah
Timur laut meliputi Semenanjung Malaya. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut
Pulau Sumatra menuju cekungan, diakomodir oleh adanya struktur-struktur berarah UtaraSelatan. Kondisi sedimentasi pada pertengahan Tersier ini lebih dipengaruhi oleh fluktuasi
muka air laut global (eustasi) yang menghasilkan episode sedimentasi transgresif dari

kelompok Sihapas dan Formasi Telisa, ditutup oleh episode sedimentasi regresif yang
menghasilkan Formasi Petani.
5. Akhir Miosen akhir volkanisme meningkat dan tektonisme kembali intensif dengan rejim
kompresi mengangkat pegunungan Barisan di arah Barat daya cekungan. Pegunungan
Barisan ini menjadi sumber sedimen pengisi cekungan selanjutnya (later basin fill). Arah
sedimentasi pada Miosen akhir di Cekungan Sumatra tengah berjalan dari arah selatan
menuju utara dengan kontrol struktur-struktur berarah utara selatan.
6. Tektonisme Plio-Pleistosen yang bersifat kompresif mengakibatkan terjadinya inversiinversi struktur Basement membentuk sesar-sesar naik dan lipatan yang berarah Barat
laut-Tenggara. Tektonisme Plio-Pleistosen ini juga menghasilkan ketidakselarasan
regional antara formasi Minas dan endapan alluvial kuarter terhadap formasi-formasi di
bawahnya.

Stratigrafi Regional
Proses sedimentasi di Cekungan Sumatra tengah dimulai pada awal tersier
(Paleogen), mengikuti proses pembentukan cekungan half graben yang sudah berlangsung
sejak zaman Kapur hingga awal tersier.
Konfigurasi basement cekungan tersusun oleh batuan-batuan metasedimen berupa
greywacke, kuarsit dan argilit. Batuan dasar ini diperkirakan berumur Mesozoik. Pada
beberapa tempat, batuan metasedimen ini terintrusi oleh granit (Koning & Darmono, 1984
dalam Wibowo, 1995).
Secara umum proses sedimentasi pengisian cekungan ini dapat dikelompokkan
sebagai berikut :

Rift (Siklis Pematang)


Secara keseluruhan, sedimen pengisi cekungan pada fase tektonik ekstensional (rift)
ini dikelompokkan sebagai Kelompok Pematang yang tersusun oleh batulempung, serpih
karbonan, batupasir halus dan batulanau aneka warna. Lemahnya refleksi seismik dan
amplitudo yang kuat pada data seismik memberikan indikasi fasies yang berasosiasi dengan
lingkungan lakustrin.
Pengendapan pada awal proses rifting berupa sedimentasi klastika darat dan lakustrin
dari Lower Red Bed Formation dan Brown Shale Formation. Ke arah atas menuju fase late
rifting, sedimentasi berubah sepenuhnya menjadi lingkungan lakustrin dan diendapkan
Formasi Pematang sebagai Lacustrine Fill sediments.

a) Formasi Lower Red Bed


Tersusun oleh batulempung berwarna merah hijau, batulanau, batupasir kerikilan
dan sedikit konglomerat serta breksi yang tersusun oleh pebble kuarsit dan filit. Kondisi
lingkungan pengendapan diinterpretasikan berupa alluvial braid-plain dilihat dari
banyaknya muddy matrix di dalam konglomerat dan breksi
b) Formasi Brown Shale
Formasi ini cukup banyak mengandung material organik, dicirikan oleh warna yang
coklat tua sampai hitam. Tersusun oleh serpih dengan sisipan batulanau, di beberapa tempat
terdapat selingan batupasir, konglomerat dan paleosol. Ketebalan formasi ini mencapai
lebih dari 530 m di bagian depocenter.
Formasi ini diinterpretasikan diendapkan di lingkungan danau dalam dengan kondisi
anoxic dilihat dari tidak adanya bukti bioturbasi. Interkalasi batupasir batupasir
konglomerat diendapkan oleh proses fluvial channel fill. Menyelingi bagian tengah formasi
ini, terdapat beberapa horison paleosol yang dimungkinkan terbentuk pada bagian
pinggiran/batas danau yang muncul ke permukaan (lokal horst), diperlihatkan oleh rekaman
inti batuan di komplek Bukit Susah (gambar 6).
Secara tektonik, formasi ini diendapkan pada kondisi penurunan cekungan yang
cepat sehingga aktivitas fluvial tidak begitu dominan.
c) Formasi Coal Zone
Secara lateral, formasi ini dibeberapa tempat equivalen dengan Formasi Brown Shale.
Formasi ini tersusun oleh perselingan serpih dengan batubara dan sedikit batupasir.
Lingkungan pengendapan dari formasi ini diinterpretasikan berupa danau dangkal
dengan kontrol proses fluvial yang tidak dominan. Ditinjau dari konfigurasi cekungannya,
formasi ini diendapkan di daerah dangkal pada bagian aktif graben menjauhi depocenter
(gambar 6).
d) Formasi Lake Fill
Tersusun oleh batupasir, konglomerat dan serpih. Komposisi batuan terutama berupa
klastika batuan filit yang dominan, secara vertikal terjadi penambahan kandungan litoklas
kuarsa dan kuarsit. Struktur sedimen gradasi normal dengan beberapa gradasi terbalik
mengindikasikan lingkungan pengendapan fluvial-deltaic.
Formasi ini diendapkan secara progradasi pada lingkungan fluvial menuju delta pada
lingkungan danau. Selama pengendapan formasi ini, kondisi tektonik mulai tenang dengan
penurunan cekungan yang mulai melambat (late rifting stage). Ketebalan formasi mencapai
600 m.

e) Formasi Fanglomerate
Diendapkan disepanjang bagian turun dari sesar sebagai seri dari endapan aluvial.
Tersusun oleh batupasir, konglomerat, sedikit batulempung berwarna hijau sampai merah.
Baik secara vertikal maupun lateral, formasi ini dapat bertransisi menjadi formasi Lower
Red Bed, Brown Shale, Coal Zone dan Lake Fill.
Di beberapa daerah sepertihalnya di Sub-Cekungan Aman, dua formasi terakhir
(Lake Fill dan Fanglomerat) dianggap satu kesatuan yang equivalen dengan Formasi
Pematang berdasarkan sifat dan penyebarannya pada penampang seismik.

Sag
Secara tidak selaras diatas Kelompok Pematang diendapkan sedimen Neogen. Fase
sedimentasi ini diawali oleh episode transgresi yang diwakili oleh Kelompok Sihapas dan
mencapai puncaknya pada Formasi Telisa.
(Siklis Sihapas transgresi awal)
Kelompok Sihapas yang terbentuk pada awal episode transgresi terdiri dari Formasi
Menggala, Formasi Bangko, Formasi Bekasap dan Formasi Duri. Kelompok ini tersusun
oleh batuan klastika lingkungan fluvial-deltaic sampai laut dangkal. Pengendapan
kelompok ini berlangsung pada Miosen awal Miosen tengah.
a) Formasi Menggala
Tersusun oleh batupasir konglomeratan dengan ukuran butir kasar berkisar dari
gravel hingga ukuran butir sedang. Secara lateral, batupasir ini bergradasi menjadi
batupasir sedang hingga halus. Komposisi utama batuan berupa kuarsa yang dominan,
dengan struktur sedimen trough cross-bedding dan erosional basal scour. Berdasarkan
litologi penyusunnya diperkirakan diendapkan pada fluvial-channel lingkungan braided
stream.
Formasi ini dibedakan dengan Lake Fill Formation dari kelompok Pematang bagian
atas berdasarkan tidak adanya lempung merah terigen pada matrik (Wain et al., 1995).
Ketebalan formasi ini mencapai 250 m, diperkirakan berumur awal Miosen bawah.
b) Formasi Bangko
Formasi ini tersusun oleh serpih karbonan dengan perselingan batupasir halussedang. Diendapkan pada lingkungan paparan laut terbuka. Dari fosil foraminifera
planktonik didapatkan umur N5 (Blow, 1963). Ketebalan maksimum formasi kurang lebih
100 m.

c) Formasi Bekasap
Formasi ini tersusun oleh batupasir masif berukuran sedang-kasar dengan sedikit
interkalasi serpih, batubara dan batugamping. Berdasarkan ciri litologi dan fosilnya,
formasi ini diendapkan pada lingkungan air payau dan laut terbuka. Fosil pada serpih
menunjukkan umur N6 N7. Ketebalan seluruh formasi ini mencapai 400 m.
d) Formasi Duri
Di bagian atas pada beberapa tempat, formasi ini equivalen dengan formasi Bekasap.
Tersusun oleh batupasir halus-sedang dan serpih. Ketebalan maksimum mencapai 300 m.
Formasi ini berumur N6 N8.
(Formasi Telisa transgresi akhir)
Formasi Telisa yang mewakili episode sedimentasi pada puncak transgresi tersusun
oleh serpih dengan sedikit interkalasi batupasir halus pada bagian bawahnya. Di beberapa
tempat terdapat lensa-lensa batugamping pada bagian bawah formasi. Ke arah atas, litologi
berubah menjadi serpih mencirikan kondisi lingkungan yang lebih dalam. Diinterpretasikan
lingkungan pengendapan formasi ini berupa lingkungan Neritik Bathyal atas.
Secara regional, serpih marine dari formasi ini memiliki umur yang sama dengan
Kelompok Sihapas, sehingga kontak Formasi Telisa dengan dibawahnya adalah transisi
fasies litologi yang berbeda dalam posisi stratigrafi dan tempatnya. Ketebalan formasi ini
mencapai 550 m, dari analisis fosil didapatkan umur N6 N11.
(Formasi Petani regresi)
Tersusun oleh serpih berwarna abu-abu yang kaya fosil, sedikit karbonatan dengan
beberapa lapisan batupasir dan batulanau. Secara vertikal, kandungan tuf dalam batuan
semakin meningkat.
Selama pengendapan satuan ini, aktivitas tektonik kompresi dan volkanisme kembali
aktif (awal pengangkatan Bukit Barisan), sehingga dihasilkan material volkanik yang
melimpah. Kondisi air laut global (eustasi) berfluktuasi secara signifikan dengan penurunan
muka air laut sehingga terbentuk beberapa ketidakselarasan lokal di beberapa tempat.
Formasi ini diendapkan pada episode regresif secara selaras diatas Formasi Telisa.
Walaupun demikian, ke arah timur laut secara lokal formasi ini memiliki kontak tidak
selaras dengan formasi di bawahnya. Ketebalan maksimum formasi ini mencapai 1500 m,
diendapkan pada Miosen tengah Pliosen.

Inversi
Pada akhir tersier terjadi aktivitas tektonik mayor berupa puncak dari pengangkatan
Bukit Barisan yang menghasilkan ketidakselarasan regional pada Plio-Pleistosen. Aktivitas

tektonik ini mengakibatkan terjadinya inversi struktur sesar turun menjadi sesar naik. Pada
fase tektonik inversi ini diendapkan Formasi Minas yang tersusun oleh endapan darat dan
aluvium berupa konglomerat, batupasir, gravel, lempung dan aluvium berumur Pleistosen
Resen.

seismik yang memberikan ilustrasi konfigurasi half graben depocenter Sumai dan bagian yang tererosi

Gambar 3 (a) Pe

gi High Low (Moulds, 1989)Gambar 4 konfigurasi Cekungan Sumatra tengah bagian tenggara (kawasan Bengkalis) yang memperlihatkan dominasi struktur dan

gambar 5. Stratigrafi daerah Teso-Cenako Sumatra tengah dengan variasi level eustasi
(modifikasi dari Haq et al., 1988 dalam Wain et al., 1995). RSL fall pada 29 jtl
sebanding dengan akhir deposisi Kelompok Pematang.

Gambar 6. litostratigrafi Kelompok Pematang dan asosiasi fasies. (a) distribusi vertikal dan lateral litofasies. Batubara swamp pada bagian yang
turun (flexure) dan ketidakselarasan lokal berkembang pada daerah yang aktif. (b) data core dangkal di daerah Bukit Susah. al., 1995).

gambar 7. konfigurasi cekungan saat ini dari half graben Cenako. (a) sebelum
diinterpretasi (b) setelah diinterpretasi, memperlihatkan sesar-sesar dan
geometeri cekungan (Wain et al., 1995).

3.2.2 Fasies dan Lingkungan Pengendapan

Fasies merupakan kenampakan suatu tubuh batuan yang dikarakteristikkan oleh


kombinasi dari litologi, struktur fisik dan biologi yang merupakan aspek pembedanya dari
tubuh batuan diatas, dibawah ataupun disampingnya (Walker, 1992). Suksesi fasies
merupakan suatu bagian vertikal dari fasies yang dicirikan dengan perubahan pada satu atau
beberapa parameter seperti ukuran butir, maupun struktur sedimen. Sedangkan assosiasi fasies
merupakan suatu kombinasi dari dua atau lebih fasies yang membentuk tubuh batuan dalam
berbagai skala dan kombinasi yang secara genetik saling berhubungan pada suatu lingkungan
pengendapan (Mutti & Ricci Luchi, 1972).
Model fasies dapat digambarkan sebagai suatu pandangan umum dari suatu sistem
pengendapan yang terdiri dari beberapa contoh individual dari sedimen saat ini (recent) dan
sedimen lampau (ancient) (Walker, 1992). Secara umum model fasies dapat dibagi menjadi
dua kelompok utama yaitu model fasies terrigenous clastic dan model fasies karbonat. dan
evaporit. Model fasies terrigenous clastic dibagi menjadi beberapa subkelompok berdasarkan

endapannya : sistem pengendapan eolian, glacial, vulkanik, kipas alluvial, fluvial, delta,
estuarin, lagoon. Tidal, turbidit dan kipas bawah laut. Sedangkan model fasies karbonat dan
evaporit dibagi menjadi subkelompok yaitu shallow platform, pertidal carbonates, reefs,
mound, dan evaporit.

Gambar 2. Parameter utama yang digunakan dalam pengelompokan


fasies sedimen (Homewood dan Lafont, 2000)
Fasies dan lingkungan pengendapan memiliki hubungan yang sangat erat, hubungan
tersebut pertama kali dikemukan oleh Walther (1984) yang dikenal sebagai hukum Walther,
yaitu kenampakan fasies sikuen secara vertikal dapat dijadikan interpretasi penyebaran
kearah lateralnya (Middleton, 1973 dan Selley, 1985).
Menurut Boggs (1995), lingkungan pengendapan adalah suatu tempat yang memiliki
kondisi fisik, kimia, dan biologi tertentu yang bersifat statis dan dinamis, sedangkan fasies
pengendapan yang merupakan kenampakan suatu tubuh batuan sedimen yang memiliki

kekhasan sifat fisik, kimia dan biologi sebagai hasil atau produk dari lingkungan pengendapan
tertentu (Selley, 1985).

Fasies

perbandingan sedimen yang ada sekarang


dengan batuan sedimen yang lebih tua

Fasies Associations
Facies Succetions

Fasies Models

Lingkungan pengendapan

dikombinasikan dengan proses

SISTEM LINGKUNGAN
PENGENDAPAN

model ini
mengkarakterisasikan

Gambar 2. Hubungan antara Facies, lingkungan pengendapan


dan sistem pengendapan (Walker, 1992)

Klasifikasi Fasies
Klasifikasi Fasies dilakukan berdasarkan sifat fisik, kimia dan biologis batuan
Karakteristik yang biasa menjadi acuan yaitu struktur sedimen dalam tubuh batuan karena
berkaitan erat dengan proses transportasi yang dapat menjelaskan setting dan lingkungan
pengendapannya. Karekteristik kimia biasanya didasarkan dari komposisi batuan seperti
mineral yang dikandungnya dan aspek biologi biasanya didasarkan dari keberadaan fosil jejak
seperti burrow dan rootlet. Berikut ini beberapa klasifikasi fasies dari peneliti sebelumnya.

Tabel 2.4 Klasifikasi Menurut Andrew D. Miall (1978)


Facies
Facies

Sedimentary Structures

Interpretation

Code
Gms

Massive, matrix

Grading

Debris flow deposits

Gm

supported gravel
Massive or crudely

Horizontal bedding,

Longitudinal bars, lag deposits,

Gt
Gp

bedding gravel
Gravel, stratified
Gravel, stratified

imbrications
Trough cross beds
Planar cross beds

sieve deposit
Minor channel fills
Longitudinal bars, deltaic

St

Sand, medium to very

Solitary or grouped

growths from older bar remnats


Dunes (lower flow regime)

Sp

coarse, may be pebbly


Sand, medium to very

trough cross beds


Solitary or grouped

Linguoid transverse bars, sand

Sr
Sh

coarse, may be pebbly


Sand, very fine to coarse
Sand, very fine to very

planer cross beds


Ripple cross lamination
Horizontal lamination

waves (lower flow regime)


Ripples (lower flow regime)
Planer bed flow (upper flow

coarse may be pebbly

parting or streaming

regime)

SI

Sand, very fine to very

lineation
Low angle ( < 100 )

Scour fills, wash-out dunes,

Se

coarse may be pebbly


Erosional scours with

cross beds
Crude cross bedding

antidunes
Scour fills

Ss

intraclasts
Sand, fine to very

Broad, shallow scours

Scour fills

FI

coarse, may be pebbly


Sand, silt mud deposits

Fine lamination, very

Overbank or waning flood

Silt, mud
Mud

small ripples
Laminated to massive
Massive, with

Backswamp deposit
Backswamp pound deposits

Mud, silt

freshwater mollusks
Massive, desiccation

Overbank or drape deposits

Coal, carbonaceous mud


Carbonate

cracks
Plant, mud films
Pedogenic features

Swamp deposits
Paleosol

Fsc
Fcf
Fm
C
P

Tabel 2.3 Karakteristik Fisika dari Channel Sand Bodies (Reineck&Singh, 1980)

Characteristic Fluvial

Tidal channel

Submarine

Deltaic

channel
Fine course

Fine-course

channel
No-pattern

distributary
Fine-medium

Sorting

Good

medium
Good

Fair-Good

little pattern
Good

Lithology

Sand clay

Sand clay

Sand clay lens

Fine-medium

drape

layers

Texture

Structures

sand silt layers

Current ripple, Planar X-

Curretnt

Planar X-beds,

laminated

Beds, Facing

ripple,

facing

festton, X-

upstream,

laminated

downstream,

Trace fossil

Beds
Very rare

current ripples
Vertical

Common

laminated
Rare burrows

Lag deposit

burrow
Wood clay

burrows
Wood, shells

burrows
Some clay

Wood clay

Sand

clast
10-60 ft

clay clasts
50-200 ft

clast
100-500 ft

cast
50-500 ft

thickness
Length

10-100 m

1-5 m

1-20 m

20-200 m

Width

1-30 m

1-30 m

1-5 m

1-3 m

Lingkungan Pengendapan
Lingkungan Pengendapan Lakustrin

Lingkungan pengendapan lakustrin atau danau, terbentuk ditempat dengan topografi


yang rendah dan distribusi air atau material sedimen kedalamnya. Material sedimen di
lingkungan lakustrin umumnya berasal dari sungai dan/atau evaporasi di permukaan.
Lakustrin merupakan daerah yang tidak berhubungan dengan laut dan umumnya merupakan
lingkungan pengendapan dari sedimen klastik walaupun juga terdapat karbonat da material
evaporit.

Gambar 6.30 Lingkungan Pengendapan Lakustrin


Fasies yang terendapkan pada lingkungan ini dikontrol oleh kedalaman air, pasokan
sedimen dan kimia air. Lingkungan lakustrin yang dangkal biasanya terendapkan batuan
sedimen kasar meskipun karbonat dan endapan evaporit dapat juga mungkin terdapat. Di
lingkungan yang lebih dalam terendapkan material suspensi dan arus turbidit yang berasal
dari batas dengan wilayah lakustrin dangkal.
Lingkungan pengendapan merupakan tempat mengendapnya material sedimen beserta
kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme pengendapan tertentu
(Gould, 1972). Lingkungan pengendapan terbagi menjadi 2 macam yaitu continental dan
transisi. Membahas tentang lingkungan pengendapan, akan ada parameter-parameter yang
berkaitan dengan proses terbentuknya lingkungan pengendapan tersebut, yaitu: parameter
fisik, kimia, dan biologi. Pengendapan atau sedimentasi tersebut disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain: pengendapan oleh angin, air, gletser.

Salah satu bagian dari lingkungan pengendapan yaitu beach atau pantai. Kawasan pantai
merupakan kawasan transisi dari lahan daratan dan perairan laut. Proses pembentukan
kawasan pantai sangat dipengaruhi oleh gaya-gaya dinamis yang berada disekitarnya. Gayagaya dinamis utama dan dominan yang mempengaruhi kawasan pantai adalah gaya
gelombang.
Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya terdiri dari
material pasir. Ukuran dan komposisi material di pantai sangat bervariasi tergantung pada
perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang
ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut
material material ke laut yang dalam. Ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi
pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas
permukaan laut. Akumulasi material itu disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan
semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan membetuk penghalang
pantai (barrier beach).

Terdapat beberapa tipe lingkungan pengendapan yang ada di bumi sekarang :


Lingkungan Pengendapan Transisi
Lingkungan pengendapan transisi adalah semua lingkungan pengendapan yang berada atau
dekat pada daerah peralihan darat dengan laut.
1.

Delta: endapan berbentuk kipas, terbentuk ketika sungai mengaliri badan air yang
diam seperti laut atau danau. Pasir adalah endapan yang paling umum ditemui.

2.

Pantai dan barrier islands: didominasi oleh pasir dengan fauna marine. Barrier
islands terpisah dari pulau utama oleh lagoon. Umumnya berasosiasi dengan
endapan tidal flat.

Gambar 5. Lingkungan pengendapan pantai


3.

Lagoons: badan dari air yang menuju darat dari barrier islands. Lagoons dilindungi
dari gelombang laut yang merusak oleh barrier islands dan mengandung sediment
berbutir lebih halus dibandingkan dengan yang ada di pantai (biasanya lanau dan
lumpur). Lagoons juga hadir di balik reef atau berada di pusat atoll.

4.

Tidal flats: membatasi lagoons, secara periodik mengalami pasang surut (biasanya 2
kali sehari), mempunyai relief yang rendah, dipotong oleh saluran

yang

bermeander. Terdiri dari lapisan-lapisan lempung, lanau, pasir halus. Stromatolit dapat
hadir jika kondisi memungkinkan.

Gambar 5. Lingkungan pengendapan pasang surut


.Facies Delta
Delta merupakan proses akumulasi sedimen (dari darat), terutama akumulasi pada
muara sungai yang terdapat terjadi di pantai maupun di danau. Secara umum akan mempunyai

asosiasi antara endapan darat seperti perlapisan pada facies fluvial dan perlapisan pada laut
terbuka.
Syarat terbentuknya delta antara lain :

Jumlah di material yang dibawah sungai sebagai hasil erosi cukup

banyak.

Bahan sedimentasi tidak terganggu oleh air laut.

Arus sungai pada bagian muara mempunyai kecepatan minimum.

Laut pada muara cukup tenang.

Tidak ada gangguan tektonik.

Asosiasi Fasies
Setelah semua perlapisan di dalam suatu rangkaian ditentukan fasiesnya, selanjutnya
pola distribusi fasies-fasies ini dapat diselidiki. Contoh (Gambar 5.2), apakah perlapisan
bioturbated mudstone lebih umum terdapat bersamaan dengan (di atas maupun di bawahnya)
shelly fine sandstone atau medium sandstone with rootlets ? manakah dari tiga di atas yang
terdapat dengan fasies batubara ? Ketika berusaha menentukan asosiasi fasies, sangat
berguna jika mengingat proses pembentukannya masing-masing. Dari empat contoh fasies
yang dicontohkan, bioturbated mudstone dan shelly fine sandstone keduanya mungkin
mewakili pengendapan di lingkungan subaqueous, kemungkinan laut, sedangkan medium
sandstone with rootlets dan coal keduanya terbentuk di setting subaerial. Oleh karena itu
dua asosiasi fasies dapat ditentukan jika, diperkirakan pasangan fasies pengendapan
subaqueous cenderung terdapat bersamaan, begitu juga pasangan fasies subaerial. Fasies yang
jelas, dapat diinterpretasikan proses-proses yang mengawali pembentukan sedimennya.
Sebagaimana dicatat di atas, banyak dari proses-proses ini tidaklah unik pada lingkungan
tertentu tapi satu cara dalam melihat lingkungan pengendapan adalah dengan memikirkan
kombinasi proses-proses yang terjadi di dalam lingkungan pengendapan. Contoh, estuaria
tidal (12.7), adalah setting fisiografi yang jelas dimana ada channel yang menyuplai air tawar
memasuki lingkungan laut, setting ini dipengaruhi oleh arus tidal dan mudflats yang secara
berkala dibanjiri oleh laut: hal ini mewakili kombinasi yang sangat jelas mengenai proses
fisika, kimia, dan biologi. Hasil dari proses ini terlihat sebagai fasies sedimen yang
diendapkan di dalam channel dan di atas mudflats. Oleh karena itu asosiasi fasies
mencersminkan kombinasi proses-proses yang terjadi di dalam lingkungan pengendapan.
Selanjutnya prosedur analisis fasies dapat dibagi dalam dua tahap proses: pengenalan fasies
dapat diinterpretasikan ke dalam proses-prosesnya; dan menentukan asosiasi fasies yang

mencerminkan kombinasi proses-proses dan selanjutnya lingkungan pengendapannya


(Gambar 5.1). Hubungan waktu dan ruang antara fasies pengendapan di saat ini dan di
rekaman batuan sedimen telah diperkenalkan oleh Walther (1894). Hukum Walther secara
sederhana diringkas sebagai pernyataan bahwa jika satu fasies ditemukan menindih
(superimposed) fasies lain tanpa jeda dalam rangkaian stratigrafi maka dua fasies itu telah
diendapkan berdekatan satu sama lain pada satu waktu. Tidak semua litofasies dikelompokkan
ke dalam asosiasi. Suatu fasies tunggal mungkin telah dibentuk oleh proses-proses yang jelas
berbeda maka tidaklah tepat memasukkannya ke dalam asosiasi fasies lain. Sebagai contoh,
rangkaian endapan yang terbentuk di dalam daerah kering (arid region) (8.1) memiliki fasies
kerikilan yang berbeda yang mungkin dikelompokkan ke dalam asosiasi endapan kipas aluvial
dan asosiasi danau playa (dasar suatu cekungan pengaliran gurun pasir) yang terdiri dari fasies
evaporit dan batulumpur: fasies batupasir sedang terpilah baik, berstruktur cross bedding tidak
sesuai ke dalam asosiasi kipas aluvial dan danau playa dan oleh karena itu harus
dipertimbangkan sebagai suatu kesatuan yang tersendiri (hasil dari pengendapan aeolian dune:
8.2.3).

3.3 Metode Penelitian


Dalam

melakukan

analisis

lingkungan

pengendapan

dengan

menggunakan analisis profil sebaiknya melalui tahap-tahap sebagai berikut :


3.3.1 Pemerian
a. Menyiapkan alat-alat yang diperlukan antara lain :
-

Palu geologi

Kompas

Tali ukur (diberi tanda tiap 1 mil)

Pita meteran

Komparator besar butir

Larutan HCL

Lembar pengukuran stratigrafi

Alat tulis menulis

Kamera

b. Merencanakan lintasan pengamatan


Lintasan pengamatan yang akan dilalui sebaiknya dipilih :
-

Dianggap mewakili dengan lintasan yang cukup panjang.

Sepanjang lintasan batuannya tersingkap baik.

Medan yang tidak terlalu sulit, sehingga memudahkan dalam pengamatan.

3.3.2 Pendataan Lapangan


a. Buatlah sketsa lintasan yang diambil.
b. Ukur kedudukan lapisan dan tentukan posisi stratigrafinya.
c. Tentukan arah lintasan (dari muda ke tua atau sebaliknya).
d. Tentukan masing-masing unit genetiknya.
e. Diamati atau jenis alas perlapisannya apakah tegas, berangsur atau erosional.
f. Diskripsi litologi tiap lapisan dan ukur ketebalannya.
g. Struktur sedimen yang berkembang.
Dalam hal ini struktur sedimen meliputi :

Struktur eksternal (pada bidang perlapisan) atau sering disebut struktur bidang
perlapisan :

Pada analisis lapisan (sole mark) misalnya : cetak suling, cetak beban, grove
marks, dsb.

Pada bagian atas lapisan (surface mark) : rain inprint, mud crack, bioturbasi, dsb.

Struktur internal atau struktur perlapisan misalnya : Perlaipisan sejajar, lapisan


bergelombang, lapisan bersusun, dsb.

h. Membuat foto, dalam pengambilan gambar sedapat mungkin menggambarkan close


up : litologi, struktur sedimen, batas lapisan.
i. Sikuen vertikalnya.

3.3.3 Analisis Data


a. Gambarkan kolom stratigrafinya dengan detail, serta tafsirkan mekanisme arus yang
mengendapkannya, untuk pendekatan lingkungan pengendapan.
b. Dari kolom stratigrafinya, kemudian dibuat suatu rangkuman urutan secara vertikal.
c. Pilih model yang sesuai dengan model profil yang dibuat.
d. Dengan menggunakan model, dianalisis perkembangan cekungannya, apakah
mengalami regresi (progradasi) atau trangresi (retrogradasi).

3.4 Hasil dan Pembahasan


Dalam melakukan analisis profil dengan menggunakan melalui tahap-tahap sebagai berikut :

3.4.1 Lithofasies
Pada interval 1802' - 1805' menunjukkan Batupasir, halus-menengah, pada
interval 1805 1807,5 menunjukkan Batupasir menengah-kasar, abu-abu kekuningan, pada
interval 1807,5' - 1815' menunjukkan Batupasir, halus-menengah, abu-abu kekuningan
struktur sedimen cross bedding, Pada interval 1815' 1817,5' menunjukkan Batupasir
menengah - kasar, abu-abu kekuningan Bioturbasi. Pada interval 1817,5' 1823' menunjukan
Batupasir menengah - kasar, abu-abu kehitaman, struktur sedimen wavy bedding, cross
bedding dan juga shale rip ups dengan burrow yang kompleks. Pada interval 1823' 1825,5'
menunjukkan Batupasir menengah - kasar, abu-abu kekuningan, membundar - membundar
tanggung, pemilahan menengah - buruk, terdapat butiran melayang, kemas tertutup, agak
keras - keras, struktur sedimen cross laminasi. Pada interval 1825,5' - 1831' menunjukkan
Batupasir menengah - kasar, abu-abu kekuningan, menghalus keatas, membundar membundar tanggung, pemilahan menengah - baik, kemas terbuka, agak keras - keras,
struktur sedimen wavy bedding, cross laminasi, terdapat hancuran cangkang.

3.4.2 Assosiation
Dari Lithofacies diatas dapat dikelompokan menjadi 3 asosiasi fasies
1. Tidal Sand Bar
2. Tidal Sand Channel
3. Fluvial Tidal Channel

3.4.3 Interpretasi Lingkungan Pengendapan


Pada semua interval yang sudah ada, di simpulkan bahwa interpretasi lingkungan
pengendapannya adalah lingkungan pengendapan delta ( transisi ).

3.5 Kesimpulan
Analisis profil adalah salah satu cara untuk menentukan lingkungan pengendapan dan
mendapatkan gambaran paleogeografinya. Metode yang digunakan sebenarnya adalah metode
stratigrafi asli, yaitu dengan menganalisis urut-urutan vertikal dari suatu sikuen. Analisis
profil sangat penting didalam mempelajari lingkungan pengendapan. Suatu lingkungan
tertentu akan mempunyai mekanisme pengendapan yang tertentu pula. Karenanya urut-urutan
secara vertikal (dalam kondisi normal) akan mempunyai karakteristik tersendiri.
Dengan demikian dari suatu profil akan dapat diketahui perkembangan pengendapan
yang terjadi dan sekaligus dapat ditafsirkan perkembangan cekungannya

DAFTAR PUSTAKA
Wendy, K., 2003, Application of Core Analysis in Reservoir Description and
Characterization, Guest Lecture Material, Core Laboratories,, Yogyakarta.
Boggs, Sam.2006. Principles of Sedimentary and Stratigraphy 4th Edition. New Jersey
Pearson Education, Inc.
Moulds, P.J., 1989, Development Of The Bengkalis Depression, Central Sumatra and Ins
Subsequent Deformation A Model for Other Sumatran Grabens, Proceedings
Indonesian Petroleum Association Eighteenth Annual Convention vol.1, Jakarta.
Shaw, J.H., Hook, S.C. dan Sitohang E.P., 1999, Extensional Fault-Bend Folding and Synrift
Deposition: An Example from the Central Sumatra Basin, Indonesia, AAPG
Bulletin, V. 81, No. 3 - Online presentation.
http://www.searchanddiscovery.net/documents/Indonesia
Wain, A.S. dan Jackson, B.A., 1995, New Pematang Depocentres on The Kampar Uplift,
Central Sumatra, Proceedings Indonesian Petroleum Association Twenty Fourth
Annual Convention vol.1, Jakarta.

Wibowo, R.A., 1995, Pemodelan Termal Sub-Cekungan Aman Utara Sumatra Tengah,
Bidang Studi Ilmu Kebumian Program Pasca Sarjana Institut Teknologi
Bandung, Unpublished.
http://willy-lasano.blogspot.com/2011/09/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html.
http://one-geo.blogspot.com/2010/01/stratigrafi-regional-cekungan-sumatera.html.
http://wandymausharing.blogspot.com/2012/07/lingkungan-laut-dangkal.html.