Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK

PEMICU 5

GIGI DONI YANG GOYANG


BLOK 12

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2014

KETUA

DELI MASRI

(120600002)

SEKRETARIS:
OLDA PRISKILLA NAOMI

(120600102)

ANGGOTA2 :

T AZRA SAHIRA

(120600001)

DELI MASRI

ALFIA RIZWIKA VARISCIA

(120600003)

INDAH ANGGARAINI

(120600004)

INTAN SAULINA MARDIA

(120600005)

SRI RATNA PERMATA SARI

(120600006)

ARFITA SIPAHUTAR

NAZLIA AUFA HAFART

NITA BUDIARTI

(120600009)

DEFRI KOMALA SARI

(120600010)

AGNES F R P MENDROFA

SANTY MONICA GOWASA

(120600103)

YANTA SINISURA S.

(120600104)

AINI RAMADHANI

KELVIN

(120600106)

ULFA RAHMAWATY

(120600107)

BUAHNA LUMBAN GAOL

(120600108)

NUR HARDIYANTI

(120600109)

GWEE SHI HAO

NAVASHANGKARI A/P

(120600211)

OVIE ENDANG SAPUTRI

(120600041)

NINING SURYANI SARAGIH

(120600042)

ISMI SYAHARA

SHINTA AGUSTINA

(120600002)

(120600007)
(120600008)

(120600101)

(120600105)

(120600201)

(120600043)
(120600044)

IVAN ALDINI

(120600045)

KATA PENGANTAR

Pujidan Syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatn-Nya kami dapat
menyusun

makalah

ini.

Dalam

makalah

ini

kami

akan

membahas

mengenai

BenjolandanGusi yang senangBerdarah Makalah ini telah dibahas dalam diskusi kelompok
dan sidang pleno sebelumnya.Olehkarena itu, kami mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah
ini.Olehkarena itu kami mengharapkan pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang
dapat membangun kami untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.Akhir kata kami ucapkan
terimakasih.

Medan 29, Maret 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kerusakan jaringan periodontal,biasanya timbul pada saat plak bakterial terbentuk pada
mahkota gigi, meluas disekitarnya dan menerobos sulkus gingiva yang nantinya akan
merusak gingiva disekitarnya. Plak menghasilkan sejumlah zat yang secara langsung atau
tidak langsung terlibat dalam perkembangan penyakit periodontal.Peradangan pada gingiva
dan perkembangannya pada bagian tepi permukaan gigi terjadi ketika koloni mikroorganisme
berkembang.Penyakit periodontal dibagi atas dua golongan yaitu

gingivitis dan

periodontitis.Bentuk penyakit periodontal yang paling sering dijumpai adalah proses


inflamasi dan mempengaruhi jaringan lunak yang mengelilingi gigi tanpa adanya kerusakan
tulang, keadaan ini dikenal dengan Gingivitis. Apabila penyakit gingiva tidak ditanggulangi
sedini mungkin maka proses penyakit akan terus berkembang mempengaruhi tulang alveolar,
ligamen periodontal atau sementum, keadaan ini disebut dengan Periodontitis.Periodontitis
adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (jaringan periodonsium). Yang
termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi
berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang gigi dalam
kantongnya dan juga berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang). Suatu keadaan
dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami
kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang menyangga gigi) juga mengalami
kerusakan.Khusus pada Penyakit periodontal sering diabaikan pada anak anak dan
remaja.Meskipun gingivitis adalah bentuk yang paling umum dari penyakit periodontal,
bentuk localized aggressive yang menyebabkan kehilangan tulang di sekitar gigi molar dan
gigi insisvus pada sebagian kecil subyek, biasanya terjadi setelah pubertas. Periodontitis
merupakan penyakit infeksi rongga mulut yang memerlukan penanganan yang tepat, karena
akan menyebabkan kerusakan jaringan periodonsium, hilangnya gigi dana kan menimbulkan
permasalahan estetik maupun menurunnya kualitas hidup.

DESKRIPSI KASUS
Anak laki-laki(Doni) usia 3 tahun 7 bulan (BB:15 kg dan TB:95 cm) dating ke RSGM
FKG USU bersama ibunya untuk memeriksakan rongga mulut doni. Ibu mengatakan bahwa
gigi depan doni goyang disertai gusi kemerahan dan mudah berdarah bila ibu menyikat gigi
doni. Ibu melihat kemerahan digusi doni sejak 6 hari yang lalu dan doni tidak mau makan
karena sakit. Dari anamnesis, anak tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik,tidak dalam
perawatan dokter,tidak mau obat-obatan dan tidak ada riwayat trauma gigi. Ibu mengatakan
bahwasannya ibu dan suaminya dalam keadaan sehat namun suaminya memiliki riwayat gigi
yang mudah tanggal dengan sendirinya.
Berdasarkan pemeriksaan intraoral, seluruh gigi doni adalah gigi sulung, terdapat
penumpukan plak yang parah, gigi 71 dan 81 hilang, inflamasi parah pada gingival,resesi
gingival secara general, dan abses pada gigi 55 dan 65. Perdarahan pada probing, poket
periodontal 5 mm pada gigi 54,64,74,84. Hampir seluruh gigi goyang derajat 2, tidak ada
karies dan halitosis (+). Panoramic Ro terlihat kehilangan tulang horizontal dan vertical yang
parah.
Doni menunjukkan sikap yang tidak kooperatif.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pemeriksaan penunjang dalam menegakkan diagnosis
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada kasus tersebut yaitu:
a.radiografi berfungsi untuk mendeteksi keparahan tulang, derajat kerusakan serta
tipe kerusakan tulang apakah vertical maupun horizontal serta cakupan area yang
mengalami defek.Jenis radiografi yang menjadi pilihan adalah

Radiografi

panoramik (Pantomography atau Rotational Radiography) merupakan teknik


radiograf yang menghasilkan gambaran struktur wajah meliputi maksila, mandibula
dan struktur pendukungnya. Suatu radiograf panoramik dapat melihat gambaran yang
meliputi daerah cukup luas dengan dosis rendah dan evaluasi yang lebih baik, serta
dapat digunakan untuk pasien trismus dan hiperaktif. (OBrien, RC 1977, Goaz &
White 1994)
b.Pemeriksaan kultur mikrobiolgi untuk mendeteksi dominan spesies bakteri atau
jamur yang dominan pada ekosistem rongga mulut pasien (bias dilakukan tapitidak
terlalu mendesak)
2.2 Etiologi yang menyebabkan kasus tersebut
a.Plak Bakteri
Plak gigi memegang peranan penting dalam proses karies gigi dan inflamasi jaringan
lunak sekitar gigi. Plak gigi adalah suatu lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan
mikroorganisme yang berkembang biak diatas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat
pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan.

b.Impaksi Makanan
Impaksi makanan (tekanan akibat penumpukan sisa makanan) merupakan keadaan
awal yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit periodontal. Gigi yang berjejal atau miring
merupakan tempat penumpukan sisa makanan dan juga tempat terbentuknya plak, sedangkan
gigi dengan oklusi yang baik mempunyai daya self cleansing yang tinggi.
Tanda-tanda yang berhubungan dengan terjadinya impaksi makanan yaitu

perasaan tertekan pada daerah proksimal


rasa sakit yang sangat dan tidak menentu
inflamasi gingiva dengan perdarahan dan daerah yang terlibat sering berbau.
resesi gingiva

pembentukan abses periodontal menyebabkan gigi dapat bergerak dari soketnya,


sehingga terjadinya kontak prematur saat berfungsi dan sensitif terhadap perkusi.
kerusakan tulang alveolar dan karies pada akar

c.Kalkulus
Kalkulus (disebut juga tartar), yaitu suatu lapisan deposit (bahan keras yang melekat
pada permukaan gigi) mineral yang berwarna kuning atau coklat pada gigi karena plak gigi
yang mengeras. Menurut Kamus Kedokteran Gigi (F.J Harty dan R Ogston), adalah Deposit
plak yang termineralisasi, kemudian mengeras yang menempel pada gigi.Komposisi kalkulus
bervariasi sesuai dengan lama deposit, posisinya di dalam mulut, dan bahkan lokasi geografi
dari individu. Terdiri dari 80% massa anorganik, air, dan matriks organik (protein dan
karbohidrat), sel-sel epitel deskuamasi, bakteri filament gram positif, kokus, dan leukosit.
Masa anorganik terutama terdiri dari fosfat, kalsium, dalam bentuk hidroksiapatite,
brushite, dan fosfat oktakalsium. Selain itu, juga terdapat sejumlah kecil kalsium karbonat,
magnesium, fosfat, dan florida (Manson, 1993).
d.Gigi yang hilang
Gigi yang hilang dapat menyebabkan tekanan oklusal menjadi tidak seimbang.
Perubahan arah tekanan oklusal menyebabkan reorientasi pada tekanan dan tegangan dalam
jaringan periodonsium. Tekanan ke arah lateral dan tekanan yang bersifat rotasi lebih
merusak jaringan periodonsium. Selain itu, tekanan yang secara konstan diarahkan ke tulang
lebih merusak daripada tekanan yang sifatnya intermittent. Semakin sering terjadinya tekanan
oklusal pada periodonsium, maka jaringan periodonsium akan semakin rusak
e.Sistem imunitas
Sistem imun sangat penting terhadap perkembangan periodontitis. Baru-baru ini peran
dari sistem kekebalan tubuh dalam metabolisme tulang dan resorpsi tulang telah diakui.
Hubungan antara sistem kekebalan tubuh dan metabolisme tulang disebut osteoimmunology,
dan ini merupakan bidang yang berkembang pesat dari penelitian. Osteoimmunologi
berusaha mendefinisikan dan memahami interaksi sel kekebalan tubuh dan sitokinnya dengan
sel-sel tulang. Kedua sistem kekebalan tubuh dan tulang berbagi sejumlah besar dari regulasi
sitokin dan molekul lain.
f.Genetik
Proses terjadinya periodontitis berhubungan dalam satu keluarga. Dasar dari
persamaan ini baik karena memiliki lingkungan atau gen yang sama atau keduanya.

2.3 Bakteri yang berperan pada kasus tersebut


1. Aggregatibacter actinomycetancomitans : merupakan patogen penting yang terlibat dalam
etiologi dari berbagai bentuk periodontal, terutama di periodontitis agresif,
2. Porphyromonas gingivalis : salah satu bakteri gram negatif anaerob yang berperan
penting pada patogenesis periodontitis.
3. Prevotela Intermedia : merupakan bakteri patogen gram negatif yang berperan dalam
infeksi periodontal dan dapat juga di temukan dalam Gingivitis Ulseratif Nekrotik Akut
(GUNA).
4. Capnocytophaga : terlibat sebagai patogen periodontal diduga terkait dengan berbagai
penyakit periodontal.
5. Campylobacter rectus : merupakan bakteri gram negatif mikroaerofilik dan motil.
2.4 Patogenesis penyakit periodontal pada kasus tersebut
Kemampuan

patogenik

bakteri

dalam

menyebabkan

penyakit

periodontal

sangat

kompleks.Beberapa mekanisme patogenik yang penting yaitu :


1. Invasi.
Masuknya/invasi bakteri atau produk bakteri ke jaringan periodontal diperkirakan penting
bagi

proses

terjadinya

penyakit.10 Studi

klinis

menunjukkan

bahwa

Actinobacillus

actinomycetemcomitans dapat melakukan penetrasi ke epitel gingiva. 10,4


2. Memproduksi toksin.
Actinobacillus

actinomycetemcomitans

dan

Campylobacter

rectus

memproduksi

leukotoksin yang dapat membunuh netrofil dan monosit. 4,7


3. Peran unsur sel/substansi sel.
Dinding bakteri gram negatif mengandung lipopolisakarida (LPS, endotoksin) yang mana
dikeluarkan setelah bakteri mati.3,4 Selain sebagai pencetus terjadinya proses inflamasi, LPS juga
dapat menyebabkan nekrosis jaringan.2
4. Memproduksi enzim.
Bakteri plak memproduksi enzim yang turut berperan pada penyakit periodontal. Enzim
tersebut antara lain yaitu kolagenase, hialuronidase, gelatinase, aminopeptidase, pospolifase, dan

posfatase basa dan asam.4Bakteri gram negatif subgingiva menggunakan protein sebagai nutrisi
mereka dan memiliki enzim proteolitik untuk memecah protein menjadi peptida dan asam amino
agar dapat diabsorbsi. Sejumlah patogen periodontal ditunjukkan mampu memproduksi protease
yang mampu mendegradasi struktur protein dan jaringan periodontal yang terlibat dalam reaksi
imun dan inflamasi pada periodontitis kronis.

Actinobacillus actinomycetemcomitans

memproduksi enzim kolagenase yang dapat merusak kolagen tipe 1. Hal ini dapat mendorong
terjadinya degradasi kolagen dan gangguan pada jaringan ikat periodontal. Porphyromonas
gingivalis memproduksi beberapa faktor virulensi termasuk kolagenase, endotoksin, fibrinolisin,
posfolipase. 3
5. Menghindar dari pertahanan pejamu.
Untuk dapat bertahan di lingkungan periodontal, bakteri harus mampu menetralisir atau
menghindar dari mekanisme pejamu untuk menyingkirkan dan membunuh bakteri. 10 Sejumlah
mekanisme yang dimiliki patogen periodontal dalam menghindar atau menghancurkan
pertahanan pejamu, meliputi :
a. Penghancuran langsung polimorponuklear leukosit (PMN) dan makropag.
Leukotoksin yang diproduksi beberapa strain dari Actinobacillus actinomycetemcomitans
dapat menghancurkan polimorfonuklear leukosit dan makrofag. 3,4
b. Menghambat kemotaksis polimorfonuklear leukosit (PMN). Sejumlah spesies bakteri
termasuk Porphyromonas gingivalis, Actinobacillus actinomycetemcomitan, dan spesies
Capnocytophaga, dapat menghambat kemotaksis PMN, dan mengurangi fagositosis dan
pembunuhan intraselular.3 3
c. Degradasi imunoglobulin.
Sejumlah bakteri gram negatif pigmen-hitam anaerob dan spesies Capnocytophaga
memproduksi protease yang dapat menyebabkan degradasi Ig G dan Ig A.

d. Memodulasi fungsi sitokin.


Sitokin adalah faktor utama yang mengontrol sistem inflamasi dan imun. Ada bukti
bahwa agen infeksi mampu memodulasi fungsi sitokin. Arginin specific trypsin-like
proteinase (RgpA) dari Porphyromonas gingivalis dapat membelah dan mengaktifkan
mediator tertentu dari pro- dan anti- inflamatori. Keseimbangan antara kedua fungsi yang
berlawanan ini dapat mempengaruhi keadaan inflamasi lokal pada jaringan periodontal.
e. Degradasi fibrin.

Beberapa gram negatif pigmen-hitam anaerob memiliki aktivitas fibrinolitik yang mana
akan mengurangi jeratan bakteri oleh fibrin untuk fagositosis. 3
f. Mengubah fungsi limposit.
Sejumlah bakteri gram negatif dan Spirokheta pada flora subgingiva dapat mengubah
fungsi limposit dan memproduksi imunosupresif.
Proses destruksi jaringan yang terjadi merupakan akibat dari interaksi bakteri atau substansi
bakteri dengan sel pejamu, yang mana secara langsung maupun tidak langsung mengarah kepada
degradasi jaringan periodontal

2.5 Patogenesis halitosis pada kasus tersebut


Pada penderita Periodontitis terdapat banyak bakteri. Bakteri memiliki peranan yang
penting pada terjadinya bau mulut yang tidak sedap (halitosis). Bakteri gram negatif adalah
bakteri profeolitik dimana untuk kelangsungan hidupnya banyak memerlukan protein-protein
akan dipecah oleh bakteri menjadi asam amino dan menghasilkan VSC.Terdapat tiga jenis
VSC penting yang merupakan penyebab utama halitosis, diantaranya metal mercaptan,
dimetil mercaptan, dan hidrogen sulfida. Ketiga macam HSV ini menonjol karena jumlahnya
cukup banyak dan mudah sekali menguap sehingga menimbulkan bau mulut (halitosis).
2.6 Diagnosis kelainan periodontal pada kasus tersebut
Padakasus tersebut pasien mengalami periodontitis agresif. Hal ini didasarkan pada beberapa
alasan:
Kehilangangigi yang cepat terutama pada gigi insisivus pasien
Tidak ditemui adanya karies menandakan OH pasienti daklah terlalu buruk
Gigi susupasien seharusnya erupsi secara lengkap pada bulan ke 28 pasca kelahiran,
usi apasien yang 3 tahun 7 bulan mengindikasikan rentang waktu kerusakanhanya 1,5
tahun di mana hal ini merupaka nkejadian yang cukup cepat sehingga dapat
dimasukkan ke periodontitis agresif.
Riwayat orangtua yang giginya tanggal sendiri
2.7 Prosedur perawatan yang akan dilakukan berdasarkan tingkah laku dan tingkat kooperatif
doni

ANESTESI UMUM
Anestesiumumpertama kali diberikan kepada pasien agar keadaannyadapat ditangani
dengan baik
Setelah pemberian anestesi umum, barulah pemeriksaan faseem erjensi dan fase 1
dapat dilaksanakan
Prosedur kemudian dilanjutkan pada kunjungan berikutnya seperti pemasangan
retainer atau protesa (biladiperlukan).
2.8 Rencana perawatan pada kasus tersebut
FASE Emerjensi:
Drainase pus pada gigi 55 dan 65 dan pencabutan gigi yang tidak ada harapan lagi
yaitu pada gigi 54,64,74,84.
FASE I (FASE ETIOTROPIK) :
Kontrol Plak
Scalling dan Kuretase
Splinting
Terapi antimikrobial
Evaluasi respon terhadap Fase I:
Pengecekan Kembali:

Kedalaman Saku

Plak dan Kalkulus

FASE III (FASE RESTORATIF) :

Space Maintainer

penggunaan space maintainer diharapkan dapat mempertahankan ruang bekas pencabutan


sehingga calon gigi yang akan tumbuh di tempat tersebut dapat tumbuh dengan benar.

Evaluasi Respon pada penggunaan Space Maintainer


FASE IV (FASE PEMELIHARAAN) :

Kunjungan berkala

Plak dan Kalkulus

Kondisi Gingiva

Oklusi dan mobiliti gigi

2.9 Prosedur perawatan periodontal pada kasus tersebut


EDUKASI
1. Menerangkan bahwa kerusakan yang disebabkan penyakit periodontal pada orang
dewasa di mulai pada masa anak-anak.
2. Menegaskan bukti bahwa penyakit periodontal biasanya tidak menimbulkan rasa rasa
sakit pada awalnya sehingga orangtua tidak menyadarinya.
3. Pemeriksaan gigi dan mulut secara teratur diperlukan untuk mengetahui adanya
penyakit periodontal.
4. Menegaskan manfaat pencegahan dengan kebersihan mulut yang baik dan perawatan
gigi yang teratur.
INSTRUKSI :
Menyikat gigi minimal 2 kali sehari, dan lebih baik sesudah makan.
PERAWATAN :
Penanganan Tingkah laku: Komunikasi, Modeling, Desensitisasi, HOME, Reinforcement,
Sedasi
Penanganan untuk penyakit

periodontalnya:

Scalling,

Splinting,

Kuretase, Terapi

antimikrobial dan pemakaian Space Maintainer.


2.10 Antibiotik yang dapat diberikan beserta dosis dan resep
Sediaan Sirup (Amoxicilin 50mg/kg berat badan dan Metronidazole 30 mg/kg berat badan)

50 mg x 15 =750/3 kali = 250/kali

R/ Amoxan 250mg syr vl no.3


S 3 dd cth I

30 mg x 15 = 450mg/3 kali = 112,5/kali

R/ Flagyl 200mg syr vl no.2


S 3 dd cth
2.11 Prognosis kasus tersebut
Prognosis baik apabila :Pasien kooperatif mengikuti prosedur perawatan konvensional dalam
menyingkirkan factor etiologi, terutama plak dan kalkulus. Adanya kerjasama yang efektif
antara orangtua dan pasien baik dalam hal jadwal pemberian medikasi maupun metode
menyikat gigi yang baik dan benar.Pasien secara disiplin melakukan control untuk mengikuti
rencana perawatan yang telah dicanangkan.OH pasien dijaga agar tetap bersih.Konsumsi
makanan bergizi untuk meningkatkan system daya tahan tubuh dan regenerasi jaringan yang
telah mengalami destruksi.Keadaan gigi permanen pertumbuhannya juga akan normal
apabila dibantu dengan perawatan berupa pemasangan space maintainer untuk menghindari
terjadinya ankilosis gigi ataupun gigi yang crowded.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemeriksaan penunjang yang cocok dengan kasus di atas adala pemeriksaan
radiografi dan pemeriksaan kultur mikrobiologi. Jenis radiografi yang menjadi pilihan adalah
Radiografi panoramik (Pantomography atau Rotational Radiography) merupakan teknik
radiograf yang menghasilkan gambaran struktur wajah meliputi maksila, mandibula dan
struktur pendukungnya. Suatu radiograf panoramik dapat melihat gambaran yang meliputi
daerah cukup luas dengan dosis rendah dan evaluasi yang lebih baik, serta dapat digunakan
untuk pasien trismus dan hiperaktif.Pemeriksaan kultur mikrobiolgi untuk mendeteksi
dominan spesies bakteri atau jamur yang dominan pada ekosistem rongga mulut pasien (bias
dilakukan tapi tidak terlalu mendesak)Pada kasus tersebut dapat disebabkan oleh plak bakteri,
kalkulus, impaksi makanan,gigi yang hilang, sistem imunitas dan genetik. Bakteri-bakteri
yang berperan pada kasus adalah Aggregatibacter actinomycetancomitans, Porphyromonas
gingivalis,Prevotela Intermedia, Capnocytophaga,d a n Campylobacter rectus.Diagnosis pada
kasus tersebut adalah Periodontitis Agresif. Perawatan yang dapat dilakukan pada pasien
tersebut adalah kontrol plak, scalling, kuretase, splinting, terapi antimikroba dan space
maintainer. Prognosis pada kasus ini baik apabila Pasien kooperatif mengikuti prosedur
perawatan konvensional dalam menyingkirkan factor etiologi, terutama plak dan kalkulus,
serta Keadaan gigi permanen pertumbuhannya juga akan normal apabila dibantu dengan
perawatan berupa pemasangan protesa serta space maintainer untuk menghindari terjadinya
ankilosis gigi ataupun gigi yang crowded.
3.2 Saran
Penyakit periodontal harus ditemukan secepatnya dan dirawat sesegera mungkin setelah
penyebab penyakit itu ditemukan,dengan perawatan yang dilakukan

banyak gigi dapat

dipertahankan sampai pasien mencapai dewasa.Pada kasus ini,dokter gigi lebih ditekankan

untuk melihat pengaruh orangtua dan lingkungannya terhadap cara pikir dan tingkah laku
anak,memotivasi

dan menanamkan nilai-nilai pentingnya menjaga kesehatan gigi anak

kepada orangtua sehingga orangtua

dapat bekerjasama dalam mencapai keberhasilan

perwatan gigi anak.

DAFTAR PUSTAKA
1. RahmanTaufik. Peran Bakteri dalam Patogenesis Penyakit Periodontal. USU press.
Medan, Indonesia. 2010
2. Yohana B. Pengukuran OHI-S dan Plak Indeks padaP enderita Penyakit Periodontal.
USU press. Medan, Indonesia. 2011
3. Soewandi T. Perawatan Awal Penutupan Diestema Gigi Pada Penderita Periodontitis
Agresif Dewasa. FakultasKedoteran Gigi. UniversitasTrisakti, Indonesia. Jurnal PDGI
2010 : Vol 59.no 3 hal : 105-109
4. Newman Michael G, Takei Henry H, Klokkevold Perry R. Carranzas clinical
periodontology. 11th ED. California: Saunders Elsavier, 2012: 169-72
5. Camila PP, Chpite YG, Crdenas AC. Generalized Aggressive Periodontitis in
Preschoolers: Report of a case in a 3-1/2 Year Old. The Journal of Clinical Pediatric
Dentistry. 2008; 33, 2: 155-59.
6. Noack B, Thomas H. Agressive Periodontitis. Clinical And Research Report. Perio 2004 :
Vol 1, hal :335-344
7. Ferry RK, Richard J. Treatment of Aggressife and Atypical Forms of Periodontitis. Dental
Journal. Chapter 46.Hal 693-710.