Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kesejahteraan bangsa tidak hanya bergantung pada sumber daya alam dan
modal yang berisifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial dan
kepercayaan (kredibilitas). Dengan demikian tuntutan untuk terus menerus
memutakhirkan pengetahuan IPA menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak
cukup diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah sangat besar
mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Industri baru dikembangkan dengan
berbasis kompetensi IPA dan teknologi tingkat tinggi, dengan demikian bangsa
yang berahasil adalah bangsa yang memiliki standasr komptensi IPA dan
teknologi yang tinggi.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia

tidak pernah

berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui


Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber
daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, erta pengembangan
paradigma baru dengan metodologi pengajaran.
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah
konsekuensi otomatis dari perenungan informasi ke dalam benak siswa. Belajar
memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan
pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang

bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
Dimana menurut pendapat Jodion dan Asrial (2010: 15) Prinsip belajar aktif yang
harus diterapkan adalah:
Siswa harus sebagai subjek, belajar dengan melakukan
mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat
berkembang, seperti kemampuan sosialisasi, empati dan
pengendalian diri. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual,
kelompok, diskusi, presentasi, tanya jawab, sehingga terpupuk
rasa tanggung jawab dan disiplin diri.
Dari pendapat tersebut di atas, sudah seharusnya guru mampu
menciptakan lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, sehingga tercipta
umpan balik positif dari siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian hasil
belajar siswapun dapat tercapai secara optimal sesuai dengan yang diharapkan.
Agar belajar menjadi aktif siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas.
Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan
menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan,
bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk
mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras (moving about dan thinking aloud)
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar,
melihat, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang
lain. Bukan Cuma itu, siswa perlu mengerjakannya, yakni menggambarkan
sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba
mempraktekkan

keterampilan,

dan

mengerjakan

pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.

tugas

yang

menuntut

Salah satu metode untuk membangkitkan apa yang siswa pelajari dalam
satu semester proses belajar mengajar adalah metode pembelajaran bagaimana
menjadikan belajar tidak terlupakan. Metode ini adalah untuk membantu siswa
dalam mengingat materi pelajaran yang telah diterima selama ini. Selain itu
metode ini diterapkan pada akhir semester proses belajar mengajar dengan tujuan
untuk membantu siswa agar siap mengahadapi ujian semester atau ujian akhir.
Dengan menyadari gejala-gejala atau kenyataan tersebut diatas, maka
dalam penelitian ini penulis mengambil judul Penerapan Cara Belajar Aktif
Model Pencocokan Kartu indeks Dalam Membantu Penguasaan Materi Pelajaran
IPA Pada Siswa Kelas VIII Tahun Pelajaran 2013/2014.

B. Batasan Masalah
Mengingat keterbatasan penulis dari segi ilmu, waktu, tenaga, dan biaya,
maka penelitian ini dibatasi:
1. Penelitian hanya dilakukan pada pelajaran IPA pada materi Sistem Ekresi
pada Kelas VIII SMP Negeri 5 Kerinci Semester II Tahun Pelajaran
2013/2014.
2. Hasil belajar yang dimaksudkan adalah hasil belajar IPA siswa dalam aspek
kognitif.
3. Model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran Pencocokan
Kartu indeks.
C. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan


permasalahnnya sebagi berikut:
1. Seberapa

tinggi

tingkat

penguasaan

materi

pelajaran

IPA dengan

diterapkannya metode pembelajaran yang selama ini diterapakan pada siswa


Kelas VIII A Tahun Pelajaran 2013/2014?
2. Bagaimanakah pengaruh cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks
dalam membantu siswa mengingatkan kembali materi pelajaran IPA pada
siswa Kelas VIII A Tahun Pelajaran 2013/2014?

D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran
IPA setelah diterapkannya cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks
pada siswa Kelas VIII Tahun Pelajaran 2013/2014.
2. Mengetahui pengaruh cara belajar aktif model mencocokan kartu indek dalam
membangunkan ingatan siswa terhadap materi pelajaran IPA setelah
diterapkan cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks pada siswa Kelas
VIII Tahun Pelajaran 2013/2014.
E. Kegunaan Penelitian
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat
berguna sebagai:

1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru dalam


meningkatkan pemahaman siswa belajar IPA
2. Sumbangan pemikiran bagi guru IPA dalam mengajar dan meningkatkan
pemahaman siswa belajar IPA di kelas VIII A Tahun Pelajaran 2013/2014
tahun pelajaran 2003/2004.
3. Membantu siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah
diterimanya selama ini.
4. Membantu siswa kelas VIII A Tahun Pelajaran 2013/2014 agar siap untuk
menghadapi ujian akhir.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Prestrasi Belajar


1. Pengertian Belajar
Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan. Yang
dimaksud belajar yaitu perbuatan murid dalam bidang material, formal serta
fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Jadi belajar
merupakan hal yang pokok. Belajar merupakan suatu perubahan pada sikap
dan tingkah laku yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada tingkah
laku yang lebih buruk.
Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan harus merupakan akhir
dari pada periode yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berlangsung
sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaklah merupakan akhir
dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, bermingguminggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Belajar merupakan suatu proses
yang tideak dapat dilihat dengan nyata proses itu terjadi dalam diri seserorang
yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar bukan
tingkah laku yang nampak, tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam
diri individu dalam mengusahakan memperoleh hubungan-hubungan baru.

2. Pengertian Prestasi Belajar


Sebelum dijelaskan pengertian mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu
akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Prestasi adalah hasil yang
telah dicapai. Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang telah
dicapai oleh seseorang setelah melakukan sesuatu pekerjaan/aktivitas tertentu.
Jadi prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh karena itu semua
individu dengan adanya belajar hasilnya dapat dicapai. Setiap individu belajar
menginginkan hasil yang yang sebaik mungkin. Oleh karena itu setiap
individu harus belajar dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil
dengan baik. Sedang pengertian prestasi juga ada yang mengatakan prestasi
adalah kemampuan. Kemampuan di sini berarti yan dimampui individu dalam
mengerjakan sesuatu.
3. Pedoman Cara Belajar
Untuk memperoleh prestasi/hasil belajar yang baik harus dilakukan
dengan baik dan pedoman cara yang tapat. Setiap orang mempunyai cara atau
pedoman sendiri-sendiri dalam belajar. Pedoman/cara yang satu cocok
digunakan oleh seorang siswa, tetapi mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa
yang lain. Hal ini disebabkan karena mempunyai perbedaan individu dalam
hal kemampuan, kecepatan dan kepekaan dalam menerima materi pelajaran.

Oleh karena itu tidaklah ada suatu petunjuk yang pasti yang harus
dikerjakan oleh seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Tetapi
faktor yang paling menentukan keberhasilan belajar adalah para siswa itu
sendiri. Untuk dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya harus
mempunyai kebiasaan belajar yang baik.

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar


1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Adapun faktor-faktor itu, dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a. Faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang kita sebut faktor individu.
Yang termasuk ke dalam faktor individu antara lain faktor kematangan
atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.
b. Faktor yang ada pada luar individu yang kita sebut dengan faktor sosial
Sedangkan yang faktor sosial antara lain faktor keluarga, keadaan rumah
tangga, guru, dan cara dalam mengajarnya, lingkungan dan kesempatan
yang ada atau tersedia dan motivasi sosial.
Berdasarkan faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar di atas
menunjukkan bahwa belajar itu merupaka proses yang cukup kompleks.
Artinya pelaksanaan dan hasilnya sangat ditentukan oleh faktor-faktor di atas.
Bagi siswa yang berada dalam faktor yang mendukung kegiatan belajar akan

dapat dilalui dengan lancar dn pada gilirannya akan memperoleh prestasi atau
hasil belajar yang baik.
Sebaliknya bagi siswa yang berada dalam kondisi belajar yang tidak
menguntungkan, dalam arti tidak ditunjang atau didukung oleh faktor-faktor
diatas, maka kegiatan atau proses belajarnya akan terhambat atau menemui
kesulitan.

C. Hakikat IPA
IPA didefiniksa n sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun
secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai dengan adanya fakta, tetapi
juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Metode ilmiah dan pengamatan
ilmiah menekankan pada hakikat IPA.
Secara rinci hakikat IPA menurut Bridgman (dalam Lestari, 2002: 7)
adalah sebagai berikut:
1. Kualitas; pada dasarnya konsep-konsep IPA selalu dapat dinyatakan dalam
bentuk angka-angka.
2. Observasi dan Eksperimen; merupakan salah satu cara untuk dapat memahami
konsep-konsep IPA secara tepat dan dapat diuji kebenarannya.
3. Ramalan (prediksi); merupakan salah satu asumsi penting dalam IPA bahwa
misteri alam raya ini dapat dipahami dan memiliki keteraturan. Dengan

asumsi tersebut lewat pengukuran yang teliti maka berbagai peristiwa alam
yang akan terjadi dapat diprediksikan secara tepat.
4. Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu selalu berkembang ke arah yang
lebih sempurna dan penemuan-penemuan yang ada merupakan kelanjutan dari
penemuan sebelumnya.
Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan itu dilakukan dengan menggunakan
metode ilmiah dalam rangkan menemukan suatu kebernaran.
5. Universalitas; kebenaran yang ditemukan senantiasa berlaku secara umum.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA merupakan
bagian dari IPA, dimana konsep-konsepnya diperoleh melalui suatu proses
dengan menggunakan

metode ilmiah dan diawali dengan sikap ilmiah

kemudian diperoleh hasil (produk).

D. Proses Belajar Mengajar IPA


Proses dalam pengertian disini merupakan interaksi semua komponen atau
unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling
berhubungan (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman,
200: 5).
Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingka laku pada diri individu
berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai
dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses
belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya,

keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa,
dari tidak mengerti menjadi mengerti. (dalam Usman, 2000: 5).
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab
moral yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam
kegiatan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan
anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar.
Proses belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan
secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn peran utama. Proses belajar
mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru
dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik
antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses
belajar mengajar (Usman, 2000: 4).
Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses
belajar mengajar dapat mengandung dua pengertian, yaitu rentetan kegiatan
perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi program tindak
lanjut (dalam Suryabrata, 1997: 18).
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar
mengajar IPA meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan,
pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu
pengajaran IPA.

E. Prestasi Belajar IPA


Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar.
Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik
menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang
dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah.
Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai
(dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan,
hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta
perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang
dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah
siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat
diketahui dengan megadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk
mengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan
oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru
dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapt diartikan bahwa prestasi belajar
IPA adalah nilai yang dipreoleh siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif
seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek kognitif (pengetahuan), afektif
(sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar mengajar IPA.
F. Gaya Belajar

Kalangan pendidik telah menyadari bahwa peserta didik memiliki


bermacam cara belajar. Sebagian siswa bisa belajar dengan sangat baik hanya
dengan melihat orang lain melakukannya. Biasanya, mereka ini menyukai
penyajian informasi yang runtut. Mereka lebih suka menuliskan apa yang
dikatakan guru. Selama pelajaran, mereka biasanya diam dan jarang terganggu
oleh kebisingan. Perserta didik visual ini berbeda dengan peserta didik auditori,
yang biasanya tidak sungkan-sungkan untuk memperhatikan apa yang dikerjakan
oleh guru, dan membuat catatan. Mereka menggurulkan kemampuan untuk
mendengar dan mengingat. Selama pelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan
mudah teralihkan perhatiannya oleh suara atau kebisingan. Peserta didik
kinestetik belajar terutama dengan terlibat langsung dalam kegiatan. Mereka
cenderung impulsive, semau gue, dan kurang sabaran. Selama pelajaran, mereka
mungkin saja gelisah bila tidak bisa leluasa bergerak dan mengerjakan sesuatu.
Cara mereka belajar boleh jadi tampak sembarangan dan tida karuan.
Tentu saja, hanya ada sedikit siswa yang mutlak memiliki satu jenis cara
belajar. Grinder (1991) menyatakan bahwa dari setiap 30 siswa, 22 diantaranya
rata-rata dapat belajar dengan efektif selama gurunya mengahadirkan kegaitan
belajar yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestik. Namun, 8 siswa
siswanya sedemikan menyukai salah satu bentuk pengajaran dibanding dua
lainnya. Sehingga mereka mesti berupaya keras untuk memahami pelajaran bila
tidak ada kecermatan dalam menyajikan pelajaran sesuai dengan ara yang mereka

sukai. Guna memenuhi kebutuhan ini, pengajaran harus bersifat mulitsensori dan
penuh dengan variasi.
Kalangan pendidikan juga mencermati adanya perubahan cara belajar
siswa. Selama lima belas tahun terakhir, Schroeder dan koleganya (1993) telah
menerapkan indikator tipe Myer-Briggs (MBTI) kepada mahasiswa baru. MBTI
merupakan salah satu instrument yang paling banyak digunakan dalam dunia
pendidikan dan untuk memahami fungsi perbedaan individu dalam proses belajar.
Hasilnya menunjukkan sekitar 60 persen dari mahasiswa yang masuk memiliki
orientasi praktis ketimbang teoritis terhadap pembelajaran, dan persentase itu
bertambah setiap tahunnya. Mahasiswa lebih suka terlibat dalam pengalaman
langsung dan konkret daripada mempelajari konsep-konsep dasar terlebih dahulu
dan baru kemudian menerapkannya. Penelitain MBTI lainnya, jelas Schroeder,
menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah lebih suka kegiatan belajar yang
benar-benar aktif dari pada kegiatan yang reflektif abstrak, dengan rasio lima
banding satu. Dari semua ini, dia menyimpulkan bahwa cara belajar dan mengajar
aktif sangat sesuai dengan siswa masa kini. Agar bisa efektif, guru harus
menggunakan yang berikut ini: diskusi dan proyek kelompok kecil, presentasi
dan debat, dalam kelas, latihan melalui pengalaman, pengalaman lapangan,
simulasi, dan studi kasus. Secara khusus Schroeder menekankan bahwa siswa
masa kini bisa beradaptasi dengan baik terhadap kegiatan kelompok dan belajar
bersama.

Temuan-teman ini dapat dianggap tidak mengejutkan bila kita


mempertimbangkan secepatnya laju kehidupan modern. Dimasa kini siswa
dibesarkan dalam dunia yang segala sesuatunya berjalan dengan cepat dan banyak
pilihan yang tersedia. Suara-suara terdengar begitu menghentak merdu, dan
warna-warna terlihat begitu semarak dan menarik. Obyek, baik yang nyata
maupun yang maya, bergerak cepat. Peluang untuk mengubah segala sesuatu dari
satu kondisi ke kondisi lain terbuka sangat luas.

G. Sisi Sosial Proses Belajar


Karena siswa masa kini menghadapi dunia di mana terdapat pengetahuan
yang luas, perubahan pesat, dan ketidakpastian, mereka bisa mengalami
kegelisahan dan bersikap defensif. Abraham Maslow mengajarkan kepada kita
bahwa manusia memiliki dua kumpulan kekuatan atau kebutuhan yang satu
berupaya untuk tumbuh dan yang lain condong kepada keamanan. Orang yang
dihadapkan pada kedua kebutuhan ini akan memiliki keamanan ketimbang
pertumbuhan. Kebutuhan akan rasa aman harus dipenuhi sebelum bisa
sepenuhnya kebutuhan untuk mencapai sesuatu mengambil resiko, dan menggali
hal-hal baru. Pertumbuhan berjalan dengan langkah-langkah kecul, menurut
Maslow, dan tiap langkah maju hanya dimungkin akan bila ada rasa aman, yang
mana ini merupakan langkah ke depan dari suasana rumah yang aman menuju
wilayah yang belum diketahui (Maslow, 1968).

Salah satu cara utama untuk mendapatkan rasa aman adalah menjalin
hubungan dengan orang lain dan menjadi bagian dari kelompok. Perasaan saling
memiliki ini memungkinkan siswa untuk menghadapi tantangan. Ketika mereka
belajar bersama teman, bukannya sendirian, mereka mendapatkan dukungan
emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui ambang
pengetahuan dan ketermapilan mereka yang sekarang.
Jerome Bruner membahas sisi sosial proses belajar dama buku klasiknya,
Toward a Theory of Instruction. Dia menjelaskan tentang kebutuhan mendalam
manusia untuk merespon orang lain dan untuk bekerjasama dengan mereka guna
mencapai tujuan, yang mana hal ini dia sebut resiprositas (hubungan timbal
balik). Bruner berpendapat bahwa resiprositas merupakan sumber motivasi yang
bisa dimanfaatkan oleh guru sebagai berikut, Di mana dibutuhkan tindakan
bersama, dan di mana resiprositas diperlukan bagi kelompok untuk mencapai
suatu tujuan, disitulah terdapat proses yang membawa individu ke dalam
pembelajaran membimbingnya untuk mendapatkan kemampuan yang diperlukan
dalam pembentukan kelompok (Bruner, 1966).
Konsep-konsepnya Maslow dan Bruner mengurusi perkembangan metode
belajar kolaboratif yang sedemikian popular dalam lingkup pendidikan masa kini.
Menempatkan siswa dalam kelompok dan memberi mereka tugas yang menuntut
untuk bergantung satu sama lain dalam mengerjakannya merupakan cara yang
bagus untuk memanfaatkan kebutuhan sosial siswa. Mereka menjadi cenderung
lebih telibat dalam kegiatan belajar karena mereka mengerjakannya bersama

teman-teman. Begitu terlibat, mereka juga langsung memiliki kebutuhan untuk


membicarakan apa yang mereka alami bersama teman, yang mengarah kepada
hubungan-hubungan lebih lanjut.
Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan
belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif dengan
cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang
diajarkan

siswa kepada

teman-temannya

memungkinkan

mereka

untuk

memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Metode belajar


bersama yang terbaik, semisal pelajaran menyusun gambar (jigsaw), memenuhi
persyaratan ini. Pemberian tugas yang berbeda kepada siswa akan mendorong
mereka untuk tidak hanya belajar bersama, namun juga mengajarkan satu sama
lain.

H. Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks


1. Uraian Singkat
Ini merupakan cara aktif dan menyenangkan untuk meninjau ulang materi
pelajaran. Cara ini memungkinkan siswa untuk berpasangan dan memberi
pertanyaan kuis kepada temannya.
2. Prosedur
a. Pada kartu indeks yang terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang
diajarkan di kelas. Buatlah krtu pertanyaan dengan jumlah yang sama
dengan setengah jumlah siswa.

b. Pada kartu yang terpisah, tulislah, tulisan jawaban atas masing-masing


pertanyaan itu.
c. Campurlah dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar
benar-benar tercampuraduk.
d. Berikansatu kartu untuk satu siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan
mencocokan. Sebagian siswa mendapatkan pertanyaan tinjauan dan
sebagian lain mendapatkan kartu jawabannya.
e. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah
terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk
mencari tempat duduk bersama. (Katakan pada mereka untuk tidak
mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka).
f. Bila semua pasangan yang cocok telah duduk bersama, perintahkan tiap
pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa yang lain dengan
membacakan keras-keras pertanyaan mereka dan menantang siswa lain
untuk memberikan jawaban.
3. Variasi
a. Sususunlah kartu yang berisi sebuah kalimat beberapa kata yang
dihilangkan untuk dicocokkan dengan kartu yang berisi kata-kata yang
hilang itu misalnya, Pengeluaran sisa-sisa makanan hasil metabolisme
dalam tubuh disebut _________.
b. Buatlah kartu yang berisi pertanyaan-pertanyaan dengan beberapa
kemungkinan jawabannya __ misalnya, cara pencernaan makanan pada

hewan?. Cocokkan kartu-kartu itu dengan kartu yang berisi kumpulan


jawaban yang relevan. Ketika tiap pasangan memberikan kuis kepada
kelompok, perintahkan mereka untuk mendapatkann beberapa jawaban
dari siswa lain.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Menurut Oja dan Smuljan (dalam Titik Sugiarti, 1997: 8) mengelompokkan


penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu (a) guru sebagai peneliti, (b)
penelitian tindakan kolaboratif, (c) simultan terintegratif, dan (d) adminsitrasi social
eksperimental.
Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti,
penanggungjawab penuh penelitian adalah praktisi (guru). Tujuan utama dari
penelitian ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara
penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan
refleksi.
Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran
peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa,
sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data
yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.

A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian


1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan
penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di
kelas VIII A Tahun Pelajaran 2013/2014.

2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat
penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret
semester genap tahun pelajaran 2004/2005.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas VIII A Tahun Pelajaran
2013/2014.

B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut
Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat
reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan
rasional dari tindakan mereka dalam

melaksanakan tugas, memperdalam

pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki


kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis,
2003: 3).
Sedangkah menurut Muhlis (2003: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian
yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi
pembelajaran yang dilakukan.
Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan
pratek pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya
adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2003: 5).

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan,


maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan
Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke
siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action
(tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang
berupa identifikasi permasalahan.

C. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Silabus
Yaitu

seperangkat

rencana

dan

pengaturan

tentang

kegiatan

pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.


2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai
pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masingmasing RPP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan
pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.
3. Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep IPA pada pokok

bahasan memahami hakekat bangsa dan negara. Tes formatif ini diberikan
setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan guru
(objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46 soal yang telah diujicoba,
kemudian penulis mengadakan analisis butir soal tes yang telah diuji validitas
dan reliabilitas pada tiap soal. Analisis ini digunakan untuk memilih soal yang
baik dan memenuhi syarat digunakan untuk mengambil data. Langkahlangkah analisi butir soal adalah sebagai berikut:
a. Validitas Tes
Validitas butir soal atau validitas item digunakan untuk
mengetahui tingkat kevalidan masing-masing butir soal. Sehingga dapat
ditentukan butir soal yang gagal dan yang diterima. Tingkat kevalidan ini
dapat dihitung dengan korelasi Product Moment:
rxy

N XY X Y

N X

N Y

(Suharsimi

2001: 72)
Dengan: rxy

: Koefisien korelasi product moment

: Jumlah peserta tes

: Jumlah skor total

: Jumlah skor butir soal

X2

: Jumlah kuadrat skor butir soal

XY : Jumlah hasil kali skor butir soal

Arikunto,

b. Reliabilitas
Reliabilitas butir soal dalam penelitian ini menggunakan rumus
belah dua sebagai berikut:
r11

2r1 / 21 / 2
(Suharsimi Arikunto, 20001: 93)
(1 r1 / 21 / 2 )

Dengan: r11
r1/21/2

: Koefisien reliabilitas yang sudah disesuaikan


: Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes

Kriteria reliabilitas tes jika harga r11 dari perhitungan lebih besar dari
harga r pada tabel product moment maka tes tersebut reliable.
c. Taraf Kesukaran
Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal
adalah indeks kesukaran. Rumus yang digunakan untuk menentukan taraf
kesukaran adalah:
P

B
Js

(Suharsimi Arikunto, 2001: 208)

Dengan: P

: Indeks kesukaran

: Banyak siswa yang menjawab soal dengan benar

Js

: Jumlah seluruh siswa peserta tes

Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut:


-

Soal dengan P = 0,000 sampai 0,300 adalah sukar

Soal dengan P = 0,301 sampai 0,700 adalah sedang

Soal dengan P = 0,701 sampai 1,000 adalah mudah

d. Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk
membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang
berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya
pembeda desebut indeks diskriminasi. Rumus yang digunakan untuk
menghitung indeks diskriminasi adalah sebagai berikut:
D

B A BB

PA PB
JA JB

(Suharsimi Arikunto, 2001: 211)

Dimana:
D : Indeks diskriminasi
BA : Banyak peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar
BB : Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar
JA : Jumlah peserta kelompok atas
JB : Jumlah peserta kelompok bawah
PA

BA
Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar.
JA

PB

BB
Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
JB

Kriteria yang digunakan untuk menentukan daya pembeda butir


soal sebagai berikut:
-

Soal dengan D = 0,000 sampai 0,200 adalah jelek

Soal dengan D = 0,201 sampai 0,400 adalah cukup

Soal dengan D = 0,401 sampai 0,700 adalah baik

Soal dengan D = 0,701 sampai 1,000 adalah sangat baik

D. Metode Pengumpulan Data


Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui
observasi pengolahan belajar aktif, dan tes formatif.

E. Teknik Analisis Data


Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran
perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis
deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan
kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk
mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon
siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses
pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan
siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara
memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistic sederhana yaitu:
1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang


selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga
diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
X

X
N

Dengan

: X

= Nilai rata-rata

X = Jumlah semua nilai siswa


N = Jumlah siswa
2. Untuk ketuntasan belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan
secara klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan belajar mengajar kurikulum
1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah
mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas
tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama
dengan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan
rumus sebagai berikut:
P

Siswa. yang.tuntas.belajar x100%


Siswa

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data
observasi berupa pengamatan pengelolaan belajar aktif dan pengamatan aktivitas
siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap
siklus.
Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang
betul-betul mewakili apa yang diinginkan. Data ini selanjutnya dianalisis tingkat
validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.
Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan
pengelolaan belajar aktif yang digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan
model belajar aktif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan data pengamatan
aktivitas siswa dan guru.
Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah
diterapkan belajar aktif.

A. Analisis Item Butir Soal


Sebelum melaksanakan pengambilan data melalui instrument penelitian
berupa tes dan mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan
dianalisis. Uji coba dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes
yang dilakukan meliputi:

1. Validitas
Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes
sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini. Dari
perhitungan 46 soal diperoleh 16 soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari
validits soal-soal dirangkum dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes Formatif Siswa
Soal Valid
4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 25, 27, 28,
29, 30, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45

Soal Tidak Valid


1, 2, 3, 5, 6, 8, 15, 16, 18,
20, 22, 24, 31, 32, 40

2. Reliabilitas
Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya.
Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 653. Harga
ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 24)
dengan r (95%) = 0,404. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah
memenuhi syarat reliabilitas.
3. Taraf Kesukaran (P)
Taraf kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal.
Hasil analisis menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat:
-

20 soal mudah

16 soal sedang

10 soal sukar

4. Daya Pembeda
Analisis daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal
dalam membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang
berkemampuan rendah.
Dari hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkteriteria
jelek sebanyak 16 soal, berkriteria cukup 20 soal, berkriteria baik 10 soal.
Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syara-syarat
validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.

B. Analisis Data Penelitian Persiklus


1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat
pengajaran yang mendukung.
b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan
pada tanggal 9 Maret 2014 di Kelas VIII A SMP Negeri 5 Kerinci dengan
jumlah siswa 20 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru.
Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang
telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksaaan belajar mengajar

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I


dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses
belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada
siklus I adalah sebagai berikut:

Table 4.2. Nilai Tes Formatif Pada Siklus I


No. Urut

Nilai

Keterangan
T
TT

7
5

1
70
2
70
3
60
4
70
5
60
6
80
7
70
8
60
9
70
10
70
11
60
12
60
Jumlah
800
Jumlah Skor 1630
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400
% Skor Tercapai 67,91

Keterangan:

No. Urut

Nilai

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
jumlah

70
80
60
80
60
80
70
70
60
70
70
60
830

T
TT
Jumlah siswa yang tuntas
Jumlah siswa yang belum tuntas
Klasikal

Keterangan
T
TT

8
4

: Tuntas
: Tidak Tuntas
: 15
:9
: Belum tuntas

Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I


No
1
2
3

Uraian
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar

Hasil Siklus I
67,91
15
62,50

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan


cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks diperoleh nilai rata-rata
prestasi belajar siswa adalah 67,91 dan ketuntasan belajar mencapai
62,50% atau ada 15 siswa dari 24 siswa sudah tuntas belajar. Hasil
tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa
belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 65 hanya
sebesar 62,50% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki
yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih banyak yang
lupa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan hampir satu semester.
2. Siklus II
a. Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif II dan alat-alat
pengajaran yang mendukung.
b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan

kegiatan

belajar

mengajar

untuk

siklus

II

dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2014 di Kelas VIII A SMP Negeri 5


Kerinci dengan jumlah siswa 20 orang. Dalam hal ini peneliti bertindak
sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana
pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalah
atau kekurangan pada siklus I tidak terulanga lagi pada siklus II.

Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan


belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses
belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah
tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai
berikut.

Table 4.4. Nilai Tes Formatif Pada Siklus II


No. Urut

Nilai

Keterangan
T
TT

9
3

1
80
2
60
3
80
4
80
5
70
6
60
7
70
8
60
9
70
10
80
11
80
12
70
Jumlah
860
Jumlah Skor 1720
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400
% Skor Tercapai 71,67

Keterangan:

No. Urut

Nilai

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Jumlah

80
60
80
70
70
70
60
90
80
60
70
70
860

T
TT
Jumlah siswa yang tuntas
Jumlah siswa yang belum tuntas
Klasikal

Keterangan
T
TT

9
3

: Tuntas
: Tidak Tuntas
: 18
:6
: Belum tuntas

Tabel 4.5. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II


No
1
2
3

Uraian
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar

Hasil Siklus II
71,67
18
75,00

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa


adalah 71,67 dan ketuntasan belajar mencapai 75,00% atau ada 22 siswa
dari 18 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada
siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami
peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil
belajar siswa ini karena siswa sudah mulai mempelajari lagi materi yang
telah diterimnya selama ini. Sehingga ingatan siswa terbuka kembali
dengan materi yang telah diajarkan selama ini. Selain itu dari permainan
ini siswa tidak tahu menjadi tahu dari jawaban siswa sudah mengetahuai
jawabannya.

3. Siklus III
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat
pengajaran yang mendukung.
b. Tahap kegiatan dan pengamatan

Pelaksanaan

kegiatan

belajar

mengajar

untuk

siklus

III

dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 2014 di Kelas VIII A SMP Negeri 5


Kerinci dengan jumlah siswa 20 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak
sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana
pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan
atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses
belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah
tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III adalah
sebagai berikut:
Table 4.6. Nilai Tes Formatif Pada Siklus III
No. Urut

Nilai

Keterangan
T
TT

10
2

1
60
2
80
3
80
4
70
5
70
6
90
7
80
8
60
9
80
10
90
11
70
12
80
Jumlan
910
Jumlah Skor 1840
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2400
% Skor Tercapai 76,67

No. Urut

Nilai

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Jumlah

80
90
80
70
80
60
80
90
80
70
80
70
930

Keterangan
T
TT

11
1

Keterangan:

T
TT
Jumlah siswa yang tuntas
Jumlah siswa yang belum tuntas
Klasikal

: Tuntas
: Tidak Tuntas
: 21
:3
: Tuntas

Tabel 4.7. Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III


No
1
2
3

Uraian
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar

Hasil Siklus III


76,67
21
87,50

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif


sebesar 76,67 dan dari 24 siswa yang telah tuntas sebanyak 21 siswa dan
3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal
ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 87,50% (termasuk kategori
tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari
siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi
oleh adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mempelajari kembali
materi pelajaran yang telah diterapkan selama ini. Juga dari hasil cara
belajar aktif model pencocokan kartu indeks ini murid jadi gampang
mengingat kembali.
c. Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik
maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan

penerapan belajar aktif. Dari data-data yang telah diperoleh dapat


duraikan sebagai berikut:
1. Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua
pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum
sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing
aspek cukup besar.
2. Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif
selama proses belajar berlangsung.
3. Kekurangan

pada

siklus-siklus

sebelumnya

sudah

mengalami

perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.


4. Hasil belajar siswsa pada siklus III mencapai ketuntasan.
d. Revisi Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan belajar aktif dengan baik
dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan
proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak
diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk
tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa
yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar
mengajar selanjutnya penerapan belajar aktif dapat meningkatkan proses
belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

C. Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa cara belajar aktif
model pencocokan kartu indeks memiliki dampak positif dalam meningkatkan
daya ingat siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman
dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini
(ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, II, dan III) yaitu masing-masing
62,50%, 75,00%, dan 87,50%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara
klasikal telah tercapai.
2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses cara
belajar aktif model pencocokan kartu indeks dalam setiap siklus mengalami
peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap proses mengingat kembali
materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat ditunjukkan
dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus
mengalami peningkatan.
3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran IPA dengan cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks
yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media,
mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara

siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas isiwa dapat
dikategorikan aktif.
Sedangkan

untuk

aktivitas

guru

selama

pembelajaran

telah

melaksanakan langkah-langkah belajar aktifdengan baik. Hal ini terlihat dari


aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan
mengamati

siswa

dalam

mengerjakan

kegiatan,

menjelaskan/melatih

menggunakan alat, memberi umpan balik/evaluasi/Tanya jawab dimana


prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus,
dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks
memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang
ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus,
yaitu siklus I (62,50%), siklus II (75,00%), siklus III (87,50%).
2. Penerapan cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks mempunyai
pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk
mempelajari kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini yang
ditunjukan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan bahwa siswa
tertarik dan berminat dengan cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks
sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
3. Cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks memiliki dampak positif
terhadap daya ingat siswa, dimana dengan metode ini siswa dipaksa untuk
mengingat kembali materi palajaran yang telah diterima selama ini.

B. Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses
belajar mengajar IPA lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi
siswa, makan disampaikan saran sebagai berikut:
1. Untuk melaksanakan belajar aktif memerlukan persiapan yang cukup matang,
sehingga guru harus mempu menentukan atau memilih topik yang benar-benar
bisa diterapkan dengan cara belajar aktif model pencocokan kartu indeks
dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih
sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran yang sesuai, walau
dalam taraf yang sederhana,

dimana siswa nantinya dapat menemuan

pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa


berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya
dilakukan di Kelas VIII A SMP Negeri 5 Kerinci tahun pelajaran 2013/2014.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineksa Cipta
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algesindon.
Daroeso, Bambang. 1989. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila. Semarang:
Aneka Ilmu.
Dayan, Anto. 1972. Pengantar Metode Statistik Deskriptif, tt. Lembaga Penelitian
Pendidian dan Penerangan Ekonomi.
Hadi, Sutrisno. 198. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta: YP. Fak. Psikologi
UGM.
Melvin, L. Siberman. 2004. Aktif Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung:
Nusamedia dan Nuansa.
Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Riduwan. 2004. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti
Pemula. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Surakhmad, Winarno. 1990. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars.

PENERAPAN CARA BELAJAR AKTIF MODEL PENCOCOKAN


KARTU INDEKS DALAM MEMBANTU PENGUASAAN MATERI
PELAJARAN IPA PADA SISWA
KELAS VIII A SMP NEGERI 5 KERINCI
TAHUN 2013/2014

KARYA ILMIAH

OLEH
YARDANI ADI COSRA, S.Si
NIP. 19760402 200904 1 001

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN KERINCI


DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN KERINCI
SMP NEGERI 5 KERINCI

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN


Setelah membaca dan mencermati karya ilmiah yang merupakan ulasan hasil
penelitian yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasikan di perpustakaan SMP
Negeri 5 Kerinci hasil karya dari:

Nama

: Yardani Adi Cosra, S.Si

NIP

: 19760402 200904 1 001

Unit Kerja

: SMP Negeri 5 Kerinci

Judul

: Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu


Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran IPA
Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 5 Kerinci Tahun
Pelajaran 2013/2014.

Menyetujui dan mengesahkan untuk diajukan mendapatkan Penetapan Angka Kredit


Kenaikan Pangkat dalam jabatan fungsional guru.

Mengetahui

Mengesahkan

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Kerinci

Pengawas Mata Pelajaran IPA

.
NIP.

..
NIP.

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN

Karya Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk memenuhi penetapan angka kredit
kenaikan pangkat dalam jabatan fungsional guru. Karya ilmiah ini tidak
dipublikasikan tetapi telah disetujui dan disahkan untuk didokumentasikan di
perpustakaan SMP Negeri 5 Kerinci.

Pada Hari

Tanggal

Perpustakawan
..
.

.
NIP:..

Kepala

NIP: .

KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan
limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan
karya ilmiah dengan judul Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu
Indeks dalam Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran IPA Pada Siswa Kelas VIII A
SMP Negeri 5 Kerinci Tahun Pelajaran 2013/2014, penulisan karya ilmiah ini kami
susun untuk dipakai dalam bacaan di perpustakaan sekolah dan dapat dipakai sebagai
perbandingan dalam pembuatan karya ilmiah bagi teman sejawat juga anak didik
pada latihan diskusi ilmiah dalam rangka pembinaan karya ilmiah remaja.
Dalam penyusunan karya ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu terima kasih ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya
kepada:
1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kerinci
2. Yth. Kepala SMP Negeri 5 Kerinci
3. Yth. Rekan-rekan Guru
4. Semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai.
Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini jauh dari sempurna untuk
itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis
harapkan.
Penulis

ABSTRAK
Penerapan Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks dalam
Membantu Penguasaaan Materi Pelajaran IPA Pada Siswa Kelas II B SDN
Sukorame Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik Tahun Pelajaran 2008-2009

Kata Kunci: belajar aktif, pencocokan kartu indeks

Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengar,melihat,


mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan
Cuma itu, siswa perlu mengerjakannya, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara
mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktekkan keterampilan dan
mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah mereka dapatkan.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak
tiga putaran. Setian putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan
pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalh siswa kelas Kelas II B
SDN Sukorame Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik Tahun Pelajaran 2008-2009.
Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar
mengajar.
Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami
peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I (67,65%), siklus II (79,41%),
siklus III (91,17 %).
Simpulan dari penelitian ini adalah metode belajar aktif model pencocokan
kartu indeks dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Kelas VIII A
SMP Negeri 5 Kerinci Tahun Pelajaran 2013/2014, serta model pembelajaran ini
dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran IPA.

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul .............................................................................................. i
Halaman Pengesahan .......................................................................................

ii

Halaman Publikasi ..........................................................................................

ii

Kata Pengantar .................................................................................................

iv

Abstrak .............................................................................................................

Daftar Isi ..........................................................................................................

vi

BAB

BAB

BAB

II

III

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...................................................

B. Rumusan Masalah ..............................................................

C. Tujuan Penelitian ...............................................................

D. Kegunaan Penelitian .........................................................

KAJIAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar .....................................

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar .........

C. Hakikat IPA .......................................................................

D. Proses Belajar Mengajar IPA .............................................

E. Prestasi Belajar IPA ............................................................

11

F. Gaya Belajar ......................................................................

12

G. Sisi Sosial Proses Belajar ...................................................

14

H. Cara Belajar Aktif Model Pencocokan Kartu Indeks ........

16

METODOLOGI PENELITIAN

BAB

BAB

IV

A. Tempat, Waktu, dan Subyek Penelitian .............................

19

B. Rancangan Penelitian ........................................................

20

C. Instrumen Penelitian ........................................................

21

D. Metode Pengumpulan Data ................................................

25

E. Teknik Analisis Data ........................................................

25

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Analisis Item Butir Soal ....................................................

27

B. Analisi Data Penelitian Persiklus ......................................

29

C. Pembahasan .......................................................................

38

PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................

40

B. Saran ..................................................................................

41

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

42