Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Umum Lokasi


4.1.1. Sejarah Berdirinya Workshop Budidaya Perikanan
Workshop Budidaya Perikanan program studi budidaya perikanan, jurusan
Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak merupakan Unit
Pelaksana Teknik (UPT) dari kegiatan praktek mata kuliah mahasiswa program
studi budidaya perikanan. Workshop Budidaya Perikanan terdiri dari unit tambak
dan unit hatchery yang mulai dibangun pada tahun 2007 dan mulai di fungsikan
untuk kegiataan Praktek Kerja Lapang (PKL) mahasiswa budidaya perikanan
semester IV. Lokasi ini sebelumnya merupakan tambak milik perusahaan swasta
yang bergerak dibidang usaha pembenihan dan pembesaran udang.
Workshop budidaya perikanan sebelumnya bernama Pusat Latihan
Pengembangan Perikanan Pesisir dan Laut (Puslat P3L) yang terbentuk
berdasarkan

SK

Direktur

Politeknik

Negeri

Pontianak

nomor

0250/K15/OT/2008. Pada tahun 2009 PusLat P3L berubah nama menjadi


Workshop Budidaya Perikanan dan secara resmi didirikan pada tanggal 01
September 2009, perubahan nama ini berdasarkan Surat Keputusan Direktur
Politeknik Negeri Pontianak nomor : 2268/K15/OT/2009 tentang pemberhentian
dan pengangkatan pejabat di lingkungan jurusan ilmu kelautan dan perikanan
politeknik negeri pontianak.
Selain di peruntukkan sebagai tempat kegiatan praktek mata kuliah
mahasiswa budidaya perikanan, sarana yang ada juga digunakan untuk kegiatan
penelitian bagi dosen, pelatihan bagi dunia pendidikan dan masyarakat serta
stakeholder lainnya. Terciptanya tenaga ahli budidaya perikanan diharapkan dapat
dihasilkan dari UPT ini.
4.1.2. Letak Geografis
Workshop Budidaya Perikanan terletak diwilayah Kabupaten Pontianak
dengan posisi 00 44O LU dan 1 00O LS serta diantara 108 24O BT dan 109
00O BT. Tepatnya berada di jalan M.Thaha, Kelurahan Terusan, Kecamatan
Mempawah Hilir, Kabupaten Pontianak, Propinsi Kalimantan Barat.

17

Gambar 2. Keadaan Tambak


1.1.3. Struktur Organisasi
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Politeknik Negeri Pontianak
nomor : 2268/K15/OT/2009 yang berisikan tentang pemberhentian dan
pengangkatan pejabat di lingkungan Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan
Politeknik Negeri Pontianak. Adapun struktur organisasi dan tugas serta
penanggung jawab Workshop Budidaya Perikanan Mempawah, Politeknik Negeri
Pontianak, susunan struktur organisasi dapat dilihat dibawah ini :

STRUKTUR ORGANISASI

18

Gambar 3. Struktur Organisasi


Untuk mendukung kelancaran dan

ketertiban dalam melaksanakan

kegiatan serta pengawasan dalam lingkungan kerja, perlu adanya tugas dan fungsi
dari masing-masing bagian. berdasarkan struktur Organisasi Workshop Budidaya
Perikanan Politeknik Negeri Pontianak pada gambar diatas menggambarkan tugas
dan fungsi dari masing-masing unit dapat dilihat pada tabel 7:

Tabel 7. Struktur Organisasi


No
1

Nama
Suparmin,
S.Pi, MMA

2 1.Khairul
Huda,A.Md
2.Niki Rio Y,
A.Md
3.Nurfahma Dwi
Handoyo,
A.Md

Jabatan
Tugas dan Tanggung Jawab
Ka. Workshop a.Membuat perencanaan dan evaluasi
kegiatan,
b.Mengkoordinasikan seluruh rencana
kegiatan,
c.Bertanggung jawab kepada Direktur
melalui Ka. Jurusan IKP
Teknisi

a.Memberikan masukan/Ide tentang


kegiatan yang akan dilaksanakan
kepada Ka. Workshop,
b.Mempersiapkan dan melaksanakan
kegiatan pemeliharaan sarana dan
spesies budidaya yang dilaksanakan,
c.Melaksanakan monitoring kegiatan

19

3 1.Agung
Nugraha
2.M. Azhari
3.Feriwansyah

Security

budidaya dan praktek mahasiswa,


d.Bertanggung jawab dan melaporkan
kondisi
lapangan
kepada
Ka.Workshop
a.Menjaga dan memastikan seluruh aset
yang ada di workshop dalam kondisi
aman,
b.Menjaga keamanan dan ketertiban
proses kegiatan mahasiswa,
c.Melaporkan kondisi lapangan secara
berkala
kepada
Ka.Workshop/jurusan IKP/Polnep,
d.Kegiatan lainnya yang dianggap perlu
dan akan diperhitungkan secara
proporsional.

4.1.4. Sarana dan Prasarana


Guna mendukung terlaksananya seluruh kegiatan Workshop Budidaya
Perikanan Politeknik Negeri Pontianak, Mempawah, maka dilengkapi dengan
berbagai jenis sarana dan prasarana baik itu dari hatchery, tambak maupun lainlain. Sarana dan prasarana tersebut diantaranya ; mess mahasiswa, rumah dinas,
tambak dan hatchery.

a. Sarana Tambak
Sarana yang digunakan dalam semua kegiatan tambak dapat dilihat pada
tabel 8 :
Tabel 8. Alat yang Digunakan dalam Oprasional Tambak
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Nama Alat
Exsavator
Pompa Robin
Pompa celup
Pompa celup air asin
Kincir
Timbangan Digital
Grass Cutter
Sprayer
Tols box
Dongkrak
Skop

Spesifikasi
Hitachi 110
EY 20. 3 inchi
2 inchi
6 12 inchi
1 HP tunggal
Duduk 60 kg
Motor fleksible
Manual, SA 17 P3
Tang, Obeng dll
Standart 5 ton
Standar

Jumlah
1 buah
1 buah
1 buah
8 buah
7 buah
1 buah
2 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
20

12
13
14
15
16
17
18
19

Cangkul
Arit
Parang
Penggali
Keranjang panen
Refraktometer
Jala
Timbangan gantung

Standar
Standar
Standar
Standar
Basket,
50 kg
Atago
Nylon

kapasitas

5 buah
2 buah
2 buah
5 buah
5 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Sumber : Data Lapangan 2015

b. Sarana Hatchery
Sarana yang digunakan dalam Hatchery diantaranya disajikan pada table 9.
Tabel 9. Alat yang Digunakan dalam Hatchery
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
No
10
11
12
13

Nama Alat
Pompa celup 1 inchi
Pompa air
Pompa air Aquarium
Bak fiber bundar
Bak fiber persegi
Blower
Mikroskop
Blender pakan
Tabung oksigen
Nama Alat
Selang
Serok
Waring hitam

Spesifikasi
Submersible standart
Kapasitas 2 ton
Kapasitas 4 ton
Olompus / Electron
Small, 3 kg +
Spesifikasi
Regulator
Putih berserat 10 m
- 1x1x1
- 2x1x1
- 2x2x1
- 6x4x1

Waring hijau

Jumlah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
Jumlah
2 Gulung
6 buah
2 buah
5 buah
3 buah
1
Buah

Sumber : Data Lapangan 2015

c. Sarana Penunjang
Sarana penunjang di Workshop Budidaya Perikanan Politeknik Negeri
Pontianak di Mempawah dapat dilihat pada tabel 10 :
Tabel 10. Sarana Penunjang
No

Nama alat

Spesifikasi

Jumla
h

21

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Meja kantor
Kursi kantor
Meja makan + kursi
Meja dapur
Kursi mahasiswa
Komputer
Filling cabinet
Papan tulis kecil
Papan tulis besar
Tempat tidur sorong
Tempat tidur tunggal
Matras tidur
Lemari pakaian
Lemari pakaian kecil
Kipas angin
Kompor gas
Tabung gas
Rice cooker
Dispenser tinggi
Dispenser duduk
Pompa air sumur
TV 21 inchi
Tempat tidur 2 tingkat+matras

Standar, kayu
Kursi lipat
Standar, besi
Standar, kayu
Kursi lipat
PC + meja
Standar, 4 laci
Tempel
Plus kaki
Spring bed sorong
Spring bed no 2
Busa
Medium 2 pintu
Small 2 pintu
Standing
Portable sanyo
LPG 12 kg
Automatic maspion
Hot+Cold + galon
Hot+Cold + galon
Small panasonic
LG
Standar Kayu, busa

2 buah
2 buah
1 set
1 buah
30 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
2 buah
1 buah
2 buah
1 buah
2 buah
2 buah
2 buah
2 buah
2 buah
1 buah
1 buah
3 buah
1 buah
24 buah

Sumber : Data Lapangan 2014

4.2 Hasil
4.2.1 Wadah Pendederan
Spesifikasi wadah yang digunakan dalam kegiatan pendederan nila salin
dapat dilihat pada tabel 11 :
Tabel 11. Spesifikasi Wadah Pendederan yang Digunakan
No
1
2
3

Pengamatan
Wadah yang digunakan
Ukuran waring
Tinggi Air

Hasil
Jaring tancap
2mx2m
50 cm

Sumber : Data Lapangan 2015

4.2.2

Penebaran Benih
Penebaran benih bertujuan untuk mengatahui benih yang baik dan

berkualitas, agar benih dapat berkembang dengan baik. Pengambilan dan


penebaran benih dapat di lihat pada tabel 12 :

22

Tabel 12. Data Benih


N
o

Data yang diambil

Hasil

Jumlah benih

400 ekor

Ukuran benih

5-8 cm

Berat benih

1 gram

Kualitas benih

Sehat

Padat tebar

Jumlah tebar

Cara penebaran

Ciri ciri benih yang baik

100 ekor/m2
400 ekor
Aklimatisasi
Lincah, overculum normal, kepala ikan relatif
kecil, pada ujung mulut ada dua sungut

Sumber : Data Lapangan 2015

4.2.3

Pemeliharaan Benih
Pemeliharaan bertujuan untuk memelihara atau merawat benih hingga

ukuran konsumsi, Pengambilan data pemeliharaan benih dapat dilihat pada tabel
13 :
Tabel 13. Pengambilan Data Pemeliharaan Benih
N
o

Data yang diambil

Hasil

Ukuran benih

5-8 cm

Jumlah benih

400 ekor

23

Berat benih

1 gram

Asal benih

BBIS Anjungan

Sumber : Data Lapangan 2015

4.2.3.1 Manajemen Pemberian pakan


Dilihat dari jenis makanannya nila di golongkan hewan pemakan segala
atau omnivora. Maka pakan yang di berikan harus banyak mengandung protein
hewani dan pakan tambahan tersebut dapat berupa pelet atau pakan alami.
Pemberian pakan dilakukan secara adlibitum dengan frekuensi 3 kali sehari yaitu
pagi, siang, dan sore hari, pemberian pakan dapat dilihat pada tabel 14 :
Tabel 14. Data Pemberian Pakan
N
o
1.

Pengamatan
Jenis pakan tambahan

2.
3.

Frekuensi pemberian pakan


Waktu pemberian pakan

4.

Dosis

Hasil
Pellet yang direndam (seiring
dengan pertumbuhan benih)
3 kali sehari
Pagi (07.00-08.00)
Siang (11.0-13.00)
Sore (16.00-17.00)
Adlibitum

Sumber: Data Lapangan 2015

4.2.3.2 Manajemen Kualitas Air


Pada praktek kerja Lapangan ini suhu yang baik untuk pendederan benih
di Workshop Budidaya Perikanan Mempawah ialah 250C 300C. Pengecekan
suhu, DO, salinitas, pH, dan O2 dilakukan setiap hari. Pengecekan kualitas air dari
terendah dan yang tertinggi dapat dilihat pada tabel 15 :
Tabel 15. Pengecekan Kualitas Air
N

Uraian

Yang Terendah

Yang Tertinggi

Alat Ukur

o
1
2
3
4
5

Suhu (0C)
DO (mg/L)
pH (ppt)
Salinitas
O2

29,5
0,3
6,4
0
0,5

34,87
4
8,9
5
2,9

Termometer
DO Meter
pH Tes
Refraktometer
DO Meter

Sumber : Data Lapangan 2015

4.2.3.3 Pengendalian Hama dan Penyakit

24

Selama masa pemeliharaan benih yang dilakukan selama 10 hari PKL II di


Workshop Budidaya Perikanan di Mempawah. Benih yang dipelihara pada
keramba jaring tancap tidak memperlihatkan gejala gejala bahwa larva terserang
hama dan penyakit. Jika dilihat dari gerakannya yang normal dan nafsu makan
yang relatif tinggi menandakan kondisi ikan sehat dan normal.
4.2.3.4 Pengamatan Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup
Untuk mendapatkan pertumbuhan pada nila salin, maka perlu dilakukan
sampling, sampling yang dilakukan sebanyak 2 kali. Sampling panjang dan berat
yang dilakukan selama tahap pendederan dapat dilihat pada tabel 16 :
Tabel 16. Data Sampling Awal Panjang Benih
N0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata-rata

Panjang
Berat
6 cm
4
5 cm
2
6 cm
3
5 cm
2
5.5 cm
3
6 cm
1
6 cm
4
5 cm
2
6 cm
3
5 cm
1
Panjang 5,4

No
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Panjang
5
5
5,5
5
6
6
4,5
5
5,5
5,5
Berat 2,45

Berat
2
2
2
4
2
2
2
3
2
3

Panjang
7 cm
5 cm
7 cm
6 cm
6 cm
5 cm
6 cm
6 cm
7 cm
6 cm
Berat 5,3

berat
5,5
6,5
6
4.5
3
3
4,5
4.5
3,5
5

Tabel 17. Data Sampling Akhir Panjang Benih


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rata-rata

Panjang
Berat
7 cm
5
7 cm
6
6 cm
5,5
5 cm
6,5
5 cm
6
5 cm
5
6 cm
4,5
7 cm
5.4
7 cm
6
8 cm
5
Panjang 6,2

No
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

25

Sumber : Data Lapangan 2015

Tabel 18. Sampling berat


No
Jumlah Sampling
Berat
1
20 ekor
49 gram
Rata-rata
2,45 gram
Sumber : Data Lapangan 2015

Pertumbuhan benih ikan nila salin yang dilaksanakan di Workshop


Budidaya Perikanan Mempawah dapat dilihat pada tabel 19 :
Tabel 19. Pertumbuhan Benih Ikan Nila Salin
No
1.

Uraian
Pertumbuhan
a. Pertumbuhan Harian
b. Pertumbuhan Mutlak
c. Pertumbuhan Relatif
d. Pertumbuhan Panjang
Mutlak
e. Pertumbuhan Panjang Relatif
f. Survival Rate
g. FCR

Hasil Pengamatan
0,285 gr
2,85 gr
1.16 %
0,8 cm
14.81 %
95 %
1,00

Sumber : Data Lapangan 2015

4.3 Pembahasan
4.3.1 Wadah Pendederan
Wadah pendederan yang digunakan adalah jaring tancap Pada tambak
pendederan 1 yang terdapat di

yang berbentuk persegi panjang, sebelum

digunakan terlebih dahulu jaring di sikat dan dibersihkan dengan air, setelah itu
pengambilan kayu untuk mengikat jaring, kayu di tancap pada pada tambak
pendederan 1 dengan ukuran jaring yang di gunakan, kemudian pengikatan jaring
pada kayu yang telah di tancap dengan kedalaman jaring 50 cm.tambahkan klorin
dengan tujuan agar wadah yang digunakan dalam media pendederan terhindar dari
jamur, bakteri atau parasit yang merugikan, setelah dilakukan pencucian
26

kemudian bak dikeringkan agar setelah proses pendederan dilakukan benih tidak
mudah terserang jamur, jaring yang sudah di siapkan diisi air setinggi 50 cm.
Kelebihan jaring tancap dengan kolam ini ialah ikan nila lebih mudah di
kontrol baik dalam segi pengontolan penyakit maupun dari segi pemberian pakan
sedangkan kelemahan dari jaring tancap tersebut ialah cukup sulit pengontrolan
terhadap hama di karnakan lokasi jaring tancap yang terletak cukup jauh.
4.3.2

Pemeliharaan Benih
Selama pemeliharaan kegiatan penting yang harus dilakukan adalah

pemberian pakan, pencegahan hama dan penyakit, dan pengecekan air, pakan di
berikan setiap hari, pagi, siang dan sore hari untuk mempercepat pertumbuhan
benih. Jenis pakan yang diberikan berupa pelet yang dibasahi air.
Menurut Khairuman (2003), selama pemeliharaan, kegiatan penting yang
harus dilakukan adalah pemberian makanan tambahan, pencegahan dan
pengamatan hama dan penyakit, pengontrolan terhadap kualitas air. Makanan
tambahan yang harus diberikan berupa pelet tepung atau pelet yang dibasahi air.
Jumlah makanan yang diberikan yaitu secara adlibitum yaitu memberi ikan makan
sekenyang kenyangnya.

4.3.3

Manajemen Pemberian Pakan


Dilihat dari jenis makanannya nila di golongkan hewan pemakan segala

atau omnivora. Maka pakan yang di berikan harus banyak mengandung protein
hewani dan pakan tambahan tersebut dapat berupa pelet atau pakan alami.
Pemberian pakan dilakukan secara adlibitum dengan frekuensi 3 kali sehari yaitu
pagi, siang, dan sore hari.
Hal ini di pertegas oleh Khairuman (2011), Nila tergolong ikan pemakan
segala sehingga bisa mengkonsumsi makanan berupa hewan atau tumbuhan.
Karena itulah, ikan ini sangat mudah dibudidayakan. Ketika masih benih,
makanan yang disukai ikan nila adalah zooplankton (plankton hewani), seperti
Rotifera sp., Moina sp., Daphnia. Selain itu, juga memangsa alga atau lumut yang
menempel pada benda benda dihabitat hidupnya. Jika telah mencapai ukuran
dewasa, ikan nila bisa diberi berbagai makanan tambahan, misalnya pelet.

27

4.3.4

Manajemen Kualitas Air


Pada praktek kerja Lapangan ini suhu yang baik untuk pendederan benih

di Workshop Budidaya Perikanan Mempawah ialah 250C 300C. Pengecekan


suhu, DO, salinitas, pH, dan O2 dilakukan 2 hari sekali.
Menurut Khairuman (2011), kualitas air untuk budidaya ikan nila harus
memenuhi beberapa persyaratan, karena air yang kurang baik akan menyebabkan
ikan mudah terserang penyakit. Ada beberapa variabel penting yang berhubungan
dengan kualitas air. Variabel variabel tersebut berhubungan dengan sifat kimia
air (kandungan oksigen, karbondioksida, pH, zat zat beracun, dan kekeruhan
air). Selain sifat kimia tersebut, air juga memiliki sifat fisika, antara lain yang
berhubungan dengan suhu, kekeruhan, dan warna air.
4.3.5

Penanganan Hama dan Penyakit


Selama masa pemeliharaan benih yang dilakukan selama 10 hari PKL II di

Workshop Budidaya Perikanan di Mempawah. Benih yang dipelihara pada jaring


tancap tidak memperlihatkan gejala gejala bahwa larva terserang hama dan
penyakit. Jika dilihat dari gerakannya yang normal dan nafsu makan yang relatif
tinggi menandakan kondisi ikan sehat dan normal.
Ikan nila termasuk jenis ikan yang relatif tahan terhadap serangan hama
dan penyakit. Namun demikian, bukan berarti usaha budi daya ikan nila
sepenuhnya terbebas dari ancaman serangan hama dan penyakit terutama
mengancam kelangsungan hidup ikan nila yang masih berada pada stadium benih,
dari penetasan hingga pendederan. Berdasarkan tempat pembudidaya, ikan nila
yang dipelihara di kolam, di tambak atau di sawah lebih mudah terserang hama
(Khairuman, 2011).

28