Anda di halaman 1dari 16

Peran Akuntan di Dalam Pemberantasan Korupsi Baik di Level Mikro Atau

Makro
Di dalam suatu instansi baik itu dalam level mikro ataupun makro terdapat
suatu profesi yang memiliki peran yang penting. Profesi yang dimaksud disini
yaitu Akuntan. Akuntan itu sendiri merupakan suatu profesi penunjang bagi suatu
instansi, dimana seorang Akuntan memiliki tugas untuk menyusun laporan
keuangan, anggaran, sistem Akuntansi. Tetapi, seiring perkembangan, Akuntan
tidak hanya mengurusi masalah yang seperti itu saja melainkan menilai masalah
manajemen suatu instansi. Apakah suatu instansi tersebut telah menjalankan
aktivitas sesuai dengan SOP yang berlaku.
Kita ketahui, bahwa terdapat beberapa jenis Akuntan, yaitu di antaranya:

Akuntan Perusahaan
Merupakan Akuntan yang bekerja di suatu perusahaan dimana, tugas
utamanya yaitu menyusun laporan anggaran, keuangan, sistem Akuntansi,

dll.
Akuntan Pemerintahan
Merupakan Akuntan yang berkerja pada pemerintahan atau suatu lembaga,

yang tugasnya yaitu mengawasi arus kas negara.


Akuntan Publik
Biasa kita kenal dengan sebutan Akuntan eksternal, yang merupakan
Akuntan yang jasanya dapat dipakai untuk memeriksa suatu instansi atau

perusahaan, yang tidak memiliki ikatan terhadap pihak manapun.


Akuntan Pendidik
Merupakan Akuntan yang kerjanya menyusun kurikulum pendidikan
Akuntansi, mengajar dan melakukan penelitian mengenai pengembangan
ilmu Akuntansi.
Jadi kesimpulannya, Akuntan merupakan suatu profesi yang tugasnya itu

bukan hanya dalam lingkup bagian keuangan saja, melainkan sudah berkembang
ke

bagian

manajemen

suatu

instansi,

dimana

seorang

Akuntan

mengawasi,mengontrol apakah pekerjaan yang dilakukan sudah sesuai dengan


SOP yang berlaku pada suatu instansi, baik publik maupun swasta.

Disaat seperti ini, kita telah banyak melihat, betapa banyaknya kasus
korupsi yang terjadi di negara kita. Mulai dari level mikro hingga level makro,
semua itu dilakukan karena, adanya rasa tidak puas dengan apa yg telah di
peroleh. Kesadaran diri sendiri juga sangatlah mempengaruhi terjadinya tindakan
korupsi, juga karena adanya kesempatan. Seperti halnya, seorang yang memiliki
jabatan yg strategis lebih mudah melakukan tindakan korupsi, itu di karenakan
akses untuk mengetahui segalanya lebih mudah jadi, secara tidak langsung posisi
stategis bisa mempermudah seseorang mekakukan korup.
Adanya niat dan kesempatan termasuk dalam hal hal yang mendorong
seseorang untuk melakukan korupsi. Terjadinya korupsi itu bisa di sebabkan
karena adanya unsur berikut ini:
Kapitalisme
Maksudnya yaitu jika seseorang melakukan sesuatu tindakan kecurangan.
Melakukan sesuatu dengan cara memanipulasi atau menyembunyikan

kebenaran guna kepentingab pribadi, ataupun organisasi.


Materialistis
Maksudnya yaitu seseorang yang didalam fikirannya hanya materi,
melakukan apa saja di nilai dengan uang. Sifat seperti inilah yang banyak
membuat orang menjadi korup. Untuk mengatasinya, kita hanya perlu
sadar jika kita bekerja dengan tujuan yang tidak baik, maka seterusnya kita

akan terperangkap ke dalam situasi yang tidak baik juga.


Egoisme
Pasti kita telah mengetahui arti dari egoisme itu sendiri, egoisme
merupakan suatu sifat yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa
melihat orang lain. Sifat ini sangatlah tidak baik apabila seseorang lebih
mementingkan egonya karena, akan berakibat fatal nantinya misalkan,
seseorang yg bersifat egois secara tidak langsung akan menjauhkan dirinya
dari lingkungannya.
Demi untuk mencapai kepuasan yang tidak terbatas, sebagian dari para

pelaku bisnis melakukan kecurangan Akuntansi yang juga melibatkan Akuntan.


Seorang Akuntan harus memiliki sikap yang menjunjung tinggi profesionalisme,
indenpendensi serta integritas. Disetiap kegiatannya seorang Akuntan bertindak
diatur oleh kode etik. Jadi Akuntan internal, Akuntan ekternal, maupun Akuntan

pemerintah itu semua telah di atur dan mempunyai kode etik profesi.Adapun kode
etik itu dibuat tujuan utamanya yaitu sebagai standar penilaian Akuntan.
Akuntan berperan besar dalam meningkatkan trasparansi dan kualitas
informasi keuangan guna mewujudkan perekonomian nasional yang sehat dan
efisien. Akuntan memiliki peran disemua sektor: publik, privat, dan nirlaba. Jadi
lebih jelasnya profesi Akuntan menyebar didalam ataupun diluar sektor publik.
Disektor publik, Akuntan dapat bermanfaat guna mendorong pengelolaan
keuangan negara agar berjalan sesuai jalur,lebih tertib,jelas, transparan, dan
semakin akuntabel. Begitupun sebaliknya, disektor swasta Akuntan harus
menyiapkan laporan keuangan yang terpercaya dan dapat diandalkan. Dengan
adanya Akuntan, secara tidak langsung dapat memberikan angin segar dan warna
didalam kehdupan berbangsa dan bernegara didalam menjaga kepentingan publik.
Pemerintah pusat dan daerah, kementerian lembaga, perseroan terbatas, BUMN,
BUMD, UKM dan koperasi, yayasan, ormas, serta partai politik, membutuhkan
jasa Akuntan dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban sumber daya mereka.
Setiap tindakan Akuntan telah memiliki standar dan memiliki kode etik
untuk seorang Akuntan Profesional. Adapun Kode Etiknya yiatu :

KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA

Etika profesional dikeluarkan oleh organisasi profesi untuk mengatur perilaku


anggotanya dalam menjalankan praktik profesinya bagi masyarakat. Dalam
kongresnya tahun 1973, IAI untuk pertama kalinya menetapkan Kode Etik bagi
profesi Akuntan di Indonesia. Pembahasan mengenai kode etik IAI ditetapkan
dalam Kongres VIII tahun 1998. Dalam kode etik yang berlaku sejak tahun 1998,
IAI menetapkan delapan prinsip etika yang berlaku bagi seluruh anggota IAI dan
seluruh kompartemennya. Setiap kompartemen menjabarkan 8 (delapan) Prinsip
Etika ke dalam Aturan Etika yang berlaku secara khusus bagi anggota IAI. Setiap
anggota IAI, khususnya untuk Kompartemen Akuntansi Sektor Publik harus
mematuhi delapan Prinsip Etika dalam Kode Etika IAI beserta Aturan Etikanya.

RERANGKA KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA

Kode Etik IAI dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:


1. Prinsip Etika

Berikut ini dicantumkan Prinsip Etika Profesi Akuntan Indonesia yang


diputuskan dalam Kongres VIII tahun 1998.
PRINSIP ETIKA PROFESI
IKATAN AKUNTANSI INDONESIA
01. Keanggotaan dalam Ikatan Akuntan Indonesia bersifat sukarela. Dengan
menjadi anggota, seorang Akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga
disiplin di atas dan melebihi yang disyaratkan oleh hukum dan peraturan.
02. Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik IAI menyatakan pengakuan profesi
akan tanggung jawabnya kepada publik, pemakai jasa Akuntan, dan rekan.
Prinsip

ini

memandu

anggota

dalam

memenuhi

tanggung

jawab

profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku


profesionalnya. Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat,
bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi.
Prinsip Kesatu: Tanggung Jawab Profesi
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setipa
anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional
dalam semua kegitan yang dilakukannya. Sebagai profesional, anggota
mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peranan
tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa
profesional mereka.
Prinsip Kedua: Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan kepada publik, mengormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen atas profesionalisme. Kepentingan publik didefinisikan sebagai
kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara
keseluruhan.
Prinsip Ketiga: Integritas
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya
pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang mendasari
kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam
menguji semua keputusan yang diambilnya. Untuk memelihara dan

meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung


jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
Prinsip Keempat: Objektivitas
Objektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang
diberikan anggota. Prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap adil,
tidak memihak, jujur, secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta
bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain.
Setiap anggota harus menjaga objektivitas dan bebas dari benturan
kepentingan dalam pemenuhan kewajban profesionalnya.
Prinsip Kelima: Kompetensi dan Kehati- hatian Profesional
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota
seharusnya

tidak

menggambarkan

dirinya

memiliki

keandalan

atau

pengalaman yang tidak mereka miliki.


Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi 2 fase yang terpisah:
1. Pencapaian Kompetensi Profesional.
Pencapaian ini pada awalnya memerlukan standar pendidikan
umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian
profesional dalam subjek- subjek yang relevan. Hal ini menjadi pola
pengembangan yang normal untuk anggota.
2. Pemeliharaan Kompetensi Profesional.
Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen,
pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus
mengikuti perkembangan profesi Akuntansi, serta anggotanya harus
menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya
kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten.
Sedangkan kehati- hatian profesional mengharuskan anggota untuk
memenuhi tanggung jawab profesinya dengan kompetensi dan ketekunan.
Prinsip Keenam: Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang
diperoleh selam melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau
mengungkapkan

informasi

tersebut

tanpa

persetujuan.

Anggota

mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staff di bawah


pengawasannya dan orang- orang yang diminta nasihat dan bantuannya
menghormati prinsip kerahasiaan.
Prinsip Ketujuh: Perilaku Profesional
01. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan
profesi harus dipenuhi oleh amggota sebgai perwujudan tanggung
jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staff,
pemberi kerja dan masyarakat umum.
Prinsip Kedelapan : Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai
dengan standar teknis dan standar professional yang relevan.
1. Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota
adalah standar yang dikeluarkan oleh IAI, International Federation of
Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang- undangan
yang relevan..
Adapun prinsip yang paling penting yaitu prinsip integritas itu sendiri,
guna meningkatkan dan memelihara kepercayaan publik, setiap anggota harus
memenuhi stanggung jawab sebagai seorang yang profesional yang menjunjung
tinggi integritas. Kita ketahui, bahwa integritas merupakan suatu bagian dari
karakter yang mendasari munculnya pengakuan profesional. Kepercayaan publik
merupakan patokan dari integritas. Integritas mengharuskan seorang anggota
untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan
rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan
oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak
disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan
atau peniadaan prinsip.
Integritas diukur dalam bentuk apa yang benar dan adil. Dalam hal tidak
terdapat aturan standar, panduan khusus, atau dalam menghadapi pendapat yang
bertentangan, anggota harus menguji keputusan atau perbuatanya dengan bertanya
apakah anggota telah melakukan apa yang seorang berintegrasi lakukan dan
apakah seorang telah menjaga integritas dirinya. Integritas mengharuskan anggota

menaati baik bentuk maupun jiwa standar teknis dan etika. Integritas juga
mengharuskan anggota untuk mengikuti prinsip objektivitas dan kehati-hatian
professional.
Prinsip integritas mewajibkan setiap praktisi untuk tegas, jujur, dan adil
dalam hubungan profsional dan hubungan bisnisnya. Praktisi tidak boleh terkait
dengan laporan, komunikasi, atau informasi lainnya yang diyakini dapat terdapat :
Kesalahan yang material atau pernyataan yang menyesatkan
Pernyataan atau informasi yang diberikan tidak hati-hati atau,
Penghilangan atau penyembunyian informasi yang menyesatkan atas
informasi yang seharusnya diungkapakan.
Maraknya kasus korupsi saat ini menjadikan Akuntan sebagai sosok yang
memiliki peran penting dalam ikut andil dalam memberantas tindakan tersebut.
Berbagai cara dilakukan, dan untuk mengatasi itu semua dilakukan yang nama
audit atau pemeriksaan. Audit secara mendalam ini dikenal dengan yang namanya
Akuntansi forensk dan Audit Investigatif. Akuntansi Forensik itu sendiri
merupakan suatu super spesialisasi bagi seorang akuntan. Auditor merupakan
akuntan yang berspesialisasi dalam mengaudit atas laporan Keuangan. Akuntan
Forensik yaitu auditor yang lebih khusus lagi spesialisasinya, yakni pada fraud.
Isitilah fraud itu sendiri merupakan istilah yang memiliki arti yang luas karena,
didalamnya mencakup banyak hal termasuk Korupsi itu sendiri.
Peran Akuntan sangat berperan penting untuk mengeluarkan pendapatnya,
apakah suatu laporan itu wajar ato tidak. Banyak kasus yang terjadi dikarenakan
ada beberapa pihak yang melakukan penyimpangan atau penyelewengan yang
berdampak besar bagi publik. Semuanya itu dapat diatasi dengan cara di awali
dari bagian intern suatu instansi. Kontrol internal itu sendiri sangat berperan
penting guna menjaga keselarasan didalam instansi. Dengan adanya internal
kontrol, maka segala sesuatu itu lebih terstruktur, dan terkontrol. Dampaknya
dapat kita lihat, apabila suatu instansi tersebut memiliki internal kontrol yang
baik,secara logika maka instansi tersebut akan tumbuh dengan baik karena, segala
sesuatu telah berjalan sesuai dengan fungsi dan prosedur yang telah ditentukan
sebelumnya.

Selain itu juga profesionalisme seorang Akuntan, dapat dinilai dari sejauh
mana dia bisa mempertahankan eksistensinya didalam pekerjaannya. Akuntan itu
tidak seharusnya dengan mudah di tindas dan dikekang oleh tempat mereka
bekerja karena, dari awal kita telah mengetahui jika seorang akuntan itu juga
harus lebih berhati-hati dalam mengambil sikap dan mengeluarkan pendapatnya.
Jika salah mengambil keputusan, maka itu semua bisa berdampak pada diri
sendiri, orang lain dna instansi tempat mereka bekerja. Untuk pencegahan, di
perlukan yang namanya Akuntan profesional. Akuntan ini bekerja bukan didalam
intansi itu sendiri melainkan diluar intansi itu sendiri. Status dari akuntan ini yaitu
sebagai pihak eksternal yang memberikan jasanya untuk memeriksa dan
memberikan pendapatnya.
Korupsi (Latin: Corruptio atau Corruptus) sudah begitu lama tertanam
dalam budaya (Andi Hamzah, 1991: 7). Upeti misalnya, berarti uang (mata uang
emas atau mata uang lainnya) yang wajib dibayarkan (dipersembahkan) kepada
raja atau negara yang berkuasa (Poerwadarminta, 1982). Sebab itu tidak
mencengangkan lagi jika korupsi di Indonesia telah menyerang sampai kepada
pemerintah-pemerintah daerah. Tiap provinsi di Indonesia boleh dikatakan tidak
lepas dari berita-berita sehubungan dengan kasus korupsi yang dijalankan oleh
aparat eksekutif, legislatif dan yudikatifnya. Korupsi itu muncul dalam banyak
bentuk menyangkut penyalahgunaan instrumen-instrumen kebijakan, apakah
kebijakan mengenai tarif, sistem penegakan hukum, keamanan umum,
pelaksanaan kontrak, pengembalian pinjaman, dan halhal lain, atau menyangkut
prosedur-prosedur sederhana. Korupsi bisa jarang atau meluas, bahkan di
sejumlah negara sedang berkembang.
Dapat dikatakan bahwa korupsi sudah menjangkau segala lapisan lembaga
negara di segala tingkatan. Selain itu dengan semakin canggihnya cara orang
melakukan korupsi, badan hukum konvensional semakin tidak mampu
mengungkapkan dan membawa kasus korupsi ke pengadilan. Selain itu, dalam
sistem yang dihinggapi penyakit korupsi endemik (wabah), mekanisme penegakan
hukum konvensional mungkin penuh dengan pejabat yang korup (Jeremy, 2003:
177).

Kasus Korupsi yang terjadi, di indonesia banyak terjadi di karenakan


banyaknya pihak yang mementingkan kepentingan materi saja tanpa melihat
dampak yang akan terjadi kedepannya. Adanya kesempatan dan penyalahgunaan
wewenang yang merupakan alat yang dijadikan untuk melakukan tindakan yang
tidak etis itu. Munculnya kasus-kasus korupsi yang terjadi di level mikro ataupun
makro terungkap dikarenakan adanya campur tangan dari akuntan atau auditor,
yang berfungsi memeriksa laporan keuangan suatu instansi maupun laporan
keuangan pejabat publik. disinilah kita dapat melihat kinerja seorang akuntan itu
seperti apa. Akuntan merupakan sosok yang dapat membantu dalam hal
pemberantasan korupsi itu sendiri. Melalaui jalur pengawasan dan pemeriksaan
semua hal yang terjadi bisa diungkap. Dalam pekrjaannnya akuntan harus
indenpenden walaupun mereka berada dibawah naungan suatu instansi maupun di
luar instansi. Itu semua dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan .
Menjunjung tinggi kode etik yang mencakup prinsip itu merupakan sesuatu yang
penting. Profesionalisme, integritas, Akuntanbilitas,serta Transparansi adalah satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari seorang akuntan.
Faktor penyebab terjadinya korupsi antara lain rendahnya tanggung jawab
profesi, moral, dan sosial. Selain itu adalah lemahnya pengawasan dalam
pelaksanaan tugas serta kurangnya evaluasi yang terjadi dalam organisasi.
Akuntan juga menjadi perangkat pendeteksi adanya penyimpangan dalam
pengawasan dan evaluasi kinerja. Jika etika akuntan lemah, mungkin sekali
penyimpangan yang sebenarnya telah ditangkap oleh akuntan akan dibiarkan.
Adanya sistem dinasti itu juga merupakan penyimpangan pada struktur
pemerintahan. Semua itu dilakaukan karenan adanya niat yang ingin menguasai
sesuatu instansi ataupun wilayah dengan cara melibatkan orang-orang terdekat.
Padahal kita ketahui belum tentu orangorang terdekat mereka memiliki
kompetensi. Pemanfaatan inilah yang dapat memperkaya diri dengan jalan yang
tidak baik. Merasa bebas melakukan sesuatu, merupakan tujuan utama dari pihak
yang mengambil kesempatan disaat mereka menduduki jabatan tertinggi.
Audit memberikan kontribusi dalam strategi memerangi korupsi. kerugian
Negara dapat ditemukan oleh penerapan audit yang efektif seperti audit forensik,

audit investigatif atau audit jenis lainnya. Korupsi adalah penyalahgunaan jabatan
publik untuk keuntungan pribadi. Karena itu, melibatkan perilaku yang tidak
tepat dan tidak sah pejabat publik-pelayanan, baik politisi dan pegawai negeri
sipil, yang posisinya menciptakan peluang bagi pengalihan uang dan aset dari
pemerintah untuk diri mereka sendiri dan mereka kaki. Salah satu contoh korupsi
adalah penipuan. pelaporan keuangan sebagai melakukan kecurangan disengaja
atau ceroboh, baik perbuatan atau kelalaian, yang menghasilkan laporan keuangan
material yang menyesatkan. Auditor harus mencari tahu dan laporan ini kegiatan
kriminal seperti yang diceritakan oleh standar auditing
Kasus Korupsi Ratu Atut
Penetapan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah sebagai tersangka oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi diprediksi sebagai awal runtuhnya dinasti politik di
Banten. Pasalnya, Atut dinilai sebagai kunci dari terciptanya dinasti politik itu.
"(Penetapan tersangka) ini adalah awal dari efek bola salju yang akan merusak
dinasti politik Banten," kata pengamat politik Burhanudin Muhtadi di Tangerang,
Banten, Selasa (17/12/2013). Penetapan itu, lanjut Burhan, menyebabkan pihakpihak yang berada di bawahnya terkena imbasnya. "Yang kena Ratu, disokong
oleh Wawan (Tubagus Chaery Wardana). Jadi yang kena ratu dan raja Dinasti
Banten. Ibarat catur, ini bukan pion yang kena, melainkan langsung ratu dan
rajanya, langsung sekakmat," kata Burhan. Hal serupa disampaikan Koordinator
Masyarakat Pembaruan Banten Uday Suhada. Dia yakin bahwa KPK bisa
menindak semua kroni Ratu Atut sehingga Banten bisa terbebas dari politik
dinasti yang selama ini menguasainya.(Kompas, Selasa, 17 Desember 2013).
Ratu Atut termasuk kepala daerah yang malas melaporkan harta kekayaan.
Dari daftar Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) KPK yang bisa
diakses, menunjukkan kalau Atut terakhir lapor pada 6 Oktober 2006. Itu artinya,
sudah tujuh tahun Atut tidak memperbarui laporan hartanya. Dari laporannya saat
itu,

harta

Atut

hampir

mencapai

Rp42

miliar

atau

detilnya

10

Rp41.937.757.809.Rinciannya, harta bergerak RatuAtut seperti mobil dan motor


adalah Rp3,93 miliar. Diikuti dengan sementara harta bergerak lainnya
seperti logam dan batu mulia senilai Rp8,22 miliar. Atut memiliki surat
berharga sebanyak Rp7,85 miliar dan giro Rp2,77 miliar. Harta yang cukup
banyak berasal dari aset tidak bergerak senilai Rp19.160 miliar. Kebanyakan,
berupa tanah dan bangunan yang ada di daerah Bandung, Cirebon, Serang, dan
Jakarta.Harta yang tidak kalah fantastis juga dimiliki Airin. Keluarga Atutyang
menjadi Wali Kota Tangsel periode 2011-2016 memiliki kekayaan sebesar
Rp103,9 miliar. Tidak jauh berbeda dengan Atut, Airinjuga gemar mengoleksi
tanah dan bangunan yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor, hingga
Tangerang.Berdasar LHKP-nya, aset tersebut tersebar di 102 lokasi dengan nilai
total Rp59,81 miliar. Untuk kendaraan, jumlahnya mencapai Rp22,1 miliar. Itu
menjawab pertanyaan kenapa banyak mobilmewah saat KPK melakukan
penggeledahan di rumahnya. Mobil mewah seperti Lamborghini, Ferrari, hingga
Porsche terparkir di garasinya.
Dari sisi logam dan batu mulia, perempuan cantik itu juga punya.
Jumlanya, menembus angka Rp9,25miliar. Kekayaan lainnya berasal dari surat
berharga dengan total Rp2 miliar. Tidak diketahui dengan harta suaminya, Wawan.
Sebab, dia bukan pejabat negara dan tidak perlu menyetorkan LHKPN.Yang jelas
di car port rumah Wawan , Jalan Denpasar, Jakarta terparkir beberapa kendaraan
di antaranya Toyota Innova B 1558 RFY, Bentley B 888 GIF, Land Cruiser B 888
TCW, dan Land Cruiser Prado B 1978 RFR.Sementara itu kendaraan mewah
lainnya seperti Ferrari, Bentley, Nissan GTR, Rolls Royce, dan Lamborghini
Aventandor seharga Rp12,2 miliar nongkrong dalam garasi (Sumber BPK 2014).
Melihat kasus diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa korupsi itu
terjadi karena adanya kesempatan. Kesenpatan inilah yang membuat ratu atut
untuk membangun dinastinya. Mulai dari pemberian proyek, penempatan orang
terdekat juga merupakan penyimpangan. Kerjasama mungkin merupakan alat
yang dijadikan untuk mendapatkan misinya. Penelusuran aset berkaitan dengan
pengembalian kembali aset yang dimiliki oleh suatu negara/organisasi atau suatu
11

entitas yang diambil oleh pihak lain dengan cara melawan hukum. Penelusuran
aset/harta dilakukan oleh penyelidik/penyidik dibantu auditor forensik dengan
cara mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti transaksi keuangan dan non
keuangan yang berkaitan dengan aset hasil perbuatan tindak pidana.
Disini Auditor forensik melakukan tugasnya dengan cara mengumpulkan
dan mengevaluasi bukti-bukti transaksi keuangan dan non keuangan yang
berkaitan dengan aset hasil perbuatan tindak pidana korupsi dan atau tindak
pidana pencucian uang yang disembunyikan oleh pelaku untuk dapat
diidentifikasikan, dihitung jumlahnya, dan selanjutnya agar dapat dilakukan
pemblokiran/pembekuan dan penyitaan untuk pemulihan kerugian akibat
perbuatan pelaku tindak pidana korupsi dan atau tindak pidana pencucian uang
tersebut.
Untuk mengetahui tempat persembunyian tersebut, pihak penegak hukum
yang dibantu oleh auditor forensik akan dapat memperoleh informasi
penyembunyian tersebut dari sumber-sumber berikut ini (BPKP:2007)
1. Penyedia Jasa Keuangan
Laporan Transaksi Keuangan yang mencurigakan (Suspicius transaction
report) dan transaksi keuangan tunai (Cash transaction report) yang
dikirim

Penyedia

Jasa

Keuangan

kepada

PPATK.

Laporan

ini

mencantumkan detail dari jumlah yang ditransfer, nama bank, dan nomor
rekening bank pengirim (kalau transfer bukan berasal dari setoran tunai)
dan penerima. Informasi ini bermanfaat untuk pembekuan rekening bank
dan penelusuran lebih lanjut dari arus dana berikutnya.
2. Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK)
PPATK juga mempunyai jaringan kerjasama dengan lembaga serupa di
luar negeri seperti Financial Inteligence Service (FIS) di Inggris, yang
menjadi counterpart-nya maupun pihak interpol. Informasi dari dalam dan
luar negeri dapat digunakan untuk maksud penelusuran aset sesuai dengan
peraturan perundang-undangan tindak pidana pencucian uang, misalnya
oleh Tim Pemburu Koruptor.
Akuntan disamping menyajikan informasi transparan juga harus menyusun
sistem dan prosedur akuntansi pada instansi pemerintah, swasta dan publik, agar
12

semua transaksi kegiatan usaha harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan,
jangan menyelesaikan dengan cara selera sendiri. Peranan akuntan sangat
bermanfaat dan dibutuhkan instansi pemerintah, swasta dan publik dalam hal
pemberitaan informasi keuangan yang akurat, transparan dan tidak menyesatkan
yang dapat digunakan para pemakai / pelaku bisnis sebagai alat pertimbangan
dalam pengambilan keputusan. Menurut saya profesi akuntan harus selalu
introspeksi dan transformasi, akuntan harus selalu melakukan riset dan mengikuti
pendidikan dan pelatihan seumur hidup agar tetap eksis dan menjadi akuntan yang
go internasional serta memiliki profesionalisme yang dapat bekompetisi di
pasaran dunia.
Makin banyak akuntan yang masuk dalam instansi pemerintah, swasta dan
publik, makin sedikit pelaku korupsi, karena semua informasi yang tersajikan
menjadi transparan, peluang / kesempatan korupsi semakin tertutup. Kita tidak
dapat menyangkal bahwa peranan akuntan memiliki andil yang besar turut
membantu memberantas korupsi dan meningkatkan transparansi sektor publik,
kehadiran akuntan profesional ditengah-tengah masyarakat indonesia membawa
dampak yang positif bagi perekonomian nasional dan global.
Sebagai akuntan, kejujuran merupakan harga mati. Namun kadang
kejujuran mesti berbagi dengan loyalitas perusahaan, sebagai contoh untuk
mengurangi jumlah pajak penghasilan seringkali perusahaan meminta trik-trik
akuntansi untuk menahan laju jumlah pembayaran pajak yang jumlahnya sangat
besar, contoh paling sederhana dengan mengakui beberapa transaksi asset
kedalam biaya perusahaan sehingga laba perusahaan berkurang hingga pajak
penghasilan juga berkurang.
Adapun strategi akuntan

yang dapat digunkan untuk membantu

memberantas korupsi yaitu:


Melakukan audit keuangan dan kinerja secara periodik secara profesional

dan melaporkannya kepada DPR dan masyarakat.


Mempermudah birokasi untuk mengeluarkan dana untuk pengeluaran
diluar budget namun memperketat pengawasan atas penggunaan dana
negara. Ini harus dilakukan sehingga tidak ada lagi yang namanya dana
nonbudgeter yang semula dibuat sebagai dana cadangan yang dapat
digunakan untuk pengeluaran mendadak diluar budget namun pada
13

prakteknya dana yang cukup besar ini menggoda para pejabat dan

akhirnya digunakan untuk korupsi.


Memperbaiki sistem perpajakan nasional. Dengan sistem perpajakan yang
baik, kekayaan para pejabat negara dapat ditelusuri asal-usulnya. Selain itu
dengan sistem perpajakan yang baik kebocoran pajak dapat ditekan

seminimal mungkin.
Mengisi posisi keuangan dengan akuntan yang profesional. Jika dalam
waktu dekat masih belum dapat merekrut akuntan, pemerintah dapat
menyewa akuntan-akuntan dari BPKP atau BPK atau bahkan dari KAP
swasta untuk memberikan usul perbaikan sistem, konsultasi, pelatihan,

atau bahkan penyusunan laporan keuangan.


Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan baik secara internal oleh
instansi/lembaga pemerintah maupun eksternal oleh akuntan publik.
Dengan matriks matriks, diarahkan pada penilaian pencapaian indikator

kinerja keluaran dan indikator kinerja hasil pada setiap kegiatan.


Melakukan Integrasi sistem informasi antar departemen, instansi, di
pemerintahan secara nasional. Dengan intergrasi sistem ini maka segala
birokrasi menjadi lebih mudah dan dapat ditelusur jejaknya jika terjadi
penyimpangan.
Diharapkan semakin transparansi informasi keuangan di instansi

pemerintah, swasta dan publik dapat mengurangi tingkat korupsi, sehingga secara
bertahap negeri ini akan menuju negeri yang dijuluki clean and good government.

14

Referensi:
http://www.iaiglobal.or.id/v02/akuntan_profesional.php?id=1
Jeremy, Pope, Strategi Memberantas Korupsi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,
2003.
Tuatanakotta, Theodorus M. 2012. Akuntansi Forensik dan Audit investigatif,
Edisi Jilid 2. Jakarta: Salemba Empat
Maheka, Arya. 2006. Mengenali dan Memberantas Korupsi. Jakarta: Komisi
Pemberantasan Korupsi
Setiyono. 2005. Kejahatan Korporasi. Banyumedia Publishing
Tuatanakotta, Theodorus M. Audit untuk Mengungkap Fraud di Lembaga
Negara. Economic, Business and Accountinh Review. Januari 2007.

15

_______________________. Profesi Auditing di Sektor Swasta dan Publik


Mendukung Demokrasi Ekonomi dan Politik . Economic Business Accounting
Review, Edisi II/April 2006
Sugara, Yusuf. Januari-Juni 2013, Profesionalisme Auditor dan Intensi
melakukan WhistleBlowing. Volume 2, No. 1,
http://www.liquidity.stiead.ac.id/wp-content/uploads/2013/04/4.-Yusar-Sagara.pdf,
20 Januari 2015.
Kaligis, Otto Cornelis. Agustus 2006, Korupsi sebagai tindakan kriminal Yang
harus diberantas: karakter Dan praktek hukum di indonesia, JURNAL
EQUALITY, Vol. 11 No. 2,
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17182/1/equ-agu200611%20(5).pdf. 20 Januari 2015.
http://www.bpk.go.id/assets/files/magazine/_selengkapnya_1406188633.pdf

16