Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS PENGARUH NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KINERJA REKSADANA

SAHAM DI INDONESIA PERIODE 2011-2013


Apriyani Intan Sari
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Email: apriyani.intan.al@gmail.com
Pembimbing:
Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.Si
ABSTRACT
This research discusses how the changes of rupiah exchange affecting performance of mutual fund
shares in Indonesia period 2011-2013. The main goal of research is to find out, the rupiah exchange rate have
influence or not to performance of mutual funds shares in Indonesia.
The research using the method of regression analysis, with data being managed using spss application
ver.16.0. Where the data that managed by spss ver.16.0 are secondary data from the official website of Bank
Indonesia and Bapepam.
The results of this research are changes of the rupiah exchange rate affect the performance of mutual
fund shares in Indonesia. The changes of 1 unit rupiah exchange caused the changes of mutual fund shares for
1,274 units.
Keyword: Nilai Tukar; Reksadana Saham

I.

PENDAHULUAN
ilai tukar rupiah beberapa tahun
belakangan
ini
berubah-ubah,
dimana nilai tukar rupiah selalu
meningkat pada Januari 2011 hingga
Agustus 2011, lalu menurun pada
September 2011 hingga Januari
2012, sempat naik lalu menurun kembali
selama Maret 2012 hingga Januari 2013, dan
benar-benar menurun selama Maret 2013
hingga Desember 2013.

Di era perdagangan bebas sekarang ini, banyak


masyarakat
yang
memutuskan
untuk
melakukan investasi. Salah satu investasi yang
paling diminati oleh masyarakat adalah saham.
Dimana dari tahun ke tahun, reksadana saham
memiliki proporsi diminati yang paling besar
dibandingkan bentuk investasi yang lainnya.
Hal tersebut bisa dilihat dari grafik yang
terdapat di web resmi bapepam, yang
menunjukkan bahwa presentase reksadana
saham menguasai pasar paling besar
dibandingkan dengan reksadana lainnya.

Nilai dari reksadana saham periode 2011-2013


tersebut juga berubah-ubah, yang di mana nilai
dari reksadana saham tersebut menunjukkan
bagaimana kinerja dari reksadana saham di
Indonesia periode 2011-2013.
Perubahan dari kinerja reksadana saham
tersebut pasti dipengaruhi oleh faktor-faktor
yang berhubungan dengan reksadana saham.
Sebelum melakukan investasi dengan membeli
saham, investor perlu menganalisis tentang
penilaian saham. Selain itu, investor juga perlu
mencari tahu faktor - faktor yang
mempengaruhi nilai saham yang akan dibeli,
agar investor tidak mengalami kerugian dari
investasi yang telah ditanamkan di reksadana
saham.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu
dicari tahu dan dianalisis, nilai tukar rupiah
yang berubah-ubah tersebut berpengaruh atau
tidak terhadap kinerja reksadana saham. Oleh
karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang
pengaruh nilai tukar rupiah terhadap kinerja
reksadana saham di Indonesia.

II. KERANGKA TEORITIS DAN


TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Reksadana
2.1.a. Pengertian Reksadana
Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan
dana/modal bagi sekumpulan investor untuk
berinvestasi
dalam
instrumen-instrumen
investasi yang tersedia di Pasar dengan cara
membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini
kemudian dikelola oleh Manajer Investasi
(MI) ke dalam portofolio investasi, baik
berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun
efek/sekuriti lainnya.
Menurut Undang-undang Pasar Modal nomor
8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27): Reksadana
adalah wadah yang dipergunakan untuk
menghimpun dana dari masyarakat Pemodal
untuk selanjutnya diinvestasikan dalam
portofolio Efek oleh Manajer Investasi.
2.1.b. Bentuk Hukum Reksadana
Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal
Nomor 8 Tahun 1995 pasal 18, ayat (1),
bentuk hukum Reksadana di Indonesia ada
dua, yakni Reksadana berbentuk Perseroan
Terbatas (PT. Reksa Dana) dan Reksadana
berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).
Reksa Dana berbentuk Perseroan (PT.
Reksa Dana)
suatu perusahaan (perseroan terbatas), yang
dari sisi bentuk hukum tidak berbeda dengan
perusahaan lainnya. Perbedaan terletak pada
jenis usaha, yaitu jenis usaha pengelolaan
portofolio investasi.
Reksa Dana berbentuk Kontrak
Investasi Kolektif (KIK)
kontrak yang dibuat antara Manajer Investasi
dan Bank Kustodian yang juga mengikat
pemegang Unit Penyertaan sebagai Investor.
Melalui kontrak ini Manajer Investasi diberi
wewenang untuk mengelola portofolio efek
dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk
melaksanakan penitipan dan administrasi
investasi.
2.1.c. Jenis Jenis Reksadana
Reksadana Saham.
Reksadana saham adalah reksadana yang
melakukan investasi sekurang-kurangnya 80%
dari portofolio yang dikelolanya ke dalam efek
bersifat ekuitas (saham). Efek saham

umumnya memberikan potensi hasil yang


lebih tinggi berupa capital gain melalui
pertumbuhan harga-harga saham dan deviden.
Reksadana saham memberikan potensi
pertumbuhan nilai investasi yang paling besar
demikian juga dengan risikonnya.
Reksadana Campuran.
Reksadana campuran adalah reksadana yang
melakukan investasi dalam efek ekuitas dan
efek hutang yang perbandingannya tidak
termasuk
dalam
kategori
reksadana
pendapatan tetap dan reksadana saham.
Potensi hasil dan risiko reksadana campuran
secara teoritis dapat lebih besar dari reksadana
pendapatan tetap namun lebih kecil dari
reksadana saham.
Reksadana Pendapatan Tetap.
Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana
yang malakukan investasi sekurang-kurangnya
80% dari portofolio yang dikelolanya ke
dalam efek bersifat hutang. Risiko investasi
yang lebih tinggi dari reksadana pasar uang
membuat nilai return bagi reksadana jenis ini
juga lebih tinggi tapi tetap lebih rendah
daripada reksadana campuran atau saham.
Reksadana Pasar Uang.
Reksadana pasar uang adalah reksadana yang
melakukan investasi 100% pada efek pasar
uang yaitu efek hutang yang berjangka kurang
dari satu tahun. Reksadana pasar uang
merupakan reksadana yang memiliki risiko
terendah namun juga memberikan return yang
terbatas.
Reksadana Index
Reksadana Index adalah reksadana yang isinya
adalah sebagian besar dari index tertentu
(tidak semua, yang penting merefleksikan
index tersebut) dan dikelola secara pasif,
artinya tidak melakukan jual beli di bursa,
kecuali ada subscription baru atau redemption,
oleh karenanya reksadana index biasanya
keuntungan dan kerugiannya sejalan dengan
index tersebut (jika ada selisih, biasanya
selisihnya kecil). Jika reksadana tersebut
diperjualbelikan di bursa, maka disebut
Exchange Traded Fund (ETF) dan harganya
berfluktuasi
tiap
detiknya,
sehingga
sebenarnya mirip saham. Keduanya, baik
reksadana index maupun ETF disebut
pengelolaaan dana index dan di Amerika
Serikat pada tahun 2013, mencakup 18,4%

dari seluruh pengelolaan


(mutual funds).

dana

bersama

2.1.d. Nilai Aktiva Bersih


NAB (Nilai Aktiva Bersih) merupakan salah
satu tolak ukur dalam memantau hasil dari
suatu Reksa Dana.NAB per saham/unit
penyertaan adalah harga wajar dari portofolio
suatu Reksadana setelah dikurangi biaya
operasional
kemudian
dibagi
jumlah
saham/unit penyertaan yang telah beredar
(dimiliki investor) pada saat tersebut.
2.1.e. Manfaat Reksadana
Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang
menjadikannya sebagai salah satu alternatif
investasi yang menarik antara lain:
Dikelola oleh manajemen profesional
Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana
dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang
memang mengkhususkan keahliannya dalam
hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi
sangat penting mengingat Pemodal individu
pada umumnya mempunyai keterbatasan
waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset
secara langsung dalam menganalisa harga efek
serta mengakses informasi ke pasar modal.
Diversifikasi investasi
Diversifikasi atau penyebaran investasi yang
terwujud dalam portofolio akan mengurangi
risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan),
karena dana atau kekayaan Reksa Dana
diinvestasikan pada berbagai jenis efek
sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan
kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila
seorang membeli satu atau dua jenis saham
atau efek secara individu.
Transparansi informasi
Reksa Dana wajib memberikan informasi atas
perkembangan portofolionya dan biayanya
secara kontinyu sehingga pemegang Unit
Penyertaan dapat memantau keuntungannya,
biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa
Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva
Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar
serta menerbitkan laporan keuangan tengah
tahunan dan tahunan serta prospektus secara
teratur sehingga Investor dapat memonitor
perkembangan investasinya secara rutin.

Likuiditas yang tinggi


Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap
instrumen investasi harus mempunyai tingkat
likuiditas yang cukup tinggi. Dengan
demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali
Unit Penyertaannya setiap saat sesuai
ketetapan yang dibuat
masing-masing
Reksadana sehingga memudahkan investor
mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib
membeli
kembali Unit
Penyertaannya
sehingga sifatnya sangat likuid.
Biaya Rendah
Karena reksadana merupakan kumpulan dana
dari banyak pemodal dan kemudian dikelola
secara profesional, maka sejalan dengan
besarnya kemampuan untuk melakukan
investasi tersebut akan menghasilkan pula
efisiensi biaya transaksi.
Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah
dibandingkan apabila Investor individu
melakukan transaksi sendiri di bursa.
2.2. Nilai Tukar
2.2.a. Pengertian Nilai Tukar
Menurut Musdholifah & Tony (2007), nilai
tukar atau kurs adalah perbandingan antara
harga mata uang suatu negara dengan mata
uang negara lain. Misal kurs rupiah terhadap
dollar Amerika menunjukkan berapa rupiah
yang diperlukan untuk ditukarkan dengan satu
dollar Amerika.
Menurut Triyono (2008), kurs (exchange rate)
adalah pertukaran antara dua mata uang yang
berbeda, yaitu merupakan perbandingan nilai
atau harga antara kedua mata uang tersebut.
Jadi, dapat disimpulkan nilai tukar rupiah
adalah suatu perbandingan antara nilai mata
uang suatu negara dengan negara lain. Heru
(2008) menyatakan bahwa nilai tukar
mencerminkan keseimbangan permintaan dan
penawaran terhadap mata uang dalam negeri
maupun mata uang asing $US. Merosotnya
nilai tukar rupiah merefleksikan menurunnya
permintaan masyarakat terhadap mata uang
rupiah
karena
menurunnya
peran
perekonomian
nasional
atau
karena
meningkatnya permintaan mata uang asing
$US sebagai alat pembayaran internasional.
Semakin menguat kurs rupiah sampai batas
tertentu berarti menggambarkan kinerja di
pasar uang semakin menunjukkan perbaikan.
Sebagai dampak meningkatnya laju inflasi

maka nilai tukar domestic semakin melemah


terhadap mata uang asing. Hal ini
mengakibatkan menurunnya kinerja suatu
perusahaan dan investasi di pasar modal
menjadi berkurang.
Heru (2008) menyatakan bahwa nilai tukar
rupiah terhadap mata uang asing pun
mempunyai pengaruh negatif terhadap
ekonomi dan pasar modal. Dengan
menurunnya nilai tukar rupiah terhadap mata
uang asing akan mengakibatkan meningkatnya
biaya impor bahan-bahan baku yang akan
digunakan untuk produksi dan juga
meningkatkan
suku bunga.
Walaupun
menurunnya nilai tukar juga dapat mendorong
perusahaan untuk melakukan ekspor.
2.2.b. Penentuan Nilai Tukar
Perubahan dalam permintaan dan penawaran
sesuatu valuta, yang selanjutnya menyebabkan
perubahan dalam kurs valuta, disebabkan oleh
banyak faktor seperti yang diuraikan dibawah
ini (Sukirno, 2004:402).
1. Perubahan dalam cita rasa masyarakat.
2. Perubahan harga barang ekspor dan
impor.
.
3. Kenaikan harga umum (inflasi).
4. Perubahan suku bunga dan tingkat
pengembalian investasi.
5. Pertumbuhan ekonomi.
2.2.c. Sistem Kurs Mata Uang
Menurut Triyono (2008) terdapat lima jenis
sistem kurs utama yang berlaku, yaitu: sistem
kurs mengambang (floating exchang rate),
kurs tertambat (pegged exchange rate), kurs
tertambat merangkak (crawling pegs),
sekeranjang mata uang (basket of currencies),
kurs tetap (fixed exchange rate).
Sistem kurs mengambang
Kurs ditentukan oleh mekanisme pasar
dengan atau tanpa adanya campur
tangan pemerintah dalam upaya
stabilisasi melalui kebijakan moneter
apabila terdapat campur tangan
pemerintah maka sistem ini termasuk
mengambang terkendali (managed
floating exchange rate).
Sistem kurs tertambat
Suatu negara menambatkan nilai mata
uangnya
dengan
sesuatu
atau
sekelompok mata uang negara lainnya
yang merupakan negara mitra dagang
utama dari negara yang bersangkutan,

ini berarti mata uang negara tersebut


bergerak mengikuti mata uang dari
negara yang menjadi tambatannya.
Sistem kurs tertambat merangkak
Di mana negara melakukan sedikit
perubahan terhadap mata uangnya
secara periodik dengan tujuan untuk
bergerak ke arah suatu nilai tertentu
dalam rentang waktu tertentu.
Keuntungan utama dari sistem ini
adalah negara dapat mengukur
penyelesaian kursnya dalam periode
yang lebih lama jika dibanding dengan
sistem kurs terambat.
Sistem sekeranjang mata uang
Keuntungannya adalah sistem ini
menawarkan stabilisasi mata uang
suatu negara karena pergerakan mata
uangnya disebar dalam sekeranjang
mata uang. Mata uang yang
dimasukan dalam keranjang biasanya
ditentukan oleh besarnya peranannya
dalam membiayai perdagangan negara
tertentu.
Sistem kurs tetap
Dimana negara menetapkan dan
mengumumkan suatu kurs tertentu
atas mata uangnya dan menjaga kurs
dengan cara membeli atau menjual
valas dalam jumlah yang tidak terbatas
dalam kurs tersebut. Bagi negara yang
memiliki
ketergantungan
tinggi
terhadap sektor luar negeri maupun
gangguan seperti sering mengalami
gangguan alam, menetapkan kurs tetap
merupakan suatu kebijakan yang
beresiko tinggi.

2.3.Kerangka Pemikiran
X:
NILAI TUKAR RUPIAH

Y:
REKSADANA SAHAM
Gambar 2.a
Kerangka pemikiran analisis pengaruh
Nilai Tukar Rupiah (X) terhadap Kinerja
Reksadana Saham (Y).

Teori X
Nilai tukar atau kurs adalah
perbandingan antara harga mata uang
suatu negara dengan mata uang negara
lain. Misal kurs rupiah terhadap dollar
Amerika menunjukkan berapa rupiah yang
diperlukan untuk ditukarkan dengan satu
&
dollar
Amerika.
(Musdholifah
Tony,2007)

Teori Y
Reksadana adalah wadah yang
dipergunakan untuk menghimpun dana
dari
masyarakat
Pemodal
untuk
selanjutnya
diinvestasikan
dalam
portofolio Efek oleh Manajer Investasi.
(UU No. 8 Tahun 1995, ayat 27)
2.4. Hipotesis
H0
1 0, berarti nilai tukar rupiah tidak
memiliki pengaruh terhadap kinerja
reksadana saham.
H1
1 0, berarti nilai tukar rupiah
memiliki pengaruh terhadap kinerja
reksadana saham.
III. METODE PENELITIAN
3.1. Variabel penelitian
Peneliti
melakukan
penelitian
dengan
menggunakan dua variabel, yaitu variabel
dependen/terikat
(Y)
dan
variabel
independen/bebas (X). Dimana variabel
dependen merupakan kinerja reksadana saham,
dan variabel independen merupakan nilai tukar
rupiah.
3.2. Sumber data
Peneliti melakukan penelitian berdasarkan
data sekunder yang berasal dari web resmi
Bank Indonesia dan Bapepam. Melalui web
resmi Bank Indonesia, penulis mendapatkan
data nilai tukar rupiah tahun 2010-2013.
Melalui web resmi Bapepam, penulis
mendapatkan data reksadana saham tahun
2010-2013.
Data penelitian yang digunakan juga
merupakan data kuantitatif (berupa angka) dan
termasuk data time-series secara bulanan di
Indonesia periode Januari 2010 hingga
Desember 2013.

Tabel 3.a. Nilai Tukar Rupiah dan Reksadana


Saham di Indonesia tahun 2010-2013..
PERIODE

NILAI
TUKAR
RUPIAH
(PER 1 US$)

Jan-11

9,037.38

46,541,733,178,463.30

Feb-11

8,912.56

49,127,264,981,867.80

Mar-11

8,761.48

54,135,677,217,232.00

Apr-11

8,651.30

54,922,428,576,327.30

May-11

8,555.80

57,094,126,032,141.80

Jun-11

8,564

59,033,346,107,263.90

Jul-11

8,533.24

58,485,101,215,730.80

Aug-11

8,532

61,216,614,810,777.10

Sep-11

8,765.50

59,056,397,572,998.70

Oct-11

8,895.24

63,906,530,501,913.70

Nov-11

9,015.18

62,832,653,149,438.00

Dec-11

9,088.48

65,538,682,281,520.70

Jan-12

9,109.14

61,471,248,724,025.40

Feb-12

9,025.76

62,880,151,850,035.90

Mar-12

9,165.33

62,642,227,424,447.20

Apr-12

9,175.50

61,848,478,908,349.70

May-12

9,290.24

61,197,854,571,214.40

Jun-12

9,451.14

65,962,689,458,137.90

Jul-12

9,456.59

65,912,827,265,327.00

Aug-12

9,499.84

61,722,319,013,540.70

Sep-12

9,566.35

65,313,391,839,876.00

Oct-12

9,597.14

63,787,200,317,046.00

Nov-12

9,627.95

66,409,979,824,746.60

Dec-12

9,645.89

70,294,946,203,768.10

Jan-13

67,219,231,809,749.70

Feb-13

9,687.33
9,686.65

Mar-13

9,709.42

74,792,072,653,622.50

Apr-13

9,724.05

76,322,476,541,266.00

May-13

9,760.91

81,537,170,215,375.00

Jun-13

9,881.53

86,056,662,654,299.30

Jul-13

10,073.39

81,811,462,593,232.10

Aug-13

10,572.50

75,348,554,500,546.30

Sep-13
Oct-13
Nov-13
Dec-13

11,346.24
11,366.90
11,613.10
12,087.10

78,517,706,748,244.10
82,354,001,310,073.30
78,344,880,685,958.40
80,221,303,022,877.30

REKSADANA SAHAM

68,901,601,828,291.00

Sumber data: website resmi Bank Indonesia


dan Bapepam yang diolah kembali

Rasio
Menurut
Undang-undang
Pasar
Modal
nomor 8 Tahun
1995 pasal 1,
ayat
(27):
Reksadana
adalah
wadah
yang
dipergunakan
untuk
menghimpun
dana
dari
masyarakat
Pemodal untuk
selanjutnya
diinvestasikan
dalam portofolio
Efek
oleh
Manajer
Investasi.
Sumber data: google yang diolah kembali
Reksadana

3.3. Metode Penelitian


Metode penelitian yang penulis gunakan yaitu
dengan Analisis Regresi Sederhana. Analisis
Regresi Sederhana dapat dikelola dengan
mudah melalui aplikasi SPSS. Dalam Analisis
Regresi Sederhana, terdapat variabel yang
merupakan variabel terikat (dependen) dan
variabel bebas (independen). Variabel terikat
(dependen)
merupakan
variabel
yang
dipengaruhi oleh variabel bebas (independen).
Variabel terikat (dependen) sering disebut
dengan variabel Y, dan variabel bebas
(independen) disebut dengan variabel X.
Berarti, dalam penelitian ini, kinerja reksadana
saham merupakan variabel terikat (dependen)
atau variabel Y, dan nilai tukar rupiah
merupakan variabel bebas (independen) atau
variabel X. Karena, kinerja reksadana saham
dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah.
Dengan menggunakan metode Analisis
Regresi Sederhana, dapat diketahui bagaimana
hubungan antara dua variabel atau lebih, atau
bagaimana hubungan antara variabel terikat
(dependen) dan variabel bebas (independen).
Dengan metode inilah penulis dapat
mengetahui bagaimana hubungan antara nilai
tukar rupiah dengan kinerja reksadana saham.
Tabel 3.b. Operasional Variabel
Variabel
Konsep
Skala
Pengukuran
Rasio
Nilai Tukar Menurut
Musdholifah &
Tony
(2007),
nilai tukar atau
kurs
adalah
perbandingan
antara
harga
mata uang suatu
negara dengan
mata
uang
negara
lain.
Misal
kurs
rupiah terhadap
dollar Amerika
menunjukkan
berapa
rupiah
yang diperlukan
untuk
ditukarkan
dengan
satu
dollar Amerika.

3.4. Model fungsi dan persamaan


Model fungsi dan persamaan yang dapat
digunakan untuk menganalisa pengaruh nilai
tukar rupiah terhadap kinerja reksadana saham
adalah sebagai berikut:
Model Fungsi:
Reksadana saham = f(r)
*r = nilai tukar rupiah

Model Persamaan:
Y = 0 + 1X1 + E

Reksadana = 0 + 1Nilai Tukar Rupiah + E


3.5. Pengujian
3.5.a. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk
melihat apakah variabel independen dan
variabel dependen berdistribusi normal atau
tidak.
Uji normalitas dapat dilihat melalu grafik yang
ada pada output spss:
- Histogram
Jika pada grafik histogram, bentuk
gambar yang keluar berbentuk
lonceng, maka itu berarti data
berdistribusi normal.
- PP Plot
Jika pada grafik PP plot, titik-titik
pada gambar berada di sekitar garis

regresi, maka itu


berdistribusi normal.

berarti

data

3.5.b. Uji Heteroskedastisitas


Uji heteroskedastisitas adalah untuk melihat
apakah terdapat ketidaksamaan varians dari
residual satu ke pengamatan ke pengamatan
yang lain. Model regresi yang memenuhi
persyaratan adalah di mana terdapat kesamaan
varians dari residual satu pengamatan ke
pengamatan
yang
lain
tetap
atau
disebuthomoskedastisitas.
Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan
dengan metode scatter plot dengan
memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi)
dengan SRESID (nilai residualnya). Model
yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola
tertentu pada grafik, seperti mengumpul di
tengah, menyempit kemudian melebar atau
sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji
statistik yang dapat digunakan adalah uji
Glejser, uji Park atau uji White.
Beberapa alternatif solusi jika model
menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah
dengan mentransformasikan ke dalam bentuk
logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika
semua data bernilai positif. Atau dapat juga
dilakukan dengan membagi semua variabel
dengan
variabel
yang
mengalami
gangguanheteroskedastisitas.
3.5.c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi adalah untuk melihat apakah
terjadi korelasi antara suatu periode t dengan
periode sebelumnya (t -1). Secara sederhana
adalah bahwa analisis regresi adalah untuk
melihat pengaruh antara variabel bebas
terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada
korelasi antara observasi dengan data
observasi sebelumnya. Sebagai contoh adalah
pengaruh antara tingkat inflasi bulanan
terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar.
Data tingkat inflasi pada bulan tertentu,
katakanlah bulan Februari, akan dipengaruhi
oleh tingkat inflasi bulan Januari. Berarti
terdapat gangguan autokorelasi pada model
tersebut. Contoh lain, pengeluaran rutin dalam
suatu rumah tangga. Ketika pada bulan Januari
suatu keluarga mengeluarkan belanja bulanan
yang relatif tinggi, maka tanpa ada pengaruh
dari apapun, pengeluaran pada bulan Februari
akan rendah.

Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data


time series (runtut waktu) dan tidak perlu
dilakukan pada data cross section seperti pada
kuesioner di mana pengukuran semua variabel
dilakukan secara serempak pada saat yang
bersamaan.
Beberapa
uji
statistik
yang
sering
dipergunakan adalah uji Durbin-Watson, uji
dengan Run Test dan jika data observasi di
atas 100 data sebaiknya menggunakan uji
Lagrange Multiplier. Beberapa cara untuk
menanggulangi masalah autokorelasi adalah
dengan mentransformasikan data atau bisa
juga dengan mengubah model regresi ke
dalam bentuk persamaan beda umum
(generalized difference equation). Selain itu
juga dapat dilakukan dengan memasukkan
variabel lag dari variabel terikatnya menjadi
salah satu variabel bebas, sehingga data
observasi menjadi berkurang 1.
Menurut Winarno (2011:5.28) apabila nilai
Durbin Watson berada di antara 1.54 dan 2.46,
maka
tidak
terdapat
autokorelasi
(dL<dW>Du).
3.5.d. Uji Linearitas
Uji linearitas dipergunakan untuk melihat
apakah model yang dibangun mempunyai
hubungan linear atau tidak. Uji ini jarang
digunakan pada berbagai penelitian, karena
biasanya model dibentuk berdasarkan telaah
teoretis bahwa hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikatnya adalah linear.
Hubungan antar variabel yang secara teori
bukan merupakan hubungan linear sebenarnya
sudah tidak dapat dianalisis dengan regresi
linear, misalnya masalah elastisitas.
Jika ada hubungan antara dua variabel yang
belum diketahui apakah linear atau tidak, uji
linearitas tidak dapat digunakan untuk
memberikan adjustment bahwa hubungan
tersebut bersifat linear atau tidak. Uji linearitas
digunakan untuk mengkonfirmasikan apakah
sifat linear antara dua variabel yang
diidentifikasikan secara teori sesuai atau tidak
dengan hasil observasi yang ada. Uji linearitas
dapat menggunakan uji Durbin-Watson,
Ramsey Test atau uji Lagrange Multiplier.
3.5.e Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah untuk melihat ada
atau tidaknya korelasi (keterkaitan) yang

tinggi antara variabel-variabel bebas dalam


suatu model regresi linear berganda. Jika ada
korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel
bebasnya, maka hubungan antara variabel
bebas terhadap variabel terikatnya menjadi
terganggu. Sebagai ilustrasi, adalah model
regresi dengan variabel bebasnya motivasi,
kepemimpinan dan kepuasan kerja dengan
variabel terikatnya adalah kinerja. Logika
sederhananya adalah bahwa model tersebut
untuk mencari pengaruh antara motivasi,
kepemimpinan dan kepuasan kerja terhadap
kinerja. Jadi tidak boleh ada korelasi yang
tinggi antara motivasi dengan kepemimpinan,
motivasi dengan kepuasan kerja atau antara
kepemimpinan dengan kepuasan kerja.
Alat statistik yang sering dipergunakan untuk
menguji gangguan multikolinearitas adalah
dengan variance inflation factor (VIF).
Dimana nilai VIF<10, maka tidak terdapat
multikolinearitas.
3.5.f. Uji Koefisien Determinasi (R-Square)
Uji koefisien determinasi dilakukan untuk
mengetahui besarnya presentase sumbangan
pengaruh serentak variabel-variabel bebas
terhadap variabel terikat. Semakin besar nilai
koefisien determinasi, semakin tinggi variabel
bebas menjelaskan variabel terikatnya.
< 0,10 = buruk ketepatannya
0,11-0,30 = rendah ketepatannya
0,31-0,50 = cukup ketepatannya
>0,50 = tinggi ketepatannya.
Besarnya koefisien determinasi (R-Square)
bisa dilihat dari output spss pada table Model
Summary.
3.5.g Uji F
Uji F dikenal dengan Uji serentak atau uji
Model/Uji Anova, yaitu uji untuk melihat
bagaimanakah pengaruh semua variabel
bebasnya secara bersama-sama terhadap
variabel terikatnya. Atau untuk menguji
apakah model regresi yang kita buat
baik/signifikan atau tidak baik/non signifikan.
Jika model signifikan maka model bisa
digunakan
untuk
prediksi/peramalan,
sebaliknya jika non/tidak signifikan maka
model regresi tidak bisa digunakan untuk
peramalan.

Uji F dapat dilakukan dengan membandingkan


F hitung dengan F tabel, jika F hitung > dari F
tabel, (Ho di tolak Ha diterima) maka model
signifikan atau bisa dilihat dalam kolom
signifikansi pada Anova (Olahan dengan
SPSS, Gunakan Uji Regresi dengan Metode
Enter/Full Model). Model signifikan selama
kolom signifikansi (%) < Alpha (kesiapan
berbuat salah tipe 1, yang menentukan peneliti
sendiri, ilmu sosial biasanya paling besar alpha
10%, atau 5% atau 1%). Dan sebaliknya jika F
hitung < F tabel, maka model tidak signifikan,
hal ini juga ditandai nilai kolom signifikansi
(%) akan lebih besar dari alpha.
Mencari F hitung dapat menggunakan program
excel, dengan rumus:
=Finv(,k,n)
Dimana:
= tingkat kepercayaan/signifikansi (0.05)
k = jumlah variabel independen
n = jumlah data
Jika F hitung > F table, maka Ho ditolak.
3.5.h. Uji t
Uji t dikenal dengan uji parsial, yaitu untuk
menguji bagaimana pengaruh masing-masing
variabel bebasnya secara sendiri-sendiri
terhadap variabel terikatnya. Uji ini dapat
dilakukan dengan mambandingkan t hitung
dengan t tabel atau dengan melihat kolom
signifikansi pada masing-masing t hitung,
proses uji t identik dengan Uji F (lihat
perhitungan SPSS pada Coefficient Regression
Full Model/Enter). Atau bisa diganti dengan
Uji metode Stepwise.
Mencari t hitung dapat menggunakan program
excel, dengan rumus:
=Finv(,n)
Dimana:
= tingkat kepercayaan/signifikansi (0.05)
n = jumlah data
Jika t hitung > t table, maka

Ho ditolak.

4.c. Uji Autokorelasi


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.a. Uji Normalitas

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0


Grafik Histogram di atas berbentuk lonceng, itu
berarti data berdistribusi normal.

Berdasarkan output di atas, diketahui nilai


DW yaitu 0,366 selanjutnya nilai ini akan
kita bandingkan dengan nilai table
signifikansi 5%, jumlah sample N=36 dan
jumlah variabel independen=1 (K=1).
Nilai DW 0,366
Nilai DL untuk N=36 dan K=1 1,411
Nilai DU untuk N=36 DAN k=1 1,525
DW < DL, maka terdapat autokorelasi.
4.d. Uji Linearitas

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0


Grafik P-Plot di atas, titik-titik letaknya di dekat
garis regresi, itu berarti data berdistribusi
normal.
4.b. Uji Heteroskedastisitas

Ho: tidak terdapat hubungan antara Nilai


Tukar Rupiah dengan Kinerja Reksadana
Saham.
H1: terdapat hubungan antara Nilai Tukar
Rupiah dengan Kinerja Reksadana Saham.
Nilai signifikansi 0,00 > 0,05 artinya tolak
Ho, ada pengaruh yang signifikan antara
NilaiTukar
Rupiah
dengan
Kinerja
Reksadana Saham.
4.e.Uji Multikolinearitas

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0


Berdasarkan grafik Scatterplot di atas, lokasi

Berdasakan output diketahui bahwa:


-Nilai Tolerance variabel Nilai Tukar
Rupiah lebih besar dari 0,10.
-Nilai VIF variable Nilai Tukar Rupiah lebih
kecil dari 10,00.
Berdasarkan nilai di atas, disimpulkan
bahwa tidak terjadi multikolinearitas
4.f. Uji Koefisien Determinasi (R-Square)

Berdasarkan tabel Anova, nilai F hitung sebesar


48.980. Berdasarkan F tabel yang dihitung
melalui program excel, nilai F tabel sebesar
4.113. Jadi, F hitung > F tabel, maka tolak Ho,
yaitu nilai tukar rupiah memiliki pengaruh
signifikan terhadap kinerja reksadana saham.

Variabel

F
F
Kesimpulan
hitung tabel
Nilai tukar 48.980 4.113 Tolak H0
rupiah

Sumber data: SPSS ver.16.0 yang diolah


kembali

4.h. Uji t

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0


Berdasarkan output SPSS pada table Model
Summary di atas, terlihat nilai R sebesar
0,768. Itu berarti, hubungan antara kedua
variabel masuk dalam kategori kuat.
Dari table Model Summary di atas juga
terlihat nilai R-square, yang menunjukkan
seberapa besar variabel nilai tukar rupiah
(X) mempengaruhi kinerja reksadana saham
(Y). R-square di atas sebesar 0,590 atau
59%, berarti kontribusi variabel nilai tukar
rupiah (X) mempengaruhi kinerja reksadana
saham (Y) sebesar 59%, dan sisanya 41%,
dipengaruhi oleh variabel lain di luar nilai
tukar rupiah (X).
4.g. Uji F

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0


Hipotesis:
Ho: Nilai tukar rupiah tidak memiliki pengaruh
secara signifikan terhadap reksadana kinerja
saham.
H1: Nilai tukar rupiah memiliki pengaruh secara
signifikan terhadap kinerja reksadana saham.
Berdasarkan tabel Coefficients, nilai t hitung
sebesar 6.999. Berdasarkan t tabel yang dihitung
melalui program excel, nilai t tabel sebesar
2.032. Jadi, t hitung > t tabel, maka tolak Ho,
yaitu nilai tukar rupiah memiliki pengaruh
signifikan terhadap kinerja reksadana saham.

Variabel
Nilai tukar
rupiah

ttKesimpulan
hitung tabel
6.999 2.032 Tolak H0

Sumber data: SPSS ver.16.0 yang diolah


kembali

Sumber data: olahan SPSS ver.16.0


Hipotesis:
Ho: Nilai tukar rupiah tidak memiliki pengaruh
secara signifikan terhadap reksadana kinerja
saham.
H1: Nilai tukar rupiah memiliki pengaruh secara
signifikan terhadap kinerja reksadana saham.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan penelitian di atas, dapat
disimpulkan bahwa perubahan nilai tukar rupiah
berpengaruh terhadap kinerja reksadana saham
di Indonesia periode 2011-2013. Kesimpulan
tersebut dapat dibuktikan dengan melihat hasil
output spss ver.16.0., dimana nilai R-square
pada tabel Model Summary sebesar 0,590 atau
59%, yang berarti pengaruh nilai tukar rupiah
berpengaruh terhadap kinerja reksadana saham
sebesar 59%.

Dari tabel Coefficients, yang ada pada kolom B,


diperoleh pula persamaan dari penelitian ini:
Y =20,149 + 1,274X1
Itu berarti, perubahan kenaikan 1 unit nilai tukar
rupiah, maka kinerja reksadana akan berubah
sebesar 1,274.
Sebaiknya pemerintah senantiasa mampu
menstabilkan nilai tukar rupiah agar kinerja
reksadana saham tidak turun.
VI. REFERENSI

http://www.bi.go.id/
http://www.bapepam.go.id/
https://imamsetiyantoro.wordpress.com/tag/
kurs/
http://id.wikipedia.org/wiki/Reksadana
http://blablablalabla.blogspot.com/2015/01/d
istribusi-t-distribusi-f-dan-uji.html
http://googleweblight.com/?lite_url=http%3
A%2F%2Fgirimahendra.blogspot.com%2F2
013%2F05%2Fpengujian-hipotesis-ujikoefisien.html%3Fm%3D1&ei=IZdhstZn&l
c=idID&s=1&m=70&ts=1434531523&sig=AG8
UcunXgbBKkvBaKLyNKfoenDMkFXrOW
A
http://www.statistikian.com/2013/01/uji-fdan-uji-t.html