Anda di halaman 1dari 24

PENDAHULUAN

Preeklampsi merupakan salah satu kelainan dalam masa kehamilan yang


cukup sering dan apabila tidak ditangani dengan baik dapat berlanjut menjadi
preeklampsi berat, kemudian terjadi eklampsi dan akhirnya menimbulkan
kematian. Oleh karena itu diagnosa dini kelainan ini sangat diperlukan, yaitu
dengan cara pemeriksaan antenatal care yang baik. Penanganan preeklampsi
sampai sekarang masih bersifat simptomatik karena penyebabnya yang masih
belum diketahui secara pasti. Perlu ditekankan bahwa sindrom preeklampsia
ringan dengan hipertensi, edem dan proteinuria sering tidak diketahui atau tidak
diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan sehingga tanpa disadari dalam waktu
singkat dapat timbul preeklampsia berat dan eklampsia. Dengan pengetahuan ini
jelas bahwa pemeriksaan antenatal yang teratur dan rutin sangat penting dalam
usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia.(1)
Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa penyakit ini lebih sering
terjadi pada kehamilan pertama, kehamilan kembar dan kehamilan anggur.
Semakin tua umur kehamilan makin tinggi frekuensi penyakit ini.(2)
Frekuensi preeklampsia untuk tiap Negara berbeda-beda karena banyak
factor yang mempengaruhinya, diantaranya jumlah primigravida, keadaan sosial
ekonomi, perbedaan kriteria dalam penentuan diagnosis dan lain-lain.(3)

TINJAUAN PUSTAKA
A. Perubahan Haemodinamik pada kehamilan
Sirkulasi peredaran darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya
sirkulasi ke plasenta dan uterus yang membesar dengan pembuluh darah yang
membesar pula. Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologis
dengan adanya hemodilusi. Volume darah akan bertambah banyak kira-kira 25%,
dan puncaknya terjadi pada kehamilan 32 minggu. Eritropoesis dalam kehamilan
juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan transpor zat asam. Walaupun terdapat
peningkatan jumlah eritrosit secara keseluruhan, akan tetapi peningkatan jumlah
plasma jauh lebih besar, sehingga kondisi akhir yang terjadi adalah anemia relatif.
Jumlah leukosit meningkat, demikian juga jumlah trombosit. Segera setelah partus
terjadi pula hemokonsentrasi, dengan puncak pada hari ke-3 dan 5 postpartum
(1,2,3)

.
Beberapa perubahan hemodinamik yang terjadi pada ibu hamil(2,3) :

1. Cardiac output (Co)


Sesudah 10 minggu kehamilan Co meningkat 1,0 1,5 L/menit yang
disebabkan oleh peningkatan volume plasma serta penurunan resistensi vaskular
dari uterus dan plasenta, dimana selama trimester ketiga kehamilan menerima
25% dari Co. Pada trimester kedua peningkatan Co ini dapat dipengaruhi dengan
sangat nyata oleh posisi ibu. Pada posisi terlentang, kompresi pada vena kava
akan dapat menurunkan Co sampai 30%, karena menurunnya Venous return dari
ekstremitas bawah.
2. Denyut Jantung
Denyut jantung akan meningkat 10-15 kali/mnt selama kehamilan, dan
peningkatan ini mencapai tingkat maksimum pada trimester ke-3. perubahan
denyut jantung ini harus dibedakan dari takikardia yang disebabkan hipovolemia.
3. Tekanan darah
Pada trimester ke-2 akan terjadi penurunan tekanan darah sebanyak 5-15
mmHg dari tekanan sistolik dan diastolic. Tekanan darah mendekati normal
kembali pada saat aterm.

4. Tekanan Vena
Tekanan vena central (CPV) pada saat berbaring dapat berbeda selama
kehamilan, tetapi reaksi penambahan volume adalah sama seperti wanita tidak
hamil. Hipertensi vena pada ekstremitas bawah akan terjadi selama trimester ke-3.
B. Hipertensi Dalam Kehamilan
Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi dalam (tabel 1) (3,4,5) :
1. Hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah
kehamilan 20 minggu, selama persalinan, dan/atau dalam 48 jam pascapersalinan.
Ini lebih sering terjadi pada ibu dengan primigravida. Pataologi telah terjadi akibat
implantasi sehingga timbul iskemia plasenta yang diikuti sindrom inflamasi.
Resiko meningkat pada :
- masa plasenta yang besar (gemeli, penyakit trofoblas)
- diabetes mellitus
- Isoimunisasi rhesus
- Faktor herediter
- masalah vascular
Hipertensi karena kehamilan dan preeklampsi ringan sering ditemukan tanpa
gejala, kecuali meningkatnya tekanan darah. Prognosis menjadi lebih buruk
dengan terdapatnya proteinuria. Edema sekarang tidak lagi menjadi suatu tanda
yang sahih untuk preeklampsi.
2. Hipertensi Kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan 20 minggu
Diagnosis
Hipertensi
kehamilan

Tekanan darah

Tanda lain

karena

# Hipertensi

* Preeklampsia ringan

# Kenaikan tekanan diastolik 15 # Proteinuria (-)


mmHg atau >90 mmHg dalam 2 # kehamilan > 20
pengukuran berjarak 1 jam atau mgg
tekanan Diastolik sampai 110
mmHg
* Idem
# Tekanan diastolic > 110 mmHg

* Proteinuria 1+
# Proteinuria 2+

# Preeklampsia berat

# Oliguria
# Hiperfleksia
#
Ggn
penglihatan
#
Nyeri
epigastrium

* Hipertensi
* Eklampsia

* Kejang
Hipertensi Kronik
# Hipertensi kronik

# Hipertensi

# kehamilan < 20

* Superimposed pre-

* Hipertensi kronik

mgg

eclampsia

* Proteinuria +
tanda-tanda lain
dari
preeklampsia

C. Preeklamsia
Preeklampsia

adalah

keadaan

dimana

hipertensi

disertai

dengan

proteinuria, edem atau keduanya, yang terjadi akibat kehamilan setelah usia
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan atau kadang-kadang timbul
lebih awal bila terdapat perubahan hidatiformis yang luas pada vili korialis (6,7).
Apabila hipertensi terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu tanpa
adanya mola hidatidosa atau hipertensi yang menetap selama 6 minggu post
partum maka masuk kedalam kategori hipertensi kronik.
Penyakit ini dianggap sebagai suatu maladaption syndrome dengan akibat suatu
vasospasme generalisata dengan segala akibat-akibatnya.
Kenaikan tekanan darah dapat ditimbulkan oleh peningkatan curah jantung
ataupun resistensi pembuluh darah sistemik. Curah jantung pada pasien hamil
dengan preeklamsi tidak jauh berbeda dari curah jantung pada pasien hamil yang
normal dalam trimester terakhir kehamilan. Di lain pihak, resistensi pembuluh
darah sistemik telah terbukti dapat meningkat nyata. (7)
Aliran darah ginjal dan tingkat filtrasi glomelurus (GFR) pada pasien
dengan preeklamsi jauh lebih rendah daripada pasien dengan kehamilan normal
pada periode kehamilan yang sebanding, terjadi spasme pembuluh darah disertai

retensi garam dan air, protesinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriol sehingga
terjadi perubahan pada glomerulus. Vasokonstriksi ginjal dan pengurangan GFR
juga dapat menyebabkan oliguria (7,8).
Resistensi pembuluh darah otak selalu tinggi pada pasien preeklamsi dan
eklamsi. Pada pasien hipertensi tanpa kejang-kejang, aliran darah otak tetap dalam
batas normal sebagai akibat fenomena autoregulasi (7).
D. Etiologi
Penyebab terjadinya preeklampsia sampai sekarang belum diketahui
secara pasti. Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan penyebab
kelainan ini sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai The Disease of
Theory. Adapun teori tersebut antara lain (8) :
a. Peran prostasiklin dan tromboksan
Pada preeklampsia dan eklampsia didapatkan adanya kerusakan endotel
vascular sehingga terjadi penurunan produksi prostasiklin (PGI2) yang pada
kehamilan normal meningkat, aktifitas penggumpalan dan fibrinolisis yang
kemudia akan diganti trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi
antitrombin III sehingga terjadi deposit fibrin. Aktifitas trombosit menyebabakan
pelepasan tromboksan (TA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan
kerusakan endotel.
b. Peran faktor imunologis
Preeklampsia eklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan
kadang tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Fierlie FM (1982)
mendapatkan beberapa data yang mendukung adanya sisitem imun pada penderita
preeklampsia.
1. Beberapa wanita dengan preeklampsia mempunyai kompleks imun pada serum
2. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktifitas system komplemen pada
preeklampsia dan eklampsia diikuti dengan proteinuria.

c. Peran faktor genetik

Beberapa bukti yang menunjukan peran faktor genetic pada kejadian


preeklampsia eklampsia antara lain :
-

Preeklampsia hanya terjadi pada manusia

Keturunan ibu penderita preeklampsia eklampsia memepunyai risiko lebih


tinggi untuk menderita preeklampsia eklampsia

E. Patofisiologi
Penyakit ini dianggap sebagai suatu maladaption syndrome dengan
akibat suatu vasospasme generalisata dengan segala akibat-akibatnya (9,10).
Kenaikan tekanan darah dapat ditimbulkan oleh peningkatan curah jantung
ataupun resistensi pembuluh darah sistemik. Curah jantung pada pasien hamil
dengan preeklamsi tidak jauh berbeda dari curah jantung pada pasien hamil yang
normal dalam trimester terakhir kehamilan. Di lain pihak, resistensi pembuluh
darah sistemik telah terbukti dapat meningkat nyata (9).
Aliran darah ginjal dan tingkat filtrasi glomelurus (GFR) pada pasien
dengan preeklamsi jauh lebih rendah daripada pasien dengan kehamilan normal
pada periode kehamilan yang sebanding, terjadi spasme pembuluh darah disertai
retensi garam dan air, proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriol sehingga
terjadi perubahan pada glomerulus. Vasokonstriksi ginjal dan pengurangan GFR
juga dapat menyebabkan oliguria (9,10).
Resistensi pembuluh darah otak selalu tinggi pada pasien preeklamsi dan
eklamsi. Pada pasien hipertensi tanpa kejang-kejang, aliran darah otak tetap dalam
batas normal sebagai akibat fenomena autoregulasi (9).
F. Diagnosis
Diagnosis preeklampsia ditegakkan berdasarkan adanya dua dari tiga
gejala, yaitu penambahan berat badan yang berlebihan, edem, hipertensidan
proteinuria. Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg
perminggu beberapa kali.edem terlihat sebagai peningkatan berat badan,
pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Tekanan darah >140/90 mmHg atau
tekanan sistolik >30 mmHg atau tekanan diastolik >15 mmHg yang diukur setelah

pasien beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolic pada trimester keduayang


lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklampsia. Proteinuria bila
terdapat protein sebanyak 0,3 gr/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan
kualitatif yang menunjukan +1 atau +2 atau kadar protein >1 gr/l dalam urin yang
dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan
jarak waktu 6 jam (9).
Diagnosis preeklampsi ringan ditegakkan bila (2) :
- Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan sistole > 30 mmHg dan diastole
> 15 mmHg,
- Proteinuria 0,3 g/24 jam, dan
- tanpa tanda tanda subyektif.
Bila tekanan darah mencapai atau lebih dari 160/110 mmHg, maka
preeklamsi disebut berat. Preeklamsi dimasukkan dalam kriteria berat pula
walaupun tekanan darah belum mencapai 160/110 mmHg tetapi ditemukan gejalagejala lain seperti (2,3) :
- Tekanan darah sistol 160 mmHg atau diastol 110 mmHg
- Proteinuria 5 gr/24 jam atau +4 dan +5
- Oliguria (< 400 ml per 24 jam)
- Edema paru : nafas pendek, sianosis, rhonkhi +
- nyeri epigastrium atau kuadaran atas kanan
- Gangguan penglihatan : skotoma/ penglihatan berkabut
- Nyeri kepala hebat, tidak berkurang dengan analgesic biasa
- Hiperfleksia
- Mata : Spasme arteriolar, edema, ablasio retina
- Koagulasi: kaogulasi intravascular disseminate, sindrom HELLP
- pertumbuhan janin yang terhambat
- Otak : edema serebri
- Jantung : gagal jantung
Bila terdapat preeklampsia berat disertai salah satu atau beberapa gejala
dari nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium dan

kenaikan tekanan darah progresif, dikatakan pasien tersebut menderita impending


eklampsia (7).
Selain dengan pemeriksaan di atas, dapat juga dilakukan pemeriksaan
penunjang, antara lain

(7)

- Urin : protein, reduksi, bilirubin, sediment urin


- Darah : trombosit, ureum, kreatinin, SGOT< LDH dan bilirubin
- USG
G. Differensial Diagnosa (DD)
Diagnosis banding antara preeklampsia dengan hipertensi menahun atau
penyakit ginjal tidak jarang menemui kesukaran. Pada hipertensi menahun adanya
tekanan darah yang meninggi sebelum hamil, pada kehamilan muda atau 6 bulan
post partum akan sangat berguna untuk membuat diagosis. Pemeriksaan
finduskopi juga berguna karena perdarahandan eksudat jarang ditemukan pada
preeklampsia. Kelainan tersebut biasanya menunjukan hipertensi menahun.
Proteinuria pada preeklampsia jarang timbul sebelum triwulan ke-3 sedangkan
pada penyakit ginjal timbul lebih dulu (1).
Hipertensi Kronik
Jika tekanan darah sebelum kehamilan 20 mgg tidak diketahui, sulit
membedakan antara preeklampsia dan hipertensi kronik, dalam hal demikian,
tangani sebagai hipertensi karena kehamilan (2).
Proteinuria (2)
-

Sekret vagina atau cairan amnion dapat mengkontaminasi urin, sehingga


terdapat proteinuria

Kateterisasi tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan infeksi

Infeksi kandung kencing, anemia berat, payah jantung, partus lama juga
dapat menyebabkan proteinuria

Darah dalam urin, skistosomiassis, kontaminasi darah vagina dapat


menghasilkan proteinuria positif palsu

Kejang dan koma

Eklampsia harus di DD dengan epilepsi, malaria serebral, trauma kepala,


penyakit serebro vascular, intoksikasi (alcohol, obat, racun), kelainan metabolisme
(asidosis), meningitis, ensefalitis, enselofati, intoksikasi air, histeria, dan lain-lain
(2)

.
Berikut ini adalah skema jalur alir penilaian klinik untuk membedakan

diagnosis preeklampsia berat dengan penyakit lainnya (10,11).


H. Komplikasi
Kompilkasi terberat pada preeklampsia adalah kematian ibu dan janin.
Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu berupa kemunduran fungsi sejmlah organ
dan sisitem yang kemungkinan sebagian besar terjadi akibat vasospasme, yaitu
gagal ginjal, sindrom HELLP, eklampsia dan perdarahan otak (9).
Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi pada janin berhubungan dengan
terjadinya perubahan dalam perfusi darah uteroplasenta akut ataupun kronis yang
bisa menyebabkan pertumbuhan janin intrauterine terhambat dan prematuritas (9).
I. Pencegahan
Untuk pencegahan yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan
cepat-tepat. Kasus harus ditindaklanjuti secara regular dan diberi penerangan yang
jelas bilamana harus kembali ke pelayanan kesehatan. Dalam rencana pendidikan
keluarga (suami, orang tua, mertua, dll) harus dilibatkan sejak awal (1,2).
Pembatasan kalori, cairan, dan diet rendah garam tidak dapat mencegah
hipertensi karena kehamilan, malah dapat membahayakan janin. Manfaat aspirin,
kalsium, dan lain-lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan belum
terbukti. Dan pemasukan cairan yang terlalu banyak mengakibatkan edema paru
(2,3)

.
Pencegahan preeklampsia sepertinya tidak mungkin karena faktor

penyebabnya belum diketahui sampai sekarang. Meskipun demikian janin dari ibu
preeklampsia sebaiknya dikeluarkan saat hipertensi ibu terkontrol dengan baik,
pengaturan aktifitas dan penambahan berat badan dan antenatal care dan post natal

care yang optimal merupakan tindakan yang dapat mencegah terjadinya


preeklampsia (10).
Pemeriksaaan antenatal care yang teratur dan teliti dapat menemukan
tanda-tanda preeklampsia dan dalam hal ini harus dilakukan penanganan yang
semestinya. Pemberian aspirin dosis rendah (75 mg) telah dievaluasi secara luas
sebagai obat mencegah preeklampsia. Baru-baru ini antioksidan dosis tinggi,
vitamin C 1000 mg dan vitamin E 400 IU, juga telah sukses digunakan dalam
mengurangi preeklampsia lebih dari 50%. Diet tinggi protein dan rendah lemak,
karbohidrat dan garam serta penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu
dianjurkan (1).
J. Penatalaksanaan
Pengobatan hanya dapat dilakukan secara simptomatis karena etiologi dan
faktor-faktor penyebab dari preeklamsi belum diketahui. Tujuan utama
penanganan penyakit ini adalah : (1) mencegah terjadinya preeklamsi berat, (2)
melahirkan janin hidup, (3) melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecilnya
(1,2,3)

1. Rawat jalan
-

Perbanyak istirahat (berbaring atau tidur miring).


Istirahat dengan berbaring pada sisi tubuh menyebabkan pengaliran darah ke
plasenta meningkat, aliran darah ke ginjal juga meningkat, tekanan pada
vena ektremitas bawah menurun dan resorbsi cairan di aderah ini akan
meningkat, selain itu juga mengurangi kebutuhan volume darah yang
beredar.
- Diit biasa
- Tidak perlu diberi obat-obatan
- Pemeriksaan kehamilan.
Dilakukan pemeriksaan penilaian janin pada kehamilan 30 minggu dan
diulangi sekurang-kurangnya setiap 2 minggu, antara lain:

USG dan NST (Non Stress Test)

10

Pemeriksaan laboratorium (Hb, asam urat, trombosit)

Roborantia (vitamin kombinasi)

2. Rawat inap
Indikasi untuk merawat pasien preeklamsi di Rumah Sakit adalah :
- tekanan darah sistol 140 mmHg, tekanan diastol > 90 mmHg
- Proteinuria > +1
- Kanaikan berat badan 1,5 kg dalam seminggu yang berulang.
- Penambahan edema yang berlebihan secara tiba-tiba.
Selama perawatan di Rumah Sakit dilakukan pengobatan dan evaluasi,
antara lain:
- tirah baring total
- periksa tekanan darah, air kencing, berat badan dan cari edema terutama di
daerah sakral
- balans cairan ditentukan tiap hari
- pemeriksaa laboratorium ( Hb, asam urat, trombosit, fungsi ginjal dan hepar,
urin lengkap)
- penilaian kesejahteraan janin
- penderita diberitahukan untuk segera memberitahukan jika ada sakit kepala,
mual, nyeri epigastrium dan gangguan penglihatan.
Penatalaksanaan untuk preeklampsia berat dapat dibagi atas 2 hal yaitu (6) :
a. Perawatan konservatif
Indikasi perawatan konservatif
1. Kehamilan <37 minggu
2. Keadaan janin baik
3. Tidak ada impending eklampsia
Pengobatan medicinal
- Diberikan suntikan MgSO4 40% dengan dosis 8 gram IM (4 gram bokong
kanan dan 4 gram bokonh kiri) kemudian dilanjutkan dosis ulangan tiap 4 jam :
4 gram MgSO4 40% IM.

11

- Jika ada perbaikan atau tetap, pemberian MgSO4 dapat diteruskan lagi selama
24 jam
b. Perawatan aktif
Indikasi bila terdapat satu atau lebih keadaan ini :
Ibu
- Kehamilan > 37 minggu
- Adanya impending eklampsia
- Perawatan konservatif gagal
- 6 jam setelah pengobatan medicinal terjadi kenaikan tekanan darah
- 24 jam setelah pengobatan medicinal gejala tidak berubah
Janin
- Adanya tanda-tanda gawat janin
- Adanya pertumbuhan janin terhambat dalam rahim
- Laboratorik
- Adanya sindrom HELLP
Pengobatan medicinal
- Segera masuk rumah sakit
- Tirah baring miring ke sisi kiri
- Infus D5 : RL = 2 : 1
- Antasida
- Diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam
- Obat-obatan anti kejang :
Dosis awal 8 gram MgSO4 40% : 4 gram bokong kanan dan 4 gram
bokong kiri IM
Dosis ulangan tiap 4 jam : 4 gram MgSO4 40% IM
Syarat-syarat pemberian MgSO4 :
- Tersedia kalsium glukonas 1 gram, 10 ml 10%
- Refleks patella (+) kuat
- Pernapasan > 16x/menit, tanpa tanda-tanda distress pernapasan
- Produksi urin > 100 ml dalam 4 jam sebelumnya
Dihentikan bila :

- Adanya tanda-tanda intoksikasi

12

- Setelah 24 jam paska persalinan


- 6 jam paska persalinan normotensif
K. Prognosis
Pada umumnya baik dengan penatalaksanaan yang tepat. Wanita yang
mengalami preeklampsia selama kehamilannya mempunyai resiko yang tinggi
untuk serangan ulangan pada kehamilan berikutnya. Resiko meninkat 50% pada
wanita yang mengalami preeklampsia pada usia kehamilan muda (sebelum
minggu ke-27).

13

LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS
Nama

: Ny. A

Umur

: 18 tahun

Golongan darah

:O

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Alamat

: Danau salak

MRS tanggal

: 10 Juni 2005, Pukul 09.00 wita

II. ANAMNESA
1. Keluhan Utama : Ingin melahirkan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan kencang-kencang sejak mulai jam 21.00.
Kencang-kencang dirasakan terus menerus. Keluar air-air (-). Keluar
lendir darah jam 06.00. Pasien juga mengeluhkan kedua kaki bengkak
sudah 1 bulan. Pasien ANC rutin di puskesmas dan ANC di RS Danau
Salak

(dr

Diana)

dengan

diagnosis

gestasional

+G1P0A0+aterm+pro induksi+pro nst.


3. Riwayat Obstetri
G1P0A0
I. 2015/hamil ini
4. Riwayat haid
Menarche

: pada umur 14 tahun

Lama menstruasi

: 6 hari

Siklus haid

: teratur

Hari pertama haid terakhir (HPHT) : 20-10-2014


Umur kehamilan (UK)

: 33-34 minggu

14

hipertensi

Taksiran Persalinan (TP)

: 27-7-2015

5. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali, lamanya perkawinan 1 tahun
6. Riwayat Penyakit dahulu
Tidak ada riwayat penyakit hipertensi, asma, DM maupun penyakit
jantung. Penyakit-penyakit operasi terdahulu tidak ada.
7. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat penyakit hipertensi, asma, DM maupun penyakit
jantung.
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Pemeriksaan Umum
1. Keadaan umum

: baik

2. Kesadaran

: kompos mentis

3. Tanda vital
Tekanan darah

: 150/90 mmHg

Suhu

: 36,6o C

Nadi

: 88 kali/menit

Pernapasan

: 22 kali/menit

Kulit

: tidak pucat

5. Kepala dan leher

: mata; konjungtiva tidak anemis, lain-lain dalam


batas normal

6. Dada

: paru dan jantung dalam batas normal

7. Ekstremitas

: ekstremitas bawah edem (+/+)

B. Pemeriksaan Obstetri
1. Inspeksi

: perut tampak membuncit, asimetris

2. Palpasi
Leopold I

: FU 3 jari dibawah processus xypoideus, TFU 35 cm

Leopold II

memanjang punggung kanan

Leopold III : presentasi kepala


Leopold IV : sudah masuk PAP
3. HIS

: 1x10 20

4. TBJ

: 3720 g

15

5. DJJ

: 137 kali/menit

6. VT

: pembukaan 2cm, porsio tebal lunak, Ket (+),


STLD (+), H1

C. Pemeriksaan Bantu 10/06/2015


Darah rutin : WBC

: 12.10 (103/ uL)

HGB

: 12.4 (g/dl)

HCT

: 34.6 (%)

RBC

: 3.26 (106/uL)

PLT

: 205 (103/uL)

Kimia darah : Gula sewaktu : 78 mg/dL


SGOT

: 8 U/L

Kreatinin

: 0,5 mg/Dl

SGPT : 17 U/L
Urea : 19 mg/dL

Urinalisa : protein urin (+2)


D. Diagnosis
G1P0A0 H 33-34 minggu +JTHIU+Preskep+Inpartu kala I fase laten +TBJ
3720 gr +PEB
E. Penatalaksanaan
Sikap : - NST
-pasang infus RL
- pasang kateter
-

Inj Ceftriaxon 2x1

Laboratorium lengkap

Nifedipine 1x10 mg
Hasil konsul dengan konsulen :
- induksi gastrul pervagina/6 jam
- Monitoring Vital sign/His/DJJ.
- Nifedipine bila TD >160/100
G. Laporan Partus
Jam 14.00 masuk misoprostol I pro evaluasi jam 20.00.
Jam 20.00 (VT pembukaan lengkap/Ket +/H2/STLD + ) = Pindah vk

16

Jam 20.10 : ketuban pecah sendiri (bening)= ibu ingin mengedan, pimpin
persalinan.
Jam 21.15 : Lahir Bayi Laki2/3100/50cm/Spt Bk/ AS 8-9-10/nu
(+)/kelainan kongenital (-).
Jam 21.30 : Lahir plasnta lengkap dengan selaputnya, episiotomi, hecting
jelujur catgut/Kontraksi uterus baik/Perdarahan Kala III/IV 250 cc
H. Laporan Keadaan Bayi
Riwayat obstetrik ibu

: G1P0A0

Tanggal lahir

: 10 Juni 2015

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Cara lahir

: Spt-Bk

Apgar

: 8,9,10 (segera menangis)

Penolong

: DM dan Bidan

BBL

: 3100 gram

PBL

: 50 cm

Suhu

: 36,5oC

17

F. Follow Up
No

Tanggal

Puku

Subjektif (S)

1.

11/6/15

l
06.00

Kel (-)

2.

12/6/15

05.45

Kel (-)

Objektif (O)
TD :140/80
N : 86 x/m
RR : 22
T : 36,5
TD : 130/80
N : 78 x/m
RR : 20
T : 36.8

Penilaian (A)

Rencana (P)

Hasil Konsul

P2A0 PP SptBk (H1) + PEB

IVFD RL 20 tpm
Po : As. Mafenamat
3x1
Clanexi 3x1
PO : As.mafenamat 3x1
Clanexi 3x1

P2A0 PP sptBK (H1) + PEB

Pasien boleh pulang


hari ini

DISKUSI
Pre-eklamsia adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan
hipertensi, proteinuria dan edem pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Pre-eklamsia
dibagi dalam golongan ringan dan berat. Penyakit digolongkan berat bila satu atau
lebih tanda/gejala dibawah ini ditemukan

(1)

1. Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau
lebih
2. Proteinuria 5 gram atau lebih dalam 24 jam, +3 atau +4 pada pemeriksaan
kualitatif
3. Oliguria ( < 400 ml dalam 24 jam)
4. Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di epigastrium.
5. Edema paru atau sianosis
Pada kasus ini pasien dengan usia kehamilan 33-34 minggu datang dengan
keluhan Pasien mengeluhkan kencang-kencang sejak 13 jam SMRS. Kencangkencang dirasakan terus menerus. Keluar air-air (-). Keluar lendir darah sejak 3 jam
SMRS. Pasien juga mengeluhkan kedua kaki bengkak sejak 1 bulan yang lalu.
Pasien ANC rutin di puskesmas dan ANC di RS Danau Salak (dr Diana) dengan
diagnosis gestasional hipertensi +G1P0A0+h 33-34 minggu + pro induksi + pro nst.
Pasien mengaku pada umur kehamilan awal juga mendapatkan tekanan darah
meninggi, padahal sebelum kehamilan normal-normal saja. Diagnosis pasien adalah
preeklampsia berat melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik yang menyatakan bahwa
mulai awal kehamilan tekanan darah meninggi dan saat diperiksa sebesar 150/90
mmHg serta adanya bengkak pada kedua kaki dan didapatkan protein urin +2.
Peningkatan tekanan darah selama kehamilan yang dapat menyebabkan preeklampsia
dikarenakan peningkatan tekanan perifer untuk perbaikan oksigenasi jaringan dan

juga peningkatan cairan ekstraseluler yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan


arteri.
Pasien datang ke rumah sakit dengan ada tanda-tanda inpartu yaitu dari
pemeriksaan vt didapatkan pembukaan 2cm, porsio tebal lunak, Ket (+), STLD (+),
H1, his 1x20 10 dengan umur kehamilan 33-34 minggu. Taksiran berat janin 3720
gram dengan denyut jantung janin 140 kali/menit serta janin tunggal hidup intra
uterin dengan presentasi kepala. Dari keadaan ini maka pada pasien ini dilakukan
penatalaksanaan konservatif karena usia kehamilan < 36 minggu.
Pada kasus ini dilakukan pemasangan infus dan kateterisasi serta nifedipin 1 x 10
mg/hr sebagai antihipertensi, pemeriksaan laboratorium lengkap serta observasi
tanda-tanda impending eklamsia. Kemudian konsul dengan dokter konsulen diberikan
induksi gastrul pervagina/6 jam, monitoring Vital sign/His/DJJ dan Nifedipine bila
TD >160/100.
Setelah diobservasi kira-kira 6 jam pada jam 20.00 didapatkan (VT
pembukaan lengkap/Ket +/H2/STLD + ) kemudian pasien dipindahkan ke vk, pada
jam 20.10 ketuban pecah sendiri (bening) dan ibu ingin mengedan. Pada jam 21.15
Lahir Bayi Laki2/3100/50cm/Spt Bk/ AS 8-9-10/anus (+)/kelainan kongenital (-).
Dan jam 21.30 : Lahir plasnta lengkap dengan selaputnya, episiotomi, hecting jelujur
catgut/Kontraksi uterus baik/Perdarahan Kala III/IV 250 cc
Pada tanggal 11 Juni 2015 pasien diberikan terapi berupa cairan infus RL
dan obat oral asam mafenamat 3x1 tab, clanexi 3x1 tab dan nifedipine 3x10 mg bila
TD> 160 mmHg. Tensi pasien pada tanggal 11 Juni 140/90 sehingga nifedipin tidak
diberikan. Pada tanggal 12 Juni 2015 kondisi pasien membaik, keluhan tidak ada,
tensi 130/80 dan pasien diperbolehkan pulang.

PENUTUP
Telah dilaporkan sebuah kasus atas nama Ny. A umur 18 tahun, hamil 33-34
minggu, datang sendiri dengan keluhan ingin melahirkan. Berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis G1P0A0 H 33-34 minggu,Inpartu Kala I fase
laten janin tunggal hidup intrauterine, presentasi kepala dengan Preeklamsia Berat
(PEB). Penatalaksanaan yang dilakukan yaitu perawatan konservatif melalui
pengobatan medicinal dan obstetrik.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Wiknjosastro, H (editor). Preeklampsia dan Eklampsia. Dalam : Ilmu


Kandungan edisi 3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirorahardjo, Jakarta,
1999: 281-300.

2. Saifuddin AB et al. Hipertensi pada Kehamilan, Nyeri Kepala, Gangguan


Penglihatan, Kejang. Dalam Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal edisi 2. Jakarta : JNPKKR-POGI : 2001: 207-217.
3. Djoko Widodo. Penatalaksanaan Hipertensi dalam Kehamilan. Dalam :MKI.
April 2004.
4.

Anonymous. Preeclamsia: Diagnosis, Treatment and Control. Geneva. WHO


1997

5. Josopawino M et al. Hipertensi pada Kehamilan Preeklampsia dan


Eklampsia. Dalam Catatan Kuliah Obstetri dan Ginekologi FKUI, Jakarta.
6.

Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUD


Ulin-FK Unlam Banjarmasin 2004 :17-29.

7. Cunnungham, F.Gary, et al. Hipertensi Dalam Kehamilan. Dalam William


Obstetri edisi 18. EGC, Jakarta, 1995: 773-801.
8. Sudhaberata K. Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia. Dalam
Cermin Dunia Kedokteran No.133 Jakarta 2001: 27-31.
9. Jenkins, M. Pre-eclampsia. eMedicine 2004. Available from www.emedicine.com
10. Mochtar R, Toksemia Gravidarum. Dalam : Sinopsis Obstetri jilid 1 edisi 2.
Jakarta, EGC 1998 : 198-208.
11. Mansjoer A. et al. Preeklampsia dan Eklampsia. Dalam Kapita Selekta
Kedokteran edisi 3 jilid 1. Jakarta, Media Aesculapius, FKUI, 1999 : 270-273.