Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(1); Jan 2013

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada


Mahasiswa Semester V STIKes X Jakarta Timur 2012
1

Fadila Oktavia Sari Banun , Soedijono Setyorogo

Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKes MH. Thamrin


Alamat korespondensi:
Prodi MPRS STIKes MH. Thamrin, Jln. Raya Pondok Gede No. 23-25 Kramat Jati Jakarta Timur 13550
Telp: 021 80855119 ext 102; email:fadilaoktavia@gmail.com

Abstrak
Perilaku seksual pranikah adalah kegiatan seksual yang melibatkan dua orang yang saling menyukai atau saling
mencintai, yang dilakukan sebelum perkawinan. Dari beberapa perilaku seksual tersebut yang termasuk perilaku seksual
berisiko berat adalah berciuman bibir, meraba alat kelamin pasangan, menggesek-gesek kelamin sampai dengan
hubungan seks. Dampak yang terjadi adalah kehamilan yang tidak diinginkan dan belum merasa siap secara fisik, mental
dan sosial ekonomi sehingga calon ibu merasa tidak ingin dan tidak siap untuk hamil, sulit mengharapkan adanya kasih
sayang yang tulus dan kuat, sehingga masa depan anak bisa saja terlantar dan cenderung mengakhiri kehamilannya
dengan cara aborsi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual
pranikah pada mahasiswa semester V STIKes MH. Thamrin Jakarta Timur Tahun 2012.
Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Desember 2012 s/d
Januari 2013 dengan responden sebanyak 261 responden yang diambil secara simple random sampling. Data
dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah di uji coba terlebih dahulu. Dari hasil analisis,
didapatkan perilaku seksual berisiko sebanyak 55,2%. Gaya hidup yang berisiko 77,4%,tempat tinggal berisiko 47,5%,
keharmonisan keluarga, berisiko 65,2%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah pada
mahasiswa semester V STIKes X Jakarta Timur meliputi tempat tinggal (p-value 0,05), keharmonisan keluarga (p-value
0,04) dan gaya hidup (p-value 0,001).
Disarankan bagi pihak STIKes X untuk menyediakan sarana Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa untuk
mendapatkan solusi akan perubahan-perubahan fisik dan psikologi yang terjadi pada diri individu, membantu mahasiswa
berinteraksi secara positif di lingkungan sekitar kampus dan menyediakan sarana untuk mahasiswa supaya dapat
berorganisasi atau melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk mahasiswa, Menambahkan mata kuliah seperti
etika dan moral, supaya mahsiswa lebih memahami bagaimana beretika secara yang baik.
Kata kunci: Perilaku Seksual Pranikah, Mahasiswa, Jakarta Timur
Pendahuluan
Remaja adalah tahapan kehidupan yang dilalui oleh
setiap manusia dalam proses perkembangan sejak lahir
sampai pada masa peralihan, dari masa kanak kanak
menuju masa dewasa (BKKBN, 1999). Perkembangan
emosi pada masa remaja ditandai dengan sifat emosional
yang meledak ledak dan sulit untuk dikendalikan. Hal ini
disebabkan adanya konflik peran yang sedang dialami
remaja. Jika seseorang remaja tidak berhasil mengatasi
situasi ini, maka remaja akan terperangkap masuk dalam
hal negatif, salah satu diantaranya perilaku seks bebas atau
penyalahgunaan narkoba. (Efendi, 2000).
Perilaku seksual pranikah merupakan salah satu akibat
dari pergaulan seks bebas. Dampak yang terjadi adalah
kehamilan yang tidak diinginkan dan belum merasa siap
secara fisik, mental dan sosial ekonomi sehingga calon ibu
merasa tidak ingin dan tidak siap untuk hamil, sulit
mengharapkan adanya kasih sayang yang tulus dan kuat,
sehingga masa depan anak bisa saja terlantar dan
cenderung mengakhiri kehamilannya dengan cara aborsi
(Suara M, 2011) selain itu dampak dimunculkan adalah
Penyakit Menular Seksual (PMS) HIV / AIDS,
Psikologis). Kehamilan yang terjadi akibat seks pranikah
bukan saja mendatangkan malapetaka bagi bayi yang

dikandungnya juga menjadi beban mental yang sangat


berat bagi ibunya mengingat kandungan tidak bisa
disembunyikan, dan dalam keadaan kalut seperti ini
biasanya terjadi depresi, terlebih lagi jika sang pacar
kemudian pergi dan tidak kembali. (Wilson dalam Ghifari
2003)
Sebuah survey yang dilakukan oleh Youth Risk
Behavior Survei (YRBS) secara Nasional di Amerika
Serikat pada tahun 2006 mendapati bahwa 47,8% pelajar
yang duduk di kelas 9-12 telah melakukan hubungan seks
pranikah, 35% pelajar SMA telah aktif secara seksual
(Daili, 2009 dalam Damanik, 2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta
dan Kemanusiaan (LSCK) yang melibatkan responden
sebanyak 1.660 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi
di Yogyakarta mendapatka hasil bahwa 97,5% dari
responden mengaku telah melakukan perilaku seksual
pranikah (Administrator, 2011) Penelitian lainnya oleh
LSM Sahara Indonesia terhadap 1000 orang mahasiswa di
kota Bandung pada tahun 2002 menemukan bahwa 44,8%
mahasiswi remaja kota Bandung sudah pernah melakukan
hubungan intim. (Masunah. 2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Suara, M (2011) di 13
STIKes daerah Jakarta Timur diperoleh hasil responden
12

yang berperilaku seksual beresiko (kegiatan cium bibir dan


mulut, meraba raba/petting dan hubungan seksual atau
senggama) sebanyak 65 orang (29,5 %) sedangkan
responden yang berperilaku seksual tidak beresiko
sebanyak 155 orang (70,5 %). Penelitian Karminingsih
(2009) dalam Suara, M (2011) dilaporkan bahwa perilaku
seksual remaja SMA dikota Bekasi sebagian besar dalam
batas ringan (54,5%) dan sebesar 45,4% berperilaku
seksual dengan kategori berat. Sedangkan Penelitian oleh
Sekarrini (2011) sebanyak 39,3% murid SMK Kesehatan
daerah Kabupaten Bogor Tahun 2011 berperilaku seksual
dalam kategori ringan seperti mengobrol, menonton film
berdua, jalan berdua, berpegangan tangan dan berpelukan.
Sedangkan sebanyak 60,7% berperilaku seksial berisiko
berat seperti berciuman bibir, mencium leher, meraba
daerah erogen, bersentuhan alat kelamin dan melakukan
hubungan seks
Hasil survey BKKBN 2010 sekitar 51 % remaja di
wilayah Jabodetabek sudah tidak perawan. Sebanyak 4%
responden yang mengaku melakukan hubungan seksual
sejak usia 16-18 tahun, 16 % melakukan pada usia 13-15
tahun. Kejadian seks pranikah di Surabaya mencapai 47%,
di Bandung dan Medan 52%. Perilaku seks bebas di
kalangan remaja berdampak pada kasus infeksi penularan
HIV/AIDS yang cenderung berkembang di Indonesia,
sedangkan tempat favorit untuk melakukan hubungan
seksual adalah di rumah sebanyak 40 %, di tempat kost 30
% dan di hotel 30% (www.bkkbn.or.id).
Hawari dalam Afiah (2007) kondisi keharmonisan
keluarga dapat membantu terbentuknya sikap negatif pada
remaja terhadap seks pranikah. Kurangnya komunikasi
secara terbuka antara orang tua dengan remaja dalam
masalah seksual dapat memperkuat munculnya perilaku
seksual (Oom, 1981 dalam Imran, 2000). Adanya perhatian
atau kontrol orang tua terhadap anak dapat menunda usia
pertama kali remaja melakukan hubungan seks
(Widyastuti, 2009). Wilayah Jakarta Timur merupakan
lokasi yang berpenduduk padat. Berdasarkan hasil sensus
penduduk tahun 2010, Jumlah penduduk di Indonesia
berjumlah 237 641 326 Jiwa. Sementara penduduk Jakarta
Berjumlah 9.607.7879.223.000 jiwa yang tersebar
6
(enam) wilayah. Kepulauan Seribu 21.082 jiwa, Jakarta
Utara 1.645.659, Jakarta Timur 2.693.896, Jakarta Selatan
2.062.232, Jakarta Pusat 902.973, Jakarta Barat 2.281.945
(BPS DKI 2010). Dari data diatas jumlah penduduk
berdasarkan golongan usia 10-24 tahun (usia remaja),
sekitar 71 juta atau sekitar 30 % dari jumlah penduduk di
Indonesia pada tahun 2010. Hasil survey BKKBN 2010
sekitar 51 % remaja di wilayah Jabodetabek sudah tidak
perawan.
Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang
didorong oleh hasrat seksual, sesama jenis maupun lawan
jenis. Perilaku seksual bermacam-macam. Mulai dari
perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan,
bercumbu, bersenggama/hubungan seksual (Sarwono,
2005). Perilaku tersebut sebaiknya dilakukan dalam suatu
perkawinan. Namun hal tersebut telah mengalami
pergeseran pada masa sekarang. Sebagian remaja masa kini

menganggap bahwa hubungan seks pada masa pacaran


adalah hal biasa dan wajar.
Mahasiswa merupakan individu yang memasuki masa
kuliah. Masa mahasiswa tergolong ke dalam kelompok
remaja yang meliputi rentang umur 18/19 tahun sampai
24/25 tahun (Winkle, 2004). Menurut Siti Pariani (2009)
dalam BKKBN (2011) mengungkapkan bahwa potensi
terjadinya perilaku seksual di luar nikah dikalangan
mahasiswa lebih besar, karena belum tahu dampak perilaku
seks di luar nikah dan seks tidak aman. Perilaku tersebut
dapat dapat berakibat fatal bagi remaja karena berisiko
tinggi terhadap timbulnya kehamilan di luar nikah, tertular
penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, aborsi yang
tidak aman, hingga kematian.
Berdasarkan hasil penelitian Mahyar (2011) di 13
STIKes daerah Jakarta Timur diperoleh hasil sebanyak
29,5 % mahasiswa berperilaku seksual beresiko (kegiatan
cium bibir dan mulut, meraba raba / petting dan
hubungan seksual atau senggama. Sedangkan penelitian
yang dilakukan oleh Sekarrini di SMK Kesehatan daerah
Kabupaten Bogor (2011) sebanyak 60,7% murid
berperilaku seksual berisiko berat seperti mencium bibir,
mencium leher, meraba daerah erogen, bersentuhan alat
kelamindan melakukan hubungan seks.
STIKes X berada di daerah Jakarta Timur dan belum
pernah dilakukan penelitian mengenai perilaku seksual
pranikah dikalangan mahasiswa. Oleh karena itu peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul faktor
faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual pranikah
pada mahasiswa semester V STIKes X Jakarta Timur tahun
2012.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian
kuantitatif metode cross sectional. Variabel yang diamati
adalah variabel independen yang terdiri dari tempat
tinggal, keharmonisan keluarga dan gaya hidup. Sedangkan
variabel dependen adalah perilaku seksual
pranikah
remaja. Penelitian dilakukan di STIKes X Jakarta Timur
pada tanggal 28 Desember 2012 s/d 7 Januari 2013.
Populasi dalam penelitian ini yaitu mahasiswa STIKes X
Jakarta Timur yang berusia antara 17 sampai 24 tahun
yang terdiri dari 8 program studi..
Kriteria inklusi responden yang masuk ke dalam
penelitian adalah Mahasiswa aktif dan terdaftar di STIKes
X dan sudah mendapatkan materi kesehatan reproduksi
dibangku kuliah. Sementara itu kriteria ekslusi sampel
adalah mahasiswa yang sudah menikah dan mahasiswa
yang sedang magang, cuti, PKL
Jumlah sampel yang dibutuhkan untuk penelitian ini
dihitung dengan menggunakan rumus Slovin (Sugiyono
2009) dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 244 orang.
Alasan penulis mengambil sampel ini
dengan
pertimbangan bahwa sampel ini sudah cukup mewakili.
Dengan penggunaan teknik ini diharapkan sampel yang
diambil dari populasi betul-betul representatif (terwakili).
Sedangkan untuk pengambilan sampel dilakukan
dengan stratified sampling, yaitu setiap anggota kelompok
mempunyai probabilitas yang sebanding dengan besar
13

relatif dari kelompok-kelompok yang dimasukkan dalam


sub sample. Mahasiswa STIKes X Jakarta Timur yang
akan menjadi sampel dipilih secara proporsional
berdasarkan jumlah total sampel yang diinginkan yaitu
sebayak 244 mahasiswa semester V STIKes X Jakarta
Timur.
Data dikumpulkan dengan menggunakan kusioner
terstruktur yang telah disiapkan sebelumnya. Data yang
diambil adalah data primer dengan variabel independen
yaitu: tempat tinggal, keharmonisan keluarga dan gaya
hidup. Sedangkan variabel dependen untuk mengetahui
perilaku seksual pranikah pada mahasiswa STIKes X
Jakarta Timur.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS
hingga pada tahapan analisis bivariat dengan uji Chi
Square.
Hasil Penelitian
Analisis univariat dilakukan untuk memperoleh
gambaran distribusi frekuensi variable-variabel yang

diteliti yaitu perilaku seksual, pendidikan orang tua, jenis


kelamin, lingkungan tempat tinggal,wilayah
tempat
tinggal, gaya hidup, keharmonisan keluarga, materi
pengetahuan tentang perilaku seksual,
Perilaku seksual yang berisiko meliputi, berciuman
bibir, meraba-raba kelamin, menggesek-gesek alat kelamin
dan melakukan hubungan seks (senggama), sedangkan
yang tidak berisiko berpacaran, berpegangan tangan,
berangkulan, berpelukan dan berciuman pipi. Distribusi
hasil penelitian ditampilkan dalam tabel 1.
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui apakah
ada hubungan yang signifikan antara variabel independen
dan dependen yang terdapat pada kerangka konsep. Data
dalam penelitian ini merupakan data kategorik (variabel
perilaku seksual pranikah, gaya hidup, tempat tinggal,
keharmonisan keluarga). Analisis data kategorik digunakan
uji chi-square yaitu untuk melihat hubungan variabel
independen dengan variabel dependen serta untuk
mengetahui risiko (Tabel 2).

Tabel 1. Distribusi variabel Independen dan Dependen


Variabel
n (%)
Perilaku Seksual
1. Berisiko Seks Pranikah
2. Tidak berisiko Seks Pranikah
Pendidikan Orang Tua
1.
SD
2.
SMP
3.
SMA
4.
D3
5.
S1
6.
S2
Jenis Kelamin
1.
Laki-laki
2.
Perempuan
Tempat Tinggal
1.
Bersama orang tua
2.
Kost atau Asrama
Wilayah
1.
Perkotaan
2.
Pedesaan
Gaya Hidup
1.
Berisiko
2.
Tidak berisiko
Keharmonisan Keluarga
1.
Tidak Harmonis
2.

Harmonis

Hasil analisis chi-square menunjukkan bahwa


terdapat hubungan yang bermakna atau signifikan antara
tempat tinggal dengan perilaku seksual pranikah
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna
atau signifikan antara tempat tinggal dengan perilaku
seksual pranikah p-value < 0,05. Bertempat tinggal di

144(55,2)
117(44,8)
19 (7,3)
23(8,8)
149(57,1)
14(5,4)
49(18,8)
7(2,7)
53(20,3)
208(79,7)
160(61,3)
101(38,7)
232(88,9)
29(11,9)
202(77,4)
59(22,6)
115(44,1)
146(55,9)

kost atau asrama mempunyai risiko untuk melakukan


perilaku seksual pranikah 0,6 kali lebih besar
dibandingkan dengan resonden bertempat tinggal
bersama dengan orang tua. Dengan kata lain, risiko

tinggal di tempat kos lebih rendah untuk berperilaku


seksual berisiko.

Terdapat hubungan yang bermakna atau signifikan


antara tempat tinggal dengan perilaku seksual pranikah
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna
atau signifikan antara tempat tinggal dengan perilaku
seksual pranikah p-value < 0,05. Responden yang
mengalami ketidak harmonisan keluarga mempunyai

risiko 2,09 kali lebih besar dibandingkan dengan


responden yang mengalami keharmonisan keluarga.
Gaya hidup yang berisiko untuk melakukan perilaku
seksual pranikah 4,6 kali lebih besar dibandingkan
dengan gaya hidup yang tidak berisiko.

Tabel 2. Analisis bivariat


Perilaku Seksual
Variabel

Berisiko

Total

Tidak Berisiko

Frek

Frek

Frek

Kost atau asrama

48

47,5

53

52,5

100

100

Bersama orang tua

96

60

64

40

160

100

Tidak Harmonis

75

65,2

40

34,8

115

100

Harmonis

69

47,3

77

52,7

146

100

Berisiko

128

63,4

74

36,6

202

100

Tidak Berisiko

16

27,1

43

72,9

59

100

p-value

OR

95%CI

0,05

0.6

(0,36-0,998)

0,04

2,092

(1,266-3,459)

0,001

4,6

(2,44 8,82)

Tempat tinggal

Keharmonisan keluarga

Gaya hidup

Pembahasan
Penelitian menggunaan rancangan cross sectional.
Rancangan penelitian cross sectional adalah desain
penelitian untuk melihat dan menilai keadaan responden
pada saat pengamatan dilakukan dan tidak ada tindak
lanjut atau follow-up. Dengan menggunakan rancangan ini
dapat diestimasi hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen.
Keterbatasan penelitian ini adalah penggunaaan
instrumen kuesioner yang dirasakan memiliki tingkat
kejujuran lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan
wawancara mendalam. Jawaban responden bergantung dari
pemahaman serta persepsi terhadap pertanyaan yang
diajukkan.
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang
didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis
maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini
dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga
tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama.
Sarwono (2005). Mutadin (2002) mengatakan bahwa
perilaku seksual pranikah merupakan perilaku seksual
yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan resmi
menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Proporsi responden berisiko perilaku seksual pranikah
yaitu berciuman bibir 53,%, meraba-raba dada 18,4%,
kegiatan meraba-raba kelamin 7,7%, menggesek-gesek
kelamin 5,7%, hubungan seksual 6,5%. Dan perilaku
seksual yang tidak berisiko yaitu berpacaran sebesar
94,3%, kegiatan berpegangan tangan 90,8%, berangkulan
80,1%, berpelukan 69,3% dan berciuman pipi 73,9%.
Hasil penelitian di atas dibuktikan oleh penelitian
Ariyanto (2008) mengungkapkan bahwa 41,3% melakukan

berciuman bibir dengan pasangannya, (16,7%) melakukan


berrciuman pipi, 1,4% tidak melakukan perilaku seksual
dalam berpacaran. Berciuman bibir merupakan perilaku
seksual yang paling banyak dilakukan oleh partisipan.
Penelitian lain yang mendukung diungkapkan oleh
Darmasih (2009) bahwa bentuk perilaku seksual pranikah
remaja SMA di Surakarta adalah melakukan berciuman
bibir 81,6%, masturbasi sebanyak 20,2%. Perilaku seksual
pranikah pada remaja SMA di Surakarta menunjukkan
sebagian besar perilaku seks pranikah remaja dalam
kategorik baik sebanyak 43,9%, kategorik sedang sebanyak
40,4%, dan kategorik buruk sebanyak 15,8%.
Berdasarkan hasil analisis univariat terhadap perilaku
seksual pranikah pada mahasiswa semester V STIKes X
Jakarta Timur diperoleh bahwa 55,2% responden berisiko
dan 44,8% responden tidak berisiko melakukan perilaku
seksual pranikah. Pada penelitian Sekarrini tahun 2011
terhadap murid SMK Kesehatan di Kabupaten Bogor
diketahui bahwa 60,7% responden berperilaku seksual
berisiko berat seperti melakukan mencium bibir, mencium
leher, meraba daerah erogen, bersentuhan alat kelamin dan
melakukan hubungan seks. Sedangkan 39,3% berperilaku
seksual dalam kategori ringan seperti mengobrol,
menonton film berdua, jalan berdua, berpegangan tangan,
mencium pipi dan berpelukan. (Sekarrini 2011). Menurut
Damayanti (2007), dari beberapa perilaku seksual tersebut
yang termasuk perilaku seksual berisiko berat adalah mulai
berciuman bibir, meraba alat kelamin pasangan,
menggesek-gesek kelamin sampai dengan hubungan seks.
Sprecher dalam Rimawati (2010) menyatakan faktor
yang berhubungan dengan standar kebebasan seks pranikah

Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(1); Jan 2013


adalah kerentanan dari jenis tempat tinggal seperti
asrama/kost-kosant. Remaja yang baru memasuki dunia
perkuliahan memiliki keinginan untuk hidup mandiri dan
jauh dari orang tua. Salah satu caranya adalah dengan
tinggal di asrama atau kost-kostan. Di asrama atau kostkostan, kebebasan dalam melakukan sesuatu yang mereka
senangi serta kurangnya pengawasan dari pemilik kost atau
kontrol dari orang tua dapat membuat remaja memiliki
keinginan untuk mencoba hal baru. Apabila remaja
mendapatkan pengaruh negatif dari luar dan tidak memiliki
pertahanan diri yang kuat dapat terjerumus ke dalam
perilaku seksual pranikah.
Proporsi wilayah tempat tinggal responden sebagian
besar di daerah perkotaan sebesar 88,9% dan pedesaan
sebesar 11,9%. Santrock (2007), menjelaskan terdapat
perbedaan antara remaja yang tinggal di daerah perkotaan
dan pedesaan. Remaja yang tinggal di pusat perkotaan
cenderung telah melakukan hubungan seksual pranikah di
usia yang lebih muda. Dalam penelitian ini
lebih
banyaknya responden yang tinggal di daerah perkotaan
menggambarkan bahwa risiko melakukan perilaku seksual
pranikah lebih besar dibandingkan dengan responden yang
tinggal di daerah pedesaan.
Proporsi responden yang berisiko terjadinya perilaku
seksual pranikah bertempat tinggal kost atau asrama
sebesar 38,7% dan yang tidak berisiko terjadinya perilaku
seksual pranikah sebesar 61,3%. Hasil tersebut didukung
oleh penelitian Mocthar (2011) dari LSM Shara Indonesia
dari tahun 2000 sampai dengan 2002, diketahui bahwa
tempat yang paling sering untuk melakukan hubungan seks
yaitu rumah kos sebesar 51,5%, rumah pribadi 30%, hotel
atau wisma 11,2%, taman luas 2,5%, tempat rekreasi 2,4%,
di ruang kelas di kampus Bandung 1,3%, dalam mobil
goyang 0,4%, dan lain-lain tidak diketahui 0,7%.
Dari hasil chi-square variabel tempat
tinggal
didapatkan p-value < 0,05 yang menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang bermakna antara tempat tinggal
dengan perilaku seksual pranikah adalah mereka yang
tinggal dengan orangtua. Hal ini bertolak belakang dengan
Oetjiningsih (2008) mengatakan bahwa mahasiswa kos
berisiko terhadap terjadinya berbagai bentuk aktivitas
seksual. Sesuai karateristik perkembangan seksualnya,
mahasiswa umumnya sudah mengembangkan perilaku
seksual dalam bentuk relasi heteroseksual atau pacaran.
Hasil penelitian sesuai dengan penelitian Suryoputro
(2006) memperoleh hasil lebih besar 50% responden yang
bertempat tinggal terpisah dari orang tua untuk
melanjutkan belajar atau bekerja. Dalam penelitian ini
memperkuat pandangan bahwa kurangnya pengawasan
dari orang tua memperbesar kemungkinan terjadinya
hubungan seksual pranikah.
Imanudin (1995) dalam Sarwono (2010) menyatakan
bahwa orang tua mempunyai peran penting dalam proses
sosialisasi anak. Dari orang tualah anak belajar tentang
nilai-nilai dan sikap yang terdapat dan dianut masyarakat
Menurut aliran psikoanalisis, orang orang yang tidak
mempunyai hubungan yang harmonis dengan orang tuanya
dimasa kecil maka kemungkinan besar akan menjadi orang
yang paling sering melanggar norma masyarakat.

Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang


memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembang
anak remaja. Secara ideal perkembangan anak remaja akan
optimal apabila mereka bersama keluarga yang harmonis,
sehingga berbagai kebutuhan yang diperlukan dapat
terpenuhi dan memiliki role model yang positif dari orang
tuanya sendiri.
Proporsi responden yang memiliki keluarga tidak
harmonis sebesar 44,1%, dan responden yang keluarga
harmonis sebesar 55,9%. Dari hasil chi-square variable
keharmonisan didapatkan p-value < 0,05 yang munjukkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
keharmonisan keluarga dengan perilaku seksual pranikah.
Proporsi responden yang berisiko melakukan perilaku
seksual pranikah sebesar 65,2% berasal dari keluarga tidak
harmonis dan sebesar 47,3% dari keluarga harmonis.
Hasil penelitian diatas sesuai dengan penelitian
Darmasih (2009), terhadap 114 responden menggunakan
penguji dengan analisis regresi ganda ( multi regression)
pada variabel menunjukkan pengaruh p-value 0,000 <
0,05. Peran keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi
terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja SMA di
Surakarta. Di dukung oleh penelitian Suara, M (2011)
bahwa responden yang memiliki keluarga yang tidak
harmonis sebesar 39,2% berisiko melakukan perilaku
seksual pranikah dan yang memiliki keluarga hamonis
sebesar 26,6% tidak berisiko melakukan perilaku seksual
pranikah.
Berdasarkan hasil uji linieritas pada penelitian Afiah
(2007) antara sikap terhadap seks pranikah dengan
keharmonisan keluarga diperoleh nilai F sebesar 12,073
( p-value < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa ada
hubungan yang linier antara sikap terhadap seks pranikah
dengan keharmonisan keluarga.
Sekarrini dalam penelitiannya tahun 2011 menyatakan
status perkawinan cerai/janda/duda memiliki presentase
perilaku seksual berisiko sebesar 55,6%. Wicaksono dalam
Setiawan (2008) menyatakan bahwa seringnya orang tua
bertengkar serta perceraian orang tua oleh karena itu
remaja ingin mengalihkan kejenuhan dengan perilaku
menyimpang dengan melakukan hubungan seks.
Wahyurini dan Mashum dalam Afiah (2007)
menyatakan bahwa kondisi keluarga yang harmonis
ditandai oleh suatu bentuk komunikasi yang baik antara
suami dan istri, orang tua dengan anak dan anak dengan
saudaranya. Komunikasi yang harmonis antara suami dan
istri mencegah terjadinya perceraian antara keduanya. Hal
ini dapat mengurangi kemungkinan anak berbagi cerita
dengan orang lain karena memiliki orangtua yang lengkap.
Pendidikan orang tua juga berpengaruh terhadap
keharmonisan keluarga. Orang tua yang memiliki
pendidikan yang tinggi mempunyai cara berfikir, bertindak
dan berkomunikasi secara terbuka dengan anak.
Komunikasi orang tua dan anak yang efekif khususnya
mengenai perilaku seksual membuat anak remaja memiliki
suatu sikap yang negatif terhadap perilaku seksual
pranikah. Namun kurangnya komunikasi secara terbuka
antara orang tua dengan remaja dalam masalah seksual
dapat memperkuat munculnya perilaku seksual.
16

Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(1); Jan 2013


BKKBN (2010) menambahkan bahwa norma, struktur,
fungsi dan proses kehidupan dalam keluarga sudah dan
sedang mengalami perubahan yang dilatarbelakangi oleh
berbagai sebab diantaranya masalah hubungan keluarga.
Perubahan kehidupan keluarga mengarah kepada bentuk
hubungan antar anak dan hubungan antar anak dan orang
tua semakin renggang dan kurang intim. Perubahan ini
mengakibatkan anak-anak terutama remaja, kendati berada
di rumah, namun merasa tidak betah tinggal di rumah
Gaya hidup menurut Kotler (2002) dalam Simamora
(2009) adalah pola hidup seseorang di dunia yang
diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya
hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam
berinteraksi dengan lingkungannya.
Gaya hidup remaja pada era globalisasi banyak
dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Pengaruh teknologi
terutama media masa memberikan kontribusi pada
perubahan gaya hidup remaja. Remaja yang memiliki
aktivitas dan hobi dalam memanfaatkan media visual
seperti menonton video dan film pornografi bisa saja tanpa
mereka sadari akan mempengaruhi pengetahuan serta sikap
dalam bertindak kearah gaya hidup yang berisiko
melakukan perilaku seksual pranikah.
Proporsi gaya hidup berisiko terjadinya perilaku seksual
pranikah pada remaja yaitu menonton video porno sebesar
76,2 %, terpengaruh dengan bacaan atau tontonan porno
sehingga memiliki keinginan untuk mencoba melakukan
hubungan seksual sebesar 15,3 % dan melakukan perilaku
seksual pranikah karena pengaruh dari bacaan atau
tontonanan porno sebesar 7,7 %. Dan gaya hidup tidak
berisiko terjadinya perilaku seksual pranikah yaitu
penampilan fisik sebesar 75,5%, pemakaian alat-alat
kosmetik sebesar 75,5%, penampilan stylish sebesar 55,9
%, senang bersosialisasi sebesar 95,4%, dan mengikuti
gaya hidup teman-teman sebesar 16,1 %.
Hasil penelitian diatas dibuktikan oleh penelitian
Darmasih (2009) remaja di daerah Surakarta sebesar 88,6%
pernah menonton video porno. Menurut survey Komnas
Perlindungan Anak di 33 Provinsi Januari s/d Juli 2088
menyimpulkan sebesar 97% remaja SMP dan SMA pernah
menonton film porno.
Wicaksono dalam Setiawan (2008) menyatakan bahwa
tingkat pendidikan dan tingkat strata sosial tidak
berpengaruh langsung terhadap perilaku remaja dalam
berhubungan seks namun melalui faktor lain. Tingkat
pendidikan rendah berpengaruh terhadap perilaku
menonton film porno, ada hasil yang signifikan yang
menyatakan bahwa semakin rendah pendidikan , semakin
banyak menonton film porno baik lewat VCD/DVD
maupun internet karena rasa ingin tahu dan hal inilah yang
mendorong remaja melakukan hubunngan seksual
pranikah.
Hasil uji statistik menggunakan
chi-square
mendapatkan hasil p-value < 0,05 yang menunjukkan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara gaya
hidup dengan perilaku seksual pranikah. Proporsi
responden yang berisiko untuk melakukan perilaku seksual
pranikah sebesar 63,4% dan 27,1 % tidak memiliki gaya
hidup yang berisiko. Hasil penelitian sesuai dengan

penelitian Sekarrini (2011) yaitu responden yang memiliki


paparan terhadap media elektronik, memiliki perilaku
seksual yang berisiko berat sebesar 66,7%, sedangkan
responden yang tidak memiliki paparan terhadap media
elektronik memiliki perilaku seksual berisiko sebesar 40%.
Mohammad (1998) dalam Sekarrini (2011) menyatakan
bahwa media elektronik merupakan media yang paling
banyak dipakai sebagai penyebarluasan media pornografi.
Perkembangan hormonal pada remaja dipacu oleh paparan
media masa yang mengundang rasa ingin tahu dan
keinginan untuk bereksperimen dalam aktifitas seksual.
Sebagaimana dijelaskan oleh Bungin (2001) dalam
Sekarrini (2011) sifat media informasi mengandung nilai
manfaat, tetapi selain itu tidak sengaja menjadi media
informasi yang mampu untuk menyebarkan nilai-nilai baru
yang muncul di masyarakat.
Media elektronik mempunyai peranan besar dalam
memberikan informasi seksual, remaja yang belum pernah
mengetahui masalah seksualitas dengan lengkap akan
mencoba dan meniru apa yang mereka dengan dan lihat.
Dpat disimpulkan bahwa perilaku seksual berisiko pada
mahasiswa semester V STIKes X berhubungan secara
signifikan dengan variabel tempat tinggal, keharmonisan
keluarga dan agaya hidup.
Daftar Pustaka
Administrator. 2011. Fenomena Seks Pra Nikah di
Kalangan
Mahasiswa
di
Yogyakarta.
http://teknologi.ee.itb.ac.id/content/fenomena-seks-pranikah-di-kalangan-mahasiswa-di-yogyakarta.
(15
Desember 2012)
Andisti, M.A., Ritandiyono. 2008. Religiusitas dan
Perilaku Seks Bebas pada Dewasa Awal. Fakultas
Psikologi Unvertsitas Gunadarma Jawa Barat. Jurnal
Psikologi. Volume : 1 No: 2
Anonim. 2010. Pembangunan Karakter Bangsa 2010 2025 Pemerintah Republik Indonesia.
Afiah, Fiandari Nor. 2007. Hubungan Antara
Keharmonisan Keluarga dengan Sikap Terhadap Seks
Pranikah
pada
Remaja.
http://fpsi.mercubuanayogya.ac.id (10 Desember 2012)
Ariyanto, N. 2008. Hubungan Citra Tubuh dengan
Perilaku Seksual dalam Berpacaran pada Remaja Putri.
Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Depok.
Badan Pusat Statistik. 2010. Jumlah dan Distribusi
Penduduk. http://sp2010.bps.go.id dan kompilasi dari BPS
dalam angka Badan Pusat Statistik. (14 November 2012)
Badan Pusat Statistik. 2009. Jumlah Penduduk menurut
Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi, dan
Kabupaten/Kota 2008. http://bps.go.id.html ( 19 Januari
2013)
BKKBN. 1999. Pendewasaan Usia Perkawinan. Jakarta :
Biro Pembinaan Pendidikan Keluarga Berencana.

Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(1); Jan 2013

17

BKKBN. 2010. Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi


Remaja. Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-hak
Reproduksi. Jakarta
BPS DKI. 2010. Hasil Sensus Penduduk 2010. Jakarta :
BPS DKI Jakarta.
BPS DKI. 2003. Pedoman Petugas BKKBN. Jakarta :
BKKBN.
Darmasih, R. 2009. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Seks Pranikah Pada Remaja SMA di Surakarta. Skripsi.
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Damayanti,R. 2007. Peran Biosikososial Terhadap
Perilaku Berisiko Tertular HIV pada Remaja SLTA di DKI
Jakarta tahun 2006. Depok : Universitas Indonesia.
Damanik, Hotmelia. 2012. Pengaruh Paparan Media
Internet dan Teman Sebaya Terhadap Perilaku Seks Bebas
Pada Remaja SMA XYZ tahun 2012. Tesis. Program Studi
Magister FKM USU Medan.
Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor
: Ghalia Indonesia
Efendy, A. 2000. Perilaku Sehat, Kebiasaan Merokok dan
Minuman Keras di Kalangan Remaja Bali. Jakarta : PT.
Rineka Cipta.
Ghifari, Al Abu. 2003. Gelombang Kejahatan Seks Remaja
Modern. Bandung : Mujahid

Muhatdin, Z. 2002. Pendidikan Seksual pada Remaja.


http://www.e-psikologi.com. (10 November 2012)
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Pendidikan dan Prilaku
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Pendidikan dan Prilaku
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Pengantar Pendidikan
Kesehatan dan Ilmu Prilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Prihatin, Tut Wuri. 2007. Analisis Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Sikap Siswa SMA terhadap
Hubungan Seksual (Intercouse) Pranikah di Kota
Sukaharjo tahun 2007. Program Studi Magister Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Program Pasca Sarjana Universitas
Dipenogoro Semarang.
Republik Indonesia. UU No. 23 Tahun 2003 tentang
Sistem
Pendidikan
Nasional.
www.hukumonline.com/pusatdata/download/fl20534/paren
t/13662 .(15 Desember 2012)
Rimawati, Eti. 2010. Fenomena Perilaku Seksual Ayam
Kampus di Kota Semarang. http://isjd.pdii.lipi.go.id.
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Universitas Dian Nuswantoro ( 12 Desember 2012)

Press.

Santrock, J.W. 2003. Adolesence : Perkembangan Remaja


(Edisi ke Enam). Jakarta : Penerbit Erlangga.

Ginting, Perana. 2008. Persepsi Remaja


Terhadap
Perilaku Seksual Pranikah. http://www.indoskripsi.com. (4
November 2012)

Santrock, J.W. 2007. Remaja. (Benedictine Widyasinta,


Penerjemah). Edisi ke 11 Jilid 1 Jakarta : Erlangga.

Green and Kreuter. 1991. Health Promotion Planning: An


Educational and Environmental Approach: Second
Edition. United States of America : Mayfield Publishing
Company.

Sarwono Sarlito Wirawan. 2003. Psikologi Remaja. Jakarta


: Grafindo Persada.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi
Jakarta : PT Raja Grafindo.

Remaja.

Imran. 2000. Perkembangan Seksualitas Remaja Modul 2.


Jakarta : PKBI, IPPF, BKKBN, UNFPA.

Sarwono, Sarlito Wirawan. 2010. Psikologi


Jakarta : Rajawali Presss.

remaja.

Indrasari W. 2004. Ketika Anak Remaja. Jakarta : Alex


Media Komputindo.

Soetjiningsih,
C.H.
2008.
Faktor-Faktor
Yang
Mempengaruhi Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja.
Disertasi. Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta.

Irawati. 2005. Modul Perkembangan Seksualitas Remaja.


Bandung : PKBI-UNFPA.
Jaenudin. 2010. Rumah Sebagai Tempat Tinggal. Sumber :
http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2050236definisi-jenis-dan-fungsi-keluarga/#ixzz1h2Dt9euk.
(17
Januari 2013)
Mochtar, A. 2011. Mahasiswi Bandung Melakukan
Hubungan
Seks
di
Rumah
Kost.
Bandung.
http://dunia.pelajar-islam.or.id ( 17 Januari 2013)
Masunah, Juju. 2012. Profil Pendidikan, Kesehatan, dan
Sosial Remaja Kota Bandung : Masalah dan Alternatif
Solusinya. http://www.bkkbn.go.id/litbang/pusdu/Hasil
a Kota Bandung Masalah dan Alternatifnya.pdf. Bandung :
LPPM Universitas Pendidikan Indonesia. (11 Januari
2013)

Shalov, J., Sollinger, L., Spotss, J., Steinbrecher, P.S., &


Thorpe, D.W. 2004. You Can Say
No to Your Teenager. Penerjemah : Nova Erna. Yogyakarta
: Pinkbooks.
Sekarrini, Loveria.2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Perilaku Seksual Remaja di SMK Kesehatan di
Kabupaten Bogor Tahun 2011. Skripsi. Program Sarjana
Kesehatan Masyarakat. Depok : FKM UI.
Setiawa, H. 2008. 56% Remaja Melakukan Hubungan Sex
di Luar Nikah. Bandung. http://awansx.wordpress.com
( 17 Januari 2013)
Simamora, Aprianto. 2009. Film Pornografi dan Gaya
Hidup Remaja (Studio Korelasi Mengenai Film Pornografi
terhadap Gaya Hidup Remaja di Lingkungan XX,
18

Kelurahan Kwala Bekala Medan). Skripsi. Program


Sarjana Fisip USU, Medan.
Suara, Mahyar. 2011. Faktor Faktor yang Berhubungan
Dengan Perilaku Seksual Remaja di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Wilayah Jakarta Timur. Tesis. Program Pasca
Sarjana.Universitas Respati Indonesia.

Widyastuti, Elisabet Setia Asih. 2009. Personal dan Sosial


Yang Mempengaruhi Sikap Remaja Terhadap Hubungan
Seks Pranikah. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia
Vol.4/No2/Agustus 2009. Jawa Tengah : PKBI.
Winkle, W. S., Hastuti, M.M. 2004. Bimbingan dan
Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta. Media
Abadi.