Anda di halaman 1dari 2

Diagnosis dismenore

Diagnosis Dismenore primer


Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Diagnosa dismenore
didasari atas ketidaknyamanan saat menstruasi. Perubahan apapun pada kesehatan
reproduksi, termasuk hubungan badan yang sakit dan perubahan pada jumlah dan lama
menstruasi.
Pada gadis yang mengalami nyeri kram ringan cukup dilakukan pemeriksaan menyeluruh
serta pemeriksaan genitalia untuk menyingkirkan kelainan duktus Mlleri obstruktif. Pada
pasien yang lebih tua,terutama yang mengalami dismenore berat, sebaliknya dilakukan
pemeriksaan pelvis menyeluruh
Diagnosis Dismenore sekunder
Membutuhkan pemeriksaan ginekologis; perubahan-perubahan seperti itu dapat menandakan
sebab dari dismenore sekunder
1. Ultrasonografi : untuk mencari tahu apakah terdapat kelainan dalam anatomi rahim,
misalnya posisi, ukuran, dan luas ruangan dalam rahim
2. Histerosalphingografi : untuk mencari tahu apakah terdapat kelainan dalam rongga
rahim, seperti polypendometrium, myoma submukcosa, atau adenomyosis
3. Histerokopi : untuk membuat gambar dalam rongga rahim, seperti polyp atau tumor
lain.
4. Laparoskopi : untuk melihat kemungkinan adanya endometriosis, dan penyakitpenyakit laindalam rongga panggul.
Tatalaksana dismenore
Farmakologi
A. Pemberian obat analgesik
Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgesik yang dapat diberikan sebagai terapi
simtomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur dan kompres
panas pada perut bawah untuk mengurangi penderitaan. Obat analgesik yang sering
diberikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein.
B. Obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID)
NSAID menghambat sintesis prostaglandin dan memperbaiki gejala pada 80% kasus.
Nasihatkan wanita untuk mengonsumsinya pada saat atau sesaat sebelum awitan nyeri 3
kali/hari pada hari pertama hingga ketiga.
ibuprofen 400-600 mg 3 kali/hari
naproksen 250 mg 2 kali/hari
asam mefenamat 250 mg 4 kali/hari
asam meklofenamat 50-100 mg 3 kali/hari
Mekanisme keempat obat tersebut adalah Menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan
mengurangi aktivitas siklooksigenase, yang mengakibatkan penurunan sintesis
prostaglandin.
Pemberian dilakukan 24-72 jam prahaid
C. Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan
maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar dismenore primer, atau untuk

memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa


gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi
kontrasepsi. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya ovulasi dan menurunkan
produksi prostaglandin karena atrofi endometrium desidual.
Nonfarmakologi
A. Penerangan dan nasihat
Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenore adalah gangguan yang tidak
berbahaya bagi kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara
hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi
mengenai haid atau adanya tabu atau takhyul mengenai haid perlu dibicarakan . nasihatnasihat mengenai makanan sehat istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin berguna.
Kadang-kadang diperlukan psikoterapi. Olahraga dapat mengurangi rasa nyeri oleh
karena terkontrolnya emosional seperi suasana hati dan tekanan.
B. Relaksasi
Relaksasi merupakan teknik pengendoran atau pelepasan ketegangan. Teknik relaksasi
yang sederhana terdiri atas nafas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama (teknik
relaksasi nafas dalam. Contoh: bernafas dalam-dalam dan pelan.