Anda di halaman 1dari 3

MANUSIA YANG HIDUP

Manusia adalah makhluk hidup. Semua orang tahu itu. Namun, apakah memang
sesederhana itu? Ilmu Biologi mengatakan, bahwa makhluk hidup itu makan, bergerak, mampu
beradaptasi, bernafas, berkembang biak, dst. Tidak akan ada seorang manusia pun di dunia ini
yang akan menyangkalnya, karena memang kita semua sudah merasakannya, yah, walaupun
sebagian dari kita belum “berkembang biak”.
Nah, disini saya ingin mengembangkan pemikiran kita. Bahwa ada arti lain untuk
makhluk hidup. Makhluk hidup adalah makhluk yang berjuang untuk hidup. Berjuang untuk
bertahan dengan segala kemampuan yang dimiliki untuk bisa tetap bertahan, dan menghasilkan
sesuatu. Berjuang untuk hidup, pada dasarnya berarti “bertempur” demi kenyamanan diri sendiri.
Ya, kenyamanan diri sendiri. Pada hewan dan tumbuhan, kenyamanan diri sendiri dapat
diinterpretasikan dengan jelas, yaitu bagaimana bisa bertahan dan menghasilkan keturunan.
Namun, tidak sesederhana itu halnya dengan manusia. Manusia, yang katanya dapat berpikir
dengan logika dan akal sehat, memiliki interpretasi yang berbeda-beda untuk hal ini.
Kenyamanan diri sendiri. Dapat berarti ganda. Positif dan negatif. Dalam segala
kerumitan jalan pemikiran tiap manusia, positif bagi seseorang dapat berarti negatif bagi orang
lain, begitu pula sebaliknya. Contoh sederhanya saya ambil Hitler. seorang pemimpin besar
bangsa Jerman, yang punya hobi perang dan pemusnahan manusia (genosida). Baginya, itulah
hidup. Itulah kenyamanan dia. Namun, bagi kebanyakan orang, itu adalah hal yang sangat buruk,
sebab merampas kemerdekaan manusia lain dengan semena-mena.
Lain lagi halnya dengan Marthin Luther King, yang pernah menyampaikan pidato
fenomenal di depan ribuan rakyat Amerika, dengan judul “I Have A Dream”. Di sana ia
menyampaikan bagaimana ia menginginkan kesejahteraan manusia, baik kulit hitam maupun
kulit putih, karena itu adalah titik nyamannya, hidupnya. Sangat positif bagi sebagian orang,
tetapi tidak bagi sebagian kecil kelompok manusia berseberangan, yang akhirnya menembaknya
sampai tewas.
Itu hanya sebagian contoh bagaimana sebagian orang yang gigih memperjuangkan
hidupnya, kenyamanannya, walaupun berada di tengah-tengah bahaya yang mengancam jiwanya.
Mereka telah berhasil menggunakan segala kelebihan dalam diri, walaupun memang terkadang
kenyamanan yang dicita-citakan berganti dengan maut. (Perang Hitler berakhir 1945, dan dia
dikabarkan berhasil dibunuh sekutu).
Itu mereka. Bagaimana dengan kita? Kita juga manusia. Manusia yang masih muda,
masih berusaha “meraba-raba” titik nyaman diri sendiri. Mungkin ada sebagian dari kita yang
akan merasa nyaman jika punya uang banyak, merasa nyaman jika punya pacar atau pasangan
yang ideal menurutnya, merasa nyaman jika sudah melakukan sesuatu bagi orang lain,
khususnya orang tua, merasa nyaman jika bekerja untuk orang-orang marjinal, dll.
Sekali lagi kita masih berproses. Saya ingin mengajak kita semua untuk berproses dengan
baik dan terarah. Dan dalam proses itu nantinya, pasti akan banyak kendala dan tantangan yang
akan dihadapi. Tantangan dan kenadala yang mungkin membuat kita menangis, membuat kita
menyerah, seakan tidak ada jalan keluar lain yang memungkinkan. Inilah yang akan dapat
membuat seseorang berpikir di luar akal sehat, dan melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri
sendiri, atau bahkan orang lain.
Untuk itulah teman, jangan pernah menyerah. Saya, kamu, dan mereka, sedang bersama-
sama berjuang sekarang. Dan, senjata yang paling ampuh untuk itu, menurut saya ada 2, yaitu
motivasi dan harapan.
Motivasikan diri dengan hal-hal yang bisa membangkitkan semangat juang. Motivasi
yang paling baik biasanya datang dari orang yang kita sayangi, misalnya orang tua, pasangan,
dsb. Dan, mungkin sebagian dari kita mungkin sudah merasakan ini, termasuk saya.
Sekarang, apa yang membuat motivasi tetap terjaga? Harapan. Harapan yang berisi.
Maksud saya, harapan yang bukan tingal harapan. Harapan juga harus diikuti dengan usaha-
usaha untuk mencapainya. Gantungkanlah harapanmu setinggi-tingginya, tetapi juga bersiap
untuk segala kemungkinan terburuk. Seperti mengejar seorang pria/wanita idaman, tetap
berharap, tetap berusaha, namun siap untuk kemungkinan terburuk, misalnya tiba-tiba melihat
dia “jadian” dengan orang lain. Apapun itu, bukankah kita sudah siap? Kembali lagi ke awal,
motivasi dirimu. Berusaha untuk mendaur ulang segala kekecewaan menjadi “bahan-bahan”
hidup yang lebih berbobot.
Harapan saya, apapun titik nyaman dalam hidup kita, mari kita mencapai semuanya
dengan kerja keras. Tidak ada keberhasilan dalam hidup yang didapat dengan cara instan. Tetap
bermotivasi, tetap berharap. Berjuang dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki,
dengan tetap berpijak dalam pemikiran bahwa kita ini manusia. Semua manusia adalah sama,
semua manusia adalah sederajat apapun keadaannya, dimanapun mereka berada. “Mankind is
one”, kata Ir. Sukarno. Kemanusiaan adalah satu.
Tetaplah mengejar mimpi, motivasi, harapan, dan kenyamanan diri dalam hidup. Buatlah
semuanya itu nantinya berguna bagi orang lain, bagi orang banyak

Kamar Kos, 3 Februari 2010


Salam hangat,
Michael Teguh Adiputra Siahaan
Kelautan ‘07/MDC XV