Anda di halaman 1dari 204

nilah 15 tipu daya kafirin untuk membasmi dan menumpas Mujahidin

1) Langkah Kesatu
Dekati para Mujahid dengan cara tak kentara misalnya pura-pura menjadi
Mujahid atau simpatisan perjuangan Islam.

2) Langkah Kedua
Masuklah kedalam gerakan dan komando mereka tanpa mencurigakan. Deteksi
dan catat data kekuatan personil, markas dan rencananya.

3) Langkah Ketiga
Tawarkan diri untuk berjuang bersama untuk meyakinkan penyidikan sebagai
bahan untuk mengungkit dan mengintrogasi.

4) Langkah Keempat
Tawarkan dukungan janji setia dan bantuan dukungan keuangan dan amunisi.

5) Langkah Kelima
Pegang sasaran, ketahui rencana waktu gerakan dan markasnya. Buat acara
sandiwara yang sama diluar wilayah sasaran mujahid sebelum waktu yang
mereka rencanakan/ tetapkan.

6) Langkah Keenam
Umpan mereka dengan kata Jihad dan kesediaan membantu penyediaan logistik
dan amunisi.

7) Langkah Ketujuh
Ketahui personil, tempat berkumpul dan tempat latihan Mujahid dengan pasti.

Langkah Kedelapan
Hantam mereka sebelum hari H, aksi gerakan terornya dengan kekuatan personil
dan amunisi.

9) Langkah Kesembilan
Tangkap gembong Mujahid, penjarakan dalam waktu yang lama sehingga
pengikutnya kehilangan komando.

10) Langkah Kesepuluh


Sodok tokoh Islam/ Ulama yang sudah jinak dengan uang yang menggiurkan
untuk memberikan fatwa kepada masyarakat bahwa Mujahid itu aliran sesat.

11) Langkah Kesebelas


Tangkap gembong Mujahid, beri kedudukan semi strategis dan lengkapi fasilitas
hidup keluarganya untuk mengungkap semua rahasianya dan jumlah kawannya.

12) Langkah Kedua belas


Bunuh para Mujahid dengan membeli tangan kawan-kawannya atau oleh
kekuatan Negara.

13) Langkah Ketiga belas


Awasi pejuang dibawah tanah dengan pendeteksian melalui kawannya yang
dipermukaan.

14) Langkah Keempat belas


Culik dan bunuh para Mujahid untuk mereda dan menakut-nakuti ummat Islam
lainnya.

15) Langkah Kelima belas


Mandikan gembong Mujahid dengan uang dan penghargaan. Dekati sanak
keluarganya dengan penuh hormat dan senyum agar bisa mengungkap rahasia
perjuangan dan kawan suaminya.

“Sebelas Langkah Kafirin” dalam membasmi dan menumpas tokoh Islam/ Ulama
melalui “Teori Penjinakkan dan Pembunuhan Ulama Islam”.
Posted by abuqital1 under Tipu Daya Orang Kafir
Leave a Comment

Rate This

1) Langkah Kesatu
Hindarkan dan cegah ulama Islam membagi wilayah binaan ummat dan dorong
mereka untuk berebut ummat, pendukung dan simpatisan dalam wilayah yang
tak terbatas sehingga tidak jelasbagi mereka tentang tugas, wewenang dan
tanggungjawabnya.

2) Langkah Kedua
Budayakan mengundang dan memberi penghargaan kepada tokoh/ ulama yang
pandai bicara dan jumlah tarif yang menggairahkan agar dapat merangsang
tokoh Islam/ ulama untuk berlomba mencari harta dan ketenaran didepan
pengikutnya sehingga mereka tidak merasa kerasan membina di lingkungannya
sendiri.

3) Langkah Ketiga
Pentaskan tokoh Islam/ Ulama yang pandai bicara dan menarik masyarakat
didepan tokoh/ ulama/ masyarakat untuk menghancurkan wibawa tokoh/ ulama
kecil.

4) Langkah Keempat
Berikan kepada tokoh/ ulama Islam kesibukan diluar wilayah domisilinya atau
dorong orang Islam berduit untuk membuat lembaga pendidikan yang akan
ditunggu oleh tokoh/ ulama Islam tersebut di wilayah domisilinya sehingga
tokoh/ ulama tersebut tidak punya waktu mengajar masyarakat Islam di
lingkungannya karena kesibukan diluar dan atau didalam lembaga pendidikan
yang ditunggunya.

5) Langkah Kelima
Panggil Ulama ke rumah untuk mengajar Islam dengan cara privat dan berikan
tarif bayaran yang lebih tinggi dibanding dengan tarif mengajar di masyarakat
sehingga tidak ada kesempatan bagi tokoh Islam/ ulama untuk mengajar di
lingkungannya.

6) Langkah Keenam
Tawari tokoh Islam/ ulama kondang suatu kedudukan, jabatan atau peranan
penting dilingkungan kenegaraan sehingga mereka menganggap kecil kepada
tokoh Islam atau ulama lainnya.

7) Langkah Ketujuh
Gilirkan para tokoh Islam/ Ulama dalam satu mimbar masyarakat pendengar
yang sama, perhatikan perbedaan pendapatnya dan tumbuhkan perbedaan
pendapat mereka didepan masyarakat muslim sehingga masyarakat bingung
memilih mana yang benar dan mana yang panutannya.

Langkah Kedelapan
Tumbuh suburkan “Orpol, Ormas dan LSM” dan seret mereka agar memasuki
ormas, orpol dan LSM berbeda-beda sehingga mereka melakukan kegiatan yang
sama pada manajemen yang berbeda.

9) Langkah Kesembilan
Fitnah, tangkap dan penjarakan tokoh Islam/ Ulama dalam waktu yang lama agar
tidak banyak bersentuhan dengan ummat atau pengikutnya. Hembuskan kepada
masyarakat lingkungannya bahwa mereka telah kena kasus pidana/ subversi dan
tidak mendekatinya (isu terlibat).

10) Langkah Kesepuluh


Hancurkan sumber keuangan ulama agar mereka senantiasa bergantung kepada
sumbangan ummat simpatisannya.

11) Langkah Kesebelas


Hindarkan dan halangi tokoh Islam/ Ulama agar tidak mempersatukan Ummat
Islam dan membentuk kepemimpinan Islam disuatu wilayah.

“Sepuluh Langkah Kafirin” Dalam membasmi dan menumpas Ummat Islam


melalui “Kebebasan membuat Institusi”
Posted by abuqital1 under Tipu Daya Orang Kafir
Leave a Comment
Rate This

1) Langkah Pertama
Peluncuran teori Demokrasi.
Desak semua Negara untuk menganut teori demokrasi. Dengan Negara yang
menganut teori demokrasi maka akan terbentuk “Parlementer”, dengan system
parlementer maka ummat islam akan bersaing memperebutkan “kekuasaan
keputusan Negara dengan Non Islam”.

2) Langkah Kedua
Pemberian kebebasan kepada Ummat Islam untuk membuat “Organisasi Politik
(Orpol)”. Dengan diberikannya kebebasan membuat Organisasi Politik maka
ummat Islam bisa bersaing dengan sesamanya demi untuk kemenangan “Orpol”
dan “melupakan” kemenangan Islam dan Ummat Islam. Dengan demikian
ummat Islam pecah dan cakar-cakaran dengan sesamanya karena “orpol” yang
dibuatnya.

3) Langkah Ketiga
Pemberian kebebasan kepada Ummat Islam untuk membuat “Organisasi
Masyarakat (Ormas)”. Setelah nampak pecahnya ummat Islam melalui
pemberian kebebasan untuk membuat Orpol maka selanjutnya pemberian
kebebasan kepada ummat Islam untuk membuat Ormas sehingga diharapkan
ummat Islam pecah dan cakar-cakaran lagi karena ormas yang dibuatnya.

4) Langkah Keempat
Pemberian kebebasan kepada Ummat Islam untuk membuat “Yayasan” atau
“Lembaga Pendidikan” dan “Pesantren”. Setelah nampak pecah belah ummat
Islam karena Orpol dan Ormas maka selanjutnya diberikan kebebasan untuk
membuat yayasan sehingga ummat Islam akan berlomba membuat yayasan
diberbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Ini diharapkan disuatu wilayah desa
atau perkotaan ummat Islam akan bersaing dengan sesamanya berebut lahan
atau siswa dan simpatisan demi kemajuan yayasan masing-masing tanpa
menghiraukan kemajuan yayasan saudaranya yang lain di wilayahnya dan aspek
yang sama.
Dengan pemberian kebebasan ini diharapkan kekuatan ummat Islam disuatu
wilayah cakar-cakaran karena yayasan yang dibuatnya.

5) Langkah Kelima
Pemberian kebebasan untuk pentas diatas panggung. Setelah semakin pecahnya
ummat islam karena masalah “Demokrasi, Orpol, Ormas dan Yayasan” maka
dengan diberikannya lagi kebebasan untuk pentas diatas panggung atau siaran
dengan cara mendesak ummat Islam kearah pementasan tokoh-tokohnya ke
panggung atau siaran. Teori ini diharapkan agar menumbuhkan rasa tinggi
status sosial para tokoh Islam diantara tokoh Islam yang lain. Dan juga
mengecilkan wibawa tokoh Islam yang ada di wilayah domisili ummat.
Dengan teori ini akan muncul tokoh kondang yang “bertarif mahal” dan tokoh
semi kondang (kelas menengah) “bertarif menengah” dan tokoh Islam yang
“disiksa ummat Islam” ditempat domisilinya (mengajar agama Islam kepada
masyrakat tanpa dibayar) sehingga dimungkinkan terjadi persaingan antar tokoh
Islam dan bisa cakar-cakaran antar tokoh dalam memperebutkan lahan da’wah.

6) Langkah Keenam
Pemberian kebebasan kepada masyarakat Islam agar membuat seminar. Teori
ini akan menyebabkan panitia seminar mengundang tokoh Islam untuk
membahas ajaran Islam, tanggapan Islam terhadap situasi dan suasana yang
ada sehingga mata dan pandangan ummat Islam terfokus kepada masalah
umum yang global dan lupa memperhatikan nasib ummat ditempat domisilinya
demi kepentingan individu atau keluarga muslim.

7) Langkah ketujuh
Pemberian kebebasan kepada masyarakat Islam untuk mengundang tokoh Islam
demi kepentingan individu atau keluarga muslim. Hidupkan kebiasaan ummat
Islam untuk mengundang tokohnya ke rumah individu atau keluarga muslim
agar tokoh Islam tersebut habis waktunya untuk mendukung individu atau
keluarga muslim sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan Islam dan ummat
Islam secara global.

Langkah Kedelapan
Penyanjungan dan pemberian penghargaan. Teori penyanjungan dan
penghargaan kepada tokoh dan ulama Islam bentuknya penyediaan fasiltas
hidup kepada sebagian yayasan/ ormas/ orpol yang mendukung teori demokrasi
agar dapat memicu atau mengumpan tokoh, ulama, yayasan, ormas dan orpol
Islam lain agar mereka merasa dibesarkan atau dikecilkan dimasyarakat
sehingga terjadi kerenggangan hubungan.

9) Langkah Kesembilan
Mendekati tokoh Islam yang memegang jabatan strategis didalam institusi atau
Negara untuk didesak membuat fatwa atau statemen yang dapat menjinakkan
ummat Islam lain yang keras.

10) Langkah Kesepuluh


Melumpuhkan tokoh atau ulama dan kelompok ummat Islam yang komitmen
terhadap ajaran dan hukum Islam. Teori ini digunakan atau dilaksanakan dalam
keadaan Negara dan Demokrasi dirongrong ummat Islam dalam bentuk
pembunuhan tokoh atau ulama kondang yang telah dicatat dan dideteksi
sebelumnya.

“Dua Jalan” di Indonesia


Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
1 Comment

Rate This

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (QS. 90:10)

1) Al Haq melawan Al Bathil

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan
janganlah kamu sembunyikan yang hak itu[43], sedang kamu mengetahui”. (QS.
2:42)

dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap“.
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. 17:81)

2) Hukum Alloh vs Hukum Thoghut

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang
lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. 5:50)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah


beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal
mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud
menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. 4:60)

3) Alloh sebagai Pelindung Mukmin vs Thoghut sebagai pelindung Kafir

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari


kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir,
pelindung-pelindungnya ialah Thoghut, yang mengeluarkan mereka daripada
cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya”. (QS. 2:257)

4) Mukmin Berperang Fii Sabilillah vs Kafir berperang Fii Sabilith Thoghut

“orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir
berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu,
karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”. (QS. 4:76)
TIDAK ADA PILIHAN TENGAH-TENGAH (MAU ENAKNYA SAJA)….!!!

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan


bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-
Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami
kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan Perkataan itu)
mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir).” (QS.
4:150)

“dan Katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang


menjelaskan(89). sebagaimana (kami telah memberi peringatan), Kami telah
menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (kitab Allah) (90),
(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi (91). (QS.
15:89-91).

TENTUKANLAH PILIHAN SIKAP ANDA SEKARANG JUGA DAN HADAPI JUGA RESIKO
PILIHAN ANDA TERSEBUT….!

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) Ad Dien (Islam); Sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar
kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah
berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (QS. 2:256)

“dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita


gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir
membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap
kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-
peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan”. (QS. 18:56)
orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah
menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka.
dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang
diturunkan kepada Muhammad dan Itulah yang haq dari Robb mereka, Allah
menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki Keadaan mereka.
yang demikian adalah karena Sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang
bathil dan Sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Robb
mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-
perbandingan bagi mereka. (QS. 47:1-3)

Jika anda seorang beriman maka masuklah kepada Dienul Islam secara Kaffah
baik kehidupan idelogi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan,
ataupun kehidupan sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Janganlah mengikuti langkah syetan, program syaitan dan kebijakan syetan yang
semuanya diambil berdasarkan ro’yu (akal), bukan bersumberkan Al Quran dan
Hadits Shohih.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
musuh yang nyata bagimu”. (QS. 2:208).

Janganlah anda mengira masuk “Jannah” itu gampang diraih dikarenakan anda
telah Muslim…!!!

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang
yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah,
Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat”. (QS. 2:214)

Satu Tanggapan to ““Dua Jalan” di Indonesia”


shahwatul ummah Says:

Januari 25, 2010 at 12:36 am

assalamu’alaykum….
alhamdulillah, ana mnemukan blog ini krena di beritahu oleh salah seorang
teman…
isinya subhanalloh, bisa membwt ana bertambh ykin akn kberadaan jlan al haq
ini di indonesia…
tpi permasalahannya a/ ktika ada sebuah pertanyaan yg ana hrus share kpda
org2 yg tepat… yaitu org2 yg brada pd jln yg haq ini…. biasanya ana selalu
memendam pertnyaan itu, krena ana bingung&khawtir pertnyaan itu di tujukn
kpd org yg salh… saat itulah ana btuh org2 yg menguatkn ana…
apalgi di indonesia sdh terlalu byk firqoh2 yg kdang mbwt qt tertipu dgn
jumlahnya & tmpilan luarnya sja…
ana mohon bntu ana mngatasi ini smw… ana btuh org2 yg mnguatkn ana…
jazakallahu khoir…

Abuqital1:
ukhti atau akhi bisa share di email abuqital1@gmail.com, insya alloh saya akan
menjawab semaksimal kemampuan.

Penjelasan “Lembaga Kerosulan, Lembaga Khilafah dan Lembaga Imamah”


Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
[10] Comments

2 Votes
Penulis: MYT***

Lembaga pemerintahan Islam pada zaman Khalifah Rasyidin yang empat, kita
sebut “Lembaga Khalifah”. Karena, dipegang oleh seorang khalifah selaku
sentral pimpinan untuk seluruh Dunia Islam. Dengan itu pula maka selarasnyalah
bagi lembaga ulil amri Islam dewasa ini kita menyebutnya “Negara Islam”, bila
hal itu sesuai dengan kenyataan yang mana kita belum mampu menegakkan
kekuasaan dalam lingkup dunia.

Adapun istilah “Negara Islam Indonesia” pun sesuai dengan situasi saat
diproklamirkannya. Itu kenyataan sejarah, bahwa pada waktu Indonesia dalam
kevakuman dan dikuasai oleh kaum imperialis kafir, maka para mujahid Islam
memproklamasikan diri dengan menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia
yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist Shahih. Dalam pada itu telah sanggup
menghadapi musuh dengan kekuatan senjata. Tegasnya, seluruh yang
diwajibkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an sudah dilaksanakan oleh lembaga itu. Ini
kenyataan bahwa lembaga tersebut itu bukan saja telah menjalankan ayat-ayat
mengenai perang, tetapi juga yang berkaitan dengan “Qishas dan Jinayat” dan
lainnya sebelum terdesak oleh musuh. Berarti bahwa kelembagaan tersebut tadi
telah “Syah” menurut syariat Islam. Maka, sebagai landasan hukum bagi kita
dalam melanjutkannya bukanlah karena oknumnya. Akan tetapi, yaitu
kelembagaannya (akan dijelaskan pada bagian kelima buku ini).

Rasul, artinya “Utusan” yaitu jabatan bagi seorang Nabi dalam arti lain, “Nabi”
adalah pribadinya (person) dari yang bertugas dalam Kerasulan. Dengan itu
apabila Nabi telah wafat, maka lembaga kerasulannya tetap “ada” dan harus
dipertahankan. Firman Allah yang bunyi-Nya :

‫عَقاِبُكْم‬
ْ ‫عَلى َأ‬
َ ‫ل اْنَقلَْبُتْم‬
َ ‫ت َأْو ُقِت‬
َ ‫ن َما‬
ْ ‫ل َأَفِإ‬
ُ‫س‬ُ ‫ن َقْبِلِه الّر‬
ْ ‫ت ِم‬
ْ ‫خَل‬
َ ‫ل َقْد‬
ٌ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬ َ ‫…َوَما ُم‬
ّ ‫حّمٌد ِإ‬

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu
berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia
tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur…” (Qs Ali Imron : 144).

Sewaktu berkecamuk perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi terbunuh. Berita
itu membingungkan sebagian muslimin sehingga ada yang akan meminta
perlindungan diri kepada pemimpin musyrikin (Abu Sofyan).

Ayat diatas tadi mengandung makna seandainya Nabi dalam peristiwa Uhud itu
terbunuh, maka umat Islam dikala itu wajib mengangkat Panglima perang yang
baru. Dan wajib pula mempertahankan kedaulatan Islam. Kalau tidak demikian,
berarti murtad dari Islam (berbalik kebelakang). Dengan ayat itu jelas sekali
bahwa yang identik (sama) dengan lembaga kerasulan Muhammad Saw di
Madinah dahulu itu wajib dipertahankan wujudnya. Maksudnya, bahwa struktur
kepemimpinan yang serupa dengan yang dipraktekkan oleh Nabi itu wajib kita
memilikinya. Dengan sekuat kemampuan kita dalam berjuang.

Sebelum lebih jauh mengutarakan lembaga Imaamah, mari kita lihat hadist
mengenai pengganti kepemimpinan sesudah Rasulullah Saw sebagaimana
sabdanya :

‫ ُفْوا‬:‫ل‬
َ ‫ َفَما َتْأُمُرَنا ؟َقا‬:‫ن َقاُلْوا‬َ ‫خَلًفا َيْكِثُرْو‬
ُ ‫ن‬ُ ‫سَيُكْو‬
َ ‫ي َبعِْدي َو‬ ّ ‫ل َنِب‬
َ ‫ي َوِاّنُه‬
ّ ‫خَلَفُه َنِب‬
َ ‫ي‬ ّ ‫ت َنِب‬
َ ‫لْنِبَياُء ُكّلَما َما‬
َ ‫سُهُم ْا‬
ُ ‫سْو‬
ُ ‫ل َت‬
َ ‫سَراِئْي‬
ْ ‫ت َبُنْو ِا‬
ْ ‫َكاَن‬
‫عاُهْم )رواه بخاري و مسلم‬ َ ‫سَتَر‬
ْ ‫عّماا‬َ ‫ساِئُلُهْم‬
َ ‫ل‬ ّ ‫نا‬ ّ ‫حّقُهْم َفِا‬
َ ‫طْوُهْم‬ُ‫ع‬ْ ‫ل ُا‬ َ ‫لْو‬ُ ‫)ِبَبْيَعِة ْا‬

“Dahulu Bani Israil dalam menjalankan siasat (politik) mereka selalu dipimpin
oleh Nabi. Tiap mati seorang Nabi, diganti oleh seorang Nabi. Dan sungguh tidak
ada Nabi sesudahku, dan akan terangkat Khalifah-khalifah. Sehingga banyak
sahabat bertanya : Apakah perintahmu kepada kami ? jawab Nabi Saw :
Tepatilah Bai’atmu kepada yang pertama berikan hak mereka, maka Allah akan
menanyai tentang pimpinan yang diserahkan Allah ditangan mereka”. (HR.
Bukhari & Muslim).

Yang dimaksud dengan khalifah-khalifah yaitu berganti-bergantti khalifah


sesudah pengganti kepemimpinan Nabi, yang satu itu meninggal, maka diganti
oleh penerusnya. Khalifah dalam arti kepemimpinan Islam itu tidak lebih dari
satu. Sejalan dengan itu sabda Nabi Saw :
‫خَر ِمْنُهَما )رواه مسلم‬
ِ ‫ن َفاْقُتُلْوا ْال‬
ِ ‫خِلْيَفَتْي‬ ْ ‫)ِا‬
َ ‫ن ُبْوِيَع اْل‬

“Jika ada dua Khalifah yang di bai’at, maka perangilah salah seorang dari
keduanya”. (HR. Muslim).

Dengan Hadist tersebut diatas jelas bahwa didunia ini tidak boleh ada dua
khalifah yang masing-masing mengklaim sebagai pimpinan Islam sedunia.
Karena itu, yang terakhirnya harus ditiadakan. Jadi dalam hal ini sungguh
berbeda dengan kepemimpinan para Imam atau pun Amir karena semuanya itu
berada dalam keadaulatan khalifah.

Dinyatakan bahwa sesudah Nabi, akan ada khalifah sebagai penggantinya


dalam kepemimpinan umat Islam. Hal tersebut telah dibuktikan oleh sejarah
yang dimulai dengan pengangkatan dari umat Islam terhadap khalifah yang
pertama, Abu Bakar Siddiq ra. Dalam kurun itu terjadi empat kali pergantian
khalifah hingga khalifah Ali bin Abi Thalib. Perlu dipahami bahwa sistem
pemerintahan pada masa-masa itu yang sesuai dengan yang digariskan oleh
Nabi, hanyalah sampai kepada yang dipimpin oleh Ali ra. Yang, mana
kepemimpinannya terangkat melalui musyawarah. Artinya, bukan dasar turunan.
Lembaga Khilaafah sejak terbunuhnya Ali bin Abi Thalib itu telah dihancurkan
oleh Mua’wiyah yang menyatakan dirinya selaku pemimpin. Terus menggantinya
dengan kerajaan, dengan mendorong anaknya, “Yazid” menjadi “Raja”. Artinya,
tanpa permusyawaratan dari umat. Dimulai dari kejadian itu, maka
berkelanjutan pula dengan hilangnya kepemimpinan Islam se-Dunia. Ini adalah
kenyataan karena yang dapat diwujudkan sesudahnya hanyalah pemerintahan
yang terpisah-pisah dari yang satu dengan yang lainnya. Sejak kekuasaan
dipegang oleh Mua’wiyah, maka azas Islam tidak lagi dipakai dalam hal
pengangkatan kepemimpinan. Sehingga tujuan politik pada umumnya hanya
haus terhadap kekuasaan daerah. Didalam lembaga kerajaan itu, acap kali
ulama yang dipenjarakan karena melawan terhadap kefeodalan dan
kesewenang-wenangan. Tentu dibalik itu ada saja ulama “syu” yang
mendukung pemerintah zalim demi kepentingan pribadi. !

Dalam menghadapi persoalan diatas itu mari kita buat kesimpulan :


Setelah menoleh guntingan sejarah dan hadist yang dikemukakan tadi di atas,
maka dipaham bahwa istilah “Khalifah” yang dimaksud selaku pemegang
kepemimpinan dari “Ulil Amri se-Dunia”, yang mana telah sanggup bertanggung
jawab terhadap nasib umat Islam se-Dunia. Sebagaimana pula arti “khalifah”
dalam kamus, yaitu “Imam yang tidak ada lagi di atasnya Imam”.(lihat “Al-
Munjid” kamus.
Dalam hadist di atas tadi diwajibkan menepati bai’at (janji) terhadap khalifah
yang pertama. Hal itu ditujukan kepada para sahabat Nabi yang bakal hidup
pada waktu pengangkatan khalifah. Maka, untuk kita yang hidup pada masa
kinipun wajib menepati bai’at kita terhadap para aparat khalifah yang semasa
dengan kita, bila kita tahu itu ada, serta meyakininya sejalan dengan Islam.
Hancurnya lembaga khilaafah pada waktu itu, jelas bukan kehendak kita. Sebab
itu bila dewasa ini kita belum menunaikan bai’at kepada aparat kelembagaan
Islam se-Dunia (Khilaafah) yang mana hal itu belum ada, maka dalam hal ini
wajib kita berbai’at kepada aparat pimpinan Islam tingkat negara. Artinya
dibawah lingkup dunia, yaitu lembaga Imaamah. Kita tetap dituntut untuk
bertaqwa sekuat kemampuan atas dasar pengetahuan yang didapat.

Ingat, pada kenyataan dewasa ini bahwa umat yang sedang berjuang
dinegerinya masing-masing pun masih banyak yang dikejar-kejar oleh
pemerintah musyrik. Bila dapat bergerak dalam tanah pun sudah mujur. Para
pengikut jejak Rasul itu tidak butuh akan kepemimpinan level dunia, bila yang
pola politiknya sama saja dengan dominasi dari pemerintah musyrikin / kafiriin.
Kita tidak perlu kepemimpinan begitu ! Sebab, yang dipimpin pun sama harus
mempertanggungjawabkannya di Akhirat.

Catatlah ! tidak ada kamusnya dalam Islam untuk mengakui pemimpin yang
sekedar intelek, mahir berpidato serta bergaya dalam kecukupan materi
duniawi, sedang bermental penjilat. Kerapkali bersuara sumbang ; berkoar ke
bawah : merengek ke atas ! Meski mengakuinya sebagai pemimpin Islam se-
Dunia.
*** Imam Negara Islam Indonesia ke 3 (saat ini)

10 Tanggapan to “Penjelasan “Lembaga Kerosulan, Lembaga Khilafah dan


Lembaga Imamah””
rozin Says:

November 17, 2009 at 1:58 am

syuqron!!
bapak, sering sy baca tahun 1984- 2000an ‘harakah2 yg ‘mencuat ke publik
(faktor tertangkap aparat)dan diketahui menamakan dirinya Lembaga Nubuwah
& Lembaga Kerasulan.. apakah legitimasinya bgi NII menurut bapak lembaga2
tersebut?
Terima kasih

Abuqital1:
Sekali lagi dalam hal estapeta kepemimpinan NII, maka NII tetap mengacu pada
4 landasan yaitu landasan idiil (Syar’i), landasan konstitusi (Qonun Asasi dan
Qonun Uqubat), landasan operasional (PDB) dan landasan historis.
Jika mengacu pada 4 landasan tersebut maka wadah-wadah yang disebutkan
oleh akhi adalah “INKONSTITUSIONAL” atau “TIDAK LEGAL” dalam
kepemimpinannya karena sudah melanggar 4 landasan tersebut sekalipun
mereka mengaku memperjuangkan NII. Bahasa sekarangnya adalah “Oknum”.
Balas
rozin Says:

November 17, 2009 at 2:01 am

add: penjelasan tentang Lembaga Kerasulan Indonesia (LKI), Harrakah


Nubuwwah Islamiyyah (HANI, Harakah Dakwah Islam (HDI) dari segi legitimasi
kepemimpinan
Balas
su m Says:

November 27, 2009 at 12:28 am

mungkinkah akhi bs menunjukn kpd kami,


dgn memposting, artikel tentang kelompok-kelompok islam di seluruh indonesia
ini?
Balas
su m Says:

November 27, 2009 at 12:30 am

mungkinkah akhi bs menunjukn kpd kami,


dgn memposting, artikel tentang daftar kelompok-kelompok islam di seluruh
indonesia ini?

Abuqital1:
Sebenarnya kami telah menganalisa kelompok-kelompok Islam yang akhi
sebutkan tersebut, alangkah baiknya akhi cantumkan no kontak akhi di
abuqital1@gmail.com, insya Alloh kami akan menjelaskannya.
Balas
rozin Says:

Desember 18, 2009 at 3:29 am

Abuqital1:
Sebenarnya kami telah menganalisa kelompok-kelompok Islam yang akhi
sebutkan tersebut,..

bapak..sekali lagi saya minta uraian lengkap hasil analisa bpk tentang HDI dan
HANI ( histori – kepemimpinan ). Penting bagi saya untuk mengetahui dari mana
awalnya _pembelotan itu_
Terima kasih.

Abuqital1:
Sebelumnya ana mohon maaf atas ketidaknyamanan suasana hati akhi…
HDI (Harokah Daulah Islam) dan HANI (Harokah Nubuwwah Islam)
sepengetahuan kami ini muncul di Wilayah 7 (Bogor) yang dipelopori oleh
“Akang” yang pola gerakannya kearah pendidikan dan tidak ada agenda untuk
mengizharkan tanzhim NII.
Awal “pembelotannya” dari KW 7 karena ketidak sepahaman dengan program
KW 7 yang terkesan “eksklusif”.
Balas
rozin Says:

Desember 20, 2009 at 6:06 am

..betul..sy ingin silaturrahmi dngn antum/ikhwan yg mau m’beri penjelasan lbh


lanjut sdh sy emailkn no HP ke antum..sy tunggu. trima kasih.
rozin Says:

Desember 24, 2009 at 8:35 am

sdh sy emailkn no Hp sy, gpp klo sementara via email/blog ini komunikasinya..
Mengenai Komandemen Wilayah (7) saat itu apakah berada dlm kepemimpinan
yg legal..?

Abuqital1:
Kalo berdasarkan konstitusi NII maka hal tersebut “SUDAH INKONSTITUSIONAL”
artinya menyalahi aturan konstitusi NII yang ada.
Balas
arsalan Says:

Januari 29, 2010 at 4:40 am

abu qital mbok kalau mimpi jangan terus2an..hari ini negara islam di indonesia
telah lenyap….nii mu adlh pemerintahan ketoprak.hukum Allah tidak tegak
..,berani km bilang masih ada negara islam..di dalam negri kafir ini…?
Balas
herry boys Says:

Februari 16, 2010 at 3:42 am

arsalan negri kafir harus dirubah doonk supaya gak kafir…


Balas
arsalan Says:

Februari 4, 2010 at 4:19 am

ABU QITAL,TULISANMU MENGHUJAT MUAWIYAH…SEBERAPAPUN KESALAHAN


BELIAU RASULULLOH TDK RELA DIA DI KATA2IN…DIA TDK BISA DIBANDINGKAN
DG KARTOSUWIRYA APALAGI DG IMAM JADI JADIAN ITU.KAMU TERLALU PEDE SHG
BERANI MENGHUJAT MUAWIYAH…MENGAGUNG AGUNGKAN KARTOSUWIRYO YG
TIDAK MAKSUM.LAGIAN MANA NEGARAMU ITU SEKARANG INI….SADAR DONG…!

Abuqital1:
rupanya anda belum memahami perjuangan NII dari berbagai landasan
(landasan syar’i, konstitusi, operasional dan historis). Jika anda berkomentar
hendaklah dg hati yg ikhlas, dada yg lapang, ucapan yg qoulan tsaqiilan shg yg
lain pun bisa memahaminya dan meluruskan pemahaman anda. JANGANLAH
ANDA anggap bahwa KW9 Az ZAITUN pimpinan PANJI GUMILANG itu adalah NII.
Itu adalah “fitnah besar” bagi NII yg sengaja dihembuskan oleh TERORIS RI.

“Negara Islam” di tinjau dari Al Quran dan As Sunnah


Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
[6] Comments

1 Votes

Penulis: MYT***

Ada saja dari segelintir manusia yang seenaknya bicara “Bahwa dalam Al-Qur’an
dan hadist tidak terdapat istilah “Negara” atau “Daulat”, maka tidak perlu
memikirkan Negara Islam”.
Boleh jadi pernyataan seperti itu tidak saja datangnya dari yang tidak mengerti
tentang Islam, melainkan datang pula dari yang mengerti akan sebenarnya Islam
hanya saja diperalat oleh luar Islam. Atau pun dari yang pura-pura tidak tahu
akan konsep negara dalam Islam, lantaran takut dan tidak sanggup bila
mendukung tegaknya Negara Islam. Maka, berputar-putarlah mencari dalih guna
membuktikan diri sebagai tokoh yang cepat tanggap dalam buka suara.

Disini penulis menyeru, “Sadarlah anda-anda”! Bahwa mencari Istilah “Negara


Islam” dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi Saw, akan sama halnya mencari istilah
“Rudal” (peluru kendali) dalam kamus bahasa Indonesia beratus tahun yang
silam. Meskipun pada waktu itu elemen-elemen untuk pembuatan senjata serupa
itu sudah ada, tentu istilah “Rudal” belum ada.

Memperbincangkan istilah “Negara Islam”, untuk itu kita harus membedahnya


dari berbagai arah.

1) ilmu mantik (logika).

Padanya bahwa “dilalah” (petunjuk), garis besarnya terbagi dua


Dilalah Lafdhiyah, yaitu bilamana penunjuk itu merupakan lafadh atau
perkataan.
Dilalah Ghairu Lafdhiyah, yaitu bilamana si penunjuk itu bukan merupakan
lapadh, tetapi merupakan isyarat, tanda-tanda, bekas-bekas dll.

Berdasarkan pengetahuan logika di atas itu, maka mengenai pengertian


(konsepsi) Negara Islam dalam Al-Qur’an, sebagai penunjuknya itu ialah isyarat
yang mana Kitabbullah itu mengisyaratkan bahwa kita harus menjalankan
kewajiban-kewajiban antara lain :
Menjalankan hukum pidana Islam. Lihat Qs. Al-Maidah : 38, 45 (Pencurian dan
Qishosh), QS An-Nur : 2 (Zina), dan QS 2 Al-Baqarah : 178 (Diyat)
Melaksanakan ibadah yang berkaitan dengan perekonomian, diatur oleh
pemerintahan Islam, sehingga menyalur pada Kebenaran Illahi. Lihat Qs At-
Taubah : 29, 101 (Jizyah).
Mempunyai kepemimpinan tersendiri sehingga tidak didikte oleh manusia yang
setengah-tengah (fasik/kafir) terhadap Islam. Lihat Qs Al Maidah : 51, 57 (Jangan
mengambil pemimpin dari orang kafir dan orang yang mempermainkan agama),
Qs. Al-A’raaf : 3 (Jangan mengambil Pemimpin yang tidak taat kepada Alloh), Qs
Ali Imran : 28 dan Qs. An-Nisa :144 (Jangan menjadikan orang kafir sebagai
wali).
Memiliki kekuatan militer tersendiri, umat berfungsi sebagai tentara Islam (Qs.
Al-Anfaal : 39 (memerangi orang-orang yang menimbulkan fitnah terhadap
Islam), Qs 2 Al-Baqarah : 123 (memerangi orang kafir), Qs 9 At-Taubah : 73
(berjihad melawan orang kafir dan munafik serta bersikap keras terhadap
mereka).
Dengan adanya kewajiban-kewajiban itu saja telah menunjukkan keharusan
umat Islam memiliki kedaulatannya sendiri, Yaitu “Negara yang berazaskan
Islam”/Negara Islam.

2) Qaidah Ushul Fiqih

Barusan kita menolehnya dari ilmu mantiq, kini kita tinjau pula dari sudut Qaidah
Ushul Fiqih yang bunyinya:
ٌ ‫ج‬
‫ب‬ ِ ‫ل ِبِه َفُهَوا َوا‬
ّ ‫ب ِا‬
ُ ‫جْو‬
ُ ‫ل َيِتّم اْلُو‬
َ ‫ب َما‬
ِ ‫ن َبا‬
ْ ‫ِم‬

“Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu hal, maka
sesuatu hal itu menjadi wajib”.

Yang dimaksud oleh kaidah diatas itu, yakni bahwa dalam menjalankan sesuatu
kewajiban, sedangkan untuk bisa menyempurnakan kewajiban yang dituju itu
harus menggunakan satu bentuk pekerjaan, maka menjalankan bentuk
pekerjaan demikian itu wajib adanya. Contohnya, dalam hal wajibnya berwudhu
untuk melakukan shalat. Disebabkan hal itu wajib maka menyiapkan adanya air
untuk itu pun wajib. Sungguh, kalau dicari dalam Al-Qur’an tidak didapati ayat
yang bunyinya secara saklek mewajibkan kita berusaha memperoleh air. Akan
tetapi, kewajiban berfikir dan berbuat dengan ilmu dalam hal ini sudah jelas
tidak perlu disebutkan.

Sama maksudnya dengan qaidah yang tertera diatas tadi, di bawah ini kita lihat
lagi qaidah ushul fiqih yang bunyinya :
‫ساِئِلِه‬
َ ‫ئ َاْمٌر ِبَو‬
ِ ‫شْي‬
ّ ‫لْمُر ِبال‬
َ ‫َا‬

“Memerintahkan sesuatu berarti memerintahkan pula seluruh perantaraan-


perantaraannya”.

Misalnya, memerintahkan naik rumah, itu berarti juga memerintahkan untuk


mentegakkan tangga, sebagai perantaraannya. Sesuatu perbuatan yang
diperintahkan tidak akan terwujud kecuali dengan adanya perbuatan-perbuatan
lain sebelumnya ataupun alat-alat untuk mewujudkan perbuatan yang
diperintahkan itu. Maka, perbuatan-perbuatan lain dan alat-alatnya disebut
perantara (wasilah) sebagai wajib muqayyad.

Berdasarkan penganalisaan dari ilmu fiqh itu maka mentegakkan negara/daulat


Islam itu hukumnya adalah wajib. Sebab, bahwa daulah Islam itu sebagai alat
untuk kita bisa menterapkan hukum-hukum Islam secara sempurna. Juga,
merupakan wasilah yaitu perantaraan untuk mendhohirkannya.

3) Musthalah Hadits

Seirama dengan ilmu mantik dan ushul fiqh, maka ilmu “Musthalah Hadist”
menyatakan bahwa “Hadist” ialah semua yang disandarkan kepada Nabi Saw,
baik berupa “Qauliyyah” (perkataan), “Fi’liyyah” (perbuatan) dan “Taqririyah”
(pengakuan).

Penjelasannya sebagai berikut :


Qauliyah ialah berupa perkataan, baik itu berupa perintah atau larangan, pun
berita yang diucapkan Nabi. Artinya merupakan lafadh, perkataan.
Fi’liyyah yaitu yang berupa perbuatan Nabi Saw. Pada baris yang kedua ini
dimengerti bahwa yang dinamakan hadist/sunnah Nabi Saw itu tidak semua
berupa perkataan. Jadi, bila Nabi itu tidak mengucapkan kata “Negara Islam”
atau “Daulat Islam”, tetapi bila nyatanya beliau telah membentuk organisasi
yang setara dengan “negara”. Serta menjalankan nilai-nilai Islam yang
berhubungan dengan kenegaraan/kekuasaan, maka membentuk negara yang
berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Saw adalah wajib bagi umat penerusnya.
“Kekuasaan” yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw itu
logikanya ialah “Negara Islam”. Pun, logis bila dalam segi lainnya di dapat
perbedaan definisi dari yang non-Islam.
Taqririyah yaitu Pengakuan Nabi Saw terhadap perbuatan sahabat yang
diketahui oleh Nabi, tetapi Nabi tidak menegur atau menanyakannya. Yang
semuanya itu bersangkutan dengan beberapa hikmah dan hukum-hukum yang
terpokok dalam Al-Qur’an.

Dengan hal-hal yang telah dipraktekkan Nabi Saw, jelas sekali bahwa adanya
“konsepsi negara Islam” di dalam hadist, maka sebagai penunjuknya yaitu
“perbuatan” Nabi Saw, yang mana telah membuat garis pemisah antara
kekuatan militer musyrikin dan militer Islam. Kelompok Abu Jahal, Abu Lahab
memiliki prajurit bersenjata, maka Nabi pun menyusun dalam mengimbanginya.
Beliau telah bersikap tegas, Siapa saja yang menyerang negara Islam, maka
dianggapnya sebagai musuh, walau dirinya telah mengaku muslim (perhatikan
QS 4 : 97), dan sikap Nabi terhadap Abu Abas diterangkan pada bagian
keempat). Ringkasnya, bahwa seluruh ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan
kedaulatan seperti yang dikemukakan tadi telah dipraktekkan oleh Nabi melalui
kekuasaan yang berlandaskan Islam. Lembaga yang sesuai dengan pola dari
Nabi itu akan menjamin kita menjalankan hukum Islam secara “Kaaffah”.

Dalam Al-Qur’an banyak istilah “Para Pemegang Kekuasaan” (ulil amri). Hal itu
diterapkan Rasulullah Saw di Madinah. Beliau selaku kepala pemerintahan
(negara), jelas memiliki kedaulatan dalam teritorial serta memproklamirkan
kekuasaan (daulat) untuk menjalankan hukum terhadap masyarakat. Juga,
mempunyai ribuan prajurit bersenjata dan aparat pemerintahan yang
dikoordinasi dalam satu lembaga. Dengan arti lain, tidak bercerai-berai (QS 3 :
103). Sungguh kesemuanya itu adalah identik dengan sesuatu negara.

Bagi kita mengenai beda-bedanya istilah ”negara” dan “daulat”, juga


“pemerintahan”, bukanlah soal ! Melainkan, yang harus diyakinkan; sudahkah
diri berada dalam lembaga yang sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan pola
dari Nabi Saw. Mari introspeksi sampai dimana batas maksimal daya dalam
berikhtiar guna mengikuti jejak Nabi kita itu.
Pada prinsipnya kita adalah Khalifatan fil Ardhi (penguasa di bumi). Ini berarti
tidak terbatas pada sesuatu negara/daerah. Akan tetapi, toh; negara itu bagian
dari bumi. Bila terjadi keterbatasannya daerah, maka hal itu karena soal
relatifnya kondisi kemampuan. Sedang yang diharuskan adalah berdirinya
kekuasaan. Dalam hal ini kita simak Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

ّ‫ح‬
‫ق‬ َ ‫س ِباْل‬
ِ ‫ن الّنا‬
َ ‫حُكْم َبْي‬
ْ ‫ض َفا‬
ِ ‫لْر‬
َ ‫خِليَفًة ِفي ْا‬
َ ‫ك‬ َ ‫…َياَداُوُد ِإّنا‬
َ ‫جَعْلَنا‬

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka


bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan kebenaran…”
(QS. 38 : 26)

Dalam memperhatikan ayat di atas itu, sejenak kita merenung bahwa Nabi Daud
yang telah dijadikan penguasa dimuka bumi. Maka, dapatkah diartikan bahwa
seluruh manusia di permukaaan bumi pada waktu itu sudah di bawah kekuasaan
Nabi Daud ? Rasulullah Saw diutus bagi segenap manusia (kaafafatan linnaas),
dan rahmatan lil a’lamiin (QS 21 : 27). Namun, karena faktor dari
kemanusiaannya, maka dayanya pun terbatas. Dan dilanjutkan oleh para
sahabat penerusnya. Umat Islam pada zaman Khalifah yang sempat juga pada
masa itu belum sampai menguasai seluruh dunia. Yaitu masih terbatas. Masih
mendingan adanya kekuasaan yang terbatas dari pada yang “nol” sama sekali,
dibawah kaki-kaki jahiliyah. Sebab itu kita tidak usah mengahayal akan
persatuan Islam sedunia, bila negeri sendiri masih dikuasai pemerintahan
thogut, dan diri terlibat dalam penterapan hukum-hukum kafir !.

Penyebutan tentang istilah untuk “pemerintahan Islam”, maka boleh disesuaikan


dengan situasi selama tidak bertentangan dengan syara’. Dari itulah, maka
untuk “lembaga ulil amri” pada masa pemerintahan Rasulullah Saw boleh
disebut dengan istilah “Lembaga Kerasulan”. Sedang untuk masa khalifah, yaitu
“Khilaafah”. Lembaga khilafah ini adalah penerusnya dari lembaga kerasulan.

Khilaafah asal kata “Khalafa Yakhlupu Khilaafah”. Khilaafah ini bila disamakan
dengan “Imaamah”, berarti “pemerintahan” sebagai pengganti pemerintahan
Nabi Saw. Bila disejajarkan dengan “Imaamah” berarti “Ikutan” dari lembaga
kerasulan. Sebab itu, maka khilaafah ini berarti pula “perwakilan”
(representation). Sedang oknumnya ialah khalifah (vicegerent), berarti
“utusan/delegasi”. Jadi khilaafah ini adalah Lembaga Kerajaan Allah dimuka
bumi, di utuskan kepada hamba-Nya. Tujuannya untuk menjalankan Undang-
Undang-Nya di dalam kerajaan tersebut, sebagaimana yang ditentukan didalam
Kitab-Nya. Dengan kalimat lain bahwa kedaulatannya di tangan Allah selaku
Pemilik-Nya. Adapun kita Cuma sebagai aparat atau petugas-Nya yang tidak
boleh menyimpang dari yang telah ditetapkan Allah SWT. Ibarat seorang yang
fungsinya sebagai karyawan sesuatu perusahaan, maka dalam menjalankan
administrasinya harus sesuai dengan peraturan yang dikehendaki oleh sipemilik
perusahaan. Raja yang berupa manusia adalah mempunyai undang-undang, dan
akan murka terhadap yang melanggarnya. Maka, bagaimanakah Allah yang
memiliki seluruh kerajaan ? Sungguh musyrik bagi yang menyepelekan Hukum-
Hukum Allah !

*** Imam Negara Islam Indonesia ke 3 (saat ini)

6 Tanggapan to ““Negara Islam” di tinjau dari Al Quran dan As Sunnah”


altoi Says:

November 4, 2009 at 9:12 pm

oh bahagia nya bila kt terpilih dalam bagian penegakan dienul islam ini..akankah
kt?
Balas
anti menyerah Says:

November 12, 2009 at 1:25 pm

jngan menyerah dr rahmat Allah.


trus mncari yg haq, insya aLLAh akn terpilih, amin.
Balas
ikrom Says:

November 5, 2009 at 11:26 am

wahai saudara2ku…, amarmakruf nahi mungkarlah kalian…, ajak mereka


menuntut ilmu KITABBILLAH WA SUNNATINNABI (AL-QURAN& ALHADITS), dg ilmu
itu mrk faham, bisa membedakan bainal haqqi wal batil, baina hallal wa harom,
baina biddah wa sunnah. ubah dulu kaidah2 mreka yg salah. termasuk
tetangga2 kita, itu banyak skali yg tdk sholat walaupun mrk ktp islam. ingat dalil
dari imam Nasai: qola rosul Mohammad SAW: innal ahdaladzi bainana wa
bainahum assolah fa man tarokaha faqod kafar. Barangsiapa yg meninggalkan
sholat maka sungguh kafir!!! termasuk yg sholat hanya 4 x sehari, hanya kurang
1 solat, misal sholat subuh… sungguh hukumnya kafir!!!
ajak islam dulu kaum2 muslim indonesia, kemudian ajarilah kalimat LAA ILLA HA
ILLAULOH, stelah itu banyak hukum yg harus pelajari.
silahkan saudara2 belajar ilmu wajib ini di MAKKAH WA MADDINAH.. Skaranglah
waktunya,…
tegakkanlah Kallimat ALLOH sebab kalian saudara2ku se iman…
fr. ikrom
Balas
wawi maryano Says:

November 13, 2009 at 9:24 pm


Mengambil Pelajaran dari Kejadian Gempa Bumi
Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
[3] Comments

1 Votes

Kurang lebih setelah 1 bulan kejadian Gempa Bumi di Tasikmalaya, terjadi lagi
Gempa Bumi di Sumatra Barat kemudian dilanjutkan lagi dengan Gempa di
Jambi. Ada apa sebenarnya dengan kejadian tersebut?

Pertama, tentunya mari kita bantu mereka yang sudah menjadi korban gempa
bumi tersebut dengan semaksimal kemampuan kita.

Kedua, mari kita belajar dari kejadian gempa tersebut. Kejadian gempa tersebut
(Sum-Bar) ada yang bilang pukul 16.45 dan ada juga 17.16; Bukan bermaksud
mempolitisir atau lainnya, coba buka Qs. 16:45 dan 17:16 sepertinya cocok
untuk ummat Islam di negeri ini untuk introspeksi diri.

“Maka Apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman
(dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau
datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”. (Qs.
16:45)

“dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan
kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah)
tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah
sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami
hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. 17:16)

Dari introspeksi tersebut mari kita sama-sama yang sudah mengaku Muslim
untuk “taubat” dengan cara kembali kepada hukum Alloh yang sebenarnya (lihat
Qs. 30:30-32) dan jangan mengikuti sumber hukum buatan manusia (lihat Qs.
4:60, 5:50)

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada Dien Allah; (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada
peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Dien yang lurus; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui.
31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta
dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah,
32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah Dien mereka dan mereka menjadi
beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada
pada golongan mereka. (Qs. 30:30-32)
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah
beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal
mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud
menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (Qs. 4:60)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang
lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Qs. 5:50)

Dan akhir dari pelajaran ini buat Ummat Islam Bangsa Indonesia, mari kita sama-
sama pahami lagi Qs. Ali Imron (3) ayat 112:

“mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan
mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi
kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan
membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan
mereka durhaka dan melampaui batas.” (Qs. Ali Imron :112)

3 Tanggapan to “Mengambil Pelajaran dari Kejadian Gempa Bumi”


corpsegrinder Says:

Oktober 5, 2009 at 12:21 pm

Asslmkm… ijin menyebarluaskan, trims…

Abuqital1:
monggo mas…
Balas
abu_tsabit Says:

Oktober 6, 2009 at 4:22 am

assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

ustadz, bagaimana cara yg efektif utk menyeru kaum muslimin indonesia agar
mau kembali kpd fithrahnya?

sebab sudah berulang kali ALLAH SWT menegur dg berbagai bencana–spt gempa
bumi, tp mayoritas dr mereka tidak mau menyadarinya, bahkan banyak dr
mereka yg jadi pembangkang atau makin menjadi pembangkangannya.

wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Abuqital1:
Nabi SAW. bersabda:
“Siapa di antara kamu melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, jika
tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu, ubahlah dengan
hatinya, dan yang terakhir inilah selemah-lemah iman.” [ H.R. Muslim ].

Jika memahami hadits diatas maka dakwah yang efektif adalah dengan “Tangan
(Bil Yadi)”. “Tangan” di sini bisa dipahami secara tekstual, ini terkait dengan
kemunkaran yang dihadapi.
Tetapi, “tangan” juga bisa dipahami dengan arti “KEKUASAAN/ POWER” dan
METODE DENGAN KEKUASAAN sangat efektif bila dilakukan oleh PENGUASA
(PEMERINTAH) yang berjiwa dakwah.

Hal tersebut bisa dilakukan jika bangsa ini mempunyai NEGARA YANG
BERIDEOLOGI ISLAM yakni NEGARA yang memberlakukan Hukum Islam sehingga
semua warga negaranya bisa beribadah kepada Alloh secara kaffah, tidak
setengah-setengah (sebagian Iman, sebagian kafir).

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan


bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-
Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami
kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan Perkataan itu)
mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir)”. (Qs. An
Nisa: 150)

Oleh karena itulah, NEGARA ISLAM INDONESIA semenjak di proklamirkannya tgl


12 Syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 akan terus melakukan perang suci atau
Revolusi Islam sehingga:
1. Negara Islam Indonesia berdiri dengan sentausa dan tegak-teguhnya keluar
dan ke dalam, 100 % de facto dan de yure di seluruh Indonesia;
2. Lenyapnya segala macam penjajahan dan perbudakan;
3. Terusirnya segala musuh Allah, musuh agama, dan musuh negara dari
Indonesia;
4. Hukum-hukum Islam berlaku dengan sempurna di seluruh Negara Islam
Indonesia.

Untuk mengetahui Proklamasi Negara Islam Indonesia beserta penjelasannya


silakan klik link dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/category/proklamasi-nii-dan-penjelasannya/
Balas
rijal Says:

Oktober 15, 2009 at 9:56 am

pak, izin nge-link biar tersebar lbh luas

Abuqital1:
silakan sepanjang digunakan untuk kemaslahatan ummat.
Kategori Ummat Islam di Indonesia
Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
Leave a Comment

Rate This

Pada dasarnya di muka bumi ini hanya ada dua jalan (Q.S.90:10), jika tidak ada
pada yang Haq berarti pada jalan yang sesat ( “dholaalah” ). Di sini penulis
menilainya dari sudut iktikad atau niat yang ada pada hati masing-masing, yang
mana sudah sekian lama umat Islam terkotak-kotak sehingga belum ada
kesatuan visi untuk satu langkah. Sebab itu secara umum, untuk sementara ini
penulis menganalisanya berdasarkan kondisi yang saat ditulisnya buku ini NII
belum de facto kembali sehingga belum dikenal oleh setiap mu’min Indonesia.
Dengan itu sementara ditulisnya buku ini penulis mengkategorikan posisi umat
Islam Indonesia kedalam enam bagian :
Posisi Yang Pertama, IKD (Islam Kodisi Dikaburkan). Hal tersebut
mengakibatkan “pasif”.
Posisi Yang Kedua, I P I ( Islam Pola Ideal ) yang mengakibatkan kompromi.
Posisi yang Ketiga, I P K ( Islam Pola Kepuasan ), mengakibatkan “Emosi
Temporer ( ET )”.
Posisi yang Keempat, I.T.S.L.A. ( Islam Tujuan Sistem Lepas Aturan ),
mengakibatkan B.P.(Banyak Pimpinan)
Posisi yang Kelima, I.S.B.R. (Islam Sistem Baru Rencana), yang akibatnya
“belum jadi”.
Posisi yang Keenam, I.S.P.A. ( Islam Sistem Pakai Aturan), menghasilkan pola
“Tauhid”

Posisi Yang Pertama, IKD (Islam Kodisi Dikaburkan). Hal tersebut


mengakibatkan “pasip”. Mereka ini memiliki hati yang bersih, ikhlas, ta’at
beribadah sehingga siap menjalankan perintah-perintah Allah semaksimal
kemampuan sesuai dengan ilmu yang sudah mereka ketahuinya. Mereka setuju
bila seluruh hukum Islam itu berlaku, hanya tidak tahu jalan harus bagaimana
caranya. Sebab, yang mereka tahu dan dijadikan rujukan hanyalah kenyataan
yang ada sehingga merasa cukup dengan jenis kegiatan yang terlihat biasa.

Umumnya mereka itu mengukur keikhlasan orang lain dengan keikhlasan


dirinya sendiri. Sehingga percaya bahwa asal saja tokoh atau penguasa yang
ngaku Islam di anggapnya tidak memusuhi Islam. Sehingga apa saja yang
diomongkan oleh yang menjadi idolanya berpredikat tokoh Islam, itu pula yang
dijadikan pegangannya. Mereka tidak tahu ukuran mana kawan dan mana lawan
apalagi musuh Islam. Tahunya cuma taat pada penguasa sebab penguasa juga
dianggap sudah Islam. Dengan demikian mereka mudah dikaburkan dari
pengertian Islam yang sesungguhnya oleh para penguasa atau oleh para ulama
yang menjadi alat penguasa, sehingga pasip tidak mencari pergerakan Islam,
merasa cukup dengan menyerah kepada keadaan. Itulah sebabnya disebut “I K
D”. Kepasippan mereka hanya karena dikaburkan, risalah yang hak pun belum
sampai sehingga masih dalam kegelapan.

Namun, bilamana suatu waktu risalah kebenaran itu sudah sampai kepada
mereka, dan masih juga tidak merubah sikap, maka kegelapan itu akan
menjadi kesesatan bagi diri mereka. Dan bisa jadi sebagaimana orang-orang
yang keadaannya menganiaya diri sendiri ( Q.S.4 An Nisa:97).

Posisi Yang Kedua, I P I ( Islam Pola Ideal ) yang mengakibatkan kompromi. Yang
pertama (IKD) pun sama kompromi hanya diam. Sedangkan yang kedua ini
tidak tinggal diam, melainkan berusaha mencari wadah perjuangan dan
memilihnya sesuai dengan “ideal” atau pemikirannya, bila perlu
membentuknya yang baru. Disebabkan pilihan dasarnya ialah ideal, maka jelas
wadah itu masih dalam sistem Pemerintah RI. Tentu, mereka yang masuk
kedalam wadah-wadah yang mengatas-namakan Islam yang dilegalisir oleh
Pemerintah RI itu macam-macam tujuan dan motivasinya. Namun, secara
keseluruhan menggunakan pola ideal.

Pola pikir ideal dalam hal ini, yaitu yang berjuang menurut cara yang dianggap
ideal bagi dirinya. Dalam perjuangannya itu, berpikir mana yang enak, tidak
ada risiko ancaman fisik dari musuh, bahkan dengan cara itu sebagiannya
memperoleh imbalan gaji atau tunjangan lainnya dari pemerintah yang menjegal
perjuangan tegaknya Daulah Islamiyyah. Tegasnya, bahwa perjuangan dengan
pola ideal itu dalam bentuk kompromi. Sehingga terjadi interaksi antara mereka
dengan aparatur pemerintah R I.

Jelasnya, bawa perjuangan pola ideal itu ialah berjuang, tapi menurut cara yang
dianggap enaknya. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah
diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu,
tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan
bersumpah dengan (nama) Allah:”Jika kami sanggup tentulah kami berangkat
bersamamu”. Mereka membinasakan diri mereka sendiri ; dan Allah mengetahui
bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.”_(Q.S.9 At-
Taubah:42).

Secara umum bahwa yang memasuki posisi kedua ini ialah karena berpola ideal,
mencari enaknya, tetapi secara khusus banyak juga yang memasuki posisi
kedua ini, didasari ijtihad yang diperolehnya, karena belum mengetahui atau
belum memahami cara perjuangan yang sesungguhnya menurut Islam. Niat dan
Iktikadnya ikhlas untuk membela Islam sesuai dengan wawasan yang
diperolehnya sementara belum mengetahui yang lainnya yang lebih dimengerti
olehnya, hal itu suatu yang dapat dimaklumi. Tentu, apabila suatu waktu
datang wawasan keilmuan mengenai pemisahan antara haq dan bathil, maka
dengan keikhlasannya itu akan segera menentukan sikapnya. Tetapi, jika masih
tetap saja begitu, tidak komitmen kepada yang hak maka persoalannya bukan
lagi keihlasan, melainkan bisa terbawa kepada “Kamaa kafaruu fatakuunuuna
sawaa-an.”(Q.S.4:89).

Posisi yang Ketiga, I P K ( Islam Pola Kepuasan ), mengakibatkan “Emosi


Temporer ( ET )”. Mereka yang ada dalam posisi IPK ada sebagiannya yang
berkeinginan untuk menegakkan hukum Islam secara keseluruhan di bumi
nusantara Indonesia ini. Mereka tidak mau seperti I K D yang berdiam diri
menyerah kepada keadaan dengan mengandalkan tokoh-tokoh yang “ yes men”
kepada pemerintah R I. Juga, tidak mau seperti I P I yang kegiatannya terikat
resmi tercatat dalam birokrasi. Sebab itu umumnya mereka tidak percaya
terhadap IPI yang dianggap selalu kompromi dengan pemerintah R I.

Jelasnya, kegiatan I P K itu berdiri di luar organisasi yang resmi. Mereka tidak
memiliki kepemimpinan yang resmi, umumnya merasa belum punya pemimpin.
Pertemuan antara mereka atas dasar kesetiakawanan, artinya bukan atas dasar
tugas dari pimpinan, karena itu kegiatan mereka pun informal dan insidental,
yang umumnya sebatas informasi dan diskusi.

Walaupun kegiatan mereka itu tidak resmi, juga tidak jelas posisi struktur
kepemimpinannya, dalam arti sama, tidak ada bawahan dan atasan,dan tidak
terdaftar dalam agenda birokrasi, namun I P K itu tetap berada dalam sistem
pemerintah R I, sama halnya dengan IKD dan I PI. Adapun bedanya, I P K ini
merasa “tidak puas” dengan sikap-sikap dari pemerintah RI yang dianggapnya
tidak sesuai dengan norma-norma agama Islam. Misalnya, dekadensi moral,
hak azasi, kolusi dalam birokrasi, azas tunggal, demokrasi yang tidak murni
dsb.

Mereka mengira bahwa hukum Islam bisa diberlakukan di Indonesia, tanpa


penggantian sistem negara, dan mengira pula bahwa pemerintah R I juga bisa
mematuhi kehendak umat Islam bilamana umat Islam mengajukan tuntutannya.
Sebab itu aktifitas yang menonjol dalam I P K itu ialah menggerakkan masa
untuk mengambil perhatian penguasa agar mengabulkan tuntutannya.
Disebabkan gerakan masa itu hanya sekedar protes sewaktu-waktu, dan tidak di
bawah komando struktur yang riil, melainkan hanya didasari spontanitas,
maka kelanjutannya pun hanya merupakan “emosi temporer”. Sebab, masa
yang digerakkannya pun umumnya ialah masa yang terbakar hasutan-hasutan
secara spontanitas.

Begitu pula I P K ( Islam Pola Kepuasan), yang merasa berjuang yang katanya
sebagai “presser group” terhadap pemerintah RI akhirnya tetap saja seperti
begitu, merupakan “emosi temporer”, karena dalam sistem yang sama.
Walaupun terlihatnya keras, namun tindakannya itu hanya sekedar “ngambek”,
yang tidak lepas dari sistem pemerintah RI. Dengan demikian IPK itu nilainya
sama dengan I KD, dan IPI, yaitu ” yang mengambil golongan kafir sebagai
pemimpin (lihat Q.S.4 An-Nisa 139).
Apabila yang mereka lakukan itu, karena masih dalam kegelapan
(ketidaktahuan) mengenai jalan perjuangan yang sebenarnya menurut Islam,
artinya belum sampai kepada mereka risalah kebenaran Negara Islam Indonesia,
maka secara iktikad dan niat mereka dapat dimaklumi. Akan tetapi, jika kepada
mereka itu sudah datang “bayyinah”(penjelasan) mengenai Kebenaran N I I,
tetapi masih saja mereka memihak Pemerintah RI, maka keadaan mereka sama
halnya “kamaa kafaruu fatakuunuuna sawaa-an”(Q.S4:89). Atau bisa menjadi
zhaalimii anfusihim (Q.S.4:94).

Posisi yang Keempat, I.T.S.L.A. ( Islam Tujuan Sistem Lepas Aturan ),


mengakibatkan B.P.(Banyak Pimpinan). Menyebutnya “sistem” karena
mengatas-namakan NII (Negara Islam Indonesia), proklamasi 7Agustus 1949
yang mana N I I itu merupakan “sistem”. Adapun disebut “lepas aturan”, karena
mereka menamakan dirinya NII, tetapi melepaskan aturannya. Artinya, tidak
didasari undang-undang, seperti halnya mengenai pengangkatan pemimpin
tertingginya. Pengangkatan pemimpin yang tidak berdasarkan undang-undang,
yakni tidak sesuai dengan yang tercantum dalam Kanun Asasy dan PDB
(Pedoman Darma Bhakti), maka mengakibatkan banyak pemimpin. Sebab,
tanpa undang-undang, berarti siapa pun boleh merasa berhak diangkat dan
mengangkat. Sebab itu tidak aneh bila dalam kondisi masih banyak yang tidak
tahu aturan atau sengaja tidak mau pakai peraturan, banyak yang masih
binggung mengenai mana pemimpin N I I yang sesungguhnya. Sebab itu pula
posisi mereka disebut “ ITSLA”.

Untuk kembali kepada undang-undang NII akan sulit, jika tidak didasari hati
yang ikhlas karena Allah, sebab tidak semua yang kedatangan yang haq lalu
menerimanya, melainkan ada yang menolaknya, karena sudah merasa cukup
dengan ilmu yang ada pada mereka. Perhatikan ayat yang bunyinya:

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka
dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan
pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang
selalu mereka perolok-olokkan.”_(Q.S.40 Al-Mu’min).

Akan tetapi, bagi yang hatinya ikhlas karena Allah, tentu begitu datang
bayyinah, maka segera menyambutnya, sebab ingat kepada peringatan dari
Allah SWT yang bunyi-Nya:

“Belumkah datang waktunya bagi orang -orang yang beriman, untuk tunduk hati
mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada
mereka), dan supaya mereka jangan seperti orang-orang yang sebelumnya
telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka kemudian berlalulah masa yang
panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara
mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S.57 Al-Hadiid:16 )
Posisi yang Kelima, I.S.B.R. (Islam Sistem Baru Rencana), yang akibatnya
“belum jadi”. Disebut “sistem” karena ingin membuat sistem dari yang sudah
ada. Jadi, mereka juga ingin memisahkan diri dari sistem Pemerintah RI. Adapun
disebut “B R”(baru rencana), karena secara hukum tidak memiliki sistem,
hanya baru merencanakan. Sedangkan yang namanya baru rencana, berarti
belum ada. Dengan demikian bila diri keburu mati, maka masih terlibat kepada
pengeterapan hukum-hukum kafir. Mereka yang posisinya di ISBR ingin
menjalankan hukum-hukum Islam secara kaffah, tetapi tidak mau dengan nama
NII, melainkan dengan nama lain. Artinya, tidak merujuk kepada NII Proklamasi
7 Agustu 1949.

Sebenarnya kalau untuk di “luar Indonesia”, memang harus merencanakan


tegaknya Daulat Islam tidak usah merujuk kepada NII, artinya kalau bukan di
wilayah yang sudah diadakan Daulah Islamiyyah. Sedangkan di Indonesia ini
sudah diadakan Daulah Islamiyyah, yakni NII, pada tanggal 7 Agustus 1949
yang estapeta kepemimpinnannya juga terus berlangsung sesuai dengan
perundang-undangannya. Jadi, apabila ada lagi yang mengadakan selain itu,
maka berarti “Bhughot”, dalam arti pemberontak terhadap N I I, proklamasi 7
Agustus 1949.

Bagi yang memiliki iktikad / niat hati yang ikhlas guna menegakkan hukum-
hukum Islam, sedang posisinya masih berada pada ISBR, karena belum
mengetahui risalah penjelasan kebenaran N I I, proklamasi 7 Agustus 1949
adalah dimaklumi. Akan tetapi, bila suatu waktu datang kebenaran NII dengan
segala penjelasannya, sedang dirinya masih saja di ISBR dan tidak mau beralih
kepada NII, maka termasuk kepada yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an
(Q.S.57Al Hadiid:16)

Posisi yang Keenam, I.S.P.A. ( Islam Sistem Pakai Aturan), menghasilkan pola
“Tauhid” sehingga satu N I I satu pimpinan. Disebut “sistem” karena berpijak
pada Proklamasi Negara Islam Indonesia, Proklamasi 7 Agustus 1949, yang
mana NII itu merupakan sistem. Disebut “pakai Aturan”, karena dasar
pengangkatan pemimpinnya merujuk kepada peraturan yang tercantum dalam
Undang- Undang N I I yaitu Qanun Azasy dan PDB (Pedoman Darma Bhakti) yang
merupakan Maklumat-Maklumat Komandemen Tertinggi, yang diantaranya MKT
No:11 tahun 1959.

Disebut “pola tauhid”, karena pola perjuangannya bukan didasari


ketidakkepuasan, bukan pola ideal, dan bukan juga kehendak yang tanpa
peraturan. Pengangkatan pemimpin/ Imamnya, bukan karena pandangan
ekonomi, jasa, turunan, kekeluargaan, kesenioran dan sebagainya, melainkan
didasari oleh nilai hukum “peraturan / perundang-undangan“ sehingga bersatu.
Jelasnya, bahwa disebut “pola tauhid” karena berdasarkan Al-Qur’an dan
Sunnah Saw serta Undang-Undang NII. Rasulullah Saw membentuk negara
(pemerintahan Islam di Madinah), membuat pula undang-undangnya. Dan
ummat diwajibkan mentaatinya.
ekalahan Fisik Bagi yang Beriman Merupakan Peluang untuk Mati Syahid
Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
Leave a Comment

Rate This

Setelah menyadari “sekedar menjalankan tugas”, kita renungkan mengenai


tugas yang telah diberikan kepada Nabi Saw beserta umatnya yang mana
jumlahnya masih beberapa belas orang.

Dalam Al-Qur’an maupun hadist tidak didapat keterangan harus menang. Yang
ada hanyalah perintah menyusun kekuatan setinggi batas kemampuan (QS. 8 :
60). Perintah menyusun kekuatan tetap berlaku walau dimulai dengan beberapa
orang. Sebab, bilamana telah konsisten terhadap perintah tersebut itu, maka
tentu tidak terpaku oleh persoalan hidup atau mati. Disitulah letak tawakkal.
Berbuat, kemudian berserah diri kepada Allah SWT.

Belum terpisah dari uraian itu, kita lihat petikan ayat yang bunyinya :
… ‫شَهَداَء‬
ُ ‫خَذ ِمْنُكْم‬
ِ ‫ن َءاَمُنوا َوَيّت‬
َ ‫ل اّلِذي‬
ُّ ‫س َوِلَيْعَلَم ا‬
ِ ‫لّياُم ُنَداِوُلَها َبْينَ الّنا‬
َْ ‫ك ا‬
َ ‫َوِتْل‬

“…..dan masa-masa kemenangan itu Kami pergilirkan di antara manusia, supaya


jelas diketahui oleh Allah, orang-orang yang beriman itu, dan dijadikan-Nya
sebagian di antara kamu mati syahid…” (Qs. Ali Imron : 140).

Ayat di atas itu diturunkan setelah terjadinya perang Uhud. Pihak muslimin telah
mengalami kemenangan fisik pada “Perang Badar”. Kemudian menemui
kekalahan dalam “Perang Uhud”. Maka, dengan kekalahan itu diperingatkan
jangan berkecil hati. Sebab, bahwa kekalahan pun kemenangan, pada
hakekatnya adalah dipergilirkan Allah. Yang mana dari kekalahan itu dapat
dijadikan pelajaran guna mengoreksi di mana letaknya kelemahan. Juga, supaya
sebagian mu’min didapat yang mati syahid. Dan tersedia pula generasi
penerusnya, kesempatan melanjutkan perjuangan.

Menyadari bahwa adanya kekalahan itu sebagai penguji keimanan, sehingga bila
bagi yang tujuannya semata-mata meraih kemenangan fisik, maka akan
diketahui oleh Allah. Dalam hati sanubarinya merasa kapok dan menyesali
dirinya terlibat dalam arena perjuangan. Berbeda lagi dengan kita bahwa
kekalahan secara fisik itu dapat dijadikan kesimpulan; Yaitu bahwa adanya
kemenangan atau kejayaan bagi pihak pancasilais pada zamannya pun
bukanlah disebabkan tentaranya berani mati. Justru sebagian mereka menjadi
serdadu itu, karena andalan gaji guna menunjang hidup. Juga, bukan konsepsi
mereka lebih jitu dari pada Islam. Dan bukan pula karena kesaktiannya
pancasila, yang membuat diri musyrik bila mempercayainya. Akan tetapi,
memang bahwa masa-masa kejayaan dan kekalahan itu sedang dipergilirkan
Allah, agar banyak diantara mujahid Islam yang mati syahid. Dan terbuka
peluang bagi pelanjutnya dalam menghadapi ujian guna menjunjung “Kalimat-
Kalimat Allah”.

Akal yang Disertai Keimanan Menyadari Hakekatnya Kemenangan


Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
Leave a Comment

Rate This

Suatu kemenangan dalam Islam pada hakekatnya bukanlah kemenangan dalam


arti fisik semata, melainkan yaitu adanya kesuksesan menghadapi ujian dalam
rangka mematuhi tugas beribadah. Sebagaimana Firman Allah yang bunyi-Nya :

ِ‫حّقا ِفي الّتْوَراة‬


َ ِ‫عَلْيه‬
َ ‫عًدا‬ ْ ‫ن َو‬
َ ‫ن َوُيْقَتُلو‬َ ‫ل َفَيْقُتُلو‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫ن ِفي‬ َ ‫جّنَة ُيَقاِتُلو‬
َ ‫ن َلُهُم اْل‬
ّ ‫سُهْم َوَأْمَواَلُهْم ِبَأ‬
َ ‫ن َأْنُف‬
َ ‫ن اْلُمْؤِمِني‬َ ‫شَتَرى ِم‬
ْ‫لا‬
َّ ‫ن ا‬
ّ ‫ِإ‬
111) ‫ظيُم‬ ِ ‫ك ُهَو اْلَفوُْز اْلَع‬َ ‫شُروا ِبَبْيِعُكُم اّلِذي َباَيْعُتْم ِبِه َوَذِل‬ِ ‫سَتْب‬
ْ ‫ل َفا‬ِّ ‫ن ا‬َ ‫ن َأْوَفى ِبَعْهِدِه ِم‬ ْ ‫ن َوَم‬ ِ ‫ل َواْلُقْرَءا‬ ِ ‫جي‬ ِْ ‫)َوا‬
ِ ‫لْن‬

“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan
memberikan surga untuk mereka ; mereka berperang pada jalan Allah kemudian
mereka membunuh dan dibunuh, sebagai janji yang benar dari Allah, di dalam
Taurat, Injil dan Qur’an. Siapakah yang menepati janjinya daripada Allah ?
Bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar.” (Qs. At Taubah: 111)

Maksudnya, bahwa orang mu’min yang berperang pada jalan Allah, mereka telah
“menjual” diri dan harta mereka kepada Allah, dibeli dengan “jannah (surga)”,
maka hal itu sebagai “kemenangan yang besar”.

Bertambah jelas bahwa yang disebut sebagai pribadi yang sedang dalam
kemenangan, pada hakekatnya ialah yang telah sukses tatkala mematuhi tugas ;
baik dalam keadaan telah membunuh atau dibunuh. Ini dapat dimaknakan
“menang atau kalah secara fisik”. Walaupun dibunuh, namun bila sudah
mengabdikan diri kepada Allah, maka itulah yang dinyatakan dalam Kitabbullah
sebagai kemenangan yang besar”.

Sebaliknya dari hal diatas itu, terhadap seseorang yang kabarnya berpredikat
tokoh Islam, berbangga diri karena kemenangan dalam perebutan kursi. Dengan
disanjung oleh para penguasa thagut dan diserahi baginya kedudukan yang
tinggi. Di tempat mana saja dapat berbicara. Ketempat rapat mana pun, fasilitas
tersedia. Ya, kapan beristirahat ; gedung mewah dia pun punya. Sedang dirinya
merasa aman dari ancaman jahannam, walau sadar berpihak pada penguasa
yang menentang berlakunya hukum-hukum Islam. Mata hatinya tertutup (QS.
17 : 46) dengan kemegahan hingga tidak kenal memisahkan mana yang hak dan
mana yang bathil. Yang sedemikian itu tidak lain hanyalah kemenangan menurut
hawa nafsunya ! Penguasa mana saja asal yang lagi menang, itu pula yang
dijadikan majikannya. Tampaknya tidak sadar bila dirinya seolah-olah anjing
penyalak ! Dari itulah anda jangan menilai sesuatu kegiatan dari segi duniawi
melulu yang bisa-bisa diperosokkan setan !
SEKEDAR MENJALANKAN PERINTAH DENGAN SEMAKSIMAL KEMAMPUAN
BERUSAHA
Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
Leave a Comment

Rate This

Menghayati hidup ini yang mana tujuan kita untuk menghambakan diri kepada
Allah SWT. Sudah tentu tujuan berjuang pun sekedar mengemban tugas dari-
Nya. Perhatikan kembali ayat yang bunyinya :

‫ل َتّتِبْع َأْهَواَءُهْم‬
َ ‫ل َو‬
ُّ ‫ل ا‬
َ ‫حُكْم َبْيَنُهْم ِبَما َأْنَز‬ ِ ‫…َوَأ‬
ْ‫نا‬

“Dan hendaklah kamu menghukum di antara mereka dengan apa yang


diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka….”. (Qs. Al
Maidah : 49)

Dengan ayat diatas itu kita diberi amanat (tugas) menjalankan undang-undang
Al-Qur’an. Karena itu yang merasa diberi amanat sedemikian, maka tidak
berpangku tangan sebelum Kitabbullah itu bertegak secara nyata sebagai
Konstitusi Kerajaan Allah dimuka bumi.

Adapun supaya diri merasa diberi tugas dari Allah, maka membutuhkan rasa
keimanan yang mendalam, harus “benar-benar yakin” terhadap ke-
agungan/kekuasaan-Nya ; yang paling berkuasa dalam segala hal. Sehingga
hukum-hukum Al-Qur’an itu dirasakan mutlak harus dilaksanakan dalam segala
segi kehidupan.

Sang buruh yang tahu diri, maka akan menyerahkan segala urusan mengenai hal
pengabdiannya kepada yang memerintahnya. Dan berusaha sedaya-dayanya
agar tidak kena murka dari atasannya. Jadi, kalau sang buruh itu akan
menggunakan “akalnya”, paling juga berpikir ; bagaimana bila tugasnya itu tidak
dia patuhi, sedang tiada lagi tumpuan hidup selain majikannya. Dengan
menjalankan apa yang diperintahkan oleh majikannya itu, maka seandainya
proyek atau pekerjaannya itu belum dapat dirampungkan, namun bila dalam
melaksanakannya itu sudah sesuai dengan pola yang telah ditetapkan dalam
surat perintah (SPK) dari atasan, maka hal itu dapat dipertanggung jawabkan.
Berbeda lagi dengan buruh yang menyepelekan kekuasaan majikannya juga
ragu terhadap kebijaksanaan dalam surat perintah kerja yang diberikan oleh
majikannya, hingga memakai konsep/cara yang bertentangan dengan ketentuan
peraturan dari majikannya, maka pegawai sedemikian rupa itu tetap dalam
tuntutan hukum akan ditindak.

Begitu juga bagi seorang hamba yang akalnya disertai keimanan, tentu
menyadari bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia itu hanya sedikit (QS.
17 : 85) dan sangat banyak ilmu yang tidak diketahui oleh manusia secara
realita. Maka, bagaimana pun pandainya manusia, tetap sebagai hamba yang
kemampuan berpikirnya terbatas. Jadi, selaku hamba yang takut akan ancaman
dari penguasa-Nya, maka dalam melaksanakan perintah Allah tidak menunggu
pertimbangan terlebih dulu untuk mengetahui tentang “sebab” atau latar
belakangnya. Bila ingin “terlebih dulu” mengetahui latar belakangnya dari pada
mematuhi-Nya, berarti tidak percaya terhadap kebijaksanaan dari Allah SWT.
Diartikan pula tidak tunduk terhadap keputusan hukum dari-Nya. Sama artinya
dengan tidak meyakini Kekuasaan Allah. Juga, berarti tidak berserah diri kepada-
Nya.

Dalam hal itu kita perhatikan satu contoh mengenai perintah yang diterima Nabi
Nuh As berserta para pengikutnya. Mereka telah diperintah membuat bahtera
(QS. 11 Hud : 37). Sedang dalam pada itu dilaksanakannya ditempat yang jauh
dari tepi laut. Pada waktu belum terjadi topan dan badai melanda bumi, maka
bagi yang akalnya tidak disertai keimanan akan kekuasaan Allah, tentu
mengatakan bahwa perintah serupa itu sebagai hal yang tidak dimengerti oleh
akal. Sehingga mereka mencemoohkannya.

Apa yang diperbuat oleh Nabi Nuh beserta pengikutnya, membikin kapal
ditengah ejekan dari kebanyakan manusia, jelas menandaskan bahwa perintah
dari Allah SWT hanya dapat dipatuhi tidak atas dasar pertimbangan akal yang
tanpa keimanan. Hanya akal yang disertai keimanan akan membuat analisa,
bahwa semua perintah dari Allah adalah sudah dalam kebijaksanaan-Nya. Dan
dalam jaminan-Nya.

Sejenak merenung, bagaimanakah sikap kita seandainya perintah serupa itu


ditujukan kepada kita, membuat kapal ditengah daratan seperti dulu itu, sedang
kita belum tahu banjir akan melanda…..? Dari itulah kita masih beruntung, sebab
hanya diperintah dalam hal yang masih terjangkau oleh akal pikiran. Yaitu
melawan antek-antek pemerintah thagut yang sama saja dengan kita butuh
makan !

KESIMPULAN
Perintah dari Allah Tidak Bisa Dianalisa Dengan Akal yang Tanpa Keimanan
Kepada-Nya
Selama masih ada penjegalan terhadap hukum Islam; selama itu pula menuju
REVOLUSI ISLAM

Menghayati Fungsi Sholat Bagi Seorang Mukmin


Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
1 Comment

3 Votes

Adapun mengenai shalat yang akan kita bahas di bawah ini ialah yang
sebagaimana difirmankan Allah SWT yang bunyi-Nya :

… 45)…‫شاِء َواْلُمْنَكِر‬
َ‫ح‬
ْ ‫ن اْلَف‬
ِ‫ع‬َ ‫لَة َتْنَهى‬
َ‫ص‬ ّ ‫)ِإ‬
ّ ‫ن ال‬

“….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan


munkar….” (Q.S. Al-Ankabuut : 45).

Pengertiannya :
Bahwa shalat itu berfungsi bagi diri supaya mencegah kekejian dan kemunkaran.
Jadi, terhadap yang melakukannya, tetapi bermasa bodo terhadap berlakunya
kemunkaran, maka berarti shalatnya itu tidak sejalan dengan yang dimaksud
oleh ayat tersebut di atas itu.
Bahwa konsekwensi dari shalat itu harus sedapat mungkin berusaha mencegah
perbuatan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Artinya ; bagi setiap
yang sudah melakukan shalat dan sesuai dengan esensi yang dikandung dalam
shalat, maka dirinya akan terus bergerak melawan kemunkaran.

1. Menerima Sebagai Aparat Allah

Pada dasarnya bahwa seseorang yang sudah melakukan shalat, maka


sesungguhnya telah “berjanji” kepada Allah, sebagaimana yang dikandung
dalam ungkapan kalimat “Iyyaka na’ budu” yang artinya : “Hanya kepada
engkau kami beribadah”. Ibadah berasal dari kata “abada” (menyembah,
mengabdi/berbakti). Menyembah atau berbakti kepada Allah berarti bernaung di
bawah ketentuan Hukum-Hukum Islam. Maka, dalam shalat itu juga berarti telah
memberikan pernyataan diri sebagai “aparat/petugas” dari Kerajaan Allah.
Sehingga dirinya itu bersiap sedia pula melawan setiap kekuatan yang
menghalangi tegaknya undang-undang yang telah diturunkan Allah SWT.

Tentu lain lagi halnya terhadap seseorang yang berjanji ketika melakukan
shalatnya, sedang dalam hal itu menyetujui berlakunya hukum-hukum Jahiliyah
(thagut), atau rela bila hukum Islam dicampakkan dari dirinya, maka sama
artinya dengan melanggar janjinya sendiri yang berarti shalatnya itu yang palsu.
Kita ingat sabda Rasulullah SAW :

‫عَمِلِه‬
َ ‫ساِئُر‬
َ ‫سَد‬
َ ‫ت َف‬
ْ ‫سَد‬
َ ‫ن َف‬
ْ ‫عَمِلِه َوِا‬
َ ‫ساِئُر‬
َ ‫ح‬
َ ‫صَل‬
َ ‫ت‬
ْ ‫ح‬
َ ‫صَل‬
َ ‫ن‬
ْ ‫لُة َفِا‬
َ‫ص‬ّ ‫ب ِبِه اْلَعْبُد َيْوَم اْلِقَياَمِة ال‬
ُ ‫س‬
َ ‫حا‬
َ ‫ل َماُي‬
ُ ‫َاّو‬
“Yang paling utama dihisab (ditanya) seseorang hamba pada hari kiamat ialah
mengenai shalat. Apabila beres shalatnya, beres segala amalnya. Dan jika rusak,
maka rusak pula segala amalnya”. (H. R. Thabrany).

Yang akan diperiksa dari hal melakukan shalat itu, tidak hanya yang mengenai
rukun-rukun atau wujudnya secara lahiriyah saja. Sebab, bila hanya untuk itu,
maka orang-orang munafik dan fasik pun dapat melakukannya. Tegasnya,
bahwa yang akan diperiksa mengenai shalatnya seseorang itu adalah mencakup
pula akan isinya antara lain :
Sudahkah dengan shalatnya itu dia mencegah kemunkaran dan kekejian
sebagaimana yang disebutkan oleh ayat tadi di atas ?.
Sungguhkah dia melakukan shalat itu dengan beritikad sedia menjalankan
seluruh Perintah Allah, sebagaimana esensi shalat, atau hanya mengakui
sebagiannya saja ; sebagiannya lagi dia pakai aturan kafir ?.
Dan adakah janji dalam shalatnya itu merupakan janji yang
dipertanggungjawabkan untuk ditepati atau hanya janji kosong ? Atau memang
sengaja dia telah berani merusak janjinya, karena menganggap sepele terhadap
arti tujuan menyembah kepada Allah ?.

2. Berkaitan Dengan “Ibadah Ghairu Mahdhoh”

Shalat, merupakan ibadah yang secara vertikal berhubungan dengan Allah SWT.
Akan tetapi, realisasi dari shalat itu tidak lepas dari ibadah yang secara
horizontal berhubungan dengan kemasyarakatan. Umpamakan saja diri kita
sebagai pegawai yang diberi dua macam tugas seperti kita sebutkan di bawah
ini :
Apel menghadap pimpinan, dalam rangka berjanji setia terhadap perintah dari
atasan. Juga, melaporkan diri bahwa kita sudah menjalankan pekerjaan yang
sesuai dengan peraturan dari pimpinan.
Menjalankan pekerjaan di lapangan.

Vertikalnya yaitu bertugas menghadap pimpinan. Dan horizontalnya ialah


menjalankan tugas di lapangan. Maka, jelas bahwa hubungan antara kedua
macam tugas itu tidak dapat dipisahkan. Maksudnya ialah bahwa menghadap
pimpinan berarti kita sudah siap menjalankan tugas di lapangan dengan
mentaati intruksi dari pimpinan. Dan kita melaporkan pekerjaan yang sudah
dikerjakan. Begitu juga menjalankan tugas di lapangan, maka harus sesuai pula
dengan materi janji ketika sedang menghadap pimpinan.

Bagi pimpinan yang sangat menguasai administrasi kepegawaian dalam


perusahaannya, tentu dapat mengetahui kejujuran dan kelicikan pegawainya,
cukup dengan terlebih dulu memeriksa laporan yang disesuaikan dengan fakta-
faktanya. Apabila antara isi laporan dan fakta yang ada di kantor pimpinan itu
ditemui “ketidakberesan”, maka kemudian diperiksa pula bukti-bukti yang telah
kita kerjakan di lapangan. Jelas sekali bahwa menuju beresnya pemeriksaan
mengenai laporan yang tiap hari kita sampaikan itu, harus beres pula dengan
pekerjaan kita di lapangan.
Dalam bacaan shalat ada kalimat tauhid “Asyhadu anlaa ilaha illallaah”, artinya
“aku menyaksikan bahwasanya tidak ada Robb selain Allah”. Terdahulu kita
terangkan bahwa pengertian tentang “Tuhan” menurut Islam adalah Tuhan
sebagai “Rabb” yang memberi tugas beserta peraturan-peraturan-Nya, dan kita
tidak boleh merobah-robah-Nya. Dengan itu, maka kalimat tauhid yang kita
nyatakan ketika melakukan shalat mengandung arti tidak ada ketaatan kepada
sesuatu yang bertentangan dengan undang-undang dari Allah. Maka, adakah
pernyataan kita itu dibuktikan dengan perbuatan sehari-hari di dalam
masyarakat kita ?.

Menghadapi pemeriksaan mengenai shalat, adalah tetap menyangkut dengan


ibadah-ibadah yang berhubungan dengan kemasyarakatan (horizontal)/ghairu
mahdhoh). Sebab, bahwa ungkapan kalimat “hanya kepada engkau kami
menyembah”, dalam shalat dimaksudkan juga sebagai laporan sehari-hari yang
terus bertumpuk. Dan akan diperiksa pada hari kiamat. Serta tepat atau tidaknya
dengan kenyataan, itu pula menjadi pokok tujuan dalam pemeriksaan. Bilamana
dalam kehidupan sehari-harinya itu rela dilandasi dengan hukum-hukum kafir
dengan tidak mencari jalan keluar darinya, maka akan sama halnya dengan
mereka yang merusak janji. Dan laknat bagi yang merusak janji (Al-Baqarah : 27,
Ar-Raa’d : 25). Sama keadaannya dengan shalatnya orang munafik (An-Nisa :
142).

Lain pula halnya bagi yang telah membuktikan diri dengan sehabis-habisnya
usaha dalam mempraktekkan esensi shalatnya di dalam tata kehidupan
bermasyarakat, maka dijuluki sebagai “Aparat” Kerajaan Allah di muka bumi.
Bila pada waktu subuh dia (shalat) menghadap Allah, maka sekitar jam 9.00-
11.00 siang pun berada dalam posisi menjalankan atau memperjuangkan
hukum-hukum Islam supaya berlaku di dalam masyarakat. Kemudian bila pada
waktu dhuhur dia melaporkannya lagi kepada Allah, maka laporannya pun
tidaklah bohong. Demikianlah shalat yang dilakukan oleh umat yang
bertanggung jawab dalam menjalankan Undang-Undang Allah, karena diri
berfungsi sebagai aparat Kerajaan-Nya di muka bumi.

Sungguh berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang fasik ; yang mana
tidak bertanggung jawab terhadap esensi shalat. Dan tidak meyakini kebenaran
Islam. Sehingga mereka tidak dapat mengendalikan nafsu yang bertentangan
dengan isi shalatnya. Sebab itu, telah dijelaskan bahwa setiap yang menolak
tegaknya kekuasaan Islam, maka adalah musuh Islam yang nyata.

Kesimpulannya, bahwasanya Allah sebagai Raja (Mulkussamawaati wal ardhi),


juga Al-Qur’an merupakan Undang-Undang-Nya, maka yang beriman dan
beramal shaleh adalah aparat-Nya di bumi. Sehingga fungsi shalat yang
dilakukannya merupakan laporan (sapta marga) ciri kesediaan menjadi petugas
yang patuh terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Rabbul a’lamiin (Raja
semesta alam). Bila sudah sedemikian menghayatinya, maka Insya Allah
shalatnya dapat menggetarkan jiwa untuk siap berpijak pada Kebenaran Allah.
Selanjutnya terjun ke medan jihad hingga hidupnya ditujukan guna pengabdian
kepada Allah, tempat kembali.

Satu Tanggapan to “Menghayati Fungsi Sholat Bagi Seorang Mukmin”


hendri Says:

Februari 9, 2010 at 1:28 pm

mendirikan shalat tdk hanya pekerjan zahir tetapi pkerjaan batin,

SADAR BAHWA TIDAK LUPUT DARI UJIAN


Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
Leave a Comment

Rate This

1. Berbuat Kemudian Bermohon

Telah menjadi kenyataan dalam sejarah bahwa senjata tidak bisa dilawan
dengan suara. Melainkan, harus dengan senjata pula. Telah kita pahami bahwa
pemerintah thagut itu akan terus merugikan potensi Islam. Karena itu, kita tidak
berpikir mereka akan menyerah tanpa dikenakan tindakan dari kita. Sejalan
dengan itu perhatikan kembali ayat yang bunyinya: “Dan persiapkanlah
kekuatan untuk menghadapi mereka sekuat kemampuanmu…” (Qs. Al Anfal :
60).

Pada ayat di atas itu didapat kata “kekuatan”. Yaitu kekuatan yang menjurus
kepada perlawanan fisik. Nyata bahwa kekuatan yang dimaksud oleh ayat itu
bukan suara hasil permohonan (referendum) kepada pemerintah thagut atau
dari sesuatu pemilihan.

Menghadapi musuh tidak cukup dengan berdo’a yang tidak didahului dengan
perlawanan. Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

(146) ‫ن‬َ ‫صاِبِري‬


ّ ‫ب ال‬ ّ ‫ح‬ ِ ‫ل ُي‬
ُّ ‫سَتَكاُنوا َوا‬
ْ ‫ضُعُفوا َوَما ا‬ َ ‫ل َوَما‬ ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫صاَبُهْم ِفي‬ َ ‫ن َكِثيٌر َفَما َوَهُنوا ِلَما َأ‬ َ ‫ل َمَعُه ِرّبّيْو‬ َ ‫ي َقاَت‬
ّ ‫ن َنِب‬
ْ ‫ن ِم‬
ْ ‫وََكَأّي‬
147) ‫ن‬
َ ‫عَلى اْلَقْوِم اْلَكاِفِري‬َ ‫صْرَنا‬ُ ‫ت َأْقَداَمَنا َواْن‬
ْ ‫سَراَفَنا ِفي َأْمِرَنا َوَثّب‬
ْ ‫غِفْر َلَنا ُذُنوَبَنا َوِإ‬
ْ ‫ن َقاُلوا َرّبَنا ا‬
ْ ‫ل َأ‬ َ ‫)َوَما َكا‬
ّ ‫ن َقْوَلُهْم ِإ‬

“Dan berapa banyaknya Nabi-nabi yang berperang bersama-sama mereka


sejumlah besar dari pengikut-pengikutnya. Mereka tidak lemah karena bencana
yang menimpa mereka dijalan Allah, dan tidak lesu dan tidak menyerah (kepada
musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS.Ali Imran : 146). “Tidak
ada do’a mereka selain ucapan : “Ya, Rabb kami ampunilah dosa-dosa kami dan
tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami (terhadap
kaum kafir), dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum
kafir”. (QS.Ali Imran : 147).

Ayat yang pertama, menerangkan tentang ketabahan dan kesungguh-


sungguhan dalam berperang. Adapun ayat berikutnya, menerangkan tentang
do’a yang diantaranya minta diampuni dosa dari tindakan yang berlebihan
dalam berperang, juga memohon terhindar dari penguasaan kaum kafir. Dengan
itu diambil pengertiannya ialah bahwa sebelum para penegak kalimat Ilahi itu
berdo’a adanya pertolongan dari Allah, maka tidak menyerah terhadap kekuatan
thagut. Jadi, kesimpulannya sebagai berikut di bawah ini :
Bagi yang tidak berjiwa lemah dengan terus mengadakan perlawanan terhadap
kaum kafir, maka dinyatakan oleh Allah, termasuk sebagai orang-orang sabar.
Bilamana kita sudah berbuat dalam hal bertindak melawan musuh, sedang
dalam tindakan itu terjadi sesuatu yang berlebihan, maka jalan satu-satunya
adalah berdo’a agar diampuni dosa. Dan tidak boleh dibesar-besarkan. Sungguh
kerdil bagi yang memperbincangkannya, bila dirinya sendiri tidak ikut bergerak
melawan kafir. Arti lain hanya bisa mencela.
Adanya tindakan berlebihan dari kita yang tidak disengaja, karena luapan
konfrontasi dengan barisan thagut mungkin saja terjadi. Hanya saja dalam hal itu
kita berdo’a agar diampuni dosa kita. Sebab, jangankan kita bahkan umat
terdahulu pun demikian.

Demikian halnya bila merasa belum ada kemampuan untuk menghancurkan


kekuatan thagut, maka harus terlebih dahulu kita membuktikannya melalui
gerakan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadist Saw. Perlawanan demikian itu
merupakan ujian bagi kita. Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :
… ‫عَماَلُهْم‬
ْ ‫ل َأ‬
ّ‫ض‬ِ ‫ن ُي‬
ْ ‫ل َفَل‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫ن ُقِتُلوا ِفي‬
َ ‫ض َواّلِذي‬
ٍ ‫ضُكْم ِبَبْع‬
َ ‫ن ِلَيْبُلَو َبْع‬
ْ ‫صَر ِمْنُهْم َوَلِك‬
َ ‫لْنَت‬
َ ‫ل‬
ُّ ‫شاُء ا‬
َ ‫َوَلْو َي‬

“…dan apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka


(orang-orang kafir, dhalim, fasik). Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian
kamu dengan yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, tidak
disia-siakan amal mereka.” (Qs. Muhammad : 4).

Menghadapi lawan tidak boleh hanya dengan mengharapkan Allah saja yang
membinasakannya. Sebab, bahwa adanya mereka itu adalah sebagai penguji
terhadap keimanan kita ; apa mau terus tunduk ataukah akan melawan terhadap
mereka. Kalau kita tunduk kepada mereka, berarti tidak taat kepada Allah, dan
jahannam di hadapan kita. Jika kita tunduk kepada Allah, maka harus melawan
mereka dan risikonya adu kekuatan, bahkan mungkin juga berpisah dengan
alam dunia. Di sini letak ujian, mana yang mau dipilih ?.

2. Pasrah Terhadap Cobaan

Disebut “beriman”, karena didasari oleh keyakinan “diberi amanat dari Allah”.
Dengan begitu akan sadar bahwa apa pun yang menimpa padanya tidak lebih
dari akan kembali kepada Allah. Sehingga hidupnya bertujuan mengemban
amanat Allah, supaya dipercaya sebagai “pemegangnya”. Karena itu, tidak
dijuluki beriman, bila tidak memegang amanat Allah. Bagi yang beriman itu
bahwa soal menghadapi kekuatan thagut adalah soal biasa. Melawan atau tidak
melawan terhadap thagut, maka tetap kita bakal bertanggung jawab kepada
Allah dari hal kemampuan kita memperjuangkan hukum-hukum-Nya.

Sudah menjadi ketentuan bagi yang memegang amanat Allah, bila dalam
memperjuangkannya itu akan menghadapi berbagai macam cobaan.
Sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat yang bunyinya :

‫ن َءاَمُنوا‬
َ ‫ل َواّلِذي‬
ُ ‫سو‬ ُ ‫ل الّر‬
َ ‫حّتى َيُقو‬َ ‫ضّراُء َوُزْلِزُلوا‬
ّ ‫ساءُ َوال‬
َ ‫سْتُهُم اْلَبْأ‬
ّ ‫ن َقْبِلُكْم َم‬
ْ ‫خَلْوا ِم‬
َ ‫ن‬
َ ‫ل اّلِذي‬
ُ ‫جّنَة َوَلّما َيْأِتُكْم َمَث‬
َ ‫خُلوا اْل‬
ُ ‫ن َتْد‬
ْ ‫سْبُتْم َأ‬
ِ‫ح‬
َ ‫َأْم‬
214) ‫ب‬ ٌ ‫ل َقِري‬ ِّ ‫صَر ا‬ْ ‫ن َن‬
ّ ‫ل ِإ‬
َ ‫ل َأ‬ ْ ‫)َمَعُه َمَتى َن‬
ِّ ‫صُر ا‬

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang-orang
beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah ? “Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. 2 : 214).

Dari ayat di atas itu diambil ketegasannya, bahwa untuk ke surga tidak bisa
ditempuh dengan cara bersantai. Pada galibnya, bahwa bagi seseorang untuk
memperoleh kesenangan duniawi saja harus terlebih dulu mengalami jerih
payah. Maka, apalagi untuk mencapai sorga, tempat kenikmatan yang abadi,
yang mana sejak diri dilahirkan, kita tidak melihat pernyataan yang mewariskan
pada kita untuk memilikinya. Artinya, bahwa diri belum tahu akan di mana
tempat kita. Sedangkan selain surga adalah neraka…….. Dan hanya satu
alternatif jika tidak di surga, maka di neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Jelaslah
pula jalan ke surga tidak diraih dengan berkaok-kaok tanpa pembuktian langkah
yang menuju pelaksanaannya. “Alangkah besarnya kebencian di sisi Allah bahwa
kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. 61 Ash-Shaff : 3).

Kembali kepada masalah “tidak lepas dari ujian”, kita perhatikan ayat yang
menerangkan tentang ujian bagi pengikut Rasulullah Saw yang bunyinya :

155) ‫ن‬
َ ‫صاِبِري‬
ّ ‫شِر ال‬
ّ ‫ت َوَب‬
ِ ‫س َوالّثَمَرا‬
ِ ‫لنُف‬
َ ‫ل َوْا‬
ِ ‫لْمَوا‬
َ ‫ص ِمنَ ْا‬
ٍ ‫ع َوَنْق‬
ِ ‫جو‬
ُ ‫ف َواْل‬
ِ ‫خْو‬
َ ‫ن اْل‬
َ ‫يٍء ِم‬ َ ‫)َوَلَنْبُلَوّنُكْم ِب‬
ْ ‫ش‬

“Dan sungguh akan kami berikan ujian kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi
orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155).

Ayat tersebut di atas itu ditujukan kepada yang telah berada pada garis furqon,
atau kepada yang telah bertekad melawan kekuatan pemerintah musyrik. Berarti
hanya kepada yang telah bersedia berperang. Sebab, bahwa ujian berupa
adanya kelaparan yang secara mutlak tidak membedakan antara yang kaya dan
yang miskin, hanyalah dalam berperang. Walau sebagai hartawan, tetapi bila di
medan perang tentu akan sama saja laparnya dengan yang miskin. Dan hanya
dalam berperang akan terasa adanya hal-hal seperti yang dicantumkan pada
ayat tadi. Dan juga ayatnya memang diturunkan berurutan dengan ayat
mengenai hal yang berperang pada jalan Allah (QS. 2 : 154).

Tentu saja hal-hal yang diungkapkan oleh ayat di atas tadi itu tidak berlaku bagi
yang kaya raya ; sedang jumud dan pengecut. Pula tidak berlaku bagi yang
beratribut kiai haji, tetapi penjilat ; dengan tidak merasa akan menghadapi
musuh. Bagi yang serba cukup dalam duniawi sedemikian itu, tidak terpikir
olehnya akan situasi kelaparan, sebab tidak mempunyai tekad untuk pergi
berperang. Baginya tidak akan merasa ketakutan, karena tidak punya rasa bakal
diancam oleh thagut ; yang mana thagut pun telah dianggapnya sebagai kawan.
Dan memang baginya tidak merasa mempunyai musuh, walau hidup di bawah
pelaksanaan hukum-hukum dari KUHPidana, jahiliyah. Dirinya pun tidak bakal
merasa kekurangan harta, sebab sebagian besar waktunya juga hanya
dipergunakan mencari “duit”, yang tidak diarahkan untuk konfrontasi dengan
pemerintah kafir. Dalam hatinya pun tidak terlintas akan adanya korban jiwa,
karena manusia yang serupa itu selalu mengikuti pemerintah mana saja yang
sedang menang. Para pengekor dan sebangsanya itu berlagak tidak tahu bahwa
Islam sedang dipreteli dan hukum-hukumnya diinjak-injak thagut. Tafakurilah
oleh bapak-bapak ; apakah ayat Al-Qur’an di atas tadi tidak berlaku bagi anda
atau karena memang setan selalu menggandeng anda hingga diri sukar
menerima kebenaran Ilahi ?

Sampai di sinilah uraian ringkas mengenai proses perjuangan yang dapat penulis
kemukakan dalam buku ini yaitu ;
Menempatkan pola Rasulullah Saw sebagai strategi perjuangan.
Adanya jama’ah yang riil.
Berada di dalam furqon.
Berjihad fisabilillah.
Memiliki kekuatan senjata.
Sadar bahwa tidak luput dari ujian.

Musuh Yang Tersembunyi dan Musuh Yang Nyata


Posted by abuqital1 under Furqon di Indonesia
Leave a Comment

Rate This

A. Musuh yang Tersembunyi

1. Siasat Dengan Membangun Mesjid


Bila dalam kalangan yang menentang kedaulatan Islam itu di antaranya ada
yang mendirikan mesjid, maka darinya tak usah kita tercengang. Sebab, musuh-
musuh Islam pada zaman Nabi pun di dapat pula yang membangun mesjid. Hal
itu diterangkan dalam ayat yang bunyinya :

107)…‫ن‬
َ ‫ن اْلُمْؤِمِني‬
َ ‫ضَراًرا َوُكْفًرا َوَتْفِريًقا َبْي‬
ِ ‫جًدا‬
ِ‫س‬
ْ ‫خُذوا َم‬ َ ‫)َواّلِذي‬
َ ‫ن اّت‬

“Dan di antara orang-orang (munafik) ada yang mendirikan mesjid karena


hendak membuat bahaya dan kekafiran, juga untuk memecah belah antara
orang-orang mu’min….” (QS. At-Taubah : 107).

Dengan ayat diatas itu nyatalah bahwa di antara sekian banyak taktik yang
digunakan musuh, antara lain mereka pakai pula siasat dengan cara
membangun mesjid sebagai politik menyelimuti diri agar tidak diketahui sebagai
musuh Islam. Tak ragu lagi bahwa mesjid yang bagaimana pun mewahnya, bila
sementara di bawah kekuasaan zalim, maka sebagian jama’ahnya pun pada
umumnya kerap kali tidak dapat menahan arus kebudayaan yang senantiasa
merusak kepribadian muslim. Juga, kegiatan jama’ah serta isi yang
dikhutbahkannya pun acap kali tidak luput dari ketentuan yang digariskan oleh
para aparat thogut. Sehingga masjid serupa itu sukar untuk berfungsi
sebagaimana mestinya.

Hanya sekedar adanya mesjid yang jama’ahnya tidak mampu menterapkan


syari’at Islam secara keseluruhan, maka darinya pula musuh akan tetap merasa
senang. Setan dan yang sebangsa dengan iblis lainnya pun masih bergembira.
Sebab, setan-setan itu menganggap keadaan sedemikian itu telah hampir
mencapai hasil yang ditargetkan dalam penyesatan terhadap manusia. Yang
penting bagi setan bahwa manusia itu harus masuk neraka. Tampaknya biarlah
manusia itu pada masuk ke mesjid asalkan sebagian hukum-hukum Allah tidak
mereka pakai, hal itu cukup buat menemani setan di jahannam. Itu pola tujuan
setan yang asli. Maka, bagaimanakah bedanya dengan para setan yang boleh
kita sebut sebagai “Thagut di Indonesia” ? Silahkan merenung….Ya, thagut itu
tidak akan apa-apa asalkan muslim di Indonesia pun tidak berpegang pada
Kitabbullah, melainkan pada “aturan hukum jahiliyah”, Kehendak setan.

Wahai generasi penerus tegaknya “Aturan-Aturan Allah”, hayatilah bahwa


meskipun sering kali bersujud dalam mesjid, namun bila berdiam diri, tidak
berpijak pada posisi “Furqan”, maka berarti belum dapat bersujud yang sebenar-
benarnya kepada Allah SWT. Oleh karena itu, bahwa menegakkan atau
mendhahirkan negara yang berlandaskan Islam itu berarti membangun mesjid
yakni tempat bersujud yang sangat luas. Karena, di dalamnya itu insya Allah kita
dapat mengamalkan semua yang dikandung dalam Kitabbullah tanpa
penghalang dari kekuatan mana pun.

2. Siasat Dengan Cara Melakukan Shalat


Selain musuh Islam yang menjalankan gerak tipu dengan cara membangun
mesjid, ada pula siasat musuh yang menggunakan taktik dengan cara
melakukan sholat. Lihat petikan ayat yang bunyinya:

… 142) ‫ل‬
ً ‫ل َقِلي‬
ّ ‫ل ِإ‬
َّ ‫ن ا‬
َ ‫ل َيْذُكُرو‬
َ ‫س َو‬
َ ‫ن الّنا‬
َ ‫ساَلى ُيَراُءو‬
َ ‫لِة َقاُموا ُك‬
َ‫ص‬ّ ‫)َوِإَذا َقاُموا ِإَلى ال‬

“Bila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri malas. Mereka bermaksud
untuk dilihat manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit
sekali.” (QS. An-Nisa : 142).

Yang dimaksud dengan sedikit sekali, yakni mengerjakannya hanya sewaktu-


waktu bila berada dihadapan orang. Tentu terhadap perintah-perintah Allah pun
hanya menyetujui sebagian dan menolak sebagiannya lagi.

Tidak dipungkiri bila sejarah telah membuktikan bahwa sebagian dari muslimin
terjebak oleh tipuan serupa dengan yang sebagaimana dinyatakan dalam ayat di
atas itu. Sehingga banyak yang tidak merasakan keberadaannya musuh, atau
tidak adanya pemisahan antara diri dan musuh Agamanya. Bahkan membiarkan
musuh memperoleh peluang guna mengembangkan pengaruh. Sehingga musuh
yang tersembunyi itu menyetir umat Islam kejurang yang tidak dapat
membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.

Guna menghadapi persoalan itu marilah kita lihat Firman Allah yang bunyi-Nya :

70)…‫حَياُة الّدْنَيا‬
َ ‫غّرْتُهُم اْل‬
َ ‫خُذوا ِديَنُهْم َلِعًبا َوَلْهًوا َو‬ َ ‫)َوَذِر اّلِذي‬
َ ‫ن اّت‬

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-


main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia…” (QS. Al-
An’aam : 70).

Kita diperintah meninggalkan mereka, artinya kita harus membuat garis pemisah
dari mereka. Karena itu, harus mempunyai ketegasan dalam penentuan
terhadap siapa saja yang masih memihak atas thagut, pula siapa yang sudah
berpihak pada jama’ah pengemban amanat Allah SWT.

3. Siasat Dengan Menyelenggarakan Upacara – Upacara yang Bernada


Keagamaan

Janganlah terpesona bila melihat para penggede dari pemerintah thagut yang
melakukan upacara ritual, untuk mengumandangkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebab,
bahwa sikap musuh terhadap Al-Qur’an itu terdiri dari beberapa macam :

1) Ada yang menjalankan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an, dan menolak


sebagiannya lagi. Firman Allah yang bunyi-Nya :

91) ‫ن‬
َ ‫ضي‬
ِ ‫ع‬
ِ ‫ن‬
َ ‫جَعُلوا اْلُقْرَءا‬ َ ‫)اّلِذي‬
َ ‫ن‬
“Orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi.” (QS. A Al-Hijr :
91).

2) Ada yang mengetahui Al-Qur’an, tetapi tidak menjadikannya pedoman hidup,


karena hati mereka tertutup dari kebenaran Ilahi. Firman Allah SWT yang bunyi-
Nya :

24) ‫ب َأْقَفاُلَها‬
ٍ ‫عَلى ُقُلو‬
َ ‫ن َأْم‬
َ ‫ن اْلُقْرَءا‬ َ ‫)َأَف‬
َ ‫ل َيَتَدّبُرو‬

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an atau hati mereka terkunci
?” (QS. Muhammad : 24).

3) Ada yang sama sekali tidak mempercayai Al-Qur’an. Firman Allah SWT yang
bunyi-Nya :
‫ن َيْفَقُهوُه َوِفي‬
ْ ‫عَلى ُقُلوِبِهْم َأِكّنًة َأ‬ َ ‫( َو‬45) ‫سُتوًرا‬
َ ‫جَعْلَنا‬ ْ ‫جاًبا َم‬
َ‫ح‬ِ ‫خَرِة‬ ِ ‫ن ِبْال‬
َ ‫ل ُيْؤِمُنو‬َ ‫ن‬
َ ‫ن اّلِذي‬
َ ‫ك َوَبْي‬
َ ‫جَعْلَنا َبْيَن‬
َ ‫ن‬
َ ‫ت اْلُقْرَءا‬
َ ‫َوِإَذا َقَرْأ‬
46) ‫عَلى َأْدَباِرِهْم ُنُفوًرا‬ َ ‫حَدُه َوّلْوا‬
ْ ‫ن َو‬ِ ‫ك ِفي اْلُقْرَءا‬
َ ‫ت َرّب‬ َ ‫)َءاَذاِنِهْم َوْقًرا َوِإَذا َذَكْر‬

“Dan apabila engkau membaca Al-Qur’an dihadapan mereka, Kami jadikan


antara engkau dan di antara mereka yang tidak beriman kepada kehidupan
akhirat, suatu tirai yang tertutup”. (QS. Al Israa : 45).

“Dan kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbat telinga mereka, agar
mereka tidak dapat memahaminya”. (QS. Al Israa : 46).

Dengan keterangan ayat-ayat di atas itu, pantaslah bagi kaum thagut bahwa
pendengungan ayat-ayat Al-Qur’an itu hanya merupakan “show” terhadap publik
atau pelarian diri dari kesepian, serta keuntungan lainnya di luar maksud ibadah.
Sebab, bahwa musuh tersembunyi itu ada yang melalui lisannya ; percaya
terhadap Al-Qur’an, tetapi dalam hatinya sungguh ingkar. Firman Allah yang
bunyi-Nya :

… 41)…‫ن ُقُلوُبُهْم‬
ْ ‫ن َقاُلوا َءاَمّنا ِبَأْفَواِهِهْم َوَلْم ُتْؤِم‬ َ ‫)ِم‬
َ ‫ن اّلِذي‬

“….orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka : “Kami telah beriman,


padahal hati mereka tidak beriman….” (QS. Al Maidah : 41).

Kesimpulannya bahwa musuh Islam yang tersembunyi itu yaitu semua yang
berusaha merintangi tujuan bertegaknya kekuasaan Islam. Baik merintanginya
itu dengan berterang-terangan maupun dengan cara lumat. Juga, apa itu
datangnya dari penguasa atau ulama model Van Snouk dan Van der vlas yang
berfungsi selaku corong-corongnya.

B. Musuh yang Nyata

Telah kita nyatakan bahwa tujuan perjuangan ini adalah mengabdi kepada Allah.
Hal demikian mengandung arti bahwa pangkal ketundukan kita hanya satu ;
kepada Allah SWT. Sehingga wajib berhijrah (ingkar) dari kekuasaan yang bathil
kemudian mempertahankan yang hak dan melawan yang bathil, sebagai
realisasi (pembuktian diri) dalam bertujuan menjalankan Undang-Undang Allah
SWT di muka bumi.

Bila telah berhijrah pada jalan Allah secara terbuka, berarti sudah harus dengan
nyata terang-terangan melawan musuh. Akan tetapi, bila hijrah kita ini baru
dalam bentuk aqidah (maa’ny), maka meskipun masih dikuasai musuh, namun
tetap wajib mendobraknya. Dan dibuktikan dengan membuat gerakan
tersembunyi (sirron). Yaitu membuat persiapan dengan tidak diketahui oleh
musuh (telah kita kemukakan QS. 3 : 28-30). Perlawanan underground itu
hanyalah dalam batas sementara, belum mampu melawan secara terbuka atau
memang sengaja karena bertugas menyusup kedalam struktur musuh. Dengan
demikian, maka sebenarnya bagi yang sudah berhijrah pada jalan Allah itu,
sudah memahami pula penentuan mengenai “musuh yang nyata (dhahir)”. Yakni
yang secara terang memusuhi atau merintangi terhadap jalannya kedua bentuk
hijrah tadi. Ya, kalau bagi yang tidak berhijrah, mana bisa dia merasakan adanya
musuh Islam. Toh, dirinya pun sama dengan kafir (kompromi dengan thagut).
Sehingga dibiarkan oleh pemerintah musyrik.

Karena itu, kita tidak heran bila melihat yang seolah-olah suka melakukan puasa
dan shalat dan menunaikan haji, namun menentang terhadap tujuan berlakunya
hukum Islam secara totalitas. Manusia sedemikian itu telah mencampuradukkan
antara yang hak dan yang bathil. Dari sikap itu kita terhadap semua yang
merintangi gerakan kita, mereka adalah musuh yang dhahir alias “nyata”.
Adanya hal semacam itu hanya dapat dirasakan oleh yang benar-benar tidak
ingin mencampuradukkan antara yang hak dengan yang bathil. Artinya, hanya
oleh yang sudah berada dalam “FURQON”.

enguliti Mitos RI Hasil Buatan Sukarno dengan Kelompok Unitaris RI nya (Bag 1)
Posted by abuqital1 under Kronologi Hilangnya Nilai Proklamasi RI
[4] Comments

2 Votes

PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, MATI DAN HIDUPNYA RI

Artikel ini untuk menjawab wacana yang ada di facebook tentang nama negara
di Indonesia yang sebenarnya RI atau NKRI. Pemuatan artikel ini bertujuan
untuk:
Meluruskan sejarah perjuangan bangsa Indonesia khususnya tentang RI yang
kurang transparan dalam pembelajaran sejarah di Indonesia khususnya untuk
para siswa mulai SD sampai SMA/ SMK
Sebagai Dalil bahwa Negara Islam Indonesia itu berdiri tidak berada didalam
wilayah kekuasaan negara RI.
Bahwa negara hari ini yang sedang berkuasa adalah NKRI yang merupakan
buatan Belanda, bukan RI yang diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Hatta.

Artikel ini diambil dari http://www.dataphone.se/~ahmad tertanggal 070817 (17


Agustus 2007). Mengingat isi artikel ini cukup padat maka pembuat blog
membagi menjadi dua bagian:

Bagaimana sebenarnya pertumbuhan, perkembangan, mati dan hidupnya RI ini?


Mengapa para penerus Soekarno terus memakai cerita mitos 62 tahun?. Padahal
NKRI baru dijelmakan pada tanggal 15 Agustus 1950 diatas 15 puing-puing
negara bagian RIS dan Acheh serta Maluku Selatan.

Setidaknya artikel ini dapat dijadikan “salah satu” bekal agar tidak kaget, bila
setelah Pulau Sipadan dan Ligitan akan menyusul Pulau Ambalat, bahkan
Malaysia punya rencana lagi mengambil alih Pulau Maratua dan Sambit“. Belum
lagi gejolak di negeri sendiri mulai dari RMS, Papua Merdeka (OPM) , Aceh (GAM)
yang kini lebih memilih bergabung dan Negara Islam Indonesia yang sudah
berdiri secara defacto dan de jure tetapi kemudian dirampas wilayah
kekuasaannya oleh RI dengan bantuan sekutunya pada waktu itu. Mengapa bisa
terjadi seperti itu ? Karena mereka semuanya tahu betul sejarah RI apalagi bila
ditinjau secara hukum internasional tentang kedaulatan negara.

Untuk lebih jelasnya silakan baca dengan seksama isi materi ini;

Nah, mari kita kupas sedikit bagaimana itu sebenarnya proses tumbuh dan
berkembangnya serta mati dan hidupnya RI yang katanya pada hari ini, Jumat,
17 Agustus 2007 NKRI berusia 62 tahun. Apakah benar anggapan para penerus
Soekarno ini?

Ketika RI diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus


1945, secara de-jure Negera RI telah berdiri. Tetapi secara de-facto, artinya
wilayah kekuasaannya, masih belum jelas secara pasti dimana batas-batasnya.
Dalam hal ini hanya mengikuti apa yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945
yang berbunyi “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan
Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia”. Mengapa ?

Karena bisa saja yang dimaksud dengan “seluruh tumpah darah Indonesia” itu
adalah hanya sekitar Jakarta saja atau hanya seluruh pulau Jawa saja atau hanya
sekitar pulau Sumatera saja atau hanya seluas pulau Kalimantan saja atau hanya
sekitar pulau Maluku saja. Jadi yang dinamakan dengan “seluruh tumpah darah
Indonesia” adalah relatif.

ketika Soekarno membentuk Kabinet RI pertama pada awal bulan September


1945, ternyata Soekarno mengklaim bahwa “seluruh tumpah darah Indonesia”
adalah Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku,
Sulawesi, dan Kalimantan. Sehingga diangkatlah 8 orang Gubernur untuk
kedelapan propinsi yang diklaim Soekarno itu, salah satu Gubernur yang
diangkat Soekarno itu adalah Mr. Teuku Mohammad Hassan untuk propinsi
Sumatra. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986,
hal.30)

Sekarang timbul pertanyaan, apakah benar pengklaiman wilayah RI yang dibuat


diatas kertas oleh Soekarno tersebut? Tentu saja jawabannya adalah tidak benar.
Mengapa ? Karena terbukti setelah pembentukan Kabinet Pertama RI timbul
berbagai perang dimana-mana;
Misalnya di Sumatra, pasukan Sekutu (Inggris – Gurkha) yang diboncengi oleh
tentara Belanda dan NICA (Netherland Indies Civil Administration) dibawah
pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan pada tanggal 9
Oktober 1945. Pada tanggal 13 Oktober 1945 terjadi pertempuran pertama
antara para pemuda dan pasukan Belanda yang dikenal dengan pertempuran
“Medan Area”. Pada tanggal 10 Desember 1945 seluruh daerah Medan digempur
pasukan Sekutu dan NICA lewat darat dan udara. Kemudian Padang dan
Bukittinggipun digempur pasukan Sekutu dan serdadu NICA.
Sedangkan di Acheh karena Sekutu menggerakkan pasukan-pasukan Jepang
untuk menghadapi dan menghantam pejuang-pejuang Islam Acheh, maka
pecahlah pertempuran yang dikenal sebagai peristiwa Krueng Panjo/Bireuen,
pada bulan November 1945. Kemudian Sekutu mengirim lagi pasukan Jepang
dari Sumatra Timur menyerbu Acheh sehingga terjadi pertempuran besar di
sekitar Langsa/Kuala Simpang. Pihak pejuang Islam Acheh yang langsung
dipimpin oleh Residen Teuku Nyak Arif. Kemudian pasukan Jepang dapat dipukul
mundur. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986,
hal.70-71)
Begitu juga di Jawa, seperti pertempuran di Semarang yang dimulai pada tanggal
14 Oktober 1945 selama lima hari . Perang antara pasukan Veteran Angkatan
Laut jepang Kidobutai melawan TKR. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949,
Sekretariat Negara RI, 1986, hal.50). Selanjutnya pertempuran di Ambarawa
yang diawali oleh mendaratnya tentara Sekutu dibawah pimpinan Brigadir
Jenderal Bethel di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. (30 Tahun Indonesia
Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.68). Seterusnya
pertempuran di Surabaya yang dimulai 2 hari setelah Brigae 49/Divisi India ke-23
tentara Sekutu (AFNEI) dibawah komando Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby
mendarat untuk pertamakali di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. (30
Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.57).
Karena Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby dibunuh, maka pihak Sekutu
mengeluarkan ultimatun pada tanggal 9 November 1945. Kemudian pada
tanggal 10 November 1945 pecah pertempuran. (30 Tahun Indonesia Merdeka,
1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.58)

Sekarang, setelah terjadi pertempuran dimana-mana, maka antara pihak RI dan


Belanda mengadakan perundingan di Linggajati, yang dilaksanakan pada tanggal
25 Maret 1947. Penandatanganan persetujuan Linggajati di Istana Rijswijk,
sekarang Istana Merdeka, Jakarta. Dari pihak RI ditandatangani oleh Sutan
Sjahrir, Mr.Moh.Roem, Mr.Soesanto Tirtoprodjo, dan A.K.Gani, sedangkan dari
pihak Belanda ditandatangani oleh Prof.Schermerhorn, Dr.van Mook, dan van
Poll. Isi perjanjian Linggajati itu, “secara de facto RI dengan wilayah kekuasaan
yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura”. RI dan Belanda akan bekerja sama
dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama RIS, yang salah satu
negara bagiannya adalah RI. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-
Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya. (30 Tahun Indonesia Merdeka,
1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.119,138).

Coba sekarang perhatikan, secara de facto daerah RI setelah perjanjian


Linggajati bukan yang diklaim oleh Soekarno pada mulanya yaitu Sumatra, Jawa
Barat, Jaa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan,
tetapi ternyata hanya meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. Kemudian kalau kita
mempelajari lebih lanjut, dari mulai tanggal 25 Maret 1947, ternyata daerah
wilayah de-facto Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan tidak lagi
termasuk wilayah de-facto dan de-jure RI. Karena wilayah daerah kekuasaan RI
secara de-facto hanyalah Sumatera, Jawa dan Madura.

Renungkan dan Pahami !!! Bagi Muslim di Indonesia hendaknya paham bahwa
setelah perjanjian Linggarjati, RI merupakan Negara Bagian dari RIS yang
merupakan buatan Belanda.

Seterusnya, 10 bulan kemudian, diadakan perundingan Renville yang


ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948, dimana dari hasil perjanjian
Renville yang sebagian isinya menyangkut gencatan senjata disepanjang garis
Van Mook dan pembentukan daerah-daerah kosong militer. Secara de jure dan
de facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta dan daerah sekitarnya
saja. Perjanjian Renville ini ditandatangani oleh Perdana Mentri Mr. Amir
Sjarifuddin dari Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H.A. Salim,
Dr.Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949,
Sekretariat Negara RI, 1986, hal.155,163)

Sekarang yang dipertanyakan adalah, apa yang terjadi setelah perjanjian


Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948.? Ternyata wilayah kekuasaan
secara de-facto dan de-jure RI adalah di Yogyakarta dan daerah sekitarnya. Jadi,
akibat dari ditandatangani Perjanjian Renville inilah kekuasaan wilayah RI hanya
di Yogyakarta dan daerah sekitarnya saja.

Renungkan dan Pahami !!! Bagi Muslim di Indonesia hendaknya paham bahwa
setelah perjanjian Renville, ternyata wilayah kekuasaan secara de-facto dan de-
jure RI adalah di Yogyakarta dan daerah sekitarnya.

Seterusnya, apa yang terjadi pada tanggal 19 Desember 1948? Ternyata setelah
wilayah Negara RI pimpinan Soekarno digempur oleh pasukan Beel pada tanggal
19 Desember 1948 dan TNI tidak mampu melawan pasukan Beel, akhirnya
Yogyakarta dan daerah sekitarnya jatuh, Soekarno dan Mohammad Hatta
ditawan dan diasingkan ke Bangka.
Renungkan dan Pahami !!! Bagi Muslim di Indonesia hendaknya paham bahwa
sejak tanggal 19 Desember 1948 inilah diawali babak baru RI yang
diproklamasikan Soekarno secare de-facto dan de-jure lenyap dari permukaan
bumi, yang timbul adalah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang
dibentuk oleh Sjafruddin Prawiranegara berdasarkan dasar hukum mandat yang
dibuat dalam Sidang Kabinet RI yang masih sempat diajalankan sebelum RI
lenyap, dan sempat dikirimkan melalui radiogram kepada Sjafruddin
Prawiranegara yang waktu itu berada di Sumatera.

Kemudian, disaat RI hilang dari permukaan bumi dan Soekarno cs di mendekam


di Bangka, lahirlah Resolusi PBB No.67(1949) tanggal 28 Januari 1949, yang
sebagian isinya menyatakan:

The Security Council,


Noting with satisfaction that the parties continue to adhere the principles of the
Renville Agreement and agree that free and democratic elections should be held
throughout Indonesia for the purpose of establishing a constituent assembly at
the earlist practicable date…
Noting also with satisfaction that the Goverenment of the Netherlands plans to
transfer sovereignty to the United States of Indonesia by 1 January 1950 if
possible, and in any caseduring the year 1950.
Recommends that, in the interest of carrying out the expressed objectives and
desires of both parties to establish a federal, independent and sovereign United
States of Indonesia at the earliest possible date, negotiations be undertaken as
soon as possible by representatives of the Goverenment of the Netherlands and
refresentatives of the Republic of Indonesia, with the assistance of the
Commission referred to in paragraph 4 below, on the basis of the principles set
forth in the Linggadjati and Renville Agreements. (PBB resolution No.67(1949),
28 January 1949, adopted at the 406th meeting)

Nah disini kelihatan bahwa berdasarkan Resolusi PBB no.67(1949) tanggal 28


Januari 1949 dinyatakan bahwa hasil Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947 dan
Perjanjian Renville 17 Januari 1948 adalah merupakan dasar hukum untuk
membentuk Negara Indonesia Serikat yang berbentuk federasi yang akan diakui
kedaulatannya oleh Belanda paling lambat tanggal 1 Januari 1950.

Mengapa dimasukkan hasil Perjanjian Linggajati dan Perjanjian Renville dalam


Resolusi PBBNo.67(1949) itu?

Karena, dalam Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947 disebutkan bahwa RI dan


Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat,
dengan nama RIS, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia.
RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda
selaku ketuanya.
Jadi untuk pengakuan kedaulatan dari Belanda kepada United States of Indonesia
atau Negara Indonesia Serikat perlu segera diadakan perundingan baru untuk
membentuk satu negara yang berbentuk federasi dimana negara RI adalah salah
satu Negara Bagian United States of Indonesia.

Berdasarkan Resolusi PBB No.67(1949) melalui Pemerintah Darurat Republik


Indonesia dibawah Sjafruddin Prawiranegara mengadakan perundingan baru
yang disebut perundingan Roem Royen.

Pihak RI yang pemerintahnya digantikan oleh PDRI diwakili oleh delegasi yang
dipimpin oleh Mr. Moh. Roem sedangkan pihak Belanda diketuai oleh Dr. Van
Royen. Dimana perjanjian itu ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Jakarta
yang sebagian isinya adalah turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den
Haag, dengan maksud untuk mempercepat penyerahan kedaulatan yang
sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat.
Dimana Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari
Negara Indonesia Serikat. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat
Negara RI, 1986, hal.210).

Berdasarkan hasil perundingan Roem Royen inilah, pada tanggal 6 Juli 1949
Soekarno dan Mohammad Hatta dibebaskan dan bisa kembali lagi ke
Yogyakarta. Dan untuk menghidupkan kembali Negara RI yang telah hilang itu
secara de-facto dan de-jure ini, pihak Pemerintah Darurat Republik Indonesia
dibawah pimpinan Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengembalikan lagi mandat
kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta pada tanggal 13 Juli 1949 di Jakarta.

Kemudian, sebelum dilangsungkan Konferensi Meja Bundar, pada tanggal 19-22


Juli 1949 di Yogyakarta dan pada tanggal 31 Juli sampai tanggal 2 Agustus 1949
di Jakarta diadakan Konferensi Inter-Indonesia antara wakil-wakil RI dan
Pemimpin-Pemimpin Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) atau Badan
Permusyawaratan Federal. Dalam sebagian besar pembicaraan di Konferensi
Inter-Indonesia ini adalah membicarakan pembentukan Republik Indonesia
Serikat (RIS).

Selanjunya pada tanggal 23 Agustus 1949 dilaksanakan Perundingan Konferensi


Meja Bundar (KMB) di Ridderzaal, Den Haag, Belanda.

Ada 4 utusan yang ikut dalam KMB ini.

Pertama, utusan dari Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) atau Badan
Permusyawaratan Federal dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Kalimantan Barat.
Dimana BFO ini anggotanya adalah 15 Negara/Daerah Bagian, yaitu Daerah
Istimewa Kalimantan Barat, Negara Indonesia Timur, Negara Madura, Daerah
Banjar, Daerah Bangka, Daerah Belitung, Daerah Dayak Besar, Daerah Jawa
Tengah, Negara Jawa Timur, Daerah Kalimantan Tenggara, Daerah Kalimantan
Timur, Negara Pasundan, Daerah Riau, Negara Sumatra Selatan, dan Negara
Sumatra Timur. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI,
1986, hal.244).

Kedua, utusan dari Republik Indonesia menurut perjanjian Renville 17 Januari


1948 yang anggota juru rundingnya adalah Drs. Moh. Hatta, Mr. Moh. Roem,
Prof. Dr. Mr. Soepomo, Dr. J. Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo, Ir. Djuanda, Dr.
Soekiman, Mr. Soeyono Hadinoto, Dr. Soemitro djojohadikusumo, Mr. Abdul
Karim Pringgodigdo, Kolonel T.B. Simatupang, dan Mr. Soemardi.

Ketiga, utusan dari Kerajaan Belanda yang delegasinya diketuai oleh Mr. Van
Maarseveen.

Keempat, utusan dari United Nations Commission for Indonesia (UNCI) dipimpin
oleh Chritchley.

Dimana dalam perundingan KMB ini yang hasilnya ditandatangani pada tanggal
2 November 1949 telah disepakati bahwa Belanda akan menyerahkan
kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada akhir bulan Desember
1949. Mengenai Irian barat penyelesaiannya ditunda selama satu tahun.
Pembubaran KNIL dan pemasukan bekas anggota KNIL ke dalam Angkatan
Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), adanya satu misi militer Belanda di
Indonesia, untuk membantu melatih APRIS dan pemulangan anggota KL dan KM
ke Negeri Belanda. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara
RI, 1986, hal.236- 237).

Kemudian realisasi dan pelaksanaan dari hasil hasil perundingan KMB ini yaitu,

Pertama, pada tanggal 14 Desember 1949 pihak RI masuk menjadi anggota


Negara Bagian RIS dengan menandatangani Piagam Konstitusi RIS di
Pegangsaan Timur 56, Jakarta, yang ditandatangani oleh para utusan dari 16
Negara/Daerah Bagian RIS, yaitu Mr. Susanto Tirtoprodjo (Negara Republik
Indonesia menurut perjanjian Renville), Sultan Hamid II (Daerah Istimewa
Kalimantan Barat), Ide Anak Agoeng Gde Agoeng (Negara Indonesia Timur),
R.A.A. Tjakraningrat (Negara Madura), Mohammad Hanafiah (Daerah Banjar),
Mohammad Jusuf Rasidi (Bangka), K.A. Mohammad Jusuf (Belitung), Muhran bin
Haji Ali (Dayak Besar), Dr. R.V. Sudjito (Jawa Tengah), Raden Soedarmo (Negara
Jawa Timur), M. Jamani (Kalimantan Tenggara), A.P. Sosronegoro (Kalimantan
Timur), Mr. Djumhana Wiriatmadja (Negara Pasundan), Radja Mohammad (Riau),
Abdul Malik (Negara Sumatra Selatan), dan Radja Kaliamsyah Sinaga (Negara
Sumatra Timur). (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara
RI, 1986, hal.243-244).

Kedua, pada tanggal 15-16 Desember 1949 diadakan sidang Dewan Pemilihan
Presiden RIS dimana para anggota Dewan Pemilihan Presiden RIS memilih
Soekarno untuk dijadikan sebagai pemimpin RIS. Pada tanggal 17 Desember
1949 Soekarno dilantik jadi Presiden RIS. Sedangkan untuk jabatan Perdana
Menteri diangkat Mohammad Hatta yang dilantik pada tanggal 20 Desember
1949. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986,
hal.244).

Ketiga, jabatan Presiden RI diserahkan dari Soekarno kepada Mr. Asaat sebagai
Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI pada 27 Desember 1949.

Keempat, pada tanggal 27 Desember 1949 Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr.
Willem Drees, Menteri Seberang Lautnan Mr AMJA Sassen dan ketua Delegasi RIS
Moh Hatta membubuhkan tandatangannya pada naskah pengakuan kedaulatan
RIS oleh Belanda dalam upacara pengakuan kedaulatan RIS. Pada tanggal yang
sama, di Yogyakarta dilakukan penyerahan kedaulatan RI kepada RIS.
Sedangkan di Jakarta pada hari yang sama, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan
Wakil Tinggi Mahkota AHJ Lovink dalam suatu upacara bersama-sama
membubuhkan tandangannya pada naskah penyerahan kedaulatan. (30 Tahun
Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 251)

Renungkan dan Pahami !!! Bagi Muslim di Indonesia hendaknya paham bahwa
yang dinamakan RI yang diproklamirkan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus
1945 yang daerah kekuasaannya sekitar Yogyakarta pada tanggal 14 Desember
1949 secara resmi telah menjadi Negara bagian RIS. Dimana kedaulatan RIS
inilah yang diakui oleh Belanda, bukan RI. Negara RI adalah hanya Negara
bagian RIS.

4 Tanggapan to “Menguliti Mitos RI Hasil Buatan Sukarno dengan Kelompok


Unitaris RI nya (Bag 1)”
Ber-Hijrah di Jalan Alloh SWT. « Perjuangan Ummat Islam Indonesia Yang
Sebenarnya Says:

Agustus 12, 2009 at 6:14 am

[...] Menguliti Mitos RI buatan Sukarno dengen kelompok Unitaris RI nya [...]
Balas
Gunanya Persatuan Dalam Berjuang « Perjuangan Ummat Islam Indonesia Yang
Sebenarnya Says:

Agustus 18, 2009 at 5:42 am

[...] Untuk mengingatkan kembali silakan klik cikal bakal NII dan Menguliti Mitos
RI buatan Sukarno [...]
Balas
Pemuda Indonesia Says:

Oktober 22, 2009 at 7:41 am


Wah, ini suatu kebohongan besar dari pembuat wacana ini…. Anda sangat bodoh
sekali…

Abuqital1:
Jangan “OMDO” n “ASBUN”. Ungkapkan argument anda dan sertakan fakta dan
datanya jika ada yg bertolak belakang. Jika anda seorang muslim mari ber
MUJADALAH secara ahsan.
Balas
trejo Says:

November 13, 2009 at 9:26 am

kpd pembuat situs:

dalam sumpah pemuda tahun 1928…apa isinya?? dan pemuda dari mana saja
yg ikut bersumpah???

just think about it…

Abuqital1:
Isinya yang jelas tidak ada ke arah penegakan dinul Islam tetapi malah
sebaliknya ke ashobiyah (berbahasa satu, berbangsa satu, bertanah air satu
yaitu Indonesia). Silakan klik link dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/06/03/119/

Adapun para pemuda yang ikut bukan dari para pejuang Islam (lihat sejarah).
“Terorisme” Menurut Kacamata Islam (Muqoddimah)
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
Leave a Comment

1 Votes

Muqoddimah

Materi ini judul aslinya adalah AL IRHABU MINAL ISLAMI FAMAN ANKARO DZALIKA
FAQOD KAFARO karya Syaikh Abdul Qodir Bin Abdul Aziz (Hafizahullah) dan
diterjemahkan oleh akhi Abdulloh Khoir Katsir.

Terorisme dan Radikalisme adalah kata yang sering menghiasi berbagai media
informasi baik cetak maupun elektronik. Bahkan di dalam dialog keseharian
umat Islam, maupun non Islam.

Kedua kata ini diakui atau tidak biasanya dialamatkan kepada orang-orang Islam
yang benar-benar beristiqomah di atas jalan Islam yang lurus yang mengikuti
millah Khalilulloh Ibrahim alaihis salam, yaitu bersikap baro’ (berlepas diri)
terhadap orangorang kafir baik dalam bentuk memusuhi maupun membenci
mereka, khususnya orang-orang kafir semisal Amerika dan sekutusekutunya
yang jelasjelas memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala !


‫ل َكَفْرَنا ِبُكْم َوَبَدا َبْيَنَنا‬
ِ ‫نا‬ِ ‫ن ِمن ُدو‬ َ ‫ن َمَعُه ِإْذ َقاُلوا ِلقَْوِمِهْم ِإّنا ُبَرَءآُؤا ِمنُكْم َوِمّما َتْعُبُدو‬
َ ‫سَنٌة ِفي ِإْبَراِهيَم َواّلِذي‬
َ‫ح‬
َ ‫سَوٌة‬
ْ ‫ت َلُكْم ُأ‬
ْ ‫َقْد َكاَن‬
‫حَدُه‬ ْ ‫ل َو‬ ِ ‫حّتى ت ْؤِمُنوا ِبا‬ َ ‫ضآُء َأَبًدا‬
َ ‫َوَبْيَنُكُم اْلَعَداَوُة َواْلَبْغ‬

“Sungguh telah ada teladan pada diri Ibrahim dan orangorang beriman
bersamanya bagi kalian (yaitu) ketika mereka berkata kepada kaumnya,
“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa saja yang kalian
sembah selain Allah. Kami telah mengingkari kalian dan telah muncul
permusuhan dan kebencian selamalamanya antara kami dan kalian, hingga
kalian beriman kepada Allah saja.” (Al Mumtahanah : 4)

Kedua kata ini semakin nyaring terdengar setelah terjadinya ledakan dahsyat di
gedung kembar WTC New York Amerika Serikat, Negara kafir harbi.

Terorisme menurut Bush dan sekutunya adalah orang-orang Islam yang berjihad
melawan Amerika dengan segala kejahatannya, dengan kata lain teroris sama
dengan mujahid.

Tetapi bukan Bush kalau tidak bisa menyamarkan definisi teroris di atas!
Karenanya ..Di setiap kampanye anti teroris yang ia gembar gemborkan di jagad
ini adalah pemahaman bahwa teroris adalah orangorang yang suka membunuh
rakyat sipil yang tidak berdosa dengan begitu biadab tidak peduli korbannya
wanita atau anakanak.

Maka di setiap ada ledakan bom, siapapun akan latah berkata, “Pasti ulah
teroris”, tidak hanya sampai di sini saja, mediamedia cetak dan elektronik yang
sudah dikendalikan oleh kafir harbi Amerika (dengan porsi pemberitaan yang
cukup besar dan bahkan menjadi laporan utama) segera menyiarkan secara
langsung kejadian-kejadian pasca ledakan dengan lebih banyak menampilkan
jerit tangis korban luka dan mayat-mayat rakyat sipil, khususnya wanita dan
anakanak.

Hujan kecaman dan kutukan terhadap teroris begitu deras! Seluruh manusia anti
terhadap teroris yang akhirnya anti terhadap mujahidin. Amerika dianggap
pahlawan, dan mujahidin jadi kambing hitam.

Inilah fenomena yang terjadi hari ini, dan dengan kejadian yang sungguh
memilukan ini seorang ulama besar syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz
menerangkan kebenaran yang mesti diyakini oleh seluruh umat Islam hari ini. Di
dalam risalah singkat ini , beliau mengajak umat Islam untuk
memahami prinsip-prinsip Islam yang pokok yang berkaitan dengan bagaimana
bersikap terhadap Amerika dan sekutu-sekutunya yang jelas-jelas menyandang
status kafir harbi.

Berikut ini riwayat sekilas tentang syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz, yakni:
Nama beliau adalah SAYYID IMAM Abdul Qadir Abdul Aziz Asy Syarif. Beliau
dilahirkan di bulan Agustus tahun 1950 di kota Bani Yusuf sebelah selatan Mesir.
Telah menuntut ilmu dan hafal Al Qur’an sejak kecil dan mulai mengarang kitab
tatkala menginjak dewasa. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran di
Mesir tahun 1974 dg Yudisium Summa Cumlaude disertai penghargaan tingkat
satu.
Pernah bekerja sebagai wakil ketua di bagian operasi bedah di Fakultas
Kedokteran di Al Qashr Al ‘Aini.
Sempat ditangkap sebentar setelah terjadinya pembunuhan terhadap Thaghut
Anwar Sadat pada tahun 1981, namun dengan izin Alloh Subhanahu wa Ta’ala
beliau dapat keluar/menyelamatkan diri dari Mesir.
Pernah bekerja sebagai direktur Rumah sakit Al Hilal Al Kuwaiti di kota Peshawar
Pakistan.
Telah beristrikan seorang wanita Palestina dan dianugerahi empat putra dan
seorang putri. Kemudian menikah lagi dengan seorang wanita Yaman dan
dikaruniai seorang putri.
Hijrah dari Pakistan guna menyelamatkan diri dan dien beliau sebentar setelah
adanya penahanan/penangkapan terhadap warga Arab di kota Peshawar tahun
1993. Beliau hijrah menuju Sudan.
Tiba di Yaman pada akhir-akhir terjadinya perang antara pihak yang ingin
memisahkan diri dari penguasa setempat.
Pernah bekerja di rumah sakit Ats Tsaurah Al ‘Am di sebuah kota yang terletak di
sebelah selatan ibukota Shan’a dengan sukarela tanpa gaji, lalu beliau bekerja di
rumah sakit Daarusy Syaf.

Timbangan ke 1, AL IRHAB (Membuat Gentar Orang-orang Kafir) adalah bagian


dari Ajaran Islam
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
[15] Comments

Rate This

AL IRHAB (Membuat Gentar Orang-orang Kafir) merupakan bagian dari Ajaran


Islam dan barang siapa yang mengingkari hal itu berarti telah kafir. Ini
didasarkan firman Alloh ‘Azza Wa Jalla:

ْ‫ل َيْعَلُمُهم‬ُ ‫لَتْعَلُموَنُهُم ا‬


َ ‫ن ِمن ُدوِنِهْم‬َ ‫خِري‬
َ ‫عُدّوُكْم َوَءا‬
َ ‫عُدّو الِ َو‬َ ‫ن ِبِه‬
َ ‫ل ت ْرِهُبو‬
ِ ‫خْي‬
َ ‫ط اْل‬
ِ ‫طْعُتم ّمن ُقّوٍة َوِمن ّرَبا‬
َ ‫سَت‬
ْ ‫عّدوا َلُهم ّماا‬
ِ ‫َوَأ‬
َ ‫ظَلُمو‬
‫ن‬ ْ ‫لُت‬
َ ‫ف ِإَلْيُكْم َوَأنُتْم‬
ّ ‫ل ُيَو‬
ِ ‫لا‬ِ ‫سِبي‬
َ ‫ىٍء ِفي‬ْ ‫ش‬َ ‫َوَماُتْنفُِقوا ِمن‬

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka (orang-orang kafir) segenap


kekuatan yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat, yang
dengannya kalian dapat menggentarkan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh
kalian dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahui tetapi Allah
mengetahui mereka.” (Al Anfal : 60)

Karena itu Irhab (membuat gentar) musuhmusuh kafir hukumnya wajib menurut
Syar’i berdasarkan ayat ini. Dan barangsiapa mengingkari berarti telah kafir!

َ ‫ل اْلَكاِفُرو‬
‫ن‬ ّ ‫حُد ِبَئاَياِتَنآ ِإ‬
َ‫ج‬
ْ ‫َوَماَي‬

“Dan tiada mengingkari ayatayat Kami selain orang orang yang kafir.” ( Al
Ankabut : 47)

Juhud artinya mengingkari dan mendustakan dengan lisan!


َ ‫جَهّنَم َمْثًوى ّلْلَكاِفِري‬
‫ن‬ َ ‫س ِفي‬
َ ‫جآَءُه َأَلْي‬
َ ‫ق َلّما‬
ّ‫ح‬َ ‫ب ِباْل‬
َ ‫ل َكِذًبا َأْو ك ّذ‬
ِ ‫عَلى ا‬
َ ‫ن اْفَتَرى‬
ِ ‫ظَلُم ِمّم‬
ْ ‫ن َأ‬
ْ ‫َوَم‬

“Dan siapakah yang lebih berbuat aniaya daripada orang yang telah
mengadaadakan kebohongan atas Allah atau mendustakan kebenaran ketika ia
datang kepadanya. Bukankah jahannam itu tempat kembali bagi orangorang
kafir.” (Al Ankabut : 68)

Maka barangsiapa berkata bahwa Islam berlepas diri dari Irhab (terorisme /
gerakan menggentarkan orang kafir) atau hendak memisahkan antara Irhab dan
Islam maka ia benar-benar telah kafir. Jadi Irhab itu adalah bagian dari Islam.
Dengan pemahaman ini anda tentu mengetahui bahwa orang-orang yang
berkata bahwa mereka hendak memerangi Irhab (terorisme / gerakan
menggentarkan orang kafir) berarti mereka hendak memerangi Islam.
Membasmi Irhab sama artinya dengan membasmi Islam! Dan mereka hanya bisa
menyamarkan hakekat-hakekat sesuatu itu terhadap orang-orang bodoh saja.

15 Tanggapan to “Timbangan ke 1, AL IRHAB (Membuat Gentar Orang-orang


Kafir) adalah bagian dari Ajaran Islam”
yasmin Says:

Agustus 29, 2009 at 4:37 am

Assalamu’alaikum akhi…
Izin copas ya akhi… Jazakallohu khoiron katsiiron…
Balas
warna2cinta Says:

September 1, 2009 at 5:58 am

Assalamu’alaikum,

irhab berbeda dgn terorisme,irhab adalah ajaran Islam salah satunya yaitu dgn
mempersiapkan kuda-kuda yang bisa di artikan kekuatan.

Sedangkan terorisme adalah bentuk kejahatan.Orang yang menebar teror berarti


orang jahat.Contoh israel yg membantai warga sipil yg tak bersalah,wanita dan
anak2 dan bayi2 yg tk berdosa di palestina itu adalah perbuatan terorisme atau
kejahatan.Begitu pula aksi bom bunuh diri yang menewaskan warga sipil tak
bersalah wanita dan anak2 yg tak berdosa yg ada di Indonesia,itu bukan irhab
itu murni kejahatan.Pertanyaannya apakah Islam mengajarkan kejahatan ?Tentu
tidak Islam mengajarkan keadilan dan kebaikan.Alloh tidak pernah menyuruh
membunuh warga tk bersalah wanita dan anak2 yg tak berdosa.Alloh hanya
memerintahkan orang2 kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin tapi tdk
pernah memerintahkan membunuh manusia yg tak berdosa yg tidah tahu
karena sebab apa mereka harus di bunuh.Alloh pemilik dan pencipta seluruh
manusia baik yg beriman atau yg kafir,Dia yg berhak menetapkan siapa yg boleh
dibunuh dan tidak boleh dibunuh.

Bagi orang beriman berjihad ada adab2 dan aturannya yang telah Alloh
syariatkan mana yg boleh dibunuh dan mana yg tidak boleh dibunuh,tidak boleh
sembarangan.Jangan seperti Israel yg menghalalkan segala cara dgn membantai
orang2 yg tak bersalah,kita orang beriman punya tatacara dlm berperang kita
bukan binatang kita jangan seperti Israel yg menghalalkan segala cara.Mari kita
kembali kpd ajaran Islam dlm berjihad jgn meniru caranya orang kafir.Hentikan
aksi bom bunuh diri yg merugikan Islam,kaum muslimin,diri kita sendiri dan
orang2 yg tidak bersalah.
Allohu akbar,..
Balas
warna2cinta Says:

September 1, 2009 at 6:12 am

Ralat: ada kalimat yang kurang.

Alloh memerintahkan untuk membunuh orang2 kafir yg memerangi islam dan


kaum muslimin tp tidak pernah memerintahkan membunuh manusia yg tak
berdosa…dst.

abuqital1:
Jazaakalloh sebelumnya telah berkunjung ke blog ini.

Jika kita melihat kamus bahasa Inggris kata “TERROR” mempunyai makna rasa
ngeri atau rasa takut/ gentar. Hal ini juga sama dengan kata IRHAB yang berarti
membuat rasa gentar terhadap musuh.
Saya sebagian setuju dengan pendapat anda, memang didalam Jihad ada aturan
mainnya.
Yang Jelas TEROR dan IRHAB mempunyai persamaan makna yakni membuat
rasa takut. PERBEDAANNYA hanya pada cara dan tujuannya.

Untuk itu coba pahami lagi semua materi yang ada di KATEGORI TERORISME
DALAM TIMBANGAN ISLAM (1-9), jangan setengah-setengah. Insya Alloh anda
akan menemukan jawabannya sendiri. Sebagai link tambahan ada baiknya anda
juga memahami link dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/category/fiqih-jihad-fi-sabilillah/

http://abuqital1.wordpress.com/program-perjuangan/

http://abuqital1.wordpress.com/marhalah-jihad-nii/
Balas
warna2cinta Says:

September 2, 2009 at 5:07 am

Baik.Sekarang saya akan tanyakan kepada antum pertanyaan yang


gampang.Dalam hukum Alloh Apakah boleh membunuh warga sipil,wanita dan
anak2 yang tidak berdosa ?

Abuqital1:
Jawabannya ada dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/08/28/timbangan-ke-3-batalnya-
pernyataan-bahwa-warga-sipil-amerika-adalah-abriya-secara-mutlak/
Sebagai pencerahan ada baiknya anda pahami lagi link dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/07/08/panduan-ke-18-perang-adalah-
tipudaya/

http://abuqital1.wordpress.com/2009/06/24/panduan-ke-10-kaum-muslimin-
tidak-boleh-menghentikan-jihad-kecuali-dalam-kondisi-lemah-maka-ketika-itu-i
%E2%80%99daad-harus-dilakukan/
warna2cinta Says:

September 2, 2009 at 9:04 am

Hal tsb merupakan dalil yang dipaksakan untuk pembenaran perbuatan anda itu
tipudaya syaitan dan hawa nafsu.

Sudah jelas dalam Islam dilarang membunuh warga yg tak bersenjata,wanita


dan anak2 dan bahkan bayi2 yg tak punya dosa.Jika begitu apa bedanya dgn
tindakan biadab tentara Israel yg membunuh warga sipil wanita dan anak2.Islam
mengajarkan keadilan.Bom tidak dapat memilih korbannya.Siapa yg
diperbolehkan untuk dibunuh dan yg tidak.

Jika anda membunuh orang yang dilarang untuk dibunuh bukankah itu perbuatan
dosa ?? Bom bunuh diri adalah pembantaian manusia dan diri sendiri coba anda
fikirkan dgn hati nurani antum yg suci.

Target yang dibunuh adalah kafir harby amerika cs yg memerangi kaum


muslimin di afganistan dan palestina namun yang antum bunuh kok malah
manusia yg tak punya salah dan dosa, sedangkan musuh yg seharusnya antum
bunuh malah antum biarkan ? ini tipudaya syaitan. Coba fikirkanlah kembali dgn
nurani yg fitri.Alloh pencipta dan pemilik semua manusia baik yg kafir maupun
yg beriman Dia yg berhak menentukan mana yg boleh diperangi dan mana yg
tidak boleh diperangi,bukan kita.Kita tidak punya hak Allohlah yang punya
hak.Hak kita adalah mematuhi hukum Alloh.Kita punya hak dan kewajiban
diantara sesama manusia yg telah di atur dalam syariatnya.Kita tidak boleh
mengganggu hak hidup seseorang dgn sembarangan.Apa bedanya kita jika kita
meniru cara orang kafir yg menghalalkan segala cara kita ini orang beriman,
punya tuntunan dlm setiap aktivitas kehidupan termasuk dalam berjihadpun ada
tuntunannya.Kembalilah pada jalan yg lurus pelajari bagaimana cara jihad
orang2 terdahulu para nabi para syuhada badar syuhada uhud pernahkah
mereka membunuh warga sipil wanita dan anak2 ? Contohlah mujahid sejati
bintang Islam nan cemerlang sholahudin al ayubi ketika raja richard musuhnya
sedang sakit beliau tidak segan mengobati sakitnya sehingga beliau disegani
lawan maupun kawan dan dicintai seluruh kaum muslimin ,begitulah para
mujahid2 sejati memberikan contoh tauladan dlm berperang.
Balas
abuqital1 Says:

September 3, 2009 at 3:03 am


@warna2Cinta dan yang lainnya

Abuqital1:……….
Saya SEPENDAPAT dengan yang antum uraikan diatas. Saya TIDAK KAGET
dengan pendapat tersebut karena antum melihat makna “terorisme” dikaitkan
dengan “Pemboman di Indonesia”. OLEH KARENA ITU PERLU ANTUM CAMKAN
juga untuk yang lainnya statement Negara Islam Indonesia berikut ini:

1) Negara Islam Indonesia yang sejak diproklamasikan sampai sekarang adalah


NEGARA ISLAM DALAM MASA PERANG karena belum defacto. Oleh karena itu
hukumnya pun yang berlaku di lingkungan NII adalah HUKUM ISLAM DIMASA
PERANG. Penjelasannya dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/category/proklamasi-nii-dan-penjelasannya/

2) MARHALAH (TAHAPAN) JIHAD Negara Islam Indonesia untuk saat ini adalah
tahapan I’DAD yakni dengan cara:
a. membangun KEKUATAN SUMBER DAYA MANUSIA secara kwantitas dan
kwalitas dengan cara JIHAD untuk mewujudkan “Mulkiyatulloh” di bumi. Aplikasi
“Jihad” dalam NII terdiri dari 2 (dua) bagian yakni DAKWAH (pemahaman Ad Dien
secara keilmuan) dan QITAL FII SABILILLAH (mobilisasi kekuatan untuk perang
terbuka dengan Pemerintahan Thoghut).
Untuk saat ini NII belum sampai tahap Qital Fi Sabilillah karena “Imam NII” belum
memerintahkan Komando Umum Perang Terbuka. Hal ini dilakukan karena
“tahapan I’dad belum tercapai”

b. membangun KEKUATAN LOGISTIK yakni tentunya Logistik yang diperlukan


untuk Qital Fi Sabilillah, BUKAN logistik untuk membangun perekonomian
walaupun memang ini juga diperlukan. Kenapa saya tegaskan disini? Karena ada
sebagian “harokah jihadiyyah” di Indonesia yang lebih “MENGEDEPANKAN”
perekonomian. Mengapa NII lebih memprioritaskan dulu “logistik Qital”? karena
hari ini NII sadar sedang “kalah perang” sehingga Negara belum merdeka
(terjajah), hukum Islam tidak berjalan, wilayah kekuasaan terampas dan Ummat
Islam tertindas.

Sekarang saya mau bertanya kepada antum dan Muslim lainnya: “APA YANG
AKAN ANDA LAKUKAN PERTAMA KALI JIKA ANDA DALAM PENJARA?” Saya yakin
semuanya akan menjawab:”SAYA AKAN MEMIKIRKAN BAGAIMANA CARANYA
KELUAR DARI PENJARA”. Mengapa demikian? karena begitu keluar dari penjara
kita “MERDEKA”, bebas menentukan apa saja yang akan kita lakukan. Bukankah
percuma kita memikirkan perekonomian, pendidikan dan sejenisnya sedang DIRI
KITA MASIH DIPENJARA?

BEGITUPUN hari ini dengan “NII” dan para Mujahidinnya. Mereka hari ini
“SADAR” lagi “DIPENJARA OLEH HUKUM THOGHUT, NEGARA DEMOKRASI”
sehingga “BELUM BISA BERISLAM SECARA KAFFAH”
Wallohu yar’ana wa yahfazhna, walhamdu lillahi robbil ‘alamin
Balas
warna2cinta Says:

September 3, 2009 at 6:14 am

Benar Indonesia memang bukan negara Islam,tapi Indonesia menjamin


kebebasan warganya untuk menjalankan agamanya,pernahkah negara
mengekang dan melarang umat Islam untuk menjalankan ajaran Islam ?

Jika ingin Indonesia menjadi negara Islam maka gencarkanlah dakwah diseluruh
pelosok negeri bukan dgn berperang,Indonesia adalah lahan dakwah, masih
banyak umat Islam yg tdk mengetahui apakah Islam itu ? Masih banyak umat
Islam ktp dan keturunan mereka tdk faham dgn agamanya sendiri,masih banyak
umat Islam yg meninggalkan agamanya, nah hal yg sangat penting untuk
dilakukan adalah mengembalikan umat Islam pada ajaran agamanya, mencintai
agamanya,menghidupkan agamanya dan merasa bangga dgn agamanya.Dan
caranya adalah dgn dakwah.Dakwah dimulai dari rakyat sampai pejabat
pemerintahan.Jika semua rakyat dan pejabatnya sudah mencintai dan bangga
dgn Islam bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara Islam.

Ingatkah pusat peradaban kerajaan Hindu di sriwijaya dengan dakwah akhirnya


berubah menjadi kerajaan Islam samudra pasai,ingatkah kerajaan
majapahit,pajajaran,mataram yg menganut sistim hindu dgn dakwah akhirnya
berubah menjadi kerajaan Islam.Rakyat,pejabat dan rajanya masuk Islam.Begitu
juga kerajaan2 hindu di kalimantan sulawesi ternate dan tidore dgn dakwah
akhirnya berubah menjadi kerajaan2 Islam. Iklim dan kondisi masyarakat di
Indonesia sangat mendukung usaha dakwah.

Dan saya tidak sependapat bahwa jika seorang muslim yg bekerja di


pemerintahan yg tdk menganut hukum Islam maka orangnya adalah kafir dan
halal darahnya padahal ia bersyahadat, sholat,puasa,zakat,dan bahkan
melaksanakan Haji.Apakah mereka sudah membelah dadanya sehingga tahu
dgn pasti bahwa ia adalah kafir ? Tidak mudah menuduh seseorang itu kafir atau
munafik.Jika tuduhan kita salah maka kekafiran itu akan kembali kepada diri kita
sendiri,jadi kita harus berhati hati.

Benar,kita memang sedang dipenjara.Namun yg memenjara kita bukanlah


pedang dan senjata akan tetapi pemikiran2 dan paham2 dan gaya hidup yang
menjauhkan Umat dari ajaran agamanya,untuk mencegahnya tentu bukan dgn
cara membunuh umat Islam itu sendiri namun caranya adalah dgn menyadarkan
dan mengembalikan umat Islam pada ajaran Islam yg sebenarnya.Kita
menginginkan umat Islam menghidupkan amal agamanya,mencintai agamanya
dan bangga dgn agamanya.Dan hal tsb dapat tercapai dgn dakwah.

Abuqital1:
Jawabannya ada dibawah ini. Semoha memahaminya.
http://abuqital1.wordpress.com/2009/09/04/benarkah-ri-menjamin-kebebasan-
warganya-untuk-menjalankan-agamanya/

http://abuqital1.wordpress.com/2009/09/07/definisi-daarul-islam-dan-daarul-
kufri/
Balas
Hamdi Says:

September 5, 2009 at 3:26 pm

Saya sangat sependapat dg Warna2Cinta membunuh orang2 tak berdosa justeru


yg kafir jangan terlalu picik dlm menafsirkan ayat2 Al Qur’an hai Abuqitall,
apalagi anda mengutif “…perangilah orang2 kafir yg memerangi
Islam/Muslimin….” itu artinya orang2 kafir yg memerangi, tp bgm orang kafir yg
tdk memerangi spt di Indonesia.Kalau dmk anda lebih baik berjihad di Afganistan
atau Irak karena jelas dan nyata dan tdk bisa dibantah kafir memerangi Islam.

Abuqital1:
Cobalah anda klik link artikel dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/2009/09/07/definisi-daarul-islam-dan-daarul-
kufri/#more-535

Pahamilah artikel tersebut. Mungkin anda akan lebih memahami lagi dan akan
lebih bijak dalam berpendapat. Tidak hanya melihat satu sudut pandang saja.

Adapun dalam memerangi musuh-musuh Alloh, Islam telah menyediakan


sarananya yakni Jihad Fii Sabilillah. Cobalah pahami fikih Jihad fii Sabilillah
dibawah ini:
http://abuqital1.wordpress.com/category/fiqih-jihad-fi-sabilillah/
Balas
abdulaziz Says:

September 14, 2009 at 4:02 pm

untuk warna2cinta dan hamdi silahkan baca:


http://abuqital1.wordpress.com/2009/09/03/tidak-ada-kaitannya-nii-dengan-
terorisme-yang-ada-di-indonesia/

bahwa NII tidak ada kaitannya dengan TEROR BOM DI INDONESIA!!!!

Anda bisa baca di atas:


2) MARHALAH (TAHAPAN) JIHAD Negara Islam Indonesia untuk saat ini adalah
tahapan I’DAD yakni dengan cara:
a. membangun KEKUATAN SUMBER DAYA MANUSIA secara kwantitas dan
kwalitas dengan cara JIHAD untuk mewujudkan “Mulkiyatulloh” di bumi. Aplikasi
“Jihad” dalam NII terdiri dari 2 (dua) bagian yakni DAKWAH (pemahaman Ad Dien
secara keilmuan) dan QITAL FII SABILILLAH (mobilisasi kekuatan untuk perang
terbuka dengan Pemerintahan Thoghut).
Untuk saat ini NII belum sampai tahap Qital Fi Sabilillah karena “Imam NII” belum
memerintahkan Komando Umum Perang Terbuka. Hal ini dilakukan karena
“tahapan I’dad belum tercapai”

b. membangun KEKUATAN LOGISTIK yakni tentunya Logistik yang diperlukan


untuk Qital Fi Sabilillah, BUKAN logistik untuk membangun perekonomian
walaupun memang ini juga diperlukan. Kenapa saya tegaskan disini? Karena ada
sebagian “harokah jihadiyyah” di Indonesia yang lebih “MENGEDEPANKAN”
perekonomian. Mengapa NII lebih memprioritaskan dulu “logistik Qital”? karena
hari ini NII sadar sedang “kalah perang” sehingga Negara belum merdeka
(terjajah), hukum Islam tidak berjalan, wilayah kekuasaan terampas dan Ummat
Islam tertindas.

Sekarang saya mau bertanya kepada antum dan Muslim lainnya: “APA YANG
AKAN ANDA LAKUKAN PERTAMA KALI JIKA ANDA DALAM PENJARA?” Saya yakin
semuanya akan menjawab:”SAYA AKAN MEMIKIRKAN BAGAIMANA CARANYA
KELUAR DARI PENJARA”. Mengapa demikian? karena begitu keluar dari penjara
kita “MERDEKA”, bebas menentukan apa saja yang akan kita lakukan. Bukankah
percuma kita memikirkan perekonomian, pendidikan dan sejenisnya sedang DIRI
KITA MASIH DIPENJARA?
Balas
aqu Says:

Desember 17, 2009 at 9:43 am

akhi kiasnya tidak shahih. bagaimana indonesia yang bebas melakukan kegiatan
agama islam dianggap “penjara”. penjara itu makan di batasi, kemana2 dibatasi.
sekarang kan indonesia bebas.

ya akhi orang2 kafir juga jihad. dengan otak mereka.nah kita juga harus balas
jihad dengan otak juga. tidak sembarangan menghalalkan darah seseorang.

bagaimana islam mau tegak. antum nakut nakutin tidak hanya orang kafir, orang
musliminnya juga ikut takut. takut tiba2 di bom.

ya akhi, belajar ilmunya jangan pd imim nii aja. tuh arab saudi. banyak ahli tafsir
hadis, tafsir alquran. coba pelajari bagaimana menafsirkan dalil secara benar.
belajar tajwid, belajar bahasa arab dengan baik. minimal 4 tahun. belajar hadis,
yang difahami oleh parasahabat.tabiin, tabiut.ulama 2 besar.

kalo ana lihat dalil2 sama itu itu juga. tapi pemahamanya menuju zihaaaaaaad
terus.
coba akhi lihat kitab2 ulama ahli hadis. atau tafsir alquran yang shaih. niscaya
pemahaman dalilnya berbeda dengan Nii
Abuqital1:
Akhi…, jangan berpikir kebebasan itu dalam urusan perut saja. Yang anda
maksud dengan kebebasan beraktivitas Islam yang mana…? Kalo masalah
sholat, zakat, shoum dan haji pada zaman Rosulullah SAW juga bebas, tidak
dilarang oleh “Pemerintahan Abu jahal” dan tidak bertentangan dengan
“konstitusi Darun Nadwah”. Tapi mengapa Rosulullah SAW harus melakukan
“dakwah sirriyyah (sembunyi)” sampai harus “berhijrah”…RENUNGKANLAH
AKHI…..????

Mengenai komentar akhi tentang “jangan belajar sama Imam NII saja….dst” mari
kita pahami QS. 2:269 bahwasannya Alloh menganugerahkan hikmah kepada
siapa saja yang dikehendaki. Tidak mesti orang arab, orang habasyah yang
hitam gelam, yang kepalanya seperti kismis pun (seperti BILAL) akan
mendapatkan hikmah jika Alloh kehendaki. Coba anda lihat referensi materi yang
ada di kategori “Terorisme Dalam Timbangan Islam” banyak dari ulama-ulama
Saudi yang AHLI.
Balas
ana Says:

Desember 15, 2009 at 7:40 am

Assalamualaikum.
Afwan nih, jika mengeluarkan dalil tolong difahaminya jangan difahami sendiri.
tapi difahami oleh para sahabat, tabin, tabiut.imam yang 4. karena sahabat
rasullulaah (ali) pernah berkata perkataanmu hak. tapi keinginanmu adalah batil.
karena pada waktu itu ada yang mengkafirkan ali. dia berdalil dengan alquran.
yakni “tidak ada hukum kecuali hukum Allah”.
kemudian cara membuat kias dari dalil juga harus yang shahih. jangan
sembarangan membuat kias sendiri.

ana juga berjihad. tapi jihad ana tidak dengan pedang. karena rasullulah berjihad
dengan ilmu dulu tidak langsung dengan pedang. jihad perbaiki didisendiri
ibadahnya. kemudian keluarga. lingkungan masyarakat. baru pemimpin.
rasullulah juga berdakwah tidak langsung dari pemimpin. rasullulah berdakwah
dari keluarganya dulu. benarkan. sesunguhyna pemimpin itu datang dari rakyat.
jika ingin pemimpin yang baik,adil, maka rubah dulu rakyatnya. jangan berharap
hukum islam bisa tegak. wong orang2 muslim indonesia masih berbuat syirik.
masih belum tau mana yang hak mana yang batil. mana hukum Allah mana yang
bukan. kalo ditanya islam? apa itu islam ? kebanyakan orang tidak bisa
menjawab. oleh karena itu dakwahkan ilmu islam dulu ke masyarakat. insyaAllah
Allah jika rakyatnya sudah matang, sudah tau islam yang murni. maka Allah
kasih pemimpin yang baik. sesuai dengan firman Allah di al’quran.

pertanyaan: jika hukum pancasila di indonesia sekarang tiba2 berubah menjadi


hukum Allah?.

siapa yang akan memegang hukum islam?


ada berapa banyak ulama besar di indonesia ini untuk memegang hukum
dengan adil. tidak membela klompok islamnya?

kira2 apa respon masyarakat?.


mungkinkah akan terjadi pemberontakan karena medeka tidak tau apa itu
hukum islam?
atau sebaliknya.

tentunya masyarakatnya didakwahkan terlebuh dahulu. tentang islam. hukum


islam. baru menegakan hukum islam. tentulah semua masyarakat mendukung
tegaknya hukum islam. jika masyarakat tau yang benar dan yang salah.

jangan sembarangan ngebom. yang akhirnya masyarakat islam terus di benci.


ditakuti. jenggot ditakuti. tidak isbal ditakuti. gara2 mereka yang suka ngebom.
tujuan sih mulia sangat mulia.. tapi msyarakat tambah benci dengan islam.

pantaslah masyarakat indonesia menyambut baik orang2 kafir. karena medeka


datang ramah-ramah.
baik-baik.

apakah rasullulah memaksa orang orang untuk masuk islam. tidak kan.
dakwahnya lemah lembut. tapi jika diganggu baru angkat senjata.

menurut akhi?
Dimana INDAHNYA ISLAM?
Dimana INDAHNYA ISLAM?

Abuqital1:
Anda perhatikan 2 ayat yang berkait dengan Penegakkan Dien yang berujung
“walau karihal musyrikun”, merupakan konsekwensi logis jika kita menegakkan
Dien MAKA PASTI DIBENCI OLEH ORANG-ORANG MUSYRIK yakni orang-orang
yang “Dualisme”, Mengimani Alloh juga Mentaati Thoghut (Pancasila). Bukan
seperti Dakwah Anda yang mengharapkan mendapat penghargaan dari orang-
orang musyrik karena LEMAH LEMBEKNYA anda.

INGAT…!!! lemah lembutnya Dakwah Rosululloh SAW. TIDAK KURANG 36 KALI


MELAKUKAN PEPERANGAN YANG DIPIMPIN LANGSUNG OLEH ROSULULLOH SAW,
Pasti dengan PEDANG kan…..???

Memang Rosululloh SAW tidak memaksa orang untuk masuk Islam TAPI
Rosululloh SAW melaksanakan perintah Alloh untuk memaksa manusia untuk
TUNDUK KEPADA ISLAM (Thou’an wa Karhan), terbukti dengan adanya JIZYAH
dan PERANG.

Dimana indahnya Islam….??? ketika seluruh makhluk tunduk dibawah tatanan


Islam walaupun tidak mesti beragama Islam. Bukankah ketika Madinah berjaya,
yang beragama Islam hanya 2% tetapi saat itulah puncak keindahan islam
terjadi, “Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur”.

SUNGGUH IRONIS jika anda tidak memahami ini….!!!!


Balas
ana Says:

Desember 28, 2009 at 2:21 am

1. akhi ana minta tolong mita menceritakan sedikit. bahwa rasullulah pernah
menyerang negri orang2 kafir dengan tiba2. tanpa ada kesepakatan untuk
berperang terlebih dahulu.

2. bagaimana tanggapan akhi tentang hukum tata tertib lalu lintas yang dibuat
oleh pemerintah indonesia.? bukankah tidak ada hukum selain hukum Allah?

3. bagaimana hukum pasport(perjajian keamanan seseorang) jika ingin pergi ke


sebuah negri?

4.bagaimana degnan tanggapan hadis yang ini. “seseorang yang membunuh


seorang kafir yang dilindungi maka ia tidak akan mencium baunya surga,
sesunguhya baunya surga bisa dicium dengan perjalanan 30 tahun.

5.bagaimana dengan hadis yang menyebutkan bahwa iman itu naik dan turun.

sukron.
Balas
Al Fadhl Says:

Februari 4, 2010 at 5:57 am

Bismillah, izin comment ya Akhuna Abu Qital…

No.1. Mangga Akhi Abu Qital yang jawab.

No.2. Hukum itu: Quran, jika tidak ada Sunnah, jika tidak ada atsar salaaf ash
shalih, jika tidak ada maka ijtihad yang berdasar atas 3 hukum yang telah
disebutkan bukan hawa nafsu… Peraturan lalu lintas ada dalam Quran..?
Sunnah..? Atsar Salaaf ash Shalih..? Jadi yang dipermasalahkan adalah apa2
yang telah ada dalam Quran dan Sunnah, tapi tidak diamalkan.. Faham ya..?

3. Passport adalah jaminan dari negeri yang bersangkutan untuk melindungi


WNA yang masuk ke negeri tsb… Permasalahannya, kafir dzimmi hanya ada di
negeri Islam (Daarul Islam)… Apa definisi Daarul Islam… Silakan rujuk artikel2
dan NKRI ataupun Mesir ataupun Saudi ataupun Yaman, atau Malaysia bukanlah
Daarul Islam…
4. Jawaban no. 3 menjawab ini ya akhi… Kafir Dzimmi itu adanya di Daulah
Islamiyyah Iraq atau Daulah Islamiyyah Thaliban, di sana mereka dilindungi
karena tidak menjadi harbi.

5. Untuk pembahasan Iman, ana fikir antum kaji kitab Al Jami’ Bab Iman wal Kufr
(terj. Iman dan Kufur atau Kafir Tanpa Sadar) karya Dr. Sayyid Imam (Abdul
Qadir Abdul Aziz)

Wallahu a’lam…
anry Says:

Februari 4, 2010 at 3:53 am

bagaimana pemahaman akhi tentang hadits ini

1. “jika di sebuah kaum ada 2 imam maka bunuh salah satunya” banyak di
indonesia ini yang mengaku imam. antum baiat ke imam NII, lantas bagaimana
dengan firkoh 2 yang lainya yang punya imam juga?

2.Antum menyebutkan NII sedang berperang di negara indonesia ini. bagai mana
kaitanya dengan hadis ini “Rasullulah sebelum berperang dengan pedang ke
sebuah negara mendengarkan dulu apakah disitu ada dikumandangkan azan
atau tidak” sedangkan kalo indonesia dikumandangkan azan hampir di setiap
RT.

3. saya baca artikel antum katanya membunuh seorang muslim itu boleh. jika
muslim itu berada ditengah orang2 kafir. berarti orang juga boleh membunuh
orang muslimin atau ana atau antum. karena antum dan ana berada di negara
kafir RRI(demokrasi).
Balas
Al Fadhl Says:

Februari 4, 2010 at 6:00 am

Izin Comment yang no.2 ya, karena untuk no. 1 dan 3 bukan hak saya..

Masih ingat kisah Perang antara Harakah Jihad-nya Ibn Taymiyyah melawan
Tatar..??

Orang Tatar itu Adzan, Shalat, dan menunjukkan ke-Islaman dari aspek Ibadah,
tapi karena masalah hukum mereka diperangi. Jadi adzan di sana sifatnya
kontekstual, bukan tekstual…

Di Afghanistan sendiri, pada masa melawan Komunis Rusia, ternyata tentara


bayaran Rusia itu melaksanakan shalat, tapi tetap diperangi (berdasarkan fatwa
para ulama di sana) karena membantu orang2 kafir… Ini masalah wala wal bara.
Wallahu a’lam…

Timbangan ke 2, Amerika adalah Negara Kafir, Memusuhi Alloh, Rosul-Nya dan


Orang Beriman
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
Leave a Comment

Rate This

Amerika adalah Negara Kafir, Memusuhi Alloh, Rosul-Nya dan Orang Beriman.
Adapun dalil-dalilnya sebagai berikut:

Surat Al Bayyinah ayat 6

َ ‫شِرِكي‬
‫ن‬ ْ ‫ب َواْلُم‬
ِ ‫ل اْلِكَتا‬
ِ ‫ن َأْه‬
ْ ‫ن َكَفُروا ِم‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ّ ‫ِإ‬

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang


Musyrik.“
Surat Al Maidah ayat 17 dan 72

‫ن َمْرَيَم‬
ُ ‫ح اْب‬
ُ ‫سي‬
ِ ‫ل ُهَو اْلَم‬
َ ‫نا‬
ّ ‫ن َقاُلوا ِإ‬
َ ‫َلَقْد َكَفَر اّلِذي‬

“Sesungguhnya benar-benar telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa


Allah itu Al Masih ibnu Maryam.“
Surat Al Maidah ayat 73

‫لَثٍة‬
َ ‫ث َث‬
ُ ‫ل َثاِل‬
َ ‫ن َقاُلوا ِإنّ ا‬
َ ‫ّلَقْد َكَفَر اّلِذي‬

“Sesungguhnya benar-benar telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa


Allah itu salah satu dari yang tiga (Tuhan Bapak, Ibu dan Anak)”
Surat At Taubah ayat 29

‫حّتى‬
َ ‫ب‬َ ‫ك َتا‬
ِ ‫ن ُأوُتوا اْل‬
َ ‫ن اّلِذي‬
َ ‫ق ِم‬ّ‫ح‬َ ‫ن اْل‬َ ‫ن ِدي‬
َ ‫لَيِديُنو‬
َ ‫سوُلُه َو‬
ُ ‫ل َوَر‬
ُ ‫حّرَم ا‬
َ ‫ن َما‬
َ ‫حّرُمو‬
َ ‫لُي‬
َ ‫خِر َو‬
ِ‫ل‬
َ ‫ل ِباْلَيْوِم ْا‬
َ ‫ل َو‬
ِ ‫ن ِبا‬
َ ‫لُيْؤِمُنو‬
َ ‫ن‬
َ ‫َقاِتُلوا اّلِذي‬
َ ‫غُرو‬
‫ن‬ ِ ‫صا‬
َ ‫عن َيٍد َوُهْم‬ َ ‫جْزَيَة‬ِ ‫طوا اْل‬ُ ‫ُيْع‬

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan
tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya serta tidak
mau memeluk agama yang benar, yaitu dari kalangan orangorang yang telah
diberi Al Kitab (Yahudi dan Nasrani) hingga mereka mau membayar jizyah dari
tangan mereka dan mereka dalam keadaan patuh.”
Kekafiran kaum Yahudi dan Nasrani merupakan hal yang pokok dalam
pengetahuan Islam, sebagaimana keterangan Imam Ibnu Taimiyah dan yang
lain-lainnya. Barangsiapa mengingkari hal itu berarti telah kafir.
Surat An Nisa ayat 101

‫عُدو ُمِبيًنا‬
َ ‫ن َكاُنوا َلُكْم‬
َ ‫ن اْلَكاِفِري‬
ّ ‫ِإ‬

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar musuh yang nyata bagi


kalian.”

Dan selama Amerika kafir harbi serta sekutunya memusuhi Islam, maka meneror
mereka hukumnya wajib. Lalu bagaimana kita bersikap? Sedangkan di samping
Amerika kafir ia juga memerangi kaum muslimin, menyakiti mereka,
mengintimidasi mereka, merampas kekayaan negeri-negeri mereka dan
membantu siapa saja yang memerangi kaum muslimin, baik Yahudi, orang-orang
Turki dan penguasa-penguasa kafir lainnya.

Sesungguhnya Amerika hari ini persis dengan kelakukan kaum ‘Ad yang disifati
Allah dengan firmanNya:

‫شّد ِمّنا ُقّوًة‬


َ ‫ن َأ‬
ْ ‫ق َوَقاُلوا َم‬
ّ‫ح‬َ ‫ض ِبَغْيِر اْل‬
ِ ‫لْر‬
َ ‫سَتْكَبُروا ِفي ْا‬
ْ ‫عاٌد َفا‬
َ ‫َفَأّما‬

“Maka, adapun kaum ‘Ad itu mereka berlaku arogan/sombong di muka bumi
dengan cara yang tidak benar dan mereka berkata, “Siapa yang lebih kuat dari
kami?” (Fushilat : 15)

Sesungguhnya Amerika selalu campur tangan di segenap urusan negara-negara


di dunia dengan berbagai alasan. Sesekali dengan mengatasnamakan upaya
menjaga perdamaian dunia, atau menumpas terorisme atau membela nilainilai
kemanusiaan (hak asasi manusia).

Itulah …. Simbol-simbol yang dhahirnya berwujud rohmat (kasih sayang) tetapi


dibalik itu semua adalah siksaan yang biadab.

Rasa kemanusiaan macam mana yang dialamatkan/yang dimiliki Negara


Kriminal ini, yang penduduknya dahulu berasal dari gerombolan bajak laut
berkebangsaan Eropa yang berpindah memasuki benua Amerika dan membantai
habis penduduk asli benua itu (suku indian), lalu mereka mendatangkan budak-
budak dari benua Afrika untuk bercocok tanam di benua itu hingga menyedot
separuh dari penduduk Afrika kulit hitam.

Rasa kemanusiaan macam mana yang dimiliki Negara Kriminal yang telah dan
masih menjadi Negeri yang pertama dan terakhir yang menggunakan senjata
atom di dalam peperangannya hingga hari ini, seperti yang terjadi di Hiroshima
dan Nagasaki. Bisakah Amerika disebut negara berperikemanusiaan manakala ia
menggunakan bom-bom uranium dengan dalih mengamankan senjata
pemusnah massal tatkala melawan orang-orang Irak sehingga bayi-bayi mereka
mengalami cacat fisik yang begitu mengerikan! Dan oran-gorangIrak yang
menderita kanker pun (akibat bom-bom uranium) semakin meningkat. Dan inilah
yang mereka (Amerika) lakukan hari ini terhadap Afghanistan.

Rasa kemanusiaan macam mana yang dimiliki negara kriminal ini yang mana
pemimpin mereka terdahulu telah berjanji untuk mengembalikan negara itu
menuju zaman batu (Pra Sejarah).

Rasa kemanusiaan apakah yang dimiliki nagara kriminal Amerika ini yang selalu
menjadi tulang punggung bagi Yahudi penjajah yang terus menerus
menghancurkan negara Palestina dan penduduknya serta berbuat kerusakan di
muka bumi. Dan sampai hari ini Amerika masih selalu melindungi Israil dengan
Hak Vetonya di Dewan Keamanan PBB.

Rasa kemanusiaan apakah yang dimiliki negara kriminal Amerika ini yang telah
menyambar kaum muslimin mujahidin dari berbagai negeri di dunia dan
menyerahkan mereka ke negeri mereka untuk dibunuh dan dipenjara,
sebagaimana yang telah terjadi di Kroasia, Albania, Adzerbaijan dll.

Itulah Negara Amerika la’natulloh…!!!


Timbangan ke 3, Batalnya Pernyataan bahwa Warga Sipil Amerika adalah
ABRIYA’ (secara mutlak)
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
Leave a Comment

Rate This

Pembagian manusia menjadi sipil (madani) dan militer adalah pembagian model
baru yang tidak ada dasar syari’atnya di dalam ajaran Islam sama sekali. Adapun
pembagian manusia menurut Syar’i adalah bahwa manusia dibagi menjadi dua,
yaitu :
Al Muqotilah (laskar pejuang), yaitu para laki-laki yang telah mencapai usia 15
tahun atau lebih. Secara syar’i mereka disebut Muqotilun (pejuang) meskipun
mereka tidak turut serta dalam berperang.
Ghoiru Al Muqotilah (Non Pejuang), yaitu anak-anak yang belum baligh (dibawah
15 tahun), para wanita, orang-orang tua yang telah lanjut usia dan mereka yang
menderita penyakit kronis (yang tahan lama) sehingga ia tdak mampu
berperang (dari laki-laki yang baligh), seperti orang-orang buta, pincang, tuli dan
semisalnya. Namun siapa saja di antara mereka yang berpartisipasi dalam
perang baik dengan perkataan maupun perbuatannya maka pada saat itu
mereka termasuk golongan Muqotilah.

Dengan pemahaman ini anda mengetahui bahwa para wanita Amerika, Inggris
dan Israil dan yang semisal dengannya (dari berbagai negara) dapat
dikategorikan sebagai Pejuang karena para wanita itu pernah mengikuti program
kemiliteran bersama dengan para militer di negeri yang bersangkutan. Dan bila
di antara wanita itu ada yang tidak turut serta/terlibat dalam membantu militer
mereka, maka mesti berhatihati (agar tidak membunuh mereka).

Inilah keterangan dari saya bahwa selain pejuangpun, bila mereka ikut
berperang maka dibunuh. Hal ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan
Fuqaha’. Lebih jelasnya anda dapat melihat di Bab Al Jihad di dalam Kitab Al
Mughni tulisan Ibnu Qudamah Al Hanbali dan juga terdapat di dalam kitab-kitab
Fiqih lainnya.

Karena itu tidak benar bila warga sipil Amerika itu abriya’, bahkan sebagian
besar kaum laki-laki dan wanita dari mereka adalah Muqotilah (pejuang)
menurut kacamata Syar’i. Bagaimana tidak demikian …. Sedangkan setelah
kejadian ledakan WTC 11 September 2001, pihak Amerika meminta pendapat
rakyatnya secara umum yang pada akhirnya mayoritas penduduknya
menguatkan keputusan pemimpin Amerika yang Salib, George W Bush untuk
menghajar Afghanistan.
Adapun Abriya’ yang sesungguhnya adalah para kanak-kanak dari rakyat
Amerika dan orang-orang muslim yang berbaur dengan mereka karena tujuan
Syar’i yang mubah seperti dagang dan semisalnya.

Terhadap para Abriya’ ini, maka sesungguhnya tidak ada dosa sedikitpun bila
mereka terbunuh dan urusan mereka pada hari kiamat diserahkan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Mengetahui dengan segala yang ghaib.

Dalil tentang Abriya’ dari kalangan anak-anak yang terbunuh adalah : Hadits Ash
Sha’b bin Jatstsamah yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim.

‫ ُهْم ِمْنُهْم‬: ‫ل‬


َ ‫ساِئِهْم َوَذَراَرِهْم َفَقا‬
َ ‫ن ِن‬
ْ ‫ن ِم‬
َ ‫صْيُبْو‬
ِ ‫ن َفُي‬
َ ‫ن ُيَبّيُتْو‬
َ ‫شِرِكْي‬
ْ ‫ن اْلُم‬
َ ‫ن الّذاَراِري ِم‬
ِ‫ع‬
َ ‫سّلم‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫صَلى ال‬
َ ‫ل ال‬
ُ ‫سْو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫سِئ‬
ُ

“Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang wanita-wanita


dan anak-anak orang musyrikin (pada saat) pasukan kaum muslimin menyerang
kaum musyrikin di waktu malam sehingga (diantara wanita-wanita dan anakanak
mereka) ada yang terbunuh, maka Nabi menjawab, “Mereka adalah bagian dari
bapak-bapak mereka.”

Kondisi ini terjadi pada saat pasukan kaum muslimin berhalangan/tidak bisa
membedakan atau memilah-milah antara kaum musyrikin yang muqotilah dan
yang bukan, sehingga pada saat itu anakanak dan wanita yang tergolongan
bukan muqotilah dihukumi seperti wali-wali mereka di dalam kekufuran. Dan
bahwasanya tidak ada dosa sedikitpun bila sampai membunuh mereka jika
memang pasukan kaum muslimin kesulitan membedakan/memilah-milah di
antara mereka.

Dari sini berkembanglah cabang masalah yang lain, yaitu tentang Tatarrus dan
bolehnya membunuh tameng hidup berupa orang-orang kafir yang bukan
muqotilah bila mereka digunakan tameng/pelindung bagi kafir Muqotil. Hal
semacam inilah yang saat ini kita kenal dengan “Ad Duru’ Al Basyariyah”.

Adapun bila ada warga muslim yang terbunuh di tengah-tengah warga kafir,
maka hal itu ma’dzur (diampuni), lalu ia akan dibangkitkan oleh Allah menurut
kadar amalnya pada hari kiamat kelak. Hal ini didasarkan hadits Ibnu Umar
berikut :

‫عَماِلِهْم‬
ْ ‫عَلى َأ‬
َ ‫ن ف ْيِهْم ُثّم ُبِعُثْوا‬
َ ‫ن َكا‬
ْ ‫ب َم‬
ُ ‫ب الَعَذا‬
َ ‫صا‬
َ ‫عَذابًا َأ‬
َ ‫ل ال ِبَقْوٍم‬
َ ‫ِإَذا َأْنَز‬

“Apabila Allah menurunkan adzab kepada suatu kaum niscaya adzab itu
menimpa siapa saja yang ada di tengah-tengah kaum itu, kemudian mereka
akan dibangkitkan menurut amal mereka besok pada hari kiamat.”
(Muttafaq’Alaihi)

Dan juga hadits Ummu Salamah tentang pasukan yang menyerang Ka’bah lalu
Allah membenamkan pasukan itu di sebuah padang pasir yang ada di atas
permukaan bumi, padahal di antara mereka ada yang dipaksa ikut dan bahkan
tidak termasuk dari pasukan itu. Maka Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barisan pertama hingga terakhir, semuanya dibenamkan ke bumi,
kemudian mereka dibangkitkan di hari kiamat menurut niat mereka.” (Muttafaq
‘Alaihi)

Ibnu Taimiyah telah memperinci masalah (hadits ini), terkait dengan fatwa
terhadap Tartar yang tertuang di jilid 28 di dalam kitab Majmu’ Fatawa karangan
beliau.

Kesimpulan masalah ini adalah :

Bahwa berbaurnya orang yang tidak berhak dibunuh dengan orang yang berhak
dibunuh tidak dapat menghalangi/melarang bolehnya membunuh semua orang
yang berbaur itu manakala ada/terjadi kesulitan di dalam membedakan/
memilah-milah di antara mereka. Jadi tidak benar bila warga sipil (kafir) itu
dihukumi Abriya’ (secara mutlak).

Lalu bagaimana dengan Abriya’ yang telah dikubur di Bosnia yang jumlahnya
ribuan itu? Bagaimana dengan Abriya’ di Irak, Palestina, Chechnya, Afghanistan
dan yang lainnnya?

Sensus membuktikan bahwa lebih dari separoh pengungsi di dunia hari ini terdiri
dari orang-orang muslim! Apakah darah muslim murah sedangkan darah orang
kafir mahal? Ataukah korban pembunuhan dan kesedihan hanya ditaqdirkan bagi
kaum muslimin saja?

Timbangan ke 4, Diharamkan Bersedih hati (Berduka cita) dan Berbela


Sungkawa Atas Apa Yang Menimpa Negara Amerika
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
Leave a Comment

Rate This

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan adzab-Nya kepada Amerika


berupa ledakan dahsyat (di WTC dan sekitarnya), maka dengan begitu cepatnya
para penguasa negara di dunia dan pemimpin organisasi-organisasi Islam yang
ada di Amerika, Kanada dan Eropa mengumumkan pernyataan sikap mereka,
yaitu bahwa mereka mengingkari/menolak (berbagai bentuk terorisme /gerakan
mengentarkan orang kafir) dan mengungkapkan kesedihan dan bela sungkawa
yang mendalam bagi bangsa Amerika. Perbuatan seperti ini jelas diharamkan
dalam ajaran Islam. Dalil-dalilnya adalah:

Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah berkata kepada Nabi Shallallohu


‘alaihi wa sallam.
َ ‫عَلى اْلَقْوِم اْلَكاِفِري‬
‫ن‬ َ ‫س‬
َ ‫ل َتْأ‬
َ ‫َف‬

” maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (Al
Maidah : 68)

Kedua, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada Nabi Musa ‘Alaihis salaam :

َ ‫سِقي‬
‫ن‬ ِ ‫عَلى اْلَقْوِم اْلَفا‬
َ ‫س‬
َ ‫ل َتْأ‬
َ ‫َف‬

“Maka janganlah kamu berduka cita atas apa yang menimpa kaum yang fasiq.”
(Al Maidah :26)

Ketiga, Tatkala Allah menimpakan adzab kepada penduduk Madyan berupa


gempa yang dahsyat sehingga mereka semua hancur binasa, maka Nabi Syu’aib
berkata :

َ ‫عَلى َقْوٍم َكاِفِري‬


‫ن‬ َ ‫سى‬
َ ‫ف َءا‬
َ ‫َفَكْي‬

“Bagaimana aku bisa bersedih hati atas apa yang menimpa orang-orang kafir?”
(Al A’rof : 93)

Begitulah ajaran para Nabi, yaitu diharamkan bersedih dan berduka cita serta
berbela sungkawa atas apa yang terjadi/menimpa orang-orang kafir baik berupa
adzab, musibah, kecelakaan, gempa dan semisalnya.

Keempat, Begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :


َ ‫صُدوَر َقْوٍم ّمْؤِمِني‬
‫ن‬ ُ ‫ف‬
ِ ‫ش‬
ْ ‫عَلْيِهْم َوَي‬
َ ‫صْرُكْم‬
ُ ‫خِزِهْم َوَين‬
ْ ‫ل ِبَأْيِد يُكْم َوُي‬
ُ ‫َقاِتُلوُهْم ُيَعّذْبُهُم ا‬

“Perangilah orangorang kafir itu, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan
tangantangan kalian, akan menghinakan mereka dan memenangkan kalian atas
mereka, serta Dia akan menyembuhkan (duka cita) yang ada di dada orang-
orang yang beriman.” (At Taubah : 14)

Maka siapapun yang hatinya berlawanan dengan ayat di atas sehingga ia


berduka cita atas adzab yang menimpa orang-orang kafir, ia tidak pantas
disebut orang mukmin dan tidak ada kemuliaan padanya.

Penyakit ini disebabkan hanya karena lemahnya iman, kebodohan terhadap


agama dan hilangnya kecemburuan (ghirah) dan fanatisme agama Islam. “Maka
janganlah engkau bersedih hati atas apa yang menimpa orang-orang kafir.”
Timbangan ke 5, Siapa Saja Yang Berkoalisi Bersama Negara Amerika Untuk
Memerangi Kaum Muslimin Maka Dia Telah Kafir
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
[2] Comments

1 Votes
Siapa Saja Yang Berkoalisi Bersama Negara Amerika Untuk Memerangi Kaum
Muslimin Maka Dia Telah Kafir. Ini tidak khusus dengan Negara Amerika saja,
bahkan barangsiapa yang membantu orang kafir (seperti penguasa-penguasa
murtad) guna memerangi kaum muslimin berarti dia telah kafir pula.

Adapun dalil-dalilnya adalah :

Al Maidah : 51

َ‫لَيْهِدي اْلَقْوم‬
َ ‫ل‬
َ ‫نا‬
ّ ‫ض َوَمن َيَتَوّلُهم ّمنُكْم َفِإّنُه ِمْنُهْم ِإ‬
ٍ ‫ضُهْم َأْوِلَيآُء َبْع‬
ُ ‫صاَرى َأْوِلَيآَء َبْع‬
َ ‫خُذوا اْلَيُهوَد َوالّن‬
ِ ‫ل َتّت‬
َ ‫ن َءاَمُنوا‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬
َ ‫ظاِلِمي‬
‫ن‬ ّ ‫ال‬

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orangorang


Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia. Sebagian mereka adalah teman setia
bagi sebagian yang lain. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai teman
setia, niscaya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan
memberi petunjuk kepada orangorang zhalim.” (AlMaidah : 54)

Al Maidah : 54

َ‫جاِهُدون‬ َ ‫ن ُي‬ َ ‫عَلى اْلَكاِفِري‬


َ ‫عّزٍة‬ِ ‫ن َأ‬َ ‫عَلى اْلُمْؤِمِني‬
َ ‫حّبوَنُه َأِذّلٍة‬
ِ ‫حّبُهْم َوُي‬ِ ‫ل ِبَقْوٍم ُي‬ُ ‫ف َيْأِتي ا‬
َ ‫سْو‬
َ ‫ن ِديِنِه َف‬
ْ‫ع‬
َ ‫ن َءاَمُنوا َمن َيْرَتّد ِمنُكْم‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬
‫عِليٌم‬
َ ‫سٌع‬ِ ‫ل َوا‬ُ ‫شآُء َوا‬ َ ‫ل ُيْؤِتيِه َمن َي‬
ِ ‫لا‬ ُ‫ض‬ ْ ‫ك َف‬َ ‫لِئٍم َذ ِل‬
َ ‫ن َلْومََة‬ َ ‫خاُفو‬َ ‫ل َي‬َ ‫ل َو‬ ِ ‫لا‬ ِ ‫سِبي‬
َ ‫ِفي‬

“Wahai orang-orang yang beriman barangsiapa di antara kalian murtad (keluar)


dari agamanya, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, berlemah lembut terhadap
orang-orang yang beriman dan tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di
jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela. Itulah
karunia Allah yang telah Dia anugerahkan kepada siapa saja yang Dia
kehendaki. Dan Allah itu Maha Luas KaruniaNya dan Maha Mengetahui.
(AlMaidah : 54)

Jadi, Allah menjelaskan bahwa barangsiapa berwala’ (mengambil teman setia)


terhadap orangorang kafir maka ia termasuk golongan mereka. Artinya bahwa
orang tersebut divonis kafir seperti mereka.

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah yang lain yang senada dengan itu (Al
Maidah : 54) Menolong, membela dan berwala’ dapat dipahamisebagaimana
firmanNya:

ِ ‫نا‬
‫ل‬ ِ ‫صُروَنُهم ّمن ُدو‬
ُ ‫ن َأْوِلَيآَء َين‬
ْ ‫ن َلُهم ّم‬
َ ‫َوَماَكا‬
“Dan mereka tidak memiliki wali-wali (penolong-penolong) yang akan menolong
mereka selain Allah swt.” (Asy Syura :46)

Maka barangsiapa membela orang-orang kafir di atas kekufuran mereka atau


menolong mereka untuk memerangi kaum muslimin berarti ia telah kafir.

Pemahaman ini membawa konsekuensi, yaitu kafirnya pemerintahan-


pemerintahan yang mengira bahwa mereka muslim, seperti pemerintah Pakistan
dan negara-negara Teluk dan yang lainnya (misalnya Indonesia).

Negara-negara tersebut sebelumnya adalah negara kafir, karena mereka


mengatur rakyatnya dengan undang-undang selain yang diturunkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Adapun negara-negara yang aslinya kafir, maka kekufuran
mereka sangat jelas, namun kekafiran mereka semakin bertambah manakala
mereka memerangi kaum muslimin.

Sejak kurang lebih satu abad yang lalu, di bawah pimpinan Asy Syarif Husain
Syarif Makkah dan anak-anaknya, penjajah Inggris itu telah memimpin negara
Arab untuk memerangi orang-orang Turki Utsmani di Syam dengan menamakan
diri mereka, “AtTsaurah Al Arabiyyah Al Kubra” (Revolusi Arab yang terbesar).
Padahal revolusi ini lebih tepat disebut “Al Khiyanah Al Gharbiyyah Al Kubra”
(Pengkhianatan Barat yang terbesar). Merekapun akhirnya dapat menguasai
negeri Syam (Palestina) dan mengusir orangorang Turki Utsmani dari tempat itu
pada tahun 1916-1918.

Tidak ada pernyataan yang keluar dari komandan kafir Inggris “Lord” selain
ucapan, “Inilah, sesungguhnya Kami telah kembali wahai Shalahuddin.”

Dan Inggris pun menyerahkan Palestina ke tangan najis Yahudi. Sedangkan


Perancis mengambil alih Suriyah dan Libanon. Sementara Inggris mengambil alih
Irak dan Yordania pada perjanjian “Saix Piccot”, merekapun akhirnya membuang
Asy Syarif Husain ke Qobras (negeri Nashara) setelah sebelumnya mereka
menjanjikan kursi kerajaan Arab untuknya. (Murasalat Al Husain)

Perancis tidak bisa memasuki Suriyah dan Libanon (pada tahun 1920) sesuai
perjajian Saix Piccot kecuali melalui pasukan yang terdiri dari Muslimin Tunisia
dan Al Jazair (yang menjadi jajahannya) Perancis tidak pernah memerangi orang-
orang Al Jazair (pada perang kemerdekaan 1954-1962 yang di dalamnya telah
gugur sejuta syuhada’) tanpa perantara sekutusekutu mereka dari orangorang Al
Jazair. Juga yang disebut dengan Al Harakiyyun. Jumlah mereka yang masih
hidup ada 1/4 juta orang beserta orangorang Perancis tatkala mereka ditarik
kembali ke Perancis dari Al Jazair.

Dan tidaklah Amerika memerangi Irak dan menghancurkannya melainkan


dengan tentara-tentara Mesir dan Suriyah yang mengaku beragama Islam! Dan
Amerika terus menerus menggempur Irak dengan jet-jet tempurnya yang
bertolak dari negara-negara yang mereka sebut Islami seperti Kuwait, Saudi
Arabia dan Turki.

Dan pada hari ini Amerika menggempur Afghanistan dari bumi Pakistan yang
mereka sebut Islami juga. Dan mereka akan memerangi Afghanistan (Thaliban)
dengan tangan-tangan orang Afghanistan yang dikenal dengan Aliansi utara
(yang terdiri dari pasukan Rabbani Dustum).

Dahulu, kaum Salib pun bisa berkuasa di pantai Syam (pada perang Salib yang
pertama) juga hanya disebabkan oleh pengkhianatan para wali kota syam dan
koalisi yang mereka bangun dengan Nashara.

Andalusia (Spanyol) juga jatuh ke tangan Nashara hanya disebabkan


pengkhianatan para kepala suku yang berkoalisi dengan mereka. Di setiap
kesempatan, orang kafir selalu menjadi pihak yang beruntung sedang kaum
muslimin menjadi pihak yang merugi/kerugian wilayah, personal dan harta
benda. Dan dapat dikatakan, bahwa mereka telah merugi dalam agama mereka
dengan kekufuran dan kemurtadan yang menyelimuti mereka disebabkan
mereka berwala’ (menjadikan teman setia) terhadap orangorang kafir.

Adapun negara-negara kafir yang memberkati serangan Amerika terhadap


Afghanistan dapat dipastikan bahwa masing-masing mereka memiliki
kepentingan! Kanada, Inggris dan Australia berkoalisi dengan Amerika demi
fanatisme Salib!

Perancis dan Libanon memberi bantuan guna mendapatkan wewenang di dalam


menetapkan masa depan Afghanistan ke depan. Turki menawarkan bantuannya
agar Amerika membantu
mereka di dalam mewujudkan keinginannya untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Uzbekistan memberi bantuan demi membela Abdur Rasyid Dustum Al


Uzbeki.Tajikistan memberi bantuan demi membela Rabbani. Dan semua negeri
di sebelah utara Afghanistan membantu Amerika untuk melawan Thaliban
karena khawatir adanya bala bantuan yang akan memenangkannya.

Pakistan membantu Amerika agar dapat tetap menguasai Kashmir dengan


dukungan Amerika, sekaligus mendapatkan wewenang/kesempatan untuk
menentukan masa depan Afghanistan kedepan.dan untuk memutus jalur Aliansi
utara dalam merebut kekuasaan.

Adapun Rusia dan Cina memberi dukungan kuat Amerika agar Amerika menutup
rapat kejahatan kemanusiaan/pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan
kedua negera tersebut dan harapan mereka agar Amerika benar-benar tumbang
dan terhina di Afghanistan sebagaimana dahulu pernah keok di Vietnam.

Sedangkan negara-negara Teluk, maka mereka membantu Amerika laksana


seorang budak yang ikut tuannya. Karena Amerikalah penanggung jawab yang
akan selalu menjaga singgasana-singgasana mereka. Penguasa-penguasa negeri
Teluk ini yang telah lama menjadi raja-raja bagi bangsabangsa mereka. Namun
mereka hanyalah laksana budak yang selalu taat kepada Tuannya. Kalau dahulu
tuannya bernama Inggris, sedangkan sekarang Amerika!

Dahulu, masa depan negara-negara teluk disetir dan ditentukan oleh Perwakilan
Raja Inggris yang ada di India (kurang lebih satu abad yang lalu). Sedangkan
pada hari ini berada di Washington.

Kesimpulannya :
Bahwa siapa saja yang berkoalisi bersama orang-orang kafir seperti Amerika dan
yang lainnya guna memerangi kaum muslimin, maka sesungguhnya ia telah
kafir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al Maidah 51.

2 Tanggapan to “Timbangan ke 5, Siapa Saja Yang Berkoalisi Bersama Negara


Amerika Untuk Memerangi Kaum Muslimin Maka Dia Telah Kafir”
Zaid Says:

September 4, 2009 at 5:24 pm

aslmkm…

ijin copy artikel2 nya ya…


Balas
Canon-A Says:

September 5, 2009 at 4:41 am

Inti yang bisa diambil dari artikel ini yaitu mereka2 kaum kufar dan pengikutnya
kaum munafik adlah pecinta2 dunia dan mereka sungguh menjadi musuh para
pecinta akhirat.

Timbangan ke 6, Kesalahan FATAL bila menyebut Negara-negara Barat dengan


nama “Dunia Berperadaban” (Al ‘alam Al Mutahadhir)
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
1 Comment

Rate This

Amerika dan negara-negara barat menamakan diri mereka sebagai negara yang
berperadaban. Hal ini terjadi disebabkan mereka terpedaya oleh kemajuan ilmu-
ilmu duniawi dan teknologi yang telah mereka capai.
Dengan hal itulah orang-orang kafir di setiap zaman terpedaya, sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

‫عْنُهم‬
َ ‫غَنى‬ ْ ‫لْرضِ َفَمآَأ‬
َ ‫شّد ُقّوًة َوَءاَثاًرا ِفي ْا‬
َ ‫ن ِمن َقْبِلِهْم َكاُنوا َأكَْثَر ِمْنُهْم َوَأ‬
َ ‫عاِقَبُة اّلِذي‬
َ ‫ن‬
َ ‫ف َكا‬
َ ‫ظُروا َكْي‬
ُ ‫ض َفَين‬
ِ ‫لْر‬
َ ‫سيُروا ِفي ْا‬
ِ ‫َأَفَلْم َي‬
َ ‫سُبو‬
‫ن‬ ِ ‫ّماَكاُنوا َيْك‬

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi lalu


memperhatikan betapa kesudahan orang-orang sebelum mereka. Adalah
orangorang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan lebih banyak
bekasbekas mereka di muka bumi. Maka apa yang mereka usahakan itu sama
sekali tidak bisa menolong mereka.” (Al Mukmin :82)

Dan yang benar adalah bahwa negara-negara kafir ini lebih pas disebut
penduduk bumi yang sesat dan berada di dalam kegelapan (Ahludh Dhalal wazh
Zhulumat)! Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
َ ‫خاِلُدو‬
‫ن‬ َ ‫ب الّناِر ُهْم ِفيَها‬
ُ ‫حا‬
َ‫ص‬
ْ ‫ك َأ‬
َ ‫ت ُأْوَلِئ‬
ِ ‫ظُلَما‬
ّ ‫ن الّنوِر ِإَلى ال‬
َ ‫جوَنُهم ّم‬
ُ ‫خِر‬
ْ ‫ت ُي‬
ُ ‫غو‬
ُ ‫طا‬
ّ ‫ن َكَفُروا َأْوِلَيآُؤُهُم ال‬
َ ‫َواّلِذي‬

“Dan orang-orang kafir itu adalah teman setia para thaghut yang akan
mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka itulah para
penduduk neraka, di dalamnya mereka dalam keadaan kekal.” (Al Baqarah :257)

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.


ُ ‫ج‬
‫س‬ َ ‫ن َن‬
َ ‫شِرُكو‬
ْ ‫ِإّنَما اْلُم‬
“Hanya saja orangorang musyrik itu najis.” (At Taubah :28)

Dan mereka itu jauh lebih sesat dan hina dari binatang dan hewan. Mereka ….
membolehkan zina dan homoseks atas nama kebebasan/hak asasi! Di mana
prinsip semacam ini kadang ditolak oleh sebagian binatang.

Imam Al Bukhari telah meriwayatkan dari Maimun bin Mahran, yaitu bahwa di
zaman Jahiliyah dia pernah melihat kera yang berzina, lalu berkumpullah kera-
kera lain dan kemudian merajamnya. Imam Muslim meriwayatkan hadits yang
serupa dengan ini dari Abu Roja’ Ath Tharidi.

Maka bila negara-negara kafir itu menamakan diri mereka sebagai Al ‘Alam All
Mutahadhir (Dunia yang berperadaban) maka penamaan semacam ini hanyalah
membolak balik nama dari hakekat sebenarnya. Artinya apa yang mereka
sebutkan itu menunjukkan kebalikan/lawan yang justru menjadi sifat asli
mereka. Sebagaimana firman Allah swt tentang Yahudi dan Nasrani:

ُ‫حّباُؤه‬
ِ ‫ل َوَأ‬
ِ ‫ن َأْبَناُؤا ا‬
ُ‫ح‬ْ ‫صاَرى َن‬
َ ‫ت اْلَيُهوُد َوالّن‬
ِ ‫َوَقاَل‬
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan
kekasihkekasihNya.” (Al Maidah : 18)

Lihatlah penilaian dan penamaan mereka terhadap diri mereka (pada ayat di
atas). Padahal pada saat yang sama Allah jugaberfirman bahwa mereka adalah
Al Maghdhuub dan Adh Dhaalliin (Kaum yang dimurkai dan Tersesat) (Al
Fatihah : 7)

Jadi tidak benar bila mereka disebut Dunia yang berperadaban, tetapi yang tepat
mereka disebut Ahludh Dhalal wazh Zhulumat wan Najasat (Penduduk bumi yang
sesat, gelap dan najis). Mereka adalah teman-teman setia setan dan kerajaan
Iblis!

Satu Tanggapan to “Timbangan ke 6, Kesalahan FATAL bila menyebut Negara-


negara Barat dengan nama “Dunia Berperadaban” (Al ‘alam Al Mutahadhir)”
noego08 Says:

Agustus 31, 2009 at 3:27 am

good.. jgn lpa di link yah..


http://noego08.wordpress.com/
Timbangan ke 7, Hukum/ Undang-Undang Internasional adalah Thoghut Yang
Disembah Selain Alloh SWT.
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
Leave a Comment

Rate This

Istilah ini (Undang-undang Internasional) telah menyebar luas dan selalu di


ulang-ulang orang kafir dan kaum muslimin yang membebek mereka, khususnya
sejak terjadi perang antara Irak dan Kuwait tahun 1990.

Dengan fakta ini, akhirnya hukum internasional benar-benar merupakan


kehendak Amerika dan hasil ketetapan-ketetapannya. Hanya saja kehendak dan
ketetapan ini tidak bersumber dari Washington, melainkan dari Dewan
Keamanan PBB yang bermarkas di New York Amerika Serikat.

Dewan inilah yang mengumpulkan kelima negara besar yang najis itu. Bila
Amerika berkeinginan untuk memperluas daerah di dalam suatu perkara, maka
ia mengumpulkan koalisi yang lebih luas di Dewan Keamanan PBB, seperti koalisi
30 negara untuk menginvasi Irak. Juga koalisi sejumlah negara yang dipimpin
Amerika untuk menginvasi Afghanistan. Sehingga yang terlihat di mata dunia
bahwa Amerika tidak bertindak sendirian di dalam mengambil keputusan, tetapi
biar dianggap sebagai keputusan bersama negaranegara di dunia atau
mayoritas negaranegara di dunia. Dan dari sinilah Amerika menyebut keputusan
itu sebagai Hukum Internasional.
Hukum Internasional yang thaghut ini hanya diterapkan bagi negara-negara
lemah saja. Dengan dalih hukum internasionallah, Irak dan Afghanistan diserang,
Libya dan Sudan diembargo. Adapun negara-negara kuat dan penjilat seperti
Israil, maka Hukum Internasional itu mandul dan tidak pernah berlaku.

Karenanya… Haram bagi setiap muslim, baik sebagai individu maupun negara
bila mengakui hukum internasional ini atau meminta agar hukum ini diterapkan
ataupun menghormatinya. Sebab, ini semua merupakan Kufur Akbar yang benar-
benar dapat mengeluarkan seseorang dari agama Islam alias murtad!

Lalu bagaimanakah kita menyikapi? Sementara pada saat yang sama justru
hukum internasional ini digembargemborkan oleh sebagian Masyayikh (para
syaikh) dan diikuti orang-orang awam dengan latah, seraya membebek para raja
dan pimpinan-pimpinan mereka.

Keterangan untuk persoalan ini adalah bahwa Hukum Internasional itu


sebenarnya merupakan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia-manusia kafir
dengan bersumber hawa nafsu-hawa nafsu mereka tanpa ada ikatan sedikitpun
dengan syari’at Islam! Dan mereka menjadikan hukum-hukum itu sebagai
sesuatu yang harus ditaati di seluruh dunia.

Maka hukum-hukum internasional itu dapat dipastikan sebagai Thaghut yang


memutuskan dan menjadi landasan hukum bagi pihak yang berperkara yang
secara terang merampas hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman :

ِ‫ت َوَقْد ُأِمُروا َأن َيْكُفر وا ِبه‬ِ ‫غو‬ ُ ‫طا‬


ّ ‫ك ُيِريُدونَ َأن َيَتحَاَكُموا ِإَلى ال‬
َ ‫ل ِمن َقْبِل‬
َ ‫ك َوَمآُأنِز‬
َ ‫ل ِإَلْي‬
َ ‫ن َأّنُهْم َءاَمُنوا ِبَمآُأنِز‬
َ ‫عُمو‬
ُ ‫ن َيْز‬
َ ‫ى اّلِذي‬
َ ‫َأَلْم َتَرإِل‬
‫ل َبِعيًدا‬
ً‫ل‬َ‫ض‬
َ ‫ضّلُهْم‬
ِ ‫ن َأن ُي‬ ُ ‫طا‬
َ ‫شْي‬
ّ ‫َوُيِريُد ال‬

“Tidakkah Engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka


telah beriman dengan apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang telah
diturunkan kepada sebelummu. Mereka ingin berhukum kepada Thaghut
sedangkan mereka benar-benar telah diperintahkan untuk mengkafirinya. Dan
syaitan menginginkan agar dapat menyesatkan mereka dengan kesesatan yang
jauh.” (AnNisa’ : 60)

Ini merupakan nash (pernyataan Allah) bahwa apa saja yang menjadi landasan
hukum yang ia jelas bertentangan dengan syari’at Allah maka ia adalah
Thaghut! Dan barangsiapa berhukum kepadanya berarti telah beribadah
kepadanya dan mengimaninya. Tidakkah anda melihat firman Allah di atas
“Sedangkan mereka benar-benar telah diperintahkan untuk mengkafirinya” Ini
bermakna bahwa berhukum kepada Thaghut sama halnya dengan beriman
kepadanya dan kebalikannya barangsiapa berhukum kepada Allah berarti
mengkafiri Thaghut.

Demikian juga barangsiapa yang berhukum kepada sesuatu berarti ia telah


beribadah kepada sesuatu itu tadi! Tidakkah anda melihat firman Allah.
ُ‫لَتْعُبُدوا ِإلِإّياه‬
ّ ‫ل َأَمَر َأ‬
ِ ‫ل‬
ّ ‫حْكُم ِإ‬
ُ ‫ن اْل‬
ِ ‫ِّإ‬
“Hukum itu hanyalah milik jAllah, Dia memerintahkan agar kalian hanya
beribadah kepadaNya saja.” (Yusuf : 40)

Maka di sini Allah menjelaskan bahwa mengesakan Allah di dalam masalah


hukum dan berhukum adalah bentuk peribadatan yang diperintahkan. Dan siapa
saja yang tidak menetapkan prinsip ini berarti telah kafir terhadap Allah. Sebab
Islam seseorang tidak akan sah kecuali dengan mengkafiri Thaghut.
‫ك ِباْلُعْرَوِة اْلُوْثَقى‬
َ‫س‬
َ ‫سَتْم‬
ْ ‫ل َفَقِد ا‬
ِ ‫ت َوُيْؤِمن ب ا‬
ِ ‫غو‬
ُ ‫طا‬
ّ ‫َفَمن َيْكُفْر ِبال‬
“Maka barangsiapa kafir terhadap Thaghut dan beriman kepada Allah berarti
telah berpegang teguh kepada Al Urwatul Wutsqo (Laa Ilaaha Illalloh).” (Al
Baqarah : 256)

Dan yang termasuk Thaghut Hukum adalah Hukum Internasional, Hukum-hukum


Positif dan Undang-undang buatan manusia. Dan siapapun yang membuatnya
atau memutuskan perkara dengannya atau berhukum kepadanya atau
meridhainya berarti ia telah kafir, sebagaimana penjelasan sebelumnya. Dan
siapa saja yang berperang demi tegaknya hukum-hukum thaghut ini juga telah
kafir, sebagaimana firmanNya:
َ ‫س َمْثَوى اْلُمَتَكّبِري‬
‫ن‬ َ ‫ن ِفيَها َفِبْئ‬
َ ‫خاِلِدي‬
َ ‫جَهّنَم‬
َ ‫ب‬
َ ‫خُلوا َأْبَوا‬
ُ ‫اْد‬

“Dan orangorang kafir itu, berperang di jalan Thaghut.” (An Nisa’ : 76)

imbangan ke 8, Hukum Positif adalah agama baru, Siapa Saja Yang


Menjadikannya Sebagai Aturan atau Mengamalkannya Berarti Telah Kafir
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
Leave a Comment

Rate This

Ad Dien (Agama), salah satu artinya adalah undang-undang hidup manusia dan
aturan hidup bagi mereka, baik ia benar (Dienul Haq) atau salah (Dienul Bathil).
Dalilnya adalah surat Al Kafirun.

{} ‫عُبُد‬ ْ ‫ن َمآَأ‬َ ‫عاِبُدو‬ َ ‫عَبدّتْم }{ َو‬


َ ‫لَأنُتْم‬ َ ‫عاِبُد ّما‬ َ ‫عُبُد }{ َو‬
َ ‫لَأَنا‬ ْ ‫ن َمآَأ‬
َ ‫عاِبُدو‬ َ ‫ن }{ َو‬
َ ‫لَأنُتْم‬ ْ ‫ن }{ ل َأ‬
َ ‫عُبُد َماَتْعُبُدو‬ َ ‫ل َياَأّيَها اْلَكاِفُرو‬
ْ ‫ُق‬
ِ ‫ي ِدي‬
‫ن‬ َ ‫َلُكْم ِديُنُكْم َوِل‬

“Katakanlah, “Wahai orangorang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang
kamu sembah dan kalian tidak menjadi penyembah apa yang aku sembah. Dan
aku tidak menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak menjadi
penyembah apa yang aku sembah. Bagi kalian agama kalian dan bagiku
agamaku.” (Qs. Al Kaafirun:1-6)
Jadi Allah menamakan keyakinan kufur mereka dengan kata dien (agama). Dalil
lain adalah :
َ ‫سِري‬
‫ن‬ ِ ‫خا‬
َ ‫ن اْل‬
َ ‫خَرِة ِم‬
ِ‫ل‬
َ ‫ل ِمْنُه َوُهَو ِفي ْا‬
َ ‫لِم ِديًنا َفَلن ُيْقَب‬
َ‫س‬ْ‫ل‬
ِ ‫غْيَر ْا‬
َ ‫َوَمن َيْبَتِغ‬

“Dan barangsiapa mencari (memeluk) agama selain Islam niscaya tidak akan
diterima dan dia termasuk orangorang yang merugi di akhirat.” (Ali Imran : 85)

Maka di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa ajaran agama selain
Islam juga disebut dengan kata Dien (agama), hanya saja agama itu tidak akan
diterima.

Dan manakala hukum-hukum positif itu menjadi undang-undang dan aturan


hidup manusia di suatu negara yang dasar hukumnya berlandaskan hukum-
hukum positif itu, maka hukum-hukum positif itu adalah agama mereka. Dengan
begitu mereka telah kafir disebabkan mereka mengikuti agama selain Islam
walaupun mereka mengira bahwa mereka masih berpegang terhadap satu
ajaran dari ajaran-ajaran Islam.

Keadaan mereka itu seperti orang-orang kafir Arab di zaman Jahiliyah, di mana
mereka masih berpegang kepada ajaran Nabi Ibrahim, yaitu dengan tetap
berhaji ke Baitullah, sehingga akhirnya Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wa
sallam pun melarang mereka dengan sabda beliau :
ٌ ‫شِر‬
‫ك‬ ْ ‫ن َبْعَد الَعاِم ُم‬
َ ‫جو‬
ّ‫ح‬
ُ ‫ل َي‬
“Setelah tahun ini (Fathu Makkah) tidak boleh ada seorang musyrik pun yang
berhaji.”

Sabda beliau ini sebagai perwujudan dari perintah Allah dalam surat At Taubah,
yaitu bahwa orang-orang musyrik itu najis tidak boleh dekat-dekat dengan
Baitullah setelah tahun 9 Hijriyah.

Keadaan orang-orang muslim hari ini yang berpegang teguh dengan hukum-
hukum positif, dan kaum kafir jahiliyah yang memegang ajaran Nabi Ibrahim
dengan tetap berhaji itu bersesuaian dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
َ ‫ن َأك ث َره ْم بال إل َو ُهْم م ش ر ك و‬
‫ن‬ ُ ‫و م اي ؤ ِم‬
“Dan tidaklah kebanyakan manusia itu beriman kepada Allah melainkan pasti
mereka masih berbuat syirik.” (Yusuf :106)”

Mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan shalat dan shiyam
dan pada saat yang sama mereka beribadah kepada Thaghut (hukum-
hukumnya) di dalam memutuskan suatuperkara atau membuat aturan. Tentu
mereka telah kafir dengan itu semua.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

‫ت َوَقْد ُأِمُروا َأن َيْكُفُروا ِبِه‬


ِ ‫غو‬
ُ ‫طا‬
ّ ‫ن َأن َيَتحَاَكُموا ِإَلى ال‬
َ ‫ُيِريُدو‬
“Mereka hendak berhukum kepada Thaghut sedangkan mereka diperintahkan
agar mengkafirinya.” ( An nisa :60 )

(Sebelumnya hal ini telah diterangkan) Dan bahwasanya berhukum dengan


hukum Thaghut berarti telah beriman dan beribadah kepadanya, sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‫لَتْعُبُدوا ِإل‬
ّ ‫ل َأَمَر َأ‬
ِ ‫ل‬
ّ ‫حْكُم ِإ‬
ُ ‫ن اْل‬
ِ ‫ِإّياُهِّإ‬
“Sesungguhnya hukum itu hanya milik Allah, Dia memerintahkan agar kalian
tidak beribadah kecuali hanya kepadaNya.” (Yusuf : 40)

Dan barangsiapa mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hukum dan


berhukum berarti telah beribadah kepadaNya saja.

Inilah hakekat Tauhid…!!!


Dan barangsiapa berhukum kepada selain Allah berarti telah mengibadahinya
dan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
‫حًدا‬
َ ‫حْكِمِه َأ‬
ُ ‫شِركُ ِفي‬
ْ ‫لُي‬
َ ‫َو‬
“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutuNya dalam menetapkan
keputusan.” (Al Kahfi : 26)

Ayat ini secara jelas menerangkan adanya larangan untuk mengambil sekutu
bagi Allah di dalam menetapkan keputusan. Maka barangsiapa berhukum
kepada selain syari’atNya berarti telah mengambil sekutu bagi Allah di dalam
menentukan/mengambil keputusan. Ini jelas merupakan kesyirikan dan
kekufuran yang paling besar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
َ ‫ك ُهُم اْلَكاِفُرو‬
‫ن‬ َ ‫لِئ‬
َ ‫ل َفُأْو‬
ُ ‫لا‬
َ ‫َوَمن ّلْم َيح ُكم ِبَمآَأنَز‬
“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan (kitab) yang telah diturunkan oleh
Allah, berarti mereka telah kafir.” (Al Maidah : 44)

Ini merupakan nash yang jelas tentang kafirnya orang yang meninggalkan
hukum Allah dan berhukum dengan selainnya. Seperti mereka yang
memutuskan sesuatu dengan undang-undang atau hukum-hukum positif dan
hukum internasional.

Ayat ini turun pada orang-orang Yahudi yang menyangka bahwa mereka
beriman tetapi mereka tidak mau berhukum kepada hukum Taurat. Allah telah
mewajibkan mereka agar merajam kasus
zina muhshan (zina yang dilakukan oleh orang yang telah bersuami/beristri) dan
mereka malah membuat hukum baru sebagai pengganti lalu Allah
menghukumi/memvonis mereka dengan vonis kafir. Nash ayat ini bersifat umum
dan berlaku bagi siapa saja yang melakukan hal seperti itu.

Fenomena hari ini yang terjadi di negeri-negeri Islam adalah sejenis/serupa


dengan gambaran sebab turunnya ayat 44 surat Al Maidah. Yaitu adanya kaum
yang menyangka dirinya beriman dan Islam sedangkan mereka justru
meninggalkan hukum-hukum Allah dan berhukum dengan syari’at buatan
mereka.

Anda jangan tertipu dengan orang yang berkata kepada anda bahwa yang
dimaksud ayat itu adalah kufrun duuna kufrin (kufur ashghar) yang tidak
mengeluarkan seseorang dari millah Islam! Sebab pendapat yang dinisbatkan
kepada Ibnu Abbas ini adalah atsar yang dha’if (lemah), karena Hisyam bin
Jubair meriwayatkan sendirian dan sekiranya ia benar dari Ibnu Abbas, tentu
pendapat ini tertolak, sebab bertentangan dengan pendapat sahabat yang lain.
Ibnu Mas’ud misalnya, beliau berpendapat, “Hal itu kufur.”

Dan bahwa ucapan sahabat itu tidak bisa mengkhususkan nash yang bersifat
umum sebagaimana ucapan sahabat juga tdak bisa dijadikan hujjah bila
bertentangan dengan ucapan sahabat yang lain, tetapi haruslah melalui proses
Tarjih untuk menentukan mana yang lebih tepat.

Kata kufur pada ayat ini dalam bentuk ma’rifah (dengan Alif Lam) yang berarti
Kufur Akbar. Dan kaidah-kaidah ushul ini sudah merupakan kesepakatan ahli
ilmu.

Anda juga jangan tertipu dengan orang yang berkata, “Kufur yang dimaksud
ayat ini adalah kufur Akbar tetapi khusus bagi orang yang menghalalkan apa
yang diharamkan oleh Allah atau sebaliknya. Ini adalah kekeliruan yang banyak
beredar di tengah-tengah umat Islam melalui nukilan-nukilan yang ada di kitab-
kitab mereka. Jelas sekali bahwa pendapat ini tanpa dalil dan tanpa landasan
ilmu dan keyakinan, tetapi lebih sekedar taklid/ikutikutan. Pendapat seperti ini
bagian dari ucapan-ucapan Ghulatul Murjiah (kaum murjiah yang sudah parah
kesesatannya) yang bocor dan berhasil masuk di kitab-kitab para Fuqoha’.

Pendapat seperti ini telah tertolak oleh ijma’ shahabat yang mengatakan bahwa
dosa-dosa mukaffiroh (yang dapat menyebabkan pelakunya kafir) itu dapat
mengkafirkan pelakunya walau hanya dengan terlaksana perbuatan dosa itu
tanpa embel-embel apapun. Tanpa melihat ada tidaknya juhud atau istihlal
(Ingkar/penghalalan yang haram). Misalnya meninggalkan shalat, sebagaimana
yang telah dinukil oleh Ibnul Qoyyim di dalam kitabnya “Ash Sholat”.

Adapun dosa-dosa ghoiru mukaffiroh (tidak mengkafirkan pelakunya), seperti


minum khamer maka pelakunya tidak dapat dikafirkan dengan perbuatannya itu
bila tidak disertai penghalalan (istihlal). Sebagaimana ijma’ para sahabat
terhadap Qudamah bin Mazh’un.

Dosa-dosa mukaffiroh itu dengan sendirinya dapat mengkafirkan pelakunya bila


dilakukan. Inilah pemahaman yang benar yang didasarkan atas Nash Syar’i yang
sehat/selamat. dari pertentangan/kesimpangsiuran dalil. Dan di antara
contohnya adalah berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan kata lain, apa yang terjadi pada mayoritas umat Islam hari ini adalah
jelas-jelas merupakan bentuk istihlal, yaitu penghalalan apa yang diharamkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengatakannya sebagai hal yang mubah/boleh.

Mereka membolehkan berhukum dengan hukum-hukum positif bahkan


mengharuskan penerapannya, padahal hal itu jelas-jelas diharamkan.

Mereka membolehkan riba, khamer dan zina dengan ridho padahal kesemuanya
itu adalah haram secara qoth’i. Dan di dalam undang-undang buatan mereka
dinyatakan bahwa tidak disebutkannya sesuatu perbuatan sebagai tindak
kriminal/pidana menunjukkan bahwa hal itu boleh dilakukan.

Bila tadi telah saya katakan bahwa hukum-hukum atau undang-undang positif
adalah agama baru, maka ini tidak berarti bahwa seluruh penduduk yang mana
negaranya berhukum dengannya adalah kafir, tetapi yang divonis kafir adalah
mereka yang menjadikannya sebagai aturan, yang memerintahkan dengannya
dan yang mengambil keputusan dengannya serta yang ridho untuk berhukum
kepadanya.

Lalu bagaimana dengan undang-undang perdagangan, undang-undang


pekerjaan, undang-undang kepegawaian serta undang-undang hukum pidana
buatan mereka. Dan ternyata semua undang-undang/hukumhukum positif itu
bertentangan dengan Syari’at Islam.

Dan bagaimana dengan tidak diberlakukannya hukum-hukum had Syari’at


secara menyeluruh di mayoritas negeri yang mengaku Islami?

Kesimpulan masalah ini adalah sebagai jawabannya :


Pertama, Agar anda mengetahui bahwa negeri-negeri yang menyangka bahwa ia
negeri Islam dan menginginkan agar diajak berkoalisi bersama Amerika adalah
negara negara non Islam , karena negara-negara itu berhukum dengan hukum-
hukum selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentunya wajib hukumnya
untuk menggulingkan para penguasanya, mencopotnya dan mengangkat
penguasa-penguasa muslim di dalamnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallohu
‘alaihi wa sallam :

ٌ ‫عْنَدُكْم ِمنَ ال ِفْيِه ُبْرَها‬


‫ن‬ ِ ‫حا‬
ً ‫ن َتَرْوا ُكْفًرا َبَوا‬
ْ ‫ع الْمَر أْهَلُه إل أ‬
َ ‫ن ل ُنَناِز‬
ْ ‫وأ‬

“Dan agar kami tidak merampas kekuasaan dari penguasa yang sah … kecuali
bila kalian melihat kekufuran yang nyata (yang dilakukan oleh penguasa) dan
kalian bukti/dalil yang kuat dari Allah tentang hal itu.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Kedua, Setiap muslim wajib berusaha untuk mewujudkan hukum-hukum Alloh


disetiap negerinya dan menghancurkan hukum-hukum positif tersebut, maka
barangsiapa mau berusaha pasti mendapat pahala, sedangkan yang duduk-
duduk pasti mendapat dosa kecuali orang-orang yang menderita udzurudzur
Syar’i. Dan barangsiapa yang ridho terhadap mereka, maka ia adalah golongan
mereka.

Timbangan ke 9, Demokrasi adalah Agama Baru, Barangsiapa mengikutinya atau


mengajak kepadanya Berarti telah Kafir
Posted by abuqital1 under Terorisme Dalam Timbangan Islam
1 Comment

Rate This

Dalam buku beliau (Syaikh Abdul Qodir Bin Abdul Aziz) yang lain, penulis
menerangkan : bahwa sistem demokrasi adalah sebuah sistem buatan manusia,
yaitu prinsip mengatur rakyat oleh rakyat. Artinya bahwa kedaulatan itu
sepenuhnya di tangan rakyat. Abul A’la Al Maududi menyebutnya dengan istilah
“Haakimiyatul Jamaahir”.

Di dalam sistem demokrasi, yang bertindak sebagai pembuat undang-undang


adalah rakyat melalui mayoritas wakil-wakilnya yang ada di parlemen. Undang-
undang yang mereka buat itu selanjutnya menjadi aturan yang harus ditaati oleh
seluruh rakyat. Karena itulah, maka demokrasi merupakan bentuk syirik
(menyekutukan) Allah dan kufur akbar yang nyata, sebab sistem ini telah
merampas hak tasyri’ (membuat aturan hidup) yang hanya boleh dimiliki Allah
dan memberikannya kepada manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
‫لَتْعُبُدوا ِإل ِإّياُه‬
ّ ‫ل َأَمَر َأ‬
ِ ‫ل‬
ّ ‫حْكُم ِإ‬
ُ ‫ن اْل‬
ِ ‫ِّإ‬
“Sesungguhnya keputusan (hukum/undang-undang) itu hanyalah milik Allah
semata. Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepadaNya
saja.” (Yusuf : 40)

Kufurnya sistem demokrasi cukup dibuktikan dengan realita bahwa ketetapan-


ketetapan/ keputusan-keputusan parlemen itu semuanya keluar atas nama
rakyat bukan atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan karena inilah maka
sistem demokrasi merupakan bentuk ta’lih /mempertuhan manusia yang
nyatanyata diharamkan sebagaimana firmanNya:
ِ ‫نا‬
‫ل‬ ِ ‫ضا َأْرَباًبا ّمن ُدو‬
ً ‫ضَنا َبْع‬
ُ ‫خَذ َبْع‬
ِ ‫ل َيّت‬
َ ‫َو‬

“Dan janganlah sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-
tuhan selain Allah.” (Ali Imran : 64)

(dikutip dari Al ‘Umdah hal. 176)

Tentang orang-orang Eropa yang memberlakukan sistem demokrasi itu, Al


‘Allaamah Ahmad Syakir berkata, “Dua ayat tentang musyawarah yaitu Ali Imran
: 159 dan Asy Syuura : 38, hari ini telah dijadikan oleh orang-orang yang
bermain-main dengan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala baik mereka berasal
dari kalangan ulama’ maupun yang lainnya sebagai alat untuk menyesatkan dan
berbagai takwil ngawur lainnya agar dapat mencocoki/sesuai dengan prinsip-
prinsip yang mereka yakini dan sistem yang mereka pakai untuk mengibuli
manusia yang mereka sebut dengan sistem demokrasi. Lalu dengan bermodal
dua ayat inilah mereka yang bermain-main dengan agama itu menipu rakyat
Islam atau siapa saja yang menisbatkan dirinya kepada Islam . Mereka
mengucapkan kalimat yang benar tapi dengan tujuan batil. Dengan lantang
mereka berkata, “Islam menyuruh agar bermusyawarah (berdasarkan dua ayat
tadi).” Atau ucapan-ucapan lain yang semisal ini.

Benar, Islam memang memerintahkan untuk bermusyawarah. Tetapi perintah


musyawarah itu ditujukan kepada Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam dan siapa
saja dari umatnya yang memegang tampuk kekuasaan, yaitu agar musyawarah
itu berlaku di kalangan orang-orang sholih yang benar-benar menegakkan
hukum-hukum Allah, bertaqwa kepada Allah, menegakkan shalat, menunaikan
zakat dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam :
‫حلِم َوالُنَهى‬
ْ ‫َلَيِلْيِني ِمْنُكْم ُأْوُلو ال‬
“Hendaklah yang berada di belakangku orangorang yang dewasa dan pandai
agama.”

Jadi musyawarah itu tidak berlaku bagi kaum atheis/sekuler yang jelas-jelas
memerangi Agama Allah, maupun orang-orang yang suka berbuat kefasikan
yang tidak pernah mengingkari perbuatan-perbuatan mungkar. Dan juga bukan
orang-orang yang menyangka bahwa dirinya berhak membuat aturanaturan dan
undang-undang yang bertentangan dengan agama Allah dan
menghancurkan Syari’at Islam yang mana keadaan mereka antara kafir dan
fasik, yang lebih pas diberi hukum pancung atau cambuk, bukan diberi
kedudukan sebagai anggota musyawarah dan tukar menukar pendapat. (Al
Umdah : 185186)

Karena sistem demokrasi ini benar-benar memberikan kekuasaan kepada rakyat


di dalam membuat aturan-aturan dan undang-undang yang harus ditaati oleh
manusia, maka sistem ini jelas-jelas telah menjadi Ad Diin Al Jadiid (agama baru),
yang telah mengkafirkan/membuat murtad banyak orang disebabkan mereka
memeluknya.

Karena itulah maka kami memutuskan bahwa haram hukumnya berpartisipasi di


dalam pemilihan anggota legislatif dalam bentuk apapun, baik dengan
mencalonkan diri sebagai wakil rakyat atau ikut nyoblos, atau menjadi juru
kampanye dan lain-lain. Karena siapapun yang terlibat di dalamnya tidak akan
lepas dari kekufuran, atau berwala’ kepada orang kafir atau membela sistem
kafir mereka.
‫َوَمن َيَتَوّلُهم ّمنُكْم َفِإّنُه ِمْنُهْم‬
“Barangsiapa di antara kalian yang berwala’/menjadi teman setia mereka berarti
ia menjadi golongan mereka.” (Al Maidah : 51)

Atau paling tidak “membantu perbuatan dosa”, Allah berfirman :


ِ ‫شِديُد اْلِعق ا‬
‫ب‬ َ ‫ل‬
َ ‫نا‬
ّ ‫ل ِإ‬
َ ‫ن َواّتُقوا ا‬
ِ ‫لْثِم َواْلُعْدَوا‬
ِ ‫عَلى ْا‬
َ ‫لَتَعاَوُنوا‬
َ ‫َو‬
“Dan janganlah kalian tolong menolong di atas dosa dan permusuhan.” (Al
Maidah : 2)

Dan dalam hal ini, semua bentuk takwil/anggapan dan klaim akan tertolak!
Misalnya anggapan adanya kemaslahatan bila berpartisipasi di dalamnya.

Ini disebabkan, bahwa sekiranya syarat-syarat mencapai kemaslahatan itu


terpenuhi, maka hal yang demikian ini masih di dalam tataran/lingkup ijtihad.
Dan sama sekali tidak boleh ada ijtihad bila Nash telah ada.

Atau anggapan bahwa asalkan disertai niat yang benar, maka terlibat di dalam
pemilu itu tidak mengapa. Ketahuilah bahwa Ahlul Ilmi telah sepakat, bahwa niat
itu tidak bisa menghalalkan yang haram!! (Al Umdah : 191-192)

Satu Tanggapan to “Timbangan ke 9, Demokrasi adalah Agama Baru,


Barangsiapa mengikutinya atau mengajak kepadanya Berarti telah Kafir”
rohmat Says:

Oktober 1, 2009 at 3:22 pm

Timbangan ke 9 tentang Demokrasi ini mirip dengan pernyataan sikap Amir JAT
mengenai Demokrasi. Semakin menguatkan bahwa sebenarnya NII ini adalah JAT
itu sendiri. benarkah demikian??

Abuqital1:
NII dan JAT sangat berbeda. Negara Islam Indonesia adalah NAMA SUATU
NEGARA sedangkan Jama’ah Anshorut Tauhid adalah NAMA SUATU PERGERAKAN
JIHAD.

Adapun terhadap JAT, jika memang masih memegang PRINSIP HIJRAH dan AL
WALA WAL BARO nya JELAS maka itu adalah saudara seperjuangan kami. Yang
membedakan adalah belum adanya “koordinasi dan konsolidasi dalam SATU
KOMANDO JIHAD” dibawah Pemerintahan NII yang sesuai Perundang-undangan
NII.

Perlu akhi ketahui, sampai saat ini NII masih eksis walaupun NII dalam masa
perang. Imam awal NII Asy Syahid S.M. kartosuwiryo tidak pernah menyatakan
Pencabutan Proklamasi NII. Tidak seperti Sukarno mengibarkan bendera putih
sebagai tanda menyerah kepada Belanda.

Imam awal NII Asy Syahid S.M.K. juga tidak pernah menyatakan baik secara lisan
maupun tulisan tentang NII itu sesat dan sejenisnya bahkan dalam
persidangannya beliau bertanggungjawab penuh dunia akhirat terhadap NII pada
saat itu.

Panduan ke 1 – Manusia dan Jin diciptakan untuk Ibadah Kepada Alloh


Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Alloh berfirman:
ِ ‫ل ِلَيْعُبُدو‬
‫ن‬ ّ ‫س ِإ‬
َ ‫لن‬
ِْ ‫ن َوا‬
ّ‫ج‬ِ ‫ت اْل‬
ُ ‫خَلْق‬
َ ‫َوَما‬
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku..”
(QS. Adz-Dzaariyaat:56)

Ibadah adalah melaksanakan syariat Alloh SWT yang disampaikan melalui lisan
para Rosul-Nya — ‘Alaihimus Salam —; tidak ada satu umatpun dari makhluk
Alloh melainkan telah diutus seorang Rosul kepada mereka. Alloh SWT
berfirman:
َ ‫غو‬
‫ت‬ ُ ‫طا‬ّ ‫جَتِنُبوا ال‬
ْ ‫ل َوا‬
َّ ‫عُبُدوا ا‬
ْ ‫ن ُا‬
ْ ‫ل َأ‬
ً ‫سو‬
ُ ‫ل ُأّمٍة َر‬
ّ ‫َوَلَقْد َبَعْثَنا ِفي ُآ‬
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thoghut itu”. QS. An-
Nahl:36
Juga Alloh berfirman:
‫ن ُأّمٍة ِإل خل ِفيَها َنِذيٌر‬ ْ ‫ن ِم‬
ْ ‫َوِإ‬
“Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi
peringatan.” QS. Fathir:24

Agar hujjah Alloh SWT tegak terhadap makhluk-Nya sejak penciptaan Adam AS
hingga datangnya hari kiamat, Alloh SWT berfirman:
ِ‫س‬
‫ل‬ ُ ‫جٌة َبْعَد الّر‬
ّ‫ح‬
ُ ‫ل‬
ِّ ‫عَلى ا‬
َ ‫س‬
ِ ‫ن ِللّنا‬
َ ‫ل َيُكو‬
ّ ‫ن لَئ‬
َ ‫ن َوُمنِذِري‬
َ ‫شِري‬
ّ ‫سل ُمَب‬
ُ ‫ُر‬
“(Mereka Kami utus) selaku Rosul-Rosul pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Alloh
sesudah diutusnya Rosul-Rosul itu.” QS. An-Nisa’:165

Seorang Rosul diutus pada umat dimana ia hidup bersama mereka,


sepeninggalnya nanti para pengikutnyalah yang menyampaikan risalah. Alloh
SWT berfirman:
‫عَلْيِهْم آَياِتَنا‬
َ ‫ل َيْتُلوا‬
ً ‫سو‬
ُ ‫ث ِفي ُأّمَها َر‬
َ ‫حّتى َيْبَع‬
َ ‫ك اْلُقَرى‬
َ ‫ك ُمْهِل‬
َ ‫ن َرّب‬
َ ‫َوَما َآا‬
“Dan tidak adalah Robbmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di
ibukota itu seorang Rosul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.”
QS. Al-Qoshosh:59

Setelah seorang rosul meninggal, para pengikutnya mengemban amanah


untuk menyampaikan risalah sehingga hujjah Alloh SWT tetap tegak terhadap
semua makhluk-Nya sebagaimana sabda rosul kita Muhammad SAW. Beliau
bersabda:
َ ‫شاِهُد ِمْنُكُم اْلَغاِئ‬
‫ب‬ ّ ‫ِلُيَبّلَغ ال‬
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”
Beliau juga bersabda:
‫عّني َوَلْو آَيًة‬ َ ‫َبّلغُْوا‬
“Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.”
Beliau juga bersabda:
‫لْنِبَياِء‬
َ ‫َاْلُعَلَماُء َوَرَثُة ْا‬
“Ulama adalah pewaris para nabi.”
Beliau juga bersabda:
ِ ‫ي َقاِئَمًة ِبَأْمِر ا‬
‫ل‬ ْ ‫ن ُأّمِت‬ ْ ‫طاِْئَفٌة ِم‬
َ ‫ل‬
ُ ‫ل َتَزا‬
َ
“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang melaksanakan perintah
Alloh.”
Semua hadits ini adalah shohih.
Perintah kepada hamba adalah bersifat syar’i, artinya Alloh SWT
mensyariatkannya melalui lisan para rosul-Nya, tetapi tidak selalunya semua
makhluk menyambut perintah ini. Alloh SWT ciptakan makhluk untuk beribadah
kepada-Nya serta memerintahkan hal itu melalui lisan para Rosul-Nya, kemudian
para makhluk itu ada yang mau beribadah kepada Alloh SWT dan ada juga yang
tidak.
Panduan ke 2 – Alloh SWT menciptakan manusia memang untuk berbeda
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Alloh berfirman:
َ ‫حَدًة َول َيَزاُلو‬
‫ن‬ ِ ‫س ُأّمًة َوا‬
َ ‫ل الّنا‬
َ ‫جَع‬
َ ‫ك َل‬ َ ‫شاَء َرّب‬
َ ‫َوَلْو‬
‫خَلَقُهْم‬
َ ‫ك‬
َ ‫ك َوِلَذِل‬
َ ‫حَم َرّب‬
ِ ‫ن َر‬ْ ‫ل َم‬
ّ ‫ن ِإ‬
َ ‫خَتِلِفي‬
ْ ‫ُم‬
“Jikalau Robbmu menghendaki, tentu Dia
menjadikan umat yang satu, tetapi mereka
senantiasa berselisih pendapat, kecuali orangorang
yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan
untuk itulah Alloh menciptakan mereka”.
(QS. Hud:118-119)

Artinya, Alloh SWT menciptakan mereka memang untuk berbeda, baik dari
segi agamanya, keyakinan dan pendapatnya. Inilah tafsiran yang masyhur dan
shohih dari ayat di atas sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir (II/465)

Alloh SWT memang menghendaki makhluk-Nya terbagi kepada mukmin


dan kafir, sebuah kehendak kauniyah qodariyyah yang pasti terjadi.
Alloh SWT memang menghendaki makhluk-Nya terbagi kepada mukmin
dan kafir, sebuah kehendak kauniyah qodariyyah yang pasti terjadi. Alloh SWT
berfirman:
ُ ‫ن َفَيُكو‬
‫ن‬ ْ ‫ل َلُه ُآ‬
َ ‫ن َيُقو‬
ْ ‫شْيًئا َأ‬
َ ‫ِإّنَما َأْمُرُه ِإَذا َأَراَد‬
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah
berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” QS. Yaasin:82

Dan Alloh berfirman:


‫ل َقَدًرا َمْقُدوًرا‬
ِّ ‫ن َأْمُر ا‬
َ ‫َوَآا‬
“Dan adalah ketetapan Alloh itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” QS. Al-
Ahzab:38

Maka makhlukpun terbagi kepada kelompok yang mukmin dan yang kafir.

Alloh SWT berfirman:


ٌ ‫خَلَقُكْم َفِمْنُكْم َآاِفٌر َوِمْنُكْم ُمْؤِم‬
‫ن‬ َ ‫ُهَو اّلِذي‬
“Dia-lah yang menciptakan kamu maka diantara kamu ada yang kafir dan
diantaramu ada yang beriman.” QS. At-Taghobun:2

Semua ini terjadi setelah tadinya mereka semua beriman, berawal ketika
Alloh SWT ciptakan Adam AS sebelum akhirnya timbul kesyirikan pada diri anak
Adam, sebagaimana firman Alloh SWT:
‫خَتَلُفوا‬
ْ ‫حَدًة َفا‬
ِ ‫س ِإل ُأّمًة َوا‬
ُ ‫ن الّنا‬
َ ‫َوَما َآا‬

Dan Manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.”
QS. Yunus: 19

Ibnu Katsir berkata: Ibnu ‘Abbas berkata: “Rentang waktu antara Adam dan Nuh
adalah sepuluh abad, semua orang berada di atas Islam, setelah itu terjadilah
perselisihan antara mereka; di antara mereka ada yang mulai menyembah
patung, membuat tandingan selain Alloh SWT dan beribadah kepada berhala-
berhala; ketika ini terjadi maka Alloh mengutus para rosul dengan membawa
ayat, keterangan serta hujjah-hujjah-Nya yang sangat jelas dan bukti-bukti-Nya
yang tak terbantahkan,
‫ن َبّيَنٍة‬ْ‫ع‬ َ ‫ي‬ّ‫ح‬ َ ‫ن‬ ْ َ‫حَيا م‬ْ ‫ن َبّيَنٍة َوَي‬
ْ‫ع‬َ ‫ك‬ َ ‫ن َهَل‬
ْ ‫ك َم‬َ ‫ِلَيْهِل‬
… agar yang binasa itu binasa atas keterangan yang nyata, dan yang hidup itu
hidup atas keterangan yang nyata…” Sampai di sini perkataan Ibnu Katsir.
Saya katakan: “Tatkala muncul kekufuran pada diri anak Adam, Alloh SWT
mengutus para rosul, sebagaimana firman Alloh SWT:
‫حُكَم‬
ْ ‫ق ِلَي‬
ّ‫ح‬َ ‫ب ِباْل‬
َ ‫ل َمَعُهْم اْلِكَتا‬ َ ‫ن َوَأنَز‬َ ‫ن َوُمنِذِري‬
َ ‫شِري‬ ّ ‫ل الّنِبّيينَ ُمَب‬
ُّ ‫ث ا‬
َ ‫حَدًة َفَبَع‬
ِ ‫س ُأّمًة َوا‬
ُ ‫ن الّنا‬
َ ‫َآا‬
‫خَتَلُفوا ِفيِه‬
ْ ‫س ِفيَما ا‬ِ ‫ن الّنا‬ َ ‫َبْي‬
“Manusia itu adalah ummat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh
mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan,
dan Alloh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi
keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” QS.
Al-Baqoroh:213
Meskipun Alloh SWT telah mengutus para rosul-Nya dengan membawa
keterangan dan hujjah yang jelas, perselisihan yang bersifat qodari ini terus
terjadi; manusia terbagi kepada kelompok mukmin dan kafir, peperangan antar
dua kelompokpun tak terelakkan, sebagaimana firman Alloh SWT.

‫سى‬ َ ‫عي‬
ِ ‫ت َوآَتْيَنا‬ ٍ ‫جا‬َ ‫ضُهْم َدَر‬ َ ‫ل َوَرَفَع َبْع‬ ُّ ‫ن َآّلَم ا‬ْ ‫عَلى َبْعضٍ ِمْنُهْم َم‬ َ ‫ضُهْم‬ َ ‫ضْلَنا َبْع‬ّ ‫ل َف‬ ُ‫س‬ ُ ‫ك الّر‬ َ ‫ِتْل‬
‫ن َبْعِد َما‬ ْ ‫ن َبْعِدِهْم ِم‬ ْ ‫ن ِم‬َ ‫ل اّلِذي‬
َ ‫ل َما اْقَتَت‬ ُّ ‫شاَء ا‬َ ‫س َوَلْو‬ ِ ‫ح اْلقُُد‬
ِ ‫ت َوَأّيْدَناُه ِبُرو‬ِ ‫ن َمْرَيَم اْلَبّيَنا‬ َ ‫اْب‬
َّ ‫ن ا‬
‫ل‬ ّ ‫ل َما اْقَتَتُلوا َوَلِك‬ ُّ ‫شاَء ا‬
َ ‫ن َآَفَر َوَلْو‬ ْ ‫ن َوِمْنُهْم َم‬
َ ‫خَتَلُفوا َفِمْنُهْم َمنْ آَم‬
ْ‫نا‬ ْ ‫ت َوَلِك‬ ُ ‫جاَءْتُهْم اْلَبّيَنا‬َ
‫ل َما ُيِريُد‬ ُ ‫َيْفَع‬
“Rosul-Rosul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain;
Di antara mereka ada yang Alloh berkata-kata (langsung dengan dia) dan
sebagiannya Alloh meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada
‘Isa putera Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul
Qudus. Dan kalau Alloh menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan
orang-orang (yang datang) sesudah Rosul-Rosul itu,
sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi
mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di
antara mereka yang kafir. Seandainya Alloh menghendaki, tidaklah mereka
berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Alloh berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” QS.
Al-Baqoroh:253

Tidak ada seorang Rosulpun yang diutus melainkan pasti ada golongan dari
kaumnya yang kufur, bahkan Rosululloh SAW bersabda tentang sebagian nabi
yang datang pada hari kiamat:
‫حٌد‬
َ ‫س َمَعُه َأ‬
َ ‫ي َلْي‬
ّ ‫َوَيْأِتي الّنِب‬
“…dan datang seorang nabi sementara tidak ada seorangpun yang
mengikutinya.” Muttafaq ‘Alaih, dari Ibnu ‘Abbas

Alloh SWT kisahkan kepada kita contoh dari hal ini, Alloh SWT berfirman:
َ ‫صُمو‬
‫ن‬ ِ ‫خَت‬
ْ ‫ن َي‬
ِ ‫ل َفِإَذا ُهْم َفِريَقا‬
َّ ‫عُبُدوا ا‬
ْ‫نا‬
ْ ‫حا َأ‬
ً ‫صاِل‬
َ ‫خاُهْم‬
َ ‫سْلَنا ِإَلى َثُموَد َأ‬
َ ‫َوَلَقْد َأْر‬
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara
mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Alloh.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi)
dua golongan yang bermusuhan.” QS. An-Naml:45

Tatkala rosul mengajak mereka untuk beribadah kepada Alloh SWT saja,
maka mereka terpecah kepada dua kelompok dan terjadilah permusuhan antara
mereka. Demikianlah hingga Alloh SWT tutup para rosul dengan diutusnya
Muhammad SAW, manusia masih terbagi kepada mukmin dan kafir,
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
ِ ‫ن الّنا‬
‫س‬ َ ‫ق َبْي‬
ٌ ‫حّمٌد َفْر‬
َ ‫َوُم‬
“…dan Muhammad telah ‘memecah belah’ umat manusia.” HR. Bukhori dari Jabir

Ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Tapi meskipun Alloh SWT
menghendaki makhluk-Nya terbagi kepada mukmin dan kafir dan ini pasti
terjadi, namun kita (sebagai umat Islam) tetap percaya bahwa semua makhluk
akan dihisab sesuai amalan yang telah mereka kerjakan sendiri, Alloh SWT
berfirman:
َ‫ن ِإل َما ُآنُتْم َتْعَمُلون‬
َ ‫جَزْو‬
ْ ‫َوَما ُت‬
“Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah
kamu kerjakan” QS. Ash-Shoffat:39

Kita juga beriman bahwa Alloh SWT tidaklah sedikitpun menzalimi seseorang.
Alloh SWT berfirman:
َ ‫ظِلُمو‬
‫ن‬ ْ ‫سُهْم َي‬
َ ‫ن الّناسَ َأْنُف‬
ّ ‫شْيًئا َوَلِك‬
َ ‫س‬
َ ‫ظِلُم الّنا‬
ْ ‫ل ل َي‬
َّ ‫ِإنّ ا‬
“Sesungguhnya Alloh tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikitpun, akan
tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri.” QS.
Yunus:44

Di dalam sebuah hadits qudsi disebutkan:


‫ظاَلُمْوا‬
َ ‫ل َت‬
َ ‫حّرًما َف‬
َ ‫جَعْلُتُه َبْيَنُكْم ُم‬
َ ‫ي َو‬
ْ ‫س‬
ِ ‫عَلى َنْف‬
َ ‫ظْلَم‬
ّ ‫ت ال‬
ُ ْ‫حّرم‬
َ ‫ي ِإّني‬
ْ ‫عَباِد‬
ِ ‫َيا‬
“Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah haramkan kedzaliman pada diri-
Ku, maka janganlah kalian saling menzhalimi.” HR. Muslim dari Abu Dzar ra.
Panduan ke 3 – Dua Golongan, Mukmin dan Kafir yang saling Bermusuhan
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Dengan terbaginya makhluk pada mukmin dan kafir, timbullah permusuhan


antara kedua belah pihak.

Firman Alloh SWT:


“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara
mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Alloh.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi)
dua golongan yang bermusuhan”. Qs. An Naml (27):45

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar,
mereka saling bertengkar mengenai Robb mereka”. Qs. Al Hajj (22):19

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu”. Qs. An Nisa
(4): 101

Ayat-ayat yang menunjukkan terjadinya sunnah berlangsungnya ujian sangatlah


banyak, sebagian sudah kami sebutkan sebelum ini. Terdapat nash yang tegas
mengenai sunnah ujian ini dalam firman Alloh SWT kepada nabi-Nya SAW,
(Hadits Qudsi, penerj.) :
َ ‫ي ِب‬
‫ك‬ َ ‫ك َوَأْبَتِل‬
َ ‫لْبَتِلَي‬
َِ ‫ك‬
َ ‫َإّنَما َبَعْثُت‬
“Sesungguhnya Aku mengutusmu tak lain adalah untuk mengujimu dan menguji
manusia denganmu.” HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himar
Menerangkan hadits ini, An-Nawawi berkata: “Firman Alloh SWT:
َ‫ي ِبك‬ َ ‫ك َوَأْبَتِل‬
َ ‫لْبَتِلَي‬
َِ ‫ك‬
َ ‫ِإّنَما َبَعْثُت‬
“Sesungguhnya Aku mengutusmu tak lain adalah untuk mengujimu dan menguji
orang denganmu,”
… maknanya, Aku (Alloh) mengujimu (hai Muhammad) sejauh mana engkau
laksanakan perintah untuk menyampaikan risalah dan perintah lain yaitu jihad di
jalan Alloh SWT dengan sebenar-benarnya jihad, sabar karena Alloh SWT dan lain
sebagainya; dan Aku menguji manusia dimana engkau diutusnya kepadanya,
diantara mereka ada yang menampakkan dan memurnikan keimanannya serta
ikhlas dalam mentaati Alloh SWT, ada juga yang tidak mau dan tetap kufur serta
melancarkan permusuhan; ada juga yang munafik; maksud hadits ini adalah
bahwa siapapun yang Alloh SWT uji pada dasarnya bertujuan agar perkara yang
diujikan itu benar-benar terjadi dan dilakukann oleh si hamba, karena Alloh SWT
nantinya hanya akan menghukum hamba-hamba-Nya sesuai yang mereka
lakukan sendiri, bukan berdasarkan apa yang Alloh SWT ketahui sebelum terjadi,
sebab Alloh SWT
Maha Mengetahui segala sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, ini sebagaimana
firman Alloh SWT:
‫خَباِرُآْم‬
ْ ‫ن َوَنْبُلَوا َأ‬ َ ‫صاِبِري‬
ّ ‫ن ِمنُكْم َوال‬َ ‫جاِهِدي‬
َ ‫حّتى َنْعَلَم اْلُم‬
َ ‫َوَلَنْبُلَوّنُكْم‬
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami
mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu;36 yakni,
agar Alloh SWT mengetahui bahwa mereka sendiri yang melakukan dan
menyandang sifat tersebut. QS. Muhammad:31

Panduan ke 4 – Alloh SWT secara Qodari menjadikan orangorang kafir berkuasa


atas orang-orang beriman.
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

1 Votes

Alloh SWT secara Qodari menjadikan orang-orang kafir berkuasa atas orang-
orang beriman.

Secara qodari di sini artinya tidak secara syar’i; Alloh SWT tidak memerintahkan
orang-orang kafir melalui lisan para rosul untuk memusuhi dan memerangi
orang-orang beriman, tetapi justru memerintahkan mereka untuk beribadah dan
taat. Dengan demikian, berkuasanya orang kafir atas orang mukmin adalah
bersifat qodari, sedangkan berkuasanya orang beriman atas orang kafir adalah
tuntutan syar’i yang pada gilirannya nanti pasti akan terjadi juga sesuai dengan
takdir Alloh SWT.

Alloh SWT. berfirman:


“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kalangan)
orang-orang yang berdosa”. Qs. Al Furqon (25):31

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
syaitansyaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin”. Qs. Al An’am (6):112
“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang
terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu…” Qs. Al An’am
(6):123

Selanjutnya, cara orang-orang kafir memusuhi orang-orang beriman tidak akan


pernah berubah walaupun berganti rosul, umat dan zaman; bentuknya selalu
sama. Oleh karena itu, Alloh SWT berfirman:

“Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa
yang sesungguhnya telah dikatakan kepada Rosul-Rosul sebelum kamu”. Qs.
Fushshilat (41):43

MODEL MODEL PERMUSUHAN ORANG-ORANG KAFIR TERHADAP ORANG-ORANG


BERIMAN DIANTARANYA:

1 ) Mendustakan, Alloh SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rosul-Rosul sebelum kamu”. Qs. Al


An’am (6):34

2) Memperolok dan menghina, Alloh SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di


dunia) menertawakan orang-orang yang beriman”. Qs. Al Muthoffifin (83):29

“Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang


seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-
olokkannya”. Qs. Yasin (36):30

3) Menuduh mereka gila, Alloh SWT berfirman:

“Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al-Qur’an kepadanya,


sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila”. Qs. Al Hijr (15):6

4) Menuduh orang-orang beriman ingin mencari kedudukan dan kekuasaan,


Alloh SWT berfirman:

“Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami
dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya
kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi.” Qs. Yunus (10):78
5) Menuduh orang-orang beriman berbuat kerusakan di muka bumi dan ingin
mengganti ideologi, Alloh SWT berfirman:

“Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya):”Biarkanlah aku


membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Robbnya, sesungguhnya
aku khawatir ia akan menukar agama-agamamu atau menimbulkan kerusakan di
muka bumi. Qs. Al Mukmin (40):26

6) Menghina kaum mukminin karena mereka lemah dan miskin, Alloh SWT
berfirman:

“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang


mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina? Qs. Asy Syu’araa (26):111 “Dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya),
niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang beriman: “Manakah
di antara kedua golongan (kafir dan mu’min) yang lebih baik tempat tinggalnya
dan lebih indah (tempat pertemuan(nya). Qs. Maryam (19):73

7) Merasa sial dengan keberadaan orang-orang beriman dan menganggap ajaran


yang mereka bawa menjadi sebab datangnya bencana, perpecahan, kefakiran
dan lain sebagainya, Alloh SWT berfirman:

“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu,


sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan
merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami.”
Qs. Yasin (36):18

Berdebat dengan cara batil untuk membantah kebenaran dan menyesatkan


orang banyak, Alloh SWT berfirman:

“…tetapi orang-orang kafir membantah dengan yang batil agar dengan itu
mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami
dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan.” Qs. Al Kahfi
(18): 58

9) Memprovokasi orang banyak untuk memusuhi orang beriman:

“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya):


“Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian
(menjadi) orang-orang yang merugi.” Qs. Al A’rof (7):90

“…karena aku khawatir ia akan menukar agama-agamamu atau menimbulkan


kerusakan di muka bumi.” Qs. Al Mukmin (40):26

10) Menuduh orang beriman sebagai kelompok minoritas yang ingin


memaksakan pendapat kepada kelompok mayoritas, Alloh SWT berfirman:
“Kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke
kota-kota. (Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar
golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan
amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-
jaga.” Qs. Asy Syu’aroo (26):53-56

11) Orang-orang kafir beranggapan kekafiran mereka lebih baik daripada agama
yang benar (Islam), Alloh SWT berfirman:

“Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang


aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang
benar.” Qs. Al Mukmin (40):29

“Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir
yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak
melenyapkan kedudukan kamu yang utama.” Qs. Thaahaa (20):63

12) Menipu orang awam dengan berbagai cara dan sarana agar mereka tidak
mengikuti orang-orang beriman, Alloh SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang


menyombongkan diri: “(Tidak), sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan
siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir
kepada Alloh dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” Kedua belah pihak
menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang
belenggu di leher orangorang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan
apa yang telah mereka kerjakan.” Qs. Saba(34):33

13) Membuat orang-orang beriman kelaparan untuk memalingkan mereka dari


agamanya, Alloh SWT berfirman:

“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar):


“Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin)
yang ada di sisi Rosululloh supaya mereka bubar (meninggalkan Rosulullah).”
Padahal kepunyaan Alloh-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-
orang munafik itu tidak memahami.” Qs. Al Munafiqun (63):7

14) Berusaha menimbulkan fitnah dalam agama orang beriman, Alloh SWT
berfirman:

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap
lunak (pula kepadamu).” Qs. Al Qolam (68):29

“…Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak


memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu.”
Qs. Al Maidah (5):49
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga
kamu mengikuti agama mereka.” Qs. Al Baqoroh (2):120

15) Mengancam kaum mukminin dengan penjara dan dibunuh jika mereka tidak
mau meninggalkan agama mereka serta mau berkompromi dengan jalan yang
ditempuh oleh orang-orang kafir, Alloh SWT berfirman:

“Orang-orang kafir berkata kepada Rosul-Rosul mereka: “Kami sungguhsungguh


akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada kami.” Qs.
Ibrohim (14):15

“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan


melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama
mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.
Qs. Al Kahfi (18):20

16) Menyiksa, membunuh dan memerangi. Alloh SWT berfirman: “Mereka


berkata: “Bakarlah dia dan bantulah ilaah-ilaah kamu!. Qs Al Anbiya (21):68

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya


terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau
mengusirmu. Qs. Al Anfal (8):30

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat)


mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka
sanggup…” Qs. Al Baqoroh (2):217

Dari rincian di atas, Anda bisa lihat — Akhi Muslim — bahwa gaya orang-orang
kafir dalam memerangi orang-orang beriman tidak pernah berubah, Alloh SWT
berfirman: “Apakah mereka saling berpesan tentang yang dikatakan itu…” Qs.
Adz Dzariat (51):53

Harus disadari, orang-orang kafir memerangi orang-orang beriman itu karena


keimanannya, sebagaimana firman Alloh SWT: “…sedang mereka menyaksikan
apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman. Dan mereka tidak
menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orangorang mu’min itu
beriman kepada Alloh Yang Perkasa lagi Maha Terpuji,” Qs. Al Buruj (85):7-8

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi
kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)” Qs. An Nisa (4):89

Karena orang kafir memusuhi orang beriman lantaran keimanannya maka


SETIAP KALI IMAN SESEORANG MENINGKAT,PERMUSUHAN ORANG-ORANG KAFIR
TERHADAP DIRINYAPUN SEMAKIN MENINGKAT, oleh karena itu Rosululloh SAW
bersabda: “Manusia yang paling dahsyat ujiannya adalah para nabi, kemudian
yang berikutnya dan berikutnya; seseorang diuji menurut kadar keimanannya.
(HR. Tirmidzi) Wallohu A’lam bish showab
Panduan ke 5 – Secara Syar’i Alloh SWT memerintahkan orang mukmin untuk
melawan orang kafir
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
1 Comment

Rate This

Secara syar’i, Alloh SWT Yang Maha Agung memerintahkan orang beriman
melawan orang kafir yang menguasai orang beriman secara qodari (terjadi atas
takdir Alloh SWT)

“Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan

sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja,


rumahrumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak
disebut nama Alloh. Sesungguhnya Alloh pasti menolong orang yang menolong
(agama)-Nya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.
Qs. Al Hajj (22):40

KONFRONTASI antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir melewati fase


berikut ini:

1) FASE DAKWAH (MENYERU) KEPADA ISLAM

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk
Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat
petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah
menyampaikan (ayat-ayat Alloh). Dan Alloh Maha Melihat akan hamba-hamba-
Nya”. Qs. Ali Imron (3):20

Rosululloh SAW bersabda kepada Mu’adz ketika beliau mengutusnya ke

Yaman:

ُ ‫لا‬
‫ل‬ ّ ‫ل ِإَلَه ِإ‬
َ ‫ن‬
ْ ‫شَهاَدَة َأ‬
َ ‫عْوُهْم ِإَلْيِه‬
ُ ‫ل َما َتْد‬
ُ ‫ن َأّو‬
ْ ‫ب َفْلَيُك‬
ِ ‫ل اْلِكَتا‬
ِ ‫ن َأْه‬
ْ ‫ك َتْأِتي َقْوًما ِم‬
َ ‫ِإّن‬

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab, maka hendaknya
yang pertama kali kau serukan adalah bersaksi bahwa tidak ada ilaah (yang haq)
selain Alloh.” HR. Muttafaqun ‘Alaih
Mengingat risalah Muhammad SAW ini ditujukan kepada semua manusia

maka sikap makhluk terhadap dakwah beliau ini terbagi menjadi dua: Ada yang
BERIMAN dan ada yang KAFIR. Oleh karena itu dalam sebuah hadits disebutkan:

ِ ‫ن الّنا‬
‫س‬ َ ‫ق َبْي‬
ٌ ‫حّمٌد َفْر‬
َ ‫َوُم‬

“Muhammad adalah pemecah manusia.” HR. Bukhori dari Jabir

Setelah dakwah, timbul hubungan yang berbeda antara orang beriman

dengan orang kafir, yaitu yang tertera pada fase berikutnya:

2) FASE BERLEPAS DIRI DARI ORANG-ORANG KAFIR, BAIK ORANG KAFIR ITU
HIDUP ATAU SUDAH MATI.

Berlepas diri dari orang kafir yang masih hidup dengan cara menampakkan

permusuhan dan kebencian terhadap mereka serta memusuhi kekufurannya,


tidak mengikuti keinginan dan jalan yang mereka tempuh serta tidak bergaul
dengan mereka. Ini akan dijelaskan secara rinci nanti.

CARA BERLEPAS DIRI DARI ORANG KAFIR YANG SUDAH MATI yaitu:

a) tidak memintakan ampun untuk mereka, sebagaimana firman Alloh SWT:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun


(kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu
adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang
musyrik itu adalah penghuni naar Jahiim.” Qs. At Taubah (9):113

b) tidak menguburkan mereka bersama orang-orang beriman, tidak membagikan


harta waris mereka dan tidak mengangkatnya sebagai ahli waris, sebagaimana
sabda Rosululloh SAW:

‫سِلَم‬
ْ ‫ث اْلَكاِفُر اْلُم‬
ُ ‫ل َيِر‬
َ ‫سِلُم اْلَكاِفَر َو‬
ْ ‫ث اْلُم‬
ُ ‫ل َيِر‬
َ

“Orang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang
muslim.” HR. Muttafaqun ‘Alaih dari Usamah bin Zaid

CARA BERLEPAS DIRI DARI ORANG KAFIR YANG MASIH HIDUP yaitu:

a) Berlepas diri dan tidak mengikuti keinginan dan jalan yang mereka tempuh

serta tidak bergaul dengan mereka. Ini akan dijelaskan secara rinci nanti.
b) menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka serta

memusuhi kekufurannya.

Alloh SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan
orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum
mereka: “Sesungguhnya kami BERLEPAS DIRI dari kamu dan dari apa yang kamu
sembah selain Alloh, kami INGKARI (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami
dan kamu PERMUSUHAN dan KEBENCIAN buat

selama-lamanya SAMPAI KAMU BERIMAN kepada Alloh saja.” Qs. Al Mumtahanah


(60):4

Mari kita pahami ayat tersebut:

Hubungan kerabat tidak menghalangi untuk bersikap baro’ (berlepas diri),

seperti dalam firman Alloh:

‫ِإْذ َقاُلوا ِلَقْوِمِهْم‬

“Ketika mereka berkata kepada kaum mereka…”

Syaikh Hamd bin ‘Utaiq berkata: “Di sini terdapat satu hal yang cukup indah

dari firman Alloh SWT:

ِّ ‫ن ا‬
‫ل‬ ِ ‫ن ُدو‬
ْ ‫ن ِم‬
َ ‫ِإّنا ُبَرآُء ِمْنُكْم َوِمّما َتْعُبُدو‬

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah
selain Alloh…”

… yaitu Alloh SWT lebih dahulu menyebutkan sikap berlepas diri dari orang-
orang musyrik yang mereka ibadahi selain Alloh SWT sebelum berlepas diri dari
berhala-berhala yang diibadahi selain-Nya itu, sebab yang pertama lebih penting
daripada yang kedua; kadang bisa saja seseorang berlepas diri dari berhala
namun tidak berlepas diri dari penyembahnya, yang seperti ini belum bisa
disebut telah melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Lain halnya
ketika ia berlepas diri dari orang-orang musyrik, secara otomatis ia telah
berlepas diri dari sesembahan-sesembahan mereka, ini seperti firman Alloh SWT:

‫شِقّيا‬
َ ‫عآِء َرّبي‬
َ ‫ن ِبُد‬
َ ‫سى َأل َأُآو‬
َ‫ع‬
َ ‫عوا َرّبي‬
ُ ‫ل َوَأْد‬
ِ ‫نا‬
ِ ‫ن ِمن ُدو‬
َ ‫عو‬
ُ ‫عَتِزُلُكْم َوَماَتْد‬
ْ ‫َوَأ‬
“Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain
Alloh, dan aku akan berdo’a kepada Robbku, mudah-mudahan aku tidak akan
kecewa dengan berdo’a kepada Robbku.” Qs.Maryam (19):48

Di sini Alloh SWT mendahulukan BERLEPAS DIRI DARI MEREKA sebelum berlepas
diri dari SESEMBAHAN MEREKA.

Maka hendaknya engkau perhatikan satu point ini, sebab itulah yang akan

membukakan pintu permusuhan dengan musuh-musuh Alloh SWT. Betapa


banyak orang yang TIDAK TERKENA KESYIRIKAN TETAPI TIDAK MEMUSUHI
PELAKUNYAsehingga dengan itu ia belum bisa disebut sebagai orang muslim,
sebab ia meninggalkan agama para rosul.

Kemudian Alloh SWT berfirman:

‫حَدُه‬
ْ ‫ل َو‬
ِّ ‫حّتى ُتْؤِمُنوا ِبا‬
َ ‫ضاُء َأَبًدا‬
َ ‫َآَفْرَنا ِبُكْم َوَبَدا َبْيَنَنا َوَبْيَنُكْم اْلَعَداَوُة َواْلَبْغ‬

“…kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu
permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada
Alloh saja.”

Firman alloh SWT: Wa badaa… (dan telah nyata…) maksudnya telah nampak

dan jelas. Perhatikan dengan seksama, bagaimana Alloh SWT mendahulukan

permusuhan daripada kebencian, sebab yang pertama lebih penting daripada


yang kedua, sebab kadang manusia bisa membenci orang-orang musyrik namun
tidak memusuhi mereka, sehingga tidak bisa disebut telah melaksanakan
kewajiban yang harus ia jalani sampai permusuhan dan kebencian terpenuhi
sekaligus. Lebih dari itu, permusuhan dan kebencian ini harus nampak, jelas dan
terang. Dan ketahuilah, meski terkadang rasa benci sudah ada dalam hati,
NAMUN TIDAK AKAN BERMANFAAT BAGI PELAKUNYA SAMPAI PENGARUHNYA
NAMPAK, indikasinya jelas, dan DIIRINGI SIKAP PERMUSUHAN DAN ANTI
LOYALITAS; pada saat itulah permusuhan dan kebencian baru nampak. Adapun
jika masih ada sikap setia dan hubungan, ini menunjukkan kebencian itu tidak
ada. Karena itu, hendaknya engkau perhatikan masalah ini, sebab masalah ini
akan menyingkap banyak syubhat yang masih samar di hadapanmU, dikutip dari
Majmu’atut Tauhid risalah ke-12 hal. 376-378.

Dan hari ini KESYIRIKAN YANG PALING BESAR ADALAH Negara-negara yang tidak
memakai hukum Alloh/ Islam (AL Quran) dalam IDEOLOGI DAN KONSTITUSI
NEGARANYA, namun MAYORITAS MUSLIM MASIH MENTAATINYA dan TIDAK MAU
MEMISAHKAN DIRI seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

3) FASE MEMISAHKAN DIRI DAN HIJRAH


Setelah BERDAKWAH dan BERLEPAS DIRI dari orang-orang kafir, fase selanjutnya
harus memisahkan diri, mengkufuri mereka dan BERHIJRAH dari negeri di mana
mereka tinggal jika hal itu memungkinkan. Akan ada keterangan khusus dalam
masalah hijrah.

Alloh SWT juga berfirman:

‫عو َرّبي‬
ُ ‫ل َوَأْد‬
ِّ ‫ن ا‬
ِ ‫ن ُدو‬
ْ ‫ن ِم‬
َ ‫عو‬
ُ ‫عَتِزُلُكْم َوَما َتْد‬
ْ ‫َوَأ‬

“Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain
Alloh, dan aku akan berdo’a kepada Robbku,” Qs. Maryam (19):48

Rosululloh SAW bersabda:

َ ‫شِرِآْي‬
‫ن‬ ْ ‫ظُهِر اْلُم‬
ْ ‫ن َأ‬
َ ‫سِلٍم ُيِقْيُم َبْي‬
ْ ‫ل ُم‬
ّ ‫ن ُآ‬
ْ ‫يٌء ِم‬
ْ ‫َأَنا َبِر‬

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah orang-orang
musyrik.” HR. Abu Daud dan dishohihkan oleh Al Albani

4) FASE JIHAD DI JALAN ALLOH SWT.

Ini berlaku terhadap orang yang menentang dan tidak mau menerima

dakwah Islam. Alloh SWT berfirman:

“…maka bunuhlah orang-orang musyrikin dimana saja kamu jumpai mereka,”

Alloh SWT juga berfirman kepada nabi-Nya SAW (dalam hadits Qudsi):

“Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dengan menguji manusia


denganmu.” Qs. At Taubah (9):5

Hingga firman-Nya: “Usirlah mereka sebagaimana mereka mengusirmu,


perangilah mereka maka Kami akan turut berperang bersamamu, berinfaklah
maka Kami akan berinfak untukmu, utuslah pasukan perang maka Kami akan
utus pasukan seperti itu lima kali lipat. Dan berperanglah bersama orang yang
mentaatimu melawan orang yang bermaksiat kepadamu.” HR. Muslim dari ‘Iyadh
bin Himmar

Alloh SWT berjanji akan menghancurkan orang-orang kafir melalui Diri-Nya

sendirinya dan para Rosul-Nya sejak diutusnya Nabi Nuh hingga Musa —
‘Alaihimus Salam — , kemudian Alloh mensyari’atkan jihad dalam syariat Musa
setelah Bani Israil selamat dan Fir’aun binasa, Alloh SWT berfirman:

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Alloh

bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada
musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata:”Hai
Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa,
sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar
daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti

kami akan memasukinya.” Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang


takut (kepada Alloh) yang Alloh telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah
mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya
niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Alloh hendaknya kamu
bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” Mereka berkata: ‘Hai
Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selamalamanya, selagi mereka
ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Robbmu, dan berperanglah
kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” Qs. Al
Maidah (5):21-23

INILAH AWAL MULA PERINTAH PERANG DI JALAN ALLOH SWT.

Ibnu Katsir berkata: “Firman Alloh SWT:

‫لوَلى‬
ُ‫نا‬
َ ‫ن َبْعِد َما َأْهَلْكَنا اْلُقُرو‬
ْ ‫ِم‬

“…sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu,”

…yakni, setelah Alloh SWt menurunkan Taurat Dia tidak akan pernah mengazab
suatu umat secara keseluruhan, tetapi Alloh SWT memerintahkan kaum
mukminin untuk memerangi musuh-musuh Alloh SWT yaitu orang-orang musyrik
sebagaimana firman Alloh SWT:

“Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk)
negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar. Maka (masing-
masing) mereka mendurhakai Rosul Robb mereka, lalu Alloh menyiksa mereka
dengan siksaan yang sangat keras.” Qs. Al Haaqqoh (69):9-10

Al-Qurthubi berkata: “Firman Alloh SWT:

“(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan Al-
Qur’an.” Qs. At Taubah (9):111
… adalah pengkhabaran dari Alloh Ta’ala bahwa janji ini sudah ada dalam kitab
suci-kitab suci sebelumnya dan bahwa jihad dan melawan musuh pada awal
mulanya terjadi di zaman Musa ‘Alaihis Salam.” Tafsir Al-Qurthubi VIII/268

Satu Tanggapan to “Panduan ke 5 – Secara Syar’i Alloh SWT memerintahkan


orang mukmin untuk melawan orang kafir”
deden Says:

Januari 12, 2010 at 11:26 am

mohon izin ana kopi filenya

Abuqital1:
silakan akhi sepanjang untuk kemaslahatan ummat

Panduan ke 6 Jihad ada dua, Tholabi dan Difa’i


Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Jihad tholabi (ofensive) adalah menyerang dan memerangi musuh di negeri


mereka. Sedangkan jihad difa’i (defensive) adalah memerangi musuh yang
terlebih dahulu menyerang kaum mukminin. (Lihat Al-Ikhtiyarot Al-Fiqhiyyah
tulisan Ibnu Taimiyyah, tahqiq Al-Faqi terbitan Darul Ma’rifah hal. 309)

Dalil jihad tholabi :


Firman Alloh SWT:
‫ن َتاُبوا‬
ْ ‫صٍد َفِإ‬
َ ‫ل َمْر‬ّ ‫صُروُهْم َواْقُعُدوا َلُهْم ُآ‬ ُ ‫ح‬ ْ ‫خُذوُهْم َوا‬
ُ َ‫جْدُتُموُهْم و‬
َ ‫ث َو‬
ُ ‫حْي‬
َ ‫ن‬
َ ‫شِرِآي‬
ْ ‫َفاْقُتُلوا اْلُم‬
‫حيٌم‬
ِ ‫غُفوٌر َر‬ َ ‫ل‬َّ ‫ن ا‬
ّ ‫سِبيَلُهْم ِإ‬
َ ‫خّلوا‬َ ‫لَة َوآَتْوا الّزَآاَة َف‬
َ‫ص‬ّ ‫َوَأَقاُموا ال‬

“…maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka,


dan tangkaplah mereka . Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.
Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka
berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang…” (Qs. At Taubah:5)

Alloh SWT juga berfirman:


َ ‫سوُلُه َول َيِديُنو‬
‫ن‬ ُ ‫ل َوَر‬
ُّ ‫حّرَم ا‬
َ ‫ن َما‬ َ ‫حّرُمو‬َ ‫خِر َول ُي‬ ِ ‫ل َول ِباْلَيْوِم ال‬ ِّ ‫ن ِبا‬
َ ‫ن ل ُيْؤِمُنو‬
َ ‫َقاِتُلوا اّلِذي‬
َ ‫غُرو‬
‫ن‬ ِ ‫صا‬َ ‫ن َيٍد َوُهْم‬ْ‫ع‬
َ ‫جْزَيَة‬ِ ‫طوا اْل‬
ُ ‫حّتى ُيْع‬َ ‫ب‬َ ‫ن ُأوُتوا اْلِكَتا‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ْ ‫ق ِم‬ ّ‫ح‬َ ‫ن اْل‬
َ ‫ِدي‬
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak (pula) pada
hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh
Alloh dan Rosul- Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama
Alloh), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai
mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
(Qs. At Taubah:29)

Adapun jihad difa’i, dalilnya adalah:


Firman Alloh SWT:
‫لْدَباَر‬
َ ‫حًفا َفل ُتَوّلوُهْم ا‬
ْ ‫ن َآَفُروا َز‬
َ ‫ن آَمُنوا ِإَذا َلِقيُتْم اّلِذي‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬
“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang
sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”
(Qs. Al Anfal:15)

Dan firman Alloh SWT:


‫ن ُيَقاِتُلوَنُكْم‬
َ ‫ل اّلِذي‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫َوَقاِتُلوا ِفي‬
“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi)
janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al Baqoroh:110)

Dan firman Alloh SWT:

‫عَلْيُكْم‬
َ ‫عَتَدى‬
ْ ‫ل َما ا‬
ِ ‫عَلْيِه ِبِمْث‬
َ ‫عَتُدوا‬
ْ ‫عَلْيُكْم َفا‬
َ ‫عَتَدى‬
ْ‫نا‬
ْ ‫َفَم‬

“Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia,
seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Alloh dan
ketahuilah, bahwa Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Al
Baqoroh:194)

Perkara Syubhat:
Dalam rangka mengingkari adanya jihad tholabi dalam Islam, sebagian orang
menggunakan dalil firman Alloh SWT:
‫ح َلَها‬
ْ ‫جَن‬
ْ ‫سْلِم َفا‬
ّ ‫حوا ِلل‬
ُ ‫جَن‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َوِإ‬
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya…”
(Qs. Al Anfal:61)

Menurut mereka lagi, selama orang kafir mengajak berdamai, maka tidak ada
jihad. Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi SAW:
‫لتتمنوا لقاء العدو‬
“Janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh.” (HR. Muttafaqun
‘Alaih)

Jawaban Dari Syubhat Ini Adalah:

Pertama:
Rosululloh SAW dan para sahabatnya — yang mana mereka adalah umat Islam
terbaik — tidak membawa makna nash-nash tersebut seperti yang mereka
fahami yaitu meninggalkan jihad tholab.

Buktinya Nabi SAW sendiri memerangi bangsa Arab kemudian memerangi


Romawi di Tabuk, Rosululloh SAW sendiri telah melakukan 19 kali perang
ghozwah (Muttafaq ‘Alaih dari Zaid bin Arqom), 8 diantaranya beliau terjun
langsung di dalamnya (HR. Muslim dari Buroidah)

Adapun utusan dan sariyah-sariyah yang beliau tidak turut di dalamnya,


jumlahnya mencapai 36 kali menurut riwayat Ibnu Ishaq, sedangkan yang lain
berpendapat lebih dari itu (Fathul Bari VII/279-281 dan Shohih Muslim bisyarhin
Nawawi (XII/185). Setelah itu, sepeninggal Rosululloh SAW para sahabat
berperang menyerang bangsa Rum, Persi, Turki, Mesir, Barbar dan lain
sebagainya, sampai-sampai ini sudah menjadi perkara yang maklum.

Maka kepada orang yang berdalil dengan nash-nash tadi untuk membantah
adanya jihad tholab, kami katakan kepadanya: Sesuaikah pemahaman Anda ini
dengan yang dipahami Rosululloh SAW dan sahabatnya?

Kedua:
Adapun firman Alloh SWT:
‫ح َلَها‬
ْ ‫جَن‬
ْ ‫سْلِم َفا‬
ّ ‫حوا ِلل‬
ُ ‫جَن‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َوِإ‬
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya…”
(Qs. Al Anfal:61)
akan disebutkan perkataan salaf pada panduan ke-10.

Ketiga:
Sabda Rosululloh SAW: “Janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan
musuh,” Imam Bukhori telah meriwayatkannya dari ‘Abdulloh bin Aufa, begini
selengkapnya:

‫ انتظر حتى مالت الشمس‬،‫أن رسول ال صلى ال عليه وسلم في بعض أيامه التي لقي فيها‬،
‫ فإذا لقيتموهم‬،‫ وسلوا ال العافية‬،‫ أيها الناس لتتمنوا لقاء العدو‬:‫ثم قام في الناس خطيبا فقال‬
‫ اللهم منزل الكتاب ومجري‬:‫ ثم قال‬،‫ واعلموا أن الجنة تحت ظلل السيوف‬،‫فاصبروا‬
‫ اهزمهم وانصرنا عليهم‬،‫ وهازم الحزاب‬،‫السحاب‬
“Rosululloh SAW pernah menunggu musuh dalam salah satu peperangan yang
beliau lakukan sampai matahari condong, kemudian beliau berdiri berkhutbah di
hadapan manusia: “Wahai manusia janganlah kalian berangan-angan bertemu
musuh dan mintalah keselamatan kepada Alloh, jika kalian bertemu bersabarlah;
ketahuilah bahwa surga di bawah naungan pedang,” lalu beliau berdo’a: “Ya
Alloh, yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan dan yang
menghancurkan pasukan Ahzab, hancurkanlah mereka dan menangkan kami
atas mereka.” (Hadits 2965 dan 2966)

Saya katakan: Dalam nash hadits ini jelas bahwa Rosululloh SAW mengucapkan
sabdanya tersebut dalam salah satu peperangan yang beliau lakukan
sebagaimana dikatakan perowi (“…dalam salah satu peperangan yang beliau
lakukan…”) yaitu ketika bertemu musuh, sebagaimana diriwayatkan Imam
Muslim. Demikian juga sabda beliau: (“Jika kalian bertemu dengan mereka —
musuh — maka bersabarlah…”) juga sabda beliau: “Kalahkanlah mereka dan
menangkan kami atas mereka”, bagaimana ia berdalil dengan hadits tersebut
untuk meninggalkan jihad sedangkan hadits tersebut beliau ucapkan dalam
salah satu peperangannya?

Kemudian, hadits di atas sebenarnya berisi dorongan untuk berperang dan


menyerang musuh, ini ditunjukkan dalam sabda beliau: “Sesungguhnya surga di
bawah naungan pedang.”

Panduan ke 7 – Jihad Hukumnya Fardhu Kifayah dan Menjadi Fardhu ‘Ain Dalam
Beberapa Kondisi
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Ibnu Qudamah berkata: “Makna fardhu kifayah adalah jika belum dilaksanakan
oleh sejumlah orang yang mencukupi maka semua orang berdosa, dan jika
sejumlah orang sudah mencukupi, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lain.
Perintah ini pada awalnya mengenai semua orang sebagaimana kewajiban yang
fardhu ‘ain, kemudian hukum ini terpecah menjadi dua, satu sisi fardhu
kifayahyang gugur dengan dilaksanakan sebagian orang, dan fardhu ‘ain yang
tidak gugur dari seseorang walaupun sudah dilaksanakan orang lain.”

Kemudian beliau berkata bahwa jihad itu fardhu kifayah: “Dalil kami adalah
firman Alloh SWT:
‫ل ِبَأْمَواِلِهْم‬ ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫ن ِفي‬ َ ‫جاِهُدو‬
َ ‫ضَرِر َواْلُم‬ّ ‫غْيُر ُأْوِلي ال‬ َ ‫ن‬ َ ‫ن اْلُمْؤِمِني‬ْ ‫ن ِم‬َ ‫عُدو‬ِ ‫سَتِوي اْلَقا‬
ْ ‫ل َي‬
‫سَنى‬ ْ‫ح‬ ُ ‫ل اْل‬ُّ ‫عَد ا‬َ ‫جًة َوُآل َو‬
َ ‫ن َدَر‬
َ ‫عِدي‬ِ ‫عَلى اْلَقا‬
َ ‫سِهْم‬
ِ ‫ن ِبَأْمَواِلِهْم َوَأنُف‬
َ ‫جاِهِدي‬
َ ‫ل اْلُم‬
ُّ ‫ل ا‬ َ‫ض‬ّ ‫سِهْم َف‬
ِ ‫َوَأنُف‬
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang
tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Alloh dengan
harta mereka dan jiwanya. Alloh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan
harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-
masing mereka Alloh menjanjikan pahala yang baik (jannah)…” (Qs. An-Nisa’:95)
Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang hanya duduk saja tidak berjihad tidak
berdosa dengan berjihadnya orang lain.

Alloh SWT juga berfirman:


‫طاِئَفٌة ِلَيَتَفّقُهوا‬
َ ‫ل ِفْرَقٍة ِمْنهُْم‬
ّ ‫ن ُآ‬
ْ ‫ن ِلَينِفُروا َآاّفًة َفَلْول َنَفَر ِم‬
َ ‫ن اْلُمْؤِمُنو‬
َ ‫َوَما َآا‬
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin pergi semua (ke medan
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka…” (Qs At-Taubah:122)
Juga dikarenakan Rosululloh SAW mengutus sariyah-sariyah sementara beliau
tinggal di Madinah bersama para sahabatnya.” (Al-Mughni was-Syarhul Kabir
X/364-365.)
Kemudian Ibnu Qudamah berkata: Jihad menjadi fadhu ‘ain dalam tiga keadaan:

Pertama: Jika dua pasukan bertemu dan dua barisan saling berhadapan, haram
bagi orang yang turut serta dalam peperangan tersebut mundur, posisi seperti
ini adalah fardhu ‘ain berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

ُ‫سوَله‬ُ ‫ل َوَر‬
َّ ‫طيُعوا ا‬
ِ ‫ن َوَأ‬
َ ‫حو‬ُ ‫ل َآِثيًرا َلَعّلُكْم ُتْفِل‬
َّ ‫ن آَمُنوا ِإَذا َلِقيُتْم ِفَئًة َفاْثُبُتوا َواْذُآُروا ا‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬
َ ‫صاِبِري‬
‫ن‬ ّ ‫ل َمَع ال‬َّ ‫ن ا‬
ّ ‫صِبُروا ِإ‬
ْ ‫حُكْم َوا‬ ُ ‫ب ِري‬ َ ‫شُلوا َوَتْذَه‬ َ ‫عوا َفَتْف‬
ُ ‫َول َتَناَز‬
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh),
maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya
agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Alloh dan RosulNya dan janganlah
kamu berbantahbantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang
sabar.” (Qs. Al-Anfal:45-46)

Kedua: Jika orang-orang kafir menduduki salah satu negeri kaum muslimin, maka
penduduknya harus (dan fardu ‘ain hukumnya) memerangi dan mengusir
mereka.
Ketiga: Jika imam memobilisasi secara umum terhadap suatu kaum, maka fardhu
‘ain bagi mereka untuk berperang bersamanya berdasarkan firman Alloh SWT:
ِ ‫لْر‬
‫ض‬ َ ‫ل اّثاَقْلُتْم ِإَلى ا‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫ل َلُكْم انِفُروا ِفي‬
َ ‫ن آَمُنوا َما َلُكْم ِإَذا ِقي‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada
kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Alloh” kamu merasa berat
dan ingin tinggal di tempatmu…” (Qs. At-Taubah:38) serta ayat setelahnya.

Nabi SAW bersabda:


‫إذا اسُتْنِفرتم فانفروا‬
“Jika kalian diperintah untuk berperang, maka berperanglah.” (Al-Mughni was-
Syarhul Kabir X/365-366)
Saya katakan: Dalil kondisi kedua sama dengan dalil kondisi pertama, yaitu:
‫ِإَذا َلِقيُتْم ِفَئًة َفاْثُبُتوا‬
“Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguhlah hatilah kamu…”
… dan firman Alloh SWT:
‫لْدَباَر‬َ ‫حًفا َفل ُتَوّلوُهْم ا‬ ْ ‫ن َآَفُروا َز‬
َ ‫ِإَذا َلِقيُتْم اّلِذي‬
“…apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu,
maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)…” … karena kedudukan
musuh yang menduduki tanah kaum muslimin sama dengan kondisi ketika dua
pasukan bertemu.

Saya katakan:
Telah kami terangkan dalam bab kedua dari risalah ini — Risalah Al-‘Umdah fi
I’daadil ‘Uddah, edisi lengkap dari buku ini, penerj. — syarat–syarat wajibnya
jihad, di sana ada sembilan syarat dalam fardhu kifayah (yaitu: Islam, baligh,
berakal, merdeka, lelaki dan selamat dari marabahaya — seperti cacat dan
sebagainya, penerj. —, ada biaya, izin dari kedua orang tua dan izin terhadap
orang yang dihutangi).
Adapun ketika fardhu ‘ain, maka syaratnya hanya lima pertama saja (yaitu:
Islam, baligh, berakal, merdeka, lelaki)

Panduan ke 8 – Latihan Militer (Tadrib ‘Asykari ) adalah wajib atas setiap muslim
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
[2] Comments

Rate This

Karena jihad fardhu ‘ain hukumnya pada beberapa kondisi yang telah kami
sebutkan tadi, sedangkan jihad tidak bisa terlaksana — terlebih tumbuh
berkembangnya teknologi persenjataan — kecuali dengan berlatih cara
menggunakannya. Padahal (dalam kaidah Ushul Fiqih, penerj.) sebuah kewajiban
yang tidak terlaksana dengan sempurna kecuali dengan melakukan suatu hal,
maka suatu hal itu wajib hukumnya.
Demikian juga, latihan adalah salah satu bagian dari I’dad (persiapan) yang
wajib berdasarkan firman Alloh SWT:

ٍ‫ن ُقّوة‬
ْ ‫طْعُتْم ِم‬
َ ‫سَت‬
ْ ‫عّدوا َلُهْم َما ا‬
ِ ‫َوَأ‬
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi…” Qs. Al-Anfal:60
Nabi SAW menafsirkan kekuatan dengan sabda beliau:
‫أل إن القوة الرمي‬
“Ketahuilah, kekuatan itu adalah melempar.”
Beliau mengatakannya tiga kali (HR. Muslim dari ‘Uqbah bin ‘Amir)

Di sini ada satu hal yang harus diperhatikan, bahwasanya latihan (tadrib) bukan
syarat wajib jihad (saya telah sebutkan syarat-syaratnya pada bagian ketujuh),
terlebih jika musuh menduduki salah satu negeri kaum muslimin dan ketika
hukum memerangi musuh menjadi fardhu ‘ain.

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata: “Adapun perang difa’ (mempertahankan


diri), maka itu termasuk jenis perang paling ditekankan dalam rangka mengusir
musuh yang menyerang kehormatan dan agama, perang seperti ini wajib
berdasarkan ijma’. Apabila musuh menyerang agama dan dunia, maka tidak ada
yang lebih wajib setelah iman selain menolaknya, tidak disyaratkan satu
syaratpun, tetapi harus menolak sesuai kemampuan.” (Al-Ikhtiyarot Al-Fiqhiyah
tulisan Ibnu Taimiyyah. Hal. 309)

Saya katakan: Artinya, jika hukum jihad menjadi wajib, maka setiap muslim
selain yang memiliki udzur syar’i wajib turut serta dalam memerangi musuh
meskipun ia bukan orang yang terlatih. Tetapi, ia tidak boleh menggunakan
senjata atau peralatan perang yang ia tidak bisa menggunakannya, supaya
senjata itu tidak membahayakan dirinya dan saudara-saudaranya, ini
berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau
bersabda:
‫ل ضرر ول ضرار‬
“Tidak (boleh) ada bahaya dan membahayakan.”

Setiap muslim juga harus komitmen dengan tugas yang sudah ditentukan
pimpinannya di dalam jihad sesuai kemampuannya.

2 Tanggapan to “Panduan ke 8 – Latihan Militer (Tadrib ‘Asykari ) adalah wajib


atas setiap muslim”
abu abdurrahman Says:

Juli 24, 2009 at 2:54 am

minta ijin copy artikelnya

Abuqital1:
“tafadhdhol akhii…semoga bermanfaat untuk perjuangan Islam…”
Balas
abu fajar Says:

Januari 23, 2010 at 8:58 am

Kalau bisa tolong ditulis panduan-panduannya ana kesengsrem sekali untuk


tadrib militer

Abuqital1:
jika akhi “kesengsrem” untuk tadrib militer maka langkah awalnya adalah:
1) Iman–>aplikasinya adalah “mengabdi kepada Alloh” dan “jauhi thohut”,
“ingkar kepada Orang kafir” dan beriman kepada Alloh”, artinya:
- akhi harus menafikan aturan/hukum thoghut (pancasila) dan menetapkan Al
Quran dan hadits shohih sebagai hukum islam
-akhi harus menafikan kekuasaan thoghut (RI) dan menetapkan kekuasaan Alloh
(NII)
- akhi harus menafikan loyalitas kepada pemerintahan thoghut (RI) dan
menetapkan loyalitas kepada pemerintahan Islam (NII)

2) Hijrah–>realisasinya adalah “meninggalkan dinul bathil” dan “menuju dinul


haq”, artinya:
- meninggalkan negara musyrik (RI) karena bersumberkan Pancasila
- bergabung menjadi kekuatan Negara Islam Indonesia karena bersumberkan
hukum Islam (Al Quran dan Hadits Shohih)

3) Jihad–> mengerahkan seluruh potensi akhi (amwal dan anfus) semata-mata


untuk dakwah dan qital (perang) fi sabilillah. Disinilah akhi akan ditraining untuk
tadrib askari
Panduan ke 9 – Umat Islam Adalah Umat Berkarakter Jihad, Maka Roda
Kehidupannya pun Harus Diatur Sesuai Dengan Karakter Jihad
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Dari pokok-pokok pikiran yang sudah disebutkan, kini Anda tahu bahwa kaum
muslimin terbebani untuk melakukan jihad ofensive dan defensive, sudah
dibahas juga bahwa jihad bisa fardhu kifayah dan bisa fardhu ‘ain, latihan militer
adalah wajib dan harus dilakukan secara terus menerus.

Kemudian, jika kita melihat kepada jihad ofensive, yaitu terlebih dahulu
menyerang musuh di negerinya, maka jumhur ulama mengatakan jihad seperti
ini wajib dilakukan minimal satu tahun sekali, inilah batasan minimal kewajiban,
ini tidak bisa dihentikan dengan alasan apapun selain ketika kaum muslimin
dalam kondisi tidak mampu (lemah) atau mengadakan perjanjian damai dengan
musuh. Ulama lain berpendapat bahwa jihad seperti ini bisa dilakukan kapanpun
jika kondisi memungkinkan tanpa membatasinya dengan jumlah tertentu.

Yang mewajibkannya setahun sekali — yaitu jumhur — berdalih bahwa jizyah


diwajibkan atas orang-orang non muslim, yang tinggal di negeri Islam paling
tidak setahun sekali sebagai ganti jihad, sedangkan jizyah ini wajib dipungut
setahun sekali berdasarkan ijma’, maka penggantinya — yaitu jihad — pun
haruslah dilakukan sekali dalam setahun (Lihat Al-Mughni was Syarhul Kabir
X/367-368).

Saya katakan: Hukum wajibnya jihad tholabi setahun sekali bisa juga
disimpulkan dalam firman Alloh SWT:

َ‫ن ُثّم ل َيُتوُبونَ َول ُهْم َيّذّآُرون‬


ِ ‫عاٍم َمّرًة َأْو َمّرَتْي‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ن ِفي ُآ‬
َ ‫ن َأّنُهْم ُيْفَتُنو‬
َ ‫َأَول َيَرْو‬
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka
diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat
dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” QS. At-Taubah:126

Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya menukil dari Qotadah perkataan beliau: “Mereka
diuji dengan perang dalam setahun satu sekali.”

Al-Qurthubi berkata tentang jihad tholabi (ofensive): “Kewajiban kedua dari jihad
yang harus dilakukan seorang imam adalah mengutus satu pasukan
perangkepada musuh setahun sekali, bisa ia pimpin langsung atau menunjuk
orang yang ia percaya, ini dilakukan dalam rangka menyeru musuh kepada Islam
dan untuk menimbulkan kedongkolan hati dalam diri musuh, untuk
menghentikan gangguan mereka dan memenangkan agama Alloh atas mereka
sehingga mereka mau masuk Islam atau membayar jizyah langsung dari
tangannya. Ada juga jihad yang sunnah, yaitu ketika imam mengutus kelompok
perkelompok serta mengutus ekspedisi-ekspedisi di saat-saat musuh lengah dan
mengintai mereka dengan melakukan ribath di tempat yang dikhawatirkan
diserang atau ketika melakukan unjuk kekuatan.” (Tafsir Al-Qurthubi VIII/152.)

Saya katakan: Di sini, Al-Qurthubi — seperti halnya jumhur — berpendapat


bahwa yang wajib adalah satu tahun satu kali, sedangkan selebihnya adalah
sunnah.

Jika kita melihat kewajiban ini serta sependapat bahwa melakukan i’daad
(latihan perang) dalam rangka jihad hukumnya wajib seperti tercantum dalam
firman Alloh Ta’ala:

ٍ‫ن ُقّوة‬
ْ ‫طْعُتْم ِم‬
َ ‫سَت‬
ْ ‫عّدوا َلُهْم َما ا‬
ِ ‫َوَأ‬
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi…” QS. Al-Anfal:60
… tahulah kita bahwa umat Islam ini adalah umat yang paling berhak
menyandang karakter jihad/militer.

Agar kewajiban-kewajiban ini terlaksana dengan baik, maka semua roda


kehidupan politik umat ini, baik internal maupun eksternal, haruslah diarahkan
kepada terlaksananya kewajiban-kewajiban jihad tadi. Oleh karena itu, silabus
pendidikan, industri produksi, pertanian, perdagangan dan kependudukan serta
yang lain, semuanya harus terencana dan ditundukkan untuk berkhidmat kepada
jihad.

Nabi SAW bersabda:


‫المؤمن للمؤمن آالبنيان يشد بعضه بعضا‬
“Orang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat satu bangunan, saling
menguatkan satu sama lain”,

… Beliau menganyam jari jemarinya. (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Musa.)

Beliau juga bersabda:


‫مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم آمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو‬
‫تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر‬

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih sayang dan kelemah


lembutan mereka adalah ibarat satu tubuh, jika salah satu merasakan sakit,
seluruh anggota badan akan mengerang dengan merasakan demam dan tidak
bisa tidur.” (Muttafaq ‘Alaih dari Nu’man bin Basyir.)

Panduan ke 10 – Kaum Muslimin Tidak Boleh Menghentikan Jihad Kecuali Dalam


Kondisi Lemah, Maka Ketika Itu I’DAAD Harus Dilakukan
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

1 Votes

Ini berdasarkan firman Alloh SWT:


َ ‫عَلْو‬
‫ن‬ ْ‫ل‬َ ‫سْلِم َوَأْنُتْم ا‬ ُ ‫“َفل َتِهُنوا َوَتْد‬
ّ ‫عوا ِإَلى ال‬

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas…” QS.
Muhammad:35

Maka selagi kaum muslimin memiliki kekuatan dan mereka lebih tinggi daripada
musuhnya, tidak ada istilah damai, gencatan senjata dan perjanjian, tetapi yang
wajib adalah perang sampai tidak ada lagi fitnah dan agama ini semuanya milik
Alloh. Ini mengingat bahwa ayat jihad yang terakhir turun adalah firman Alloh
SWT:

‫ن َتاُبوا‬
ْ ‫صٍد َفِإ‬
َ ‫ل َمْر‬ّ ‫صُروُهْم َواْقُعُدوا َلُهْم ُآ‬ ُ ‫ح‬ ْ ‫خُذوُهْم َوا‬
ُ َ‫جْدُتُموُهْم و‬
َ ‫ث َو‬
ُ ‫حْي‬
َ ‫ن‬
َ ‫شِرِآي‬
ْ ‫َفاْقُتُلوا اْلُم‬
‫حيٌم‬
ِ ‫غُفوٌر َر‬ َ ‫ل‬َّ ‫ن ا‬
ّ ‫سِبيَلُهْم ِإ‬
َ ‫خّلوا‬َ ‫صلَة َوآَتْوا الّزَآاَة َف‬ّ ‫َوَأَقاُموا ال‬
“…maka bunuhilah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka,
dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.
Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka
berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah:5)

Beginilah yang dilakukan Nabi SAW dan empat khalifah sepeninggal beliau yang
mendapat petunjuk (Khulafa’ Ar-Rosyidun ) dalam memerangi kaum musyrikin
dan ahli kitab.

Tidak ada yang menghalangi jihad ini selain ketika kondisi lemah, tidak heran
kalau Anda lihat orang-orang kafir berusaha sekuat tenaga menghalangi kaum
muslimin untuk berperang dengan menggunakan kedok perdamaian,
sebagaimana firman Alloh SWT:

‫حَدًة‬
ِ ‫ن عََلْيُكْم َمْيَلًة َوا‬
َ ‫حِتُكْم َوَأْمِتَعِتُكْم َفَيِميُلو‬
َ ‫سِل‬
ْ ‫ن َأ‬
ْ‫ع‬َ ‫ن‬
َ ‫ن َآَفُروا َلْو َتْغُفُلو‬
َ ‫َوّد اّلِذي‬

“Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta
bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.” (QS. An-Nisa’:102)

Berulang kali saya sebutkan dalam risalah ini bahwa jika kondisi lemah tidak
memungkinkan untuk melakukan jihad maka persiapan harus dilakukan
berdasarkan ayat:
‫عّدوا َلُهْم‬
ِ ‫َوَأ‬
“Dan persiapkanlah…dst (Al-Anfal:60)
Demikian juga yang dikatakan Ibnu Taimiyah Rahimahulloh (Majmu’ Fatawa
28/259)
Dari keterangan di muka, kini Anda tahu bahwa asal hubungan orang mukmin
dengan orang kafir adalah hubungan perang, sedangkan dispensasinya adalah
perdamaian dalam bentuk gencatan senjata atau perjanjian, dispensasi ini tidak
wajib diambil selain dalam kondisi terpaksa atau kondisi lemah atau yang
semisal, ini berdasarkan firman Alloh SWT:
َ ‫عَلْو‬
‫ن‬ ْ‫ل‬َ ‫سْلِم َوَأْنُتْم ا‬
ّ ‫عوا ِإَلى ال‬
ُ ‫َفل َتِهُنوا َوَتْد‬
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas…”

Adapun ayat yang dijadikan hujjah oleh mereka tadi (yakni surat Al-Anfal:61
penerj.) maka itu tidak bisa dijadikan hujjah. Sebab ayat itu dibawa kepada
makna bolehnya melakukan perdamaian dengan syarat kaum muslimin
membutuhkannya, syarat ini diterangkan oleh ayat yang pertama kami
sebutkan:
َ ‫عَلْو‬
‫ن‬ ْ‫ل‬َ ‫سْلِم َوَأْنُتْم ا‬
ّ ‫عوا ِإَلى ال‬
ُ ‫َفل َتِهُنوا َوَتْد‬
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas…”
Jadi ayat surat Al-Anfal itu khusus berlaku pada satu kondisi ketika
perdamaian membawa mashlahat bagi kaum muslimin dan mereka
membutuhkannya.

Jadi ayat surat Al-Anfal itu khusus berlaku pada satu kondisi ketika perdamaian
membawa mashlahat bagi kaum muslimin dan mereka
membutuhkannya.

Adapun ayat dalam surat Muhammad — semoga sholawat dan salam selalu
tercurah kepada beliau — tadi, itu khusus pada kondisi ketika perdamaian tidak
mengandung kemashlahatan bagi kaum muslimin, ini terjadi ketika kaum
muslimin memiliki kekuatan untuk menaklukkan musuhnya. Dalam kondisi
seperti ini, berdasarkan ayat tadi tidak ada perdamaian, sebab itu berarti
menyimpang dari hukum asal yang diwajibkan yaitu memenangkan Islam atas
agama lain berdasarkan firman Alloh Ta’ala:
ِّ ‫ن ُآّلُه‬
‫ل‬ ُ ‫ن الّدي‬
َ ‫ن ِفْتَنٌة َوَيُكو‬
َ ‫حّتى ل َتُكو‬
َ ‫َوَقاِتُلوُهْم‬
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu
sematamata untuk Alloh. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka
sesungguhnya Alloh Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” QS. Al-Anfal:39)

Panduan ke 11 – Hijroh Tidak Akan Terputus Hingga Matahari Terbit Dari Barat
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

1 Votes

Rosululloh SAW bersabda:


‫ الجماعة والسمع والطاعة والهجرة والجهاد في سبيل ال‬،‫ ال أمرني بهن‬،‫وأنا آمرآم بخمس‬
“Dan aku perintahkan kalian lima hal yang Alloh perintahkan kelima hal itu
kepadaku: Berjama’ah, mendengar dan ta’at, hijrah dan jihad di jalan Alloh.”
(HR. Ahmad dari Al-Haris Al-Asy’ari dan dishohihkan oleh Al-Albani.)

Rosululloh SAW juga bersabda:


‫ ول تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها‬،‫ل تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة‬
“Hijrah tidak akan pernah terputus sampai taubat terputus dan taubat tidak akan
terputus sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Abu Dawud
dari Mu’awiyah dan dishohihkan oleh Al-Albani (Irwaa’ul Gholil V/33)

Hijroh wajib lantaran beberapa sebab, yaitu:

1. Lari membawa agama memisahkan diri dari kaum musyrikin karena khawatir
agamanya terkena fitnah.

Ini adalah hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam atau ke negeri yang aman jika
memang ia mampu melakukannya.
Rosululloh SAW bersabda:
‫أنا بريء من آل مسلم يقيم بين أظهر المشرآين ل تراءى نارهما‬
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum
musyrikin, jangan sampai kedua belah pihak saling melihat api masing-masing.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Jarif, Al-Albani menshohihkannya (Irwaa’ul
Gholil V/30).

Bukhori meriwayatkan dari ‘Atho’ bin Abi Robah ia berkata: Aku berkunjung
kepada Aisyah Radhiyallohu ‘Anha bersama ‘Ubaid bin ‘Umair Al-Laits, lalu kami
bertanya kepada beliau tentang hijrah, maka Aisyah berkata: “Tidak ada hijrah
lagi hari ini, dulu kaum mukminin lari membawa agama mereka kepada Alloh
dan Rosul-Nya karena takut terkena fitnah. Adapun hari ini Alloh telah
menangkan Islam, dan hari ini tuhan orang Islam disembah dengan leluasa, yang
ada sekarang tinggal jihad dan niat.” (Hadits 3900.)

Saya katakan:
Hijrah yang dinafikan sayyidah Aisyah Radhiyallohu ‘Anha adalah hijrah dari
negeri Islam, seperti ditunjukkan dalam perkataan beliau: “Tidak ada hijrah lagi
hari ini…” saat itu mereka semua berada di negeri Islam, kemudian ibunda
Aisyah menetapkan bahwa sebab hijrah adalah lari membawa agama lantaran
takut terkena fitnah.

2. Hijrah sebagai tahap pertama jihad

Di sini, Rosululloh SAW menjadikan hijrah sebagai mukaddimah dan pengiring


jihad.
Alloh SWT berfirman:
‫ن َبْعِدَها َلَغُفوٌر‬
ْ ‫ك ِم‬
َ ‫ن َرّب‬
ّ ‫صَبُروا ِإ‬
َ ‫جاَهُدوا َو‬
َ ‫ن َبْعِد َما ُفِتُنوا ُثّم‬
ْ ‫جُروا ِم‬
َ ‫ن َها‬
َ ‫ك ِلّلِذي‬
َ ‫ن َرّب‬
ّ ‫ُثّم ِإ‬
ٌ‫حيم‬
ِ ‫َر‬
“Dan sesungguhnya Robbmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah
sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar;
sesungguhnya Robbmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. An-Nahl:110)

Dalam konteks ayat ini, hijrah setelah terjadi fitnah bukanlah jalan terakhir, tapi
justru merupakan titik awal kepada tahapan berikutnya, yaitu tahapan jihad dan
sabar.
Rosululloh SAW bersabda:
‫ل تنقطع الهجرة مادام العدو ُيَقاَتل‬
“Hijrah tidak akan pernah berhenti selama masih ada musuh yang diperangi.
(HR. Ahmad dari Abdulloh bin Sa’di, dishohihkan oleh Al-Albani (Irwaa’ul Gholil
V/33).

Mengenai hukum hijrah, Ibnu Qudamah berkata:


“Pasal: tentang hijrah”, Hijrah adalah keluar dari negeri kafir ke negeri Islam,
Alloh SWT berfirman:

ِ‫لْرض‬ َ ‫ن ِفي ا‬ َ ‫ضَعِفي‬ْ ‫سَت‬ ْ ‫سِهْم َقاُلوا ِفيَم ُآنُتْم َقاُلوا ُآّنا ُم‬
ِ ‫ظاِلِمي َأنُف‬
َ ‫ن َتَوّفاُهْم اْلَملِئَكُة‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ّ ‫ِإ‬
‫جُروا ِفيَها‬ِ ‫سعًَة َفُتَها‬ِ ‫ل َوا‬ِّ ‫ض ا‬ُ ‫ن َأْر‬ ْ ‫َقاُلوا َأَلْم َتُك‬
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan
bagaimana kamu ini.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang
tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Alloh itu
luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” (QS. An-Nisa’:47)

Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda:


‫أنا بريء من مسلم بين مشرآين لتراءا ناراهما‬
“Aku berlepas diri dari orang Islam yang tinggal di tengah-tengah kaum
musyrikin, jangan sampai kedua belah pihak saling melihat api masing-masing.”
(HR. Abu Dawud)
Makna hadits ini adalah janganlah seorang muslim itu berada di tempat yang
ia bisa melihat api kaum musyrikin dan kaum musyrikin bisa melihat api dia jika
dinyalakan, hadits-hadits selain dua dalil di atas sangatlah banyak dan
Rosululloh SAW menetapkan bahwa hijrah ini akan terus berlangsung hingga
hari kiamat sebagaimana dikatakan kebanyakan ahli ilmu, sebagian kaum
mengatakan bahwa hijrah telah terputus, sebab Rosululloh SAW bersabda:
‫ل هجرة بعد الفتح‬
“Tidak ada hijrah setelah fathu Makkah.”
Beliau juga bersabda:
‫قد انقطعت الهجرة ولكن جهاد ونية‬
“Hijrah telah selesai, tinggallah jihad dan niat.”

Diriwayatkan juga dari Shofwan bin Umayyah bahwa ketika ia masuk Islam ada
yang mengatakan kepadanya: “Tidak ada agama siapa yang tidak mau
berhijrah.” Maka ia datang ke Madinah, kemudian Nabi SAW bersabda:
‫ما جاء بك أبا وهب‬
“Apa yang membuatmu datang kemari wahai Abu Wahab?”
Ia menjawab: “Katanya, tidak ada agama bagi siapa yang tidak berhijrah.”
Beliau bersabda:
‫ارجع أبا وهب إلى أباطح مكة أقروا على مساآنكم فقد انقطعت الهجرة ولكن جهاد ونية‬
“Pulanglah wahai Abu Wahab ke padang pasir-padang pasir Mekkah, tinggallah
kalian semua di rumah kalian, hijrah sudah sekarang tinggal jihad dan niat.”
Semua hadits tadi diriwayatkan oleh Sa’id.

Adapun dalil kami adalah hadits yang diriwayatkan Mu’awiyah ia berkata: “Aku
mendengar Rosululloh SAW bersabda:

‫ل تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة ول تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها‬
“Hijrah tidak akan pernah berhenti sampai taubat terputus, dan taubat tidak
akan terputus sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Abu
Dawud)
Diriwayatkan juga dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda:
‫“ل تنقطع الهجرة ما آان الجهاد‬Hijrah tidak akan pernah terputus selama ada jihad.”
Diriwayatkan oleh Abu Sa’id dan yang lain.

Ditambah dengan berlakunya ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan


pendapat kami ini secara mutlak dan kandungannya yang setelah diteliti
ternyata berlaku pada setiap zaman.

Adapun hadits pertama, maksudnya adalah tidak ada hijrah setelah penaklukan
sebuah negeri ke dalam Islam.

Sedangkan sabda beliau kepada Shofwan bahwa hijrah telah selesai maksudnya
adalah hijrah dari Mekkah, sebab pengertian hijrah adalah keluar dari negeri
orang-orang kafir, maka apabila negeri itu telah ditaklukkan dan tidak ada lagi
negeri kafir, berarti tidak ada lagi hijrah. Demikian halnya dengan setiap negeri
yang telah ditaklukkan, tidak perlu lagi hijrah dari sana.

Jika hal ini sudah jelas, selanjutnya manusia yang berhijrah ada tiga kelompok:

Yang pertama, orang yang wajib melakukan hijrah. Yaitu mereka yang mampu
hijrah sementara ia tidak bisa menjalankan agamanya dengan terangterangan
dan tidak memungkinkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya
jika ia tetap tinggal di tengah-tengah orang-orang kafir, maka orang seperti ini
wajib berhijrah berdasarkan firman Alloh SWT:
ِ ‫لْر‬
‫ض‬ َ ‫ن ِفي ا‬َ ‫ضَعِفي‬
ْ ‫سَت‬ْ ‫سِهْم َقاُلوا ِفيَم ُآنُتْم َقاُلوا ُآّنا ُم‬
ِ ‫ظاِلِمي َأنُف‬
َ ‫ن َتَوّفاُهْم اْلَملِئَكُة‬َ ‫ن اّلِذي‬
ّ ‫ِإ‬
‫صيًرا‬
ِ ‫ت َم‬ْ ‫ساَء‬
َ ‫جَهّنُم َو‬
َ ‫ك َمْأَواُهْم‬َ ‫جُروا ِفيَها َفُأْوَلِئ‬ ِ ‫سَعًة َفُتَها‬
ِ ‫ل َوا‬
ِّ ‫ض ا‬
ُ ‫ن َأْر‬ ْ ‫َقاُلوا َأَلْم َتُك‬
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan
bagaimana kamu ini.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang
tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Alloh itu
luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu.” Orang-orang itu tempatnya
naar Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali,” (QS. An-
Nisa’:97)
Ini adalah ancaman keras yang menunjukkan hukum wajib.

Kedua, orang yang tidak mempunyai kewajiban hijrah. Yaitu orang yang tidak
mampu melaksanakannya, karena sakit, terpaksa tidak berangkat hijrah, atau
karena kondisi lemah yaitu dari kalangan wanita, anak-anak dan orang-orang
semisal mereka.
Orang-orang seperti ini tidak ada kewajiban hijrah berdasarkan firman Alloh
SWT:
‫سِبيل‬
َ ‫ن‬ َ ‫حيَلًة َول َيْهَتُدو‬ ِ ‫ن‬ َ ‫طيُعو‬
ِ ‫سَت‬ ْ ‫ن ل َي‬ ِ ‫ساِء َواْلِوْلَدا‬ َ ‫ل َوالّن‬
ِ ‫جا‬
َ ‫ن الّر‬
ْ ‫ن ِم‬
َ ‫ضَعِفي‬
ْ ‫سَت‬
ْ ‫ِإل اْلُم‬
‫غُفوًرا‬
َ ‫عُفّوا‬
َ ‫ل‬ ُّ ‫ن ا‬
َ ‫عْنُهْم َوَآا‬
َ ‫ن َيْعُفَو‬ْ ‫ل َأ‬
ُّ ‫سى ا‬ َ‫ع‬َ ‫ك‬ َ ‫َفُأْوَلِئ‬
“…kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak
yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).
Mereka itu, mudah-mudahan Alloh memaafkannya. Dan Alloh Maha Pemaaf lagi
Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’:98-99)

Bagi kelompok ini, hijrah tidak bisa dihukumi sunnah, sebab mereka tidak
mampu melakukannya.

Ketiga, orang yang disunnahkan berhijrah namun tidak wajib. Yaitu orang
yang mampu berhijrah tapi ia bisa melaksanakan agama dan tinggal dengan
terang-terangan di negeri kafir.
Orang seperti ini disunnahkan melakukan hijrah dengan tujuan nantinya bisa
berjihad memerangi orang-orang kafir di negeri di mana ia tinggal tadi,
memperbanyak serta membantu kaum muslimin, melepaskan diri dari
memperbanyak jumlah dan bercampur baur dengan orang-orang kafir dan
menghindari menyaksikan kemungkaran di tengah-tengah mereka.

Hijrah tidak wajib ia lakukan karena ia bisa melaksanakan kewajiban agamanya


tanpa harus berhijrah. Dahulu ‘Abbas, paman Nabi SAW tetap tinggal di Mekkah
padahal beliau sudah masuk Islam.

Kami juga meriwayatkan bahwasanya ketika Nu’aim An-Nuham hendak


berhijrah, kaumnya — Bani ‘Adi — datang kepadanya, mereka mengatakan:
“Tetap tinggallah Anda bersama kami, silahkan tetap memeluk agama Anda,
kami akan melindungi Anda dari orang yang hendak menyakiti Anda dan
cukupilah kebutuhan yang kami inginkan dari Anda.” Ketika itu ia menjadi
orang yang mencukupi kebutuhan anak-anak yatim dan janda-janda Bani ‘Adi.
Akhirnya Nu’aim menunda hijrahnya beberapa waktu, walupun kemudian ia
tetap berhijrah, maka Nabi SAW bersabda kepadanya:

‫ قومي أخرجوني وأرادوا قتلي وقومك حفظوك‬،‫قومك آانوا خيرا لك من قومي لي‬
‫ومنعوك‬
“Sikap kaummu kepadamu lebih baik daripada sikap kaumku kepadaku, kaumku
mengusirku, mereka ingin membunuhku sementara kaummu ingin menjaga dan
melindungimu.”

Nu’aim berkata: “Wahai Rosululloh, tetapi kaum Anda mengusir Anda menuju
ketaatan kepada Alloh serta kepada jihad melawan musuh-Nya sementara
kaumku menahan diriku dari hijrah dan dari ketaatan kepada Alloh,” atau
perkataan yang hampir mirip dengan ini.” Sampai di sini perkataan Ibnu
Qudamah. (Al-Mughni Was-Syarhul Kabir , juz X hal. 513-515.)

Panduan ke 12 – Kaum Muslimin Adalah Umat Yang Satu, Orang Islam Adalah
Saudara Bagi Muslim Lainnya Meskipun Negeri Mereka Berjauhan, Masing-
Masing Punya Hak Untuk Ditolong.
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

1 Votes

Alloh SWT berfirman:


‫خَوٌة‬
ْ ‫ن ِإ‬
َ ‫ِإّنَما اْلُمْؤِمُنو‬
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara”. (Qs. Al-Hujurot:10)
Rosululloh SAW bersabda:
‫المسلم أخو المسلم‬
“Orang muslim adalah saudara muslim lainnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Rosululloh SAW juga bersabda:
‫المؤمنون آرجل واحد إذا اشتكى رأسه تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى‬
“Orang-orang beriman ibarat satu orang, jika bagian kepala mengaduh, seluruh
badan akan menderita tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim dari Nu’man
bin Basyir)

1. Tidak ada kelebihan antar kaum muslimin kecuali dengan takwa dan amal
sholeh, Alloh SWT berfirman:
‫ل َأْتَقاُآْم‬
ِّ ‫عْنَد ا‬
ِ ‫ن َأْآَرَمكُْم‬
ّ ‫ِإ‬

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Alloh di antara kalian adalah yang
paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurot:13)
Rosululloh SAW bersabda:
‫ل فضل لعربي على عجمي ول لعجمي على عربي ول لبيض على أسود ول لسود على‬
‫ الناس من آدم وآدم من تراب‬،‫أبيض إل بالتقوى‬

“Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas non arab, orang non arab atas orang
arab, orang kulit putih atas kulit hitam, orang kulit hitam atas orang kulit putih
kecuali dengan ketakwaan, manusia seluruhnya dari Adam sedangkan Adam
berasal dari tanah.” (HR. Ahmad dan dishohihkan Al-Albani dalam Syarah Aqidah
Thohawiyah dan Shohih Jamius-Shogir (1780))

2. Mendapatkan pertolongan adalah hak seorang muslim dari saudaranya


sesama muslim walaupun negeri mereka berjauhan.

Rosululloh SAW bersabda:


‫ ومن‬،‫ ومن آان في حاجة أخيه آان ال في حاجته‬،‫سِلمه‬
ْ ‫المسلم أخو المسلم ل يظلمه ول ُي‬
‫ ومن ستر مسلما ستره ال‬،‫فرج عن مسلم آربة فرج ال عنه آربة من آربات يوم القيامة‬
‫يوم القيامة‬
“Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak (boleh) ia dzalimi atau ia
serahkan kepada musuh, barangsiapa memenuhi hajat saudaranya Alloh akan
penuhi hajatnya, barangsiapa membantu memberikan jalan keluar dari kesulitan
yang dihadapi seorang muslim, Alloh akan berikan jalan keluar baginya ketika
menghadapi kesulitan pada hari kiamat, dan barangsiapa menutupi aib seorang
muslim, Alloh akan tutupi aibnya pada hari kiamat” (HR. Bukhori dari Ibnu
‘Umar.)

Dari sini Anda bisa melihat bahwa pertalian (hubungan) yang bersifat syar’i yang
mengikat kaum muslimin adalah ikatan karena status agama Islam.
Pertalian ini memiliki tuntutan-tuntutan, seperti tuntutan saling membantu,
saling berlemah lembut, saling menolong dan sebagainya.

Karena pertalian syar’i antar kaum muslimin ini melemah, yang berakibat
kepada tercerai berainya persatuan kaum muslimin dan terpecah belahnya
keutuhan mereka, maka orang-orang kafirpun mencoba membuat
pertalianpertalian sebagai ganti, diantaranya:

Pertalian karena tanah air (negara), atau yang biasa disebut nasionalisme. Ini
mengakibatkan seseorang fanatik dengan negara asalnya tanpa membeda-
bedakan agama penduduknya, akibat lainnya ia akan mendahulukan
kepentingan negara sebagai pertimbangan nomor satu. Ini jelas batil secara
syar’i, tidak selayaknya seorang muslim menjadikan fanatisme dan loyalitasnya
hanya didasari kepada sepetak tanah, sebab tidak menutup kemungkinan pada
suatu saat nanti ia dituntut untuk berhijrah di jalan Alloh meninggalkan tanah
airnya ini, bahkan Alloh SWT mengancam siapa saja yang lebih memprioritaskan
loyalitasnya kepada negara daripada perbuatan yang disukai Alloh dan Rosul-
Nya dalam firman-Nya (Qs. At Taubah: 24)

Termasuk tali ikatan jahiliyah adalah fanatisme suku; yaitu sikap fanatik kepada
ras dan suku tertentu, berperang membela fanatisme tersebut dan
mendahulukan ikatan ini di atas ikatan lain.
Inilah yang disebut da’wah jahiliyyah (seruan jahiliyah) yang mana Rosululloh
SAW mengatakan tentangnya:
‫» دعوها فإنها خبيثة‬
“Tinggalkanlah seruan itu, sesungguhnya itu busuk.” (HR. Bukhori dari Jabir)
Rosululloh SAW menghukumi orang yang mati karena berperang membela
prinsip ini bahwasanya ia mati dalam keadaan mati jahiliyah (HR.Muslim dari
Jabir). Ikatan fanatisme suku inilah yang tertera dalam ayat surat At-Taubah tadi
di dalam firman Alloh SWT: ‫شيَرُتُكْم‬َ ‫…“ َو‬dan keluarga kalian…”
ِ‫ع‬

Alloh SWT memberikan contoh kepada kita dengan para nabi-Nya tatkala
mereka berlepas diri dari kaumnya, Alloh SWT berfirman:
ٍ ‫صاِل‬
‫ح‬ َ ‫غْيُر‬
َ ‫ل‬
ٌ ‫عَم‬
َ ‫ك ِإّنُه‬
َ ‫ن َأْهِل‬
ْ ‫س ِم‬
َ ‫ح ِإّنُه َلْي‬
ُ ‫ل َياُنو‬
َ ‫َقا‬

“Alloh berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu


(yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan
yang tidak baik.” (QS. Hud:46)

Alloh SWT juga berfirman:


َ ‫ن َمَعُه ِإْذ َقاُلوا ِلَقْوِمِهْم ِإّنا ُبَرآُء ِمْنُكْم َوِمّما َتْعُبُدو‬
‫ن‬ َ ‫سَنٌة ِفي ِإْبَراِهيَم َواّلِذي‬ َ‫ح‬ َ ‫سَوٌة‬ْ ‫ت َلُكْم ُأ‬
ْ ‫َقْد َآاَن‬
‫حَدُه‬
ْ ‫ل َو‬ِّ ‫حّتى ُتْؤِمُنوا ِبا‬َ ‫ضاُء َأَبًدا‬ َ ‫ل َآَفْرَنا ِبُكْم َوَبَدا َبْيَنَنا َوَبْيَنُكْم اْلَعَداَوُة َواْلَبْغ‬
ِّ ‫ن ا‬ِ ‫ن ُدو‬ ْ ‫ِم‬
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan
orangorang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum
mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu
sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami
dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu
beriman kepada Alloh saja.” (QS. Al-Mumtahanah:4)
Ayat-ayat di atas menerangkan bahwa tali ikatan syar’i adalah iman kepada
Alloh saja, ikatan pertalian berupa apapun selain iman tidak bernilai sedikitpun.
Loyalitas dan permusuhan terkait dengan iman:

3. Termasuk ikatan pertalian jahiliyah adalah ikatan atas dasar kesamaan


bahasa atau kepentingan bersama.

Semua pertalian ini tidak benilai sedikitpun apalagi ketika bertabrakan


dengan tuntutan hukum-hukum syar’i. Semua pertalian ini tak lain diproduksi
oleh tangan-tangan orang kafir dalam rangka memecah belah kaum muslimin
dan menyulut api permusuhan di tubuh mereka, ini termasuk perkara yang Alloh
ingatkan kepada kita dengan firman-Nya Qs. Ali Imron ayat 100-105.

Alloh SWT juga berfirman:


َ ‫سِري‬
‫ن‬ ِ ‫خا‬
َ ‫عَقاِبُكْم َفَتْنَقِلُبوا‬
ْ ‫عَلى َأ‬
َ ‫ن َآَفُروا َيُرّدوُآْم‬
َ ‫طيُعوا اّلِذي‬
ِ ‫ن ُت‬
ْ ‫ِإ‬
“…jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka
mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran) lalu jadilah kamu orang-
orang yang rugi” (QS. Ali-Imron:149).

Tujuan kami paparkan keterangan-keterangan ini adalah hendaknya seorang


muslim mengerti bahwa loyalitas, hak memberikan pertolongan dan
pengorbanan, semuanya terikat dengan tali keimanan saja, tidak perlu melihat
tali ikatan lain yang berbau jahiliyah. Seorang muslim haram bersikap loyal dan
berperang di atas tali ikatan jahiliyah seperti ini.
Seorang muslim juga harus tahu bahwa orang Islam yang berada di ujung timur
paling jauh sana adalah saudara bagi muslim yang berada di ujung barat paling
jauh meskipun warna kulit, suku dan bahasanya berbeda; menolong dan
membantunya dalam membela kebenaran adalah wajib sesuai kemampuan.

Panduan ke 13 – Wajib Memerangi Musuh Terdekat Terlebih Dahulu


Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

1 Votes

Ini berdasarkan firman Alloh SWT:


‫ن اْلُكّفاِر‬
ْ ‫ن َيُلوَنُكْم ِم‬
َ ‫ن آَمُنوا َقاِتُلوا اّلِذي‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬
“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang berdekatan
dengan kalian…” (QS. At-Taubah:123)

Ibnu Qudamah berkata:


“Masalah: Suatu kaum mesti memerangi musuh yang terdekat,”

Ini mengingat bahwa orang kafir yang terdekat lebih besar bahayanya,
memeranginya akan menolak bahaya yang bakal menimpa orang yang
berhadapan dengan musuh tersebut atau orang yang berada di belakang
mereka, sementara menyibukkan diri memerangi musuh yang jauh akan
memberi kesempatan musuh terdekat untuk mencuri kesempatan menyerang
kaum muslimin, sebab kaum muslimin melalaikannya…”

Ibnu Katsir berkata menafsirkan ayat di atas:


“Alloh SWT memerintahkan kaum mukminin untuk memerangi orang-orang kafir
yang paling dekat, kemudian yang paling dekat lagi dengan daerah Islam.

Oleh karena itu, Rosululloh SAW terlebih dahulu memerangi orang-orang musyrik
di Jazirah Arab, ketika mereka berhasil dirampungkan dan Alloh taklukkan untuk
beliau kota Mekkah, Madinah, Tho’if, Yaman, Yamamah, Hajar, Khoibar,
Hadromaut dan daerah arab lainnya dan manusia dari seluruh etnis arab masuk
agama Alloh dengan berbondong-bondong, barulah beliau memerangi ahli kitab
(Yahudi-Nasrani), maka beliau bersiap-siap memerangi bangsa Romawi, para
penyembah salib, merekalah manusia yang paling dekat dengan Semenanjung
Arab…”

— hingga perkataan beliau —:


“…wakil dan teman setia sekaligus khalifah Rosululloh SAW sepeninggal beliau
melaksanakan perintah ini, dialah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.
Panduan ke 14 – Memerangi Orang Kafir Murtad Lebih Didahulukan Daripada
Memerangi Orang Kafir Asli
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Sebab orang murtad lebih besar kejahatan terhadap dirinya sendiri dan
agama.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata:

“Telah tetap dalam sunnah bahwa hukuman orang murtad lebih besar daripada
orang kafir asli ditinjau dari beberapa sisi, diantaranya karena orang murtad
hukumannya adalah dibunuh, apapun kondisinya, tidak diperlakukan jizyah dan
tidak ada jaminan keamanan baginya, lain halnya dengan orang kafir asli.
Demikian juga, orang murtad tetap dihukum bunuh meskipun ia tidak memiliki
kemampuan untuk berperang, sedangkan orang kafir asli tidak dibunuh kalau ia
bukan termasuk pasukan perang.

Menurut pendapat kebanyakan ulama orang kafir asli yang bukan ahli perang
tidak boleh dibunuh, diantaranya menurut Abu Hanifah, Malik dan Ahmad.

Oleh karena itu, hukuman orang murtad adalah dibunuh sebagaimana pendapat
Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad.

Sisi lain, orang murtad itu tidak berhak mewarisi, tidak boleh dinikahkan (dengan
orang Islam) dan tidak boleh dimakan sembelihannya, lain halnya dengan kafir
asli.

Dan masih banyak lagi hukum-hukum yang terkait dengannya.” (Majmu’ Fatawa
(28/534)
Beliau berkata lagi: “Kufur karena murtad lebih besar berdasarkan ijma’
daripada kufur asli.” (Majmu’ Fatawa (28/478)

Dalam lain tempat, beliau — Rahimahulloh — berkata:


“Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dan seluruh sahabat terlebih dahulu memerangi
orang-orang kafir murtad sebelum berjihad melawan orang-orang kafir ahli kitab.
Karena memerangi mereka adalah dalam rangka mempertahankan negeri-negeri
Islam yang telah ditaklukkan dan mengembalikan orang yang ingin keluar dari
Islam. Sedangkan memerangi orang musyrik yang tidak memerangi kita dan
memerangi ahli kitab adalah untuk menambah kemenangan Islam.
Dan, menjaga modal lebih didahulukan daripada menambah keuntungan.”
Majmu’ Fatawa (25/158-159).

Saya katakan:
Para sahabat sepakat untuk terlebih dahulu memerangi orang kafir murtad.
Kita tidak perlu bingung memahami diutusnya ekspedisi Usamah bin Zaid ke
Romawi di awal-awal kekhilafahan Abu Bakar ra., beliau tidak mengirim
ekspedisi ini kecuali untuk melaksanakan perintah Rosululloh SAW yang
berpesan agar mengirim pasukan Usamah. Lagi pula di sana terdapat kebaikan
besar yaitu untuk menakut-nakuti orang-orang yang ingin murtad dari Islam (Al-
Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir: VI/304-305.)

Panduan ke 15 – Apabila Penguasa Melakukan Kekufuran Dan Menolak


Menggunakan Syari’at Islam, Memeranginya Adalah Fardhu ‘Ain, Ia Harus Diganti
Dengan Penguasa Lain
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
1 Comment

Rate This

A. Seperti para penguasa yang berhukum dengan selain hukum Islam di


berbagai negara berpenduduk muslim, penguasa seperti ini dihukumi kafir,
sebagaimana firman Alloh SWT:

َ‫ك ُهْم اْلَكاِفُرون‬


َ ‫ل َفُأْولَِئ‬
ُّ ‫ل ا‬
َ ‫حُكْم ِبَما َأنَز‬
ْ ‫ن َلْم َي‬
ْ ‫َوَم‬
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh, maka
mereka semua itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah:44)

Dalam Risalah Dakwatut Tauhid saya terangkan bahwa ayat ini adalah nash
yang bersifat umum, kekufuran dalam ayat ini adalah kufur akbar (kufur besar
yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, penerj.). Di sana juga saya
terangkan juga bahwa jika terjadi perdebatan pendapat antara para sahabat
dalam menafsirkan ayat, kita harus memilih pendapat yang dikuatkan oleh dalil
Al-Qur’an dan Sunnah seperti ditetapkan dalam ilmu Ushul Fiqih.

Sebenarnya, para penguasa itu tidak hanya berhukum kepada selain yang
diturunkan Alloh SWT, mereka juga membuat hukum untuk manusia sekehendak
hati mereka, dengan demikian mereka telah mengangkat diri mereka sebagai
Robb dan tuhan bagi manusia selain Alloh SWT, sebagaimana firman Alloh SWT:
ُّ ‫ن ِبِه ا‬
‫ل‬ ْ ‫ن َما َلْم َيْأَذ‬
ِ ‫ن الّدي‬
ْ ‫عوا َلُهْم ِم‬
ُ ‫شَر‬
َ ‫شَرَآاُء‬
ُ ‫َأْم َلُهْم‬
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang
mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh…” (QS. Asy-
Syuro:21)

B. Penguasa yang melakukan kemurtadan seperti ini, apabila dia tidak melawan
maka wajib diganti segera dan dihadapkan kepada Qodhi (hakim) untuk diminta
taubat apabila ia mau, apabila tidak mau maka ia dibunuh, dan bila ia sudah
bertaubat ia tidak boleh memegang jabatan lagi sebagaimana dicontohkan Abu
Bakar dan ‘Umar — Radhiyallohu ‘anhuma —

Rosululloh SAW bersabda:


‫فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجد‬
“Maka hendaklah kalian memegang sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang
lurus dan mendapat petunjuk sepeninggalku, gigitlah sunnah itu dengan gigi
geraham…” (HR. Tirmidzi dari ‘Irhadh, ia menshohihkannya).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata:


“ ‘Umar bin Khothob, bahkan Abu Bakar, tidak pernah sama sekali mengangkat
orang munafik untuk mengatur kaum muslimin, tidak juga mengangkat kerabat
dekatnya, mereka berdua tidak pernah takut celaan orangorang yang mencela
karena Alloh SWT.

Ketika Abu Bakar dan ‘Umar khawatir dari mereka ada kemunafikan maka
mereka tidak diangkat sebagai pemimpin bagi kaum muslimin.” (Majmu’
Fatawa : 25/65)

C. Apabila penguasa murtad tersebut memiliki pasukan perang yang


melindunginya, maka mereka harus diperangi, dan setiap orang yang berperang
bersamanya maka ia telah kafir, berdasarkan firman Alloh SWT:

ْ‫ن َيَتَوّلُهْم ِمْنُكْم َفِإّنُه ِمْنُهم‬


ْ ‫َوَم‬
“Barangsiapa berwali kepada mereka diantara kalian, maka ia termasuk
golongan mereka…” (Qs. Al Maidah 51)

Kata ‫ن‬ْ ‫( َم‬Barang siapa… ) dalam ayat ini adalah isim syarat (kata benda syarat)
yang bermakna umum mencakup siapa saja yang berwali dan menolong orang
kafir dengan perkataan atau perbuatan.

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan yang lain berkata mengenai
perkara-perkara yang membatalkan Islam: “Membantu dan menolong orang-
orang kafir dalam memerangi kaum muslimin” dalilnya adalah firman Alloh (Qs.
Al Maidah 51).

Oleh karena itu siapa saja yang menolong orang kafir dalam kekafirannya, baik
dengan perkataan dan perbuatan, maka ia kafir seperti dia.
Inilah hukum dhahir (yang dipakai di dunia) dalam status mereka sebagai orang-
orang yang menentang orang-orang beriman dan mujahidin, tapi tidak menutup
kemungkinan bathinnya berstatus muslim karena adanya mani’ (penghalang) ia
dikafirkan, atau karena ada syubhat yang tidak ia fahami atau penghalang
lainnya; namun demikian semua penghalang ini tidak menghalangi kita untuk
menghukumi dia sebagai orang kafir karena ada indikasi yang nampak jelas
pada dirinya (secara lahiriyah, ketika di dunia).

Inilah sunnah yang berlaku terhadap orang-orang murtad yang memiliki


kekuatan untuk melawan.

D. Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya memerangi penguasa apabila ia


murtad adalah hadits ‘Ubadah bin Shomit ra. ia berkata:

‫ فكان فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع‬،‫دعانا رسول ال صلى ال عليه وسلم فبايعناه‬
‫ وأن ل ننازع المر أهله‬،‫سِرنا وَأَثَرٍة علينا‬
ْ ‫سِرنا وُي‬
ْ‫ع‬
ُ ‫طنا وَمْكَرِهنا و‬
ِ‫ش‬َ ‫والطاعة في َمْن‬،
‫ إل أن تروا آفرا بواحا عندآم من ال فيه برهان‬:‫قال‬
“Rosululloh SAW menyeru kami maka kami berbai’at kepada beliau, diantara
yang beliau minta kepada kami dalam bai’at itu adalah kesanggupan untuk
mendengar dan taat baik dalam keadaan ringan atau berat, dalam keadaan sulit
atau mudah dan ketika kami diperlakukan tidak adil dan agar kami tidak
menggoyang kepemimpinan seseorang, beliau bersabda: “…kecuali apabila
kalian melihat kekufuran yang nyata (kufur bawaah) dengan diiringi bukti yang
jelas dari Alloh.” (Muttafaq ‘Alaih dengan redaksi hadits milik Muslim.)

E. Ketika kaum muslimin tidak mampu melawan penguasa seperti ini, mereka
harus melakukan latihan dalam rangka I’dad (persiapan).

Ibnu Taimiyah berkata: “Persiapan untuk berjihad harus dilakukan dengan


menyiapkan kekuatan dan kuda-kuda yang tertambat, ini ketika kewajiban jihad
gugur (ditunda) lantaran belum mampu (lemah), sebab sebuah kewajiban yang
tidak sempurna kecuali dengan memenuhi suatu perkara, maka perkara itu wajib
dilakukan.” (Majmu’ Fatawa (28/259).)

Alloh SWT berfirman:


‫ن ُقّوٍة‬
ْ ‫طْعُتْم ِم‬
َ ‫سَت‬
ْ ‫عّدوا َلُهْم َما ا‬
ِ ‫ن َوَأ‬
َ ‫جُزو‬
ِ ‫ن َآَفُروا سََبُقوا ِإّنُهْم ل ُيْع‬
َ ‫ن اّلِذي‬
ّ ‫سَب‬
َ‫ح‬
ْ ‫َول َي‬
“Dan janganlah orang-orang yang kafir itu mengira, bahwa mereka akan dapat
lolos (dari kekuasaan Alloh). Sesungguhnya mereka tidak dapat melemahkan
(Alloh). Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi…” (QS. Al-Anfal:59-61)

Rosululloh SAW bersabda:


‫أل إن القوة الرمي‬

“Ketahuilah, kekuatan itu adalah melontar.”


Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim dari ‘Uqbah bin Amir)
Dari semua penjelasan tadi, kini Anda tahu bahwa kewajiban kaum muslimin
untuk melawan thoghut-thoghut itu ditetapkan berdasarkan dalil syar’i dimana
seorang muslim tidak boleh menentangnya, nash syar’i tersebut adalah
perkataan ‘Ubadah:
‫وأل ننازع المر أهله‬
“…hendaknya kami tidak mengambil kepemimpinan dari seseorang.” (Kemudian
Rosululloh) bersabda:
‫إل أن تروا آفرا بواحا عندآم من ال فيه برهان‬
“…kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata diiringi bukti yang jelas dari
Alloh…”

Dalam ijma’ ulama juga telah ditetapkan wajibnya melawan para penguasa
murtad sebagaimana saya sebutkan tadi.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan melakukan ijtihad dalam menentukan cara
menghadapi thoghut jika di sana sudah ada nash syar’i dan ijma’ ulama, siapa
yang berijtihad dalam suatu hal padahal sudah ada nash syar’i dan ijma’ dalam
perkara ini, berarti ia telah sesat secara nyata.

Contoh berijtihad dalam hal ini adalah mereka yang mencoba menerapkan
hukum Islam melalui media parlementer yang mana parlemen sendiri
mengandung unsur kesyirikan, atau melalui cara-cara semisal.

Jika diantara mereka yang terjun di parlemen ada yang mengatakan bahwa
kondisi pernah membuat kita tidak mampu melawan para penguasa itu, kami
katakan: Ketika kondisi lemah (tidak mampu), yang sewajibnya dilakukan adalah
melakukan I’daad (persiapan untuk berperang), bukan dengan menceburkan diri
mengikuti sistem parlemen mereka yang berbau syirik itu. Jika kelemahan benar-
benar tak sanggup ditanggulangi, maka wajib melakukan hijrah.

Jika hijrahpun tidak mampu, maka statusnya menjadi seperti kaum lemah
(mustadh’afin ) yang berdo’a kepada Alloh seperti halnya orang-orang mu’min
yang mustadh’afin:

‫جَعل َلَنا‬ْ ‫ك َوِلّيا َوا‬ َ ‫ن َلُدْن‬


ْ ‫جَعل َلَنا ِم‬
ْ ‫ظاِلِم َأْهُلَها َوا‬
ّ ‫ن َهِذِه اْلَقْرَيِة ال‬
ْ ‫جَنا ِم‬
ْ ‫خِر‬
ْ ‫ن َرّبَنا َأ‬
َ ‫ن َيُقوُلو‬
َ ‫اّلِذي‬
‫صيًرا‬ ِ ‫ك َن‬َ ‫ن َلُدْن‬ْ ‫ِم‬

“…yang mereka mengatakan: “Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri yang
penguasanya dzalim ini dan jadikanlah pemimpin dan penolong dari sisi-Mu.”
(QS. An-Nisa’:75)

F. Jihad melawan para penguasa, murtad dan bala tentaranya adalah fardhu ‘ain
bagi setiap muslim selain yang memiliki udzur syar’i.
Inilah yang sebenarnya terjadi sekarang, orang-orang murtad menguasai kaum
muslimin, mereka adalah musuh kafir yang menguasai negeri muslim, maka
memeranginya adalah fardhu ‘ain. Oleh karena itu Qodhi ‘Iyadh berkata: “…
kaum muslimin wajib melawan penguasa murtad tersebut…”

Perkataan Ibnu Hajar lebih jelas dalam mengambil kesimpulan umum, seperti
beliau katakan: “Ringkasnya, seorang penguasa harus diturunkan karena
kekufuran, maka setiap muslim wajib melawan penguasa seperti itu…” (Fathul
Bari : XIII/123)

Dalam waktu bersamaan, orang-orang Islam awam pun mendapatkan beban


perintah syar’i yang sama selama ia masih mengaku muslim walaupun ia fasik
dan banyak dosa, sebab kefasikan tidak bisa menggugurkan perintah syar’i
untuk berjihad. (Lihat pada Bab Empat dari Risalah Al-‘Umdah.)

Tujuan lainnya agar isu jihad berubah yang semula hanya kepentingan orang-
orang tertentu menjadi kepentingan seluruh orang Islam.

Dari sini nantinya diharapkan kekalahan berbalik kepada thoghut dan antek-
anteknya sehingga mereka bisa diturunkan dari kekuasaannya dan terkuaklah
kekufuran serta kejahatan mereka, Alloh SWT berfirman:
‫جوُآْم‬
ُ ‫خَر‬
ْ ‫ث َأ‬
ُ ‫حْي‬
َ ‫ن‬
ْ ‫جوُهْم ِم‬
ُ ‫خِر‬
ْ ‫َوَأ‬
“…dan keluarkanlah mereka sebagaimana mereka mengusir kalian…” (QS. Al-
Baqoroh:191)

Alloh SWT juga berfirman kepada Nabi-Nya ‘Alaihis Salam — di dalam hadits
qudsi — :
‫استخرجهم آما استخرجوك‬
”…dan usirlah mereka sebagaimana mereka dulu mengusir kalian…” (HR.Muslim
dari ‘Iyadh bin Himar.)

Seorang muslim diharamkan menyumbangkan harta berbentuk apapun kepada


thoghut-thoghut itu, baik berupa bea cukai ataupun pajak atau yang semisal
kecuali dalam kondisi mendesak atau terpaksa.
Alloh SWT berfirman:
ِ ‫لْثِم َواْلُعْدَوا‬
‫ن‬ ِ ‫عَلى ا‬
َ ‫َول َتَعاَوُنوا‬
“…dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perkara dosa dan
permusuhan…” (QS. Al-Maidah 2)

G. Memerangi penguasa–penguasa murtad lebih didahulukan daripada


memerangi orang kafir asli, baik yahudi, kristen atau kaum animis.

Ini berdasakan tiga tinjauan:


Pertama: Jihad melawan penguasa muartad termasuk jihad difa’i (defensive)
yang hukumnya fardu ‘ain dan lebih didahulukan daripada jihad offensive.
Kedua: Karena penguasa tersebut murtad.

Ketiga: Posisi mereka lebih dekat dengan kaum muslimin dan bahaya serta
fitnah yang ditimbulkan lebih besar. Alloh berfirman:

‫ن اْلُكّفاِر‬
ْ ‫ن َيُلوَنُكْم ِم‬
َ ‫ن آَمُنوا َقاِتُلوا اّلِذي‬
َ ‫َياَأّيَها اّلِذي‬

“Hai orang-orang beriman,“Hai orang-orang beriman, perangi orang orang kafir


disekeliling kalian,” (QS. At-Taubah:123)

Syubhat!!!
Ada satu syubhat kaitannya dengan point pertama dari tiga tinjauan diatas.
Sebagian orang mengatakan bahwa menganggap penguasa murtad yang
menguasai negeri-negeri kaum muslimin itu sebagai orang kafir yang menduduki
negeri kaum muslimin tidak bisa dibenarkan, sebab hukum ini berlaku bagi
orang kafir berasal dari luar daerah Islam. Adapun para penguasa tersebut,
mereka adalah penduduk lokal, jadi tidak bisa disamakan!

Perkataan ini sengaja dilontarkan dalam rangka mematahkan pendapat yang


disandarkan kepada fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah — tentang wajibnya
memerangi orang-orang Tartar yang tak mau berhukum dengan syariat Islam
walaupun mereka mengaku diri Islam (Majmu’ Fatawa : 28/501-551). kata
mereka, fatwa beliau ini tidak boleh digunakan saebagai hujjah / dalil dalam
perkara ini, sebab orang-orang Tartar adalah kafir yang bukan berasal dari
negara Islam.

Menjawab syubhat ini, kami katakan:


Masalah pemerintah murtad ada nash tersendiri, yaitu hadits ‘Ubadah bin
Shomit;
‫ إل أن تروا آفرا بواحا عندآم من ال فيه برهان‬:‫ قال‬،‫وأل ننازع المر أهله‬
“…dan kami berba’iat untuk tidak akan merampas kepemimpinan dari
seseorang, (kemudian Rosululloh bersabda), “…kecuali jika kalian melihat
kekufuran yang nyata diiringi bukti yang jelas dari Alloh.”

Mengingat Materi ini cukup banyak halamannya, saya sarankan anda download
materi Panduan Fiqih Jihad Fi Sabilillah lalu baca kembali panduan ke 15

Satu Tanggapan to “Panduan ke 15 – Apabila Penguasa Melakukan Kekufuran


Dan Menolak Menggunakan Syari’at Islam, Memeranginya Adalah Fardhu ‘Ain, Ia
Harus Diganti Dengan Penguasa Lain”
iman Says:

Juli 3, 2009 at 6:57 am

ulasan yg bagus dan berani, lanjutkan!!

Panduan ke 16 – Thoghut Hidup Lebih Berbahaya Daripada Thoghut Mati


Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

1 Votes

Maksud saya thoghut hidup di sini adalah aimmatul-kufr (pemimpinpemimpin


kekufuran) dan penguasa murtad yang memberlakukan bagi kaum muslimin
syari’at pengganti, menyebarluaskan kekufuran dan perbuatan keji di tengah-
tengah mereka.

Sedang saya sebut thoghut mati adalah kuburan-kuburan, bebatuan, pohon-


pohonan dan benda mati lain yang disembah selain Alloh SWT dengan beragam
ritual ibadah mulai dari berdo’a, minta tolong, menyembelih bernadzar dan
lainlain.

Maka tidak bisa dibantah bahwa thoghut yang hidup lebih besar fitnah dan
kerusakannya daripada benda-benda tadi.

Oleh karena itu, Nabi SAW memerangi thoghut yang hidup dahulu sebelum
memberantas thoghut yang mati, Nabi SAW tidak memusnahkan berhala-berhala
kecuali setelah Penaklukan Mekah sebagaimana riwayat Bukhori, dari Ibnu
Mas’ud ra. ia berkata: Nabi SAW memasuki Mekah pada saat ditaklukkan, di
sekitar Ka’bah ada 360 patung, maka beliau menghantam patung-patung itu
dengan tongkat yang ada di tangan beliau sambil bersabda: “Telah datang
kebenaran dan telah lenyap kebatilan, telah datang kebenaran dan kebatilan itu
tidak kokoh dan tidak akan terulang.” (Hadits 4287)

Setelah itu Rosululloh SAW memerintahkan para sahabatnya untuk melenyapkan


patung yang masih tersisa di Jazirah Arab, hal itu beliau lakukan setelah
membasmi kekuasaan thoghut hidup, beliau mengingkari mereka dan patung-
patungnya dan bersikap baro’ (berlepas diri) dari mereka sejak awal diutus.

Inilah Millah Ibrohim ‘Alaihis Salam, berlepas diri dari orang-orang kafir yang
hidup sebelum berlepas diri dari sesembahan-sesembahan mereka. Alloh SWT
berfirman:
َ ‫ن َمَعُه ِإْذ َقاُلوا ِلَقْوِمِهْم ِإّنا ُبَرآُء ِمْنُكْم َوِمّما َتْعُبُدو‬
‫ن‬ َ ‫سَنٌة ِفي ِإْبَراِهيَم َواّلِذي‬
َ‫ح‬
َ ‫سَوٌة‬
ْ ‫ت َلُكْم ُأ‬
ْ ‫َقْد َآاَن‬
ِّ ‫ن ا‬
‫ل‬ ِ ‫ن ُدو‬ ْ ‫ِم‬
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan
orangorang yang bersama dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah
selain Alloh.” (QS. Al-Mumtahanah:4)
Sebelumnya sudah kita terangkan perkataan Syaikh Hamd bin ‘Atiq seputar
ayat-ayat ini di bagian kelima, Alloh SWT juga berfirman:

‫حِنيًفا‬
َ ‫ن اّتِبْع مِّلَة ِإْبَراِهيَم‬
ْ ‫ك َأ‬
َ ‫حْيَنا ِإَلْي‬
َ ‫ُثّم َأْو‬

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ”Ikutilah agama Ibrahim


seorang yang hanif.” (QS. An-Nahl:123)

Penjelasan ini bukan menerangkan urutan, tetapi menerangkan prioritas, jadi


bukan berarti diam terhadap thoghut yang mati beserta para penyembahnya
dibenarkan secara syar’i menunggu kita basmi thoghut yang hidup. Sebab
syari’at sudah sempurna, siapa diantara Anda melihat kemungkaran hendaknya
merubah semampunya.

Maka mengherankan sekali kalau ada orang yang mengaku ulama, ahli agama
dan bermadzhab salaf yang tulisan mereka sekarang ini lebih terfokus kepada
thoghut mati kemudian lupa atau pura-pura lupa dengan thoghut hidup.

Anda lihat ada diantara mereka hidup di negeri berundang-undang positif yang
kafir serta menggunakan sistem demokrasi yang kufur sementara dia
benarbenar tidak tahu dan menutup mata darinya, di waktu yang sama dia
menghunus pedangnya melalui media cetak (buku) menentang thoghut mati dan
penyembahpenyembahnya yang jelas tidak bersenjata. Alloh SWT berfirman:
ْ ‫ل َأ‬
‫ن‬ ُّ ‫ن َلُكْم َوُيِريُد ا‬
ُ ‫شْوَآِة َتُكو‬ ّ ‫ت ال‬
ِ ‫غْيَر َذا‬
َ ‫ن‬ ّ ‫ن َأ‬
َ ‫ن َأّنَها َلُكْم َوَتَوّدو‬
ِ ‫طاِئَفَتْي‬
ّ ‫حَدى ال‬
ْ ‫ل ِإ‬
ُّ ‫َوِإْذ َيِعُدُآْم ا‬
َ ‫ق ِبَكِلَماِتِه َوَيْقطََع َداِبَر اْلَكاِفِري‬
‫ن‬ ّ‫ح‬َ ‫ق اْل‬
ّ‫ح‬ِ ‫ُي‬
“Dan (ingatlah), ketika Alloh menjanjikan kepadamu bahwa satu dari dua
golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu sedangkan kamu menginginkan
bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu, dan Alloh
menghendaki untuk membenarkan dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan
orang-orang kafir,” (QS. Al-Anfal:8)

Kalaulah ada yang berbicara tentang jihad, Anda lihat ia hanya menyebut jihad
Palestina dan Afghanistan, karena hanya inilah kadar yang diperbolehkan di
sebagian negara. Padahal jihad melawan penguasa murtad itu lebih wajib
daripada jihad melawan Yahudi, memang kedua-duanya musuh kafir yang
menginjak negeri kaum muslimin, hanya saja penguasa murtad itu lebih tinggi
tingkatannya daripada Yahudi karena dua hal: Pertama mereka lebih dekat,
kedua mereka murtad. Kedua perkara ini menjadikan memerangi penguasa
tersebut lebih dahulu wajib hukumnya. (Sebagaimana tercantum pada panduan
13 dan 14)

Renungkan pula hadits di bawah ini, Anda akan tahu bahaya thoghut hidup, yaitu
hadits riwayat Bukhori dari Qois bin Abi Hazim bahwasanya ada seorang wanita
dari Ahmas bertanya kepada Abu Bakar: “apa yang menjadikan kita tetap berada
di atas urusan baik ini (Islam), dimana Alloh mendatangkannya setelah
jahiliyah?” Beliau mengatakan: ”Kelangsungan kalian di atasnya adalah selama
para pemimpin kalian istiqomah (konsisten).” Ia bertanya: “Siapa para pemimpin
itu?” Beliau mengatakan: “Bukankah kaummu memiliki pemimpin dan orang-
orang terpandang dimana mereka memerintah dan ditaati?” Ia berkata: “Benar.”
Beliau berkata: “Merekalah yang akan menjadi tumpuan manusia.” (Hadits 2834)

Ibnu Hajar berkata dalam Syarah-nya: (Perkataan wanita itu),”Apa yang


menjadikan kita tetap berada di atas urusan baik ini?” maksudnya adalah agama
Islam dan keadilan, persatuan kalimat, menolong orang dzalim dan meletakkan
sesuatu pada tempatnya yang terkandung dalam ajarannya. “…selama para
pemimpin kalian istiqomah,” artinya, karena manusia tergantung kepada agama
penguasa mereka, maka ketika para pemimpin jauh dari tugas semestinya, ia
akan sesat dan menyesatkan orang.” (Fathul Bari VII/151)

Abdulloh bin Mubarok berkata:


‫وهل أفسد الدين إل الملوك وأحبار سوء ورهبانها؟‬
“Adakah yang merusak agama selain para raja, para ulama jahat dan ahli
ibadahnya?”

Saya katakan:
Yang menyedihkan lagi, sikap diam orang yang mengaku ulama terhadap
thoghut hidup tadi berubah menjadi hujjah untuk membenarkan sikap diam para
pemuda dan menjadi alasan terhadap sikap duduk mereka dari jihad yang
hukumnya fardhu ‘ain.

Jihad bagi mereka menjadi terbatas pada jihad melawan orang-orang


penyembah kubur dan penganut ajaran tasawwuf?

Padahal, bukankah para penyembah kubur dan kaum sufi itu tidak hidup kecuali
di pundak para thoghut hidup tersebut?
Panduan ke 17 – Kekuatan Islam Terbentuk Dengan Loyalitas Yang Didasari Iman
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Alloh SWT berfirman:


َ ‫ن اْلُمنَكِر َوُيِقيُمو‬
‫ن‬ ْ‫ع‬ َ ‫ن‬ َ ‫ف َوَيْنَهْو‬ِ ‫ن ِباْلَمْعُرو‬ َ ‫ض َيْأُمُرو‬
ٍ ‫ضُهْم َأْوِلَياُء َبْع‬
ُ ‫ت َبْع‬
ُ ‫ن َواْلُمْؤِمَنا‬
َ ‫َواْلُمْؤِمُنو‬
‫حِكيٌم‬
َ ‫عِزيٌز‬ َ ‫ل‬ َّ ‫ن ا‬ّ ‫ل ِإ‬
ُّ ‫حُمُهْم ا‬ َ ‫سَيْر‬
َ ‫ك‬
َ ‫سوَلُه ُأْوَلِئ‬
ُ ‫ل َوَر‬َّ ‫طيُعونَ ا‬
ِ ‫ن الّزَآاَة َوُي‬َ ‫صلَة َوُيْؤُتو‬ ّ ‫ال‬
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka
(adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan)
yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat
dan mereka ta’at kepada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat
oleh Alloh; Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-
Taubah:71)

Alloh SWT juga berfirman:


َ ‫ل ُهْم اْلَغاِلُبو‬
‫ن‬ ِّ ‫حْزبَ ا‬
ِ ‫ن‬
ّ ‫ن آَمُنوا َفِإ‬
َ ‫سوَلُه َواّلِذي‬
ُ ‫ل َوَر‬
َّ ‫ل ا‬
ّ ‫ن َيَتَو‬
ْ ‫َوَم‬

“Dan barangsiapa mengambil Alloh, Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman


menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang
pasti menang.” (QS. Al-Maidah:56)

Ayat pertama mengingatkan pentingnya kesetiaan antar orang-orang beriman


satu sama lain dalam rangka melaksanakan kewajiban iman serta memulai amar
ma’ruf nahi munkar, sebab itu tidak akan bisa dipetik hasilnya kecuali dengan
senjata dan kekuatan.

Nah, kekuatan ini akan terbentuk kalau ada perwalian kaum mukminin satu
sama lain. Dengan inilah akan terbentuk jama’ah muslim yang dijanjikan akan
memperoleh rahmat.

Rosululloh SAW bersabda:


‫الجماعة رحمة والُفْرَقة عذاب‬
“Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim
dan dihasankan oleh Al-Albani)

Bukti penguat dari Al-Qur’an adalah firman Alloh SWT:


‫ظيٌم‬
ِ‫ع‬َ ‫ب‬
ٌ ‫عَذا‬
َ ‫ك َلُهْم‬
َ ‫ت َوُأْوَلِئ‬
ُ ‫جاَءُهْم اْلَبّيَنا‬
َ ‫ن َبْعِد َما‬
ْ ‫خَتَلُفوا ِم‬
ْ ‫ن َتَفّرُقوا َوا‬
َ ‫َول َتُكوُنوا َآاّلِذي‬

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan


berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah
orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (QS. Ali-Imron:105)
Rahmat di sini adalah pahala atas kesetiakawanan terhadap sesama muslim,
sedangkan adzab adalah hukuman akibat perselisihan.

Adapun ayat kedua berisi kabar gembira akan datangnya kemenangan:


َ ‫ل ُهْم اْلَغاِلُبو‬
‫ن‬ ِّ ‫حْزبَ ا‬ ّ ‫“َفِإ‬
ِ ‫ن‬

…maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang pasti menang.”

Di dalamnya terdapat isyarat wajibnya perwalian iman sebagai syarat


kemenangan, sebab ayat tersebut dimulai dengan Adatus syarth (‫ن‬ْ ‫ … )َم‬barang
siapa…

Sedangkan syaratnya adalah perwalian iman,


‫ن آَمُنوا‬
َ ‫سوَلُه َواّلِذي‬
ُ ‫ل َوَر‬
َّ ‫ل ا‬
ّ ‫َيَتَو‬
Berwala’ kepada Alloh dan RosulNya serta orang-orang yang beriman …

Dan jawabus syarth-nya adalah kabar gembira akan datangnya kemenangan:


َ ‫ل ُهْم اْلَغاِلُبو‬
‫ن‬ ِّ ‫حْزبَ ا‬
ِ ‫ن‬
ّ ‫َفِإ‬
…maka sesungguhnya pengikut (agama) Alloh itulah yang pasti menang…

Coba renungkan urutan dalam firman Alloh tersebut. Di dalamnya terdapat


isyarat bahwa perkumpulan kaum mukminin itu tidak berarti kecuali jika
dibangun atas perwalian kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan ini hanya terjadi
dengan berpegang teguh terhadap kitab Alloh dan sunnah Rosul.

Perintah berjama’ah secara tegas tercantum dalam sabda Nabi SAW:

‫سِبيل ال‬
َ ‫جَهاِد ِفي‬
ِ ‫جَرِة َواْل‬
ْ ‫عِة َواْلِه‬
َ ‫طا‬
ّ ‫سْمِع َوال‬
ّ ‫عِة َوال‬ َ ‫ ال‬:‫ن‬
َ ‫جَما‬ ّ ‫ل َأَمَرِني ِبِه‬
ُّ ‫س ا‬
ٍ ‫خْم‬
َ ‫َوَأَنا آُمُرُآْم ِب‬

“Dan aku perintahkan kalian dengan lima perkara yang diperintahkan Alloh
kepadaku, jama’ah, mendengar, taat, hijroh dan jihad di jalan Alloh.” (HR. Ahmad
dan Harits Al-Asy’ari dan dishohihkan oleh Al-Albani.)

Ini adalah hadits yang rinci kaitannya dengan permasalahan yang sekarang
sedang kita bahas. Hadits ini dimulai dengan lafadz: “Jama’ah”, serta diakhiri
dengan “Jihad.” Artinya, jihad dimulai dengan membentuk jama’ah muslim yang
diikat dengan perwalian atas dasar iman. Sedangkan jama’ah itu harus ada amir
(pemimpin)nya, ini kami rincikan pada bab ketiga dari risalah ini.

Nash-nash yang menyebutkan bahwa kekuatan itu terbentuk dengan


perwalian iman sangat banyak, diantaranya adalah firman Alloh SWT:
ِ ‫عَلى اْلِقَتا‬
‫ل‬ َ ‫ن‬
َ ‫ض اْلُمْؤِمِني‬
ْ ‫حّر‬
َ ‫ي‬
ّ ‫َياَأّيَها الّنِب‬
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang.” (QS.
Al-Anfal:65)

Dan firman Alloh SWT:


‫ن َآَفُروا‬
َ ‫س اّلِذي‬
َ ‫ف َبْأ‬
ّ ‫ن َيُك‬
ْ ‫ل َأ‬
ُّ ‫سى ا‬
َ‫ع‬
َ ‫ن‬
َ ‫ض اْلُمْؤِمِني‬
ْ ‫حّر‬
َ َ‫ك و‬
َ‫س‬
َ ‫ل َنْف‬
ّ ‫ف ِإ‬
ُ ‫ل ل ُتَكّل‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫ل ِفي‬
ْ ‫َفَقاِت‬
“Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan
dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk
berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang-orang yang kafir
itu.” (QS. An-Nisa’:84)

Jadi, membendung keganasan orang kafir tidak akan terlaksana dengan baik
kecuali dengan kekuatan yang terhasilkan dari mengobarkan semangat orang
beriman, Alloh SWT sendiri telah berfirman kepada Nabi-Nya SAW:
‫وقاتل بمن أطاعك من عصاك‬
“Dan berperanglah dengan orang yang mentaatimu melawan orang yang
bermaksiat kepadamu.”(HR. Muslim dari ‘Iyadh bin Himmar)

Dari keterangan ini, Anda mengerti betapa pentingnya sebuah jama’ah dalam
jihad, dan buah dari jihad (yaitu kemenangan) tidak akan datang kecuali dengan
berjama’ah.

Sebaliknya, perpecahan dan perselisihan pendapat adalah penyebab pertama


kekalahan dan kemunduran, Alloh SWT berfirman:
‫صِبُروا‬
ْ ‫حُكْم َوا‬
ُ ‫ب ِري‬
َ ‫شُلوا َوَتْذَه‬
َ ‫عوا َفَتْف‬
ُ ‫َول َتَناَز‬

“… dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi


gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah…” (QS. Al-Anfal:46)

Atas landasan ini, kami katakan:


Sesungguhnya berkuasanya musuh dan penghinaan atas kaum muslimin tak lain
disebabkan perpecahan dan perselisihan kaum muslimin sendiri, sebagaimana
tercantum dalam hadits Tsauban secara marfu’ bahwasanya Alloh SWT
berfirman kepada Nabi-Nya SAW:
‫طاِرَها‬
َ ‫ن ِبَأْق‬
ْ ‫عَلْيِهْم َم‬
َ ‫جَتَمَع‬
ْ ‫ضَتُهْم َوَلِو ا‬
َ ‫ح َبْي‬
ُ ‫سَتِبي‬
ْ ‫سِهْم َفَي‬
ِ ‫سَوى َأْنُف‬
ِ ‫ن‬
ْ ‫عُدّوا ِم‬
َ ‫عَلْيِهْم‬
َ ‫ط‬
َ ‫سّل‬
َ ‫ن ل ُأ‬
ْ ‫َوَأ‬
‫ضا‬ً ‫ك َبْع‬
ُ ‫ضُهْم ُيْهِل‬
ُ ‫ن َبْع‬ َ ‫حّتى َيُكو‬ َ
“Dan Aku tidak akan kuasakan musuh di luar mereka sehingga menguasai negeri
mereka meskipun mereka berkumpul dari berbagai belahan untuk
menghancurkan mereka sampai nanti mereka saling membinasakan satu sama
lain.” Al-Hadits. (HR. Muslim.)

Tak ada cara untuk keluar dari realita yang hina ini kecuali dengan mengobati
pangkal penyebabnya, caranya kaum muslimin harus bersatu.

Sebagaimana perpecahan adalah sebab berkuasanya musuh, perpecahan


jugalah yang sebenarnya menyebabkan munculnya sebab-sebab lain yang juga
harus diobati, faktor lain itu diantaranya adalah sikap meremehkan hukum Islam,
tidak mau peduli untuk mengamalkan hukum-hukum Islam, ini
mengakibatkanterjadinya perselisihan dan perpecahan sebagai hukuman Alloh
yang bersifat qodari.

Alloh SWT berfirman:


َ‫ضاء‬
َ ‫غَرْيَنا َبْيَنُهْم اْلَعَداَوَة َواْلَبْغ‬
ْ ‫ظا ِمّما ُذّآُروا ِبِه َفَأ‬
ّ‫ح‬َ ‫سوا‬
ُ ‫َفَن‬
“…tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah
diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan diantara mereka
permusuhan dan kebencian…” (QS. Al-Maidah:14)

Alloh SWT juga berfirman:


َ ‫حو‬
‫ن‬ ُ ‫ب ِبَما َلَدْيِهْم َفِر‬
ٍ ‫حْز‬
ِ ‫ل‬
ّ ‫طُعوا َأْمَرُهْم َبْيَنُهْم ُزُبًرا ُآ‬
ّ ‫َفَتَق‬

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rosul itu) menjadikan agama mereka


terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga
dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS. Al-Mukminun:53)

Obat dari semua ini adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan
sunnah — saya telah sebutkan prinsip-prinsipnya sebelum ini (dalam bab Al-
I’tishombil Kitab wal Sunnah dari risalah Al-‘Umdah, penerj.) — , dengan inilah
Alloh SWT akansatukan hati, sebagaimana firman Alloh SWT:

ٌ‫عِزيز‬ َ ‫ل َأّلفَ َبْيَنُهْم ِإّنُه‬


َّ ‫ن ا‬
ّ ‫ن ُقُلوِبِهْم َوَلِك‬
َ ‫جِميًعا َما َأّلْفَتَبْي‬
َ ‫ض‬
ِ ‫لْر‬
َْ ‫ت َما ِفي ا‬
َ ‫ن ُقُلوِبِهْم َلْو َأنَفْق‬
َ ‫ف َبْي‬
َ ‫ن َوَأّل‬
َ ‫صِرِه َوِباْلُمْؤِمِني‬
ْ ‫ك ِبَن‬
َ ‫ُهوَ اّلِذي َأّيَد‬
‫حِكيٌم‬
َ

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para


mukmin.Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
Walaupun kamumembelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukanhati mereka, akan tetapi Alloh telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia MahaPerkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-
Anfal:62-63)

Hanya dengan inilah kekuatan Islam akan terbentuk sebagai buah dari perwalian
yang didasari iman.

Panduan ke 19 – Kesyahidan Bukan Tujuan Satu- Satunya, Tetapi Tujuan Utama


Adalah Memenangkan Islam
Posted by abuqital1 under Fiqih Jihad Fi Sabilillah
Leave a Comment

Rate This

Dengan kata lain: Tujuan pokok jihad adalah memenangkan Islam, bukan
semata-mata mati syahid.

Tetapi keutamaan mati syahid terdapat beberapa dalil:

1) Firman Alloh SWT:


‫جّنَة‬
َ ‫ن َلُهْم اْل‬
ّ ‫سُهْم َوَأْمَواَلُهْم ِبَأ‬
َ ‫ن َأنُف‬
َ ‫ن اْلُمْؤِمِني‬
ْ ‫شَتَرى ِم‬
ْ‫لا‬
َّ ‫ن ا‬
ّ ‫ِإ‬

“Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta
mereka dengan memberikan jannah untuk mereka.” (QS. At-Taubah:111)

2) Dari Abu Huroiroh ra. bahwasanya Rosululloh SAW bersabda:


‫ أن أرجعه بما‬،‫انتدب ال لمن خرج في سبيله ل يخرجه إل إيمان بي وتصديق برسلي‬
‫خْلف سرية‬ َ ‫ ولول أن أشق على أمتي ما قعدت‬،‫ أو أدخله الجنة‬،‫نال من أجر أو غنيمة‬،
‫ ثم أحيا فأقتل‬،‫ ثم أحيا فأقتل‬،‫ولَوِددت أن أقتل في سبيل ال‬
“Alloh telah menyeru siapa yang keluar di jalan-Nya, ia tidak keluar kecuali
lantaran iman kepada-Ku dan membenarkan para Rosul-Ku, akan Aku
kembalikan ia dengan membawa pahala atau ghonimah yang ia peroleh, atau
Aku masukkan ia ke surga.” Kalau tidak memberatkan ummatku, aku akan ikut
dalam sariyah, sungguh aku berangan-angan seandainya aku terbunuh di jalan
Alloh, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh kemudian dihidupkan lagi
kemudian terbunuh.” (Muttafaq ‘Alaih)

• Dan dari Anas ra. bahwasanya Rosululloh SAW bersabda:


‫ إل الشهيد‬،‫ وله ما على الرض من شيء‬،‫ما أحد يدخل الجنة يحب أن يرجع إلى الدنيا‬
‫يتمنى أن يرجع إلى الدنيا فُيقتل عشر مرات لما يرى من الكرامة‬

“Tidak ada seorangpun masuk jannah yang ingin kembali ke dunia serta memiliki
sesuatu dari bumi, kecuali orang yang mati syahid, ia berangan-angan
seandainya ia kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali, karena kemuliaan
yang ia lihat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Makna hadits di atas adalah, siapa yang masuk jannah, ia tidak suka kembali ke
dunia meskipun ia memiliki semua isi dunia karena agungnya kenikmatan jannah
yang ia dapatkan, di dalam sebuah hadits disebutkan:
‫موضع سوط في الجنة خير من الدنيا وما فيها‬

“Tempat cemeti di surga lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. Bukhori dari
Sahl bin Sa’ad)

Kecuali orang yang mati syahid, ia sangat ingin kembali ke dunia lalu terbunuh
sebanyak sepuluh kali di jalan Alloh karena berlipat gandanya kedudukan agung
yang ia peroleh di jannah. Oleh karena itu, Ibnu Hajar berkata: Ibnu Baththol
berkata: “Hadits ini adalah hadits paling besar tentang masalah kesyahidan.”
(Fathul Bari (VI/33))

Di sini ada beberapa perkara yang harus diperhatikan kaitannya dengan masalah
syahadah (kesyahidan), yaitu:
Pertama: Pengaruh cinta kesyahidan dalam meraih kemenangan.
Kedua: Bahaya sikap ngawur.
Ketiga: Bahaya sifat pengecut.
Keempat: Bahaya mundur dari perang
YANG PERTAMA:
Pengaruh Cinta Kesyahidan Dalam Meraih Kemenangan

Mengharapkan dan bertekad menggapai kesyahidan termasuk hal terbesar yang


mendorong seorang mukmin untuk terus maju dalam perang. Artinya,
kesyahidan adalah lembar kemenangan di dunia dan tanda bukti untuk bisa
masuk jannah di akhirat (Qs. At At Taubah 111).

Tekad ini juga mampu menggentarkan musuh-musuh mereka, terlebih ketika


Anda tahu bahwa musuh Anda sedang ingin hidup, sebab orang kafir adalah
orang yang paling ingin hidup, sebagaimana Alloh SWT berfirman:

َ‫صاِدِقين‬َ ‫ن ُآنُتْم‬ْ ‫ت ِإ‬َ ‫س َفَتَمّنْوا اْلَمْو‬


ِ ‫ن الّنا‬ ِ ‫ن ُدو‬ ْ ‫صًة ِم‬
َ ‫خاِل‬ َ ‫ل‬ ِّ ‫عْنَد ا‬
ِ ‫خَرُة‬ ِ‫ل‬ ْ ‫ت َلُكْم الّداُر ا‬ْ ‫ن َآاَن‬ ْ ‫ل ِإ‬ ْ ‫ُق‬
ْ ‫حَياٍة َوِم‬
‫ن‬ َ ‫عَلى‬ َ ‫س‬ ِ ‫ص الّنا‬َ ‫حَر‬ ْ ‫جَدّنُهْم َأ‬
ِ ‫ن َوَلَت‬
َ ‫ظاِلِمي‬
ّ ‫ل عَِليٌم ِبال‬ ُّ ‫ت َأْيِديِهْم َوا‬
ْ ‫ن َيَتَمّنْوُه َأَبًدا ِبَما َقّدَم‬ْ ‫َوَل‬
‫ن ُيَعّمَر‬
ْ ‫ب َأ‬
ِ ‫ن اْلَعَذا‬
ْ ‫حِه ِم‬ِ ‫حِز‬ْ ‫سَنٍة َوَما ُهَو ِبُمَز‬ َ ‫ف‬ َ ‫حُدُهْم َلْو ُيعَّمُر َأْل‬َ ‫شَرُآوا َيَوّد َأ‬
ْ ‫ن َأ‬َ ‫اّلِذي‬
“Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (jannah) itu
khusus untukmu di sisi Alloh, bukan untuk orang lain, maka inginilah
kematian(mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan
mengingini kematian itu selamalamanya, karena kesalahan-kesalahan yang
telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Alloh Maha Mengetahui orang-
orang yang aniaya. Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, seloba-loba
manusia kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang
musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal
umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan daripada siksa…” (QS. Al-
Baqoroh:94-96).

Kemudian bandingkan ini dengan sabda Nabi SAW dalam hadits Anas ra.
sebelumnya:
‫إل الشهيد يتمنى أن يرجع إلى الدنيا فُيقتل عشر مرات لما يرى من الكرامة‬

“…kecuali orang yang mati syahid, ia berangan-angan untuk kembali ke dunia


kemudian terbunuh sepuluh kali, karena kemuliaan yang ia lihat.”

Sejauh mana keinginan seorang mukmin untuk mati dan menggapai kesyahidan,
sejauh itu pulalah ketakutan orang kafir kepada kematian dan keinginannya
kepada dunia.”

Untuk menguatkan pemahaman ini mesti dilakukan I’dad Imani (latihan


pembinaan iman) serta mengkaji sejarah hidup para sahabat dan salafus Sholeh
dalam peperangan-peperangan.

Kembali, saya sebutkan di sini pentingnya membuang sikap bermewahmewah


serta kebiasaan hidup enak — meskipun dalam urusan dunia seorang mampu
— , sebab sikap bersantai dalam hidup mempengaruhi sabar tidaknya seseorang
ketika perang.
Di sini harus diperhatikan bahwa mencintai kesyahidan adalah bagian dari siasat
membuat takut musuh, itu termasuk prinsip paling penting dalam jihad kaum
muslimin. Rosululloh SAW bersabda:
‫نصرت بالرعب مسيرة شهر‬
“Aku ditolong dengan rasa takut musuh sejarak perjalanan satu bulan.” (HR.
Bukhori dari Jabir).

Pertolongan dengan menjadikan musuh takut dalam hal ini bersifat umum.
Prinsip menakut-nakuti musuh dalam praktek riilnya terwujud dengan dua poros:

1) Poros Logistik, yaitu kekuatan yang tercantum dalam firman Alloh SWT:
َ ‫خِري‬
‫ن‬ َ ‫عُدّوُآْم َوآ‬ َ ‫ل َو‬
ِّ ‫عُدّو ا‬
َ ‫ن ِبِه‬
َ ‫ل ُتْرِهُبو‬
ِ ‫خْي‬
َ ‫ط اْل‬
ِ ‫ن ِرَبا‬ْ ‫ن ُقّوٍة َوِم‬ ْ ‫طْعُتْم ِم‬
َ ‫سَت‬
ْ ‫عّدوا َلُهْم َما ا‬ِ ‫َوَأ‬
‫ف ِإَلْيُكْم َوَأْنُتْم ل‬
ّ ‫ل ُيَو‬ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سِبي‬
َ ‫يٍء ِفي‬ ْ ‫ش‬َ ‫ن‬ْ ‫ل َيْعَلُمُهْم َوَما ُتنِفُقوا ِم‬ُّ ‫ن ُدوِنِهْم ل َتْعَلُموَنُهْم ا‬ْ ‫ِم‬
َ ‫ظَلُمو‬
‫ن‬ ْ ‫ُت‬
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan
persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang
selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Alloh mengetahuinya.
Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal:60)

2) Posor teknikal. Ini ada dua sisi, sisi jasmani dengan cara meningkatkan skill
militer pada diri setiap muslim.
Rosululloh SAW bersabda:
‫ب إلى ال من المؤمن الضعيف‬
ّ ‫المؤمن القوي خير وأح‬
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Alloh daripada orang
mukmin yang lemah.” (HR. Muslim dari Abu Huroiroh).

Yang kedua adalah sisi moril dengan menanamkan pemahaman-pemahaman


cinta syahid dan bagaimana melatih sabar dalam diri kaum muslimin.
Alloh SWT berfirman:
‫طوا‬
ُ ‫صاِبُروا َوَراِب‬
َ ‫صِبُروا َو‬
ْ ‫ا‬
“…bersabarlah, dan pertahankan kesabaran kalian serta berjagalah di
perbatasan…” (QS. Ali Imron:200).

Dan Alloh SWT berfirman:


َ ‫جو‬
‫ن‬ ُ ‫ل َما ل َيْر‬
ِّ ‫ن ا‬
ْ ‫ن ِم‬
َ ‫جو‬
ُ ‫ن َوَتْر‬
َ ‫ن َآَما َتْأَلُمو‬
َ ‫ن َفِإّنُهْم َيْأَلُمو‬
َ ‫ن َتُكوُنوا َتْأَلُمو‬
ْ ‫ِإ‬

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita


kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap
dari Alloh apa yang tidak mereka harapkan…” (QS. An-Nisa’:104).

Kembali saya ingatkan kita masih berbicara masalah I’dad Imani bahwa
ketaqwaan kepada Alloh SWT dengan melakukan ketaatan-ketaatan serta
meninggalkan berbagai maksiat berpengaruh secara otomatis ketika
pertempuran terjadi. Alloh SWT telah menjamin orang-orang bertaqwa bahwa
musuh akan gentar menghadapi mereka, sebagaimana firman Alloh SWT:
ْ‫خَلت‬
َ ‫ل اّلِتي َقْد‬ ِّ ‫سّنَة ا‬
ُ ‫صيًرا‬ ِ ‫ن َوِلّيا َول َن‬
َ ‫جُدو‬
ِ ‫لْدَباَر ُثّم ل َي‬
َ ‫ن َآَفُروا َلَوّلْوا ا‬
َ ‫َوَلْو َقاَتَلُكْم اّلِذي‬
‫ل َتْبِديل‬
ِّ ‫سّنِة ا‬
ُ ‫جَد ِل‬
ِ ‫ن َت‬
ْ ‫ل َوَل‬
ُ ‫ن َقْب‬
ْ ‫ِم‬
“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik
melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh
pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatulloh yang telah
berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi
sunnatulloh itu.” (QS. Al-Fath:22-23).

Oleh karena itu, ketaqwaan dan amal sholeh adalah bagian tak terpisahkan
dalam siasat menggentarkan musuh.

KEDUA:
Bahaya Sikap Ngawur (Kenekatan)

Tidak masalah berangan-angan mati syahid dan maju perang sendirian dengan
syarat itu bukan menjadi tujuan paling utama dari serangan tersebut, tetapi
yang seharusnya menjadi tujuan pertamanya adalah memenangkan diin.

Dengan kata lain, tidak selayaknya seorang muslim terjun ke kancah


peperangan hanya semata-mata mencari kesyahidan tanpa melihat kerugian
musuh. Dalilnya adalah Sabda Nabi SAW:

‫من قاتل لتكون آلمة ال هي العليا فهو في سبيل ال‬


“Barangsiapa berperang agar kalimat Alloh menjadi tinggi, maka ia berada di
jalan Alloh.” (Muttafaq ‘Alaih).

Di sini, Rosululloh SAW menjadikan tujuan utama jihad adalah tingginya kalimat
Alloh, bukan semata kesyahidan yang mungkin terjadi dan mungkin tidak, dan
kesyahidan tidak terjadi kecuali bagi orang yang dipilih Alloh SWT mendapatkan
kedudukan ini, Alloh SWT berfirman:
‫شَهَداَء‬
ُ ‫خَذ ِمْنُكْم‬
ِ ‫َوَيّت‬

“…dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” (QS. Ali
Imron:140)

Jadi, tujuan pokok jihad adalah memenangkan agama, bukan kesyahidan


semata.

Sengaja kami jelaskan masalah ini untuk mengkontrol kenekatan tak terkendali
yang dilakukan sebagian kaum muslimin dan mengembalikan mereka kepada
sikap adil, yaitu keberanian, yang merupakan tengah-tengah antara sikap nekat
dan pengecut. Yang kami maksud sikap ngawur tadi adalah nekat perang
semata-mata ingin mati syahid tanpa memperhitungkan pengaruh pada musuh
-– meskipun itu diperbolehkan dalam beberapa kondisi, seperti ketika seseorang
dikepung dan khawatir akan ditawan lalu ia terus berperan45g sampai terbunuh
sebagaimana terjadi dalam Sarriyah ‘Ashim bin Tsabit (Al-Mughni was Syarhul
Kabir (X/553), tapi bukan itu tujuan utama — sebab seandainya kesyahidan
tujuan utama, tentu lari dari perang untuk bergabung dengan pasukan lain dan
taktik perang tidak diperbolehkan, Alloh SWT berfirman:
‫ل َوَمْأَواُه‬
ِّ ‫ن ا‬
ْ ‫ب ِم‬ ٍ ‫ض‬ َ ‫حّيًزا ِإَلى ِفَئٍة َفَقْد َباَء ِبَغ‬
َ ‫ل َأْو ُمَت‬
ٍ ‫حّرًفا ِلقَِتا‬
َ ‫ن ُيَوّلِهْم َيْوَمِئٍذ ُدُبَرُه ِإل ُمَت‬
ْ ‫َوَم‬
‫صيُر‬ِ ‫س اْلَم‬ َ ‫جَهّنُم َوِبْئ‬
َ
“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali
berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan
pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari
Alloh, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat
kembalinya.” (QS. Al-Anfal:16)

Dari sini bisa diketahui bahwa tujuan utama perang adalah memenangkan
agama serta merugikan musuh.

Diantara tujuan yang dibenarkan dalam jihad adalah menjaga kekuatan Islam
serta agar kaum muslimin tidak begitu saja menemui kehancuran tanpa adanya
manfaat militer yang berarti.

Lebih jelas lagi, ini diterangkan dengan kejadian ketika Kholid bin Walid mundur
bersama pasukannya dalam perang Mut’ah, sampai Nabi SAW menyebut
perbuatannya sebagai kemenangan. Ini tercantum dalam riwayat yang
dibawakan Bukhori dari Anas ra. ia berkata: “Bahwasanya Nabi SAW
mengkabarkan kematian Zaid, Ja’far dan Ibnu Rowahah ra. sebelum kabar
tentang mereka sampai. Beliau bersabda:
‫أخذ الراية زيد فأصيب ثم أخذ جعفر فأصيب ثم أخذ ابن رواحة فأصيب وعيناه َتْذِرفان‬
‫حتى أخذ الراية سيف من سيوف ال حتى فتح ال عليهم‬
“Bendera diambil oleh Zaid kemudian ia gugur, lalu diambil oleh Ja’far lalu ia
gugur, lalu diambil oleh Ibnu Rowahah kemudian ia gugur — saat itu kedua mata
beliau menitikkan air mata — sampai akhirnya bendera diambil oleh salah satu
pedang Alloh sehingga Alloh menangkan ia atas mereka.

Saya katakan:
Ini menjelaskan bahwa melindungi kaum muslimn dan kekuatan Islam adalah
tujuan yang dibenarkan, dan tidak boleh menyodorkan kaum muslimin kepada
kebinasaan tanpa ada manfaat militer yang berarti yaitu kerugian yang diderita
musuh.

Hanya, ada beberapa perkara yang dikecualikan, diantaranya adalah bolehnya


seseorang maju sendirian untuk mati syahid, ini tidak termasuk menceburkan
diri dalam kebinasaan, sebagaimana telah disebutkan pada dua hadits Abu
Ayyub ra. dan Barro yang tercantum dalam tafsir firman Alloh SWT:
‫َول ُتْلُقوا ِبَأْيِديُكْم ِإَلى الّتْهُلَكِة‬
“Dan janganlah kalian ceburkan diri kalian dalam kebinasaan…” (QS. Al-
Baqoroh:195)

Hal ini meskipun diperbolehkan bagi perorangan, namun kematian itu terkait
erat dengan teguh tidak-nya kita menghadapi musuh, yang lebih baik adalah
teguh. (Lihat Al-Mughni was Syarhul Kabir (X/553-554)

Kemudian dari sisi operasi jihad, bisa saya katakan bahwa seorang muslim boleh
turut serta dalam proyek jihad berbentuk apapun tanpa harus memperdulikan
apapun yang menimpa dirinya dan tanpa melihat hasil dari proyek perang ini,
dengan empat syarat, yaitu:

Pertama: Masyru’iyyah (disyari’atkan tidaknya operasi tersebut).

Yaitu mengetahui hukum jihad yang ia lakukan, masyru’ (disyari’atkan) dan


wajib atau tidak? Ini menjadi landasan, caranya kita mesti mengetahui status
musuh serta hukum Alloh SWT yang berlaku atasnya.

Kedua: Panji perang.

Anda tidak hanya cukup melihat bahwa musuh itu kafir dan pantas diperangi,
tetapi ketika akan berperang bersama suatu kelompok, Anda harus tahu bendera
dan misi yang diusung oleh kelompok ini; bendera Islam atau bukan?

Kalau kami katakan bendera Islam, maksudnya Islam yang murni tanpa
tercampuri oleh unsur ajaran kufur seperti sosialis, demokrasi atau yang lainnya.

Jika para pengusung bendera mengatakan bahwa mereka berjuang demi


menegakkan aturan Islam sosialis, atau Islam demokratis, maka semua ini
adalah kufur, sebab Islam adalah peraturan yang sudah sempurna. Alloh SWT
berfirman:

ْ‫ت َلُكْم ِديَنُكم‬


ُ ‫اْلَيْوَم َأْآَمْل‬
“Hari ini Aku sempurnakan agama kalian…” (QS. Al-Maidah:3).

Bendera yang tercampur aduk seperti ini, apapun kondisinya, tidak boleh
berperang di bawahnya. Karena pada hakekatnya Anda menolong panji
kekufuran dan sama sekali bukan di jalan Alloh. Rosululloh SAW bersabda:
‫من قاتل لتكون آلمة ال هي العليا فهو في سبيل ال‬
“Barangsiapa berperang agar kalimat Alloh tinggi, maka ia di jalan Alloh.”
(Muttafaq ‘Alaih)

Ketiga: Manfaat militer

Tidak boleh nekat maju berperang kecuali sudah mengkaji manfaat militer yang
berarti dari perang itu. Sebab tujuan utama perang adalah memenangkan
agama.

Terkadang satu operasi jihad dijalankan sebagai satu mata rantai strategis
global, operasi itu barangkali tidak begitu berdampak besar, namun dampaknya
kembali kepada strategi operasi perang secara umum, seperti sariyyah-sariyyah
yang dikirim oleh pimpinan pasukan, mungkin dampak yang akan dicapai hanya
dari segi politik yaitu dalam rangka menggentarkan (baca: menteror) musuh saja
dan semua ini dibenarkan secara syar’i.

Keempat: Mengambil langkah-langkah pengamanan dan penyelamatan.

Ini bisa dilakukan dengan cara memperketat penjagaan misi dan pasukan.
Bisa juga dengan melakukan teknik-teknik tipu daya, atau dengan menempuh
hal-hal untuk mencapai keselamatan pribadi, seperti mengenakan baju besi,
khoudzah (tameng), menggali parit atau yang lain sebagaimana dilakukan
Rosululloh SAW, beliau mengenakan baju besi dan tameng serta menggali parit
meskipun beliau dilindungi Alloh dari gangguan manusia. Alloh SWT
berfirman:
ِ ‫ن الّنا‬
‫س‬ ْ ‫ك ِم‬
َ ‫صُم‬
ِ ‫ل َيْع‬
ُّ ‫َوا‬

Dan Alloh memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Maidah:67)

Beliau melakukan hal itu tidak lain karena itu sebagai syari’at bagi kita. Jika
terbunuh dan terluka terjadi atas takdir Alloh SWT, maka wajib menolak takdir ini
dengan sebab-sebab yang syar’i yang itupun bagian dari takdir Alloh SAW juga,
bukan dengan cara pasrah untuk terbunuh dan terluka. Sebab kalau seperti itu
orang yang mengatakan perkataan ini berarti harus menyerahkan dirinya Jadi,
yang wajib adalah melawan.

Mengenai kaidah ini (yakni, kaidah: menolak takdir dengan takdir), Ibnul Qoyyim
Rahimahulloh berkata:

“Syaikhul ‘Aroq Al-Qudwah Abdul Qodir Al-Jailani berkata: “Orang kalau sudah
sampai kepada qodho dari qodar biasanya berhenti. Kalau saya tidak, saya
merasakan beratnya takdir tersebut lalu aku lawan takdirtakdir kebenaran
dengan kebenaran dan untuk kebenaran, lelaki sejati adalah yang melawan
takdir (dengan takdir), bukan hanya pasrah kepada takdir.”

— Ibnul Qoyyim melanjutkan — :


“Jika kemaslahatan hamba dalam hidupnya di dunia tidak sempurna kecuali
dengan menolak satu takdir dengan takdir lainnya, maka bagaimana dengan
kehidupan mereka di akherat?

KETIGA:
Bahaya Pengecut

Kebalikan dari sebelumnya, Anda lihat bahwa pengecut dan wahn (cinta dunia
dan takut mati) adalah penyakit mematikan yang mengakibatkan umat-umat
lain menjadikan umat Islam menjadi bulan-bulanan ibarat orang makan
mengeroyok nampan makannya seperti tercantum dalam hadits Tsauban.
Obat penyakit ini adalah mencampakkan sikap kebiasaan hidup senang
sebagaimana saya katakan sebelumnya.

Cara yang lain dengan menanamkan pondasi aqidah beriman kepada takdir,
yaitu seorang muslim harus tahu bahwa apa yang bakal menimpa dia tidak akan
meleset darinya, dan apa yang bakal meleset darinya tidak akan pernah
menimpa dirinya. Ajal sudah ditentukan sejak dulu, demikian juga dengan rezeki,
apa saja yang menimpa seorang hamba maka itu sudah ditakdirkan di sisi Alloh.
Alloh SWT berfirman:
‫عَلى‬
َ ‫ك‬ َ ‫ن َذِل‬
ّ ‫ل َأن ّنْبَرَأَهآ ِإ‬ِ ‫ب ّمن َقْب‬ٍ ‫ل ِفي ِآَتا‬ ّ ‫سُكْم ِإ‬ِ ‫لِفي َأنُف‬َ ‫ض َو‬
ِ ‫لْر‬َ ‫صيَبٍة ِفي ْا‬ ِ ‫ب ِمن ّم‬ َ ‫صا‬
َ ‫َمآَأ‬
‫خوٍر‬ ُ ‫ل َف‬
ٍ ‫خَتا‬ْ ‫ل ُم‬
ّ ‫ب ُآ‬ ّ ‫ح‬ ِ ‫لُي‬
َ ‫ل‬ُ ‫حوا ِبَمآ َءاَتاُآْم َوا‬ُ ‫لَتْفَر‬
َ ‫عَلى َماَفاَتُكْم َو‬
َ ‫سْوا‬
َ ‫ل َتْأ‬
َ ‫سيٌر ِلَكْي‬
ِ ‫ل َي‬
ِ ‫ا‬
“Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap
apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap
apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid:22-23).

Jadi, rezeki dan ajal itu sudah ditakdirkan dan sudah selesai. Oleh karena itu,
banyak sekali para salaf yang memakruhkan berdo’a meminta panjang umur.
Mengenai hadits:
‫حَمُه‬
ِ ‫ل َر‬
ْ‫ص‬ِ ‫سَأ َلُه ِفي َأَثِرِه َفْلَي‬
َ ‫ط َلُه ِفي ِرْزِقِه َوُيْن‬
َ‫س‬َ ‫ن ُيْب‬
ْ ‫ب َأ‬
ّ ‫ح‬
َ ‫ن َأ‬
ْ ‫َم‬
“Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya serta dipanjangkan umurnya
hendaklah menyambung tali silaturrohmi.” (Muttafaq ‘Alaih dari Anas)

Pendapat yang dirojihkan Ibnu Hajar dan dikuatkan oleh yang lain, yang
dimaksud di sini adalah berkah dalam rezeki dan umur, bukan bertambah dari
yang sudah ditakdirkan, dan beliau menyebutkan beberapa atsar yang
mendukung hal itu. (Fathul Bari (X/415-416).

Hendaknya diketahui bahwa jihad tidak menyegerakan ajal serta tidak


menghalangi rezeki.

Hanya saja, bukan berarti sebab-sebab syar’i tidak perlu dijalani, seperti usaha
untuk mencari rezeki, memakai baju besi dan menggali parit atau yang lain
ketika memerangi musuh sebagaimana disyari’atkan Nabi SAW.

Tidak ada kontradiksi antar iman kepada takdir dan melaksanakan perintah
sebagaimana telah dijelaskan.

KEEMPAT:
Bahaya Mundur Dari Perang

Yang saya maksud mundur dari perang di sini adalah ketika kecintaan terhadap
kemenangan itu terlalu kuat tertancap di dalam diri, sebagaimana firman Alloh
SWT:
ٌ‫ح َقِريب‬
ٌ ‫ل َوَفْت‬
ِّ ‫صٌر ِمنَ ا‬
ْ ‫حّبوَنَها َن‬
ِ ‫خَرى ُت‬
ْ ‫َوُأ‬
“Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Alloh dan
kemenangan yang dekat (waktunya)…” (QS. As-Shoff:13)

Seorang muslim diperintahkan berjihad secara syar’i dan bukan untuk


mewujudkan kemenangan yang sudah pasti akan datang, sama saja apakah
kemenangan itu tercapai melalui tangannya atau melalui tangan
saudarasaudaranya atau anak-anaknya, berarti ia telah melaksanakan kewajiban
dia berjihad dan Insya Alloh pahalanya ada di sisi Alloh. Alloh SWT berfirman:
ِّ ‫عَلى ا‬
‫ل‬ َ ‫جُرُه‬
ْ ‫ت َفَقْد َوَقَع َأ‬
ُ ‫سوِلِه ُثّم ُيْدِرْآُه اْلَمْو‬
ُ ‫ل َوَر‬
ِّ ‫جًرا ِإَلى ا‬
ِ ‫ن َبْيِتِه ُمَها‬
ْ ‫ج ِم‬
ْ ‫خُر‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫َوَم‬

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Alloh dan
Rosul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang
dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Alloh…” (QS. An-Nisa’:100)

Saya akan lebih perjelas keterangan saya:


Firman Alloh SWT:
ُ ‫طًئا َيِغي‬
‫ظ‬ ِ ‫ن َمْو‬ َ ‫طُئو‬َ ‫ل َول َي‬ ِّ ‫ل ا‬ِ ‫سِبي‬
َ ‫صٌة ِفي‬ َ ‫خَم‬ْ ‫ل َم‬َ ‫ب َو‬ ٌ َ‫ظَمٌأ َول َنص‬ َ ‫صيُبُهْم‬
ِ ‫ك ِبَأّنُهْم ل ُي‬
َ ‫َذِل‬
َ ‫سِني‬
‫ن‬ ِ‫ح‬ْ ‫جَر اْلُم‬ْ ‫ضيعُ َأ‬ ِ ‫ل ل ُي‬ َّ ‫ن ا‬
ّ ‫ح ِإ‬ٌ ‫صاِل‬
َ ‫ل‬ ٌ ‫عَم‬َ ‫ب َلُهْم ِبِه‬
َ ‫ل ُآِت‬
ّ ‫عُدّو َنْيل ِإ‬
َ ‫ن‬ْ ‫ن ِم‬
َ ‫اْلُكّفاَر َول َيَناُلو‬
‫ن َما‬َ‫س‬َ‫ح‬ ْ ‫ل َأ‬
ُّ ‫جِزَيُهْم ا‬ْ ‫ب َلُهْم ِلَي‬َ ‫ل ُآِت‬
ّ ‫ن َواِدًيا ِإ‬ َ ‫طُعو‬
َ ‫صِغيَرًة َول َآِبيَرةً َول َيْق‬ َ ‫ن َنَفَقًة‬
َ ‫َول ُينِفُقو‬
َ ‫َآاُنوا َيْعَمُلو‬
‫ن‬
“Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan
kelaparan pada jalan Alloh. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang
membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu
bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang
demikian itu suatu amal sholeh. Sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan
pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tidak menafkahkan suatu
nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah,
melainkan dituliskan bagi mereka (amal sholeh pula), karena Alloh akan
memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa
yang telah mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah:120-121)

Ayat ini tidak menyisakan satu kepayahanpun yang dilakukan seorang muslim
dalam rangka jihad yang ia lancarkan kepada musuh-musuh Alloh melainkan
telah ditetapkan sebagai amal sholeh yang pelakunya diberi pahala, di sana
tidak disyaratkan target dan kemenangan harus tercapai.

Sebagai keterangan tambahan, perlu diketahui bahwa orang yang berjihad dan
tidak sempat memperoleh ghonimah atau kemenangan, itu lebih besar
pahalanya di sisi Alloh SWT daripada orang yang mendapatkan ghonimah dan
kemenangan. Ini disimpulkan dari sabda Rosululloh SAW:
‫غاِزَيٍة َأْو‬َ ‫ن‬ ْ ‫جوِرِهْم َوَما ِم‬
ُ ‫ي ُأ‬ْ ‫جُلوا ُثُلَث‬
ّ ‫سِرّيٍة َتْغُزو َفَتْغَنُم َوَتسَْلُم ِإل َآاُنوا َقْد َتَع‬
َ ‫غاِزَيٍة َأْو‬
َ ‫ن‬
ْ ‫َما ِم‬
‫جوُرُهْم‬ ُ ‫صابُ ِإل َتّم ُأ‬ َ ‫ق َوُت‬
ُ ‫خِف‬ْ ‫سِرّيٍة ُت‬َ

“Tidak ada satu ghozwah atau sariyyah yang dilakukan kemudian mereka
mendapatkan ghonimah dan mereka selamat melainkan mereka telah segerakan
sepertiga pahala mereka. Dan tidaklah satu ghozwah atau sariyyah yang tanpa
membawa apa-apa atau terluka, melainkan disempurnakan pahala mereka.”
(HR. Muslim dari ‘Abdulloh bin ‘Amru)

Yang semisal dari hadits Khobbab bin Al-Arts ra., ia berkata:


‫ فِمّنا‬،‫هاجرنا مع رسول ال صلى ال عليه وسلم نلتمس وجه ال تعالى فوقع أجرنا على ال‬
‫ قتل يوم أحد وترك َنِمرة فكنا إذا‬،τ ‫ن مات ولم يأآل من أجره شيئا منهم مصعب بن عمير‬
ْ ‫َم‬
‫ فأمرنا رسول ال صلى ال عليه‬،‫غطينا بها رأسه بدت رجله وإذا غطينا رجليه بدا رأسه‬
‫ ومنا من أينعت له ثمرته فهو‬،‫وسلم أن نغطى رأسه ونجعل على رجليه شيئا من الذخر‬
‫َيْهِذُبها‬
“Kami berhijrah bersama Rosululloh SAW karena mencari wajah Alloh SWT maka
pahala kami ada di sisi Alloh, diantara kami ada yang meninggal dan belum
sempat memakan pahalanya sedikitpun, diantara mereka adalah Mush’ab bin
Umair ra., ia terbunuh ketika perang Uhud dan beliau hanya meninggalkan
sebuah namiroh sehingga apabila kami menutup kepalanya, kedua kakinya
kelihatan. Dan jika kami menutup kedua kakinya, kepalanya kelihatan. Akhirnya
Rosululloh SAW memerintahkan agar kami menutup kepalanya dan meletakkan
pada kakinya sedikit “Idzkhir” diantara kami juga ada yang buahbuahannya
matang lalu ia memetiknya. (Aina’at artinya: matang. Yuhdzibuha artinya
memetiknya. Ini adalah kata kiasan terhadap dunia yang Alloh bukakan untuk
mereka dan mereka berhasil menguasainya. Dan keterangan hadits Abdulloh bin
Amru serta hadits Khobbab telah kami kemukakan, dan keduanya adalah nash
yang cukup jelas dalam menjelaskan maksud ini)” (Muttafaq ‘Alaih.)
Inilah terakhir penjelasan dari saya dalam masalah kesyahidan.

Penghayatan Bai’at NII


Posted by abuqital1 under Bai'at NII
Leave a Comment

Rate This

Berbicara tentang bai’at bukanlah sesuatu yang baru bagi Warga Negara Islam
Indonesia baik makna secara bahasa ataupun secara istilah, mengingat dalil-dalil
dalam Al Quran itu begitu jelas sebagai landasan hokum tertinggi. Implementasi
dan realisasinya telah diatur dalam undang-undang NII yaitu dalam PDB II – MKT
no. 6 Thn 1950. Dari itu dalam bulan ini pengelola blog khusus akan membahas
tentang Bai’at NII beserta konsekwensinya.

Adapun penghayatan bai’at yang dimaksud dalam judul ini adalah suatu upaya
dari tiap-tiap warga bai’at secara maksimal, untuk memahami dan mendalami
kandungan bai’at yang telah diikrarkannya dengan segala konsekuensinya.

Apabila hasil dari penghayatan terhadap bai’at telah memancar dari setiap
individu masyarakat NII di segala tingkatan, maka integritas, loyalitas dan
kwalitas perjuangan, pertahanan dan pembangunan NII dengan sendirinya
tumbuh dan berkembang hingga tercapainya tujuan yang sejati yaitu “Fathah,
Falah dan Mardhatillah”.

Untuk mendapat kejelasan tentang apa dan bagaimana bentuk kongkrit dari
upaya tersebut secara lebih luas, maka dalam makalah ini penulis mencoba
menafsirkan makna yang terkandung dalam poin-poin bai’at secara berurutan,
dengan harapan dapat memudahkan ummat dalam pemahaman, penghayatan
dan pengamalan.

Semoga Alloh berkenan membenarkan dan memandaikan serta melindungi


setiap mujahid/ pejuang NII, sehingga dalam melaksanakan amal bakti nan suci
ini tidak terkontaminasi dengan langkah-langkah syaithan la’natullah
‘alaih….Amin.

Berikut ini isi Bai’at NII yang sesuai dengan MKT. no. 6 Thn. 1950:

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Bismillahi tawakkalna ‘alallah, laa haula walaa quwwata illa billahi. Asyhadu
anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammdar Rosulullah

Wallahi, Demi Allah!


Saya menyatakan bai’at ini kepada Alloh, dihadapan dan dengan persaksian
Komandan Tentara/ Pemimpin Negara yang bertanggungjawab.
Saya menyatakan bai’at ini sungguh-sungguh karena ikhlas dan suci hati, lillahi
ta’ala semata-mata, dan tidak sekali-kali karena sesuatu diluar dan keluar dari
kepentingan Agama Alloh, Agama Islam dan Negara Islam Indonesia.
Saya sanggup berkorban dengan jiwa, raga dan nyawa saya serta apapun yang
ada pada saya, berdasarkan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurna
tawakkal ‘alalloh bagi:
Menegakkan kalimatillah – li i’laai kalimatillah, dan
Mempertahankan berdirinya Negara Islam Indonesia hingga hokum syari’at Islam
berlaku dengan seluas-luasnya dalam kalangan ummat Islam bangsa Indonesia,
di Indonesia.
Saya akan taat sepenuhnya kepada perintah Alloh, kepada perintah Rosulullah
dan kepada perintah Ulil Amri saya, dan menjauhi segala larangannya dengan
tulus dan setia hati.
Saya tidak akan berkhianat kepada Alloh, kepada Rosululloh dan kepada
Komandan Tentara serta Pemimpin Negara dan tidak pula akan membuat noda
atas ummat Islam bangsa Indonesia.
Saya sanggup membela Komandan-komandan Tentara Islam Indonesia dan
Pemimpin-pemimpin Negara Islam Indonesia, daripada bahaya, bencana dan
khianat dari mana dan apapun juga.
Saya sanggup menerima hukuman dari Ulil Amri saya, sepanjang keadilan
hukum Islam, bila saya ingkar daripada bai’at yang saya nyatakan ini.
Semoga Alloh berkenan membenarkan pernyataan bai’at saya ini, serta
berkenan pula kiranya Dia melimpahkan tolong dan kurnia-Nya atas saya,
sehingga saya dipandaikan-Nya melakukan tugas suci, ialah hak dan kewajiban
tiap-tiap Mujahid; menggalang Negara Kurnia Alloh Negara Islam Indonesia!
Amin.
Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar!
Penjelasan “Muqoddimah” dalam Bai’at NII
Posted by abuqital1 under Bai'at NII
Leave a Comment

1 Votes

Memperhatikan dan menghayati format klausul bai’at yag terdiri dari 9


(sembilan) poin yang diawali dengan kalimat muqoddimah yaitu “basmalah,
tawakkal ‘alallah dan syahadatain”, mengandung suatu pelajaran dan hikmah
yang sangat dalam dan luas, diantaranya sebagai berikut:

A. BASMALAH

Dari penggunaan basmalah tampak dengan jelas akan kekentalan hubungan


prinsip Islamiyyah dengan tujuan yang akan dicapai. Kita sama-sama sudah
mengetahui fungsi dan maknanya “bismillahirrohmanirrohim” dalam Islam. maka
ada beberapa hal penting dari kandungan makna penggunaan basmalah pada
klausul bai’at, yang harus dipahami oleh warga bai’at, yaitu:
Bahwa bai’at tercipta bukanlah hasil rekayasa atau amani (angan-angan)
seseorang namun ia merupakan natijah dari ijitihad sang hamba yang beriman
kepada Alloh SWT, serta menjunjung tinggi As Sunnah Rosulullah SAW.
Memberikan isyarat bahwa bai’at itu mempunyai konsekuensi hukum duniawi
dan ukhrowi, memahami didasari dengan isme Alloh yang meliputi kepentingan
dunia dan akhirat (Dar Al Islam – Dar As Salam).
Memberikan jaminan yang berkesinambungan terhadap ikatan bai’at bagi yang
melakukannya dan ia tidak akan dinyatakan putus atau rusak oleh apa dan
siapapun kecuali oleh pribadi pelaku (yang berbai’at). Untuk itu pelaksanaan
bai’at harus didasari pengetahuan yang cukup dan kesadaran yang sesadar-
sadarnya.

Perhatikanlah Firman Alloh SWT. dibawah ini:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar
kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah
berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Al Baqoroh[2]: 256)

¨Bahwasannya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya


mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, Maka
Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan
menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka
Allah akan memberinya pahala yang besar. (Qs. Al Fath[48]:10)

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka


berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada
dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi
balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Qs Al
Fath[48]:18)

B. TAWAKKAL ‘ALALLAH

Menyadari bahwa resiko dan tantangan yang akan dihadapi sangat berat, serta
kelemahan dan keterbatasan sebagai hamba, maka kalimat “tawakkalna ‘alallh
laa haula walaa quwwata illa billahi” disambungkan pada kalimat “basmalah”.
Makna yang terkandung didalamnya yang perlu dihayati dan diyakini oleh setiap
warga bai’at, kurang lebih sebagai berikut:
Mengingat proyek yang akan dikerjakan kemudian adalah proyek Alloh, dimana
aturan dan ketentuannya pasti benar adanya. Maka atas kekurangan dan
keterbatasan dalam berbagai hal, namun optimisme selalu ada pada diri warga
bai’at, mengingat dan meyakini bahwa campur tangan Alloh pasti adanya.
Segala konsekuensi yang timbul dan tengah dirasakan, diyakininya sebagai
ketentuan dan ujian Alloh, sehingga tidak menimbulkan keputusasaan dan lain-
lain yang dapat merusak konsistensti sebagai warga bai’at.
Warga bai’at terhindar dari sifat arogansi, takabbur dan lain-lain yang dapat
menodai esensi dan kesucian bai’at dan perjuangan.

Perhatikanlah firman Alloh dalam Al Quran diantaranya sebagai berikut:

“…dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan


Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-
tiap sesuatu.” (Qs. At Thalaaq[65]:3)

“ (yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada
orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka
Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah
Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. (Qs. Ali
Imron[3]:173)

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah
ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah
orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (Qs. At Taubah[9]:51)

C. SYAHADATAIN
Sebagaimana telah dimaklum bahwa syahadatain adalah rukun Islam yang
pertama dan boleh juga dikatakan bahwa syahadatain merupakan ruh dari
segala bentuk ibadah. Dari hal tersebut dapat dipahami bahwa dimasukkannya
syahadatain dalam klausul bai’at memberikan arti yang sangat dalam, dimana
bai’at tidak boleh putus atau bertentangan dengan maksud yang terkandung
dalam syahadatain. Dalam konteks lain dapat pula ditangkap satu isyarat bahwa
bai’at merupakan wujud kongkrit dari penjabaran syahadatain, karena itu bai’at
adalah ruh daripada jihad atau perjuangan. Hal lain yang perlu dicermati dalam
kaitan syahadat adalah sebagai berikut:

Merujuk kepada firman Alloh dalam Al Quran diantaranya:

“Ya Robb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan
telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-
orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”. (Qs. Ali Imron[3]:53)

Memperhatikan ayat tersebut diatas jelas sekali tergambar bahwa pernyataan


syahadat yang diikrarkan oleh ummat terdahulu (pada kurun Rosulullah) tulus
dan suci hati serta atas dasar Iman dan kesadaran mereka sendiri tanpa diminta
apalagi dipaksa. Maka sebagai konsekuensinya, mereka melaksanakan
pengabdian kepada Alloh ataupun kepada Rosulullah tidak dapat dibendung oleh
apa dan siapapun, kecuali bagi orang-orang yang berpenyakit hatinya (munafik)
yang bersyahadat palsu (Qs. 63:1-4).

1. apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami


mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah
mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah
mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang
pendusta.

2. mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai[1476], lalu mereka


menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang
telah mereka kerjakan.

3. yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman,
kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka
tidak dapat mengerti.

4. dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu


kagum. dan jika mereka berkata kamu mendengarkan Perkataan mereka.
mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar[1477]. mereka mengira bahwa
tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh
(yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah
membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari
kebenaran)?
Begitupun hendaknya dengan pelaksanaan bai’at, maka dapat disimpulkan hal-
hal sebagai berikut ini:
Sebelum bai’at, ummat telah memahami duduk persoalan dengan baik dan
benar serta memiliki motivasi dan visi kedepan.
Ummat atau warga bai’at benar-benar sadar dan faham terhadap kandungan
bai’at yang akan mereka ikrarkan dengan segala konsekuensinya.
Ummat atau warga bai’at merasa memiliki sesuatu yang paling berharga
sehingga berupaya memelihara bai’at yang telah mereka ikrarkan dengan
maksimal.
Dan lain-lain yang senisbat dengan itu.

Dari penjelasan muqoddimah tersebut diatas dapat dipahami bahwa isi bai’at
yang terdiri dari 9 (sembilan) poin merupakan penjabaran dan pengongkritan
dari kandungan muqoddimah. Dan jika diperhatikan isi bai’at tersebut adalah 5
poin (poin 3-7), dan jika dihayati lebih mendalam inti bai’at ada pada poin ke 3
ialah “pertahanan dan pembelaan terhadap Negara Islam demi hokum”. Hal
inilah yang terkandung dalam firman Alloh surat Ali Imron ayat 102:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa


kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.” (Qs. Ali Imron [3]:102)

“Poin ke 1″ dalam Bai’at NII


Posted by abuqital1 under Bai'at NII
[3] Comments

Rate This

POIN KESATU dalam Bai’at NII

“Saya menyatakan bai’at ini kepada Alloh dihadapan dan dengan persaksian
Komandan Tentara/ Pemimpin Negara yang bertanggungjawab”.

Kalimat “Saya menyatakan bai’at ini kepada Alloh;


Dengan adanya kalimat “saya menyatakan” jelas dan nyata sekali bahwa
seseorang tidak sedang dibai’at melainkan dialah yang sedang berbai’at, maka
hal itu berarti pula bahwa seseorang melakukannya dalam keadaan sadar tanpa
tekanan dan paksaan dari apa dan siapapun juga, serta mempunyai motivasi
yang jelas.
Kata “ini” yang menyertai kata bai’at dapat dikonotasikan bahwa hal dimaksud
berada dekat dengan pelaku, atau dengan kata lain bahwa bai’at yang akan
dinyatakan telah ada dan tersimpan dalam hati seseorang yang akan
menyatakan/ mengikrarkannya, berarti pula orang tersebut telah memahami
sebelumnya terhadap apa yang ia nyatakan dengan segala konsekuensinya.
Kalimat “kepada Alloh”, hal ini menunjukkan dengan sejelas-jelasnya bahwa
setiap individu yang berbai’at tengah bernegosiasi langsung kepada Alloh,
dengan demikian segala apa yang termasuk dalam transaksi akan
mendatangkan keuntungan tanpa terzholimi (Qs. 61:10, 9:111)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan
yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?” (QS. 61:10)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan
Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar
dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati
janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah
kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. 9:111)

Kalimat “dihadapan dan dengan persaksian Komandan Tentara/ Pemimpin


Negara yang bertanggungjawab”.

Dari kalimat tersebut dapat dipahami bahwa status dan fungsi Pemimpin atau
Imam, diantaranya sebagai berikut:

1. Status; mengingat bai’at itu hakekatnya adalah kepada Alloh, maka status
Pemimpin Negara, Komandan Tentara adalah sebagai saksi (Qs. 22:78, 48:8)

“dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya.
Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam
agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah)
telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula)
dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya
kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sholat,
tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah
Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.”
(QS. 22:78)

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira


dan pemberi peringatan”. (QS. 48:8)

2. Fungsi; secara garis besar fungsi Pemimpin Negara/ Pemerintah terbagi dua,
yaitu:
memberlakukan syari’ah (Qs. 45:18, 22:67, 38:26)

“kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari
urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa
nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS. 45:18)
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan,
Maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini
dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada
pada jalan yang lurus”. (QS. 22:67)

“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka


bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari
jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan
mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. (QS.
38:26)
memelihara keamanan (Qs. 2:126, 6:82, 24:55)

“dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Robbku, Jadikanlah negeri ini, negeri
yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada
penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.
Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan
sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-
buruk tempat kembali”. (QS. 2:126)

“orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan


kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu
adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 6:82)

“dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar
akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi
aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada
mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap)
kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (QS. 24:55)

Dengan demikian untuk dapat merealisasikan tanggungjawab sebagai Imam/


Pemerintah, maka dibentuklah Dewan Imamah atau struktur pemerintahan dan
perundang-undangan serta institusi-institusi yang berkenaan pelayanan
masyarakat, dan seterusnya.

3 Tanggapan to ““Poin ke 1″ dalam Bai’at NII”


pelajar Says:

Desember 2, 2009 at 6:12 am

Mullah Muhammad Omar Mujahid telah mendeklarasikan dirinya sebagai Amirul


Mukminin dan Banyak Mujahid yang telah membaiatnya.
Syaikh Usamah Bin Ladin dan AlQaeda telah berbaiat kpd Beliau.
maka bergabunglah dengan mereka, tinggalkan ke ashabiyahan NII saudaraku…
af1, ini nasehat sebagai saudara.
Balas
Rafi' Says:

Desember 7, 2009 at 11:59 am

afwan akhi, coba anda bijak dalam melihat.


1. baiat yang telah dimaklumatkan lewat MKT No 6 ini dikeluarkan tahun 1952,
oleh Pemerintahan NII,
2. Lihatlah hasil konferensi cisayong yan disenggelarakan oleh 362 ulama pada
tanggal 12 dan 13 februari 1948, yang memutuskan tahapan tahapan
tercapainya khilafah fil ardh(kepemimpinan islam secara mendunia)yang kelak
mengangkat seorang khalifah untuk bertanggung jawab tentang keadaan
seluruh ummat islam di dunia. itu dimulai dari didirikannya NII bukan berarti
harus semata-mata indonesia, tapi setiap individu muslim di setiap negara wajib
mendirikan Negara Islam untuk kemudian bersama-sama menciptakan dewan
Imamah dunia(khilafah fil ardh)
jadi, ashobiyah yang anda katakan bukanlah sifat perjuangan NII.
3. sedangkan Mullah muhammad omar, baru mendeklarasikan tahun berapa???
namun demikian saya bersyukur, dengan ini menandakan sudah adanya
amir(imam) di beberapa negara islam yang kelak bersama-sama akan
mewujudkan Khilafah fil ardh.
4. jika anda ditakdirkan lahir di indonesia sebagai mana di firmankan oleh Allah
surah 49:12, maka anda bertanggung jawab jika di indonesia ini hukum islam
tidak tegak, tapi InsyaAllah anda tidak diminta pertanggung jawaban, mengapa
di wilayah lain atau negara lain hukum islam tidak tegak. karena itu, menjadi
tanggung jawab muslim di setiap tempat.
Balas
pjuang TII Says:

Desember 3, 2009 at 10:04 am

ha’a yuk- .
kt gabung
“Poin ke 2″ dalam Bai’at NII
Posted by abuqital1 under Bai'at NII
Leave a Comment

Rate This

POIN KEDUA
“Saya menyatakan bai’at ini sungguh-sungguh karena ikhlas dan suci hati, lillahi
ta’ala semata-mata, dan tidak sekali-kali karena sesuatu diluar dan keluar
daripada kepentingan Agama Alloh, Agama Islam dan Negara Islam Indonesia”.

Kalimat “karena ikhlas dan suci hati” merupakan dua kata yang saling
menguatkan dimana keikhlasan tidak dapat dimiliki kecuali oleh orang-orang
yang berhati suci. Namun dengan penggabungan dua kata tersebut (ikhlas dan
suci hati) belum dapat disaksikan atau dinilai oleh indra manusia mengingat
kedua-duanya tidak nampak atau berwujud. Karenanya dipertegas lagi dengan
kalimat “lillahi ta’ala semata-mata”, artinya bai’at yang dinyatakan atau
diikrarkan hanya karena Alloh. Walaupun demikian masih perlu adanya
pembuktian secara kongkrit mengingat kalimat lillahi ta’ala dimaksud masih
bersifat abstrak, untuk itu dilanjutkan dengan kalimat “tidak sekali-kali karena
sesuatu diluar dan keluar dari pada kepentingan Agama Alloh, Agama Islam dan
Negara Islam Indonesia”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: “ikhlas” itu adalah sesuatu


perbuatan yang dilakukan secara murni dan konsekuen, sesuai dengan
ketentuan-ketentuan Alloh yaitu sesuai syari’at Islam, selanjutnya direalisasikan
sesuai dengan ketentuan/ undang-undang Negara Islam. Karenanya setiap
penyimpangan/ pelanggaran terhadap Peraturan/ Undang-Undang Negara Islam
Indonesia dalam implementasi perjuangan merupakan bukti ketidak ikhlasan,
mengingat ikhlas adalah sesuatu perbuatan yang tidak terkontaminasi dengan
langkah-langkah syaitan/ thoghut. Perhatikan Qs. 16:36, 39:3, 15:39-40, 39:65
dan perhatikan pula Sabda Rosulullah SAW:

“Sesungguhnya Alloh SWT tidak menerima amal, kecuali amal yang tulus ikhlas
dan mencari keridhoan Alloh.” (HR. An Nasa’i)

Dan hati memegang peranan penting, dimana niat berada didalamnya dan
tempat bersemayamnya ikhlas. Hati yang kotor tidak akan mendatangkan niat
yang baik, niat yang tidak baik tidak mungkin melahirkan keikhlasan. Maka pada
saat seseorang berbai’at dengan tegas Alloh menyatakan “maka Dia (Alloh)
mengetahui apa yang ada dalam hatimu (Qs. 48:18) dan dalam ayat lain Alloh
menyatakan bahwa “hati terdinding dari jasad” (Qs. 8:24). Dan perhatikan hadits
Rosululloh SAW. dibawah ini:

Rosululloh SAW bersabda: Sesungguhnya semua amal harus dengan niat, dan
sesungguhnya tiap-tiap manusia akan dibalasi menurut apa yang diniatkannya.
Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Alloh dan Rosul-Nya maka berhijrahlah
ia kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena dunia
atau karena dunia atau karena seseorang perempuan yang akan dikawininya,
maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya. (HR. Syaikhan dari Umar, Mukhtarul
Ahadits halaman 718)

“Sesungguhnya didalam jasad ada segumpal daging, apabila daging itu baik
maka baiklah seluruh jasadnya dan apabila daging itu rusak maka rusaklah
seluruh jasadnya (HR. Bukhori)

Apabila diperhatikan dengan seksama dapat disimpulkan bahwa dua poin


tersebut menitik beratkan kepada persoalan niat atau persoalan hati, dimana
hanya Alloh sajalah yang paling mengetahuinya. Adapun Pemimpin/ Imam/
Petugas atau Syahid hanya menyaksikan yang wujud yaitu ucapan dan jasad.
Untuk itu poin ketiga dari klausul bai’at meruapakan alat atau cara untuk
melahirkan segala sesuatu yang tersembunyi didalam hati seseorang/ manusia.
“Poin ke 3″ dalam Bai’at NII
Posted by abuqital1 under Bai'at NII
[6] Comments

Rate This

POIN KETIGA

“Saya sanggup berkorban dengan jiwa, raga dan nyawa saya serta apaun yang
ada pada saya, berdasarkan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurna
tawakkal ‘alallah, bagi:

a. menegakkan kalimatillah – li I’lai kalimatillah, dan

b. mempertahankan berdirinya Negara Islam Indonesia hingga hukum syari’at


Islam seluruhnya berlaku dengan seluas-luasnya dalam kalangan Ummat Islam
Bangsa Indonesia di Indonesia”.

Kalimat “serta apapun yang ada pada saya” menunjukkan bentuk pengorbanan
secara total termasuk didalamnya perasaan dan segala bentuk kepentingan
yang bersifat pribadi, karena pengorbanan dimaksud haruslah tanpa tendensi
atau pamrih dan dilakukan secara maksimal dan optimal serta penuh keyakinan.
Karenanya kalimat dimaksud dilanjutkan dengan “berdasarkan sebesar-besarnya
taqwa dan sesempurna-sempurna tawakkal ‘alallah”, artinya pengorbanan
disalurkan atas dasar ikhlas sesuai prosedur atau peraturan perundang-
undangan yang berlaku, dan senantiasa mengharap pertolongan dan
penyempurnaan dari Alloh SWT. Perhatikan Firman Alloh SWT. dibawah ini:

“Katakanlah: “Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan


terpaksa, Namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu.
Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik. dan tidak ada yang
menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan
karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan
sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta)
mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (Qs. At Taubah [9]:53-54) 

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah


serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang
beruntung.” (Qs. At Taghaabun [64]:16)

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya,


mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Az Zumar [39]:33)

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti
Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan
Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,
(yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka
bertawakkal.” (Qs. An Nahl [16]:41-42)

Sangat jelas kiranya bahwa pengorbanan atau dedikasi tanpa disadari dengan
prinsip taqwa tidak akan mendatangkan keikhlasan, sehingga Alloh tidak akan
menerima sebagai pengabdian kepada-Nya. Begitu pula loyalitas dan dedikasi
kepada NII tanpa disalurkan sesuai aturan atau undang-undang yang berlaku
akan sia-sia. Prinsip kedua adalah tawakkal, dimana tanpa adanya tawakkal
sudah pasti tidak akan ada kesabaran. Karenanya perjuangan tanpa didasari
rasa tawakkal kepada Alloh akan muncul sifat arogan dan brutalisme juga cepat
putus asa dan pesimistis.

Adapun sasaran dan tujuan perjuangan dan pengorbanan dijelaskan pada


lanjutan point ketiga yaitu “menegakkan kalimatillah dengan cara dan bentuk
pertahanan dan pembelaan terhadap Negara”. Dalam hal ini perhatikan pula
sabda Rosulullah SAW. sebagai berikut:

“Barangsiapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Alloh, maka itulah


perang di jalan Alloh”. (HR. Muttafaqun ‘alaih )

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa:

1) Sebagai warga bai’at harus memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi serta
berjiwa optimis dalam pengabdian (Qs. 3:134, 3:146, 9:111, 9:52)
2) Sebagai warga bai’at harus mampu meletakkan kepentingan Negara diatas
kepentingan pribadi (Qs. 33:36, 2:165, 9:24).

3) Sebagai warga bai’at harus memiliki sikap konsisten dan konsekuen dalam
pendirian dan perbuatan (Qs. 41:30, 9:41, 3:103).

6 Tanggapan to ““Poin ke 3″ dalam Bai’at NII”


kira Says:

Desember 3, 2009 at 9:26 am

wah tep pelanggaran iki. .

dah waktuny menggalang hacker2 se darul kufur indonesia. .

tuk membubarkn nie blog. .

go freedom!

Abuqital1:
Mohon maaf sebelumnya, komentar anda saya tampilkan satu saja. Jika anda
memang seorang Muslim maka pahamilah Firman Alloh SWT. dibawah ini:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?” (QS. 41:33)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau
belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. 6:32)
Balas
ALI TP Says:

Desember 3, 2009 at 11:49 am

wah. .si KIRA ini agak nyleneh. .

hapus aj tu coment2 ny sie KIRA. .


biar g pitnah. .

kt NII jg pny hacker ta!


ya kerahkan donk, .
bwt website yg bgus n secure. .

masak cm nitip d wordpress


Balas
abikira Says:
Desember 4, 2009 at 1:01 am

Saudara2ku,kami mohon maaf kalo anak saya (kira)sperti itu, karna dulu waktu
umur 9 thn mengalami step,panas dlm jangka waktu yg lama.
jadi skrang memahami kebenaran susah banget.
aku njalok pandungone dulur2 mugo2 (kira)diberi hidayah sama Alloh
amin…………..
Balas
yoni Says:

Januari 24, 2010 at 7:08 am

assalamualaikum a,akh ana mau tanya,bagaimana kemungkinan begabungnya


NII dengan negara2 yang lain di belahan dunia,seperti daulah islam iraq dan
imaroh islamiyah di afganistan atau sybab mujahdin di somalia,

pwrtanyaan kedua: bukankah loyal kepada subuah negara dengan batasan2


geografis termasuk paham nasionalis.bukankah semua negara islam itu negara
kaum muslimin?tolang di balas via e-mail,jazakallah khoiron

Abuqital1:
1) tentu kita akan menyambutnya dengan gembira sesama mukmin (ba’dluhum
awliya ba’dl) dan juga sebagai wujud salah satu program perjuangan NII (point 6-
7)
http://abuqital1.wordpress.com/program-perjuangan/

2) jawabannya lihat di link ini:


http://abuqital1.wordpress.com/2009/06/03/119/

http://abuqital1.wordpress.com/2009/11/05/negara-islam-indonesia-bersifat-
lokal-bukan-khilafah-yang-mendunia/
Balas
Abaz Says:

Januari 28, 2010 at 7:11 am

Assalamualaikum AbuQital.,
Dalam rangka berkorban jiwa, raga dan nyawa, saya masih bingung tentang ZIS.
1.Apa berbedaan antara Zakat, Infak dan Shodaqoh?
2.Apakah benar kalo Zakat hanya diberikan setahun sekali yaitu pd saat Bulan
Ramadhan? (tunjukan dalilnya yach..)
3.Apakah benar Infaq dilakukan sebulan sekali? berapa ukuran minimalnya?
3.Bagaimana dengan shodaqoh?

trimakasih sebelumnya,. sy sangat berharap anda memberi jawaban yg


memuaskann
wassalamualaikum…
Balas
Abaz Says:

Januari 30, 2010 at 3:53 am

lama ku menunggu,..jawabanmu,..

Abuqital1:
mohon sabar akhi/ ukhti, jawabannya skalian mau dibuat artikel.

“Pont ke 4″ Dalam Bai’at NII


Posted by abuqital1 under Bai'at NII
1 Comment

Rate This

POIN KE EMPAT

“Saya akan taat sepenuhnya kepada perintah Alloh, perintah Rosulullah dan
perintah Ulil Amri saya dan menjauhi segala larangannya dengan tulus dan setia
hati”.

Kata “Saya akan taat sepenuhnya” adalah realisasi dari perintah Alloh SWT.
dalam Qs. An Nisa:49

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika
kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Seorang warga bai’at harus menyadari bahwa dalam kata taat dan patuh
termasuk pula dalam disiplin. Taat dan patuh tanpa cinta setia akan terasa kaku,
tegang dan kering, tandus laksana irama tanpa suara. Bahkan kadang-kadang
terasakan sesuatu keras dan kejam, kasar dan bengis. Demikian pula benar dan
adil, tanpa qisti dan palamarta.

Maka untuk memperoleh hasil amal yang sempurna, jasa-jasa yang besar
manfaatnya dan maslahat untuk umum, untuk ummat, negara dan agama, maka
kuncinya terletak dalam jiwa atau lebih tegasnya jiwa Mujahid yang harmonis
selaras dengan tugasnya.

Mujahid yang mempunyai keselarasan jiwa ini akan menunaikan segala tugas
wajibnya dengan sepenuh jiwanya, dengan tekun, khusyu’ dan khudhu’, tanpa
menghiraukan atau terpengaruh sesuatu diluarnya. Maka landasan pembinaan
jiwa, kstaria suci macam ini antara lain adalah:

a. Rasa cinta kepada Alloh (Mahabbah) dalam makna dan wujudnya:

Sanggup dan mampu melaksanakan tiap-tiap perintahnya dan menjauhi segala


larangannya tanpa terkecuali dan tawar menawar.
Mendahulukan dan mengutamakan pelaksanaan perintah Alloh daripada sesuatu
diluarnya.
Mendasarkan tiap-tiap laku lampah dan amalnya atas wahdaniyat Alloh,
tegasnya atas tauhid sejati dan tidak atas alas an pertimbangan dan dalil
apapun melainkan berdasarkan kholishon mukhlishon semata, atau dengan kata
lain Alloh minded 100%.

b. Rasa cinta setia kepada Rosululloh SAW. Dalam makna dan wujudnya:

Sanggup dan mampu merealisasikan ajaran dan sunnah Rosululloh SAW. dengan
kepercayaan dan keyakinan sepenuhnya, bahwa tiada contoh dan tauladan lebih
utama daripada ajaran dan sunnahnya khusus dalam rangka jihad, tegasnya
dalam rangka usaha membina Negara Madinah Indonesia dan pantang
melakukan sesuatu diluar ajaran dan hukum Islam, sepanjang sunnah hingga
mencapai taraf “Islam minded 100%”

c. Rasa cinta setia kepada Ulil Amri Islam atau Imam NII atau Plm. T. APNII yang
didalamnya termasuk:

Rasa cinta setia kepada Pemerintah Negara Islam Indonesia dan tidak kepada
sesuatu perintah diluarnya.
Rasa cinta setia kepada Negara Islam Indonesia, dan tidak kepada sesuatu
Negara diluarnya.
Rasa cinta setia kepada Undang-undang (Qonun Asasi) NII dan tidak kepada
undang-undang negara manapun dan seterusnya dan seterusnya yang
semuanya itu tercakup dalam istilah “Negara Islam Indonesia minded 100%”.

Catatan:

Kita hanya mengenal satu Ulil Amri, satu Imam Plm. T. APNII. tidak lebih dan
tidak kurang. Tiap-tiap kepercayaan, keyakinan, anggapan dan perlakuan yang
menyimpang atau bertentangan dengan dia adalah sesat dan menyesatkan,
salah, keliru dan durhaka.
Satu Tanggapan to ““Pont ke 4″ Dalam Bai’at NII”
Peluang Usaha Dunia Akhirat Says:

Desember 4, 2009 at 12:57 pm

makasih ya sobat infonya. update terus ya artikelnya disini

“Point ke 5″ dalam Bai’at NII


Posted by abuqital1 under Bai'at NII
[7] Comments

Rate This

POINT KELIMA

“Saya tidak akan berkhianat kepada Alloh, kepada Rosululloh dan kepada
Komandan Tentara serta Pemimpin Negara dan tidak pula akan membuat noda
atas Ummat Islam Bangsa Indonesia”.

Dalam kata “Saya tidak akan berkhianat” artinya seorang warga bai’at tidak
boleh melakukan hal-hal atau perkara yang menjurus kepada pengkhianatan,
dalam format ini telah diizinkan oleh Alloh SWT. dalam Al Quran Surat Al Anfal
(8) ayat 27:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Maka sebagai warga bai’at harus memahami bahwa dirinya adalah seorang
kholifah atau pengemban amanat Alloh SWT. di muka bumi (Qs. 2:30). Dia
adalah mukallaf yang diembankan atau dipikulkan tanggungjawab. Maka
manakala tanggungjawab yang dipikulnya dia remehkan bahkan dia lepaskan
maka dia sudah berkhianat, termasuk tugas utamanya selaku aparat dan juga
termasuk perintah dan larangan yang disampaikan oleh komandannya.

Perkataan “dan tidak pula akan membuat noda atas Ummat Islam Bangsa
Indonesia”. Alloh SWT. berfirman dalam Al Quran Surat Al Hujurot (49) ayat 10:
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat”.

Maka selaku sesama warga, selaku sesama Muhajir dan Mujahid haruslah terjalin
hubungan baik dan loyalitas. Untuk itu dilarang melakukan penodaan terhadap
hubungan tersebut seperti (Qs. 49:11-12):
Saling memperolok/ merendahkan
Saling mencela
Saling panggil memanggil dengan panggilan buruk
Saling berprasangka buruk
Saling menggunjing satu sama lain

7 Tanggapan to ““Point ke 5″ dalam Bai’at NII”


devn11 Says:

Desember 6, 2009 at 2:16 pm

a.w.w

apa N11 pny progrm dakwh scra online yg serius?

mungkn bnyk saudara2 kt yg hendak dakwah tp kurang terampil bicr langsung


dan bngung jk sdah brhdapan sm orng

proyek dakwh sdrhana ide ku:


.membwt ratusan mirror untk materi dakwh blog ini jd jk blog ini dhack ato
ddelete olh phk x, materi msh bs diakses lwt mirror

.memasukn materi2 dakwah keforum2 ternama scra gencr

.membrshkn nama baik N11 scr online

.dll dakwh online


Balas
devn11 Says:

Desember 6, 2009 at 2:29 pm

cara:
.membwt mirror suatu blog kira2 hnya dbuthkn waktu 30 menit itu dgn software.
ket lnjut bs cr dgoogle

.keamanan bs diatasi dgn accont palsu..akses dwarnet aj,.info ttg keamanan


bnyk bs cr dgoogle
.bntuk sbuah team untk membwt suatu modul materi2 dakwh untk dshare
kseluruh web yg brpotensi dknjngi bnyk orng

dengan sprti itu mungkn dapat memprstukn mujahid2 cyber n11 walaupun dgn
acount palsu
Balas
devn11 Says:

Desember 6, 2009 at 2:50 pm

dengan membagikan materi2,ideologi,dan cita2 N11 secara gratis dan terbuka

kewajibn menyampaikn yg haq akn lbh aman,hemat,dan efisien

akan bnyak orng2 yg mendukung cita2 mulia N11.

akan bnyak ahli2 ilmu Allah yg akn memberikan kontribusi2 untk N11

jk dakwah online lbh serius. ..kt dapat menguasai dunia informasi web indo.
dan mematahkn doktrin2 kelmpok2 islamis lain. dan membersihkan nama baik
NEGARA KURNIA

Abuqital1:
Untuk akhi devn11 yang sedang “ghirohnya” tinggi, maaf sebelumnya ana
sedikit meluruskan singakatan untuk Negara Islam Indonesia adalah NII, bukan
N11 (N sebelas).

Ide akhi baik juga, nah untuk mengawali langkah kebaikan tersebut sebaiknya
didahului oleh DIRI PRIBADI AKHI untuk “terlibat langsung” menjadi kekuatan NII
yang sesuai perundang-undangan NII. Siapkah bergabung…???

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-
malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan”. (QS. 66:6).
Balas
devn11 Says:

Desember 6, 2009 at 3:02 pm

suatu dobrakan besar akan terjadi, .

orang yg meliat informasi scra online akan menyampaikan kpd orng2 yg tdk
online
masyarakat2 islam akan smakin kritis ttg knsep negara indo dan nasib mereka
sbg warga darul k**ur

anggota2 kelmpok2 islamis lain akan sgra bermigrasi ke N11

tercipta kebencian2 trhadap negara indo


dan kbencian2 trhadap ulama2 munafik
Balas
devn11 Says:

Desember 6, 2009 at 3:26 pm

para thogut RI akn sngat kebingungan membendung jalur dakwah yg satu ini. .

bgmn tdk,!

dseluruh nusantara warga2 N11 menyerang melalui tiap2 warnet2. memberikn


input2 dakwah keblog,forum,webnews, all web yg bs ddakwahi smpe mereka
jenuh

jebol,deface,crack smwa web yg pro dgn thoghut..

bom alamat2 email yg ada dgn pesan2 dakwah..

tidak akan ada hujjah dan alasan bg mereka..

mereka absoltly salah n going to hell

tdk ada keraguan


Balas
devn11 Says:

Desember 8, 2009 at 9:16 am

devn11.co.cc
mampir

kusedang berusaha merealisasikan indeku


Balas
devn11 Says:

Desember 8, 2009 at 11:16 am

siap!
truz gmn?

Abuqital1:
Silakan ke abuqital1@gmail.com, disana akhi bisa cerita pengalaman akhi
tentang perjuangan. Kemudian bila akhi bersedia cantumkan no. hp akhi di email
tersebut.

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi


ini tempat hijrah yang Luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari
rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian
kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh
telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”. (QS. 4:100)

“Point ke 6″ dalam Bai’at NII


Posted by abuqital1 under Bai'at NII
Leave a Comment

Rate This

POIN KEENAM

“Saya sanggup membela Komandan-komandan Tentara Islam Indonesia dan


Pemimpin-pemimpin Negara Islam Indonesia daripada bahaya, bencana dan
khianat dari mana dan apapun jua”.

Kata “Saya sanggup membela” adalah sikap yang semestinya diberikan oleh
seorang warga kepada pemimpinnya, prajurit kepada komandannya dan itu
merupakan ciri yang khas penegak risalah para rosul-rosul sebagaimana
disabdakan oleh Rosululloh SAW.

“Tidaklah seorangpun Nabi-nabi yang dibangkitkan oleh Alloh pada setiap


ummat, kecuali dijadikan bagimu para penolong dan sahabat”.

Lihatlah kisah itu dalam Qs. 3:52, 61:14, 9:40

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia:
“Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama)
Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-
penolong (agama) Allah, Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa
Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Ali
Imron[3]:52)
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah
sebagaimana Isa Ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang
setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan
agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-
penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan
lain kafir; Maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang
menang.” (Qs. Ash Shoff [61]:14)

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah


menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah)
mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika
keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah
kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan
keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang
kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang
rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (Qs. At Taubah [9]:40)

Dalam kata “membela” terkandung didalamnya kata menolong, melindungi, dan


mengamankan. Sebab terancamnya jiwa dan raga akan mengakibatkan
terganggunya perjuangan, oleh karenanya dalam sapta subaya point ke 3 (tiga)
Seorang T.I.I. sanggup membela Komandan Tentara dan Pemimpin Negara
sebagai tulang punggung Negara.
“Poin ke 7″ dalam Bai’at NII
Posted by abuqital1 under Bai'at NII
[2] Comments

2 Votes

POINT KETUJUH

“Saya sanggup menerima hukuman dari Amri saya sepanjang keadilan hukum
Islam bila saya ingkar daripada bai’at yang saya nyatakan ini”.

Kata “Saya sanggup menerima hukuman” adalah realisasi dari firman Alloh SWT.
dalam Al Quran Surat An Nisa (4) ayat 64-65:
“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan
seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinyaa datang
kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan
ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat
lagi Maha Penyayang.

“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan
yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.

Warga bai’at menyadari bahwa hukum Islam yang ia terima dengan rela dan
ikhlas adalah jalan pengampunan bagi dosa dan pelanggaran yang dilakukannya
di dunia sehingga tidak terbawa lagi dosanya kedalam akhirat. Untuk itu realisasi
dari point bai’at ini adalah bila menyadari diri telah berbuat salah maka:
Dia datang (lapor) kepada Ulil Amrinya sebagai lembaga hukum atau lembaga
yang punya wewenang untuk tanfidzu syari’at atau Mahakamh Islam.
Menerima keputusan apapun dengan:
Tidak keberatan dalam menerima keputusan
Tunduk menerima sepenuhnya

Inilah ciri khas mukmin, sebagaimana firman Alloh SWT. dibawah ini:

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah


dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah
ucapan. “Kami mendengar, dan Kami patuh”. dan mereka Itulah orang-orang
yang beruntung.” (Qs. An Nuur [24]:51)

“dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan
yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan
Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat,
sesat yang nyata”. (QS. 33:36)

2 Tanggapan to ““Poin ke 7″ dalam Bai’at NII”


aabied Says:

Desember 4, 2009 at 3:34 am

Aww..pk Ust pertYaan ana kmren lom d jwb, mengenai MYT mngeluarkan MKT
sudah berapa kali terbit sampai saat ini?..ni bwt memastikan keadaan ana da d
pihak mana melihat bYknya yang mengaku2 puYa legalitas yg sah…jwbnnya d
tunggu..lewat email monggo…sekalian jika ada yg mesti d sampaikan…

Abuqital1:
mohon maaf baru dibalas sekarang. silakan baca diemail akhi saja. Kapan siap
bergabung?
Balas
c marx Says:

Desember 5, 2009 at 2:03 am

lho kuq gt. ..


memangnya Amri NII sbnding dgn Rosullullah dlm hal ini.?

“Poin ke 8 dan 9″ dalam Bai’at NII


Posted by abuqital1 under Bai'at NII
[9] Comments

Rate This

POIN KEDELAPAN

“Semoga Alloh berkenan membenarkan pernyataan bai’at saya ini, serta


berkenan pula kiranya ia melimpahkan tolong dan kurnianya atas saya sehingga
saya dipandaikannya melakukan tugas suci ialah hak dan kewajiban tiap-tiap
Mujahid, menggalang Negara Kurnia Alloh Negara Islam Indonesia”. Amin!

Do’a yang termaktub dalam poin kedelapan ini adalah satu sikap kepasrahan
dan ketundukan warga bai’at, bahkan diatas segala usaha/ perjuangan,
kesuksesan dan keberhasilannya bukan semata-mata karena kedigdayaan dan
kekuatan yang ada, tetapi semata-mata karena Alloh SWT.

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi
Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk
membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang
mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar
lagi Maha mengetahui.” (Qs. Al Anfal [8]:17)

Untuk itu setiap warga bai’at harus siap dengan pendidikan, dengan cara
mengikuti program-program yang diselenggarakan oleh Ulil Amri baik berupa
tazkiyah, tarqiyah atau ta’lim yang sudah diprogram oleh Pemerintah NII dalam
masa perang.

“Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu
tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya
kepadamu, dan Katakanlah: “Ya Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan.” (Qs. Thaahaa [20]:114)

POINT KESEMBILAN

“Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar!”

Maksud takbir disini adalah realisasi semuanya.

“dan Robbmu agungkanlah!”. (Qs. Al Mudatstsir [74]:3)

“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak
mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang
memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-
besarnya.” (Qs. Al Israa [17]:111)

Maksud takbir 3x disini adalah:

1) Besar rububiyyah Alloh atau besar hukum Alloh/ hukum Islam. Maka setiap
warga bai’at harus dapat membesarkan rububiyyah Alloh atau hukum Alloh
dengan cara tabligh yaitu usaha menunjukkan jalan atau usaha menunjukkan
melalui cara tabsyir (penjelasan hukum) dan indzar (peringatan).

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira


dan pemberi peringatan.” (Qs. Al Fath [48]:8),

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika
tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak
menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(Qs. Al Maidah [5]:67)

Sabda Rosulullah SAW.

“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

“Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat.”

2) Besar Mulkiyyah Alloh atau besar kerajaan Alloh/ Negara Alloh. Maka setiap
warga bai’at harus dapat membesarkan kerajaan Alloh dengan cara melakukan
jihad yakni dakwah dan Qital.
“dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu
semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka
Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al Anfal [8]:
39).

3) Besar Uluhiyyah Alloh atau besar Ummat Alloh/ Ummat Islam, maka setiap
warga bai’at harus dapat melakukan gerakan-gerakan muwahhid sampai
tercapainya ummatan wahdah – ilaahun wahid hingga besar ummat Alloh.

Materi ini diharapkan akan membuka wacana ilmu, terutama bagi bagi warga
bai’at, agar mereka memperjuangkan Islam bukan atas dasar kejahilan, supaya
mereka bergerak didasari ilmu yang benar, sehingga kemenangan yang
diharapkan pun bisa diraih.

Akhirnya, hasbunalloohu wa ni’mal-Wakiil, semoga materi bai’at NII ini turut


memberikan andil dalam perjuangan umat dalam rangka menyongsong
kemenangan Islam yang pasti akan tiba, sesungguhnya Alloh tidak pernah
menyalahi janji-Nya.

9 Tanggapan to ““Poin ke 8 dan 9″ dalam Bai’at NII”


jhn gtnberg Says:

Desember 8, 2009 at 12:15 pm

sy ke Bali karna bkerja,terasa sendirian, makasih ada akhi qital,bisa ingat


materi2 dulu. “sesungguhnya Alloh tidak pernah menyalahi janji-Nya”

Abuqital1:
Ahlan wa sahlan akhi. Jazaakalloh atas partisipasinya. Sebagai awal “shilah” kita
berdua, sudilah kiranya akhi mempelajari link dibawah ini:
1. http://abuqital1.wordpress.com/program-perjuangan/
2. http://abuqital1.wordpress.com/estapeta-kepemimpinan-nii/
3. http://abuqital1.wordpress.com/marhalah-jihad-nii/
Jika sudah memahami materi tersebut tentunya ana mengharap SIKAP AKHI,
apakah masih “komitmen” dengan perjuangan NII?

“dan Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas;


dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik”. (QS.
2:99)

“dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (Dien) Allah, dan janganlah
kamu bercerai berai, dan INGATLAH AKAN NIKMAT ALLOH KEPADAMU ketika
kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan
hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang
bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-
Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. 3:103)

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia
bersemayam di atas ´arsy[1453] Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam
bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa
yang naik kepada-Nya [1454]. dan DIA BERSAMA KAMU DIMANA SAJA KAMU
BERADA. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. 57:4)
Balas
Muhammad Qusyairi Says:

Desember 9, 2009 at 10:11 pm

Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
Saya sangat bersyukur pada Allah banyak memdapat informasi dari situs
abuqital1.wordpress.com ini, namun saya ingin penjelasan ;

1. saya tertarik dan ingin bergabung, bagaimana caranya? Kalau boleh tahu
sekarang banyak yang mengklaim pelanjut NII, siapa imam yang sah saat ini
sebagai pelanjut NII ? Saya bingung, ada yang bilang MYT atau Ali Mahfud ?
Soalnya saya 2 tokoh ini ana pernah ketemu dan berdialog.

2. Saya baca buku NII dalam timbangan Aqidah yang ditulis oleh Suroso, tolong
buku tersebut dibantah dengan hujjah yang jelas agar umat Islam tidak salah
dalam menilai NII, sebab saat ini kelompok yang mengaku salafy sedang gencar-
gencarnya membuka aib dan kesesatan NII itu.

Mudah-mudahan permasalahan ini bisa di jawab, dan saya tunggu jawabannya.

Wassalam,
Muhammad Qusyairi – Banjarmasin

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
Jazaakalloh atas partisipasinya. Alhamdulillah Alloh SWT mempertemukan
kembali dengan orang-orang yang mencari kejelasan dan kebenaran tentang
perjuangan NII yang sesuai konstitusi NII.

Ana sudah menjawabnya via email akhi. Silakan baca dan pahami dengan
seksama, setelah itu ambil SIKAP YANG JELAS dan TEGAS, siapkah
bergabung…???
Balas
abdullah Says:

Desember 10, 2009 at 11:06 am


Assalamualaikum akhi… ane juga bingung akhi.. kirim jga donk jawabnya
tentang imam.. MYT or Ali Mahfud dan jka jika MYT yang imam apakah Ali
Mahfud berbai’at kepada MYT??

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.

Jawaban sudah dikirim. Setelah membaca dan memahaminya maka dari


sekarang TENTUKAN PILIHAN SIKAP AKHI dan HADAPI PULA KONSEKWENSI
PILIHAN AKHI TERSEBUT.
Balas
alianoor Says:

Desember 13, 2009 at 1:34 am

Alhamdulillah…atas masukannya, oya ana ingin tau ada brapa wilayah yang
sudah dibawah MYT ? Apakah di kalsel udah ada?

Abuqital1:
Maaf akhi, komunikasinya via email saja, silakan kirim ke abuqital1@gmail.com
Balas
darul55 Says:

Desember 12, 2009 at 12:24 pm

assalamulaikum…afwan akhi, ana jg minta penjelasannya, tolong kirim via email,


agar ana tidak bingung…jazakumullah khair…

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam Wr. Wb.
Maaf akhi, penjelasan yg mana…? silakan kirim saja ke abuqital1@gmail.com
Balas
Luizascary Says:

Januari 13, 2010 at 2:01 am

assalamulaikum

Abuqital1:
Wa ‘alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh
Balas
Luizascary Says:

Januari 13, 2010 at 4:18 am

apa ene harus berhijrah nih..?


Abuqital1:
silakan dibaca di email akhi.
Balas
Luizascary Says:

Januari 13, 2010 at 5:01 am

kaga ada imel masuuuk


aljauzy Says:

Februari 7, 2010 at 7:06 am

ane juga minta penjelasan tentang myt n ali mahfud.lwt email

Abuqital1:
sudah dikirim via emal akhi, silakan dibuka, download filenya dan baca dengan
teliti dan seksama lalu pahami maksudnya dan kemudian AMBIL SIKAP.
Memang tidak mudah dalam menggapai mimpi dan harapan. Semua perlu
perjuangan dan pengorbanan. Sebelum mimpi dan harapan itu tiba kita semua
harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.Jangan sampai kereta jadi tapi
rodanya masih belum sempurna, sembari kita introspeksi dan bermunajad
kepada Allah SWT. Salam
Balas
ajmal Says:

November 14, 2009 at 11:54 am

Syukron atas pencerahannya.Bagi yg sedang berjuang semoga makin istiqomah


dan sabar serta dipandaikan-Nya untuk melaksanakan tugas sicinya.Dan bagi yg
belum bergabung mendukung perjuangan ini,semoga Allah memberikan hidayah
taufiq-NYa kpd anda semua dan segera bergabung,Amiiiiiin.
Balas
abiE Says:

November 19, 2009 at 2:55 pm

Yakinlah saudara-saudara q se-iman dan sekeyakinan. Bahwasanya 4WI bersama


kita semua. Rahmat-Nya meliputi semesta alam dan isinya…4WI akbar..

Abuqital1:
Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin jika Islam telah berkusa penuh dan telah
melaksanakan hukum Islam 100% tanpa campur aduk dengan yang bathil.
Sudahkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alami saat ini? Yang terjadi hari ini Islam
sedang di “injak-injak” oleh kaum kuffar.