Anda di halaman 1dari 3

Cara Ibu Memperkenalkan Ilmu

Guru adalah orang tua kedua, demikian pesan yang sering dialamatkan
kepada para pengampu pendidikan. Maka, salah satu cara agar berhasil
mengajar, seorang guru hendaknya dapat berperan layaknya orang tua
sang siswa.
Sebab, mentransfer sejumlah ilmu dan pola sikap kepada para siswa
bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan keterampilan tingkat tinggi untuk
membuat
semua siswa merasa percaya diri saat menerima sebuah
materi.
Syaiful
Bahri
dan
Aswan
Zain
(1997:194) menyatakan bahwa masalah
pokok yang dihadapi guru, baik pemula
maupun yang sudah berpengalaman adalah
pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas merupakan
masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru
menggunakannya
untuk
menciptakan
dan
mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat
mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan mereka
dapat belajar.
Bak seorang ibu yang akan menyuapi sang buah hati. Saat pertama
kali menyuapi dengan lauk tempe goreng, kemudian sang anak mengatakan,
:Gak mau. Dalam kondisi seperti ini, seorang ibu yang baik tidak lantas
meyimpulkan bahwa anaknya tidak mau makan Tempe, tapi ia akan
beranggapan bahwa sang anak tidak suka makan Tempe goreng saja.
Berbagai umpatan dan kemarahan pun akan dia simpan, sebab bukan
si anak yang menjadi letak kesalahan. Disisi yang lain, kemarahan yang
salah sasaran justru akan melemahkan potensi dan kemandirian, karena
anak merasa selalu dikendalikan.
Adalah wajar apabila makanan yang masih awal dikenal, adakalanya
tubuh memberi respon kurang nyaman, sehingga diperlukan sesuatu yang
dapat menjembatani, selain penjelasan penghubung yang dikenal dengan
apersepsi.
Maka, seorang ibu yang bijak segera mengolah tempe goreng tersebut
menjadi pecek tempe. Jika sang anak masih belum mau, ia akan
memodifikasinya kembali menjadi tempe bacem. Bila tempe bacem masih
belum mengena, ia akan membuatnya jadi tempe bumbu bali. Saat tempe
bumbu bali pun belum bisa diterima dengan lidah sang anak, ia akan
meramunya kembali menjadi tempe bumbu kare.

Ternyata, begitu lidahnya mengecap rasa tempe bumbu kare, sang


anak langsung berujar, Bu besok masak ini lagi ya. Nah, ibu tersebut baru
menyimpulkan, Ternyata anakku mau makan tempe dengan bumbu kare.
Demikianlah, salah satu kesulitan yang dialami seorang ibu adalah
menentukan menu yang pas untuk anggota keluarga. Adakalanya anggota
keluarga enggan untuk makan makanan yang ada, di saat yang lain mereka
begitu antusias melahapnya, hingga masakan yang dirasa sudah banyak
ternyata masih kurang. Padahal bahan yang digunakan tidak beda dengan
sebelumnya.
Hal yang sama juga dialami seorang guru, upaya memampukan siswa
dengan sejumlah ilmu bukan pekerjaan instan yang bisa langsung dirasakan.
Lebih-lebih jika tipikal anak yang dihadapi lebih bervariasi, dengan berbagai
latar psikologi dan ekonomi. Akhirnya, muncul ungkapan, Anak itu lho, koq
ga suka pelajaran saya ya.
Lantas, apa saja yang bisa menjadi bekal guru dalam mempersiapkan
diri, agar proses pembelajaran terasa nyaman dan tidak menjadi beban,
sehingga siswa mendapat kesenangan dan bisa melahap pelajaran ?
Bercermin dari usaha ibu menyuapi sang buah hati, kemampuan
memvariasi masakan tempe ibarat metode dan media pembelajaran. Dalam
hal ini penggunaan berbagai metode dan media pembelajaran akan
memudahkan guru mengklasifikasikan tipe-tipe siswa, pada akhirnya kita
dapat menentukan bentuk metode dan media pembelajaran yang tepat.
Sementara kemampuan ibu melakukan improvisasi masakan, bukan
sesuatu yang didapat secara kebetulan, melainkan kemampuan yang diasah
dari berbagai pengalaman atau belajar dari lingkungan.
Maka, selayaknya seorang guru selalu belajar berbagai metode dan
media pembelajaran, seperti seorang ibu yang selalu mencari dan membaca
buku aneka menu, demi mendapatkan inspirasi masakan.
Selanjutnya, lebih mengedepankan hati daripada emosi, melihat esensi
daripada sekedar mengikuti instruksi. Jika anak sangat lahap makan buah
dan sayuran, suka daging dan kacang-kacangan, tapi menolak minum susu
kemasan, tak perlu risau dengan berat badan, sehingga cenderung
memaksakan, toh semua kebutuhan gizi sudah berkecukupan.
Sehingga, komitmen menjadi guru adalah tekad untuk senantiasa hadir
dan memberi dukungan saat diperlukan. Percayalah, para siswa akan merasa
aman dan nyaman, modal penting bagi tumbuh kembang mereka, jika gurugurunya saling memberi dukungan dan pertolongan.
Demikianlah, sebagaimana Sang Pencipta memperkenalkan Diri
dengan berbagai pelajaran dan pendekatan, agar manusia memahami
kebenaran-Nya. Apakah lewat kisah, silih bergantinya malam dan siang,

pada penciptaan manusia dan binatang, fenomena pada langit dan lautan,
bahkan pada peristiwa yang sepertinya remeh seperti daun yang
berguguran.
Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran
Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)" (QS. Al Anam : 65)