Anda di halaman 1dari 3

Mengenal Sistem Kelistrikan

Darimana Datangnya Listrik ?


Secara sederhana listrik yang ada dan disalurkan kerumah pelanggan di Indonesia harus melalui
tiga tahap yakni listrik diproduksi di pembangkitan yang terdiri dari PLTU (Uap), PLTA (Air), PLTD
(Diesel),PLTGU (Gas, Uap) dan PLTP (Panas Bumi) disalurkan melalui Jaringan Transmisi melalui
SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) maupun SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi)
ditambah dengan gardu induk, tower dan transformator dan di distribusikan ke pelanggan baik
pelanggan Bisnis, Rumah Tangga, Sosial dan Publik. melalui Kabel TM 20 KV (Tegangan Menengah),
Gardu Distribusi dan Kabel TR (Tegangan Rendah) 220/380 Volt.

Pembangkitan dibangun oleh PLN Unit Induk proyek (PLN UIP) dan setelah dibangkitkan listrik
kemudian disalurkan. Peran penyaluran di Sumatera dilakukan oleh PLN Penyaluran dan Pusat
Pengatur Beban Sumatera (PLN P3B Sumatera). Oleh PLN P3B listrik dari pembangkitpembangkit disalurkan ke sistem transmisi dan PLN Distribusi akan mengelola Jaringan Distribusi
dan mengelola pelayanan pelanggan.
Rumitnya sistem ini adalah bagaimana PLN P3B Sumatera harus mengoordinir seluruh pembangkit
agar dapat mengantisipasi beban listrik di Sumatera. Apalagi jika ada pembangkit yang tidak bisa
beroperasi secara optimal karena ada gangguan, PLN P3B harus mengurangi beban pembangkit itu
untuk dipindahkan ke pembangkit lain. Pembangkit listrik dan PLN P3B bekerja 24 jam. Selain
karena harus terus berkoordinasi, energi listrik juga tidak dapat disimpan dan harus bereaksi
seketika. Tenaga listrik yang diproduksi pun harus selalu sama dengan tenaga listrik yang dipakai
konsumen.
Faktor kerumitan lain yang harus diperhatikan adalah efisiensi. Salah satu sumber inefisiensi
adalah energi primer yang dipakai pembangkit adalah minyak (solar). Padahal minyak berharga
paling mahal dibandingkan energi primer lain. Untuk saat ini investasi dalam pembangunan
pembangkit dengan energi terbarukan juga membutuhkan biaya yang amat mahal. Maka dari itu
PLN P3B harus mengatur pembangkit yang berenergi primer bekerja secara penuh saat beban
puncak saja.

Faktor perawatan juga harus menjadi perhatian. PLN harus memastikan jaringan dan peralatan
pendukungnya selalu berfungsi dengan baik untuk menjaga keandalan pasokan listrik ke
pelanggan.
Sistem Interkoneksi Sumatera (SIS)
Di Sumatera, Sistem kelistrikan dibagi menjadi 3 bagian yakni :
1.
Sistem Sumatera Bagian Utara (Sumut-Aceh)
2.
Sistem Sumatera Bagian tengah (Padang Riau) dan
3.
Sistem Sumatera Bagian Selatan (Sumsel Jambi Bengkulu Lampung)

Lampung merupakan bagian dari Sistem Kelistrikan Sumatera Bagian Selatan dimana Sistem
pembangkitan berskala besar yang berada di Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu dan Lampung
telah terhubung oleh suatu jaringan transmisi 150 KV jalur barat, sementara untuk jalur timur
masih terkendala pembebasan lahan. Fungsi transmisi adalah untuk menyalurkan daya yang
dibangkitkan dari suatu lokasi ke lokasi lain sesuai kebutuhannya. Karena sistem ini direncanakan
akan dikembangkan sampai ujung utara, ujung barat dan ujung selatan pulau Sumatra, maka
sistem ini disebut Sistem Interkoneksi Sumatera (SIS).
Sistem ini saling terkait atau terinterkoneksi dalam proses penyediaan listrik. Interkoneksi adalah
sebuah jaringan penghubung antar beberapa pembangkit yang mensuplai pelanggan yang ada
dalam sistem. Jadi Listrik yang dihasilkan oleh semua Pembangkit dikumpulkan menjadi satu dan
disalurkan ke seluruh Sistem Interkoneksinya.
Manfaat sistem interkoneksi ini adalah sebagai berikut :

Meningkatkan mutu dan keandalan pasokan tenaga listrik,

Daerah yang surplus energi dapat membantu daerah yang defisit energi listrik,

Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan,

Meningkatkan efisiensi biaya dalam pengelolaan penyediaan tenaga listrik.


Perlu diketahui Beban puncak listrik di Propinsi Lampung mencapai 769 MW (Mei 2014). Beban
sebesar itu disuplai dari pembangkit lokal Lampung sebesar 547 MW. Sementara 240 MW disuplai
dari Sumatra Selatan melalui sistem interkoneksi. Dengan demikian jelas bahwa sistem
interkoneksi sangat menguntungkan bagi pelanggan maupun PLN.

30 % Cadangan Daya Ideal Dalam Siistem Kelistrikan


Idealnya Daya listrik yang dihasilkan dari gabungan pembangkit dalam sistem interkoneksi
Sumbagsel ini harus mampu memenuhi beban listrik di wilayah Sumatera dan bahkan harus
menyimpan cadangan daya yang memadai sehingga memungkinkan pembangkit dapat
melaksanakan pemeliharaan atau menjadi back up apabila suatu pembangkit/transmisi mengalami
gangguan tak terencana.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas Beban puncak listrik di Propinsi Lampung mencapai 769 MW
(Mei 2014). Beban sebesar itu disuplai dari pembangkit lokal Lampung, PLTD Sewa & pembelian
daya dari listrik Swasta sebesar 547 MW. Sementara 240 MW disuplai dari Sumatra Selatan
melalui transmisi jalur barat (sistem interkoneksi). Dengan cadangan daya 18 MW. Kondisi ini
tentutidak ideal cadangan daya 18 MW ini tidak mampu mengcover apabila salah satu unit
pembangkit di PLTU Tarahan berkapasitas 100 MW mengalami gangguan, tentu saja akibatnya
pasti akan terjadi pemadaman bergilir.
Kondisi Cadangan daya yang ideal adalah 30% dari beban puncak . Jadi apabila beban puncak
Lampung adalah 769 MW, maka cadangan dayanya harus 231 MW. Jika Cadangan daya ini
terpenuhi maka apabila pembangkit terbesar di Lampung (mis. PLTU Tarahan berkapasitas 200
MW) mengalami masa pemeliharaan, maka pemadaman bergilir dapat dihindarkan.
Mengendalikan Beban Puncak
Faktor lainnya agar tidak terjadi pemadaman adalah PLN harus mampu mengendalikan
pertumbuhan (Beban Puncak). Pada dasarnya pembangunan pembangkit harus disesuaikan
dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan pertumbuhan natural 6 %/tahun maka sistem
Sumbagselteng yang menompang Lampung membutuhkan tambahan pembangkit sebesar 9 % /
Tahun dengan 3% sebagai cadangan mengingat setiap pembangkit pasti akan memasuki masa
perawatan/perbaikan dalam setahun.
Namun untuk membangun pembangkit dan infrastruktur kelistrikan lainnya (Transmisi, Gardu Induk
dll) bukanlah hal yang mudah. PLN seringkali terhambat dalam masalah pembebasan lahan,
perijinan dan dana investasi yang minim.
Setidaknya diperlukan waktu 3 tahun untuk pembangunannya saja (tidak termasuk waktu untuk
pembebasan lahan dll) untuk itu diperlukan investasi pembangunan pembangkit secara terus
menerus selama setahun dan dengan UU 30 Tahun 2009 yang baru membuka kesempatan bagi
PEMDA dan IPP (Listrik Swasta) untuk membangun pembangkit sendiri di Lampung dan PLN akan
membeli daya yang dihasilkannya.
Untuk itu membangun pembangkit merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang karena
waktu pembangunan yang relatif tidak sebentar dengan prediksi beban puncak yang harus terukur
karena terlambatnya pembangunan infrastruktur kelistrikan berarti akan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi suatu daerah.
Jangan Sampai PLN hanya menjadi Ban Belakang yang tidak mampu mengejar pertumbuhan beban
sehingga menyebabkan terjadinya pemadaman disuatu daerah. Untuk itu diperlukan peran besar
pemerintah daerah dan masyarakat dalam pembebasan lahan dan ijin untuk pembangunan
Infrastruktur Kelistrikan, Pemerintah Pusat & DPR dalam memberikan Margin yang memungkinkan
PLN untuk melakukan investasi serta IPP (Listrik Swasta) untuk sama-sama membangun
pembangkit untuk mewujudkan perekonomian Indonesia. (@rt)