Anda di halaman 1dari 12

1.2.

Tujuan Drainase
Secara umum system pembuangan air hujan
mempunyai tujuan :

Selanjutnya filosofi drainase dalam


daerah perencanaan aliran sungai
(DAS) adalah :
Menghambat aliran hulu

Mengendalikan air limpasan tanpa


mengakibatkan erosi, endapan atau
penyebaran polusi.

Memperbesar infiltrasi dan perkolasi pada


hulu aliran untuk kehidupan ( keseimbangan
hidro-ekologis )

Tidak terjadi genangan, banjir dan becek becek terutama bagi daerah yang selalu
mengalami banjir setiap musim hujan.

mereduksi aliran hilir, untuk mengurangi


malapetaka yang mungkin ditimbulkan
( keseimbagan ekologi DAS )

Sebagai konservasi sumber daya air


permukaan / tanah.

Infiltrasi & perkolasi


diperbesar

perkotaan

Debit yang berlebihan di bagian hulu DAS

Penanganan Daerah Hulu

1.3. Pentingnya Sistem Drainase

2.

1. Kelebihan air hujan, agar air hujan dapat


disalurkan menuju badan penerima dengan aman
sehingga dapat mengendalikan kemungkinan
terjadinya :

Banjir
Genangan air pada lahan produktif
Erosi lapisan tanah dan endapan - endapan
Kerusakan dan gangguan fisik, kimiwi dan
biologi terhadap lahan/lingkungan hidup
aktif-produktif dapat dikendalikan

Elevasi badan air permukaan agar air


permukaan tidak melimpah, sehingga dapat
mengendalikan kemungkinan terjadinya :

Air balik ( back water )


Kerusakan dan gangguan terhadap
badan air permukaan
3.

Elevasi permukaan air tanah pada lahan


produktif/terbangun agar :

Kelembaban permukaan tanah tidak


mengakibatkan gangguan fisik,
kimiawi dan biologi terhadap sarana
dan prasarana lingkungan
kota/pemukiman, terutama terhadap
kesehatan masyarakat.

1.4. Kegunaan Drainase

1.5. Dampak Drainase


Drainase mempunyai dua dampak, yaitu :

Drainase mempunyai kegunaan pokok antara lain :


Pemutus daerah dan lahan terhadap kelebihan
air permukaan dan air tanah
Pemelihara dan pengendali sumber daya air.
Proses pemutusan dapat berlangsung dengan baik jika
air dari tempat yang diputuskan pada bagian hulu aliran
dengan elevasi lebih tinggi ke tempat pemutusannya
( bagian hilir aliran dengan elevasi yang lebih rendah ),
tidak mengalami hambatan, baik secara alamiah maupun
buatan manusia ( artificial ). Untuk keperluan ini perlu
adanya alat pengatur dan tindakan pengaturannya

2. Yang merugikan ( negatif )

Primer, Perlu ruiang tanah untuk saluran dan


banguna pelengkapnya
Sekunder, Perlu jembatan - jambatan untuk
melintasi saluran

1.6. Lingkup Kawasan

1.

Yang menguntungkan ( positif )

Primer, Bebas becek, genangan air, erosi, banjir


Sekunder

Kegunaan tanah lebih baik, dan jika untuk


daerah pemukiman, terhindar dari
kelembaban serius
Daerah tersebut bebas dari nyamuk
Konsumsi oksigen dalam tanah lapisan atas
lebih baik, sehingga tanaman - tanaman
dapat tumbuh lebih baik
Akar - akar tanaman masuk kedala tanah
dalam
Mengurangi kerusakan -kerusaka lahan, jalan,
bangunan - bangunan.

rumah sakit dan fasilitas umum lainnya


lapangan olah raga
lapangan parkir
instalasi listrik dan telekomunikasi
pelabuhan udara
laut atau sungai serta
tempat lainnya yang merupakan bagian dari
sarana kota.

Drainase perkotaan meliputi :


pemukiman
kawasan industri dan
perdagangan
sekolah

2. JENIS DRAINASE
2.1 Menurut Sejarah
Terbentuknya
2.1.1. Drainase alamiah ( Natural
Drainage )
Drainase yang terbentuk secara alami dan
tidak terdapat bangunan-bangunan
penunjang seperti bangunan pelimpah,
pasangan batu/beton, gorong-gorong dan
lain-lain. Saluran ini terbentuk oleh gerusan
air yang bergerak karena gravitasi yang
lambat laun membentuk jalan air yang
permanen seperti sungai

2.1.2. Drainase buatan (Artificial Drainage)


Drainase yang dibuat dengan maksud dan
tujuan tertentu sehingga memerlukan
bangunan-bangunan khusus seperti selokan
pasangan batu/beton, gorong-gorong, pipapipa dan sebagainya

2.2 Menurut Letak Bangunan


2.2.1. Drainase permukaan tanah
(Surface Drainage )
Saluran drainase yang berada diatas
permukaan tanah yang berfungsi
mengalirkan air limpasan permukaan.
Analisa aliran merupakan open chanel flow
(aliran saluran terbuka).

2.2.2. Drainase bawah permukaan tanah


(Subsurface Drainage )
Saluran drainase yang bertujuan mengalirkan
air limpasan permukaan melalui media
dibawah permukaan tanah (pipa-pipa),
dikarenakan alasan tertentu yaitu tuntutan
artistik, tuntutan fungsi permukaan tanah
yang tidak membolehkan adanya saluran
dipermukaan tanah seperti lapangan sepak
bola, lapangan terbang, taman dan lain-lain.

2.3 Menurut Fungsi

2.4 Menurut Konstruksi

Saluran yang berfungsi mengalirkan satu


jenis air buangan, misalnya air hujan saja
atau jenis air buangan yang lain seperti air
limbah industri.

2.3.2. Multi fungsi ( Multi Purpose )


Saluran yang berfungsi mengalirkan beberapa
jenis air buangan, baik secara bercampur
maupun bergantian.

2.5. Menurut Pola Jaringannya


2.5.1 Siku

2.5.2 Paralel

Saluran sekunder
Saluran sekunder

Saluran sekunder

Saluran sekunder Saluran sekunder

Saluran sekunder

Saluran sekunder

Saluran Utama

Saluran sekunder

Saluran yang pada umumnya sering dipakai


untuk aliran air kotor (air yang mengganggu
kesehatan/lingkungan) atau untuk saluran
yang berada ditengah kota

Saluran sekunder

2.4.2. Saluran Tertutup

Dibuat pada daerah yang mempunyai


topografi sedikit lebih tinggi dari pada sungai,
tetapi kawasan berada pada topografi yang
relatif landai. Sungai sebagai saluran
pembuang akhir berada ditengah kota
Saluran sekunder

Saluran yang lebih cocok untuk drainase air


hujan yang terletak didaerah yang mempunyai
luasan yang cukup, ataupun untuk drainase
non hujan yang tidak membahayakan
kesehatan/mengganggu lingkungan..

Saluran sekunder

2.4.1. Saluran Terbuka

2.5.3. Grid Iron

Saluran utama terletak sejajar dengan


saluran cabang (skunder) yang cukup
banyak dan pendek

ran

Pe n

gum
pul

Saluran Uatama

Salu

Saluran sekunderr

Saluran sekunder

Saluran utama

Saluran sekunder

Saluran sekunderr

Saluran sekunder
Saluran sekunder

Saluran Utama

Saluran sekunderr

Untuk daerah dimana sungai terletak dipinggir


kota,sehingga saluran skunder dikumpulkan
dulu pada saluran pengumpul

Saluran sekunder

Saluran sekunder

2.3.1. Fungsi tunggal (Single Purpose)

2.5.5. Radial

2.5.4. Alamiah

Sama seperti pola siku, biasanya digunakan


pada daerah yang miring, sehingga saluran
drainase dibuat berdasarkan kondisi topografi,
sedemikian aliran akan mengikuti pola alamiah
kawasan

er
nd

Sa
lur
an

Sa
lur
an

Se
ku
nd
er

Se
Sa ku nd
lur
an er
Se
ku

Saluran Utama

Se
ku
nd
er

r
de

er
nd
ku
se

n
ku
se

er
nd
ku
se
er
nd
ku
se

n
ra

an

n
ra

lu
Sa

lu
Sa

n
ra
lu
Sa

lur
Sa

Sa
lur
an

Dibuat pada daerah bukit, sehingga pola


saluran memencar ke segala arah yang
cenderung tegak lurs garis kontur (saluran
garis punggunga)

2.6. Drainase Polder

2.5.6 Jaring jaring

Pola ini digunakan pada daerah yang relatif datar,


sehingga ada kekeluasaan dalam menentukan
trase saluran.
a
a
a = Saluran cabang
b = Saluran pengumpul
c = Saluran utama

a
b
b

Permasalahan yang sering dijumpai pada


daerah muara sungai atau pinggir pantai
adalah sangat sulitnya untuk mengalirkan air
limpasan permukaan ke sungai atau laut
secara gravitasi, karena rata-rata tinggi
permukaan tanahnya sama dengan tinggi
permukaan air bahkan ada yang lebih rendah.
Sehingga pada musim hujan yang besar dan
air pasang selalu tergenang, oleh karena itu
sistem drainase yang cocok untuk mengatasi
kasus ini adalah sistem polder

2.6.1 Defenisi Drainase Polder


Menurut Dr. Ir. Suripin, M.Eng, polder didefenisikan sebagai suatu kawasan atau lahan
reklamasi, dengan kondisi awal mempunyai muka air tanah tinggi, yang diisolasi secara
hidrologis dari daerah sekitarnya dan kondisi muka air (permukaan air dan air tanah)
dapat dikendalikan.

2.6.2 Sifat-Sifat Polder

2.6.3 Komponen- Komponen pada


Sistem Polder

1. Polder merupakan daerah yang diisolasi


terhadap air yang masuk dari luar
kawasan, kecuali air hujan, yang
kemudiandikumpulkan pada suatu kolam
penampungan.

1. Tanggul Keliling dan/atau pertahanan


laut (sea defense) atau konstruksi
isolasi lainnya.
2. Sistem drainase lapangan (field
drainage system).
3. Sistem pembawa (conveyance system).
4. Kolam penampung dan stasiun pompa.
5. Badan air penerima (recipient waters

2. Untuk mengeluarkan air dari polder


diperlukan penguras dan pompa, karena
pada polder tidak ada aliran permukaan
bebas.
3. Muka air di dalam polder hanya dinilai
berdasarkan elevasi lahan, sifat-sifat

3. KRITERIA HIDROLOGIS

3.1.1 Metode Aljabar Rata-rata


Metode ini merupakan perhitungan rata-rata curah
hujan di dalam dan di sekitar daerah yang
bersangkutan. Adapun persamaannya adalah
sebagai berikut:

3.1. Curah Hujan (Presipitasi)


Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan
suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan
pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata
di seluruh daerah yang bersangkutan.
Curah hujan daerah harus diperkirakan dari
beberapa titik pengamatan curah hujan. Adapun
metode perhitungan dari curah hujan daerah
tersebut adalah sebagai berikut:

Jika titik pengamatan banyak dan tersebar merata


diseluruh daerah tersebut, maka hasil yang diperoleh
dengan metode ini tidak jauh berbeda dari hasil yang
didapat dengan metode lain. Jika dibandingkan
dengan Metode Isohyet salah satu keuntungan
Metode Aljabar ini adalah bersifat objektif, dimana
faktor subjektif tidak turut menentukan

3.1.2 Metode Polygon Thiesen


Metode ini digunakan jika titik pengamatan di dalam
daerah itu tidak tersebar merata, sehingga
perhitungan curah hujan rata-rata dilakukan dengan
memperhitungkan pengaruh di tiap titik
pengamatan. Adapun persamaannya adalah
sebagai berikut:

1
R = . (R1 + R2 + .....+ Rn )
n
dimana:
R

Curah hujan daerah.


Curah hujan di tiap titik pengamatan.
Jumlah titik-titik pengamatan.

R1 , R2 ,...Rn=

R =

A1 R 1 + A 2 R 2 + A3 R 3 + ... + A n R n
A1 + A 2 + ... + A n
dimana:
R

= Curah hujan daerah.

R1 , R2 ,...R=n Curah hujan di tiap titik


pengamatan.

A1 , A2 ,...An= Luas daerah yang mewakili tiap


titik pengamatan.

Metode Polygon Thiesen ini memberikan hasil yang


lebih teliti dari pada Metode Aljabar Rata-rata. Akan
tetapi, penentuan titik pengamatan dan pemilihan
ketinggian akan mempengaruhi ketelitian hasil yang
didapat, selain itu jika terdapat kekurangan pada salah
satu titik pengamatan maka penentuan jaringan
segitiga akan sulit ditentukan

Gambar Pembagian Wilayah Hujan dengan Metode Thiessen

3.1.3 Metode Isohyet


Metode ini adalah metode yang terbaik jika
garis-garis Isohyet dapat digambar dengan
teliti. Akan tetapi jika titik-titik pengamatan itu
banyak dan variasi curah hujan di daerah
bersangkutan besar, maka pada pembuatan
peta Isohyet ini akan terdapat kesalahan
pribadi (individual error) si pembuat peta.
Adapun persamaannya adalah sebagai
berikut:

Gambar Pembagian Wilayah Hujan dengan Metode Isohiet

A R + A2 R2 + A3 R3 + ... + An Rn
R= 1 1
A1 + A2 + ... + An
dimana:
R

= Curah hujan daerah.

R1 , R2 ,...Rn = Curah hujan di tiap titik pengamatan.

A1 , A2 ,...An = Luas bagian-bagian antara garis-garis Isohyet .

tc = to + td

3.2. Waktu Konsentrasi


Waktu konsentrasi (tc) adalah waktu yang
diperlukan oleh air hujan untuk mengalir dari titik
terjauh menuju suatu titik tertentu yang ditinjau
dari daerah ( titik pengamatan ) dan atau
diperoleh dari debit maksimum. Waktu
konsentrasi terdiri dari waktu yang dibutuhkan air
hujan untuk mengalir diatas permukaan tanah
kesaluran yang terdekat (to) dan waktu yang
diperlukan air hujan untuk mengalir kedalam
saluran (td), jadi waktu konsentrasi dapat dihitung
dengan rumus :

Lamanya waktu melimpah dipermukaan tanah, to didekati


dengan persamaan :

t0 =

6 .33 ( nL ) 0.6
( C . I e ) 0 .4 S 0 .5

dimana
to = Waktu limpasan (menit)
C = koefisien pengaliran
L = Panjang limpasan (m)
S = kemiringan daerah limpasan (%)
n = harga kekasaran permukaan tanah
le = intensitas hujan rerata untuk durasi hujan kritis,
te dan PUH
( Masduki, 1997 )

Waktu konsentrasi dalam perhitungan dianggap sama dengan waktu


durasi hujan, te, yaitu tc = te . untuk hujan harian maksimum yang
dipakai sebagai dasar perhitungan durasi minimum reratanya perlu
diketahui dengan memakai pendekatan pada data table dibawah :

Harga kekasaran permukaan berdasarkan keadaan


permukaan tanah
No

Tinggi hujan harian


Maksimum R (mm/hari)

Durasi hujan minimum


Te minimum ( menit )

Intensitas maksimum
Ie maksimum ( mm/jam )

50
75
100
150
170
200
250
230
300
350
400
450
470

24
32
44
67
76
94
108
120
150
178
212
246
259

72.8
80.4
81.3
85.2
87.0
87.2
90.0
90.5
92.6
96.0
97.6
99.8
101.0

td =

Ld
60 Vd

td =

4.762 Ld
( RLd ) 0.5 ( AC ) 0.1 ( S ) 0.2

Keadaan permukaan tanah

Permukaan diperkeras

0.015

Permukaan tanah terbuka

0.0275

Permukaan berumput sedikit

0.035

Permukaan berumput tebak

0.045

Permukaan berumput tebal

0.066

Untuk besarnya time of flow ( td ) dihitung berdasarkan karakteristik hidrolis didalam saluran. Rumus
pendekatan untuk permukaan menghitung td adalah

Waktu kosentrasi besarnya sangat bervariasi dan


dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Luas daerah pengaliran
2. Panjang saluran drainase
3. Kemiringan dasar saluran
4. Debit dan kecepatan aliran

Ld = 88.3 ( A) 0.6
dimana
td = waktu yang diperlukan air hujan untuk mengalir
dalam saluran
60 = Angka konversi, 1 menit = 60 detik
Ld = panjang saluran aktual yang ditinjau (m)
Vd = kecepatan rata - rata dalam saluran (m/dt)
R = Tinggi hujan (mm/hari)
C = Koefisien limpasan rerata
A = Luas DPS (Ha)
S = Kemiringan dadar saluran (m/m)

Lama waktu mengalir didalam saluran ditentukan


dengan rumus sesuai dengan kondisi salurannya.
Untuk saluran alami, sifat hidroliknya sukar
ditentukan, maka lama waktu mengalir dapat
ditentukan dengan menggunakan perkiraan
kecepatan air seperti pada tabel
Kemiringan Saluran (%)

Kecepatan rata-rata (m/dt)

<1
1-<2
2-<4
4-<6
6 - < 10
10 - < 15

0,40
0,60
0,90
1,20
1,50
2,40

Salah satu cara menghitung waktu kosentrasi (Tc)


adalah dengan menggunakan metode Kirpich (1940)

Tc = 0,0195 L0,77 S 0,385


dimana :
Tc = Waktu kosentrasi (menit)
L = Panjang saluran (m)
S = Kemiringan saluran

3.3 Intensitas Hujan (l)


Intensitas curah hujan adalah ketinggian curah
hujan yang terjadi pada suatu kurun waku dimana
air tersebut berkonsentrasi. Analisis intensitas
curah hujan dapat diproses dari data curah hujan
yang terjadi.
Satuan untuk intensitas hujan adalah mm/jam,
yang artinya tinggi curah hujan yang terjadi sekian
mm dalam kurun waktu 1 jam. Intensitas hujan
umumnya dihubungkan dengan kejadian dan
lamanya (durasi) hujan turun, yang disebut
intensity Duration Frequency (IDF).

Sumber H.A Halim Hasmar Drainase Perkotaan 2002

Besarnya intensitas hujan berbeda-beda tergantung


dari lamanya curah hujan dan frekuensi kejadian .
Intensitas hujan yang diperoleh dengan cara
melakukan analisis data hujan.

Penentuan intensitas hujan untuk perencanaan


saluran termasuk dalam suatu pemikiran terhadap
faktor sbb :

1. Periode ulang hujan rata-rata yang


diperoleh

I=

2. Karakteristik intensitas durasi pada


frekwensi terpilih
3. Waktu konsentrasi

2/3

dimana :
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
R24 = Curah hujan harian maksimum dalam 24
jam (mm)
Tc = Waktu konsentrasi (jam)

Untuk keperluan perencanaan digunakan intensitas


hujan yang mempunyai durasi sama dengan waktu
konsentrasi, pada frekwensi terpilih

Saluran sekunder terdiri dari saluran dan parit yang


meneruskan aliran dari saluran, tersier. Saluran sekunder
dapat mempunyai PUH 5 atau 100 tahun. Aliran saluran
sekunder menuju ke saluran primer

3.4 Periode Ulang Hujan


Periode ulang hujan adalah waktu berulang
kembalinya suatu keadaan sifat- - sifat jatuhnya hujan.
Setiap periode ulang hujan yang berbeda, air yang
dicurahkan oleh hujannya akan berbeda pula. Makin
lama periode ulang hujannya, maka hujan yang
dicurahkan makin besar.

Saluran primer, ketentuannya akan dibuat untuk


meminimumkan kerusakan umum dan untuk mencegah
hilangnya kehidupan akibat limpasan dari banjir PUH 100
tahun. Pengamatan banjir untuk debit seperti ini akan
mengarah kepada dimensi sistem yang sangat besar dan
selanjutnya menyebabkan biaya tinggi. Umumnya saluran
primer didesain untuk mengamankan debit aliran untuk
PUH 10 - 20 tahun. Besarnya PUH untuk perencanaan
saluran drainase dan perlengkapannya dapat dilhat pada
tabel berkut :

Dilihat dari posisinya, dapat dianggap bahwa sistem


drainase dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
Sislem drainase tersier adalah bagian sistem yang
terdiri dari street gutter; saluran tepi jalan, parit, dan
lain-lain. Debit saluran ini mempunyai PUH 2 atau 5
tahun, tergantung pada tata guna lahannya,

Saluran sekunder
tanpa resiko
Resiko kecil
Resiko besar

2
5
10

Saluran primerinduk
Tanpa resiko
Resiko kecil
Resiko besat
Atau :
Luas DAS (25 - 50) ha
Luas DAS (50 - 100) ha
Luas DAS (100 - 1300) ha
Luas DAS (1300 - 6500)ha

2
5
10

Periode Ulang Hujan (PUH) Untuk Perencanaan Saluran


Drainase Kota dan Bangunan-bangunan yang dianjurkan
No

Distribusi

Saluran Mikro pada daerah


a) Lahan rumah, taman, kebun, kut:uan, lahan tak
terbangun
b) Kesibukan dan perkantoran
c) Perindustrian
Ringan
Menengah
Berat
super berat/proteksi negara

5
10
25
50

Saluran tersier
- Resiko kecil
- Resiko besar

2
5

R 24 24

24 Tc

Periode ulang
hujan (PUH)
(tahun)

2
5

5
(5-10)
(10-25)
(25-50)

Pengendalian banjir makro

100

Gorong-gorong
Jalan raya biasa
Jalan bypass
Freeways

10
25
50

Saluran Tepian
Jalan raya biasa
Jalan bypass

(5-10)
(10-25)

3.5 Koefisien Pengaliran


Koefisien pengaliran tergantung pada :

Tata guna tahan, yaitu semakin banyak bangunan diatas tanan asli
maka semakin besar air hujan yang melimpas karena semakin
sedikit yang berinfiltrasi sehingga koefisien pengaliran ( C )
semakin besar.

Kemiringan tanah, yaitu semakin besar kemiringan tanah, aliran


akan semakin cepat sehingga kesempatan berinfiltrasi lebih sedikit
dibanding limpasan dan koefisien aliran (C) semakin besar.

Struktur tanah, yaitu berhubungan dengan porositas tanah yang


dipengaruhi ukuran butirnya, dimana semakin besar porositas
tanahnya maka semakin banyak yang dapat berinfiltrasi sehingga
koefisien aliran semakin kecil.

Kelembaban tanah, yaitu jika kadar kelembaban lapisan teratas


tinggi maka kemampuan berinfitrasi kecil karena kejenuhan tanah
meningkat dan koefisien aliran semakin besar.

Koefisien Pengaliran berdasarkan Tata Guna Lahan


No.
1.

2.

Tata Guna Lahan

Koefisien Pengaliran

Urban
a) Pusat Perdagangan

0.90-0.95

b) Indushi

0.80-0.90

Permukiman
a) Kepadatan rendah (20 rumah/ha)

0.25-0.40

b) Kepadatan menengah (20-60 rumah/ha)

0.40-0.70

c) Kepadatan tinggi (60-160 rumah/ha)

0.70-0.80

3.

Taman dan daerah rekreasi

0.20-0.30

4.

Rural
a) Kemiringan curam (> 20 %)

0.50-0.60

b) Kemiringan bergelombang ( < 20%)

0.40-0.50

c) Kemiringan bertingkat

0.25-0.35

(Lleweiyn -Davies Kinhill,1978

d) Pertanian padi

0.45-0.55

Harga C berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan


perubahan faktor-faktor yang berhubungan dengan aliran
permukaan.
Pada suatu daerah dengan tata guna lahan yang berbedabeda, maka koefisien pengaliran ditetapkan dengan
mengambil rata-rata berdasarkan bobot luas :
Cr =

(Ci .A i )
Ai

dimana
Cr
= Harga rata - rata Koefisien pengaliran
Ci= Harga Koefisien pengaliran pada masing masing daerah
Ai= Luas masing - masing daerah ( Ha )

Pengaruh perubahan PUH pada harga


koefisien pengaliran adalah :

3.6 Koefisien Storasi Cs


Strorasi saluran ditandai dengan adanya kenaikan
kedalaman air dafam saluran. Debit aktual yang
akan ditumpahkan di akhir saluran adalah debit total
(Q = f C A I) dikurangi dengan masa air yang masih
berada dalam saluran.

I
Cr 2 = 1 (1 Cr1 ) T 1
IT 2

Harga Cs dapat dihitung dengan persamaan :

dimana;
Cr1
= Koefisien pengaliran pada PUH T1
Cr2
= Koefisien pengaliran pada PUH T2
IT1

= Intensitas hujan pada PUH T1

IT2

= Intensitas hujan pada PUH T2

3.7 Hidrograph Design


Dalam aplikasi modifikasi formula rasional, bila
diperlukan hidrograp design, yang dipakai adalah
bentuk hidrograph seperti pada gambar berikut

Cs =

2tc
2tc + td

tc > te

(Masduki, 1997)

Untuk kolam ditensi, dimana durasi hujan kritis, te > tc,


hidrograp yang digunakan adalah seperti pada gambar
berikut. Biasanya diambil debit keluaran kolam,
Qe < 1/2 Q p .

t
tc
tc+td

Puncak Qp dihitung dengan persamaan :


Qp
= (1/360) Cs CAI, yaitu I pada waktu tc,

tc+td

tc
te

1 1
Qp1 =
C s .C.A.I e yaitu pada waktu te
360
C 1s =

te
Ie ,

2te
2te + td

= durasi hujan kritis


= intensitas hujan rerata untuk durasi hujan kritis,
te dan PUH T Tahun (Masduki, 1997)

10

3.8 Luas Daerah Pengaliran


Luas daerah pengaliran (catchment area)
harus diperhitungkan secara teliti karena
merupakan salah satu elemen dalam
perhitungan besarnya limpasan.
Informasi luas daerah pengaliran meliputi :

1. Tata guna tanah pada masa kini, dan


pengembangan pada masa yang akan
datang
2. Karakteristik tanah dan bangunan
diatasnya
3. Kemiringan tanah dan bentuk daerah
pengaliran

3.9 Debit Banjir Rencana


Besarnya kapasitas pengaliran air hujan diatas
permukaan tanah ( limpasan hujan/surface run off )
kesaluran air hujan ditentukan oleh beberapa factor,
yaitu :
- Luas permukaan daerah aliran
- Jenis/karakteristik permukaan tanah
- Durasi/intensitas yang terjadi
- Nilai koefisien pengaliran, dan sebagainya
Untuk luas daerah pengaliran lebih kecil dari 13 km2
dapat digunakan metode rasional yang dimodifikasi
dengan perhitungan efek penampungan saluran
( storage coefficient ). Efek penampungan dinyatakan
dalam bentuk angka penampungan yang berfungsi
untuk memperkecil nilai estimasi suatu daerah
pengaliran yang relative besar

rainfall

Catchment area

infiltrasi

runoff

Q (m/dt)

Rumus metoda rasional yang digunakan untuk menghitung


debit, Q pada luas daerah pengaliran yang sempit atau
lebih kecil dari 13 km2 adalah sebagai berikut :

dimana

=f.C.I.A

Q
F
C
I
A

= Kapasitas pengaliran ( m3 / detik )


= 1/360
= Koefisien pengaliran
= Intensitas hujan ( mm/jam )
= Luas daerah pengaliran ( ha )

11

Untuk luas daerah pengaliran yang lebih besar dari 13 km2


digunakan metode rasional yang dimodifikasi sebagai berikut
:
Q

= f . Cs . C . I . A

= koefisien penampungan ( storage )

Cs

tc
td

= waktu konsentrasi ( menit )


= Lamanya pengaliran dalam saluran ( menit )

Contoh Soal :
Suatu perencanaan Dam Pada Lembah
Sungai Bayangan tertentu , memerlukan
data debit banjir untuk mengnalisis bentuk
bendung. Dam ini merupakan outlet dari
DAS Bayangan . Berdasarkan pengamatan
diperoleh data jenis lahan yang terdapat
dalam DAS Bayangan , seperti Tabel
berikut:

2tc
2 tc + 2 td

( Masduki, 1997 )

Jenis Lahan

Kemiringan
Rata-rata (%)
Lempung Berdebu
8 - 30
Tekstur Tanah

Hutan
Tanah Pertanian
- sawah
Lempung Berliat
- ladang
Lempung Berpasir
Pemukiman
Lempung Berliat

3- 5
3- 8
3 - 10
Total

Luas
(km2 )
22,981

2,125
5,740
0,208
= 31,054

Sistem drainase DAS Bayangan mempunyai satu sungai


utama, yaitu sungai Bayangan dengan panjang 13,4 km. Titik
terjauh dari outlet DAS berelevasi + 1.250 m dan outlet dam
nogosromo berelevasi + 110 m. dari hasil analisis frekuensi
sebaran normal diperoleh R24 maks = 198 mm untuk periode
ulang 50 tahun dan 210mm untuk periode ulang 100 tahun.
Tentukan debit banjir yang terjadi untuk periode ulang 50
tahun dan 100 tahun.

Penyelesaian ;
Berdasarkan Tabel Koefisien run off (C)
DAS Bayangan adalah
C=

(0,50 * 22,981+ 0,50 2,125 + 0,40 5,740 + 0,90 0,208) = 0,484


31,054

H = (1.250 - 110) m = 1.140 m & L = 13,4 km = 13400m


s = 1140/13400 = 0,085

k=

13400
0,085

= 45941 berarti

Tc = 0,0195 * 459410, 77 = 75,845..menit = 1,264..jam

Periode ulang 50 tahun diperoleh Intensitas curah hujan dan


debit:

198 24
I=

24 1,264

= 58,717 mm

jam

Q = 0,278 0,484 58,717 31,054 = 245,342 m

det
Periode ulang 100 tahun diperoleh Intensitas curah
hujan dan debit:
210 24
I=

24 1,264

= 62,276 mm

jam

Q = 0,278 0,484 62,276 31,054 = 260,213 m

det

12