Anda di halaman 1dari 9

TUGAS POLITIK DAN PEMERINTAHAN DESA

Desa Wisata Gita Gumilang Sebagai BUMDes Desa Ketenger Baturraden

Disusun Oleh :
Agam Imam Pratama (F1D010036)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JURUSAN ILMU POLITIK
PURWOKERTO
2012

BAB I
KELEMBAGAAN
A. Struktur
Desa Wisata Gita Gumilang (Dewi Gilang) adalah suatu objek wisata desa yang
terletak di daerah desa Ketenger. Desa wisata Gita Gumilang sejarahnya terbentuk dari
Dinas Pariwisata yang melihat suatu potensi wisata di desa Ketenger tersebut seperti
Curug Gede pada tahun 1990an. Dahulu desa wisata Ketenger hanyalah terbatas pada
wisata alam Curug Gede tersebut sampai tahun 2008, namun seiring dengan adanya
inovasi dan lembaga yang terlegitimasi secara SK Bupati, maka terbentuklah Lembaga
Desa Wisata Gita Gumilang. Desa Wisata Gita Gumilang juga merupakan suatu bentuk
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang terdapat di desa Ketenger ini, yang dimana
dapat memberikan kontribusi aktif terhadap desa pada umumnya dan pada masyarakat
sekitar pada khususnya.
Sejak tahun 2010, Desa Wisata Gita Gumilang telah menjadi organisasi yang telah
terlegitimasi dan memiliki struktur kepengurusan yang jelas. Struktur kepengurusan
lembaga desa wisata Dewi Gilang ini, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Susunan Pengurus Desa Wisata
Pembina

: 1. Dinporabudpar
2. Akademisi (UNSOED)
3. Camat Baturraden
4. Kepala Lokawisata Baturraden

Pelindung

: Kepala Desa Ketenger

Penasehat

: Badan Permusyawaratan Desa Ketenger

Ketua Umum

: Soedarsono

Ketua I

: Mujianto

(internal)

Ketua II

: Sudarto, S.Sos, M.Si.

(eksternal)

Sekretaris Umum

: Ari Cahyono

Sekretaris I

: Suswoyo

(internal)

Sekretaris II

: Catur Hardianto

(eksternal)

Bendahara

: Tin Hermiati

Seksi-seksi

1.
2.
3.
4.
5.

Seksi Perencanaan Pengembangan Daya Tarik Wisata


Seksi Promosi dan Pemandu Wisata
Seksi Akomodasi
Seksi Budaya, Rekreasi dan Atraksi
Seksi K5 (Keamanan, Ketertiban, Kebersihan,
Kesehatan dan Keindahan)
6. Seksi Kewirausahaan
7. Seksi Humas

: Sadikin
: Agus Setiyawan
: Nardam
: Purwodiharjo
: Ach. Sudarso
: Wartoyo
: 1. Hardian
2. Sukarto
3. Kuspono

Pak Soedarsono selaku ketua Dewi Gilang mengatakan, semua yang dilihat di Desa
Wisata Ketenger saat ini masih jauh dari tujuan dari Dewi Gilang selaku pengelola sendiri,
sebab kami disini ingin mengembangkan wisata terpadu. Dimana di dalamnya ada pertanian,
ada budaya, ada husada (pengobatan), juga perikanan karena disini air melimpah. Disini juga
dapat menjadi wisata religi juga karena banyak peninggalan jaman dulu, misalnya saja PLTA
yang sudah dibangun sejak jaman sebelum kemerdekaan, atau juga situs-situs bersejarah
seperti Watu Lumpang, Batur Semende, Batur Kedawung yang bisa dijumpai kalau naik ke
atas bukit sana. Ditambah satu lagi yaitu pendidikan, tapi bukan berarti disini menyediakan
dosen atau guru. Dosennya orang-orang yang datang kesini, siswanya juga orang-orang yang
datang kesini. Konsepnya pada dasarnya itu. Pak Darsono menambahkan, jadi target kami
di tahun 2013 ini kami ingin mendorong legalitas yang formal dan jelas untuk pengelolaan
wisata terpadu Dewi Gilang, demikian ungkapnya.
B. Regulasi yang Melandasi
Pada dasarnya Desa Wisata Dewi Gilang memilik landasan regulasi yang kuat
sebagai kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa Ketenger. Regulasi yang melandasi ini
adalah melalui Surat Keputusan Bupati Banyumas No. 556/1887/2000 dan juga Keputusan
Kepala Dinas Pemuda , Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas No.
556/013.A/I/2011. Bahkan di Banyumas hanya Desa Ketenger inilah yang memiliki
landasan regulasi yang kuat dibandingkan daerah-daerah lain yang ada di Banyumas
sampai saat ini. Oleh karena itu Lembaga Desa Wisata Dewi Gilang merupakan satusatunya organisasi desa wisata yang mandiri dan otentik sebagai desa wisata. Adapun
dokumen tertulis mengenai SK Bupati maupun SK Dinporabudpar dapat dilihat jelas
dalam lampiran.
Pak Soedarsono selaku ketua Dewi Gilang menuturkan, pada saat ini peraturan desa
yang mengatur tentang Dewi Gilang belum ada, begitu pula dengan akta notaris atau

badan hukum yang melandasi Dewi Gilang ini. Ini disebabkan pada awalnya dibentuknya,
saya dan yang lainnya berpikir Surat Keputusan Bupati dan Keputusan Dinporabudpar saja
sudah cukup, sedangkan desa cukup mengetahui saja. Namun pada kenyataannya saat ini
hal-hal yang terkait dengan legal formal semacam itu baru terasa perlu. Misalnya saja
beberapa waktu yang lalu sekitar 200 dari Bakorluk propinsi Jawa Tengah ingin
mengadakan pelatihan pertanian terpadu di Desa Wisata Ketenger. Namun saat proses
pengurusan legal formalnya dan ditanyai mengenai badan hukum Dewi Gilang dan
ternyata belum ada, akhirnya dibatalkan karena untuk lembaga-lembaga formal atau
lembaga pemerintahan seperti Bakorluk atau yang lainnya membutuhkan lembaga yang
jelas dan berbadan hukum bila akan bekerjasama. Pak Darsono menambahkan, oleh
sebab yang seperti demikian ini, maka dalam waktu dekat apa-apa yang berhubungan
dengan kelegalan Dewi Gilang ini akan segera diurus.
C. Basis Permodalan
Dalam mengelola desa wisata Ketenger yang berada di bawah bendera Dewi Gilang
(Desa Wisata Gita Gumilang), pengelola tentu membutuhkan pasokan dana untuk biaya
perawatan curug serta pembenahan dan pemeliharaan infrastruktur guna menunjang sarana
dan prasarana di Curug Gede. Basis modal dari Curug gede sendiri berasal dari kegiatan
wisata harian, serta bantuan PNPM dari pemerintah daerah setempat. Sementara bantuan
dari desa setempat hanya sebatas penyediaan lahan bagi Wisata Curug Gede dan baru-baru
ini pengelola mendapat bantuan alat kebersihan dari desa.
Dari kegiatan wisata harian, pengelola mematok harga tiket masuk sebesar Rp
2.500,00. Harga tersebut sudah termasuk dengan asuransi bagi pengunjung. Ketua Dewi
Gilang, Pak Darsono menuturkan, namun untuk retribusi masuk ini kami memiliki
beberapa pengecualian, misalnya anak-anak pecinta alam itu tidak kami mintai tiket
masuk, meskipun kami tidak kenal. Ini didasari oleh keinginan serta kepercayaan kami
bahwa orang-orang yang tergabung dalam pecinta alam juga akan turut menjaga
khususnya lingkungan sekitar, bukan malah sebaliknya. Oleh karena itu, bentuk
kepedulian nyata dari kami dalam bentuk tidak menarik tiket masuk, ungkapnya.
Sumber permodalan yang lain misalnya dari bantuan PNPM Mandiri dari pemda
digunakan untuk mengisi kegiatan desa wisata serta pengembangan wisata outbond.
Bantuan PNPM Mandiri diberikan selama dua periode. Periode pertama yaitu pada tahun
2009 dengan alokasi dana sebesar 52 juta dan digunakan untuk peralatan sound dan
gamelan bagi pentas kesenian. Periode kedua yaitu pada tahun 2010 dengan alokasi dana
sebesar 60 juta dan digunakan unutk pelatihan guiding bagi karyawan Desa Wisata serta

penambahan perlengkapan outbond seperti ban karet, pelampung, dan lain-lain. PNPM
Mandiri adalah program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis
pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan atau meningkatkan
kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan
berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian dan
kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang besar dari
perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan
menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai. PNPM Mandiri dilaksanakan melalui
harmonisasi dan pengembangan sistem serta mekanisme dan prosedur program,
penyediaan pendampingan dan pendanaan stimulan untuk mendorong prakarsa dan inovasi
masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang berkelanjutan.

BAB II
KAPASITAS
A. Sumber Daya Manusia
Sebagai sebuah bagian dari kawasan Desa Wisata yang berlokasi di sekitar tempat
tinggal penduduk desa Ketenger, pengelola Wisata Desa Ketenger yang bernama Dewi

Gilang (Desa Wisata Gita Gumilang) memanfaatkan potensi sumber daya manusia lokal
dari masyarakat desa di sekitar lokasi wisata untuk ikut serta dalam mengelola wisata
Curug Gede. Fokus utama mereka adalah adanya keterlibatan remaja disekitar lokasi
wisata untuk bisa mendapatkan lapangan pekerjaan tanpa harus jauh-jauh pergi keluar kota
untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, pemberdayaan SDM lokal juga bertujuan untuk
menciptakan sebuah sinergi antara pengelola wisata dengan masyarakat agar bersamasama mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Remaja-remaja tersebut tergabung dalam sebuah pokdarwis (kelompok sadar
wisata). Melalui pokdarwis tersebut, remaja desa diberikan pelatihan guiding serta bahasa
yang merupakan salah satu program PNPM Mandiri. Pelatihan guiding dan bahasa
bertujuan agar remaja memiliki keterampilan ketika memandu wisatawan yang ada di
kawasan Wisata Curug Gede. Selain remaja, masyarakat sekitar juga ikut dilibatkan dalam
kegiatan Desa Wisata tersebut. Salah satunya melalui paket edukasi anak yang diadakan
oleh pengelola, ada kegiatan-kegiatan seperti menangkap ikan, membajak sawah
menggunakan kerbau, serta membuat gula jawa. Dari kegiatan menangkap ikan,
masyarakat yang memiliki kolam ikan disewa oleh pengelola dan ikan-ikan tersebut
dibayar sesuai dengan harga ketika mereka menjual ikan ke pasar.
Melalui kegiatan membajak sawah menggunakan kerbau, kerbau yang digunakan
juga disewa pengelola kepada petani setempat sesuai dengan harga ketika mereka
menyewakan kerbaunya kepada orang lain. Kemudian dari kegiatan edukasi pembuatan
gula jawa, pengelola juga membeli gula jawa yang dihasilkan oleh masyarakat selama
kegiatan edukasi tersebut berlangsung. Sehingga masyarakat mendapatkan feedback dari
keterlibatan mereka tersebut sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan. Hal tersebut
selain untuk membantu perekonomian masyarakat juga bertujuan untuk menumbuhkan
kesadaran masyarakat bahwa keterlibatan mereka di dalam kegiatan desa wisata bukanlah
sebuah kerugian. Justru melalui kegiatan desa wisata, masyarakat mampu mendapatkan
peluang kerja yang nyata.

BAB III
PARTISIPASI DAN MANFAAT
A. Bagi Masyarakat
Secara teknis pada dasarnya organisasi desa wisata Dewi Gilang memiliki fungsi
kontributif terhadap masyarakat, dan begitu pula sebaliknya. Pada titik ini partisipasi
masyarakat sangat diperlukan dalam menjalankan operasionalisasi desa wisata Dewi

Gilang, seperti dengan adanya paket edukasi yang ditawarkan terhadap individu maupun
kelompok yang ingin mengakses paket desa wisata. Contoh konkrit partisipasi masyarakat
terhadap desa wisata Dewi Gilang ini adalah dengan memberi edukasi kepada para
pelanggan desa wisata seperti bagaimana beternak sapi, pertanian (bajak sawah tanam
padi), membuat gula kelapa, membuat bulu mata palsu, dan lain-lain yang berhubungan
dengan kegiatan masyarakat sekitar sehari-hari. Dengan adanya pelatihan-pelatihan
edukasi ini juga diharapkan bagi konsumen yang mengaksesnya dapat mengalami dan
merasakan bagaimana cara hidup masyarakat desa Ketenger.
Partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat dalam membantu pelaksanan paket
wisata Dewi Gilang juga merupakan hal yang memberi manfaat konkrit pada masyarakat
sekitar. Manfaat yang akhirnya diberikan adalah suatu sumbangsih materiil yang dapat
meringankan pekerjaan keseharian masyarakat. Dapat dikatakan ketika edukasi yang
memerlukan partisipasi masyarakat tersebut akhirnya menjadikan masyarakat untuk tidak
bekerja sehari, maka dari itu Lembaga Desa Wisata membayar penuh pendapatan yang
dihasilkan selama beberapa hari tersebut, dan ditambah pula dengan pembantuan fasilitas
yang diberikan secara cuma-cuma. Hal ini dilakukan berangkat dari perhatiannya Desa
Wisata untuk pula memberikan kebutuhan umum para masyarakat. Selain itu juga desa
wisata Dewi Gilang bermanfaat juga memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat,
terkhususnya pada para remaja desa Ketenger.
Pak Soedarsono menambahkan, secara umum bila masyarakat ditanyai Dewi
Gilang punya kontribusi apa untuk masyarakat, maka kebanyakan akan menjawab Dewi
Gilang tidak apa kontribusinya apa-apa untuk masyarakat. Sebab masyarakat kita sekarang
ini berpikir, yang namanya kontribusi itu ya selalu berbentuk uang. Namun setidaknya
dengan adanya Dewi Gilang ini, beberapa remaja yang turut mengelola baik retribusi
masuk, parkiran dan yang lainnya tak harus merantau ke kota, setidaknya Dewi Gilanh
telah membantu mengurangi jumlah perpindahan penduduk ke kota besar. Pak Darsono
menambahkan lagi, sayangnya tidak banyak masyarakat yang berpikir sampai kesitu,
mereka nggak mudeng, tuturnya.
B. Bagi Pemerintahan Desa
Desa Wisata Dewi Gilang Ketenger dalam operasionalisasinya pun tidaklah hanya
membutuhkan partisipasi maupun kerjasama dari masyarakat sekitar, tetapi juga
pemerintah atau aparat-aparat desa dengan memberi izin maupun fasilitas pendukung desa
wisata. Disebutkan oleh Ari Cahyono selaku manajemen wisata, sejauh ini pemerintahan

desa berpartisipasi dalam mendukung desa wisata dengan menyediakan lahan untuk
outbond, flying fox, maupun kegiatan-kegiatan wisata lainnya. Pada dasarnya partisipasi
desa melalui legitimasi desa wisata tersebut dengan mendukung pengesahaannya SK
Bupati dan Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan dan Pariwisata untuk desa wisata
Dewi Gilang Ketenger.
Partisipasi yang dilakukan oleh pemerintah desa Ketenger itu pun mendapatkan
timbal balik yang signifikan oleh Desa Wisata Dewi Gilang, yakni dengan adanya
kontribusi desa wisata terhadap pemasukan dana desa sebesar 5% melalui penghasilan dari
paket wisata. Bahkan biaya kerusakan infrastruktur desa seperti jalan dan rumah yang
rusak, dapat ditanggung pula oleh lembaga wisata Dewi Gilang tersebut. Hal ini dilakukan
oleh desa wisata sebagai dukungan terhadap pembangunan desa Ketenger tersebut.
Saat wawancara di hari yang lain dengan Pak Darsono selaku ketua Dewi Gilang
beliau menuturkan, sebetulnya tidak ada regulasi yang jelas untuk pembagian keuntungan
Dewi Gilang dengan pihak desa. Justru menurut saya, pihak desa seharusnya malu bila
menerima uang dari Dewi Gilang yang paling hanya antara 50 sampai 100 ribu. Namun
dengan berbagai alasan seperti untuk menjalin hubungan baik dan semacam itu, uang
tersebut tetap saja diterima oleh pihak pemerintah desa maupun dinas pariwisata.

KESIMPULAN
Desa Wisata Dewi Gilang merupakan lokawisata desa yang mempunyai fungsi khusus
sebagai badan usaha desa dan juga mempunyai manfaat yang kontributif terhadap masyarakat
desa Ketenger maupun pemerintah desanya. Desa Wisata Dewi Gilang di desa Ketenger ini
dapat dikatakan sebagai desa yang telah memiliki kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang
telah diakui oleh Pemerintah Daerah (Bupati) maupun Dinporabudpar Kabupaten Banyumas.

Diharapkan dengan adanya desa wisata Dewi Gilang ini, akhirnya mampu membangun Desa
Ketenger secara infrastruktur maupun sumber daya manusia yang ada didalamnya.

Referensi dan Lampiran


Surat Keputusan Bupati Banyumas Nomor: 556/1887/2000 tentang Penetapan Desa Ketenger
Kecamatan Banyumas sebagai Desa Wisata.
Surat Keputusan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten
Banyumas Nomor: 556/013.A/I/2011 tentang Pembentukan Kelompok Sadar Wisata
Desa Ketenger Kecamatan Baturraden.
https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-tengah/Curug-Gede---banyumas
pada tanggal 16 Desember 2012.

diakses