Anda di halaman 1dari 54

1

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI KOMBINASI KADAR KARBOHIDRAT


PAKAN DAN KROMIUM (Cr+3) TERHADAP DEPOSIT GLIKOGEN
HEPATOPANKREAS DAN OTOT GELONDONGAN
UDANG WINDU (Penaeus monodon)

SKRIPSI

ANDI NUZULUDDIN NUR

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI KOMBINASI KADAR KARBOHIDRAT


PAKAN DAN KROMIUM (Cr+3) TERHADAP DEPOSIT GLIKOGEN
HEPATOPANKREAS DAN OTOT GELONDONGAN
UDANG WINDU (Penaeus monodon)

SKRIPSI

ANDI NUZULUDDIN NUR

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

ABSTRAK

ANDI NUZULUDDIN NUR. Pengaruh Pemberian Berbagai Kombinasi Kadar


Karbohidrat Pakan Dan Kromium (Cr+3) Terhadap Deposit Glikogen
Hepatopankreas dan Otot Gelondongan Udang Windu (Pennaeus
monodon). Di bawah bimbingan Siti Aslamyah sebagai pembimbing utama
dan Muh. Yusri Karim sebagai pembimbing anggota.
Udang windu mempunyai kemampuan yang rendah dalam
memanfaatkan karbohidrat pakan. Hal ini disebabkan oleh lemahnya GTF
(Glucose Tolerance Factor) dalam memicu aktivitas hormon insulin. Komponen
utama GTF adalah kromium. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
pengaruh pemberian berbagai kombinasi kadar karbohidrat pakan dan kromium
(Cr+3) terhadap deposit glikogen hepatopankreas dan otot udang windu.
Penelitian ini menggunakan akuarium kaca berukuran panjang, lebar dan
tinggi masing-masing 50X49X50 cm. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian
ini adalah gelondongan udang windu berukuran 0,27 g. Pemeliharaan didesain
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan. Perlakuan
yang diujikan yaitu : K1C1 (karbohidrat 30%, kromium 1 ppm), K1C2 (karbohidrat
30%, kromium 2 ppm), K1C3 (karbohidrat 30%, kromium 3 ppm), K2C1
(karbohidrat 40%, kromium 1 ppm), K2C2 (karbohidrat 40%, kromium 2 ppm),
K2C3 (karbohidrat 40%, kromium 3 ppm), K3C1 (karbohidrat 50%, kromium 1
ppm), K3C2 (karbohidrat 50%, kromium 2 ppm), K3C3 (karbohidrat 50%,
kromium 3 ppm), PU (Pakan Udang). Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji lanjutan
duncan.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian berbagai kombinasi
kadar karbohidrat dan kromium (Cr+3) berpengaruh sangat nyata (p<0,01)
terhadap deposisi glikogen hepatopankreas dan otot udang windu. Kadar
glikogen hepatopankreas dan otot tertinggi dihasilkan pada perlakuan K1C2
(karbohidrat 30% : kromium 2 ppm) dengan kadar glikogen hepatopankreas 76
g/g dan glikogen otot 54 g/g, K2C2 (karbohidrat 40% : kromium 2 ppm)
dengan kadar glikogen hepatopankreas 75,75 g/g dan glikogen otot 54,05 g/g.
sedangkan kadar glikogen hepatopankreas dan otot terendah dihasilkan pada
perlakuan K3C1 (karbohidrat 50 : kromium 1 ppm) dengan kadar glikogen
hepatopankreas 48,40 g/g dan glikogen otot 29 g/g.

RIWAYAT HIDUP
Penulis Lahir di Ujung Pandang Pada Tanggal 5 September
1987. Anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Andi
Arung (Alm) dan Andi Nurlina. Pada tahun 1999 penulis lulus
dari

SD

Negeri

mengenyam

Inpres

sekolah

bara-baraya

menengah

dan

pertama

selanjutnya
di

SMP

Muhammadiyah 1 Makassar sampai tahun 2002. Pada tahun 2005 penulis lulus
dari SMA Negeri 16 Makassar dan pada tahun 2006 penulis diterima sebagai
mahasiswa Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan Universitas Hasanuddin melalui jalur SPMB.

HALAMAN PENGESAHAN

Judul

Pengaruh Pemberian Kombinasi Berbagai Kadar


Karbohidrat Pakan Dan Kromium (Cr+3) Terhadap
deposit
Glikogen
Hepatopankreas
Dan
Otot
Gelondongan Udang Windu (Pennaeus Monodon)

Nama

Andi Nuzuluddin Nur

Stambuk

L 221 06 007

Program Studi

Budidaya Perairan

Skripsi Telah Diperiksa dan Disetujui Oleh :

Pembimbing Utama

Pembimbing Anggota

Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP


NIP : 196909011993032003

Prof.Dr. Ir. Muh. Yusri Karim, M.Si


NIP : 196501081991031002

Diketahui Oleh :
Dekan,
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan

Ketua Program Studi


Budidaya Perairan

Prof. Dr. Ir. Hj. Andi Niartiningsih, MP


NIP : 196112011987032002

Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP


NIP : 196909011993032003

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas
rahmat

dan

hidayah-Nya,

selanjutnya

skripsi

yang

berjudul

Pengaruh

Pemberian Berbagai kombinasi Kadar Karbohidrat Pakan Dan Kromium


(Cr+3) Terhadap Deposit Glikogen Hepatopankreas dan Otot Gelondongan
Udang Windu (Pennaeus monodon) dapat penulis selesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa
bantuan dariberbagai pihak, Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Dr. Ir. Siti Aslamyah, MP, selaku

pembimbing utama atas bimbingan,

arahan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama
penyusunan skripsi ini.
2. Prof. Dr. Ir. Muh. Yusri Karim, M.Si, selaku pembimbing anggota yang telah
meluangkan waktunya dalam memberi bimbingan, saran dan dampingan
kepada penulis.
3. Dr. Ir. Edison saade M.Sc, Ir. Margareta Bunga, MP dan A. Aliyah
Hidayani, S.Si, M.Si selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang
telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi
perbaikan skripsi ini.
4. Pak Yulius selaku teknisi di Hatchery perikanan

yang telah membantu,

membimbing, dan memfasilitasi penulis selama menjalankan kegiatan


penelitian.

5. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan atas perhatian
dan bantuannya selama penulis menempuh studi hingga akhir.
6. Ayahanda Drs. Andi Arung (Alm) dan Ibunda Andi Nurlina, serta segenap
keluarga besar yang telah tulus dan penuh kasih sayang telah memberikan
doa, perhatian, semangat dan bantuan moril maupun materil serta
mencurahkan perhatian lebih kepada penulis.
7. Teman penelitianku Asmariani dan Syamzani atas kerja samanya selama
penelitian.
8. Seluruh teman temanku di Jurusan Perikanan terkhusus BDP 2006
(Salma, Subhan, Basfin, Iqbal, Suradi, Mufdil, Adi Hadyuddin, Irma,
Takim Bob, Itha, Sabrina, Kristina, Amrul, Linda, Wardin, Achy, Nugroho)
dan HMP-BDP yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengharapkan kritik
dan saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan
skripsi ini dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca, Amien Ya
Rabbalalamin.

Makassar,

November 2011

Penulis

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.

DAFTAR TABEL.

iii

DAFTAR GAMBAR.

iv

DAFTAR LAMPIRAN.

PENDAHULUAN..

Latar Belakang....

Tujuan dan Kegunaan.....

TINJAUAN PUSTAKA..

Udang Windu......

Peran Kromium....

Karbohidrat dan Glikogen.......

Glikogenolisis

Kebutuhan Nutrisi Udang Windu...

Kualitas Air....

II

III

METODE PENELITIAN

1
7

Waktu dan Tempat...

Materi Penelitian...
Wadah dan Media Pemeliharaan....
Hewan Uji..
Pakan.

9
2
1

Perlakuan dan Perancangan Penelitian...


Prosedur Penelitian.....
Peubah yang Diamati..
Kualitas Air.
Analisis Data.

2
1
2
1
2

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN.....

Glikogen Hepatopankreas dan Otot.

Kualitas Air

KESIMPULAN DAN SARAN..


Kesimpulan...
Saran

2
1
2
3

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

V.2.Saran..

........

4
2
5
2
5
2
6
2
6
3
0
3
1
3
1
3
1
3
2
3
8

DAFTAR TABEL

Nomor

Teks

Halaman

Komposisi bahan baku pakan buatan udang windu...

22

Kandungan nutrisi pakan buatan udang windu...

22

Rata-rata kandungan glikogen hepatopankreas dan hati


udang windu akhir dan pertengahan penelitian....

26

Kisaran kualitas air yang diperoleh selama penelitian dan

10

kisaran yang layak menurut pustaka..

30

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Teks

Halaman

Udang Windu....

05

Proses Glikogenolisis

16

Tata Letak suatu percobaan setelah pengecekan...

23

11

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Teks

Halaman

Prosedur analisis kadar glikogen (Wedemeyer dan


Yasutake, 1977)

38

Rata-rata kadar glikogen hepatopankreas dan otot


gelondongan udang windu pada setiap perlakuan....

40

40

12

Anova glikogen hepatopankreas dan otot tengah...

41

Anova glikogen hepatopankreas dan otot akhir..

41

Uji lanjut Duncan glikogen hepatopankreas dan otot tengah

42

Uji lanjut Duncan glikogen hepatopankreas dan otot akhir

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Udang windu merupakan salah satu komoditas sub sektor perikanan
yang diharapkan dapat meningkatkan devisa negara. Permintaan pasar
meningkat dengan didukung sumberdaya alam yang cukup besar memberikan
peluang yang sangat besar untuk pengembangan budidayanya. Sebagai rantai
awal di dalam budidaya udang windu adalah ketersediaan benih yang sering kali
merupakan faktor pembatas. Oleh sebab itu, terbatasnya benih hasil tangkapan
dari alam mendorong munculnya berbagai panti pembenihan, baik skala besar
(hatchery) maupun skala kecil (back yard).
Budidaya udang windu telah mengalami peningkatan. Akan tetapi,
beberapa tahun terakhir ini banyak petani tambak yang mengalami penurunan
produksi usaha budidayanya. Salah satu penyebab penurunan prduksi tersebut
adalah menurunnya sistem kekebalan tubuh udang yang menyebabkan
timbulnya penyakit yang berujung pada kematian. Hal ini banyak terjadi pada
stadia pascalarva udang windu. Menurunnya kualitas lingkungan budidaya dan
ketersediaan nutrisi pakan yang kurang merupakan faktor penyebab sehingga
udang saat ini sering terserang penyakit yang dapat menyebabkan kematian
massal (Siswanto, 2008).
Upaya pemenuhan permintaan udang yang terus meningkat mendorong
petani membudidayakan udang windu secara intensif. Intensifikasi budidaya
adalah kegiatan dimana budidaya sangat bergantung pada suplay pakan buatan
dan memerlukan pemberian pakan yang intensif. Di sisi lain, kendala yang
dihadapi untuk pemenuhan kebutuhan pakan adalah tingginya harga pakan.

Menurut Haliman dan Dian (2005) kebutuhan pakan buatan pada budidaya
udang berkisar dari 60-70% dari total biaya produksi.
Permasalahan harga pakan yang relatif mahal disebabkan oleh tingginya
kandungan protein dalam pakan. Protein merupakan zat terpenting dari semua
zat gizi yang diperlukan ikan karena merupakan zat penyusun dari sumber energi
utama bagi ikan (NRC, 1997). Pada ikan protein lebih efektif digunakan sebagai
sumber energi daripada karbohidrat (Furuichi, 1988). Hal ini disebabkan oleh
rendahnya aktivitas enzim amilase dalam saluran pencenaan ikan dibandingkan
dengan hewan terrestrial dan manusia. Oleh sebab itu, perlu dilakukan berbagai
upaya agar penggunaan protein sebagai sumber energi dapat dikurangi dan
pemanfaatan karbohidrat sebagai sumber energi dapat ditingkatkan. Protein
diharapkan digunakan untuk pertumbuhan dan pergantian jaringan yang rusak,
bukan sebagai sumber energi. Peningkatan penggunaan karbohidrat oleh udang
diharapkan dapat meningkatkan kadar karbohidrat dan mengurangi kadar protein
dalam komposisi pakan buatan.
Salah satu alternatif yang dapat dikaji dan dikembangkan melalui
percobaan adalah dengan suplementasi kromium organik dalam pakan.
Penelitian mengenai peran kromium pada beberapa spesies ikan seperti tilapia,
gurame, betok, telah dilaporkan dengan menggunakan kromium organik, seperti
CrCl3, CrCl3 6H2O, atau Cr2O3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kromium
organik efektif meningkatkan pemanfaatan karbohidrat pakan (Shiau dan Chen,
1993; Shiau dan Lin, 1993; Shiau dan Liang, 1995; Shiau, 2002; Subandiono
dkk.,2004; Akbar, 2009). Kromium trivalent (Cr+) merupakan unsur mineral yang
dibutuhkan manusia dan hewan. Unsur mineral tersebut berfungsi untuk
mengaktifkan kerja insulin dan menstabilkan protein dan asam nukleat. Kromium
trivalent memiliki tipe non toksik dan bersifat antioksidant (Anderson, 1997; NRC,
1997).

Suplementasi kromium berhubungan dengan pemasukan (influx) glukosa


hasil hidrolisis enzimatik karbohidrat pakan ke dalam darah dan selanjutnya
masuk ke dalam sel. Peningkatan pemasukan glukosa ke dalam sel diharapkan
dapat meningkatkan penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi. Hal ini
dapat diindikasikan oleh adanya penyimpanan glikogen di hepatopankreas dan
otot udang windu. Di dalam otot, glikogen merupakan simpanan energi utama
yang mampu membentuk hampir 2% dari total massa otot. Glikogen yang
terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam
otot tersebut dan tidak dapat dikembalikan ke dalam aliran darah dalam bentuk
glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkannya. Berbeda
dengan glikogen hati dapat dikeluarkan apabila terdapat bagian tubuh lain yang
membutuhkan.
Penambahan kromium dalam pakan menyebabkan glukosa dapat segera
dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi
metabolisme. Sejauh mana pengaruh suplementasi kromium dalam pakan udang
windu belum pernah dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut maka kami
melakukan penelitian pengaruh pemberian berbagai kadar karbohidrat pakan
dengan suplementasi kromium (Cr+3) terhadap deposit glikogen hepatopankreas
dan otot gelondongan udang windu (pennaeus monodon).
Tujuan dan kegunaan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh berbagai kombinasi
kadar karbohidrat pakan dan kromium (Cr+) terhadap deposit glikogen
hepatopankreas dan otot udang windu.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi tentang
penggunaaan kromium pada usaha budidaya udang windu.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Udang windu

Udang windu merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas
berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh
kerangka luar yang disebut eksoskeleton. Udang windu memiliki tubuh yang
keras dari bahan kitin. Warna sekujur tubuhnya hijau kebiruan dengan motif
loreng besar. Tubuh udang windu dibagi menjadi dua bagian besar, yakni bagian
cephalothorax yang terdiri atas kepala dan dada serta bagian abdomen yang
terdiri atas perut dan ekor. Cephalothorax dillindungi oleh kitin yang tebal atau
disebut juga dengan karapas (carapace). Bagian cephalothorax ini terdiri dari
lima ruas kepala dan delapan ruas dada, sementara bagian abdomennya terdiri
atas enam ruas perut dan satu ekor (telson). Bagian depan kepala yang
menjorok merupakan kelopak mata yang memanjang dengan bagian pinggir
bergerigi atau disebut juga dengan cucuk (rostrum). Cucuk di kepala memiliki
tujuh buah gerigi di bagian atas dan tiga buah gerigi di bagian bawah. Sementara
itu, di bagian bawah pangkal kepala terdapat sepasang mata (Amri, 2003).
Morgologi udang windu dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Morfologi Udang Windu

Udang merupakan organisme yang aktif mencari makan pada malam hari
(nocturnal). Jenis makannya sangat bervariasi tergantung pada tingkatan umur
udang. Pada stadia benih, makanan utamanya adalah plankton (fitoplankton dan
zooplankton). Udang dewasa menyukai daging binatang lunak atau molusca
(kerang, tiram, siput), cacing, annelida yaitu cacing polychaeta, dan krustasea.
Dalam usaha budidaya, udang mendapatkan pakan alami yang tumbuh di
tambak, yaitu kelekap, lumut, plankton, dan benthos. Udang akan bersifat kanibal
bila kekurangan makanan (Soetomo, 1990).
Dalam dunia internasional, udang windu dikenal dengan nama black
tiger, tiger shrimp, atau tiger prawn. Adapun pengklasifikasian udang windu
diklasifikasikan sebagai berikut (Soetomo, 1990) :
Kingdom : Animalia
Filum

: Arthropoda

Subfilum :Crustacea
Kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Family

: Penaeidae

Genus

: Penaeus

Spesies : Penaeus monodon


Kromium
Kromium adalah golongan mikromineral dan merupakan unsur logam
dengan atom 24, bobot atom 51,99 dan bilangan oksidasi 2, 3, dan 6 (Godman,
1986). Kromium dalam bentuk trivalen (Cr+) merupakan status oksidasi yang
paling stabil dan diperkirakan menjadi yang terpenting pada GTF (Glucose
Tolerance Faktor). Sifat esensial kromium pertama kali ditemukan Schwarz dan
Mertz pada tahun 1959 (Linder, 1992; Underwood dan Suttle, 1999)

Kromium klorida (CrCl3) merupakan unsur yang berperan dalam


meningkatkan sensitivitas insulin. Jenis kromium yang digunakan adalah
kromium klorida (CrCl3) yang merupakan senyawa anorganik. Keuntungan dari
senyawa ini adalah mudah diperoleh dan harganya cukup murah. Saat ini
kromium telah diakui sebagai nutrien esensial yang berfungsi dalam proses
metabolisme karbohidrat, lipid dan asam nukleat (Vincent, 2000).
Peranan kromium dalam menanggulangi diabetes melitus, aterosklerosis
dan penyakit jantung koroner masih terus diteliti. Penelitian di berbagai negara
terutama negara sedang berkembang menunjukkan bahwa selain kandungan
senyawa kromium dalam pakan sangat rendah, absorbsi senyawa ini pada
pencernaan juga sangat sukar yaitu kurang dari 2,5% (Anderson, 1989).
Sebagai upaya dalam meningkatkan absorbsi kromium klorida (CrCl3) ini
adalah dengan cara mengkombinasikan dengan vitamin C karena vitamin ini
membantu absorbsi kromium dalam pencernaan (Donaldson dan Barreras,
1966). Selain itu, vitamin C juga dikenal sebagai antioksidan yang potensial dan
sebagai vasodilator untuk mencegah hipertensi, anginapektoris, impotensi serta
membawa glukosa yang banyak masuk ke dalam jaringan otot rangka untuk
proses metabolisme (Sinclair dkk., 1992 dalam Darma dkk., 2010).
Walaupun kromium dikenal sebagai mineral essensial nutrisi, para
ilmuwan masih belum mengetahui dengan pasti peranannya dalam tubuh.
Bentuk yang paling umum dari kromium adalah Cr trivalen dan Cr hexavalen.
Kromium trivalen adalah bentuk utama dalam makanan, seperti halnya yang
digunakan oleh tubuh. Kromium hexavalen diperoleh melalui pemanasan pada
pH alkali dan digunakan sebagai sumber kromium untuk tujuan industri. Kromium
heksavalen adalah iritan kuat yang dikenal sebagai karsinogen apabila terhirup.
Pada konsentrasi rendah kromium heksavalen berubah menjadi Cr+ oleh suatu

senyawa dalam makanan dan suasana asam dalam perut

dapat mencegah

timbulnya efek yang merugikan dari Cr+6 (Muselin dkk., 2007).


Kromium dapat meningkatkan kinerja insulin melalui GTF dimana
kromium akan membentuk suatu kompleks dengan insulin dan reseptor insulin
untuk memfasilitasi respons jaringan yang sensitif terhadap insulin. Menurut NRC
(1997) hewan yang toleransi glukosanya terganggu memperlihatkan defisiensi
GTF dan suplementasi kromium dapat meningkatkan toleransi glukosa
Mekanisme pengangkutan kompleks kromium organik dalam darah belum
diketahui dengan pasti, namun mineral tersebut dengan cepat tersedia untuk sel
setelah penyerapan. Hingga kini, baru GTF atau kromodulin yang diketahui
sebagai bentuk kompleks kromium organik aktif. Jika terdapat kromium
anorganik yang terserap, mineral tersebut harus diangkut terlebih dulu ke tempat
spesifik dimana inkorporasi menjadi bentuk kompleks organik dimungkinkan,
misalnya dalam hati (Groff dan Gropper, 2000). Hati, ginjal, otot, dan jantung,
pankreas, dan tulang merupakan jaringan yang kaya akan kromium (Linder,
1992; NRC, 1997; Groff dan Gropper, 2000).
Pengaruh GTF pada insulin adalah pada fungsi yang berkaitan dengan
kapasitas pengambilan dalam sistem pengangkutan glukosa darah. GTF
memperkuat afinitas insulin terhadap reseptor insulin, sehingga memfasilitasi
GLUT (Glucose Transporter) untuk meningkatkan laju aliran glukosa darah
masuk kedalam sel melalui membrane plasma (NRC, 1997; Groff dan Gropper,
2000).
Hertz dkk. (1989) melaporkan bahwa kromium dapat meningkatkan
pengangkutan glukosa darah ke dalam sel pada ikan mas (Cyprinus carpio).
Selanjutnya Shiau dan Lin (1993) melaporkan adanya peningkatan deposisi
energi, deposisi glikogen hati, dan pertambahan bobot secara nyata pada ikan
nila (Oreochromis niloticus><Oreochromis aureus) setelah mendapat pakan yang

mengandung 2 mg CrCl3/kg pakan. Shiau dan Chen (1993) melaporkan


suplementasi Cr2O3 dalam pakan dengan glukosa murni sebagai satu-satunya
sumber glukosa mampu meningkatkan penggunaan glukosa, retensi protein,
energi, dan aktifitas fosfofruktikinase, serta pertumbuhan bobot ikan nila hibrida.
Shiau dan Liang (1995) mengamati adanya peningkatan pertambahan bobot,
efisiensi pakan perbandingan efisiensi protein, deposisi protein, aktifitas
fosfofruktikinase pada ikan nila hibrida dengan suplementasi 0,52,0% Cr2O3
dalam

pakan

yang

mengandung

glukosa

murni.

Subandiono

(2004)

mengemukakan bahwa suplementasi kromium ragi 1,5 ppm Cr+ efektif


memperbaiki aliran glukosa darah ke dalam sel sehingga meningkatkan
pemanfaatan karbohidrat pakan serta menghasilkan tingkat pertumbuhan yang
maksimum.
Adanya kromium dalam darah menyebabkan glukosa dapat segera
dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi
metabolisme. Dengan demikian sejumlah protein tertentu dapat dimanfaatkan
lebih efisien untuk pertumbuhan tanpa harus mengubahnya menjadi energi
melalui katabolisme. Hal ini berarti kromium mampu meningkatkan efisiensi
pemanfaatan protein pakan atau meningkatkan deposisi protein tubuh untuk
pertumbuhan.

Beberapa

penelitian

memperlihatkan

bahwa

dengan

menambahkan kromium ke dalam pakan dapat meningkatkan pemanfaatan


glukosa, menghambat glukoneogenesis, mencegah stress dan meningkatkan
pertumbuhan ikan (Purnama, 2010).
Karbohidrat dan Glikogen
Karbohidrat adalah zat organik yang mengandung unsur karbon,
hidrogen, dan oksigen dalam perbandingan yang berbeda-beda (Church dan

Pond, 1988). Secara Kimia karbohidrat merupakan derivat dari aldehid dan
keton.
Karbohidat

merupakan

nama

kelompok

senyawa

organik

yang

mempunyai struktur molekul berbeda-beda meskipun masih terdapat persamaan


dari sudut fungsinya (Sediaoetomo, 1991). Karbohidrat dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) monosakarida, 2) disakarida, dan 3)
polisakarida. Monosakarida merupakan gula sederhana, seperti glukosa, fruktosa
dan galaktosa. Disakarida terdapat dalam laktosa, maltosa dan sukrosa. Contoh
penting dari polisakarida adalah dekstrin, pati, selulosa dan glikogen. Fungsi
utama dari karbohidrat adalah menyediakan keperluan energi tubuh, selain itu
karbohidrat juga mempunyai fungsi lain, yaitu karbohidrat diperlukan bagi
kelangsungan proses metabolisme lemak. Juga karbohidrat mengadakan suatu
aksi penghematan terhadap protein (Rahim, 2011).
Karbohidrat yang masuk ke tubuh berasal dari makanan. Sel-sel di dalam
tubuh tentunya tidak dapat langsung menyerap karbohidrat, tetapi karbohidrat
tersebut harus dipecah menjadi molekul yang lebih sederhana lagi yaitu
monosakarida, terutama dalam bentuk glukosa. Karena glukosa merupakan
monosakarida yang paling utama yang dapat diserap oleh tubuh untuk
menghasilkan energi. Karbohidrat akan dipecah menjadi monosakarida melalui
proses digesti di saluran pencernaan. Setelah berubah menjadi glukosa, baru
akan terjadi metabolisme glukosa di tingkat sel (respirasi sel) (Noreng, 2010).
Di dalam sistem pencernaan dan juga usus halus, semua jenis
karbohidrat yang dikonsumsi terkonversi menjadi glukosa untuk kemudian
diabsorpsi oleh aliran darah dan ditempatkan ke berbagai organ dan jaringan
tubuh. Molekul glukosa hasil konversi berbagai macam jenis karbohidrat inilah
yang kemudian akan berfungsi sebagai dasar bagi pembentukan energi di dalam
tubuh. Melalui berbagai tahapan dalam proses metabolisme, sel-sel yang

10

terdapat di dalam tubuh dapat mengoksidasi glukosa menjadi CO2 & H2O
dimana proses ini juga akan disertai dengan produksi energi. Proses
metabolisme glukosa yang terjadi didalam tubuh ini akan memberikan kontribusi
hampir lebih dari 50% bagi ketersediaan energi (Noreng, 2010).
Terdapat masing-masing 4 enzim kunci yang terlibat baik pada degradasi
glikogen menjadi glukosa bebas (glikogenolisis) maupun pada glukoneogenesis.
Enzim kunci pada glikogenolisis adalah: (a) phosphorilase, (b) debranching
enzyme, 1,6 glucosidase, (c) phosphoglucomutase, dan (d) glucose-6phosphatase; sedangkan pada glukoneogenesis melibatkan enzim-enzim: (a)
pyruvate carboxylase, (b) PEP-carboxykinase, (c) fructose diphosphatase, dan
(d) glucose-6-phosphatase (Campbell dan Smith, 1982).
Karbohidrat dalam makanan makhluk hidup terutama digunakan sebagai
sumber energi. Demikian pula pada ikan, karbohidrat digunakan sebagai sumber
energi, meskipun penggunaannya lebih rendah dibandingkan hewan teristerial
dan manusia (Furuichi, 1988). Selain itu, karbohidrat juga berfungsi sebagai
sumber ribose untuk sintesis DNA dan RNA, serta dapat diubah menjadi asam
amino essensial (Lehninger, 1971). Pengaruh karbohidrat pada pertumbuhan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kadar karbohidrat dalam pakan, tingkat
kecernaan karbohidrat, jumlah pakan yang masuk, kondisi lingkungan, dan
spesies ikan (Watanabe, 1988).
Udang memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang banyak, karena selain
diperlukan sebagai pembakar dalam proses metabolisme, juga diperlukan dalam
sintesis kitin dalam kulit keras. Walaupun demikian efisiensi penggunaan
karbohidrat oleh udang berbeda, tergantung dari sumbemya, selain itu
kemampuan udang dalam mencerna karbohidrat juga berbeda berdasarkan
jenisnya (Semeru dan Anna, 2010).

11

Penggunaan karbohidrat dalam pakan adalah penting dikarenakan


beberapa hal: (a) sebagai sumber energi yang jauh lebih murah bila
dibandingkan dengan protein, maka karbohidrat dapat menekan ongkos produksi
dan yang pada akhirnya dapat menurunkan total harga pakan (Cruz-Suarez dkk.,
1994), (b) pada tingkat tertentu, karbohidrat mampu men-substitusi energi yang
berasal dari protein pakan (sparing protein pakan) dan karena itu efisiensi
pemanfaatan protein pakan untuk pertumbuhan dapat ditingkatkan (Rosas dkk.,
2000), (c) sebagai binder, karbohidrat (terutama yang berasal dari bahan pakan
tertentu) mampu meningkatkan kualitas fisik pakan dan menurunkan prosentase
debu pakan (Hastings dan Higgs, 1980), (d) sebagai komponen tanpa nitrogen,
maka penggunaan karbohidrat dalam jumlah tertentu dalam pakan dapat
menurunkan sejumlah limbah ber-nitrogen sehingga meminimalkan dampak
negatif dari pakan terhadap lingkungan (Kaushik dan Cowey, 1991).
Budiardi (2011) mengemukakan bahwa Jenis dan tingkat karbohidrat
pakan mempengaruhi laju pertumbuhan udang. Tingkat kelangsungan hidup
juvenil udang windu misalnya dipengaruhi oleh tingkat karbohidrat; sedangkan
sukrosa dan glukosa adalah lebih baik daripada trehalosa dalam meningkatkan
pertumbuhannya (Pascual dkk., 1983; Alava dan Pascual, 1987). Dalam
penelitiannya, Rosas dkk. (2000) mendapatkan bahwa pakan dengan kandungan
karbohidrat 10% belum cukup untuk memenuhi kebutuhan energi-karbohidrat,
dan masih perlu energi dari protein pakan. Selanjutnya dijelaskan bahwa nilai
maksimum dari tingkat glikogen dan aktifitas -amilase terjadi pada udang yang
diberi pakan mengandung 21% karbohidrat

yaitu udang mampu mencerna

karbohidrat pakan menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana dan


dapat diserap melalui dinding usus sebelum masuk ke dalam aliran darah. Daya
cerna atau kemampuan dalam memanfaatkan karbohidrat bervariasi dan terkait
dengan

sumber/asal

karbohidrat,

spesies,

proses

pembuatan

pakan

12

(pemanasan/penggunaan suhu saat pembuatan pellet), kondisi lingkungan


hidupnya (terutama suhu), dan status kesehatan.
Mekanisme yang bertanggungjawab terhadap terbatasnya penggunaan
glukosa oleh beberapa spesies udang penaeid belum diketahui sepenuhnya.
Shiau (1998) menjelaskan bahwa hal tersebut dimungkinkan dengan adanya
efek fisiologis yang negatif yang disebabkan oleh kejenuhan glukosa, dan hal ini
dikarenakan laju absorpsi yang lebih tinggi menyeberangi saluran pencernaan.
Dari penjelasan tersebut, Rosas dkk. (2000) menyarankan penggunaan
karbohidrat yang lebih kompleks dalam pakan udang, seperti starch, yang
mengalami hidrolisis enzimatik sebelum assimilasi. Diketahui, adanya glukosa
dari starch pada situs absorpsi usus dengan laju yang lebih rendah daripada
glukosa bebas (Pascual dkk., 1983; Alava dan Pascual, 1987; Shiau dan Peng,
1992; Shiau 1998). Namun demikian, penelitian menunjukkan bahwa udang dari
spesies tertentu mampu memanfaatkan karbohidrat pakan pada konsentrasi
yang tinggi (Cruz-Suarez dkk., 1994). Hal ini membuktikan bahwa penggunaan
karbohidrat dalam pakan berpotensi untuk dapat terus ditingkatkan hingga
konsentrasi tertinggi optimum.
Beberapa peneliti seperti Andrews dkk. (1972; Sick dan Andrews 1973;
serta Deshimaru dan Yone, 1978 dalam Semeru dan Anna, 2010), melaporkan
bahwa penambahan glukosa dalam pakan dapat menghambat pertumbuhan
udang penaeid. Namun penambahan disakarida dalam pakan temyata dapat
memberikan pertumbuhan yang cukup baik. Beberapa hal yang menyebabkan
penambahan glukosa dalam pakan menghambat pertumbuhan udang adalah
karena glukosa tidak dapat diubah menjadi trehalosa di dalam lambung, tetapi
secara cepat diserap dan kemudian dilepaskan dengan segera ke dalam darah.
Jika glukosa banyak diserap, akan didapat kadar glukosa yang tinggi dalam
darah yang biasanya dipertahankan oleh pengendalian hormonal dan sulit

13

digunakan sebagai sumber energi. Akan tetapi disakarida, seperti maltosa tidak
diserap dalam lambung, tetapi diubah menjadi glukosa dalam usus, kemudian
menjadi trehalosa dalam hepatopankreas dan selanjutnya dilepaskan secara
bertahap dalam darah. Dengan demikian maltosa siap digunakan sebagai
sumber energi.
Udang

mempunyai

kemampuan

yang

jauh

lebih

rendah

dalam

memanfaatkan glukosa (Deshimaru dan Shigeno, 1972; Shiau, 1998) bila


dibandingkan dengan ikan (Brauge dkk., 1994; Banos dkk., 1998).

Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan maksimum untuk udang dapat


dicapai pada pemberian pakan mengandung karbohidrat 1% dengan kandungan
protein tinggi, yaitu hingga 50% (Campbell, 1991 dalam Rosas dkk., 2000).
Keterbatasan

penggunaan

karbohidrat

pakan

oleh

udang

merupakan

konsekuensi dari adaptasi metabolik untuk menggunakan protein sebagai


sumber energi utama. Hal ini disebabkan protein merupakan substrat cadangan
yang lebih besar pada udang yang dapat dikonversi menjadi glukosa melalui
lintasan glukoneogenik (Campbell dan Smith, 1982; Campbell, 1991 dalam
Rosas dkk., 2000). Pada ikan rainbow trout diketahui bahwa peningkatan
karbohidrat tercerna dapat meningkatkan akumulasinya dalam hati, meskipun
pada konsentrasi melebihi 8% dari bobot pakan menyebabkan pertumbuhan
menurun (Alsted, 1991). Dengan jenis ikan yang sama, Brauge dkk. (1994)
mendapatkan nilai kebutuhan karbohidrat hingga 25%. Sementara itu Banos
dkk. (1998) dalam Yusuf (2011) mendapatkan bahwa rainbow trout mampu
memanfaatkan karhohidrat yang sangat mudah dicerna hingga konsentrasi 37%
dengan pertumbuhan yang masih baik.
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di
dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi. Glikogen
terbentuk dari molekul glukosa yang saling mengikat dan membentuk molekul

14

yang lebih kompleks. Simpanan glikogen memiliki fungsi sebagai sumber energi
tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi sistem
pusat syaraf dan otak (Setiono, 2010).
Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen
utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada jaringan
otot, glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 1% dari total massa otot
sedangkan di dalam hati glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari
total massa hati. Walaupun memiliki persentase yang lebih kecil namun secara
total jaringan otot memiliki jumlah glikogen 2 kali lebih besar di bandingkan
dengan glikogen hati (Setiono, 2010).
Pada jaringan otot, glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen dapat
digunakan secara langsung oleh otot tersebut untuk menghasilkan energi. Begitu
juga dengan hati yang dapat mengeluarkan glukosa apabila dibutuhkan untuk
memproduksi energi di dalam tubuh. Selain itu glikogen hati juga mempunyai
peranan yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh yaitu berfungsi untuk
menjaga level glukosa darah (Setiono, 2010).

Glikogenolisis
Tahap pertama penguraian glikogen adalah pembentukan glukosa 1fosfat. Berbeda dengan reaksi pembentukan glikogen, reaksi ini tidak melibatkan
UDP-glukosa, dan enzimnya adalah glikogen fosforilase. Selanjutnya glukosa 1fosfat diubah menjadi glukosa 6-fosfat oleh enzim yang sama seperti pada reaksi
kebalikannya (glikogenesis) yaitu fosfoglukomutase (Nursiam, 2011)

15

Gambar 2. Proses Glikogenolisis

Tahap reaksi berikutnya adalah pembentukan glukosa dari glukosa 6fosfat. Berbeda dengan reaksi kebalikannya dengan glukokinase, dalam reaksi
ini enzim lain, glukosa 6-fosfatase, melepaskan gugus fosfat sehigga terbentuk
glukosa. Reaksi ini tidak menghasilkan ATP dari ADP dan fosfat.

Glukosa 6-fosfat

Glukosa + asam fosfat

Glukosa yang terbentuk inilah nantinya akan digunakan oleh sel untuk
respirasi sehingga menghasilkan energi, energi itu terekam / tersimpan dalam
bentuk ATP.
Proses glikogenolisis dihati sama dengan di otot, yang berbeda adalah
hormon yang terlibat yaitu glucagon. Di hati bila terjadi konsentrasi gula darah
menurun, maka glucagon di produksi tinggi di sel, maka glikogen hati akan di
degradasi akibatnya glucosa darah normal kembali (Nursiam, 2011).
Kebutuhan nutrisi udang windu
Kandungan nutrisi yang baik untuk ikan secara umum adalah mulai dari
20-60% protein, 4-8% lemak dan karbohidrat sampai 30% (Hasting, 1976).

16

Menurut Jangkaru dan Djajadiredja (1976) kandungan protein pakan 30-40% dan
karbohidrat 10-20% baik untuk ikan.
Di daerah tropis seperti Indonesia, pakan ikan merupakan faktor yang
lebih penting, daripada suhu perairan. Kromium mempunyai potensi yang penting
terutama dalam metabolisme karbohidrat. Selain itu, diduga bahwa kromium
mempunyai potensi dalam metabolisme lipid, protein dan asam nukleat. Oleh
sebab itu, kromium diduga mampu meningkatkan efisiensi pemanfatan
karbohidrat dan lipid sebagai sumber energi, serta protein untuk pertumbuhan
dan dengan cara demikian mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan
Udang windu tergolong omnivor dan mempunyai kemampuan yang
terbatas dalam memanfaatkan karbohidrat pakan (FAO, 1987). Walaupun udang
merupakan pemakan segala, akan tetapi pada umumnya udang merupakan
predator bagi invertebrata yang pergerakannya lambat (Semeru dan Anna,
1992). Selain itu, udang windu mempunyai sifat kanibalisme, yang pada kondisi
kekurangan pakan dapat memangsa udang lain yang dalam kondisi lemah,
seperti pada saat ganti kulit.
Kebutuhan protein pada udang windu berkisar 40-50% untuk mencapai
pertumbuhan yang optimal (FAO, 1987). Kebutuhan protein udang dapat
diturunkan apabila kebutuhan energi dapat dipenuhi dari sumber lain non-protein,
seperti karbohidrat. Furuichi (1988) mengemukakan bahwa dari beberapa studi
kadar optimum karbohidrat pakan untuk ikan golongan karnivora adalah 10-30%.
Udang memerlukan karbohidrat, selain sebagai pembakar dalam proses
metabolisme juga diperlukan dalam sintesis kitin pada kulit keras. Walaupun
demikian udang mempunyai keterbatasan dalam efisiensi penggunaaan
karbohidrat yang berhubungan dengan tingkat kecernaannya (Semeru dan Anna,
1992).

17

Selain protein dan karbohidrat, lemak juga dapat dimanfaatkan sebagai


sumber energi oleh udang. Udang membutuhkan lemak antara 4-7% dalam
pakan.

Teshima

dan

Yone

(1978)

dalam

Semeru

dan

Anna

(1992)

mengemukakan bahwa asam lemak mempunyai peranan penting tidak hanya


sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai zat esensial untuk udang. Pada
hewan lain, sterol dapat disintesis dari asetat, sedangkan pada udang tidak
dapat disintesis. Kolesterol merupakan zat yang esensial bagi pertumbuhan dan
kehidupan udang, karena zat ini dapat diubah menjadi hormon seks dan hormon
ganti kulit, serta digunakan sebagai unsur pokok hypodermis. Kadar kolesterol
optimal untuk larva dan juvenil udang adalah sekitar 0,5% (Kanazawa dkk., 1971
dalam Semeru dan Anna, 1992).
Kebutuhan mineral pada udang windu, digunakan pada saat pergantian
kulit. Conklin dkk. (1977) menyatakan bahwa mineralisasi pada kulit cangkang
lobster meningkat melalui penambahan kalsium dalam pakan, tetapi tidak boleh
berbeda nyata dalam pertumbuhan maupun dalam kelangsungan hidupnya.
Perbandingan kalsium dan fosfor yang optimum untuk juvenil lobster adalah
1 : 2.
Untuk keperluan vitamin dalam pakan udang, belum banyak dilakukan
sehingga data mengenai hal ini masih terbatas. Beberapa peneliti telah
melakukan penelitian tentang kebutuhan vitamin untuk juvenil P. japonicus.
Kanazawa dkk. (1976) mengemukakan bahwa pertumbuhan juvenil

P.

japonicus untuk setiap 100 g pakan perlu ditambahkan 300 mg vitamin C, 400
mg inisitol, 612 mg vitamin B, dan 12 mg vitamin B6.

18

Kualitas air
Kualitas air merupakan faktor penting dalam pemeliharaan larva. Agar
udang windu yang dipelihara dapat hidup dan tumbuh dengan baik, maka selain
harus tersedia pakan bergizi dalam jumlah yang cukup, kondisi lingkungan harus
berada pada kisaran yang optimum.
Udang adalah hewan air yang segala kehidupan, kesehatan dan
pertumbuhannya sangat tergantung kepada kualitas air sebagai media hidupnya.
Apabila kualitas air baik maka udang yang dipelihara menjadi sehat dan nafsu
makannya tidak terganggu, pertumbuhan dan sintasan udang akan menjadi
tinggi (Taslihan dkk., 1991).
Udang membutuhkan kisaran suhu 25-32C agar dapat tumbuh secara
normal. Semakin tinggi suhu perairan maka semakin tinggi laju metabolisme
dalam tubuh udang. Kondisi ini akan diikuti dengan meningkatnya laju konsumsi
pakan. Suhu di atas 32C akan menyebabkan stres pada udang dan suhu 35C
merupakan suhu kritis (Poernomo, 1978)
Salinitas sangat besar pengaruhnya terhadap proses metabolisme dan
sintasan udang windu. Menurut Semeru dan Anna (1992) udang windu
mempunyai toleransi hidup pada kisaran salinitas 440 ppt dan tumbuh dengan
baik pada kisaran 12-30 ppt. Jika salinitas terlalu rendah dan terlalu tinggi, nafsu
makan masih ada tetapi konversi pakan menjadi tinggi karena energi tubuh
banyak terbuang.
pH air dapat berpengaruh terhadap meningkat tidaknya daya racun
amoniak. Untuk pertumbuhan udang windu memerlukan kisaran pH 7,48,5 dan
akan mematikan bila pH mencapai angka terendah 6 dan angka tertinggi 9. Bila
pH air terlalu rendah atau sering rendah pada malam hari, maka lapisan kapur
pada kulit udang akan berkurang karena terserap secara internal. Pada kondisi

19

ini konsumsi oksigen meningkat, permeabelitas menurun dan insangnya rusak.


Menurut Wickins (1987) pH 6,4 dapat menyebabkan laju pertumbuhan udang
akan menurun sebesar 60% dan sebaliknya pH 9,0-9,5 akan menyebabkan
peningkatan kadar amoniak sehingga secara tidak langsung membahayakan
udang
Oksigen terlarut dalam suatu perairan mutlak dibutuhkan oleh organisme
air, namun untuk setiap spesies mempunyai kisaran optimal untuk menunjang
kehidupan. Oksigen diperlukan untuk membakar zat-zat makanan yang
dikonsumsi udang dan diserap tubuh atau diuraikan menjadi energi. Kelarutan
oksigen yang baik bagi pertumbuhan udang adalah antara 85-125% jenuh atau
4-6 ppm. Dalam air yang mengandung cukup oksigen aktifitas udang yang
terlihat adalah beristirahat dan sesekali bergerak mencari pakan. Sebaliknya
pada air yang kandungan oksigennya rendah, udang akan tampak aktif bergerak
dan berenang karena stres. Mangampa dan Mustafa (1992) menyatakan bahwa
oksigen terlarut cenderung semakin rendah dengan meningkatnya padat
penebaran. Pada padat penebaran tinggi kebutuhan oksigen dan ekskresi sisa
metabolisme dalam media semakin tinggi.

20

III. METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus sampai Oktober 2010, di


Hatchery, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Materi Penelitian

Wadah dan media pemeliharaan

Wadah yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium kaca


berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 50 x 49 x 50 cm. Pada setiap
sisi akuarium dilapisi plastik hitam dan diisi air setinggi bagian dari volume
wadah. Air media yang digunakan adalah air laut dengan salinitas 30 ppt.
Sebelum digunakan air media tersebut terlebih dahulu disucihamakan dengan
kaporit berkonsentrasi 150 ppm yang diendapkan selama 24 jam kemudian
dinetralisir dengan Natrium Thiosulfat sebanyak 75 ppm.

Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelondongan


udang windu berukuran bobot 0,27 g. Udang tersebut diperoleh dari petani
tambak di Maros dan ditebar dengan kepadatan 15 ekor/luas wadah.

21

Pakan
Pakan yang diberikan berupa pakan buatan berbentuk pellet panjang
rata-rata 1 cm. Adapun komposisi bahan baku dan nilai nutrisi dapat dilihat pada
Tabel 1 dan 2. Pakan uji masing-masing disuplementasi dengan kromium
(CrCl36H2O) sesuai dosis yang diujikan.
Tabel 1. Komposisi bahan baku pakan buatan udang windu
Komposisi
Bahan baku
Tepung Ikan
Tepung Kedelai
Tepung jagung
Tepung Terigu
Vitamin dan Mineral mix*
Lemak**

58
11
14
14
3
0

29,50
30
18,50
18
3
1

19
18
28
28
3
4

Keterangan: *) komposisi vitamin dan mineral mix.


Setiap 10 kg mengandung vitamin A 12.000.000; vitamin D 2.000.000 IU; vitamin E
8000 IU; vitamin K 2000 mg; vitamin B1 2000 mg; vitamin B2 5000 mg; vitamin B6
500 mg; vitamin B12 12.000 g; asam askorbat 25.000 mg; Calsium-DPhanthothenate 6.000 mg; Niacin 40.000 mg; Cholin Chloride 10.000 mg;
Metheonine 30.000 mg; Lisin 30.000 mg; Manganese 120.000 mg; Iron 20.000 mg;
Iodine 200 mg; Zinc 100.000 mg; Cobalt 200.000 mg; Copper 4.000 mg; Santoquin
(antioksidan) 10.000 mg; Zinc Bacitracin 21.000 mg.
**) Lemak : minyak ikan dan minyak jagung

Adapun proksimat pakan yang digunakan disajikan pada Tabel 2.


Tabel 2. Komposisi nutrisi pakan buatan udang windu
Komposisi
Air (%)
Abu (% bk)
Protein (% bk)
Lemak (% bk)
Serat Kasar (% bk)
BETN (% bk)

A
10,20
10,45
45,11
10,50
3,65
30,29

DE (kkal/kg)
C/P (DE/g Protein)

3186,60
7,06

Nilai Nutrisi Pakan


B
C
10,01
10,30
8,98
6,03
35,10
25,58
10,68
10,89
5,21
6,85
40,03
50,65
3094,33
8,62

3043,64
11,90

PU
9,09
7,76
40,40
7,86
2,92
41,06
3077,1
6
7,62

Keterangan: Hasil analisa proksimat di laboratorium nutrisi Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB

22

Perlakuan dan Perancangan penelitian

Penelitiian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap


(RAL), dengan 10 perlakuan dan 2 ulangan. Dengan demikian, penelitian ini
terdiri atas 20 satuan percobaan. Adapun perlakuan yang diujikan adalah
sebagai berikut :
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

K1C1 (karbohidrat 30%, kromium 1 ppm)


K1C2 (karbohidrat 30%, kromium 2 ppm)
K1C3 (karbohidrat 30%, kromium 3 ppm)
K2C1 (karbohidrat 40%, kromium 1 ppm)
K2C2 (karbohidrat 40%, kromium 2 ppm)
K2C3 (karbohidrat 40%, kromium 3 ppm)
K3C1 (karbohidrat 50%, kromium 1 ppm)
K3C2 (karbohidrat 50%, kromium 2 ppm)
K3C3 (karbohidrat 50%, kromium 3 ppm)
PU (Pakan Udang)

Tata letak unit-unit percobaan setelah pengacakan disajikan pada Gambar 2.


PU

K3C
2

K3C
3

K2C
1

K1C
3

K1C2

K2C3

K3C1

K2C2

K1C1

(K3C1
)2

(K1C2
)2

(K3C2
)2

(K2C1
)2

(K2C2
)2

(K1C1
)2

(K3C2
)2

(K2C3
)2

(K1C3
)2

(PU)
2

Keterangan: K1C1 (karbohidrat 30%, kromium 1 ppm), K1C2 (karbohidrat 30%, kromium
K1C3 (karbohidrat 30%, kromium 3 ppm), K2C1 (karbohidrat 40%, kromium
K2C2 (karbohidrat 40%, kromium 2 ppm), K2C3 (karbohidrat 40%, kromium
K3C1 (karbohidrat 50%, kromium 1 ppm), K3C2 (karbohidrat 50%, kromium
K3C3 (karbohidrat 50%, kromium 3 ppm), PU (Pakan Udang).

Gambar 3. Tata letak satuan percobaaan setelah pengacakan.

Prosedur Penelitian

2
1
3
2

ppm),
ppm),
ppm),
ppm),

23

Penelitian diawali dengan persiapan alat dan bahan. Selanjutnya hewan


uji ditebar ke wadah untuk masa aklimatisasi bagi hewan uji terhadap lingkungan
media budidaya dan pakan uji. Hewan uji ditebar ke wadah dengan cara
mengapungkan kantung plastik berisi hewan uji selama 30 menit, selanjutnya
memasukkan air media sedikit demi sedikit ke dalam kantong plastik hingga
kondisi air media dengan kantung plastik hampir sama. selanjutnya hewan uji
dibiarkan berenang keluar dari kantung. Aklimatisasi dilanjutkan hingga 7 hari.
Setelah masa aklimatisasi selesai, dilakukan penimbangan bobot awal
hewan uji. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan elektrik
dengan ketelitian 0,01 g. Penambahan kromium ke dalam pakan dilakukan
dengan mencampur langsung ke bahan-bahan baku yang lain saat pembuatan
pakan.

Pemeliharaaan dilakukan selama 60 hari. Persentase pemberian pakan


5%bb/hari dengan frekuensi 3 kali sehari yaitu pada jam 07.00, 12.00 dan 17.00.
Untuk mempertahankan kualitas air dalam wadah penelitian, maka setiap pagi
dilakukan penyiponan media pemeliharaan untuk membersihkan feses dan sisa
pakan serta dilakukan pergantian air sebesar 10% dari volume wadah setiap
hari.
Peubah yang Diamati
Kadar glikogen hati dan otot udang uji diukur pada awal, pertengahan,
dan akhir percobaaan. Otot diambil dari bagian dorsal. Prosedur analisis kadar
glikogen mengikuti metode Wedemeyer dan Yasutake (1977) yang disajikan
pada Lampiran 1.
Kualitas Air

24

Sebagai data penunjang selama penelitian berlangsung dilakukan


pengukuran beberapa parameter kualitas air, meliputi: suhu, salinitas, oksigen
terlarut, dan pH. Suhu diukur dengan menggunakan thermometer, salinitas
dengan handrefraktometer, oksigen terlarut dengan DO meter dan pH dengan pH
meter. Pengukuran suhu dan salinitas media dilakukan 2 kali sehari yakni pada
pagi hari pukul 07.00 dan sore hari pada pukul 17.00, sedangkan oksigen terlarut
dan pH diukur pada awal dan akhir penelitian.

Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam
(ANOVA). Apabila hasilnya memperlihatkan pengaruh yang nyata maka
dilanjutkan dengan uji lanjut duncan. Sebagai alat bantu untuk analisis statistik
tersebut digunakan program SPSS 12,0. Adapun data parameter kualitas air
dianalisis secara deskriptif berdasarkan kelayakan hidup udang windu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

25

Glikogen Hepatopankreas dan Otot


Kandungan glikogen heptopankreas dan otot yang diberi pakan dengan
berbagai kadar karbohidrat dengan suplementasi kromium dapat dilihat pada
Lampiran 2, sedangkan nilai rata-ratanya disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata kandungan glikogen hepatopankreas dan hati udang windu
pada akhir dan pertengahan penelitian.
kadar glikogen (g/g)

Periode
Pengukuran Perlakuan
Awal
Tengah
K1C1
K1C2
K1C3
K2C1
K2C2
K2C3
K3C1
K3C2
K3C3
PU
Akhir
K1C1
K1C2
K1C3
K2C1
K2C2
K2C3
K3C1
K3C2
K3C3
PU

Hepatopankrea
s
19.65 1,8
46.35 1,6b
50.75 2,0b
29.15 0,4a
47 0,3b
49.40 0,3b
32.40 10,2a
30.80 0,6a
32.10 0,9a
33.15 0,7a
34.35 1,2a
68.5 1,4d
76 2,4e
50.10 3,5a
68.35 0,2d
75.75 5,2e
57.70 2,7c
48.40 4,5a
52.05 0,5ab
50.45 0,4a
53.45 3,2ab

Otot
15.50 0,3
29.20 9,0ab
36.90 0,4b
22.35 2,3a
29.50 0,8ab
34.05 0,5b
24.05 4,9a
17.05 1,0a
16.65 0,4a
16.65 2,3a
21 0,8a
42.45 3,7b
54 5,9c
34.75 0,9ab
41.35 1,2b
54.05 0,5c
34.20 4,7ab
29 1,9a
31.55 1,5a
32.40 3,7a
34,30 9,1ab

26

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan karbohidrat pakan


dengan suplementasi kromium organik berpengaruh sangat nyata (p<0,01)
terhadap kadar glikogen hepatopankreas dan otot pada gelondongan udang
windu baik pada pertengahan maupun pada akhir penelitian (Lampiran 3 dan 4).
Hasil uji lanjut duncan menunjukkan bahwa kadar glikogen hepatopankreas dan
otot tertinggi dihasilkan pada perlakuan K1C2 (karbohidrat 30% : kromium 2
ppm) yaitu dengan kadar glikogen hepatopankreas 76 g/g dan glikogen otot 54
g/g, K2C2 (karbohidrat 40% : kromium 2 ppm) dengan kadar glikogen
hepatopankreas 75,75 g/g dan glikogen otot 54,05 g/g. Kromium 2 ppm
berbeda dengan perlakuan lainnnya baik pada pertengahan maupun pada akhir
penelitian karena pada kadar 2 ppm ini memberikan efek terbaik (Lampiran 5 dan
6; Tabel 3).
Berdasarkan hasil tersebut suplementasi kromium dengan kadar 2 ppm
serta karbohidrat pada kadar 30 dan 40% memberikan efek yang terbaik
terhadap deposit glikogen hepatopankreas dan otot pada udang windu. Menurut
Furuichi (1988) ikan omnivora dapat memanfaatkan karbohidrat optimum pada
tingkat 30-40% dalam pakannya. Penambahan kromium dengan dosis optimum
dapat meningkatkan penyimpanan glikogen baik pada hepatopankreas maupun
otot. Handayani (2011) menyatakan bahwa peningkatan kadar glikogen
menunjukkan adanya kelebihan glukosa darah setelah kebutuhan energi
metabolisme terpenuhi, yang segera dikonversi menjadi glikogen dan selanjutnya
disimpan dalam otot dan hati. Glikogen berasal dari kelebihan glukosa dalam
darah yang berbentuk granula-granula berwarna ungu di dalam sel hepatosit.
Karbohidrat yang dikonsumsi oleh ikan akan dicerna di dalam pencernaan
hingga menjadi glukosa. Glukosa akan diserap oleh dinding usus dan kemudian
masuk ke dalam darah. Glukosa yang dibawa dalam darah akan diambil oleh selsel pada tubuh organisme untuk menghasilkan energi melalui proses oksidasi.

27

Pada organ hati, glukosa akan masuk ke dalam sel hepatosit secara mudah dan
selanjutnya diubah menjadi glikogen (Hadim dkk,2003).
Menurut Diansari (2011) bahwa monosakarida (fruktosa, galaktosa,
glukosa) yang masuk bersama-sama darah dibawa ke hati. Di dalam hati
Monosakarida diubah menjadi glukosa dan dialirkan melaui pembuluh darah ke
otot. Di dalam otot glukosa dibakar membentuk glikogen melalui proses
glikoneogenesis. Glukosa yang berasal dari hasil hidrolisa karbohidrat di saluran
pencernaan dan masuk ke dalam darah sebagian dimanfaatkan sebagai sumber
energi di dalam sel dan sebagian lagi disimpan sebagai energi cadangan dalam
bentuk glikogen baik pada hati maupun pada daging. Indikasi terjadinya proses
glikogenesis baik pada hati maupun pada daging terlihat pada hasil pengukuran
kadar glikogen hati dan daging yang terdapat cukup tinggi. Pemberian Cr+3 akan
memacu aktivitas hormon insulin dalam mengkonversi glukosa menjadi glikogen,
sehingga akan meningkatkan kadar glikogen hati. Kadar glikogen hati meningkat
sampai kadar tertentu dan kadarnya akan turun kembali dengan semakin
meningkatnya kadar Cr+3. Demikian pula pada kadar glikogen daging, kadarnya
meningkat seiring meningkatnya kadar kromium pakan, tetapi kadarnya lebih
rendah daripada di hati (Susanto, 2006)
Kadar glikogen hati yang tinggi merupakan cadangan energi yang secara
cepat dapat dipakai untuk mencukupi energi melalui proses glikogenolisis yang
dibantu oleh hormon glukagon apabila suplai dari pakan berkurang. Fenomena
yang sama diperoleh pada ikan gurame (O. gouramy L) yang diberi suplementasi
kromium organik (Cr-ragi) akan meningkatkan kadar glikogen hati dan daging
(Subandiyono, 2004). Demikian pula pada ikan nila (O. niloticus) kadar glukosa
tubuh meningkat dengan semakin meningkatnya kadar kromium organik pakan
(Mokoginta, 2005).

28

Menurut Subandiono (2004) bahwa kromium pada kadar 1,5 ppm Cr +3


dapat memicu bioaktivitas insulin pada tingkat tertinggi sehingga pemasukan
glukosa darah ke dalam sel berlangsung dengan cepat dan kadar glukosa dalam
darah segera turun. glukosa yang telah masuk ke dalam sel akan dimetabolisme
dengan cepat untuk mencukupi kebutuhan energi sehingga menghindarkan
sejumlah asam amino

dipergunakan sebagai energi metabolik. pola kadar

glukosa darah yang demikian mengindikasikan tingginya aliran glukosa darah ke


dalam sel atau penyerapan glukosa dari usus.
Peningkatan suplementasi kromium sampai 3 ppm terlihat memberikan
efek negatif pada deposit glikogen hepatopankreas dan otot. Seperti halnya
dilaporkan Subandiono (2004) bahwa suplemen Cr+3 lebih dari 3 ppm tidak selalu
memberikan respon biologi yang lebih baik, namun dapat sama atau bahkan
berakibat sebaliknya. Hal itu disebabkan kapasitas kerja hormon insulin yang
telah mencapai titik maksimum sehingga bioaktivitas insulin tidak lagi mampu
mengimbangi pemasukan glukosa ke dalam darah sehingga kadar glukosa
dalam darah cenderung terus meningkat hingga titik puncak tercapai.
Kemungkinan lain adalah terjadinya penurunan fungsi biologis dari kromium.
Sebagaimana mineral essensial lainnya, kekurangan dan kelebihan di luar
kebutuhan optimalnya akan menurunkan fungsi biologisnya (Underwood dan
Suttle, 1999; Groff dan Gropper, 2000; Lall, 2002).
Hasil penelitian Asmariani (2010) menunjukkan bahwa suplementasi
kromium 2 ppm pada pakan dengan kadar karbohidrat 30 dan 40% mampu
memberikan laju pertumbuhan harian dan pertumbuhan biomassa yang terbaik.
Hal ini berarti kromium mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan protein
pakan atau meningkatkan deposisi protein tubuh untuk pertumbuhan. Sedangkan
peningkatan kadar kromium sampai 3 ppm pada berbagai kadar karbohidrat
pakan dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan. Hal ini disebabkan

29

kromium tergolong mikromineral yang diperlukan dalam metabolisme tubuh


dalam jumlah yang sedikit. Kombinasi kadar karbohidrat pakan dan kadar
kromium yang tepat menghasilkan tingkat pertumbuhan yang optimal. Setyo
(2006) menyatakan bahwa jumlah konsumsi pakan tertinggi dicapai pada
perlakuan pakan tanpa diberi tambahan suplemen kromium namun efek pakan
yang dikonsumsi lebih besar, tetapi tidak mempengaruhi kenaikan pertambahan
bobot, pertumbuhan relatif karena efisiensi penyerapan pakan sangat rendah
dibandingkan dengan perlakuan yang diberi pakan yang mengandung kromium.

Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur pada media pemeliharaan selama
penelitian berlangsung antara lain suhu, pH, oksigen terlarut dan salinitas. Hasil
pengukuran kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kisaran kualitas air yang diperoleh selama penelitian dan kisaran yang
layak menurut pustaka
Kisaran yang
Pustak
NO
parameter
diperoleh
a
1 Suhu (C)
26 29
26 - 32 (Tricahyo, 1995)
2 Salinitas (ppt)
30 32
24 - 34 (Poernomo, 1996)
3 pH
7,8 - 8,1
7,5 - 8,5 (Buwono, 1992)
4 DO (ppm)
5,4 - 5,8
4,0 - 7,0 mg/l (Tricahyo,1995)

Tabel yang di atas menunjukkan bahwa kisaran kualitas air yang


diperoleh selama penelitian masih berada dalam kondisi yang layak untuk
kelangsungan hidup pasca larva udang windu.
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa suhu selama penelitian
berkisar antara 26-29 C. Kisaran ini layak untuk pemeliharaan dan pertumbuhan
udang windu. Hal ini sesuai dengan pendapat Tricahyo (1995) bahwa suhu

30

optimum pada pemeliharaan larva adalah 26-32C. suhu diatas 32C akan
menyebabkan stress pada udang dan suhu 35C merupakan suhu kritis. Suhu
yang baik untuk pertumbuhan udang windu adalah 29-30C (Poernomo, 1996).
Salinitas yang didapatkan selama penelitian berkisar antara 30-32 ppt.
Kisaran ini layak untuk pertumbuhan dan kehidupan udang windu. Salinitas
sangat besar pengaruhnya terhadap proses metabolisme dan sintasan udang
windu. Poernomo (1978) mengemukakan bahwa kisaran salinitas optimum bagi
udang windu pasca larva adalah 24-34 ppt sedangkan untuk stadia diatas pasca
larva adalah 15-25.
Adapun kisaran pH yang didapatkan pada saat penelitian berkisar antara
7,8-8,1. Menurut Buwono (1992) bahwa untuk stadia pasca larva kisaran pH
optimum adalah 7,5-8,5. Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh langsung
dari pH rendah adalah menyebabkan kulit udang menjadi keropos dan selalu
lembek karena tidak dapat membentuk kulit baru. pH air juga dapat berpengaruh
terhadap meningkat tidaknya daya racun amoniak.
Kandungan oksigen terlarut yang didapat selama penelitian berkisar
antara 5,4-5,8. Nilai ini optimal untuk pemeliharaan udang windu secara
berkelanjutan. Oksigen terlarut dibutuhkan untuk respirasi yang selanjutnya
dimanfaatkan untuk kegiatan metabolisme. Menurut Tricahyo (1995) bahwa pada
stadia pasca larva udang membutuhkan kadar oksigen dalam batas optimum
dengan kisaran 4,0-7,0 mg/L.

31

V. KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.

Suplemen kromium 2 ppm pada pakan dengan kadar karbohidrat 30 dan


40% mampu meningkatan kadar glikogen pada hepatopankreas dan otot
gelondongan udang windu.

2. Kadar glikogen hati dan otot meningkat sampai kadar tertentu dan kadarnya
akan turun kembali dengan semakin meningkatnya kadar Cr+3.

SARAN
Pada pemeliharaan gelondongan udang windu dapat diberikan pakan
buatan dengan suplementasi kromium 2 ppm dan kadar karbohidrat pakan 30
dan 40%. Pemanfaatan kromium (Cr+3) sebaiknya diaplikasikan juga pada setiap
fase pertumbuhan pada udang windu, hal ini membantu pembudidaya dalam
upaya efisiensi pemanfaatan pakan dan meningkatkan pertumbuhan.

32

DAFTAR PUSTAKA

Akbar J. Adriani M. Aisiah S. 2009. Peranan Kromium (Cr+3) Dalam Metabolisme


karbohidrat pada ikan Betok (Anabas testudineus). Laporan penelitian
hibah kompetitif penelitian strategis nasional, Dikti-Dinas.Unlam,
Banjarbaru
Alava, V.R. and F.P. Pascual. 1987. Carbohydrate requirements of P. monodon
Fabricius juveniles. Aquaculture, 61: 211-217.
Alsted, N.S.,1991. Studies on the reduction of discharges from fish farms
bymodification of the diet. In: Cowey, C.B. and Cho, C.Y.(Eds.).
Nutritional Strategies & Aquaculture Waste. Fish Nutr.Res. Lab., Dept. of
Nutr. Sci., Univ. of Guelph, Guelph, Ontario,pp.: 77-89.
Amri, K., 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka.
pJakarta.
Anderson, R.A, 1997. Nutritional factors influencing the glucose/insulin
system:Chromium, J.Am.COLL.Nutrition.Research.U.S.A.
Banos, N., J. Baro., C. Castejon., I. Navarro., and J. Gutierrez. 1998. Influence
of high-carbohydrate enriched diets on plasma insulin levels and insulin
and IGF-I receptors in trout. Regulatory Peptides, 77: 55-62.
Budiardi, T. 2011. Budidaya udang windu (Penaeus monodon Fab.)berwawasan
lingkungan (online). Tersedia:
http://singkil.webs.com/apps/blog/entries/show/4936097budidaya-udang-windu-penaeus-monodon-fab-berwawasanlingkungan- diakses 4 juli 2011
Brauge, C., F. Medale., and G. Corraze. 1994. Effect of dietary carbohydrate
levels on growth, body composition and glycaemia in rainbow trout,
Oncorhynchus mykiss, reared in seawater. Aquaculture, 123: 109-120.
Godman, A. 1986. Longman Dictionary Of Scientific Usage. Longman group Ltd.,
Hongkong
Campbell, P.N. and A.D. Smith. 1982. Biochemistry illustrated.
Livingstone, New York, 225 p.

Churchill

Church DC, W.G. Pond. 1988. Basic animal nutrition and feeding. Third
Nusantara
Conklin, D.E., A. Devers and C.E. Bordner 1977. Development of artificial diets
for the lobster Homarus americanus. Proc. Word Mari. Soc. 8:844-852
Cruz-Suarez, L.E.,Ricque, M.D., Pinal-Mansilla, J.D. and Wesche-Ebelling, P.,
1994. Effectof different carbohydrate sources on the growth of P.
vannamei. Economical impact. Aquaculture, 123: 349-360.

33

Darma S,Dkk. 2010. Pengaruh Pemberian Kromium (Iii) Klorida Terhadap Kadar
Sgpt
Darah
Mencit
Putih
(online).
Tersedia
:
http://repository.unand.ac.id/929/1/surya_-_jurnal_JSTF_2009.doc.
diakses 27 juli 2010.
Deshimaru, O. and K. Shigeno. 1972. Introduction to the artificial diet for prawn,
Penaeus indicus. Aquaculture, 1: 115-133.
FAO. 1987. Feed and Feeding of fish and Shrimp. A manual on the preparation
and presentation of compound Feeds for Shrimp and fish Aquaculture
Furuichi M. 1988. Carbohydratea. Di dalam; Watanabe T, Editor, Fish Nutrition
and Mariculture. Tokyo, Departement Of Aquatic Biosciences, University
of Fisheries. Hlm.44-55
Groff, J.L., S.S. Gropper. 2000. Advanced Nutrition and Human Metabolism 3 Ed.
Wadsworth-Thomson Learning, Belmont, USA.
Hadim, E., M.I. Djawad dan M.Y.Karim.2003. Kondisi Glikogen Dalam hati
Juvenil Ikan bandeng (Chanos chanos Forskall) yang dibantut. Jurnal
Sains dan Teknologi, 3:1-7.
Haliman, R.W. dan Dian AS. 2005. Udang Vannamei (Litopenaeus
Vannamei):Pembudidayaan Prospek Pasar Udang Putih Yang Tahan
Penyakit. Penebar Swadaya. Jakarta
Handayani, S. 2011. Uji Toleransi Glukosa dan Uji Toleransi Insulin Glukosa
Pada Ikan Gurame Yang Diberi pakan mengandung kadar Protein dan
Karbohidrat yang berbeda. IPB. Bogor
Hasting, W.H. 1976. Fish Nutrition and Fish Feed Manufacture. Italy; Rome, Rep.
From FAO, FIR;AQ/76/R.23.
Hastings, W.H. and D. Higgs. 1980. Feed milling processes. In: ADCP. Fish
Feed Technology, UNDP, FAO-UN, pp.: 293-314.
Hertz, Y., Z. Mader., B. Hepher., A. Gertler. 1989. Glucose metabolism in the
Common Carp (Cyprinus Carpio L); the effects of cobalt and Chromium.
Aquaculture, 76: 255-267
Jangkaru, Z., R. Djajadireja. 1976. Peneltian ikan mas secara Intensif dalam
kolam air deras. Bogor; LPPD
Kanazawa, A.;S.I. Teshima and N. Tanaka 1976. Nutritional requirement of prawn
V. Requirements for Cholin and inositol. Mer. Fac. Fish.,Kagoshima Univ.
25:47-51
Kaushik, S.J. and C.B. Cowey. 1991. Dietary factors affecting nitrogen excretion
by fish. In: Cowey, C.B. and Cho, C.Y. (Eds.). Nutritional Strategies &
Aquaculture Waste. Fish Nutr. Res. Lab., Dept. of Nutr. Sci., Univ. of
Guelph, Guelph, Ontario, pp.: 3-19.
Lehninger, A.L. 1971. Bioenergetics. Second Edition. The Benjamin/Cummings
Publishing Company. California 362pp.

34

Linder MC. 1992. Nutrisi dan Metabolisme Karbohidrat, hal 27-58. DI dalam :
Linder MC, Editor. Biokimia NUtrisi dan Metabolisme (Terjemahan). UI
Press, Jakarta, Indonesia.
Mangampa, M. dan A. Mustafa. 1992. Budidaya Udang Windu (Pennaeus
monodon) Pada padat Penebaran Berbeda Dengan Menggunakan Benih
yang Dibantut. Jurnal Penelitian Budidaya Pantai Volume 8 No 4. Balai
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Perikanan
Budidaya Pantai. Maros 8(4), 37-48.
Muselin, F., Violita, I., & Trif, A. (2007). Exposure in hexavalent chromium
consequences on semen quality in rats. Calea Aradului Nr, 119, 300645.
[NRC] National Research Council. 1997. Nutrient Requiremant Of warm Water
Fishesand shellfish .National academy. Press. Washington.
Noreng, I, 2010. Karbohidrat Sebagai Sumber Energi Dalam Tubuh. Tersedia:
http://ignasnoreng.blogspot.com/2010/05/karbohidrat-sebagai-sumberenergi-dalam.html diakses 11 Oktober 2011.
Nursiam,
S.
2011.
Metabolisme
Dan
Teremolugasi.
Tersedia:
http://intannursiam.wordpress.com/tag/glikogenolisis/ diakses 11 Oktober
2011.
Pascual, P.F., R.M. Coloso and C.T. Tamse. 1983. Survival and some histological
changes in Penaeus monodon Fabricius juveniles fed various
carbohydrate. Aquaculture, 31: 169-180.
Purnama E. 2010. Kromium (online). Tersedia: http://duniaperikananku.blogspot.com/2009/06/peran-kromium-terhadap-pertumbuhanikan.html diakses 31 juli 2010
Poernomo, A. 1978. Masalah Budidaya Udang Penaeid Di Indonesia. Paper
Pada Simposium Modernisasi Perikanan rakyat, Jakarta 27-30 Juni 1978.
Rahim, S. 2011. Nutrisi Ikan (online). Tersedia:
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-publichealth/2162792-fungsi-karbohidrat-dasar-dasar-ilmu/ diakses 4 juli
2011
Rosas, C., G. Cuzon., G. Gaxiola., L. Arena., P. Lemaire., C. Soyez And A. Van
Wormhoudt. 2000. Influence of dietary carbohydrate on the metabolism
of juvenile Litopenaeus stylirostris. J. Exp. Mar. Biol. and Eco., (249):
181-198.
Sediaoetomo, A.D.,1991. Ilmu gizi. Dian Rakyat, Jakarta.
Semeru dan Anna. 2010. Persyaratan Nutrisi karbohidrat bagi udang windu
(online).Tersedia:
http://hobiikan.blogspot.com/2008/09/persyaratannutrisi-karbohidrat-bagi.html diakes 27 juli 2010

35

Sumeru, S.U., dan S. Anna, 1992. Pakan Udang Windu Penaeus monodon.
Kanisius. Jakarta.
Setiono L. (2010). Glikogen (online). Tersedia:
http://liliksetiono.wordpress.com/2009/05/05/glikogen/ diakses 31 juli
2010
Shiau, S.Y., 1998. Nutrient requirement of penaeid shrimp. Aquaculture, 164: 7793
Shiau, S.Y. 2002. Tilapia, Oreochromis Spp.,p. 273-202. Di dalam: Webster CD,
Lim CE, editor. Nutrient Requirement and Feeding of Finish for
Aquaculture. CABI Pub.,Oxon, UK.
Shiau, S.Y. and M.J. Chen. 1993. Carbohydrate Utilization by Tilapia
(Oreochromis niloticus x O. aureus) As influenced by Different Chromium
Souces. Jurnal Nutrition 123:1747-1753.
Shiau, S.Y. and H.S. Liang. 1995. Carbohydrate Utilization and Digestibility by
Tilapia (Oreochromis niloticus x O. Aureus) are Affeted by Chromium
Oxide inclusion in the diet. Jurnal Nutrition 125:976-982.
Shiau, S.Y. and S.F. Lin. 1993. Effect Of Suplement Dietery Chromium and
Vanadium on the Utilization of Different Carbohydrate in Tlapia
(Oreochromis niloticus O. Aureus), are affected by Chromium Oxide
Inclusion in The Diet. Jurnal Nutrition, 110:321-330.
Shiau, S.Y. and C.Y. Peng. 1992. Utilization of different carbohydrate at different
proteinlevels in grass prawn Penaeus monodon, reared in seawater.
Aquaculture, 101: 241-250.
Siswanto, 2008. Vitamin C Sebagai Suplemen Pakan Untuk Meningkatkan
Pertumbuhan Dan Daya Hidup Udang Vannamei (Litopenaeus
Vannamei). Universitas Muhammadiyah Gresik
Soetomo, M.J.A., 1990. Teknik Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon).
Kanisius. Yogyakarta.
Subandiyono, 2003. Pengaruh kromium dalam pakan terhadap kadar glukosa
darah, kuosien respiratori, ekskresi NH,-N, dan pertumbuhan ikan gurami,
Hayati 10(1):25-29.
Subandiono, 2004. Peran suplemen Kromium-Ragi dalam pemanfaatan
Karbohidrat pakan dan pertumbuhan ikan Gurami. Hayati, 11(1):29-33.
Taslihan, A, A. Widjajati, S. M. Astuti. dan Sumartini. 1991. Laporan Uji Coba
Pengaruh
Kanamycin,
Terramycin
dan
Neomycin
Terhadap
Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Udang Windu (Pennaeus
monodon). Stadia Z1 PL5. Balai Budidaya Air Payau. Jepara
Tricahyo, E. 1995. Biologi dan Kultur Udang Windu (Pennaeus monodon).
Akademika Pressindo. Jakarta.

36

Underwood, E.J., N.F. Suttle. 1999. The Mineral Nutrition Of Livestock. 3 rd Ed.
CABI pub.,Oxon, UK, 624 pp.
Vincent, J.B. 2000. The Biochpemistry Of Chromium. J.Nutr., 130: 715-718
Watanabe T, 1988. Fish Nutrition and Mariculture. JICA textbook the general
aquaculture Course. Tokyo: Departement of Aquatic Bibsciences, Tokyo
University Of Fisheries.
Wickins, J.F. 1987. Effects of size, culling and social history on growth of cultured
elvers, Anguilla anguilla L. Journal of Fish Biology, 31: 71-82.
Yusuf, R. 2011. Budidaya Udang windu Berwawasan lingkungan. Perguruan
Tinggi Amik Dian Cipta Cendekia. Bandar Lampung.

37

Lampiran 1. Prosedur analisis kadar glikogen (Wedemeyer dan Yasutake, 1977)

A. Bahan bahan yang digunakan

KOH 30%. 30 g KOH dilarutkan dalam 70 mL akuades


Na2SO4 jenuh yaitu dari sekitar 1 g Na2SO4 dan 30 mL akuades
Ethyl alcohol 98% asam hidroklorat 5 M dan sodium hydroksida 0,5 M
Reagent anthrone, 0,2 g anthrone dilarutkan dalam 100 mL 95% asam sulfur
dan disimpan pada tempat yang sejuk atau tempat yang dingin untuk jangka
waktu yang lama, apabila dalam keadaan terbuka tidak bisa digunakan

setelah 2 hari
Standar glukosa (glikogen). 22,2 mg glukosa dilarutkan dalam 1L akuades dan
disimpan ditempat yang dingin untuk mencegah tumbuhnya mikroba selama
tidal lebih dari 2 minggu.

B. Prosedur
100 mg jaringan otot atau hati dipanaskan dalam 3 mL KOH 30% sampai larut
(20 30 menit), kemudian tambahkan 0,5 mL Na2SO4 jenuh dan 3,5 mL
ethanol 95%, panaskan sampai mendidih, kemudian larutan didinginkan dan
disentrifus dalam keadaan dingin, supernatant yang ada dibuang
Glikogen dilarutkan dalam 2 mL akuades dan kembali diendapkan dengan 2,5
mL ethanol 95%
Supernatant dibuang dan glikogen diendapkan selama 30 menit dalam 2 mL
HCL 5 M dalam shaker water bath yang sedang mendidih
Hidrolisat didinginkan dan dinetralisir dengan 0,5 M NaOH, kemudian
diencerkan dengan akuades sampai volume diketahui, biasanya 50 100 mL
tergantung pada kandungan glikogen yang diperkirakan.
5 mL hidrolisat yang dinetralkan (berisi 15 150 ng glukosa) dipindahkan ke
dalam tabung uji
Tuangkan 5 mL standar glukosa (111 ng) ke dalam tabung uji kedua dan 5 mL
akuades sebagai blanko ke dalam tabung uji ketiga.

38

Tabung tabung di atas dicelup ke dalam air dingin dan tambahkan 10 mL


reagent anthrone dan tabung ditutup dengan marbles glass dan panaskan
selama 10 menit dalam air mendidih, kemudian didinginkan dan segera diukur
absorbansi pada panjang gelombang 635 nm, dalam kalorimeter ( 1 g
glikogen = 1,1 g glukosa dalam hidrolisat).

C. Perhitungan
Mempersiapkan sebuah grafik konsentrasi glukosa vs absorbansi dan dibaca
konsentrasi yang tidak diketahui di luar kurva.

Lampiran 2. Rata-rata kadar glikogen hepatopancreas dan otot gelondongan


udang windu pada setiap perlakuan
Kadar Glikogen (g/g)
Periode
Pengukuran

Hepatopankreas
Perlakuan

Rata-rata

Rata-rata

20.9

18.4

19.65

15.3

15.7

15.5

K1C1

45.2

47.5

46.35

35.6

22.8

29.2

K1C2

49.3

52.2

50.75

37.2

36.6

36.9

K1C3

29.4

28.9

29.15

20.7

24

22.35

K2C1

47.2

46.8

47

30.1

28.9

29.5

Awal
Tengah

Otot

39

Akhir

K2C2

49.2

49.6

49.4

34.4

33.7

34.05

K2C3

39.6

25.2

32.4

27.5

20.6

24.05

K3C1

30.4

31.2

30.8

17.8

16.3

17.05

K3C2

32.8

31.4

32.1

16.9

16.4

16.65

K3C3

32.6

33.7

33.15

15

18.3

16.65

PU

33.5

35.2

34.35

21.6

20.4

21

K1C1

69.5

67.5

68.5

39.8

45.1

42.45

K1C2

74.3

77.7

76

49.8

58.2

54

K1C3

47.6

52.6

50.1

35.4

34.1

34.75

K2C1

68.2

68.5

68.35

42.2

40.5

41.35

K2C2

79.4

72.1

75.75

54.4

53.7

54.05

K2C3

59.6

55.8

57.7

37.5

30.9

34.2

K3C1

45.2

51.6

48.4

27.6

30.4

29

K3C2

52.4

51.7

52.05

30.5

32.6

31.55

K3C3

50.2

50.7

50.45

35

29.8

32.4

PU

55.7

51.2

53.45

38.2

30.4

34.3

Lampiran 3. Anova glikogen hepatopankreas dan otot tengah.

Hepatopankrea
s
Otot

Perlakuan
Galat
Total
Perlakuan
Galat
Total

JK

Db

KT

1346.9045
114.1650
1461.0695
974.5980
119.7300
1094.3280

9
10
19
9

149.6561
11.4165

13.1088**

108.2887
11.9730

9.0444**

10
19

Sig.

Keterangan:** berpengaruh sangat nyata pada taraf 1% (p<0,01)

Lampiran 4. Anova glikogen hepatopankreas dan otot akhir.

Hepatopankrea
s

Otot

Perlakua
n
Galat
Total
Perlakua
n
Galat
Total

JK
2162.292

Db
9

KT
240.255

85.165
2247.457
1461.605

10
19
9

8.517

123.705
1585.31

10
19

Keterangan:** berpengaruh sangat nyata pada taraf 1% (p<0,01)

162.401
12.371

F
28.21**

13.128**

Sig.
0

40

Lampiran 5. Uji lanjut duncan glikogen hepatopankreas dan otot tengah.

Hepatopankreas
Perlakuan ulangan
K1C3
2
K3C1
2
K3C2
2
K2C3
2
K3C3
2
PU
2
K1C1
2
K2C1
2
K2C2
2
K1C2
2

rata-rata
29.15
33.15
32.1
32.4
33.15
34.35
46.35
47
49.4
50,75

a
a
a
a
a
a
b
b
b
b

otot
perlakuan ulangan rata-rata
K3C3
2
16.65
k3C2
2
16.65
k3C1
2
17.05
PU
2
21
k1C3
2
22.35
k2C3
2
24.05
k1C1
2
29.2
k2C1
2
29.5
K2C2
2
34.05
K1C2
2
36.9

a
a
a
a
a
a
ab
ab
b
b

Lampiran 6. Uji lanjut duncan glikogen hepatopankreas dan otot akhir

Hepatopankreas
perlakua
n
ulangan
K3C1
2
K1C3
2
K3C3
2
K3C2
2
PU
2

otot
rata-rata
48.4
50.1
50.45
52.05
53.45

a
a
a
ab
ab

perlakuan
K3C1
K3C2
K3C3
K2C3
PU

ulanga
n
2
2
2
2
2

rata-rata
29
31.55
32.4
34.2
34.3

a
a
a
ab
ab

41

K2C3
K2C1
K1C1
K2C2
K1C2

2
2
2
2
2

57.7
68.35
68.5
75.75
76

c
d
d
e
e

K1C3
K2C1
K1C1
K1C2
K2C2

2
2
2
2
2

34.75
41.35
42.45
54
54.05

ab
b
b
c
c